Anda di halaman 1dari 53

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Terapi Musik merupakan materi yang mampu mempengearuhi kondisi
seseorang baik fisik maupun mental. Musik member rangsangan pertumbuhan
fungsi-fungsi otak, fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara serta analisis
intelek dan fungsi kesadaran, (Satiadarma, 2004).
Secara garis besar terapi music dibagi menjadi terapi music aktif dan terapi
music pasif. Yang termasuk terapi music aktif adalah pasien diajak bernyanyi,
belajar main menggunakan alat musik, menirukan nada-nada, bahkan membuat
lagu singkat. Dengan kata lain pasien berinteraksi aktif dengan dunia musik.
Sedangkan terapi music pasif adalah pasien tinggal mendengarkan dan menghayati
suatu alunan musik tertentu yang disesuaikan dengan masalahnya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan terapi music aktif, karena Inilah
terapi musik yang murah, mudah dan efektif. Pasien diajak bernyanyi, belajar main
menggunakan alat musik, menirukan nada-nada.
Mengingat kondisi lanjut usia sering mengalami penyakit dimensia, dimana
dimensia itu sendiri ditandai dengan adanya gangguan mengingat jangka pendek
dalam

mempelajari

hal-hal

baru,

gangguan

kelancaran

berbicara

(sulit

menyebutkan nama benda dan mencari kata-kata untuk diucapkan), salah


menyebutkan tempat, waktu, orang, benda, sulit menghitung, tidak mampu lagi
membuat rencana, mengatur kegiatan, dan mengambil keputusan (Sumijatun,
2005). Dalam hal ini terapi music dapat digunakan untuk menurunkan tingkat
dimensia.
Berdasarkan data deklarasi Kyoto tahun 2004, tingkat prevalensi dan
insidensi demensia di Indonesia menempati urutan ke-4 setelah cina, india dan
jepang. Di Indonesia sendiri prevalensi demensia 606.100 orang dengan insiden
1

191.400 orang (Access Economics, 2006). Pada tahun 2020 diprediksikan


prevalensi demensia meningkat menjadi 1.016.800 orang dengan insidensi
sebanyak 314.100 (AlzhaimerDesease International, 2006).
Dari hasil penelitian (Raglio, 2010), terapi music ini dapat memperlambat
penurunan kognitif ataupun daya ingat pada lansia, mempertahankan identitas diri,
mengenali lingkungan, mengontrol emosi mental dan gangguan perilaku penderita
demensia. Terapi music ini dapat berupa memainkan alat music dan bernyanyi.
Terapi music ini efektif untuk penderita demensia.
Dari hasil studi pendahuluan pada 64 lansia di Panti Wedha Pangesti
Lawang tanggal 8 february 2016 didapatkan 14 lansia yang mengalami dimensia
dan banyak dari lansia yang menyukai musik, sehingga peneliti tertarik untuk
meneliti Pengaruh pemberian terapi music aktif terhadap peningkatan memori
jangka pendek pada lansia dengan dimensia serta pihak dari panti sendiri juga
menentukan tema terapi music yang mana dapat meningkatan memori jangka
pendek pada lansia dengan dimensia.

1.2

Rumusan Masalah
Adakah pengaruh pemberian terapi music aktif terhadap peningkatan memori
jangka pendek pada lansia dengan dimensia di Panti Werdha Pangesti Lawang
Kabupaten Malang?

1.3
1.3.1

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh pemberian terapi music aktif terhadap peningkatan memori
jangka pendek pada lansia dengan dimensia di Panti Werdha Pangesti Lawang
Kabupaten Malang.

1.3.2

Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi memori jangka pendek lansia yang mengalami dimensia


sebelum (pretest) diberikan terapi music aktif di Panti Werdha Pangesti
Lawang Kabupaten Malang .
2. Mengidentifikasi memori jangka pendek lansia yang mengalami dimensia
sesudah (postest) diberikan terapi music aktif di Panti Werdha Pangesti Lawang
Kabupaten Malang
3. Menganalisis adanya pengaruh pemberian terapi music aktif terhadap
peningkatan memori jangka pendek pada lansia dengan dimensia di Panti
Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang
1.4

Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Responden
Membantu meningkatkan dan mempertahankan memori jangka pendek
pada lansia dengan dimensia di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten
1.4.2

Malang.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan terapi ini bias dijadikan salah satu referensi untuk lebih

1.4.3

mengembangkan terapi alternative lainnya.


