Anda di halaman 1dari 56

Vol. 7, No.

1, Juni 2014

ISSN 1978-9998

l Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT Siam Maspion Terminal
GresikJawa Timur

l Analisis Pengaruh Tingkat Pendapatan Tukang Sayur Keliling Perempuan Terhadap Kesejahteraan
Keluarga di Desa Tegal Bai Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember Tahun 2014

l Analisis Strategi Kebijakan Pemerintah Berkenaan dengan Konsumsi untuk Pertumbuhan


Ekonomi

l Teaching Speaking For Debating Using Argumentative Essay

l Pendekatan Sistem Manajemen dalam Pencapaian Tujuan

l Pentingnya Audiensi Konsumen dalam Merancang Strategi Periklanan yang Efektif

l Pembentukan Karakter Kewirausahaan Bagi Anak Panti Agar Memiliki Jiwa Entrepreneur

Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (KOPERTIS) Wilayah VII


Ekonomika
J. Ekonomi

Vol. 7

No. 1

Hal. 148

Surabaya
Juni 2014

ISSN
1978-9998

Vol. 7, No. 1, Juni 2014

ISSN 1978-9998

JURNAL EKONOMI
Diterbitkan oleh Kopertis Wilayah VII sebagai terbitan berkala yang menyajikan informasi dan analisis persoalan
ilmu Ekonomi.
Kajian ini bersifat ilmiah populer sebagai hasil pemikiran teoritik maupun penelitian empirik. Redaksi menerima
karya ilmiah/hasil penelitian atau artikel, termasuk ide-ide pengembangan di bidang ilmu Ekonomi.
Untuk itu JURNAL EKONOMI mengundang para intelektual, ekspertis, praktisi, mahasiswa serta siapa saja berdialog
dengan penuangan pemikiran secara bebas, kritis, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Redaksi berhak menyingkat
dan memperbaiki karangan itu sejauh tidak mengubah tujuan isinya. Tulisan-tulisan dalam artikel JURNAL EKONOMI
tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi. Dilarang mengutip, menerjemahkan atau memperbanyak kecuali dengan
izin redaksi.

pengarah

Prof. Dr. H. Sugijanto, MS. Apt.


penanggung jawab

Prof. Dr. Ali Maksum


pemimpin redaksi

Drs.Ec. Purwo Bekti, M.Si.


wakil pemimpin redaksi

Drs. Supradono, MM.


sekretaris redaksi

Suyono, S.Sos., M.Si.


penyunting

Prof. Dr. Tatik Suryani, MM; Drs.Ec. Sujoko Efferin, M.Com(Hons)., MA., Ph.D.;
Dr. Akhmad Riduwan, SE., M.S.A., Ak.
redaksi pelaksana

Indera Zainul Muttaqien, ST.; Muhammad Machmud, S.Kom.;


Dhani Kusuma Wardhana, A.Md.; Sutipah
tata usaha/sirkulasi

Tri Puji Rahayu, S.Sos.; Cindy Charisma Satriyo, S.Sos.; Soetjahyono


Alamat Redaksi:



Kantor Kopertis Wilayah VII (Seksi Sistem Informasi)


Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No. 177 Surabaya
Telp. (031) 5925418-19, 5947473 psw. 120 Fax. (031) 5947479
Situs Web: http//www.kopertis7.go.id, E-mail: jurnal@kopertis7.go.id

Vol. 7, No. 1, Juni 2014

ISSN 1978-9998

JURNAL EKONOMI

DAFTAR ISI (CONTENTS)


Halaman (Page)

1. Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT Siam Maspion Terminal
GresikJawa Timur
Djoko Soelistya, Amiartuti Kusmaningtyas...................................................................................

19

2. Analisis Pengaruh Tingkat Pendapatan Tukang Sayur Keliling Perempuan Terhadap Kesejahteraan
Keluarga di Desa Tegal Bai Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember Tahun 2014
Indria Yuli Susanti..............................................................................................................................

1014

3. Analisis Strategi Kebijakan Pemerintah Berkenaan dengan Konsumsi untuk Pertumbuhan


Ekonomi
Hadi Sutrisno.......................................................................................................................................

1522

4. Teaching Speaking For Debating Using Argumentative Essay


Elli Setiyo Wahyuni............................................................................................................................

2330

5. Pendekatan Sistem Manajemen dalam Pencapaian Tujuan


Anang Dwi Putransu Aspranawa.....................................................................................................

3135

6. Pentingnya Audiensi Konsumen dalam Merancang Strategi Periklanan yang Efektif


Jokhanan Kristiyono..........................................................................................................................

3641

7. Pembentukan Karakter Kewirausahaan Bagi Anak Panti Agar Memiliki Jiwa Entrepreneur
Misrin Hariyadi dan Badruli Martati.........................................................................................

4248

Dicetak oleh (printed by) Airlangga University Press. (136/08.14/AUP-A9E). Kampus C Unair, Mulyorejo Surabaya 60115, Indonesia.
Telp. (031) 5992246, 5992247, Fax. (031) 5992248. E-mail: aup.unair@gmail.com
Kesalahan penulisan (isi) di luar tanggung jawab AUP.

PANDUAN UNTUK PENULISAN NASKAH

Jurnal ilmiah JURNAL EKONOMI adalah publikasi


ilmiah enam bulanan yang diterbitkan oleh Kopertis
Wilayah VII. Untuk mendukung penerbitan, selanjutnya
redaksi menerima artikel ilmiah yang berupa hasil
penelitian empiris dan artikel konseptual dalam bidang
ilmu Ekonomi.
Naskah yang diterima hanya naskah asli yang belum
pernah diterbitkan di media cetak dengan gaya bahasa
akademis dan efektif. Naskah terdiri atas:
1. Judul naskah maksimum 15 kata, ditulis dalam bahasa
Indonesia atau bahasa Inggris tergantung bahasa
yang digunakan untuk penulisan naskah lengkapnya.
Jika ditulis dalam bahasa Indonesia, disertakan pula
terjemahan judulnya dalam bahasa Inggris.
2. Nama penulis, ditulis di bawah judul tanpa disertai gelar
akademik maupun jabatan. Di bawah nama penulis
dicantumkan instansi tempat penulis bekerja.
3. Abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa
Inggris tidak lebih dari 200 kata diketik 1 (satu) spasi.
Abstrak harus meliputi intisari seluruh tulisan yang
terdiri atas: latar belakang, permasalahan, tujuan,
metode, hasil analisis statistik, dan kesimpulan,
disertakan pula kata kunci.
4. Artikel hasil penelitian berisi: judul, nama penulis,
abstrak, pendahuluan, materi, metode penelitian,
hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan, dan daftar
pustaka.
5. Artikel konseptual berisi: judul, nama penulis, abstrak,
pendahuluan, analisis (kupasan, asumsi, komparasi),
kesimpulan dan daftar pustaka.
6. Tabel dan gambar harus diberi nomor secara berurutan
sesuai dengan urutan pemunculannya. Setiap gambar
dan tabel perlu diberi penjelasan singkat yang
diletakkan di bawah untuk gambar. Gambar berupa
foto (kalau ada), disertakan dalam bentuk mengkilap
(gloss).
7. Pembahasan berisi tentang uraian hasil penelitian,
bagaimana penelitian yang dihasilkan dapat memecahkan
masalah, faktor-faktor apa saja yang memengaruhi hasil
penelitian dan disertai pustaka yang menunjang.
8. Daftar pustaka, ditulis sesuai aturan penulisan
Vancouver, disusun berdasarkan urutan kemunculannya

bukan berdasarkan abjad. Untuk rujukan buku urutannya


sebagai berikut: nama penulis, editor (bila ada), judul
buku, kota penerbit, tahun penerbit, volume, edisi, dan
nomor halaman. Untuk terbitan berkala urutannya sebagai
berikut: nama penulis, judul tulisan, judul terbitan, tahun
penerbitan, volume, dan nomor halaman.
Contoh penulisan Daftar Pustaka:
1. Grimes EW, A use of freeze-dried bone in Endodontic,
J. Endod, 1994: 20: 3556
2. Cohen S, Burn RC, Pathways of the pulp. 5th ed.,
St. Louis; Mosby Co 1994: 12747
3. Morse SS, Factors in the emergence of infectious
disease. Emerg Infect Dis (serial online), 1995
Jan-Mar, 1(1): (14 screen). Available from:
UR L: http//www/cdc/gov/ncidod/EID/eid.htm.
Accessed Desember 25, 1999.
Naskah diketik 2 (dua) spasi 12 pitch dalam program MS
Word dengan susur (margin) kiri 4 cm, susur kanan 2,5 cm,
susur atas 3,5 cm, dan susur bawah 2 cm, di atas kertas A4.
Setiap halaman diberi nomor halaman, maksimal
12 halaman (termasuk daftar pustaka, tabel, dan gambar),
naskah dikirim sebanyak 2 rangkap dan 1 disket (CD).
Redaksi berhak memperbaiki penulisan naskah tanpa
mengubah isi naskah tersebut. Semua data, pendapat
atau pernyataan yang terdapat pada naskah merupakan
tanggungjawab penulis. Naskah yang tidak sesuai dengan
ketentuan redaksi akan dikembalikan apabila disertai
perangko.

Naskah dapat dikirim ke alamat:


Redaksi/Penerbit:
Kopertis Wilayah VII
d/a Seksi Sistem Informasi
Jl. Dr. Ir. H. Soekarno No. 177 Surabaya
Telp. (031) 5925418-19, 5947473 psw. 120
Fax. (031) 5947479
E-mail: jurnal@kopertis7.go.id
Homepage: http//www.kopertis7.go.id,

- Redaksi -

Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja


Karyawan PT Siam Maspion Terminal GresikJawa Timur
Djoko Soelistya, Amiartuti Kusmaningtyas
E-mail: djoko_soelistya@yahoo.com; amiartuti_kusmaningtyas@yahoo.com
abstrak

Pada umumnya perusahaan menempatkan kinerja karyawan sebagai tujuan perusahaan, hal tersebut disebabkan karena kinerja
karyawan merupakan pendukung utama kinerja perusahaan yang menjadi harapan stakeholders dari perusahaan tersebut. Penelitian
ini menganalisis pengaruh kompetensi dan motivasi kerja karyawan terhadap kinerja karyawan. Penelitian ini dilaksanakan pada PT
Siam Maspion Terminal Gresik Jawa Timur. Unit sampel penelitian ini adalah seluruh karyawan (metode sensus), dengan populasi yang
berjumlah 37 orang karyawan. Metode pengumpulan data digunakan dengan kuesioner. Hasil pengujian terhadap model pada penelitian,
dengan menggunakan analisis regresi berganda, dan dengan bantuan software SPSS, pada 37 responden, mampu menjelaskan hubungan
antara kompetensi dan motivasi kerja karyawan terhadap kinerja karyawan pada PT Siam Maspion Terminal Gresik Jawa Timur.
Hasil penelitian diperoleh nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,672, hal ini menunjukkan bahwa, karyawan dengan kompetensi
yang baik dan dengan adanya motivasi yang tingi maka, akan mendorong naiknya kinerja karyawan pada PT Siam Maspion Terminal
Gresik Jawa Timur sebesar 67,2%. Hal lain yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa faktor kompetensi dalam model penelitian,
menjadi faktor yang paling dominan pengaruhnya terhadap kinerja karyawan pada PT Siam Maspion Terminal Gresik Jawa Timur,
sebesar 82,8%.
Kata kunci: Kompetensi, Motivasi, Kinerja karyawan

pendahuluan

Sumber daya manusia diyakini oleh banyak kalangan


sebagai aset terpenting perusahaan karena keberhasilan
perusahaan tergantung pada bagaimana perusahaan
mengelola karyawannya. Peranan sumber daya manusia
dewasa ini mengalami perubahan yang sangat signifikan
disebabkan terjadi perubahan lingkungan yang semakin
kompleks. Globalisasi, perkembangan teknologi informasi,
demokrasi, pendidikan, kebebasan media massa merupakan
bagian pendorong kompleksitas lingkungan.
Persoalan yang ada adalah bagaimana dapat menciptakan
sumber daya manusia yang dapat menghasilkan kinerja
yang optimal sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.
Produktivitas kerja merupakan tuntutan utama bagi
perusahaan agar kelangsungan hidup atau operasionalnya
dapat terjamin. Produktivitas suatu badan usaha dapat
memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah maupun
pusat, khususnya perusahaan eksport untuk meningkatkan
devisa negara guna dapat menunjang perekonomian baik
secara makro maupun mikro.
Dalam perusahaan jasa operasional ke pelabuhan,
produktivitas individu maupun kelompok sangat
memengaruhi kinerja perusahaan, hal ini disebabkan oleh
adanya proses pekerjaan yang membutuhkan ketepatan
waktu dan aman (safe) bagi customer, sehingga jasa
yang diberikan bisa diterima dengan baik. Mengingat
permasalahannya sangat kompleks, maka pihak-pihak yang
terlibat dalam proses pengoperasian pelabuhan harus cermat

dalam mengamati sumber daya yang ada. Banyak hal yang


dapat memengaruhi produktivitas kerja, sehingga pengusaha
harus menjaga faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
kinerja agar dapat terpenuhi secara maksimal. Peningkatan
kinerja karyawan secara perorangan akan mendorong
kinerja sumbar daya manusia secara keseluruhan, yang
direfleksikan dalam kenaikan produktivitas.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan penilaian
kinerja merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan
dengan perusahaan. Penilaian kinerja dengan berbagai
bentuk seperti key performance indicator atau key
performance Index pada dasarnya merupakan suatu sasaran
dan proses sistimatis untuk mengumpulkan, menganalisis
dan menggunakan informasi untuk menentukan efisiensi
dan efektivitas tugas-tugas karyawan serta pencapaian
sasaran. Menurut Amstrong (2008), penilaian kinerja
didasarkan pada pengertian knowledge (pengetahuan), skill
(keterampilan), expertise (keahlian) dan behavior (perilaku)
yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan dengan baik
dan analisis lebih luas terhadap attributes (sifat) dan perilaku
individu.
Dalam manajemen kinerja kompetensi lebih berperan
pada dimensi perilaku individu dalam menyesuaikan suatu
pekerjaan dengan baik. Attributes terdiri dari knowledge,
skill dan expertise. Kompetensi merupakan perpaduan
dari pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang
dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari
dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku
kognitif, efektif dan psikomotorik dengan sebaik baiknya

McAshan (Mangkunegara, 2010: 38). Kompetensi kinerja


dapat diartikan sebagai perilaku-perilaku yang ditunjukkan
mereka yang memiliki kinerja yang sempurna. Kompetensi
dapat digunakan sebagai kriteria utama untuk menentukan
kerja seseorang, misalnya, untuk fungsi jabatan manajerial
atau operasional. Karyawan-karyawan yang ditempatkan
pada tugas-tugas tersebut akan mengetahui kompetensikompetensi apa saja yang diperlukan, serta cara apa yang
harus ditempuh untuk mencapai promosi ke jenjang posisi
berikutnya. Perusahaan sendiri hanya akan mempromosikan
karyawan-karyawan yang memenuhi kompetensikompetensi yang dibutuhkan dan dipersyaratkan oleh
perusahaan. PT. Siam Maspion Terminal Gresik, tidak
terlepas dari kondisi-kondisi di atas, karena itu perusahaan
perlu meningkatkan, mengembangkan, dan memperbaiki
kinerja karyawan. Perusahaan perlu mengembangkan model
kompetensi yang berintegrasi dengan tolok ukur penilaian
kinerja yang dapat dijadikan dasar pengembangan Sumber
Daya Manusia.
Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan
kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan,
seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat
kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang
tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa
pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan
dan bagaimana mengerjakannya (Hersey and Blanchard:
2001). Sumber daya manusia yang berbakat, berkualitas,
bermotivasi tinggi dan mau bekerja sama dalam team
akan menjadi kunci keberhasilan organisasi. Karena itu
pimpinan harus dapat menetapkan sasaran kerja yang
akan menghasilkan karyawan yang berkualitas tinggi,
bermotivasi tinggi dan produktif. Penetapan target-target
spesifik dalam kurun waktu tertentu tidak hanya bersifat
kuantitatif tetapi juga bersifat kualitatif misalnya, dengan
pengembangan diri untuk menguasai pengetahuan dan
keahlian yang diperlukan untuk pekerjaan dengan tingkat
kompetensi yang makin baik.
Penilaian kinerja karyawan sebagai pelaku dalam
organisasi dengan membuat ukuran kinerja yang sesuai
dengan tujuan organisasi. Standar penilaian kinerja suatu
organisasi harus dapat diproyeksikan ke dalam standar
kinerja para karyawan sesuai dengan unit kerjanya.
Evaluasi kinerja harus dilakukan secara terus menerus agar
tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Perusahaan perlu mengetahui berbagai kelemahan atau
kelebihan karyawan sebagai landasan untuk memperbaiki
kelemahan dan menguatkan kelebihan dalam rangka
meningkatkan produktivitas karyawan.
PT. Siam Maspion Terminal merupakan perusahaan joint
venture antara PT Maspion (Indonesia) dan Siam Cement
Group (Thailand). Perusahaan ini bergerak di bidang Jasa
ke pelabuhan yaitu jasa bongkar muat barang curah cair
dan gas yang berlokasi di Manyar, Gresik, Jawa Timur yang
berada di Kawasan Maspion Industrial Estate. PT. Siam

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 19

Tabel 1. Posisi Man Power pada PT.


Siam Maspion
Terminal Gresik.
No.
1
2
3
4
5

Organisasi
Departemen Maintenance dan operation
Departement Personalian dan GA
Departemen Accounting
Departemen Safety
Departemen Security
Total

Karyawan
12
3
1
2
19
37

Sumber: Dept. Personalia PT. Siam Maspion Terminal Gresik


(2012)

Maspion Terminal Gresik memiliki sejumlah 37 karyawan


yang terdistribusi pada 5 departemen, yaitu: Departemen
Maintenance dan operation, Departemen Personalia dan
GA, Departemen Accounting, Departemen Safety, dan
Departemen Security, yang memerlukan penanganan
pengembangan untuk dapat meningkatkan kinerja individu,
yang berakibat pada peningkatan produktivitas organisasi.
Tabel 2 memperlihatkan bahwa jumlah Cargo Bongkar
Muat PT. Siam Maspion Terminal Gresik, cenderung
mengalami peningkatan selama 4 (empat) tahun terakhir
yaitu: 188,931.00095,181.698 = 93,749.302 Metric Ton, dan
bila dilihat dari persentase peningkatan dari tahun ke tahun,
maka dari tahun 20082009, terjadi kenaikan di tahun
2009, untuk Cargo naik sebesar = 17,4%, dan Revenue naik
sebesar = 18,6%. Berdasarkan tahun 20092010, terjadi
kenaikan di tahun 2010, untuk Cargo naik sebesar = 25,5%,
dan Revenue naik sebesar = 25,8%. Demikian juga untuk
tahun 2011, terjadi kenaikan yang cukup besar.
Jumlah karyawan perusahaan tidak mengalami
peningkatan selama 4 (empat) tahun terakhir. Kondisi ini
mengindikasikan bahwa kinerja karyawan yang cenderung
meningkat dengan jumlah karyawan yang tetap setiap
tahunnya.
Kondisi tersebut mendorong peneliti untuk mengadakan
penelitian dengan mencari penjelasan secara mendasar
bahwa faktor apa sesungguhnya yang menyebabkan
pencapaian kinerja karyawan di PT. Siam Maspion Terminal
Gresik ini relatif terjadi peningkatan yang signifikan setiap
tahun. Dalam hal ini sangat perlu dilakukan penelitian
secara cermat tentang pengaruh motivasi kerja terhadap
kompetensi karyawan dan dampaknya pada kinerja
Tabel 2. Jumlah Cargo
PT. Siam Maspion Terminal Gresik
(20082011)
Jumlah Cargo
Jumlah
Revenue of
No. Tahun Bongkar Muat
Shipment (Ships) Throughput (USD)
(MT)
1
2008
95,181.698
49
110,411.000
2
2009
111,727.848
64
130,943.400
3
2010
140,176.128
92
164,699.220
4
2011
188,931.000
98
857,042.000

Sumber: PT. Siam Maspion Terminal Gresik (2012)

Djoko Soelistya: Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Kerja

karyawan di lingkungan perusahaan pengelolah dermaga


PT. Siam Maspion Terminal Gresik.
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah
dikemukakan, maka masalah penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
a. Apakah motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja
karyawan PT. Siam Maspion Terminal Gresik ?
b. Apakah kompetensi berpengaruh terhadap kinerja
karyawan PT. Siam Maspion Terminal Gresik ?
c. Apakah motivasi kerja dan kompetensi secara bersama
berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT. Siam
Maspion Terminal Gresik ?

Sejalan dengan definisi di atas, komponenkomponen


atau elemen yang membentuk sebuah kompetensi adalah:
1. Motif (motives). Menurut Spencer & Spencer, motif
adalah sesuatu yang secara konsisten dipikirkan atau
dikehendaki oleh seseorang, yang selanjutnya akan
mengarahkan, membimbing, dan memilih suatu
perilaku tertentu terhadap sejumlah aksi atau tujuan
(Spencer & Spencer dalam Ruky, 2006).
2. Karakter Pribadi (traits). Karakter pribadi adalah
karakteristik fisik dan reaksi atau respons yang
dilakukan secara konsisten terhadap suatu situasi atau
informasi.
3. Konsep Diri (self concept). Konsep diri adalah
seperangkat sikap, sistem nilai atau citra diri yang
dimiliki seseorang.
4. Pengetahuan (knowledge). Pengetahuan adalah
informasi yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu
area spesifik tertentu.
5. Keterampilan (skills). Keterampilan adalah kemampuan
untuk mengerjakan serangkaian tugas fisik atau mental
tertentu.

kajian pustaka

Motivasi Kerja
Sperling (1967: 183) dalam Mangkunegara, (2010: 93)
mengemukakan bahwa motif didefinisikan sebagai suatu
kecenderungan untuk beraktivitas, dimulai dari dorongan
dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuaian diri.
Penyesuaian diri dikatakan untuk memuaskan motif.
Menurut Manullang, M., (2001), motivasi adalah faktor yang
mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu.
Manusia adalah makluk jasmaniah dan rohaniah. Aspek
jasmaniah memiliki kekuatan untuk melakukan sesuatu atau
untuk bekerja secara fisik. Jika manusia jasmaninya sehat
dan kuat ia akan mampu melakukan pekerjaan dengan hasil
yang tinggi, sebaliknya jika ia sakit atau fisiknya lemah hasil
kerjanya juga akan rendah.
Pendapat lain dikemukakan oleh Robbins (2006).
Ia berpendapat bahwa motivasi adalah kesediaan untuk
mengeluarkan tingkat upaya yang untuk tujuan organisasi
mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan
organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu
dapat memenuhi kebutuhan individual.
Motif merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam
diri karyawan yang perlu dipenuhi agar karyawan tersebut
dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan, sedangkan
motivasi adalah kondisi yang menggerakkan karyawan agar
mampu mencapai tujuan dari motifnya. Motivasi dapat pula
dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan dorongan
dalam diri (drive arousal).
Kompetensi
Kompetensi menurut Spencer & Spencer (dalam Ruky,
2006: 104) adalah karakteristik dasar seseorang (individu)
yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak, membuat
generalisasi terhadap segala situasi yang dihadapi, serta
bertahan cukup lama dalam diri manusia.

Komponen kompetensi yang berupa motif, karakter


pribadi, dan konsep diri dapat meramalkan sesuatu
perilaku tertentu yang pada akhirnya akan muncul sebagai
unjuk kerja. Kompetensi pengetahuan (knowledge) dan
keterampilan (skill) cenderung lebih nyata (visible) dan
relative berada di permukaan (ujung) sebagai karakteristik
yang dimiliki manusia, relative mudah dikembangkan
misal dengan program pelatihan untuk meningkatkan
kemampuan sumber daya manusia. Kompetensi motif
(motive) dan karakter pribadi (traits) letaknya lebih dalam
pada titik sentral kepribadian, sehingga cukup sulit dinilai
dan dikembangkan, salah satu caranya adalah melalui proses
seleksi. Kompetensi konsep diri (self consep) cenderung
sedikit visible dan dapat dikontrol perilaku dari luar. Konsep
diri ini mengandung sikap dan nilai-nilai seperti percaya diri
dan dapat diubah melalui pelatihan, psikoterapi sekalipun
memerlukan waktu yang lebih lama. (Rosidah, 2003).
Kompetensi juga selalu melibatkan intensi (kesenjangan)
yang mendorong sejumlah motif atau karakter pribadi untuk
melakukan sesuatu aksi menuju terbentuknya suatu hasil.
Kompetensi adalah kemampuan dan kemauan untuk
melakukan sebuah tugas dengan kinerja yang efektif.
Amstrong (2008) menyatakan bahwa kompetensi adalah
knowledge, skill dan kualitas individu. Sementara Watson
Wyatt (Ruky 2006: 106) mendefinisikan tentang kompetensi
sebagai kombinasi dari keterampilan (skill), pengetahuan
(knowledge), dan perilaku yang dapat diamati dan diterapkan
secara kritis untuk suksesnya sebuah organisasi dan
prestasi kerja serta kontribusi pribadi karyawan terhadap
organisasinya.

