Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN MENINGITIS

Oleh:
I Wayan Wiriawan

(010112a041)

Kiki Erna Damayanti

(010112a053)

Ahmad Adi Putra

(010112a003)

Hasbiani

(010112a036)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NGUDI WALUYO
UNGARAN
2014

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Meningitis didefinisikan sebagai peradangan pada arakhnoid, piameter
atau cairan serebrospinal (CSS). Penyebab meningitis meliputi bakteri atau
virus (sering), jamur atau organisme rickettsia (kadang-kadang), dan protozoa
atau cacing (jarang).
Retang keparahan bervariasi dari yang tidak parah, penyakit infeksi
virus sembuh sendiri, sampai penyakit jamur yang progresif dan lambat,
sampai dengan meningitis bakteri yang berpotensi fatal. Meskipun
pemahaman lebih mendalam mengenai meningitis dan makin banyak
kelompok antibiotik pilihan, kematian yang dikaitkan dengan meningitis
bakteri tidak berubah selama 30 tahun terakhir.
Meningitis virus paling sering didiagnosis pada mereka yang berusia
sangat muda atau sangat tua, sedangkan meningitis virus biasa terdapat pada
anak dan dewasa muda.meningitis kriptokokus, meningitis jamur paling
umum, sekarang adalah infeksi oportunistik penting yang sering dikaitkan
dengan AIDS. Infeksi ini mengikuti distribusi usia yang sama seperti
manifestasi yang berhubungan dengan HIV.
Agen-agen antivirus spesifik lainnya tidak lagi digunakan, dan pasien
diobati secara suportif. Prognosi baik untuk pasien meningitis namun buruk
bagi pasien ensafilitis. Angka mortalitas bervariasi dari 50% pada ensafilitis
herpes simpleks hingga kurang dari 1% pada ensafilitas arbovirus jenis
khusus.

B.

Tujuan
1.

Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan
meningitis.

2.

Tujuan Khusus

a.

Menjelaskan pengertian meningitis.

b.

Menjelaskan penyebab meningitis.

c.

Menjelaskan patofisiologi meningitis.

d.

Menjelaskan manifestasi klinik.

e.

Menjelaskan

pemeriksaan

diagnostik

meningitis.
f.

Menjelaskan komplikasi meningitis.

g.

Menjelaskan
pasien meningitis.

asuhan

keperawatan

pada

BAB II
TINJAJAUAN PUSTAKA
A.

Pengertian
Meningitis adalah suatu reaksi peradangan yang mengenai dan
sebagian atau seluruh selaput otak (meningen) yang melapisis otak dan
medulla spinalis, yang ditandai dengan adanya sel darah putih dalam cairan
serebrospinal (Soegeng Soegijanto, 2005 : 115).
Meningitis adalah infeksi selaput otak. Meningitis terutama disebabkan
oleh bakteri, bisa menjadi infeksi serius dan biasanya perlu diobati dengan
antibiotika (DR. Haruild S. Koplewich, 2005 : 101).

B.

Klasifikasi.

Meningitis berdasarkan penyebab dapat dibagi menjadi :


1.

Meningitis bakterial:
a.

Bakteri

non

spesifik

meningokokus,

H.Influenzae,

S.pneumoniae, Stafilokokus, Streptokokus, E.Coli, S.Typhosa


b.
2.

Bakteri spesifik M. Tuberkulosa.

Meningitis Virus.
Beberapa jenis virus dapat menyebabkan meningitis seperti
Mumps (gondong), measles; dll.

3.

Menigitis karena jamur

4.

Meningitis karena parasit, seperti toksoplasma, amoeba.

Berdasarkan perlangsungan dan pemeriksaan cairan serebrospinalis dapat


diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Meningitis purulenta/meningitis bakterial akut
2. Meningitis serosa
3. Meningitis aseptik

1. Meningitis purulenta/ M. Bakterial akut


Penyebab adalah bakteri non spesifik
Perjalanan penyakit ini berlangsung akut sebagai berikut:
a. Secara hamatogen dari satu sumber infeksi (tonsilitis, pneumonia,
endokarditis, tromboplebitis,dll).
b. Perluasan langsung dari peradangan organ didekat selaput otak
(sinusitis, otitis media, mastoiditis, abses otak. Dll).
c. Trauma dikepala dengan fraktur kranium terbuka, komplikasi tindakan
bedah otak.
2. Meningitis tuberkulosa.
Pada umumnya terjadi karena komlikasi penyebaran tuberkulosis paru
primer. Secara hematogen kuman sampai keotak , sum-sum tulang belakang,
vetebra membentuk tuberkel pecah selaput otak. Cara lain dengan
perluasan lansung dari mastoiditis tuberkulosa.
3. Meningitis aseptik.