Bagi Lahan Penelitian
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
menentukan

ada

tidaknya

masalah

yang

berhubungan

dengan

meningkatkan dan mempertahankan memori jangka pendek pada lansia


1.4.4

1.4.5

dengan dimensia.
Bagi Profesi Keperawatan
Menambah informaasi bagi

perawat

dalam

memberikan

asuhan

keperawatan secara tepat pada lansia dengan dimensia.


Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Sebagai bahan tambahan referensi atau literatur untuk penelitian
selanjutnya yang berhubungan dengan meningkatkan dan mempertahankan
memori jangka pendek pada lansia dengan dimensia.

1.5

Batasan Penelitian
Batasan dalam penelitian ini yaitu :
1. Lansia yang mengalami demensia
2. Lansia yang dapat bersosialisasi dengan baik
3. Lansia yang tidak mengalami bed rest total.
4. Terapi music yang digunakan adalah terapi music general (music rock,
dangdut, pop, jazz, klasik, keroncong.

BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1

Konsep Terapi Musik


2.1.1

Definisi Terapi Musik


Menurut Pusat Riset Terapi Musik dan Gelombang Otak (2011), Terapi

musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara
yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir
sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan
mental.
Terapi musik adalah penggunaan musik untuk meningkatkan emosi
seseorang, fisik, kesehatan psikologis dan spiritual. Musik adalah sinonim dari
kemerdekaan, keseimbangan, integrasi, variasi dan adaptasi. Menjaga fitur unik dari
musik dalam pikiran, digunakan oleh terapis untuk membantu masyarakat dalam
mencapai fitur tersebut dalam kehidupan mereka, sehingga harmoni dan
keseimbangan dapat dicapai dalam emosional mereka, fisik, mental dan spiritual diri.
Alzheimer adalah penyakit yang biasanya menjangkiti para lansia dan
ditandai dengan kesulitan berbicara, berjalan, dan demensia. Dengan kemunduran
4

segala fungsi tubuh dan berkurangnya interaksi sosial, para penderita Alzheimer
dapat mengalami penurunan kualitas hidup. Musik terbukti memperbaiki fisiologi
tubuh mereka yang ditandai cukupnya partisipasi, senyuman, kontak mata, dan
umpan balik verbal untuk menyatakan perasaan.
Orang dengan demensia menderita aphasia dan amnesia. komunikasi verbal
menjadi sangat sulit dan membingungkan. Ketika seseorang kehilangan memori, dia
tidak tahu identitas sendiri dan realitas di sekelilingnya menjadi aneh. Bernyanyi
bersama adalah cara berkomunikasi. Bernyanyi merupakan sumber stimulasi dan
interaksi dan mengurangi agitasi dan mendapatkan orang yang terlibat dalam suatu
kegiatan dan keterlibatan dengan manusia lain. Terapi musik ini sendiri, dapat
membuat orang menghilangkan stres, rasa cemas, mengurangi rasa sakit, atau
memperbaiki suasana hati serta dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang yang
sedang menderita suatu penyakit.

2.1.2

Jenis Terapi Musik

Dalam dunia penyembuhan dengan musik, dikenal 2 macam terapi musik, yaitu:
1. Terapi Musik Aktif.
Dalam terapi musik aktif pasien diajak bernyanyi, belajar main menggunakan
alat musik, menirukan nada-nada, bahkan membuat lagu singkat. Dengan kata
lain pasien berinteraksi aktif dengan dunia musik. Untuk melakukan Terapi
Musik katif tentu saja dibutuhkan bimbingan seorang pakar terapi musik yang
kompeten.
2. Terapi Musik Pasif.
Inilah terapi musik yang murah, mudah dan efektif. Pasien tinggal
mendengarkan dan menghayati suatu alunan musik tertentu yang disesuaikan
dengan masalahnya. Hal terpenting dalam Terapi Musik Pasif adalah pemilihan
jenis musik harus tepat dengan kebutuhan pasien.

