Anda di halaman 1dari 6

Sistitis

Definisi
Infeksi traktus urinari bagian bawah, terutama vesika urinaria (McAninch, 2013).
Epidemiologi

Lebih sering pada wanita (30-50%), karena memiliki uretra yang lebih
pendek dibanding pria. Selain itu, karena jarak yang sangat dekat dengan
daerah anal dan vagina, sehingga kuman mudah menyebar

Terjadi pada semua usia

Aktif secara seksual, hamil, post-menopause

(Jameson, 2013)
Etiologi

E.coli

Klebsiella dan Proteus sp.

Staphylococcus saprophyticus dan enterococci

(Jameson, 2013)
Faktor risiko

Diabetes

Riwayat infeksi saluran kemih sebelumnya

(Jameson, 2013)
Patogenesis
Faktor predisposisi (perubahan flora normal vagina oleh karena terapi antibiotik,
infeksi genital lain, kontrasepsi yang berupa spermisida) hilangnya
Lactobacillus sp. penghasil H2O2 memudahkan kolonisasi E.coli hubungan

seksual bakteri masuk ke vesika urinaria karena terpijatnya uretra (Jameson,


2013).
Patofisiologi
Invasi E.coli (memiliki sitotoksin, hemolisin, fimbria, aerobaktin, siderofor untuk
pemurnian besi dan resisten terhadap efek bakterisidal serum manusia) ke sel
epitel vesika urinaria sel epitel vesika urinaria mengeluarkan berbagai sitokin
dan kemokin (IL-6 dan IL-8) secara kemotaksis menyebabkan masuknya
berbagai sel polimorfonuklear (PMN) ke epitel vesika urinaria dan urin untuk
membersihkan bakteri apoptosis dan deskuamasi sel epitel (Jameson, 2013).
Manifestasi Klinik

Disuria

Hanya mengeluarkan sedikit urin

Frekuensi miksi meningkat

Urgensi

Nyeri suprapubik

Urin keruh, berbau, dan berdarah

Nyeri tekan daerah suprapubik

Lesi di genital atau sekret vagina

Suhu >38,3C (>101 F)

Mual, muntah

Infeksi ginjal nyeri ketok sudut kostovertebra

Bakteri 102-104/ ml urin

Radiografi biasanya tidak diperlukan

(Jameson, 2013)

Klasifikasi sistitis
a. Sistitis akut
Biasanya infeksi terjadi secara ascending dari flora normal periurethral
atau vaginal dan fekal (McAninch, 2013).
Manifestasi klinik
Disuria, frekuensi, urgensi
Nyeri suprapubik dan punggung
Hematuria
Urin berbau busuk
Demam dan gejala sistemik jarang
Urinalisis: leukosit di urin, hematuria
Kultur urin: organisme kausatif
(McAninch, 2013)
b.

Sistitis rekuren
Terjadi karena adanya Persistensi bakteri atau reinfeksi organisme lain.
Penting untuk menentukan organisme penyebab untuk terapi, dan
menentukan adanya reinfeksi. Jika terdapat persistensi, pencitraan
radiografi diindikasikan (McAninch, 2013):

Ultrasonografi (USG)

Intravenous pyelogram (IVP) lebih detail

CT scan kadang diperlukan

Jika terdapat reinfeksi (McAninch, 2013):

dicurigai dan harus dievaluasi kemungkinan adanya fistula vaginal


atau vesikoenterik

Tidak diperlukan pencitraan radiografi

Gambar 1. Sistoskopi: erosi linear di dinding vesika urinaria (kiri); ulserasi


dan inflamasi parah pada atap vesika urinaria (kanan) (Onmaz, 2013).

Gambar 2. Nekropsi pada pasien penderita sistitis kronis: urin yang berpasir
dan nekrosis area korteks ginjal (kiri); urin yang berpasir dan ureter yang
berdilatasi (kanan) (Onmaz, 2013).

Sumber

Onmaz, Ali C. 2013. A Case Report: Recurrent Cystitis in a Mare. Kafkas


University Vet Fak Derg Journal; 19 (Suppl-A): A203-A206, 2013; DOI:
10.9775/kvfd.2012.7656

Department of Health, Victoria State Government. Emergency Department


Factsheet: Cystitis in Women.

McAninch, Jack W. and Lue, Tom F. 2013. Smith and Tanaghos General
Urology Eighteenth Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Jameson, J. Larry and Loscalzo, J. 2013. Harrison: Nefrologi dan


Gangguan Asam-basa. Jakarta: EGC.

Pertemuan 1
Embriologi

Gambar 1. Nefrogenesis (Jameson, 2013)


Fisiologi
Refleks berkemih
Vesika urinaria terisi diterima oleh stretch receptor medulla spinalis
nervus parasimpatik vesika urinaria berkontraksi dan sphincter urethra interna
membuka.
Pengeluaran urin dipengaruhi pula oleh adanya mekanisme volunter, yaitu:
Korteks serebri neuron motorik sphincter urethra externa tertutup.
(McAninch, 2013)
Faktor risiko ISK

Wanita: karena uretra pendek, muaranya di bawah labia, dan dekat dengan

anus
Kehamilan: karena berkurangnya tonus otot ureter, peristaltik ureter,
inkompensasi katup vesikoureter, kateterisasi selama atau setelah

persalinan.
Obstruksi: tumor, batu saluran kemih, striktur.
Disfungsi kandung kemih neurogenik: karena diabetes mellitus, sklerosis

multipel, cedera medulla spinalis.


Aktivitas seksual

Refluks vesikoureter, yaitu aliran balik dari rongga kandung kemih ke

ureter
Virulensi bakteri
Genetik: mempengaruhi kerentanan terhadap ISK

(Jameson, 2013)
Mengapa demam, nyeri perut, dan ....
Patogenesis
Faktor predisposisi (perubahan flora normal vagina oleh karena terapi antibiotik,
infeksi genital lain, kontrasepsi yang berupa spermisida) hilangnya
Lactobacillus sp. penghasil H2O2 memudahkan kolonisasi E.coli hubungan
seksual bakteri masuk ke vesika urinaria karena terpijatnya uretra (Jameson,
2013).
Patofisiologi
Invasi E.coli (memiliki sitotoksin, hemolisin, fimbria, aerobaktin, siderofor untuk
pemurnian besi dan resisten terhadap efek bakterisidal serum manusia) ke sel
epitel vesika urinaria sel epitel vesika urinaria mengeluarkan berbagai sitokin
dan kemokin (IL-6 dan IL-8) secara kemotaksis menyebabkan masuknya
berbagai sel polimorfonuklear (PMN) ke epitel vesika urinaria dan urin untuk
membersihkan bakteri apoptosis dan deskuamasi sel epitel (Jameson, 2013).