C.

Etiologi
1.

Bakteri Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus


penumonia

(pneumokok)

Streptococcus
influenzes,

haemolyticuss,

Escherichia

coli,

Neisseria

meningitis

Staphylococcus
Klebiella

(meningokok),

aureus,

Haemophilus

pneumoniae,

Peudomonas

aeruginosa.
2.

Penyebab lainnya lues, virus, Toxoplasma gandhii


dan Rickersia.

3.

Penyebab predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih


sering dibandingkan dengan wanita.

4.

Faktor maternal : kuptur membran fekal. Infeksi


maternal pada minggu terakhir kehamilan.

5.

Faktor imunologi : defisiensi

mekanisme imun,

defisinesi imunoglobin.
6.

Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau


injury yang berhubungan dengan sistem persarafan (Rita dan Suariadi,
2001).
a. Klasifikasi
Meningitis

dibagi

menjadi

dua

golongan

berdasarkan

perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu meningitis serosa dan
meningitis purkienta.
Meningitis serosa adalah radang selaput otak araknoid dan
piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya
adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lain seperti lues, virus,
Toxoplasma gandhii, Ricketsia.
Meningitis purutenta adalah radang selaput otak (araknoidea
dan piameter) yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan
oleh kuman nonspesifik dan nonvirus. Penyebab meningitis purulenta
ialah

kuman

sejenis

Pneumococcus,

Hemofilus

influenze,

staphylococcus, E.coli, Meningococcus dan salmonella.


Meningitis pada bayi dan anak di indonesia, khususnya di
Jakarta masih merupakan penyakit yang cukup banyak. Angka
kejadian tertinggi pada umur 2 bulan sampai 2 tahun. Umumnya
terdapat pada anak yang distrofik yang daya tahan rubuhnya rendah
(Ngastiyah, 2005 : 184).
D.

Patofisiologi
Kuman secara hematpgen sampai ke selaput otak, misalnya pada
penyakit Faringonsilitis, Pneumonia, Buonkopneumonia, endokarditis dan
lain-lain. Dapat pula sebagai perluasan perkontinuitatum dari peradangan
organ/jaringan di dekat selaput otak, misalnya abses otak, otitis media,
Mastuiditis, trombosis sinus kavernosus (Ngastiyah, 2005 : 185).

Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis


media, mastuiditis, anemia sel sabit dan menyebabkan reaksi radang di dalam
meningen dan di bawah korteks yang dapat menyebabkan trombus dan
penurunan aliran darah serebral. Gangguan serebral mengalami gangguan
metabolisme akibat eksudan meningen, vaskulitis dan hipoperkusi. Eksudat
purulen dapat menyebar ke dinding purulen membran ventrika serebral.
Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intracranial,
yang terdiri peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak
(barier otak, edema serebral dan peningkatan TIK).
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum
terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan
hemoragi (pada sindium waterhouse-Friderichsgen) sebagai akibat terjadinya
kerusakan endotel dan nekrosa pembuluh darah yang disebabkan oleh
meningokokus.

E.

Pathway

Bakteri
Neiserria Meningitis
Streptococcus pneumoniae
Haemophilus influenza
Aliran darah
Reaksi peradangan

Dinding membran
ventrikel

Meningen

Pembuluh darah
(vaskulitis)

Peningkatan
permeabilitas darah

Thrombus

Nyeri

Edema serebral

Penurunan aliran
darah serebral

Perubahan perfusi
jaringan serebral

Gangguan metabolisme
jaringan serebral
Perubahan
keseimbangan dan sel
nefron

Eksudasi
Medulla spinalis

Dasar otak

Kerusakan neurovaskuler

Difusi ion kalium dan


natrium
Lepas muatan listrik

Kerusakan mobilitas fisik


Kejang
Berkurang koordinasi
otak
Resiko trauma fisik

F.

Manifestasi Klinis
Tanda tanda dan gejala-gejala meningitis yang terkait dengan tandatanda nonspesifik disertai dengan infeksi sistemis atau bakterima dan
menifestasi

spesifik

iritasi

meningeal

engan

radang

sss-tanda-tanda

nonspesifik adalah :
1.

Demam (ada pada 90-95%).

2.

Anoreksia dan makan jelek.

3.

Gejala infeksi saluran pernafasan atas.

4.

Mlagia.

5.

Atralgia.

6.

Takikardia.

