Anda di halaman 1dari 27

PANDUAN PASIEN TERMINAL

RUMAH SAKIT DADI KELUARGA

RUMAH SAKIT DADI KELUARGA PURWOKERTO


2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
atas segala berkat dan anugerah yang telah diberikan kepada
penyusun, sehingga Buku Panduan Pasien Terminal Rumah Sakit
Umum Dadi Keluarga Purwokerto ini dapat selesai disusun.
Buku panduan ini merupakan panduan kerja bagi semua
pihak yang terkait dalam memberikan pelayanan kepada pasien di
Rumah Sakit Umum Dadi Keluarga Purwokerto.
Dalam panduan ini diuraikan tentang pengertian dan tata
laksana dalam memberikan pelayanan pasien pada tahap terminal di
rumah sakit umum Dadi Keluarga Purwokerto.
Tidak lupa penyusun menyampaikan terima kasih yang
sedalam-dalamnya atas bantuan semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan Panduan Pasien Terminal Rumah Sakit Umum
Dadi Keluarga Purwokerto.

Penyusun

PANDUAN PASIEN TERMINAL

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Meningkatnya jumlah pasien dengan penyakit yang belum
dapat disembuhkan baik pada dewasa dan anak seperti penyakit
kanker, penyakit degenerative, penyakit paru obstruktif kronis, cystic
fibrosis, stroke, Parkinson, gagal jantung/heart failure, penyakit
genetika dan penyakit infeksi seperti HIV/AIDS yang memerlukan
perawatan paliatif, disamping kegiatan promotif, preventif, kuratif,
dan rehabilitative.
Namun saat ini, pelayanan kesehatan di Indonesia belum
menyentuh kebutuhan pasien dengan penyakit yang sulit
disembuhkan tersebut, terutama pada stadium lanjut dimana prioritas
pelayanan tidak hanya pada penyembuhan tetapi juga perawatan agar
mencapai kualitas hidup yang terbaik bagi pasien dan keluarganya.
Pada stadium lanjut, pesien dengan penyakit kronis tidak
hanya mengalami berbagai masalah fisik seperti nyeri, sesak nafas,
penurunan berat badan, ganguan aktivitas tetapi juga mengalami
ganguan psikososial dan spiritual. Maka kebutuhan pasien pada
stadium lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan/pengobatan
gejala fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan
psikologis, sosial dan spiritual yang dilakukan dengan pendekatan
interdisiplin.
Pada perawatan pasien dalam kondisi terminal menekankan
pentingnya integrasi perawatan lebih dini agar masalah
fisi,psikososial dan spiritual dapat diatasi dengan baik.

B. Tujuan

Tujuan Umum :
Sebagai arahan bagi perawatan pasien terminal di rumah sakit
Tujuan Khusus :
1. Terlaksananya perawatan pasien terminal yang bermutu
sesuai standar yang berlaku di rumah sakit.
2. Tersusunnya panduan pasien terminal.
3. Tersedianya tenaga medis dan non medis yang terlatih.
4. Tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan.
C. Pengertian
1. Keadaan Terminal
Adalah suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat tidak
ada harapan lagi untuk si sakit sembuh. Keadaan sakit itu
dapat disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaan.
2. Kematian
Adalah suatu pengalaman tersendiri, dimana setiap individu
akan mengalami/menghadapi seorang diri, sesuatu yang tidak
dapat dihindari, dan merupakan suatu kehilangan.
D. Masalah di Akhir Kehidupan
Masalah diakhir kehidupan beragam dari usahan memperpanjang
hidup pasien yang sekarat sampai teknologi eksperimental
canggih seperti implantasi organ binatang, percobaan mengakhiri
hidup lebih awal melalui euthanasia dan bunuh diri secara
medis.Diantara hal-hal yang ekstrim etrsebut ada banyak
masalah seperti memulai atau menghentikan perawatan yang
dapat memperpanjang hidup, perawatan pasien dengan penyakit
stadium terminal serta kalayakan dan penggunaan peralatan
bantuan hidup lanjut. Dua masalah yang pantas mendapat
perhatian khusus : euthanasia dan bantuan bunuh diri.

