Anda di halaman 1dari 24

STRATEGI MENJADI SAKSI AHLI DAN

MENGHADAPI PERKARA PIDANA


TERKAIT PROSES BISNIS
DILINGKUNGAN PT PERTAMINA
(PERSERO)
OLEH :
SYAIFUL MAARIF, S.H. C.N., M.H.
JW

PT PERTAMINA
Perusahaan milik negara yang bergerak di
bidang energi meliputi minyak, gas serta energi
baru dan terbarukan;
Sahamnya 100% dimiliki oleh Pemerintah
Republik Indonesia melalui kementerian
Badan usaha milik negara (BUMN) selaku
pemegang saham dengan jumlah modal dasar
sebesar 200 Trilium rupiah.
Sumber : www.pertamina.com

AKIBAT HUKUM SEBAGAI PERUSAHAAN


NEGARA
Pemilik Modal adalah Pemerintah Republik
Indonesia sebagai akibatnya jika modal
tersebut tidak dikelola secara benar dapat
menimbulkan kerugian negara.
Timbulnya kerugian negara yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan
dapat
tersandung
tindak pidana khusus, yaitu Korupsi yang
tunduk pada UU 31/1999 jo. UU 20/2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi.

TINDAK PIDANA DAPAT TERJADI


Tindak pidana dapat terjadi pada setiap orang,
atau sekelompok orang, bila termasuk dalam
kualifikasi yang diatur dalam KUHP dan/atau
peraturan perundang-undangan khusus lainnya.

PROSES DALAM HUKUM ACARA PIDANA


PENYELIDIKAN

PENYIDIKAN

PENUNTUTAN

PEMBUKTIAN

EKSEKUSI /
BANDING /
KASASI

PUTUSAN

PEMBELAAN

PENGERTIAN TERSANGKA/TERDAKWA
Tersangka adalah seorang yang karena
perbuatanya atau keadaannya, berdasarkan
bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku
tindak pidana (pasal 1 butir (14) KUHAP)
Terdakwa adalah seorang yang dituntut,
diperiksa dan diadili di sidang pengadilan (pasal
1 butir (15) KUHAP)

TERSANGKA/TERDAKWA DAPAT
DINYATAKAN BERSALAH
Setidaknya terdapat 2 alat bukti yang sah (Pasal 183
KUHAP) dengan Sistem pembuktian berdasar
undang-undang secara negatif (negatief wettelijk
bewijs theorie).
Alat-alat bukti tersebut berdasarkan Pasal 184
KUHAP, terdiri dari :
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa.

HAK-HAK TERSANGKA / TERDAKWA


Meminta
diperlihatkan
surat
tugas
dan
mendapatkan surat perintah penangkapan ketika
tersangka ditangkap dengan menyebutkan alasan
penangkapan serta uraian singkat kejahatan yang
dipersangkakan (pasal 18 ayat (1) KUHAP)
Menerima tembusan Surat Perintah Penangkapan
bagi keluarga tersangka (pasal 18 ayat (3) KUHAP)
Meminta penjelasan mengenai tindak pidana yang
disangkakan dan didakwakan kepadanya guna
kepentingan pembelaan (pasal 51 KUHAP)

HAK-HAK TERSANGKA / TERDAKWA


Memberikan keterangan secara bebas, tanpa
tekanan, dan tidak dipaksa ketika diperiksa disemua
tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan (pasal
52 dan 117 ayat (1) KUHAP)
Mendapat Bantuan Hukum dan dengan bebas
menunjuk
Penasehat
Hukum
yang
akan
mendampinginya (pasal 54, pasal 55 dan pasal 114
KUHAP )
Bagi yang diancam dengan pidana mati atau
ancaman pidana 15 tahun atau lebih bagi yang tidak
mampu,maka pejabat yang bersangkutan WAJIB
menyediakan Penasehat Hukum secara cuma-Cuma
(pasal 56 ayat (1)KUHAP)

