Anda di halaman 1dari 22

Pengampu : Dr. Nugroho H.P.

,
S.P., M.Si.
Geografi Tanah

Written by Nugroho HP
Category: Ilmu Tanah
Published Date
Hits: 7651
Geografi tanah mempelajari sebaran jenis tanah di muka daratan dan faktor yang menentukan
sebaran teresbut. Secara sederhana dapat dinyatakan sebagai ilmu tanah yang dikaji dari sudut
pandang geografi. Kata geografi dalam geografi tanah merupakan konteks sistem atau metode telaah,
bukan konotasi ilmu (Notohadiprawiro, 1994). Geografi tanah merupakan cabang ilmu geografi yang
mengkaji persebaran satuan-satuan tanah di permukaan bumi, sifat, dan karakteristik satuan-satuan
tanah yang menyelimuti permukaan bumi, dan pemanfaatan tanah untuk kehidupan (Sartohadi dkk.,
2012)

Sebaran tanah yang membentuk hamparan di muka daratan disebut pedosfer. Setiap wilayah
memiliki mosaik tanah tersendiri karena keragaman faktor penentunya. Hamparan tanah di muka
daratan mencitrakan bentangtanah yang menjadi salah satu elemen bentanglahan. Mosaik tanah
sebagai fakta kewilayahan dapat diungkap lewat peta tanah. Peta tanah memuat informasi mengenai
nama-nama satuan tanah melalui sistem klasifikasi tertentu secara konsisten mulai dari skala global
hingga detail.
Untuk mengetahui sebaran tanah di muka bumi perlu dipahami terlebih dulu definisi tanah dan faktor
pembentuk tanah. Tanah adalah tubuh alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai
akibat bekerjanya gaya-gaya alam (natural forces) berupa kombinasi dari iklim dan jasad hidup
terhadap bahan-bahan alam (natural material) yang terletak dan dikendalikan relief di permukaan
bumi dalam rentang waktu tertentu(Notohadiprawiro & Supranowo, 1978; Sartohadi dkk, 2012).
Tanah terbentuk oleh kerja beberapa faktor alam yaitu iklim, jasad hidup meliputi vegetasi organime
manusia, relief (topografi), bahan induk, dan waktu. Faktor-faktor pembentuk tanah dapat dibagi
menjadi dua yaitu faktor-faktor pasif, meliputi sumber massa pembentuk tanah dan kondisi-kondisi
yang mempengaruhinya, terdiri dari bahan induk, relief dan waktu. Berikutnya faktor-faktor aktif,
yang meliputi media yang menyediakan energi yang bekerja diatas massa untuk menyelenggarakan
proses-proses pembentukan tanah yang terdiri dari iklim dan jasad hidup.
Setiap wilayah di muka bumi akan memiliki karakteristik masing-masing faktor pembentuk tanah
tersebut secara bervariasi. Variasi ini diidentifikasi lewat survei tanah dengan pendekatan geografi
yang menekankan pada kajaian fisiografi atau bentuklahan. Bentuklahan merupakan kenampakan
permukaan bumi yang terjadi akibat genesis tertentu, sehingga menimbulkan bentuk khas yang
dicirikan oleh sifat fisik material akibat proses alami yang dominan, dan dalam perkembangannya
dapat dikaitkan dengan struktur tertentu (Sunarto, 2004).

Salah satu maksud pendekatan ini adalah untuk penentuan lokasi guna mengkaji tanah secara
spesifik. Perbedaan lokasi fisiografi atau bentuklahan akan menghasilkan karakteristik tanah yang
berbeda. Kajian spesifik tanah merupakan kegiatan pemerian (deskripsi) tanah yang didasarkan pada
profil lapukan atau dikenal sebagai profil tanah. Deskripsi profil tanah merupakan dasar untuk
klasifikasi tanah dan pekerjaan terapan pemanfaatan tanah lainnya. Hal yang dikaji di setiap lapisan
horison tanah adalah sifat fisik, kimia, dan biologi agregat tanah.
Dapat dinyatakan bahwa geografi tanah mengkaji sebaran tanah secara horisontal berdasarkan pada
bentanglahan, dengan menggunakan dasar kerja ilmu tanah yang mengkaji tanah secara vertikal
berdasarkan sifat material tanah. Karakteristik tanah secara horisontal dapat tersebar bersesuaian
dengan bentuklahan atau fisiografinya. Konsep banjar topografi ini merupakan salah satu aspek yang
sering dikaji dalam geografi tanah untuk dapat memahami sebaran atau distribusi tanah di permukaan
bumi.

PENGERTIAN TANAH, PROSES dan FAKTOR PEMBENTUKAN TANAH,


GEOGRAFI TANAH (RUANG LINGKUP GEOGRAFI TANAH, dan
LAHAN
A.

PENGERTIAN TANAH
Definisi dan pengertian dari tanah adalah kumpulan tubuh alam yang menduduki sebagian
besar daratan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan sebagai tempat mahluk hidup
lainnya dalam melangsungkan kehidupannya.

Selain itu, tanah adalah hasil dari pelapukan batuan yang disebabkan oleh faktor lingkungan.
Faktor lingkungan yang menyebabkan pelapukan tanah antara lain cuaca, suhu, dan tekanan udara.
Selain itu kegiatan yang dilakukan makhluk hidup juga dapat menyebabkan pelapukan batuan yang
menjadi tanah yang di dalamnya mengandung unsur-unsur hara, arang dan sebagainya. Adapun
1.

definisi-definisi tanah dari beberapa ahli sebagai berikut:


Sitanala Arsyad (1989) tanah adalah suatu benda alami heterogen yang terdiri atas komponenkomponen padat, cair, dan gas dan mempunyai sifat dan perilaku yang dinamik.

2.

Sarwono Hardjowigeno (1987) tanah adalah kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang
tersusun dari horizon-horizon, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara dan

3.

media tumbuhan.
Menurut Dokuchaiev, tanah adalah bentukan mineral dan organik di permukaan bumi, sedikit atau
banyak diwarnai oleh humus, secara tetap menyatakan diri sebagai hasil kegiatan kombinasi bahan

4.

seperti jasad, bahan induk, iklim dan relief.


Menurut Sprengel, tanah adalah suatu masa bahan yang berasal dari mineral yang mengandung hasil

5.

dikomposisis (penghancuran) hewan dan tumbuhan.