Kinerja Karyawan
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang
secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam
melaksanakan tugas membandingkan dengan berbagai
kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran
atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah
disepakati bersama (Rivai dan Mulyadi, 2012: 14). Jika
dilihat dari asal katanya, kata kinerja adalah terjemahan
dari kata performance, yang menurut The Scribner dalam
English Dictionary, terbitan Amerika Serikat dan Canada
(1979), berasal dari akar kata to perform dengan beberapa
entries yaitu: (1) melakukan, menjalankan, melaksanakan
(to do or carry out, execute); (2) memenuhi atau
melaksanakan /kewajiban suatu niat atau nazar (to discharge
of fulfill; as vow); (3) melaksanakan atau menyempurnakan
tanggung jawab (to execute or complete an understaking);
dan (4) melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang
atau mesin (to do what is expected of a person machine).
Beberapa pengertian berikut ini akan memperkaya wawasan
tentang kinerja.
1. Kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan
merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan
sesuatu pekerjaan yang diminta (Stolovich and Keeps;
1992);
2. Kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja
yang ada pada diri pekerja (Griffin, 1987);
3. Kinerja dipengaruhi oleh tujuan (Mondy and Robert:
2004);
4. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan
kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan,
seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat
kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan
seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan
sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang
akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya
(Hersey and Blanchard, 2001);
5. Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam
melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik
dan sukses, jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai
dengan baik (Donnelly, Gibson and Ivancevich,
2009);
6. Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan merupakan
salah satu tolok ukur kinerja individu. Ada tiga kinerja
dalam melakukan penilaian kinerja individu, yakni: (1)
tugas individu; (2) perilaku individu; dan (3) ciri-ciri
individu (Robbin, 2006);
7. Kinerja sebagai kualitas dan kuantitas dari pencapaian
tugas-tugas, baik yang dilakukan individu, kelompok
maupun perusahaan (Schermerhorn, Hunt and Osdorn:
1991);
8. Kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan
atau ability (A), motivasi atau motivation (M)
dan kesempatan atau opportunity (O) yaitu: kinerja =

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 19

f (A M O) artinya: kinerja merupakan fungsi atau


kemampuan, motivasi dan kesempatan (Robbins, 2006).
Dengan demikian, kinerja ditentukan oleh faktor-faktor
kemampuan, motivasi dan kesempatan. Kesempatan
kinerja adalah tingkatan-tingkatan kinerja yang
tinggi yang sebagian merupakan fungsi dari tiadanya
rintangan-rintangan yang mengendalakan karyawan
itu. Meskipun seorang individu mungkin bersedia
dan mampu, bisa saja ada rintangan yang menjadi
penghambat;
Dengan demikian, kinerja adalah kesediaan seseorang
atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan
menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya
dengan hasil seperti yang diharapkan. Jika dikaitkan dengan
performance sebagai kata benda (noun) di mana salah satu
entrinya adalah hasil dari sesuatu pekerjaan (thing done),
pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang
dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam
suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan
perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak
bertentangan dengan norma dan etika.
Hubungan Motivasi dengan Kompetensi dan Kinerja
karyawan
Robbins (2006: 223) mengatakan bahwa Employee
performance is an function of the interaction of ability and
motion, yang artinya bahwa kinerja karyawan adalah fungsi
interaksi antara kemampuan dan motivasi. Maksudnya bila
motivasi digabungkan dengan kemampuan karyawan maka
akan memengaruhi kinerja karyawan. Menurut pendapat
Gomez, Balkin dan Cardy (2003: 276) bahwa Performance
has been thought to be caused by two primary factors:
ability and motivation. Artinya bahwa kinerja diketahui
penyebabnya adalah dua faktor utama yaitu kemampuan
dan motivasi.
Kinerja, motivasi, dan kemampuan dijelaskan oleh
Vroom (1964) dalam sebuah fungsi dalam Gibson,
Invanicevic, dan Donnely (2009: 149), "Integration of
important expectancy theory concepts" artinya integrasi
dari pentingnya teori harapan adalah:
P = f (M A), Kinerja dipertimbangkan sebagai fungsi
perkalian dari motivasi (sebagai pendorong) dan kemampuan.
Performance (P) atau kinerja adalah fungsi dari perkalian
antara Motivasi dan Kemampuan. Jadi Motivasi bersama
kemampuan seseorang akan memengaruhi kinerja.
Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,
keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak. McAshan (1981: 45 dalam
Fitriyadi, 2001: 18) mengemukakan bahwa kompetensi:
"is a knowledge, skill, and abilities or capabilities
that a person achieves, which become part of his or her
being to the exent he or she can satisfactorily perform
particular cognitive, efectife, and psychomotor behavior".

Djoko Soelistya: Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Kerja

(Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan


dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah
menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan
perilaku-perilaku kognitif, efektif, dan psikomotorik
dengan sebaik-baiknya). Menurut Byham (dalam Fitriyadi,
2001: 18) kompetensi merupakan kemampuan individual dan
mampu menguasai atau melaksanakan suatu pekerjaan serta
mampu menganalisis pekerjaan atau peraturan peraturan
pekerjaan. Pada Andersen (2005) kompetensi adalah
knowledge, skill, dan personal qualities ability (motives,
self concept, traits) yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan atau tugas-tugas secara efektif sejalan dengan
tujuan-tujuan. Sofo (1999: 28) dalam Andersen (2005),
mengatakan bahwa kompetensi mengacu pada kemampuan
seseorang untuk memberikan respons dan perilaku secara
memadai pada perubahan-perubahan, dan cara yang mereka
pergunakan dalam mencapai kinerja dan hasil. Dalam uraian
di atas istilah kompetensi selalu mengarah pada kemampuan
dan kapasitas keterampilan seseorang pada bidangnya.
Kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan atau
ability (A), motivasi atau motivation (M) dan kesempatan
atau opportunity (O) yaitu kinerja = f (A M O) artinya:
kinerja merupakan fungsi atau kemampuan, motivasi dan
kesempatan (Robbins: 2006). Dengan demikian, kinerja
ditentukan oleh faktor-faktor kemampuan, motivasi dan
kesempatan. Kesempatan kinerja adalah tingkatan-tingkatan
kinerja yang tinggi yang sebagian merupakan fungsi dari
tiadanya rintangan rintangan yang mengendalikan karyawan
itu. Meskipun seorang individu mungkin bersedia dan
mampu, bisa saja ada rintangan yang menjadi penghambat
Model Konseptual
Sehubungan dengan permasalahan yang telah
dirumuskan, dalam penelitian ini terdapat tiga variabel
yang akan diteliti. Ketiga variabel tersebut diklasifikasikan
menjadi dua bagian, yaitu variabel bebas (independent
variabels) X, dan variabel terikat (dependent variabels)
Y. Klasifikasi variabel tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut: 1) Motivasi Kerja (X1), 2) Kompetensi (X 2), 3)
Kinerja Karyawan (Y).
Kerangka konseptual penelitian dapat digambarkan
sebagai berikut:
MOTIVASI
- Senang Bekerja
- Bekerja Keras
- Merasa Berharga

H1
H3

KOMPETENSI
- Knowledge
- Skill
- Self concept

H2

Gambar 1. Model Konseptual Penelitian

KINERJA
- Tugas
- Perilaku
- Ciri-ciri / Sifat

Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah,
tinjauan pustaka dan kerangka konseptual, maka hipotesis
penelitian disusun sebagai berikut:
1. Motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap Kinerja
karyawan PT. Siam Maspion Terminal Gresik
2. Kompetensi berpengaruh signifikan terhadap Kinerja
karyawan PT. Siam Maspion Terminal Gresik.
3 Motivasi kerja dan kompetensi karyawan secara
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja
karyawan PT. Siam Maspion Terminal Gresik.

metode penelitian

Jenis penelitian ini adalah explanatory research,


di mana akan ditelaah hubungan kausal antar variabelvariabel melalui pengujian hipotesis yang telah ditetapkan
sebelumnya. Explanatory Research berangkat dari keadaan
di mana suatu fenomena dapat diketahui dan dijelaskan akan
tetapi perlu dilakukan kajian lebih mendalam mengapa suatu
fenomena terjadi dan bagaimana suatu fenomena terjadi.
Tujuan dari Explanatory Research adalah mencari penyebab
serta alasan suatu kejadian dengan melakukan serangkaian
uji hipotesis. Menurut Maholtra (2003) penelitian yang
dilakukan untuk menjelaskan hubungan kausal di antara
variabel-variabel melalui pengujian hipotesis disebut juga
penelitian konklusif. Metode utama penelitian ini adalah
penelitian hasil survey, yaitu suatu penelitian yang dilakukan
dengan mengambil sampel dari populasi menggunakan
kuesioner sebagai alat pengumpul data pokok.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan di
lingkungan PT. Siam Maspion Terminal Gresik Jawa Timur
sejumlah 37 karyawan. Dengan menggunakan metode
sensus dan berdasarkan populasi yang telah dijelaskan
sebelumnya maka sampel yang diambil dalam penelitian
ini adalah sejumlah 37 orang responden, dan estimasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis regresi linier
berganda.
Operasionalisasi masing-masing variabel dapat dijelaskan
sebagai berikut:
a. Motivasi kerja adalah sebagai energi untuk
membangkitkan dorongan dalam diri untuk mencapai
kebutuhan yang perlu dipenuhi agar pegawai tersebut
dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan (Need
Hierarchy Theory dari Abraham Maslow). Motivasi
di ukur berdasarkan dimensi: senang bekerja, bekerja
keras, dan merasa berharga (Ishak & Tanjung, 2003).
b. Kompetensi adalah karakteristik dasar pegawai yang
memengaruhi cara berpikir dan bertindak, membuat
generalisasi terhadap segala situasi yang dihadapi, serta
bertahan cukup lama dalam diri pegawai/karyawan
tersebut. Kompetensi diukur berdasarkan komponen
atau elemen yang membentuk sebuah kompetensi

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 19

antara lain pengetahuan (knowledge), keterampilan


(skill), konsep diri (self concept), (Spencer & Spencer
dalam Ruky, 2006).
c. Kinerja karyawan adalah prestasi yang dicapai oleh
seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai
dengan standar dan kriteria yang ditetapkan untuk
pekerjaan itu, sementara evaluasi kinerja (performance
evaluation) yang dikenal juga dengan istilah penilaian
kinerja (performance appraisal) merupakan kajian
sistematis tentang kondisi kerja karyawan atau untuk
mengetahui tingkat kinerja karyawan. Dalam penelitian
ini evaluasi kinerja menggunakan tiga kriteria dalam
menilai karyawan yaitu: tugas karyawan, perilaku
karyawan, dan ciri-ciri karyawan (Robbins, 2006).
Untuk mengukur tugas karyawan digunakan dua
indikator yaitu: a) melaksanakan pekerjaan sesuai
peraturan, dan b) penyelesaian tugas sesuai target.
Untuk mengukur perilaku karyawan digunakan dua
indikator yaitu: a). kemampuan pemecahan masalah,
dan b). kerja sama dengan tim kerja.
Ciri-ciri/sifat karyawan adalah mengenai karakter atau
sifat keloyalitasan karyawan pada perusahaan dan juga
kejujurannya dalam melaksanakan pekerjaan. Untuk
Ciri-ciri/sifat karyawan digunakan dua indikator yaitu:
a). kejujuran dalam bekerja, dan b). loyalitas pada
atasan.

Hasil pengujian Hipotesis 1

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah


kuesioner, di mana kuesioner tersebut terdiri dari dua
bagian yaitu: (1). Data tentang identitas pribadi responden.
(2). Data yang berkaitan dengan seluruh variabel penelitian
ini (lampiran). Pengukuran untuk masing-masing variabel
dilakukan dalam bentuk skoring menurut skala Likert, di
mana angka 1 menunjukkan nilai terendah (sangat tidak
setuju), dan nilai 5 menunjukkan nilai tertinggi (sangat
setuju).

Hasil Pengujian Hipotesis 3

hasil penelitian dan pembahasan

Setelah dilakukan pengujian melalui analisis jalur


(path analysis) terhadap kedua variabel yaitu Motivasi
(x1) dan Kinerja Karyawan (y), ternyata variabel motivasi
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel
kepuasan di mana signifikansi t mempunyai nilai 0,000,
dengan nilai regresi (), sebesar 0, 708. sedangkan koefisien
determinansi (R 2) sebesar 0,335 atau kontribusi yang
diberikan variabel motivasi (x1) terhadap variabel kinerja (y)
adalah sebesar 33,5 %, sehingga masih ada kontribusi dari
variabel lain yaitu sebesar 66,5 %. Berdasarkan hal tersebut
di atas, maka hipotesis 1 yang diajukan diterima.
Hasil Pengujian Hipotesis 2
Setelah dilakukan pengujian melalui analisis jalur (path
analysis) terhadap kedua variabel yaitu kompetensi (x2)
dan kinerja (y), ternyata variabel kompetensi memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap variabel kinerja karyawan
di mana signifikansi t mempunyai nilai 0,000, dengan nilai
regresi (), sebesar 0, 950. sedangkan koefisien determinansi
(R2) sebesar 0,686 atau kontribusi yang diberikan variabel
reliability (x2) terhadap variabel kepuasan (y) adalah sebesar
68,4%, sehingga masih ada kontribusi dari variabel lain
yaitu sebesar 31,6%. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka
hipotesis 2 yang diajukan diterima.

Setelah dilakukan pengujian melalui analisis jalur (path


analysis) terhadap kedua variabel yaitu kompetensi (x2)
dan kinerja (y), ternyata variabel kompetensi memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap variabel kinerja karyawan
di mana signifikansi t mempunyai nilai 0,000, dengan nilai
regresi (), sebesar 0, 950, sedangkan koefisien determinansi
(R2) sebesar 0,686 atau kontribusi yang diberikan variabel
reliability (x2) terhadap variabel kepuasan (y) adalah sebesar
68,4%, sehingga masih ada kontribusi dari variabel lain
yaitu sebesar 31,6 %. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka
hipotesis 3 yang diajukan diterima.

Uji Validitas dan Reliabilitas


Suatu instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai
validitas tinggi apabila alat tersebut memberikan hasil
pengukuran yang sesuai dengan tujuan pengukuran.
Hasil pengujian validitas pada penelitian ini mendapatkan
koefisien korelasi product moment lebih dari 0.3 pada semua
item pertanyaan, ini berarti tiap butir pertanyaan dalam
instrumen memiliki ketepatan dan kecermatan dalam fungsi
ukurnya (Singarimbun, 2006; Hair et al., 2004). Hasil uji
validitas disajikan pada lampiran 2.
Hasil pengujian reliabilitas menghasilkan koefisien Alpha
Cronbach mendapatkan hasil lebih dari 0,7 pada semua
dimensi dalam variabel yang diukur, berarti instrumen
terbukti memiliki keandalan yang dapat diterima, disajikan
pada Tabel 3 (Singarimbun, 2006; Hair et al., 2004).

Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas dengan Cronbach alpha ()


Variabel
Motivasi Kerja
Senang Bekerja
Bekerja keras
Merasa Berharga
Kompetensi
Penegetahuan
Ketrampilan
Konsep diri
Kinerja Karyawan
Tugas
Perilaku
Ciri / Sifat

Koefisien Alpha ()
0,881
0,617
0,766
0,667
0,702
0,927
0,723
0,954
0,794

Lampiran: Hasil Uji Reliabilitas

Kesimpulan
Reliable

Reliable

Reliable

Djoko Soelistya: Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Kerja

Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis dan uji hipotesis penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya maka pada penelitian
ini, di temukan bahwa Motivasi kerja karyawan, signifikan
memengaruhi kinerja karyawan perusahaan PT. Siam
Maspion Terminal Gresik, dengan koefisien regresi sebesar
0,578 (sign = 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa cukup
besar peranan faktor motivasi kerja karyawan PT. Siam
Maspion Terminal Gresik, bila dihubungkan dengan kinerja
karyawan. Faktor Senang bekerja, Merasa berharga, dan
Bekerja keras adalah faktor-faktor pembentuk variabel
motivasi. Temuan penelitian ini menginformasikan bahwa
faktor-faktor ini mempunyai kaitan yang positif terhadap
kinerja karyawan perusahaan PT. Siam Maspion Terminal
Gresik, karena pada hakikatnya faktor Senang bekerja
adalah ungkapan perasaan karyawan yang termotivasi
terhadap pekerjaannya yang selama ini dilakukan yaitu
sebagai karyawan operator pelabuhan. Merasa berharga
adalah ungkapan karyawan yang merasa dihargai karena
pekerjaannya betul-betul berharga bagi orang yang
termotivasi. Bekerja keras, karena senang bekerja dan
merasa dihargai orang tersebut termotivasi dan secara tidak
langsung akan bekerja keras. Pimpinan harus mempunyai
cara yang tepat untuk dapat memotivasi karyawan untuk
dapat mencapai kinerja yang tinggi. Motivasi sendiri adalah
suatu konsep yang diutarakan sebagai kebutuhan (needs)
dan rangsangan (incentive) yang tidak dapat dipisahkan
karena dua hal tersebut saling berhubungan.
Kebutuhan muncul karena ada rangsangan dan
rangsangan akan muncul setelah ada kebutuhan, sedangkan
kebutuhan itu sendiri berhubungan dengan kekurangan yang
dialami oleh seseorang pada waktu tertentu. Kekurangan
ini mungkin bersifat fisiologis, seperti kebutuhan akan
makanan, atau yang bersifat psikologis yaitu kebutuhan
akan penghargaan diri (self esteem) dan kebutuhan untuk
bersosialisasi atau berinteraksi.
Sekelompok orang dalam satu kesatuan kerja yang
mempunyai sasaran yang jelas yang ingin dicapai,
mempunyai motivasi kerja lebih tinggi daripada kelompok
orang yang bekerja tanpa sasaran yang jelas. Organisasi
bukan saja mengharapkan karyawan yang mampu, cakap,
dan terampil tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat
dan berkeinginan untuk mencapai hasil kerja maksimal.
Kecakapan dan kemampuan pegawai tidak ada artinya bagi
organisasi jika mereka tidak mau bekerja giat (Hasibuan,
2006).
Temuan penelitian ini menginformasikan bahwa
faktor-faktor motivasi kerja ini mempunyai kaitan yang
positif terhadap kinerja karyawan di lingkungan PT. Siam
Maspion Terminal Gresik, artinya dengan meningkatkan

motivasi kerja karyawan, maka akan mendorong


meningkatnya kinerja karyawan.

Hasil penelitian ini searah dengan hasil penelitian Robbins


(2006), Porter and Lawyer (2001), yang menunjukkan

adanya pengaruh signifikan antara motivasi kerja terhadap


kinerja karyawan. Hasil penelitian ini juga searah dengan
hasil penelitian Soedarto (2004), Marifah (2004), Koesmono
(2005), Fauzan (2006) yang menyatakan bahwa: Faktorfaktor motivasi internal antara lain: pengakuan, pekerjaan
itu sendiri, tanggung jawab, kesempatan untuk maju dan
tumbuh, mempunyai berpengaruh positif terhadap kinerja;
Faktor-faktor motivasi eksternal antara lain: gaji, kondisi
kerja fisik, supervisi, dan kebijakan organisasi mempunyai
pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja. Sedangkan
hubungan sesama pekerja dan keamanan tidak signifikan
memengaruhi kinerja; Faktor-faktor motivasi eksternal
mempunyai pengaruh lebih besar terhadap kinerja,
dibandingkan dengan faktor-faktor motivasi internal.
Berdasarkan hasil analisis dan uji hipotesis penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya maka pada penelitian ini,
di temukan bahwa Kompetensi kerja karyawan, signifikan
memengaruhi kinerja karyawan perusahaan PT. Siam
Maspion Terminal Gresik, dengan koefisien regresi sebesar
0,828 (sign = 0,000). Hal ini menunjukkan bahwa cukup
besar peranan faktor kompetensi kerja karyawan PT. Siam
Maspion Terminal Gresik, bila dihubungkan dengan kinerja
karyawan. Faktor Pengetahuan (knowledge), Keterampilan
(skill), dan Konsep diri (self consept) adalah faktor-faktor
pembentuk variabel kompetensi. Temuan penelitian ini
menginformasikan bahwa faktor-faktor ini mempunyai
kaitan yang positif terhadap kinerja karyawan perusahaan
PT. Siam Maspion Terminal Gresik, karena pada hakikatnya
faktor Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang
dimiliki seorang karyawan terhadap sesuatu area spesifik
tertentu pada perusahaan pengelola pelabuhan di daerah.
Keterampilan (skill) adalah kemampuan untuk mengerjakan
serangkaian tugas dalam hal pengerjaan di perusahaan
pengolahan dermaga curah cair dan gas PT. Siam Maspion
Terminal Gresik ini, dan Konsep diri (self consept) adalah
seperangkat sikap, sistem nilai atau citra diri yang dimiliki
seorang karyawan perusahaan PT. Siam Maspion Terminal
Gresik.
Hasil penelitian ini searah dengan hasil penelitian
Marzuki (2010), Suhartono, (2003) dalam hasil penelitiannya
menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan
antara kompetensi, dan tanggung jawab terhadap kinerja.
Hasil penelitian ini mempertegas pernyataan Morgan, (1998),
yang menyatakan bahwa seorang karyawan yang ditugaskan
sesuai dengan kompensinya, akan dapat menyelesaikan
pekerjaannya dengan cepat dan sesuai target yang
ditentukan. Karyawan yang dapat menyelesaikan tugasnya
sesuai dengan target, akan merasa puas, dan karyawan
yang puas dengan pekerjaannya akan menunjukkan sikap
baik sebagai timbal balik terhadap organisasi yang telah
memberikan kepuasan kepadanya.
Berdasarkan hasil analisis dan uji hipotesis penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya maka pada penelitian
ini, di temukan bahwa Faktor Motivasi (1 = 0,100),
dan kompetensi (2 = 0,890), secara bersama signifikan

memengaruhi kinerja karyawan perusahaan PT. Siam


Maspion Terminal Gresik, dengan koefisien determinansi
(R2) sebesar 0,672. Hal ini menunjukkan bahwa Motivasi dan
kompetensi kerja karyawan, akan mendorong meningkatkan
kinerja karyawan perusahaan PT. Siam Maspion Terminal
Gresik sebesar 67,2%. Hal ini juga menjelaskan bahwa kedua
faktor motivasi dan kompetensi hanya dapat menjelaskan
kinerja karyawan PT. Siam Maspion Terminal Gresik
sebesar 67,2%, sementara sisanya di tentukan faktor lain
yang tidak terdapat pada penelitian ini. Hasil penelitian ini
mempertegas pernyataan Robbins (2006), yang menyatakan
bahwa bila motivasi digabungkan dengan kemampuan
karyawan maka akan dapat memengaruhi meningkatnya
kinerja karyawan. Hasil penelitian ini juga searah dengan
pernyataan Gomez (2003), Gibson, Invanicevic, dan Donnely
(2009), yang menyatakan bahwa dua faktor utama yang
dapat memengaruhi kinerja karyawan, yaitu kemampuan
dan motivasi kerja.
simpulan dan saran

Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan uji hipotesis penelitian
yang telah dilakukan sebelumnya maka dari penelitian ini
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Motivasi signifikan memengaruhi kinerja karyawan,
dengan koefisien regresi sebesar 0,708 ( p-value=
0.000). Hal ini menunjukkan bahwa sangat besar
peran motivasi karyawan bila dihubungkan dengan
kinerja karyawan. Motivasi sangat berhubungan
dengan senang bekerja, bekerja keras, dan merasa
berharga karena adanya lingkungan kerja yang baik,
kesempatan berprestasi, dan juga pada kesempatan
untuk promosi yang diterapkan oleh pihak organisasi
terhadap karyawan. Bertambah besar perhatian dan
kesempatan promosi yang diterima karyawan maka
bertambah besar pula motivasi karyawan untuk berbuat
sesuatu demi kepentingan organisasi.
2. Kompetensi kerja karyawan secara signifikan
memengaruhi kinerja karyawan, dengan koefisien
regresi sebesar 0,950 ( p-value= 0.000). Hal ini
menunjukkan bahwa kompetensi kerja karyawan, akan
mendorong meningkatnya kinerja karyawan secara
langsung sebesar 95,0%.
3. Motivasi karyawan dan kompetensi karyawan secara
bersama signifikan memengaruhi kinerja karyawan
sebesar 33,5 %. Hal ini menunjukkan bahwa dengan
karyawan yang senang pada pekerjaannya, target
pekerjaan tertentu, adanya perhatian dari pihak
organisasi, dan adanya kompetensi yang tinggi, akan
mendorong meningkatnya kinerja karyawan sebesar
33,5%.

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 19

Saran
Pada penelitian ini variabel hanya difokuskan pada
motivasi, kompetensi dan kinerja karyawan, sementara itu
kinerja karyawan juga sangat berhubungan dengan budaya
organisasi, dan kepemimpinan perusahaan, yang mana
variabel ini belum termasuk menjadi kajian penelitian. Hal
ini dapat menjadi kajian untuk penelitian berikutnya, dan
penelitian mendatang dapat diarahkan untuk menjelaskan
secara detail celah-celah yang terdapat pada penelitian ini.

daftar pustaka
Amstrong M. 2008. A Handbook of Human Resource Management,
Terjemahan, Elex Media Komputindo, Jakarta.
Fauzan, Risky, 2006. Pengaruh Motivasi Internal dan Eksternal terhadap
Kinerja Pegawai, Penelitian. Malang: Program Pascasarjana
Universitas Brawijaya.
Fitriyadi, 2001. Pengaruh Kompetensi Keterampilan, Pengetahuan, dan
Kecakapan dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia terhadap
Kinerja Aparatur PD Bangun Banua Propinsi Kalimantan Selatan.
(Tesis). Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya.
Gibson, Invanicevic, dan Donnely, 2009. Organization Structure:
Processes Behavior. Business Publication Inc. Dallas.
Gomez, Balkin and Cardy, 2003. Cultural Diversity and The Performance,
McGraw-Hill Inc, New York.
Hair JF, Anderson RE, Tatham RL, and Black WC. 2004. Multivariate
Data Analysisi, 5th Edition, Prentice-Hall, Inc, Upper Saddle River,
New Jersey.
Hasibuan, Malayu. 2006. Organisasi dan Motivasi, Penerbit PT Bumi
Aksara, Jakarta.
Hersey, Paul dan Kenneth Blanchard. 2001. Management of Organizational
Behavior, Edisi Ketiga, New York: Prince-Hall, Englewood Cliffs.
Ishak, Arep, Tanjung, Hendri. 2003, Manajemen dan Motivasi,
PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Koesmono, Teman H. 2005. Pengaruh Budaya Organisasi terhadap
Motivasi dan Kepuasan Kerja Serta Kinerja Karyawan pada Sub
Sektor Industri Pengolahan Kayu Skala Menengah di Jawa Timur,
Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, Vol. 7, No. 2, pp. 171188.
Mangkunegara, Anwar Prabu, 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan. Cetakan ke delapan PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Marzuki, Noor, 2010. Analisis tentang Profesionalisme dan Kinerja Guru,
Jurnal Aplikasi Manajemen Vol. 6, No. 21, Agustus, 2010.
Marifah, Dewi. 2004. Pengaruh Motivasi Kerja dan Budaya Organisasi
terhadap Kinerja Pekerja Sosial pada Unit Pelaksana Teknis Dinas
Sosial Propinsi Jawa Timur. (Tesis) Program Pascasarjana Universitas
Airlangga Surabaya.
Mondy R. Wayne, Robert M. Noe. 2004. Human Resources Management.
Allyn and Bacon Inc. USA. Edisi Terjemahan.
Porter LW. and Lawyer EE. 2001. Managerial Attitude and Performance.
Homewood, IL: Irwin-Dorsey.
Rivai, Veithzal, dan Mulyadi, Deddy, 2012. Kepemimpinan dan Perilaku
Organisasi, Edisi Kedua, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Robbins, Stephen P. 2006. Perilaku Organisasi, Terjemahan Hadyana
Pujaatmaja, Jakarta: Prenhallindo.
Rosidah, 2003. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap
Kinerja PT Cheil Jedang Indonesia di Jombang Jawa Timur. (Tesis).
Pengembangan Sumber Daya Manusia Program Pascasarjana
Universitas Airlangga Surabaya.
Ruky, Achmad, 2006. Sumber Daya Manusia Berkualitas, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Spencer and Spencer, 1993. Competence at Work, John Wiley & Sons
Inc, New York.
Singarimbun, Masri dan Sofyan, Efendi, 2006. Metode Penelitian Survei,
Cetakan ke enam belas, LP3ES, Jakarta.