1. Euthanasia
Adalah tahu dan secara sadar melakukan suatu
tindakan yang jelas dimaksudkan untuk mengakhiri hidup
orang lain dan juga termasuk elemen-elemen berikut : subyek
tersebut adalah orang yang kompeten dan paham dengan
penyakit yang tidak dapat disembuhkan yang secara sukarela
meminta hidupnya diakhiri; agen mengetahui tentang kondisi
pasien dan menginginkan kematian dan melakukan tindakan
dengan niat utama mengakhiri hidup orang tersebut; dan
tindakan dilakukan dengan belas kasih dan tanpa tujuan
pribadi.
2. Bantuan Bunuh Diri
Berarti tahu dan secara sadar memberikan kepada
seseorang
pengetahuan atau alat atau keduanya yang
diperlukan untuk melakukan bunuh diri, termasuk konseling
mengenai obat dosis letal, meresepkan obat dosis letal atau
memberikannya. Euthanasia dan bunuh diri dengan bantuan
sering dianggap sama secara moral, walaupun antara
keduanya ada perbedaan yang jauh secara praktek maupun
dalam hal yuridiksi legal. Euthanasia dan bunuh diri dengan
bantuan secara definisi harus dibedakan dengan menunda
atau menghentikan perawatan medis yang tidak diinginkan,
sia-sia atau tidak tepat ketentuan perawatan paliatif, bahkan
jika tindakan-tindakan tersebut dapat memperpendek hidup.
Permintaan euthanasia dan bantuan bunuh diri muncul
sebagai akibat dari rasa sakit atau penderitaan yang dirasa
pasien tidak tertahankan. Mereka lebih memilih mati daripada
meneruskan hidup dalam keadaan tersebut. Lebih jauh lagi,
banyak pasien menganggap mereka mempunyai hak untuk
mati dan bahkan hak memperoleh bantuan untuk mati. Dokter
dianggap sebagai instrument kematian yang paling tepat

karena mereka mempunyai pengetahuan medis dan akses


kepada obat-obatan yang sesuai untuk mendapatkan kematian
yang cepat tanpa rasa sakit. Tentunya dokter akan merasa
enggan memenuhi permintaan tersebut karena merupakan
tindakan yang illegal di sebagian besar Negara dan dilarang
dalam sebagian besar kode etik kedokteran. Larangan
tersebut merupakan bagian dari sumpah Hippocrates dan
telah dinyatakan kembali oleh WMA dalam Declaration on
Euthanasia :
Euthanasia yang merupakan tindakan mengakhiri
hidup seseorang pasien dengna sengsara, tetaplah tidak etik
bahkan jika pasien sendiri atau keluarga dekatnya yang
memintanya. Hal ini tetap saja tidak mencegah dokter dari
kewajibannya menghormati keinginan pasien untuk
membiarkan proses kematian alami dalam keadaan sakit
tahap terminal.
Penolakan terhadap Euthanasia dan bantuan bunuh
diri tidak berarti dokter tidak dapat melakukan apapun bagi
pasien dengan penyakit yang mengancam jiwa pada stadium
lanjut dan dimana tindakan kuratif tidak tepat. Pada tahuntahun terakhir telah terjadi kemajuan yang besar dalam
perawatan paliatif untuk mengurangi rasa sakit dan
penderitaan serta meningkatkan kualitas hidup.
Pengobatan paliatif dapat diberikan pada pasien
segala usia, dari anak-anak dengan penyakit kanker sampai
orang tua yang hampir meninggal. Satu aspek dalam
pengobatan paliatif yang memerlukan perhatian lebih adalah
control rasa sakit. Semua dokter yang merawat pasien sekarat
harus yakin bahwa mereka mempunyai cukup ketrampilan
dalam masalah ini, dan jika mungkin juga memiliki akses
terhadap bantuan yang sesuai dari ahli pengobatan paliatif.
Dan diatas semuanya itu, dokter tidak boleh membiarkan

pasien sekarat namun tetap memberikan perawatan dengan


belas kasih bahkan jika sudah tidak mungkin disembuhkan.
Pendekatan terhadap kematian memunculkan berbagai
tantangan etis kepada pasien, wakil pasien dalam mengambil
keputusan dan juga dokter. Kemungkinan memperpanjang
hidup dengan memberikan obat-obatan, intervensi resusitasi,
prosedur radiologi, dan perawatan intensif memerlukan
keputusan mengenai kapan memulai tindakan tersebut dan
kapan menghentikannya jika tidak berhasil.
Seperti dibahas diatas, jika berhubungan dengan
komunikasi dan ijin, pasien yang kompeten mempunyai hak
untuk menolak tindakan medis apapun walaupun jika
penolakan itu dapat, dokter tidak boleh membiarkan
pasien sekarat namun tetap memberikan perawatan dengan
belas kasih bahkan jika sudah tidak mungkin disembuhkan
menyebabkan kematian. Setiap orang berbeda dalam
menanggapikematian; beberapa akan melakukan apapun
untuk memperpanjang hidup mereka, tak peduli seberapapun
sakit dan menderitanya; sedang yang lain sangat ingin mati
sehingga menolak bahkan tindakan yang sederhana yang
dapat membuat mereka tetap hidup seperti antibiotic untuk
pneumonia bakteri. Jika dokter telah melakukan setiap usaha
untuk memberitahukan kepada pasien semua informasi
tentang perawatan yang ada serta kemungkinan
keberhasilannya, dokter harus tetap menghormati keputusan
pasien apakah akan memulai atau melanjutkan suatu terapi.
Pengambilan keputusan diakhir kehidupan untuk
pesien yang tidak komitmen memunculkan kesulitan yang
lebih besar lagi. Jika pasien dengan jelas mengungkapkan
keinginannya sebelumnya seperti menggunakan bantuan
hidup lanjut, keputusan akan lebih mudah walaupun bantuan
seperti itu kadang sangat samar-samar dan harus

