Anda di halaman 1dari 15

AKUNTANSI KAS DAN PIHUTANG

DAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN

I. KAS DAN BANK

A. Pengendalian Intern (Internal Control)


Hongren, dkk. mendefinisikan pengendalian intern sebagai :
Suatu rancangan organisasi dan semua tindakan-tindakan terkait yang dilaksanakan
suatu organisasi untuk memenuhi empat sasaran, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Melindungi aset perusahaan


Mendorong para karyawan untuk mengikuti kebijakan perusahaan
Mendorong efisiensi operasional
Untuk menjaga catatan yang tepat dan bisa dipercaya
(Hongren 2005:33)

B. Sistem Pengendalian Intern yang Efektif


Agar suatu sistem pengendalian intern dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien
dipersyaratkan adanya karyawan yang kompeten, dapat dipercaya serta berlaku etis.
Adanya penggajian yang memadai untuk dapat merekrut karyawan yang memiliki
kualifikasi yang baik, melatih karyawan untuk dapat bekerja dibidangnya serta
memberikan supervisi akan dapat membentuk suatu staf yang kompeten.
Pada suatu organisasi dengan pengendalian intern yang baik tidak akan mengabaikan
tugas yang penting. Tiap-tiap karyawan akan mempunyai tanggung jawabnya masingmasing.
Pembagian tugas
Manajemen yang baik akan membagi tanggung jawab diantara dua atau lebih orang.
Pembagian tugas akan membatasi kecurangan dan mendorong ketepatan catatan
akuntansi. Pembagian tugas dapat dibagi menjadi dua bagian,
1. Pemisahan antara kegiatan-kegiatan operasional dan akuntansi
Akuntansi harus sepenuhnya dipisahkan dari departemen-departemen operasional,
seperti departemen produksi dan marketing. Apa yang akan terjadi bilamana
petugas penjualan juga mencatat penjualan perusahaan? Dapat dipastikan bahwa
besarnya angka penjualan menjadi kurang dapat dipercaya.
2. Pemisahan antara kegiatan menjaga aset dan akuntansi
Petugas akuntansi harus tidak memegang kas dan petugas kasir harus tidak
mempunyai akses terhadap catatan akuntansi. Bilamana ada karyawan yang
menangani kas dan sekaligus akuntansi kas, maka hal ini akan membuka peluang
baginya untuk berlaku tidak jujur, karena dengan mudah dia bisa mengeluarkan kas
dengan bukti pengeluaran yang tidak benar.

C. Audit Internal dan Audit Ekternal


Untuk validasi catatan akuntansinya perusahaan sering mengadakan audit periodik.
Audit adalah suatu pemeriksaan teradap laporan keuangan dan sistem akuntansi suatu
perusahaan. Untuk mengevaluasi sistem akuntansi, auditor akan memeriksa
pengendalian intern.
Internal auditor adalah akuntan yang bekerja pada suatu perusahaan. Mereka akan
mengamati bahwa para karyawan telah mentaati kebijakan-kebijakan perusahaan dan
kegiatan-kegiatan operasional bekerja dengan efisien.
Audit eksternal adalah pemeriksaan kewajaran suatu laporan keuangan yang
dilakukan oleh akuntan publik. Setelah dilakukan audit, akuntan publik akan
memberikan pernyataan opini tentang obyektivitas laporan keuangan yang
diperiksanya serta kesesuaian laporan tersebut dengan prinsip akuntansi Indonesia
yang lazim.
D. Rekening Bank sebagai Wahana Pengendalian
Aktiva berupa kas adalah kekayaan yang paling likuid, karena dia digunakan sebagai
alat pembayaran. Dewasa ini kas dapat diwakili oleh kartu elektronik tanpa lembar cek
ataupun slip deposit. Kas merupakan kekayaan yang mudah disembunyikan, mudah
dipindahkan dan relatif mudah dicuri. Sehingga kebanyakan perusahaan kemudian
menciptakan suatu pengendalian khusus untuk kas. Sehingga kebanyakan perusahaan
kemudian menciptakan suatu pengendalian khusus untuk kas.
Menyimpan uang pada rekening bank akan membantu pengendalian kas, dikarenakan
bank akan melindungi uang nasabahnya. Bank juga akan memberikan kepada
nasabahnya catatan kunci dari transaksi-transaksi yang dilakukannya. Untuk dapat
menraik manfaat tersebut, maka perusahaan harus menjelaskan semua penerimaanpenerimaan kas ke bank dan melakukan pembayaran-pembayaran melalui bank,
kecuali transaksi kecil yang dicatat melalui kas kecil.
Dokumen-dokumen yang digunakan untuk mengontrol suatu rekening bank antara lain,
meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.

