Anda di halaman 1dari 17

WAWANCARA UNTUK PENGENALAN

PESERTA DIDIK

Oleh:
KELOMPOK 12
Muhammad Rozadi 1513034049
Siti Marhamah

1513034089

Rizki Hidayatullah

1513034053

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt. atas berkah dan rahmat-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Pengenalan Peserta Didik ini dengan sebaikbaiknya dan tepat waktu. Makalah ini berisi tentang wawancara yang dilakukan untuk
mengenal lebih dalam peserta didik. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk menambah
pengetahuan dan wawasan tentang mata kuliah Pengenalan Peserta Didik .
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Herpratiwi, M.Pd. selaku dosen
penanggung jawab mata kuliah Pengenalan Peserta Didik yang telah membimbing baik
dalam pembelajaran di kelas maupun dalam penyelesaian tugas ini. Kepada semua pihak
yang telah membantu dan mendukung, kami juga mengucapkan terima kasih.
Kami menyadari bahwa dalam penyusuna makalah ini masih terdapat kekurangan dan
kesalahan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapakan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak guna penyempuraan dalam penyelesaian makalah-makalah

yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah proses pengembangan daya nalar, keterampilan, dan moralitas
kehidupan pada potensi yang dimiliki oleh setiap manusia. Suatu pendidikan dikatakan
bermutu apabila proses pendidikan berlangsung secara efektif, dan manusia memperoleh
pengalaman yang bermakna bagi dirinya. Sedangkan yang dimaksud dengan produk
pendidikan yaitu individu-individu yang bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan
bangsa.
Peserta didik merupakan obyek pendidikan yang paling utama. Suatu proses pendidikan
tidak akan berjalan tanpa adanya peserta didik. Akan tetapi, pada saat ini pendidikan yang
ada tidak mampu berjalan semestinya. Hal ini dikarenakan banyaknya faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Sebagai contoh yaitu rendahnya minat belajar siswa sehingga prestasi
yang diperoleh rendah. Dalam hal ini berarti proses pendidikan tidak berjalan dengan

semestinya sehingga harus diupayakan pembenahan agar peserta didik mampu lebih baik
lagi.
Salah satu upaya untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan melakukan wawancara
untuk pengenalan peserta didik. Hal ini merupakan salah satu solusi atau cara yang dapat
digunakan oleh seorang pendidik dalam perkembangan pendidikan khususnya
permasalahan dalam bidang intern peserta didik. Guru sebagai seorang pendidik yang
hampir setiap hari bersama dengan siswa, tentu sering mengeluhkan kondisi siswanya
yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah (PR), tidak mau mendengarkan penjelasan
yang disampaikan kepadanya, mengobrol dengan teman terdekat pada saat guru
menjelaskan materi, sering membolos, tidak mau melakukan kegiatan pembelajaran atau
kalau pun mau melakukannya, siswa yang bersangkutan tidak begitu bersemangat, dan
gejala-gejala perilaku siswa lainnya. Keluhan-keluhan para guru di atas hanya sebagian
kecil saja yang nampak dari perilaku siswa. Jika keadaan tersebut berlangsung secara
terus-menerus dan berlangsung cukup lama dalam diri siswa, maka akan mempengaruhi
efektifitas kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, mutu pendidikan pada sekolah
tertentu atau output yang dihasilkannya dan keutuhan perkembangan diri siswa itu
sendiri.
Tidak semua orang memproses informasi dengan cara yang sama. Itu sebabnya kita perlu
mengetahui bagaimana gaya bekerja otak diterjemahkan ke dalam gaya belajar yang
berbeda-beda pula. Untuk itu dalam hal ini metode wawancara sangat tepat digunakan
dalam permasalahan yang muncul pada dampak yang munculkan dari adanya revolusi
gaya pembelajaran pendidikan. Ada beberapa peranan penting dari Wawancara bagi
proses belajar mengajar di dunia pendidikan :
1. Sebagai alat penghubungung internal antara pendidik dan peserta didik
2. sebagai metode efektif bagi seorang pendidik untuk dapat meningkatkan minat belajar
bagi peserta didik nya, dsb
B. Tujuan

1. Sebagai pemenuhan tugas kelompok mata kuliah Pengenalan Peserta Didik.


2. Untuk mengetahui berbagai macam wawancara yang dilakukan untuk pengenalan
peserta didik.
3. Untuk mengetahui manfaat dilakukannya wawancara untuk pengenalan peserta didik.
4. Untuk mengetahui berbagai kelemahan dan kelebihan dari wawancara yang dilakukan
untuk pengenalan peserta didik.

