Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM TEKNIK MATERIAL


MODUL C PENGELASAN SMAW

Oleh :
Nama

Kelompok

: Adhi Vijja Kumara

(123.13.003)

Muhammad Iqbal

(123.13.005)

Nindi Paramitha Masduki

(123.13.018)

Thia Theresia

(123.13.027)

: VI (Lima)

Tanggal Praktikum

: 9 April 2016

Tanggal Laporan

: 23 April 2016

Nama Asisten

: Irma Pratiwi

LABORATORIUM METALURGI
PROGRAM STUDI TEKNIK MATERIAL
FAKULTAS TEKNIK MESIN DAN DIRGANTARA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Praktikum


Pada era serba teknologi ini teknik pengelasan sangat diperlukan untuk berbagai proses
pengerjaan industri seperti, pemotongan logam dan penyambungannya, konstruksi bangunan
baja, dan konstruksi permesinan yang memang tidak dapat dipisahkan dengan teknologi
manufaktur. Teknologi pengelasan termasuk yang paling banyak digunakan karena memiliki
beberapa keuntungan seperti bangunan dan mesin yang dibuat dengan teknik pengelasan
menjadi ringan dan lebih sederhana dalam proses pembuatannya. Kualitas dari hasil
pengelasan sangat tergantung pada keahlian dari penggunanya dan persiapan sebelum
pelaksanaan pengelasaan.
Penyambungan dua buah logam menjadi satu dilakukan dengan jalan pemanasan atau
pelumeran, dimana kedua ujung logam yang akan disambung dilelehkan dengan busur nyala
atau panas yang didapat dari busur nyala listrik (gas pembakar) sehingga kedua ujung atau
bidang logam merupakan bidang masa yang kuat dan tidak mudah dipisahkan (Arifin,1997).
Saat ini terdapat sekitar 40 jenis pengelasan. Dari seluruh jenis pengelasan tersebut hanya dua
jenis yang paling populer di Indonesia yaitu pengelasan dengan menggunakan busur nyala
listrik (Shielded metal arc welding/ SMAW).

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan Praktikum Pengelasan SMAW adalah :
- Mengetahui macam- macam proses pengelasan
- Mengetahui dan memahami proses pengelasan SMAW
- Dapat menentukan kekuatan tarik lasan

BAB II
TEORI DASAR
Pengelasan merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dari proses manufaktur. Proses
pengelasan yang pada prinsipnya adalah menyambungkan dua atau lebih komponen, lebih tepat
ditujukan untuk merakit beberapa komponen menjadi suatu bentuk mesin. Pengelasan adalah
proses penyambungan dua buah logam atau lebih dimana logam menjadi satu akibat panas
dengan atau tanpa pengaruh tekanan. Proses-proses pengelasan antara lain Gas Welding, Arc
Welding, Resistance Welding, Solid State Welding, dll. Gas Welding menggunakan gas untuk
menghasilkan panas api, contohnya antara lain Oxyacetilene Welding (menggunakan oksigen
Laporan Modul C Pengelasan SMAW

dan asetilen untuk menghasilkan api), Pressure Gas Welding (menggunakan api oxyacetylene
dan pemberian tekanan). Pada Arc Welding, proses penggabungan didapat dari panas yang
dihasilkan dari busur listrik antara benda kerja dan elektroda. Contoh yang termasuk Arc
Welding antara lain Shielded Metal Arc Welding, Gas Metal Arc Welding, Gas Tungsten Arc
Welding, dll. Pada Resistance Welding, arus listrik yang kuat dilewatkan kepada logam
menyebabkan pemanasan lokal pada sambungan, kemudian saat tekanan diberikan barulah
proses las selesai. Contoh Resistance Welding antara lain pengelasan titik, projection welding,
seam welding, dll.
Cara mengelas yang sering dipergunakan dalam praktek dan termasuk klasifikasi las busur
listrik adalah : las elektroda terbungkus, las busur dengan pelindung gas dan las busur dengan
pelindung bukan gas. Las elektroda terbungkus (SMAW) adalah cara pengelasan yang banyak
digunakan pada masa ini.
Prinsip Kerja Proses Pengelasan Busur Listrik
Proses pengelasan SMAW juga dikenal sebagai proses MMAW (Manual Metal Arc Welding).
Dalam pengelasan ini, logam induk mengalami pencairan akibat pemanasan dari busur listrik
yang timbul antara ujung elektroda dan permukaan benda kerja. Dalam cara pengelasan ini
digunakan kawat elektroda logam yang dibungkus dengan fluks. Pada gambar di bawah dapat
terlihat dengan jelas bahwa busur listrik terbentuk di antara logam induk dan ujung elektroda.
Karena panas dari busur ini maka logam induk dan ujung elektroda tersebut mencair dan
kemudian membeku bersama.