Kartu tanda tangan


Tiket deposit
Buku check
Laporan bank
Rekonsiliasi bank

Ad.1. Kartu Tanda Tangan


Bank mempersyaratkan orang-orang yang diluar kuasa untuk bertransaksi bisnis
melalui suatu kartu yang ditandatangani, yang disebut sebagai kartu tanda
tangan. Bank menggunakan kartu ini untuk melindungi terhadap pemalsuan
tanda tangan.

Ad. 2. Tiket Deposit


Bank mengeluarkan formulir-formulir standar seperti tiket deposit. Pelanggan
mengisi jumlah rupiah pada masing-masing deposit. Sebagai bukti dari transaksi
pelanggan menyimpan penerimaan deposit.
Ad. 3. Buku Check
Untuk menarik uang dari suatu rekening, penyimpan menulis suatu cek, yang
merupakan dokumen yang meminta bank untuk membiayai pada pihak tertentu
syarat uang tertentu. Terdapat tiga pihak yaitu pembuat, yang menandatangani
check. Pembayar, yaitu kepada siapa check akan dibayarkan. Dan pihak bank,
dimana check tersebut ditarik.
Ad. 4. Laporan Bank
Bank akan mengirimkan laporan bulanan kepada para nasabah. Suatu laporan
bank adalah dokumen dimana bank melaporkan apa yang terjadi dengan kas
nasabah yang disimpan pada bank. Laporan tersebut akan menunjukkan saldo
awal dan saldo akhir dan daftar penerimaan-penerimaan kas dan pembayaran.
Pembayaran yang dilakukan melalui rekening bank termasuk data laporan
tersebut check yang dibatalkan pembuat serta fotocopi dari check-check yang
telah dibayarkan. Laporan tersebut juga mencantumkan daftar setoran. Setoran
akan disusun secara kronologis.
Transfer dana secara elektronik
Adalah suatu sistem yang memindahkan kas dengan komunikasi elektronik.
Lebih murah bagi suatu perusahaan untuk membayar gaji karyawan transfer
secara elektronik. Banyak orang yang melakukan pembayaran sewa, premi
asuransi melalui transfer elektronik dan tidak perlu menuliskan check untuk
pembayaran-pembayaran tersebut. Laporan bulanan bank akan melaporkan
daftar transfer elektronik yang diterima maupun yang dikeluarkan.
Ad. 5. Rekonsiliasi Bank
Terdapat dua buah catatan untuk mencatat kas perusahaan:
a) Pos kas pada perusahaan yang tercantum pada buku besar perusahaan.
b) Laporan bank, yang menunjukkan transaksi penerimaan-penerimaan serta
pengeluaran-pengeluaran melalui bank.
Saldo akhir kas perusahaan dengan saldo laporan bank pada umumnya
menunjukkan angka yang berbeda. Saat perusahaan menuliskan pembayaran
dengan check, maka saldo bank menurut kas perusahaan langsung akan
dikurangi. Tetapi bank belum akan mengurangi sampai saat check tersebut
benar-benar dibayar oelh bank, ini bisa berselisih beberapa hari bahkan
beberapa minggu. Sementara itu perusahaan akan segera menambahkan pada
saldo barunya saat menyetor. Tetapi bank mungkin perlu satu atau dua hari
untuk meng-update setoran yang dibuat.
Untuk menyalurkan catatan kas yang tepat, kita perlu untuk meng-update buku
check saat online atau setelah melalui laporan bank diterima. Semua
perusahaan melakukan proses up-dating ini adalah suatu dokumen yang disebut
dengan rekonsiliasi bank, yaitu yang dibuat oleh perusahaan, bahkan oleh bank.