Djoko Soelistya: Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Kerja


Suhartono, 2003. Pengaruh Kompetensi Bidang Fungsional terhadap
Strategi Bisnis dan Kinerja Perbankan di Indonesia, Jurnal Ventura,
Vol. 6 No. 3 Desember 2003.
Soedarto, Teguh, 2004. Pengaruh Motivasi Kerja, Kemampuan, Individu,
Gaya Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Prestasi
Kerja, Program Pascasarjana Universitas Brawijaya, Malang.
Vroom, Victor H. 1964. Work and Motivation, New York: John Wiley
& Sons.

10

Analisis Pengaruh Tingkat Pendapatan Tukang Sayur Keliling


Perempuan Terhadap Kesejahteraan Keluarga di Desa Tegal Bai
Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember Tahun 2014
I
ndria Yuli Susanti
Akademi Akuntansi PGRI Jember
abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh tingkat pendapatan tukang sayur keliling perempuan terhadap
kesejahteraan keluarga di Desa Tegal Bai Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember. Sampel dalam penelitian ini adalah pedagang
sayur keliling perempuan yang ada di Desa Tegal Bai Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember sebanyak 75 orang. Berdasarkan hasil
perhitungan dengan menggunakan SPSS versi 17.0 for windows ditemukan hasil bahwa pendapatan tukang sayur keliling perempuan
(X) berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan keluarga (Y) sebesar 39%. Hal ini menunjukkan bahwa profesi pedagang sayur keliling
yang dilakukan kaum perempuan mempunyai andil dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Kata kunci: pendapatan tukang sayur keliling perempuan, kesejahteraan keluarga
abstrak

This research aims to examine and analyze the influence of the level of income of women vegetable vendor to welfare families in the
villages of Tegal Bai Regency of Jember Sumbersari subdistrict. The sample in this research are womenvegetable vendors the villages
of Tegal Bai Regency of Jember Sumbersari district as many as 75 people. Based on the results of calculation by using the spss version
17.0 for windows found results that the income of women vendor vegetable (X) have an effect on family welfare (Y) to level of 39%. This
indicates that the women vendor vegetable profession women have done their fair share of improving family welfare
Keywords: income women around the vegetable vendors, family welfare

pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi


sektor informal yang cukup menonjol dalam perekonomian.
Sektor informal sering dianggap sedikit menyerap tenaga
kerja dan tidak perlu mendapat perhatian khusus. Hal
ini berbeda dengan sektor formal yang dianggap sebagai
penyedia lapangan pekerjaan terutama di daerah perkotaan.
Pada kenyataannya menunjukkan bahwa perekonomian
sektor informal relatif lebih stabil dari pada sektor formal,
karena sektor informal tidak tergantung pada perekonomian
internasional, modal besar maupun keterampilan yang
tinggi. Lebih menarik lagi bahwa sektor informal dapat
menggerakkan partisipasi wanita untuk berperan dalam
perekonomian keluarganya. Orang-orang yang melakukan
usaha di sektor informal adalah orang-orang yang tidak
memiliki kesempatan dan kemampuan yang memadai untuk
tertampung bekerja di sektor formal.
Ciri-ciri sektor informal di Indonesia menurut Kedeputian
Evaluasi Kinerja Pembangunan Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional1 (2009: 2122) yaitu: (1) Kegiatan
usaha tidak terorganisasi secara baik, karena unit usaha
timbul tanpa menggunakan fasilitas atau kelembagaan yang
tersedia secara formal; (2) Pada umumnya tidak memiliki
ijin usaha; (3) Pola kegiatan usaha tidak teratur dengan baik,

dalam arti lokasi maupun jam kerja; (4) Pada umumnya


kebijakan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi
lemah tidak sampai ke sektor ini; (5) Unit usaha bergantiganti dari satu subsektor ke subsektor lain; (6) Teknologi
yang digunakan masih tradisional; (7) Modal dan perputaran
usaha relatif kecil, sehingga skala operasinya juga kecil; (8)
Dalam menjalankan usaha tidak diperlukan pendidikan
formal, sebagian besar hanya diperoleh dari pengalaman
sambil bekerja; (9) Pada umumnya unit usaha termasuk
kelompok one man enterprise, dan kalau memiliki pekerja
biasanya berasal dari keluarga sendiri; (10) Sumber dana
modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri,
atau lembaga keuangan tidak resmi; dan (11) Hasil produksi
atau jasa terutama dikonsumsi oleh golongan masyarakat
kota/desa berpenghasilan rendah atau menengah.
Salah satu sektor informal yang menyerap tenaga kerja
cukup tinggi adalah pedagang sayur keliling. Pedagang
sayur keliling merupakan salah satu usaha yang melakukan
kegiatan perdagangan secara eceran dan dilakukan dengan
cara keliling di suatu daerah tertentu. Di Kelurahan Tegal Bai
Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember profesi tukang
sayur mayoritas dilakukan oleh wanita. Terdapat lebih dari
200 orang tukang sayur, di mana sekitar 76% dilakukan oleh
wanita usia 19 sampai 60 tahun. Dan hampir semua tukang
sayur wanita ini sudah berkeluarga. Sementara para suami

Susanti: Analisis Pengaruh Tingkat Pendapatan Tukang Sayur

mereka mayoritas bekerja sebagai buruh tani, tukang becak


dan buruh tukang. Di sini peranan wanita dalam rumah
tangga mempunyai peran yang cukup besar terutama dalam
pendapatan dalam rumah tangga.
Kartono2 (1980: 37), mengemukakan pengertian
pedagang kaki lima melalui ciri-ciri umum yaitu: (1)
merupakan pedagang yang kadang-kadang juga sekaligus
berarti produsen; (2) ada yang menetap pada lokasi
tertentu, ada yang bergerak dari tempat satu ke tempat
yang lain (menggunakan pikulan, kereta dorong, tempat
atau stan yang tidak permanen serta bongkar pasang); (3)
menjajakan bahan makanan, minuman, barang-barang
konsumsi lainnya yang tahan lama secara eceran; (4)
umumnya bermodal kecil, kadang hanya merupakan alat
bagi pemilik modal dengan mendapatakan sekedar komisi
sebagai imbalan atas jerih payahnya; (5) kualitas barangbarang yang diperdagangkan relativ rendah dan biasanya
tidak berstandart; (6) volume peredaran uang tidak seberapa
besar, para pembeli merupakan pembeli yang berdaya beli
rendah; (7) usaha skala kecil bias berupa family enterprise,
di mana ibu dan anak- anak turut membantu dalam usaha
tersebut, baik langsung maupun tidak langsung; (8) tawar
menawar antar penjual dan pembeli merupakan relasi
ciri yang khas pada usaha pedagang kaki lima; (9) dalam
melaksanakan pekerjaannya ada yang secara penuh,
sebagian lagi melaksanakan setelah kerja atau pada waktu
senggang, dan ada pula yang melaksanakan musiman.
Sedangkan karakteristik pedagang sayur keliling adalah:
1. Dagangan harus habis pada hari itu juga, karena sifat
sayuran yang mudah busuk.
2. Bekerja setiap hari meskipun hari libur selama
kondisinya memungkinkan.
3. Cara penyajian dan pengemasan barang sangat
sederhana.
4. Biasanya jenis sayuran yang dijajakan berubah-ubah
sesuai dengan musim tanam sayuran.
5. Mempunyai pelanggan tetap atau wilayah berjualan
yang tetap.
6. Harga yang ditawarkan bisa ditawar oleh pembeli.
Budiono3 (1992: 180) mengemukakan bahwa pendapatan
adalah hasil dari penjualan faktor-faktor produksi yang
dimilikinya kepada sektor produksi. Sedangkan menurut
Winardi4 (1992: 171) pendapatan adalah hasil berupa
uang atau materi lainnya yang dapat dicapai dari pada
penggunaan faktor-faktor produksi. Penerimaan tersebut
sumber dari hasil pemasaran atau penjualan hasil usaha
sedangkan pengeluaran merupakan biaya total yang
digunakan selama proses produksi. Pendapatan dipengaruhi
oleh tingkat penjualan dan besarnya modal. Semakin tinggi
penjualan maka pendapatan juga akan meningkat. Demikian
pula apabila modal yang dimiliki semakin besar, maka akan
semakin besar pula peluang mendapatkan pendapatan.
Menurut Undang-undang No. 11 Tahun 20095 tentang
Kesejahteraan Sosial menyebutkan bahwa kesejahteraan
sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material,

11

spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan
mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan
fungsi sosialnya. Menurut Badan Pusat Statistik6 (2010: 2)
indikator kesejahteraan rakyat yang dihasilkan dari susenas
(Survei Sosial Ekonomi Nasional) meliputi angka partisipasi
sekolah dan angka melek huruf di bidang pendidikan; angka
morbiditas, pemanfaatan fasilitas kesehatan, pemberian ASI,
imunisasi dan penolong persalinan di bidang kesehatan;
umur perkawinan pertama, partisipasi KB, dan rata-rata
jumlah anak yang dilahirkan di bidang fertilitas; konsumsi
dan pengeluaran per kapita penduduk; serta kondisi tempat
tinggal.
Penelitian yang dilakukan oleh Eko Sugiharto,
Salmani, dan Bambang Indratno Gunawan7 dengan judul
Studi Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Nelayan di
Kampung Gurimbang Kecamatan Sambaliung Kabupaten
Berau menyimpulkan bahwa: (1) Tingkat kesejahteraan
masyarakat nelayan Kampung Gurimbang Kecamatan
Berau menunjukkan 94% nelayan pada tahap keluarga
prasejahtera dan 6% berada pada tahap keluarga sejahtera
I (2) Berdasarkan analisis tipologi desa diketahui bahwa
tipologi masyarakat nelayan Kampung Gurimbang termasuk
dalam kategori kampung swakarya, dan (3) Berdasarkan
analisis pohon masalah diketahui ada beberapa masalah
yang menjadi penyebab utama dalam upaya meningkatkan
kesejahteraan masyarakat nelayan meliputi modal, harga,
dan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Rela Novahadi, Ani Muani, dan Imelda 8 dalam
penelitiannya yang berjudul Analisis Tingkat Kesejahteraan
Keluarga Petani Kebun Plasma Kelapa Sawit PT. Prakarsa
Tani Sejati (Studi Kasus di Desa Muara Jekak Kecamatan
Sandai Kabupaten Ketapang) menyimpulkan bahwa (1)
Tingkat Kesejahteraan petani kelapa sawit anggota KKPA
kebun plasma PT. Prakarsa Tani Sejati Desa Muara Jekak
Kecamatan Sandai Kabupaten Ketapang terdiri dari
Keluarga Sejahtera Tahap I sebesar 39,47%, Keluarga
Sejahtera Tahap II sebesar 2,63%, Keluarga Sejahtera
Tahap III sebesar 42,11% dan Keluarga Sejahtera Tahap III
Plus sebesar 15,79% (2) Berdasarkan kriteria setara beras
(sayogyo), sebanyak 13,16% petani masuk dalam kelompok
cukup dan 86,84% petani masuk dalam kelompok kaya
(3) Umur petani, pendidikan petani, pengalaman bertani,
umur keluarga petani (kategori balita, anak-anak, dewasa
akhir), status kemiskinan setara beras (sayogyo), dan
ukuran keluarga petani memiliki hubungan dengan Tahap
Kesejahteraan Keluarga.
Penelitian Dampak Pariwisata Terhadap Pendapatan
Dan Tingkat Kesejahteraan Pelaku Usaha di Kawasan Wisata
Pantai Natsepa Pulau Ambon oleh Lilian Sarah Hiariey dan
Wildoms Sahusilawane9 dengan tujuan: (1) Mengidentifikasi
usaha yang berdampak terhadap pendapatan masyarakat
yang memanfaatkan jasa obyek wisata pantai Natsepa,
(2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat
perdapatan masyarakat yang memanfaatkan jasa objek
wisata pantai Natsepa, (3) menganalisis tingkat kesejahteraan

12

rumah tangga masyarakat yang memanfaatkan jasa objek


wisata pantai Natsepa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
faktor yang memengaruhi pendapatan kelompok rumah
tangga yaitu jumlah anggota keluarga, tingkat pengeluaran,
dan curahan waktu kerja. Berdasarkan tingkat kesejahteraan
sebagian besar rumah tangga yang memanfaatkan jasa objek
wisata pantai Natsepa mempunyai tingkat kesejahteraan
sedang dengan persentase sebesar 75%, kemudian tingkat
kesejahteraan tinggi dengan persentase sebesar 22% dan
yang terkecil yaitu tingkat kesejahteraan rendah dengan
persentase sebesar 3%.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis
apakah ada pengaruh tingkat pendapatan tukang sayur
perempuan terhadap kesejahteraan keluarga di Kelurahan
Tegal Bai Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.
Hipotesa penelitian ini adalah (Ha) di duga tingkat
pendapatan tukang sayur perempuan berpengaruh terhadap
tingkat kesejahteraan keluarga di Kelurahan Tegal Bai
Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.
metode penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian penjelasan


(Explanatory research). Data yang dikumpulkan diukur
secara langsung menggunakan angka-angka untuk
mendiskripsikan variabel-variabel yang diteliti. Obyek
penelitian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh tukang sayur perempuan yang ada di Kelurahan
Tegal Bai Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.
Jumlah pedagang sayur yang dijadikan sample dalam
penelitian ini sebanyak 75 orang. Hasil analisis diskriptif
dengan menggunakan Program SPSS versi 17.0.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini menggunakan analisis regresi sederhana dan korelasi.
Analisis data antara lain dibagi dengan memperhitungkan
atau memperkirakan besarnya pengaruh secara kuantitatif
dari perubahan suatu kejadian terhadap kejadian lain.
Analisis regresi mengukur hubungan fungsional antara dua
variabel atau lebih (Gulo10, 2005: 110).
Analisis Regresi Linier Sederhana
Analisis regresi linier sederhana adalah hubungan secara
linear antara satu variabel independen (X) dengan variabel
dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan
antara variabel independen dengan variabel dependen
apakah positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai
dari variabel dependen apabila nilai variabel independen
mengalami kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan
biasanya berskala interval atau rasio.
Rumus regresi linear sederhana sebagai berikut:
Y = a + bX + e
Keterangan:
Y = Variabel dependen (nilai yang diprediksikan)
X = Variabel independen

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 1014

a =
b =
e

Konstanta (nilai Y apabila X = 0)


Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun
penurunan)
error

Siagian, Dergibson, Sugiarto11 (2000: 226)


Koefisien determinasi (R)
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui
seberapa besar hubungan dari beberapa variabel dalam
pengertian yang lebih jelas. Koefisien determinasi akan
menjelaskan seberapa besar perubahan atau variasi suatu
variabel bisa dijelaskan oleh perubahan atau variasi pada
variabel yang lain (Santosa&Ashari12, 2005: 125). Nilai
koefisien ini antara 0 dan 1, jika hasil lebih mendekati angka
0 berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam
menjelaskan variasi variabel amat terbatas. Tapi jika hasil
mendekati angka 1 berarti variabel-variabel independen
memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan
untuk memprediksi variasi variabel dependen.
Uji Hipotesa
Hipotesa statistik adalah suatu pernyataan tentang
satu atau lebih nilai parameter populasi. Persyaratan tersebut
memiliki sementara, artinya perlu di tes atau dibuktikan
mengenai kebenarannya. Cara untuk meyakinkan apakah
hipotesa statistik benar atau salah adalah dengan menyelidiki
seluruh populasinya.
Analisis F - Test
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabelvariabel independen secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap variabel dependen. Derajat kepercayaan yang
digunakan adalah 0,05. Kriteria pengujian:
Apabila: F hit < F table, maka Ho diterima dan Ha
ditolak, berarti tidak terdapat pengaruh/hubungan yang
kuat antara variabel bebas (X) dengan Variabel terikat
(Y).
Apabila: F hit > F table, maka maka Ho diterima dan
Ha diterima, berarti terdapat pengaruh/hubungan yang
kuat antara variabel bebas (X) dengan Variabel terikat
(Y).
Analisis T - Test
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabelvariabel independen secara parsial berpengaruh nyata atau
tidak terhadap variabel dependen. Derajat signifikansi
yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai signifikan
lebih kecil dari derajat kepercayaan maka kita menerima
hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa suatu
variabel independen secara parsial memengaruhi variabel
dependen.
Apabila: t hit < t table, maka Ho diterima dan Ha ditolak,
berarti tidak terdapat pengaruh/hubungan yang kuat antara
variabel bebas (X) dengan Variabel terikat (Y).

13

Susanti: Analisis Pengaruh Tingkat Pendapatan Tukang Sayur

Tabel 2. ANOVAb

Apabila: t hit > t table, maka maka Ho ditolak dan Ha diterima,


berarti terdapat pengaruh/hubungan yang kuat antara
variabel bebas (X) dengan Variabel terikat (Y).

Model
Regression
Residual
Total

hasil dan pembahasan

Persamaan regresi sederhana yang diperoleh dapat


digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat, yaitu sejauh mana
variabel bebas pendapatan (X) terhadap kesejahteraan
(Y). Hasil perhitungan data regresi sederhana dengan
menggunakan program SPSS versi 17.0 for windows. Di
mana Hasil analisis disajikan dalam Tabel 1 di bawah ini:
Berdasarkan Tabel 1 maka persamaan garis regresi linier
sederhana yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Y = 4,278 + 0,177X + e
Nilai masing-masing koefisien regresi variabel independen
dari model regresi linier tersebut memberikan gambaran
bahwa:
a. Besarnya konstanta 4,278 artinya bahwa berdasarkan
hasil regresi linier sederhana diatas menunjukkan
apabila variabel bebas pendapatan (X) serta e dalam
kondisi konstan atau nol (0), maka variabel terikat
kesejahteraan (Y) sebesar 4,278.
b. Koefisien Regresi Variabel bebas pendapatan (X)
sebesar 0.177 menggambarkan bahwa X1 mempunyai
pengaruh positif terhadap besarnya Y, artinya apabila
pendapatan (X) naik sebesar satu satuan, maka
kesejahteraan (Y) akan bertambah pula sebesar 0.177.

Std. Error

(Constant)

4.278

.549

Kesejahteraan

.177

.026

.625

6.882

.000

47.359

.000a

Analisis Koefisien Determinasi (R2)


Berdasarkan hasil analisis menggunakan SPSS didapat
hasil sebagai berikut:
Berdasarkan tabel Model Summary, R square sebesar
0,390 menunjukkan bahwa variabel pendapatan (X)
berpengaruh terhadap kesejahteraan (Y) sebesar 39%,
sedangkan sisanya 61% dipengaruhi oleh variabel lain yang
tidak diteliti dalam penelitian ini. Variabel tersebut mungkin
dari tingkat pendapatan suami, jenis konsumsi rumah
tangga, dll. Sedangkan tingkat hubungan antara variabel X

Sig.
.000

46.028
.972

Sig.

Uji t digunakan untuk menguji apakah variable bebas


pendapatan tukang sayu perempuan berpengaruh terhadap
kesejahteraan keluarga. Pengujian ini dilakukan dengan cara
membandingkan antara thitung dengan t tabel. Berdasarkan
tabel coefficient besarnya T hit adalah 7,794. Sedangkan
besarnya Ttabel pada tingkat signifikan 5% adalah 1,666. Ini
menunjukkan bahwa Thit (7,794) > Ttabel (1,666), yang berarti
bahwa Ha diterima dan H0 ditolak ada pengaruh pendapatan
tukang sayur perempuan terhadap kesejahteraan keluarga.

Beta
7.794

1
74
75

Uji T

Tabel 1. Coefficientsa
Standardized
Coefficients

46.028
71.920
117.947

Mean
Square

F hitung dengan nilai F tabel. Nilai F hitung dapat dilihat


dari tabel bagian Anova. Uji F (F test) dilakukan dengan
membandingkan probabilitas F hitung dengan level of
significance (a = 0,05).
Hasil dari analisis menggunakan SPSS adalah sebagai
berikut:
Dari tabel anova menunjukkan nilai F hitung sebesar 47,359.
Sedangkan besarnya F tabel dengan tingkat signifikan 5%
adalah 3,97. Ini menunjukkan bahwa Fhit > Ftabel yaitu 47,359
> 3,97 yang berarti bahwa Ha diterima dan H0 ditolak,
variabel bebas pendapatan berpengaruh terhadap variabel
terikat kesejahteraan. Maka dapat disimpulkan bahwa
hipotesis pendapatan tukang sayur perempuan berpengaruh
terhadap kesejahteraan keluarga diterima.

Uji F digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan


oleh peneliti yaitu diduga Pendapatan tukang sayur keliling
perempuan berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga
di Desa Tegal Bai Kecamatan Sumbersari Kabupaten
Jember. Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai

Unstandardized
Coefficients

df

a. Predictors: (Constant), kesejahteraan


b. Dependent Variable: pendapatan

Uji F

Model

Sum of
Squares

a. Dependent Variable: pendapatan

Tabel 3. Model Summaryb


Change Statistics

Model

R Square

Adjusted R
Square

Std. Error
of the
Estimate

R. Square
Change

F. Change

df1

df2

Sig. F.
Change

Durbin-Watson

.625a

.390

.382

.98584

.390

47.359

74

.000

1.753

a. Predictors: (Constant), kesejahteraan


b. Dependent Variable: pendapatan

14

dengan variabel Y masuk dalam kategori hubungan rendah


(0,390) sesuai dengan Tabel 2:
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan
bahwa berdasar uji T dan uji F menunjukkan bahwa hipotesa
Ha tingkat pendapatan tukang sayur keliling perempuan
(X) berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan keluarga
(Y) diterima. Sedangkan berdasarkan analisis koefisien
determinasi (R 2) menunjukkan besarnya pengaruh
variabel pendapatan pedagang sayur keliling perempuan
(X) terhadap kesejahteraan keluarga (Y) sebesar 39%. Hal
ini menunjukkan bahwa pengaruh tersebut masuk dalam
kategori hubungan rendah. Rendahnya pengaruh ini bisa
disebabkan oleh berbagai hal, misalnya pendapatan suami
yang stabil (mempunyai penghasilan tetap), tingkat konsumsi
rumah tangga, persepsi kesejahteraan dari responden yang
tidak sama, jumlah hari para pedagang sayur tersebut
berjualan.
Permasalahan utama yang dihadapi para pedagang sayur
keliling adalah modal dan stabilitas harga sayur mayur di
pasar yang sering tidak stabil. Harga sayur yang tidak stabil
membuat para pedagang tidak bisa mengulak dagangannya
dalam jumlah yang besar karena keterbatasan modal.
Bahkan mereka tidak berani mengulak untuk satu jenis
sayuran karena harga yang tinggi dan berubah-ubah dalam
waktu yang sangat cepat, sehingga mereka akan menjual
sayuran tertentu berdasarkan pesanan pembeli di saat harga
sayur tersebut tinggi. Dengan modal yang terbatas dengan
jumlah yang relatif tetap mereka berusaha agar usahanya
tetap berjalan dengan lancar walaupun dengan jumlah
dagangan yang lebih sedikit. Hal ini mereka lakukan agar
para pelanggan tidak beralih kepada pedagang yang lain
yang mempunyai modal lebih besar.

kesimpulan dan saran

Kesimpulan
Setelah dilakukan pengolahan data hasil penelitian
diperoleh hasil perhitungan analisis regresi linier sederhana
yang menunjukkan bahwa: pendapatan tukang sayur
perempuan berpengaruh terhadap kesejahteraan keluarga
di Keluharan Tegal Bai Kecamatan Sumbersari Jember.
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas dari penelitian ini maka
peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil penelitian ini terbukti bahwa
pendapatan tukang sayur perempuan mempunyai

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 1014

andil dalam tingkat kesejahteraan keluarganya,


sehingga seharusnya ada perhatian kepada para kaum
perempuan yang berprofesi sebagai tukang sayur dalam
hal pelatihan-pelatihan yang mendukung usaha mereka,
misalnya pelatihan tentang tata buku sederhana, strategi
pemasaran, dll.
2. Pemerintah lebih memperhatikan sektor informal yang
memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap
perekonomian global khususnya sektor kebutuhan
pokok sehari-hari dengan lebih menjaga kestabilan
harga, karena dengan adanya fluktuasi harga bahan
makanan yang tidak terduga berpengaruh terhadap
kelangsungan usaha pedagang sayur berkaitan dengan
kemampuan modal mereka.
3. Pemerintah bisa memberikan bantuan modal usaha
untuk para pedagang sayur keliling dalam bentuk
kredit dengan bunga rendah, hal ini untuk membantu
para pedagang yang mempunyai modal kecil dan
terbatas agar bisa mengembangkan usahanya terutama
menghadapi harga sayur yang tidak stabil.

daftar
pustaka
Kedeputian Evaluasi Kinerja Pembangunan Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional. Peran Sektor Informal sebagai Katup
Pengaman Masalah Ketenagakerjaan. 2009
Kartono, Kartini, dkk. Pedagang Kaki Lima sebagai Realita Urbanisasi
dalam Rangka Menuju Bandung Kota Indah. FISIP Universitas
Katolik Parahiyangan Bandung. 1980.
Budiono. Ekonomi Makro, Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2,
Edisi 4. BPFE Yogyakarta. 1992.
Winardi. Manajemen Perilaku Organisasi. PT. Citra Aditya Bakti.
Semarang. 1992.
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.
Badan Pusat Statistik. Statistik Kesejahteraan Rakyat 2010. Badan Pusat
Statistik. Jakarta. Indonesia. 2010.
Sugiharto, Eko, Salmani, Gunawan, Bambang Indratno. Studi Tingkat
Kesejahteraan Masyarakat Nelayan di Kampung Gurimbang
Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau. Jurnal Ilmu Perikanan
Tropis Vol. 18. No. 2, April 2013-ISSN 1402-2006. 2013.
Novahadi, Rela., Muani, Ani., Imelda. Analisis Tingkat Kesejahteraan
Keluarga Petani Kebun Plasma Kelapa Sawit PT. Prakarsa Tani
Sejati. Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol. 2, No. 3. Desember
2013.
Hiariey, Lilian Sarah., Sahusilawane, Wildoms. Dampak Pariwisata
Terhadap Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan Pelaku Usaha di
Kawasan Wisata Pantai Natsepa, Pulau Ambon. Jurnal Organisasi
dan Manajemen, Volume 9, Nomor 1, Maret 2013, 87105. 2013.
Gulo. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Grasindo. 2005.
Siagian, Dergibson dan Sugiarto. Metode Statistika. PT. Gramedia.
Jakarta. 2000.
Santosa, P.B, Ashari. Analisis Statistik dengan Microsoft Excell dan SPSS.
Andi Offset. Yogyakarta. 2005.
Sugiono. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alphabeta. 1999.

