Anda di halaman 1dari 11

Suhu

Semua enzim membutuhkan suhu yang cocok agar dapat bekerja dengan biak. Laju
reaksi biokimia meningkat seiring kenaikan suhu. Hal ini karena panas meningkatkan
energi kinetik dari molekul sehingga menyebabkan jumlah tabrakan diantara molekulmolekul meningkat.
Sedangkan dalam kondisi suhu rendah, reaksi menjadi lambat karena hanya terdapat
sedikit kontak antara substrat dan enzim.
Namun, suhu yang ekstrim juga tidak baik untuk enzim. Di bawah pengaruh suhu
yang sangat tinggi, molekul enzim cenderung terdistorsi, sehingga laju reaksi pun jadi
menurun. Enzim yang terdenaturasi gagal melaksanakan fungsi normalnya. Dalam
tubuh manusia, suhu optimum di mana kebanyakan enzim menjadi sangat aktif berada
pada kisaran 35C sampai 40C. Ada juga beberapa enzim yang dapat bekerja lebih
baik pada suhu yang lebih rendah daripada ini.

Nilai pH
Efisiensi suatu enzim sangat dipengaruhi oleh nilai pH atau derajat keasaman
sekitarnya. Ini karena muatan komponen asam amino enzim berubah bersama dengan
perubahan nilai pH. Secara umum, kebanyakan enzim tetap stabil dan bekerja baik
pada kisaran pH 6 dan 8. Tapi, ada beberapa enzim tertentu yang bekerja dengan baik
hanya di lingkungan asam atau basa.
Nilai pH yang menguntungkan bagi enzim tertentu sebenarnya tergantung pada sistem
biologis tempat enzim tersebut bekerja. Ketika nilai pH menjadi terlalu tinggi atau
terlalu rendah, maka struktur dasar enzim dapat mengalami perubahan. Sehingga sisi
aktif enzim tidak dapat mengikat substrat dengan benar, sehingga aktivitas enzim
menjadi sangat terpengaruhi. Bahkan enzim dapat sampai benar-benar berhenti
berfungsi.

Konsentrasi Substrat
Jelas saja konsentrasi substrat yang lebih tinggi berarti lebih banyak jumlah molekul
substrat yang terlibat dengan aktivitas enzim. Sedangkan konsentrasi substrat yang
rendah berarti lebih sedikit jumlah molekul substrat yang dapat melekat pada enzim,
menyebabkan berkurangnya aktivitas enzim.
Tapi ketika laju enzimatik sudah mencapai maksimum dan enzim sudah dalam
kondisi paling aktif, peningkatan konsentrasi substrat tidak akan memberikan
perbedaan dalam aktivitas enzim. Dalam kondisi seperti ini, di sisi aktif semua enzim
terus terdapat substrat, sehingga tidak ada tempat untuk substrat ekstra.

Konsentrasi Enzim
Semakin besar konsentrasi enzim maka kecepatan reaksi akan semakin cepat pula.
Konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi, tentunya selama masih
ada substrat yang perlu diubah menjadi produk.

Aktivator & Inhibitor


Aktivator merupakan molekul yang membantu enzim agar mudah berikatan dengan
substrat.
Inhibitor adalah substansi yang memiliki kecenderungan untuk menghambat aktivitas
enzim. Inhibitor enzim memiliki dua cara berbeda mengganggu fungsi enzim.
Berdasarkan caranya, inhibitor dibagi menjadi 2 kategori: inhibitor kompetitif dan
inhibitor non-kompetitif.
Inhibitor kompetitif memiliki struktur yang sama dengan molekul substrat, inhibitor
ini melekat pada sisi aktif enzim sehingga menghalangi pembentukan ikatan
kompleks enzim-substrat.
Inhibitor non-kompetitif dapat melekat pada sisi enzim yang bukan merupakan sisi
aktif, dan membentuk kompleks enzim-inhibitor. Inhibitor ini mengubah
bentuk/struktur enzim, sehingga sisi aktif enzim menjadi tidak berfungsi dan substrat
tidak dapat berikatan dengan enzim tersebut.