E. Pengertian Kas dan Bank


Dalam akuntansi istilah kas mengandung pengertian yang lebih luas, karena meliputi
juga uang kertas, koin/uang logam, check, pos wesel, simpanan di bank dan segala
sesuatu yang dapat disamakan dengan uang.
Unsur-unsur kas terdiri atas hal-hal sebagai berikut:
1. Uang tunai (uang kertas, uang logam)
2. Check, giro pos wesel dan simpanan di bank
3. Hal-hal lain yang dapat disamakan dengan uang.
Ad. 1. Uang tunai,
Adalah semua alat pembayaran yang sah segala jenis uang yang laku untuk
digunakan sebagai alat pembayaran merupakan elemen yang paling mudah
untuk dimasukkan sebagai kelompok kas.
Ad. 2. Check yang dimasukkan disini adalah check yang diterima pihak lain sebagai
alat pembayaran.
Check mundur yang dapat diuangkan setelah tanggal tertentu yang tercantum
dalam lembar check tersebut, serta lembar sertifikat bank yang tidak dapat
digolongkan sebagai kas, bilamana sampai dengan tanggal neraca, check atau
sertifikat tersebut belum dapat diuangkan. Simpanan dibank dalam bentuk giro
(demand deposit), adalah simpanan yang setiap saat dapat ditarik untuk
diuangkan. Jenis ini dapat digolongkan sebagai kas simpanan di bank yang tidak
memenuhi syarat ini, misalnya deposito, tidak daat digolongkan sebagai kas.
Ad. 3. Hal-hal lain yang dapat disamakan dengan uang, terdiri atas surat-surat yang
dapat diuangkan setiap saat dibank dimana bank akan bersedia membayar
sebesar nilai nominal yang tercantum dalam surat tersebut, misalnya bank draft.
F. Cara Penyajian Kas dalam Neraca
Kas dicantumkan dalam neraca, sebesar nilai nominalnya. Cara yang paling umum
yang digunakan adalah:
1. digunakan satu pos, yaitu KAS yang menunjukkan seluruh elemen kas yang
dimiliki perusahaan, maupun kas yang disimpan pada bank dalam bentuk demand
deposit/rekening giro.
2. Kas dicantumkan menjadi dua pos, yaitu:
a). Pos kas yang menunjukkan saldo kas yang ada dalam perusahaan.
b). Pos bank yang menunjukkan saldo kas di bank dalam bentuk pos
giro/demand deposit.
G. Jenis-jenis Simpanan di Bank
Menyimpan uang di bank dapat dilakukan dalam berbagai bentuk antara lain:
1. Tabungan
Yaitu sejenis simpanan di bank, dimana setoran atau pengambilan dapat dilakukan
setiap saat, sedangkan frekuensi pengambilannya ada yang dibatasi ada pula yang

tidak. Dewasa ini tabungan dapat diambil melalui kartu ATM, sehingga memberikan
kemudahan kepada penabung.
2. Giro
Adalah simpanan di bank yang setiap saat diambil atau digunakan dengan
menggunakan check. Rekening giro dapat bertambah karena adanya setoran dari
pemegang giro atau dikarenakan setoran dari pihak lain kepada pemegang rekening
giro. Rekening giro dapat berkurang karena penarikan check oleh pemegang giro
ataupun adanya pembenanan biaya dai bank.
3. Deposito Berjangka
Adalah suatu bentuk simpanan di bank dimana pengambilan simpanan tersebut
baru.
H. Penyetoran ke Bank dan Penarikan Check
Perusahaan yang terdaftar sebagai pemegang giro pada suatu bank akan memperoleh
nomor.
Untuk penyetoran ke kas disediakan buku tanda setoran yang dicetak. Bukti setoran
tersebut akan diarsipkan dan dibukukan oleh perusahaan. Penarikan check merupakan
suatu perintah tertulis dari pemegang giro (penarik) yang ditujukan pada bank untuk
membayar sejumlah uang kepada orang yang namanya tertulis dalam check tersebut
atau kepada orang yang membawa check tersebut ke bank. Blanko check disediakan
oleh bank.
I. Laporan Bank
Setiap bulan bank akan memberikan laporan kepada para pemegang giro. Laporan ini
pada hakekatnya merupakan kutipan dari rekening pemegang giro yang
diselenggarakan oleh bank. Laporan tersebut memuat antara lain:

Informasi saldo giro pada awal bulan


Setoran-setoran selama sebulan
Check-check yang ditarik selama sebulan
Pendebitan dan pengkreditan lainnya yang telah dilakukan atas rekening
pemegang giro.
Saldo giro akhir bulan.