7.

berbagai tanda-tanda kulit, seperti ptekie, purpura


atau ruam muskular eritematosa.
Iritasi meningeal tampak sebagai kaku kuduk, nyeri pinggang, tanda

kening (fleksi sendi pinggul 900C dengan nyeri pada ekstensi berikutnya) dan
tanda Brudzinski (fleksi lutut dan pinggul yang tidak disengaja setelah fleksi
leher saat terlentang). Pada beberapa anak, terutama pada mereka yang
usianya 12-18 bulan, tanda-tanda ini tidak nyata. Kenaikan terkenal
intrakranial dikesankan oleh nyeri kepala dan muntah (Waldo E. Nelson,
1999 : 875).
G.

Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis pada pasien meningitis adalah :
1.

Penggunaan antibiotik

Penggunaan antibiotik tedriri dari 2 fase yaitu fase pretama


sebelum ada hasil biakan dan uji sensivitas. Penggunaan fase kedua setelah
ada hasil biakan dan uji sensivitas disesuaikan dengan kuman penyebab
dan obat yang serasi pada meningitis terdapat peningkatan permeabilitas
sawar darah otak, dan hal ini justru menguntungkan karena antibiotik
mudah masuk ke dalam ruang sukaraknoid dan ventrikel.
2.

Kortikosteroid
Pada penelitian terbukti bahwa skroid dapat mengurangi prosuksi
mediator inflamasi seperti sitokin, sejingga dapat mengurangi kecacatan
neurologi seperti paresisdan tuli, dan menurunkan mortalitas apabila
diberikan pada pasien ringan dan sdang, dan diberikan 15-20 menit
sebelum pemberian antibiotik (Soegeng Soegijanto, 2002 : 116).

H.

Pemeriksaan Diagnostik
1.

Analisis CSS dari fungsi lumbal :


a.

Meningitis bakterial : tekanan meningkat,


cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat,
glukosa meningkat, kultur positif terhadap beberapa jenis bakteri.

b.

Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan


CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa protein
biasanya normal, kultur biasanya negatif, kulltur virus biasanya dengan
prosedur khusus.

2.

Glukosa serum : meningkat (meningitis)

3.

LDH serum : meningkat (meningitis bakteri)

4.

Sel darah putih : sedikit meningkat dengan


peningkatan neutrofil (infeksi bakteri)

5.

Elektrolit darah : abnormal

6.

ESR/LED : meningkat pada meningitis

7.

Kultur

darah/hidung/tenggorokan/urine

dapat

mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab


infeksi.

8.

MRI/skala

CT

dapat

membantu

dalam

melokalisasi lesi, melihat ukuran/petak ventrikel, hematom daerah


serebral.
9.

Rontgen dada/kepa;a/sinus : mungkin ada indikasi


sumber infeksi intracranial.

I.

Komplikasi
1.

Hedrosefalus obstruktif

2.

Meningococcl septicemia (meningingocemia)

3.

Sindrom water-fridecichen (septik syok, DIC,


perdarahan adrenal bilateral)

4.

SIADH

(syndrome

Inappropriate

Antidiuretic

Hormone)
5.

Efusi subdural

6.

kejang

7.

Edema dan herniasi serebral

8.

Cerebral palsy

9.

Gangguan mental

10.

Gangguan belajar (Rita dan Suruadi, 2001).

J.

Asuhan Keperawatan
1.

Pengkajian
a.

Biodat klien

b.

Riwayat kesehatn dahulu


1)

Apakah pernah jatuh atau trauma kepala?

2)

Apakah pernah operasi daerah kepala?

3)

Apakah pernah cidera atau pemajanan?

c.

Riwayat kesehatan sekarag


1)

Aktivitas
Gejala : perasaan tidak enak (malaise)
Tanda : ataksia, kelumpuhan

2)

Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, sulit menelan
Tanda

: anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, dan membran


mukosa kering.

3)

Neurosensori
Gejala : sakit kepala, demam, menggigil, muntah, terasa kaku pada
persarafan yang terkena, kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang,
fotofobia, keluhan dan halusinasi penciuman.
Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma, halusinasi,
delirium, perilaku agresif, mengantuk, stupar, kekakuan ujkal,
dapat berlanjut menjadi opistolonos tanda kering dan Brudzinski
positif.

4)

Nyeri/keamanan
Gejala :sakit kepala (berdenyut hebat, frotal)
Tanda : gelisah, menangis

5)

Pernafasan
Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda : peningkatan kerja pernafasan

6)

Higyene
Tanda : ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.

2.

Intervensi keperawatan
a.

Resiko tinggi cedera berhubungan dengan


adanya infeksi
Tujuan

: tidak terjadi penyebaran infeksi

Kriteria :
1.