KLASIFIKASI ENZIM
Penggolongan (Klasifikasi) enzim
1. Hidrolase
Hidrolase merupakan enzim-enzim yang menguraikan suatu zat dengan
pertolongan

air.

Hidrolase

dibagi

atas

kelompok

kecil

berdasarkan

substratnya yaitu :

A. Karbohidrase,
enzim-enzim yang menguraikan golongan karbohidrat.
Kelompok ini masih dipecah lagi menurut karbohidrat yang diuraikannya,

misal :

Amilase, yaitu enzim yang menguraikan amilum (suatu polisakarida)

menjadi maltosa 9 suatu disakarida).


2 (C6H10O5)n + n H2O n C12H22O11
Maltase, yaitu enzim yang menguraikan maltosa menjadi glukosa
C12H22O11 + H20 2 C6H12O6

Sukrase, yaitu enzim yang mengubah sukrosa (gula tebu) menjadi

glukosa dan fruktosa.

Laktase, yaitu enzim yang mengubah laktase menjadi glukosa dan


galaktosa.

menjadi selobiosa ( suatu disakarida)


Pektinase, yaitu enzim yang menguraikan pektin menjadi asam-pektin.

Selulase, emzim yang menguraikan selulosa ( suatu polisakarida)

B. Esterase
Enzim-Enzim yang memecah golongan ester.
Contoh-contohnya :
Lipase, yaitu enzim yang menguraikan lemak menjadi gliserol dan asam

lemak.

Fosfatase, yaitu enzim yang menguraikan suatu ester hingga terlepas


asam fosfat.

C. Proteinase atau Protease


Enzim-Enzim yang menguraikan golongan protein.
Contoh-contohnya:
Peptidase, yaitu enzim yang menguraikan peptida menjadi asam amino.
Gelatinase, yaitu enzim yang menguraikan gelatin.
Renin, yaitu enzim yang menguraikan kasein dari susu.

2. Oksidase dan reduktase


enzime yang menolong dalam proses oksidasi dan reduksi.
Enzim Oksidase dibagi lagi menjadi;
Dehidrogenase : enzim ini memegang peranan penting dalam mengubah

zat-zat organik menjadi hasil-hasil oksidasi.


Katalase : enzim yang menguraikan hidrogen peroksida menjadi air dan
oksigen.

3. Desmolase
Enzim-Enzim yang memutuskan ikatan-ikatan C-C, C-N dan beberapa ikatan

lainnya.
Enzim Desmolase dibagi lagi menjadi :

Karboksilase : yaitu enzim yang mengubah asam piruyat menjadi

asetaldehida.

Transaminase : yaitu enzim yang memindahkan gugusan amine dari


suatu asam amino ke suatu asam organik sehingga yang terakhir ini berubah
menjadi suatu asam amino.

Enzim juga dapat dibedakan menjadi eksoenzim dan endoenzim berdasarkan


tempat kerjanya, ditinjau dari sel yang membentuknya.Eksoenzim ialah enzim
yang aktivitasnya diluar sel. Endoenzim ialah enzim yang aktivitasnya didalam
sel.

Selain eksoenzim dan endoenzim, dikenal juga enzim konstitutif dan enzim
induktif. Enzim konstitutif ialah enzim yang dibentuk terus-menerus oleh sel
tanpa peduli apakah substratnya ada atau tidak. Enzim induktif (enzim
adaptif) ialah enzim yang dibentuk karena adanya rangsangan substrat atau
senyawa tertentu yang lain. Misalnya pembentukan enzim beta-galaktosida
pada escherichia coli yang diinduksi oleh laktosa sebagai substratnya. Tetapi
ada senyawa lain juga yang dapat menginduksi enzim tersebut walaupun
tidak merupakan substarnya, yaitu melibiosa. Tanpa adanya laktosa atau
melibiosa, maka enzim beta-galaktosidasa tidak disintesis, tetapi sintesisnya

akan dimulai bila ditambahkan laktosa atau melibiosa.