15

Analisis Strategi Kebijakan Pemerintah Berkenaan dengan


Konsumsi untuk Pertumbuhan Ekonomi
Hadi Sutrisno
Universitas Darul Ulum
abstrak

Konsumsi sebagai salah satu variabel penting dalam perekonomian, di samping merupakan fungsi dari pendapatan, ternyata juga
berperan terhadap besarnya pendapatan kedepannya yang pada gilirannya juga kepada tingkat pertumbuhan ekonomi. Hubungan
yang berangkai ini menarik kita pelajari secara seksama agar dalam menentukan sebuah kebijakan perekonomian menjadi tepat. Dua
komponen kebijakan fiskal yakni belanja pemerintah (G) dan Pengenaan pajak (T). Keduanya berpengaruh terhadap pertumbuhan GDP,
namun yang berpengaruh langsung terhadap konsumsi adalah pengenaan pajak. Perubahan pajak akan memengaruhi pendapatan
equilibrium, selanjutnya terhadap konsumsi. Untuk mencapai target PDB sebesar nilai tertentu, apabila kebijakan pemerintah melalui
konsumsi maka harus dengan memperbesar konsumsi masyarakat dengan cara melakukan pengurangan pajak. Seberapa besarnya
pengurangan pajak yang harus dilakukan akan sangat tergantung dari kecenderungan mengonsumsi marginalnya (MPC).
Kata kunci: Konsumsi, Pengenaan Pajak, Pertumbuhan GDP
abstract

Consumption is one of the important variables in the economy, besides the function of income, it also contributes to the amount of
future income which in turn to the rate of economic growth. This sequential relationship both consumption and income is interesting
to studiedin order to determine an appropriate economic policy. Two components of the fiscal policy of government spending (G)
and taxation (T), both effect on GDP growth, but the direct effect to consumption is taxation. Changing the taxation will affect the
equilibrium of income, and then the consumption. To achieve GDP target with a certain value, an instrument of the government policy
on the consumption sides, it must increase private consumption by the tax reduction. How much tax reduction to be done will depend
on the marginal propensity to consume (MPC).
Keywords: Consumption, Tax, GDP Growth

pendahuluan

Pertumbuhan ekonomi telah menjadi jalan hidup


bangsa dari setiap negara. Pemerintah dapat jatuh atau
kuat berdiri tergantung pada tinggi atau rendahnya tingkat
pertumbuhan ekonomi negaranya, yang diukur berdasarkan
peringkat nilai tertentu yang ditetapkan oleh standard
ukuran dunia (Todaro, 1994). Seperti diketahui, program
pembangunan negara-negara berkembang sering kali dinilai
berdasarkan tingkat pertumbuhan produksi dan pendapatan
nasionalnya. Para ekonom dan juga para politisi, dari hampir
semua negara, kaya dan miskin, kapitalis dan sosialis
atau campuran keduanya telah mengagung-agungkan
pertumbuhan ekonomi itu, tidak terkecuali Indonesia,
walaupun sebenarnya tentu kita tidak menutup mata adanya
ekses-ekses lain dari dampak pemacuan pertumbuhan
tersebut.
Besarnya tingkat pertumbuhan produksi dan pendapatan
nasional akan berdampak pada besarnya pengeluaran
nasional yang meliputi pengeluaran untuk konsumsi,
investasi maupun pengeluaran pemerintah, yang mana
kesemuanya ini pada gilirannya akan berpengaruh lagi

terhadap produksi nasional dan seterusnya, atau merupakan


suatu mata rantai yang tidak bisa dipisahkan (vicious
circle).
Konsumsi sebagai salah satu variabel penting dalam
perekonomian, di samping merupakan fungsi dari
pendapatan, ternyata juga berperan terhadap besarnya
pendapatan kedepannya yang pada gilirannya juga kepada
tingkat pertumbuhan ekonomi. Hubungan yang berangkai ini
menarik dipelajari secara seksama agar dalam menentukan
sebuah kebijakan perekonomian menjadi tepat. Bagaimana
peran konsumsi dalam suatu perekonomian, langkah apa
yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam kaitannya
dengan konsumsi untuk pertumbuhan ekonomi.

perumusan masalah

Bertolak dari latar belakang permasalahan di atas maka


dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1). Kebijakan apa yang seharusnya dilakukan oleh
pemerintah berkaitan dengan konsumsi untuk
pertumbuhan ekonomi?

16

2). Bagaimana simulasi kebijakan pemerintah terhadap


konsumsi untuk pertumbuhan ekonomi tersebut?
tujuan pembahasan

Dari perumusan masalah di atas maka dalam


pembahasannya ditujukan untuk:
1). Mengetahui kebijakan apa saja yang bisa dilakukan
oleh pemerintah berkenaan dengan konsumsi untuk
pertumbuhan ekonomi
2). Mengetahui bagaimana cara pemerintah menerapkan
kebijakan tersebut dengan melalui simulasi kebijakan.
kerangka pemikiran teoritis

Pengeluaran
Pada tahun 1936, ekonom Inggris John Maynard
Keynes melakukan revolusi terhadap ilmu ekonomi
melalui bukunya The General Theory of Employment,
Interest, and Money. Keynes (1936) menyatakan bahwa
permintaan agregat yang rendah berpengaruh terhadap
rendahnya pendapatan dan tingginya pengangguran yang
menjadi karakteristik kemerosotan ekonomi. Pendapatan
total perekonomian dalam jangka pendek sangat ditentukan
oleh keinginan rumah tangga, perusahaan dan pemerintah
untuk membelanjakan pendapatannya. Semakin banyak
orang mengeluarkan pendapatannya, semakin banyak
barang dan jasa yang bisa dijual perusahaan. Semakin
banyak perusahaan menjual, semakin banyak output yang
akan mereka produksi dan semakin banyak pekerja yang
akan dikaryakan. Jadi, masalah resesi dan depresi, menurut
Keynes, adalah pengeluaran yang tidak cukup. Pengeluaran
pada hakikatnya dibagi menjadi dua, yaitu pengeluaran
aktual (actual expenditure) dan pengeluaran yang
direncanakan (planned expenditure). Pengeluaran aktual
(actual expenditure), yaitu jumlah uang yang dikeluarkan
rumah tangga, perusahaan dan pemerintah atas barang
serta jasa, yang sama dengan produk domestik bruto (GDP).
Pengeluaran yang direncanakan (planned expenditure)
adalah jumlah uang yang akan dikeluarkan rumah tangga,
perusahaan dan pemerintah atas barang dan jasa.
Sering kali antara pengeluaran aktual selalu
berbeda dengan pengeluaran yang direncanakan, hal ini
dimungkinkan karena perusahaan yang terlibat dalam
investasi persediaan yang tidak direncanakan karena
penjualannya tidak memenuhi harapan. Ketika perusahaan
menjual lebih sedikit produk mereka dari yang direncanakan,
maka stok persediaan mereka secara otomatis meningkat;
sebaliknya ketika perusahaan menjual lebih banyak dari
yang direncanakan, stok persediaan mereka turun. Karena
perubahan yang tidak direncanakan dalam persediaan ini
diperhitungkan sebagai investasi yang dikeluarkan oleh
perusahaan, maka pengeluaran aktual bisa di atas atau di
bawah pengeluaran yang direncanakan.

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 1522

Dengan mengasumsikan sebuah perekonomian adalah


tertutup, sehingga ekspor netto adalah nol, bisa dituliskan
pengeluaran yang direncanakan E sebagai penjumlahan
dari konsumsi C, investasi yang direncanakan I, dan belanja
pemerintah G.
E = C+I+G
Untuk persamaan ini, kita tambahkan fungsi konsumsi
C = C (Y-T), (Mankiw, 2007), di mana persamaan ini
menyatakan bahwa konsumsi tergantung pada disposable
income (Y-T), yang mana merupakan pendapatan total
Y dikurangi pajak T. Untuk menyederhanakan masalah,
sekarang dianggap investasi yang direncanakan sebagai
tetap secara eksogen, I= , dan juga diasumsikan bahwa
kebijakan fiskal tingkat pembelian dan pajak pemerintah
adalah tetap, sehingga G=
G, T=
T.
Dengan mengombinasikan lima persamaan ini kita
peroleh:
E = C (Y-
T)+I+
G.
Persamaan ini menunjukkan bahwa pengeluaran yang
direncanakan adalah fungsi pendapatan Y, tingkat investasi
yang direncanakan I, serta variabel kebijakan fiskal
G dan

T.
Pada Gambar 1: menunjukkan pengeluaran yang
direncanakan sebagai fungsi dari tingkat pendapatan.
Garis miring ke atas karena pendapatan yang lebih tinggi
menyebabkan konsumsi yang lebih tinggi pula, dan dengan
demikian pengeluaran yang direncanakan juga lebih
tinggi. Kemiringan garis ini merupakan kecenderungan
mengonsumsi marginal (MPC), yang berarti bahwa
banyaknya pengeluaran yang direncanakan meningkat
ketika pendapatan naik sebesar 1 unit.
Perekonomian Terjadi Equilibrium
Suatu perekonomian terjadi equilibrium apabila
pengeluaran aktual sama dengan pengeluaran yang
direncanakan. Asumsi ini didasarkan pada gagasan bahwa
ketika rencana orang-orang telah direalisasikan, mereka
tidak mempunyai alasan untuk mengubah apa yang mereka
lakukan. Dengan mengingat kembali Y sebagai GDP tidak
hanya sama dengan pendapatan total tetapi juga dengan
pengeluaran aktual total atas barang dan jasa, sehingga
bisa dituliskan:
Pengeluaran Aktual = Pengeluaran yang direncanakan
(Y = E).
Pada gambar 2: garis 45 derajat menempatkan titik- titik
di mana kondisi pengeluaran aktual = pengeluaran yang
direncanakan (Y=E). Dengan ditambah fungsi pengeluaran
yang direncanakan, gambar ini menjadi perpotongan
Keynesian. Equilibrium perekonomian terjadi pada titik A,
di mana fungsi pengeluaran yang direncanakan memotong
garis 45 derajat.
Bagaimana perekonomian mencapai equilibrium? Dalam

17

Sutrisno: Analisis Strategi Kebijakan Pemerintah


Pengeluaran yang
direncanakan, E

MPC
1 Unit

Pendapatan, output, Y

Gambar 1. Pengeluaran yang direncanakan sebagai fungsi dari pendapatan.

Pengeluaran yang
direncanakan, E

Pengeluaran Aktual
Y=E

P e n g e lu a ra n ya n g
d ire n ca n a ka n ,
E =C +I+G

45

Pendapatan Equilibrium

Pendapatan, output, Y

Gambar 2. Perpotongan Keynesian

model ini persediaan memainkan peranan penting dalam


proses penyesuaian. Ketika perekonomian tidak berada
dalam equilibrium maka perusahaan mengalami perubahanperubahan yang tidak direncanakan dalam persediaan,
dan ini mendorong mereka mengubah tingkat produksi.
Perubahan produksi sebaliknya memengaruhi pendapatan
dan pengeluaran total, yang menggerakkan perekonomian
ke arah equilibrium.
Suatu contoh, misalkan perekonomian memiliki GDP
pada tingkat yang lebih tinggi daripada tingkat equilibrium,
seperti Y1 pada gambar 3: Dalam hal ini pengeluaran yang
direncanakan E1 lebih kecil dari produksi Y1, sehingga
perusahaan menjual lebih kecil dari yang mereka produksi.
Perusahaan menambah barang yang tidak laku ke dalam stok
persediaan. Kenaikan persediaan yang tidak direncanakan
ini mendorong perusahaan untuk memberhentikan pekerja
serta mengurangi produksi, dan hal ini akan menurunkan
GDP. Proses akumulasi persediaan dan turunnya pendapatan
terus berlangsung sampai pendapatan Y turun ke tingkat

equilibrium.
Demikian pula anggaplah GDP berada pada tingkat yang
lebih rendah daripada tingkat equilibrium, sebagaimana
tingkat Y2 pada gambar 3.Dalam hal ini pengeluaran
yang direncanakan E2 lebih besar daripada produksi Y2.
Perusahaan mencapai tingkat penjualan yang tinggi dengan
mengurangi persediaan. Kemudian ketika perusahaan
melihat persediaan menyusut mereka mempekerjakan lebih
banyak karyawan lagi dal meningkatkan produksi, sehingga
GDP meningkat dan tercapai equilibrium.
Kebijakan Fiskal yang berkenaan dengan Konsumsi
Dua komponen kebijakan fiskal yakni belanja
pemerintah (G) dan Pengenaan pajak (T). Keduanya
berpengaruh terhadap pertumbuhan GDP, namun yang
berpengaruh langsung terhadap konsumsi adalah pengenaan
pajak. Perubahan pajak akan memengaruhi pendapatan
equilibrium. Penurunan pajak sebesar T secara langsung
akan menaikkan disposable income Y-T sebesar T, dan

18

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 1522

Pengeluaran, E

Pengeluaran Aktual
Y=E

P e n g e lu a ra n ya n g
d ire n ca n a ka n ,
E =C +I+G

}*

Y1
E1
A
Y2

} **

E2

45

Pendapatan, output, Y

Pendapatan
Equilibrium

** = Akumulasi persediaan yang tidak direncanakan menyebabkan pendapatan turun


* = Penurunan persediaan yang tidak direncanakan menyebabkan pendapatan naik
Gambar 3. Penyesuaian menuju Equilibrium dalam perpotongan Keynesian

Pengeluaran, E

Pengeluaran Aktual
Y =E

E2=Y2

MPC X T

P e n g e lu a ra n ya n g
d ire n ca n a ka n ,

Y
pemotongan pajak menggeser
pengeluaran yang direncanakan
ke atas....

E1=Y1

yang meningkatkan
pendapatan equilibrium

45

)
E1=Y1

P endapatan, output, Y

E2=Y2

Gambar 4. Pengurangan Pajak dalam Perpotongan Keynesian

dengan demikian akan menaikkan konsumsi sebesar MPC


X T. Pada setiap tingkat pendapatan Y, pengeluaran yang
direncanakan sekarang akan lebih tinggi. Seperti terlihat
pada gambar 4, kurva pengeluaran yang direncanakan
bergeser ke atas sebesar MPC X T. Equilibrium
perekonomian bergerak dari titik A ke titik B.
Penurunan pajak mempunyai dampak multiplier
terhadap pendapatan. Perubahan awal dalam pengeluaran,
yang sekarang MPC X T. Kenaikan konsumsi ini akan

meningkatkan pengeluaran dan pendapatan sekali lagi.


Kenaikan pendapatan yang kedua sebesar MPC X T, ini
sekali lagi menaikkan konsumsi, sekarang sebesar MPC X
(MPC X T), yang sekali lagi meningkatkan pengeluaran
serta pendapatan dan seterusnya. Umpan balik dari konsumsi
ke pendapatan ke konsumsi ini secara terus-menerus terjadi.
Pengaruh totalnya terhadap pendapatan adalah:
Perubahan awal dalam pengeluaran = MPC X T

19

Sutrisno: Analisis Strategi Kebijakan Pemerintah

Perubahan pertama dalam konsumsi = MPC2 X T


Perubahan kedua dalam konsumsi = MPC3 X T
Y = (MPC + MPC2 + MPC3 +...) T
Pengganda pengenaan pajak adalah:
Y/T = MPC + MPC2 + MPC3 +...

= -MPC/(1-MPC)
Persamaan ini adalah pengganda pajak (tax multiplier)
yang menggambarkan jumlah perubahan pendapatan yang
disebabkan oleh perubahan sebesar 1 unit pajak. Tanda
negatif mengindikasikan bahwa pendapatan bergerak ke
arah berlawanan dengan pajak).
Studi Empiris
Pengurangan Pajak untuk Menstimulus Perekonomian
Salah satu proposal pertama yang diajukan oleh
Dewan Penasihat Ekonomi Presiden John F. Kennedy
ketika baru terpilih adalah membawa gagasan Keynesian
ke dalam proposalnya, yaitu memperbesar pendapatan
nasional dengan cara mengurangi pajak. Dari proposal
ini pada akhirnya terjadi pemotongan pajak yang cukup
besar terhadap pendapatan perseorangan dan korporasi

pada tahun 1964. Pengurangan pajak ini dimaksudkan


untuk mendorong pendapatan yang lebih tinggi, sekaligus
pengeluaran konsumsi dan investasi yang lebih tinggi pula
sehingga berdampak pada kesempatan kerja yang lebih
tinggi. Hal ini tentu akan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi. Setelah pemberlakuan pemotongan pajak ini
pada akhirnya diikuti oleh booming ekonomi. Pertumbuhan
GDP riil sebesar 5,3 persen pada tahun 1964 dan 6,0 persen
pada tahun berikutnya. Tingkat pengangguran turun dari
5,7 persen tahun 1963 menjadi 5,2 persen tahun 1964 yang
kemudian menjadi 4,5 persen pada tahun 1965.
Ketika George W. Bush terpilih sebagai presiden
pada tahun 2000, salah satu isi kampanyenya adalah
pemotongan pajak pendapatan. Selama kampanyenya, ketika
perekonomian sedang stabil, tingkat marginal pajak yang
lebih rendah akan meningkatkan insentif kerja. Kongres
menyetujui pemotongan pajak pada tahun 2001 dab 2003.
Setelah pemotongan pajak kedua, pemulihan resesi pada
tahun 2001 yang berjalan lambat berubah menjadi cepat.
Pertumbuhan GDP riil mencapai 4,4 persen pada tahun
2004. Tingkat pengangguran berkurang dari saat puncaknya
di bulan juni 2003 yang mencapai 6,3 persen menjadi 5,4
persen di bulan Desember 2004.

Penggunaan Produk Domestik Bruto Triwulanan


Atas Dasar Harga Konstan, 2008 (Miliar Rupiah) Periode 20082012
2008

JENIS PENGELUARAN
1
7

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga


PRODUK DOMESTIK BRUTO

II

III

IV

290,838.7
505,218.8

294,673.5
519,204.6

300,237.5
538,641.0

305,441.1
519,391.7

II

III

IV

308,155.3
528,056.5

308,813.4
540,677.8

314,514.3
561,637.0

317,587.1
548,479.1

II

III

IV

320,272.47
559,683.40

324,221.51
574,712.80

330,762.45
594,250.60

333,016.35
585,812.00

2009

JENIS PENGELUARAN
1
7

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga


PRODUK DOMESTIK BRUTO

2010

JENIS PENGELUARAN
1
7

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga


PRODUK DOMESTIK BRUTO

2011*

JENIS PENGELUARAN
1
7

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga


PRODUK DOMESTIK BRUTO
JENIS PENGELUARAN

1
7

Pengeluaran Konsumsi Rumahtangga


PRODUK DOMESTIK BRUTO

Sumber: Badan Pusat Statistik, Tahun 2013

II

III

IV

334,621.48
595,784.60

339,035.98
612,200.00

346,735.53
632,827.60

349,488.06
623,864.30

2012**
I

II

III

IV

351,144.40
633,243.00

356,792.90
651,107.20

366,043.10
671,780.80

368,212.80
662,008.20

20

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 1522

pembahasan masalah

Pengaruh Intervensi Kebijakan Melalui Konsumsi

Pada bagian ini akan dibahas secara lebih mendalam


bagaimana kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi
konsumsi sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
Tabel di bawah menyajikan perkembangan pengeluaran
konsumsi rumah tangga serta perkembangan penggunaan
Produk Domestik Bruto Indonesia atas dasar penggunaan,
yang tiap tiga bulanan untuk periode 20082012.

Anggaplah bahwa pemerintah ingin memacu


pertumbuhan dari yang sudah ada untuk dinaikkan sebesar
0,5 persen menjadi 2 persen, maka PDB yang diharapkan
adalah sebesar 675.248,364 (milyar). Untuk mencapai target
PDB sebesar itu, apabila kebijakan pemerintah melalui
konsumsi maka harus dengan memperbesar konsumsi
masyarakat dengan cara melakukan pengurangan pajak.
Seberapa besarnya pengurangan pajak yang harus
dilakukan akan sangat tergantung dari kecenderungan
mengonsumsi marginalnya (MPC). Dari persamaan fungsi
konsumsi di atas telah diperoleh bahwa MPC = 0,45.
Dengan mendasarkan bahwa Pengganda pengenaan pajak
adalah: Y/T = MPC/(1-MPC), maka bisa diperoleh
Y/T = 0,82, ini memberikan pengertian bahwa
pemotongan pajak sebesar 1 milyar akan meningkatkan
pendapatan equilibrium sebesar 0,82 milyar.
Dengan demikian apabila pemerintah mentargetkan
PDB sebesar 675.248,364 (milyar), yang itu berarti lebih
tinggi 3.018,152 milyar dari perkiraan PDB tanpa intervensi
kebijakan yakni sebesar 672.230,212 (milyar), maka
pemerintah harus melakukan pemotongan pajak sebesar:

Perpotongan Keynesian
Untuk memperlihatkan perpotongan Keynesian bisa
dianalisis dari data di atas, yaitu dimulai dari melakukan
analisis regresi. Setelah dilakukan analisis regresi sederhana
yang menghubungkan antara PDB (Y) di satu sisi dan
Konsumsi (C) di sisi lain maka diperoleh persamaan:
C = 65955.718 + 0.450 Y.
Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan bahwa
saat PDB sebesar 0, maka besarnya pengeluaran untuk
konsumsi = 65,955.718 Milyar rupiah. Setiap pertambahan
PDB sebesar 1 Milyar rupiah akan menyebabkan konsumsi
bertambah sebesar 0,450 milyar rupiah. Karena komponenkomponen yang lain dianggap konstan (I, G, (X-M), maka
berarti besarnya pertambahan konsumsi (C) = besarnya
pertambahan pengeluaran (E). Sehingga persamaan itu juga
bisa dituliskan E = C = 65955.718 + 0.450 Y.
Pertanyaan muncul kemudian adalah kapan terjadi
pendapatan equilibrium, atau yang lebih dikenal sebagai
perpotongan Keynesian?. Pendapatan equilibrium terjadi
ketika kurva dari persamaan diatas memotong kurva dari
persamaan Y = E. Sehingga penyelesaian secara simultan
dapat diperoleh nilai Y = E = 11,991.95. Dari hasil persaman
di atas dipat digambarkan seperti pada gambar 5,
Pertumbuhan Ekonomi
Dengan melihat trend pertumbuhan ekonomi Indonesia,
dengan berdasarkan perkembangan per triwulan, trend
pertumbuhan ekonomi ini didasarkan pada besarnya PDB dari
waktu ke waktu. Dari data di atas setelah dianalisis diperoleh
sebuah persamaan PDB = 493627,9 + 8504,872 Triwulan.
Dari persamaan ini bisa disimpulkan bahwa setiap triwulan,
pertumbuhan PDB adalah sebesar 8.504,872 milyar rupiah.
Dengan kata lain bahwa dengan instrumen kebijakan yang sudah
ada maka kita bisa melakukan prediksi untuk beberapa triwulan
berikutnya. Anggaplah untuk satu triwulan berikutnya adalah
triwulan pertama tahun 2013, maka bisa diprediksi besarnya PDB
adalah = 493.627,9 + 8.504,872 (21) = 672.230,212 (milyar),
ini dengan anggapan bahwa instrumen kebijakan dibiarkan
apa adanya. Dengan demikian bisa diperkirakan besarnya
pertumbuhan ekonomi dari triwulan 20 (triwulan IV tahun 2012)
ke triwulan 21 (triwulan I tahun 2013) adalah sebesar (672.230,212662,008.20)/662,008.20 = 0,015 atau sebesar 1,5%.

3.018,152 milyar/T = 0,82 milyar, sehingga T = 3.680.67


milyar.
Dengan pemotongan pajak sebesar 3.680.67 milyar,
maka pengeluaran yang direncanakan akan bergeser ke
atas yakni sebesar MPC X T, atau sebesar 1.656,3 milyar
yang pada akhirnya juga akan meningkatkan pendapatan
equilibrium Y = 3.018,152 milyar menjadi 15.010,102
milyar. Untuk memperjelas pernyataan ini bisa ditampilkan
dalam gambar 6.
Sebagai catatan dalam kasus ini, diperoleh Y/T =
0,82, artinya pemotongan pajak sebesar satu unit tidak
mampu menghasilkan multiplier effect berupa peningkatan
pendapatan yang lebih besar dari satu unit. Dalam hal ini
berarti kebijakan pemerintah untuk meningkatkan konsumsi
dengan melakukan pemotongan pajak dirasa kurang efektif,
karena tidak berdampak pada peningkatan pendapatan
yang signifikan. Patut diduga bahwa hal ini disebabkan
karena peran serta masyarakat terkait dengan pajak masih
kecil. Kecilnya peran masyarakat terkait dengan pajak ini
disebabkan banyak faktor, antara lain:
a. Belum intensifnya perluasan objek pajak, yang
berakibat pada masih sangat tingginya masyarakat yang
berpendapatan tergolong objek pajak yang seharusnya
sudah layak untuk dikenakan pajak tetapi belum
tercakup dalam objek pajak.
b. Masyarakat yang mempunyai kontribusi besar terhadap
PDB berkenaan dengan konsumsi, sebagian besar
adalah masyarakat yang belum menjadi wajib pajak
dikarenakan pendapatan mereka masih berada di bawah
pendapatan kena pajak.

21

Sutrisno: Analisis Strategi Kebijakan Pemerintah


Pengeluaran yang
direncanakan, E
Pengeluaran Aktual
Y=E

Pengeluaran yang
Direncanakan
E= C + I + G + (X-M)
= 65.955,718 + 0,45 Y

45

Pendapatan, Output, Y

11.991,95

Gambar 5. Pendapatan Equilibrium sebelum ada kebijakan pemerintah

Pengeluaran yang
direncanakan, E
Pengeluaran Aktual
Y=E
Pengeluaran yang
direncanakan setelah
pemotongan pajak

E2

menggeser ke atas sebesar


MPC X T = 1.656,3 Milyar

E1

45

Y =3.018,152
11.991,95
E1 =Y1

Gambar 6. Kenaikan Pendapatan Equilibrium akibat pemotongan pajak

15.010,102
E2 =Y2

Pendapatan, Output, Y

22
kesimpulan dan saran

Kesimpulan
Indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara bisa dilihat
dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dari
waktu- ke waktu, yang merupakan cerminan dari pendapatan
total. Dalam suatu perekonomian yang equilibrium, sesuai
dengan teori Keynes didapatkan bahwa pengeluaran aktual
sama dengan pendapatan totalnya. Bagian dari pengeluaran
aktual salah satunya adalah konsumsi rumah tangga.
Dengan mendasarkan bahwa konsumsi merupakan fungsi
pendapatan, berarti berarti besar kecilnya pendapatan akan
berpengaruh terhadap besar kecilnya konsumsi. Sementara
besar kecilnya pendapatan sangat ditentukan oleh kebijakan
fiskal pemerintah, terutama yang berpengaruh secara
langsung yaitu pajak. Dengan demikian pajak bisa dijadikan
instrumen untuk memodifikasi konsumsi yang selanjutnya
berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dari hasil simulasi kebijakan ternyata instrumen
pajak dengan cara pemotongan sejumlah unit pajak bisa
meningkatkan pendapatan equilibrium dan juga menggeser
pengeluaran yang direncanakan ke atas, walaupun untuk
kasus di Indonesia ternyata dampak multipliernya adalah
kecil (tidak sampai 1). Ini artinya dengan pemotongan
pajak sebesar 1 unit, akan berdampak pada peningkatan
pendapatan equilibrium lebih kecil dari 1.