J. Rekonsiliasi Rekening Bank


Saldo laporan bank yang diterima oleh pemegang giro dari banknya, terkadang tidak
sama dengan saldo yang nampak dalam pembukuan pemegang giro. Hal-hal yang
dapat menyebabkan perbedaan antara lain adalah:

adanya transaksi-transaksi yang belum dicatat oleh salah satu pihak.


Adanya kesalahn pembukuan baik dari pihak pemegang giro ataupun bank.

Rekonsiliasi berarti menentukkan hal-hal yang menimbulkan adanya perbedaan antara


saldo yang nampak dalam laporan bank dengan saldo yang nampak dalam catatan
pemegang giro. Dengan mengetahui faktor-faktor yang membuat perbedaan tersebut,
maka akan dapat ditentukan saldo yang benar untuk dicantumkan pada neraca.
Transaksi-transaksi yang dicatat oleh pemegang giro, namun belum dicatat oleh bank,
misalnya:
1. Check dalam peredaran (outstanding check), yaitu check yang telah ditarik oleh
pemegang giro tetapi oleh si pemegang check belum ditunaikan ke bank yang
bersangkutan.
2. setoran dalam proses deposit (deposit in transit), yaitu setoran yang telah dilakukan
dan telah dicatat oleh pemegang giro, tetapi belum tercantum dalam laporan bank.
Hal tersebut terjadi dikarenakan beberapa sebab, antar lain dikarenakan setoran
dilakukan di akhir bulan dan belum sempat dicatat dalam pembukuan.
Transaksi-transaksi yang nampak dalam laporan bank, tetapi belum dicatat dalam
pembukuan pemegang giro, misalnya:

1. Biaya administrasi
Besarnya biaya administrasi yang dibebankan oelh bank kepada pemegang giro
biasanya baru diketahui oleh si pemegang giro setelah yang bersangkutan
menerima laporan bank.

2. Pendebitan karena check kosong


Check yang diterima oleh pemegang giro yang kemudian dosetorkan ke bank
diantaranya kemungkinan ada yang dananya tidak mencukupi. Dalam hal ini bank
akan mendebit kembali rekening pemegang giro. Dari laporan bank pemegang giro
baru mengetahui kalau check yang diterima dari nasabah perusahaan ternyata
kosong.

3. Biaya penagihan bank (inkaso)


Bank pada umumnya membebani pemegang giro dengan biaya penagihan atas
wesel yang diserahkan pada bank untuk ditagihkan. Pembebanan biaya inkaso ini,
hampir sama perlakuannya dengan biaya administrasi.
K. Prosedur Pembuatan Rekonsiliasi
Langkah-langkah dalam membuat rekonsiliasi bank adalah sebagai berikut:
1. Bandingkanlah setoran-setoran yang tercantum dalam laporan bank dengan
setoran-setoran yang tercantum dalam dalam pembukuan pemegang giro. Catatlah
setoran-setoran yang tidak cocok jumlahnya tentukan jumlah setoran yang benar.
2. Buatlah daftar check yang tidak diuangkan di bank berdasarkan urutan nomor dan
bandingkanlah daftar tersebut dengan daftar pengeluaran check yang tertera pada
jurnal pengeluaran kas.
Bilamana ada check yang telah ditarik akan tetapi belum tercantum dalam daftar
check tersebut, maka ini berarti bahwa check tersebut masih dalam peredaran
(outstanding) dan jumlahnya harus dikurangkan dari saldo menurut laporan bank.

