Anda di halaman 1dari 45

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap individu memiliki 5 organ vital yakni otak, jantung, paruparu, hepar, dan ginjal. (Territo, 2012).
Paru-paru merupakan organ dalam sistem pernapasan yang
memiliki peranan besar bagi tubuh manusia dalam fungsi homeostasis.
Fungsi utama dari sistem pernafasan yaitu mengambil O2 dari atmosfer
dan menyalurkan ke dalam jaringan dan untuk mengeluarkan CO2 yang di
hasilkan sebagai sisa metabolisme. (Guyton, 2008).
Tingginya polusi udara di dunia saat ini sangat memprihatinkan,
salah satunya negara yang beriklim tropis yaitu indonesia menjadi negara
dengan tingkat polusi udara tertinggi ketiga di dunia. World Bank juga
menempatkan

Jakarta

menjadi

salah

satu

kota

dengan

kadar

polutan/partikulat tertinggi setelah Beijing, New Delhi dan Mexico City,


Sehingga menyebabkan tingginya angka kejadian yang disebabkan oleh
polusi udara, yakni gangguan yang berhubungan dengan sistem repirasi
dan kardiovaskular. (World Bank, 2014)
Di samping faktor resiko seperti polusi udara, merokok juga faktor
pencetus timbulnya gangguan pernapasan, baik perokok aktif ataupun
perokok pasif. (Kus Irianto, 2008)
Karena makin banyak kejadian gangguan paru pada masyarakat
maka perlu di lakukan pemeriksaan untuk mengetahui nilai fungsi paru
dari suatu individu secara lebih dini. Sehingga apabila ditemukan adanya
gangguan pada paru-paru lebih awal dapat segera dilakukan upaya untuk

mengembalikan fungsi paru secara baik.


Jenis gangguan fungsi paru dapat digolongkan menjadi dua yaitu
gangguan fungsi paru obstruktif (hambatan aliran udara) dan restriktif
(hambatan pengembangan paru). Untuk mengetahui gangguan pada fungsi
paru salah satu pemeriksaan yang dilakukan adalah spirometri,
pemeriksaan ini penting untuk fungsi ventilasi paru secara lebih mendalam
dan mengetahui apakah fungsi paru seseorang berada dalam keadaaan
normal atau abnormal. (Syaifuddin, 2001)
Pemeriksaan fungsi paru ini biasanya dikerjakan berdasarkan
indikasi atau keperluan tertentu (Blondshine,2007). Namun dalam
penelitian ini akan dilakukan pemeriksaan nilai fungsi paru pada
mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta angkatan 2014,
berdasarkan acuan prediksi nilai normal fungsi paru orang Indonesia
menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dalam Pneumobile
Project Indonesia 1992. (PPI 1992)
Jadi pada tahun lalu telah di lakukan penelitian oleh Nadira Kaliky
penelitian dengan melakukan pemeriksaan nilai fungsi paru pada
mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta angkatan 2013.
Peneliti ingin pula membandingkan hasil yang didapat dengan hasil
penelitian tahun lalu.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat
dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: bagaimana gambaran nilai
fungsi paru mahasiswa baru angkatan 2014 Program Studi Pendidikan
Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Jakarta menurut Pneumobile Project Indonesia 1992, dan apakah sesuai
dengan nilai penelitian pada angkatan 2013 ?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui nilai spirometri mahasiswa baru tahun 2014
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta berdasarkan tim
Pneumobile Project Indonesia 1992.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui nilai spirometri mahasiswa baru tahun 2014
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
b. Membandingkan nilai spirometri mahasiswa baru tahun 2014
fakultas kedokteran universitas muhammadiyah Jakarta dengan
nilai normal fungsi paru orang Indonesia berdasarkan tim
Pneumobile Project Indonesia 1992.
c. Membandingkan nilai spirometri mahasiswa baru tahun 2014
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan

Universitas

Muhammadiyah

Jakarta

dengan

mahasiswa baru tahun 2013 fakultas kedokteran universitas


muhammadiyah Jakarta.

D. Ruang Lingkup
Penelitian ini akan dilakukan di Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta yang berlokasi di jl kh
ahmad dahlan cireundeu ciputat jakarta, tanggerang selatan (Kampus A)
dan Cempaka Putih, Jakarta Pusat (Kampus B) selama kurun waktu +2
bulan yang diambil padabulan September-November 2014. Jenis
penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross
sectional. Metode pengambilan sampel yang dipakai adalahTotal Sampling
karena data diambil pada suatu kelompok tertentu.

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Bagi peneliti
a.

peneliti mengetahui nilai normal spirometri

b.

peneliti memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam


melaksanakan penelitian dan cara pengolahannya

c.

mengembangkan pengetahuan mengenai fungsi paru dan


kaitannya terhadap penyakit paru obstruktif dan restriktif.

d.

Sebagai sarana untuk melatih dan mempelajari peneliti dalam


melakukan suatu penelitian.

e.

Melatih

peneliti

agar

memiliki

pengalaman berinteraksi

langsung dengan subjek penelitian


f. Melatih peneliti dalam mengolah data dalam format SPSS
g. Melatih dan menerapkan komunikasi efektif dengan kelompok
subjek penelitian
2. Manfaat Bagi masyarakat
1. Membantu subjek penelitian untuk mengetahui nilai spirometri
tiap individu
2. Memberikan edukasi untuk kesehatan fungsi paru pada subjek
penelitian
3. Membantu penilaian spirometri setiap subjek penelitian terhadap
acuan angka normal berdasarkan tim Pneumobile Project
Indonesia 1992.

3. Manfaat Bagi institusi


a. Membantu memberikan data spirometri mahasiswa baru tahun
2014 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta..
b. Meningkatkan upaya promotif kesehatan paru mahasiswa baru
tahun 2014 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
dalam upaya Screening penyakit obstruktif dan restriktif paru.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. LandasanTeori
1. Sistem pernapasan
a. Definisi Sistem Pernapasan
Pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar
yang mengandung oksigen ke dalam tubuh serta menghembuskan
udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagai sisa dari
oksidasi keluar tubuh. Penghisapan ini disebut inspirasi dan
menghembuskan disebut ekspirasi. (Kus Irianto, 2008)
b. Fungsi Saluran Pernapasan
Saluran pernapasan digolongkan menjadi dua berdasarkan
letaknya, yaitu : saluran pernapasan atas (Upper Respiratory
Tract)dan saluran pernapasan bawah (Lower Respiratory Tract).
(Sloane, 2004).
1) Sistem Pernafasan Bagian Atas (Upper Respiratory Tract)
Fungsi utama sebagai berikut:
a) Saluran udara, sebagai saluran yang meneruskan udara
menuju saluran napas bagian bawah untuk pertukaran gas.
b) Perlindungan, sebagai pelindung saluran napas bagian
bawah agar terhindar dari masuknya benda asing.
c) menghangatkan, menyaring, dan memberi kelembaban
udara inspirasi. (Syaifuddin, 2001)

2) Sistem Pernasfasan Bagian Bawah (Lower Respiratory


Tract)
secara umum dibagi menjadi dua komponen ditinjau dari
fungsinya, yaitu:
a) Saluran

udara

konduktif,

sering

disebut

sebagai

percabangan trakheobronkhialis (tracheobronchial tree)


yang terdiri atas trakea, bronkus, dan bronkhiolus.
b) Saluran respiratoris terminal yang berfungsi sebagai
penyalur (konduksi) gas masuk dan keluar dari satuan
respiratorius terminal (saluran pernapasan yang paling
ujung), yang merupakan tempat pertukaran gas yang
sesungguhnya.
2. Anatomi Paru
Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut
yang ujungnya berada di atas tulang iga pertama dan dasarnya
berada pada diafragma. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus
sedangkan paru-paru kiri mempunyai dua lobus. Kelima lobus
tersebut dapat terlihat dengan jelas. Setiap paru-paru terbagi lagi
menjadi beberapa subbagian menjadi sekitar sepuluh unit terkecil
yang disebut bronchopulmonary segments.
Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang
disebut mediastinum. Jantung, aorta, vena cava, pembuluh paruparu, esofagus, bagian dari trakhea dan bronkhus, serta kelenjar
timus terdapat pada mediastinum
Paru-paru

dilapisi

oleh

pleura.