II. PEMBAHASAN
1. Pengertian Wawancara
Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau
pendapatnya tentang suatu hal atau masalah, untuk dapat menghimpun bahan-bahan
informasi yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak,
berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Wawancara dalam
istilah lain dikenal dengan Interview.
Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan
berita yang disiarkan dalam media massa. Namun wawancara juga dapat dilakukan oleh
pihak lain untuk keperluan, misalnya, penelitian, penerimaan pegawai ataupun dalam
bidang pendidikan. Orang yang mewawancarai dinamakan pewawancara (interviewer)
dan orang yang diwawancarai dinamakan pemberi wawancara atau disebut juga

responden. Seperti percakapan biasa, wawancara adalah pertukaran informasi, opini, atau
pengalaman dari satu orang ke orang lain. Dalam sebuah percakapan, pengendalian
terhadap alur diskusi itu bolak-balik beralih dari satu orang ke orang yang lain. Meskipun
demikian, jelas bahwa dalam suatu wawancara si pewawancara adalah yang
menyebabkan terjadinya diskusi tersebut dan menentukan arah dari pertanyaanpertanyaan yang diajukan.
Sedangkan menurut para pakar pendidikan yang dimaksud wawancara adalah sebagai
berikut:
1. Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan dan pencatatan data, informasi dan
atau pendapat yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung
maupun tidak langsung. (Zainal Arifin, 1990:54).
2. Wawancara atau interview adalah suatu metode atau cara yang digunakan untuk
mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. (Suharsimi
Arikunto, 1997:27).
Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah alat penilaian
yang berisikan serangkaian pertanyaan untuk mendapatkan jawaban dari responden
(siswa) dengan jalan tanya jawab sepihak. Perbedaan penting antara wawancara dengan
percakapan biasa adalah wawancara bertujuan pasti menggali permasalahan yang ingin
diketahui. Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh
beberapa hal :
1. Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Dalam hal ini
hendaknya pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang diwawancarai
2. Keterampilan berwawancara
Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil wawancara yang
dilakukan, karena guru perlu melatih diri agar memiliki keterampilan dalam
melaksanakan wawancara.
3. Pedoman wawancara
Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat oleh guru
sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat pedoman-pedoman secara

terperinci, tentang pertanyaan yang akan diajukan.


2. Metode Wawancara
Metode wawancara adalah suatu cara untuk mendapatkan data dengan mengadakan
hubungan secara langsung dengan informasi (siswa, keluarga atau guru). Adapun
wawancara yang digunakan ada dua cara, yaitu:
a. Wawancara secara langsung,
Yaitu informasi dan data digali dengan mewawancarai siswa secara langsung. Dalam
wawancara ini kita harus mengkondisikan sesantai mungkin sehingga peserta didik yg
hendak kita wawancarai tidak merasa tegang atau tertekan. Kita bisa mulai dengan
pertanyaan-pertanyaan yg mudah dan menyenangkan, jika memang perlu, kita harus
membuatnya tersenyum atau tertawa, dengan demikian Ia bisa lebih dekat dengan kita
dan berani mengungkapkan apa yg dia rasakan dan dia inginkan tentang metode
pembelajaran yg dia inginkan
b. Wawancara tidak langsung,
Yaitu informasi dan data digali dengan mewawancarai orang-orang yang tahu persis
tentang siswa atau juga bisa menggunakan pertanyaan pertanyaan yang di berikan kepada
peserta didik tersebut dalam bentuk kumpulan pertanyaan. Dalam membuat pertanyaan
tersebut, hendaknya kita harus bisa membuatnya tidak monoton, seperti diselipkan
sebuah cerita yang sesuai dengan usia peserta didik yang hendak di wawancari untuk
wawancara dengan orang terdekat obyek, Kita bisa memulai dengan mewawancarai
teman dekatnya atau teman yang kira-kira mengetahui tentang Ia.
Hal-hal yang perlu diperhatikan didalam guru sebagai pewawancara yaitu:
a. Guru yang akan mengadakan wawancara harus mempunyai back ground tentang apa
yang akan ditanyakan
b. Guru harus menjalankan wawancara dengan baik tentang maksud wawancara tersebut
c. Harus menjaga hubungan yang baik
d. Guru harus mempunyai sifat yang dapat dipercaya