Menurut Fredrich Fallou, tanah dianggap sebagai hasil pelapukan oleh yang menggerogoti batuan

6.

keras planet kita dan lambat laun mengadakan bikomposisi massa tanah yang kompak.
Menurut M. Isa Darmawijaya, tanah adalah akumulasi alam bebas, menduduki sebagian besar
permukaan planet bumi yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat
pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk, dalam keadaan relief tertentu
selama jangka waktu tertentu pula.
Jadi, dapat disimpulkan tanah adalah tubuh alam gembur media tumbuh-tumbuhan yang menyelimuti
sebagian besar permukaan bumi dan mempunyai sifat dan karateristik fisik, kimia, biologi serta
morfologi yang khas sebagai akibat dari serangkaian panjang berbagai proses pembentukan.
B. GEOGRAFI TANAH
Geografi tanah memerlukan ilmu-ilmu pendukung lain baik dalam kelompok pasti alam
(fisika, kimia, biologi, matematika) maupun ilmu terapan yang berkaitan dengan pemanfaatan tanah
untuk memahami perwatakan tanah dan hubungannya dengan pemanfaatan tanah untuk kehidupan.
Kajian geografi tanah kental dengan analisis perkembangan tanah dari waktu ke waktu selain juga
analisis keruanagan berupa persebaran satuan-satuan tanah di dalam ruang. Perkembangan tanah dari
waktu ke waktu dapat karena faktor-faktor yang bersifat alami atau faktor lain sebagai akibat dari
pemanfaatan tanah oleh manusia.
Proses pembentukan tanah merupakan hal mendasar dalam kajian geografi tanah. Geografi
tanah adalah cabang ilmu geografi yang mengkaji persebaran satuan-satuan tanah di permukaan bumi,
sifat, dan karakteristik satuan-satuan tanah yang menyelimuti permukaan bumi, dan pemanfaatan
tanah untuk kehidupan. Jadi geografi tanah ialah ilmu tanah yang menelaah tanah menurut sudut
pandang geografi. Tujuan Geografi Tanah adalah untuk mencatat (record) dan menjelaskan genesis,

perkembangan, sifat-sifat dan agihan tanah-tanah di permukaan bumi yang diwujudkan dalam peta
tanah.
C. RUANG LINGKUP GEOGRAFI TANAH
Rhoad Murphey, dalam bukunya The Scope of Geography, mengemukakan 3 (tiga) pokok ruang
lingkup study geografi, yaitu sebagai berikut :
1.
Geografi mempelajari persebaran dan relasi umat manusia di permukaan bumi. Selain itu, juga
2.

mengkaji aspek keruangan tempat hidup manusia serta bagaimana manusia memanfaatkannya.
Geografi mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan fisik (alam) sebagai

bagian studi keanekaragaman wilayah.


3.
Geografi mempelajari kerangka regional dan analisis dari regional yang mempunyai ciri khusus.
Jika dilihat dari ruang lingkup di atas jelaslah bahwa geografi merupakan ilmu yang sangat
komplek yang harus didukung berbagai displin ilmu. Secara umum geografi dapat dikelompokkan
dalam 2 bagian yaitu: geografi fisik dan geografi manusia (sosial). Lihat bagan berikut:

a.

Geografi fisik:

Geografi matematik, yaitu astronomi (ilmu falak), ilmu yang objeknya mempelajari benda-benda
langit, bumi sebagai satelit, matahari sebagai bintang-bintang di langit.

Geologi yaitu

ilmu

yang

memepelajari

perkembangannya secara keseluruhan

sejarah,

komposisi,

struktur

bumi

dan

Vulkanologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kegunungapian dan merupakan mata rantai
yang tak terpisahkan dengan ilmu geologi.

Geofisika yaitu ilmu yang mempelajari sifat-sifat bumi dengan metode teknik fisika, seperti
rambatan getaran gempa, gravitasi, medan magnet

Seismologi merupakan salah satu cabang ilmu dari geofisika yang mempelajari fenomena getaran
yang terjadi pada bumi yang dilakukan dari permukaan bumi.

Meteorologi yaitu ilmu yang mempelajari keadaan atau kondisi atmosfer, misalnya perubahan
unsur-unsur cuaca (angin, kelembaban udara, awan, hujan dll).

Astronomi yaitu ilmu yang mempelajari benda-benda yang ada di dalam jagat raya, seperti
matahari, planet, bintang, dll.

Biogeografi yaitu mempelajari tentang mahluk hidup (flora dan fauna) dengan sudut pandang
keruangannya yaitu sebaran kaitannya dengan iklim dan cuaca yang mendukung.

Geomorfologi mempelajari sejarah perkembangan bentuk permukaan bumi dan segala proses
yang menghasilkan bentuk-bentuk tersebut.

Hidrologi mempelajari tentang air (sebarannya: danau, tanah, udara, laut, sungai, rawa dll) dan
siklusnya.

Oseanografi mempelajari kelautan berkiatan dengan kadar garam, pergerakan arus, morfologi,
biota, pasangsurut dan lain-lain.

Pedologi: ilmu yang mempelajari tentang tanah, meliputi proses pembentukan jenis-jenis dan
persebarannya.

Penginderaan jauh : ilmu yang mempelajari gejala atau fenomena geografi pada suatu tempat
dengan menggunakan suatu alat dengan menggunakan bantuan media penginderaan jauh
tanpa melakukan kontak secara langsung terhadap lokasi yang diamati.

SIG (system informasi geografi): ilmu yang mempelajari tentang tata cara membuat peta secara
komputasi dengan tahap-tahap input data, proses dan manajemen data, dan output data.

Kartografi : ilmu yang mempelajari tentang peta meliputi tentang pembuatan jenis dan
pemanfaatannya,

Geografi sejarah mempelajari bagaimana budaya dari berbagai tempat di bumi berkembang dan
menjadi seperti sekarang. Studi tentang muka bumi merupakan satu dari banyak kunci atas
bidang ini banyak disimpulkan tentang pengaruh masyarakat dahulu pada lingkungan dan
sekitarnya.
b.

Geografi Regional
Geografi regional mempelajari hubungan yang bertautan antara aspek-aspek fisik dengan aspekaspek manusia dalam kaitan keruangan di suatu wilayah (region) tertentu. Melalui interpretasi dan
analisis geografi regional maka ciri khas suatu wilayah dapat ditonjolkan sehingga perbedaan antar
wilayah akan nampak semakin jelas.
Geografi regional adalah geografi yang mempelajari kewilayahan atas dasar luas dan sempitnya
daerah tersebut. Jadi, unsur esensial dalam geografi adalah region atau wilayah. Region adalah suatu
wilayah yang mempunyai kesamaan yang dapat dilihat dari unsur fisikal, unsur manusia maupun

gabungan antara keduanya. Wittlesay mengemukakan unit-unit region dapat dibentuk oleh:
1. kenampakan iklim saja, tanah saja, sehingga menunjukkan areal saja.
2. multiple feature region (region yang menunjukkan kenampakan majemuk seperti gabungan antara
jenis tanah dan tumbuhan, tumbuhan dengan budidaya bercocok tanam).
3. region total atau compage yang terdiri atas banyak unsur fisik dan manusianya seperti provinsi, negara
c.

atau kawasan tertentu.