diinterpretasikan berdasarkan kondisi actual pasien. Jika


pasien tidak menyatakan keinginannya dengan jelas, wakil
presiden dalam mengambil keputusan harus menggunakan
kriteria-kriteria lain untuk keputusan perawatan yaitu
kepentingan terbaik pasien.
E. Tahap-tahap Menjelang Ajal
Kubler-Rosa (1969), telah menggambarkan atau membagi tahaptahap menjelang ajal (dying) dalam 5 tahap, yaitu :
1. Menolak/Denial
Pada fase ini, pasien tidak siap menerima keadaan
yang sebenarnya terjadi dan menunjukkan reaksi menolak.
Timbul pemikiran-pemikiran seperti :Seharusnya tidak
terjadi dengan diriku, tidak salahkah keadaan ini? Beberapa
orang bereaksi pada fase ini dengan menunjukkan keceriaan
yang palsu (biasanya orang akan sedih mengalami keadaan
menjelang ajal).
2. Marah/Anger
Kemarahan terjadi karena kondisi klien mengancam
kehidupannya dengan segala hal yang telah diperbuatnya
sehingga menggagalkan cita-citanya. Timbul pemikiran pada
diri klien :Mengapa hal ini terjadi dengan diriku
Kemarahan-kemarahan tersebut biasanya diekpresikan
kepada obyek-obyek yang dekat dengan pasien, seperti :
keluarga, teman dan tenaga kesehatan yang merawatnya.
3. Menawar/bargaining
Pada tahap ini kemarahan biasanya mereda dan pasien
malahan dapat menimbulkan kesan sudah dapat menerima
apa yang terjadi dengan dirinya. Pada pasien yang sedang
dying, keadaan demikian dapat terjadi,sering kali klien

berkata :Ya Tuhan, jangan dulu saya mati dengan segera,


sebelum anak saya lulus jadi sarjana
4. Kemurungan/depresi
Selama tahap ini, pasien cenderung untuk tidak
banyak bicara dan mungkin banyak menangis. Ini saatnya
perawat untuk duduk dengan tenang disamping pasien yang
sedang melalui masa sedihnya sebelummeninggal.
5. Menerima/Pasrah/Acceptance
Pada fase ini terjadi proses penerimaan secara sadar
oleh pasien dan keluarga tentang kondisi yang terjadi dan halhal yang akan terjadi yaitu kematian. Fase ini sangat
membantu apabila pasien dapat menyatakan reaksi-reaksinya
atau rencana-rencana yang terbaik bagi dirinya menjelang
ajal. Misalnya : ingin bertemu dengan keluarga terdekat,
menulis surat wasiat dan sebagainya.
F. Type-type Perjalanan Menjelang Kematian
Ada 4 typedari perjalanan pross kematian, yaitu :
1. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu
adanya perubahan yang cepat dari fase akut ke kronik.
2. Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui,
biasanya terjadi pada kondisipenyakit yang kronik.
3. Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum
pasti, biasanya terjadi padapasien dengan operasiradikal
karena adanya kanker.
4. Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu. Terjadi
pada pasien dengan sakit kronik dan telah berjalan lama.

G. Tanda-tanda Klinis Menjelang Kematian

1. Kehilangan Tonus Otot, ditandai :


a. Relaksasi otot muka sehingga dagu menjadi turun.
b. Kesulitan dalam berbicara, proses menelan dan hilangnya
reflek menelan.
c. Penurunan kegiatan traktus gastrointestinal, ditandai:
nausea, muntah, perut kembung, obstipasi, dan lainnya.
d. Penurunan control spingter urinary dan rectal.
e. Gerakan tubuh yang terbatas.
2. Kelambatan dalam Sirkulasi, ditandai :
a. Kemunduran dala sensasi.
b. Sianosos pada daerah ekstermitas.
c. Kulit dingin, pertama kali pada daerah kaki, kemudian
tangan, telinga dan hidung.
3. Perubahan-perubahan dalam tanda-tanda vital
a. Nadi lambat dan lemah.
b. Tekanan darah turun.
c. Pernafasan cepat, cepat dangkal dan tidak teratur.
4. Gangguan Sensori
a. Pengliatan kabur.
b. Gangguan penciuman dan perabaan.
Variasi-variasi tingkat kesadaran dapat dilihat sebelum
kematian, kadang-kadang pasien tetap sadar sampai
meninggal. Pendengaran merupakan sensori terakhir yang
berfungsi sebelum meninggal.
H. Tanda-tanda klinis saat meninggal
1. Pupil mata melebar
2. Tidak mampu untuk bergerak
3. Kehilangan reflek
4. Nadi cepat dan kecil
5. Pernafasan chyene-stoke dan ngorok

