Anda di halaman 1dari 14

SISTEM REPRODUKSI TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) BETINA

DEWASA
Eka Abdul Rozaq Shiddiq
Prodi pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A. H. Nasution No. 105 Cibiru Bandung
Email: ekaarshid@gmail.com
PENDAHULUAN
Tikus putih (Rattus norvegicus) merupakan hewan yang digunakan
dalam percobaan laboratorium. Tikus putih yang digunakan untuk
percobaan laboratorium yang dikenal ada tiga macam galur yaitu Sprague
Dawley, Long Evans dan Wistar (Akbar, 2010: 5). Tikus putih yang menjadi
bahan percobaan adalah tikus putih yang berjenis kelamin betina, untuk
melihat

sistem

reproduksi

bagian

eksterna

dan

internanya

serta

menetukan GSI dan membuat preparasi apusan vagina.


Sistem reproduksi pada tikus betina tidak jauh berbeda dengan
reproduksi tikus jantan pada umunya, yaitu terdiri dari kelenjar kelamin,
saluran reproduksi dan kelenjar asesoris. Kelenjar kelamin betina terdapat
pada ovarium. Saluran reproduksi pada mamalia terbagi kedalam tiga
bagian, yaitu: oviduct, uterus, vagina (Supripto, 1994: 173). Selain itu,
kelenjar aksesoris yang terdapat pada tikus betina tidak jauh berbeda
dengan tikus jantan yang sudah dijelaskan pada praktikum pertama.
Pada kemauan menerima hewan jantan terbatas selama masa yang
disebut estrus atau birahi. Selama estrus, hewan-hewan betina secara
fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan
jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ-organ
assesori seks betina (Adnan, 2006 : 43).
Tikus putih (Rattus norvegicus) termasuk hewan poliestrus. Artinya,
dalam periode satu tahun terjadi siklus reproduksi yang berulang-ulang.
Daur estrus kedua jenis hewan ini dibedakan menjadi lima fase yaitu
proestrus, estrus, metestrus I, metestrus II dan diestrus. Siklus estrus tikus
berlangsung dalam 6 hari. Meskipun pemilihan waktu siklus dapat

dipengaruhi oleh faktor- faktor eksteroseptif seperti cahaya, suhu, status


nutrisi dan hubungan sosial. Setiap fase dari daur estrus dapat dikenali melalui
pemeriksaan apus vagina. Melalui apus vagina dapat dipelajari berbagai tingkat diferensiasi
sel epitel vagina yang secara tidak langsung mencerminkan perubahan fungsional ovarium.
(Akbar, 2010: 10).
Oleh karena itu, praktikum ini akan mempelajari anatomi sistem
reproduksi baik ekterna maupun interna, siklus estrus, serta indeks
gonadosomatik (GSI) pada tikus betina.

METODE
Alat dan Bahan
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Alat
Alat Bedah (gunting, skalpel,

Bahan
Tikus putih (Rattus norvegicus)

jarum, baki)
Timbangan mekanik merk

betina

Sartorius 311g
Timbangan elektronik berskala
mg
Pipet tetes
Kaca objek
Mikroskop
Bowl eksikator
Pembakar Bunsen atau lampu

Kloroform teknis 10 mL
Kapas
NaCl fisiolos (0,9 %) 50 mL
Zat warna metilen blue 10 mL

spirtus

Tata Kerja
Anatomi Sistem Reproduksi Betina
Bagian Eksterna
Setelah preparasi apusan vagina, timbanglah tikus tersebut
dengan timbangan mekanik kemudian biuslah hewan ini dengan
kloroform hingga pingsan. Lakukanlah pengamatan terhadap organorgan reproduksi bagian eksterna. Setelah itu, buatlah gambar sistem
reproduksi betina bagian eksterna yang dilengkapi gans susu.
Bagian Interna
Lakukan pembedahan pada bagian perut hingga nampak situs
viserum, kemudian angkatlah hepar lambung dan usus agar organorgan sistem reproduksi dan eksresi terlihat jelas. Amatilah ovarium,
oviduct, uterus, dan vagina, beserta bagiannya. Selanjutnya amatilah
organ-organ pada sistem eksresi, mulai dari ginjal, ureter, vesika
urinaria, hingga uretra. Setelah itu, buatlah gambar sistem reproduksi
pada tikus betina yang dilengkapi sistem eksresinya.
Penetuan GSI
Catatlah hasil penimbangan berat badan dims betina dan berat total
ovariumnya, sesuaikanlah satuan berat dalam mg. kemudian hitunglah
nilai GSI dalam persen dengan cara membagi berat total ovarium dengan