Geografi Sosial:

Antropogeografi mempelajari tentang sebaran, suku, ras dilihat dari kontek geografinya.

Geografi Regional mempelajari sutau wilayah atau kawasan tertentu dipermukaan bumi misalnya
Geografi Asia Tenggara, Geografi Timur Tengah dll.

Geografi politik yaitu mempelajari politik dari sudut pandang geografinya, seperti bentuk daratan,
posisi, luas, lokasi dibandingkan dengan negara-negara lain.

Geografi Sosial yaitu mempelajari manusia dalam kontek interaksinya dengan yang lain.

Geografi Ekonomi yaitu mempelajari sebaran sumber daya alam yang memiliki nilai ekonomi
untuk menunjang kehidupan manusia.

Demografi : ilmu yang mempelajari tentang kependudukan meliputi jumlah pertumbuhan,


komposisi dan migrasi penduduk.
D. PROSES PEMBENTUKAN TANAH
Proses pembentukan tanah adalah penghancuran atau pelapukan batuan induk. proses
pelapukan batuan induk mencakup peluruhan dan dekomposisi yang menghasilkan regolith yang pada
umumnya proses destruktif.
Proses pelapukan batuan induk yang menghasilkan bahan induk yang disebut sedimentasi
(pelonggokan) bahan induk tanah. Pembentukan tanah sendiri dimulai dari longgokan bahan induk
a)

tanah hingga membentuk profil tanah. Proses pelapukan dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut:
Pelapukan mekanik
Pelapukan fisika atau mekanik adalah pelapukan yang disebabkan oleh faktor alam seperti
suhu, cuaca, angin, dan air. Saat suhu udara panas, batuan dapat mengembang sedangkan saat suhu
dingin, batuan dapat menyusut. Perubahan suhu panas dan dingin yang terjadi terus menerus akan
membuat batuan retak. Lama kelamaan batuan ini akan menjadi butiran kecil dan butiran tersebut akan
menjadi butiran halus. Saat terjadi hujan, butiran halus ini akan terbawa air hujan dan mengendap di
daerah aliran. Pengendapan ini, lama-kelamaan akan menyebabkan terjadinya tumpukan atau lapisan

b)

tanah.
Pelapukan kimia
Pelapukan kimia adalah proses pelapukan dan penguraian pecahan-pecahan batuan dan
mineral-mineral ke dalam unsur-unsur penyusunnya yang biasa disertai dengan pembentukan mineral-

mineral baru. Peluruhan (disintegrasi) batuan sulit diamati secara kasat mata jika proses dekomposisi
sudah mulai tampak, walaupun pada kenyataannya terus berlangsung. Di daerah lembah tempat
terlonggoknya materiala lapukan jelas sekali bahwa proses dekomposisi dan disentegrasi bekerja
sangat giatdan saling mempeercepat satu sama lain. Kimia (dekomposisi) menghasilkan senyawa baru,
meliputi:

Hidrolisis,

Hidratasi,

Karbonasi dan proses keasamaan,

Oksidasi, dan

Pelarutan.

Pembentukan Tanah di Bagi Menjadi Empat Tahap


1.
Batuan yang tersingkap ke permukaan bumi akan berinteraksi secara langsung dengan atmsosfer
dan hidrosfer. Pada tahap ini lingkungan memberi pengaruh terhadap kondisi fisik. Berinteraksinya
batuan dengan atmosfer dan hidrosfer memicu terjadinya pelapukan kimiawi.
2.
Setelah mengalami pelapukan, bagian batuan yang lapuk akan menjadi lunak. Lalu air masuk ke
dalam batuan sehingga terjadi pelapukan lebih mendalam. Pada tahap ini di lapisan permukaan batuan
telah ditumbuhi calon makhluk hidup.
3. Pada tahap ke tiga ini, batuan mulai ditumbuhi tumbuhan perintis. Akar tumbuhan tersebut
membentuk rekahan di lapisan batuan yang ditumbuhinya. Di sini terjadilah pelapukan biologis.
4.
Di tahap yang terakhir tanah menjadi subur dan ditumbuhi tanaman yang relatif besar.
E. FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUKAN TANAH

Syarat utama terbentuknya tanah ada dua yaitu: 1). tersedianya bahan asal atau batuan induk,
2). adanya faktor-faktor yang mempengaruhi bahan induk (Jenny, 1941). Bahan induk bersifat lepaslepas, sementara itu, batuan induk bersifat padu. Faktor-faktor lain yang bekerja kemudian setelah

pelonggokan bahan induk tanah dapat dikelompokan menjadi faktor aktif dan faktor pasif. Faktor aktif
dalam pembentukan tanah adalah iklim dan organisme tanah. Faktor pembentukan tanah yang bersifat
pasif adalah lokasi terdapatnya bahan induk dan kurun waktu berlangsungnya pembentukan tanah.
Ada beberapa faktor lain yang memengaruhi proses pembentukan tanah, yaitu organisme, bahan
induk, topografi, dan waktu. Jenny (1941) memformulasikan Faktor-faktor pembentuk tanah ke dalam

sebuah formula matematis sebagai berikut:


S = f (C, O, P, R , T.)
Keterangan:
S
= tanah (soil)
f
= fungsi (fuction)
C
= iklim (climate)
O
= organisme (organism)
P
= bahan induk tanah (soil parent materials)
R
= bentuk lahan
T
= waktu
.
= faktor lokal yang tidak terdefinisikan secara spesifik
a. Iklim
Anasir iklim yang penting dalam pembentukan tanah adalah curah hujan, suhu dan kelembapan
udara. Curah hujan, suhu, dan kelembapan udara menentukan kelembapan dan suhu tanah yang
menentukan watak pelapukan mineral-mineral yang ada dalam bahan induk tanah. Suhu akan
berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Apabila suhu tinggi, maka proses pelapukan
akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan cepat pula. Curah hujan akan berpengaruh
terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan
tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).
Penguapan berlebihan yang terjadi pada permukaan tanah akan menyebabkan air tanah naik
secara kapiler dan masuk ke dalam profil tanah. Penguapan berlebihan yang terjadi pada wilayah yang
kelembapan udaranya rendah dan panas. Air tanah yang masuk secara kapiler ke dalam profil tanah
membawa garam-garam yang terlarut, yang berasal dari batuan induk di bawah profil tanah.
Keberadaan garam-garam di dalam profil tanah menyebabkan tanah di wilayah kering dan panas
mempunyai kejenuhan basa lebih tinggi dibandingkan tanah yang terdapat di wilayah lembab.
b. Organisme
Organisme merupakan faktor pembentuk tanah aktif bersama-sama dengan iklim. Peranan
organisme sangat luas dalam pembentukan tanah, mulai dari penghancuran batuan melalui aksi akar
tanaman tingkat tinggi hingga pembentukan hara oleh mikro organisme tanah. Akar tanaman akan