6. Tekanan darah snagar rendah


7. Mata dapat tertutup atau agak terbuka
I. Tanda-tanda meninggal secara klinis
Secara tradisional, tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat
melalui perubahan-perubahan nadi, respirasi dan tekanan darah.
Pada tahun 1968, Word Medical Assembly, menetapkan beberapa
petunjuk tentang indikasi kematian, yaitu :
1. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar seacra total
2. Tidak ada gerak dari otot khususnya pernafasan
3. Tidak ada reflek
4. Gambaran mendatar pada EKG
J. MacamTingkat Kesadaran/ Pengertian Pasien dan
Keluarganya Terhadap Kematian
Strause et all (1970), membagi kesadaran ini dalam 3 type:
1. Closed Awareseness/Tidak Mengerti
Pada situasi seperti ini, dokter biasanya memilih
untuk tidak memberitahukan tentang diagnose dan prognosa
kepada pasien dan keluarganya. Tetapi bagi perawat hal ini
sangat menyulitkan karena kontak perawat lebih dekat dan
sering kepada pasien dan keluarganya. Perawat sering kali
dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan langsung: kapan
sembuh, kapan pulang dan sebagainya.
2. Matual Pretense/Kesadaran/Penertian yang Ditutupi
Pada fase ini memberikan kesempatan kepada pasien
untuk menentukan segala sesuatu yang bersifat pribadi
walaupun merupakan beban yang berta baginya.
3. Open Awareness/Sadar akan keadaan dan Terbuka
Pada situasi ini, pasien dan orang-orang disekitarnya
mengetahui akan adanya ajal yang menjelang dan menerima
untuk mendiskusikannya, walaupun dirasakan getir. Keadaan

ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk


berpartisipasi dalam merencanakan saat-saat akhirnya, tetapi
tidak semua orang dapat melaksanakan hal tersebut.
K. Bantuan yang dapat Diberikan
1. Bantuan Emosional
1) Pada fase Denial/Menolak
Dokter/perawat perlu waspada terhadap isyarat pasien
dengan denial dengan cara menanyakan tentang
kondisinya atau prognosisnya dan pasien dapat
mengekspresikan perasaan-perasaannya.
2) Pada Fase Marah
Biasanya pasien akan merasa berdosa telah
mengekspresikan
perasaannya
yang
marah.
Dokter/Perawat perlu membantunya agar mengerti bahwa
masih merupakan hal yang normal dalam merespon
perasaan kehilangan menjelang kematian. Akan lebih baik
bila kemarahan ditujukan kepada perawat sebagai orang
yang dapat dipercaya, memberikan rasa aman akan
menerima kemarahan tersebut serta meneruskan asuhan
sehingga membnatu pasien dalam menumbuhkan rasa
aman.
3) Pada FaseMenawar
Pada fase ini dokter/perawat perlu mendengarkan segala
keluhannya dan mendorong pasien untuk dapat erbicara
Karena akan mengurangi rasa bersalah dan takut yang
tidak masuk akal.
4) Pada Fase Depresi
Pada fase ini dokter/perawat selalu hadir didekatnya dan
mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh pasien. Akan

lebih baik jika berkomunikasi secara non verbal yaitu


duduk dengan tenang disampingnya dan mengamati
reaksi-reaksi non verbal dari pasien sehingga
menumbuhkan rasa aman bagi pasien.
5) Pada Fase Penerimaan
Fase ini ditandai pasien dengan perasaan tenang, damai.
Kepada keluarga dan teman-temannya dibutuhken
pengertian bahwa pasien telah menerima keadaannya dan
perlu dilibatkan seobtimal mugkin dalam program
pengobatan dan mampu untuk menolong diirnya sendiri
sebatas kemampuannya.
2. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Fisiologis
a. Kebersihan Diri
Kebersihan dilibatkan untuk mampu melakukan kebersihan
diri sebatas kemampuannya dalam hal kebersihan kulit,
rambut, mulut, badan dan sebagainya.
b. Mengontrol Rasa Sakit
Beberapa obat untuk mengurangi rasa sakit digunakan pada
pasien dengan sakit terminal, seperti morphin, heroin dan
lainnya. Pemberian obat ini diberikan sesuai dengan tingkat
toleransi nyeri yang dirasakan pasien. Obat-obatan lebih baik
diberikan Intra Vena dibandingkan melalui Intra
Muskular/Subcutan karena kondisi sistem sirkulasi sudah
menurun.
c. Membebaskan Jalan Nafas
Untuk pasien dengan kesadaran penuh, posisi fowler akan
lebih baik dan pengeluaran sekresi lender perlu dilakukan
untuk membebaskan jalan nafas, sedangkan bagi pasien yang
tidak sadar, posisi yang baikadalah dengan dipasang drainase
dari mulut dan pemberian oksigen.