Sifat-sifat Enzim
Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi, artinya enzim tidak mengubah
produk akhir yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi, hanya

meningkatkan laju suatu reaksi.

Enzim bekerja secara spesifik, artinya enzim hanya mempengaruhi

substrat tertentu saja.


Enzim merupakan protein. Oleh karena itu, enzim memiliki sifat seperti
protein. Antara lain bekerja pada suhu optimum, umumnya pada suhu kamar.
Enzim akan kehilangan aktivitasnya karena pH yang terlalu asam atau basa
kuat, dan pelarut organik. Selain itu, panas yang terlalu tinggi akan membuat

enzim terdenaturasi sehingga tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya.


Enzim diperlukan dalam jumlah sedikit. Sesuai dengan fungsinya sebagai

katalisator, enzim diperlukan dalam jumlah yang sedikit.


Enzim bekerja secara bolak-balik. Reaksi-reaksi yang dikendalikan enzim
dapat berbalik, artinya enzim tidak menentukan arah reaksi tetapi hanya
mempercepat laju reaksi sehingga tercapai keseimbangan. Enzim dapat
menguraikan
sebaliknya,

suatu

senyawa

menyusun

menjadi

senyawa-senyawa

senyawa-senyawa
menjadi

Reaksinya dapat digambarkan sebagai berikut.

Enzim dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

lain.

senyawa

Atau

tertentu.

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi kerja enzim adalah suhu, pH, aktivator (pengaktif), dan


inhibitor (penghambat) serta konsentrasi substrat.

Aplikasi enzim dalam kehidupan seharihari


Aplikasi enzim dalam kehidupan sehari-hari - Pencarian artikel dengan judul " Aplikasi
enzim dalam kehidupan sehari-hari " di temukan di fungsi-manfaat.com. Untuk mencari
informasi atau artikel yang sesuai dengan penjelasan, pengertian, gambar, proses, fungsi,
struktur, tujuan, perbedaan, kegunaan, gejala, mengobati, mencegah, mengatasi, jenis,
konsep, sistem, anda dapat menuliskan kata kunci yang ada pada kolom pencarian yang
sudah tersedia pada situs fungsi-manfaat.com.
Seiring berjalannya waktu, teknologi internet di indonesia semakin banyak peminatnya dari
kalangan bawah maupun kalangan atas, oleh sebab itu situs macam-jenis.com berusaha untuk
memberikan informasi yang berkaitan dengan kejadian atau fenomena yang ada di kehidupan
sehari-hari dan juga pelajaran yang ada di sekolah, khususnya pelajaran ilmu pengetahuan
alam atau biologi dan informasi kesehatan. Situs macam-jenis.com memiliki ratusan
informasi umum dan artikel biologi smp, sma, dan sekolah yang sederajat. Seperti " Aplikasi
enzim dalam kehidupan sehari-hari " yang bisa anda baca untuk dapat di jadikan masukan
atau bahan referensi.
Baca artikel : Aplikasi enzim dalam kehidupan sehari-hari

Aplikasi enzim dalam kehidupan sehari-hari


Aplikasi enzim dalam kehidupan sehari-hari
Baca juga :
Kegunaan obat neurobion
Penjelasan fungsi jantung jaringan epitel
Enzim banyak digunakan di berbagai bidang kegiatan. Enzim digunakan secara luas dalam
bidang industri, terutama industri bioteknologi. Dalam bidang ini, baik yang konvensional
maupun yang mutakhir, yang mengandalkan teknik rekombinasi gen, pengetahuan dan
penggunaan enzim merpakan syarat mutlak untuk berhasil. Dalm segmen bioteknologi
tradisional dan skala kecil, seperti berbagai industri makanan tingkat rumah tangga,