3. Kurangkanlah pada saldo menurut pembukuan pemegang giro semua debit memo
yang dikreditkan oleh bank dan belum dicatat oleh pemegang giro, seperti misalnya
pembebanan biaya administrasi.
4. Tambahkan pada saldo menurut pembukuan pemegang giro, semua kredit memo
yang dikirim oleh bank yang dikirm oleh bank dan belum dicatat oelh pemegang
giro, seperti misalnya wesel yang berhasil ditagihkan oleh bank.
5. Periksa apakah ada check yang masih beredar (outstanding check) menurut
rekonsiliasi bank bulan lalu masih belum juga diuangkan pada bulan lalu masih
belum juga diuangkan pada bulan ini. Jika ada, maka check tersebut harus
dimasukkan sebagai check yang masih beredar pada rekonsiliasi bank bulan ini.
6. Periksa bahwa setoran dalam perjalanan menurut rekonsiliasi bank bulan lalu
(deposit in transit) tidak dikreditkan pada laporan bulan ini.
7. Lakukan rekonsiliasi bank dengan tahap-tahap seperti yang diuraikan tersebut di
atas.
8. Buatlah jurnal untuk pendebitan dan pengkreditan yang tercantum dalam laporan
bank, tetapi belum dicatat dalam pembukuan pemegang giro.
Contoh:
Pada pembukuan PT. Maju Jaya untuk kas di bank yaitu rekening giro pada Bank
Mandiri per tanggal 30 Oktober 2000 menunjukkan saldo sebesar Rp 41.475.700,-.
Sedangkan saldo menurut laporan bank mandiri menunjukkan angka sebesar Rp
50.001.700,- sehingga terdapat selisih sebesar Rp 8.276.000,Setelah dilakukan pengecekan maka diketahui bahwa penyebab perbedaan
tersebut adalah:
a). Setoran yang dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2000 sebesar Rp 3.109.000,ternyata belum tercantum dalam laporan bank.
b). Kredit memo per 28 Oktober 2000 sebesar Rp 5.000.000,- yaitu penagihan
wesel melalui bank.
c). Empat lembar check yang dikeluarkan bulan Oktober 2000 ternyata belum
diuangkan ke bank.
No Check
1024
1028
1030
1031

Tanggal
16 Oktober
25 Oktober
27 Oktober
29 Oktober

Jumlah
Rp 1.000.000,Rp 102.000,Rp 4.025.000,Rp 2.050.000,-

d). Debit nota dari bank berjumlah Rp 20.000,- belum dibukukan. Debit nota
tersebut bertanggal 30 Oktober 2000 untuk pembebanan biaya administrasi
bank.

e). Check no 1025 yang ditarik oleh PT Maju Jaya per 21 Oktober bernilai Rp
850.000,- telah dicatat pada jurnal pengeluaran kas dengan jumlah Rp
580.000,- check tersebut untuk membayar rekening listrik dan air.
f). Selembar check yang diterima PT Maju Jaya dari PT Lukman pada tangggal 19
Oktober 2000 sebesar Rp 502.500,- dan telah disetorkan ke Bank Mandiri
sebagai setoran atas rekening giro ternyata dananya tidak mencukupi dan
dikembalikan oleh bank. Hal ini belum dicatat oleh PT Maju Jaya.
Rekonsiliasi bank yang dibut PT Maju Jaya per 30 Oktober 2000 akan nampak sebagai
berikut:
PT Maju Jaya
Rekonsiliasi Bank per 30 Oktober 2000
Saldo per buku 30 Oktober 2000
+ Inkaso wesel
Biaya administrasi bank
Check kosong dari PT Lukman
Kesalahan pembukuan check # 1025

Rp
Rp
Rp

41.725.700,5.000.000,46.725.700,-

Rp
20.000,Rp 502.000,Rp 270.000,Rp
792.500,Rp 45.933.200,-

Saldo per buku yang telah disesuaikan


Saldo menurut Laporan Bank 30 Oktober 2000
+ Setoran salam proses 30 Oktober 2000 belum
dicatat oleh bank

Rp
Rp

50.001.700,3.109.000,-

Rp

53.110.700,-

Check yang masih beredar


No 1024 Rp 1.000.000,No 1028 Rp 102.500,No 1030 Rp 4.025.000,No 1031 Rp 2.050.000,Rp
7.177.500,Rp 45.933.200,-

Saldo yang telah disesuaikan

Dengan demikian maka saldo rekening giro yang benar adalah sebesar Rp
45.933.200,- dan jumlah tersebut akan dicantumkan pada neraca per 30 Oktober 2000.
penyesuaian pembukuan setelah rekonsiliasi. Agar supaya pembukuan PT Maju Jaya
memberikan gambaran yang benar, diperlukan penyesuaian-penyesuaian untuk
mencatat rekonsiliasi sebagai berikut:
1. Inkaso Wesel oleh bank
Kas
- Wesel tagih

Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,-

2. Biaya administrasi bank


Biaya administrasi
-/ Kas

Rp

3. Check kosong dari PT Lukman


Piutang niaga
-/ Kas

Rp

20.000,Rp

20.000,-

Rp

502.500,-

502.500,-

4. Kesalahan pencatatan check no. 1025 seharusnya Rp 805.000,- dicatat pada


jurnal Rp 508.000,Listrik dan air
Rp 270.000,- Wesel tagih
Rp 270.000,-

L. Kas Kecil
Untuk kontrol intern yang baik atas kas, sebaiknya semua penerimaan kas harian
disetorkan ke bank secara utuh dan pengeluaran-pengeluaran kas sebaiknya dilakukan
dengan menggunakan check. Namun dalam hal-hal tertentu yang kecil dan sering
terjadi, seperti misalnya pembelian materai dan pranko, biaya angkutan, biaya taksi
dan pembayaran-pembayaran berjumlah kecil lainnya, pembayaran dengan check
menjadi kurang praktis.
Oleh karena itu perlu mempunyai sejumlah kas tertentu yang disediakan untuk
keperluan pembayaran-pembayaran yang tidak mungkin dilakukan dengan
menggunakan check yang disebut dengan kas kecil atau petty cash.
Agar kontrol intern terhadap pengeluaran-pengeluaran dilakukan melalui kas kecil
dapat dilakukan dengan baik, maka perusahaan dapat melaksanakan tata laksana kas
kecil dapat dilakukan dengan baik, maka perusahaan dapat melaksanakan tata
laksana kas kecil dengan menggunakan system imprest.
Ketentuan pokok dalam melaksanakan system imprest adalah sebagai berikut:
1. Kas kecil disediakan khusus untuk keperluan pembayaran-pembayaran yang kecil
jumlahnya sehingga tidak praktis bila dilakukan dengan menggunakan check.
2. Dana yang disediakan dalam kas kecil telah ditentukan (jumlahnya tidak boleh
dilampaui)
3. Pengeluaran-pengeluaran dari kas kecil hanya bisa dilakukan, bila ada perintah
pengeluaran kas yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang.
4. Pengisian kembali kas kecil hanyalah untuk jumlah kas kecil yang telah digunakan
sehingga setelah diberi penggantian atas pengisian kembali, maka kas kecil akan
kembali pada jumlah semua.
a)

Pembentukan kas kecil (imprest system)


Pada tanggal 1 Juli 2000 PT Bimasena memutuskan untuk membentuk dana
kas kecil untuk keperluan pembayaran yang kecil jumlahnya.
Untuk itu perusahaan menetapkan besarnya kas kecil sebesar Rp 1.000.000,dan kas kecil akan diisi kembali setiap 2 minggu sekali.

10

Jumlah untuk mencatat transaksi tersebut adalah:


Kas kecil
Rp 1.000.000,-/Kas
Rp 1.000.000,b)

Pengisian kembali kas kecil


Misalnya selama dua minggu pertama terjadi transaksi-transaksi kas kecil
sebagai berikut:
2 Juli
3 Juli
5 Juli
6 Juli
8 Juli
12 Juli
12 Juli
13 Juli

: Pembelian prangko

Jumlah

Rp
16.000,Rp
31.000,Rp
28.000,Rp
60.000,Rp 590.000,Rp
52.000,Rp
20.000,Rp 100.000,Rp 897.500,-