d. Bergerak
Apabila kondisinya memungkinkan, pasien dapat dibantu
untuk bergerak, seperti : turun dari tempat tidur, ganti posisi
tidur(miring kiri, miring kanan) untuk mencegah decubitus
dan dilakukan secara periodic, jika diperlukan dapat
digunakan alat untuk menyokong tubuh pasien, karena tonus
otot sudah menurun.
e. Nutrisis
Pasien sering kali anorexia, nausea karena adanya penurunan
peristaltic. Dapat diberikan anti ametik untuk mengurangi
nausea dan merangsang nafsu makan serta pemberian
makanan tinggi kalori dan protein serta vitamin. Karena
terjadi totus otot yang berkurang, terjadi dysphagia, dokter
perlu menguji reflek menelan klien sebelum diberi makanan
cair atau Intra Vena/Infus
f. Emilinasi
Karena adanya penurunan atau kehilangan tonus otot dapat
terjadi konstipasi, inkontinensia urin dan feses. Obat laxant
perlu diberikan untuk mencegah konstipasi. Pasien dengan
inkontinensia dapat diberikan urinal, pispot secara teratur
atau dipasang duk yang diganti setiap saat atau dipasang
kateter. Harus dijaga kebersihan pada daerah sekitar
perineum, apabila terjadi lecet harus diberikan saleb
g. Perubahan Sensori
Pasien dengan dying, penglihatan menjadi kabur. Pasien
biasanya
menolak/menghadapkan
kepala
kearah
lampu/tempat terang. Pasien masih dapat mendengar tetapi
tidak dapat/mampu merespon, perawat dan keluarga harus
bicara dengan jelas dan tidak berbisik-bisik.
3. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Sosial

Pasien dengan dying akan ditempatkan diruang isolasi dan untuk


memenuhi kebutuhan kontak sosialnya, perawat dapat melakukan
:
a. Menanyakan siapa-siapa yang ingin didatangkan untuk
bertemu dengan pasien dan didiskusikan dengan keluarganya.
Misalnya : teman-teman dekat atau anggota keluarga lain.
b. Menggali perasaan-perasaan pasien sehubungan dengan
sakitnya dan perlunya diisolasi
c. Menjaga penampilan pasien pada saat-saat menerima
kunjungan teman-teman terdekatnya yaitu dengan
memberikan pasien untuk membersihkan diri dan merapikan
diri
d. Meminta saudara/teman-teman untuk sering mnegunjungi dan
mengajak orang lain dan membawa buku-buku bacaan bagi
pasien apabila pasien mampu membacanya
4. Bantuan Memenuhi Kebutuhan Spiritual
- Menanyakan kepada pasien tentang harapan-harapan
hidupnya dan rencana-rencana pasien selanjutnya menjelang
kematian
- Menanyakan kepada pasien untuk bila ingin mendatangkan
pemuka agama dalam hal untuk memenuhi kebutuhan
spiritual sesuai dengan keyakinannya
- Membantu dan mendorong pasien untuk melaksanakan
kebutuhan spiritual sebatas kemampuannya. Keyakinan
spiritual mencakup praktek ibadah sesuai dengan
keyakinannya/ritual harus diberi dukungan. Petugas
kesehatan dan keluarga harus mampu memberikan
ketenangan melalui keyakinan-keyakinan spiritualnya.
Petugas kesehatan dan keluarga harus harus sensitive
terhadap kebutuhan ritual pasien yang akan menghadapi

kematian, sehingga kebutuhan spiritual klien menjelang


kematian dapat terpenuhi.
L. Kesimpulan
Kondisi Terminal adalah suatu keadaan dimana seseorang
mengalami penyakit/sakit yang tidak mempunyai harapan untuk
sembuh sehingga sangat dekat dengan proses kematian. Respon
klien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi
fisik, psikologis, sosial yang dialami sehingga dampak yang
ditimbulkan pada tiap individu juga berbeda. Hal ini
mempengaruhi tingkat kebutuhan dasar yang ditunjukkan oleh
pasien terminal. Orang yang telah lama hidup sendiri, terisolasi
akibat akibat kondisi terminal dan menderitapenyakit kronis yang
lama dapat memaknai kematian sebagai kondisi peredaan
terhadap penderitaan. Atau sebagian beranggapan bahwa
kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang akan
mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintainya.
Sedangkan yang lain beranggapan takut akan perpisahan,
dikucilkan, ditelantarkan, kesepian atau mengalami penderitaan
sepanjang hidup. Seseorang yang menghadapi kematian/kondisi
terminal, dia akan menjalani hidup, merespon terhadap berbagai
kejadian dan orang disekitarnya sampai kematian itu terjadi.
Perhatian utama pasien terminal sering bukan pada kematian itu
sendiri tetapi lebih pada kehilangan control terhadap fungsi
tubuh, pengalaman nyeri yang menyakitkan atau tekanan
psikologis yang diakibatkan ketakutan akan perpisahan,
kehilangan orang yang dicintai.