berat badan taws, lalu kalikan 100 %. Setelah itu, tuliskan hasil
pengamatan ovarium dan perhitungan GSI pada lembar kerja.
Preparasi Apusan Vagina
Masukan pipet yang berisi larutan garam fisiologis perlahan ke dalam
vagina, semprotkan dan sedotlah kembali hingga diperoleh larutan keruh.
Teteskan dua tetes larutan metilen biru dan biarkan kering. Kemudian
bilas dengan air untuk menghilangkan kelebihan warna. Setelah itu, amati
di

bawah

mikroskop,

berikanlah

interpretasi

menurut

kriterianya.

Kemudian gambar jenis dan komposisi sel yang terdapat pada preparat
apusan vagina.

No

Gambar Tangan

Gambar
Dokumentasi

Gambar Literatur

Keterangan

Bagian eksterna
dari reproduksi
betina meliputi:
Klitoris dengan
lubang yang
Sumber:
Bagian Eksterna

http://farm3.static.
flickr.com/2402/245
5260102_a6daa080
f8_o.jpg

disebut orisifium

klitoride (muara
uretra tempat

keluar urin), vulv

(organ kopulator

dan kelenjar sus


Ginjal: organ eksresi
Urinary Bladder
(Kandung Kemih).
Ovarium: pabrik

penghasil telur & hor


Kelamin.

Oviduct: penghubun

antara ovarium denga


Sumber:

Bagian Interna

uterus.

(Kurniati, 2015:

Uterus: penerimaan

110)

ovum yang dibuahi.


Vagina: tempat

penumpahan semen d

individu jantan.
Ovarium: tempa

berkembangnya

folikel telur, yait


folikel primer,
Sumber:
Ovarium

folikel sekunder,

https://www.google. folikel tersier,


co.id/imgres? 20:54 folikel de Graaf,

21/02/2016

korpus rubrum,

korpus luteum d
korpus albikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Anatomi Sistem Reproduksi Betina


Bagian Eksterna
Pada tabel hasil pengamatan terlihat anatomi sistem reproduksi
betina bagian eksterna yang meliputi: kelenjar susu, klitoris, dan vulva.
Pada saat pengamatan terlihat kelenjar susu pada bagian ventrolateral
mengikuti alur garis dari ketiak hingga lipatan paha terdapat lebih dari
3 pasang kelenjar susu yang ditemukan. Kelenjar susu meski bukan
bagian dari sistem reproduksi, perlu diketahui fungsinya sebagai
penyedia air susu. Diperkuat dengan teori menyatakan bahwa kelenjar
susu merupakan pelengkap pada organ reproduksi betina (Pearce,
2000: 265). Fungsi dari kelenjar susu untuk memberi makan (berbentuk
air susu) dan penangkal awal bayi baru lahir (Yatim, 2000: 105).
Pada saat pengamatan

terlihat klitoris yang terletak sebelah

anterior vulva. Pada klitoris juga terdapat lubang yang disebut orisifium
klitoride yang berfungsi sebagai muara uretra tempat keluar urin.
Bedasarkan bentuknya yang menonjol keluar dan fungsinya sebagai
pengeluaran urin juga, klitoris mirip dengan penis pada bagian ekterna
reproduksi jantan. Teori mengatakan bahwa klitoris merupakan sebuah
jaringan erektil yang serupa dengan penis. Letaknya anterior dalam
vastibula (Pearce, 2000: 257).
Pada saat pengamatan

