Anda di halaman 1dari 2

Cintaku dan Tasbih Darimu

Hari minggu ini ku putuskan untuk fokus memikirkan seorang gadis manis yang bernama Izzah
yang selalu memakai kerudung yang hampir menutup seluruh tubuhnya (jilbab syari) dan kacamata
di sebuah taman yang indah melalui kertas dan goresan pensil. Sembari aku tersenyum melihat
wajah yang muncul dari hasil goresan pensilku itu. Ia, Izzah adalah gadis yang sangat aku kagumi
yang duduk di bangku kelas XI sebuah SMA di kotaku. Dua hari lalu aku sengaja menunggunya
pulang dari rapat OSIS yang biasanya pulang hingga sore untuk mengantarkannya pulang agar dia
selamat sampai tujuan. Tujuanku tidak hanya itu sih, selain jalur rumah kita yang searah aku juga
ingin selalu dekat dengannya.
Izam, kamu masih di sini? sapanya sembari memberikan senyuman kepadaku dan tak lupa dia
menunduk tak melihat wajahku. Iya pulang bareng yuk? Sekalian aku mau ngajak kamu cari novel
dulu mau?
Dia memegang erat buku yang ia bawa dan dia menjawab, Eee.. maaf Zam aku takut dimarahi
sama Umi, kalau pulang terlalu sore bagaimana kalau besok aku sekalian mau mencari buku untuk
adikku. Aku pun mengangguk dan akhirnya kami berdua pulang bersama. Di jalan aku dan dia
menceritakan banyak hal hingga tak terasa kami sudah sampai di tempat untuk naik angkutan
umum. Sekitar 10 menit kami menunggu akhirnya angkutan pun datang. Aku mempersilahkan
Izzah untuk naik terlebih dahulu lalu aku menyusulnya, kebetulan angkutannya kosong jadi aku bisa
mengambil duduk yang tepat di depan Izzah.
Zam..
Ada apa?
Izzah terlihat gugup hendak mengatakan sesuatu tampaknya ku lihat dia mengeluarkan sesuatu dari
tasnya rupanya sebuah tasbih berwarna cokelat yang terbuat dari kayu. Izam ini untukmu aku
minta maaf karena selama ini aku mengagumimu karena sifatmu yang dewasa dan selalu
melindungiku, oleh karena itu aku ingin memberikan tasbih ini agar kamu selalu mengingat Allah
dan mengingatku jika aku telah pergi suatu saat nanti. Katanya sembari tersenyum kepadaku dan
untuk yang pertama kalinya ia menampakkan wajahnya padaku.
Izzah apa kamu tahu? Aku juga mengagumimu, dari awal aku mengenalmu aku telah kagum pada
sifatmu yang apa adanya. Dan kamu tidak usah minta maaf padaku karena kamu tidak salah, aku
terima ya tasbih dari kamu. Setelah aku menggenggam tasbih pemberiannya angkutan yang kita
naikki tiba-tiba terasa terpental dan aku membentur kaca, di situ sempat ku lihat kerudung Izzah
mulai memerah dan aku menggenggam tangan Izzah yang halus itu, Bertahan Izzah, dia
tersenyum ke arahku. Aku tidak mengingat apa yang terjadi setelah itu, namun saat aku membuka
mataku aku sedang terbaring di ruangan sepertinya rumah sakit. Saat aku mulai tersadar aku sontak
bangkit.
Izzah.. aku meneriakkan itu lumayan kencang membuat 2 orang yang ada di sebelahku menoleh
kepadaku.
Dokter di mana teman saya? Katakan dia baik-baik saja kan, Dok?
Dokter itu mengelus pundakku agar aku tenang dan dengan wajah yang sedikit kecewa beliau
berkata, Maaf kami tidak bisa menyelamatkan teman adik.
Bagai remuk rasanya jantungku saat aku mendengar itu. Ternyata tasbih itu dan kata-kata yang dia
ucapkan tadi adalah untuk yang terakhir kalinya bagiku. Aku sangat terpuruk, semua temanku
berusaha untuk menghiburku, namun tetap saja tidak ada yang bisa membuatku tersenyum. Namun
saat aku tertidur di tengah air mataku yang mengalir Izzah datang menghampiriku. Izam di mana
senyummu yang selalu membuatku semangat, aku ingin melihatmu tersenyum lagi. Dan aku mohon

mulailah harimu seperti selayaknya aku tidak mau kamu menyiksa dirimu sendiri. Aku langsung
terbangun dari tidurku dan aku berkata dengan diriku sendiri. Izzah aku akan tersenyum untukmu,
aku akan menemuimu di surga suatu saat nanti.
Dan hari ini dengan air mata yang menetes di atas lukisan wajah Izzah yang ku buat sendiri. Ku
langkahkan kakiku ke arah sebuah makam yang bertuliskan, Fatimah Aizzahra dan aku
meletakkan lukisan itu di samping nisan dan mendoakannya karena hanya ini caraku untuk melepas
rindu kepadanya.