pengetahuan empiris tentang enzim diwariskan secara turun- temurun dan biasanya
bercampur dengan pengetahuan empiris tentang penggunaan praktis mikroorganisme, yang
secara umum dinamai ragi. Selain itu, enzim juga dipakai secara luas dalam industri lain yang
tidak tergolong ke dalam industri bioteknologi dalam arti luas. Contohnya adalah industri
tekstil dan industri kertas. Dalam bidang teknologi lingkungan, enzim juga telah digunakan
dalam pengolahan air limbah serta dalam pengolahan sampah, terutama sampah organik.
ENZIM XILANASE
Xilanase juga dapat digunakan untuk menghidrolisis xilan (hemiselulosa) menjadi gula
xilosa. Xilan banyak diperoleh dari limbah pertanian dan industri makanan. Pengembangan
proses hidrolisis secara enzimatis merupakan prospek baru untuk penanganan limbah
hemiselulosa (Biely, 1985; Rani dan Nand, 1996; Beg et al., 2001). Gula xilosa banyak
digunakan untuk konsumsi penderita diabetes. Di Malaysia gula xilosa banyak diguna-kan
untuk campuran pasta gigi karena dapat berfungsi memperkuat gusi.
Van Paridon et al. (1992) telah melakukan penelitian pemanfaatan xilanase untuk campuran
makanan ayam boiler, dengan melihat pengaruhnya terhadap berat yang dicapai dan efisiensi
konversi makanan serta hubungannya dengan viskositas pencernaan. Hal yang sama juga
dilakukan oleh Bedford dan Classen (1992), yang melaporkan bahwa campuran makanan
ayam boiler dengan xilanase yang berasal dari T. longibrachiatum ternyata mampu
mengurangi viskositas pencernaan, sehingga meningkatkan pencapaian berat dan efisiensi
konversi makanan.
Xilanase dapat juga digunakan untuk menjernihkan juice, ekstraksi kopi, minyak nabati, dan
pati (Wong dan Saddler, 1993). Kombinasi dengan selulase dan pektinase dapat untuk
penjernihan juice dan likuifikasi buah dan sayuran (Beg et al., 2001).
Efisiensi xilanase dalam perbaikan kualitas roti yang telah dilakukan, yaitu xilanase yang
berasal dari Aspergillus niger var awamori yang ditambahkan ke dalam adonan roti
menghasilkan kenaikan volume spesifik roti dan untuk lebih meningkatkan kualitas roti maka
perlu dilakukan kombinasi penambahan amilase dan xilanase (Maat et al., 1992).
Pada industri kertas dan pulp, enzim xylanase yang hipertermofilik sekaligus alkalifilik
(pencinta pH tinggi) dapat menggantikan klorin yang berbahaya bagi lingkungan pada proses
bleaching. Proses bleaching adalah proses yang memisahkan serat kertas dari lignin yang
menyebabkan kertas berwarna kusam, yang selama ini memakai pemutih kimia. Xylanase
alkalifilik termofilik akan memudahkan memisahkan serat kertas dari lignin yang dilakukan
pada suhu di atas 70 derajat celcius dan pH tinggi. Selain itu, ada enzim hipertermofilik yang
sangat berjasa pada proses bukti uji DNA (finger printing DNA) ataupun identifikasi penyakit
genetik pada manusia. Kedua proses yang disebut ini tercapai karena adanya enzim DNA
polimerase yang tahan panas. DNA polimerase memasangkan nukleotida menjadi rantai DNA
dengan menggunakan cetakan atau template DNA asli yang sedikit jumlahnya, hingga
menjadi molekul fragmen DNA identik yang sangat banyak jumlahnya
ENZIM SELULASE
Pemanfaatan limbah berlignoselulosa dengan menggunakan jasa mikroorganisme dapat
menghasilkan enzim ekstraseluler yang mampu mendegradasi bahan berlignoselulosa
menjadi fraksi penyusunnya. Misalkan enzim selulase yang dapat merombak bahan
berlignoselulosa berupa jerami atau sampah organik menjadi kompos, atau menghidrolisis

selulosa menjadi glukosa.