Pleura

merupakan

membran serosa yang melingkupi parenkim paru, mediastinum,


diafragma serta tulang iga yang terdiri dari pleura viseral dan
pleura parietal.Rongga pleura terisi sejumlah cairan pelumas yang

memisahkan kedua pleura tersebut sehingga memungkinkan


pergerakan kedua pleura tanpa hambatan selama proses respirasi,
Cairan pleura berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler pleura,
ruang interstitial paru, kelenjar getah bening intratoraks, pembuluh
darah intratoraks dan rongga peritoneum. Jumlah cairan pleura
dipengaruhi oleh perbedaan tekanan antara pembuluh-pembuluh
kapiler pleura dengan rongga pleura sesuai hukum Starling serta
kemampuan eliminasi cairan oleh sistem pengaliran limfatik pleura
parietal.Tekanan pleura merupakan cermin tekanan di dalam
rongga toraks.
Fungsi utama paru-paru adalah untuk pertukaran gas
antara udara atmosfer dan darah. Dalam menjalankan fungsinya,
paru-paru ibarat sebuah pompa mekanik yang berfungsi ganda,
yakni menghisap udara atmosfer ke dalam paru (inspirasi) dan
mengeluarkan udara alveolus dari dalam tubuh (ekspirasi).
(Guyton, 2008 ; Wenzel dan Larsen, 2009).

3.

Struktur Pelengkap Sistem Pernapasan


Yang digolongkan ke dalam struktur pelengkap system
pernafasan adalah struktur penunjang yang diperlukan untuk
bekerjanya sistem pernafasan itu sendiri. Struktur pelengkap
tersebut adalah dinding dada yang terdiri dari iga dan otot, otot
abdomen dan otot-otot lain, difragma, serta pleura.

a. Dinding Dada atau Dinding Thoraks


Dinding toraks dibentuk oleh tulang, otot, serta kulit.

b. Tulang Pembentuk Rongga Dada


Tulang yang membentuk dinding toraks adalah:

Tulang iga/costae (12 buah)

Vertebra thorakalis (12 buah)

Sternum (1 buah)

Klavikula (2 buah) dan

Skapula (2 buah)

c. Otot Pembatas Rongga Dada


Terdiri dari:

Otot ekstremitas superior:


o Muskulus Pectoralis Mayor
o Muskulus Pectoralis Minor
o Muskulus Serratus Anterior
o Muskulus subklavius

Otot Anterolateral Abdominal


o Muskulus Abdominal Obliqus Eksternus
o Muskulus Rectus Abdominis

Otot Toraks Intrinsik


o Muskulus Interkoslatis Eksterna
o Muskulus Interkostalis Interna
o Muskulus Sternalis
o Muskulus Toraksis Transversus

d. Otot Pernafasan
Selain pembentuk dinding dada, otot skelet juga berfungsi
sebagai otot pernafsan.
Menurut kegunaannya, otot-otot pernafasan dibedakan
menjadi otot untuk inspirasi, mencangkup otot inspirasi utama dan
tambahan, serta otot untuk ekspirasi tambahan.
Otot Inspirasi utama (principal), yaitu:

Muskulus interkostalis interna

Muskulus interkartilaginus parasternal, dan

Otot diafragma

Otot inspirasi tambahan (accessory respiratory muscle)


yang sering juga disebut sebagai otot bantu nafas, yaitu:

Muskulus sklaneus anterior

Muskulus sklaneus medius

Muskulus sklaneus posterior

Saat nafas biasa (quiet breathing), untuk ekspirasi tidak


diperlukan kegiatan otot, cukup dengan daya elastis paru saja udara
di dalam paru akan keluar saat ekspirasi. Namun, ketika ada
serangan asma, sering diperlukan active breathing; dalam keadaan
ini, untuk ekspirasi diperlukan kontribusi kerja otot berikut:

Muskulus interkostalis interna

Muskulus interkartilagineus parasternal

Muskulus rectus abdominis

Muskulus oblikus abdominis eksternus

Otot-otot untuk ekspirasi juga berperan untuk mengatur


pernafasan saat berbicara, menyanyi, batuk, bersin, dan untuk
mengedan saat buang air besar serta saat bersalin.

e. Diafragma
Diafragma

adalah

suatu

septum

berupa

jaringan

muskulotendineus yang memisahkan rongga toraks dengan rongga


abdomen. Dengan demikian, diafragma menjadi dasar dari rongga
toraks.
Ada tiga apertura pada diafragma, yaitu:

Hiatus aortikus yang didahului oleh aorta desenden,


vena azigos dan duktus torakikus.

Hiatus esofageus yang didahului oleh esophagus.

Aperture yang didahului oleh vena cava inferior.

f. Pleura
Pleura adalah jaringan yang dibentuk oleh mesodermal.
Pembagian ini dapat dibedakan menjadi:

10

Pleura viseralis yang melapisi paru.

Pleura parietalis yang melapisi dinding dalam hemitoraks


Di antara kedua pleura tersebut, terbentuk ruang yang

disebut sebagai rongga pleura yang sebenarnya tidak berupa


rongga tetapi merupakan ruang potensial. Pada keadaan normal,
rongga pleura berisi cairan pleura yang berjumlah sangat sedikit
(0,1-0,2 mL/kgBB). Jadi hanya berupa lapisan cairan pleura
setebal 10-20 m yang menyelaputi kedua pleura. Meskipun
sangat tipis, cairan ini telah dapat memisahkan lapisan pleura
viseralis dan pleura parietalis agar tidak saling bersinggungan atau
berlengketan.

4. Struktur utama sistem pernapasan


a. Sistem Pernapasan Bagian Atas
Saluran pernapasan bagian atas terdiri dari :
1) cavum nasalis

Hidung dibentuk oleh sebagian kecil tulang sejati (os)


sisanya terdiri atas tulang rawan (kartilago) dan jaringan ikat
(connective tissue). Bagian dalam hidung merupakan suatu lubang
yang dipisahkan menjadi lubang kiri dan kanan oleh sekat
(septum). Rongga hidung mengandung rambut (fimbriae) yang
berfungsi sebagai penyaring (filter) kasar terhadap benda asing
yang masuk.
2) Faring

Faring merupakan pipa berotot berbentuk cerobong yang


letaknya bermula dari dasar tengkorak sampai persambungannya
dengan esofagus pada ketinggian tulang rawan (kartilago) krikoid.
Faring digunakan pada saat digestion (menelan) seperti pada saat
bernapas.