Skema Welding Circuit

Laporan Modul C Pengelasan SMAW

Gambar proses SMAW


Arus yang digunakan dalam proses ini adalah 50 A sampai 300 A, dengan daya secara umum
kurang dari 10 kW. Arus yang digunakan adalah AC atau DC. Pola pemindahan logam cair
sangat mempengaruhi sifat mampu las dari logam. Secara umum dapat dikatakan bahwa logam
mempunyai sifat mampu las tinggi bila pemindahan terjadi dengan butiran yang halus.
Sedangkan pola pemindahan cairan dipengaruhi oleh besar kecilnya arus dan juga oleh
komposisi dari bahan fluks yang digunakan. Selama proses pengelasan, bahan fluks yang
digunakan untuk membungkus elektroda mencair dan membentuk terak (slag) yang kemudian
menutupi logam cair yang terkumpul di tempat sambungan dan bekerja sebagai penghalang
oksidasi. Dalam beberapa fluks bahannya tidak dapat terbakar, tetapi berubah menjadi gas yang
juga menjadi pelindung dari logam cair terhadap oksidasi dan memantapkan busur.

Laporan Modul C Pengelasan SMAW

Perubahan Struktur Mikro dan Sifat Mekanik Akibat Pengelasan


Selama proses pengelasan benda kerja mengalami siklus termal, yaitu pemanasan lokal yang
diikuti oleh pendinginan. Hal ini dapat mengakibatkan perubahan struktur mikro dan sifat
mekanik pada benda kerja. Akibat perubahan tersebut, daerah-daerah dalam pengelasan dapat
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1.
Logam lasan (weld metal)
2.
Daerah terpengaruh panas (heat affected zone)
3.
Logam induk (base metal)
Weld Metal

HAZ

Base Metal

Daerah pengelasan

Laporan Modul C Pengelasan SMAW

BAB III
DATA PERCOBAAN
3.1 Prosedur Percobaan
Pengujian Tarik untuk melihat kualitas pengelasan.

Ambil dua spesimen berbentuk flat dari material yang sama

Bersihkan kedua permukaan kontak spesimen tersebut


Lakukan uji coba pengelasan untuk mendapatkan hasil
las yang baik
Lakukan uji tarik untuk mendapatkan kualitas
hasil pengelasan

3.2 Data Percobaan


- Parameter

: AWS E6013

Arus

: 95 A

Spesimen

: ST 37

Uji tarik (F)

: 30.200 N

Diameter Elektroda

: 2,6 mm

Panjang Elektroda

: 350 mm

Voltase

: 220 V

Elektroda

: E 6013

3.3 Pengolahan Data


Tabel pengukuran rata rata tebal dan panjang spesimen
Pengukuran Ke Tebal (mm)
Panjang (mm)
1
5.11
48.43
2
6.62
48.45
3
5.35
47.32
Rata-rata
5.69
48.06

Laporan Modul C Pengelasan SMAW

Kcepatan pengelasan
panjang lasan
48.06 mm
v=
=
= 3 mm/s
waktu pengelasan
16 s
Luas penampang specimen
A = tebal panjang = 5.69 mm 48.06 mm = 273.46 mm2
Menghitung kekuatan uji tarik
F
30,200 N
u =
=
= 110.43 N/mm2
A
273.46 mm2
= 16.02 ksi