terlihat vulva terletak diantara klitoris

(berdekatan) dan lubang anus. Vulva merupakan bagian vagina yang


tampak dari luar, terletak sebelah anterior lubang anus, berfungsi
sebagai tempat penis sewaktu kopulasi dan tempat keluar fetus
sewaktu melahirkan (Pengajar, 2016: 20)
Bagian Interna
Pada tabel hasil pengamatan terlihat anatomi sistem reproduksi
betina bagian interna yang meliputi: ovarium, oviduct, uterus, dan
vagina. Selain itu terdapat juga organ-organ pada sistem eksresi yang
mulai dari ginjal, ureter, vesikula urinaria, hingga uretra.
Pada saat pengamatan terlihat sepasang ovarium (kiri dan kanan)
seperti kumpulan dari buah anggur yang bersatu, berwarna merah, dan

terbungkus selaput. Ovarium diselaputi oleh selapis sel-sel yang berasal


dari lapisan peritoneum yang kemudian berubah menjadi bentuk kubus
(Yatim, 1994: 65).
Oviduct saat pengamatan terletak berdekatan dengan ovarium dan
bersambung dengan uterus. Saluran ini terdapat sepasang dan
merupakan penghubung antara ovarium dengan uterus. Oviduk terdiri
dari

bagian

interstisialis,

bagian

ismika,

bagian

ampularis

dan

infundibulum yang berfimbria. Oviduk berfungsi pada saat ovulasi


dimana ovum disapu ke dalam ujung oviduk yang berfimbria. Fungsi
lain dari oviduk adalah kapasitasi sperma, fertilisasi, dan pembelahan
embrio yang terjadi dibagian ampula. Pengangkutan sperma ke tempat
fertilisasi dan pengangkutan ovum ke uterus diatur oleh kontraksi
muskuler

yang

dikoordinir

oleh

hormon

ovarial,

estrogen

dan

progesteron (Akbar, 2010: 8).


Uterus tikus putih betina pada saat pengamatan terlihat bercabang
dan memanjang. Hal ini menimbulkan hasil keturunan yang dihasilkan
banyak hingga dapat mencapai 15 ekor dalam satu melahirkan, akan
tetapi rata-rata tikus melahirkan sampai pada 9 ekor. Diperkuat dengan
teori bahwa uterus tikus tidak termasuk tipe bikornu yang berarti
sebuah uterus dengan dua tanduk uterus yang panjang dan bersatu
pada badan uterus yang pendek. Implantasi embrio dan pertumbuhan
fetus biasanya terjadi pada kedua tanduk uterus (Pengajar, 2016: 21).
Vagina terlihat saat pengamatan berupa saluran yang terletak
berdekatan dengan organ reproduksi bagian luar. Vagina merupakan
suatu saluran musculo membranosa yang menghubungkan uterus
dengan

vulva,

terletak

antara

kandung

kencing

dan

rectum

(Sastrawinata, 1983: 49). Selain itu juga pada saat pengamatan


terdapat organ-organ pada sistem eksresi yang mulai dari ginjal, ureter,
vesikula urinaria, hingga uretra.
Penetuan GSI
Berat total ovarium 79 mg
Berat badan hewan 186.500 mg

GSI =

Berat total ovarium


Berat badan hewan

x 100% =

79 mg
186500 mg

x 100% = 0,000424%

Preparasi Apusan Vagina


Gambar

Gambar Tangan

Dokumentasi

Gambar Literatur

Keterangan

Estrus adalah fas


yang ditandai
penerimaan

pejantan oleh hew


betina untuk
berkopulasi, fase
Bagian Eksterna

Sumber:

berlangsung selam

Pembesaran: 10 x

(Vanzutphen et al.

12 jam. Folikel de

10

1993)