11

Faring bisa dibagi menjadi 3 bagian:


Nasofaring
Nasofaring adalah suatu jalan hanya untuk udara, tetapi bagian
sisanya, yaitu faring berfungsi untuk jalan udara dan makanan,
meskipun tidak pada saat yang bersamaan.
Orofaring
Berada dibelakang mulut. Pada dinding lateralnya terdapat tonsila
palatine, juga nodule limfoidei.
Laringofaring
Laringofaring adalah bagian paling bawah faring. Bagian
anteriornya membuka menuju laring dan bagian posteriornya
menuju esophagus. Kontraksi dinding muskuler orofaring dan
laringofaring adalah bagian dalam reflex menelan(C.Scanlon,
Valerie, 2006).
3) Laring

Laring sering disebut dengan kotak suara (voice box) yang


berhubungan dengan faring (di atas) dan trakhea (di bawah).
Laring terletak di anterior tulang belakang (vertebrae) ke-4 dan ke6. Bagian atas dari esofagus berada di posterior laring.
Fungsi utama laring adalah untuk pembentukan suara,
sebagai proteksi jalan napas bawah dari benda asing dan untuk
memfasilitasi proses terjadinya batuk.
b. Sistem Pernapasan Bagian Bawah
Saluran pernapasan bagian bawah terdiri dari :
1) Trachea
Trakhea merupakan perpanjangan laring pada ketinggian
tulang vertebre torakal ke-7 yang bercabang menjadi dua bronkhus.
Ujung cabang trakhea disebut carina. Trakhea bersifat sangat

12

fleksibel, berotot, dan memiliki panjang 12 cm dengan cincin


kartilago berbentuk huruf C.
2) Bronkhus dan Bronkhiolus
Cabang bronkhus kanan lebih pendek, lebih lebar, dan
cenderung lebih vertikal dari pada cabang yang kiri. Hal tersebut
menyebabkan benda asing lebih mudah masuk ke dalam cabang
sebelah kanan dari pada bronkhus sebelah kiri.
Segmen dan subsegmen bronkhus bercabang lagi dan
berbentuk seperti ranting masuk ke setiap paru-paru. Bronkhus
disusun oleh jaringan kartilago sedangkan bronkhiolus, yang
berakhir di alveoli, tidak mengandung kartilago.
Saluran pernapasan mulai dari trakhea sampai bronkhus
terminalis tidak mengalami pertukaran gas dan merupakan area
yang dinamakan (Ruang Rugi Anatomi). Awal dari proses
pertukaran gas terjadi di bronkhiolus respiratorius.
3) Alveoli
Parenkim paru-paru merupakan area yang aktif bekerja dari
jaringan paru-paru. Parenkim tersebut mengandung berjuta-juta
unit alveolus. Alveoli merupakan kantong udara yang berukuran
sangat kecil, dan merupakan akhir dari bronkhiolus respiratorus
sehingga memungkinkan pertukaran O2 dan CO2. Seluruh dari
unit alveoli (zona respirasi) terdiri atas bronkhiolus respiratorius,
duktus alveolus, dan alveolar sacs (kantong alveolus). Fungsi
utama dari unit alveolus adalah pertukaran O2 dan CO2 diantara
kapiler pulmoner dan alveoli.

5. Fisiologi Pernapasan
Paru-paru dan rongga pleura adalah struktur yang elastis.
Dalam keadaan normal terdapat lapisan cairan tipis antara paruparu dan rongga pleura sehingga paru-paru dengan mudah bergeser

13

pada dinding dada. Tekanan pada ruangan antara paru-paru dan


dinding dada berada di bawah tekanan atmosfer. Paru-paru
teregang dan berkembang pada waktu bayi baru lahir. Pada akhir
ekspirasi tenang, cenderung terjadi recoil dinding dada yang
diimbangi oleh kecenderungan dinding dada berkerut kearah yang
berlawanan (Guyton, 2006).
Fungsi utama paru adalah memfasilitasi pengambilan
oksigen oleh darah dan pembuangan karbondioksida (Lauralee
Sherwood 2010).
Inspirasi merupakan proses aktif kontraksi otot-otot.
Inspirasi menaikkan volume intratoraks. Selama bernapas tenang,
tekanan intrapleura kira-kira -2,5 mmHg negatif terhadap atmosfer.
Pada permulaan, inspirasi menurun sampai -6 mmHg dan paruparu ditarik ke posisi yang lebih mengembang dan udara mengalir
ke dalam paru-paru. Pada akhir inspirasi, gaya recoil menarik dada
kembali ke posisi ekspirasi dimana tekanan recoil paru-paru dan
dinding dada seimbang. Pada ekspirasi tekanan dalam jalan
pernapasan menjadi sedikit lebih positif sehingga udara mengalir
ke luar dari paru-paru (Syaifuddin, 2001).
Selama pernapasan tenang, ekspirasi adalah pasif, dalam
arti bahwa tidak ada otot-otot yang berkontraksi untuk rongga
toraks. Insiprasi yang kuat akan mengurangi tekanan intrapleura
sampai -30 mmHg sehingga menimbulkan pengembangan paruparu dengan derajat yang lebih besar (Syaifuddin, 2001).
Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada
selisih tekanan yang terdapat antara atmosfir dan alveolus akibat
kerja mekanik otot-otot. Selama inspirasi, volume toraks
bertambah besar karena diafragma turun dan iga terangkat akibat
kontraksi beberapa otot yaitu sternokleidomastoideus mengangkat
sternum ke atas dan otot seratus, skalenus dan interkostalis
eksternus mengangkat iga-iga (Price,1994).

14

Proses pernapasan dibagi tiga peristiwa, yaitu : (Guyton


dan Hall, 2008).
a. Ventilasi pulmonal yaitu masuk keluarnya udara dari atmosfer
ke bagian alveoli paru.
b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler
yang menyelimuti alveoli.
c. Transpor oksigen dan karbondioksida di darah ke sel/jaringan
seluruh tubuh.

6. Uji Faal Paru


Uji faal paru bertujuan untuk mengetahui apakah fungsi paru
seseorang individu dalam keadaan normal atau abnormal. Pemeriksaan
faal paru biasanya dikerjakan berdasarkan indikasi atau keperluan
tertentu, misalnya untuk menegakkan diagnosis penyakit paru tertentu,
evaluasi pengobatan asma, evaluasi rehabilitasi penyakit paru, evaluasi
fungsi paru bagi seseorang yang akan mengalami pembedahan toraks
atau abdomen bagian atas, penderita penyakit paru obstruktif menahun,
akan mengalami anestasi umum sedangkan yang bersangkutan
menderita penyakit paru atau jantung dan keperluan lainnya.
Untuk keperluan praktis dan uji skrining, biasanya penilaian
faal paru seseorang cukup dengan melakukan uji fungsi ventilasi paru.
Apabila fungsi ventilasi nilainya baik, dapat mewakili keseluruhan
fungsi paru dan biasanya fungsi-fungsi paru lainnya juga baik.
Penilaian fungsi ventilasi berkaitan erat dengan penilaian mekanika
pernapasan. Untuk menilai fungsi ventilasi digunakan spirometer
untuk mencatat grafik pernapasan berdasarkan jumlah dan kecepatan
udara yang keluar atau masuk ke dalam spirometer (Alsagaff, 2005).

7. Spirometri
Spirometri merupakan suatu metode sederhana yang dapat
mengukur sebagian besar volume dan kapasitas paru-paru. Spirometri

15

merekam secara grafis atau digital volume ekspirasi paksa dan


kapasitas vital paksa. Volume Ekspirasi Paksa (VEP) atau Forced
Expiratory

Volume

(FEV)

adalah

volume

dari

udara

yang

dihembuskan dari paru-paru setelah inspirasi maksimum dengan usaha


paksa minimum, diukur pada jangka waktu tertentu. Biasanya diukur
dalam 1 detik (VEP1). Kapasitas Vital paksa atau Forced Vital
Capacity (FVC) adalah volume total dari udara yg dihembuskan dari
paru-paru setelah inspirasi maksimum yang diikuti oleh ekspirasi
paksa maksimal. Pemeriksaan dengan spirometer ini penting untuk
pengkajian fungsi ventilasi paru secara lebih mendalam. Jenis
gangguan fungsi paru dapat digolongkan menjadi dua yaitu gangguan
fungsi paru obstruktif (hambatan aliran udara) dan restriktif (hambatan
pengembangan paru). Seseorang dianggap mempunyai gangguan
fungsi paru obstruktif bila nilai VEP1/KVP kurang dari 70% dan
menderita gangguan fungsi paru restriktif bila nilai kapasitas vital
kurang dari 80% dibanding dengan nilai standar (Dorland, 2010).
a. Ada beberapa jenis spirometer:
1) Spirometer Konvensional, Bentuk spirometer itu sendiri
terdiri dari sebuah drum yang dibalikkan di atas suatu bak air, drum
tersebut diimbangi oleh suatu beban, di dalam drum, terdapat
campuran gas untuk bernapas, biasanya udara atau oksigen. Selain itu,
juga terdapat sebuah pipa yang menghubungkan mulut dengan kolom
gas. Jadi apabila seseorang bernapas dari luar dan ke dalam kolom ini
drum akan naik dan turun dan rekaman dibuat di atas kertas yang
bergerak.