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 1522

Saran
Pada penelitian ini simulasi kebijakan pemerintah belum
memasukkan variabel lain seperti pengaruh dari luar negeri
(perekonomian terbuka), di mana terbuka peluang bagi
peneliti berikutnya untuk meneliti lebih jauh bagaimana jika
variabel itu dimasukkan ke dalam penelitian.
Memasukkan variabel pengeluaran pemerintah (G)
juga dimungkinkan walaupun ini tidak berpengaruh secara
langsung terhadap konsumsi, namun secara tidak langsung
seharusnya bisa diukur seberapa besar dampaknya terhadap
pertumbuhan, yang juga disarankan untuk penelitian lebih
lanjut.

daftar pustaka
1. Todaro, Michael P. Ekonomi untuk Negara Berkembang, Suatu
Pengantar tentang Prinsip-prinsip Masalah dan Kebijakan
Pembangunan, Jakarta, 1994, Edisiketiga, 153.
2. Keynes JM. The General Theory of Employment, Interest and
Money, Cambridge, MacMillan Cambridge University Press, 1936;
Edisipertama, 236.
3. Mankiw, Gregory N. Macroeconomics, New York, Worth Publishers,
2007, EdisiKeenam, 60.
4. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, Statistik Indonesia Tahun
2013.

23

Teaching Speaking for Debating Using Argumentative Essay


Elli Setiyo Wahyuni
Hang Tuah University Surabaya
E-mail: ellisetiyowahyuni@gmail.com
abstract

Writing argumentative essay is aimed to improve the ability of speaking English for debating material. The argumentative essay which
contains strong claim, relevant reasons, examples and conclusion, are used to provide students with a systematic technique to organize
the ideas into written form so that they will know what to say when there is a chance for students in group to perform in rebuttal. The
pro and contra groups have the same activity to write the essay about the chosen topic. Furthermore, in debating session, both groups
introduce themselves, state the topic and strong claim, give logic reasons to support the strong statement, provide related examples and
findings in the conclusion. The impacts of using argumentative essay in speaking are to improve the student ability of speaking. The
student performances show that students are encouraged to use new vocabulary, language pattern, expression, pronunciation, stress
and tone of words appropriately.
Keywords: Argumentative essay, Classroom Action Research, Debating, Speaking skill.

introduction

Action classroom research is applied in debating class


for the first semester student of FISIP in order to improve
the ability of speaking and writing. The use of writing
and speaking as collaborative skill is aimed to develop the
fluency of debating. In education system, students are asked
to write an essay to create academic writing which provides
reasonable findings and relevant ideas. The writing result
as part of learning is presented through group discussion
and the talk in pair. Writing supports the successful of
speaking activity because it is well-prepared and organized
in chronological order. The academic writing that students
have to master is argumentative essay because it has some
strategies to train the students in organizing the idea into
coherence paragraphs. English writing for academic purpose
is the strategy of communication to get the acceptable
findings (Barnet & Bedau, 2011).
Studying needs contextual practice which refers to
the application of real situation. In order to argue peoples
opinion, students can experience the argument subject in
debating. Stating ideas, opinions against the discussed
topic is the main application of argumentation (Crawford,
2001). There are two groups in which one side is pro to the
topic and the other is contra side. Both groups have specific
reasons for being persistent in the position because they have
strong argument as a result of a good argumentative essay.
The groups should provide relevant reasons, evidences,
and analysis in order to perform well in argumentation.
Students must describe the result of the essay and group
discussion to express the strong claim. The technique of
rebuttal is stated using appropriate language which means
the use of English words with suitable tone and expression.
Giving argument doesnt mean fighting against the opponent

opinion, it simply convinces the opponent to accept our ideas


(Weissman, 2009).
Technique of argumentation teaches the students
in collaborating the members ideas, be amenable and
respectful to individual point of view (Young, 2006).
Debating also adjust the students capability in speaking
skills, such as pronunciation technique, the voice and tone,
the stress of words, and intonation. Students shouldnt
speak in a flat tone and without stress of words when they
want to claim, criticize, and confirm. The listeners may
receive different meaning if there is no skill in the speakers
(Mayberry, 2009).
Because of the different level in speaking skill, students
are taught with the appropriate learning system. Debating
system is combined with the skill of writing in which
students have preparation to put all the ideas into written
form and have much time to memorize the content so that
they will know what should be stated to give an argument.
The students who have lack of practices in speaking will
be helped from the writing essay that they use. This is a
combination system that writing helps the students to speak
fluently and speaking will help students to write new ideas
(Emilia, 2010).
There are benefits of debating using argumentative
essay, such as the improvement of speaking ability, the
capability of putting the ideas in coherence, and the mastery
of giving an argument (Starkey, 2004). Many students have
less speaking practices daily. The environment forces them
to speak their first language acquisition. Because of this
situation, the lecturer must provide the suitable technique
to make students be interested in speaking especially daily
lesson in the classroom. Their friends can be as the partners
to speak English. They can create English speaking zone
on the corner of the class, use an hour or two hours each

24

day to speak English fully, and have three or more friends


to speak in English every time they meet each other. These
creative activities can improve the student ability to speak.
When students use English daily, they will always have
many topics to discuss, for example, two students meet in
the Cafeteria and speak in English. The condition and place
create a mutual topic about the food, sharing the hobby, the
latest gossip, and the difficult subject on that semester.
Debating between two groups of student is managed
to give the real experiences for students in applying the
argumentative essay. Students write strong claim to show
their ideas to the opponent. Some relevant reasons are
included in the essay for giving reasonable factors, causes
and effects (Stiggins, 1996). Furthermore, some examples
are written in order to show the real samples of figures
or things related to the topic. Students who are in the pro
side for the topic of becoming an entrepreneur is more
challenging than becoming an office worker, can write the
strong claim that an entrepreneur is a promising job which
much profit will be obtained. Here, the pro group should
provide some reasons underlying the topic and at least an
example is written. Dr. Ir. Ciputra who built the school of
Ciputra, property, shopping centre, and entertainment places,
as the real example of an entrepreneur. On the other hand,
the contra group also provides strong claim, relevant reason,
and example to support the idea that becoming an office
worker is more challenging than becoming an entrepreneur.
Briefly, this classroom action research is analyzed in order
to get the answer of the following questions.
(1) How are the application of writing argument for teaching
speaking?
(2) What are the benefits of using argumentative essay in
debating material?
The Use of Argumentative Essay in Classroom Action
Research
Writing needs the ability to organize the ideas into
sentence coherence and speaking requires the skill of stating
the ideas and opinion in chronological order and coherence.
The debater should start the statement by saying the strong
claim which includes the topic then the reasons which
contains evidences, and cause effect. The last is stating
the examples and conclusion so that the steps will be in order
(Broda-Bahm, 2002). The technique of using argumentative
essay and speaking for debating is as follow.
1. Writing argumentative essay
Writing paragraphs about argumentation requires
the knowledge of language use, vocabulary usage,
and technique of putting the ideas in coherence.
The sentences in argumentative essay contain the
meaningful analysis of social and science knowledge in
written form. The topic in argumentative essay includes
the pro and contra sides. The pro and contra sides must
prepare the following steps.

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 2330

(1) Providing strong claim


Sentences with assertive statements related to the
topic are called as strong claim. Strong claim is
usually one sentence and has deep meaning. Pro
side has the strong claim of positively agree with a
certain condition and decision made by government
or important official. The sentences in strong claim
use simple present to express the current issue and
it is acceptable for discussion.
(2) Providing relevant reasons
In argumentative essay, there must be reasons
in order to support the strong claim. Moreover,
the reasons should be relevant with the current
issue, real according condition, and the evidence
can be accounted for. The writing of reasons in
the argumentative essay uses simple present and
modals which refers to the understanding of relevant
analysis and verification. The results of writing
reasons in this part should be in accordance with the
research and observation from the data analysis and
findings, student discussion forum, and practices.
The data can be reached from newspaper, students
data collection, statistics, internet web, interview
with the expert, and journal. The reasons are made
in scientific findings so that students will learn the
writing of scientific argumentative essay.
(3) Giving examples and conclusion
The examples support the given reasons. It provides
the real sample, figure, and event that can be as
inspiration and make the discussion becomes
clearer. The examples can be taken from the story
of a famous figure, the real event in the city, data
statistics from government agencies, and internet
web. Furthermore, students also conclude the
essay which states the final findings as a result of
debating. Table 1 is the examples and conclusion in
argumentative essay.
Argumentation for debating helps students for
improving the technique in rebuttal and the ideas
to argue the opponent. The argumentative essay
components, such as strong claim, relevant reasons,
examples, and conclusion complete the practice in
debating. Students will talk meaningless if they
dont write a preparation essay. An essay is just the
form of writing and it is very crucial in speaking to
use the written form into oral presentation.
Technique for Debating
The rebuttal system is designed for maintaining the
discussion and the flow of argumentation statements. The
moderator in this activity leads the two groups, has an
authority to limit the time of debaters to speak, and manage
the flow of the rebuttal. The detail technique of debating is
as follows (Tillitt & Bruder, 1999).

Wahyuni: Teaching Speaking for Debating Using Argumentative Essay

25

Table 1. The examples and conclusion


Theme

Examples and
conclusion

Strong claim
Pro side
Becoming an entrepreneur is more
challenging than becoming an
office worker

Contra side
Becoming an office worker is more challenging
than becoming an entrepreneur

Example:

Mr. Bong Chandra is an example


of entrepreneur from Indonesia.
At the young age, he owns many
properties

For about 70% of population statistics, the


Indonesian people are becoming the office
workers.

Conclusion:

An entrepreneur is a promising
profession because we are trained to
be creative, independent, and good
leader.

Social

Science

The office worker is needed because a company


cant do the production without the help of
workers/ labors.

Agricultural project gives more


benefit than construction project

Construction project gives more benefit than


agricultural project

Example:

The agricultural production, such as


fruits, rice, and vegetables in one
village in east java can cover the
need of food consumption of two
three cities in east java.

An apartment in the city can solve the problem


of living cost, population management, and
convenience place.

Conclusion:

The primary need of people in


Indonesia is the food consumption
for life

The construction project is intended to create


a better living for urban people in the city
which is very common today that we can see
the construction of hotel, apartment, shopping
centre, and condominium.

(1) Group introduction


Two groups introduce the members including the
name, greeting the moderator and audiences, and
the position whether pro or contra side. The purpose
of self-introduction before debating is to explain the
position and practice the attitude of a good speaker. The
technique of introduction is as follows.
-Moderator : Good morning ladies and gentlemen,
today is the debating session of group
A and B. Group A is pro side and group
B is the contra side. First, I would like
to invite each group to introduce the
members.
Group A : Good morning ladies and gentlemen
including the moderator. We are group
A and take the part as pro side. My
name is Jane and this is Anne. We are
really glad to be here for the rebuttal
about job and profession.
Group B : Good morning audiences, we would
like to introduce ourselves. My name is
Ryan and my partner is Widya. We take
part as contra side. The topic for both
teams is about job and profession. We

will provide our strong claim, reasons,


and example regarding the contra
opinion.
(2) Stating the topic and strong claim
The topic and strong claim are stated in this phase
when the introduction is already done by the groups.
One member in each group represents the topic and
the strong claim. According to the essay, the strong
claim is a sentence which contains the group statement
or opinion to attack the opponents opinion without
criticizing the individual speakers, such as to call
someone fat, ugly or nerd. The conversation of rebuttal
in stating topic and strong claim is as follows.
Group A

Group B

: We as group A are going to state our


strong claim related to the job and
profession. We believe that becoming
an entrepreneur is more challenging
than becoming an office worker. An
entrepreneur is obviously support
the income of the country.
: We are group B and have the
strong claim to make you realize
that becoming an office worker is

26

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 2330

more challenging than becoming


an entrepreneur. We as good
citizen should show our devotion to
the country by becoming an office
worker.
(3) Stating the relevant reasons
Giving rationale reasons are needed to persuade
the other group to know that the strong claim and
opinion are qualified. The reasons must be logic as the
production of analysis and observation from the group.
Each group must responsible for what they say and the
evidences can be explained by the group. Here is the
conversation between two groups in rebuttal for stating
the examples.

Group A

Group B

: We say that an entrepreneur


is a good profession for young
generation nowadays because
some reasons underlying the theory
are: first, an entrepreneur will hire
another workers to work with him
so that it reduces the number of
jobless people in the city. Second,
an entrepreneur will improve the
quality products and marketing, so it
will be exported to another country.
The last, a successful entrepreneur
always becomes an inspiration for
the people.
: An office worker isnt a bad
decision at all. When we become
an office worker in both private or
government company, we have the
rules that must be obeyed. The rule
teaches us how to be discipline and
dedication.

(4) Giving example


Some examples are given in order to support the reasons.
The technique of choosing examples must be relevant
with the topic, strong claim, and reasons. Students
should discuss and read many sources to get suitable
examples and acceptable for the listeners. In addition,
below is the discussion about the examples in rebuttal.
Group A : We provide two examples of
successful entrepreneurs from
Indonesia. We know the name of
Ir. Ciputra who has built many
projects, such as international
school of Ciputra, hospital,
apartment, shopping centre, and
business enterprises. He is very
rich and many people work in his
company which means he helps
the country in reducing poorness

Group B

and unemployment. The second


example is Mr. Bong Chandra who
deals with properties. In his young
age, he becomes an inspiration
for young people in Indonesia. He
has many workers to work with
him and becomes the speaker in
business workshop and seminar to
educate people how to be a good
entrepreneur.
: The examples which support
our reasons are the government
employee. They work for the
country and have high devotion to
do the public works for the nation.
According to data statistics for
about 70 % people in profession
take the job as an office worker.
In fact, the private company needs
the office workers to support an
entrepreneur, so it cant be denied
that office workers have great role
for the progress of company.

(5) Making conclusion


At the end of debating, students in group must make
conclusion to summarize the discussion into a good
finding. The last finding is considered as the result of
analysis, discussion and observation in a group. The
conclusion is characterized as the point of view the
debaters in their position. The conclusion in rebuttal
can be seen from this dialogue.
Group A : We h a v e c o n c l u d e d t h a t
entrepreneurs have big role
for supporting the country in
m i n i m i z i n g u n e m p lo y m e n t .
Becoming an entrepreneur is
your choice and an entrepreneur
dedicates the creativity and skill
for the nation.
Group B : We have the conclusion that office
workers are people who dedicate the
skill and capability for company and
government. If we want to choose a
safety life without worrying of being
bankrupt, we should take the right
decision based on our ability.
The technique of writing argumentative essay and
debating are combined to prepare the students for the
rebuttal. The examples of strong claims, reasons, examples
and conclusion in the essay really help students to be fluent
in stating all the ideas in debating. They precisely know what
to say without lack of vocabulary, and language pattern.

27

Wahyuni: Teaching Speaking for Debating Using Argumentative Essay


methodology

The sample
The research is dealing with the English class in the
subject of English conversation for the second semester
students of FISIP. There are 20 students in the class and
each group consists of two students. 10 groups will get
the chance to argue in debating. There are 5 groups as
pro side and another five as contra side. This activity isnt
a competition which refers to the English exercises in
speaking. The lecturer intends to introduce the technique
of debating in order to make students are able to write an
essay in argumentative one and speak English fluently.
Data Analysis Technique
The technique of teaching writing and speaking
is combined to meet the goal of writing and speaking
fluency. The procedure in debating is applied after writing
argumentative essay. The students are asked to write strong
claim, reasons, examples and conclusion in the essay. The
group should discuss the result of argumentative essay
before they perform in rebuttal. The graphic of debating
technique is as follows.

results

The strategy of teaching speaking needs a collaborative


learning which refers to the speaking and writing skill
combination. The need of practicing speaking is crucial for
the second semester student of FISIP. The results show that
the use of argumentative essay improves the understanding
of putting the ideas into a good paragraph. The technique
also teaches students to apply the written form of sentences
into oral presentation. The discussion between debaters in
the rebuttal gives a real experience to be a good debater
in scientific topic. The participation student of FISIP in
debating class is actively use social and science knowledge
to get the right understanding, evidences, and findings.
In action classroom research, it is found that students
have no difficulties in writing arguments because the step
is systematic which both intermediate and advanced level
students can write it without any difficulties to understand
the steps of writing. The system of using collaborative
learning is to get the maximum target of learning. The
goal of fluency in speaking has been planned to be the
competency of English conversation material. One of the
materials to improve the speaking skill and the confidence

Technique of debating

to have oral presentation is debating. Students of FISIP have


tried the technique and practices. The student who has lack
of ability in pronouncing the correct word, expressing the
language, and giving appropriate stress and tone is helped
by the advanced learners who know English well.
The collaborative learning here isnt only combining the
writing and speaking skills but also the ability to cooperate
between students who have different ability and knowledge.
This learning style promotes a different way of studying
in the classroom. Furthermore, it also helps all kinds of
students especially the one who feels so reluctant to speak
and doesnt have motivation to participation in learning
English. Writing essay has benefit for giving the learners
to think wisely and memorize the written ideas so that they
know what to say during the rebuttal. It cant be neglected
that some students also have difficulties in using sentence
patterns, and it is a duty for the teacher as the facilitator to
explain the right tenses for writing the essay. A lecturer isnt
only the observer and evaluator, he/she must teach students
according to what they need. When a lecturer understands
the students need, they will have no difficulties in doing the
task and project that a lecturer has set.
In order to answer the research question about the
benefit of using argumentative essay in debating material,
the results show that writing argumentative essay improves
the speaking skill and the introduction of writing and
speaking techniques gives an easy way to write well and
speak fluently. It is a finding that in order to make students
able to argue someones opinion, it is promoted to use
argumentative essay. It is almost impossible to argue the
opponent without making a plan, in this case is writing
argumentative essay, because scientific topic and reasons
will be emerged after writing process. Writing is a process
of thinking and analysis. It produces systematic sentences
in paragraphs. Speaking needs ideas which mean students
will never speak if there is no preparation from the writing
form. A speaker who gives a speech in a ceremony needs
a note. Sometime people have lack of memorization, so
they need an essay of what to say in front of the audiences.
The need of writing is obviously crucial for student as the
second language acquisition. In debating session, students
are expected to memorize all the sentences so that when
they argue the opponent, the debaters wont read the essay.
Students dont have to read the writing. They have to speak
fluently because the oral presentation requires a lot of words
than the written one. Mostly students paraphrase the written
sentences into spoken using their own language which
change them into the understandable communication.

1. Writing argumentative
essay

2. The rebuttal between two


groups

28

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 2330

The rebuttal system is also needed in order to organize


the team. Each group has the topic to discuss and each
member has the chance to speak and state the opinion. The
rebuttal between two groups for debating class has different
topic for each session. The topic and group discussion can
be seen from the following description.
Table 2 shows the rebuttal between two groups, such as
group 1 and group 2 who discuss about job and profession.
Group 3 and 4 talk about culture which group 3 as pro side
and group 4 as contra side. Group 5 and 6 have social theme
which discuss about the death penalty. Moreover, group 7
and 8 have the topic on agricultural, group 9 and 10 get
the science debating on marine and fisheries. The rebuttal
between these groups has the result of speaking fluency,
the use of expression, and interactive discussion. Students
are so excited in rebuttal because they want to measure
their abilities in speaking, knowledge of social and science.
Each group has different opinion and analysis toward the
topic discussed. A debater doesnt attack the opponent by
insulting the opinion or individual figure, they give advices,
add some opinions, explain the detail information, find out
the scientific findings, and criticize the opponent opinion
by stating the strengths and weaknesses.
The theme, topic, and strong claim support the team
opinion and the reasons are enriched by giving the statistics
result, observation, interview, and experts point of view.
Debating session shows that students have passion to be a
good debater by following the rules and talking according
to the chosen topic. In addition, they try to be supportive
Table 2. The Rebuttal Topic
Name of Group

No

Theme

Social

Group 1
Becoming an entrepreneur
is more challenging than
becoming an office worker

Group 2
Becoming an
office worker is
more challenging
than becoming an
entrepreneur

Social

Group 3
Watching traditional
wayang kulit is more
interesting than watching
western movie

Group 4
Watching western movie
is more interesting than
watching traditional
wayang kulit

Social

Group 5
Death penalty for the
suspect of children abuse
in Jakarta International
School

Group 6
Contra with the death
penalty for the suspect of
children abuse in Jakarta
International School

Science

Group 7
Agricultural project
gives more benefit than
construction project

Group 8
Construction project
gives more benefit than
agricultural project

Science

Group 9
The fisheries products are
better for export than craft
industry

Group 10
The craft industry is
better for export than the
fisheries products

Pro Side

Contra side

if they are criticized and given input for the improvement.


Students tend to accept the input for the group development.
In rebuttal, there are no students who cant talk and share
the opinion. Everybody says their thought, feeling, and
the result of analysis. The ability to speak is proven by the
fluency in debating that students easily state their point of
view and enrich the knowledge from written language into
oral language.
It is proven that the use of argumentative essay can
improve the ability of speaking. The technique which is
provided in the writing strategy, helps the writer to organize
the ideas and observation to advanced the essay into spoken
from. This ability needs practices and skill so the role of
lecturer is providing the specific technique to make an essay
and the strategy to use the writing result into discussion
in debating. The challenge in rebuttal is very interactive
and attractive because students have the encouragement
to talk more and say what is right based on their opinion.
The strong claim is a production of student critical thinking
based on their observation and discussion in a group and it
is as representative of the group strong opinion as the basis
of argumentation.
The activity in debating shows that students actively
state the arguments using relevant reasons as the result of
collaborative learning. The rebuttal system gives the chance
for the student to show the ability in speaking. Each member
will get the chance to state the group argumentation without
attacking personal appearance of the opponent. Students
must understand the value in debating because attacking
someones opinion is acceptable but fighting against the
performance and physical isnt allowed. The topic that
has been chosen by the lecturer is in the area of social and
science so that students wont use the insulting words to
attack the opponents opinion. English words provide
meaningful understanding in which the listener will have
the understanding from the chosen words. In order to
produce appropriate words and sentences in communication,
someone should know in mind what she/he is going to say.
Students as the debaters must understand what should be
told and appropriate for the listeners to hear. They should
think wisely what can be stated and what cant be acceptable
in the communication. The use of argumentative essay
makes the spoken language of the student understandable
and acceptable for the listeners.
There is a difference between the collaborative learning
and another learning style. Collaborative learning gives
a complete strategy of learning from the basic step until
the advanced practices. In debating, the most appropriate
technique in introducing basic step is using argumentative
essay which provides an exercise on writing strong claim,
reasons, example and conclusion. The sentences in writing
form are stated orally through students presentation.
Putting the ideas into written form is needed before students
perform their speaking skill. Second language acquisition
students feel the need of writing before speaking. It is very

Wahyuni: Teaching Speaking for Debating Using Argumentative Essay

important for students to have the writing preparation to


reach the speaking fluency. Furthermore, the lecturer can
see the difference output when the use of collaborative
learning is applied in the classroom. The impacts are even
greater that students try to apply the technique in another
subject for their study. It is a fact that writing and speaking
are complementary study which means speaking wont be
a successful learning without writing exercises.

discussion

English skill is suitable to be introduced to the students


as second language acquisition in collaborative way. There
is the need of a difference learning style in the classroom.
It is the task for the trainer, teacher, and lecturer to provide
an appropriate technique and suitable for the learning goal.
English conversation subject for the semester students of
FISIP has the learning target for the students. The learners
are expected to master the technique of stating the opinion,
the group discussion, and personal analysis toward the topic
discussed. Reading the note and looking at the written form
dont improve the speaking skill. In order to change the
student habit of presenting or stating the opinion, a new
technique must be used to cover the need of different level
of students. Some students may speak fluently, others may
be so reluctant to pronounce a word in English. The task of
lecturer in teaching English for speaking class is providing
creative activity and material which encourage them to
participate actively.
The application of debating as the English material
promotes the collaborative learning. Students write the essay
in argumentative sentences, such as strong claim, relevant
reasons, examples and conclusion. Furthermore, the debaters
in rebuttal session should state the written results into oral
presentation. The impacts of using this collaborative learning
style are as follow.
(1) Students can pronounce the words correctly
(2) Students are able to express the language using
facial expression and movement
(3) Students spend much time to study well
(4) Students knows the technique to argue
(5) Students are able to make an argumentative essay
Argumentative essay is aimed to get the target language
of mastering English both written and spoken components.
The spoken aspect is taught to the second semester
students in order to make them present the strong claim in
confidence and show the skill fluently. The word fluent
in this debating material means that students can explain
the statements in logical reasons and prove them using some
evidences. The way of explaining the group declaration is
using the emphasis, stress, and tone to give meaningful
comprehension to the listeners and the opponent. The
debaters are trained to master the technique of rebuttal that
they have to know when to give the emphasis, stress and

29

tone on the words. Furthermore, students are also trained to


think logically in which they must use acceptable and proven
analysis to attack the opponent statement.
The goal of mastering these components is to prepare
the students with the argumentation from the opponent
so that they know how to respond and give appropriate
answers. The debaters should be responsive to the answer
of the opponent. They must react quickly and positively to
the opinion which can weaken the group strong claim. The
debater shouldnt involve the emotional feeling even though
the opponent attacks the group statement. The members in
a group should cooperate well and help the other member to
respond the questions. Students can use the essay that they
write before the rebuttal. They recall their memorization of
what they write on the essay to answer the opponent.
The function of argumentative essay is very crucial
in responding to the question and answer in rebuttal. This
is the technique that promotes to the teacher, trainer, and
lecturer for using argumentative essay to prepare the
students in debating material. It can be said that students
wont get the ideas, answer, and input to attack the opponent
without making a plan by using argumentative essay. The
effect of collaborative learning is positively beneficial for
both students and lecturer. In order to communicate well
in English, students must be taught an interactive material,
such as debating technique. The technique of memorization
on dialogues of two pair and group discussion isnt enough
to make students be encouraged by the teaching and learning
system in the classroom. An English teaching material
especially in speaking must provide the learners with an
interesting topic and applicable strategy to improve the
speaking ability.

conclusion

Mastering speaking skill can use many different


techniques. One of creative strategy to improve the
oral English presentation is teaching debating using
argumentative essay. The technique of debating is as
production of writing argumentative essay because it
contains strong claim, relevant reasons, examples and
conclusion. The components in this essay support the ideas
of organizing all the opinion in a group. The argumentative
essay promotes a systematic step to write the arguments
in suitable language and organization. The use of writing
technique in speaking improves the ability of speaking. The
fact that the exercises in writing creates the knowledge of
what to say during the debating session, students find out
that they are more encouraged to speak.
Debating is considered as an interesting activity for
the students because they like to argue on someones idea.
The chosen topic attracts students to learn more about
social and sciences through internet web, data statistics,
analysis, observation, interview session, reading journal,

30

and newspaper. The students become active learners


because they study together, discuss in group, knowledge
exchange, and practice to speak with the partner. Because
of the different capacity in understanding the technique of
debating and speaking skill, students are helped with the
practice on writing argument. The intermediate level student
who lack of speaking practices, can memorize the words and
sentences in the essay so that they become fluent in English
during rebuttal.
Teaching writing and speaking are promoted to increase
the student mastery of English skill. Students are expected
not only able to speak but also write an essay, use new
vocabulary, and apply sentence pattern. The impact of
applying writing and speaking in debating material is to
introduce the use of language expression, pronunciation,
stress and tone. Debating in English will be easier for
students because the technique helps them in all levels.
Furthermore, this collaborative learning promotes the
learning style of improving speaking skill.