melebarkan pori tanah sehingga aerasi tanah mnjadi lebih baik. Akar tanaman mengeluarkan seyawasenyawa tertentu yang menyebabkan mineral primer yang ada di batuan induk menjadi mudah lapuk.
Peranan hewan makro tanah terhadap pembentukan tanah adalah dalam bentuk penyediaan
rongga serta redistribusi tanah. Hewan makro tanah memindahkan tanah bawah permukaan ke
permukaan. Hewan makro juga mengeluarkan senyawa-senyawa sekresi sebagai asam-asam organik
yang menyebabkan pelapukan kimia dapat berlangsung secara efisien. Organisme mikro menyebabkan
terbentuknya agregasi partikel-partikel tanah membentuk struktur tanah yang mantap. Ini
menyebabkan terjaminnya pori tanah meso dan mikro yang mengontrol kondisi aerasi tanah.
c. Bahan Induk Tanah
Tanah adalah hasil perkembangan lebih lanjut dari hasil pelapukan batuan induk yang disebut
dengan bahan induk tanah. Bahan induk terdiri dari batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen
(endapan), dan batuan metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan
mengalami pelapukan dan menjadi tanah. Tanah yang terdapat di permukaan bumi sebagian
memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan induknya. Bahan induknya
masih terlihat misalnya tanah berstuktur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya
tinggi.
d. Relief
Analisir relief penting dalam kaitannya dengan pembentukan tanah adalah sudut lereng dan tinggi
tempat. Tinggi tempat mempengaruhi suhu udara, semakin tinggi suatu tempat maka akan mempunyai
suhu yang lebih rendah. sudut lereng menentukan kesetimbangan antara limpasan permukaan dan
infiltrasi. Wilayah yang mempunyai laju erosi yang tinggi akan mempunyai tanah dengan ketebalan
terbatas. Analisir relief yang lain yang juga berpengaruh terhadap pembentukan tanah adalah hadap
lereng serta posisi lereng terhadap wilayah sekitar. Hadap lereng merupakan faktor penting, terutama
pada wilayah lintang tinggi, karena menentukan intensitas penyinaran matahari. posisi lereng pada
kawasan berpengaruh terhadap jumlah hujan dan jumlah air yang diterima. Keadaan relief suatu
daerah akan mempengaruhi:

Tebal atau tipisnya lapisan tanah.

Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi,
sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.

Sistem drainase/pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi
asam.
e. Waktu
Tanah merupakan benda alam yang terus-menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian
yang terus-menerus. Oleh karena itu, tanah akan menjadi semakin tua. Mineral yang banyak
mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan, sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk
seperti kuarsa. Karena proses pembentukan tanah yang terus berjalan, maka induk tanah berubah
berturut-turut menjadi tanah muda, tanah dewasa, dan tanah tua.
Tanah muda ditandai oleh masih tampaknya pencampuran antara bahan organik dan bahan
mineral atau masih tampaknya struktur bahan induknya. Contoh tanah muda adalah tanah aluvial,
regosol, dan litosol. Tanah dewasa ditandai oleh proses yang lebih lanjut sehingga tanah muda dapat
berubah menjadi tanah dewasa, yaitu dengan proses pembentukan horizon B. Contoh tanah dewasa
adalah andosol, latosol, dan grumusol. Tanah tua proses pembentukan tanah berlangsung lebih lanjut
sehingga terjadi proses perubahan-perubahan yang nyata pada perlapisan tanah. Contoh tanah pada
tingkat tua adalah jenis tanah podsolik dan latosol tua (laterit).
Lamanya waktu yang diperlukan untuk pembentukan tanah berbeda-beda. Bahan induk
vulkanik yang lepas-lepas seperti abu vulkanik memerlukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah
muda dan 1.00010.000 tahun untuk membentuk tanah dewasa. Dengan melihat perbedaan sifat
faktor-faktor pembentuk tanah tersebut, pada suatu tempat tentunya akan menghasilkan ciri dan jenis
tanah yang berbeda-beda pula. Sifat dan jenis tanah sangat tergantung pada sifat-sifat faktor
pembentukan tanah. Kepulauan Indonesia mempunyai berbagai tipe kondisi alam yang menyebabkan
adanya perbedaan sifat dan jenis tanah di berbagai wilayah, akibatnya tingkat kesuburan tanah di
Indonesia juga berbeda-beda.
f. Manusia

Manusia merupakan faktor pembentuk tanah yang aktif. Berbagai bentuk aktivitas manusia di
atas permukaan tanah dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya telah banyak memengaruhi proses
pembentukan tanah. Bentuk-bentuk pemanfaatan sumber daya tanah oleh manusia yang memengaruhi
prosese pembentukan dan perkembangan tanah dapat dikelompokan menjadi dua, yakni: manipulasi
faktor pembentuk tanah aktif (pengaturan lengas tanah dan jenis vegetasi tanah) dan manipulasi faktor
pembentukan pasif (perubahan relief dan penambahan atau pengurangan bahan induk tanah). Seperti
manipulasi kondisi lengas tanah dilakukan manusia dalam rangka penyediaan air bagi tanaman.