16

Gambar 1 : Spirometri Konvensional


2) Spirometer genggam sederhana menghasilkan pembacaan
FEVI dan FVC, yang perlu dibandingkan dengan nilai prediksi
normal. Spirometer menghasilkan tampilan visual print-out dari
volume udara yang dihembuskan dari waktu ke waktu, kurva volumewaktu, sehingga pemeriksa dapat melihat seberapa baik pasien telah
melakukan manuver.
Jika spirometer memiliki fasilitas memori, dapat menyimpan
hasil pemeriksaan pasien.

Gambar 2: Spirometri Genggam


3) Spirometri elektronik banyak menampilkan kurva aliran dan
langsung terhubung dengan komputer. Kebanyakan spirometri
elektronik menghitung presentase dari nilai prediksi normal karena

17

memiliki data referensi yang sudah diprogram. Pemeriksa harus


memasukkan rincian jenis kelamin pasien, ras, usia dan tinggi badan.

Gambar 3: Spirometri Elektronik


3. Cara Menggunakan Spirometer
a) Siapkan alat spirometer, dan kalibrasi harus dilakukan sebelum
pemeriksaan.
b) Pasien harus dalam keadaan sehat, tidak ada flu atau infeksi saluran
napas bagian atas dan hati-hati pada penderita asma karena dapat
memicu serangan asma.
c) Pasien harus menghindari memakai pakaian yang ketat dan makan
makanan berat dalam waktu 2 jam.
d) Pasien juga tidak boleh merokok dalam waktu 1 jam.
e) Masukkan data yang diperlukan , yaitu umur, jenis kelamin, tinggi
badan, berat badan, dan ras untuk megetahui nilai prediksi.
f) Beri pentunjuk dan demonstrasikan maneuver pada pasien, yaitu
pernafasan melalui mulut, tanpa ada udara lewat hidung dan celah
bibir yang mengatup mouth piece.
g) Pasien dalam posisi duduk atau berdiri, lakukan pernapasan biasa
tiga kali berturut-turut, dan langsung menghisap sekuat dan
sebanyak mungkin udara ke dalam paru-paru, dan kemudian

18

dengan cepat dan sekuat-kuatnya dihembuskan udara melalui


mouth piece.

8. Volume Statik Dan Volume Dinamik


Parameter yang digunakan untuk menentukkan fungsi paru
terdiri dari dua, yaitu volume statik dan volume dinamik (PDPI.2006)
Dibawah ini adalah jenis-jenis volume statik dan volume dinamik
yang dapat diukur dengan menggunakan spirometri kecuali Volume
Residu, Kapasitas Total paru dan Kapasitas Residu Fungsional:
a) Parameter Statis
1. Volume tidal (VT) adalah volume udara yang masuk dan keluar
paru selama ventilasi normal biasa. Volume tidal pada orang
dewasa muda sehat berkisar 500 ml untuk laki-laki dan 380 ml
untuk perempuan.
2. Volume cadangan inspirasi (VCI) adalah volume udara ekstra
yang masuk ke paru dengan inspirasi maksimum di atas
inspirasi tidal, berkisar 3000 ml.
3. Volume cadangan ekspirasi (VCE) adalah volume ekstra udara
yang dapat dikeluarkan pada akhir ekspirasi tidal normal,
biasanya berkisar 1.200 ml pada laki-laki dan 800 ml pada
wanita.
4. Vital Capacity (VC) adalah jumlah udara (dalam liter) yang
keluar dari paru sewaktu pernapasan yang normal. Responden
diinstruksi untuk menginhalasi dan mengekspirasi secara
normal untuk mendapat ekspirasi yang maksimal. sejumlah
udara masih tersisa didalam paru setelah ekspirasi maksimal.
Volume ini disebut residual volume (RV) tidak bias
dikeluarkan lagi dengan usaha apapun. (Guyton, 2008)
b) Parameter Dinamis
a. Forced vital capacity (FVC). Setelah inspirasi maksimal,

19

responden disuruh mengekspirasi maksimal, kuat dan cepat.


Jadi FVC adalah volume udara yang melalui spirometri setelah
inpirasi maksimum. (Ganong, 2009)
b. Forced expiratory volume (FEV-1) Yaitu, volume udara yang
keluar ke dalam spirometri dalam 1 detik pertama.
c. Maximal voluntary ventilation (MVV). Responden akan
bernapas sedalam dan secepat mungkin selama 15 detik. Rerata
volume udara (dalam liter) menunjukkan kekuatan otot
respiratori. (Guyton, 2008).
Semua nilai normal pengukuran yang dilakukan melalui
spirometri sangat tergantung pada umur, jenis kelamin, berat
badan, tinggi dan ras. (Braunwald, 2011)

9. Gangguan Fungsi Paru


Gangguan yang dialami paru-paru oleh berbagai sebab, misalnya
virus, bakteri, debu maupun partikel lainnya. Gangguan ventilasi ada
dua macam yaitu gangguan ventilasi obstruktif dan gangguan ventilasi
restriktif (Guyton dan Hall, 2008). Adapun gangguan fungsi paru ada
tiga yaitu :
a. Gangguan obstruktif paru
Yaitu hambatan aliran udara karena adanya sumbatan atau
penyempitan

saluran

nafas.

Kelainan

obstruktif

akan

mempengaruhi kemampuan ekspirasi yang ditandai dengan


penurunan pada FEV1, vital capacity. Gangguan paru yang
menyebabkan terjadinya obstruktif (Yunus, 2011):
1) Asma bronkiale

suatu gangguan dengan ciri meningkatnya respon trakea dan


bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi
adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat
berubah-ubah

baik

secara

spontan

maupun

hasil

dari

20

pengobatan. (The American Thoracic Society 2010)


2) Bronkhitis kronik

merupakan gangguan paru yang ditandai oleh pembentukan


mukus

yang

berlebihan

(sputum

dapat

mukoid

atau

mukopurulen) dalam bronkus dan bermanifestasi sebagai batuk


kronik dan pembentukan sputum selama tiga bulan dalam
setahun, sekurang-kurangnya selama dua tahun berturut-turut.
(The American Thoracic Society 2010)
3) Emfisema paru-paru

merupakan suatu perubahan anatomis parenkim paru-paru


yang ditandai dengan pembersaran alveolus dan duktus
alveolaris serta destruksi dinding alveolar.(The American
Thoracic Society 2010)
4) Bronkiektasis

gangguan saluran napas ditandai dengan dilatasi abnormal


yang permanen disertai rusaknya dinding bronkus. Biasanya
pada daerah tersebut ditemukan perubahan yang bervariasi
termasuk di dalamnya inflamasi transmural, edema mukosa,
ulserasi dengan neovaskularisasi dan timbul obstruksi berulang
karena infeksi sehingga terjadi perubahan arsitektur dinding
bronkus serta fungsinya, Keadaan yang sering terjadinya
bronkiektasis adalah infeksi, kegagalan drainase sekret,
obstruksi saluran napas dan gangguan mekanisme pertahanan
individu.(The American Thoracic Society 2010)
b. Gangguan Restriktif Paru
kerusakan pada parenkim paru dapat menyebabkan
kekakuan paru sehingga membatasi pengembangan paru-paru.
Gangguan restriktif mempengaruhi kemampuan inspirasi yang
ditandai dengan penurunan pada vital capacity.

21

gangguan paru yang menyebabkan terjadinya restriktif.