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN TERMINAL
A. PENGERTIAN
Penyakit terminal adalah suatupenyakit yang tidak bisa
disembuhkan lagi. Kematian adalah tahap akhir kehidupan.
Kematian biasa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau mengikuti
periode sakit yang panjang. Terkadang kematian menyerang usia
muda tetapi selalu menunggu yang tua.
B. TAHAP TAHAP BERDUKA
Dr. Elisabeth Kublerr Rosstelah mengindentifikasi lima tahap
berduka yang dapat terjadi pada pasien menjelang ajal :
1. Denial ( Pengingkaran )
Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal
dan dia tidak dapat menerima informasi ini sebagai kebenaran
dan bahkan mungkin mengingkarinya.
2. Anger ( Marah )
Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan
behwa ia akan meninggal.
3. Bergaining ( Tawar-menawar )
Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba
menawar waktu untuk hidup.
4. Depetion ( depresi )
Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa
ia akan segera mati. Ia sangat sedih karna memikirkan bahwa
ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan teman-teman.
5. Acceptance (Penerimaan )
Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima
kenyataan bahwa ia akan meninggal. Ia akan berusaha keras

untuk
menyelesaikan
terselesaikan.

tugas-tugasnya

yang

belum

ASUPAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL


A. PENGKAJIAN
1) Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat
sekarang.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk
rumah sakit dengan penyakit yang sama.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anggota keluarga pernah menderita pentakit yang
sama dengan klien.
2) Head To Toe
Perubahan Fisik saat kematian mendekat
1. Pasien kurang responsive
2. Fungsi tubuh melambat
3. Pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja
4. Rahang cenderung jatuh
5. Pernafasan tidak teratur dan dangkal
6. Sirkulasi melambat dan ekstremitas dingin, nadi cepat dan
melemah
7. Kulit pucat
8. Mata memelalak dan tidak ada respon terhadap cahaya
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Ansietas/ketakutan individu, keluarga yang berhubungan
diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan
kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian
dan efek negative pada gaya hidup.

b) Berduka yang berhubungan dengan penyakit terminal dan


kematian yang dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep
diri dan menarik diri dari orang lain.
c) Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan
gangguan kehidupan keluarga, takut akan hasil (kematian)
dengan lingkungannya penuh dengan stes (tempat perawatan)
d) Resiko terhadap distress spiritual yang berhubungan dengan
perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi
atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman
kematian.
KRITERIA HASIL
a) Klien atau keluarga akan :
1. Mengungkapkan ketakutan yang berhubungan dengan
gangguan.
2. Menceritakan pikiran tentang efek gangguan pada fungsi
normal, tanggung jawab peran dan gaya hidup.
b) Klien akan :
1. Mengungkapkan kehilangan dan perubahan
2. Mengungkapkan perasaan yang berkaitan kehilangan dan
perubahan
3. Menyatakan kematian akan terjadi
Anggota keluarga akan melakukan hal berikut :
a. Menghabiskan waktu bersama klien
b. Mempertahankan kasih sayang, komunikasi terbuka
dengan klien
c. Berpartisipasi dalam perawatan
c) Anggota keluarga atau kerabat terdekat akan :
1. Mengungkapkan akan kekhawatirannya mengenai
prognosis klien
2. Mengungkapkan kekhawatiran mengenai lingkungan
tempat perawatan

3. Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu


selama perawatan klien
d) Klien akan mempertahankan praktik spiritualnya yang akan
mempengaruhi penerimaan terhadap ancaman kematian.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa I
Ansiesta/ketakutan (individu, keluarga) yang berhubungan
dengan situasi yang tak dikenal. Sifat kondisi yang tak dapat
diperkirakan takut akan kematian dan efek negative pada gaya
hidup.
Kriteria Hasil
Klien atau keluarga akan :
1. Mengungkapkan ketakutan yang berhubungan dengan
gangguan
2. Menceritakan tentang efek gangguan pada fungsi normal,
tanggung jawab, peran dan gaya hidup.
No Intervensi Rasional
1) Bantu klien untuk mengurangi ansiestasnya :
a. Berikan kepastian dan kenyamanan.
b. Tunjukkan perasaan tentang pemahaman dan empati,
jangan menghindari pertanyaan.
c. Dorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan
permasalahan yang berhubungan dengan pengobatan.
d. Identifikasi dan dukung mekaniosme koping efektif Klien
yang cemas mempunyai penyempitan lapang persepsi
dengan penurunan kemampuan untuk belajar. Ansietas
cenderung untuk memperburuk masalah. Menjebak klien
pada lingkaran peningkatan ansietas tegang, emosional
dan nyeri fisik.