F. HORIZON TANAH
Pembentukan tanah diawali oleh proses pelapukan batuan induk menjadi bahan induk. Batuan
induk merupakan batuan yang padat, tejal dan belum mengalami pelapukan. Seiring kurun waktu
batuan induk mengalami sedikit melapuk menjadi bongkahan-bongkahan kecil yang disebut dengan
batuan bahan induk. Ini dikarenakan adanya faktor-faktor pembentuk tanah terutama iklim serta terjadi
perubahan mineral primer menjadi mineral sekunder akibat pelapukan kimia.
Mineral-mineral yang berasal dari pelapukan bercampur dengan bahan organik yang berasal
dari tumbuhan maupun hewan yang telah mati dan mengalami dekomposisi, selanjutnya menejadi
humus. Humus-humus yang berukuran koloid dengan mengandung muatan negatif terutama asamasam organik sehingga mampu menjadi pengikat antara mineral membantuk agregat tanah. Masukan
atau input dari air hujan akan menyebabkan terjadinya reaksi kimia (hidrolisis) antara air dan bahan
penyusun tanah. Disisi lain dengan adanya air hujan yang mengalami infiltrasi maka terjadi ikatan
antara fraksi tanah dan air. Apabila kemampuan tanah mengikat air sudah tidak ada lagi (jenuh) maka
air yang ada dalam pori tanah akan mengalir ke bawah oleh pengaruh gaya gravitasi. Air yang
mengalir membawa unsur-unsur yang terlarut dalam air. Unsur-unsur yang terbawa sebagian
mengalami alih tempat, juga ada yang keluar dari sistim tanah masuk kedalam sungai dan terus ke
laut, terutama unsur-unsur basa yang disebut dengan pencucian (leaching).
Dengan adanya proses pelapukan, yang diikuti pancampuran bahan organik, pencucian,
pembentukan agregat (struktur), alih tempat dan alih rupa bahan tanah maka terbentuklah horison

tanah. Harison tanah adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk sejajar dengan permukaan bumi
sebagai hasil dari proses pembentukan tanah. Lapisan tanah secara umum sebagai berikut:

Horizon O
Lapisan ini adalah lapisan organik dengan ketebalan hanya beberapa senimeter dari permukaan.
Lapisan organik ini sangat kaya akan humus yang dapat menyuburkan tanah. Horizon tanah ini
mempunyai ciri khas,yaitu sebagai berikut:

Memiliki warna gelap, dari cokelat sampai kehitam-hitaman.

Terdiri dari sisa-sisa makhluk hidup,seperti daun yang telah membusuk atau ranting-ranting.

Horizon A
Lapisan ini merupakan laisan tanah bagian atas atau disebut juga top soil. Memiliki rata-rata
ketebalan antara 20-35cm. Horizon A masih relatif subur jika dibandingkan dengan lapisan-lapisan
lain yang berada di bawahnya. Horizon A ini sering juga dinamakan zona eluviasi, yaitu wilayah
pencucian partikel-partikel tanah oleh hujan. Terutama, partikel liat yang butirannya sangat halus dan

partikel debu.
Horizon B
Horizon B sering di sebut subsoil. Merupakan lapisan zone iluviasi yaitu temoat pengendapan
partikel tanah yang mengalami pencucian dan terlarut dalam air dari Horizon A. Lapisan subsoil ini
ditandai oleh warnanya yang terang. Hal ini disebabkan karena Horizon ini bahan-bahan organiknya
sangat kurang. Bahkan, tidak ada. Itulah sebabnya negapa Horizon B ini merupakan lapisan tanah

yang rendah tingkat kesuburannya.


Horizon C
Lapisan ini disebut juga zone regolit ,yaitu lapisan batuan dasar yang sudah mulai mengalami
proses penghancuran dan pelapukan. Lapisan ini sudah tidak memiliki kesuburan lagi karena melalui
proses pelapukan.

Bedrock
Lapisan batuan ini merupakan bentuk batuan pejal yang belum mengalami proses pemecahan.
Lapisan ini terletak di lapisan paling bawah, sehingga jarang dijumpai manusia. Akan tetapi di
pegunungan lipatan atau patahan, lapisan ini terkadang tersingkap dan berada di lapisan atas. Bila hal
ini terjadi, maka lahan tersebut merupakan lahan yang tandus dan tidak dapat ditanami karena masih
merupakan lapisan batuan.
Adapun batas-batas horizon. Batas horizon merupakan zona peralihan di antara dua horizon
atau lapisan yang saling berhubungan. Biasanya tidak membentuk garis yang jelas. Batas horizon
dinyatakan dalam hubungannya dengan kejelasan dan topografi.
a. Kejelasan.
Kejelasan didasarkan pada ketebalan zona yang batas Horizon atau lapisan dapat ditarik
garisnya. Kejelasan batas sebagian tergantung pada tingkat kekontrasan antara lapisan yang
berhubungan, dan sebagian tergantung pada ketebalan zone peralihan di antara kedua lapisan tersebut.
Kejelasan batas Horizon adalah sebagai berikut:

Sangat jelas (abrupt) : tebal peralihan <2 cm.

Jelas (clear) : tebal peralihan 2 - 5 cm.

Berangsur (gradual) : tebal perlaihan 5 - 12 cm.

Baur (diffuse) : tebal peralihan >12 cm.

b. Topografi
Topografi Horizon didasarkan pada ketidakteraturan permukaan yang memisahkan Horizon,
dan menunjukkan kelurusan atau kerataan dari variasi kedalaman batas Horizon. Tanah merupakan
bidang tiga dimensi, tetapi lapisan tanah yang tampak hanya pada sisi vertikalnya saja. Topografi batas
Horizon terdiri atas:

Rata (smooth) : datar dengan sedikit atau tanpa ketidak-teraturan permukaan

Berombak(wavy) : berbentuk kantong, lebar >dalam.

Tidak teratur (irregular) : berbentuk kantong, lebar.

Terputus (broken) : batas Horizon tidak dapat disam-bungkan dalam satu bidang datar.

G. PENGERTIAN LAHAN
Istilah lahan digunakan berkenaan dengan permukaan bumi beserta segenap karakteristikkarakteristik yang ada padanya dan penting bagi perikehidupan manusia (Christian dan Stewart,
1968). Secara lebih rinci, istilah lahan atau land dapat didefinisikan sebagai suatu wilayah di
permukaan bumi, mencakup semua komponen biosfer yang dapat dianggap tetap atau bersifat siklis
yang berada di atas dan di bawah wilayah tersebut, termasuk atmosfer, tanah, batuan induk, relief,
hidrologi, tumbuhan dan hewan, serta segala akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia di masa
lalu dan sekarang; yang kesemuanya itu berpengaruh terhadap penggunaan lahan oleh manusia pada
saat sekarang dan di masa mendatang (Brinkman dan Smyth, 1973; dan FAO, 1976). Lahan dapat
dipandang sebagai suatu sistem yang tersusun atas (i) komponen struktural yang sering disebut
karakteristik lahan, dan (ii) komponen fungsional yang sering disebut kualitas lahan. Kualitas lahan
ini pada hakekatnya merupakan

sekelompok

unsur-unsur lahan (complex attributes) yang

menentukan tingkat kemampuan dan kesesuaian lahan (FAO, 1976).