(Yunus, 2011):
a. Penyakit paru primer di parenkim paru
b. Operasi pengangkatan jaringan paru
c. Penyakit yang ada di pleura dan dinding dada

Tidak dapat menarik napas (unable to get air in)


-

FVC rendah : FEV1/FVC normal atau meningkat

TLC berkurang sbagai gold standart


FEV1 dan FVC menurun, karena jalan napas tetap terbuka,

ekspirasi bisa cepat dan selesai dalam waktu 2-3 detik. Rasio FEV1/FVC
tetap normal atau malah meningkat, tetapi volume udara yang terhirup dan
terhembus lebih kecil dibandingkan normal.

c. Gangguan Mixed / Combination


Gabungan antara obstruksi dan restriktif (Lungfunction, 2009).

22

B. Kerangka Teori
- Tinggi Badan

Individu

- Berat Badan
Fungsi Sistem
pernapasan

Atas

- Usia

Bawah

Nasal
Pharyn
x
larynx

Trakea
Bronkus

Paru

Bronkiolus
Alveolus
Pleura

SPIROMETER

Volume Tidal
Volume Cadangan ispirasi
Volume Cadangan ekspirasi
Vital Capacity
Forced Vital Capacity
Max Voluntary Ventilation
Forced Ekspiratory Volume

Campuran
Normal

Obstruksi

Restriktif

FEV

Vital

FEV1

Vital Capacity

Capacity

Vital Capacity

(Mix-Obstruktif
& Restriktif

23

C. Kerangka Konsep

Nilai fungsi paru


mahasiswa Program
Studi Kedokteran dan
Kesehatan Universitas
MuhammadiyahJakart
a angkatan 2013

Nilai fungsi paru


mahasiswa Program
Studi Kedokteran dan
Kesehatan Universitas
Muhammadiyah
Jakarta angkatan 2014

Nilai fungsi paru normal


menurut PPI

24

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan
desain penelitian cross sectional. Penelitian ini menggunakan desain cross
sectional karena variabel dependen dan variabel independen diobservasi
pada saat yang bersamaan dengan cara mengambil data langsung terhadap
subjek penelitian. Metode pengambilan sampel yang dipakai adalah Total
Sampling.
B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta yang berlokasi di JL. KH.
Ahmad Dahlan Cireundeu-Ciputat Jakarta, Tanggerang Selatan (Kampus
A) dan Cempaka Putih, Jakarta Pusat (Kampus B) selama kurun waktu +2
bulan yang diambil padabulan September-November 2014.
C. Variabel dan Definisi Operasional Variabel
1. Variabel
- Variabel bebas

: Pneumobile Project Indonesia 1992

- Variabel terikat

: Nilai fungsi paru mahasiswa baru 2014

25

2. Definisi Operasional Variabel


1.

Variabel 1

Nilai Fungsi Paru Normal menurut PPI 1992

Definisi operasional

Nilai normal fungsi paru menurut PPI tahun 1992


berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan
dari sampel yang di teliti.

Alat ukur

Spirometer elektronik

Cara ukur

Pengukuran (lihat sub bab II)

Hasil ukur

: nilai FVC 70%

1. NORMAL
dan nilai FEV1 80%
2. TIDAK NORMAL

a. OBSTRUCTIVE

: FEV1 < 80%

b. RESTRICTIVE

: FVC < 70%

c. COMBINATION

: FVC < 70% dan


FEV1 < 80%

2.

Skala ukur

Nominal

Variabel 2 (Independent)

Usia

Definisi operasional

Lama waktu hidup mahasiswa sejak dilahirkan,


dihitung dalam tahun terakhir siswa berulang
tahun

Alat ukur

Kuisioner

Cara ukur

Angket

Hasil ukur

1. Remaja Awal ( 11-15 tahun)


2. Remaja Menengah (16-18 tahun)
3. Remaja Akhir ( 19-21 tahun)

3.

Skala ukur

Ordinal

Variabel 3 (independent)

Jenis Kelamin

Definisi Oprasional

Pembagian jenis seksual yang ditentukan secara


biologis dan anatomis yang dinyatakan dalam
jenis

kelamin

perempuan

laki-laki

dan jenis

kelamin

26

Alat Ukur

Kuisioner

Cara Ukur

Angket

Hasil

1. Laki-Laki
2. Perempuan

Variabel 4 (independent)

Tinggi Badan

Definisi Oprasional

Suatu indeks pengukuran yang menggunakan alat


antropometri

yang

dapat

mengukur

seorang dalam sentimeter


Cara Ukur

Kuisioner

Hasil Ukur

1. Tinggi > Mean


2. Kurang Tinggi < Mean

D. Populasi dan Sampel Penelitian


1.

Populasi Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh mahasiswa baru
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta angkatan 2014.

2. Sampel Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh mahasiswa baru
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta angkatan 2014.
yang memenuhi kriteria inklusi dari penelitian.
d. Kriteria Inklusi
1) Mahasiswa

baru

yang

terdaftar

Program

Studi

Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan


Universitas Muhammadiyah Jakarta angkatan 2014.
2) Mahasiswa datang dan melakukan pemeriksaan
3) Bersedia menjadi subjek penelitian.
e. Kriteria Eksklusi

tinggi

27

1) Mahasiswa

yang

tidak

datang

saat

dilakukan

pemeriksaan
2) Sampel dalam penelitian ini adalah Mahasiswa yang
secara nyata melaksanakan tugas sehari-hari di fakultas
kedokteran universitas muhammadiyah Jakarta.
3) Mengidap gangguan pernapasan.
Sampel dihitung dengan menggunakan rumus Total
Sampling(Lemeshow, 1997):
Z21 /2 P (1-P) N
n=-----------------------------------------d2 (N-1) + Z2 1/2 P (1-P)

= Besar sampel minimum

Z1-/2 = Nilai distribusi normal baku pada tertentu


p

Proporsi

di

populasi

(karena

tidak

ada,

maka

menggunakan 0,5)
1p

= 1 0,5 = 0,5

= Limit dari error atau presisi absolut

= total populasi

Hasil Perhitungan Besar Sampel Penelitian Berdasarkan rumus


tersebut di atas, maka besar sampel yang digunakan dalam
penelitian ini dapat dihitung sebagai berikut:
1,962.0,5.0,5.99
n =---------------------------0,052(99-1) + 1,962.0,5.0,5

28

95,08
= -------------1,2054

= 78,87 / 79 sampel minimal


Proporsi penelitian nilai fungsi paru tidak di ketahui, sehingga
penulis menggunakan 50% sebagai asumsi bahwa perbandingan nilai
fungsi paru normal dengan yang tidak adalah 50-50. = 0,05 maka
Z21-/2 = 1,96.

E. Teknik Pengambilan Sampel


Berdasarkan perhitungan, sampel minimal yang didapat
adalah 79 orang. Teknik pengambilan sampel adalah total
sampling. Total Sampling adalah teknik pengambilan pada suatu
komunitas atau populasi yang berada pada suatu kelompok
tertentu.Tahap-tahap pengambilan sampel yang dilakukan oleh
peneliti adalah sebagai berikut:
1.

meminta data seluruh mahasiswa baru Program Studi


Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah jakarta angkatan 2014.

2.

Jumlah mahasiswa di data untuk mendapatkan jumlah


populasi. Menilai hasil pengukuran fungsi paru dengan
menggunakan alat spirometri yang kemudian di konversi
melalui penilaian berdasarkan usia, jenis kelamin, tinggi
badan setiap individu untuk di dapatkan nilai fungsi paru
normal berdasarkan PPI 1992.

F. Pengukuran dan pengamatan variabel penelitian


Proses pengukuran dengan menggunakan spirometer
elektronik. Langkah penggunaan sebagai berikut :

29

1.