BAB IV
ANALISIS DATA
Pada praktikum pengelasan SMAW yang telah dilakukan dengan tipe sambungan butt joint,
spesimen yang digunakan adalah ST-37 yang berarti baja dengan kekuatan tarik sebesar 37 ksi
serta elektroda yang dipakai adalah E6013 yang berarti memiliki kekuatan tarik minimum sebesar
60 ksi. Setelah dilakukan pengujian tarik pada spesimen untuk melihat kualitas pengelasan, didapat
hasil perhitungan kekuatan sebesar 110.43 N/mm2 atau 16.02 ksi. Perbandingan kekuatan tarik
antara spesimen, elektroda, dan daerah lasan terlihat pada tabel di bawah ini.
Tinjauan
Spesimen
Elektroda
Hasil Uji Tarik Daerah Lasan

Tensile Strength (ksi)


37 ksi
60 ksi
16.02 ksi

Dari data di atas didapat bahwa daerah lasan memiliki kekuatan yang lebih rendah jika
dibandingkan dengan base metal (spesimen). Hal tersebut terjadi karena kualitas logam las berbeda
dengan logam induk (base metal), dan kualitas logam induk pada daerah yang tidak terpengaruh
panas ke bagian logam las (daerah lasan) berubah secara kontinu. Oleh karena itu, patah yang
dihasilkan pada pengujian tarik berada di daerah lasan. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya :
1. Preparasi spesimen yang tidak dilakukan dengan benar
Tidak dilakukan pembersihan spesimen sebelum melakukan proses pengelasan, sehingga
banyak pengotor bahkan karat yang masih menempel pada permukaan spesimen.
2. Cacat yang ada pada daerah lasan
Porosity, akibat spesimen yang tidak bersih
Laporan Modul C Pengelasan SMAW

Incomplete fusion, adanya gap yang yang tidak terisi logam cair
Undercut, adanya bagian tertentu yang tidak terjadi fusi
Incomplete penetration, penekanan yang rendah dan waktu yang terlalu cepat
sehingga penetrasinya tidak dalam
3. Tidak dilakukan peningkatan kekuatan dengan perlakuan panas
Untuk memperbaiki sifat mekanik dan menghilangkan residual stress, biasanya dilakukan
pemanasan setelah pengelasan, namun pada praktikum ini tidak dilakukan. Sehingga akibat
pemanasan dan pendinginan yang cepat, terdapat bagian yang mengalami ekspansi tidak
seragam yang menimbulkan retak di daerah lasan yang mempengaruhi penurunan
kekuatannya.
Elektroda yang digunakan adalah E6013 yang biasa digunakan untuk mengelas baja HSS (High
Speed Steel). Tensile strength pada elektroda harus lebih besar dari logam induk yang akan dilas,
agar menghasilkan kekuatan lasan yang baik. Pada tabel terlihat bahwa tensile strength minimum
pada elektroda sebesar 60 ksi, lebih besar dibandingkan dengan hasil pengujian tarik daerah lasan
yang hanya sebesar 16.02 ksi. Hal tersebut juga yang mengakibatkan patahan terjadi di daerah
lasan. Bisa diakibatkan teknik pengelasan yang kurang baik dan beberapa faktor seperti preparasi
spesimen, cacat, dan tidak dilakukannya perlakuan panas.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Proses-proses pengelasan antara lain Gas Welding, Arc Welding, Resistance Welding,
Solid State Welding, dan Unique Processes (Thermit, Laser Beam).
2. Proses pengelasan SMAW (Shield Metal Arc Welding) yang juga disebut Las Busur
Listrik adalah proses pengelasan yang menggunakan panas untuk mencairkan material
dasar atau logam induk dan elektroda (bahan pengisi). Panas tersebut dihasilkan oleh
lompatan ion listrik yang terjadi antara katoda dan anoda (ujung elektroda dan permukaan
plat yang akan dilas).
3. Kekuatan tarik lasan yang dihasilkan adalah 16.02 ksi atau 110.43 N/mm2.
5.2 Saran
Sebelum melakukan proses pengelasan sebaiknya perhatikan 4 hal yaitu, heating, adequate
properties, protection, dan cleaning.