2.1.3

Manfaat Terapi Musik Klasik Pada Otak


5

Beberapa penelitian telah dilakukan dalam membuktikan manfaat musik


klasik bagi kesehatan, terutama untuk kecerdaan otak. Memang dalam hidup ini
kita tak kan pernah lepas dari yang namanya musik. dimanapun kita berada kita
akan selalu bersentuhan dengan musik. namun pilihan kita terhadap musik juga
dapat berpengaruh pada kesehatan kita.
Pada tahun 1998, Don Campbell, seorang musisi sekaligus pendidik,
bersama Dr. Alfred Tomatis yang psikolog, mengadakan penelitian untuk melihat
efek positif dari beberapa jenis musik. Hasilnya dituangkan dalam buku mereka
yang di Indonesia diterbitkan dengan judul Efek Mozart, Memanfaatkan Kekuatan
Musik Untuk Mempertajam Pikiran, Meningkatkan Kreativitas dan Mnyehatkan
Tubuh.Banyak fakta menarik yang diungkap Campbell dan Tomatis. Diantaranya,
adanya hubungan yang menarik antara musik dan kecerdasan manusia.
Kebingungan dapat dikurangi dengan menyederhanakan dekorasi rumah,
menghapus kekacauan, menjaga benda asing di dekatnya, dan mengikuti rutinitas
diprediksi sepanjang hari. Kalender dan jam juga dapat membantu pasien
mengorientasikan diri mereka sendiri. kegiatan di waktu luang Normal selama
mereka aman dan tidak menyebabkan frustrasi seperti kerajinan, permainan, musik
dan olahraga, dan lain intelektual merangsang kegiatan dapat memperlambat
penurunan fungsi kognitif pada beberapa orang. Beberapa studi juga telah
menunjukkan bahwa orang-orang yang terlibat dalam kegiatan merangsang
intelektual, seperti interaksi sosial, catur, teka-teki silang, dan memainkan alat
musik, secara signifikan lebih rendah resiko mereka terserang penyakit Alzheimer
dan bentuk lain dari Dimensia (Indra, 2010).
Metode musik merupakan salah satu cara untuk membantu mengatasi stres.
Secara keseluruhan musik dapat berpengaruh secara fisik maupun psikologis.
Secara psikologis, musik dapat membuat seseorang menjadi lebih rileks,
mengurangi stres, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa gembira
dan sedih, dan membantu serta melepaskan rasa sakit (Djohan, 2006).
Terapi musik yang dilakukan di College of Notre Dame, Belmont,
California menggunakan stimulus suara (bunyi, musik) untuk mengetahui dampak
suara terhadap kondisi stres dan rileks yang dialami seseorang, sekarang sudah
mendunia (Satiadarma, 2002). Terapi musik merupakan teknik yang sangat mudah
6

dilakukan dan terjangkau, tetapi efeknya menunjukkan betapa besar dan musik
dalam mempengaruhi ketegangan atau kondisi rileks pada diri seseorang, karena
dapat merangsang pengeluaran endorphine dan serotonin, yaitu sejenis morfin
alami tubuh dan juga metanonin sehingga kita bisa merasa lebih relaks pada tubuh
seseorang yang mengalami stres (Mucci, 2002).
Menurut Pusat Riset Terapi Musik dan Gelombang Otak (2011), Manfaat
terapi musik yaitu:
1. Relaksasi, Mengistirahatkan Tubuh dan Pikiran
Manfaat yang pasti dirasakan setelah melakukan terapi musik adalah perasaan
rileks, tubuh lebih bertenaga dan pikiran lebih fresh. Terapi musik memberikan
kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk mengalami relaksasi yang sempurna.
Dalam kondisi relaksasi (istirahat) yang sempurna itu, seluruh sel dalam tubuh
akan mengalami re-produksi, penyembuhan alami berlangsung, produksi
hormon tubuh diseimbangkan dan pikiran mengalami penyegaran.
2. Meningkatkan Kecerdasan
Sebuah efek terapi musik yang bisa meningkatkan intelegensia seseorang
disebut Efek Mozart. Hal ini telah diteliti secara ilmiah oleh Frances Rauscher
et al dari Universitas California. Penelitian lain juga membuktikan bahwa masa
dalam kandungan dan bayi adalah waktu yang paling tepat untuk menstimulasi
otak anak agar menjadi cerdas. Hal ini karena otak anak sedang dalam masa
pembentukan, sehingga sangat baik apabila mendapatkan rangsangan yang
positif. Ketika seorang ibu yang sedang hamil sering mendengarkan terapi
musik, janin di dalam kandungannya juga ikut mendengarkan. Otak janin pun
akan terstimulasi untuk belajar sejak dalam kandungan. Hal ini dimaksudkan
agar kelak si bayi akan memiliki tingkat intelegensia yang lebih tinggi
dibandingkan dengan anak yang dibesarkan tanpa diperkenalkan pada musik.
3. Meningkatkan Motivasi
Motivasi adalah hal yang hanya bisa dilahirkan dengan perasaan dan mood
tertentu. Apabila ada motivasi, semangat pun akan muncul dan segala kegiatan
bisa dilakukan. Begitu juga sebaliknya, jika motivasi terbelenggu, maka

