Anda di halaman 1dari 168

BIMBINGAN DAN KONSELING

DI PAUD

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP MATARAM
2015

BAB I
PSIKOLOGI KONSELING

A. Memahami Konseling
Psokologi konseling terdiri atas dua kata, yaitu psiklogi dan konseling. Dalam
pandangan beberapa psikologi, kedua istilah ini mengandung arti yang berbeda. Istilah
psikologi di gunakan pertama kali oleh seorang ahli berkebangsaan jerman bernama Philip
Melancchton pada tahun 1530. Menurut asal katanya , psikologi berasal dari bahasa Yunani,
yaitu psyche dan logos. Psyche bearti Jiwa, sukma, dan roh. Sedangkan logos berarti ilmu
pengetahuan atau setudi. Jadi, pengertian psikolgi secara harafiah adalah ilmu tentang jiwa.
(Farid,2011:15)

Kata konseling (counseling) berasal dari kata counsel, diambil dari bahasa
latin,counselium, mempunyai arti bersama atau bicara bersama (Latipun, 2006). Yang
dimaksut dengan bicara bersama-sama dalam pengertian ini adalah pembicaraan yang
dilakukan antara psikolok dengan seseorang atau beberapa kliennya (counseling). Karena
konseling adalah pekerjaan propisional, maka tidak semua pembicaraan antara orang yang
tahu tentang ilmu psikologi dengan orang yang mendatanginya adalah konseling. Sebab yang
disebut konseling adalah pembicaraan antara konselor terhadap klien. Sedangkan pembicaraan
antara orang yang bermasalah dengan orang yang sekedar tahu ilmu konseling, di sebut
penyuluhan, penerangan, penyampaian imformasi atau nasehat. Sebelum istilah konseling
dipopulerkan, kebanyakan orang menyebutnya dengan istilah penyuluhan. Biasanya,
penyuluhan dilakukan untuk memberikan informasi, nasihat, atau penerangan dari satu pihak
kepada pihak lain. Seiring dengan perkembanga ilmu pengetahuan, terutama di bidang
psikologi dan kesehatan, penyuluhan terhadap pasien atau klien di pandang tidak relevan lagi.
Sebab, tindakan medis dan psikologis mempunyai wilayah yang spesifik dan lebih mendalam
dari sekedar penyuluhan, penerangan, atau sekedar menyampaikan informasi. Atas dasar
inilah, psikologi menggunakan istilah konseling untuk memberi penyuluhan terhadap
kliennya. Dengan demikian, asal mula istilah konseling berasal dari istilah penyuluhan.
Tetapi, seirinng dengan perkembangan ilmu pengetahuan, khsusnya di bidang psikologi dan
kesehatan, keduanya telah mengalami pergesaran yang cukup signifikan. Penyuluhan lebih
tepat di gunakan dalam hal penerangan dan penyampaian informasi, sedangkan konseling
lebih tepat di gunakan dalam hal mengdiagnosis pasien secara mental dan psikis, oleh karena
itu, istilah konseling tidak dimaksudkan sepadan dengan penyuluhan, melainkan diagnosis
psikis, layaknya dokter yang memeriksa pasiennya. Dengan kata lain, jika dokter memeriksa
pasiennya disebut mengobati atau mendiagnosis, maka jika psikolog memeriksa pasiennya di
sebut konseling dan terapi. Istilah orang yang berobat kepada keduanya pun berbeda. Jika
orang yang berobat kepada dokter di sebut pasien, maka orang yang berobat kepada psikolog
di sebut klien. Dengan demikian, istilah konseling ini tidak di sekedar penyuluhan atau
pemberi impormasi, melaikan bersifat lebih spesifik pada perkembangan cabang ilmu
tertentu, yakni ilmu jiwa atau ilmu mental-psikis.
Konseling Sebagai Profesi Penolong (helping Profession) adalah konsep yang
melandasi peran dan fungsi konselor di masarakat dewasa ini. Profesi penolong adalah profesi

yang anggota- anggotanya di latih kusus dan memiliki lisensi atau sertifikat untuk melakukan
sebuah lanyanan unik dan di butuhkan oleh masyarakat sebagai penyedia professional satu
satunya untuk lanyanan unik dan di butuhkan yang mereka tawarkan( Gibson & Mitchell,
2010:43)
Sifat profesionalisme konseling telah mendiferensiasi kewilayah- wilayah yang lebih
spesifik, sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing. Sekedar contoh seorang konselor
yang ahli di bidang gizi, akan mengarahka penyelesaian klienya dengan menekankan pada
perbaikan gizi. Seorng konselor yang ahli di bidang neurologi, akan menekankan
penyelesaian masalah klienya dengan membidik aspek neurolog atau otaknya. Seorang
konselor yang ahli dibidang kesehatan ( kedokteran ) akan mengatasi permasalahan kliennya
dengan membidik segi kesehatan jasmaninya. Demikian setrusnya, sehingga profesionalisme
konseling berjalan sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing konselor. Walaupun
berbeda dalam hal pendekatanya, semua konselor menitik beratkan pada empat hal yang sama
yaitu proses, hubungan spesifik, membantu, dan mencapai tujuan.

B. Memahami Karatristik manusia dan spesies lain


1. Manusia adalah sepesies yang sangat lemah saat lahir. Kita lahir tanpa prilaku yang
tercetak secara ginetik, tidak seperti banyak bentuk kehidupan yang lain. Sementara
banyak hewan kecil di hutan dapat bertahan hidup tanpa bantuan hewan dewasa, bayi
manusia tidak demikinan.
2. Manusia memiliki potensi sangat besar untuk tumbuh dan berkembang mlebihi sepesies
lain.
3. Manusia memiliki tingkat tertinggi dalam keahlian berkomunikasi; sebuah keahlian yang
memampukan kita mengekspresikan pikiran secara detail mengenai banyak hal,
mengajarkan bahasa kepada sepesies lain minimal di taraf tertentu, dan merekam,
mengirimkan serta menerima informasi.
4. Manusia menampilkan jangkauan perbedaan yang sangat luas jika di bandingkan dengan
sepesies lain. Perbedaan ini bukan hanya membedakan dengan jelas setiap manusia dari
manusia yang lain, tetapi juga melpatgandakan potensi masarakat dan menstimulasi
perkembangan perbedaan.

5. Manusia sanggup memanipulasi dan dimanipulasi lingkungan. Perilaku manusia tidak


bisa dimengerti dengan tepat kalau dicabut dari konteks lingkungan tempatnya muncul.
6. Manusia satu satunya mahkluk hidup yang memahami dimensi waktu masa lalu dan
masa depan.
7. Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir, menalar dan mendapatkan sebuah
wawasan yang mendalam. Kemampuan merencanakan perubahan individu ini sangat
penting di arena perkembangan individu dan arena penyesuaian social (relasi dengan
rekan sebaya) . Gibson &Mitchell, 2010:44-45
Saya cukup sadar bahwa perubahan yang menyulitkan inilah yang di sebut
peruses belajar, dan meskipun menyulitkan perubahan tersebut selalu lebih
memuaskan karena cara memandang hidup yang lebih akurat (Rogers, 2012:40)
C. Memahami Proses Konseling
a. Konseling sebagai proses berkesinambungan.
Konseling sebagai proses berkesinambungan, berarti konseling tidak bisa di
lakukan sekali waktu dan dalam tempo yang sangat singkat. Tetapi, proses konseling
perlu waktu untuk berproses. Sebab, konseling mempunyai prosedur dan tahapan yang
tidak boleh dilewati. Landasan atas prosdur dan tahapan tersebut adalah hasil dari proses
tahapan sebelumnya.
Terlebih lagi,jika permasalahan yang dihadapi oleh klien adalah masalah berat.
Tentu, teknik konselingnya pun jauh lebih rumit, sehingga memerlukan proses yang lebih
lama.di sinilah di perlukan kesabaran antara kedua belah pihak, baik konselor maupun
klien.
b. Konselor menjalin hubungan spesifik
Antara konselor dengan klien harus erjalin hubungan hangat yang spesifik.
Maksudnya, bukan sembarang huungan, seperti hubugan kekeluargaan, pasangan,
keuangan, dan lain-lain. Hubungan hangat yang spesifik adalah hubungan antara konselor
dengan klien untuk suatu permasalahan yang dialami klien. Di luar itu tidak perlu di
libatkan.
c. Konseling hanya untuk membantu, bukan mengambil alih persoalan
Perlu ditegaskan bahwa hubungan konselor dengan klien adalah hubungan yang
sifatya membantu (helping), bukan mengambil alih persoalan. Selama ini, banyak yang
beranggapan keliru terhadap konselor. Kedatangannya kepada konselor adalah untuk
menyerahkan semua urusannya, sementara dia hanya duduk manis dan menunggu hasil.

Jika hal ini yang terjadi, maka hubungan antara konselor dengan klien bukan lagi
hubbungan konseling, melainkan hubungan bisnis perkara, semacam perkara.
d. Konseling tetap mempunyai tujuan yang disepakati bersama
Bantuan dalam konseling tidak bisa dipandang remeh, sebab akan menngantarkan
kliennya pada tujuan hidup yang paling hakiki, yakni dalam bahasa Maslow disebut
sebagai aktualisasi diri. Bantuan yang diberikan konselor bukan semata-mata
menyelesaikan masalah klien dalam jangka pendek, tetapi juga dalam jangka waktu yang
panjang. Dan, tujuan jangka panjang inilah yang selalu mengarahkan tahap-tahap bantuan
dalam konseling. Dengan demikian, tujuan dalam konseling yang paling fundamental
adalah mengembalikan citra diri klien sebagai sosok utuh yang mampu menyelasaikan
problem hidupnya secara bertanggung jawab serta menumbuhkan jiwa optimisme untuk
meraih segala harapan dan citi-citanya.
D. Beberapa kekeliruan dalam memahami konseling.
1. Konseling dianggap sebagai nasihat
Banyak klien yang menganggap ucapan konselor sebagai nasihat atau ceramah
belaka. Akibatnya, ketika proses konseling berlangsung, klien pasif dan tidak mau bicara
terus terang terhadap persoalan yang menimpanya. Hal ini dikarenakan perasaan takut
dan malu si klien, bilamana permasalahan yang dihadapi tersebut adalah akibat dari
perbuatannya sendiri, kemudian konselor akan menyalahkan dirinya. Jadi, konseling
bukan nasihat. Sebab, nasihat justru dapat membuat klien ingkar tanggung jawab
terhadap permasalahan yang dihadapinya. Sedangkan tujuan konseling adalah membuat
klien mampu bertanggung jawab atas persoalan yang dihadapi secara kesatria.
Nasihat merupakan gagasan seseorang yang disampaikan kepada pihak lain dan
dianjurkan untuk dilaksanakan karena dianggap dapat menyelesaikan masalah. Konseling
tidak dimaksudkan untuk memberikan nasihat-nasihat kepada kliennya. Gordon (1984).
2. Konseling dianggap sebagai cara memperoleh informasi.
Pemberian informasi adakalanya ada dalam konseling tetapi konseling bukan
sekedar memberikan informasi. Hubungan terapetik merupakan bagian yang sangat
penting dalam proses konseling. Proses pemberian informasi biasanya banyak diberikan
diluar hubungan konseling yang biassanya diebut layanan kepenasehatan dan informasi
(advice and information service).
Memang, di dalam proses konseling terdapat beberapa informasi maupun nasihat.
Tetapi, konseling tidak sekedar memberi informasi dan nasihat belaka. Konseling lebih
dari itu, informasi yang ada dalam proses konseling hanya sebatas hal-hal yang berkaitan

dengan permasalahannya. Informasi semacam cerita atau kisah keberhasilan seorang


klien yang mempunyai masalah serupa atau lebih berat, dimaksudkan untuk
membangkitkan rasa percay diri klien, bahwa sesungguhnya dirinya mampu
menyelesaikan masalahnya sendiri, sebagaiman klien-klien lain yang telah berhasil
mengatasi masalahnya.
3. Konseling dianggap menyerahkan urusan kepada konselor.
Banyak klien yang beranggapan bahwa dengan datang kepada konselor,
permasalahannya akan segera ditangani semua tanpa ada campur tangan dirinya.
Anggapan inilah yang sebenarnya dilematis. Di satu sisi, anggapan ini dapat sedikit
memberi ketenangan sementara karena masalahnya akan segera selesai. Tetapi di sisi lain,
konseling tidaklah demikian, sebab klien sendirilah yang akan diarahkan konselor agar
menyelesaikan persoalannya sendiri.
Ditinjau dari dua sisi tersebut, maka timbul pertanyaan. Jika konseling tidak dapat
menyelesaikan permasalahan klien, buat apa klien datang kepada konselor? Tetapi, jika
konselor hendak mengambil alih permasalahan klien, apakah sikap konselor tersebut
tidak menimbulkan ketergantungan klien terhadap konselor?
Dua pertanyaan itu seolah-olah memojokkan posisi konselor. Bahwa tujuan
diselenggarakan konselin bukan untuk mengambil alih permasalahan klien karena hal itu
dapat menimbulkan ketergantungan, namun yang dikehendaki dalam konseling adalah
terciptanya kemandirian. Konselor hanya bertugas membangkitkan emosi positif bahwa
hanya diri klien sendirilah yang dapat menyelesaikan masalahnya, bukan konselor yang
harus menyelesaikan masalah klien. Dengan penciptaan hubungan kemandirian dan
prosedur konseling yang demikian, diharapkan klien dapat belajar memecahkan
masalahnya sendiri, semakin lama semakin terampil, dan pada akhirnya ia mempunyai
kepercayaan diri secara penuh bahwa dirinya dapat mengatasi masalah hidupnya.
4. Konseling dianggap sebagai upaya mempengaruhi klien.
Anggapan lain yang kurang tepat dalam pola hubungan konseling adalah adanya
anggapan bahwa konselor mempengaruhi kliennya. Sehingga, perubahan perilaku, sikap,
dan car mengambil keputusan adalah semata-mata terpengaruh oleh konselor.
Dalam konseling tidak ada pola hubungan saling mempengaruhi. Jika terjadi
perubahan sikap dan perilaku pada diri klien setelah konseling, maka perubahan sikap
dan perilaku tersebut adalah hasil dari aktualisasi dirinya sendiri setelah konseling. Pola
hubungan dalam konseling adalah penciptaan kemandirian secara total. Apapun yang

dilakukan klien, benar-benar otonomi berasal dari kesadarannya secara bertanggung


jawab.
Dengan demikian, anggapan adanya pengaruh konseling terhadap klien adalah
kurang tepat. Sebab, tujuan konseling bukan semata-mata didasarkan atas kehendak
konselor, tetapi juga merupakan keinginan dari klien. Sekali lagi, konselor sama sekali
tidak mempengaruhi klien. Yang dilakukan konselor hanyalah membantu klien
menemukan jalan pemecahan masalah melalui perubahan sikap, pandangan, perilaku, dan
keyakinan dirinya sendiri.
5. Konseling adalah bebas nilai
Hubungan konseling adalah hubungan terapi, yang sekaligus mengandung makna
bahwa klien melakukan proses belajar dan memecahkan masalahnya. Dalam hubungan
terapi ini klien harus membuat keputusan dan rencana-rencana yang terbaik bagi dirinya
sendiri maupun lingkungan sosialnya tempat klien melakukan interaksi. Konseling yang
bebas nilai itu tidak mungkin terjadi karena proses belajar itu sekaligus tercakup
pengertian melakukan yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab.
Anggapan yang justru sebaliknya mempengaruhi klien adalah bahwa konseling itu
bebas nilai. Anggapan ini jelas tidak mungkin terjadi. Sebab, hubungan konseling adalah
interaksi terapis. Dalam interaksi tersebut, klien dibimbing dan diarahkan untuk
menemukan cara atau jalan pemecahan masalahnya sendiri, lengkap dengan taktik dan
strategi atau perencanaan. Dalam interaksi yang demikian itulah proses nilai tidak dapat
dihindarkan. Sebab, dalam interaksi itu sendiri terdapat unsure nilai-nilai tertentu untuk
membangkitkan sugesti klien. Atas dasar inilah konseling pasti sarat dengan nilai.
Timbul pertanyaan, bagaimana jika nilai yang dianut klien berbeda dengan nilai
pada konselor? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan mengingat kembali akan tujuan
konseling.tujuan konseling bukan mempengarhui sikap, perilaku, dan keputusan, bahkan
juga termasuk nilai dan keyakinan. Terpengaruh atau tidaknya klien terhadap nilai yang
dianut konselor berada penuh pada otoritas klien itu sendiri. Jika ia terpengaruh, hal itu
semata-mata dilandasi atas kesadaran dirinya secara otonom dan bertanggung jawab.
Demikian pula, jika ia tidak terpengaruh oleh nilai yang dianut oleh konselor, ia bisa
mempertahankan nilai hidupnya secara otonom dan bertanggung jawab.
6. Konseling dianggap sama dengan interview
Proses konseling yang melibatkan klien dan konselor dalam interaktif atau
pembicaraan bersama seolah-olah mengesankan konseling yang tak ubahnya seperti

wawancara. Terlebih lagi, jika konselor lebih banyak bertanya daripada menstimulasi
klien bereksplorasi. Tentu, suasana konseling semakin kental dengan interview atau tes
wawancara.
Memang, di dalam konseling terdapat pembicaraan atau interview. Tetapi,
konseling tidak sebatas itu. Interview di dalam konseling tidak sebatas Tanya jawab pada
ranah kognitif, seperti halnya dalam tes wawancara. Tetapi, interview dalam konseling
lebih pada ungkapan-ungkapan jujur dari perasaan terdalam klien kepada konselor.
Dalam hal ini, tugas konselor adalah memberi kesempatan kepada klien untuk
mengeluarkan semua hal yang membuat perasaannya tidak enak. Konselor harus mampu
menstimulasi kliennya untuk megeksplorasi dirinya, hingga klien bisa menjelaskan
permasalahan yang sesungguhnya terjadi. Disamping itu, tugas utama konselor juga
mengimbanginya dengan bahasa verbal-emosional, sehingga ia mampu memasukkan
perasaan klien ke dalam perasaannya tanpa terhanyut oleh permasalahan klien.
Nah, dialog atau interview inilah yang akan membuat klien dapat mengeksplorasi
permasalahannya secara tuntas hingga dapat dipahami oleh konselor sepenuhnya. Jika
tahap ini mampu dilalui, maka tahap selanjutnya konselor tinggal mengarahkan
eksplorasi klien untuk menemukan cara pemecahan masalahnya sendiri. Tugas konselor
hanya sebatas fasilitator semata.
Jika telah ditemukan jalan keluar atas permasalahan klien, maka langkah
selanjutnya adalah membuat klien melakukan atau mempraktikkan keputusannya. Dalam
hal ini, tugas konselor hanya membangkitkan keberanian klien untuk bisa bertanggung
jawab atas keputusan yang diambilnya sendiri.
E. Istilah-Istilah Yang Mirip: Psikoterapi, Psikodiagnostik, Intervensi, Psikososial, Dan
Penyuluhan
Dalam bimbingan konseling, sering kali terdengar istilah-istilah yang mirip, seperti
psikoterapi, psikodiagnostik, intervensi, psikososial, dan penyuluhan. Keempat istilah ini
sering digunakan secara bergantian untuk menyebut gejala psikis klien yang sama.
Khusus ketiga istilah, yaitu psikoterapi, intervensi, psikososial, dan penyuluhan
oleh beberapa ahli dianggap tidak ada bedanya. Tetapi tidak sedikit pula dari para ahli
yang memaknainya secara berbeda. Sedangkan satu istilah lainnya, yaitu psikodiagnostik
biasanya khusus digunakan untuk menyebut gejala gangguan kejiwaan yang telah akut.

a. Psikoterapi
Psikoterapi adalah penyembuhan untuk masalah yang berkaitan dengan fikiran,
perasaan, dan perilaku. Psikoterapi juga merupakan proses interaksi formal antar dua
pihak atau lebih yaitu antara klien dengan psikoterapis yang bertujuan memperbaiki
keadaan yang dikeluhkan klien. Seorang psikoterapis dengan pengetahuan dan
keterampilan psikologisnya akan membantu kloien membatasi keluhan secara
professional dan legal. Ada tiga ciri utama psikoterapi yaitu: 1) Dari segi proses, 2) Dari
segi tujuan, dan 3) Tindakan.
1. Pandangan yang menyamankan antar konseling dengan psikoterapi
Dalam banyak literature yang menjadi rujukan dan pusat perhatian para teoritis
dan praktisi dibidang konseling dan psikoterapi, salah satunya menekankan pemaknaan
terhadap konseling dan psikoterapi (termasuk intervensi, psikososial dan penyuluhan)
.Mereka menganggap istilah konseling, psikoterapi, intervensi psikososial, serta
penyuluhan adalah sama, dan oleh karena itu bisa digunakan secara bergantian dalam
berbagai kasus. Di antara para ahli yang menyamakan adalah Rogers, Truax, Carkhuff,
dan Patterson (Latifun, 2006). Yakni dilakukan berpedoman pada aplikasi dan prinsip
teoritis psikologi dan menggunakan berbagai model teoritik serta menekankan pada
tujuan untuk menilai klien sebagai pribadi yang otonom, mendengarkan secara empatik,
meningkatkan kapasitas untuk membantu diri sendiri, dan bertanggung jawab atas
dirinya.
Konseling dan psikoterapi adalah suatu hal yang sama dan tindakan perlu
dibedakan. Oleh karena itu, sebagian ahli menggunakan istilah konseling secara
bergantian atau menggunakan dalam konteks yang sama.
2. Pandangan yang membedakan antara konseling dan psikoterapi
Diantara sudut pandang yang membuat para teoritisi konseling membedakannya
dengan psikoterapi adalah pendekatan, klien, proses dan intensitas masalah yang
dihadapi. Berikut ini adalah uraian secara singkat.
a. Pendekatan
Pendekatan suatu pemberian bantuan (helping) menurut Hansen dkk, (1982)
mengemukakan tiga jenis bantuan, yaitu pemberian dorongan ( supportive), pemberian
pemahaman secara re-eduktif, dan rekonstruktif .Bantuan berupa dorongan adalah

bantuan yang sifatnya motivasi agar klien dapat mengembangkan potensi dirinya,
sehingga dia bisa bangkit dari keterpurukan masalahnya. Sedangkan pemahaman secara
reeduktif adalah peningkatan pengertian atau atau penyelamatan terhadap dirinya sendiri
beserta pernak-pernik permasalahan yang dihadapinya untuk selanjutnya muncul
kemampuan untuk menyesuaikan diri. Adapun pemahaman secara rekonstruktif, berarti
pemahaman akan diri, konflik, dan permasalahannya dengan cara melakukan
rekonstruktif struktur kepribadian klien.
Letak perbedaannya adalah pada bantuan dalam bentuk dorongan dan pemberian
pemahaman secara re-eduktif (konseling) dan pemahaman secara rekonstruktif
(psikoterapi).
b. Klien
Sudut pandang lain yang membedakan antara konseling dan psikoterapi adalah
kondisi klien itu sendiri. Konseling lebih tepat digunakan untuk menangani
permasalahan-permasalahan psikologis atau kelainan mental, seperti kekitdak stabilan
emosional, dan perasaan-perasan negative lainnya. Sedangkan psikoterapi digunakan
digunakan untuk menangani gangguan mental dan persoalan-persoalan kejiwaan berat
lainnya, misalnya mental lemah, kionflik batin, gangguan perasaan dan gejala-gejala jiwa
yang berat lainnya.
Tabel perbedaan antara konseling dengan psikoterapi
Konseling

Member dorongan

Psikoterapi

Pemberian dorongan kelas

Masalah bersifat situasional


Dalam situasi sadar

berat
Masalah berat dan neuritis
Alam tak sadar (kurang

Sekarag dan akan datang


Skala jangka pendek
Mengatasi permasalah sehari-

normal)
Skala jangka pajang
Konflik emosional
Masa lalu

hari
Berdasarkan table diatas dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara konseling
dan psikoterapi yaitu, konseling hanya dilakukan khusus untuk individu individu yang
mengalami gangguan terhadap perannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan

psikoterapi hanya khusus individu-individu ormal yang mengalami gangguan emosioanal


berat dan harus dilakukan rekonstruktif kepribadian.
c. Proses
Konseling lebih menitik beratkan pada klien, dilakukan dengan pendekatan
humanistic, dan kurang melibatkan hal-hal medis. Sedangkan psikoterapi menitik
beratkan pada terapi melibatkan penanganan secara medis.
b. Intervensi psikosoial
Intervensi psikososial adalah proses penyadaran terhadap individu maupun
kelompok utamanya melalui berbagai sumber-sumber yang dapat mempengaruhi
interpersonal, seperti belajar, persuasi, diskusi, dan berabagai proses lain yang sejenis.
Intervensi psikososial berfokus pada berbagai segi, sehingga mengubah klien dalam
afeksi, kognisi, dan tindakannya. Intervensi dilakukan dalam berbagai bentuk, baik secara
kelompok maupun individual.
Intervensi psikososial berprinsip pada perubahan perilaku, perbaikan hubungan
social, termasuk didalamnya adalah mengubah persepsi, pola pikir, dan perasaan.
Semuanya adalah bentuk-bentuk intervenai yang sifatnya psikososial.
c. Psikodiagnostik
Psikodiagnostik adalah studi mengenai kepribadian lewat penafsiran terhadap
tanda-tanda tingkah laku, cara berjala, bergerak, suara.
Pengertian psikodiagnostik dibagi dalam dua bagian yaitu psikodignostik dalam
artian sempit dan psikodiagnostik dalam artian luas. Pengertian diagnostic dalam arti
sempit adalah metode yang digunakan untuk menetapkan kelainan kelainan psikis,
dengan tujuan untuk dapat memberikan pertolongan atau pengobatan dengan lebih tepat.
Psikodiagnostik dalam arti luas dapat ditinjau dari dua aspek, yakni aspek praktis
dan aspek teorits. Psikodiagnostik dalam artian luas secara praktis merupakan metode
untuk membuat diagnosis psikologis, dengan tujuan supaya dapat memperlakukan klien
secara lebih tepat. Sedangkan psikodignostik dalam arti luas secara teoritis merupakan
studi ilmiah tentang bergabai metode untuk membuat diagnosis psikologis, dengan tujuan
supaya dapat memperlakukan subjek dengan lebih tepat.
d. Penyuluhan
Penyuluhan adalah bantuan yang diberikan indibvidu dalam memecahkan masalah
kehidupannya dengan langsung berhadapan muka, dengan cara-cara yang sesuai dengan
keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Penyuluhan

dapat disimpulkan bahwa suatu aktifitas wawancara yang dilakukan oleh seorang ahli
kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah dalam rangka untuk
membicarakan dan memecahkan masalah yang sedang dihadapi dan memberikan bantuan
kepada mereka, sehingga pada akhirnya bermuara pada teratasi maslah yang dihadapi
oleh klien dan dapat beradaptasi dengan baik dan efektif dengan lingkungan hidupnya.
D. Rambu Rambu Konseling Dan Psikoterapi Diagnostik
Keterkaitan antara berbagai istilah dalam konseling sebgaimana disebut diatas, jika di
cari permasalahan dan perbedaannya tidak akan pernah selesai. Sebab, di satu sisi dianggap
berbeda, tetapi disisi lain dianggap sama. Walaupun demikian, tanpa bermaksud
mengesampingkan berbagai kesimpangsiuran diatas, kiranya tidak berlebihan jika dintara
keduanya (konseling dan psikoterapi) di beri batasan secara tegas.
Batasan yang tegas antara konseling denga psikoterapi tersebut dapat merujuk pada
asumsi-asumsi dasar konseling yang pernah di buat oleh Blacher (Goerge dan Cristiani,
1990). Mereka meneapkan lima asumsi dasar konseling, dimana kelimanya bisa menjadi
benang merah sekaligus batasan antara konseling dan psikoterapi. Kelima asumsi tersebut
adalah sebagai berikut .
1. Dalam konseling, klien tidak diberlakukan sebagai orang yang sakit mental atau kelainan
mental sehingga harus diobati. Tetapi, klien di posisikn sebagai orang yang mampu
menentukan pilihan, membuat keputusan, dan siap bertnggung jawab atas resiko yang
ditimbulkan oleh perbuatannya. Atas dasar asumsi ini, maka tugas konselor hanya sebatas
membantu kliennya untuk bangun dari tidur nyenyaknya dan segera mengerjakan
kewajiban kewajibannya. Konselor menaruh kepercayaannya tanpa syarat kepada
kliennya, bahwa ia mampu menyelesaikan persoalannya sendiri. Walau demikian, hal ini
bukan berarti konselor tidak peran andil sama sekali. Tetapi, memang wilayah gerak
konselor tidak boleh menyerobot hak-hak lain untuk beraktualisasi diri.
2. Konseling lebih berorientsi pada saat ini ( sekarang ) dan masa yang akan datang, bukan
pada pengalaman pristiwa masa lalu. Dalam hal ini, seolah-olah konselor menutup
lembraran kelam kehidupan klien dan menguburnya dalam-dalam. Selnjutnya, konselor
menwarkan lembaran hidup baru yang lebih cerah dan cemerlang. Masa lalu yang buruk

tidak perlu dihiraukan, yang terpenting sekarang adalah memperbaiki prilaku, pola pikir,
prasaaan, dan emosi. Tujuannya, mampu menghadapi masa depan dengan lebih baik.
3. Dalam konseling, konselor tidak menyamakan kliennya dengan pasien. Kedatangan klien
pada konselor juga tidak dipersepsikan sebagai orang yang menyerahkan nasib dan jiwa
raganya kepada konselor. Tetapi, kedatangan klien kepada konselor disambut sebagai
partner kerja yang siap bekerja sama secara mutual. Kemudian, mereka akan menetapkan
tujuan konseling secara demokratis dan keduannya akan saling bersinergi mewujudkan
tujuan tersebut. Jadi, konselor bukanlah sosok superpower yang siap menuntaskan segala
persoalan klien.
4. Dalam konseling, konselor secara moral tidak boleh netral atau bebas nilai. Justru, yang
lebih baik dari seorang konselor, yakni mempunyai nilai moral dan spiriual yang matang.
Atas dasar ini konselor tidak akan selalu membenarkan dan mengiyakan sikap klien yang
sering kali penuh pesemistis, apatis, dan skeptis. Dengan standar nilai moral dan spritual
yang matang inilah, seorang konselor dapat melakukan transfer nilai kepada klien,
sehingga klien memahaminya secara reeducatif.
5. Dalam konseling, seorang konselor berfokus pada perubahan tingkah laku.tetapi,
perubahan tersebut bukan semata-mata karena terpengaruh oleh nilai moralitas dan
spiritualitas konselor. Perubahan prilaku, sikap, pola fikir, dan stabilitas emosional harus
didasari oleh kesadaran prilaku klien secara mendalam. Sehingga, ia bisa bertanggung
jawab secara sadar atas segala perubahan yang ada pada dirinya tersebut. Lebih dari itu,
klien harus berani bertanggung jawab atas segala resiko yang mungkin ditimbulkan atas
perubahn dirinya tersebut. Jika terjadi hal-hal yanmg tidak diinginkan, maka klien yang
telah berhasil tidak akan menyalahkan siapapun, termasuk diri dan lingkungannya.
Bahkan, ia tidak akan menyesal walaupun keputusannya berakibat fatal. Sebab,
penyesalan hanyalah akibat dari ketidak mtanghan berfikir seseorang hal ini dikarenakan
oleh keberhasilan konseling dalam mmenyadarkan kliennya, sehingga menjadi sosok
utuh yang sempurna.
Kelima rambu-rambu di atas kiranya dapat menjadi acuan praktik atau
penyelenggaraan konseling, sekaligus membedakannya atau membantasi dengan praktik
psikoterapi yang telah berjalan selama ini. Dengan demikian, keterkaitan antara konseling
dan psikoterapi tidak perlu lagi diperdebatkan, karena keduannya memiliki wilayah
operasional masing-masing.