e. Pertanyaan hendaknya dilakukan dengan hati-hati, teliti dan kalimatnya jelas


f. Hindarkan hal-hal yang dapat mengganggu jalannya wawancara
g. Guru harus mengunakan bahasa sesuai kemampuan siswa yang menjadi sumber data
h. Hindari kevakuman pembicaraan yang terlalu lama
i. Guru harus mengobrol dalam wawancara
j. Batasi waktu wawancara
k. Hindari penonjolan aku dari guru
3. Tujuan Wawancara untuk Pengenalan Peserta Didik
Wawancara untuk pengenalan peserta didik adalah alat penilaian dan alat untuk
mengetahui kepribadian atau karakter dari diri peserta didik atau siswa. Manfaat
Wawancara untuk pengenalan peserta didik :
Untuk mengetahui tingkat kemauan peserta didik dalam belajar.
Sebagai alat yang dapat digunakan untuk menyesuaikan metode pembelajaran sesuai
tingkat kepribadian peserta didik.
Sebagai sarana pemberian motivasi dari pendidik kepada peserta didik.
Seorang peserta didik memiliki perbedaan gaya-gaya yang mendasar dalam menerima
suatu pelajaran. Dalam hal ini seorang pendidik tentunya harus dapat memahami
perbedaan-perbedaan karakter tersebut. Dengan mengenal perbedaan gaya-gaya yang
mendasar ini, guru akan lebih mudah menemukan referensi gaya belajar yang paling
efektif untuk peserta didik atau siswa didiknya. Menurut para pakar, ada beberapa model
gaya belajar :
a. Tipe Visual
Ini merupakan kecenderungan gaya belajar dengan menggunakan indera penglihatan.
Pada model gaya belajar ini, informasi data visual terbagi menjadi data berupa teks
(tulisan, huruf, angka, simbol) dan berupa gambar (foto, diagram). Adapun ciri-ciri
peserta didik tipe visual adalah sebagai berikut:
Lebih mudah ingat dengan melihat,
Lebih suka membaca,
Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat orang lain

melakukan dulu baru kemudian Ia sendiri yang bertindak, dan


Peserta didik dalam kelompok ini juga dapat duduk tenang saat belajar di tengah situasi
yang ribut dan ramai tanpa merasa terganggu.
Sedangkan kendala dari tipe visual adalah sebagai berikut:
Tidak suka berbicara di depan kelompok,
Tidak suka mendengarkan orang lain,
Mengetahui apa yang seharusnya dikatakan tetapi tidak bisa mengungkapkan dengan
kata-kata,
Tulisan tangannya berantakan sehingga tidak terbaca,
Peserta didik dari kelompok visual juga biasanya kurang mampu mengingat informasi
yang disampaikan secara lisan.
Untuk mengatasi hambatan-hambatan di atas, maka seorang pendidik dapat melakukan
hal-hal sebagai berikut :
Gunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran.
Perangkat grafis bisa berupa film, slide, ilustrasi, coretan, atau kartu-kartu gambar berseri
yang bisa dipakai untuk menjelaskan informasi secara berurutan.
Mintalah peserta didik untuk menghapal dengan membayangkan obyek atau materi
yang sedang dipelajarinya.
b. Tipe Auditory
Tipe Auditory merupakan kecenderungan gaya belajar dengan menggunakan indera
pendengaran. Pada model gaya belajar ini informasi terbagi menjadi data berupa bahasa
dan nada. Ciri-ciri peserta didik tipe Auditory:
Mudah mengingat apa yang didengarnya dan didiskusikannya,
Senang mendengarkan,
Lebih suka menuliskan kembali sesuatu,
Senang membaca dengan suara keras,
Bisa mengulangi apa yang didengarnya,
Senang diskusi,
Bicara atau menjelaskan panjang lebar.