HAK-HAK TERSANGKA / TERDAKWA


Menghubungi dan berbicara dengan Penasehat
Hukumnya (pasal 57 KUHAP)
Mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau
seseorang yang memiliki keahlian khusus guna
memberikan keterangan yang menguntungkan
bagi dirinya (pasal 65 KUHAP)
Mengajukan permohonan Pra peradilan, dalam
hal penangkapan dan penahanan terhadap
tersangka tidak sah dan bertentangan dengan
Undang-undang (pasal 124 KUHAP)

HAK-HAK TERSANGKA & TERDAKWA


Meminta ganti kerugian dan rehabilitasi dalam hal
penangkapan, penahanan yang tidak sah (pasal 68
KUHAP)
Meminta turunan Berita Acara Pemeriksaan untuk
kepentingan Pembelaannya (pasal 72 KUHAP)
Memperoleh surat Dakwaan (pasal 143 ayat (4)
KUHAP)
Mengajukan pembelaan di persidangan atau
Pleidooi (pasal 182 KUHAP)
Meminta petikan surat putusan pengadilan segera
setelah putusan diucapkan (pasal 226 ayat (2)
KUHAP)

PERBEDAAN SAKSI, AHLI & TERDAKWA


AHLI (Pasal 1 angka 28
KUHAP)

SAKSI (Pasal 1 angka 27


KUHAP)

TERDAKWA (Pasal 1 butir


(15) KUHAP)

Memberikan keterangan yang


diberikan oleh seorang yang
memiliki keahlian khusus
tentang hal yang diperlukan
untuk membuat
terang suatu perkara pidana
guna kepentingan
pemeriksaan.

Memberikan Keterangan
keterangan dari saksi
mengenai suatu peristiwa
pidana yang ia dengar
sendiri, ia lihat sendiri dan
ia alami sendiri dengan
menyebut alasan dari
pengetahuannya itu

seorang yang dituntut,


diperiksa dan diadili di
sidang pengadilan

Tidak hadir dengan memberikan


Laporan Tertulis (Pasal 133
KUHAP)

Wajib hadir dalam Pemeriksaan

Wajib hadir dalam pemeriksaan

Menolak Hadir dikenai sanksi


pidana Pasal 522 KUHP

Menolak Hadir dikenai sanksi


pidana (Pasal 216 (1), Pasal 224,
522 KUHP)

MACAM-MACAM SAKSI DALAM PRAKTEK


ACARA PIDANA

Saksi korban;
Saksi mahkota;
Saksi verbalisan;
Saksi a charge;
Saksi a de charge.

HAK-HAK SAKSI
KUHAP belum mengakomodir hak-hak saksi
secara penuh.
Hak-hak saksi banyak diatur dalam UU No. 13
Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban, yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal
8, Pasal 9 ayat (1).

FUNGSI & MANFAAT DARI AHLI DALAM


PERKARA PIDANA
Sebagai suatu bukti keterangan dalam menjernihkan
duduk persoalan yang timbul dalam suatu sidang
dipengadilan.
Sebagai suatu alat yang berguna untuk memberikan
keterangan secara jelas mengenai suatu perkara pidana
yang terjadi dengan menggunakan keahliannya atau pun
dengan berdasarkan apa yang ia pahami atau tau
mengenai suatu perkara pidana.
Sebagai suatu bukti dengan menggunakan keahlinnya
untuk memberikan keterangan demi membela atau
demi mengguntungkan tersangka atau terdakwa.
untuk menambahkan keyakinan hakim dalam
memberikan suatu putusan atau keputusan didalam
persidangan.