KONSELING PSIKOANALISA DAN KONSELING

BERPUSAT PADA KONSELOR

A. Konseling Psikoanalisa
I.
Pengertian Konseling Psikoanalisa
Psikoanalisia adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat
manusia, dan metode psikoterapi, berorientasi untuk berusaha membantu individu untuk
mengatasi ketegangan psikis yang bersumber pada rasa cemas dan rasa terancam yang
berlebih-lebihan (anxiety). Menurut pandangan Freud, setiap manusia didorong oleh
kekuatan-kekuatan irasional di dalam dirinya sendiri, oleh motif-motif yang tidak disadari
dan oleh kebutuhan-kebutuhan alamiah yang bersifat biologis dan naluri. Psikoanalisis
merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan cara-cara fisik.
Psikoanalisis jelas terkait dengan tradisi Jerman yang menyatakan bahwa pikiran adalah
wujud yang aktif, dinamis dan bergerak dengan sendirinya. Psikoanalisis merupakan
psikologi ketidaksadaran. Perhatiannya tertuju kearah bidang motivasi, emosi, konflik,
mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Psikoanalisa dahulu lahir bukan dari psikologi
melainkan dari kedokteran, yakni kedokteran bidang sakit jiwa. Tokoh utama psikoanalisa
ialah Sigmund Freud (1896).
II.
Dinamika Keperibadian Manusia
Menurut pandangan Psikoanalisis, struktur kepribadian manusia tersusun secara struktural,
dimana terdapat subsistem yang berinteraksi secara dinamis, yaitu id, ego, dan superego.
Id, atau biasa disebut struktur kepribadian primitif adalah sistem kepribadian yang
dimiliki individu sejak lahir, yang dihubungkan dengan faktor biologis dan hereditas.
Digerakkan oleh libido, yaitu energi psikis untuk dapat beradaptasi secara fisiologis dan
sosial untuk mempertahankan dan mengembangkan spesiesnya. Prinsip kerjanya selalu
mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan. Tempatnya ada
pada alam bawah sadar dan secara langsung berpengaruh terhadap perilaku seseorang
tanpa disadari. Menurut Freud terdapat dua insting dasar dalam Id, yaitu Eros dan
Thanatos. Eros merupakan insting untuk bertahan hidup, dengan libido sebagai dorongan
utama. Sedangkan Thanatos merupakan insting yang mendorong individu untuk
berperilaku agresif dan destruktif.
Ego, adalah strukutur kepribadian yang tidak diperoleh saat lahir, tetapi dipelajari
sepanjang berinteraksi dengan lingkungannya. Ego memiliki kontak dengan dunia
eksternal dari kenyataan, merupakan eksekutif dari struktur kepribadian yang bertugas

memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Ego mempunyai tugas sebagai penengah


antara dorongan-dorongan biologis (Id) dan tuntutan atau hati nurani yang terbentuk dari
orang tua, budaya, dan tradisi ( superego). Ego bertindak realistis dan berfikir logis dalam
merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan kebutuhan. Hubungan antara ego
dengan id, adalah bahwa ego adalah tempat bersemayamnya inteligensi dan rasionalitas
yang mengawasi dan mengendalikan impuls buta id, sementara id hanya mengenal
kenyataan yang subyektif.
Superego, adalah struktur kepribadian yang berhubungan dengan tindakan baikburuk, benar-salah. Superego dikembangkan dari kebudayaan dan nilai sosial, terbentuk
karena adanya interaksi dengan orang tua dan masyarakat, merepresentasikan hal-hal
yang ideal, dan mendorong individu kepada kesempurnaan, bukan kesenangan semata.
Dapat dikatakan superego merupakan kata hati seseorang dan sebagai alat kontrol dari
dalam individu untuk menentang kehendak Id. Tempatnya pada alam sadar dan terbentuk
sejak kanak-kanak lalu terus berkembang hingga dewasa. Sehingga menurut Freud,
struktur kepribadian merupakan sistem yang kompleks, karena adanya interaksi antara
tuntutan Id, dunia realitas yang dimiliki Ego dan harapan moral Superego.
Selain ketiga sistem yang dibicarakan di atas, perkembangan kepribadian manusia
menurut versi Freud juga dipengaruhi oleh lima tahun pertama kehidupan yang
dinamakan Freud sebagai perkembangan psikoseksual. Secara berurutan fase
perkembangan tersebut meliputi fase oral,fase anal,fase phalik.fase laten, dan genital.
1. Fase oral
Fase oral terjadi pada saat tahun pertama kehidupan atau sejak bayi (0-1 tahun).
Pengalaman kenikmatan pertma manusia adalah ketika ia mengisap puting susu ibu
dengan mulut yan merupakan daerah kenikmatan (zone of pleasure) utama. Ketika
berusia dibawah satu tahun kepuasan dasar di dapatkan melalui sucking dan menggigit
(Lesmana, 2005).
Tugas perkembangan pada fase oral adalah memperoleh rasa percaya baik kepada
orang lain, dunia, maupun diri sendiri. Efek dari penolakan pada fase ini dapat
menyebabkan anak menjadi penakut,tidak aman,haus akan perhatian,iri,agresif,benci
dan kesepian. Menurut Corey (2009) ketidak puasan pada fase ini juga akan

menyababkan timbulnya gangguan kepribadian seperti: ketidak percayaan pada


dunia,ketakutan menjangkau orang lain,ketakutan untuk dicintai dan mencintai,harga
diri yang rendah,isolasi dan penarikan diri,dan ketidakmampuan menjalin hubungan
yang intim dengan orang lain.
2. Fase Anal
Selanjutnya adalah fase anal yang terjadi antara usia (1-3 tahun) dimana zona
kenikmatan berada pada saat menahan atau melepaskan feses. Anakt terus-menerus
berhadapan dengan tuntutan orang tua dan diharapkan mengendalikan buang air
ketika toilet training diberlakukan, anak akan memperoleh pengalaman dalam hal
disiplin dan moral. Pada fase inilah anak akan mengalami perasaan benci,marah,dan
hasrat merusak. Anak juga akan belajar mengakui erasaan buruknya dan bagaimana
cara mengatasi perasaan tersebut.
Tugas perkembangan yang harus dilakukan anak pada fase anal adalah:belajar
mandiri,memiliki kekuatan pribadi dan otonomi,serta belajar bagaimana mengakui
dan menangani perasaan negattifnya (Corey,2009). Hal yang perlu ditekankan pada
fase ini yaitu anak diharapkan mampu belajar bereksperimen dalam kehidupannya.
Orang tua sebaiknya jangan terlalu terlibat paa pekerjaan anak yang kemungkinan
dapat diselesaikanya sendiri walaupun dengan berbagai kesalahan. Keterlibatan orang
tua ang berlebihan pada anak akan membuat anak tidak memiliki kesanggupan
pribadi menjalankan fungsi diriya.
3. Fase Phalik
Fase phalik terjadi antara rentang usia (3-5 tahun). Adapaun zona kenikmatan
berada pada alat kelamin. Istilah yang kerap muncul pada fase inilah oedipus complex
(ketertarikan seksual pada sosok ibu lalu mengidentifikasi dirinya pada sosok ayah
untuk merepresi keinginanya memiliki ibu) yang berlaku bagi anak laki-laki dan
electra complex (ketertarikan sesuali pada ayah ) pada anak perempuan. Kegagalan
mengidentifikasi sosok orang tua sesuai dengan jenis kelaminya akan mengakibatkan
anak mengalami kebingungan akan perna seks nya secara normal dan kegagalan
dalam menemukan standar moral yang tepat ( Latipun,20001).

Menurut Corey (2009), fase phalik juga merupakan tahap perkembangan hati
nurani dimana anak diperkenalkan dengan standar moral. Orang tua yang terlalu kaku
dalam menetapkan moral akan mengakibatkan dampak negatif bagi anak, sepert ;anak
sangat mematuhi moral tetapi hanya karena takut, anak akan menjadi kaku,tibulnya
perasaan berdosa,penuh penyesalan,rendah diri, dan penghukuman diri.
4. Fase laten
Fase laten juga dikenal sebagai tahap pregenital yang terjadi antara usia 6-12
tahun (awal pubertas). Dinamakan fase laten/ tenang karena pada fase ini anak tidak
lagi dikuasai oleh insting dan impuls-impuls yang mengarahkan tingkah lakunya.
Selain itu anak hanya sedikit berminat pada seksualitas karena disebabkan kesibukan
belajar,aktivitas dengan teman sebaya, dan keterampilan fisik. Walaupun minat
seksual di represi, tetapi hal tersebut akan muncul dan mempengaruhi kepribadianya.
5. Fase Genital
Fase genital menandai berakhirnya fase psikoseksual pada individu. Fase ini
terjad pada masa pubertas (diatas usia 12 tahun). Perilaku umum yang tampak pada
fase ini adalah kecendrungan tertarik pada lawan jenis, bersosialisasi dan
berkelompok, serta menjalin hubungan kerja. Semua tingkah laku yang dilakukan
kerap kali mengarah pada proses menciptakan hubungan dengan orang lain.
Hal yang perlu di ketahui adalah apabila semua fasee sebelumnya dapat
dilewati oleh individu dengan baik, maka ketika individu menduduki fase genital, ia
akan dapat menyesuaikan dirinya dengan baik dan normal. Tetapi apabila fase
psikoseksual sebelumnya tidak terselesaikan atau mengalami hambatan maka akan
berpengaruh pula pada kesulitan individu menyesuaikan diri dengan peranya sebagai
orang dewasa (Lesmana ,2005). Freud mengungkapkan bahwa masalah yang dapat
terjadi ketika individu berada pada fase ini yang merupakan kesalahan pada fase
terdahuu adalah : frustasi berlebihan (excessive frustration), atau kenikmatan
berlebihan (overindulgence).
III.

Hakikat Konseling

Secara umum hakikat konseling adalah mengubah perilaku. Dalam pendekatan


psikonanalisa hakikat konseling adalah agar individu mengetahui ego dan memiliki ego
yang kuat, yaitu menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu sebagai pihak mampu
memilih secara rasional dan menjadi mediator antara Id dan Superego. Konseling dalam
pandangan psikoanalisis adalah sebagai proses re-edukasi terhadap ego menjadi lebih
realistik dan rasional. Terdapat 4 teknik dasar dalam konseling psikoanalisis, yaitu :
1. Asosiasi bebas
Merupakan teknik utama dalam pendekatan psikoanalisa. Di sini konseli
diminta untuk memanggil kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan
pelepasan-pelepasan emosi yang berkaitan dengan peristiwa traumatis di masa lampau.
Pada teknik asosiasi bebas konseli mengalami proses katarsis, dimana dia
mendapatkan kebebasan untuk mengemukakan segenap perasaan dan pikiran yang
terlintas di benaknya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Biasanya
dilakukan dengan cara konseli berbaring di atas sofa sementara konselor duduk di
belakang kepalanya sehingga tidak mengganggu perhatian konseli pada saat
melakukan asosiasi bebas.
Selama proses berlangsung tugas konselor adalah mengenali peristiwaperistiwa yang di-repres dan dikurung oleh konseli dalam ketidaksadarannya.
Kemudian konselor menafsirkan pengalaman itu, menyampaikannya kepada konseli
dan membimbingnya ke arah peningkatan pemahaman atas dinamika yang tidak
disadari oleh konseli
2. Analisis mimpi
Freud menyebut mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran, sebab
melalui mimpi hasrat, kebutuhan, dan ketakutan yang tidak disadari bisa terungkap.
Mimpi memiliki 2 taraf isi yaitu isi laten dan isi manifes, isi laten terdiri dari motifmotif yang tersembunyi dan simbolis, sebaliknya isi manifes yaitu gambaran yang
tampak dalam mimpi yang dialami oleh individu. Tugas konselor disini adalah untuk
menyingkap isi laten yang tergambar dalam isi manifes mimpi konseli, serta
mengasosiasikannya guna menyingkap makna-makna terselubung di dalamnya
3. Analisis resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang menghambat kelangsungan terapi dan
mencegah konseli mengungkapkan alasan-alasan kecemasannya. Freud berpendapat
bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan karena akan menghambat proses konseling.

Penafsiran terhadap resistensi harus dilaksanakan untuk membantu konseli menyadari


alasan-alasan yang ada di balik resistensi dan kemudian mampu menyelesaikan
konfliknya secara realistis
4. Analisis transferensi
Transferensi terjadi ketika terdapat sebuah urusan yang belum selesai dengan
orang-orang penting di masa lalu, yang terdistorsi ke masa sekarang dan memberikan
reaksi kepada konselor sebagaimana dia bereaksi terhadap ayah atau ibunya pada masa
kanak-kanak. Di sini konselor melakukan penafsiran agar konseli mampu menembus
konflik masa lalu, dan menggarap konflik emosional yang terdapat pada hubungan
terapeutiknya bersama sang konselor.
IV. Kondisi Pengubahan
1. Tujuan
Menurut Corey (2005), tujuan terapi psikoanalisa adalah untuk membentuk
kembali struktur karakter individu, dengan cara merekonstruksi, membahas,
menganalisa, dan menafsirkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau, yang
terjadi di masa kanak-kanak. Membantu konseli untuk membentuk kembali struktur
karakternya dengan menjadikan hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari oleh
konseli. Secara spesifik, membawa konseli dari dorongan-dorongan yang ditekan
(ketidaksadaran) yang mengakibatkan kecemasan kearah perkembangan kesadaran
intelektual, menghidupkan kembali masa lalu konseli dengan menembus konflik
yang ditekan, memberikan kesempatan kepada konseli untuk menghadapi situasi yang
selama ini ia gagal mengatasinya.
2. Peran Konselor
Karakteristik konselor dalam psikoanalisa adalah membiarkan dirinya anonim
serta hanya berbagi sedikit saja perasaan dan pengalaman pribadinya kepada konseli.
Peran utama konselor dalam konseling ini adalah membantu konseli dalam mencapai
kesadaran diri, ketulusan hati, dan hubungan pribadi yang lebih efektif dalam
menghadapi kecemasan melalui cara-cara yang realistis, serta dalam rangka
memperoleh kembali kendali atas tingkah lakunya yang impulsif dan irasional.
Konselor membangun hubungan kerja sama dengan konseli dan kemudian
melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. Konselor juga
memberikan perhatian kepada resistensi konseli untuk mempercepat proses

penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran. Sementara konseli


berbicara, konselor berperan mendengarkan dan kemudian memberikan tafsirantafsiran terhadap informasi konseli, konselor juga harus peka terhadap isyarat-isyarat
non verbal dari konseli. Salah satu fungsi utama konselor adalah mengajarkan proses
arti proses kepada konseli agar mendapatkan pemahaman terhadap masalahnya
sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara berubah, sehingga konseli
mampu mendaptakan kendali yang lebih rasional atas hidupnya sendiri.
3. Peran Konseli
Konseli harus bersedia terlibat dalam proses konseling secara intensif, dan
melakukan asosiasi bebas dengan mengatakan segala sesuatu yang terlintas dalam
pikirannya, karena produksi verbal konseli merupakan esensi dari kegiatan konseling
psikoanalisa. Pada kasus-kasus tertentu konseli diminta secara khusus untuk tidak
mengubah gaya hidupnya selama proses konseling. Dalam pelaksanaan konseling
psikoanalisis, klien menelusuri apa yang tepat dan tidak tepat pada tingkah lakunya
dan mengarahkan diri untuk membangun tingkah laku baru.
4. Situasi Hubungan
Dalam konseling psikoanalisis terdapat 3 bagian hubungan konselor dengan klien,
yaitu aliansi, transferensi, dan kontratransferensi :
a. Aliansi yaitu sikap klien kepada konselor yang relatif rasional, realistik,
dan tidak neurosis (merupakan prakondisi untuk terwujudnya
keberhasilan konseling).
b. Transferensi
1) pengalihan segenap pengalaman klien di masa lalunya terhadap orang-orang
yang menguasainya, yang ditujukan kepada konselor.
2) merupakan bagian dari hubungan yang sangat penting untuk dianalisis.
3) membantu klien untuk mencapai pemahaman tentang bagaimana dirinya
telah salah dalam menerima, menginterpretasikan, dan merespon
pengalamannya pada saat ini dalam kaitannya dengan masa lalunya.
c. Kontratransferensi
Yaitu kondisi dimana konselor mengembangkan pandangan-pandangan
yang tidak selaras dan berasal dari konflik-konfliknya sendiri. Kontratransferensi
bisa terdiri dari perasaan tidak suka, atau justru keterikatan atau keterlibatan yang
berlebihan, kondisi ini dapat menghambat kemajuan proses konseling karena

konselor akan lebih terfokus pada masalahnya sendiri. Konselor harus menyadari
perasaaannya terhadap klien dan mencegah pengaruhnya yang bisa merusak.
Konselor diharapkan untuk bersikap relatif obyektif dalam menerima kemarahan,
cinta, bujukan, kritik, dan emosi-emosi kuat lainnya dari konseli.
V.

Kelemahan Dan Kelebihan Pendekatan Psikonalisa

Kelemahan dari pendekatan ini adalah:


1. Pandangan yang terlalu determistik dinilai terlalu merendahkan martabat
kemanusiaan.
2. Terlalu banyak menekankan kepada masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan
seolah-olah ditentukan oleh masa lalu. Hal ini memberikan gambaran seolah-olah
tanggung jawab individu berkura.
3. Cenderung meminimalkan rasionalitas.
4. Kurang efisien dari segi waktu dan biaya
Kelebihan dari pendekatan ini adalah:
1. Penggunaan terapi wicara
2. Kehidupan mental individu menjadi bisa dipahami, dan dapat memahami sifat
manusia untuk meredakan penderitaan manusia.
3. Pendekatan ini dapat mengatasi kecemasan melalui analisis atas mimpi-minpi,
resistensi-resistensi dan transferensi-trasnferensi.
4. Pendekatan ini memberikan kepada konselor suatu kerangka konseptual untuk
melihat tingkah laku serta untuk memahami sumber-sumber dan fungsi
simptomatologi.
B. KONSELING BERPUSAT PADA KONSELOR
I.
Konseling Berpusat Pada Person
Konseling berpusat pada person (person centered counseling) dikembangkan oleh Carl
Person Rogers, salah seorang psikolog klinis yang sangat menekuni bidang konseling dan
psikoterapi. Dia dilahirkan pada 1902 di Loak Park, Illinois.
Berdasarkan sejarahnya teori konseling yang dikembangkan Rogers ini
mengalami beberapa perubahan. Pada mulanya dia mengembangkan pendekatan
konseling yang disebut non-directive counseling (1940) pendekatan ini sebagai
reaksi terhadap teoriteori konseling yang berkembang saat itu yang terlalu

berorientasi pada konselor atau directive counseling. Pada tahun 1951 Rogers
mengubah namanya menjadi client centered counseling sehubungan dengan
perunan pandangan tentang konseling yang menekankan pada upaya reflektif
terhadap perasaan klien. Enam tahun berikutnya, pada 1957 Rogers mengubah
sekali lagi pendekatannya menjadi konseling yang berpusat pada person (person
centered) yang memandang klien sebagai partner dan perlu adanya keserasian
pengalaman baik pada klien maupun konselor dan keduanya perlu
mengemukakan pengalamannya pada saat hubungan konseling berlangsung.
Konseling berpusat pada person ini memperoleh sambutan positif dari kalangan
ilmuan maupun praktisi, sehingga dapat berkembang secara pesat, hingga saat ini,
pendekatan konseling ini masih relevan untuk dipelajari dan diterapkan. Dalam
kaitannya Geldard (1989) menyatakan bahwa karya Rogers ini memiliki kekutan
II.

(powerfull) dan manfaat (usefull) dalam membantu klien.


Teori Kepribadian
Untuk memahami lebih luas pandangnnya tentang manusia perlu memahami
cara pandang Rogers tentang kepribadian. Rogers mengungkapkan bahwa terdapat
tiga unsur yang sangat esensial dalam hubungannya dengan kepribadian, yaitu self,

medan fenomenal, dan organisme.


1. Self adalah bagian dari kepribadian yang terpenting dalam pandangan Rogers. Self
disebut pula struktur self atau self concept merupakan persepsi dan nilainilai
individu tentang dirinya atau halhal lain yang berhubungan dengan dirinya. Self
merupakan suatu konsepsi yang merupakan persepsi mengenai dirinya I atau me
dari persepsi hubungan dirinya dengan orang lain dengan segala aspek kehidupannya.
Self meliputi dua hal, yaitu self riil (real self) dan self ideal (ideal self). Real
self merupakan gambaran sebenarnya tentang dirinya yang nyata, dan ideal self
merupakan apa yang menjadi kesukaan, harapan, atau yang idealisasi tentang dirinya.
2. Medan fenomenal merupakan keseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya
baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Pengalaman yang meliputi peristiwa
peristiwa yang diperoleh dari pengamatan dan dari apa yang pernah dilakukan
individu. Pengalaman ada yang bersifat internal yaitu persepsi mengenai dirinya
sendiri dan pengalaman yang bersifat eksternal yaitu persepsi mengenai dunia
luarnya. Pengalamanpengalaman ini berbeda antara individu satu dengan lainnya,
dan dapat menjadi self.

Kita dapat memahami medan fenomenal seseorang hanya dengan


menggunakan kerangka pemikiran internal individu yang bersangkutan. Pemahaman
secara empati, sebagai bentuk internal frame of reference, sangat berguna dalm
memahami medan fenomenal ini.
3.

Organism merupakan keseluruhan totalitas individu, yang meliputi pemikiran,


perilaku, dan keadaan fisik. Organism mempunyai satu kecenderungan dan dorongan
dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
Perilaku itu merupakan usaha organism yang berarah tujuan (goal directed) yaitu
untuk memuaskan kebutuhankebutuhan sebagaimana dialaminya dan dalam medan
sebagaimana yang diamatinya. Dalam hubungan ini emosi menyertai pada umumnya
memberikan fasilitas perilaku berarah tujuan itu. Kebanyakan caracara berperilaku
yang diambil orang adalah yang selaras dengan konsep self.
Organism bereaksi terhadap medan fenomenal sebagaimana medan itu dialami
dan diamati. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas).
Organism bereaksi terhadap medan fenomenal sebagai keseluruhan yang
terorganisasi.
Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus menerus

antara organism, self, dan medan fenomenal. Untuk memahami perkembangan


kepribadian perlu dibahas tentang dinamika kepribadian sebagaimana berikut ini.
1. Kecenderungan Mengaktualisasi
Rogers beranggapan bahwa organism manusia adalah unik dan memiliki
kemampuan untuk mengarahkan, mengatur, menontrol dirinya, dan mengembangkan
potensinya. Oleh karena itu, manusia berkecenderungan untuk mengaktualisasikan diri,
yaitu untuk mengembangkan seluruh kemampuannya dengan jalan memelihara dan
meningkatkan organisme ke arah otonomi. Kecenderungan mengaktualisasikan diri ini
sifatnya terarah, konstruktif, dan ada dalam kehidupannya. Kecenderungan
mengaktualisasi sebagai daya dorong (motive force) individu yang bersifat inherent,
karena sudah dimiliki sejak dilahirkan, hal ini ditunjukkan dengan kemampuan bayi
untuk memberikan penilaian apa yang terasa baik (actualizing) dan yang terasa tidak baik
(nonaktualizing) terhadap peristiwa yang diterimanya.
2. Penghargaan Positif dari Orang Lain

Self berkembang dari interaksi yang dilakukan organisme dengan realitas


lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi individu. Lingkungan
sosial yang sangat berpengaruh adalah orangorang yang bermakna baginya, seperti
orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang secara positif didalam
berinteraksi itu mendapat penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang lain (positive
regard).
Sepanjang berinteraksi dengan orang lain itulah individu membutuhkan
penghargaan secara positif. Jika kebutuhan ini diperolehnya, maka individu juga akan
belajar dan merasakan dirinya sebagai orang yang berharga, dapat menerima dan
mencintai dirinya sendiri (self regard). Memperoleh penghargaan positif dari orang lain
tanpa syarat dan penghargaan diri secara positif pada hakikatnya adalah kebutuhan setiap
individu (Pescitelli, 1997). Tentunya penghargaan positif yang diberikan kepada individu
tidak diberikan dengan cara memaksa atau bersyarat (condition of worth). Pemberian
penghargaan yang bersyarat akan menghambat pertumbuhannya.
3. Person yang Berfungsi Secara Utuh
Individu yang terpenuhi kebutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif
tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat mencapai kondisi yang
kongruensi antara self dan pengalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai
penyesuaian psikologis secara baik. Rogers menegaskan bahwa orang yang demikian ini
menjadi pribadi yang berfungsi secara sempurna (fully functioning person), yang ditandai
oleh keterbukaan terhadap pengalaman, percaya kepada organismenya sendiri, dapat
mengekspresikan perasaanperasaannya secara bebas, bertindak mandiri, dan kreatif.
Fully functioning ini pada dasarnya sebagai tujuan kehidupan manusia.
III.

Hakikat Manusia
Rogers beranggapan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membimbing,

mengatur dan mengendalikan dirinya sendiri.


Secara lebih lengkap hakikat manusi menurut Rogers adalah sebgai berikut
1) Manusia cenderung untuk melakukan aktualisasi diri, hal ini dapat dipahami
bahwa organisme akan mengaktualisasikan kemampuannya dan memiliki
kemmpuan untuki mengarahkan dirinya sendiri.

2) Perilaku manusia pada dasrnya sesuai dengan persepsinya tentang medan


fenomenal dan individu itu mereaksi medan itu sebagaimana yang dipersepsi.
Oleh karena itu persepsi individu tentang medan fenomenal bersifat subyektif.
3) Manusia pada dasarnya bermartabat dan berharga dan dia memiliki nilainilai
yang dijunjung tinggi sebagai hal yang baik bagi dirinya.
4) Secara mendasar manusia itu baik dan dapat dipercaya, konstruktif tidak merusak
IV.

dirinya.
Prinsip-Prinsip Konseling
Berdasarkan pandangan Rogers Tentang hakikat manusia, konseling berpusat

pada person dilaksanakan berdasarkan prinsip prinsip sebagai berikut:


1) Konseling berpusat pada person difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan
klien untuk menemukan cara cara menghadapi kenyataan secara lebih sempurna.
2) Menekankan pada dunia fenomenal klien, dengan jalan member empati dan perhatian
terutama pada persepsi klien dan persepsinya terhadap dunia.
3) Konseling ini dapat diterapkan pada individu yang dalam kategori normal maupun
yang mengalami derajat penyimpangan psikologis yang lebih berat.
4) Konseling merupakan slah satu contoh hubungan pribadi yang konstruktif.
5) Konselor perlu menunjukkan sikap sikap tertentu untuk menciptakan hubungan
terapeutik yang efektif kepada klien (Corey, 1988).
V. Tujuan Konseling
Pandangan Rogers tentang kepribadian sebagaimana telah diuraikan pada bagian
diatas jelas bahwa Rogers menaruh perhatian pada keadaan psikologis yang sehat, yang
dapat menyesuaikan secara psikologis. Dari pandangan itu dapat dikemukakan bahwa
keadaan yang kongruensi pada seseorang merupakan titik perhatian dalam pendekatan
konseling berpusat pada person ini. Artinya bahwa proses konseling diharapkan dapat
membantu klien dalam menemukan konsep dirinya sesuai dengan medan fenomenalnya,
dia tidak lagi menolak atau mendistorsi pengalaman-pengalaman sebagaimana adanya.
Secara ideal tujuan konseling berpusat pada person tidak terbatas oleh tercapainya
pribadi yang kongruen saja. Bagi Rogers tujuan konseling pada dasarnya sama dengan
tujuan kehidupan ini, yaitu apa yang disebut dengan fully functioning person, yaitu
pribadi yang berfungsi sepenuhnya. Rogers beranggapan bahwa fully functioning person
itu kurang lebih memiliki kesamaan dengan self-actualization, meskipun memiliki sedikit
perbedaan. Fully fungctioning person merupakan hasil dari proses dan karena itu lebih
bersifat becoming, sedangkan aktualisasi diri sebagaimana yang dikemukakan maslow

lebih merupakan keadaan akhir dari kematangan mental dan emosional, karena itu lebih
merupakan self being (cottone,1991).
Secara singkat tujuan konseling ini mencakup:
a. terbuka terhadap pengalaman.
b. adanya kepercayaan terhadap organismenya sendiri.
c. kehidupan eksistensial yaitu sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan,
VI.

perasaan bebas, dan kreatif.


Kondisi Konseling dan Peran Konselor
Dalam pandangan Rogers, konselor lebih banyak berperan sebagai partner klien

dalam memecahkan masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak
memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan,
perasaan dan persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan oleh
klien.
Agar peran ini dapat dipertahankan dan tujuan konseling dapat dicapai, maka
konselor perlu menciptakan iklim atau kondis yang mampu menumbuhkan hubungan
konseling. Kondisi konseling ini menurut Rogers (1961) satu keharusan dan cukup
memadai untuk pertumbuhan, sehingga dia menyebutnya sebagai necessary dan
sufficient conditions for therapiutic change. Kondisi- kondisi yang perlu diciptakan itu
adalah sebagai berikut:
2.

Konselor dan klien berada dalam hubungan psikologis.


Klien adalah orang yang mengalami kecemasan, penderitaan dan

3.

ketidakseimbangan.
Konselor adalah benar- benar dirinya sejati dalam berhubungan dengan

4.

klien.
Konselor merasa atau menunjukkan unconditional positive regard untuk

5.

klien.
Konselor menunjukkan adanya rasa empati dan memahami tentang kerangka

6.

acuan klien dan memberitahukan pemahamannya kepada klien.


Klien menyadari (setidaknya pada tingkat minimal)usaha konselor yang

1.

menunjukkan sikap empatik berkomunikasi dan unconditioning positive


regard kepada klien.
Kontak psikologis sebagaimana yang dimaksudkan oleh Rogers terjadi ketika dua
orang berinteraksi. Setiap orang mencapai kesadaran yang berbeda dalam lapangan
pengalaman dari yang lain. Berdasarkan keenam kondisi konseling itu, 3 kondisi yang
harus diciptakan oleh konselor, yaitu:

1) Congruence or genuinene : menunjukkan sikap yang selaras dan keaslian.


2) Unconditional positive regaer and acceptance: penerimaan tanpa syarat.
3) Accurate empathic understanding: pemahaman empati yang tepat.
dalam kaitannya dengan ini pula, dalam memahami perilaku klien konselor menggunakan
pendekatan internal frame of reference klien sendiri. Untuk menciptakan kondisi seperti
diatas teknik yang dapat dikembangkan adalah verbalisasi, teknik nonverbal, membuka
diri, dan ekspresi emosi.
VII.
Tahapan Konseling
Tahapan konseling berpusat pada person menurut boy dan pine (1981) jika
dilihat dari apa yang dilakukan konselor dapat dibuat 2 tahap.
Pertama, tahap membangun hubungan terapeutik, menciptakan kondisi fasilitatif dan
hubungan yang subtantif seperti empati, kejujuran, ketulusan, penghargaan dan
positif tanpa syarat.
Kedua, adalah tahap kelanjutan yang disesuaikan dengan efektifitas hubungan pada
tahap kedua, disesuaikan dengan kebutuhan klien.
Sedangkan jika dilihat dari segi pengalaman klien dalam proses hubungan konseling
dapat dijabarkan bahwa proses konseling dapat dibagi menjadi empat tahap Corey,
(1988).
Tahap pertama klien datang kekonselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami
kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri yang tidak baik.
Tahap kedua, saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh
bantuan, jawaban atas kesulitan kesulitannya. Perasaan yang ada pada klien adalah
ketidak mampuan mengatasi kesulitan hidupnya.
Tahap ketiga, pada awal konseling klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaannya
yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara
permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam. Pada awal awal ini klien
kecenderungan mengeksternalisasi perasaan dan masalahnya, dan mungkin bersikap
defensif. Karena kondisi yang diciptakan konselor kondusif, dengan sikap empati dan
penghargaan, konselor terus membantu klien untuk mengeksplorasi dirinya secara
lebih terbuka. Jika hal ini berhasil maka klien mulai menunjukkan sikapnya yang
lebih menyatakan diri yang sesungguhnya.
Tahap keempat, klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri
terhadap pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih
teraktualisasi, dengn jalan menghilangkan pengalaman yang didistorsi.

KESIMPULAN
Psikoanalisia adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat
manusia, dan metode psikoterapi, berorientasi untuk berusaha membantu individu untuk
mengatasi ketegangan psikis yang bersumber pada rasa cemas dan rasa terancam yang
berlebih-lebihan (anxiety). Hakikat konseling adalah mengubah perilaku. Terdapat 4
teknik dasar dalam konseling psikoanalisa, yaitu: Asosiasi Bebas, Analisis Mimpi,
Analisis Resistensi, Analisis Transferensi.
Tujuan terapi psikoanalisa adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu,
dengan cara merekonstruksi, membahas, menganalisa, dan menafsirkan kembali
pengalaman-pengalaman masa lampau, yang terjadi di masa kanak-kanak.
Konseling yang berpusat pada person (person centered) memandang klien sebagai partner
dan perlu adanya keserasian pengalaman baik pada klien maupun konselor dan keduanya
perlu mengemukakan pengalamannya pada saat hubungan konseling berlangsung.
Dapat disimpulkan bahwa antara konseling psikoanalisa dan konseling berpusat pada
klien sama-sama bertujuan membantu klien dalam membantu permasalhannya.

DAFTAR PUSTAKA
Komalasari ddk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT.Indeks.
Latipun. 210/2011. Psikologi Konseling. Malang: UMM Malang.

TUGAS
BK DI PAUD
KONSELING PSIKOANALISA DAN KONSELING BERPUSAT
PADA KONSELOR
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah BK di PAUD
Dosen Pengampu : Dra. Ni Ketut Alit Suarti M.Pd

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II

ISTA DEDY SEKALA PURTA

( 12 121 239)

NURHIDAYAH

( 12 121 230)

ISNAENI

(12 121 245)

JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP MATARAM
2015
LAMPIRAN

Konseling Rasional Emotif Behavior Therapy


I.