Lahan sebagai suatu "sistem" mempunyai komponen-komponen yang terorganisir secara
spesifik dan perilakunya menuju kepada sasaran-sasaran tertentu. Komponen-komponen lahan ini
dapat dipandang sebagai sumberdaya dalam hubungannya dengan aktivitas manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Sys (1985) mengemukakan enam kelompok besar sumberdaya lahan yang
paling penting bagi pertanian, yaitu (i) iklim, (ii) relief dan formasi geologis, (iii) tanah, (iv) air, (v)
vegetasi, dan (vi) anasir artifisial (buatan). Dalam konteks pendekatan sistem untuk memecahkan
permasalahan-permasalahan lahan, setiap komponen lahan atau sumberdaya lahan tersebut di atas
dapat dipandang sebagai suatu subsistem tersendiri yang merupakan bagian dari sistem lahan.
Selanjutnya setiap subsistem ini tersusun atas banyak bagian-bagiannya atau karakteristikkarakteristiknya yang bersifat dinamis (Soemarno, 1990). Dari beberapa pengertian tentang lahan

maka dapat disimpulkan bahwa Lahan merupakan lingkungan fisik yang meliputi iklim, relief, tanah,
hidrologi, dan vegetasi. Faktor-faktor ini hingga batas tertentu mempengaruhi potensi dan kemampuan
lahan untuk mendukung suatu tipe penggunaan tertentu.

REFERENSI :
Mulya, Sartohadi, Junun, dan Nur Indah Sari Dewi. 2012. Pengantar Geografi Tanah. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
http://tienadewi.blogspot.com/2013/07/pengertian-tanah-dan-lahan.html.
http://kelompoksatugeografi.blogspot.com/2014/01/horizon-horizon-tanah.html
http://laskarpilar.blogspot.com/2013/10/ruang-lingkup-dan-ilmu-penunjang.html

Ruang Lingkup Geografi

Dua konsep dasar yang dipakai dalam geografi tanah adalah :


1. Konsep Pedology
Konsep ini merupakan dasar dalam ilmu tanah yang dikemukakan oleh Dokuchaive,seorang ahli ilmu
tanah Rusia.Pedology (Pedo:gumpal tanah atau pedon :tubuh tanah).
Lebih menekankan pembahasan pada :
a. Asal mula dan pembentukan tanah yang tercakup dalam genesis tanah
b. Nama-nama,sistematik,sifat kemampuan,dan penyebaran berbagai jenis tanah yang tercakup
dalam klasifikasi tanah dan pemetaan tanah.
2. Konsep Edapology
Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Dr.H.L. Jones,dari Cornell University, Inggris.Edapology
(edhapon:bahan tanah yang subur).Lebih menekankan kepada penggunaan lahan dalam bidang
pertanian,sehingga segala penyelidikan tanah dilakukan hanya untuk mendapatkan produksi pertanian
se-ekonomis mungkin.Dalam ilmu geografi tanah,konsep ini dijadikan sebagai konsep pendukung
untuk melengkapi konsep pedology.
Selain edhapology,ilmu pendukung pedology sebagai konsep dasar ilmu geografi tanah adalah
bagian-bagian dari ilmu pengetahuan terapan,ilmu pengetahuan alam dasar,ilmu pengetahuan benda
hidup,dan benda mati.
Tanah merupakan akumulasi tubuh alam yang bebas yang menduduki sebagian besar permukaan
bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memilki sifat-sifat tertentu sebagai akibat dari
pengaruh iklim dan jasad-jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relatif
tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Pengertian lahan (land) adalah permukaan daratan dengan kekayaan benda-benda padat, cair, dan
bahkan benda gas (Suryatna, 1985: 9). Kemudian (Karmono, 1985 dalam Haryoko, 1996: 13)

memberikan pengertian lahan adalah suatu daerah di permukaan bumi dengan sifat-sifat tertentu yaitu
adanya persamaan dalam hal geologi, geomorfologi, atmosfir, tanah, hidrologi dan penggunaan lahan,
sifat-sifat tersebut adalah berupa iklim, batuan dan struktur, bentuklahan dan proses, jenis tanah, tata
air, dan vegetasi/ tumbuhannya.
Dengan demikian lahan adalah ruang di permukaan bumi dapat sebagai sumberdaya yang dapat
dieksploitasi, dimana dalam pemanfaatannya hendaknya dilakukan secara benar dengan
mempertimbangkan kelestariannya.
Pengertian dan definisi Geografi Tanah menurut Tejoyuwono (1994:1) adalah mempelajari
agihan jenis tanah di muka daratan dan faktor-faktor yang menentukan agihan tersebut. Selanjutnya di
jelaskan pula bahwa agihan jenis tanah membentuk suatu bentangan atau mosaik tanah yangdisebut
dengan pedosfer. Tiap-tiap wilayah memiliki mosaik tanah sendiri-sendiri karena perbedaan faktorfaktor penentunya. Suatu mosaik tanah mencitrakan bentangtanah (soilscape ) yang menjadisalah satu
ciri fisik wilayah. Maka bentangtanah menjadi anasir bentanglahan (landscape ). Pemilihan jenis tanah
yang membentuk mosaik tanah dikerjakan dengan klasifikasi tanah. Mosaik tanah sebagai fakta
kewilayahan diungkapkan dalamkartografi tanah
.Kata geografi dalam istilah geografi tanah digunakan untuk memberikan konteks pada sistem
ataumetode telaah, tidak dikonotasikan sebagai ilmu Jadi geografi tanah ialah ilmu tanah yang
menelaah tanah menurut sudut pandang geografi. Geografi sebagai konteks mengimplikasikan
bahwapembicaraan mata telaah (subject matter ) menempatkan segala gejala yang tersidik dalam
matra
ruang atau space dimension . Bentang tanah sebagai suatu ciri fisik wilayah mengimplikasikan
potensinya sebagai sumberdaya wilayah yang bersangkutan. Potensi sumberdaya
selanjutnyamenyediakan kriterium tataguna tanah (Tejoyuwono, 1994: 1).Lebih lanjut dikemukakan
bahwa geografi tanah dipelajari lewat pemahaman unsur-unsurnya, yang meliputi:
a) Tanah sebagai gejala bentanglahan; bentangtanah; pedosfer
b) Pelapukan; pembentukan tanah
c) Ragam dan harkat tanah dalam konsep rangkaian kausal faktor, proses dan reaksi, sifat, danfungsi.
d) Klasifikasi tanah; kartografi tanah
e) Agihan regional tanah; sumberdaya tanah
f) Inventarisasi tanah; sistem informasi tanah
.Pendapat lain yang mengemukakan definisis geografi tanah adalah ilmu yang mempelajari
tentangtanah, meliputi sifat-sifat fisik, genesis, penyebaran, dan aplikasinya terhadap kehidupan
manusia(Jamulya dan Suratman, 1983: 3) Karena definisi ini terbangun dari definisi geografi,
yaitumempelajari hubungan timbal balik antara lingkungan fisik dengan lingkungan manusia, dimana
tanah