Anak menunjukkan bukti-bukti penurunan gejala

2.

Mencapai masa penyembuhan tepat waktuu tanpa bukti


penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.

Intervensi :

3.

Berikan antibiotik, sesuai resep dan segera setelah


diinstruksikan

4.

Tempatkan anak di ruang isolasi selama sedikitnya 14


jam setelah awal terapi antibiotik

5.

Berikan vaksin rutin sesuai usia (misal vaksin untuk


mencegah H influenze tipe B).

6.

Identifikasi kontak erat dan anak berisiko tinggi yang


dapat memperoleh manfaat dari vaksinasi

7.

Kasji keluhan nyeri dada, nasi yang tidak teratur,


demam terus menerus.

b.

Nyeri berhubungan dengan proses infeksi


Tujuan : klien terbebas dari rasa sakit
Kriteria :
Anak tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri atau tanda-tanda nyeri
yang dialami anak minimum
Intervensi :
1.

Biarkan anak mengambil posisi yang


nyaman

2.

Gunakan posisi miring, bila dapat


ditoleransi, karena kaku kuduk

3.

Tinggikan sedikit kepala tempat tidur


tanpa menggunakan bantal

4.

Monitor rasa nyeri

5.

Tingkatkan tirah baring, bantulah


kebutuhan perawatan diri

6.

Berikan analgesik sesuai kebutuhan,


terutama asetaminofen dengan kodein

c.

Kerusakan

mobilitas

fisik

berhubungan

dengan kerusakan neuromuskular


Tujuan : pasien mampu bergerak dalam batas kemampuan
Kriteria hasil : anak melakukan gerakan-gerakan dalam batas
kemampuan
Intervensi :
1. Dorong untuk duduk, merangkak, dan berjalan sesuai
usia.
2. Bantu

anak

dalam

menggunakan

gerakan

kaki

resiprokal ketika belajar berjalan.


3. Beri dorongan untuk bergerak (misalnya menempatkan
mainan di luar jangkauan anak).
4. Programkan bermain yang mendorong perilaku yang
diinginkan.
5. Gunakan alat bantu seperti tongkat paralel dan kruk
untuk memudahkan gerakan.
6. Lakukan terapi yang menguatkan dan memperbaiki
kontrol.
d.

Perubahan

perfusi

jaringan

serebral

berhubungan dengan edema serebral hipovolemia.


Tujuan : klien terhindar atau dapat mempertahankan perfusi dan tidak
adanya kejang.
Kriteria hasil : tanda-tanda vital stabil, tak adanya/menurunnya berat
sakit

kepala,

adanya

perbaikan

kognitif

dan

tanda

peningkatan TIK.
Intervensi :
1. Tirah baring dengan posisi kepala datar dan tanda vital
2. Pantau status neurologis
3. Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, pernafasan, suhu,
masukan dna haluaran.

4. Kaji residitas nukal, peka rangsang dan kejang.


K.

Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
1.

Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa


bukti penyebaran infeksi endogen dan keterlibatan orang lain.

2.

Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya dan


fungsi motorik/sensorik.

3.

Tidak mengalami kejang/penyerta atau cidera lain.

4.

Melaporkan

nyeri

hilang/terkontrol

dan

menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.


5.

Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan


fungsi persepsi.

BAB III
PENUTUP
ii.

Kesimpulan
Meningitis

adalah

infeksi

selaput

otak.

Meningitis,

terutama

disebabkan oleh bakteri, bisa menjadi infeksi serius dan biasanya perlu diobati
dengan antibiotika. Beberapa bayi menjadi lemah dan menolak untuk menetek
atau makan. Bayi yang terkena meningitis mungkin menjadi sangat rewel.
Bayi tersebut bisa menangis terus-menerus dan tidak dapat ditenangkan atau
dihibur. Bagian lunak pada kepala bayi bisa menonjol keluar dan tidak
bergerak-gerak sewaktu menangis seperti biasanya.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. H. Soegeng Soegijanto. 2002. Ilmu Penyakit Anak
Dr. Harold S. Koplewich. 2005. Penyakit Anak Diagnosa dan Penanganan Editor
Tim Prestasi. Jakarta
Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses
Keperawatan.

Bandung

Yayasan

Ikatan

Alumni

Pendidikan

Keperawatan
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Editor Setiawan. Jakarta : EGC
Suariadi & Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi I. Jakarta :
CV Sagung Seto
Waldo E. Nelson. 1999. Ilmu Kesehtan Anak. Editor Richard E. Behrman. Edisi
15 Vol. 2. Jakarta : EGC