A. PENDAHULUAN

Istilah Rational-Emotive Behavior Therapy sukar diganti dengan istilah bahasa


indonesia yang mengena; paling-paling dapat dideskripsikan dengan mengatakan;
corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berfikir dan akal
sehat (rational thingking), berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting), serta
sekaligus menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berfikir
dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku
(Winkel dan Sri Hastuti, 2004: 429). Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy
(REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan
antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. pendekatan Rational-Emotive Behavior
Therapy (REBT) di kembangkan oleh Albert Ellis melalui beberapa tahapan.
pandanagan dasar pendekatan ini tentang manusia adalah bahwa individu memiliki
tendensi untuk berpikir irasional yang salah satunya didapat melalui belajar sosial. Di
samping itu, individu juga memiliki kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir
rasional. pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu mengubah pikiran-pikiran
irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori GABCDE (Gantina dkk, 2011:
201).
B. SEJARAH
Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan yang
dikembangkan oleh Alber Ellis pada tengah tahun 1950an yang menekankan pada
pentingnya peran pikiran pada tingkah laku. Pada awalnya pendekatan ini disebut
dengan Rational Therapy (RT). Kemudian Ellis mengubahnya menjadi RationalEmotive Therapy (RET) pada tahun 1961. Pada tahun 1993, dalam Newsletter yang
dikeluarkan oleh the institute for Rationa-Emotive Therapy, Ellis mengumumkan
bahwa ia mengganti nama Rational-Emotive Therapy (RET) menjadi RationalEmotive Behavior Therapy (REBT).
Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) merupakan pendekatan kognitifbehavioral. Pendekatan ini merupakan pengembangan dari pendekatan behavioral.
Dalam proses konselingnya, Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) berfokus
pada tingkah laku individu, akan tetapi Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT)
menekankan bahwa tingkah laku yang bermasalah diseabkan oleh pemikiran yang
irasional sehingga fokus penanganan pada pendekatan Rational-Emotive Behavior

Therapy (REBT) adalah pemikiran individu. Rational-Emotive Behavior Therapy


(REBT) adalah pendekatan yang bersifat direktif, yaitu pendekatan yang
membelajarkan kembali konseli untuk memahami input kognitif yang menyebabkan
gangguan emosional, mencoba mengubah pikiran konseli agar membiarkan pikiran
irasionalnya atau belajar mengantisipasi manfaat atau konsekuensi dari tingkah laku.
Kata rational yang dimaksud Ellis adalah kognisi atau proses berpikir yang
efektif adalah membantu diri sendiri (self helping) bukan kognisi yang valid secara
empiris dan logis. Menurut Ellis, rasionalitas individu bergantung pada penilaian
individu berdasarkan keinginan atau pilihannya atau berdasarkan emosi dan
perasaannnnya. Ellis memperkenalkan kata behavior (tingkah laku) pada pendekatan
Rational-Emotiive Behavior Therapy (REBT) dengan alasan bahwa tingkah laku
sangat terkait dengan emosi dan perasaan.
C. PANDANGAN TENTANG MANUSIA
Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) memandang manusia
sebagai individu yang didominasi oleh sistem berpikir dan sistem perasaan yang
berkaitan dalam sistem psikis individu. Keberfungsian individu secara psikologis
ditentukan oleh pikiran, perasaan dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkaitan
Karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya. Secara khusus pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristtik
sebagai berikut:
Individu memiliki potensi yang unik untuk berpikir rasional dan irasional
Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orang

tua dan budayanya.


Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui symbol dan bahasa. Dengan
demikian, ganguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide

dan pemikiran irasional.


Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbalising) yang
terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar

permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri.


Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya.
Pikiran dan perasaan yang negatif dan merusak diri dapat diserang dengan
mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan
rasional.

Landasan filosofi Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia


tergambar dalam quotation dan Epictetus yang dikutip oleh Ellis; Men are disturbed
not by things, but by the views which they take of them (manusia tergangu bukan
karena sesuatu, tetapi karena pandangan terhadap sesuatu) (Gantina dkk, 2011: 203).
Landasan filosofi Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia,
melekat pada epistemology atau theory of knowledge, dialectic atau sistem berpikir,
sistem nilai dan prinsip etik. Secara epistemologi, individu diajak mencari cara yang
reliabel dan valid untuk mendapatkan pengetahuan dan menentukan bagaimana kita
mengetahui bahwa sesuatu itu benar. Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT)
mengadvokasi berpikir ilmiah dan berdasarkan bukti empiris. Secara dialektik,
Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi bahwa berpikir logis itu tidak
mudah. Kebanyakan individu cenderung ahli dalam berpikir tidak logis.
Contoh berpikir tidak logis yang biasanya banyak menguasai individu adalah:

Saya harus sempurna


Saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!
Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.
Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irasional individu yang dapat

mengakibatkan masalah yaitu (Gantina dkk, 2011:205)


a. Dicintai dan setujui oleh orang lain adalah sesuatu yang
sangat esensial
b. Untuk menjadi orang yang berharga individu harus
kompeten dan mencapai setiap usahanya.
c. Orang yang tidak bermoral, kriminal dan nakal merupakan
pihak yang harus disalahkan.
d. Hal yang sangat buruk dan menyebalkan adalah bila
sebagala sesuatu tidak terjadi seperti yang saya harapkan.
e. Ketidakbahagiaan merupakan hasil dari peristiwa eksternal
yang tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri.
f. Sesuatu yang membahayakan harus menjadi perhatian dan
harus selalu diingat dalam pikiran.

g. Lari dari kesulitan dan tanggung jawab daripada


menghadapinya.
h. Seseoramg harus memiliki orang lain sebagai tempat
bergantung dan harus memiliki seseorang yang lebih kuat
yang dapat menjadi tempat bersandar.
i. Masa lalu menentukan tingkah laku saat ini dan tidak bisa
diubah.
j. Individu bertanggaung jawab atas masalah dan kesulitan
yang dialami oleh orang lain.
k. Selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masalah.
Dengan demikian, kegagalan mendapatkan jawaban yang
benar merupakan bencana.
D. KONSEP DASAR
a. Asumsi Dasar
Ellis (1993) mengatakan beberapa asumsi dasar REBT yang dapat
dikategorisasikan pada beberapa postulat, antara lain:
Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinambungan saling

berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain


Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan
Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan individu juga

secara mengaja mempengaruhi orang lain disekitarnya.


Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif, emosional dan tingkah laku.

Individu sering berpikir yang menyakiti diri sendiri dan orang lain
Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, individu cenderung menciptakan

keyakinan yang irasional tentang kejadian tersebut.


Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu
Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat

dan mempertahankan gangguan emosionalnya.


Ketika individu bertingkah laku yang menyakiti diri sendiri (self-defeating
behavior)
Menurut Nelson dan Jones (1995) pendekatan Rational-Emotive Behavior

Therapy (REBT) memiliki tiga hipotesis fundamental yang menjadi landasan dari
teori ini, yaitu:

Pikiran dan emosi saling berkaitan

Pikiran dan emosi biasanya saling mempengaruhi satu sama lain, keduanya
bekerja seperti lingkaran yang memiliki hubungan sebab-akibat, dan pada

poin tertentu, pikiran dan emosi menjadi hal yang sama.


Pikiran dan emosi cenderung berperan dalam self-talk (perbincangan dalam
diri individu yang kerap kali diucapkan oleh individu sehingga menjadi
pikiran dan emosi). Sehingga pernyataan internal individu sangat berate dalam
menghasilkan dan memodifikasi emosi individu.
Menurut Ellis, terdapat enam prinsip teori Rational-Emotive Behavior

Therapy (REBT), antara lain:

Pikiran adalah penentu proksimal yang paling penting terhadap emosi

individu.
Disfungsi berpikir adalah penentu utama stress emosi.
Cara terbaik untuk mengatasi stress adalah dengan mengubah cara berpikir.
Percata atas berbagai faktor yaitu pengaruh genetic dan lingkungan yang

menjadi penyebab pikiran yang irasional.


Menekankan pada masa sekarang (present) dari pada pengaruh masa lalu.
Perubahan tidak terjadi dengan mudah.
b. Proses Berpikir
Menurut pandangan REBT individu memiliki tiga tingkatan berfikir yaitu
berfikir tentang apa yang terjadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti, mengadakan
penilaian terhadap fakta dan bukti, dan keyakinan terhadap proses bukti-bukti dan
evaluasi. Ellis berpendapat bahwa yang menjadi sumber terjadinya masalahmasalah emosional adalah evaluative belief yang dikenal dengan istilah REBT
adalah irrational belief yang dapat dikategorikan menjadi empat yaitu:
1. Demamds (Tuntutan) adalah tuntutan atau ekspekstasi yang tidak realitas
dan absolut terhadap kejadian atau individu yang dapat dikenal dengan
kata-kata seperti harus, sebaiknya dan lebih baik.
2. Awfulising adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negatif dari suatu
situasi sampai pada level yang ekstrim sehingga kejadian yang tidak
menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan.
3. Low Frustation Tolerance (LFT) adalah kelanjuta dari tuntutan yang selalu
berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan ketidak toleransian
terhadap ketidaknyamanan.

4. Global Evaluations of human worth, yaitu menilai keberhargaan diri


sendiri dan orang lain. Hal ini bernakma bahwa individu dapat diberi
peringkat yang berimplikasi bahwa pada asumsi bebera orang lebih buruk
atau tidak berharga dari yang lain.

Selanjutnya, Ellis membagi pikiran individu dalam tiga tingkatan. yaitu:


1. Dingin (cool), Pikiran dingin adalah pikiran yang bersifat deskriptif sendiri dan
mengandung sedikit emosi.
2. Pikiran yang hangat (warm), adalah pikiran yang mengarah pada satu preferensi
atau keyakinan rasional, pikiran ini mengandung unsure evaluasi yang
mempengaruhi pembentukan perasaan.
3. Pikiran yang panas (hot) adalah pikiran yang mengandung unsur evaluasi yang
tinggi dan penuh dengan perasaan.
c. Teori ABC
Teori ABC adalah teori tentang kepribadain individu dari sudut pangang
pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT), kemudian ditambahkan
D dan E untuk mengakomodasi perubahan dan hasil yang diinginkan dari
perubahan tersebut. Selanjutnya, ditambahkan G yang diletakkan diawal untuk
memberikan konteks pada kepribadian individu:
G:
A:

(goals) atau tujuan-tujuan, yaitu tujuan fundamental


(activating events in a persons life) atau kejadian yang mengaktifkan

B:
C:

atau mengakibatkan individu


(beliefs) atau keyakinan baik rasional maupun irasional
(consequences) atau konsekuensi baik emosional maupun tingkah

D:
E:

laku
(disputing irrational belief) atau melakukan dispute pikiran irasional
(effective new philosophy of life) atau mengembangkan filosofi hidup

F:

ayang efektif
(futher action/new feeling) atau aksi yang akan dilakukan lebih lanjut
dan perasaan baru yang dikembangkan

Keterkaitan antara hubungan teori ABC


A B
(Antecedent event)

C
(Belief) (Emotional Consequence

D
(Disputing)

Contoh kasus :
seseorang yang mengalami hambatan emosional karena kasus perceraian. Ia
merasa perceraian itu terjadi akibat kesalahan-kesalahannya, sehingga ia merasa malu,
menjadi orang yang tidak berharga dan patut menderita karena tidak mampu
mempertahankan kehidupan rumah tangganya. Perasaan malu, tidak berharga, dan patut
menderita (Concequences) bukan merupakan akibat langsung dari peristiwa perceraian
(Activating event), tetapi sebagai akibat dari keyakinannya bahwa perceraian itu terjadi
karena kesalahan-kesalahan yang dilakukannya ( Disputing) , sehingga ia menyalahkan
dirinya sendiri (Beliefs).
Selanjutnya, Ellis menegaskan bahwa irrational thinking (berpikir irasional) menjadi
masalah bagi individu karena:

Menghambat individu dalam mencapai tujuan-tujuan, menciptakan emosi yang


ekstrim yang mengakibatkan stes dan menghambat mobilitas dan mengarahkan

pada tingkah laku yang menyakiti diri sendiri.


Menyalahkan kenyataan (salah menginterpretasikan kejadian yang terjadi atau

tidak didukung oleh bukti yang kuat)


Mengandung cara yang tidak logis dalam mengevaluasi diri dan orang lain dan
lingkungan sekitar.

E. TUJUAN KONSELING
Tujuan utama konseling dengan pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy
(REBT) adalah membantu individu menyadari bahwa mereka dapat hidup dengan
lebih rasional dan lebih produktif. Secara lebih gamblang, Rational-Emotive
Behavior Therapy (REBT) mengajarkan individu untu mengoreksi kesalahan berpikir
untuk mereduksi emosi yang tidak diharapkan. Selain itu, Rational-Emotion
Behaviour Therapy (REBT) mendukung konseli untuk menjadi lebih toleran terhadap

diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Ellis dan Benard (1986) mendeskripsikan
beberapa sub tujuan yang sesuai dengan nilai dasar pendekatan Rational-Emotion
Behavior Therapy (REBT). Sub tujuan ini dapat membantu individu mencapai nilai
untuk hidup (to survive) dan untuk menikmati hidup (to enjoy). Tujuan tersebut
adalah:
Memiliki minat diri (self interest)
Memiliki minat sosial (sosial interest)
Memiliki pengarahan diri (self direction)
Toleransi (tolerance)
Fleksibel (flexibility)
Memiliki penerimaan (acceptance)
Dapat menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty)
Dapat menerima diri sendiri (self acceptance)
Dapat mengambil resiko (risk taking)
Memiliki harapa yang realistis (realistic expectation)
Memiliki toleransi terhadap frustasi yang tinggi (high frustration tolerance)
Memiliki tanggung jawab pribadi (self responsibility)

F. PERAN DAN FUNGSI KONSELOR


Peran konselor adalah pendekatan Rational-Emotive behavior Therapy (REBT)
adalah:
Aktif-direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untuk memberikan penjelasan

terutama pada awal konseling


Mengkonfrontasi pikiran irasional konseli secara langsung
Menggunakan berbagai teknik untuk menstimulus konseli untuk berpikir dan

mendidik kembali diri konseli sendiri


Secara terus menerus menyerang pemikiran irasional konseli
Mengajak konseli untuk mengatasi masalahnya dengan kekuatan berpikir bukan

emosi
Bersifat didaktif (Gantina dkk, 2011: 214).
Dalam melaksanakan pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT),

konselor diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik karena RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) banyak didominasi oleh teknik-teknik yang

menggunakan pengolahan verbal. Selain itu, secara umum konselor harus memiliki
keterampilan untuk membangun hubungan konseling. Adapun keterampilan konseling
yang harus dimiliki konselor yang akan menggunakan pendekatan Rational-Emotif
Behavior Therapy (REBT), adalah sebagai berikut:

Empati (empathy)
Menghargai (respect)
Ketulusan (genuineness)
Kekongkritan (concreteness)
Konfrontasi (confrontation)

G. TAHAP-TAHAP KONSELING
Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan
memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional. Dalam proses ini
konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran dan tingkah laku
tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri. Untuk mengatasi hal
tersebut, konseli membutuhkan konselor untuk membantu mengatasi
permasalahannya. Dalam proses konseling dengan pendekatan REBT terdapat
beberapa tahap yang dikerjakan oleh konselor dan konseli.
a. Tahap 1
Proses dimana konseli diperlihatkan dan disadarkan bahwa mereka tidak logis
dan irasional. Proses ini membantu konseli memahami bagaimana dan mengapa
menjadi irasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka memiliki potensi
untuk mengubah hal tersebut (Gantina dkk, 2011: 215). Proses ini juga mampu
menunjukkan hubungn gangguan yang irrasional dengan ketidakbahagiaan dan
gangguan emosional yang dialami.
b. Tahap 2
Pada tahap ini konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan
negatif tersebut dapat ditantang dan diubah. Pada tahap ini konseli mengeksplorasi
ide-ide untuk menentukan tujuan-tujuan rasional. Konselor juga mendebat pikiran
irasional konseli dengan menggunakan pertanyaan untuk menantang validitas ide
tentang diri, orang lain dan lingkungan sekitar. Pada tahap ini konselor
menggunakan teknik-teknik konseling Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT)

untuk membantu konseli mengembangkan pikiran rasional (Gantina dkk, 2011:


215).
c. Tahap 3
Tahap akhir ini, konseli dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan
pikiran rasional serta mengembangkan filosofi hidup yang rasional sehingga
konseli tidak terjebak pada masalah yang disebabkan oleh pemikiran irasional
(Gantina dkk, 2011:216)
Tahap-tahap konseling ini merupakan proses natural dan berkelanjutan. Tahaptahap ini menggambarkan keseluruhan proses konseling yang dilalui oleh konselor dan
konseli. Dari tahap-tahap terdapat dua tugas utama konselor yaitu:

Interpersonal, yaitu membangun hubungan terapeutik, membangun rapport, dan

suasana yang kaloboratif


Organizational, yaitu bersosialisasi dengan konseli untuk memulai terapi,
mengadakan proses asesmen awal, menyetujui wilayah masalah dan membangun
tujuan konseling.
Secara khusus, terdapat beberapa langkah intervensi konseling dengan pendekatan

Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT), yaitu:


1. Bekerjasama dengan konseling (engage with client)
Membangun hubungan dengan konseli yang dapat dicapai dengan

mengembangkan empati, kehangatan dan penghargaan.


Memperhatikan tentang secondary disturbances atau hal yang mengganggu

konseli yang mendorong konseli mencari bantuan.


Memperlihatkan kepada konseli tentang kemungkinan perubahan yang bisa
dicapai dan kemampuan konselor untuk membantu koseli mencapai tujuann

konseling.
2. Melakukan asesmen terhadap masalah, orang dan situasi (asses the problem, person and
situation)
Mulai dengan mengidentifikasi pandangan-pandangan tentang apa yang menurut

konseli salah.
Perhatikan bagaimana perasaan konseli mengalami masalah ini.

Laksanakan asesmen secara umum dengan mengidentifikasi latar belakang


personal dan sosial, kedalamman masalah, hubungan dengan kepribadian
individu, dan sebab-sebab non-psikis seperti; kondisi fisik, lingkungan dan

penyalahgunaan obat.
3. Mempersiapkan konseli untuk terapi (prepare the client for therapy)
Mengklarifikasi dan menyetujui tujuan konseling dan motivasi konseli untuk
berubah
Mendiskusikan pendekatan yang akan digunakan dan implikasinya..
4. Mengimplementasikan program penanganan (implement the treatment program)
Menganalisis episode spesifik dimana inti masalah itu terjadi, menemkan
keyakinan-keyakinan yang terlibat dalam masalah dan mengembangkan

homework
Mengembangkan rugas-tugas tngkah laku untuk mengurangi ketakutan atau

memodifikasi tingkah laku


Menggunakan tekni-teknik tambahan yang diperlukann.
5. Mengevaluasi kemajuan (evaluate progress)
Pada menjelang akhir intervensi konselor memastikan apakah konseli
mencapai perubahan yang signifikan dalam berpikir atau perubahan tersebtu
disebabkan oleh faktor lain.
6. Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri konseling (prepare the client for termination)
Mempersiapkan konseli untuk mengakhiri proses konseling dengan
menguatkan kembali hasil yang sudah dicapai. Selain itu, mempersiapkan konseli
untuk dapat menerima adanya kemungkinan kemunduran dari hasil yang suudah
dicapai atau kemungkinan mengalami masalah dikemudian hari.
H. TEKNIK-TEKNIK KONSELING
Teknik konseling dengan pendekatan Rational-Emotive Behaior Therapy (REBT)
dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu teknik kognitif, teknik imageri dan
teknik behavioral atau tingkah laku.
1. Teknik Kognitif
a. Dispute Kognitif (cognitive disputation)
b. Adalah usaha untuk mengubah keyakinan irasianal konseli melalu philosophical
persuation, didactic presentation, Socratic dialogue, vicarious esperiences dan
berbagai ekspresi verbal lainnya.
c. Analisis rasional (rational analysis)
Teknik untuk mengajarkan konseli bagaimana membukka dan mendebat
keyakinan irasional.

d. Dispute standard ganda (double-standard dispute)


Mengajarkan konseli melihat dirinya memiliki standar ganda tentang diri, orang
lain dan lingkungan sekitar.
e. Skala katastrapi (catastrophe scale)
Membuat proporsi tentang peristiwa-peristiwa yang menyakitkan.
f. Devils advocate atau rational role reversal
Yaitu meminta konseli untuk memainkan peran yang memiliki keyakinan
rasional sementara konselor memainkan peran menjadi konseli yang irasional.
g. Membuat frame ulang (reframing)
Mengevaluasi kembali hal-hal yang mengecewakan dan tidak menyenangkan
dengan mengubah frame berpikir konseli.
2. Teknik Imageri
a. Dispute Imajinasi (imaginal disputation)
Strategi imaginal disputation melibatkan penggunakan imageri.
Setelah melakukann dispute secara verbal, konselor meminta konseli untuk
membayangkan dirinya kembali pada situasi yang menjadi masalah dan
melihat apakah emosinya telah berubah. Bila ya, maka konselor memnita
konseli untuk mengatakan pada dirinya sebagai individu yang berpikir lebih
rasinal dan mengulang kembali proses diatas. Bila belum maka keyakinan
irasionalnya masih ada.
b. Kartu control emosional (the emotional control card-ECC)
Adalah alat yang dapat membantu konseli menggunakan dan
pemperluas praktik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT). ECC biasa
digunakan untuk memperkuat proses belajar, secara lebih khusus perasaan
marah (anger), kritik diri (self-criticism), kecemasan (anxiety) dan depresi
(depression). ECC berisi dua kategori perasaan yang paralel, yaitu (1)
perasaan yang tidak seharusnya atau yang merusak diri, dan (2) perasaan yang
sesuai dan tidak merusak diri.
c. Proyeksi waktu (time projection)
Meminta konseli untuk memvisualisasikan kejadian yang tidak
menyenangkan ketika kejadian itu terjadi, setelah itu membayangkan
seminggu kemudian, sebulan kemudian, enam bulan kemudian, setahun
kemudian dan seterusnya. Bagaimana konseli merasakan perbedaan tiap
waktu yang dibayangkan. Konseli dapat melihat bahwa hidup berjalan terus
dan membutuhkan penyesuaian.

d. Teknik melebih-lebihkan (the blow-up technique)


Adalah variasi dari tekni worst case imagery. Meminta konseli
membayangkan kejadian yang menyakitkan atau kejadian yang menakutkan
kemudian melebih-lebihkannya sampai pada taraf yang paling tinggi. Hal ini
bertujuan ada agar konseli dapat mengontrol kerakutannya.
3. Teknik Behavioral
a. Dispute tingkah laku (behavioral disputation)
Behavioral dispute atau risk taking, yaitu member kesempatan kepada
konseli untuk mengalami kejadian yang menyebabkannya berpikir irasional
adan melawan keyakinannya tersebut.
b. Bermain peran (role playing)
Dengan bantuan konseling melakukan role play tingkah laku baru
yang sesuai dengan keyakinan rasional.
c. Peran rasioanal terbaik (rational cole reversal)
Yaitu meminta konseli untuk memainkan peran yang memiliki
keyakinan rasional sementaraa konselor memainkan peran menjadii konseli
yang irasional. Konseling melawan keyakinan irasioanal konselor dengan
keyakian rasional yang diverbalisasikan
d. Pengalaman langsung (exposure)
Konseling secara sengaja memasuki situasi yang menakutkan. Prose
ini dilakukan melalui perencanaan dan penerapan keterampilan mengatasi
masalah
e. Menyerang rasa malu (shame attacking)
Melakukan konfrontasi terhadap ketakutan untuk malu dengan secara
sengaja bertingkah laku memalukan dan mengundang ketidaksetujuan
lingkungan sekitar. Dalam hal ini konseling diajarkan mengelola dan
mengantisipasi perasaan malunya.
f. Pekerjaan rumah (homework assignments)
Selain melakukan disputation secara verbal, Rational-Emotive
Behavior Therapy (REBT) juga menggunakan homework assignments
(pekerjaan rumah) yang dapat digunana sebagai self-help work. Terdapat
beberapa aktivitas yang dapat dilakukan dalam homework assignments yaitu
membaca, mendengrkan, menulis, mengimajinasikan, berpikir dan distraction.

II. Kesimpulan
Rational Emotive Behavior Therpy (REBT) dikembangkan oleh Albert Ellis pada
pertengahan tahun 1950-an yang menekankan pada pentingnya peran tingkah laku.
Rational Emotive Behavior Therpy (REBT) adalah penekatan yang bersifat direktif,
yaitu pendekatan yang membelajarkan kembali kepada konseli untuk memahami input
kognitif yang menyebabkan gangguan emosional, mencoba mengubah pikiran konseli
agar membiarkan pikiran irasionalnya atau belajar mengantisipasi manfaat konsekwensi
dari tingkah laku.
Karakteristik individu menurut Rational Emotive Behavior Therpy (REBT)
adalah memiliki potensi yang unik untuk berfikir rasional dan irasional, pikiran irasional
berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orang tua dan budayanya,
mahluk verbal dan berfikir melalui simbol dan bahasa, gangguan emosional yang
disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbalishing) dan persepsi serta sikap terhadap
kejadian merupakan akar permasalahan, memiliki potensi untuk mengubah arah hidup
personal dan sosialnya.
Enam prinsip teori Rational Emotive Behavior Therpy (REBT) antara lain :
pikiran adalah penentu proksimal yang paling penting terhadap emosi individu, disfungsi
berfikir adalah penentu utama stres emosi, cara terbaik untyuk mengatasi stres adalah
dengan mengubah cara berfikir, percaya atas berbagai faktor genetik dan lingkungan yang
menjadi penyebab pikiran yang irasional, menekankan pada masa sekarang (present) dari
pada pengaruh masa lalu, perubahan tidak terjadi dengan mudah.
Tujuan Rational Emotive Behavior Therpy (REBT) adalah membantu individu
mencapai nilai untuk hidup (to survive) dan untuk menikmati hidup (to enjoy). Tujuan
tersebut dibagi dalam beberapa sub tujuan yaitu : memiliki minat diri (self interest),
memmilliki minat sosial (social interest), memiliki pengarahan diri (slf direction),
toleransi (tolerance), fleksibel (fleksibelity), memiliki penerimaan (acceptance), dapat
menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty), dapat menerima diri sendiri (self
acceptance), dapat mengambil resiko (risk taking), memiliki harapan yang realistis

(realistic expectation), memiliki toleransi terhadap frustasi yang tinggi (high frustration
tolerance), memiliki tanggung jawab pribadi (self responsibility).
Peran konselor dalam pendekatan Rational Emotive Behavior Therpy (REBT)
adalah aktif direktif mengkonfrontasi pikiran irasional konseli secara langsung,
menggunakan berbagai teknik untuk menstimulus konseli untuk berfikir dan mendidik
kembali diri konseli sendiri, secara terus-menerus menyerang pemikiran irasional
konseli, mengajak konseli untuk mengatsi masalahnya dengan kekuatan berfikir bukan
emosi, dan bersifat dedaktif.

Daftar Pustaka

Komala sari , Gantina. dkk. 2011. Teori Dan Teknik Konseling . Jakarta: PT INDEKS
Latipun. 2011. Psikologi Konseling. MALANG : UMM Press
boharudin.blogspot.com/2011/04/rational-emotive-behavior-therapy.html

Nama anggota kelompok 3 :


Kelas C
Rusmina
Karmila
BQ. Nurhikayati

(12.121.089)
(12.121.106)
(12.121.101)

Kelas D
Rohana Komala Sari
Hikma Warni
Kelas E
Susinta Rahmawati
Rianti
Fitria Ningsih
Kelas F
Ida Ayu Kusuma Dewi
Fitriani

(12.121.135)
(12.121.128)
(12.121.168)
(12.121.174)
(12.121.198)
(12.121.225)
(12.121.238)

Abdul Manan Alfakir

(12.121.236)

MAKALAH
BK DI PAUD
KONSELING REALITAS DAN KONSELING HUMANISTIK

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 4
1. IRMA HIDAYATI

12.121.252

2. SULAEMAN

12.121.217

3. HAERUL FAIZIN

12.121.228

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN (FIP)


INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
IKIP MATARAM
2015

BAB I
PEMBAHASAN

A. Konseling Realitas
1. Sejarah Perembangan
Konseling realitas (reality therapy) dikembangkan oleh William Glasser pada
tahun 1950 an, William Glasser adalah seorang psikolog dari California. Dalam
pendekatan ini, konselor bertindak aktif, direktif, didaktik. Dalam konteks ini
konselor berperan sebagai guru dan sebagai model bagi konseli.
Glasser dilahirkan pada 1925 dan dibesarkan di Cleveland, Ohio. William
Glasser merupakan lulusan dari the Case Institute Of Technology sebagai insinyur
kimia pada tahun 1944 di usia 19 tahun, kemudian ia mengambil master dibidang
psikologi klinis pada usia 23 tahun di universitas yang sama. Pada tahun 1956 Glasser
menjadi kepala bagian psikiatri di the ventura School of Girls yang merupakan
institusi untuk menangani masalah kenakalan remaja perempuan. Pada saat inilah
Glasser mengembangkan konsep pendekatan realitas. Buku pertamanya Mental
Health or Mental Illmes pada tahun 1961 merupakan landasan berpikir dari teknik
dan konsep dasar terapi realitas (Thompson, et.al,.2004, p. 110). Glasser

menggunakan istilah reality terapy pada April 1964 pada menu skrip yang berjudul
Reality Terapy.
2. Pandangan Tentang Manusia
Glasser percaya bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan psikologis yang
secara konstan (terus menerus) hadir sepanjang rentang kehidupanya dan harus
dipenuhi. Secara lebih rinci, Glasser menjelaskan kebutuhan-kebutuhan dasar
psikologis manusia yaitu,
a. Kelangsungan hidup (Survival).
kebutuhan memperoleh kesehatan, makanan, udara, perlindungan,
rasa aman, dan kenyamanan fisik).
b. Cinta dan rasa memiliki (Love and belonging).
Salah satu kebutuhan psikologis manusia adalah kebutuhannya
untuk merasa memiliki dan terlibat atau melibatkan diri dengan orang lain.
Contohnya: persahabatan, acara perkumpulan tertentu, dan keterlibatan
dalam organisasi kemahasiswaan.
c. Kekuasaan (power).
Kebutuhan akan kekuasaan (power) meliputi kebutuhan untuk
berprestasi, merasa berharga, dan mendapatkan pengakuan. Kebutuhan ini
biasanya diekspresikan melalui kompetisi dengan orang-orang di sekitar
kita.
d. Kesenangan (fun).
Merupakan kebutuhan untuk merasa senang, dan bahagia. Pada
anak-anak, terlihat dalam aktivitas bermain. Misalnya, berlibur untuk
menghilangkan kepenatan, bersantai, melucu, humor, dan sebagainya.
e. Kebebasan (freedom).
Kebebasan (freedom) merupakan kebutuhan untuk merasakan
kebebasan atau kemerdekaan dan tidak tergantung pada orang lain,
misalnya membuat pilihan (aktif pada organisasi kemahasiswaan),
memutuskan akan melanjutkan studi pada jurusan apa, bergerak, dan
berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
3. Perkembangan Kepribadian
a. Struktur kepribadian

Menurut Glasser ketika seseorang berhasil memenuhi kebutuhannya,


orang tersebut telah mencapai identitas sukses. Pencapaian identitas sukses ini
terkait pada konsep 3R, yaitu:
Tanggungjawab (Responsibility).
Merupakan kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhannya
tanpa harus merugikan orang lain.
Kenyataan (Reality).
Merupakan kenyataan yang akan menjadi tantangan bagi individu
untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap individu harus memahami bahwa
ada dunia nyata, dimana mereka harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan
dalam rangka mengatasi masalahnya. Realita yang dimaksud adalah
sesuatu yang tersusun dari kenyataan yang ada dan apa adanya.
Kebenaran (Right).
Merupakan ukuran atau norma-norma yang diterima secara umum,
sehingga tingkah laku dapat diperbandingkan. Individu yang melakukan
hal ini mampu mengevaluasi diri sendiri bila melakukan sesuatu melalui
perbandingan tersebut ia merasa nyaman bila mampu bertingkah laku
dalam tata cara yang diterima secara umum.
b. perilaku bermasalah
Perilaku bermasalah terjadi ketika seseorang gagal dalam memenuhi
kebutuhannya. Apabila kebutuhan psikologisnya sejak awal tidak terpenuhi, maka
seseorang tidak mendapatkan pengalaman belajar bagaimana memenuhi
kebutuhan psikologis dirinya atau orang lain.
4. Pengertian Konseling Realitas Dan Tujuan
a. Pengertian Konseling Realitas
Menurut Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh
William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung
jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R) yaitu: realitas (reality), baik (right),
dan tanggungjawab (responsiblility).
Konseling realitas (rality therapy) adalah pendekatan yang didasarkan
pada anggapan tentang adanya satu kebutuhan psikologis pada seluruh

kehidupanya,, kebutuhan akan identitas dirinya yaitu kebutuhan untuk merasa


unik, terpisah, dan berbeda dengan orang lain.
b. Tujuan Konselin Realitas
Secara luas tujuan dari terapi realitas adalah mencapai identitas
keberhasilan (succsess identity), dimana succsess identity ini ditandai dengan
berfungsinya individu dalam memenuhi kebutuhan psikologisnya secara tepat,
yaitu : meliputi kebutuhan mencintai dan dicintai, kekuasaan atau berprestasi,
kebebasan atau independensi, serta kebutuhan untuk senang. Sehingga mereka
mampu mengembangkan identitas berhasil.Tujuan konseling realitas adalah
sebagai berikut :
Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat
menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata.
Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala
resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam
perkembangan dan pertumbuhannya.
Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian
yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya
keinginan individu untuk mengubahnya sendiri.
Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran
sendiri.
5. Teknik-teknik dan Tahap-tahap Konseling Realitas
a. Teknik-teknik Konseling Realitas
Menurut Corey (2009), pada hakikatnya terapi realitas sama sekali tidak
menggunakan teknik khusus seperti pendekatan yang lain. Adapun fokus utama
teknik realitas adalah mengembangkan kekuatan potensi klien untuk mencapai
keberhasilan dalam hidupnya, Menurut Corey (2009), teknik-teknik yang dapat
digunakan sbb:
Terlibat dalam permainan peran dengan klien.
Menggunakan humor.