Alat dan Bahan

a. Alat
1) Spirometer
2) Penjepit hidung
3) Printer
4) Daya listrik
5) Timbangan badan untuk mengukur berat badan (BB)
6) Meteran gulung (microtoise) untuk mengukur tinggi
badan (TB)
b. Bahan
1) Kertas struk printer
2) Mouthpase
2. Cara Kerja
a. Mengecek kelengkapan alat
b. Merangkai alat dengan kelengkapan
c. Memasang transduser/saringan
d. Menghidupkan power dengan menekan TOMBOL ON
e. Tekan tombol ID : KETIK Nomer urut. Tekan tombol :
ENTRY
f. Tekan tanda/tombol : JENIS KELAMIN / Sex : Male or
Female. Tekan tombol : ENTRY
g. Ketik : Umur. Tekan tombol : ENTRY
h. Ketik : tinggi badan (TB=cm). Tekan tombol : ENTRY
i. Ketik : Berat Badan (BB=Kg)
j. Hidung di tutup dengan penutup hidung (penjepit) supaya
udara hanya keluar masuk melalui mulut.
k. Sebelum di mulai pengukuran, responden berlatihan
bernapas melalui mulut terlebih dahulu.
l. Dihidupkan VC, bernapas tenang beberapa kali sampai ada
perintah

pada

layar

untuk

menghembuskan

sekuat

mungkin, ekspirasi sekuat-kuatnya, kemudian dilanjutkan

30

inspirasi sedalam-dalamnya, pemeriksaan dilakukan tiga


kali diambil nilai tertinggi.
m. Dihidupkan

FVC,

inspirasi

sedalam-dalamnya,

dan

kemudian dilanjutkan ekspirasi sehabis-habisnya dengan


cepat dan kuat dilakukan tiga kali diambil nilai tertinggi.
n. Tekan tombol stop
o. Muncul gambar grafik
p. Printer dihidupkan (ON)
q. Tekan tombol PRINT
r. Untuk mengeluarkan kertas tekan tombol : FEED
s. Mematikan alat dengan menekan tombol OFF
G. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data
primer yaitu dengan mengukur secara langsung nilai fungsi
paru dari sampel.
Langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut :
1. Lakukan inform consent pada sampel
2. Masukan data sampel (Nama, Usia, TB, BB, Jenis Kelamin)
3. Lakukan pengukuran fungsi paru dengan menggunakan
spirometer elektronik yang sebelumnya telah di kalibrasi.

31

H. Alur Penelitian
Jumlah populasi pada
suatu komunitas
mahasiswa baru Program
Studi Kedokteran
Universitas
Muhammadiyah Jakarta
2014.

Subjek
penelitian

Pemeriksaan
spirometer &
Pengumpulan data

Data spirometer
2014

Pengolahan data
melalui SPSS

I. Analisis Data
Tahap-tahapan analisis data yang dilakukan oleh peneliti
adalah sebagai berikut:
1. Editing, yaitu peneliti memeriksa kelengkapan data serta
kejelasannya sebelum diolah.
2. Codding, yaitu pemberian kode setiap variabel data yang
dikumpulkan agar dapat memudahkan proses pengolahan
data.

32

3. Entry, yaitu proses memasukkan data kedalam SPSS secara


single entry.
4. Cleaning, dilakukan pada data yang telah dimasukkan untuk
kemudian di periksa ulang sehingga memastikan bahwa data
yang telah di Entry telah bebas dari kesalahan baik dalam
proses pengkodean ataupun kesalahan dalam membaca kode.

J. Analisis Data
Data yang di kumpulkan akan dilakukan analisis melalui sistem
computerize untuk dinilai secara statistik melalui SPSS 2011
for Mac untuk didapatkan perbandingan nilai spirometri
mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta
2014 dengan Pneumobile Project Indonesia 1992.
1.

Analisis Univariat
Dilakukan kepada setiap variabel yang menghasilkan
distribusi dan presentasi pada Mahasiswa Baru Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta 2014.

2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menilai perbandingan
antara dua variabel, yaitu variabel Perbandingan Nilai Fungsi
Paru Mahasiswa Baru Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas

Kedokteran

Dan

Kesehatan

Universitas

Muhammadiyah Jakarta 2014 dengan Pneumobile Project


Indonesia 1992.

33

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Jakarta khusus pada mahasiswa Program Studi Pendidikan
Dokter. Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Jakarta ini memiliki dua lokasi yakni Kampus A di jalan KH. Ahmad
Dahlan, Cireunde-Ciputat, Tanggerang Selatan dan Kampus B di jalan
Cempaka Putuh Tengah 1 No. 1. Jakarta Pusat (Belakang RSI Cempaka
Putih). Penerimaan mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta
dimulai awal tahun sampai pertengahan tahun.

1.

Analisis Univariat
Sampel yang diperoleh selama periode September-November 2014
sebanyak 100 orang. Semua data yang diperoleh merupakan data primer.
Sampel kemudian diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi
sehingga tersisa 99 orang.
Tabel 4.1 Distribusi Nilai Fungsi Paru Mahasiswa Baru Angkatan 2014
Berdasarkan Jenis Kelamin
Nilai Fungsi Paru
Normal

Jenis

Tidak Normal

Total

Laki-Laki

26

86,7

13,3

30

100

Perempuan

37

53,6

32

46,4

69

100

Total

63

63,6

36

36,7

99

100

Kelamin

34

Dari 30 sampel laki-laki, nilai fungsi paru normal sebanyak 26


orang (86,7%) dan nilai fungsi paru tidak normal sebanyak 4 Orang
(13,3%). Sedangkan nilai fungsi paru normal pada perempuan sebanyak 37
Orang (53,6%), dan nilai fungsi paru tidak normal pada perempuan
sebanyak 32 orang (46,4%). Dari 99 orang sampel, nilai fungsi paru
normal pada penelitian ini sabanyak dengan jenis kelamin laki-laki dan
perempuan 63 orang (63,6%) dan nilai fungsi paru tidak normal dengan
jenis laki-laki dan perempuan sebanyak 36 Orang (36,7%).

Tabel 4.2 Distribusi Nilai Fungsi Paru Mahasiswa Baru


Berdasarkan Usia Angkatan 2014
Usia

Frekuensi

Persentase

Remaja Awal (11-15 tahun)

Remaja Menengah (16-18 tahun)

79

79,8%

Remaja Akhir (19-21 tahun)

20

19,2%

Total

99

100%

Dari Tabel 4.2, usia remaja menengah responden lebih banyak


sebesar (79,7%) dari pada remaja akhir sebesar (19,3%)
Tabel 4.3 Distribusi Kategori Nilai Fungsi Paru Mahasiswa Baru
Angkatan 2014
Kategori Nilai Fungsi Paru

Frekuensi

Presentase

Normal

63

63,6

Restriktif

Obstruktif

22

22,2

Kombinasi

14

14,2

Jumlah

99

100

35

Hasil analisis dari 100 sampel pada pemeriksaan nilai fungsi paru
didapatkan banyaknya sampel yang tergolong normal sesuai dengan
standar Pneumobile Project Indonesia 1992 adalah 63 orang (63,6%)
sampel, restriktif 0 orang (0%) sampel, Obstruktif

22 orang (22,2%)

sampel dan Kombinasi 14 Orang (14,2%).


Tabel 4.4 Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin Mahasiswa
Baru Angkatan 2014
Jenis

Frekuensi

Presentase

Laki-Laki

30

30,3%

Perempuan

69

69,7%

Total

99

100%

Kelamin

Data Primer

Sampel pada penelitian ini adalah mahasiswa baru Program Studi


Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Uiversitas
Muhammadiyah Jakarta Angkatan 2014 yang terdiri 30 Orang (30,3%)
sampel laki-laki dan 69 orang (69,7%) sampel perempuan.

Tabel 4.5 Distribusi Nilai Fungsi Paru Berdasarkan Tinggi Badan


Mahasiswa Baru Angkatan 2014
Tinggi Badan

Frekuensi

Persentase

Tinggi > Mean

38

38,4%

Tinggi < Mean

61

61,6

Total

99

100%

Dari tabel 4.5, tinggi badan > Mean responden sebesar 38 (38,4%)
dan tinggi badan < Mean responden sebesar 61 (61,6%).