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 2330


references
Barnet S & Bedau H. 2011. Critical Thinking, Reading, and Writing. A
Brief Guide to Argument. Michigan: One World Publishers.
Broda-Bahm K. 2002. Perspectives in Controversy: Selected Essays from
Contemporary Argumentation and Debate. New York: International
Debate Education Association.
Crawford LM. 2001. Teaching contextually: Research, rationale, and
techniques for improving student motivation and achievement. Texas:
CCI Publishing, Inc.
Emilia E. 2010. Teaching writing: Developing critical learners. Bandung:
RIZQI Press.
Mayberry K. 2009. Everyday Arguments. A Guide to Writing and Reading
Effective Arguments. New York: Houghton Mifflin Company.
Starkey L. 2004. How to Write Great Essays. New York: Learning
Express.
Stiggins R. 1996. Assessing Writing. Addison-Wesley: Longman.
Tillitt B & Bruder N. 1999. Speaking Naturally. Communication Skills in
American English. United Kingdom: Cambridge University Press.
Weissman J. 2009. The Power Presenter. Technique, Style, and Strategy
from Americas Top Speaking Coach. New Jersey: John Wiley &
Sons, Inc.
Young, P. 2006. Writing and Presenting in English. The Rosetta Stone of
Science. Boston: ELSEVIER

31

Pendekatan Sistem Manajemen dalam Pencapaian Tujuan


Anang Dwi Putransu Aspranawa
Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Balitar Blitar
abstrak

Pendekatan sistem (system approach) merupakan metode ilmiah yang implementasinya secara sederhana dilukiskan sebagai
penerapan berpikir sistem menganalisis sesuatu masalah secara efektif dan efisien. Pengelolaan organisasi atau lebih tepatnya disebut
dengan manajemen pada sebuah organisasi dalam proses upaya mencapai tujuan secara realitis. Praktiknya pada organisasi apa pun
bentuknya tidak lepas muncul suatu masalah/persoalan baik dari faktor internal maupun eksternal. Penerapan pendekatan sistem
manajemen merupakan solusi yang dapat dilakukan dengan model sistem masukan-proses-hasil, implementasinya ada 2 (dua)
tahapan tindakan, Tahap pertama: identifikasi pada sistem yang terbentuk dan yang dimiliki (fungsi baku manajemen), Tahap kedua:
Menganalisis fungsi demi fungsi dan faktor yang terlibat berpengaruh pada pencapaian tujuan, dengan menggunakan analisis SWOT
untuk penetapan ukuran kesiapan dan ketidaksiapan dalam upaya capaian standar baku (skala Prioritas dalam ratio target pencapaian
sasaran). Hasil akhir analisis ketidaksiapan fungsi dan faktor yang terlibat berarti masalah yang harus dihadapi dan harus diadakan
penyelesaian masalah dengan mencari solusi untuk menjadikan kesiapan fungsi dan faktor yang terlibat sampai dengan pencapaian
standar baku yang ditetapkan dalam pencapaian tujuan.
Kata kunci: pendekatan sistem, fungsi baku manajemen
abstract

System approach is the scientific method of implementation that simply described as the application of the thinking system to analyze
something with effective and efficien problems. Management organization or rather right is called with management on an organization
in the process of achieving the goal realisticaly. Practically in any organization does not loose its shape appears a problem/ issue
therefore both internal and external factors. The implementation of a management system approach is the solution it can do with the
models system input-process-outcome, the implementation there are two (2) phases of the action, the first step: identifying the system
formed and owned (standard management functions), second step: Analyzing function by function and factors involved wich is affect
the achievement of objectives, by using a SWOT Analysis for determining the size of preparedness and unpreparedness in an attempt
achievement standards (Prioritiy scale in ratio target of achievement). The final results of analysis unpreparedness functions and factors
which involved its means that the problem must be faced and must be held solving problems by finding a solution to make preparedness
functions and factors involved up to the standard that standards achievement to achievement the goals.
Keywords: systems approach, raw function management

pendahuluan

Era Globalisasi menjadikan per ubahan dan


pengembangan teknologi informasi yang sangat pesat.
Kondisi ini jelas mengakibatkan perlunya cara- cara baru
dalam menyikapi semua yang terjadi agar dapat tetap survive.
Penekanan akan makin pentingnya yang terbaik, yang
bermutu dan yang berkualitas dengan standar baku IPTEK
tinggi dan IMTAQ sempurna harus dimiliki. Salah satu
respons dalam menyikapi perubahan tersebut. memerlukan
upaya- upaya untuk menciptakan dan meningkatkan serta
mengembangkan dalam suatu sistem yang sudah ada dan
yang sudah terbentuk dan yang dimiliki.
Dalam dunia usaha baik bidang jasa maupun barang,
aktivitas oprasionalnya agar memperoleh hasil sesuai
yang diharapkan dan tercapai yang maksimal (standar
tujuan yang ditetapkan) perlu di lakukan dalam bentuk

nyata ketatalaksanaan/kepengurusan atau lebih tepatnya


disebut dengan Manajemen yaitu suatu proses dalam rangka
mencapai tujuan yang implementasinya bekerja bersama
melalui sumber daya manusia dan sumber daya selebihnya
pada sistem yang ada dengan secara efektif dan efisien.
Pengelolaan pada sebuah organisasi (organisasi oriented
profit maupun oriented non profit) dalam konsep dan teori
manajemen utamanya upaya untuk pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan, prosesnya perlu didukung dengan
fungsi fungsi baku manajemen yang didalamnya terdapat
unsur unsur dan subtansial bagian/bidang yang terbentuk
didalamnya. Sebuah organisasi merupakan sebuah sistem
yang didalamnya terdapat komponen sistem. Setiap
komponen itu memiliki fungsinya yang masing-masing
saling terkait untuk pencapaian tujuan.
Teori sistem dalam pendekatan sistem mempunyai

Jurnal Ekonomika, Vol.7 No. 1 Juni 2014: 3135

32

peranan penting dalam berbagai ilmu pengetahuan, bentuk


nyata dalam kajian teori Pendekatan sistem merupakan
suatu metode ilmiah upaya penyelesaian masalah secara
menyeluruh dengan penerapannya dilakukan secara efektif
dan efisien melalui analisa permasalahan yang muncul
interaksinya pada faktor-faktor yang berpengaruh. Suatu
proses pencapaian hasil atau tujuan yang sudah ditetapkan
secara realitis dalam praktiknya pada organisasi apa pun
bentuknya tidak lepas muncul suatu masalah/persoalan
baik dari faktor internal maupun eksternal. Penerapan
pendekatan sistem manajemen merupakan solusi yang dapat
dilakukan dengan model sistem masukan-proses-hasil di
mana tindakan-tindakan berbagai bagian dari sistem antara
masukan dan hasil terdapat sebuah proses yang memiliki
banyak komponen yang berinteraksi untuk dianalisis sesuai
standar baku pencapaian.
Pendekatan Sistem Manajemen dipandang sangat
tepat untuk diterapkan dalam pencapaian tujuan, baik
merealisasikan program yang wajib dilaksanakan bagi
organisasi sehubungan peraturan yang telah distandarkan
maupun capaian tujuan yang ditetapkan oleh organisasi yang
bersangkutan. Untuk itu di bawah ini akan dikemukakan
fokus kajian, tujuan dan manfaat kajian, teori sistem dan
pendekatan sistem manajemen dengan kajian fungsifungsi baku manajemen serta langkah-langkah penerapan
pendekatan sistem manajemen dalam upaya mencapai
tujuan.
Rumusan Masalah:
Apa Arti sistem dan pendekatan sistem manajemen?
Apakah yang dimaksud fungsi-fungsi baku manajemen?,
dan
Bagaimanakah penerapan pendekatan sistem
manajemen dalam pencapaian tujuan?
Tujuan
Mendeskripsikan arti sistem dan pendekatan sistem
manajemen.
Mendeskripsikan Fungsi fungsi baku manajemen.
Implementasi Penerapan pendekatan sistem manajemen
dalam upaya mencapai tujuan?
Manfaat
Secara teori bagi peneliti atau edukatif di bidang
manajemen dapat dipergunakan acuan dalam
pengembangan dan penelitian lebih lanjut.
Secara praktis bagi pelaku manajemen dipergunakan
acuan konsep strategi pengambilan keputusan dalam
upaya pencapaian tujuan.
Analisa Teori
Istilah sistem berasal dari Bahasa Yunani systema
yang berarti keseluruhan (a whole) yang tersusun dari
sekian banyak bagian. Istilah system digunakan untuk

menunjuk banyak hal di antaranya himpunan bagian yang


saling berkaitan, keseluruhan organ-organ, tubuh tertentu,
sehimpunan ide-ide, prinsip dan sebagainya. Sistem juga
mengandung dua makna sebagai suatu wujud benda dan
sebagai metode. Ada beberapa definisi mengenai sistem
menurut Manetsch & Park (1979) dalam Eriyatno, Sistem
adalah suatu gugus dan elemen yang saling berhubungan
dan terorganisasi untuk mencapai suatu tujuan atau suatu
gugus dari tujuan. Sedangkan menurut Mc Manama (1971):
sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dan
fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai
satu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang
diinginkan secara efektif dan efisien. Pendapat dari Edgar
F. Huse & James L. Bowditch (1983): sistem adalah suatu
seri (rangkaian) bagian-bagian yang saling berhubungan dan
bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling
pengaruh dari satu bagian akan memengaruhi keseluruhan.
Dalam tiap-tiap komponen itu mempunyai fungsi khusus,
dan di antara mereka terdapat saling hubungan, interaksi
dan interdependensi yang secara bersama-sama menuju
suatu tujuan bersama. Diperjelas oleh William A. Sharode
dan D. Voich dalam Komariah (2009:1) menyebutkan:

(1) Suatu system terdiri atas bagian-bagian yang


saling terkait satu dengan yang lainnya. (2) Bagianbagian yang saling berhubungan itu dapat bekerja dan
berfungsi secara independent atau bersama-sama, (3)
Berfungsinya bagian-bagian tersebut ditujukan untuk
mencapai tujuan umum dari keseluruhan (sinergi) dan
(4) Suatu system yang terdiri atas bagian-bagian yang
saling berhubungan tersebut berada dalam lingkungan
yang kompleks.

Berdasarkan beberapa definisi tentang sistem dari para


ahli tersebut ada dua sudut pandang yaitu sistem sebagai
suatu wujud atau benda (entity) dan sistem sebagai metode
(pendekatan sistem). Yang maknanya mengandung beberapa
aspek dalam peran dan fungsinya untuk mencapai tujuan.
Setiap sistem memiliki sub sistem dan setiap sub sistem
dapat lagi dibagi menjadi sub-sub sistem. Supra sistem
adalah sistem di luar dari sistem sedangkan sub sistem
berada di dalam sistem. Supra sistem adalah sistem yang
lebih besar yang berada di luar sistem. Memandang sesuatu
sistem atau menetapkan suatu sistem tergantung pada
konteks atau pokok masalah yang akan dibahas. Bagi penulis
arti sistem yang mudah dipahami adalah sehimpunan unsur
yang melakukan sesuatu kegiatan atau menyusun skema
atau sesuatu tata cara yang terangkum dalam pemrosesan
pelaksanaan kegiatan dalam pencapaian tujuan.
Pendekatan Sistem
Pendekatan sistem terdiri dari satu set alat perencana
yang menunjukkan apa yang harus dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan yang sudah diidentifikasikan
dan dirumuskan mengingat sangat kompleks dan saling

Aspranawa: Pendekatan Sistem Manajemen dalam Pencapaian Tujuan

berkaitnya permasalahan yang ada serta luas dan


beragamnya setiap bidang yang ditangani, Sistem sebagai
metode disebut juga pendekatan sistem (system approach).
yang implementasinya dilakukan beberapa tahap (2 (dua)
tahap atau lebih) Pendekatan pertama adalah berupa
tindakan dimana mengidentifikasi bidang/fungsi yang telah
ditetapkan pada suatu sistem yang terbentuk dan disusun
secara terstruktur menurut hirarkhinya guna mengetahui
problema yang muncul. Pendekatan kedua melakukan
analisis dengan menyesuaikan metode dan teknik analisis
pada bidang/fungsi serta faktor yang terlibat dalam masalah
yang ada untuk penyelesaian masalah guna mencapai
tujuan.
Pendekatan sistem secara sederhana dilukiskan sebagai
penerapan berfikir sistem dalam menganalisis sesuatu
masalah tertentu. Masalah yang akan di analisis itu di lihat
sebagai sesuatu kesatuan sistem, dimana bagian-bagian dari
sistem tersebut saling bergantung dan berjalin satu sama
lain, sehingga bila terdapat kerusakan atau kekurangan
sempurnaan dalam salah satu bagiannya akan terjadi ketidak
seimbangan dalam sistem tersebut.
Sejalan dengan uraian di atas, Van Gigch (1974)
mengemukakan, bahwa pendekatan sistem merupakan
desain metodologi, kerangka kerja konseptual, metode
ilmiah baru, teori keorganisasian, sistem manajemen, metode
rekayasa riset operasi, dan metode untuk meningkatkan
efisiensi biaya serta metode untuk menerapkan teori umum
sistem
Sebagai desain metodologi, pendekatan sistem
merupakan alat bantu bagi para pengambil keputusan
dengan cara mempertimbangkan semua permasalahan
yang berkaitan dengan keputusan yang akan diambil.
Sedangkan pendekatan sistem sebagai kerangka konseptual
bertujuan untuk mencari berbagai persamaan dan berbagai
kecenderungan fenomena yang ada dengan menggunakan
analisis multidisiplin. Dan sebagai metode ilmiah,
pendekatan sistem mencoba mewujudkan cara berpikir
baru yang dapat diaplikasikan, baik terhadap ilmu-ilmu
perikehidupan maupun terhadap ilmu-ilmu perilaku.
Pendekatan sistem merupakan salah satu metode ilmiah
yang telah turut melengkapi paradigma metode ilmiah yang
sudah ada.
Dari hasil kajian kepustakaan menunjukkan bahwa
pendekatan sistem merupakan pendekatan ilmiah dalam
pemecahan berbagai masalah. Mengaplikasikan cara
berpikir sistem dalam melihat suatu objek yang kita hadapi,
umpamanya dalam kita melihat sistem pada organisasi,
kita melihatnya sebagai suatu kumpulan yang mempunyai
bagian-bagian yang kompleks dan kesemuanya berjalin satu
sama lain sehingga merupakan suatu unitas multiples.
Artinya jika salah satu bagiannya rusak maka fungsi dari
sistem keseluruhan akan terganggu, cara berpikir dengan
menggunakan konsep pendekatan sistem adalah cara
berpikir sistem, melalui suatu kerangka yang melukiskan
faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal sehingga

33

merupakan suatu keseluruhan secara terpadu.


Pendekatan sistem Manajemen
Pendekatan sistem digunakan dalam pembahasan
manajemen, hal ini disebabkan karena pendekatan sistem
dapat mencakup keseluruhan sistem manajemen dalam
fungsi fungsi manajemen. Sesungguhnya masih ada
pendekatan yang lain dalam administrasi ialah contingency
atau pendekatan situasional tetapi pendekatan ini tidak
banyak digunakan oleh pelaku manajemen mengingat
pendekatan sistem manajemen di dalam analisisnya
sudah mencakup pendekatan situasional Misalnya dalam
pelaksanaan program dari pemerintah terinteraksi pelaku/
pelaksana dan pengguna program tersebut bila kebijakan
atau peraturan pemerintah berubah, maka institusi
(organisasi) atau sistem manajemen yang dilakukan akan
berubah secara langsung juga berubah selaras perubahan
kebijakan
Sebelum pada pendekatan sistem manajemen maka
lebih dulu pemahaman pengertian manajemen menurut para
ahli yang berbeda satu sama lain namun pada hakikatnya
adalah sama. Seperti menurut Terry dan Rue (1982:1)
manajemen adalah a process or form of work that involves
the guidance or direction of a group of people toward
organizational goals or objectives. yang kurang lebih
artinya manajemen adalah sebuah proses atau bentuk kerja
sama yang melibatkan sekelompok orang untuk mencapai
tujuan organisasi. Menurut Parker (Stoner & Freeman,
2000) mendefinisikan manajemen adalah the art of getting
things done through people. Dengan Pendapat para ahli arti
manajemen tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen
adalah ilmu dan seni mengelola dan mengendalikan sumber
daya manusia dan sumber daya selebihnya melalui fungsi
fungsi baku guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pendekatan Sistem manajemen pada aturan main dalam
implementasi oprasional pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan meski didukung dengan fungsi fungsi baku dan/
atau substansial bagian. Deskripsi dalam pendekatan sistem
manajemen fungsi fungsi baku tersebut diklasifikasikan
dalam dua bagian antara lain fungsi spesifik (inti) dan fungsi
umum. Predikat spesifik mengingatkan bahwa output fungsi
yang bersangkutan tergolong input spesifik, merupakan input
yang diperlukan oleh fungsi fungsi tertentu saja. Predikat
umum mengingatkan output fungsi yang bersangkutan
tergolong umum, dalam arti input tersebut diperlukan oleh
semua fungsi, dan masing masing fungsi yang terangkum
didalamnya berinteraksi, yang diilustrasikan apabila dari
salah satu fungsi sangat dominan dalam upaya pencapaian
sasaran, maka fungsi fungsi baku yang lainnya secara tidak
langsung sebagai pendukung dan/atau penunjang.
Berikut contoh fungsi fungsi baku manajemen produk
Barang dalam profit oriented Tergolong fungsi fungsi baku
dengan sebutan spesifik meliputi: Manajemen Produksi
mencakup Fungsi Produksi, Fungsi perencanaan Produk,
Fungsi Research dan pengembangan Produk. Manajemen

Jurnal Ekonomika, Vol.7 No. 1 Juni 2014: 3135

34

Fungsi Umum

Fungsi Spesifik

Alur Bagan
Pendekatan Sistem
Manajemen guna mencapai
tujuan yang telah ditetapkan

F7
F6

F5

F4

F8

111

sasaran yg di dicapai

F0

F11
((SOdicapai)
F9

F3

0F2

F1

F10

Keterangan:

F6 : Reserch dan Pengembangan pemasaran

F7 : Personalia /SDM
F8 : sarana dan prasarana
F9 : Keuangan
F10 : Oprasional
F11 : Program-Umum + Inti manajemn

F1
F2
F3
F4
F5

: Produksi
: Perencanaan dan riset Produk
: Research dan pengembangan Produk
: Pemasaran
: Perencanaan Pemasaran

Manajemen Fungsi spesifik


dalam Bagian dan/atau Bidang
dapat disesuaikan dengan
kebutuhan.

F0 : Tujuan Baku / S0 : Sasaran

Gambar 1. Alur Bagan Pendekatan sistem Manajemen


Sumber: Pornomosidi Hadji Saroso, 1989, Butir butir memahami fungsi baku.

Pemasaran mencakup Fungsi aktivitas pemasaran, Fungsi


Perencanaan dan pemasaran, Fungsi Research dan
pengembangan Pemasaran. Tergolong fungsi baku dengan
sebutan umum meliputi: Manajemen SDM, Manajemen
Keuangan, Manajemen Sarana prasarana, Manajemen
Oprasional, Inti Manajemen, sebagaimana nampak pada
gambar berikut:

Golongan Fungsi/
Faktor

Implentasi Penerapan Pendekatan Sistem Manajemen


(Analisis Fungsi Baku Manajemen Guna Pencapaian
Tujuan)
Keseluruhan dalam fungsi baku tersebut terangkum
merujuk pada tingkat kesiapan dalam upaya pencapaian
tujuan, dan untuk mengenali tingkat kesiapan perlu
dikaji melalui perbandingan keadaan yang sesuai dengan

Hasil Penilaian Atas Tingkat Kesiapan


Fungsi / Faktor
Siap
Tidak Siap

Internal

Kekuatan
Streght

Kelemahan
Weakness

Eksternal

Peluang
Opportunity

Ancaman
Threat

Sumber kemampuan
untuk meniadakan
persoalan

Banyak/ timbulnya
persoalan (ketidaksiapan
fungsi)

Gambar 2. Kerangka kerja analisis SWOT


Sumber: Pornomosidi Hadji Saroso, 1989, Butir butir memahami fungsi baku.

Aspranawa: Pendekatan Sistem Manajemen dalam Pencapaian Tujuan

kenyataan dengan ukuran kesiapan yang telah ditetapkan


(skala Prioritas dalam ratio target pencapaian sasaran).
Penetapan ukuran kesiapan dilakukan fungsi demi fungsi
menurut hirarkhi struktur yang berlaku, dengan suatu
hasil yang didapatkan dan penilaian atas tingkat kesiapan
fungsi, oleh karena itu dalam suatu analisis perlu dilakukan
penilaian atas kesiapan fungsi, yang ditentukan pada setiap
faktor pada masing-masing fungsi tersebut. Faktor dimaksud
merupakan hal yang berpengaruh pada tingkat kesiapan
fungsi (Implementasi untuk menilai tingkat kesiapan fungsi
dan faktor dapat dinyatakan menurut maknanya: () Nilai
Siap bermakna Kekuatan (Strenght) bagi faktor Internal
dan bermakna Peluang (Opportunity) bagi faktor eksternal.
( Nilai Tidak Siap Bermakna Kelemahan (Weakness) bagi
faktor Internal dan bermakna ancaman (Threat) bagi faktor
Eksternal.
Pernyataan tersebut merupakan rangkuman dari hasil
atas penilaian tingkat kesiapan faktor dan fungsi dengan
melakukan analisa SWOT seperti gambar berikut:

kesimpulan

Sistem terdiri atas bagian-bagian yang saling terkait


satu dengan yang lainnya di mana bagian-bagian yang
saling berhubungan itu dapat bekerja dan berfungsi
secara independent atau bersama-sama untuk mencapai
tujuan.
Pendekatan sistem secara sederhana dilukiskan sebagai
penerapan berPikir sistem dalam menganalisis sesuatu
masalah tertentu. Masalah yang akan di analisis sebagai
sesuatu kesatuan sistem, di mana bagian-bagian dari
sistem tersebut saling bergantung dan berjalin satu
sama lain.
Fungsi baku Manajemen merupakan fungsi penentu
pencapaian tujuan yang dikelompokkan 2 (dua) bagian
Umum dan spisisik Deskripsi dalam pendekatan sistem
manajemen fungsi fungsi baku tersebut diklasifikasikan
dalam dua bagian antara lain fungsi spesifik (inti) dan
fungsi umum. Predikat spesifik. output fungsi yang
bersangkutan tergolong input spesifik, merupakan
input yang diperlukan oleh fungsi fungsi tertentu saja.

35

Predikat umum, output fungsi yang bersangkutan


tergolong umum, dalam arti input tersebut diperlukan
oleh semua fungsi, dan masing masing fungsi yang
terangkum didalamnya berinteraksi, yang diilustrasikan
apabila dari salah satu fungsi sangat dominan dalam
upaya pencapaian sasaran, maka fungsi fungsi baku
yang lainnya secara tidak langsung sebagai pendukung
dan/atau penunjang.
Penerapan Pendekatan sistem manajemen dalam
implementasinya dikenal ada dua pendekatan yaitu:
Pendekatan pertama berupa tindakan identifikasi
fungsi fungsi baku manajemen dan substansial bagian/
bidang yang terbentuk dalam sistem yang dimiliki,
Pendekatan selanjutnya melakukan analisis dengan
metode dan teknik analisis baik kualitatif apa kuantitatif
yang dipilih, Keseluruhan dalam fungsi fungsi baku
tersebut terangkum merujuk pada tingkat kesiapan
dalam upaya pencapaian sasaran, dan untuk mengenali
tingkat kesiapan perlu dikaji melalui perbandingan
keadaan yang sesuai dengan kenyataan dengan ukuran
kesiapan yang telah ditetapkan (skala Prioritas dalam
ratio target pencapaian sasaran).

daftar pustaka
Manetsch & Park, dalam Eriyatno, Ilmu Sistem, Meningkatkan Mutu dan
Efektivitas Manajemen, IPB Press Bogor, 1979.
Mc. Manama, Competency-Based Education and Behavioral Objectives.
New Jersey: Educational Technology Publications, Engelwood Cliffs.
1971.
Edgar F. Huse & James L. Bowditch, A Futurist as system science, system
research, Prentice-Hall, New jersey, 1983.
William A. Sharode dan D. Voich dalam Komariah. Course Planning.
Adelaide: Advisory Center for University, the University of Adelaide.
2009:1.
Van Gigch JP, Metamodelling: The Epistermology of System Science
System Practice, 1983, Vol. 6 (3), 251: 258.
George Terry & Rue, Principle of Management terjemahan Drs. Sujai,
1982:1
Parker (Stoner & Freeman), Manajement, Second Edition, Prentice-Hall
International, Inc, Englewood Cliffs, New York, 1982.
Purnomosidi Hadjisaroso, Pendekatan Sistem Manajemen, Butir-butir
untuk Memahami Fungsi Baku, Departemen Pekerjaan Umum
Republik Indonesia, Jakarta, 1998.
Hersey dan Blanchardn, Leadership and Strategic Manajement in
Education. London: paul Chapman Publishing Ltd, 2002.