Mengonfrontasikan klien dan menolak alasan apapun dari klien.


Membantu klien merumuskan rencana tindaka secara spesifik.
Bertindak sebagai guru atau model.
Menentukan batas-batas dan menyususn situasi terapi.
Menggunakan terapi kejutan verbal atau sarkasme yang layak untuk
mengonfrontasikan klien dengan tingkalh lakunya yand tidak realitas.
Melibatkan diri dengan klien untuk kehidupan yang lebih efektif.
b. Tahap-Tahap Konseling Realita
Thomson, et.al (2004:115-120)mmengemukakan delapan tahap dalm
konseling realita.
Keterlibatan (Be Friend).
Pada tahap ini, konselor mengawali pertemuan dengan bersikap
otentik, hangat,menaruh perhatian pada hubungan yang sedang dibangun,
sikap yang hangat dan ramah.
Fokus pada perilaku sekarang
Setelah konseli dapat melibatkan diri kepada konselor, maka
konselor menanyakan kepada konseli apa yang dilakuknya sekarang.
Konseli mengungkapkan permasalahan yang di alami.
Pertimbangan nilai
Konseli perlu dibantu menilai kualitas apa yang dilakukannya dan
menentukan apakah tingkah laku tersebut bertanggung jawab atau tidak,
baik atau tidak bagi dirinya. Fungsi konselor tidak untuk menilai benar
atau salah perilaku konseli, tetapi membimbing konseli untuk menilai
perilakunya saat ini.
Perencanaan tingkah laku bertanggung jawab
Rencana perubahan tingkah tidak bertanggung jawab menjadi
tingkah laku bertanggung jawab. Rencana tindakan yang efektif berupa
rencana yang sederhana, dapat dicapai , terukur, segera dan terkendalikan
oleh klien.

Pembuatan komitmen
Rencana akan bermanfaat jika konseli membuat suatu komitmen
untuk melaksanakannya. Komitmen dapat secara lisan atau tertulis.
Tidak menerima alasan kegagalan
Konselor tidak boleh mengeksplorasi alasan-alasan mengapa
konseli gagal dalam melaksanakan rencana. Konselor memusatkan
perhatian kembali pada rencana baru yang lebih cocok.
Peniadaan hukuman
Pemberian hukuman pada konseli yang gagal melaksanakan
rencana sebetulnya akan memperkuat identitas gagal konseli.
Tindak lanjut
Merupakan tahap terakhir dalam konseling. Konselor dan konseli
mengevaluasi perkembangan yang dicapai, konseling dapat berakhir atau
dilanjutkan jika tujuan yang telah diterapkan belum berhasil
6. Kelebihan Dan Keterbatasan

a. Kelebihan
Karakteristik pendekatan konseling realitas secara khusus menekankan
pada akuntabilitas. Aspek lain dari pendekatan konseling realitas yang disokong
Corey (1985) termasuk ide-idednya yang tidak menerima alas an dari gagalnya
pelaksanaan kontrak dan menghindari hukuman atau menyalahkan
b. Keterbatasan
Di anggap terlalu sederhana dan dangkal. Di akui bahwa kritik pendekatan
konseling realitas pada daerah ini. Glasser juga menyetujui bahwa delapan tahap
dari pendekatan konseling realitas adalah sederhana dan jelas leebih menekankan
pada praktek dan tidak pada materi yang sederhana.

B. KONSELING HUMANISTIK
1. Sejarah Konseling Humanistik

Pendekatan person-centered dikembangkan oleh Dr. Carl Rogers (19021987) pada tahun 1940-an, awalnya dinamakan nondirective counseling, kemudian
pada 1951 diganti menjadi client-centered dan berkembang lagi menjadi personcentered. Pendekatan client-centered berasumsi bahwa manusia yang mencari
bantuan psikologis diperlakukan sebagai konseli yang bertanggung jawab yang
memiliki kekuatan untuk mengarahkan dirinya. Pada perkembangannya, pendekatan
ini lebih dikenal sebagai pendekatan yang berpusat pada manusia (person-centered
approach), yang dikembangkan atas dasar pertimbangan perlunya mendudukkan
individu dalam konseling sebagai personal dengan kapasitas positifnya. Rogers
mempertanyakan validitas keyakinan yang banyak dipegang oleh konselor yaitu
bahwa dalam proses konseling, konselor adalah orang yang paling mengetahui.
Rogers berasumsi bahwa manusia pada dasarnya dapat dipercaya dan memiliki
potensi untuk memahami dirinya sendiri dan mengatasi masalahnya tanpa intervensi
langsung dari konselor serta manusia memiliki potensi untuk berkembang (Corey,
1986: 100).
2. Pandangan Tentang Manusia
Pendekatan person-centered memiliki keyekinan bahwa individu pada
dasarnya baik. Hal ini dideskripsikan lagi bahwa manusia memilki tedensi untuk
berkembang secara positif dan konstruktif realitas, dan dapat dipercaya. Selanjutnya
setiap manusia memiliki dorongan dari dalam untuk memnembangkan sterategi yang
membuat dirinya berfungsi penuh (corey, 1986,p.102)menurut pendekatan person
centered, manusia dipandang sebagai insane rasional ,mahluk sosial ,realistis dan
berkembang. Manusia yang memiliki perasaan negative dan emosi anti-sosial
merupakan hasi dari kerfrustasian atas tidak terpenuhinya kebutuhan dasar tentang
cinta (love) dan belonging(Thompson, et.al..,2004.160)
Pendekatan ini juga memandang bahwa manusia memiliki kemampuan untu
merasakan pengalaman, yaitu mengekspresikan dari pada menekankan pikiran
pikiran yang tidak sesuai dalam kehidupan kearah yang lebih sesuai. Menurut rogers ,
manusia melangkah maju menuju aktualisasi diri seirng denga maju kearah
penyesuaina psikologis. Hal ini disebabkan karna manusia memiliki kapsitas untuk

mengatur dan mengontrol tingkah lakunya, secara ringkas, konselor dengan


pendekatan person- centered percaya bahwa manusia adalah :
a. Meliliki worth dan dignity dalam diri sehingga ia layak diberikan penghargaan
(respect)
b. Memiliki kapasitas dalam hal untuk mengatur dirinya sendiri dan mendapat
kesempatan dan membuat penilaian yang bijaksana.
c. Dapat memilih dirinya sendiri
d. Dapat bertangguang jawab secara konstruktif
e. Memiliki kapasitas untuk mengatasi perasaan, pikiran dan tingkah
lakunyaMemiliki potensi untuk berubah secara konstruktif dan dapat
berkembang kearah hidup dan memuaskan dengan kata lain aktualisasi
(Thompson, et.al..,2004.160
3. Konsep Dasar
Pendekatan person centered di bangun atas dua hipotesis dasar, yaitu
a. Setiap orang memiliki kapasitas untuk memahami keadaan yang menyebabkan
ketidakbahagiaan dan mengatur kembali kehidupannya menjadi ebih baik,
b. Kemampuan seseorang untik menghadapi keadaan ini dapat terjadi dan
ditingkatkan jika konselor menciptakan kehangatan, penerimaan, dan dapat
memahami relasi (proses konseling) yang sedang dibangun (corey, 1986,p.105).
Untuk itu rogers mengemukakan konsep kepribadian yang terdiri dari tiga
aspek, yaitu :
a. Organism ,merupakan individu itu tersendiri ,mencakup aspek fisik maupun
psikologis.
b. Phenomental field, yaitu pengalaman pengalaman hidup yang bermakna
secara psikologis bagi individu dapat berupa pengetahuan , pengasuhan,
orangtua, dan hubungan pertemanan.
c. Self, yaitu interaksi antara organism atau induvidu dengan Phenomental field
akan membentuk self (I/me/saya). Kesadaran tentang self akan membantu
seseorang membedakan dirinya dari orang lain. Dalam hal ini untuk
menemukan self yang sehat ( the real self), maka induvidu memerlukan
penghargaan , kehangatan perhatian , tanpa syarat. Akan tetapi, jika seseorang
akan merasa akan merasa berharga hanaya bila bertingkah laku sesuai dengan
yang di kehendaki orang lain, maka yang akan terbentuk adalah ideal self.
4. Proses Konseling

Komponen atau perangkat (tools) yang digunakan dalam konseling ini


menurut Rogers antara lain kemampuan untuk mendengar aktif (active listening),
genuineness dan paraphrasing. Poin penting dalam pendekatan ini adalah konseli
telah memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya, sementara konselor
berperan dalam mendengarkan tanpa memberi penilaian, tanpa mengarahkan, dan
membantu konseli untuk merasa diterima dan dapat memahami realitas perasaannya
sendiri.
Rogers mengidentifikasi 6 kondisi konseling yang dibutuhkan untuk mencapai
perubahan psikologis, antara lain:
a. 2 orang yang berada dalam kontak psikologis
b. Konseli yang memiliki kondisi tidak kongruen
c. Konselor yang kongruen dan terlibat dalam hubungan konseling
d. Konselor yang memiliki unconditional positive regard untuk konseli
e. Konselor yang memiliki pemahaman empatik tentang pola berpikir konseli
f. Komunikasi yang empatik dan positive regard (Thompson, 2004: 160-161).
5. Tujuan Konseling
Tujuan konseling counseling person centered bertujan membantu konseli
menemukan konsep dirinya yang lebih positif lewat komunikasi konseling, dimana
konselor mendudukan konseli sebagai seorang yang berharga orang yang penting, dan
orang yang memiliki potensi positif dengan penerimaan tanpa syarat (unconditional
positive regard), yaitu menerima konseli apa adanya. Tujuan utama pendekatan
person centered adalah pencapaean kemandirian dan integrasi diri. Dalam padangan
rogerd (1977) tujuan konseling bukan semata-mata menyelesaikan masalah tetapi
membantu konseli dalam proses pertumbuhannya sehingga konseli dapat mengatasi
masalah yang di alaminya sekarang dengan lebih baik dapat mengatasi masalahnya
sendiri dimasa yang akan dating (corey,1986,p.103).
Tujuan dasar pendekatan person centered dapat terlihat dari pendapat rogers
(1961) tentang individu yang dapat mengaktualisasikan dirinya. Individu yang dapat
mengaktualisasikan dirinya terlihat dari karakteristik yaitu
a. Memiliki keterbukaan terhadap pengalaman (openness to experince) yaitu
Keterbukaan terhadap pengalaman meliputi kemampuan untuk melihat
realitas tanpa terganggu untuk menyesuaikan self structur yang telah terbentuk
sebelumnya

b. Kepercayaan kepada diri sendiri (self-trust) yaitu salah satu tujuan utuk
membantu konseli mengembangkan rasa percaya dirinya dalam mengambil
keputusan secara mendiri.
c. Sumber interval evaluasi (internal source of evaluation) berarti individu
mencari pada diri sendiri tentang jawaban atas masalah-masalah eksistensi diri
d. Keinginan yang berkelanjutan untuk berkembang (will ingness to continue
growing) pembentukan self Dalam procces of be coming merupakan inti dari
tujuan pendekatan person centered.
Empat karakteristik di atas memberikan frame kerja untuk memahami arah
proses konseling. Konselor tidak memilih tijuan untuk konseling tetapi
mempasilitasinya melalui penciptaan hubungan terapeotik (corey, 1986,p.105).
6. Peranan Dan Fungsi Konselor
Dalam proses konseling konselor berperan mempertahankan tiga kondisi inti
yaitu:
a. kongruen atau keaslian
berarti bahwa konselor menampilkan diri yang sebenarnya, asli,
terintegrasi, dan otentik. Seorang konselor harus dapat menampilkan
kekongruenannya antara perasaan dan pikiran yang ada di dalam dirinya dengan
perasaan, pandangan dan tingkah laku yang di eksperesikan. Konselor yang
otentik menampilkan diri yang sepontan dan terbuka baik perasaan sikap yang ada
dalam dirinya serta dapat berkomunikasi dengan jujur dengan konseli (corey,
1986,p.108)
b. penerimaan tanpa syarat
berarti bahwa konselor dapat berkomunikasi dengan konseli seca
mendalam dan jujur sebagai pribadi. Hal ini berarti bwahwa konselor tidak
melakukan penilaian dan penghakiman terhadap perasaan pikiran dan tingkah
laku konseli berdasarkan standar norma tertentu (corey, 1986,p.108)
c. pemahaman yang empatik dan akurat
adalah kemampuan konselor memahami permasalahan konseli, melihat
melalui sudut pandang konseli, peka terhadap perasaan-perasaan konseli,
sehingga konselor mengetahu bagai mana perasaannya. Dalam hal ini konselor di
harapkan dapat memahami perasaan konseli tidak hanya pada permukaan, tetapi
lebih dalam pada psikologis konseli (corey, 1986,p.102)
7. Tahapan-Tahapan dan teknik Konseling
a. Tahapan-tahapan konseling

Pendekatan person centered merupakan proses konseling yang fleksibel


dan sangat tergantung pada proses komunikasi antara konselor dan konseli.
Kondisi konseling dalam pendekatan ini dapat terlihat pada proses konseling.
konselor dan konseli harus ada kontak fisikologis konselor ia sebaliknya
dari konseli ada dalam keadaan seimbang, terbuka terhadap perasaan dan
pengalamannya, jika di perlukan dapat di komunikasikan atau membuka
dirinya kepada konseli
konselor juga tidak memnuat dirinya menjadi tersekat-sekat, sehingga
tidak mengalami kesulitan dalam membangun hubungan konseling
konselor dapat menghargai konseli sebagai pribadi yang unik yang
mungkin memiliki nilai pandangan hidup, atau pengalaman yang berbeda
lainnya.
Konselor menunjukkan sikap empati terhadap konseli yaitu mampu
memahami apa yang terjadi pada konseli dari perspektif konseli
Disini konselor harus dapat meyakinkan konseling dengan sikap dan
perilaku yang menunjukkan kualitas di atas jika kondisi yang terakhir dapat
benar-benar terjadi, maka konseli akan menjadi lebih positif dan menemukan
konsep dirinya hal ini di tunjukkan dengan:
Keterbukaan terhadap pengalaman
Percaya pada diri sendiri
Dapat melakukan evaluasi interval yaitu menetapkan standar perilaku,
melihat melihat

kedalam dirinya, dan membuat keputusan serta pilihan-

pilihan hidupnya
Kesediaan untuk menjadi suatu proses konseli menyadari bahwa
pertumbuhan dirinya adalah proses yang berlansung.
b. Teknik-teknik konseling
Corey (1995) mengatakan bahwa konselor harus memperlihatkan berbagai
keterampilan interpersonal yang dibutuhkan dalam proses konseling.
Keterampilan-keterampilan tersebut antara lain:
1. Mendengar aktif (active listening)
Yaitu memperhatikan perkataan konseli, sensetif terhadap kata atau
kalimat yang diucapkan, intonasi dan bahasa tubuh konseli (p. 63).
2. Mengulang kembali (restating/paraprasing)

Yaitu mengulang perkataan konseli dengan kalimat yang berbeda


(p. 63).
3. Memperjelas (clarifying)
Adalah meresfon pertanyaan atau pesan konseli yang
membingungkan dan tidak jelas, dengan memfokuskan pada isu-isu utama
dan membantu individu tersebut untuk menemukan dan memperjelas
perasaan-perasaannya yang betolak belakang (p. 63).
4. Menyimpulkan (summarizing)
Merupakan keterampilan konselor untuk menganalisis seluruh
elemen-elemen penting yang muncul dalam seluruh atau bagian sesi
konseling. Kemampuan ini sangat dibutuhkan pada saat proses transisi
dari satu topic ke topic lainnya (p. 63).
5. Bertanya (questioning)
Teknik ini bertujuan untuk menggali imformasi yang lebih dalam
dari konseli. Dalam bertanya terdapat dua jenis pertanyaan, yaitu:
pertanyaan tertutup yang hanya memberi peluang jawaban ya atau tidak
dan pertanyaan terbuka dengan menggunakan kata Tanya seperti: apa
(what), di mana (where), kapan (when), mengapa (why), dan bagaimana
(how) (p.64).
6. Menginterprestasi (interpreting)
Yaitu kemampuan konselor dalam menginterprestasi pikiran,
perasaan, atau tingkah laku konseli yang bertujuan untuk memberikan
perspektif alternatif dan baru.
7. Mengkonfrontasi (confronting)
Merupakan cara yang kuat untuk menantang konseli untuk melihat
dirinya secara jujur. Konfrontasi adalah cara yang efektif untuk membuka
mata anggota kelompok, akan tetapi bila dilakukan secara tidak berhatihati akan memberikan efek yang buruk dan merusak (p.65).
8. Merefleksikan perasaan (reflecting feelings)
Adalah kemampuan untuk merespon terhadap esensi perkataan
konseli, merefleksikan perasaan perasaan bukan sekedar memantulkan
perasaan konseli tapi termasuk pula ekspresinya (p.65).
9. Memberikan mendukung (supporting)
Adalah upaya memberikan penguatan kepada konseli, terutama
ketika mereka berhasil membuka imformasi-imformasi personal. Konselor
memberikan dukungan dengan memberikan perhatian penuh kepada

konseli tersebut dengan cara mendengar aktif tehadap apa yang konseli
katakan, mendekatkan diri secara psikologis, dan merespon dengan penuh
dukungan. Namun, teknik ini menjadi counterproductive karena konselor
memberikan dukungan yang terlalu berlebihan (p.65).
10. Berempati (empathizing)
Inti dari keterampilan empati adalah kemampuan pemimpin
kelompok untuk sensitive terhadap hal-hal subyektif konseli. Untuk dapat
melakukan empati, konselor harus memiliki perhatian dan penghargaan
kepada konseli (p.66).
11. Memfasilitasi (facilitating)
Teknik ini bertujuan memberdayakan konseli untuk mencapai
tujuan-tujuannya.
12. Memulai (initiating)
Keterampilan untuk memulai kegiatan dalam proses konseling,
seperti diskusi, menentukan tujuan, mencari alternative soluse dan
sebagainya (p.67).
13. Menentukan tujuan (setting goals)
Keterampilan untuk menentukan tujuan konseling, disini konselor
harus dapat mesnstimulasi kliennya menentukan dan memperjelas tujuantujuan yang akan decapai dalam konseling (p.67).
14. Mengevaluasi (evaluating)
Keterampilan untuk mengevaluasi keseluruhan poses konseling,
karena evaluasi merupakan kegiatan yang berkelanjutan. Setiap selesai
sesi konseling, konselor harus dapat mengevaluasi apa saja yang terjadi
termasuk respons, pesan, dan perasaan diri sendiri (p.67).
15. Memberikan umpan balik (giving feedback)
Merupakan keterampilan konselor untuk member umpan balik
yang spesifik, deskriftif, dan jujur atas dasar observasi dan reaksi terhadap
tingkah laku konseli (p.67).
16. Menjaga (protecting)
Yaitu upaya konselor untuk menjaga kliennya dari kemungkinan
resiko-resiko psikologis dan fisik yang tidak perlu (p.68).
17. Mendekatkan diri (disclosing self)
Kemampuan membuka imformasi-imformasi personal dengan
tujuan membuat konseli menjadi lebih terbuka (p.68).

18. Mencontoh model (modeling)


Konseli belajar dari mengobservasi tingkah laku konselor. Untuk
itu, koselor harus dapat menampilkan nilai-nilai kejujuran, penghargaan,
keterbukaan, mau mengambil resiko, dan asertif.
19. Mengakhiri (terminating)
Yairu keterampilan konselor untuk menentukan waktu dan cara
mengakhiri kegiatan konseling. Keterampilan ini dibutuhkan untuk
menutup sesi konseling dan mengakhiri konseling dengan sukses (p.70).
8. Kelemahan Dan Kelebihan
a. Kelemahan
1. Teori ini mengabaikan tentang intelegensi manusia, perbedaan individu dan
factor genetic lain.
2. Dalam konseling kurang menekankan hubungan baik antara konselor dan
konseli, hanya sekedarnya.
3. Pemberian reinforcement jika tidak tepat dapat mengakibatkan
kecanduan/ketergantungan.
b. Kelebihan
1. Asumsi mengenai tingkah laku merupakan hasil belajar.
2. Asumsi mengenai kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan dan kematangan.
3. Konseling bertujuan untuk mempelajari tingkah laku baru sebagai upaya
untuk memperbaiki tingkah laku manusia.

BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN
Menurut Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh William
Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan
memperhatikan tiga hal (3-R) yaitu: realitas (reality), baik (right), dan tanggungjawab
(responsiblility).sedangkan
Pendekatan person-centered dikembangkan oleh Dr. Carl Rogers (1902-1987)
pada tahun 1940-an, awalnya dinamakan nondirective counseling, kemudian pada 1951
diganti menjadi client-centered dan berkembang lagi menjadi person-centered.
Pendekatan client-centered berasumsi bahwa manusia yang mencari bantuan psikologis
diperlakukan sebagai konseli yang bertanggung jawab yang memiliki kekuatan untuk
mengarahkan dirinya. Pada perkembangannya, pendekatan ini lebih dikenal sebagai
pendekatan yang berpusat pada manusia (person-centered approach), yang dikembangkan
atas dasar pertimbangan perlunya mendudukkan individu dalam konseling sebagai
personal dengan kapasitas positifnya

DAFTAR PUSTAKA
Komala sari, Gantina. dkk. 2011. Teori Dan Teknik Konseling. Jakarta: PT INDEKS
Latipun. 2011. Psikologi Konseling. MALANG: UMM Press

LAMPIRAN-LAMPIRAN

NAMA KELOMPOK 4
A. KELAS C
1. Mia Haryani

: 12.121.126

2. Husnul Hidayah : 12.121.110


3. Nuraeni
B. KELAS D
1. Rauhul Basitoh

: 12.121.197

2. Ini Hairun Nisa

: 12.121.130

3. Ahad Tahmid

: 12.121.131

C. KELAS E
1. Nurhasanah

: 12.121.169

2. Sudirman

: 12.121.208

3. Mukarrom

: 12.121.203

D. KELAS F
1. Irma Hidayati

: 12.121.252

2. Sulaeman

: 12.121.217

3. Haerul Faizin

: 12.121.228

: 12.121.112

Psikologi Konseling Di Lingkungan Pendidikan

A. Pengertian Bimbingan Dan Konseling Pendidikan


Bimbingan dan konseling merupakan proses interaksi antara konselor dengan
klien baik secara langsung (tatap muka) atau tidak langsung (melalui media: internet, atau
telepon) dalam rangka membantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau
memecahkan masalah yang dialaminya.
( http://www.sarjanaku.com/2011/01/pengertian-bimbingan-konseling.html )
Bimbingan dan konseling pendidikan terdiri dari tiga kata, yakni bimbingan,
konseling, dan pendidikan. Untuk memehami secara komprehensif mengenai bimbingan
dan konseling di institusi pendidikan, harus dipahami terlebih dahulu istilah demi istilah
tersebut, satu demi satu.
Pengertian Bimbingan dan Konseling menurut beberapa ahli, yaitu :
1. Jones (1951)
Pada masa awal-awal, pengertian bimbingan masih berupa arahan atau
semacam konsultasi dalam menentukan pekerjaan,jabatan, atau menentukan karier
.Jones mengatakan, Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu
untuk dapat memilih, mempersiapkan diri dan memangku jabatan serta mendapat
kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya tersebut .
2. Mc Daniel (1969)
Mc Daniel mengatakan, Bimbingan adalah upaya membantu individu untuk
memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan,
jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan sebagai suatu
bentuk bantuan yang sistematis untuk dapat memperoleh penyesuaian yang baik
terhadap sekolah dan kehidupannya .
Selain makna bimbingan yang mengalami perluasan sedemikian pesat, hal
serupa juga terjadi pada Konseling . Istilah ini juga mengalami perluasan
makna.Pada awalnya, istilah konseling hanya dimaknai sebatas penyuluhan semata.
Bahkan, penggunaannya pun masih sangat terbatas pada sektor-sektor pertanian,

perternekan, perkebunan, dan lain sebagainya. Tetapi, pada tahap perkembangan


selanjutnya, istilah konseling mengalami perluasan makna ke wilayah-wilayah sosial,
ekonomi, politik, budaya termasuk pendidikan dan keagamaan.

3. Jones, dalam Shertzer & Stone (1974)


Seorang ahli di bidang konseling mengatakan, Konseling adalah kegiatan
dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada
masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi
bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah tersebut.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan bimbingan
konseling dalam pendidikan adalah upaya membantu klien (pelajar atau anak
didik)dalam rangka menghindari kegagalan studi atau mengatasi kesulitan-kesulitan
belajar, sehingga mereka dapat meraih keberhasilan dalam pendidikannya.
Ditinjau dari pengertian secara harfiah, konseling itu sendiri diambil dari
terjemahan bahasa inggris, yaitu Counseling yang berarti penyuluhan atau
konseling. Sedangkan kata pendidikan secara istilah dapat diartikan sebagai proses
pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.
Dengan demikian, konseling pendidikan adalah upaya membantu atau
memberi pertolongan anak didik disekolah agar mereka mempunya motivasi belajar
yang tinggi, menjalin hubungan baik dengan anggota keluarganya, dapat
memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar, dapat memilih teman yang baik, dan
mampu mengendalikan diri secara memadai, sehingga perilaku dan sikap mereka
semakin dewasa melauli pelatihan dan pengajaran, tahap demi tahap.
Bimbingan dan konseling di institusi pendidikan atau disekolah selama ini
lebih dikenal dengan istilah BK. Tetapi, sering kali perana dan fungsi guru BK tidak
selaras sesuai dengan apa yang diharapkan. Guru BK yang seharusnya membantu dan
memberi pertolongan kepada anak didiknya secara profesional agar mereka dapat
mengatasi berbagai persoalan belajarnya justru disikapi sebagai hakim sekolah
yang selalu memberi hukuman kepada anak didiknya yang berprilaku menyimpang.

Atas dasar ini, kiranya fungsi guru BK perlu di format ulang. Alhasil, mereka
dapat menjalankan tugas mulianya dengan baik. Sudah saatnya guru-guru BK di
sekolah berpenampilan ramah, hangat, simpatik, dan empatik kepada anak didiknya.
Sehingga tanpa diminta, anak didik yang mengalami permasalahan belajarnya secara
sukarela datang dan mengemukakan permasalahannya kepada guru yang penuh
kehangatan itu. Dengan kata lain, guru BK harus menjadi wakil sahabat sebagai
tempat curhat atau curahan hati anak-anak didiknya yang sedang bermasalah.
(suyadi:2011.hal 119-122)
B. Sejarah Masuk Dan Berkembangnya Konseling Pendidikan
Sejarah bimbingan dan konseling di Indonesia, Pelayanan Konseling dalam
system pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama. Pada kurikulum
1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada Kurikulum 1994
berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan sekarang.
Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1962. Namun BK baru
diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan kurikulum 1975. Kemudian
disempurnakan ke dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir
didalamnya. Perkembangan BK semakin mantap pada tahun 2001.
(http://www.sarjanaku.com/2011/01/sejarah-bimbingan-konseling.htm)
Upaya layanan bimbingan dan konseling secara profesional lahir di Amerika
serikat dan berkembang dengan pesat sejak abad ke-20. Banyak faktor yang mendorong
pesatnya perkembangan disiplin ilmu ini, hingga mampu menerobos di institusi-institusi
pendidikan, khususnya sekolah.
Ada enam faktor yang mempelajari perkembangan bimbingan konseling di negeri
Paman Sam tersebut (W.S. Winkel 1991), yaitu :
1. Perhatian pemerintahan terhadap penduduk imigran yang datang ke Amerika
Serikat dari kawasan Eropa. Mereka membutuhkan pekerjaan yang layak agar
dapat hidup maju seperti penduduk asli. Mereka dan orang-orang imigran lain
yang masih mengalami kesulitan mengatasi ekonomi hidup kemudian
mendapat layanan dari biro-biro vokasional pemerintahan yang membantu
mereka memperoleh pekerjaan atau jabatan tetentu.
2. Pandangan Kristen yang beranggapan bahwa dunia adalah tempat
pertempuran antara kekuatan baik dan kekuatan buruk. Atas dasar ini, maka

berbagai lembaga pendidikan diwajibkan mengajarkan moral kebaikan agar


anak didiknya kelak menjadi pemenang dalam melawan kejahatan atau
keburukan tersebut.
3. Pengaruh dari disiplin ilmu kesehatan mental yang pada awalnya
memperjuangkan perlakuan manusiawi kepada orang-orang yang terkena
gangguan jiwa dan sedang ditampung di rumah sakit (rumah sakit jiwa).
4. Dampak dari gerakan testing psikologis yang semakin mengembangkan
sayapnya dalam membuat instrumen-instrumen berupa tes-tes kepribadian
untuk menyeleksi karyawan di berbagai perusahaan.
5. Subsidi dari pemerintahan terhadap federal yang memungkinkan lembagalembaga pendidikan untuk mengangkat beberapa konselor untuk menangani
bimbingan karier, pendidikan karier, penanggulangan kenakalan remaja,
antisipasi terhadap merebaknya berbagai penyakit kelamin.
6. Pengaruh dari terapi nondirektif (client centered therapy), yang dikembangkan
oleh Carl Rogers, dengan menggantikan pendekatan otoriter serta paternalistik
dengan pendekatan pada potensi personal kliennya. Gagasan Carl Rogers ini
disambut hangat oleh guru-guru di sekolah, terutama dalam hal teknik spesifik
dan tahapan terapi yang digunakannya.
Faktor-faktor di atas telah mendororng berbagai pihak untuk mengembangkan
bimbingan konseling secara lebih luas; tidak hanya penyuluhan di bidang karier dan
pendidikan karier semata, melainkan meluas ke wilayah-wilayah institusi pendidikan,
khususnya bimbingan belajar dan perilaku peserta didik. Pada era 1960-an, Indonesia
secara perlahan telah memasukkan bimbingan dan konseling dengan memusatkan pada
jenjang pendidikan menengah atas. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa bimbingan
dan konseling pendidikan merupakan barang impor, bahkan bukan disiplin ilmu yang
lahir dari lapangan pendidikan, melainkan dari karier dan jabatan.
C. Asas dan Prinsip Bimbingan dan Konseling Pendidikan
Dengan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang berdasarkan pada asas
dan prinsip dasar tersebut diharapkan bimbingan dan konseling di sekolah dapat berjalan
sebagaimana mestinya. Dengan kata lain diberlakukan asas dan prinsip bimbingan
konseling disekolah dapat membantu peserta didik dalam mengatasi masalah-masalah
belajarnya, bukan sebagai investigasi atas prilaku bermasalah anak didiknya.

