Anda di halaman 1dari 2

Latar belakang

Mata adalah organ manusia yang berfungsi sebagai alat indra penglihatan. Mata dibentuk
untuk menerima rangsangan berkas berkas cahaya pada retina, dengan perantaran serabut
serabut nervus optikus rangsangan ini diteruskan ke pusat pengelihatan pada otak untuk
ditafsirkan.Selain itu mata juga sangat sensitive terhadap rangsangan terutama rangsangan
ransangan nyeri.mata juga rentan terhadap infeksi bakteri atau virus atau juga sering mengalami
trauma karena benda benda asing yang berupa butiran butiran kecil seperti debu dan
asap.Untuk mengatasi infesksi atau iritasi pada mata telah digunakan berbagai sediaan obat
untuk mata salah satu bentuk sediaan mata adalah salep mata.
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir (1). Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok
(2). Sediaan salep mempunyai konsistensi seperti mentega, tidak mencair pada suhu kamar tetapi
mudah dioleskan.
Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata menggunakan dasar salep yang cocok
(3), Salep mata memberikan arti lain dimana obat dapat mempertahankan kontak dengan mata
dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. Basis untuk salep mata biasanya
petrolatum putih walapun dalam beberapa kasus basis larut air juga digunakan. Obat jika tidak
larut didispersikan kedalam basis yang disterilkan dengan panas kering dan dicampur secara
aseptis dengan obat dan bahan tambahan yang steril (4). Salep mata memberikan keuntungan
waktu kontak yang lebih lama dan bioavailabilitas obat yang lebih besar dengan onset dan waktu
puncak absorbsi yang lebih lama. Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata, kelenjar
sebasea, konjungtiva, kornea dan iris (5).

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta:


Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1995. hal. (..)
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1995. hal. (.)
3. Ditjen POM RI, Farmakope Indonesia Edisi Ketiga (1979), Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
4. Salvatore Turco & Robert E. King , Sterile Dosage Forms (1974), Lea & Febiger,
Philadelphia.

5. A.R. Gennaro, Remingtons Pharmaceutical Sciences 18th Edition (1990), Mack

Publishing Company, Pennsylvania.