dikaitkan dengan pertanyaan dalam geografi yaitu:


a) What, yang mencakup tanah termasuk fenomena dan sifat-sifatnya (properties)
b) Why, menyangkut suatau proses beradanya atau pembentukannya (genesis tanah)
c) Where, dimana penyebarannya di permukaan bumi,
d) What for, berkenaan dalam hal hubungannya dengan kehidupan manusia atau aplikasinya.
Tujuan Geografi Tanah adalah untuk mencatat (record) dan menjelaskan genesis, perkembangan,sifatsifat dan agihan tanah-tanah pada permukaan bumi yang diwujudkan dalam peta tanah.
Untukmencapai tujuan ini diperlukan metode survei tanah, yang pada garis besarnya
menggunakanmetode;
a) hampiran geografi dengan pendekatan fisiografi atau bentuklahan (landform ) dan
b) hampiran parametrik.Hampiran pertama (hampiran geografi) mempertimbangkan bahwa tanah
merupakan tubuh alam tigamatra sebagai salah satu anasir bentanglahan, maka Edelman (1957) dalam
Jamulya (1989: 11) telahmerintis dalam mengenalkan metode fisiografi dalam pemetaan tanah. Karena
itu pengembangannyabanyak diperlukan ikatan ilmu tanah dan geomorfologi.Dalam Geografi, studi
tentang bentanglahan (landscape) yang di dalamnya termasuk studibentuklahan (landform) merupakan
obyek utama dalam geografi fisik. Bentuklahan pada dasarnyamerupakan hasil pengaruh faktor-faktor
struktur, proses, dan stadia. Faktor struktur sebenarnyamerupakan manifestasi dari faktor topografi dan
batuan, sedang faktor proses adalah akibat pengaruh faktor iklim yang menyebabkan proses
geomorfologi dan pedogen, dan faktor stadia yang tergantung pada faktor waktu. Dengan demikian
terdapat kesamaan antara faktor-faktor pembentuk tanah. Atas dasar kesamaan faktor-faktor tersebut
satuan bentuk lahan dapat dipergunakan sebagai dasar didalam deliniasi satuan peta tanah, sehingga
masalah deliniasi satuan peta dapat dibuat dengan hampiran geografi.
Dalam hampiran geografi dipergunakan analisis keruangan, ekologi dankewilayahan.Hampiran ke 2
dalam survei tanah yaitu hampiran parametrik. Dent & Young (dalam Jamulya (1989:12) bahwa
hampiran parametrik lebih erat hubungannya dengan pengembangan soil database.Ketersediaan
database memungkinkan analisis dilaksanakan kapan saja sesuai dengan kebutuhandan tidak terikat
pada suatu aturan yang baku, bersifat sendiri-sendiri untuk masing-masing parameterlahan dan secara
otomatis dalam bentuk garis pada peta (isoline). Hampiran parametrik padaumumnya mengarah pada
penggunaan analisis numerik (numerical analysis ) yang berasosiasi eratdengan analisis digital pada
penginderaann jauh.Pada dasarnya dari kedua pendapat yang telah disitir, menerapkan atau
menggunakan pendekatangeografi dalam mempelajari tanah dalam suatu wilayah.

Ilmu tanah dipelajari oleh berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti ilmu-ilmu keteknikan (rekayasa),
agronomi/pertanian, kimia, geologi, geografi, ekologi, biologi (termasuk cabang-cabangnya), ilmu
sanitasi, arkeologi, dan perencanaan wilayah. Akibat banyaknya pendekatan untuk mengkaji tanah,
ilmu tanah bersifat multidisiplin dan memiliki sisi ilmu murni maupun ilmu terapan.
Ilmu tanah dibagi menjadi dua cabang utama: pedologi dan edafologi. Pedologi mempelajari tanah
sebagai objek geologi. Edafologi, atau ilmu kesuburan tanah, mempelajari tanah sebagai benda
pendukung kehidupan. Keduanya menggunakan alat-alat dan sering kali juga metodologi yang sama
dalam mempelajari tanah, sehingga muncul pula disiplin ilmu seperti fisika tanah, kimia tanah, biologi
tanah (atau ekologi tanah), serta ilmu konservasi tanah. Karena tanah juga memiliki aspek
ketataruangan dan sipil, berkembang pula disiplin seperti mekanika tanah, pemetaan (kartografi),
geodesi dan survai tanah, serta pedometrika atau pedostatistika. Penggunaan informatika juga
melahirkan beberapa ilmu campuran seperti geomatika
Sifat Fisika Tanah
Fisika tanah adalah cabang dari ilmu tanah yang membahas sifat-sifat fisik tanah, pengukuran dan
prediksi serta kontrol (pengaturan) proses fisika yang terjadi dalam tanah. Karena pengertian fisika
meliputi materi dan energi, maka fisika tanah membahas pula status dan pergerakan material serta
aliran dan transformasi energi dalam tanah.
Menurut (hardjowigeno 1987) sifat sifat fisika tanah terdiri dari:
1. Batas horison, dalam pengamatan tanah di lapang ketajaman peralihan horison horison ini
diberikan ke dalam beberapa tingkatan nyata yaitu ( lebar peralihan kurang dari 2,5 cm dan berangsur.
2. Warna tanah merupakan petunjuk beberapa sifat tanah karna warnah tanah menunjukan apabila
makin tinggi bahan organik , warnah tanah semakin gelap. Didaerah berdrainase buruk yaitu daerah
yg selalu tergenang air seluruh tanah berwarna abu-abu karna senyawa fe terdapat dalam keadaan
reduksi. Pada tanah yang berdrainase baik yaitu tanah yang tidak pernah terendam air fe terdapat
dalam keadaan oksidasi.
3. Tesktur tanah tekstur tanah menujukkan halus kasarnya tanah dari fraksi tanah halus (2mm) .
tanah dikelompokkan ke dalam beberapa tekstur taanah yaitu: kasar, agak kasar sedang agak halus dan
halus
4. struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir butir tanah . struktur ini terjadi karna butir
butir pasir debu dan liat terikat satu sm lain oleh suatu perekat seperti bahan organik oksida oksida
besi dan lain lain.
5. konsistensi menunjukkan kekuatan daya kohesi butir butir tanah debgan benda lain. Tanah yang
mempunyai konsistensi baik umumnya mudah di olah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah.
6. Drainase tanah .Klas drainase ditentukan dilapang dengan melihat adanya gejala gejala pengaruh
air dalam penampang tanah.
7. Bulk density (kerapatan lindat).Menunjukan perbandingan antara berat tanah kering dengan
volume tanah termasuk volume pori pori tanah. Bulk density merupakan petunjuk kepadatan tanah.
Tujuan dari Fisika tanah dapat dilihat dari 2 sisi,yaitu :
1. Dalam satu sisi, tujuan kajian fisika tanah adalah untuk memberikan pemahaman dasar tentang
mekanisme pengaturan perilaku (fisika dan kimiawi) tanah, serta perannya dalam biosfer, termasuk
proses saling hubungan dalam pertukaran energi di dalam tanah, serta siklus air dan material yang
dapat diangkutnya.
2. Pada sisi lainnya, pemahaman fisika tanah dapat digunakan sebagai asas untuk manajemen
sumberdaya tanah dan air, termasuk kegiatan irigasi, drainase, konservasi tanah dan air, pengolahan
tanah dan konstruksi.