Laporan Modul C Pengelasan SMAW

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
1. Begeman, Myron L. , B.H. Amstead, Philip f. Ostwald, Manufacturing Process, 8th edition,
John Wiley & Sons 1987 Halaman 156- 190
2. Wiryosumarto, Harsono, Toshie Okumura, Teknik Pengelasan Logam, Pradnya
Paramita, Jakarta, 1985

BAB VII
LAMPIRAN
Pertanyaan Setelah Praktikum
1. Apa penyebab hasil lasan dapat retak? Jelaskan alasannya dan bagaimana
memperbaikinya?
Jawab :
a. Difusi hidrogen dalam daerah lasan
Pada waktu logam las masih cair, logam menyerap hidrogen dalam jumlah besar yang
dilepaskan secara difusi pada suhu rendah karena pada suhu tersebut kelarutan hidrogen
menurun. Sumber dari hidrogen yang diserap adalah air dan zat organik yang
terkandung dalam fluks dan kelembaban udara atmosfir. Disamping itu terdapat
minyak, zat organik dan air yang melekat pada rongga dan permukaan plat atau kawat
las juga merupakan sumber hidrogen.
Cara memperbaikinya :
Usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi difusi hidrogen adalah dengan
menghilangka sumber hidrogen dan melepaskan hidrogen yang telah diserap.
Pemanasan awal dapat diberikan dengan temperature 50C sampai dengan
200C atau memberikan panas lanjutan dengan temperature 200C sampai
dengan 300C.
Dapat juga menggunakan fluks yang mengandung banyak karbonat. Dengan
fluks ini akan dihasilkan gas karbon dioksida yang dapat menurunkan tekanan
parsial hidrogen di dalam busur listrik yang dengan sendirinya akan
mengurangi difusi hidrogen.
b. Tegangan sisa
Adanya bagian yang menyusut atau adanya ekspansi yang tidak seragam akibat
pemanasan dan pendinginan yang cepat. Bisa diakibatkan juga karena proses
manufaktur selama service.
Cara memperbaikinya :
Dengan perlakuan panas
Dengan menggunakan mechanical stress relief misalnya short peening.
Laporan Modul C Pengelasan SMAW

2. Proses pengelasan sering mengakibatkan munculnya tegangan sisa pada benda kerja yang
dilas, apa yang dimaksud dengan tegangan sisa, bagaimana mekanisme terjadinya, dan
bagaimana cara mencegahnya?
Jawab :
Tegangan sisa adalah tegangan yang bekerja pada bahan setelah semua gaya-gaya luar yang
bekerja pada bahan tersebut dihilangkan.
Penyebab terjadinya tegangan sisa :
Tegangan sisa sebagai akibat dari tegangan thermal seperti pada pengelasan dan
perlakukan panas
Tegangan sisa yang disebabkan karena transformasi fasa(seperti baja karbon)
Tegangan sisa karena deformasi plastisyang tidak merata yang disebabkan gayagaya mekanis seperti pada pengerjaan dingin selama pengerolan, penempaan,
pembentukan logam atau pekerjaan lain yang dilakukan dengan mesin
Cara mencegahnya :
Tegangan sisa bias dikurangi dengan memperhatikan urutan pengelasan yang tepat
Dengan perlakuan panas
3. Heat input pada pengelasan busur arc welding dinyatakan sebagai Q = V I t, jelaskan
perbedaan pembangkitan panas pada arc welding dan resistance welding!
Jawab :
Pada arc welding panas berasal dari busur listrik yang dihasilkan dari sambungan
katoda dan anoda. Heat input yang dihasilkan berbanding terbalik dengan
kecepatan pengelasan.
Pada resistance welding panas berasal dari tahanan listrik antara dua permukaan
yang akan disambung. Heat input yang dihasilkan berbanding lurus dengan tahanan
listriknya.
4. Pengujian-pengujian apa saja yang bisa dilakukan untuk mengetahui kualitas hasil lasan?
Jawab :
Uji tarik
Uji impact
Uji lekuk
Uji kekerasan
5. Apa yang dimaksud dengan retak dingin dan apa yang menyebabkan retak dingin?
Jawab :
Retak dingin pada daerah HAZ biasanya terjadi beberapa menit sampai dengan 48 jam
sesudah pengelasan, karena itu retak ini disebut juga retak lambat. Penyebab retak ini
adalah struktur dari daerah HAZ, difusi hidrogen didaerah las, dan tegangan sisa.
Laporan Modul C Pengelasan SMAW

LAMPIRAN FOTO

Gambar Pengujian Tarik untuk melihat kualitas


lasan

Laporan Modul C Pengelasan SMAW

10