Berikut ini akan dikemukakan sejumlah asas dan prinsip dasar dalam konseling
pendidikan (W.S Winkel, 1991) .
1. Bimbingan berasaskan pada keseluruhan perkembangan anak didik sebagai
individu yang mandiri dan mempunyai potensi yang dapat dikembangkan
untuk mengatasi semua problem studinya.
2. Bimbingan berasaskan subjektivitas anak didik. Dengan demikian, asas
bimbingan dan konseling ini mengkhendki anak didik berperan sebagai subjek
yang bergerak aktif, bukan objek pasif yang tanpa daya.
Bimbingan dan konseling juga harus berasaskan kerja sama antara konselor (guru) dank
klien (anak didik). Oleh karena itu, proses bimbingan dan konseling harus disepakati
oleh kedua belah pihak, yakni konselor (guru) dan klien (murid).
3. Bimbingan dan konseling juga harus berasaskan pada pengakuan akan harkat
dan martabat klien (peserta didik) yang memiliki kehendak bebas. Artinya :
guru BK harus menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia anak didiknya.Tugas
guru BK hanyalah memberikan bimbingan dan konseling kepada anak
didiknya agar mampu mengambil keputusan secara tepat.
4. Bimbingan dan konseling harus berasaskan pada hukum ilmiah secara luas.
Karena materi bimbingan dan konseling lebih menekankan pada penghayatan
atas diri klien dan lingkungan hidupnya, maka asas ini tidak boleh dipaksakan
secara kaku,melainkan harus ada kebijaksanaan.
5. Bimbingan dan konseling harus berasaskan atas manfaat untuk semua.
Artinya, program bimbingan dan konseling tidak hanya dikhususkn kepada
anak didik yang bermasalah saja, tetapi mereka yang tanpa masalah juga harus
dilibatkan dalam program bimbingan dan konseling tersebut.
6. Berproses. Artinya, bimbingan dan konseling harus dilakukan secara terus
menerus, berurutan, bertahap, dan sesuai dengan prosedur konseling tersebut.
Hal ini menunjukan bahwa konseling harus diberikan sejak taman kanakkanak ( meskipun sifatnya masih sangat sederhana ), sekolah dasar, menengah
hingga perguruan tinggi.
D. Fungsi Bimningan dan Konseling Pendidikan
Menurut Tohirin, fungsi bimbingan dan konseling pendidikan mencakup 9 hal, yaitu :
1. Fungsi Pencegahan
Fungsi pencegahan adalah fungsi bimbingan dan konseling untuk mencegah kegagalan
akademis atau prilaku bermasalah sebelum kegagalan akademis dan prilaku

bermasalah sebelum kegagalan akademis atau prilaku bermasalah itu benar-benar


terjadi pada diri peserta didik .
2. Fungsi Pencegahan
Fungsi kedua dari bimbingan konseling adalah memberikan pemahaman kepada
konselor tentang diri, lingkungan, dan potensi anak didik. Dengan kata lain , fungsi
pemahaman akan memberikan informasi yang lengkap tentang calon atau bakal
kliennya.
3. Fungsi Pemahaman
Fungsi lain atas diselengarakanya bimbingan dan konseling adalah teratasinya masalah
yang dihadapi klien atau anak didik yang bermasalah yang dihadapi klien atau anak
didik yang bermasalah .
4. Fungsi Pemeliharaan
Konselor atau guru BK harus mendeteksi kebiasaan-kebiasaan baik pada diri kliennya
untuk diteruskan dan tidak di tinggalkan. Sedangkan kebiasaan-kebiasaan buruk harus
diganti dengan kebiasaan-kebiasaan baik.
5. Fungsi Penyaluran
Fungsi penyaluran adalah rekomendasi bimbingan dan konseling dalam mengarahkan
anak didiknya untuk memilih program kegiatan belajar yang mendukung
berkembangnya bakat, minat, dan potensi anak didiknya.
6. Fungsi Penyesuaian
Melalui fungsi penyesuaian, bimbingan dan konseling dapat membantu anak didiknya
(terutama siswa siswi baru) agar lebih mudah menyesuaikan diri dengan teman-teman
barunya dilingkungan sekolah.
7. Fungsi Pengembangan
Fungsi pengembangan adalah peran bimbingan dan konseling dalam mengembangkan
seluruh potensi anak didik secara lebih terarah. Sudah bukan menadi rahasia lagi
bahwa anak didik diberbagai jenjang pendidikan sedang mengalami pertumbuhan.
8. Fungsi Perbaikan
Para konselor, khususnya guru bk, masih meyakini adanya anak didik yang bermasalah.
Bagi anak didik yang mempunyai masalah sederhana, dapat dengan mudah
terantisipasi dan teratasi melalui berbagai fungsi konseling diatas. Tetapi bagi anak
didik yang memiliki permasalahan akut, melalui fungsi ini (fungsi perbaikan)
diharapkan bimbingan dan konseling mampu menangani.
9. Fungsi Advokasi

Fungsi yang terakhir ini akan memberi layanan bimbingan dan konseling kepada anak
didik yang berkaitan dengan hak-hak asasi anak didik sebagai klien, individu, dan
anggota komunitas sosial.
E. Sasaran Bimbingan dan Konseling Pendidikan
Sasaran bimbingan dan konseling pendidikan terdiri dari dua hal, yakni sasaran
secara umum bimbingan dan konseling dilingkungan pendidikan peserta didik atau
individu-individu yang terdaftar menjadi anak didik dilembaga pendidik yang
bersangkutan. Sedangkan sasaran secara khusus bimbingan dan konseling pendidikan
adalah tumbuh kembangnya seluruh potensi anak didik secara optimal.
Sasaran utama bimbingan dan konseling di atas dapat dicapai melalui beberapa
tahap: pengungkapan, pengenalan, dan penerimaan diri. Pengungkapan berarti klien atau
anak didik harus mampu mengungkapkan berbagai problem belajarnya, baik dirumah
atau disekolah. Tugas guru BK adalah membantu agar anak didiknya mengungkapkan
segala persoalan yang berkaitan dengan belajarnya.
Sasaran kedua bimbingan dan konseling pendidikan adalah pengenalan
lingkungan. Setiap klien adalah makhluk individu sekaligus makhluk social.
Konsekuensinya, klien di samping harus bisa mengenal dirinya secara utuh, ia juga harus
bisa mengenal lingkungannya secara menyeluruh. Artinya klien harus tumbuh kesadaran
untuk menerima lingkungan sosialnya sebagai realitas tak terbantahkan dalam hidupnya.
Sasaran ketiga bimbingan dan konseling dalam pendidikan adalah kemampuan
mengambil keputusan. Setelah klien atau anak didik mampu mengungkapkan semua
problem belajarnya kepada guru bk, kemudian ia juga telah mengenal dirinya sercara
utuh disamping bisa menerima lingkungannya dengan sikap positif, maka langkah
selanjutnya adalah menumbuhkan kemampuan klien (anak didik) untuk mengambil
keputusan. Tetapi anak didik seringkali selalu bimbang dalam memutuskan segala
persoalan yang dihadapinya.
Sasaran keempat bimbingan dan konseling dalam pendidik adalah membangun
pengalaman. Kemampuan membuat keputusan sebagaimana dikemukakan di atas
hendaknya diimplementasikan dalam praktik lapangan secara nyata. Artinya keputusan
tidak sekedar rencana atau kajian pemikiran semata, tetapi keputusan tersebut harus
dijalankan atau dilaksanakan dalam praktis kehidupan sehari-hari.
F. Masalah-masalah yang di hadapi bimbingan dan konseling pendidikan.

Menurut Bomo Walgito dalam bukunya Bimbingan dan Konseling Sekolah,


terdapat banyak aspek yang menjadi cakupan bimbingan konseling pendidikan atau
sekolah.
Di antara beberapa cakupannya antara lain :
Hubungan antara anak didik dengan sekolah
Hubungan anak didik dengan sekolah adalah pola interaksi secara
administratif dan edukatif dirinya dengan lokasi sekolahnya, guru-guru di
sekolahnya fasilitas atau sarana- prasarana, dan aspek-aspek lain yang berkaitan
dengan sekolah. Berbagai bentuk permasalahn yang sering muncul adalah amukan
atau kemarahan anak didik yang tidak naik kelas dengan merusak fasilitas belajar,
kebencian anak didik terhadap guru tertentu, munculnya geng- geng peserta didik
yang suka tawuran antar pelajar, rendahnya prestasi akademik, dan bentuk-bentuk
permasalahan yang sejenis.
Dalam hal ini konselor atau guru BK harus mampu memberi pertolongan
maupun bantuan kepada anak didik yang bermasalah dengan sekolah tersebut.
Tentu, cakupan permasalahn ini sangat luas. Oleh karena itu, guru BK di sekolah
perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait, di antaranya adalah
petugas keamanan, OSIS, guru agama dan lain sebagainya. Guru BK harus mampu
menjadi pelopor gerakan anak didik bangga dengan sekolahnya. Dengan cara ini,
kiranya penyelenggaraan bimbigan dan konseling untuk mengatasi prilaku
bermasalah yang berkaitan dengan anak didik dan sekolahnya dapat di antisipasi.
Hubungan antara anak didik dengan keluarga
Hubungan anak didik dengan keluarganya adalah hubungan antara anak didik
dengan orang tua. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, sementara orang tua
itulah guru yang utama bagi anak. Adapun sekolah formal merupakan sekolah
kedua bagi anak.
Dalam hal ini fungsi bimbingan dan konseling di sekolah menguatkan
hubungan antara anak didik dengan orang tua. caranya bisa melalui berbagai media,
di antaranya dengan menyelenggarakan pertemuan antara pihak sekolah dengan
oang tua atau wali murid dalam satu bulan sekali. Dalam pertemuan tersebut
hendaknya ada tukar informasi antara orang tua dengan sekolah. Isinya berupa
keluh kesah atas prilaku anak di rumah maupun di sekolah.
Hubungan anak didik dengan lingkungannya

Dalam hal ini tugas bimbingan dan konseling di sekolah harus mampu
membuat anak didiknya bersikap dan berprilaku positif di tengah-tengah
lingkungan sosialnya. Ia harus bisa menerima lingkungan sebagai realitas tak
terhindarkan yang harus di hadapi secara bertanggung jawab. Jika ia setuju dengan
lingkungannya, maka ia harus bersikap proaktif terhadapnya. Sebaliknya, jika ia
tidak setuju dengan kondisi lingkungan sekitarnya, maka harus berani melakukan
perubahan secara perlahan-lahan, agar tidak menimbulkan reaksi maupun gejolak
yang tinggi.
Hubungan anak didik dengan masa depannya
Hubungan antara anak didik dengan masa depannya adalah hubungan yang
berkaitan dengan kelanjutan studinya. Jika sekarang anak didik yang bersangkutan
dengan SD, maka masa depan anak tersebut adalah SMP. Jika klien atau anak didik
tersebut sekarang duduk di bangku SMP, maka masa depannya adalah SMA. jika
klien atau anak didik tersebut sekarang duduk di bangku SMA, maka masa
depannya adalah perguruan tinggi. Jika klien atau anak didk tersebut sekarang
duduk di perguruan tinggi atau mahasiswa, maka masa depannya adalah pekerjaan,
karir, rumah tangga, dan lain sebagainya.
Tugas guru BK sebagai konselor atas anak didiknya harus dapat memberi
pencerahan kepada mereka agar mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa
depannya dengan lebih baik.
Hubungan anak didik dengan aktivitasnya untuk mengisi waktu luangnya
Hubungan antara anak didik dengan waktu luangnya ini biasanya selalu di
kontraskan antara bermain dan belajar. Banyak anak-anak yang menghabiskan
waktu luangnya untuk bermain seharian, sehingga lupa tugasnya belajar dan
mengerjakan tugas-tugas sekolah. Sebaliknya, banyak anak-anak yang ditekan
kedua orang tuanya untuk belajar keras dengan terus-menerus, sehingga kehilangan
waktu bermainnya. Masing-masing hubngan tersebut mengandung konsekuensi
yang berbeda, namun sama-sama buruknya.
Hubungan anak didik dengan uang saku dan pekerjaannya
Wilayah cakupan bimbingan dan konseling yang sering diabaikan guru BK
adalah kondisi keuangan dan pekerjaan anak didik. Yang di maksud dengan kondisi
anak didik dan keuangan adalah uang saku yang di berikan orang tua kepada
anaknya dalam keseharian untuk bekal kesekolah. Sedangkan yang di maksud

pekerjaan anak didik adalah rutinitas sehari-hari anak didik dalam membantu
pekerjaan orang tuanya.
Hubungan anak didik dengan nilai moral dengan agamanya
Hubungan ini menjelaskan kaitan erat atau kepatuhan dan ketaatan antara
seseorang (khususnya anak didik) dengan agama yang dipeluknya. Jika hubungan
ini terganggu atau terjalin dalam nuansa jauh dari ketaatan, maka akan
menimbulkan berbagai penyimpangan moral dengan agamanya. Sebab, nilai moral
dalam agama merupakan nilai moral universal yang selaras dengan kata hati semua
umat manusia.
Perlu ditekankan bahwa konselor (guru BK) tidak boleh mempengaruhi,
apalagi memaksakan keyakinan atau agama tertentu kepada kliennya atau anak
didiknya.
Hubungan antara anak didk dengan pribadinya sendiri
Hubungan antara anak didik dengan pribadinya sendiri adalah hubungan
seseorang dengan pergulatan batiniyah berupa emosi, kehendak, dan nafsu yang ada
di dalam diri anak tersebut. Sebagaimana telah di singgung bahwa banyak anakanak yang mengalami kesulitan dalam memenangkan pergaulan dengan diri sendiri.
Hubungan yang tidak harmonis antara anak didik dengan dirinya sendiri akan
berakibat pada munculnya berbagai perilaku bermasalah. jika kekalahan ini tidak
segera mendapat pertolongan, maka ia akan menjadi anak didik beridentitas gagal
di sekolahnya.
Hubungan antara anak didik dengan tuhannya
Hubungan antara anak didik dengan tuhannya adalah hubungan intim yang
bersifat ruhaniah atau spritualitas. Dalam hal ini anak didik di persepsesikan telah
mempunyai konsep dan keyakinan terhadap kekuasaan tuhan. Mereka akan
berusaha semaksimal mungkin untuk menaati semua perintah-nya dan menjauhi
semua larangan-nya.
fungsi bimbingan dan konseling adalah mengembalikan hubungan yang baik
antara anak didik dengan tuhannya secara proporsial. Pada tahap-tahap tertentu,
konselor (guru BK) di tuntut untuk mampu membuktikan bahwa apapun yaang
terjadi dalam diri seseoarng adalah buah dari prilakunya sendiri, sementara tuhan
sebatas memberikan legitimasi semata.(suyadi:2011, hal.124-160)

Daftar Pustaka
http://www.sarjanaku.com/2011/01/sejarah-bimbingan-konseling.html
http://www.sarjanaku.com/2011/01/pengertian-bimbingan-konseling.html
Anonim : BK Di Paud ( diakses pada tanggal 4 April 2015)
Suyadi, 2011. Buku Peganagan Bimbingan Konseling Untuk PAUD ( Pendidikan Anak
usia
Dini). UPT.Universitas Muhammadiyah Malang.

KELOMPOK 5 (PSIKOLOGI KONSELING DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN)

KELAS C
1. JUHAENAH
2. MUHAMMAD ISRA
3. USWATHUL WATHANI

: 12121085
: 12121091
: 12121087

KELAS D
1. FITRI SRI WAHYUNI
2. NINI MISVITASARI
3. SALWA

: 12121152
: 12121164

KELAS E
1. HARIYATI
2. YULIA SHOFA
3. MUKSIN

: 12121207
: 12121199
: 12121184

KELAS F
1. MUH. KHAIRUL ANAM
2. HENDI ZULKARNAEN
3. AULIA CHAERUNNISA

: 12121249
: 12121254
: 12121211

MAKALAH
MEMAHAMI BK DI PAUD
DisusununtukmemenuhiTugas Mata KuliahBk di PAUD
Dosen :Dra. Ni Ketut Alit Suarti, M.Pd

DisusunOleh

Kelompok VI (Kelas VI.F)


1. Wahyuni
2. Apriyadin
3. Suherman

12.121.213
12.121.212

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP MATARAM
2015

BAB II
PEMBAHASAN
MEMAHAMI BK DI PAUD

A. PengertianBimbingandanKonseling
Mc Daniel mengatakan,
Bimbinganadalahupayamembantuindividuuntukmemahamidanmenggunakansecaraluaskese
mpatan-kesempatanpendidikan, jabatan, danpribadi yang merekamiliki,
ataudapatmerekakembangkansebagaisuatubentukbantuan yang
sistematisuntukdapatmemperolehpenyesuaian yang baikterhadapsekolahdankehidupannya. !
Pegangan BK untuk PAUD, MC Daniel (1969:119)!
PengertianBimbinganKonselingadalahPelayananbantuanuntukpesertadidikbaikindividu/k
elompok agar mandiridanberkembangsecara optimal dalamhubunganpribadi, sosial, belajar,
karir.
PAUDadalahjenjangpendidikansebelumjenjangpendidikandasar yang
merupakansuatuupayapembinaan yang

ditujukanbagianaksejaklahirsampaidenganusiaenamtahun yang
dilakukanmelaluipemberianrangsanganpendidikanuntukmembantupertumbuhandanperkemba
nganjasmanidanrohani agar anakmemilikikesiapandalammemasukipendidikanlebihlanjut,
yang diselenggarakanpadajalur formal, nonformal, dan informal.
BKadalahsuatulembagadisekolah yang
bertugasmembimbingdanmelayanikonselingmemecahkanpermasalahansepertimengatasi
siswa-siswa yang mempunyai masalah, BK juga membantu tercapainya segala aspekaspekpertumbuhandanperkembangan siswa. Baik aspek akademik, bakat dan minat,
emosional, sosial dengan teman, penyesuaian diri di lingkungan yang baru, menemukan jati
diri dan sebagainya, tentunya akan lebih baik jika proses pelaksanaanya diarahkan sejak dini
agar tercapai segala aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan siswa yang
maksimal.Makadariitu perlunya guru Bimbingan dan Konseling (BK) di PAUD/TK dalam
membantu mengidentifikasi permasalahan peserta didik dan membantu tercapainya segala
aspek perkembangan peserta didik di PAUD/TK.

B. Tujuan Bimbingan dan Konseling


TujuanBimbingandanKonseling di lembaga PAUDsebagaiberikut:
1. Menjagadanmelindungisifatunikanak agar
anaktersebutdapattumbuhdanberkembangsesuaidenganjatidirinyaapapunkondisianak,
konselor (Guru PAUD) tidakbolehmengkritikdanmencercahny,
karenaitubagiandarisifatuniknya. Justrusebaliknya,
konselorharusmampumengarahkanberbagaikeadaan yang adapadakliennya
(anakdidik) dapatberfungsisecaramaksimal.
2. Menyiapkan mentalanak-anak agar siapmemasukisekolahdasar (SD).
Konselorharusmampumembekalikliennya (anakdidik) agar
mampumelewatimasatransisidari TK ke SD, baiksecara mental maupunintelektual.
3. Mengidentifikasikemungkinanmunculnyagangguan mental dikemudianhari. Jadi,
semacamtindakanpreventifuntukmencegahberbagaiperilakubermasalah yang
akanmuncul di kemudianhari. Atasdasarini,
bimbingandankonselingtidakhanyadiberikankepadaanakdidik yang
telahmenunjukangejalaperilakubermasalahsaja, tetapijugapadaanak-anak yang masih
normal perilakunya. Sebabmencegahlebihmudahdaripadamendiagnosis.
4. Menelusuribakat, minatdanpotensianaksejakdinisetiapanakmempunyaikecenderungan
yang berbeda-beda. Sedangkankecenderunganitusendirimengindikasikanbakat, minat,
danpotensianaktersebut, sehinggapolapembelajaran yang
diberikandapatdilakukansecaratepat.

5. Menjagastabilitaskeseimbangantumbuhkembangnyaanak, baikaspekfisikmotori,
bahasa, sosio-emosionaldankognitif. !Pegangan BK untuk PAUD, Suyadi (2009:222224)!
TujuanUmum
Tujuanumumdarilayanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan
pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
(UUSPN) Tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya
yang cerdas, yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantapdanmandiriserta rasa
tanggungjawabkemasyarakatandankebangsaan (Depdikbud, 1994 : 5).
TujuanKhusus
SecarakhususlayananBimbingan dan Konseling bertujuan untuk membantusiswa agar
dapatmencapaitujuan-tujuanperkembanganmeliputiaspekpribadidansosial,
belajardankarier.

Tujuan Bimbingan Konseling bagi Anak Usia Dini


Bimbingan konseling juga membantu tercapainya segala aspek-aspek pertumbuhan
dan perkembangan bagi anak. Baik aspek akademik, bakat dan minat, emosional, sosial
dengan teman, penyesuaian diri di lingkungan yang baru, menemukan jati diri dan
sebagainya, tentunya akan lebih baik jika proses pelaksanaanyadiarahkansejakdini agar
tercapaisegalaaspek-aspekpertumbuhandanperkembangananak yang maksimal.s
C. FungsiBimbingandanKonseling
menurut tohirin, fungsi bimbingan dan konselingpendidikan mencakup 9 hal, yaitu
Fungsi pencegahan, pemahaman, pengentasan, pemeliharaan, penyaluran, penyesuaian,
pengembangan, perbaikan, dan fungsi advokasi(Tohirin,2007).

1. Fungsi Pencegahan
Fungsi pencegahan adalah fungsi bimbingan dan konseling untuk mencegah
kegagalan akademis atau perilaku bermasalah sebelum itu benar-benar terjadi pada
diri anak didik. Atas dasar ini, bimbingan dan konseling berasumsi bahwa kegagalan
dan berperilaku bermasalah pada anak didik bisa dicegah jika terdeteksi gejalahnya
sedini mungkin.
2. Fungsi Pemahaman
Fungsi kedua dari bimbingan konseling adalah memberikan pemahaman kepada
konselor tentang diri, lingkungan, dan potensi anak didik. Dengan kata lain, fungsi
pemahaman akan memberikan informasi yang lengkap tentang calon atau bakal
kliennya. Dengan pemahaman secara komprehensif, konselor (Guru BK) dapat
melangsungkan tugas konselingnya dengan baik. Informasi-informasi tentang diri
klien atau anak didik ini mencakup identitas secara formal (seperti nama, jenis
kelamin, agama, golongan darah, dan lain-lain), Semakin lengkap informasi tentang
diri klien, semakin memudahkan guruBK dalam melakukan tugasnya untuk
memberikan bimbingan dan konseling di sekolah tersebut.
3. Fungsi Pengentasan
Fungsi lain atas diselenggarakannya bimbingan/konseling adalah teratasinya
masalah yang dihadapi klien atau anak didik yang bermasalah. Dengan bimbingan
dan konseling, anak didik yang mengalami masalah akan dibantu oleh guru BK untuk
menemukan cara-cara atau teknik-teknik spesifik guna menyelesaikan masalahnya.
Setelah cara atau teknik ditemukan, menjadi tugas anak didik yang bermasalah itu
sendiri untuk menyelesaikannya secara mandiri dan bertanggung jawab. Sedangkan
tugas guru BK sebatas memantau, mendampingi, dan memfasilitasi kliennya atau
anak didiknya.
4. Fungsi Pemeliharaan
Fungsi lain dari bimbingan dan konseling adalah pemeliharaan, artinya konselor
atau guru BK harus mendeteksi kebiasaan-kebiasaan baik pada diri kliennya untuk
diteruskan dan tidak ditingkatkan. Sedangkan kebiasaan-kebiasaan buruk harus
diganti dengan kebiasaan-kebiasaan baik. Fungsi pemeliharaan ini akan berjalan
optimal jika konselor mampu menunjukkan kepada kliennya akibat dari kedua
kebiasaan tersebut. Kebiasaan baik yang selama ini dilakukan telah membuahkan

berbagai keberhasilan, sedangkan kebiasaan buruk yang selama ini dilakukan telah
membuahkan pengelaman-pengelaman pahit yang tidak perlu di ulang.
5. Fungsi Penyaluran
Fungsi penyaluran adalah rekomendasi bimbingan dan konseling dalam
mengarahkan anak didiknya untuk memilih program kegiatan belajar yang
mendukung berkembangnya bakat, minat, dan potensi anak didiknya. Jadi, fungsi
penyaluran ini mirip seperti fungsi bimbingan karir yang memberikan berbagai saran
tentang pekerjaan yang cocok untuk kliennya. Demikian pula dengan anak didik di
sekolah, mereka perlu disalurkan ke berbagai kegiatan yang dapat menunjang
berkembangnya bakat, minat, dan potensi secara alami. Termasuk dalam hal ini
adalah menyalurkan anak didik dalam mentukan sekolah lanjutan, konsentrasi atau
jurusa, penyuluhan program belajar, metode belajar yang tepat, memilih kegiatan
ekstrakurikuler yang pas dan lain sebgainya.
6. Fungsi Penyesuaian
Melalui fungsi penyesuaian, bimbingan dan konseling dapat membantu anak
didiknya (terutama siswa/siswi baru) agar lebih mudah dalam menyesuaikan diri
dengan teman-teman barunya di lingkungan sekolah. Fungsi ini juga bermanfaat bagi
anak didik untuk menemukan cara atau teknik-teknik bersahabat secara hangat dan
emapatik. Walaupun demikian,bukan berarti anak didik menjadi objek yang harus
mengalah sehingga harus menurut terhadap perubahan lingkungan sekolah yang ada,
tetapi fungsi init tetap memberikan keleluasaan kepada anak didiknya untuk
beraktualisasi diri secara optimal dalam menentukan arah perubahan ingkungan
sekolahnya.
7. Fungsi Pengembangan
Fungsi pengembangan adalah peran bimbingan dan konseling dalam
mengembangkan seluruh potensi anak didik secara lebih terarah. Sudah bukan
menjadi rahasia lagi bahwa anak didik di berbagai jenjang pendidikan sedang
mengalami pertumbuhan. Sekedar contoh sederhana, anak-anak TK sedang tumbuh
menjadi anak SD; anak-anak SD sedangtumbuh menjadi anak SMP; demikian
seterusnya, sampai pada pada tahap perkembangan akhir, yakni usia dewasa. Disini
tugas Bimbingan dan Konseling adalah mengarahkannya secara lebih terarah, agar
pertumbuhan dan perkembangan tersebut lancer dan sukses.
8. Fungsi Perbaikan

Para konselor, khususnya guru BK, masih meyakinkan adanya anak didik yang
bermasalah. Bagi anak didik yang hanya memiliki masalah sederhana, dapat dengan
mudah terantisipasi dan teratasi melalui berbagai konseling dia atas. Tetapi bagi anak
didik yang memiliki permasalahan akut. Melalui fungsi ini (fungsi perbaikan)
diharapkan bimbingan dan konseling mampu menangani. Tetapi, jika masalahnya
tersebut telah mendarah daging sehingga mencapai tahap kronis, maka guru Bk di
sekolah harus memberikan rekomendasi agar anak didik yang bersangkutan
mendaptakan layanan konseling secara profesional di luar sekolah yang jauh lebih
kompoten. Dari sini, guru BK dituntut untuk memiliki jaringan antar-lembaga
konseling atau semacam ikatan pendidikan. Jika dirinya tidak mampu menangani
masalah anak didiknya ia bisa melimpahkan kepada konselor lain yang lebih mampu
9. Fungsi Advokasi
Fungsi yang terakhir ini akan memberi layanan bimbingan dan konseling kepada anak
didik yang berkaitan dengan hak-hak asasi anak didik sebagai klien, individu, dan
anggota komunitas social. Dengan pemahaman ini diharapkan anak didik dapat
mengarhkan perilaku dan tindakannya agar tidak melanggar hak-hak orang lain.
D. Asas-asas Bimbingan Konseling
Asasdanprinsipini harus dipegang teguh oleh guru-guru Bk sebagai konselor atas anak
didiknya. Dengan penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang berdasarkan pada asas
dan prinsip dasar tersebut diharapkan bimbingan dan konseling di sekolah dapat berjalan
sebagaimana mestinya. Dengan kata lain, diberlakukannya asas dan prinsip bimngan dan
konseling di sekolah dapat membantu peserta didik dalam mengatasi masala-masalah
belajarnya, bukan sebagai invesintigasi atas perilaku bermasalah anak didiknya. Berikut ini
akan dikemukakan sejumlah asasdanprinsipdasardalamkonselingpendidikan (W.S Winkel,
1991).
1) Bimbingan berasaskan pada keseluruhan perkembangan anak didik sebagai individu yang
mandiri dan mempunyai potensi yang dapat dikembangkan untuk mengatasi semua
problem studinya. Dengan demikian, bimbingan diarahkan pada integritas kepribadian
anak didik untuk bertanggung jawab atas permasalahan yang dihadapinya secara mandiri.
2) Bimbingan berasaskan subjektivitas anak didik. Artinya, bimbingan harus mengarahkan
pada pembentukannya kepribadian anak didik sesuai dengan jati diri dan keunikannya,
serta dapat tumbuh dan berkembangan di lingkungan pendidikan secara baik tanpa harus
tenggelam didalamnya lyaknya objek yang tak berdaya. Dengan demikian, asas
bimbingan dan konseling ini menghendaki anak didik berperan sebagai subyek yang
bergerak aktif, bukan obyek pasif yang tanpa daya.
3) Bimbingan dan konseling juga harus berasaskan kerja sama antara konselor (guru) dan
klien (anak didik). Proses bimbingan dan konseling tidak bisa berjalan dengan baik

4)

5)

6)

7)

melalui pemaksaan di salah satu pihak, seperti guru memaksa murid untuk mengikuti
bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling juga harus berasaskan pada pengakuan akan harkat dan
martabat klien (peserta diik) yang memiliki kehendak bebas. Artinya, guru BK harus
menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia anak didiknya. Tugas guru BK hanyalah
memberikan bimbingan dan konseling kepada anak didiknya agar mampu mengambil
keputusan secara tepat.
Bimbingan konseling harus berasaskan pada hukum ilmiah secara luas. Artinya, konselor
harus mengaitkan proses bimbingannya dengan ilmu-ilmu terkait lainnya, terutama ilmu
psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, komunikasi, biologi dan kesehatan. Oleh
karena itu, pemberian bimbingan dan konseling harus dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah ditinjau dari sudut pandang keilmuan apa pun.
Bimbingan dan konseling harus berasaskan atas manfaat untuk semua, artinya program
bimbingan dan konseling tidak hanya dikhususkan kepada anak didik yang bermasalah
saja, tetapi mereka yang tanpa masalah juga harus dilibatkan dalam program bimbingan
dan konseling tersebut. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan atau program-program
bimbingan dapat diikuti oleh semua anak didik di sekolah yang bersangkutan, tanpa harus
merasa apakah dirinya bermasalah atau tidak.
Bimbinganberasaskanberproses artinya, bimbingan dan konseling harus dilakukan secara
terus-menerus, berurutan, bertahap dan sesuai dengan prosedur konseling tersebut. Hal
ini menunjukan bahwa konseling harus diberikan sejak taman kanak-kanak (meskipun
sifatnya masih sangat sederhana), sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan
tinggi. Tentu, program bimbingan dan konseling tersebut harus sesuai dengan kebutuhan
anak didik pada setiap jenjang pendidikannya.!Pegangan BK untuk PAUD, Suyadi
(2009:127-133)!

E. Identifikasi Bakat, Minat, danPotensiAnakSejakDini


BimbingandanKonseling di lingkungan PAUD
jugabermanfaatuntukmengidentifikasibakat, minatdanpotensianakdidiksejakdini.Artinya guru
dandan orang tuapastitelahmengetahuibahwasetiapanakmemiliki cirri khasunik yang
sekaligusmenjadipembedadengananak-anak yang lain. Hal
itumengindikasikanbahwasetiapanakmempunyaibakat ,minatdankecenderungtan yang
berbeda-beda.
Disinitugas guru sekaliguskonseloradalahmenidentifikasibakatminat, minat,
danpotensisemuaanakdidiknya, sehinggamerekamendapatkanpolapembelajaran yang
tepat.Anak yang ketika di kelastidak bias diam, sukamembuatkegaduhan,
dansulitdikendalikan, perlupolapembelajaran yang khusus yang
tepatuntukmenunjangtumbuhkembangnya.

Disinilahpentingnyabimbingandankonselingsebagaitindakanidentifikasibakatdanminatana
kdidik.Pengewtahuanatashasilidentifikasiinidapatdimanfaatkanuntukmemberikanstimulasitu
mbuhkembangnyaanaksecaratepat.Denganterindetifikasinyabakatdedanminatsertapotensiana
k-anak PAUD melaluibimbingandankonseling, maka guru dan orang
tuadapatmengetahucorakataupolabelajar yang cocokuntukanak.
Penyamarataanpolapembelajaranpadaanak-anakdapatmenghamabtperkembanganbakat,
minat, sertapotensianakdidik.Untukmenghindaribahayaburukini,
tidaklahmudah.Perlubanyakcara,
dansalahsatunyadenganpenyelenggaraanbimbingandankonseling di PAUD,
terutamadalamupayamengidentifikasibakatdanminatsertapotensianakdidiktersebut. Dengan
demikian, fungsiidentifikasibimbingandankonseling di lembaga PAUD,
disampingdapatmengarahkanpolapembelajaran yang tepat,
jugaakanmencegahmunculnyaperilakubelajr yang bermasalah.!Pegangan BK untuk PAUD,
Suyadi (2009:172)!

DAFTAR PUSTAKA

http://ekstensibk.blogspot.com/2010/04/tujuan-fungsi-asas-dan-prinsip.html
http://lifestyle.okezone.com/read/2015/01/16/196/1093295/langkah-mengenali-minat-bakatanak-sejak-dini
http://www.majalahmoogi.com/2013/04/913/tips-sederhana-mengetahui-bakat-anak-sejakdini
http://www.slideshare.net/dina5/bk-pada-paud
http://saidaniahmad.blogspot.com/2012/12/makalah-bimbingan-konseling-dipaudtk.html
http://www.tanggapustaka.com/Artikel/mengenali-minat-dan-bakat-anak-sejakdini.html
Suyadi, Pegangan BK Untuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Jogjakarta, DIVA Pres,
Desember 2009, (161:223)

( DASAR-DASAR BK DI PAUD )
BAB II
Pembahasan

A. Definisi Bimbingan dan Konseling Anak Usia Dini


Bimbingan adalah proses pemberian bantuan (psikologis) dari konselor kepada
konseling baik secara langsung maupun tidak langsung, baik individual maupun kelompok
untuk mengoptimalkan perkembangan individu. Sedangkan Konseling adalah sebuah
proses bantuan profesional yang diberikan oleh konselor profesional kepada seorang
konselinya.(Hartono, 2009:2)
Layanan konseling pada anak usia dini ini sangat berbeda dengan konseling pada
anak remaja atau dewasa, pada konseling anak remaja maupun dewasa pemecahan masalah
serta tanggung jawab terhadap pilihan ada pada tangan konseli itu sendiri. Namun pada
anak usia dini yang notabene usia masih di bawah usia pendidikan dasar yakni 0-6 tahun
proses berpikir secara logis atau nalar masih belum terbentuk. Selain itu, usia ini masih
merupakan usia bermain sehingga rasa tanggung jawabnya masih dalam proses
pembentukan. Dengan demikian, guru atau konselor masih memegang peranan penting
dalam memecahkan masalah.
B.