Pada tanggal 14 Juli 2000 kas kecil diisi kembali untuk mengganti pengeluaranpengeluaran kas kecil yang telah dilakukan. Prosedur pengisian kembali kas kecil
adalah sebagai berikut:
1. Kas kecil dihitung oleh petugas bagian akuntansi jumlah perintah pengeluaran kas
kecil ditambah dengan saldo kas kecil harus berjumlah Rp 1.000.000,- sesuai
dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
2. Semua perintah pengeluaran kas kecil diperiksa untuk memastikan bahwa
pengeluaran-pengeluaran itu telah mendapat persetujuan dari pejabat yang
berwenang dan pengeluaran kas kecil diperiksa untuk memastikan bahwa
pengeluaran-pengeluaran itu telah mendapat persetujuan dari pejabat yang
berwenang dan pengeluaran tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku di perusahaan.
3. Perintah-perintah pengeluaran kas kecil diberi tanda tertentu agar bukti tersebut
tidak dapat digunakan lagi untuk pengeluaran kas kecil di kemudian hari.
4. Perintah-perintah pengeluaran kas kecil dikelompokkan berdasarkan rekeningrekening biaya yang ada dalam buku besar.
5. Ditarik check sebesar Rp 897.500,- untuk pengiriman kembali. Check tersebut
diuangkan oelh pemegang kas kecil, sehingga saldonya kembali menjadi Rp
1.000.000,-.
6. Jurnal untuk mencatat pengeluaran check tersebut adalah sebagai berikut:
Biaya telepon, telegram
Rp 148.000,Biaya angkut pembelian barang
Rp 60.000,Biaya perjalanan dinas
Rp 590.000,Biaya BBM
Rp 52.500,Macam-macam biaya
Rp 47.000,-/Kas
Rp 897.500,-

11

II. PIUTANG
A. Pengertian Piutang Niaga
Piutang niaga adalah tagihan-tagihan kepada pembeli atau organisasi yang timbul dari
penjualan barang atau jasa secara kredit, tanpa disertai dengan janji tertulis secara
formal.
Piutang lain yang timbul karena berbagai sebab seperti misalnya pemberian pinjaman
kepada karyawan, pemberian pinjaman kepada perusahaan lain, penyerahan saham
perusahaan kepada pemegang saham. Jenis piutang ini tidak termasuk dalam piutang
niaga.
B. Cara Penyajian Piutang Niaga Dalam Neraca
Bilamana perusahaan memiliki berbagai jenis piutang yang timbul dari transaksi yang
berbeda-beda sifatnya, maka piutang-piutang tersebut harus dicantumkan ke dalam
neraca terpisah.
Piutang niaga pada umumnya dikelompokkan sebagai aktivav lancar, yaitu apabila
piutang tersebut diharapkan dapat ditagih dalam jangka waktu tidak lebih dari satu
tahun atau tidak lebih dari satu siklus kegiatan normal perusahaan. Pada neraca harus
dipisahkan secara jelas antara:

Piutang niaga
Piutang kepada pegawai
Piutang kepada pemegang saham, dan
Piutang lain-lain

Dalam hal perusahaan mempunyai hubungan jual beli sesuatu pihak sehingga
terhadap perusahaan tersebut memiliki sekaligus piutang niaga dan hutang niaga,
maka di dalam penyajian pada neraca tidak boleh dikompensasikan antara hutang dan
piutang, melainkan harus dinyatakan secara terpisah.
C. Kerugian Piutang
Penjualan secara kredit antara lain dimaksudkan untuk merangsang para pembeli agar
mau membeli barang-barang yang ditawarkan oleh penjual, karena dengan penjualan
secara kredit, akan memberikan peluang kepada pembeli untuk menunda saat
pembayarannya. Dengan cara tersebut diharapkan volume penjualan akan lebih besar.
Disisi yang lain penjualan secara kredit tersebut mengandung risiko bagi penjual, yaitu
jika ada debitur yang tidak membayar sebagaimana mestinya. Bila hal tersebut terjadi
perusahaan akan menanggung kerugian. Hal ini harus dicantumkan dalam laporan
laba-rugi yaitu pada pos kerugian piutang.