2) Kaji tingkat ansietas klien : rencanakan penyuluhan bila


tingkatnya rendah atau sedang. Beberapa rasa takut yang
didasari oleh informasi yang tidak akurat dan dapat
dihilangkan dengan memberikan informasi akurat. Klien
dengan ansietas berat atau parah tidak menyerap pelajaran.
3) Dorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan
ketakutan-ketakutan mereka. Pengungkapan memungkinkan
untuk saling berbagi dan memberikan kesempatan untuk
memperbaiki konsep yang tidak benar.
4) Berikan pasien dan keluarga kesempatan dan penguatan
koping positif. Menghargai pasien untuk koping efektif dapat
menguatkan respon koping positif yang akan datang.
Diagnosa II
Berduka yang berhubungan penyakit terminal dan kematian yang
akan dihadapi penurunan fungsi, perubahan konsep diri dan
menarik diri dari orang lain.
Klien akan :
1. Mengungkapkan kehilangna dan perubahan
2. Mengungkapkan perasaan yang berkaitan kehilangan dan
perubahan
3. Menyatakan kematian akan terjadi
Anggota keluarga akan melakukan hal berikut : mempertahankan
hubungan erat yang efektif, yang dibuktikan dengan cara sbb :
a. Menghabiskan waktu bersama klien
b. Mempertahankan kasih sayang, komunikasi terbuka dengan
klien
c. Berpartisipasi dalam perawatan
*No Intervensi Rasional

1) Berikan kesempatan kepada klien dan keluarga untuk


mengungkapkan perasaan, didiskusikan kehilangan secara
terbuka dan gali makna pribadi dari kehilangan. Jelaskan
bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat.
Pengetahuan bahwa tidak ada lagi pengobatan yang
dibutuhkan dan bahwa kematian sedang menanti dapat
menyebabkan menimbulnya perasaan yang dalam dan respon
berduka yang lainnya. Diskusi terbuka dan jujur dapat
membantu klien dan anggota keluarga menerima dan
mengatasi situasi dan merespon mereka terhadap situasi
tersebut.
2) Berikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang
terbukti memberikan keberhasilan pada masa lalu. Strategi
koping positif membantu penerimaan dan pemecahan masalah.
3) Berikan dukungan pada klien untuk mengekspresikan atribut
diriyang positif. Memfokuskan pada atribut yang positif
meningkatkan penerimaan diri dan penerimaan kematian yang
terjadi.
4) Bantu klien mengatakan dan menerima kematian yang akan
terjadi, jawab semua pertanyaan dengan jujur. Proses berduka,
proses berkabung adaptif tidak dapat dimulai sampai kematian
yang akan terjadi di terima.
5) Tingkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian,
menghilangkan ketidaknyaman dan dukungan. Penelitian
menunjukkan bahwa klien sakit terminal paling menghargai
tindakan keperawatan berikut :
a. Membantu berdandan
b. Membantu fungsi kemandirian
c. Memberikan obat nyeri saat diperlukan
d. Meningkatkan kenyaman fisik (skoruka dan bonet 1982)

Diagnosa III
Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan
kehidupan, takut akan hasil (kematian) dan lingkungan penuh stress
(tempat perawatan)
Anggota keluarga atau kerabat terdekat akan :
1. Mengungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis
klien
2. Mengungkapkan kekhawatirannya mengenai lingkungan tempat
perawatan
3. Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selama
perawatan klien
No Intervensi Rasional
1) Luangkan waktu bersama keluarga atau orang terdekat klien dan
tunjukkan pengertian yang empati. Kontak yang sering dan
mengomunikasikan sikap perhatian dan peduli dapat membantu
mengurangi kecemasan dan meningkatkan pembelajaran.
2) Izinkan keluarga klien atau orang terdekat untuk
mengekspresikan perasaan, ketakutandan kekhawatiran. Saling
berbagi memungkinkan perawat untuk mengintifikasi ketakutan
dan kekhawatiran kemudian merencanakan intervensi untuk
mengatasinya.
3) Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU, informasi ini dapat
membantu mengurangi ansietas yang berkaitan dengan
ketidaktakutan.
4) Jelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang
dipikirkan dan berikan informasi spesifik tentang kemajuan klien.
5) Anjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam
tindakan perawatan. Kunjungan dan partisipasi yang sering dapat
meningkatkan interaksi keluarga berkelanjutan.
6) Konsul dengan atau berikan rujukan ke sumber komunitas dan
sumber lainnya. Keluarga dengan masalah-masalah seperti