36

Pentingnya Audiensi Konsumen dalam Merancang Strategi


Periklanan yang Efektif
Jokhanan Kristiyono
Dosen Mata Kuliah Periklanan, STIKOSA-AWS
abstrak

Iklan dirancang dan dibuat untuk membuat masyarakat atau khalayak tertarik dengan pesan atau produk yang diberikan dalam
iklan tersebut, untuk itu iklan harus dapat menimbulkan efek khalayak atau konsumen. Untuk membuat iklan yang menimbulkan efek
yang baik dan maksimal, maka iklan itu harus efektif dan kreatif. Terdapat 7 langkah bagaimana membuat iklan yang kreatif dan
efektif. Salah satu langkah menyebutkan ialah Known Well Your Customer atau harus tahu betul konsumen atau khalayak seperti
teori yang ditulis oleh Pat Fallon dalam bukunya Juicing the Orange: How to Turn Creativity into a Powerful Business Advantages,
Harvard Business School Press, 2006. Untuk membuat iklan yang efektif, maka pembuat iklan (advertiser) harus paham bagaimana
membuat iklan yang dapat menimbulkan 6 faktor respons khalayak yaitu: Hear/See, yaitu respons khalayak untuk mendengar atau
melihat, Feel, respons khalayak untuk merasakan, Think/Understand, respons khalayak untuk berpikir dan mengerti, Believe, respons
khalayak untuk percaya, Connecting, respons khalayak untuk merasakan bahwa produk ini dibutuhkan oleh khalayak atau ada hubungan
dengan khalayak, dan terakhir Do, respons aksi dengan membeli atau menggunakan produk yang ditawarkan dalam iklan tersebut.
Pengiklan atau advertiser harus paham dan mengerti mengenai interaksi dan dampak. Interaksi-interaksi yang harus dirancang dan
dibuat yang dapat menimbulkan efek saling terkait. Selain itu harus mengerti bahwa di dalam pemasaran khususnya sasaran pasar
atau target market, faktor respons khalayak tidaklah sama untuk semua situasi komunikasi pemasaran. Why consumers behavior is
very important for advertiser?, pertanyaan yang sangat penting dan pertama kali muncul dalam pengiklan dalam merancang iklan.
Perilaku konsumen itu sangatlah penting untuk para pengiklan atau agensi periklanan, karena jika kita paham dan mengerti konsumen
maka konsep dan rancangan iklan yang akan kita buat akan menimbulkan atau menciptakan efek yang luar biasa dan mempunyai
tingkat efektivitas yang tinggi dalam penyampaian pesan komersial atau iklan. Fenomena tren itu erat kaitannya dengan pola dan
gaya hidup, psikografis serta pilihan dalam budaya konsumen. Untuk itu sebuah rancangan strategis periklanan yang efektif harus
didasari bagaimana proses konsumen dalam mengambil suatu keputusan dalam membeli atau menggunakan produk tersebut. Karena
cara konsumen dalam menentukan pilihan produk merupakan faktor yang sangat penting dalam mengidentifikasi konsumen potensial,
karena semakin banyaknya pilihan produk sejenis dan variasi merek hingga pilihan media yang terus berkembang menjadi faktor yang
memperumit bagaimana menentukan strategi periklanan.
Kata kunci: audiensi konsumen, efek khalayak, respons, interaksi, marketing communication, consumers behavior, psikografis.

pendahuluan

Saat ini banyak sekali produk-produk atau layanan baru


dari instansi dan perusahaan bermunculan, itu terlihat dari
banyak sekali iklan-iklan yang ada di berbagai media baik
itu media televisi, radio, cetak bahkan internet atau new
media. Iklan-iklan baru muncul jumlahnya sangat banyak,
memenuhi hampir di seluruh media dan berbagai program
dalam media tersebut.
Iklan dirancang dan dibuat untuk membuat masyarakat
atau khalayak tertarik dengan pesan atau produk yang
diberikan dalam iklan tersebut, untuk itu iklan harus
dapat menimbulkan efek khalayak atau konsumen. Untuk
membuat iklan yang menimbulkan efek yang baik dan
maksimal, maka iklan itu harus efektif dan kreatif. Pada
buku Juicing the Orange: How to Turn Creativity into a
Powerful Business Advantages, Harvard Business School
Press, 2006, ada 7 langkah bagaimana membuat iklan yang
kreatif dan efektif. Salah satu langkah menyebutkan ialah
Known Well Your Customer atau harus tahu betul konsumen
atau khalayak. Iklan adalah proses penyampaian pesan

atau informasi dari produk tersebut, maka di dalam proses


periklanan terdapat proses komunikasi seperti yang terlihat
dalam bagan proses komunikasi periklanan di bawah ini.
Merancang Iklan yang Efektif Menggunakan 6
Respons Khalayak
Pada tahun 1900an, teori AIDA atau Attention Interest
Desire and Action dalam ilmu komunikasi banyak sekali
dipakai atau menjadi dasar dalam pembuatan iklan. Iklan
harus membuat efek di konsumen atau khalayak dengan
teori tersebut yaitu iklan harus menimbulkan perhatian
(Attention), lalu timbul ketertarikan (Interest), setelah
tertarik konsumen diharapkan ada keinginan atau hasrat
(desire) untuk memiliki atau menggunakan produk tersebut
hingga efek terakhir yaitu ada aksi (action) yaitu proses
pembelian atau penggunaan produk yang diiklankan. Pada
tahun 1970an, muncul teori TFD dalam proses komunikasi
dalam iklan yaitu bagaimana iklan itu membuat respons
khalayak atau konsumen untuk berpikir (think), merasakan
(feel) hingga terakhir melakukan (do). Lalu pada tahun 1980

Kristiyono: Pentingnya Audiensi Konsumen dalam Merancang Strategi Periklanan yang Efektif

37

Gangguan Ekternal
Opini Publik

Strategi Marketing
Kompetisi

Receiver:

gangguan lainnya

Penerimaan dan
Respon

Source:

Pengiklan

Messages:

Bauran

Pengkodean

Media:

( Agensi)

Channel

Konsumen,

Pemahamamm
Pengertian,
Perasaan,

Hubungan,

Gangguan Internal
Kebutuhan

Keyakinan dan
Tindakan

Proses Informasi
Sikap dan Opini

gangguan lainnya

Feedback
Gambar 1. Bagan Proses Komunikasi Periklanan

hingga 1990 para pengiklan atau advertiser mengembangkan


proses komunikasi dalam iklan dengan menggunakan
domain simultan dalam khalayak atau konsumen yaitu
membuat efek dan respons khalayak dengan menimbulkan
persepsi konsumen (Perception) lalu mengajak konsumen
untuk belajar (Learn) atau memberikan pengalaman dalam
menggunakan produk tersebut, terakhir bagaimana proses
komunikasi dalam iklan yang persuasif (Persuasive) untuk
membuat konsumen yang sudah timbul persepsi baik dan
sudah merasakan atau mendapatkan pengalaman dengan
produk tersebut menjadi yakin untuk benar-benar membeli
atau menggunakan produk tersebut lalu menjadi konsumen
yang loyal.
Untuk membuat iklan yang efektif, maka pembuat iklan
(advertiser) harus paham bagaimana membuat iklan yang
dapat menimbulkan 6 faktor respons khalayak yaitu:
1. Hear/See, yaitu respons khalayak untuk mendengar atau
melihat
2. Feel, respons khalayak untuk merasakan
3. Think/Understand, respons khalayak untuk berpikir
dan mengerti
4. Believe, respons khalayak untuk percaya
5. Connecting, respons khalayak untuk merasakan bahwa
produk ini dibutuhkan oleh khalayak atau ada hubungan
dengan khalayak
6. Do, respons aksi dengan membeli atau menggunakan
produk yang ditawarkan dalam iklan tersebut.

Maka jika dihubungkan dengan efek iklan yaitu Pertama,


khalayak untuk mendengar atau melihat (Hear/See) maka
akan menimbulkan persepsi (perception). Kedua, respons
khalayak untuk merasakan hingga menimbulkan efek emosi
(emotion). Ketiga, respons khalayak untuk berpikir dan
mengerti merupakan efek kognisi (cognition) pada khalayak.
Keempat, respons khalayak untuk percaya (believe) timbul
karena efek persuasi (persuasive) dari iklan tersebut. Kelima,
respons khalayak dengan adanya hubungan dengan produk
tersebut timbul efek adanya asosiasi atau hubungan yang
erat dengan produk tersebut. Terakhir atau yang keenam,
respons khalayak melakukan aksi maka erat hubungannya
dengan efek perilaku dari khalayak. Hubungan efek iklan
dengan 6 respons khalayak biasa disebut Facet of Effect
Model dalam proses komunikasi di periklanan.
Berikut ini tabel Marketing Communication Effects;
Pada efek komunikasi pemasaran atau biasa disebut
marketing communication effect, seperti yang disebutkan
pada tabel di atas. Maka pengiklan atau advertiser harus
paham dan mengerti mengenai; pertama, interaksi dan
dampak. Paham betul interaksi-interaksi yang harus
dirancang dan dibuat yang dapat menimbulkan efek saling
terkait. Selain itu harus paham betul juga bahwa di dalam
pemasaran khususnya sasaran pasar atau target market,
faktor respons khalayak tidaklah sama untuk semua situasi
komunikasi pemasaran. Kedua, teori efek kuat dan efek
lemah dalam periklanan. Yaitu Teori Kuat: Advertising
meningkatkan pengetahuan orang dan mengubah sikap

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 3641

38

Gambar 2. Facet of Effect Model

orang, sehingga iklan mampu untuk membujuk orang yang


belum membeli suatu brand atau produk untuk membelinya
secara berulang. Dan Teori Lemah: Konsumen tidak terlalu
suka advertising. Jumlah informasi yang dikomunikasikan
terbatas. Advertising tidak cukup kuat untuk mengubah
keyakinan orang lain, mengatasi resistensi mereka atau
mengubah sikap. Kebanyakan advertising lebih efektif
untuk mempertahankan pengguna daripada menarik
pengguna baru. Untuk itu pengiklan harus mengerti dan
paham dengan bagaimana khalayak atau calon konsumen
tersebut, dengan melakukan audiensi konsumen.
Audiensi Konsumen untuk Mendapatkan Respons dan
Efek yang Maksimal dalam Periklanan
Why consumers behavior is very important for
advertiser?, pertanyaan yang sangat penting dan pertama
kali muncul dalam pengiklan dalam merancang iklan.
Perilaku konsumen itu sangatlah penting untuk para
pengiklan atau agensi periklanan, karena jika kita paham
dan mengerti konsumen maka konsep dan rancangan iklan
yang akan kita buat akan menimbulkan atau menciptakan
efek yang luar biasa dan mempunyai tingkat efektivitas yang
Tabel 1. Tabel Marketing Communication Effect
Tujuan
Persepsi
Emosi
Kognisi
Asosiasi
Persuasi
Perilaku

Respons

Penggerak

Lihat/Dengar Paparan, seleksi, perhatian, minat,


kesadaran, pengakuan
Merasakan
Keinginan/harapan, perasaan, kesukaan
Memahami
Kebutuhan, pembelajaran kognitif,
diferensiasi, pengingatan
Terhubung
Simbolisme, pembelajaran terkondisi,
transformasi
Percaya
Motivasi, pengaruh, keterlibatan,
keyakinan, kredibilitas, loyalitas
Bertindak
Mencoba, membeli, mengontak,
mendukung, merujuk

tinggi dalam penyampaian pesan komersial atau iklan.


Respons konsumen atau khalayak yang sangat
memengaruhi dalam periklanan muncul dari beberapa
faktor, yaitu faktor budaya (cultural factor), faktor sosial
(socials factor), faktor psikologis dan perilaku konsumen
dan terakhir factor target dan segmentasi pasar merupakan
faktor-faktor utama yang dapat memengaruhi efektivitas
iklan yang semua itu akan menciptakan suatu reaksi atau aksi
bagaimana konsumen menentukan pilihan atau keputusan.
Berikut ini bagan proses konsumen dalam mengambil
keputusan atau menentukan pilihannya;
Pertama, Pengaruh Sosial dan Budaya. Konsumen dalam
proses mengambil keputusan sangat dipengaruhi hal ini
yaitu bagaimana lingkungan sosial dan budaya yang dimiliki
oleh konsumen. Kultur yaitu Norma dan Nilai di dalam
masyarakat dan lingkungan, Sub Kultur, hingga Kultur
Korparat atau instansi di mana konsumen itu bekerja atau
beraktivitas. Sosial yaitu Kelas Sosial, Kelompok Referensi,
dan lingkungan Keluarga. Hingga Demografi yang terdiri
dari sosial-ekonomi, usia, gender, pendidikan, pekerjaan,
ras, pendapatan, geografis tempat tinggal atau lingkungan
hingga orientasi seksual.
Kedua, Pengaruh Psikologis. Khalayak yang dalam
hal ini adalah konsumen dipengaruhi hal psikologi dalam
pengambilan keputusan. Hal-hal seperti persepsi dan
keadaan Pikiran, Kebutuhan dan Keinginan (Need and
Desire), Motivasi, Personalitas, Psikografis yaitu aktivitas,
opini hingga perhatian personal (Activities, Opinions,
Interest) dari konsumen merupakan pengaruh psikologis
dari konsumen atau khalayak dalam menentukan sebuah
keputusan. Berikut ini bagan hirarki Kebutuhan dan
Keinginan Konsumen (Need and Desire).
Ketiga, Pengaruh Perilaku. Perilaku konsumen
merupakan pengaruh yang sangat besar dalam menentukan
keputusan oleh konsumen, perilaku penggunaan konsumen
terhadap brand atau produk menjadi acuan yang penting
dalam merancang strategi periklanan yang efektif. Perilaku
penggunaan brand atau produk bisa dibagi menjadi 3 hal:
Pertama adalah jumlah (kuantitas) penggunaan, pengguna
dikategorikan sesuai jumlah penggunaan produk tersebut
Penggunaan Ringan, Penggunaan Sedang, dan Penggunaan
Berat. Kedua adalah relasi (hubungan) dengan merk/produk
tersebut. Kategori ini dibagi menjadi 6 sub kategori yaitu
Non-Pengguna, Mantan Pengguna, Pengguna Regular,
Pengguna Pertama, Pengguna Loyal, dan Pengguna Tdk
Loyal. Ketiga ialah kategori Inovasi, konsumen dikategorikan
sesuai dengan sifat penggunaan produk atau brand. Dengan
sub kategori Inovator yaitu konsumen yang selalu mencoba
produk baru dan sering kali sub kategori ini konsumen
merupakan konsumen yang tidak loyal, Pengadopsi Awal
yaitu konsumen pembeli pertama atau mencoba pertama
kali, Mayoritas Awal konsumen produk awal tetapi sudah
menggunakannya lebih dari satu kali, Mayoritas Akhir
yaitu konsumen yang sudah sering menggunakan produk
tersebut dan mulai bosan atau berkeinginan beralih ke

Kristiyono: Pentingnya Audiensi Konsumen dalam Merancang Strategi Periklanan yang Efektif

39

Gambar 3. Bagan Proses Pengambilan Keputusan Konsumen pada Periklanan

produk yang lain, terakhir Laggard yaitu konsumen yang


sangat konservatif atau orang tidak pernah berani mencoba
produk baru atau produk lain.
Perilaku Konsumen dalam Menentukan Pembelian
Fenomena tren itu erat kaitannya dengan pola dan gaya
hidup, psikografis serta pilihan dalam budaya konsumen.
Dapat dilihat dari banyak hotel atau villa untuk tempat
menginap konsumen saat berlibur, makanan rendah kalori
yang saat ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat, makanan
sehat seperti antioksidan, makanan non lemak banyak sekali
muncul untuk memenuhi kebutuhan konsumen, peralatan
olahraga hingga produk-produk olahraga diciptakan guna
memberikan jawaban atas budaya masyarakat yang saat ini
sudah melihat dan memandang betapa pentingnya kesehatan
jasmani atau tubuh, dan masih banyak produk-produk baru
muncul untuk memenuhi tren atau budaya baru yang ada di
masyarakat. Untuk itu sebuah rancangan strategis periklanan
yang efektif harus didasari bagaimana proses konsumen
dalam mengambil suatu keputusan dalam membeli atau
menggunakan produk tersebut. Karena cara konsumen
dalam menentukan pilihan produk merupakan faktor yang
sangat penting dalam mengidentifikasi konsumen potensial,
karena semakin banyaknya pilihan produk sejenis dan
variasi merek hingga pilihan media yang terus berkembang
menjadi faktor yang memperumit bagaimana menentukan
strategi periklanan.
Agar iklan lebih menarik hingga mendapatkan perhatian
dari konsumen atau khalayak, maka iklan tersebut harus
relevan dengan minat baik itu keinginan dan kebutuhan
dari konsumen. Maka dengan memahami konsumen yaitu
apa yang menjadi keinginannya, dan bagaimana keadaan
atau kondisi psikis dan mental secara psikografis hingga

menjadikan produk kita sebagai sebuah kebutuhan,


merupakan langkah awal dalam mengidentifikasi sasaran
untuk pesan produk atau brand. Efisiensi dan Efektivitas
yang mengharuskan pengiklan melakukan Segmentasi
Pasar dan membidik kelompok konsumen yang tepat. Sandra
Moriarty dalam bukunya yang berjudul Advertising (2011)
menulis bahwa Segmenting atau segmentasi berarti membagi
pasa menjadi kelompok-kelompok orang yang memiliki
karakteristik yang sama. Targeting berarti mengidentifikasi
kelompok yang mungkin merupakan audiensi yang paling
menguntungkan dan paling mungkin merespons komunikasi
pemasaran. Dari Segmentasi dan Targeting yang sudah
dilakukan dan ditentukan secara benar, ini menentukan
keputusan yang sangat penting dalam strategi pesan iklan
dan media yang akan digunakan dalam advertising planning
(rencana periklanan). Segmentasi pasar merupakan hal yang
sering dilakukan dalam perencanaan iklan, pendekatan
ini merupakan cara yang terbaik untuk menjual ke pasar
dengan mengenali perbedaan konsumen dan menyesuaikan
strategi dan pesan berdasarkan perbedaan tersebut. Dengan
segmentasi perusahaan dapat menyesuaikan pesan dengan
kebutuhan dan keinginan khalayak atau konsumen dan
menghasilkan peningkatan penjualan produk tersebut,
seperti contoh produk minuman ringan isotonic dari danone
yaitu mizone yang pada awal produk yang diluncurkan
adalah produk minuman ringan isotonic pengganti cairan
tubuh dengan strategi nonsegmenting karena menyasar luas
kepada seluruh konsumen atau khalayak khususnya yang
beraktivitas berat dan kehilangan banyak cairan tubuh dalam
aktivitas tersebut. Mizone mengeluarkan produk baru yang
bernama Mizone Fresin, dengan segmentasi yang lebih detil
dan target yang lebih fokus produk ini menyasar segmen
demografis dan tahapan hidup yaitu usia muda atau Generasi

40



Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 3641


Gambar 4. Bagan Need and Desire
Hierarchy
Milenium (kelahiran tahun 2000) dengan pendapatan yang
kecil karena masih tergantung dari orang tua, maka produk
ini dijual dengan harga yang terjangkau dari segmen tersebut.
Selain itu menyasar segmen psikografis yang didasari
bagaimana konsumen tersebut membelanjakan uangnya,
pola kerja dan waktu senggangnya, minat dan opininya
hingga pandangan konsumen tentang diri mereka sendiri.
Strategi ini lebih kaya kreativitas dan ide dibandingkan
dengan segmen demografis karena menggunakan kombinasi
informasi psikologis dan gaya hidup. Terlihat jelas dalam
iklan Mizone Fresin, bagaimana iklan ini menunjukkan
produk ini dikonsumsi oleh siapa saja dan bagaimana pola
kerja, waktu senggangnya hingga minat dan opininya.
Setelah mengidentifikasi segmen, dan kemudian
segmen yang berpotensi dipilih untuk dijadikan sasaran
dari iklan atau komunikasi pemasaran. Melalui targeting,
perusahaan dapat merancang strategi komunikasi yang
spesifik untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan
audiensi dan menempatkan produk menjadi lebih menarik
dan relevan bagi konsumen atau khalayak. Maka targeting
merupakan factor utama dalam menentukan dan memilih
media yang tepat untuk iklan atau komunikasi pemasaran.
Dengan menyusun profil audiensi sasaran atau target
audiensi maka dapat dideskripsikan dengan menggunakan
variabel-variabel yang memisahkan kelompok konsumen
yang prospek dengan kelompok lainnya yang tidak ada
di pasar. Profil adalah deskripsi audiensi sasaran yang di



dalamnya memuat informasi detil gambaran seseorang atau


audiensi, ini dipakai untuk membuat informasi personal atau
mempersonalisasikan konsumen dalam rangka memilih
media sasaran dan pesan.

conclusion

Perilaku konsumen menggambarkan bagaimana personal


atau kelompok dalam memilih, membeli dan menggunakan
atau memakai produk tersebut hingga dapat menggambarkan
keinginan dan kebutuhan yang memotivasi perilaku
daripada konsumen. Konsumen merupakan audiensi untuk
komunikasi pemasaran dalam hal ini periklanan. Konsumen
adalah khalayak yang membeli atau menggunakan produk,
pelanggan adalah konsumen yang membeli brand atau
merek tertentu, sedangkan prospek adalah konsumen yang
potensial.
Faktor budaya dan sosial yang memengaruhi
pengambilan keputusan ialah masyarakat dan subkultur,
kelas sosial, kelompok referensi, usia, gender, status,
pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan rasa tau suku.
Pengaruh psikologis terhadap konsumen adalah persepsi
konsumen terhadap produk atau brand, motivasi, sikap,
psikografis hingga gaya hidup. Semua itu merupakan
pengaruh psikologis konsumen yang memengaruhi dalam
pengambilan keputusan. Proses keputusan konsumen
bekerja melalui informasi melibatkan 5 tahapan yaitu;

Kristiyono: Pentingnya Audiensi Konsumen dalam Merancang Strategi Periklanan yang Efektif

adanya kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi


alternatif, keputusan membeli dan terakhir evaluasi setelah
pembelian.
Maka pada pembahasan ini, begitu pentingnya
perencanaan strategi marketing communication dalam hal
ini periklanan yang berdasarkan audiensi konsumen atau
consumen audiencies sehingga mendapatkan informasi
yang lengkap dan detil sehingga dapat membuat strategi
periklanan yang efektif dan efisien.

41

daftar pustaka
Bonnie L. Drewniany, Creative Strategy in Advertising, 10th Edition,
Wadsworth Cengage Learning, Boston, USA, 2011.
Jokhanan K, Materi Ajar Perkuliahan Periklanan minggu ke 4 dan 5
tentang cara kerja periklanan dan Audiensi Konsumen, StikosaAWS, Surabaya, 2013.
Pat Fallon and Fred Senn, Juicing the Orange: How to Turn Creativity into
a Powerful Business Advantages, Harvard Business School Press,
Cambridge, Massachusetts, 2006.
Sandra Moriarty, Advertising 8th Edition, Person Prentice Hall, 2006.
Sandra Moriarty, Advertising, Kencana, Jakarta, 2011.

42

Pembentukan Karakter Kewirausahaan Bagi Anak Panti Agar


Memiliki Jiwa Entrepreneur
Misrin Hariyadi dan Badruli Martati
Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jl. Sutorejo No. 59, Surabaya
E-mail: gukrin@gmail.com dan badrulimartati@gmail.com
abstrak

Panti Asuhan Muhammadiyah (Mitra 1) selalu berupaya dan berkomitmen menjadikan anak asuh yang mandiri dengan
menanamkan jiwa entrepreneur. Salah satu hal yang diajarkan adalah produksi dan pemasaran telor asin, dengan memproduksi telor
asin rata-rata 250 butir/minggu dengan nilai: 250 4 Rp1.650 = Rp1.650.000/bulan. Teknologi pengolahan telur merupakan usaha
untuk mengawetkan, memperpanjang daya simpan, dan mencegah penurunan kualitas telur. Umumnya telur asin yang dibuat satu
rasa (asin). Modifikasi rasa telur asin dilakukan dengan menambahkan aneka rasa seperti rasa buah-buahan, rasa bawang putih,
rawon, soto, dan lain-lain. Metode memasak dengan dandang hasilnya tidak merata dan terbatas volumenya. Untuk itu dibutuhkan
alat pengovenan telor asin agar produksi meningkat dan dapat bertahan lebih lama. Di samping telur asin, usaha yang dilakukan
adalah pengawetan bawang merah dan putih. Oleh karena bawang merah dan putih mudah mengalami rusak dan busuk, serta
saat panen atau produksi berlebih maka harganya turun drastis. Untuk itu, satu cara menjaga harga bawang stabil dengan usaha
bawang goreng. Usaha bawang goreng yang dijalankan, kualitasnya kurang karena adanya minyak berlebih. Maka dibutuhkan cara
pengurangan minyak dengan mekanis, yaitu menggunakan mesin yang digerakkan oleh listrik dengan system putar (sentrifuse) dengan
kecepatan tertentu. Mitra 2, Panti Asuhan Putri Aisyiyah II Kebonsari yang berada di Surabaya masih dalam kondisi baik. Panti
ini merupakan amal usaha Pimpinan Daerah Aisyiyah Surabaya guna menampung dan memelihara serta mendidik anak-anak putri
muslim yang yatim, piatu, maupun dhuafa. Salah usaha panti adalah VCO, umumnya dimanfaatkan masyarakat untuk menggoreng
atau dikonsumsi bagi ibu hamil menjelang persalinan, memijat, mengerik, dan melembutkan rambut, sebagai campuran minyak telon
dan minyak cem-ceman. Yang paling menakjubkan, minyak kelapa dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Untuk itu dibutuhkan
pelatihan akuntansi dan manajemen keuangan dibutuhkan untuk membantu meningkatkan pengelolaan menjadi professional. Dari
produksi yang dilakukan jika ada pesanan ditingkatkan menjadi produksi secara rutin dan memiliki catatan keuangan yang benar,
dan dengan memperhitungkan ongkos produksi secara cermat maka harga jual dapat bersaing dengan produksi serupa di pasar.
Kata kunci: jiwa wirausaha, panti asuhan
abstract

Muhammadiyah Orphanage (Partner 1) is always committed to make independent foster children by encouraging entrepreneurial
spirit. One of the things that are taught are production and marketing of salted egg, salted egg production average of 250 eggs/week
with value: 250 4 Rp1.650 = Rp1.650.000/month. Egg processing technology is an attempt to preserve, extend shelf life and prevent
bad egg quality. Generally, salted egg eggs are made just in one flavor (salty). Modification of salted egg flavor by adding various
flavors such as fruit flavor, garlic flavor, rawon, soup, etc. Cooking with method of steamer, the result is uneven and limited volume.
That requires tool, microwave oven, to increase the production and may last longe r. Besides salted egg, another production that
is done in this training is the preservation of red and white onions. Because red and white onions easily damaged and rotten, and
the time of harvest or excessive production, then it make the price of onion dropping drastically. Because of that, one way to keep
the stable prices of onions is by producing fried onions. Quality of the running fried onions business is bad due to the excess oil.
Thus, it needs a solution to reduce the oil with a mechanical reduction method, which uses an electric engine powered by the rotary
system (centrifuge) with a certain velocity. Partner 2, Orphanage of Female children Aisyiyah II Kebonsari in Surabaya is still in
good condition. This Home is a charitable efforts of Regional Leaders Aisyiyah Surabaya to accommodate and nurture and educate
orphaned female Muslim children and the poor. One oforphanage business is VCO. The VCO generally used for frying or consumed by
pregnant women before delivery, to massage, scraping, and soften the hair, as a mixture of Telon oil, and oil-cemancem. The most
amazing, coconut oil can cure various diseases. Therefore, it requires accounting and financial management training to improve the
management professionalism. Based on the production, if there are orders, production will be increased to get the production on a
regular basis and have a proper financial record, and take into account production costs carefully, so the selling price of salted egg
can compete with similar product in the market.
Keywords: shaping entrepreneurship, orphanage