Enzim selulase dapat digunakan untuk melembutkan sayur-sayuran dengan mencernakan
sebahagian selulosa sayur itu, mengeluarkan kulit dari biji-bijian seperti gandum,
mengasingkan agar-agar daripada rumput laut dengan menguraikan dinding sel daun rumput
dan membebaskan agar-agar yang terkandung dalamnya.
Enzim selulase, xylanase, hemiselulase
Enzim yang umum digunakan dalam daur ulang kertas bekas adalah selulase, xylanase,
hemiselulase. Sedangkan dalam biodeinking, selulase dan hemiselulase yang paling banyak
digunakan. Bagaimana mekanisme kerja enzim dengan struktur selulosa masih belum
diketahui dengan jelas. Menurut Lee dkk faktor terpenting dalam mempelajari sistim
selulosa-selulase adalah sifat struktur dari bahan selulosa karena hidrolisa secara enzimatis
terhadap selulosa sebagian besar tergantung pada bahan kimia alam dan struktur fisik dari
substrat selulosa. Kecepatan reaksi hidrolisa enzimatik dipengaruhi oleh kristalinitas substrat,
asesibilitas enzim, luas permukaan spesifik, derajat polimerisasi dan unit dimensi sel dari
bahan selulosa.
Berdasarkan Oltus et.al., reaksi selulase adalah pemutusan rantai serat. Sedangkan
berdasarkan Prommier dkk., enzim menyerang permukaan serat menghasilkan efek peeling.
Bila efek ini dibatasi dan dikontrol, enzim hanya akan memindahkan elemen-elemen kecil
atau campuran yang mempunyai afinitas lebih besar terhadap air tetapi yang kontribusinya
kecil terhadap ikatan hidrogen dari serat. Menurur Jackson dkk., enzim jenis selulase dapat
memflokulasi fine (serat yang berukuran kurang dari 75 m) dan partikel-partikel kecil serat.
Fine akan dihidrolisa mengakibatkan peningkatan derajat giling (freeness), dan permukaan
serat menjadi bersih dari fibril dan partikel-partikel.
ENZIM AMILASE
Enzim amilase dapat digunakan untuk menghilangkan kanji dalam buah-buahan dan cocoa
semasa pemprosesan jus buah-buahan dan coklat, dan sebagai bahan tambahan dalam proses
pencairan kanji sebelum penambahan malt dalam industri alkohol.
-Amilase (E.C 3.2.1.1) menghidrolisis secara acak ikatan -1,4-O-glikosidik dari pati,
glikogen, dan polisakarida lain untuk menghasilkan dekstrin, oligosakarida, maltosa dan
glukosa. Enzim ini menyumbang sekitar 30% dari total produksi enzim dunia dan
mempunyai aplikasi yang luas di dalam industri. Beberapa industri yang menggunakan amilase adalah industri pengolah pati, makanan, pemeraman, deterjen, tekstil, dan kertas.
Tiap aplikasi industri mensyaratkan sifat yang khas dari -amilase terkait dengan spesifisitas,
stabilitas, dan pengaruh suhu serta pH terhadap aktivitasnya. Saat ini, hidrolisis enzimatis pati
mentah sangat diperlukan untuk menekan konsumsi energi di dalam industri yang berbasis
pati. Eksplorasi sumber-sumber baru penghasil -amilase dan karakterisasi -amilase yang
dihasilkannya penting dilakukan untuk memfasilitasi penemuan -amilase baru yang
memenuhi persyaratan industri dengan kemampuan yang lebih baik, terutama dalam
mendegradasi pati mentah. Salah satu sumber potensial penghasil -amilase yang belum
banyak dieksplorasi adalah bakteri laut.
Pada industri pembuat pemanis misalnya, enzim amilase dan glucose isomerase
hipertermofilik akan sangat membantu proses pemecahan pati (starch) menjadi oligomer lalu
menjadi fruktusa atau glukosa dalam bentuk sirup. Karena proses ini semua dilakukan pada