36

2. Analisis Bivariat
Dilakukan uji statistik untuk menentukan perbandingan nilai fungsi
paru pada mahasiswabaru Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran dan Kesehatan Uiversitas Muhammadiyah Jakarta Angkatan
2014 dengan Pneumobile Project Indonesia 1992.
Dengan uji t di dapatkan hasil perbandingan dengan penelitian
sebelumnya yang dilakukan pada mahasiswa baru 2013 distribusi
berdasarkan jenis kelamin dan kategori nilai normal fungsi paru.

Tabel 4.6, Perbandingan Distribusi sampel menurut jenis kelamin 2014 dan
2013
Jenis

Frekuensi

Kelamin

2013

Presentase

Frekuensi Presentase

2013

2014

2014

Laki-laki

62

35,6%

30

30,3%

Perempuan

112

64,4%

69

69,7%

Total

174

100%

99

100%

Dari hasil Tabel 4.6, Perbandingan distribusi sampel menurut jenis


kelamin sampel perempuan tahun 2013 lebih banyak dari pada sampel
perempuan tahun 2014 dikarenakan jumlah sampel tahun 2013 memang
lebih banyak dari pada sampel 2014.

37

Tabel 4.7, Perbandingan Nilai Fungsi Paru Mahasiswa Baru Angkatan 2013
dan 2014 Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis

Nilai Fungsi Paru

Nilai Fungsi Paru

Kelamin

Mahasiswa 2013

Mahasiswa 2014

Normal

Tidak

Normal

Normal

Tidak

Total 2013

Total 2014

Normal

Laki-laki

40 (64,5%)

22 (33,5)

26 (86,7%)

4 (13,3%)

62 (35,6%)

30 (30,3%)

Perempuan

57 (50,9%)

55 (49,1)

37 (53,6%)

32 (46,4%)

112 (64,4%)

69 (69,7%)

Total

97 (55,7%)

77 (44,3)

63 (63,6%)

36 (36,7%)

172 (100%)

99 (100%)

Pada tabel 4.7 hasil penelitian yang dilakukan pada mahasiswa


2014, 30 sampel laki-laki, nilai fungsi paru normal sebanyak 26 orang
(86,7%) dan nilai fungsi paru tidak normal sebanyak 4 Orang (13,3%).
Sedangkan nilai fungsi paru normal pada perempuan sebanyak 37 Orang
(53,6%), dan nilai fungsi paru tidak normal pada perempuan sebanyak 32
orang (46,4%). Dari 99 orang sampel, nilai fungsi paru normal pada
penelitian ini sabanyak dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan 63
orang (63,6%) dan nilai fungsi paru tidak normal dengan jenis laki-laki
dan perempuan sebanyak 36 Orang (36,7%).
Tabel 4.8, Perbandingan Distribusi Kategori Nilai Fungsi Paru
Mahasiswa Baru Angkatan 2013 dan 2014
Kategori Nilai
Fungsi Paru

Frekuensi

Presentase

Frekuensi

Presentase

2013

2013

2014

2014

Normal

97

55,7%

63

63,6%

Restriktif

0,66%

0%

Obstruktif

30

17,2%

22

22,2%

Kombinasi

46

26,4%

14

14,2%

Jumlah

172

100%

99

100%

38

Pada tabel 4.8 Hasil analisis dari 99 sampel pada pemeriksaan nilai
fungsi paru pada mahasiswa 2014 didapatkan banyaknya sampel yang
tergolong normal sesuai dengan standar Pneumobile Project Indonesia
1992 adalah 63 orang (63,6%) sampel, restriktif 0 orang (0%) sampel,
Obstruktif 22 orang (22,2%) sampel dan Kombinasi 14 Orang (14,2%).

3. Perbandingan Nilai Fungsi Paru Antara Mahasiswa 2013 Dengan


2014
Perbandingan mahasiswa antara mahasiswa 2013 dan mahasiswa
2014, ditinjau dari normal, restriktif, obstruktif dan kombinasi, dan
perbandingan juga dilihat dari Jenis kelamin mahasiswa dengan nilai
fungsi

paru,

adapun

hipotesis

yang

akan

digunakan

pada

uji

perbandingans, sebagai berikut


1.

H0: Tidak terdapat perbedaan

2.

Ha: Terdapat terdapat pengaruh

Dengan ketentuan :
3.

Jika nilai p-Value > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan

4.

Jika nilai p-Value < 0,05 maka terdapat perbedaan

Table 4.9 Perbandingan Nilai Fungsi Paru Mahasiswa 2013 Dengan 2014
Ditinjau Dari Normal, Restriktif, Obstruktif Dan Kombinasi
KATEGORI

MAHASISWA
2013

PERSENTASE

2014

Normal

96

55.2%

63

63.6%

0,075

Restriktif

0%

0%

Obstruktif

34

19.5%

22

22.2%

0,596

Kombinasi

44

25.3%

14

14.1%

0,583

Total

174

100%

99

100%

39

Berdasarkan Analisis Statistik dengan menggunakan uji t, yaitu


untuk melihat perbandingan nilai fungsi paru antara mahasiswa tahun
2013 dengan 2014 didapat hasil perhitungan sebagai berikut, didapat nilai
p-value sebesar 0,075 untuk kategori normal, angka tersebut > 0,05 maka
H0 diterima, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan, didapat
nilai p-value sebesar 0,596 untuk kategori obstruktif, angka tersebut > 0,05
maka H0 diterima, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan,
dan didapat nilai p-value sebesar 0,583 untuk kategori kombinasi, angka
tersebut > 0,05 maka H0 diterima, yang artinya tidak terdapat perbedaan
yang signifikan, sementara tidak ada mahasiswa yang memiliki fungsi
paru dengan kategori restriktif.

Table 4.10 Perbandingan Nilai Fungsi Paru Mahasiswa 2013 Dengan 2014
Ditinjau Dari Jenis Kelamin Laki Laki Dan Perempuan Dengan Nilai
Fungsi Paru Normal
Jenis Kelamin

Laki - laki
Perempuan
Total

Nilai Fungsi paru


2013
2014
PV
Normal
Normal
39
30
0,005
57
69
0,402
96
99

Total
2013
2014
62
112
174

30
69
99

Berdasarkan Analisis Statistik dengan menggunakan uji t, yaitu


untuk melihat perbandingan antara mahasiswa tahun 2013 dengan 2014
ditinjau dari jenis kelamin laki laki dan perempuan dengan fungsi paru
normal, didapat hasil perhitungan sebagai berikut, didapat nilai p-value
sebesar 0,005 untuk jenis kelamin laki - laki, angka tersebut < 0,05 maka
H0 ditolak, yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan dan didapat
nilai p-value sebesar 0,402 untuk jenis kelamin perempuan, angka tersebut
> 0,05 maka H0 diterima, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang
signifikan.

40

Table 4.11 Perbandingan Nilai Fungsi Paru Mahasiswa 2013 Dengan 2014
Ditinjau Dari Jenis Kelamin Laki Laki Dan Perempuan Dengan Nilai
Fungsi Paru Tidak Normal
Jenis
Kelamin
Laki - laki
Perempuan
Total

Nilai Fungsi paru


2013
2014
Tidak Normal
Tidak Normal
22
4
55
32
77
36

PV
0,095
0,000

Total
2013
2014
62
112
174

30
69
99

Berdasarkan Analisis Statistik dengan menggunakan uji t, yaitu


untuk melihat perbandingan antara mahasiswa tahun 2013 dengan 2014
ditinjau dari jenis kelamin laki laki dan perempuan dengan fungsi paru
tidak normal, didapat hasil perhitungan sebagai berikut, didapat nilai pvalue sebesar 0,095 untuk jenis kelamin laki - laki, angka tersebut > 0,05
maka H0 diterima, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan
dan didapat nilai p-value sebesar 0,000 untuk jenis kelami perempuan,
angka tersebut < 0,05 maka H0 ditolak, yang artinya terdapat perbedaan
yang signifikan.