Oleh karena itu fisika tanah dapat dipandang sebagai ilmu dasar sekaligus terapan dengan
melibatkan berbagai cabang ilmu yang lain termasuk ilmu tanah, hidrologi, klimatolologi, ekologi,
geologi, sedimentologi, botani dan agronomi. Fisika tanah juga erat kaitannya dengan mekanika tanah,
dinamika tanah dan teknik sipil.
Area penelitian fisika tanah dapat mencakup:
1. Pengukuran dan kuantifikasi sifat fisik tanah di lapangan.
2. Transportasi materi dan energi (berupa air, udara, panas) di dalam tanah.
3. Manajemen air untuk irigasi.
b.

Sifat Kimia Tanah


Tanah satu dengan yang lain memiliki perbedaan sifat kimia yang tentunya mempengaruhi tingkat
kesuburan dalam tanah tersebut. Kesuburan itu sendiri pada akhirnya erat kaitannya dengan
pertumbuhan suatu tanaman. Untuk mempermudah mengkaji dan menganalisis keadaan itu maka
diperlukan kemampuan untuk mengenal beragam komponen kimia dalam masing-masing jenis tanah.
Menurut (hardjowigeno 1987) sifat-sifat kimia tanah terdiri dari:
1. Reaksi tanah (ph tanah). Menunjukan sifat keasaman tanah yang dinyatakn dengan nilai ph. Nilai
ph menunjukan banyaknya konsentrasi ion hidrogen di dalam tanah semkin masam tanah tersebut.
2. Koloid tanah adalah bahan mineral dan bahan organik tanah yang sangat halus sehingga
membenuk permukaan yang tinggi persatuan berat . koloid tanah merupakan bagian tanah yang sangat
aktif dalam reaksi reaksi fsikokimia di dalam tanah.
3. Kapasitas tukar kation dinyatakan dalam satuan kimia yaitu miliekivalen per 100g.
4. Pertukaran anion banyak ditemukan pada mineral liat amorf, dan liat al dan fe-oksida.
5. Kejenuhan basa,menunjukan perbandingan antara jumlah kation kation basa dengan jumlah
semua kation yang terdapat dalam kompleks jerapan tanah.
c.

Klasifikasi tanah

Adapun 10 klasifikasi ordo tanah menurut Hardjowigeno (1992) adalah sebagai berikut:
1. Alfisol
Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison
bawah (terdapat horison argilik) dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada
kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari
horison di atasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. Padanan dengan sistem
klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning, Latosol, kadang-kadang juga
Podzolik Merah Kuning.
2. Aridisol
Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah arid
(sangat kering). Mempunyai epipedon ochrik, kadang-kadang dengan horison penciri lain. Padanan
dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil.
3. Entisol
Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat
permulaan dalam perkembangan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik, albik atau
histik. Kata Ent berarti recent atau baru. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk
tanah Aluvial atau Regosol.
4.

Histosol
Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih
dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Lapisan yang

mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan
tanaman. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol.
5. Inceptisol
Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada
Entisol. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya mempunyai
horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur.
Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus,
dan lain-lain.
6. Mollisol
Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang
berwarna hitam (gelap), kandungan bahan organik lebih dari 1%, kejenuhan basa lebih dari 50%.
Agregasi tanah baik, sehingga tanah tidak keras bila kering. Kata Mollisol berasal dari kata Mollis
yang berarti lunak. Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah Chernozem,
Brunize4m, Rendzina, dan lain-lain.
7. Oxisol
Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit.
Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang
dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Berdasarkan
pengamatan di lapang, tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Padanan dengan
sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning),
Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning.
8. Spodosol
Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe
dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang, dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian)
yang berwarna pucat (albic). Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol.
9. Ultisol
Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison
bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari
35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol,
dan Hidromorf Kelabu.
10. Vertisol
Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di
seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut
sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem
klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.
d. Survei tanah
Survei tanah adalah metode atau cara mengumpulkan data dengan turun langsung kelapangan. Data
yang diperoleh berupa data fisik, kimia, biologi, lingkungan, dan iklim. Kegiatan survei terdiri dari
kegiatan dilapangan, analisis dilaboratorium, mengklasifikasikan tanah kedalam sistem taksonomi
atau system klasifikasi tanah, melakukan pemetaan tanah atau interpretasi atau penafsiran dari survei
tanah dan ahli teknologi pertanian (Abdullah, 1996).
Survei tanah memisahkan jenis-jenis tanah dan melukiskannya dalam suatu peta disertai uraiannya.
Klasifikasi dan survei tanah merupakan dwi tunggal yang saling memberi manfaat bagi peningkatan
daya gunanya (Darmawijaya,1997).

SUMBER
http://dsafriansyah.blogspot.com/2011/11/ilmu-tanah-ruang-lingkup-sejarah-dan.html
http://keisya-lamudi.blogspot.com/p/pengertian-ruang-lingkup-dan-kilasan.html
http://fiqhiardiansyah.blogspot.com/2013/04/profil-tanah.html
http://rathey91.wordpress.com/2011/10/28/fisika-tanah-kimia-tanah-biologi-tanah/
http://dhyrmankimank.blogspot.com/2013/07/laporan-profil-tanah-imank.html
http://exotizone.blogspot.com/2012/02/pengertian-sifat-fisika-tanah.html