12

D. Metode Pencatatan Kerugian Piutang


Terdapat 2 (dua) metode pencatatan kerugian piutang
1. Metode Penghapusan Langsung (Direct Write off Method)
Dalam metoda ini, kerugian dari piutang yang tidak tertagih, dicatat pada saat
perusahaan mendapat keyakinan, bahwa piutang tidak akan dapat ditagih.
Kepastian bahwa suatu piutang tidak akan dapat ditagih, akan dapat diperoleh
setelah perusahaan mendapatkan pemberitahuan secara resmi, bahwa debitur telah
dinyatakan pailit oleh instansi yang berwenang.
2. Metode Cadangan (Allowance Method)
Metode ini dilandasi suatu pandangan, bahwa kerugian piutang terjadi karena
adanya kesalahan/kegagalan dalam menilai apakah calon pembeli pantas diberi
kredit atau tidak. Dengan demikian kerugian yang akan terjadi akibat adanya
piutang yang tidak dapat ditagih, harus menjadi beban periode dimana keputusan
pemberian kredit dilaksanakan, yaitu periode dimana penjualan direalisasikan.
Dikarenakan besarnya kerugian piutang yang sebenarnya diderita belum dapat
diketahui dengan pasti, maka kerugian piutang harus ditaksir jumlahnya pada tiaptiap akhir periode akuntansi. Jurnal metode cadangan adalah:
Kerugian Piutang
-/ Cadangan Kerugian Piutang

Rp xxx
Rp xxx

E. Ilustrasi Metoda Penghapusan Langsung


1. Misalnya pada tanggal 15 Maret 2000, Tuan Amat dinyatakan jatuh pailit, hutangnya
sebesar Rp 50.000,-. Jurnal yang dibuat perusahaan:
Kerugian Piutang
-/ Piutang Niaga

Rp 50.000,Rp 50.000,-

2. Pada tanggal 17 Agustus 2000, Tuan Amat menyatakan sanggup membayar


hutangnya yang telah dihapus, tetapi hanya sanggup membayar 80%-nya. Jurnal
yang dibuat perusahaan:
Kas/Piutang Niaga
-/ Kerugian Piutang

Rp 40.000,Rp 40.000,-

3. Jika Tuan Amat yang telah menyatakan kesanggupannya untuk melunasi 80%
utangnya tersebut membayarnya tidak pada periode tahun yang bersangkutan
misalnya 10 Februari 2001, maka jurnalnya:
Kas
-/ Bad Debt Recovered

Rp 40.000,Rp 40.000,-

13

F. Ilustrasi Metoda Cadangan (Allowance Method)


31/12/2000 Kerugian Piutang
-/ Cadangan Kerugian Piutang

Rp xxx
Rp

15/3/2000 Cadangan Kerugian Piutang


-/ Piutang Niaga

Rp 50.000,-

17/8/2000 Kas/Piutang Niaga


-/ Cadangan Kerugian Piutang

Rp 40.000,-

xxx

Rp 50.000,Rp 40.000,-

Pembayaran tahun 2001


10/2/2001 Kas
-/ Bad Debt Recovery

Rp 40.000,Rp 40.000,-

G. Metoda Penaksiran Kerugian Piutang


Pada dasarnya ada dua pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan laba-rugi
a. % dari penjualan neto (tunai dan kredit)
b. % dari penjualan kredit neto
2. Pendekatan pada neraca
a. % dari saldo piutang akhir tahun
b. Dengan menganalisa umur masing-masing piutang (aging method)
Cara Menghitung Prosentase Kerugian Piutang
Tahun

Penjualan
neto

Penjualan
kredit neto

Saldo
piutang

2 tahun yll
1 tahun yll

xxx
xx
A

xxx
xxx
B

xxx
xx
C

Prosentase Penjualan Neto =

Bad debt
recovery
xx
xx
E

Rp D E
x 100% = ................................ %
Rp A

Prosentase Penjualan Kredit Neto =

Prosentase Penjualan Neto =

Piutang
yang
dihapus
xxx
xxx
D

Rp D E x %
= ................................ %
Rp D

Rp D E
x 100% = ................................ %
Rp C

14

MENGANALISA UMUR PIUTANG


Saldo
Piutang

Belum Jatuh
Tempo

1. Alfa
2. Beta
3. Corona
4. Delta
5. Epsilon
6. Fokker
7. Gigi

Rp7,500,000
Rp195,000
Rp61,500
Rp52,000
Rp112,000
Rp95,000
Rp33,500

Rp7,500,000

Total

Rp8,049,000

Rp7,500,000

Rp195,000

Rp112,000

Rp61,500

Rp52,000

Rp95,000

Rp33,500

2%

5%

10%

20%

30%

50%

80%

Nama

% Taksiran

0-1 bln

1-2 bln

2-3 bln

3-6 bln

6-12 bln

> 1 thn

Rp195,000
Rp61,500
Rp52,000
Rp112,000
Rp95,000
Rp33,500

Kerugian

15