suhu sangat tinggi dan ada pula proses pengadukan, sehingga menuntut enzim yang
mendegradasi pati atau mengubah gula oligomer menjadi glukosa atau fruktosa harus sangat
stabil dan aktif di suhu panas. Dalam keperluan proses kontrol produksi makanan jadi atau
olahan misalnya, kadar pelezat asam dalam bentuk monosodium glutamate (MSG) sangat
penting. Karena kadar MSG yang berlebihan dapat menyebabkan gejala sakit kepala yang
dikenal dengan Chinese food syndrome.
ENZIM LIPASE
Enzim lipase dapat digunakan untuk menghasilkan emulsifier, surfaktant, mentega, coklat
tiruan, protease untuk membantu pengempukan daging, mencegah kekeruhan bir, naringinase
untuk menghilangkan rasa pahit pada juice jeruk, glukosa oksidase untuk mencegah reaksi
pencoklatan pada produk tepung telur dan lain-lain.
Aplikasi enzim lipase untuk sintesis senyawa organik semakin banyak dikembangkan,
terutama karena reaksi menggunakan enzim bersifat regioselektif dan enansioselektif.
Aktifitas katalitik dan selektivitas enzim, tergantung dari struktur substrat, kondisi reaksi,
jenis pelarut, dan penggunaan air dalam media.Contohnya biosintesis senyawa pentanol,
hexanol & benzyl alkohol ester, serta biosintesis senyawa terpene ester menggunakan enzim
lipase yang berasal dari Candida antartica dan Mucor miehei .
Penggunaan lipase pada industri minyak meningkat sejalan dengan pengetahuan bahwa
enzim lipase tidak hanya mampu mengkatalisa reaksi hidrolis tetapi pada kondisi tertentu
juga dapat mengkatalisa reaksi sebaliknya, misalnya pada pembentukkan gliserida dari
gliserol dan asam lemak. Kemampuan lipase dalam mengkatalisis reaksi-reaksi sintesis
(esterifikasi, transesterifikasi dan interesterifikasi) telah memperluas aplikasi lipase pada
industri oleokimia. Sampai saat ini lipase yang banyak digunakan untuk keperluan reaksi
sintesis adalah lipase komersial dari Rhizomucor miehei dan Pseudomonas sp.
ENZIM PROTEASE
Enzim protease dapat digunakan sebagai pelembut daging bagi daging yang liat supaya
mudah dikunyah, dan membantu menanggalkan kulit ikan dalam industri pengetinan ikan
Enzim exolite yang termasuk dalam kelompok enzim protease ini juga digunakan di industri
penyamakan kulit. Enzim exolite mampu menggantikan peran klorin yang merupakan bahan
beracun dan berbahaya (B3) dalam proses untuk melembutkan kulit. Industri yang sudah
menggunakan enzim dari kelompok enzim protease (pemecah protein) ini antara lain Usaha
Dagang (UD) Sumber Kulit, Magetan, Jawa Timur. Menurut Paiman, Direktur UD Sumber
Kulit, perusahaannya telah menggunakan 100-120 kg per bulan enzim exolite untuk
membantu produksi 12-15 ton kulit per bulan. Exolite memberikan banyak manfaat karena
terbukti mampu mengurangi ongkos produksi, membuat kulit lebih baik, memerlukan air
lebih sedikit dalam proses produksi, dan limbahnya tidak berbau.
ENZIM PQQGDH (PIROLOQUINOLINE QUINONE GLUCOSE
DEHIDROGINASE)
Enzim PQQGDH ini digunakan sebagai biosensor gula pada pengobatan diabetes mellitus.
Pada saat ini ada dua perusahaan biosensor dunia yang berusaha mengubah penggunaan
enzim GOD dengan enzim yang mengkatalisis reaksi reduksi, sehingga tidak bergantung
pada kadar oksigen, yaitu enzim PQQ Glucose dehidroginase (PQQGDH). Berbeda dengan