graaf membesar
menjadi matang
serta ovum
mengalami
perubahan-

perubahan kearah
pematangan
Gambar Sitologi Apusan Vagina
Dari hasil pengamatan di atas yang disampaikan dalam bentuk gambar, maka dapat
diperhatikan bahwa sel-sel yang terdapat pada gambar berbentuk agak pipih dengan tepi
tidak teratur dan sel-selnya memiliki inti sel. Selain itu pada preparat tersebut juga tidak
ditemukan adanya epitel. Begitu juga dengan leukosit yang tidak ditemukan
keberadaannya. Dari ciri-ciri tersebut maka dapat diketahui bahwa mencit betina yang
kami amati sedang berada pada fase estrus. Namun pada sel menanduk terdapat bintikbintik menyerupai inti sel. Hal ini dikarenakan perbesaran yang kami gunakan dalam
pengamatan kurang maksimal serta dalam membersihkan kaca obyek dan penutupnya,
kami hanya mnggunakan tisu yang dibasahi dengan air tanpa menggunakan alkohol.
Sehingga sel tampak kurang jelas dan terdapat bintik-bintik kotoran yang dikira adalah inti
sel. Padahal seharusnya itu adalah sel menanduk tanpa inti sel. Pada saat mengambil
apusan vagina mencit betina, vagina berwarna merah. Hal ini menunjukkan bahwa mencit
betina memasuki tahap estrus.

Preparat apus vagina fase estrus ditandai dengan terbentuknya


cornified cell (sel menanduk) sebagai gambaran banyaknya mitosis
yang terjadi di dalam mukosa vagina. Menjelang estrus berakhir, lumen
vagina membentuk sel-sel menanduk dengan inti berdegenerasi
(Effendi, 2015:13).
Pada hewan betina, gonadotrophin releasing hormone (GnRH)
disekresikan

dari

hipothalamus

merangsang

pelepasan

lutenising

hormone (LH) and follicle stimulating hormone (FSH) dari pituitari


anterior. FSH and LH disekresikan dengan taraf yang berbeda pada
periode siklus estrus. Pada awal siklus (fase follicular), FSH merangsang
perkembangan folikel-folikel, salah satu diantaranya berkembang cepat
menjadi folikel de Graff (GF). Folikel de Graaf mensekresikan hormon
estradiol (Andria, 2012: 7)
Dari pengamatan ovarium dan uterus didapatkan ciri-ciri:
Estrus adalah fase yang ditandai oleh penerimaan pejantan oleh
hewan betina untuk berkopulasi, fase ini berlangsung selama 12 jam.
Folikel de graaf membesar dan menjadi matang serta ovum mengalami
perubahan-perubahan kearah pematangan. Pada fase ini pengaruh
kadar estrogen meningkat sehingga aktivitas hewan menjadi tinggi,
telinganya selalu bergerak-gerak dan punggung lordosis. Ovulasi hanya
terjadi pada fase ini dan terjadi menjelang akhir siklus estrus. Pada
preparat apus vagina ditandai dengan menghilangnya leukosit dan
epitel berinti, yang ada hanya epitel bertanduk dengan bentuk tidak
beraturan dan berukuran besar (Akbar, 2010: 11).
Ovariektomi merupakan operasi pengangkatan satu atau kedua
ovarium dari rongga abdomen dengan tujuan sterilisasi tumor ovari.
Tubektomi adalah menutup saluran indung telur (tuba fallopi) (Yatim,
1994: 114). Hal ini bertujuan agar sel telur tidak bisa memasuki rahim
untuk dibuahi. Superovulasi adalah suatu perlakuan terhadap induk
(donor) untuk mendapatkan ova lebih banyak dari biasanya dengan
memberikan hormon-hormon tertentu dari luar tubuh. Hormon yang
sering digunakan adalah Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan
Pregnant Mares Serum Gonadotropin (PMSG). Hormon yang umum

digunakan untuk menginduksi superovulasi pada sapi adalah FSH yang


berasal dari hipofisis, sebagai salah satu upaya meningkatkan efisiensi
reproduksi, terutama terhadap hewan yang secara alami tergolong
beranak tunggal.
Proses

terjadinya

perubahan

sel-sel

epitel

vagina

dibawah

pengaruh FSH, selusin atau lebih folikel ovari tumbuh dengan cepat;
dengan demikian periode ini merupakan periode yang didominasi oleh
kadar estrogen yang tinggi. Salah satu fungsi estrogen dapat dilihat
pada uterus yang mengalami perbesaran progesif dan mengembung
lantaran akumulasi cairan lumen (Turner & Bagnara 1976). Tingginya
kadar

estrogen

ini

akan

menekan

sekresi

FSH

dan

sebaliknya

merupakan umpan balik positif terhadap LH sehingga terjadi lonjakan


LH yang sangat tinggi (LH surge) sesaat sebelum ovulasi. Ovulasi terjadi
selama estrus dan didahului oleh perubahan histologik di dalam folikel
yang menunjukkan adanya luteinisasi awal. Cairan lumen di dalam
uterus banyak yang hilang sebelum ovulasi. Sel-sel menanduk didalam
preparat

apus

vagina

dipakai

sebagai

petunjuk

estrus.