Peserta didik dengan tipe auditory pada umumnya menyenangi seni musik dan mudah
mempelajari bahasa asing.
Kendala peserta didik dengan tipe Auditory, antara lain:
Cenderung banyak omong,
Tidak bisa belajar dalam suasana berisik atau ribut, apalagi bila peserta didik memiliki
konsentrasi yang lemah.
Peserta didik juga lebih memperhatikan informasi yang didengarnya, sehingga kurang
tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungannya.
Untuk mengatasi hambatan-hambatan di atas, maka seorang pendidik dapat melakukan
hal-hal sebagai berikut :
Bekali peserta didik dengan alat perekam untuk merekam semua materi pelajaran yang
diajarkan di sekolah,
Libatkan peserta didik dalam kegiatan diskusi,

c. Tipe Kinestetik
Kecenderungan gaya belajar dengan menggunakan indera tubuh. Pada model gaya belajar
kinestetik, informasi terbagi menjadi data berupa gerakan dan sentuhan. Ciri-ciri peserta
didik tipe Kinestetik:
Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya,
Suka mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya sedemikian aktif,
Banyak gerak fisik dan memiliki koordinasi tubuh yang baik,
Menyukai kegiatan/permainan yang menyibukkan secara fisik,
Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada menjelaskan.
Kendala dari tipe Kinestik adalah sebagai berikut:
Peserta didik sulit mempelajari hal-hal yang abstrak,
Tidak bisa belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional di mana guru
menjelaskan dan peserta didik duduk diam,
Kapasitas energi peserta didik cukup tinggi, sehingga bila tidak disalurkan akan

berpengaruh terhadap konsentrasi belajarnya.


Untuk mengatasi hambatan-hambatan di atas, maka seorang pendidik dapat melakukan
hal-hal sebagai berikut :
Bersekolah pada sekolah yang menganut sistem active learning di mana siswa banyak
terlibat dalam proses belajar. Dengan begitu, kemampuannya dapat berkembang optimal.
Untuk siswa yang memiliki kapasitas energi berlebih, sebaiknya diberikan aktivitas fisik,
seperti kegiatan olahraga atau kesenian. Salurkan energi dengan memberikan kebebasan
beraktivitas sebelum belajar, sehingga peserta didik bisa duduk tenang selama belajar.

Salah satu cara untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan cara pengamatan langsung
dan guru melakukan pendekatan personal pada anak didik. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara mewawancarai siswa yang bersangkutan, mengajaknya berbicara. Dengan
cara demikian guru dapat mengenal lebih dekat anak didiknya, dapat memahaminya, dan
siswa pun merasa diperhatikan.
Seorang pendidik melakukan wawancara untuk mengumpulkan informasi yang lengkap,
akurat, dan adil (fair) tentang kepribadian atau karakter peserta didiknya. Seorang
pendidik yang baik mencari sebuah pengungkapan atau wawasan (insight), pikiran atau
sudut pandang yang menarik, yang cukup bernilai untuk diketahui. Jadi bukan sesuatu
yang sudah secara umum didengar atau diketahui.
Pendidik yang baik harus mengerti bagaimana cara memegang orang yang
diwawancarai dan menangani situasi. Pendidik yang melakukan wawancara harus bisa
merasakan, apa yang harus dilakukan pada momen tertentu ketika berlangsung
wawancara kapan ia harus bersikap lembut, kapan harus ngotot atau bersikap keras,
kapan harus mendengarkan tanpa komentar, dan kapan harus memancing dengan
pertanyaan-pertanyaan tajam (dari berbagai sumber yang direduksi).
4. Tekhnik Wawancara
Sebagai seorang pewawancara, pendidik harus dapat mengetahui bagaimana kondisi

peserta didik pada saat diwawancarai. Dari gerak tubuh dan nada suaranya, apakah
terlihat ia bicara jujur atau mencoba menyembunyikan sesuatu. Untuk mengatasi hal-hal
yang harus dilakukan dan mengetahui sifat dari jawaban interviewee, seorang
pewawancara dapat menggunakan tekhnik atau cara.
a. Tahap Persiapan
Sebelum melakukan wawancara, seorang pewawancara harus sudah benar-benar sehat
secara fisik. Dengan kata lain, kondisi fisiknya benar-benar fit. Fisik yang prima akan
mempengaruhi jalannya wawancara maupun hasil yang akan diperoleh dari wawancara
tersebut.