Hariyadi: Pembentukan Karakter Kewirausahaan Bagi Anak Panti Agar Memiliki Jiwa Entrepreneur
pendahuluan

Mitra 1: Panti Asuhan Muhammadiyah Wiyung


beralamat di Jl. Gemol 1C/23 A RT 001 RW 003 Jajartunggal
Wiyung Surabaya 60229 Jawa Timur. Telp 031-7671818/
Fax. 031 7674670, email pamwiyung@gmail.com atau
website: www.pamwiyung.blogspot.com atau facebook pa_
muhwiyung@yahoo.com, NPWP:1.478.787.3.541. Bertempat
di tanah wakaf dan didirikan tanggal 12 Agustus 2002.
Luas Panti Asuhan Muhammadiyah Wiyung 573
M2, dan bangunan dua lantai dengan luas 720 M2. Panti
Asuhan Muhammadiyah Wiyung ini menampung 20 anak
panti yang menetap dalam asrama dan mempunyai 90 anak
binaan yang tidak menetap di asrama. Sehingga ada 110
anak binaan yang menjadi tanggung jawab Panti Asuhan
Muhammadiyah Wiyung. Kegiatan unit usaha sembako
dan unit usaha lainnya bertujuan untuk: (1) mendapatkan
income bagi pendanaan operasional panti; (2) sebagai sarana
pembinaan dan pendidikan kewirausahaan bagi anakanak binaan Panti Asuhan Muhammadiyah Wiyung agar
memiliki jiwa entrepreneur.
Panti Asuhan Muhammadiyah Wiyung, dengan
jumlah orang yang dikelola panti: 120 orang + 4 pengurus,
memiliki usaha: Telur asin, Bawang Goreng, Tempe,
Percetakan CV. Grafica Eduyatima Divisi Zenitch Zahwa
Education and Training Centre, Pembersih lantai, Pencuci
piring,Pembersih kamar mandi, Air minum kemasan,
Sembako.
Mitra 2: Panti Asuhan Putri Aisyiyah II Kebonsari
yang berada di Surabaya masih dalam kondisi baik. Panti
ini merupakan amal usaha Pimpinan Daerah Aisyiyah
Surabaya guna menampung dan memelihara serta mendidik
anak-anak putri muslim yang yatim, piatu, maupun dhuafa.
Pada tahun 1987 Pimpinan Daerah Aisyiyah mendapatkan
wakaf 3 kavling tanah LVK dari 3 drh, seluas 1.126 M2
wakaf dari Drh. Suraso M.Ph. (Kav. 58 luas: 333 M2 ). Drh.
Sumpena Nata Jumena (Kav. 59 luas: 414 M2 ) dan Drh.
Sulistiyanto (Kav. 60 luas: 379 M2).
Tanah wakaf tersebut terletak di Kecamatan Gayungan
dengan amanat untuk kegiatan sosial. Berlandaskan
Al-quran surat Al Maun maka diputuskan untuk mendirikan
Panti Asuhan khusus ormon. Oleh karena di Kecamatan
Gayungan belum ada pimpinan cabang Aisyiyah maka
Pimpinan Daerah Aisyiyah kota Surabaya menyerahkan
pengolahan tanah tersebut kepada Pimpinan Cabang
Aisyiyah Wonocolo dan Pimpinan Cabang Aisyiyah
Wonokromo untuk dikelola bersama-sama. Panti Asuhan
Putri Aisyiyah II Kebonsari merupakan Panti Asuhan
yatim piatu/terlantar, didirikan tahun 1993, dengan alamat
Jl. Kebonsari Baru No. 36 Surabaya 60233 RT/RW:
II/III Kelurahan Kebonsari Kecamatan Jambangan Kota
Surabaya Propinsi Jawa Timur Telp. 031-8282488/8361513.
Status kepemilikan tanah: milik persyarikatan, untuk jalan
masuk membeli dengan status hak pakai. Akta ormone
Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dengan legalitas Dinas

43

Sosial Provinsi Jawa Timur.


Panti Asuhan Putri Aisyiyah II, anak yang dipanti:
40 orang + 15 pengurus, Usaha Mitra: Pendidikan Anak
Usia Dini ( PAUD ),Usaha Ekonomi Produktif (Depo Air
Isi Ulang), Usaha Ekonomi Produktif (Pembuatan Kue
Kering, VCO), Usaha Ekonomi Produktif (Menyewakan
Aula), Menyantuni Non Panti Asuhan ( yatim, dhuafa)
yang berada di sekitar panti.

metode

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini


menggunakan metode sebagai berikut:
1. Pendampingan kegiatan dan pelatihan peningkatan
kualitas dan kuantitas produksi, evaluasi dan refleksi
2. Pelatihan produksi membuat varian rasa telur asin
3. Pelatihan administrasi dan manajemen keuangan
4. Rancang bangun oven telur asin (mendesain sendiri alat
oven telur asin).

hasil dan diskusi

Mitra 1: Panti Asuhan Muhammadiyah Wiyung


a. Produksi dan Manajemen Usaha Telor Asin
BAROKAH
Pembuatan telur asin merupakan salah satu cara untuk
mengawetkan telur karena telur memiliki sifat yang
mudah rusak, baik rusak alami dan rusak secara fisik,
maupun kerusakan akibat serangan mikroorganisme
melalui pori-pori kulit telur. Prinsip pengawetan dengan
pengasinan adalah menutupi pori-pori kulit telur agar
tidak dimasuki mikroba, di samping mencegah air
dan gas keluar dari dalam telur. Tingkat rasa asin
ditentukan oleh berapa lama telur dibalut dengan
media yang terdiri dari garam beryodium dan serbuk
batu bata. Semakin lama prosesnya, rasa asin yang
menyerap pun semakin kuat.
Telur merupakan sumber protein. Jenis protein yang
terkandung dalam telur termasuk jenis protein yang
sempurna karena mengandung semua jenis asam
amino esensial dan non-esensial. Asam amino non

Gambar 1. Produksi Panti Asuhan Muhammadiyah Wiyung

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 4248

44

Tabel 1. Target dan Tujuan Kegiatan


No

PERMASALAHAN

TUJUAN

TARGET

LUARAN

MITRA 1
1. Peningkatan daya
1. Teknologi
1. Oven untuk
Kelemahan produksi telor asin
tahan (kualitas) telur
Pengasapan: kapasitas
Pengasapan
Barokah
asin
produksi 240 butir/
2. Manual varian rasa
a) Harga telor bebek mentah masih sangat bergantung 2. Peningkatan produksi
sekali pengasapan.
alami telur asin
pada harga tengkulak
telur asin
2. Kualitasnya juga
b) Telor hanya bertahan selama 1 minggu
3. Varian rasa telur asin
dapat bertahan lebih
c) Kompetitor banyak
lama (dari 1 minggu
d) Keuntungan sangat tipis
menjadi 4 minggu).
e) Packing kurang menarik
f) Pada proses dengan ormon rebus kadar air masih
banyak sehingga daya tahan telor asin hanya mampu
bertahan 1 minggu
g) Rasa standar tidak varian/pilihan menggunakan
bahan esense

Kelemahan produksi bawang


1. Peningkatan kuantitas 1. Pengirisan dengan
ormon
produksi
alat untuk hasil lebih
a) Diproduksi jika ada pesananan (belum rutin).
2. Peningkatan kualitas
baik
b) Jumlah produksi 10 s.d 20 kg/minggu (kecil/sedikit)
2. Penirisan dengan
poduksi
c) Pemasaran masih sekitar panti asuhan, gogor,
alat/ mesin
gemol, keramat, wiyung dan perumahan sekitar
panti (terbatas)

Alat penggiris dan


peniris bawang

MITRA 2
1. Peningkatan kualitas
Proses produksi yang dikerjakan pada usaha Panti
produksi
Asuhan
2. Peningkatan
Aisyiyah II Kebonsari ini, memiliki kelemahan sebagai
kuantitas produksi
berikut:
a) Dalam proses pemisahan santan dan kanil masih
menggunakan cara manual (dengan tangan sehingga
hasilnya masih banyak kandungan airnya)
a) Dalam proses penyaringan memerlukan waktu
yang lama (untuk menyaring Minyak VCO 240 ml
membutuhkan waktu 2 jam)
b) Satu hari hanya mampu memproduksi 1,5 (satu
setengah) botol
c) Produksi dilakukan jika ada pesanan

Alat pemisah kanil


Alat penyaring kanil

Peningkatan kemampuan akuntansi dan manajemen


keuangan

1. Alat pemisah kanil


2. Alat penyaring

1. Administrasi menjadi Pelatihan


baik

esensial yang ada dalam telur di antaranya asam


asparat dan asam glutamate. Jenis asam amino
esensial di antaranya metionin, sistin, lisin, arginin,
dan histidin. Kandungan protein dalam telur bebek
cukup tinggi. Yakni 13,1 gram per 100 gram telur
bebek. Kadar protein ini lebih tinggi ormone ng kadar
protein dalam telur ayam, yaitu sekitar 12,8 gram
dalam setiap 100 gram telur.

Jika dibandingkan dengan telur yang lain, kandungan
kalori telur asin lebih besar dibandingkan kandungan
kalori telur yang lain. Secara berturut-turut, dalam
setiap 100 gram, telur ayam mengandung 162 kalori,
telur bebek mengandung 189 kalori, telur bebek asin
395 kalori, dan telur puyuh 149,5 kalori. Dilihat dari
perbandingan itu, telur asin adalah makanan termurah
dengan kandungan gizi tertinggi.

Manual akuntansi dan


manajemen

Tabel 2. Alur Proses Produksi Telur Asin

b. Produksi dan Manajemen Usaha Bawang Goreng


Bawang merah dan bawang putih merupakan salah
satu tanaman hortikultura yang penting di Indonesia.
Bawang merah dan bawang putih umumnya digunakan

Hariyadi: Pembentukan Karakter Kewirausahaan Bagi Anak Panti Agar Memiliki Jiwa Entrepreneur

sebagai bumbu masakan Indonesia. Tanaman bawang


mudah mengalami kerusakan dan pembusukan
sebagaimana hasil tanaman lainnya. Selain itu, pada
saat panen atau produksi berlebih maka harganya
menjadi turun drastis.
Bawang merah dan bawang putih merupakan salah
satu tanaman hortikultura yang penting di Indonesia.
Bawang merah dan bawang putih umumnya digunakan
sebagai bumbu masakan Indonesia. Tanaman bawang
mudah mengalami kerusakan dan pembusukan
sebagaimana hasil tanaman lainnya. Selain itu, pada
saat panen atau produksi berlebih maka harganya
menjadi turun drastis.
Salah satu cara untuk menjaga harga bawang, khususnya
bawang merah adalah dengan usaha pengawetan, yaitu
pembuatan bawang merah goreng. Proses produksi
bawang merah goreng sebagai berikut:
a. Pemilihan/sortasi dilakukan untuk memilih bahan
baku bawang merah yang tidak terlalu muda.
Bawang merah terpilih ditempatkan pada rak-rak
bertingkat/bersusun selama kurang lebih satu
hari.
b. Pengupasan kulit luar bawang merah dengan
menggunakan pisau. Proses pengupasan ini
melibatkan tenaga kerja tidak langsung yang
terdiri dari para ibu rumah tangga di sekitar
lokasi. Setelah bersih dari kulit luar, kemudian
bawang merah di cuci dengan air bersih.
c. Pengirisan menggunakan alat pengiris yang
dapat digerakkan dengan tangan/manual atau
menggunakan motor penggerak. Irisan-irisan
bawang 6ocial yang dihasilkan kemudian dicuci
bersih.
d. Pengadukan, dilakukan setelah mencampur irisanirisan bawang 7ocial dengan tepung terigu dan
tapioca sebagai bahan pencampur tergantung
pada kualitas bawang goring, yang dapat
dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu kualitas
I, II dan III dengan komposisi bahan pencampur

Gambar 2. Alat perajang bawang

45

Gambar 3. Alat peniris minyak untuk bawang goreng

berturut-turut sekitar 810, 12,515,0 dan 2022


persen dari jumlah bahan baku bawang merah yang
digunakan. Semakin sedikit bahan campurannya,
semakin baik kualitas produksinya.
e. Penurunan kadar minyak, terdiri atas dua cara
yaitu:
Cara tradisional, yaitu dengan menyimpan
bawang goring di dalam drum setelah di
dalamnya terlebih dahulu ditempatkan kertas
merang secara berselingan sampai drum terisi
penuh, fungsinya untuk menyaring minyak
yang masih terkandung dalam bawang
merah.
Cara mekanis, yaitu menggunakan mesin
yang digerakkan oleh listrik dengan system
putar (sentrifuse) dengan kecepatan tertentu,
sehingga minyak dalam bawang goreng
menjadi turun.
f. Pengemasan dilakukan dengan cara menyimpan
produk akhir bawang goring dalam ukuran kg.
produk akhir bawang 7ocial siap dipasarkan atau
sesuai pesanan.
Mitra 2: Panti Asuhan Putri Aisyiyah II
Produksi dan Manajemen Usaha Produksi Virgin
Coconut Oil.
Minyak kelapa murni (VCO) merupakan salah satu hasil
olahan dari buah kelapa (cocos nucifera). Tanaman kelapa
banyak tumbuh di daerah tropis sehingga minyak kelapa
disebut juga minyak tropis (tropical oil).
Pada masyarakat pedesaan, minyak kelapa (jawa:
klentik) sering digunakan untuk menggoreng atau
dikonsumsi bagi ibu hamil menjelang persalinan agar proses
persalinan lancar. Minyak kelapa juga digunakan untuk
memijat, mengerik, dan melembutkan rambut. Minyak
kelapa juga sering digunakan sebagai campuran minyak
telon dan minyak cem-ceman. Yang paling menakjubkan,
minyak kelapa dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Manfaat VCO dalam kehidupan sehari-hari, sebagai
pengganti minyak sayur untuk menggoreng, pengganti
selai atau margarin serta sebagai minyak salad, pelembab
bibir: dipoleskan seperti lipstik, untuk lotion agar kulit lebih
kenyal, lembab, awet muda, serta mencegah noda kehitaman,
minyak pijat: mencegah infeksi kulit,. Conditioner rambut:

46

diusapkan sebelum tidur, penghilang ketombe: memijatkan


di kulit kepala
Manfaat VCO dalam kesehatan: 1) diabetes mellitus.
Kandungan MCFA dalam VCO mampu merangsang
produksi insulin yaitu ormone pengangkut zat gula ke
dalam sel tubuh. 2) Kegemukan/obesitas. Kandungan
MCAF dalam VCO tidak diedarkan dalam darah tapi
dikirim langsung ke hati, lalu diubah menjadi energi.
Dengan demikian tidak tidak membuat lemak menumpuk
dalam tubuh, 3) Kolesterol. VCO mengandung 50% asam
lemak yang berupa asam laurat dan 7% asam kapriat
yang mudah di metabolisir dan tidak akan meningkatkan
kolesterol darah, 4). Penyakit jantung. Konsumsi terhadap
VCO menunjukkan masyarakatnya lebih langsing dan
amat jarang terkena penyakit jantung koroner dan
stroke. 5) Osteoporosis. Konsumsi VCO sangat baik
untuk memperlambat proses penuaan, mempertahankan
keseimbangan hormon, dan melindungi tulang dari radikal
bebas.
VCO dibuat dengan cara Pancingan: a) Membuat santan
di tempat yang bersih, b) Mendiamkan santan sekitar 12
jam hingga terbentuk gumpalan kanil (krim) c) Kanil

Gambar 4. Produk Panti Asuhan Putri Aisyiyah II

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 4248

dipisahkan dari air, d) Kanil dicampur dengan minyak


pancingan sedikit demi sedikit) Mengaduk kanil hingga
tercampur rata dengan minyak pancingan; f) Diamkan
kanil hingga menghasilkan 3 lapisan, yaitu lapisan atas
minyak murni, lapisan tengah berupa blondo (warna putih),
dan lapisan bawah berupa air; g) Minyak dipisahkan dari
blondo dengan sendok.
Peserta pelatihan dapat memahami pengertian akuntansi
sebagai sebuah sistem informasi yang memberikan laporan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai
kegiatan ekonomi dan kondisi perusahaan selain itu,
akuntansi juga bisa diartikan sebagai seni pencatatan,
penggolongan, dan peringkasan transaksi dan kejadian
yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna
dan dalam bentuk satuan uang, dan penginterprestasian
hasil proses tersebut.
Dalam menjalankan kegiatan perlu untuk memahami
siklus akuntansi, sebagai berikut: 1) Mendokumentasikan
transaksi keuangan dalam bukti transaksi dan melakukan
analisis transaksi, 2) Mencatat transaksi keuangan dalam
buku jurnal, 3) Meringkas dalam buku besar atau diposting/
mengakunkan, 4) Menentukan saldo-saldo buku besar di
akhir periode dan menuangkan ke dalam neraca saldo, 5)
Menyesuaikan buku besar berdasarkan informasi yang
paling up-to-date (mutakhir), 6) Menentukan saldo-saldo
buku besar setelah penyesuaian dan menuangkan Neraca
Saldo Setelah Penyesuaian (NSSP), 7) Menyusun laporan
keuangan berdasarkan NSSP, 8) Menutup buku besar, 9)
Menentukan saldo-saldo buku besar dan menuangkannya
dalam Neraca Saldo Setelah Tutup Buku.
Ada dua sistem pengendalian akuntansi terhadap
sediaan yang memengaruhi prosedur akuntansinya
yaitu: (1) sistem periodik atau sistem fisik dan (2) sistem
perpetual atau sistem permanen atau sistem buku. Pada
sistem perpetual, setiap jenis sediaan dibuatkan satu
kartu yang memonitor perubahan fisik sediaan dan
harga pokok nya. Sedangkan pada sistem fisik kartu
sediaan seperti itu tidak diselenggarakan sehingga pada
akhir periode harus dilakukan perhitungan fisik untuk
menentukan sediaan akhir.
Pada sistem periodik Fisik rekening-rekening yang
dipergunakan adalah sebagai berikut: Sediaan barang
dagangan, Pembelian barang dagangan, Biaya Angkut
Pembelian, Potongan Pembelian, Retur Pembelian,
Penjualan, Potongan Penjualan, Retur Penjualan, Biaya

Gambar 5. Pelatihan Akuntansi dan Manajemen untuk Meningkatkan Kompetensi Diri

Hariyadi: Pembentukan Karakter Kewirausahaan Bagi Anak Panti Agar Memiliki Jiwa Entrepreneur

47

Gambar 6. Oven Telur Asin

Tabel 4.Indicator Keberhasilan : Kapasitas Produksi


Gambar 7. Produk Telur Asin Dengan Varian Rasa

Tabel 3. Solusi yang Ditawarkan


1 Metode pendekatan
yang digunakan

pendampingan kegiatan dan


pelatihan peningkatan kualitas dan
kuantitas produksi, evaluasi dan
refleksi

2 Tujuan penawaran
solusi

Mengembangkan ekonomi Panti


Asuhan Muhammadiyah
Wiyung dan Panti Asuhan Putri
Aisyiyah II Kebonsari yang
mandiri secara ekonomis
Membantu menciptakan
ketentraman, kenyamanan dalam
kehidupan masyarakat Panti
Asuhan Muhammadiyah Wiyung
dan Panti Asuhan Putri Aisyiyah
II Kebonsari, dan peternak bebek,
petani bawang, petani kelapa
sebagai mitra.
Meningkatkan keterampilan
berpikir, menggunakan alat,
meningkatkan kualitas dan
kuantitas produksi, mengemas
produksi, mengerjakan akuntansi
dan manajemen keuangan.

Angkut Penjualan dan Harga Pokok Penjualan. Adapun


tujuan akuntansi adalah: Agar diketahui laba/rugi
usaha secara tepat, Diketahuinya uang yang keluar
dan diterima (cash in, cash out). Diketahuinya asal uang
yang diterima atau dibayarkan, Diketahuinya utang dan
piutang, Menentukan harga jual dan pengendalian biaya,
Diketahuinya kekuatan dan kelemahan yang ada, Membuat
laporan keuangan, Membuat rencana pengembangan usaha,
untuk meyakinkan pihak pemberi dana atau bantuan. Untuk
menambah keterampilan para peserta pelatihan dilakukan
dengan banyak memberikan soal-soal dan latihan
akuntansi. Sehingga peserta merasakan manfaat yang
lebih baik.
Pembelian Oven untuk pengasapan. Kegiatan produksi
telor asin membutuhkan waktu selama 10 hari, dari
memasak, menyimpan hingga siap untuk dijual. Metode
memasak dengan dandang hasilnya tidak merata dan
terbatas volume (100 biji telor). Untuk itu dibutuhkan alat
pengovenan telor asin dengan kapasitas produksi 240 butir/
sekali pengasapan.
Pelatihan proses produksi telur asin aneka rasa dengan
metode oven yaitu: teknologi pengolahan telur merupakan
usaha untuk mengawetkan, memperpanjang daya simpan,
dan mencegah penurunan kualitas telur. Hasil olahan
berbahan dasar telur itik ini kerap dijadikan lauk atau
sekadar cemilan. Umumnya telur asin yang dibuat atau
dipasarkan selama ini hanya dengan satu rasa yaitu rasa
asin. Modifikasi rasa telur asin dapat dilakukan dengan
menambahkan aneka rasa seperti rasa buah-buahan, rasa
bawang putih, jahe atau sup/merica.

Tabel 4. Indikator Keberhasilan: Kapasitas Produksi


No

Uraian

Sebelum IbM

Setelah IbM

Telur asin

1.500 butir/bulan dengan nilai:


1.500 Rp3.000 = Rp4.500.000,00/bulan.

2.700 butir/bulan dengan nilai:


1.700 Rp 3.000 = Rp8.100.000,00/bulan.

Bawang goreng

80 kg bawang/ bulan dengan nilai:


80 Rp 32.000 = Rp2.560.000,00/bulan

150 kg bawang/bulan dengan nilai:


150 Rp32.000 = Rp4.800.000,00/bulan

VCO

42 botol/bulan: 42 Rp40.000 =
Rp1.680.000,00/bulan

60 botol botol/bulan: 60 Rp 40.000 =


Rp2.400.000,00/bulan

48

Jarak Perguruan Tinggi ke lokasi Mitra 1 Panti


Asuhan Muhammadiyah Wiyung: 16,6 km, Mitra 2 Panti
Asuhan Putri Aisyiyah II Kebonsari: 15,6 km. Omzet
per bulan: Sebelum IbM Rp 8.740.000,00, Setelah IbM
Rp15.300.000,00 Biaya prog ram: Ditlibt abmas
Rp50.000.000, Sumber lain: Rp4.000.000 (Kedua mitra),
Likuiditas: a) Tahapan pencairan dana: Mendukung
kegiatan, b) Jumlah dana tidak diterima 100%. Kontribusi
mitra: Peran serta mitra dalam kegiatan: Aktif, Kontribusi
pendanaan: Menyediakan, Peranan mitra: subjek kegiatan
Keberlanjutan: Alasan kelanjutan kegiatan mitra sesuai
dengan keputusan bersama.
Usul penyempurnaan program IbM: Pendampingan
untuk menjalin kerja sama produksi dan pemasaran dengan
kelompok masyarakat dalam rangka pemberdayaan ibu-ibu
rumah tangga agar menjadi produktif. Anggaran Biaya
Program ini sebesar Rp30.000.000.Hasil yang tercapai dalam kegiatan pengabdian ini: Telur
asin yang selama ini seharga 1500-2000 kini bisa berubah
menjadi harga 2500-3000. Kenaikan harga ini membuat para
produsen telur asin mendapatkan keuntungan yang lebih
dari sebelumnya dan konsumen dapat menikmati produksi
telur asin yang lebih bervariasi rasa. Adanya variasi rasa
telur asin membuat konsumen lebih tertarik dan produsen
lebih bisa mengembangkan produksinya.
Produk kegiatan yang dinilai bermanfaat dari berbagai
perspektif: Telur asin dengan varian rasa alami (dibutuhkan
pengembangan produksi sehingga telur asin bisa menjadi
makanan favorit, VCO mempunyai peluang eksport, namun
membutuhkan upaya yang lebih serius dalam meningkatkan
kualitas dan kuantitas produksi

Jurnal Ekonomika, Vol. 7 No. 1 Juni 2014: 4248

Simpulan pertama Program IbM sangat membantu


masyarakat yang membutuhkan pendampingan civitas
akademika sebagai pelaksanaan tri dharma perguruan
tinggi. Kedua. Program-program yang diberikan langsung
menyentuh ke sasaran sebagai bukti nyata kepedulian
kepada masyarakat yang membutuhkan.
Saran Program IbM adalah program kegiatan tri
dharma perguruan tinggi, tetapi yang harus diperhatikan
program yang diberikan hendaknya tidak berhenti dengan
selesainya program. Pendampingan untuk penyelesaian
berbagai masalah di masyarakat menjadi alternative yang
baik agar program pemberdayaan menjadi berdaya guna
dan berhasil guna.

daftar pustaka
LIPI-Lembaga Biologi Nasional. 1977. Sumber Protein Hewani. Lembaga
Biologi Nasional LIPI.
Legiman. 1996. Minyak Kelentik. Rosda Jaya Putra.
Mudsan, Much. 1994. Usaha Penetasan Telor. Surabaya: Karya Anda.
Ngumar, Sutjipto. 2005. Akuntan Dasar-dasar Akuntansi di Indonesia
Bagian I, edisi 1 Surabaya: STIESIA PRESS.
Suharli, Michell. 2006. Akuntansi untuk Bisnis Jasa dan Dagang.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sugiri, Slamet. 2007. Akuntansi Pengantar Jilid 2. Yogyakarta: Sekolah
Tinggi Ilmu Manjemen YKPN.
Tobing, Hayatinufus, AL.2006.Telor: Padat Nutrisi, Ekonomis, Yumny.
Gramedia Pustaka Utama.
http://alternative-1st.blogspot.com
http://artikelcaratips.blogspot.com
http://alternative-1st.blogspot.com
http://hmakuii.wordpress.com
http://nuggetfiesta.wordpress.com
http://peluangusaha.kontan.co.id