41

BAB V
PEMBAHASAN

A. Pembahasan dan Interpretasi Hasil Penelitian


Dari hasil penelitian didapatkan jumlah responden yang terdiri 30
Orang (30,3%) sampel laki-laki dan 69 orang (69,7%) sampel perempuan
yang termasuk dalam kriteria. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya
(Nadirah, 2013) bahwa responden perempuan lebih banyak daripada
responden laki-laki.
Dari 69 sampel perempuan, yang masuk dalam kategori nilai
fungsi paru normal sesuai standar Pneumobile Project Indonesian 1992
sebanyak 37 orang sampel dengan presentase sebesar 53,6%, dan yang
tergolong dalam nilai fungsi paru tidak normal (yakni mengalami
obstruktif, restriktif, maupun kombinasi) sesuai standar Pneumobile
Project Indonesia 1992 sebanyak 32 orang sampel dengan presentase
46,6%. sedangkan dari sampel laki-laki di dapatkan 26 orang (86,7%)
termasuk dalam kategori nilai fungsi paru yang masih normal sesuai
standar Pneumobile Project Indonesia 1992, dan 4 (13,3%) sampel sisanya
termasuk dalam kategori nilai fungsi paru yang tidak normal sesuai standar
Pneumobile Project Indonesia 1992.
Berdasarkan kriteria nilai fungsi paru Hasil analisis dari 99 sampel
pada pemeriksaan nilai fungsi paru didapatkan banyaknya sampel yang
tergolong normal sesuai dengan standar Pneumobile Project Indonesia
1992 sebanyak 63 orang (63,6%) sampel, restriktif 0 orang (0%) sampel,
Obstruktif 22 orang (22,2%) sampel dan Kombinasi 14 Orang (14,2%).

42

B. Perbandingan Nilai Fungsi Paru


Berdasarkan Analisis Statistik dengan menggunakan uji t, yaitu
untuk melihat perbandingan nilai fungsi paru antara mahasiswa tahun
2013 dengan 2014 ditinjau dari kategori normal, restriktif, obstruktif, dan
kombinasi didapat hasil perhitungan sebagai berikut, didapat nilai p-value
sebesar 0,075 untuk kategori normal, angka tersebut > 0,05 maka H0
diterima, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan, didapat
nilai p-value sebesar 0,596 untuk kategori obstruktif, angka tersebut > 0,05
maka terima H0, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan,
dan didapat nilai p-value sebesar 0,583 untuk kategori kombinasi, angka
tersebut > 0,05 maka H0 diterima, yang artinya tidak terdapat perbedaan
yang signifikan, sementara tidak ada mahasiswa yang memiliki fungsi
paru dengan kategori restriktif.
Kemudian, perbandingan antara mahasiswa tahun 2013 dengan
2014 ditinjau dari jenis kelamin laki laki dan perempuan dengan fungsi
paru normal, didapat hasil perhitungan sebagai berikut, didapat nilai pvalue sebesar 0,005 untuk jenis kelamin laki - laki, angka tersebut < 0,05
maka H0 ditolak, yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan dan
didapat nilai p-value sebesar 0,402 untuk jenis kelamin perempuan, angka
tersebut > 0,05 maka H0 diterima, yang artinya tidak terdapat perbedaan
yang signifikan.
Serta perbandingan antara mahasiswa tahun 2013 dengan 2014
ditinjau dari jenis kelamin laki laki dan perempuan dengan fungsi paru
tidak normal, didapat hasil perhitungan sebagai berikut, didapat nilai pvalue sebesar 0,095 untuk jenis kelamin laki - laki, angka tersebut > 0,05
maka terima H0, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan dan
didapat nilai p-value sebesar 0,000 untuk jenis kelamin perempuan, angka
tersebut < 0,05 maka H0 ditolak, yang artinya terdapat perbedaan yang
signifikan.

43

C. Keterbatasan Penelitian
Terjadi

perbedaan

hasil

penelitian

ini

dengan

penelitian

sebelumnya mungkin di karenakan jumlah sampel penelitian tidak sama


dengan sampel penelitian sebelumnya karena jumlah mahasiswa angkatan
2014 populasinya tidak sama dengan mahasiswa 2013 kerana penurunan
jumlah penerimaan siswa baru.
Kemudian batas waktu peminjaman alat yang singkat mungkin
menjadi penyebab perbedaan hasil penelitian karena batas waktu yang
singkat ini responden sebagian kecil ada yang kelelahan dikarenakan
pengambilan sampel dilakukan sehabis angkatan 2014 melaksanakan ujian
sehingga mempengaruhi hasil yang didapat.
Pemahaman responden dalam penggunaan alat sebagian kecil
masih belum memahami dengan baik dikarenakan mahasiswa 2014 belum
melewati system respirasi, sehingga peneliti melakukan sosialisasi lebih
mendalam lagi dan diperlukan waktu yang cukup panjang dalam
pengambilan satu sampel.

44

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari uraian-uraian yang di paparkan sebelumnya, maka
dalam penelitian ini dapat diambil kesimpulan yaitu:
1. Sampel penelitian ini terdiri dari 30 orang (30,3%) sampel lakilaki dan 69 Orang (69,7%) sampel perempuan. Dari 30 orang
sampel laki-laki, nilai fungsi paru normal sesuai standar
Pneumobile Project Indonesia 1992 sebanyak 26 orang (86,7%)
sampel dan nilai fungsi paru yang tidak normal sesuai standar
Pneumobile Project Indonesia 1992 sebanyak 4 (13,3%) sampel.
2. Dari 69 Orang sampel perempuan, nilai fungsi paru normal
sesuai standar Pneumobile Project Indonesia 1992 sebanyak 37
orang (53,6%) sampel, dan nilai fungsi paru tidak normal sesuai
standar Pneumobile Project Indonesia 1992 sebanyak 32
(46,4%) sampel.
3. Dari 99 orang sampel dalam penelitian ini, sebanyak 63 Orang
(63,6%) sampel dengan nilai fungsi paru normal sesuai standar
Pneumobile Project Indonesia 1992, dan 36 Orang (36,7%)
sampel dengan nilai fungsi paru tidak normal sesuai standar
Pneumobile Project Indonesia 1992. Dari 99 sampel pada
penelitian ini didapatkan banyaknya sampel yang nilai fungsi
parunya tergolong normal sesuai dengan standar Pneumobile
Project Indonesia 1992 adalah 63 Orang (63,6%) sampel,
Restriktif 0 orang (0%) sampel, Obstruktif 22 orang (22,2%)
sampel

dan

kombinasi

14

orang

(14,2%)

sampel.

45

Kesimpulannya terjadi peningkatan persentase fungsi paru


normal pada mahasiswa 2014 dengan mahasiswa 2013.
4. Dari hasil perbandingan nilai fungsi paru antara mahasiswa
tahun 2013 dengan 2014 ditinjau dari kategori normal,obstruktif
, restriktif, kombinasi dan ditinju dari jenis kelamin dengan nilai
fungsi paru normal dan tidak normal tidak ada perbedaan yang
signifikan.

B. Saran
1. Perlu dilakukan sosialisasi yang lebih dalam kepada mahasiswa
fakultas

kedokteran

universitas

muhammadiyah

Jakarta

mengurangi penggunaan rokok khususnya pada laki-laki dan


menghidari paparan rokok dan polusi yang dapat mengakibatkan
gangguan pada paru.
2. Perlu diadakan penyuluhan akan pentingnya pola hidup sehat
dan menjaga kebugaran dengan melakukan olahraga secara rutin
3. Dengan ditemukannya kasus fungsi paru tidak normal pada
penelitian ini, diharapakan dilakukan penelitian lebih lanjut
dengan sistem yang lebih baik lagi.