AHLI BERDASARKAN PASAL 1 ANGKA 28


KUHAP
1. Memberikan keterangan
2. Yang diberikan oleh seorang yang memiliki
keahlian khusus
3. Tentang hal yang diperlukan
4. Untuk membuat terang suatu perkara pidana
guna kepentingan pemeriksaan

KETERANGAN AHLI DALAM PROSES


HUKUM ACARA PIDANA
Keterangan Ahli dalam KUHAP dapat diminta
pada Tahap :
Tahap Penyidikan
Tahap Pembuktian di Persidangan

KETERANGAN AHLI DALAM TAHAP


PENYIDIKAN
Keterangan Ahli dipergunakan oleh penyidik
untuk mencari dan mendapatkan atau setidaktidaknya mendekati kebenaran materiil, yaitu
kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari
suatu perkara pidana (Badan Pembinaan
Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan
HAM RI, h. 8), dikarenakan penyidik tidak ahli
atau berkompeten dalam bidang tertentu yang
memiliki peran signifikan dalam proses
penyidikan, contoh : Uji DNA, Bedah Mayat, dll.

KETERANGAN AHLI DALAM TAHAP


PENYIDIKAN
Keterangan Ahli dapat diminta oleh Penyidik pada
Tahap Penyidikan sebagaimana diatur dalam Pasal
120, Pasal 132 (1), Pasal 133 ayat (1) KUHAP.
Ahli
sebelum
memberikan
keterangannya
berdasarkan Pasal 120 ayat (2) KUHAP diminta
mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di
muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan
menurut pengetahuannya dengan sebaik-baiknya.
Ahli dapat menolak memberikan keterangan dalam
hal yang disebabkan karena harkat serta martabat,
pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia
menyimpan rahasia dapat menolak untuk
memberikan keterangan yang diminta.

KETERANGAN AHLI DALAM TAHAP


PENYIDIKAN
Dalam hal tertentu ahli dapat memberikan
keterangannya dalam bentuk laporan seperti
dalam Pasal 133 KUHAP :
Dokter mengeluarkan surat keterangan yang
disebut visum et repertum dalam penanganan
korban luka, keracunan, ataupun mati yang
diduga disebabkan oleh suatu peristiwa yang
merupakan tindak pidana sehingga tidak
harus tunduk pada Pasal 120 ayat (2)
KUHAP;

KETERANGAN AHLI DALAM TAHAP


PENYIDIKAN
Keterangan dalam bentuk laporan atau visum
et repertum mempunyai nilai pembuktian
berupa alat bukti keterangan ahli berbentuk
laporan (Penjelasan Pasal 186 KUHAP) yang sah
dan alat bukti Surat (Pasal 187 huruf c KUHAP).
Tersangka juga memiliki hak untuk mengajukan
ahli pada tahap penyidikan (Pasal 65 KUHAP).

KETERANGAN AHLI DALAM TAHAP


PERSIDANGAN
Ahli dapat diajukan oleh Penuntut umum atau
Terdakwa (Pasal 65 KUHAP) berlaku adagium
audio alteram partem, hakim harus mendengar
kedua belah pihak.
Hakim ketua dapat meminta keterangan Ahli (Pasal
180 ayat (1) KUHAP) maupun melakukan penelitian
ulang atas keterangan ahli (Pasal 180 ayat (2)
KUHAP) dalam hal :
1.timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa;
2.untuk menjernihkan duduknya persoalan yang
timbul di sidang pengadilan.

KETERANGAN AHLI DALAM TAHAP


PERSIDANGAN
Dalam konteks pemeriksaan di sidang pengadilan, sikap
hakim adalah een objektieve beoordeling van een
objektieve positie, yaitu hakim harus memperhatikan
kepentingan berbagai pihak, baik itu kepentingan
terdakwa, saksi, maupun kepentingan penuntut umum.
Alat bukti keterangan ahli tidak memiliki kekuatan
pembuktian yang mengikat atau kerap diistilahkan
dengan nilai kekuatan pembuktian bebas atau vrij
bewijskracht. Artinya, nilai kekuatan pembuktian yang
sempurna dan menentukan tidak melekat kepadanya.
Hakim pun tidak terikat untuk menerima kebenaran
keterangan ahli yang dimaksud dan bebas menilainya.

TERIMA KASIH
&
SEMOGA BERMANFAAT