enzim GOD, enzim PQQGDH memerlukan banyak campur tangan manusia, mulai dari
produksi massalnya dengan bioteknologi sampai kepada upaya rekayasa protein untuk
memperbaiki karakter enzimatiknya bagi aplikasi dalam biosensor.
ENZIM GLUKOSA OKSIDASE
Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki bahan baku melimpah untuk digunakan
dalam memproduksi berbagai bahan kimia dasar dan enzim termasuk enzim glukosa oksidase
dan asam glukonat. Mikroba yang ada di alam Indonesia baru sebahagian kecil yang telah
dimanfaatkan untuk memproduksi bahan hayati yang mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Potensi alam tersebut tersebut hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Enzim
glukosa oksidase dari A.niger termasuk salah satu jenis enzim yang dijual secara komersial.
Enzim ini banyak digunakan dalam industri pangan dan analisis klinis untuk penentuan kadar
glukosa darah. Berdasarkan data impor dari BPIS Tahun 2000, kebutuhan enzim termasuk
glukosa oksidase setiap tahunnya meningkat
ENZIM DESATURASE
Peningkatan ketidakjenuhan minyak sawit kasar (crude palm oil, CPO) dapat dilakukan
dengan enzim desaturase Absidia corymbifera. Biokatalis ini juga mampu menghasilkan
asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids, PUFA) yang bermanfaat untuk
kesehatan seperti asam gamma linolenat (GLA).
ENZIM PHYTASE
Enzim phytase dari bakteria marga Klebsiella yang diisolasi dari tanah sawah pertanian
Indonesia oleh penulis telah berhasil dipurifikasi, dikloning, disequensing,
dioverekspressikan, dan dikarakterisasi. Enzim rekombinant ini mempunyai aktivitas spesifik
yang tinggi, atau sekitar 1.000 x dari bakteri biasa dan 5 x lebih tinggi bila dibandingkan
phytase rekombinant dari marga Bacillus. Di samping itu, phytase rekombinant ini selain
mampu menghidrolisis senyawa phytat sampai pada Inositol (2) monophosphat, juga
mempunyai aktivitas merombak senyawa phosphatkomplek organik dan anorganik lainnya.
Dengan demikian secara ekonomis enzim rekombinant ini dapat digunakan untuk keperluan
industri.
Akhir-akhir ini, penelitian banyak diarahkan pada penggunaan enzim dalam ransum untuk
memperbaiki produktivitas ternak dan kecernaan pakan. Pemakaian zat aditif seperti enzim
sudah banyak digunakan di Eropa dengan tujuan untuk meningkatkan nilai gizi ransum dan
juga untuk mengurangi polusi tanah dan lingkungan. Penambahan enzim biasanya dilakukan
pada bahan pakan yang kecernaannya rendah (Mastika, 2000), sehingga dapat meningkatkan
penggunaan bahan pakan tersebut. Xuan et al. (2001) melaporkan bahwa pemberian 0,10
0,30 % enzym kompleks dalam ransum secara nyata dapat meningkatkan kecernaan fosfor,
pertumbuhan, dan efisiensi penggunaan ransum. Dilaporkan juga bahwa enzim kompleks
merupakan gabungan beberapa enzim seperti alfa-amilase, xilanase, beta-glukonase, protease,
lipase, dan phytase. Suplementasi enzim phytase ke dalam ransum secara nyata dapat
meningkatkan kecernaan bahan kering, lemak kasar, P, Zn, Mg, dan Cu, serta dapat
meningkatkan retensi nitrogen, mineral Ca, P, Mg, dan Zn (Lim et al., 2001). Simbaya et al.
(2003) menyatakan bahwa suplementasi enzim phytase, carbohidrase, dan protease dalam
ransum secara nyata dapat meningkatkan pertambahan berat badan dan efisiensi penggunaan
ransum. Kecernaan zat makanan meningkat dengan adanya suplementasi ketiga enzim