Sel-sel

menanduk ini merupakan gambaran banyaknya mitosis yang terjadi di


dalam mukosa vagina, lapisan permukaannya menjadi squmosa.
Menjelang estrus berakhir, di dalam lumen vagina terdapat massa
seperti keju terdiri atas sel-sel menanduk dengan inti berdegenerasi
(Putra, 2009: 19-20).
KESIMPULAN
Berdasarkan

hasil

pengamatan

yang

dilakukan,

dapat

ditarik

beberapa kesimpulan pada setiap bagiannya, diantaranya:


Anatomi Sistem Reproduksi Betina
Pada sistem reproduksi tikus putih (Rattus norvegicus) betiana
bagian eksterna terdiri dari beberapa organ penting diantaranya:
kelenjar susu, klitoris, dan vulva.
Pada sistem reproduksi tikus putih (Rattus norvegicus) betiana
bagian interna terdiri dari beberapa organ penting diantaranya:
ovarium, saluran reproduksi (oviduct, uterus dan vagina), dan beberapa

kelenjar asesoris. Selain itu terdapat juga organ-organ pada sistem


eksresi yang mulai dari ginjal, ureter, vesikula urinaria, hingga uretra.
Penetuan GSI
Perhitungan Nilai GSI menghasilkan angka 0,000424%.

Preparasi Apusan Vagina


Preparat apus vagina fase estrus ditandai dengan terbentuknya
cornified cell (sel menanduk) sebagai gambaran banyaknya mitosis
yang terjadi di dalam mukosa vagina. Menjelang estrus berakhir, lumen
vagina membentuk sel-sel menanduk dengan inti berdegenerasi
(Effendi, 2015:13).
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, 2006. Reproduksi dan Embriologi. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Negeri Makassar.
Adriyan Permana Putra. 2009. Efektivitas Pemberian Kedelai Pada Tikus Putih (Rattus
novergicus) Bunting Dan Menyusui Terhadap Pertumbuhan Dan Kinerja Reproduksi
Anak Tikus Betina. Bogor: IPB.
Budhi Akbar. 2010. Tumbuhan dengan Kandungan Senyawa Aktif yang
Berpotensi sebagai Bahan Antifertilitas. Jakarta: Adabia Press.
E. Mulyati Effendi, dkk. 2015. AKTIVITAS ESTROGENIK EKSTRAK ETANOL
70% HERBA KEMANGI (Ocimum americanum L.) PADA TIKUS PUTIH
BETINA (Rattus norvegicus) PRE-MENOPAUSE. Jurnal Fitofarmaka. Vol.
5 No. 1 Juni 2015. ISSN: 2087-9164. Pakuan: Program Studi Farmasi
FMIPA Universitas Pakuan.
Evelyn C. Pearce. 2000. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:
PT. Gramedia.
http://farm3.static.flickr.com/2402/2455260102_a6daa080f8_o.jpg
L. F. M Vanzutphen, V Baumans. A. C Beynen. 1993. Principles of Laboratory Animal
Science. Amsterdam: Elsevier.
Sulaiman Sastrawinata. 1983.

Obstetri Fisiologi. Bandung: Fakultas

Kedokteran Universitas Padjadjaran.


Supripto. 1994. Struktur Hewan. Bandung: Biologi ITB.
Tim Pengajar. 2016. Penuntun Praktikum Embriologi. Bandung: Prodi
Pendidikan Biologi UIN Sunan Gunung Djati.
Tuti Kurniati. 2015. Zoologi Vertebrata. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.
Wildan Yatim. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito.

Yulianti Andria. 2012. PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PEGAGAN


(Centella asiatica (L) URBAN) TERHADAP KADAR HORMON ESTRADIOL
DAN

KADAR

HORMON

PROGESTERON

TIKUS

norvegicus) BETINA. Program Studi Ilmu Biomedik.

PUTIH

(Rattus