Pentingnya Bimbingan Konseling Anak Usia Dini


BK selama ini terkesan hanya mengatasi siswa-siswa yang mempunyai masalah
saja, padahal BK juga membantu tercapainya segala aspek perkembangan siswa. Baik
aspek akademik, bakat dan minat, emosional, sosial dengan teman, penyesuaian diri di
lingkungan yang baru, menemukan jati diri dan sebagainya, tentunya akan lebih baik jika
diarahkan sejak dini agar tercapai segala aspek perkembangan siswa yang maksimal.
Dari semua itu disinilah perlunya guru Bimbingan dan Konseling (BK) pada anak
usia dini dalam membantu mengidentifikasi permasalahan anak usia dini dan membantu
tercapainya segala aspek perkembangan anak usia dini.
Lembaga ini juga bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perkembangan fisik,
motorik, kognitif, dan mental spiritual.
Perlu ditegaskan disini bahwa bimbingan dan konseling pada anak usia dini tidak
hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah, melainkan juga
harus diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan. Dengan demikian, konseling bukan hanya untuk mengatasi perilaku

bermasalah pada anak didik, melainkan juga tindakan untuk memenuhi kebutuhan
tumbuh kembangnya anak secara maksimal.
C.

Prinsip prinsip dasar bimbingan dan konseling anak usia dini


Pelaksanaan bimbingan konseling pada anak usia dini tidak mengunakan waktu
dan ruang tersendiri seperti halnya bimbingan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pelaksanaan bimbingan dan konseling dilaksanakan secara bersama-sama dengan proses
pembelajaran. Nuansa bermain menjadi bagian dari pelaksanaan bimbingan karena dunia
anak adalah dunia bermain.
Prinsip dasar bimbingan dan konseling antara lain yaitu:
1. Bimbingan merupakan bagian penting dari proses pendidikan
2. Bimbingan diberikan kepada semua anak dan bukan hanya untuk anak yang
menghadapi masalah
3. Bimbingan merupakan proses yang menyatu dalam semua kegiatan pendidikan
4. Bimbingan harus berpusat pada anak yang dibimbing
5. Kegiatan bimbingan ,mencakup seluruh kemampuan perkembangan anak yang
meliputi kemampuan fisik-motorik, kecerdasan, social maupun emosional
6. Bimbingan harus dimulai dengan mengenal (mengidentifikasi) kebutuhankebutuhan yang dirasakan anak
7. Bimbingan harus fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan anak
8. Dalam menyampaikan pemasalahan anak kepada orang tua hendaknya
menciptakan situasi aman dan menyenangkan, sehingga memungkinkan terjadinya
komunikasi yang wajar dan terhindar dari kesalahpahaman
9. Dalam melaksanakan kegiatan bimbingan hendaknya orang tua diikutsertakan agar
mereka dapat mengikuti perkembangan dan memberikan bantuan kepada anaknya
dirumah
10. Bimbingan dilakukan seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
guru atau pendamping sebagai pelaksana bimbingan, bilamana masalah yang
terjadi perlu ditindak lanjuti, maka guru pembimbing harus mengonsultasikan
kepada kepala sekolah dan tenaga ahli
11. Bimbingan harus diberikan secara berkelanjutan

D. Ruang lingkup bimbingan dan konseling untuk Anak Usia Dini


1. Ruang lingkup dasar

a. Bimbingan Pribadi dan Sosial


Bimbingan ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan
pribadi sosial anak dalam mewujudkan pribadi yang mampu menyesuaikan diri dan b
ersosialisasi dengan lingkungan secara baik.Bimbingan ini dapat membantu anak
dalam memecahkan masalah-masalah pribadi sosial.
b. Bimbingan Belajar
Merupakan bimbingan yang diarahkan untuk membantu para anak dalam
menghadapi dan memecahkan masalah-masalah serta mencapai tujuan dan tugas
pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil belajar yang mencakup
pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan perilaku.
c. Bimbingan karir
Bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan dan
pemecahan masalah-masalah karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugastugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi
lingkungan, perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan
pemecahan masalah-masalah karir yang dihadapi secara sederhana.
2. Ruang lingkup khusus
Secara khusus ruang lingkup bimbingan dan konseling itu adalah sebagai bantuan
pada orang tua yamg antara lain:
a. Lebih mengenal dirinya, kemampuannya, sifatnya, kebiasaannya,
dan kesenangannya,
b. Mengembangkan potensi yang dimilikinya,
c. Mengatasi kesulitan yang dihadapinya,
d. Menyiapkan perkembangan mental dan social untuk masuk kelembaga
pendidikan selanjutnya
3. Pendekatan Bimbingan dan Konseling di Taman Kanak-kanak
Pelaksanaan layanan bimbingan di taman kanak-kanak menggunakan layanan terpadu,
artinya layanan bimbingan dilaksanakan secara terpadu dengan seluruh kegiatan
pendidikan di taman kanak-kanak. Adapun pelaksanaannya dapat dilakukan dengan
pendekatan sebagai berikut:
a. Pendekatan instruksional dan interaktif
yaitu terpadu dengan pelaksanaan-pelaksanaan Program Kegiatan Belajar (PKB).
Misalnya:
- menciptakan suasana dan kegiatan kelas yang menyenangkan dan bervariasi,
- membiasakan disiplin,
- mengadakankegiatan individual, kelompok dan klasikal.

b. Pendekatan dukungan sistem,


yaitu dengan menciptakan suasana taman kanak-kanak dan lingkungannya yang
menunjang perkembangan anak.
Misalnya:
- Membuat permainan yang dapat menunjang bakat anak
- Melatih anak untuk berani mengembangkan bakatnya
c. Pendekatan pengembangan pribadi
yaitu dengan memberikan kesempatankepada anak untuk berkembang sesuai dengan
kondisi dan kemampuan dirinya.Pendekatan ini dapat dilakukan dengan memberikan
tugas-tugas individual,penempatan anak dalam kelompok berdasarkan minat dan
kemampuan anak
misalnya:
- Memberikan tugas yang berbeda pada setiap anak
- Memberikan tugas seperti apa yang di sukai oleh masing- masing anak
d. Teknik teknik bimbingan dan konseling bk di paud
Pelaksanaan layanan dan konseling di tk tidaklah sama seperti kita melaksanakan
bimbinang dan konseling disekolah sekolah seperti SMA dan SMP karena anak
anak usia tk masihlah sangat butuh perhatian yang lebih dari anak anak dewasa
Membahas tentang teknik pendekatan pada anak tk ada beberapa teknik antara lain
adalah sebagai berikut:
a. Aktif
apa yang di maksud aktif disini adalah guru harus menciptakan suasana
sedemikian rupa sehingga anak aktif brtanya , mempertanyakkan dan
menggemkakan gagasan. Belajar harus merupakan suatu proses aktif dari anak
dalam membangun pengetahuannya, bukan hanya proses pasif yang hanya
menerima penjelasan dari guru tentang pengetahuan.
Anak usia dini lebih cepat lelah jika duduk diam di bandingkan kalaau sedang
berlari, melompat, atau sedang bersepeda.maka dengan belajar yang aktif ,
motorik halus dan motorik kasar mereka akan berkembang dengan baik.melalui
belajar aktif segala potensi anak dapat berkembang secara optimal dan
memberikan peluang anak untuk aktif berbuat sesuatu sambil mempelajari
berbagai pengetahuan dan semua iu tidak pernah luput dari pengasan kita.
Misalnya:

Guru membiarkan anak- anak bertanya sebanyak apapun walaupun terkadang

pertanyaan mereka menjengkelkan dan tak masuk akal


Membawa anak anak belajar diluar ruangan sesuai dengan pelajaran yang
kita berikan dan biarkan merekan berkreasi sesuka hati meeka dan tetap

pengawasan guru.
b. kreatif
kreatif artinya memiliki daya cipta , memiliki kemampuan untuk
berkreasi. Peran aktif anak dalam proses pembelajaran akan menghasilkan
generasi yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan
kepentingan orang lain.kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan
kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat
kemampuan anak
c.efektif
pembelajaran yang efektif terwujud karena pembelajaran yang
dilaksanakan dapat menumbuhkan daya kreatif bagi anak sehingga dapat
membekali anak dengan berbagai kemampuan setelah proses pembelajaran
berlangsung kemampuan yang diproleh anak tidak hanya berupa pengetahuan
yang besifat verbalisme.namun diharapkan berupa kemampuan yang lebih
bermakna artinya tidak dapat mengembangkan berbagai potensi yang adadalam
diri anak sehingga menghasilkan kemampuan yang beragam. Belajar yang efektif
dapat dicapai dengan tindakan nyata(learning by doing) karna bermain dan
bereksplorasi dapat membangun perkembangan otak , berbahasa, bernalar dan
bersosialisasi.
d.Menyenangkan
perlu tecipta Susana pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak
memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar hingga waktu curah
perhatiannya tinggi. Menurut hasil penelitian tingginya perhataian anak terbukti
dapat meningkatkan hasil belajar.kondisi yang menyenangkan , aman dan
nyaman akan mengaktifkan bagian neo-cortex(otak berpikir)dan mengoptimalkan
proses belajar dan meningkatkan kepercayaan diri anak. suasana kelas yang kaku,
penuh beban guru galak akan menurunkan fungsi otak menuju batang otak dan
anak tidak bias berfikir efektik,reatik dan agresif.
Misalnya:
- Para guru menciptakan suanana yang menyenakan bagi anak- anak

Para guru memberikan pujian bagi anak anak yang dapat menjawab
pertanyaan dari guru

E. Asas-asas bimbingan konseling anak usia dini


Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat
ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas sebagai berikut.
1. Asas Kerahasiaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut
dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang
menjadi sasaran pelayanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak
layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban
penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga
kerahasiaanya benar-benar terjamin.
2. Asas kesukarelaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani
pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. Dalam hal ini guru pembimbing
berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut.
3. Asas keterbukaan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan
tidak berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri
maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna
bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban
mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada
terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri konseli
yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. Agar konseli dapat terbuka, guru
pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura.
4. Asas kegiatan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di
dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Dalam hal ini guru
pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap
pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya.
5. Asas kemandirian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada
tujuan umum bimbingan dan konseling, yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran
pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang
mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya,
mampu mengambil keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru
pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan
konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli.
6. Asas Kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli

(konseli) dalam kondisinya sekarang. Pelayanan yang berkenaan dengan masa


depan atau kondisi masa lampau pun dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan
kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang.
7. Asas Kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu
bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai
dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
8. Asas Keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling, baik yang dilakukan
oleh guru pembimbing maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis, dan
terpadu. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihak-pihak yang
berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus
dikembangkan. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling
itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
9. Asas Keharmonisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada
dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada, yaitu nilai dan
norma agama, hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan
kebiasaan yang berlaku. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan
konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya
tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, pelayanan
dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan
kemampuan konseli (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai
dan norma tersebut.
10.
Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar
pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar
kaidah-kaidah profesional. Dalam hal ini, para pelaksana pelayanan dan kegiatan
bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang
bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik
dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun
dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11.
Asas Alih Tangan Kasus, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan
bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli
(konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru
pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain,
atau ahli lain ; dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan
kasus kepada guru mata pelajaran/praktik, polisi, psikolog dan lain-lain.

Daftar Pustaka

Suyanto,slamet.2013.konsep dasar pendidikan usia dini,jakarta: universitas negri


yogyakarta.
www.google.com
http://www.slideshare.net/ocidrosid/asasasas-bimbingan-dan-konseling

Di ajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


BK DI PAUD
{ DASAR-DASAR BK DI PAU}

Dosen : Dra. Ni Ketut Alit Suarti, M.Pd.

Disusun Oleh : Kelompok 7


Sri Rahmawati

{ 12.121.248 }

Helda rosmita

{ 12.121.258 }

M danil hariadi

{ 12.121.219 }

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING


JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FIP IKIP MATARAM
2015

BAB II
PEMBAHASAN
PELAKSANAAN BK DI PAUD
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling Pada Anak Usia Dini
BK adalah suatu lembaga disekolah yang bertugas membimbing dan melayani
konseling memecahkan permasalahan seperti mengatasi siswa-siswa yang mempunyai
masalah, BK juga membantu tercapainya segala aspek-aspek pertumbuhan dan
perkembangan siswa. Baik aspek akademik, bakat dan minat, emosional, sosial dengan
teman, penyesuaian diri di lingkungan yang baru, menemukan jati diri dan sebagainya,
tentunya akan lebih baik jika proses pelaksanaanya diarahkan sejak dini agar tercapai
segala aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan siswa yang maksimal. Dari semua
itu disinilah perlunya guru Bimbingan dan Konseling (BK) di PAUD dalam membantu
mengidentifikasi permasalahan peserta didik dan membantu tercapainya segala aspek
perkembangan peserta didik di PAUD.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan
dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang di tujukan bagi anak-anak sejak lahir
sampai dengan usia enam tahun (Maimunah Hasan, 2009;15)
Adanya bimbingan dan konseling di PAUD bukan berarti sekedar ikut-iktan saja.
Keberadaan bimbingan konseling dilingkungan PAUD juga dibutuhkan. Sebab, banyak
perilaku bermasalah muncul pada peserta didik ketika dewasa yang disebabkan oleh masa
lalunya diwaktu kecil. Hal ini menunjukan bahwa masa-masa awal anak telah kecolongan
dalam hal tindakan pencegahan terhadap munculnya perilaku bermasalah di masa depan.
Tujuan utama diselenggarakannya bimbingan dan konseling di lembaga PAUD
adalah mengantisipasi atau mengambil tindakan preventif terhadap munculnya perilaku
bermasalah tersebut.
Lembaga ini bertanggung jawab terhadap perkembangan fisik, motorik, kognitif,
dan mental spiritual.Agar apa yang dibebankan kepada guru PAUD dapat dilaksanakan
sesuai dengan harapan maka diperlukan bimbingan dan konseling (BK) dilembaga
tersebut.

Program BK ini sebenarnya sama pentingnya dengan program BK di sekolah


menengah.sama sama memiliki tujuan yang sama yaitu, membantu peserta didik agar
bisa berkembang sesuai bakat , minat serta kemampuannya secara optimal serta dapat
mencegah terjadinya masalah yang mingkin akan muncul pada peserta didik.
Ditinjau dari sudut orang tua kegiatan bimbingan dan konseling pada anak usia dini
dilakukan untuk:
a. Membantu orang tua agar mengerti, memahami dan menerima anak sebagai individu
b. Membantu orang tua dalam mengatasi gangguan emosi pada anak yang ada
hubungannya dengan situasi keluarga dirumah
c. Membantu orang tua mengambil keputusan dalam memilih sekolah bagi anaknya
sesuai dengan taraf kemampuan kecerdasan, fisik dan indranya.
d. Memberikan informasi kepada orang tua untuk memecahkan masalah kesehatan anak.
B. Masalah-masalah peserta didik di PAUD
Stabilisasi Perkembangan Kognitif Peserta didik Peserta didik dikatakan
bermasalah jika mereka mengalami ketidak sesuaian antara harapan dengan kenyataan
yang diinginkannya, tidak terpenuhinya kebutuhannya serta merasa ada sesuatu hal yang
tidak mengenakan pada dirinya. Jenis-jenis masalah pada PAUD :
1. Pola pikir anak (aspek kognitif). Perilaku bermasalah pada aspek kognitif, yaitu :
a. Berpikir Irasional
b. Pikiran negative
c. Tidak mau belajar
d. Malas masuk sekolah
e. Sulit menghapal kata dan nama benda
f. idak memperhatikan pelajaran
g. Terlambat berpikir
h. Pelupa
i. Rasa ingin tahunya rendah Suka menyalahkan orang lain dan menganggap
dirinya paling benar.
2. Masalah fisik motoric
a. Tanganya kidal
b. Berjalan pincangButa,tuli,dan bisu
c. Terlalu gemuk
d. Berambut keriting
3. Sosio emosional
a. Pendiam, pemalu, minder
b. Egois
c. Menolak realitas ( suka membuat kegaduan)
d. Bersikap kaku
e. Sulit berteman, membenci guru tertentu

C. Ciri Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Untuk Anak Usia Dini


Menurut Syaodih, E(2004) ada beberapa ciri bimbingan dan konseling bagi anak
usia dini yang dapat dijadikan rujukan bagi guru atau pendamping, yaitu:
1. Proses Bimbingan dan Konseling Harus Disesuaikan dengan Pola Pikir dan
Pemahaman Anak
Pelaksanaan bimbingan dan konseling bagi anak usia dini relatif cukup sulit untuk
dilaksanakan. Kondisi ini terjadi bukan disebabkan karna berbedanya langkahlangkah bimbingan, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan karakteristik anak yang
dibimbing.
2. Pelaksanaan Bimbingan Terintegrasi Dengan Pembelajaran
Pelaksanaan bimbingan konseling dilaksanakan secara bersama-sama dengan
pelakasanaan pembelajaran, artinya guru atau pendamping pada saat akan
merencanakan kegiatan pembelajaran harus juga memikirkan bagaimana perencanaan
bimbingannya.
3. Waktu pelaksanaan bimbingan sangat terbatas
Interaksi guru atau pendamping dengan anak relatif tidak lama, rata-rata pertemuan
dalam sehari hanya 2,5-3 jam.
4. Pelaksanaan bimbingan dilaksanakan dalam nuansa bermain
Bermain merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia anak dan bahkan dapat
dikatakan tiada hari tanpa bermain. Bermain bagi anak merupakan suatu aktivitas
tersendiri yang sangat menyenangkan yang mungkin tidak bisa dirasakan atau
dibayangkan oleh orang dewasa.
5. Adanya keterlibatan teman sebaya
Keterlibatan teman sebaya perlu dipertimbangkan guru dalam pelaksanaan bimbingan
dan konseling karena melalui teman sebaya upaya mengatasi masalah khuisusnya
masalah sosial emosi dapat dipandang sebagai cara yang tepat untuk mengatasi
masalah yang dialami anak.
6. Adanya keterlibatan orang tua
Ketika anak sedang belajar di PAUD guru atau pendamping berperan sebagai penganti
orang tua. Mengingat permasalahan yang dihadapi anak maka peran orang tua dalam
membantu tumbuh kembang anak merupakan suatu hal yang sangat penting.

D. Ruang Lingkup Layanan Bimbingan


Bimbingan bagi anak usia dini terdiri atas 5 bentuk layanan, yaitu :
a. Layanan pengumpulan data
Layanan pengumpulan data dimaksudkan untuk menjaring informasi-informasi yang
diperlukan guru atau pendamping anak usia dini dalam memahami karakteristik,
kemampuan dan permasalahan yang mungkin dialami anak.
b.

Layanan informasi

Layanan informasi dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pemahaman baik


untuk anak maupun bagi orang tua. Untuk anak usia dini yang relatif masih usia
muda, masih sangat sedikit informasi atau pengetahuan yang diketahui dan dipahami
anak.
c. Layanan Konseling
Proses konseling pada anak usia dini berbeda dengan konseling yang dilakukan pada
remaja atau orang dewasa. Layanan konseling dilakukan dengan mengikuti beberapa
langkah seperti yang diungkapkan dalam uraian terdahulu yaitu melakukan :
1.
2.
3.
4.
5.

Identifikasi masalah
Diagnosis
Prognosis
Treatment, dan
Evaluasi tindak lanjut

d. Layanan penempatan
Layanan penempatan, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan anak memperoleh
penempatan yang tepat sesuai dengan kondisi dan potensinya.
e. Layanan evaluasi dan tindak lanjut
Layanan evaluasi dan tindak lanjut merupakan layanan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan penanganan yang telah dilakukan guru atau pendamping.
E. Syarat-Syarat Program Layanan
Program bimbingan dan konseling di lembaga PAUD merupakan program
bimbingan yang bermanfaat secara positif, tidak sekadar reaktif dan korektif. Terlebih
lagi, jika program bimbingan ini bersifat kontinum berkelanjutan, dan terus-menerus,
mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, bahkan sampai dimasyarakat.
Tentu, hasilnya akan jauh lebih baik daripada bimbingan yang sifatnya eksidental
semata Tetapi , penekanan bimbingan dan konseling dapat berubah-ubah, sesuai dengan
kebutuhan anak didiknya atau sesuai dengan taraf perkembangannya. Atas dasar ini,
maka bimbingan konseling di PAUD tidak boleh hanya terfokus pada tumbuh
kembangnya anak secara normal dan kompetensi semata, melainkan juga harus
menemukan jati diri anak didik yang unik dan khas, sesuai dengan kepribadianny.
Petualangan pencarian jati diri anak didik harus dimulai sejak dini atau dilembaga
PAUD Sebab, penemuan dan pemahaman akan dirinya sendiri akan sangat membantu
mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan baru yang akan
dihadapi. Disamping itu, penemuan jati diri atau kepribadian anak didik dapat membantu
mereka dalam mengembangkan bakat, minat, dan potensinya.
Perlu ditegaskan disini bahwa bimbingan dan konseling di lembaga PAUD tidak hanya
diberikan kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah, melainkan juga harus
diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.
Dengan demikian konseling bukan hanya untuk mengatasi perilaku bermasalah
pada anak didik, melainkan juga tindakan untuk memenuhi kebutuhan tumbuh
kembangnya anak secara maksimal. Pandangan ini menitik beratkan pada bimbingan
yang bersifat preventif, kesehatan mental, dan pengembangan diri daripada bimbingan
yang menitik beratan pada psikoterapi maupun diagnosis terhadap perilaku bermasalah,
terlebih lagi, ketika para psikolog telah menyadari betapa pentingnya melakukan
identifikasi sejak dini terhadap perilaku bermasalah pada anak-anak. Dengan melakukan

identifikasi ini, diharapkan anak-anak dimasa depan tidak lagi mengalami hambatan
dalam belajarnya, terlebih lagi gangguan pada mentalnya.
Momen yang paling tepat untuk melakukan tindakan identifikasi ini adalah pada masamasa awal usia dini atau di lembaga PAUD. Beberapa alasan berikut ini kiranya dapat
memberi pemahaman kepada kita mengapa tindakan identifikasi untuk mencegah
perilaku bermasalah paling tepat dilakukan pada masa usia dini atau PAUD.
Menurut Syaodih (2004) dalam menyusun suatu program bimbingan dan konseling pada
anak usia dini, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Prinsip dasar bimbingan dan konseling anak usia dini
Pelaksanaan bimbingan konseling pada anaka usia dini tidak mengunakan waktu dan ruang
tersendiri seperti halnya bimbingan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Nuansa
bermain menjadi bagian dari pelaksanaan bimbingan karena dunia anak adalah dunia
bermain.
a. Esensi bimbingan dan konseling
Dalam pelakasanaannya, bimbingan juga diarahkan untuk membantu orang tua agar
memiliki pemahaman dan motivasi untuk turut mengembangkan kemampuan anak
karena kedekatan anak usia dini terhadap orang tua relative masih tinggi.
b. Orientasi bimbingan dan konseling
Masa ini sering disebut sebagai masa Golden Age atau masa keemasan karena pada
masa ini anak sangat peka untuk mendapatkan rangsangan-rangsangan.
c. Konsep yang mendasari pelaksanaan bimbingan dan konseling
Pelaksanaan bimbingan konseling pada anak usia dini pada dasarnya berangkat dari
pemahaman tentang pengembangan anak bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan
kemampuan yang berbeda-beda.
d. Bentuk layanan bimbingan dan konseling
Istilah bentuk layanan bimbingan menunjuk pada jumlah anak pada saat guru atau
pendamping melakukan bimbingan. Bentuk layanan bimbingan dapat dilakukan secara
individual atau kelompok.
e. Setting layanan bimbingan konseling
Pada anak usia dini dapat menggunakan seting individual, kelompok dan klasikal. Setting
ini digunakan sangat tergantung dari kebutuhan layanan bimbingan.

2. Pelaksanaan Program
Pelaksanaan program dibagi dua bahasan, yaitu :
a. Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang berorientasi kepada semua anak.
b. Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang berorientasi kepada masalah yang
dihadapi anak.

DAFTAR PUSTAKA
http://darmayulia17.blogspot.com/2012/12/program-bimbingan-dan-konseling-untuk.html
konseling-di-taman-kanakkanak.htm Buku: Syahril & Ahmad R. (1986)
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kurikulum berbasis kompetensi anak usia dini.
Jakarta:Pusat Kurikulum.

Gambar 1. Proses belajar bersam kelas VI C F .

Gambar 2. Proses pengerjaan tugas kelompok kelas VI C- F.

MAKALAH
PELAKSANAAN BK DI PAUD
PERENCANAAN/PROGRAM, PENGELOLAAN DAN PELAYANAN
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Bk di PAUD
Dosen :Dra. Ni Ketut Alit Suarti, M.Pd

Disusun Oleh
Kelompok 8 (Kelas VI.F)
4. RENI SINA OCTA LINA
5. MUH. SABRI

12.121.229
12.121.218

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP MATARAM
2015

MAKALAH
PELAKSANAAN BK DI PAUD, TEKNIK PENGUMPULAN DATA
DAN PENILAIAN BK DI PAUD
Tugas ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah BK di PAUD
Dosen Pembimbing: Dra. Ni Ketut Alit Suarti, M.Pd.

Disusun
Syarifah nagiyah 12121232
Muh .Zuhdi
Halimatussadiah

12121250

(12121246)

BIMBINGAN DAN KONSELING


PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

IKIP MATARAM
2015

BAB 9
PELAKSANAAN BK DI PAUD, TEKNIK PENGUMPULAN DATA
DAN PENILIAN BK DI PAUD

A. Pelaksanaan BK Di Paud
Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah disesuaikan dengan tujuan
pendidkan nasional yang termaktub dalam Sistem Pendidikan Nasional yaitu
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggungjawab.
Sesuai dengan amanat yang tercantum dalam UU sisdiknas tersebut, maka
layanan bimbingan dan konseling di sekolah melakukan fungsi-fungsi sebagai usaha
pemahaman. Fungsi pemahaman meletakkan upaya upaya untuk mengenal individu
secara totalitas. Artinya klien atau individu yang sedang dibantu perlu dipahami tentang:
1. identitas individu: nama, jenis kelamin, tempat tinggal, tanggal lahir.
2. Pendidikan
3. status perkawinan (bagi klien dewasa)
4. status sosial-ekonomi
5. kemampuan (bakat, minat, hobby)
6. kesehatan
7. kecenderungan sikap atau kebiasaan
8. cita-cita pendidikan dan pekerjaan
9. keadaan lingkungan tempat tinggal
10. kedudukan danprestasi yang pernah dicapai
11. kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Pelaksanaan layanan dan konseling di TK tidaklah sama seperti kita
melaksanakan bimbingan di sekolah-sekolah seperti SMA dan SMP karena anak usia TK
masihlah sangat butuh perhatian yang lebih dari anak anak dewasa.
Membahas tentang teknik pendekatan pada anak TK ada beberapa teknik
adalah sebagai berikut:
1. Aktif

Aktif adalah guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga anak
aktif bertanya,mempertanyakan dan menggemukakan gagasan.Belajar harus
merupakan suatu proses aktif dari anak dalam membangun pengetahuannya,
bukan hanya proses pasif yang hanya menerima penjelasan dari guru
tentang pengetahuan.
Anak usia dini lebih cepat lelah jika duduk diam dibandingkan kalau sedang
berdiri, melompat, atau sedang bersepeda. Maka dengan belajar yang aktif
,motorik halus dan motorikkasar mereka akan berkembang dengan baik . Melalui bel
ajar aktif segala potensi anak dapatberkembang secara optimal dan memberikan
peluang anak untuk aktif berbuat sesuatu sambil mempelajari berbagai pengetahuan
dan semua itu tidak pernah luput dari pengawasan kita.
Misalnya:
Guru membiarkan anak-anak bertanya kapanpun walaupun terkadang pertanyaan mereka
menjengkelkan dan tak masukakal.
Membawa anak-anak belajar diluar ruangan sesuai dengan pelajaran yang kita berikan
dan biarkan mereka berkreasi sesuka hati mereka dan tetap pada pengawasan guru.
2. Kreatif
Kreatif artinya memiliki dayacipta, memiliki kemampuan untuk berkreasi.
Peran aktif anakdalam proses pembelajaranakanmenghasilkangenerasi yang
mampu menghasilkan sesuatu untukkepentingan dirinya dan kepentingan orang
lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan kegiatan belajar
yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkatkemampuan anak.
3. Efektif
Pembelajaran yang efektif terwujud karena pembelajaran yang dilaksanakan
dapat menumbuhkan daya kreatif bagi anak seingga dapat membekali anak dengan
berbagai kemampuan setelah proses pembelajaran berlangsung kemampuan yang
diproleh anak tidak hanya berupa pengetahuan yang bersifat verbalisme. Namun
diharapkan berupa kemampuan yang lebih bermakna artinya tidak dapat
mengembangkan berbagai ptensi yang ada dalam diri anak sehingga menghasilkan
kemampuan yang beragam. Belajar yang efektif dapat dicapai dengan tindakan nyata

(learning by doing) karena bermain dan bereksplorasi dapat membangun


perkembangan otak, berbahasa, bernalar dan bersosialisasi.
4. Menyenangkan
Perlu tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak
memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar hingga waktu curah
perhatiannya tinggi.
Menurut hasil penelitian tingginya perhatian anak terbukti dapat meningkatkan
hasil belajar. Kondisi yang menyenangkan, aman dan nyaman akan mengaktifkan
bagian neo-cortex (otak berpikir) dan mengoptimalkan belajar dan meningkatkan
diri anak. Suasana kelas kelas yang kaku, penuh beban menurunkan fungsi otak
otak dan anak tidak bisa berfikirefektik, reatik dan agresif.
Misalnya:
Para guru menciptakan suasana yang menyenakanbagianak- anak
Para guru memberikan pujian bagi anak anak yang dapat menjawab pertanyaandari
guru
B. Teknik Pengumpulan Data
Metode atau teknik pengumpulan data adalah cara yang dilakukan seseorang
untuk mendapatkan data yang diperlukan. Dengan metode engumpulan data yang tepat
akan memungkinkan pencapaian madalah secara valid dan terpercaya yang akhirnya akan
memungkinkan generalisasi secara objektif.

Adapun jenis pengumpulan data yang bisa dilakukan pada sekolah tingkat PAUD
adalah :
1. Jenis Data
Data Pribadi, meliputi:

Latar belakang keluarga dan sosial

Kesehatan dan perkembangannya

Kemampuan dasar

Kemampuan khusus

Kepribadian

Prestasi belajar

Kegiatan diluar rumah

rencana masa depan.