tersebut. Penambahan enzim kompleks (protease, cellulase, dan hemicellulase) ternyata dapat
meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi penggunaan ransum (Selle et al., 2003).
ENZIM PAPAIN
Manfaat pertama papain adalah pelunak daging. Daging dari hewan tua dan bertekstur bisa
menjadi lunak. Pada pH, suhu, dan kemurnian papain, daya pemecahan protein yang dimiliki
papain dapat diintensifkan lebih jauh menjadi kegiatan hidrolisis protein. Harga produk itu
saat ini sangat mahal.
Papain juga banyak digunakan sebagai bahan aktif dalam preparat farmasi seperti obat
gangguan pencernaan, dispesia, dan obat cacing. Dalam rangka pembedahan papain bisa
digunakan sebagai obat pengendali oedema dan imflamasi.
Yang banyak digunakan saat ini adalah bahan aktif untuk krim, pembersih kulit muka. Sebab,
papain bisa melarutkan sel-sel mati yang melekat pada kulit dan sukar terlepas secara fisik.
Noda dan flek di wajah bisa dikikis oleh papain hingga menjadi mulus dan bersih. Papain pun
bisa digunakan sebagai bahan pembuat pasta gigi, sebab bisa membersihkan sisa makanan
apa saja yang melekat di gigi.
Manfaat lainnya adalah, bahan perenyah pada pembuatan kue kering seperti cracker, bahan
penggumpal susu pada pembuatan keju, bahan pelarut glatin, dan bahan pencuci lensa.
Pada pembuatan bir yang diolah dengan cara fermentasi kecambah gandum dan jika
didiamkan lama atau kondisi sekitarnya dingin, maka akan berubah menjadi keruh. Ini
disebabkan dalam kecambah gandum terdapat senyawa polifenol-protein yang terbawa dalam
bir akan terpisah dan mengendap, yakni berupa dispersi padatan yang sangat luas melayang
di seluruh cairan bir.
Pektin juga dihasilkan dari buah pepaya tersebut. Menurut Supiyatna, industri makanan dan
minuman telah menggunakan pektin sebagai bahan pemberi tekstur pada roti dan keju, bahan
pengental dan stabilizer pada minuman sari buah, bahan pokok pembuatan jelly, jam, dan
marmalade.
Sedang di industri farmasi, pektin digunakan sebagai emulsifier bagi preparat cair dan sirup,
obat diare pada anak-anak, obat penawar racun logam, bahan penurun daya racun dan
meningkatkan daya larut obat sulfa, memperpanjang kerja hormon dan antibiotika, bahan
pelapis perban (pembalut luka) guna menyerap kotoran dan jaringan yang rusak serta bahan
kosmetik, oral atau injeksi untuk mencegah pendarahan.
ENZIM KATALASE
Hidrogen peroksida selain digunakan sebagai agen bleaching atau pemutih di industri kertas
atau tekstil, juga digunakan untuk melindungi buah dan sayuran segar dari bakteri patogen
seperti Salmonella atau E.coli, pasteurisasi produk susu, ataupun digunakan dalam sterilisasi
karton pembungkus jus atau susu segar sehingga tak perlu pendinginan.
Sebenarnya, hidrogen peroksidase juga bukan merupakan senyawa yang aman bagi manusia.
Keberadaan hidrogen peroksida yang merupakan oksidan dapat menyebabkan kondisi dalam
sel yang reduktif menjadi oksidatif. Karena itu, dapat dikatakan penggantian klorin ke
hidrogen peroksida hanya mengurangi masalah dan bukan menyelesaikan masalah
lingkungan.
Katalase adalah enzim yang dapat menguraikan hidrogen peroksida yang tidak baik bagi
tubuh makhluk hidup menjadi air dan oksigen yang sama sekali tidak berbahaya. Selain itu,
enzim ini di dalam tubuh manusia juga menguraikan zat-zat oksidatif lainnya seperti fenol,

asam format, maupun alkohol yang juga berbahaya bagi tubuh manusia. Katalase terdapat
hampir di semua makhluk hidup. Bagi sel, enzim ini adalah bodyguard yang melindungi
bagian dalam sel dari kondisi oksidatif yang bagi kebanyakan organisme ekuivalen dengan
kerusakan.