kebutuhan financial, koping yang tidak berhasil atau konflik yang


tidak selesai memerlukan sumber-sumber tambahan untuk
membantu mempertahankan fungsi keluarga.
Diagnosa IV
Resiko terhadap distress spiritual yang berhubungan dengan
perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi atau
ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian. Klien
akan mempertahankan praktik spiritualnya yang akan mempengaruhi
penerimaan terhadap ancaman kematian.
No Intervensi Rasional
1) Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek
atau ritual keagamaan atau spiritual yang diiginkan bila yang
memberi kesempatan pada klien untuk melakukannya. Bagi klien
yang mendapatkan nilai tinggi pada doa atau praktek spiritual
lainnya. Praktek ini dapat memberikan arti dan tujuan dan dapat
menjadi sumber kenyamanan dan kekuatan.
2) Ekspresikan pengertian dan penerimaan anda tentang pentingnya
keyakinan dan praktik religious atau spiritual klien.
Menunjukkan sikap tak menilai dapat membantu mengurangi
kesulitan klien dalam mengekspresikan keyakinan dan
prakteknya.
3) Berikan prifasi dan ketenangan untuk ritual spiritual sesuai
kebutuhan klien dapat dilaksanakan. Privasi dan ketenangan
memberikan lingkungan yang memudahkan refresi dan
perenungan.
4) Bila anda menginginkan tawaran untuk berdoa bersama klien
lainnya atau membaca buku keagamaan. Perawat meskipun yang
tidak menganut agama atau keyakinan yang sama dengan klien
dapat membantu klien memenuhi kebutuhan spiritualnya.

5) Tawaran untuk menghubungkan pemimpin religious


atau
rohaniwan rumah sakit untuk mengatur kunjungan. Jelaskan
ketidak setiaan pelayanan (kapel dan injil RS) Tindakan ini dapat
membantu klien mempertahankan ikatan spiritual dan
mempraktikkan ritual yang penting (Carson 1989)
D. IMPLEMENTASI
Diagnosa I
1. Membantu klien untuk mengurangi ansientasnya :
a. Memberikan kepastian dan kenyamanan
b. Menunjukkan perasaan tentang pemahaman dan empati,
jangna menghindari pertanyaan
c. Mendorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan
permasalahan yang berhubungan dengan pengobatannya
d. Menditifikasi dan mendorong mekanisme koping efektif
2. Mengkaji tingkat ansientas klien, merencanakan penyuluhan
bila tingkatnya rendah atau sedang
3. Mendorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan
ketakutan atau pikiran mereka
4. Memberikan klien dan keluarga dengan kepastian dan
penguatan perilaku koping positif
5. Memberikan dorongan pada klienuntuk menggunakan teknik
relaksasi seperti panduan imajines dan pernafasan relasasi
Diagnosa II
1. Memberikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk
mengungkapkan perasaan, diskusikan kehilangan serta terbuka
dan gali makna pribadi dari kehilangan. Jelaskan bahwa berduka
adalah reaksi yang umum dan sehat.
2. Memberikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang
terbukti memberikan keberhasilan pada masa lalu.

3. Memberikan dorongna kepada pasien untuk mengekspresikan


atribut dari yang positif.
4. Membantu klien menyatakan dan menerima kematian yang akan
terjadi, jawab semua pertanyaan dengan jujur.
5. Meningkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian,
menghilangkan ketidaknyaman dan dukungan.
Diagnosa III
1. Meluangkan waktu bersama keluarga/orang terdekat klien dan
tunjukkan pengertian yang empati.
2. Mengizinkan
keluarga
klien/orang
terdekat
untuk
mengekspresikan perasaan ketakutan dan kekhawatiran.
3. Menjelaskan lingkungan dan peralatan.
4. Menjelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi
yang dipirkan dan memberikan informasi spesifik tentang
kemajuan klien.
5. Menganjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam
tindakan keperawatan.
6. Mengkonsul atau memberikan rujukan ke sumber komunitas dan
sumber lainnya.
Diagnosa IV
1. Menggali apakh klien menginginkan untuk melaksanakan praktik
atau ritual keagaam atau spiritual yang diizinkan bila ia
memberikan kesempatan kepada klienutuk melakukannya.
2. Mengekspresikan pengertian dan penerimaan anda tentang
pentingnya keyakinan dan praktik religious atau spiritual klien.
3. Memberikan privasi dan ketenangan untukritual, spiritual sesuai
kebutuhan klien dan dapat dilaksanakan.
4. Menawarkan untuk menghubungi religious atau rohaniwan
rumah sakit untuk mengatur kunjungan. Menjelaskan

ketersediaan pelayanan, misalnya : alquran dan ulama bagi yang


beragama islam
EVALUASI
1. Klien merasa nyaman dan mengekspresikan persaannya kepada
perawat
2. Klien tidak merasa sedih dan siap menerima kenyataan
3. Klien selalu ingat kepada Allah dan selalu bertawakal
4. Klien sadar bahwa setiap apa yang diciptakan Allah akan kembali
kepadaNYA