2. Sumber data
Siswa
Orang tua
Guru
Kepala sekolah
Teman
Tetangga, dll.
3. TeknikPengumpulanData
Melalui Tes

Tes kecerdasan
Tes kepribadian
Tes bakat
Tes minat

Non Tes

Metode observasi
MtodeAngket/ Kuesioner (contoh : Terbuka-tertutup, tertutup-terbuka)
Metode wawancara

C. Penilaian BK di PAUD
Penilaian merupakan langkah penting dalam manajemen program bimbingan.
Tanpa penilaian tidak mungkin kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi keberhasilan

pelaksanaan program bimbingan yang telah direncanakan. Penilaian program bimbingan


merupakan usaha untuk menilai sejauh mana pelaksanaan program itu mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Dengan kata lain bahwa keberhasilan program dalam pencapaian
tujuan merupakan suatu kondisi yang hendak dilihat lewat kegitan penilaian.
Kriteria atau patokan yang dipakai untuk menilai keberhasilan pelaksanaan
program layanan bimbingan dan konseling di sekolah adalah mengacu pada terpunuhinya
kebutuhan-kebutuhan peserta didik dan pihak-pihak yang terlibat baik langsung maupun
tidak langsung berparan membantu peserta didik memperoleh perubahan prilaku dan
pribadi kearah yang lebih baik.
Ada dua macam kegiatan penilaian program kegiatan bimbingan yaitu penilain
proses dan penilaian hasil. Penilain proses dimaksudkan untuk mengetahui sampai
sejauh mana keefektifan layanan bimbingan dilihat dari prosesnya, sedangkan penilaian
hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan layanan bimbingan dilihat
1.
2.
3.
4.
5.
6.

dari hasilnya. Aspek yang dinilai baik proses maupun hasil antara lain :
Kesesuaian antara program dengan pelaksanaan
Keterlaksanaan program
Hambatan-hambatan yang dijumpai
Dampak layanan bimbingan terhadap kegiatan belajar mengajar
Respon sisiwa, personil sekolah, orang tua dan masyarakat terhadap layanan bimbingan
Prubahan-perubahan siswa dilihat dari pencapaian tujuan layanan bimbingan, pencpaian
tugas-tugas perkembangan, dan hasil belajar.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru atau konselor dalam
proses penilaian terlaksananya proses pembelajaran terhadap anak khusus PAUD
1.
2.
3.
4.

diantaranya :
Pengamatan langsung atau observasi
Mencatat kegiatan yang dilakukan dan tahapan main anak
Mencatat ungkapan,pertanyaan (Tanya jawab),pertayaan anak.
Membaca hasil karya anak,mendokumentasikan semua bahasa natural anak ke dalam
portofolio masing masing anak
Dengan beberapa cara tersebut di rasa dapat di gunakan untuk mengetahui tingkat
kemampuan dan perkembangan anak,karena tidak dapat di pungkiri antara anak yang
satu dengan yang lain memiliki kemampuan yang berbeda beda, dari segi

kognitif,sensorik maupun motoric, karena itu harus ada suatu bimbingan yang khusus
oleh seorang konselor maupun guru pembimbing.
Untuk mengetahui apakah anak memahami konsep konsep yang telah di
ajarkan,melalui metode evaluasi berupa pengamatan langsung dan terus menerus
selama anak bermain ,bisa berupa tingkat tahapan main anak atau pengamatan tertulis
untuk menilai kemampuan representasi anak.
Dalam membahas evaluasi perkembangan ,guru dapat membaca dari tampilan
bahasa natural anak, mulai saat anak dating ke sekolah sampai waktunya pulang.evaluasi
juga dapat di kumpulkan dari :
1. Hasil kerja anak
2. Catatan dari pengamatan guru tentang bahasa natural anak,antara lain
dari gerakan tubuh,ucapanya,tulisannya,gambarannya,yang mempresentasikan tahapan
perkembangan domain bepikirnya.
Bahasa natural anak menampilkan informasi yang sangat kaya bagi pengamatan
guru,saat anak berinteraksi dengan anak lainnya,dan saat anak berinteraksi dengan media
mainnya.dan,semua tampilan bahasa anak tersebut dikumpulkan dalam portofolio yang
menggambarkan tentang perkembangan masing- masing anak.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

Nurihsan, Achmad Juntika.2005.Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling.Bandung:Refika


Aditama.
Latif, mukhtar, dkk.2013.Pendidikan Anak Usia Dini.Jakarta:Kencana Prenada Media
Group.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Muthmainnah/BK%20AUD.pdf (diakses
pada tanggal 03 April 2015, jam 09.43 WITA)
http://paudsarah.blogspot.com/2013/10/ruang-lingkup-bk-di-lembaga-paud-dan.html
(diakses pada tanggal 02 April 2015, jam 12.58 WITA)

PENANGANAN KASUS ANAK USIA DINI : PENGERTIAN PAUD,


KARAKTERISTIK ANAK USIA DINI, PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
A. Pengaertian PAUD

Pendidikan anak usia dini ( PAUD ) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang
pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak
lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada
jalur formal, nonformal, dan informal.
B. Karakteristik Anak Usia Dini
Beberapa karakteristik Anak Usia Dini adalah sebagai berikut :
1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
Anak usia dini sangat ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Pada masa bayi rasa
ingin tahu ini ditunjukkan dengan meraih benda yang ada dalam jangkauannya kemudian
memasukkan ke mulutnya. Pada usia 3-4 tahun anak sering membongkar pasang segala
sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Anak juga mula gemar bertanya meski
dalam bahasa yang masih sangat sederhana.
2. Pribadi yang unik
Meskipun banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia dini,
setiap anak memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan
sebagainya. Keunikan ini berasal dari faktor genetis dan juga lingkungan. Untuk itu
pendidik perlu menerapkan pendekatan individual dalam menangani anak usia dini.
3. Suka berfantasi dan berimajinasi
Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan
tanggapan yang sudah ada. Imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan obyek
atau kejadian tanpa didukung data yang nyata ( Siti Aisyah, 2008 ).
Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh
melampaui kondisi nyata.
4. Masa paling potensial untuk belajar
Masa potensial anak untuk belajar sering juga disebut sebagai golden age atau
usia emas. Karena pada rentang usia ini, anak mengalami pertumbuhan dan
perkembangan yang sangat pesat di berbagai aspek. Pendidik perlu memberikan
berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja.
5. Menunjukkan sikap egosentris
Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Hal itu terlihat dari perilaku

anak yang masih suka berebut mainan, menangis atau merengek sampai keinginannya
terpenuhi.
6. Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek
Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Pehatian anak
akan mudah teralih pada hal lain terutama yang menarik perhatiannya ( Agus Wibowo,
2012 ).
7. Sebagai bagian dari makhluk sosial
Anak usia dini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Ia mulai
belajar berbagi, mau menunggu giliran, dan mengalah terhadap temannya. Melalui
interaksi sosial ini anak membentuk konsep dirinya. Ia mulai belajar bagaimana caranya
agar ia bisa diterima lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini anak mulai belajar untuk
berperilaku sesuai tuntutan dari lingkungan sosialnya karena ia mulai merasa
membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.
C. Perkembangan Anak Usia Dini
Beberapa perkembangan Anak Usia Dini adalah sebagai berikut :
1. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif anak terbagi ke dalam beberapa tahap adalah sebagai berikut:
a. Tahap Sensorimotor
Tahap sensorimotor terjadi saat usia anak 0-2 tahun. Pada tahap ini kemampuan
anak hanya pada gerakan refleks, mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan awal,
mereproduksi berbagai kejadian yang menurutnya menarik, mulai menggunakan
berbagai hal atau peralatan guna mencapai tujuannya, melakukan berbagai eksperimen
dan anak sudah mulai menemukan berbagai cara baru.
b. Tahapan Pra-operasional
Tahap pra-operasional berkembang saat usia anak 2-7 tahun. Pada tahap ini
anak mulai menerima berbagai rangsangan yang masih terbatas, Kemampuan bahasa
anak mulai berkembang, persepsi mengenai waktu dan mengenai tempat masih tetap
terbatas ( Cristiana Hari Soetjiningsih, 2012 ).
c. Tahap konkret operasional
Tahap konkret operasional berlangsung pada usia 7-11 tahun. Pada tahap ini
anak sudah bisa menjalankan operasional dan berpikirnya mulai berpikir secara
rasional. Dalam tahap ini tugas-tugas seperti menyusun, melipat, melakukan
pemisahan, penggabungan, menderetkan dan membagi sudah dapat dilakukan oleh

anak. Tahap Formal Operasional, dalam tahap ini anak sudah mulai beranjak sebagai
seorang remaja. Dalam tahap ini, anak sudah mulai berpikir secara hipotetik, yaitu
penggunaan hipotesis yang relevan sudah dilakukan anak guna memecahkan berbagai
masalah. Sudah mampu menampung atau berpikir terhadap hal-hal yang menggunakan
prinsip-prinsip abstrak, sehingga anak sudah bisa menerima pelajaran-pelajaran yang
bersifat abstrak seperti matematika, agama dan lain-lain.
2. Perkembangan Fisik Anak
Mengenai perkembangan fisik anak bisa dilihat dari perkembangan motorik anak.
Perkembangan motorik anak ini terbagi lagi ke dalam perkembangan motorik halus dan
perkembangan motorik kasar.
3. Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa anak usia dini terbagi ke dalam beberapa tahap adalah sebagai berikut
:
a. Periode prelingual, usia anak 0-1 tahun. Ciri utama adalah anak mengoceh untuk dapat
berkomunikasi dengan orang tua, anak masih bersifat pasif saat menerima stimulus dari
luar tapi anak akan menerima respon yang berbeda. Contoh: bayi akan senyum kepada
orang yang dikenalnya dan menangis kepada orang yang tidak dikenal dan ditakutinya.
b. Periode Lingual, usia antara 1-2,5 tahun. Dalam tahap ini anak sudah mampu membuat
sebuah kalimat, satu atau dua kata dalam percakapannya dengan orang lain.
c. Periode Diferensiasi, usia anak 2,5 - 5 tahun. Anak sudah memiliki kemampuan bahasa
sesuai dengan peraturan tata bahasa yang baik dan benar. Permbendaharaan katanya
sudang berkembang secara baik dilihat dari segi kuantitas dan kualitas.
4. Perkembangan Sosio-emosional
Perkembangan sosio-emosisonal anak terbagi ke dalam beberapa tahap adalah sebagai
berikut :
a. Tahap percaya versus curiga ( trust vs mistrust ), usia anak 0-2 tahun. Dalam tahap ini
anak akan tumbuh rasa percaya dirinya jika mendapatkan pengalaman yang
menyenangkan, namun akan tumbuh rasa curiga jika anak mendapat pengalaman yang
tidak menyenangkan.

b. Tahap Mandiri versus Ragu ( Autonomy vs Shame ), usia anak 2-3 tahun. Perasaan
mandiri mulai muncul tatkala anak sudah mulai menguasai seluruh anggota tobuhnya,
sifat ragu dan malu akan muncul pada tahap ini ketika lingkungan tidak memberinya
sebuah kepercayaan.
c. Tahap berinisiatif versus bersalah ( initiative versus guilt ), usia anak 4-5 tahun. Pada
masa ini anak sudah mulai lepas dari orang tuanya, anak sudah mampu bergerak bebas
dan berhubungan dengan lingkungan. Kondisi ini dapat menimbulkan inisiatif pada diri
anak, namun jika anak masih belum bisa terlepas dari ikatan orang tuanya dan belum bisa
berinteraksi dengan lingkungan, rasa bersalah akan muncul pada diri anak.
D. Penanganan Kasus Pada Anak Usia Dini
1. Takut berpisah
Anak cemas harus berpisah dengan orang terdekatnya. Terutama ibunya, yang
selama 3 tahun pertama menjadi figur paling dekat. Figur ibu, tidak selalu harus berarti
ibu kandung, melainkan pengasuh, kakek-nenek, ayah, atau siapa saja yang memang
dekat dengan anak.
Kelekatan anak dengan sosok ibu yang semula terasa amat kental, biasanya akan
berkurang di tahun-tahun berikutnya. Bahkan di usia 2 tahunan, ketika sudah
bereksplorasi, anak akan melepaskan diri dari keterikatan dengan ibunya. Justru akan
jadi masalah bila si ibu kelewat melindungi atau hobi mengatur segala hal, hingga
tidak bisa mempercayakan anaknya pada orang lain.
Perlakuan semacam itu justru akan membuat kelekatan ibu-anak terus bertahan
dan akhirnya menimbulkan kelekatan patologis sampai si anak besar. Akibatnya, anak
tidak mau sekolah, gampang menangis, dan sulit dibujuk saat ditinggal ibunya.
Cara Mengatasi :
Jelaskan pada si kecil, mengapa ibu harus pergi atau bekerja. Begitu juga
penjelasan tentang waktu meski anak usia ini belum sepenuhnya mengerti dan belum
tahu persis kapan pagi, siang, sore, dan malam serta pengertian mengenai berapa lama
masing-masing tenggang waktu tersebut. Akan sangat memudahkan bila orang tua
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Contohnya : Nanti ketika makan sore,
Ibu sudah pulang. Jika tidak bisa pulang sesuai waktu yang dijanjikan, beri tahu anak

lewat telepon. Sebab, anak akan terus menunggu dan ini justru bisa menambah rasa
takut anak. Anak akan terus cemas bertanya-tanya, kenapa sang ibu belum datang atau
pulang ke rumah ?
2. Takut masuk sekolah
Bukan soal mudah melepas anak usia batita masuk playgroup. Sebab, anak
harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Kenyataannya tidak semua anak bisa
gampang beradaptasi. Dari pihak orang tua, tidak sedikit pula yang justru tidak rela
melepas anaknya sekolah karena khawatir anaknya terjatuh ketika bermain atau
didorong temannya.
Cara Mengatasi :
Orang tua tetap perlu mengantar anak ke sekolah karena ini menyangkut soal
pembiasaan. Kalaupun di hari-hari berikutnya ada sekolah-sekolah yang bersikap tegas
hanya membolehkan orang tua menunggu di luar, sampaikan informasi ini pada anak.
Guru pun harus bisa menarik perhatian anak agar tidak terfokus pada ketiadaan
pendampingan orang tuanya dengan bermain. Di saat asyik bermain dengan temantemannya.
3. Takut pada orang asing
Di usia-usia awal, anak memang mau digendong atau dekat dengan siapa saja.
Namun di usia 8-9 bulan biasanya mulai muncul ketakutan atau sikap menjaga jarak
pada orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal karena anak sudah mengerti dan
sudah dapat mengenali orang lain. Anak mulai sadar, mana orang tuanya dan mana
orang lain yang jarang dilihatnya.
Cara Mengatasi :
Di usia batita seharusnya rasa takut pada orang asing sudah mulai berangsur
hilang karena anak sudah dapat bereksplorasi. Semestinya anak sudah memperoleh
cukup pengetahuan untuk menyadari bahwa tak semua orang asing yang belum begitu
dikenalnya merupakan ancaman baginya.

Biasanya, justru karena orang tua sering menakut-nakuti anak, sehingga anak
bersikap seperti itu. Awas... jangan dekat-dekat sama orang yang belum di kenal.
Nanti diculik ! Memang boleh-boleh saja orang tua menasehati anak untuk berhatihati dan bersikap waspada pada orang asing, tapi sewajarnya saja dan bukan dengan
cara menakut-nakuti anak.
4. Takut pada dokter
Mungkin pernah mengalami hal tidak mengenakkan seperti disuntik, anak jadi
takut pada sosok tertentu. Belum lagi kalau orang tua rajin mengancam setiap kali
anak dianggap nakal. Nanti disuntik Bu Dokter, kalau makannya tidak habis!.
Cara Mengatasi:
Izinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya saat datang ke
dokter sehingga anak merasa aman dan nyaman. Di rumah, orang tua bisa
membantunya dengan menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran.
Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya. Secara
berkala ajak anak ke dokter gigi untuk menjaga kesehatan giginya. Tidak ada salahnya
juga mengajak anak saat orang tua atau kakak-adiknya berobat gigi. Dengan begitu
anak memperoleh infomasi bagaimana dan ke mana anak harus pergi untuk menjaga
kesehatan giginya dan ketakutan anak pada sosok dokter justru berganti menjadi
kekaguman.
5. Takut hantu
Di situ ada hantunya. Tidak boleh main di situ! Gara-gara sering diancam
dan ditakuti seperti itu, batita yang sebetulnya belum mengerti sama sekali tentang
hantu, jadi tahu dan takut. Bisa juga karena anak menonton flim horor di televisi.
Cara Mengatasi :
Jauhkan anak dari tontonan tentang hantu. Orang tua pun seharusnya jangan
pernah menakut-nakuti anak hanya demi kepentingan yang lain. Bisa pula dengan
membelikan buku-buku cerita atau tontonan anak mengenai karakter hantu atau
penyihir yang baik hati.

6. Takut gelap
Biasanya juga gara-gara orang tua. Mama takut. Lihat begitu gelap disana?
Takut pada gelap bisa juga karena anak pernah dihukum dengan dikurung di ruang
gelap. Bila pengalaman pahit itu begitu membekas, bukan tidak mungkin rasa takutnya
akan menetap sampai usia dewasa. Contohnya : Keluar keringat dingin atau malah jadi
sesak napas setiap kali berada di ruang gelap atau menjerit-jerit kala listrik mendadak
padam.
Cara Mengatasi :
Saat tidur malam, jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Paling
tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala atau biarkan boneka atau benda
kesayangannya tetap menemaninya seolah-olah bertindak sebagai penjaganya hingga
anak tidak perlu takut.
7. Takut berenang
Sangat jarang anak usia batita takut air. Kecuali kalau anak pernah mengalami
hal tidak mengenakkan semisal tersedak atau malah nyaris tenggelam saat berenang
hingga hidungnya banyak kemasukan air ( Maimun Hasan, 2009 ).
Cara Mengatasi:
Lakukan pembiasaan secara bertahap. Contohnya : awalnya biarkan anak
sekadar merendam kakinya atau menciprat-cipratkan air di kolam mainan sambil tetap
mengenakan pakaian renang. Bisa juga dengan memasukkan anak ke klub renang yang
ditangani ahlinya. Atau dengan sering mengajak anak berenang bersama dengan
saudara dan teman-teman seusianya. Tentu saja sambil terus didampingi dan dibangun
keyakinan dirinya bahwa berenang sungguh menyenangkan, hingga tidak perlu takut.
Kalaupun anak tetap takut, jangan pernah memaksa apalagi memarahi atau
melecehkan rasa takutnya.
8. Takut serangga

Tidak sedikit anak yang takut pada jangkrik, kecoa atau serangga terbang
lainnya. Sebetulnya ini wajar, hingga orang tua jangan tambah menakut-nakuti anak :
Awas... nanti ada kecoa. Hendaknya justru bisa memahami karena anak usia ini
mungkin saja menemukan banyak hal yang dapat membuatnya takut.
Cara Mengatasi:
Boleh saja orang tua memberi pengenalan tentang alam binatang pada anak.
Tidak perlu terlalu detail. Tugas orang tua sebatas memahami ketakutan anak sekaligus
membantunya merasa aman. Boleh saja katakan, Ayah tahu kamu takut jangkrik.
Cukup segitu dan jangan paksa anak berada terus-menerus dalam pembicaraan
mengenai rasa takutnya.
Jangan pula memaksa anak bersikap seolah-olah berani menghadapi
ketakutannya. Belum saatnya mencobakan anak melihat atau malah menyentuhkan
serangga yang ditakutinya. Ini hanya akan membuat anak semakin takut. Bila
dipaksakan terus, anak malah bisa fobia pada serangga. Biarkan anak tertarik dengan
sendirinya dan biasanya ini terjadi setelah anak berusia 2 tahunan. Jika anak memang
takut disaat ada serangga yang terbang di dekatnya, bantulah untuk mengusir serangga
tersebut bersama.
9. Takut anjing
Wajar anak batita takut anjing mengingat penampilan binatang ini memang
terkesan galak dengan gonggongan dan tampang yang garang. Belum lagi
kebiasaannya suka melompat, menjilat atau malah mengejar. Tugas orang tualah untuk
memahami sekaligus membantu anak mengatasi ketakutannya.
Cara Mengatasi :
Tidak harus memaksa anak memelihara anjing atau mendorong anak
menghadapi rasa takutnya dengan terus-menerus memberi ceramah. Contohnya :
Kenapa harus takut sama anjing ?. Anjingnya kan baik. Menghilangkan ketakutan

anak justru akan membuat anak semakin takut dan bukan tidak mungkin akhirnya
semakin berkembang menjadi fobia yang sulit diatasi.
Bila anak memang takut dan ketika berjalan bertemu anjing, pegangi tangannya
untuk meyakinkannya anak bisa aman melewati binatang yang ditakutinya bersama
orang tuanya. Jangan lupa untuk tetap menjaga jarak aman dari temperamen binatang
yang relatif sulit diduga. Bisa juga dengan menunjukkan keakraban antara anjing
sebagai hewan peliharaan dengan majikannya lewat cerita dan dongeng atau kenalkan
pada anjing tetangga dan tak ada salahnya meminta si pemilik memperlihatkan
bagaimana menjalin keakraban dengan anjingnya tanpa harus merasa takut.

DAFTAR PUSTAKA
Hasan Mimun, 2009. Paud ( Pendidikan Anak Usia Dini ), Yogyakarta : Diva Press.
Soetjiningsih, Cristiana Hari, 2012. Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai dengan
Kanak-kanak Akhir, Jakarta : Prenadamedia Group.

Wibowo, Agus M.Pd, 2012. Pendidikan Karakter Usia Dini, Celeban Timur UH III / 548
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

MAKALAH
PENANGANAN KASUS ANAK USIA DINI : PENGERTIAN PAUD,
KARAKTERISTIK ANAK USIA DINI, PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI
MAKALAH INI DI BUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH : BK DI PAUD
DOSEN : Drs. NI KETUT ALIT SUARTI M. Pd

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK X
SYAHBUDDIN

( 12. 121.240)

IMA DWI WULANDARI

( 12.121.214)

ZULKIFLI

( 12.121.233)

JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP MATARAM
2015

LAMPIRAN FOTO

LAMPIRAN NAMA
Nama Anggota Kelompok X :

Sulastri
Kalamuddin
Syafaruddin
Heny Astuti
Dedi Robianto
Baiq Husna Mustika Sari
Yuli Wulandari

( 12. 121.092 )
( 12.121.098 )
( 12.121.097 )
(12.121.166)
(12.121.145)
(12.121.)
(12.121.)

Syahbuddin
Ima Dwi Wulandari
Zulkifli

(12.121.240)
(12.121.214)
(12.121.233)

MAKALAH BK DI PAUD
PENANGANAN KASUS ANAK USIA DINI MENGENAI PERMASALAHAN
ANAK USIA DINI LANGKAH-LANGKAH PENANGANAN KASUS ANAK USIA
DINI

OLEH : KELOMPOK 11
1. WENY ZURAIDA
2. HASANUL BASRI
3. GDE AGUS ARI YOGA P

( 12.121.215)
( 12.121.234)
( 12.121.223)

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN


JURUSAN BIMBINGAN dan KONSELING
INSTITUT KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN
MATARAM

2014
A. Pengertian anak usia dini
Menurut Beichler dan Snowman (Dwi Yulianti, 2010: 7), anak usia dini adalah
anak yang berusia antara 3-6 tahun. Sedangkan hakikat anak usia dini (Augusta, 2012)
adalah individu yang unik dimana ia memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan
dalam aspek fisik, kognitif, sosioemosional, kreativitas, bahasa dan komunikasi yang
khusus yang sesuai dengan tahapan yang sedang dilalui oleh anak tersebut.
Dari berbagai definisi, peneliti menyimpulkan bahwa anak usia dini adalah anak
yang
berusia 0-8 tahun yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik
maupun mental.
Masa anak usia dini sering disebut dengan istilah golden age atau masa emas.
Pada masa ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan
berkembang secara cepat dan hebat. Perkembangan setiap anak tidak sama karena setiap
individu memiliki perkembangan yang berbeda. Makanan yang bergizi dan seimbang
serta stimulasi yang intensif sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan
tersebut. Apabila anak diberikan stimulasi secara intensif dari lingkungannya, maka anak
akan mampu menjalani tugas perkembangannya dengan baik.
Masa kanak-kanak merupakan masa saat anak belum mampu mengembangkan
potensi yang ada dalam dirinya. Mereka cenderung senang bermain pada saat yang
bersamaan, ingin menang sendiri dan sering mengubah aturan main untuk kepentingan
diri sendiri. Dengan demikian, dibutuhkan upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi
semua aspek perkembangan, baik perkembangan fisik maupun
perkembangan psikis. Potensi anak yang sangat penting untuk dikembangkan. Potensipotensi tersebut meliputi kognitif, bahasa, sosioemosional, kemampuan fisik dan lain
sebagainya.
B. Jenis-jenis permasalahan anak
Secara garis besar, masalah yang dihadapi anak dapat digolongkan menjadi tiga,
yaitu masalah-masalah yang berkaitan dengan keadaan fisik, psikis, sosial, serta kesulitan
belajar.
1. Fisik
Perkembangan aspek fisik terkait dengan keutuhan dan kemampuan fungsi panca
indera anak, kemampuan melakukan gerakan-gerakan sesuai perkembangan usianya serta

kemampuan mengontrol pembuangan. Anak yang mengalami hambatan dalam hal-hal


tersebut dapat dikatakan mengalami masalah secara fisik. Lebih lanjut
permasalahan-permasalahan fisik tersebut adalah sebagai berikut :
a. Gangguan fungsi pancaindera
b. Cacat tubuh
c. Kegemukan (obesitas)
d. Gangguan gerak peniruan (stereotipik
e. Kidal
f. Gangguan Kesehatan (penyakit)
g. Hiperaktif
h. Neuropati
i. Ngompol (enuresis)
j. Buang air besar di sembarang tempat (encopresis)
k. Gagap
l. Gangguan perkembangan bahasa
2. Psikis
Permasalahan psikis anak terkait dengan kemampuan psikologis yang dimilikinya
atau ketidakmampuan mengekspresikan dirinya dalam kondisi yang tidak normal.
Beberapa permasalahan psikis yang seringkali dialami anak adalah sebagai berikut :
a. Gangguan konsentrasi
b. Inteligensi (baik tinggi maupun rendah)
c. Berbohong
d. Emosi(perasaan takut, cemas, marah, sedih, dan lain-lain)
3. Sosial
Perkembangan sosial anak berhubungan dengan kemampuan anak dalam
berinteraksi dengan teman sebaya, orang dewasa, atau lingkungan pergaulan yang lebih
luas. Dengan demikian, permasalahan anak dalam bidang sosial juga berkaitan dengan
pergaulan atau hubungan sosial, yang meliputi perilaku-perilaku sebagai berikut :
a. Tingkah laku agresif
b. Daya suai kurang
c. Pemalu
d. Anak manja
e. Negativisme
f. Perilaku berkuasa
g. Perilaku merusak
4. Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar pada anak dapat dimaknai sebagai ketidakmampuan anak dalam
mencapai taraf hasil belajar yang sudah ditentukan dalam batas waktu yang telah
ditetapkan dalam program kegiatan belajar, sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Beberapa indicator dan jenis kesulitan belajar yang mungkin dialami anak adalah sebagai
berikut :
a. Lower level
b. Underachiever
c. Slow learner
C. Faktor penyebab permasalahan anak
Terdapat beberapa faktor penyebab permasalahan pada anak, baik yang bersifat
intrinsik (berasal dari diri anak sendiri) maupun ekstrinsik (berasal dari luar diri anak).
Secara umum, faktor-faktor tersebut adalah:
1. pembawaan, yakni anak dengan semua keadaan yang ada pada dirinya;
2. lingkungan keluarga, mencakup pola asuh orang tua, keadaan sosial ekonomi keluarga,
dan lain-lain;
3. lingkungan sekolah, meliputi cara mengajar guru, proses belajar mengajar, alat bantu,
kurikulum, dan lain-lain);
4. masyarakat, mencakup pergaulan, norma, adat istiadat, dan lain-lain.
D. Cara mengidentifikasi permasalahan anak
Mengidentifikasi permasalahan anak diartikan sebagai upaya menemukan gejalagejala yang tampak pada penampilan dan perilaku anak dalam memperkirakan penyebab
masalah hingga bentuk bantuan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Berbagai cara dapat dilakukan orang tua dan guru untuk mengetahui apakah anak
mengalami permasalahan atau tidak. Cara-cara tersebut secara umum dibagi dua, yakni
melalui tes dan non tes.
1. Tes
Tes merupakan salah satu alat bantu yang dapat dipergunakan untuk
mengidentifikasi permasalahan anak yang bersifat standar/baku. Bentuk tes ini dapat
berupa pertanyaan-pertanyaan atau tugas tugas yang harus dijawab atau dikerjakan anak
serta dibatasi oleh waktu. Di antara beragam jenis tes yang banyak dipergunakan, di
antaranya adalah:
a. tes bakat;
b. inteligensi;
c. prestasi;
d. diagnostik;
e. dan lain-lain.
2. Non-tes
Teknik non tes biasanya dipergunakan untuk mengidentifikasi permasalahan anak
dengan cara mengamati penampilan serta perilaku anak dalam aktivitas kesehariannya

sehingga cenderung lebih fleksibel bila dibandingkan dengan teknik tes. Di samping itu,
dipergunakan pula kumpulan hasil karya dan pekerjaan anak selama periode waktu
tertentu.
Beberapa macam teknik non-tes yang populer, di antaranya adalah:
a. observasi;
b. wawancara;
c. angket;
d. portofolio;
e. catatan anekdot;
f. daftar cek;
g. skala penilaian;
h. sosiometri;
i. angket;
j. tugas kelompok;
k. dan lain-lain
E. Langkah-langkah penanganan dan teknik penangan masalah
1. Langkah-langkah penanganan masalah
Penanganan masalah anak dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah
sebagai berikut :
a. Identifikasi kasus, yakni upaya untuk menandai subjek (anak) yang
diperkirakan mengalami masalah.
b. Identifikasi masalah, yakni upaya mengetahui inti permasalahan yang dihadapi anak.
c. Diagnosis, merupakan langkah untuk mengidentifikasi karakteristik serta faktor
penyebab masalah yang dialami anak.
d. Prognosis, merupakan langkah untuk merumuskan alternatif upaya bantuan sesuai
dengan karakteristik permasalahan yang dialami.
e. Treatment, merupakan upaya pemberian bantuan itu sendiri.
f. Tindak lanjut, dilakukan sebagai bentuk evaluasi terhadap upaya pemberian bantuan
yang telah dilakukan serta kemungkinan penggunaan langkah-langkah berikutnya.
2. Teknik penanganan masalah
Pada hakikatnya, tidak ada satu pun teknik yang efektif untuk menangani
permasalahan anak yang berbeda-beda. Penggunaan suatu teknik akan bergantung
kepada karakteristik anak, jenis permasalahan, kemampuan serta keterampilan
pemberi bantuan, serta faktor feasibilitasnya.
Di antara berbagai teknik yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk
membantu menangani permasalahan anak adalah sebagai berikut :
a. Latihan
b. Permainan
c. Saran dan nasihat

d. Pengkondisian (conditioning)
e. Model dan peniruan (modeling and imitation)
f. Konseling
F. Syarat menangani permasalaan anak
Orang tua dan guru merupakan model bagi anak. Untuk dapat membantu
menangani permasalahan anak dengan tepat, orang tua dan guru diharapkan memiliki
beberapa karakteristik sebagai persyaratannya.
Beberapa karakteristik di bawah ini setidaknya dapat membantu mempermudah
orang tua dan guru dalam menangani permasalahan yang dihadapi anak, yaitu :
1. Kesabaran
2. Penuh kasih sayang
3. Penuh perhatian
4. Ramah
5. Toleransi terhadap anak
6. Empati
7. Penuh kehangatan
8. Menerima anak apa adanya
9. Adil
10. Dapat memahami perasaan anak
11. Pemaaf terhadap anak
12. Menghargai anak
13. Memberi kebebasan terhadap anak
14. Menciptakan hubungan yang akrab dengan anak

TUGAS
PENGEMBANGAN LAYANAN BK DI PAUD
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Bk di PAUD
Dosen :Dra. Ni Ketut Alit Suarti, M.Pd

Disusun Oleh
Kelompok 12 (Kelas VI.F)
6. Akhmad rhamdhani b.p
7. Ely sukmawati
8. I Nyoman Yogiswara

12.121.242
12.121.253
12.121.224

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP MATARAM

2015
PEMBAHASAN
PENGEMBANGAN LAYANAN BK DI PAUD
PAUD (pendidikan anak usia dini) merupakan salah satu jenjang pendidikan.
PAUD memiliki peran strategis dalam proses pendidikan secara keseluruhan karena ia
merupakan landasan dan wahana penyiapan anak untuk memasuki pendidikan dasar. Oleh
karena itu, PAUD harus memperoleh perhatian yang memadai.
Petualangan pencarian jati diri anak didik harus dimulai sejak dini atau dilembaga
PAUD. Sebab, penemuan dan pemahaman akan dirinya sendiri akan sangat membantu
mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan-lingkungan baru yang akan
dihadapi. Disamping itu, penemuan jati diri atau kepribadian anak didik dapat membantu
mereka dalam mengembangkan bakat, minat, dan potensinya.
Tetapi, penekanan bimbingan dan konseling dapat berubah-ubah, sesuai dengan
kebutuhan anak didiknya atau sesuai dengan taraf perkembangannya. Atas dasar ini,
maka bimbingan konseling di PAUD tidak boleh hanya terfokus pada tumbuh
kembangnya anak secara normal dan kompetensi calistung semata, melainkan juga harus
menemukan jati diri anak didik yang unik dan khas, sesuai dengan kepribadiannya.
Perlu ditegaskan disini bahwa bimbingan dan konseling di lembaga PAUD tidak
hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai perilaku bermasalah, melainkan juga
harus diberikan kepada mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan. Dengan demikian, konseling bukan hanya untuk mengatasi perilaku
bermasalah pada anak didik, melainkan juga tindakan untuk memenuhi kebutuhan
tumbuh kembangnya anak secara maksimal.
Asumsi dasar yang melandasi bahwa PAUD memerlukan bimbingan dan konseling
adalah kesetaraan PAUD sekarang ini dengan pendidikan dasar dan menengah. Jika di
lingkungan pendidikan dasar dan menengah bimbingan konseling sangat dibutuhkan,
otomatis PAUD juga membutuhkannya.