b. Merancang Pedoman
Pedoman ini disusun dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara,
2. Berdasarkan tujuan di atas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari wawancara
tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi pertanyaan
wawancara,
3. Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk berstruktur atau
bentuk terbuka,
4. Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan analisis di atas, yakni membuat
pertanyaan yang berstruktur atau yang bebas,
5. Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara.
c. Pedoman untuk Melaksanakan Wawancara :
Sebelum melaksanakan wawancara perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini
disusun dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara. Misalnya untuk mengetahui
pemahaman bahan pengajaran (hasil belajar) atau mengetahui pendapat siswa mengenai
kemampuan mengajar yang dilakukan guru (proses belajar mengajar),
2. Berdasarkan tujuan diatas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dari wawancara
tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun materi pertanyaan
wawancara,
3. Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yakni bentuk berstruktur ataukah
bentuk terbuka,
4. Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan analisis diatas, yakni membuat
pertanyaan berstruktur dan atau yang bebas.
5. Pertanyaan jangan terlalu banyak, cukup yang pokok-pokoknya saja.
6. Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara,
baik pedoman untuk wawancara berstruktur maupun untuk wawancara bebas.

Adapun tekhnik wawancara untuk pengenalan peserta didik adalah sebagai berikut:
Mencari tahu typical personal dari peserta didik.
Menyesuaikan pertanyaan-pertanyaan dengan latar belakang peserta didik.
Mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh peserta didik tentang
jawaban dari pertanyaan yang kita berikan.
Mengamati tentang isi jawaban yang diberikan peserta didik tersebut.
Menyelidiki, benar atau tidaknya yang disampaikan.
Menanggapai jawaban peserta didik tersebut.
5. Macam-macam Wawancara
Tidak semua orang memproses informasi dengan cara yang sama. Oleh karena itu kita
perlu mengetahui bagaimana gaya bekerja otak diterjemahkan ke dalam gaya belajar yang
berbeda-beda pula. Pendidik dapat mengetahui potensi dan gaya belajar peserta didik
secara detil dengan melakukan tes potensi dan bakat peserta didik. Wawancara
bermacam-macam, tergantung dari informasi apa yang diinginkan si pewawancara dan
bagaimana situasi serta kondisi yang dihadapi orang yang diwawancarai.

Berdasarkan alat evaluasinya, wawancara dibagi menjadi sebagai berikut:


1. Wawancara terpimpin (guided Interview) yang juga dikenal dengan istilah wawancara
berstruktur atau wawancara sistematis. Dalam wawancara terpimpin, evaluator
melakukan tanya jawab lisan dengan pihak-pihak yang diperlukan. Misalnya wawancara
dengan peserta didik, wawancara dengan orang tua atau wali peserta didik dan lain-lain;
dalam

rangka

menghimpun

bahan-bahan

keterangan

untuk

menilai

peserta

didiknya.Wawancara ini sudah dipersiapkan secara matang, yaitu berpegang pada


panduan wawancara.
2. Wawancara tidak terpimpin (unguided Interview) yang sering dikenal dengan
wawancara sederhana atau wawancara tidak sistematis ataupun wawancara bebas.Dalam
wawancara bebas, pewawancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kepada peserta didik atau orang tuanya tanpa dikendalikan oleh pedoman tertentu. (Anas
Sudijono, 2003:82-83).
Sedangkan berdasarkan cara pelaksanaanya wawancara dibagi menjadi dua yaitu:
1. Wawancara berstruktur, adalah wawancara secara terencana yang berpedoman pada
daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
2. Wawancara tidak berstruktur, adalah wawancara yang tidak berpedoman pada daftar
pertanyaan.
Berdasarkan Jenisnya wawancara dibedakan yaitu sebagai berikut:
1. Wawancara berita (news peg interview) yaitu, wawancara yang dilakukan untuk
memperoleh keterangan, konfirmasi atau pandangan narasumber tentang suatu masalah
2. Wawancara Pribadi (personel interview) yaitu wawancara untuk memperoleh data
tentang pribadi dan pemikiran seseorang (narasumber). Berita yang dihasilkan berupa
profil narasumber, meliputi identitas pribadi, perjalanan hidupnya dan pandanganpandangannya mengenai berbagai masalah yang terkait profesinya.
3. Wawancara Ekslusif (exclusive inteview) yaitu wawancara yang dilakukan seseorang
wartawan atau lebih (tetapi berasal dari satu media) secara khusus berkaitan masalah
tertentu di tempat yang telah disepakati bersama.