semangat pun menjadi luruh, lemas, tak ada tenaga untuk beraktivitas. Dari
hasil penelitian, ternyata jenis musik tertentu bisa meningkatkan motivasi,
semangat dan meningkatkan level energi seseorang.
4. Pengembangan Diri
Musik ternyata sangat berpengaruh terhadap pengembangan diri seseorang.
Hati-hati, karena musik yang Anda dengarkan menentukan kualitas pribadi
Anda. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa orang yang punya masalah
perasaan, biasanya cenderung mendengarkan musik yang sesuai dengan
perasaannya. Misalnya orang yang putus cinta, mendengarkan musik atau lagu
bertema putus cinta atau sakit hati. Dan hasilnya adalah masalahnya menjadi
semakin parah. Dengan mengubah jenis musik yang didengarkan menjadi
musik yang memotivasi, dalam beberapa hari masalah perasaan bisa hilang
dengan sendirinya atau berkurang sangat banyak. Dan jika Anda mau, Anda
bisa mempunyai kepribadian yang Anda inginkan dengan cara mendengarkan
jenis musik yang tepat.
5. Meningkatkan Kemampuan Mengingat
Terapi musik bisa meningkatkan daya ingat dan mencegah kepikunan. Hal ini
bisa terjadi karena bagian otak yang memproses musik terletak berdekatan
dengan memori. Sehingga ketika seseorang melatih otak dengan terapi musik,
maka secara otomatis memorinya juga ikut terlatih. Atas dasar inilah terapi
musik banyak digunakan di sekolah-sekolah modern di Amerika dan Eropa
untuk meningkatkan prestasi akademik siswa. Sedangkan di pusat rehabilitasi,
terapi musik banyak digunakan untuk menangani masalah kepikunan dan
kehilangan ingatan.
6. Kesehatan Jiwa
Seorang ilmuwan Arab, Abu Nasr al-Farabi (873-950M) dalam bukunya ''Great
Book About Music'', mengatakan bahwa musik membuat rasa tenang, sebagai
pendidikan

moral,

mengendalikan

emosi,

pengembangan

spiritual,

menyembuhkan gangguan psikologis. Pernyataannya itu tentu saja berdasarkan


pengalamannya dalam menggunakan musik sebagai terapi. Sekarang di zaman
modern, terapi musik banyak digunakan oleh psikolog maupun psikiater untuk
8