Selain keahlian dan pengalaman pendidik, faktor lain yang perlu dipehatikan
adalah kecintaan yang tulus pada anak, berminat pada perkembangan mereka, bersedia
mengembangkan potensi yang dimiliki pada anak, hangat dalam bersikap dan bersedia
bermain dengan anak.
A. PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGANAN KONSELING DI PAUD
1) Program bimbingan dan konseling
Program bimbingan dan konseling disusun berdasarkan struktur program dan
bimbingan dan konseling perkembangan
Adapun struktur program bimbingan dan konseling di PAUD
a. Pengembangan Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada
semua siswa (for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang
disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara
optimal.
Layanan ini bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh
perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh
keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu siswa agar mereka
dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Secara rinci tujuan layanan
dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa agar
(i) memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama),
(ii) mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung
jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri
(iii)

dengan lingkungannya,
mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya,

dan
(iv) mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan
hidupnya.
b. PengembanganLayanan Responsif
Layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada siswa yang
memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera.
Tujuan layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat memenuhi
kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa yang
mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. dan

sebagai upaya untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa


yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi,
karir, dan atau masalah pengembangan pendidikan.
c. Pengembangan Layanan perencanaan individual
bertujuan untuk membantu siswa agar
(i) memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya,
(ii) mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap
perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar,
(iii)
dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan
rencana yang telah dirumuskannya.
Melalui layanan individual, maka siswa dapat:
(i) Mempersiapkan diri untuk mengikuti pendidikan lanjutan, merencanakan
karir, dan mengembangkan kemampuan sosial-pribadi, yang didasarkan
atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja, dan
masyarakatnya.
(ii) Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian
tujuannya.
(iii)
Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya.
(iv)Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya.
d. Pengembangan Layanan Dukungan Sistem
Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada siswa
secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen layanan dan
kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa
atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah kegiatankegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan
meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan
profesinal; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat,
masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian dan pengembangan
2) Syarat-Syarat Program Layanan
Menurut Syaodih (2004) dalam menyusun suatu program bimbingan dan
konseling pada anak usia dini, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu :
a) Prinsip dasar bimbingan dan konseling anak usia dini

Pelaksanaan bimbingan konseling pada anaka usia dini tidak mengunakan


waktu dan ruang tersendiri seperti halnya bimbingan pada jenjang pendidikan yang
lebih tinggi. Nuansa bermain menjadi bagian dari pelaksanaan bimbingan karena dunia
anak adalah dunia bermain.
1. Esensi bimbingan dan konseling
Dalam pelakasanaannya, bimbingan juga diarahkan untuk membantu orang
tua agar memiliki pemahaman dan motivasi untuk turut mengembangkan
kemampuan anak karena kelekatan anak usia dini terhadap orang tua relative masih
tinggi.
2. Orientasi bimbingan dan konseling
Masa ini sering disebut sebagai masa Golden Age atau masa keemasan
karena pada masa ini anak sangat peka untuk mendapatkan rangsangan-rangsangan.
3. Konsep yang mendasari pelaksanaan bimbingan dan konseling
Pelaksanaan bimbingan konseling pada anak usia dini pada dasarnya
berangkat dari pemahaman tentang pengembangan anak bahwa setiap anak
memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda-beda.
4. Bentuk layanan bimbingan dan konseling
Istilah bentuk layanan bimbingan menunjuk pada jumlah anak pada saat
guru atau pendamping melakukan bimbingan. Bentuk layanan bimbingan dapat
dilakukan secara individual atau kelompok.
5. Setting layanan bimbingan konseling
Pada anak usia dini dapat menggunakan seting individual, kelompok dan
klasikal. Setting ini digunakan sangat tergantung dari kebutuhan layanan
bimbingan.
b) Penyusunan Program
Menurut Miller (Rochman Natawidjaja, 1998) program bimbingan yang baik,
yaitu program yang apabila dilaksanakan akan efesien dan efektif. Program tersebut
memiliki ciri, seperti :
1. Program itu disusun dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata
dari para siswa disekolah yang bersangkutan
2. Kegiatan bimbingan diatur menurut skala prioritas yang juga
ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dan kemampuan petugas
3. Program dikembangkan berangsur-angsur, dengan melibatkan semua
tenaga pendukung disekolah dalam merencanakannya
4. Program itu memiliki tujuan yang ideal, tetapi realistis dalam
pelaksanaanya.

5. Program itu mencerminkan komunikasi yang berkesinambungan


diantara semua anggota staf pelaksanaannya
6. Menyediakan fasilitas yang diperlukan
7. Penyusunannya disesuaikan dengan program pendidikan di lingkungan
di sekolah yang bersangkutan
8. Memberikan kemungkinan pelayanaan kepada semua siswa
9. Memperlihatkan peran yang penting dalam menghubungkan dan
memadukan sekolah dengan masyarakat
10. Berlangsung sejalan dengan proses penilaian diri baik mengenai
program itu sendiri maupun kemajuann dari siswa yang dibimbing
serta mengenai kemajuan pengetahuan, keterampilan dan sikap para
petugas pelaksanaannya
11. Program itu menjamin keseimbangan dan kesinambungan pelayanan
bimbingan.
c) Pelaksanaan Program
Pelaksanaan program dibagi dua bahasan, yaitu :
1. Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang berorientasi kepada semua
anak.
2. Pelaksanaan bimbingan dan konseling yang berorientasi kepada
masalah yang dihadapi anak.
B. RUANG LINGKUP BIMBINGAN UNTUK ANAK USIA DINI
1. Bimbingan Pribadi dan Sosial
Bimbingan ini dapat membantu anak dalam memecahkan masalah-masalah
pribadi social.
2. Bimbingan Belajar
Tujuan dan tugas pengembangan pendidikan melalui kegiatan bermain sambil
belajar yang mencakup pengembangan kemampuan dasar dan pembentukan perilaku.
3. Bimbingan karir
Bimbingan yang membantu anak dalam perencanaan, pengembangan dan
pemecahan masalah-masalah karir, seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas
kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan,
perencanaan dan pengembangan karir, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalahmasalah karir yang dihadapi secara sederhana.
C. Ruang Lingkup Layanan Bimbingan

Bimbingan bagi anak usia dini terdiri atas 5 bentuk layanan, yaitu
1) Layanan pengumpulan data
Layanan pengumpulan data dimaksudkan untuk menjaring informasi-informasi
yang diperlukan guru atau pendamping anak usia dini dalam memahami karakteristik,
kemampuan dan permasalahan yang mungkin dialami anak.
2) Layanan informasi
Layanan informasi dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pemahaman
baik untuk anak maupun bagi orang tua. Untuk anak usia dini yang relatif masih usia
muda, masih sangat sedikit informasi atau pengetahuan yang diketahui dan dipahami
anak.
3) Layanan Konseling
Proses konseling pada anak usia dini berbeda dengan konseling yang dilakukan
pada remaja atau orang dewasa. Layanan konseling dilakukan dengan mengikuti
beberapa langkah seperti yang diungkapkan dalam uraian terdahulu yaitu melakukan :
(1) Identifikasi masalah
(2) Diagnosis
(3) Prognosis
(4) Treatment, dan
(5) Evaluasi tindak lanjut
4) Layanan penempatan
Layanan penempatan, yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan anak
memperoleh penempatan yang tepat sesuai dengan kondisi dan potensinya.
5) Layanan evaluasi dan tindak lanjut
Layanan evaluasi dan tindak lanjut merupakan layanan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan penanganan yang telah dilakukan guru atau pendamping.
D. TEHNIK-TEHNIK BMBINGAN DAN KONSELING DI PAUD
Pelaksanaan layanan dan konseling di tk tidaklah sama seperti kita melaksanakan
bimbingan dan konseling disekolah sekolah seperti SMA dan SMP karena anak anak usia
tk masihlah sangat butuh perhatian yang lebih dari anak anak dewasa.
Membahas tentang teknik pendekatan pada anak tk ada beberapa teknik antara lain
adalah sebagai berikut:
1. Aktif

Apa yang di maksud aktif disini adalah guru harus menciptakan suasana
sedemikian rupa sehingga anak aktif bertanya , mempertanyakan dan menggemukakan
gagasan. Belajar harus merupakan suatu proses aktif dari anak dalam membangun
pengetahuannya, bukan hanya proses pasif yang hanya menerima penjelasan dari guru
tentang pengetahuan.
Anak usia dini lebih cepat lelah jika duduk diam di bandingkan kalau sedang
berlari, melompat, atau sedang bersepeda. Maka dengan belajar yang aktif ,motorik halus
dan motorik kasar mereka akan berkembang dengan baik . Melalui belajar aktif segala
potensi anak dapat berkembang secara optimal dan memberikan peluang anak untuk aktif
berbuat sesuatu sambil mempelajari berbagai pengetahuan dan semua itu tidak pernah
luput dari pengawasan kita.
Misalnya:
- Guru membiarkan anak
Anak bertanya sebanyak apapun walaupun terkadang pertanyaan merekamen jengkelkan
-

dan tak masuk akal


Membawa anak anak belajar diluar ruangan sesuai dengan pelajaran yang kita berikan

dan biarkan merekan berkreasi sesuka hati mereka dan tetap pengawasan guru
2. Kreatif
Kreatif artinya memiliki dayacipta , memiliki kemampuan untuk berkreasi. Peran
aktif anak dalam proses pembelajaranakanmenghasilkangenerasi yang mampu
menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan kepentingan orang lain. Kreatif
juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan kegiatan belajar yang beragam
sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan anak.
3. Efektif
Pembelajaran yang efektif terwujud karena pembelajaran yang dilaksanakan dapat
menumbuhkan daya kreatif bagi anak sehingga dapat membekali anak dengan berbagai
kemampuan setelah proses pembelajaran berlangsung kemampuan yang diproleh anak
tidak hanya berupa pengetahuan yang besifat verbalisme.namun diharapkan berupa
kemampuan yang lebih bermakna artinya tidak dapat mengembangkan berbagai potensi
yang ada dalam diri anak sehingga menghasilkan kemampuan yang beragam. Belajar
yang efektif dapat dicapai dengan tindakan nyata (learning by doing) karna bermain dan
bereksplorasi dapat membangun perkembangan otak , berbahasa, bernalar dan
bersosialisasi.
4. Menyenangkan

Perlu tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak


memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar hingga waktu curah perhatiannya
tinggi. Menurut hasil penelitian tingginya perhataian anak terbukti dapat meningkatkan
hasil belajar. Kondisi yang menyenangkan , aman dan nyaman akan mengaktifkan bagian
neo-cortex (otakberpikir) dan mengoptimalkan proses belajar dan meningkatkan
kepercayaan diri anak. Suasana kelas yang kaku, penuh beban menurunkan fungsi otak
menuju batang otak dan anak tidak bisa berfikir efektik, reatik dan agresif.
Misalnya:
Para guru menciptakan suasana yang menyenakanbagianak- anak
Para guru memberikan pujian bagi anak anak yang dapat menjawab pertanyaan
dari guru

DAFTAR PUSTAKA
Christianussandroarinkb9a3.blogspot/2013/03/bimbingan-konseling-anak-usia-dini.html
Diakses pada tanggal 02/14/2015
https//:mintotulus.wonderpress.com diakses pada tanggal 2/04/2015
melyloelhabox.com/2012/10/Ruang-LingkuP-Bimbingan-konseling.Html diakses pada
tanggal 02/04/2015
Suyadi . 2009. Buku Pegangan Bimbingan Konseling Untuk PAUD. jogjakarta: DIVA Pres.
tiamariati40.blogspot.com diakses pada tanggal 01/04/2015

PEMBAHASAN

A. Pengembangan Profesi GURU DI PAUD


Pendidikan anak usia dini memegang posisi yang sangat mendasar, karena
pendidikan pada masa ini memberikan pengaruh yang sangat membekas pada
perkembangan anak di fase-fase selanjutnya. Karena itu pendidikan anak usia dini perlu
mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak. Sayangnya masih
banyak permasalahan yang harus ditangani secara serius. Berkaitan dengan profesi tenaga
pendidik PAUD non formal, salah satu permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian
antara lain adalah masalah kualifikasi pendidikan yang masih belum memenuhi persyaratan.
Layanan-layanan PAUD sebagian besar dilakukan oleh tenaga pendidik dengan
kualifikasi pendidikan dengan kemampuan dasar yang bervariasi. Di lihat dari latar
belakang pendidikan masih banyak tenaga pendidik anak usia dini (PAUD non formal yang
berlatar belakang SLTA ke bawah), sementara Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005
mempersyaratkan bahwa pendidik pada pendidikan anak usia dini memiliki kualifikasi
akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1). Dengan demikian
tenaga pendidik anak usia dini non formal masih perlu ditingkatkan
kualifikasinya sampai memenuhi tuntutan yang dipersyaratkan.
Rendahnya kualitas kemampuan tenaga pendidik anak usia dini
ini berimplikasi terhadap rendahnya kualitas pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakan
di lembaga-lembaga PAUD. Sebagai contoh hingga saat ini masih terjadi praktik-praktik
pendidikan anak usia dini yang dipandang kurang tepat sehingga menimbulkan banyak kritik.
Misalnya pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran yang terlalu akademis, terstruktur
dan kaku; atau kegiatan pembelajaran yang lebih menekankan pada membaca, menulis,
dan berhitung; sementara di sisin lain masih banyak aspek perkembangan anak yang belum
mendapatkan perhatian yang seimbang seperti pengembangan kreativitas,
kemandirian, pengembangan konsep diri yang positif, pengendalian diri, serta perilakuperilaku positif lainnya.
Pengembangan profesi tenaga pendidik PAUD non formal secara garis besar dapat
dilakukan melalui tiga jalur, yaitu jalur individual, jalur kelembagaan, dan jalur organisasi
profesi. Jalur individual adalah usaha pengembangan profesi yang dilakukan oleh setiap

orang baik secara langsung maupun tidak langsung melaksanakan pekerjaan dan tugas
sebagai pendidik (guru, tutor, atau sebutan lainnya). Sedangkan jalur kelembagaan
adalah upaya pengembangan profesi pendidik PAUD yang diselenggarakan melalui lembaga
pendidikan formal, non formal, dan organisasi profesi.
1. Pengembangan Melalui Jalur Individual
Upaya-upaya individual yang dapat dilakukan pendidik PAUD
dalam mengembangkan kemampuan profesional, antara lain dengan jalan:

Belajar mencintai pekerjaan sebagai pendidik (guru, tutor). Ini berarti bahwa guru
belajar mencari hal-hal yang positif dari pekerjaannya sebagai pendidik, kemudian
mensyukuri pekerjaan tersebut. Mencintai pekerjaan dapat terjadi bila kita merasa
dekat dan akrab dengan pekerjaan itu, lalu menghayati makna pekerjaan itu bagi diri
sendiri, bagi anak didik, bagi masyarakat dan bagi agama.

Membaca majalah, jurnal, artikel, dan surat kabar yang


relevan dengan pendidikan anak usia dini. Kehidupan mengalami perkembangan yang sangat
pesat dalam segala bidang termasuk bidang pendidikan. Karena itu agar para pendidik
tidak tertinggal oleh perkembangan dunia pendidikan anak usia dini, maka pendidik
perlu mengikuti perkembangan tersebut secara kritis dengan jalan membaca sumbersumber bacaan yang tepat.

Belajar melalui bekerja (learning by doing). Ini adalah cara yang sangat efektif untuk
mengembangkan kemampuan profesional. Melalui bekerja para pendidik memperoleh
pengalaman yang berharga. Darinya para pendidik juga dapat mengkaji apakah yang kita
lakukan itu sudah tepat atau belum. Pengalamanpengalaman tersebut dapat dijadikan dasar bagi para pendidik untuk memperbaiki
kekeliruan dan kesalahan misalnya dalam merencanakan pembelajaran, menyajikan materi
pembelajaran, menerapkan metode pembelajaran, memilih dan menggunakan media
pembelajaran, serta mengevaluasi perkembangan anak. Demikian ketepatan dalam
bekerja dapat dijadikan dasar untuk memperkuat dan memantapkan pekerjaan tersebut.

Belajar bersama kawan atau teman sejawat. Melalui pertemuan yang dapat dilakukan
secara rutin dan berkala, para pendidik dapat membahas permasalahan yang ditemui di
tempat kerja masing- masing. Dengan belajar bersama teman sejawat, kita juga dapat
berbagi pengalaman yang berharga tentang masalah menghadapi anak, mengelola
pembelajaran, menyusun program pembelajaran, dan sebagainya.
2. Pengembangan Melalui Jalur Kelembagaan
Upaya-upaya pengembangan profesi pendidik PAUD non formal yang dapat
dilakukan melalui jalur kelembagaan antara lain:

Dibukanya kesempatan yang lebih terbuka dan lebih luas


bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependi dikan (LPTK) untuk menyelenggarakan
Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak usia Dini (PG-PAUD).

Lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan (LPTK) yang telah menyelenggarakan


program studi PG-PAUD hendaknya lebih mengintensifkan pelaksanaan proses
pendidikan guru. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan lebih memantapkan
kurikulumnya sehingga secara konsepsional atau teoritis sesuai dengan tingkat dan jenis
kompetensi yang dibutuhkan oleh pihak lapangan.

Lebih mengintensifkan kerja sama antar lembagapendidikan prajabatan/persiapan,


lembaga pelatihan/penataran dan lembaga PAUD sebagai medan kerja pendidik PAUD.

Mengaitkan penyelenggaraan pelatihan


/penataran dengan peningkatankualifikasi pendidikan. Hasil pelatihan/penataran hendaknya
dihargai seperti pendidikan persiapan, sehingga dapat dipergunakan untuk menentukan
kewenangan akademis.
3. Pengembangan Melalui Jalur Organisasi Profesi
Upaya-upaya yang dapat dilakukan melalui jalur organisasi profesi antara
lain:

Secara bertahap menguatkan keanggotaan organisasi profesi


pendidik PAUD non formal. Secara bijaksana dan berangsur-angsur keanggotaan organisasi
profesi pendidik PAUD non formal ditingkatkan sehingga mempunyai kualifikasi
pendidikan formal jenjang S1 serta kemampuan nyata yang bertingkat perguruan tinggi.

Secara berangsur-angsur dan bijaksana, diusahakan agar kode etik guru mampu menjiwai
kehidupan profesional guru.

Organisasi profesi hendaknya lebih intensif untuk meningkatkan usaha memperkaya


kegiatan forum-forum ilmiah yang membahas masalah-masalah profesional
pendidikan anak usia dini dan upaya pemecahannya.

B. Pengertian Profesi
Sebagai bandingan Edgard H. Schein dan Diana W. Komers mengemukakan bahwa
terdapat ciri unik dari profesi yaitu sebagai berikut :
1. Profesi adalah seperangkat keterampilan yang dikembangkan secara khusus melalui
seperangkat norma yang dianggap cocok dalam suatu masyarakat.
2. Seorang profesional dituntut memiliki landasan pengetahuan dan keterampilan yang
didapatkan dalam waktu yang panjang selama pendidikan dan pelatihan.
3. Seorang profesional harus berorientasi pada usaha memberikan layanan ahli serta dituntut
untuk dapat mengevaluasi unjuk kerjanya sebagai balikan bagi upaya peningkatan.
Ciri-Ciri Profesi dan Syarat Guru profesional
Seperti yang telah penyusun uraikan pada bagian A ciri-ciri profesi dapat diperluas
lagi dengan bagian-bagian berikut:
1. Pekerjaaan itu mempunyai fungsi dan signifikasi sosial, karena diperlukan sebagai
wujud pengabdian kepada masyarakat. Di pihak lain pengakuan masyarakat
merupakan syarat mutlak dari suatu profesi.

2. Menuntut keterampilan tertentu yang di peroleh lewat pendidikan dan pelatihan yang
intensif dan dilakukan dalam lembaga tertentu yang secara sosial dapat dipertanggung
jawabkan.
3. Profesi didukung oleh suatu disiplin ilmu.
4. Ada kode etik yang menjadi pedoman prilaku anggotanya, beserta sangsi yang jelas
dan tegas terhadap pelanggaran kode etik. (Pengawasan terhadap ditegakkannya kode
etik dilakukan oleh organisasi yang mewadahi profesi tersebut).
5. Sebagai konsekuensi dari layanan yang diberikan kepada masyarakat, maka secara
perorangan atau kelompok, penyandang profesi tersebut memperoleh imbalan
financial atau material.
Pendidik/guru di lembaga PAUD adalah suatu jabatan atau profesi yang memerlukan
kompetensi dan keahlian khusus di bidang pendidikan keusia dinian. Ciri yang harus
dimiliki seorang guru anak usia dini antara lain:
1. Memiliki kharisma atau wibawa dan dapat menjadi panutan atau teladan;
2. Memiliki tanggung jawab secara sadar dalam mendidik, mengajar, dan membimbing
anak;
3. Memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan
mengelola kelas secara professional (Sujiono, 2009).
4. Memiliki ketrampilan yang didasarkan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang
mendalam.
5. Memiliki suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
6. Memiliki tingkat pendidikan keguruan yang memadai
C.

KompetensiKepribadian Guru PAUD


Standarkemampuan yang

diperlukanuntukmenggambarkankualifikasiseseorangbaiksecarakualitatifdalampelaksanaa

ntugasnyadikenaldenganistilahkompetensi.Kompetensi di
dalamorganisasipendidikanmengandungunsur-unsur:

Attitude

Value

Personality
Kompetensikepribadianberkaitandenganperilaku guru

denganfalsafahhidup.Banyakmasalahpsikologi yang dihadapipesertadidikdalam proses


KBM, makaperan guru dalamhalinisebagaipembimbingdanseriteladan
Menurut Ki HajarDewantorodalamsistem Among guru adalahpanutan yang
digugudanditiru.
Dalammelihatdirisendiri, guru berpedomanpada:
o Self concept
o Self idea
o Self reality
Guru senantiasaberhadapandengankomunitas yang
berbedamakadiperlukankompetensikepribadian guru yang tolerandantenggang rasa. Salah
satukompetensi guru
dalammeningkatkankualitaspembelajaranadalahdenganmenghayatidinamikaorganisasipen
didikan.
Kemampuan guru
dalammengembangkandirinyadisesuaikandenganperubahandalambidangprofesidanspesial
isasinya. Guru bersamasamapesertadidikdapatmembangkitkaninisiatifuntukberkreasidalam proses belajar,
merupakansalahsatufungsi guru dalam system Among dikenaldengan
Ingmadyomangunkaso
Kompetensi guru PAUD diantaranyakompetensikepribadian,
yaknibersikapdanberperilakusesuaidengankebutuhanpsikologisanak,
kemudianberprilakusesuaidengannorma agama budayadankeyakinananak,
danmenampilkandirisebagaipribadiberbudipekertiluhur.
Kompetensikepribadianmerupakansejumlahkompetensi yang
berhubungandengankemampuanpribadidengansegalakarakteristik yang

mendukungterhadappelaksanaantugas guru.Beberapakompetensikepribadian guru


antaralainsebagaiberikut.
1. BerimandanbertakwakepadaTuhan yang MahaEsa.
2. Percayakepadadirisendiri.
3. Tenggang rasa dantoleran.
4. Bersikapterbukadandemokratis.
5. Sabardalammenjalaniprofesikeguruannya.
6. Mengembangkandiribagikemajuanprofesinya.
7. Memahamitujuanpendidikan.
8. Mampumenjalinhubunganinsani.
9. Memahamikelebihandankekurangandiri.
10.Kreatifdaninovatifdalamberkarya
Kompetensi yang berkaitandenganterbangunnyakonsepdiripositifpadadiriseorang
guru sehinggabisamenjadi model ataupuncontoh yang
baikbagianakdidiknya.Sepertisifatterpuji, caraberbicara, berpakaian, dansebagainya.
Dapat pula kitasebutkansebagaipengembangan attitude.
Banyakahli yang sependapatbahwa attitude sering kali
lebihberperandalampencapaiankesuksesanseseorang di bidangnya.Karenakecerdasan,
kemampuan, wawasan,
keterampilanataukeahlianseseorangtidakmenjadiberartiapabilaindividutersebuttidakmemil
ikisikap/attitude yang baik.
Selainpengembangansikapterpujidan yang patutditauladani, seorang guru
jugaperluuntukmemilikikonsepdiri yang
positif.Mengetahuikekuatan/keunggulansertakekuranganpadadirinya.Penilaiansecaraobje
ktifterhadapdirisendiriakanmemberikandampakpositifbagipengembangankonsepdiriseseor
ang.
Mengenalikeunggulandalamdirikitasecarajujurdanobjektifbukanberartiharusdikat
akan menyombongkan diri, tetapisebaiknyabisaberdampakpadapeningkatan rasa
syukurkitaataskaruniaTuhan yang diberikankepadakita. Demikiansebaliknya,
bilakitamemahamisegalakekuranganpadadirisendiri, bukanberartimenjadiindividu yang
rendahdirimelainkanberbuatbanyakhalsehinggabisameminimalisirsegalakekurangan.

D. Menjadi Guru Profesional.


Menjatuhkan pilihan hidup untuk menjadi guru PAUD merupakan tanggung
jawab besar. Sebab, mendidik anak di usia dini tidak bisa dianggap remeh. Secara
sepintas, mengurusi anak-anak usia dini terlihat praktis dan mudah, namun bila dalam
pelaksanaan mekanismenya guru melakukan sedikit kesalahan saja, bisa berakibat fatal.
Profesionalitas guru PAUD merupakan keniscayaan utama. Di sini, guru-guru
PAUD yang ideal sangat dibutuhkan bagi perkembangan pendidik anak Indonesia.
Artinya, ia mampu menjalani profesi sesuai prosedur, menjunjung tinggi etika dan ilmu,
serta memiliki etos untuk melahirkan berbagai inovasi bagi perkembangan PAUD itu
sendiri. Hal yang tidak kalah penting yaitu sedini mungkin menghindarkan diri dari
berbagai kesalahan dalam mengajar anak didik yang kerap diabaikan. Jangan sekalisekali mengacuhkan dengan bersikap tidak mau tahu atau menganggap sebuah kesalahan
kecil karena merupakan hal sepele. Sebab, percikan api saja berakibat membakar seluruh
isi dan penghuni kampong. Begitu pun kesalahan dalam mengajar yang akan
menimbulkan akses negative di kemudian hari.
Sebagai telah diutarakan sebelumnya, bila telah berkomitmen menjalani
pengabdian melalui mengajar di lingkungan PAUD, ia harus mengetahui konsekuensinya.
Berikut ilustrasinya:
Secara sepintas, barang kali kita akan berasumsi bahwa pekerjaan seorang dokter
umum itu mudah dan sederhana. Ia hanya duduk manis di dalam ruangan untuk
menunggu pasien. Ketika ada pasien datang, ia hanya melakukan sedikit diagnosis
dengan penyakit. Lantas, dokter memberikan wajangan seputar kesehatan, di ikuti
pemberian resep obat bagi pasien. Namun, seandanya saja seorang dokter itu salah dalam
memberikan pelayanan maupun obat, mampu berakibat fatal.
Sama halnya dengan profesi guru PAUD. Bila ia melakukan sebuah kesalahan
yang dianggap bisa saja, hal tersebut berakibat fatal. Hal ini bisa beralasan karena selain
faktor psikomotorik anak di kemudian hari. Faktor negatif yang mengendap dalam diri
seorang anak didik mampu menimbulkan ekses negatif berkepanjangan. Tidak salah saja

ada sebuah adagium yang mengatakan, belajar di waktu kecil ibarat mengukir di atas
batu. Maka, faktor metode pengajaran guru PAUD sangat berperan besar.
Sebagian orang boleh berpandangan sederhana ketika mengecap profesi pengajar
PAUD adalah aktifitas mudah, seperti bermain dan bernyanyi, namun tidak sesederhana
itu. Bahkan, boleh jadi paling sulit diantara jenjang pendidikan lainnya. Selain harus
memiliki mental sebagai pribdi penyayang kepada anak-anak didiknya, guru PAUD juga
harus memiliki kepribadian menarik, menguasai pedagogik literatr ilmu pengetahuan
seputar ilmu pendidikan, psikologi perkembangan anak, konsep-konsep dasar bidang
studi dan pembelajaran dalam anak. Selanjutnya, ia juga dituntut untuk menguasai
administrasi pendidikan dan manajemen pendidikan dasar.
Para pendidik anak usia dini harus mengikuti perkembangan masyarakat karena
usia anak dini lebih dominan dan peka terhadap berbagai hal baru yang ada
dilingkungannya. Bisa dibayangkan bila secara tidak terduga, peserta didik mengetahui
terlebih dahulu tentang sesuatu hal daripada gurunya.
Ibarat kata, sedia payung sebelum hujan. Untuk menghindari terjadi sesuatu yang
tidak diinginkan bagi perkembangan anak di kemudian hari, diperlukan kecerdasan para
pendidik anak usia dini dalam menyikapinya secara bijak, yakni dengan mengetahui
beragam kesalahan dalam mengajar yang kerap dianggap sepele.hal ini bertujuan agar
guru PAUD mampu membaca kondisi dengan teliti berkenaan dengan lingkungannya
mengajar. Guru PAUD juga diharapkan dapat menelaah kembali, merenungi dan
menjauhi berbagai kesalahan demi keberlangsungan mental anak yang baik di kemudian
hari dan cita-cita mencerdaskan anak bangsa dan tercapai. Sehingga, Indonesia menjadi
bangsa yang berperadaban maju melalui guru yang berkecipung dan mengabdi untuk
dunia pendidikan anak usia dini diseluruh pelosok Indonesia.

E. Kode Etik Profesi Guru


Dalam melaksanakan tugas mendidik, guru melakukan hubungan sosial dengan
semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan itu. Guru berhubungan langsung

dengan murid-murid, teman sejawat dan dengan masyarakat khususnya orang tua murid.
Kode etik bagi suatu organisasi professional adalah sangat penting dan menasar karena
kode etik ini merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku yang dijungjung
tinggi oleh setiap anggotanya. Karena itu, dengan sendirinya kode etik berfungsi untuk
mendinamisir setiap anggotanya guna meningkatkan diri, dan meningkatkan layanan
profesionalnya demi kemaslahatan orang lain. Hanya dengan cara demikian inilah
petugas professional tersebut tidak akan ketinggalan jaman.
Menurut ketentuan yang termuat dalam Landasan dan Pedoman Organisasi PGRI
(Kode Etik PGRI, 1974) bahwa didalam menunaikan kerjanya sebagai seorang
professional Guru Indonesia mempedomani dirinya dengan kode etik sebagai berikut:
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia

pembangunan yang ber-Pancasila.


2. Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan
kebutuhan anak didik masing-masing
3. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak

didik. Tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaannya.


4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan
orangtua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan anak didik.
5. Guru memelihara hubungan baik dengan anggota masyarakat disekitar sekolahnya
maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6. Guru secara sendiri-sendiri dan /atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan

meningkatkan mutu profesionalnya.


7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan
lingkungan kerja maupun di dalam keseluruhan.
8. Guru secara bersama-sama memeihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi

guru professional sebagai sarana pengabdiannya.


9. Guru melaksanakan segala ketentuan dan segala ketentuan yang merupakan

kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.

K E S I M PU LAN

Setelah mengikuti uraian terdahulu, berikut ini akan dikemukakan beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
Pembangunan untuk meningkatkan kualitas pendidikan memerlukan dukungan
banyak faktor, salah satu faktor penting, bahkan terpenting, adalah peran tenaga pendidik
yang sangat menentukan dalam peningkatan kualitas pendidikan tersebut.
Oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengembangkan profesi tenaga pendidik
agar semakin berkualitas sehingga dapat berperan lebih produktif dalam upaya
peningkatan kualitas pendidikan.
Dalam pengembangan profesi tenaga pendidik sebagai perancang masa depan, hal
yang penting adalah membangun kemandirian di kalangan tenaga pendidik sehingga
dapat lebih mampu untuk mengaktualisasikan dirinya guna mewujudkan pendidikan yang
berkualitas. Dalam hubungan ini tujuh pelajaran seperti yang diikemukakan oleh Prof
Idochi dapat menjadi dasar pengembangan tersebut, sehingga dapat tumbuh sikap inovatif
tenaga pendidik/pendidikan dalam melaksanakan peran dan tugasnya mendidik
masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, HM. Idochi dan YH Amir (2001). Administrasi Pendidikan, Teori, Konsep, dan Isu,
Program Pascasarjana. UPI
Buchori, Mochtar. 1994a Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia, Tiara Wacana,
Yogya, Cetakan Pertama,

, 1994b. Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan, Tiara Wacana, Yogya, cetakan
pertama,.
, 2001. Transformasi Pendidikan, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, Cetakan Kedua
Tanpa penulis.2007.prinsip dan praktik pendidikan anak usia dini.jakarta: direktorat PAUD.

LAMPIRAN
KELOMPOK 13 ( PENGEMBANGAN PROPESI DI PAUD)

KELAS C
1. ISKANDAR ZULKARNAEN
2. MEYSATUN ZOHRIATI
3. FITRI ANGGUN LESTARI
KELAS D
1. SAIPULLAH

(12.121.093)
(12.121.125)
(12.121.115)

(12.121.167)

2. RAHMANIAH
3. L. ARDIANRAFSANJANI
KELAS E
1. DENEK BINI DESINTA TRI WINANDA
2. NILA ROSALINDA
KELAS F
1. NOVI KARMILAYANTI
2. BAIQ UTAMI YUNINGSIH
3. ITTIBA UNNURRAIN

(12.121.135)
(12.121.134)

(12.121.185)
(12.121.201)
(12.121.243)
(12.121.216)
(12.121.237)

DAFTAR PUSTAKA

1. Gibson, Robert L. 2011. Bimbingan dan Konseling (Alih Bahasa dari


Introduction to Counceling and Guidance). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
2. Jamaris, Martini. 2005. Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia
Taman Kanak-Kanak, Jakarta: Grasido.
3. Rusda Koto Sutadi dan Sri Maryati Deliana, Permasalahan Taman
Kanak-Kanak, Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Dirjen
Dikti, Proyek Pendidikan Tenaga Akademik
4. Suyadi, 2009. Bimbingan Konseling Untuk PAUD, Yogyakarta: DIVA
Press.
5. Suyanto, Slamet. 2003. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini,
Jakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
6. Patmonodewo, Sumantri, 2003. Pendidikan Prasekolah, Jakarta: Rineka
Cipta.
7. Prayitno, 2009: Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka
Cipta.
8. Wardati, Jauhar Muhammad, 2011. Implementasi Bimbingan &
Konseling di Sekolah, Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Yuliani Nurani Santosa, 2012. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini,
Jakarta: Indek.