4. Wawancara Keliling/Jalanan (man in the street interview) yaitu wawancara yang


dilakukan seorang wartawan dengan menghubungi berbagai interview secara terpisah
yang satu sama lain mempunyai kaitan dengan masalah atau berita yang akan ditulis.
Misalnya, ada peristiwa kebakaran.
6. Keunggulan dan Kelemahan Wawancara
Suatu wawancara memiliki keunggulan sebagai berikut yaitu:
a. Dapat kontak langsung dengan siswa sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara
lebih bebas dan mendalam.
b. Menjalin hubungan yang lebih erat antara pendidik dan peserta didik, karena melalui
wawancara siswa bebas mengemukakan pendapatnya.
c. Wawancara bisa direkam sehingga jawaban siswa bisa dicatat secara lengkap.
d. Melalui wawancara data bisa diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif.
Pertanyaan yang tidak jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi. Sebaliknya, jawaban yang
belum jelas bisa diminta lagi dengan lebih terarah dan lebih bermakna asal tidak
mempengaruhi atau mengarahkan jawaban siswa.
e. Wawancara dapat memberikan keterangan keadan pribadi hal ini tergantung pada
hubungan baik antara pewawancara dengan objek
f. Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya
g. Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan observasi
h. Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan
dengan observasi dan angket.
i. Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancara dengan
objek.
3. Sedangkan kelemahan suatu wawancara adalah sebagai berikut:
a. Jika jumlah responden cukup besar, maka akan banyak menghabiskan waktu, tenaga,
dan biaya.
b. Adakalanya terjadi wawancara yang berlarut-larut tanpa arah, sehingga data kurang
dapat memenuhi apa yang diharapkan.
c. Sering timbul sikap yang kurang baik dari responden dan sikap over action dari

pewawancara, sehingga terjadi prasangka hasil yang diperoleh tidak objektif. Karena itu
diperlukan adaptasi diri antara pewawancara dengan responden.
d. Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan, kemampuan individu yang
diwawancarai
e. Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar pelaksaan wawancara
f. Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari pewawancara
g. Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat mempengaruhi hasil wawancara

III. SIMPULAN
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara
tanya jawab sambil menatap muka antara pewawancara atau dengan responden dengan
menggunakan alat yang dinamakan Interwiew guide. Wawancara untuk pengenalan
peserta didik adalah alat penilaian dan alat untuk mengetahui kepribadian atau karakter
dari diri peserta didik atau siswa. Manfaat Wawancara untuk pengenalan peserta didik :
Untuk mengetahui tingkat kemauan peserta didik dalam belajar.
Sebagai alat yang dapat digunakan untuk menyesuaikan metode pembelajaran sesuai
tingkat kepribadian peserta didik.
Sebagai sarana pemberian motivasi dari pendidik kepada peserta didik.
Adapun tekhnik wawancara untuk pengenalan peserta didik adalah sebagai berikut:
Mencari tahu typical personal dari peserta didik.

Menyesuaikan pertanyaan-pertanyaan dengan latar belakang peserta didik.


Mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh peserta didik tentang
jawaban dari pertanyaan yang kita berikan.
Mengamati tentang isi jawaban yang diberikan peserta didik tersebut.
Menyelidiki, benar atau tidaknya yang disampaikan.
Menanggapai jawaban peserta didik tersebut.
Sedangkan metode yang sering digunakan untuk mewawancarai peserta didik adalah
metode secara langsung. Hal ini didasarkan kepada efektivitas dan efisiensivitas dalam
proses wawancara. Selain itu metode secara langsung dapat meminimalisir terjadinya
kecurangan-kecurangan yang dapat terjadi saat wawancara dan metode ini dilakukan face
to face kepada peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 1990. Evaluasi Instruksional. Remaja Rosdakarya: Bandung.
Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara:
Jakarta.
Ketut Sukardi, Dewa. 1984. Pengantar Teori Konseling. Ghalia Indonesia:
Denpasar.
Sudjana, Nana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja
Rosdakarya: Bandung,
Sudjiono, Anas. 2003. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo: Jakarta.