mengatasi berbagai macam gangguan kejiwaan, gangguan mental atau


gangguan psikologis.
7. Mengurangi Rasa Sakit
Musik bekerja pada sistem saraf otonom yaitu bagian sistem saraf yang
bertanggung jawab mengontrol tekanan darah, denyut jantung dan fungsi otak,
yang mengontrol perasaan dan emosi. Menurut penelitian, kedua sistem
tersebut bereaksi sensitif terhadap musik. Ketika kita merasa sakit, kita menjadi
takut, frustasi dan marah yang membuat kita menegangkan otot-otot tubuh,
hasilnya rasa sakit menjadi semakin parah. Mendengarkan musik secara teratur
membantu tubuh relaks secara fisik dan mental, sehingga membantu
menyembuhkan dan mencegah rasa sakit. Dalam proses persalinan, terapi
musik berfungsi mengatasi kecemasan dan mengurangi rasa sakit. Sedangkan
bagi para penderita nyeri kronis akibat suatu penyakit, terapi musik terbukti
membantu mengatasi rasa sakit.
8. Menyeimbangkan Tubuh
Menurut penelitian para ahli, stimulasi musik membantu menyeimbangkan
organ keseimbangan yang terdapat di telinga dan otak. Jika organ
keseimbangan sehat, maka kerja organ tubuh lainnya juga menjadi lebih
seimbang dan lebih sehat.
9. Meningkatkan Kekebalan Tubuh
Dr. John Diamond dan Dr David Nobel, telah melakukan riset mengenai efek
dari musik terhadap tubuh manusia dimana mereka menyimpulkan bahwa:
Apabila jenis musik yang kita dengar sesuai dan dapat diterima oleh tubuh
manusia, maka tubuh akan bereaksi dengan mengeluarkan sejenis hormon
(serotonin ) yang dapat menimbulkan rasa Nikmat dan senang sehingga tubuh
akan menjadi lebih kuat (dengan meningkatnya sistem kekebalan tubuh) dan
membuat kita menjadi lebih sehat.
10. Meningkatkan Olahraga
Mendengarkan musik selama olahraga dapat memberikan olahraga yang lebih
baik dalam beberapa cara, di antaranya meningkatkan daya tahan,
9

meningkatkan mood dan mengalihkan Anda dari setiap pengalaman yang tidak
nyaman selama olahraga.
Hasil riset menunjukkan bahwa terapi musik sangat efektif dalam
meredakan kegelisahan dan stress, mendorong perasaan rileks, meredakan
depresi dan mengatasi insomnia. Terapi musik membantu banyak orang yang
memiliki masalah emosional, membuat perubahan positif, menciptakan suasana
hati yang damai, membantu memecahkan masalah dan memperbaiki konflik
internal.
Ternyata penyembuhan terapi musik tidak hanya terbatas pada
kesehatan mental atau untuk masalah psikologis saja. Telah dilakukan studi
terhadap pasien-pasien penderita luka bakar, penyakit jantung, hipertensi,
stroke, nyeri kronis, alergi, maag, kanker dan penyakit lainnya, terapi musik
juga bisa digunakan untuk membantu proses penyembuhan.
Beberapa manfaat penting bagi orangtua dengan adanya terapi musik
untuk orangtua, yakni :
1. Musik efekfif untuk mengasah dan mengembangkan kemampuan musik
mereka dan untuk memenuhi kebutuhan rohani. Sehingga meningkatkan
perasaan yang nyaman.
2. Usia tua sering terkait dengan stres, dampaknya seperti hipertensi. Terapi
ini membantu untuk mengurangi stres, bisa bersantai dan membangun
keterampilan sosial.
3. Terapi musik manjur untuk pengurangi komplikasi jantung dan tekanan
psikologis.
4. Kepikunan sering merupakan masalah besar orang tua yang membawa
mereka kurang fokus. Oleh karena itu terapi musik dapat membantu dalam
meningkatkan fokus dan keselarasan perasaan dan impuls. Selain itu juga
membantu dalam meningkatkan konsentrasi mereka.
5. Terapi musik dapat membantu mengaktifkan sel-sel otak secara efektif. Hal
ini juga membantu dalam meremajakan sel-sel memori, efektif memerangi
kondisi seperti demensia.
10

6. Terapi musik mampu memperbaiki fungsi kekebalan tubuh


7. Semakin tua, maka seseorang cenderung mengalami berbagai macam rasa
sakit. Terapi musik membantu dalam mengurangi rasa sakit dan
mempercepat siklus pemulihan pada individu tertentu.
Orang tua/ Lansia dapat berpartisipasi dalam terapi melalui cara berikut:
a.

Mereka dapat meminta untuk sebuah lagu favorit

b. Mendengarkan musik
c. Berpartisipasi dalam menyanyi
d.

Memainkan alat

e. Tari musik
f.

Menulis lagu

g.

