Anda di halaman 1dari 4

Epistaksis posterior

berasal

dari

arteri

splenoplatina

dan

arteri

etmoid

posterior.

Perdarahan cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri, sehingga


dapat menyebabkan anemia, hipovolemia dan syok. Sering ditemukan pada
pasien dengan penyakit kardiovaskuler.
Perdarahan posterior dilakukan dengan cara :
1. Lakukan pemasangan tampon posterior ( tampon Bellacq)
2. Masukkan kateter ke dalam rongga hidung sampai tampak di orofaring,
lalu tarik keluar dari mulut
3. Pada ujuang kateter ini diikatkan 2 benang tampon bellacq
4. Kemudian kateter ditarik kembali melalui hidung sampai benang keluar
dan dapat ditarik
5. Tampon didorong dengan bantuan telunjuk agar bias melewati palatum
mole masuk ke nasofaring
6. Kedua benang yang keluar dari hidung diikat pada sebuah gulungan
kasa didepan nares anterior, supaya tampon tetap pada tempatnya.
Benang lain yang keluar mulut diikat secara longgar pada pipi.
Gunanya ialah untuk menarik tampon keluar melalui mulut setelah 2-3
hari.

Hubungan angiofibroma dengan Epistaksis adalah


Angiofibroma berasal dari dua kata, yaitu angioma dan fibroma.
Angioma adalah malforasi arteriovenosa kongenital yang diderita sejak lahir
dan lambat laun membesar. Tumor ini dapat menekan jaringan otak
sekitarnya dan terjadi perdarahan intraserebral atau ke dalam ruang
subaraknoid, sedangkan fibroma merupakan tumor yang terutama terdiri
dari jaringan fibrosa atau jaringan penyambung yang berkembang secara
semourna.

Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung,


rongga hidung atau nasofaring. Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan
gejala dari suatu kelainan yang mana hamper 90% dapat berhenti sendiri.
Hubungan

angiofibroma

dengan

epistaksis

adalah

angiofibroma

merupakan tumor jinak yang berasal dari pembuluh darah. Tumor ini
diperkirakan berasal dari tempat perlekatan spesifik angiofibroma yang
terletak di dinding porterolateral atas rongga hidung. tumor pertama kali
tumbuh di bawah mukosa di tepi sebelah posterior dan lateral koana di atas
nasofaring, dekat dengan margin utama foramen sphenopalatina. Tumor
akan tumbuh besar dan meluas di bawah mukosa, sepanjang tepi posterior
septum dan meluas kea rah bawah membentuk tonjolan massa di atas
rongga hidung posterior.Tumor ini sangat heterogen, tumor ini yang bersifat
mudah rapuh sehingga memudahkan terjadinya perdarahan.

MRI (magnetic Resonance Imaging)


MRI adalah

pencitraan resonansi megnetik yang mnggunakan medan

magnet dan gelombang radio untuk menciptakan gambar rinci organ dan
jaringan di dalam tubuh seseorang.
MRI untuk epistaksis dipergunakan untuk melihat tumor atau infeksi sekitar
dengan jaringan lunak, membedakan sekresi di dalam kavum nasi dan sinus
paranasal yang tersumbat dari space occupying lesion.

KESIMPULAN
Epistaksis posterior

berasal dari arteri splenoplatina dan arteri etmoid

posterior. Perdarahan cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri,


sehingga dapat menyebabkan anemia, hipovolemia dan syok. Sering
ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler. Dimana cara
pemasangan tampon posterior : Lakukan pemasangan tampon posterior
( tampon Bellacq), Masukkan kateter ke dalam rongga hidung sampai
tampak di orofaring, lalu tarik keluar dari mulut, Pada ujuang kateter ini
diikatkan 2 benang tampon bellacq,Kemudian kateter ditarik kembali melalui
hidung sampai benang keluar dan dapat ditarik, Tampon didorong dengan
bantuan telunjuk agar bias melewati palatum mole masuk ke nasofaring,
Kedua benang yang keluar dari hidung diikat pada sebuah gulungan kasa
didepan nares anterior, supaya tampon tetap pada tempatnya. Benang lain
yang keluar mulut diikat secara longgar pada pipi. Gunanya ialah untuk
menarik tampon keluar melalui mulut setelah 2-3 hari.
Hubungan angiofibroma dengan epistaksis adalah angiofibroma merupakan
tumor jinak yang berasal dari pembuluh darah. Tumor ini diperkirakan
berasal dari tempat perlekatan spesifik angiofibroma yang terletak di dinding
porterolateral atas rongga hidung. tumor pertama kali tumbuh di bawah
mukosa di tepi sebelah posterior dan lateral koana di atas nasofaring, dekat
dengan margin utama foramen sphenopalatina. Tumor akan tumbuh besar
dan meluas di bawah mukosa, sepanjang tepi posterior septum dan meluas
kea rah bawah membentuk tonjolan massa di atas rongga hidung
posterior.Tumor ini sangat heterogen, tumor ini yang bersifat mudah rapuh
sehingga memudahkan terjadinya perdarahan.
MRI untuk epistaksis dipergunakan untuk melihat tumor atau infeksi sekitar
dengan jaringan.