Lakukan dalam sebuah band

h. Diskusikan perasaan dengan ahli terapi

2.1.4

Dampak Positif Terapi Musik

Efek-efek positif dari mendengarkan jenis-jenis musik tertentu. Diantaranya:


1. Jazz.
Penelitian oleh Blaum pada tahun 2003 mendapatkan hasil bahwa setelah para
siswa mendengarkan musik jazz, mod mereka menjadi lebih enak, sehingga
membantu para siswa untuk belajar. Hasil penelitian ini kemudian diterapkan
oleh Norman L. Barber dan Jameson L. barber dengan memberikan CD Jazz
for Success pada mahasiswa tingkat pertama Universitas Massachusetts.
Mereka memberikan CD tersebut dengan tujuan agar mahasiswa tingkat satu
dapat mengatasi emosi negatif (marah, cemas, depresi, takut) karena sulit
menyesuaikan diri dengan dunia perkuliahan (Lihat Kawanku, edisi 40: 2006)
2. Rock.

11

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Leigh Riby dan George Caldwell, Psikolog
dari Glasgow Cladenian University membuktikan bahwa siswa yang
mendengarkan musik rock hanya membutuhkan sedikit kerja otak untuk
mengerjakan tugas dengan baik. Selain itu, musik rock dapat meningkatkan
produtivitas ketika sedang bekerja (Lihat Kawanku, edisi 40: 2006). Beberapa
contoh musik rock yang layak didengarkan (vatonie collection): Dream
Theater, Rush, Hammerfall, Scorpion, SOAD, The Queen, dll).

3. Klasik.
Manfaat-manfaat musik klasik sudah banyak diketahui terutama Efek Mozart.
Terlepas dari banyaknya pro dan kontra tentang Efek Mozart ini, beberapa
penelitian menunjukkan bahwa musik Mozart bermanfaat dalam bidang
kesehatan. Samuel Halim dalam penelitiannya menemukan bahwa efek Mozart
dapat membantu penyembuhan penyakit Alzheimer (Sakit yang biasa diderita
oleh lanjut usia ditandai dengan susah berjalan, bicara, jarang bergaul).
Penelitian lain yang dilakukan oleh Campbell menemukan bahwa musik klasik
bisa membantu penyembuhan penyakit-penyakit, seperti stress, kanker,
dyslexia, dan tekanan darah tinggi. Beberapa contoh musik klasik yang layak
didengarkan (vatonie collection): The Ultimate Mozart Album, Maksim, The
Most Relaxing Classical Album in The World Ever, dll.

2.1.5

Langkah-Langkah Terapi Musik


Pada jurnal Music Therapy In Moderate and Severe Dementia Of

Alzheimers Type: a CaseControl Study dibahas beberapa langkah dalam


melakukan terapi musik pada Dimensia alzheimer, yaitu tiap kelompok/ sesi terdiri
dari Tiga atau empat orang. Lagu yang dipilih dalam kelompok adalah lagu yang
familiar bagi lansia di Irlandia. Lagu dipilih dalam kelompok secara bersama-sama
oleh peserta dan terapis dan kemudian disepakati bersama untuk dinyanyikan.
Lagu yang dipilih kemudian dinyanyikan bersama sebanyak 2 kali/ lagu. Peserta
12

yang tidak mengerti lagu yang disepakati tersebut, dapat melihat teks lagu
kemudian ikut bernyanyi atau hanya mendengarkan saja. Di antara jeda lagu lagu
peserta berbincang atau berdiskusi satu sama lain atau dengan terapis.
Lagu yang dibawakan dapat diiringi gitar (oleh terapis) atau berbagai jenis
instrumen lain (oleh pasien) yang dipilih. Awalnya mungkin akan banyak banyak
peserta yang enggan untuk menggunakan instrumen tapi kemudian mereka akan
bergabung dengan yang lain dan tampak menikmati sesi. instrumen tersebut juga
digunakan untuk berimprovisasi dengan atau tanpa tema lagu. Peserta di bebaskan
bergerak dan menari selaras dengan musik yang dinyanyikan

2.2

Konsep Lanjut Usia


2.2.1 Definisi Menua
Menua atau menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan
memepertahankan struktur dan fungsi normalnya sehinnga tidak bertahan terhadap
jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua
merupakan proses scara terus menerus dan bekelanjutan serta alamian dan pada
umumnya dialami oleh semua makhluk hidup. (Nugroho, 2008).
Penuaan adalah proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara
terus menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubahan
anatomis, fisiologis, dan biokimia dalam tubuh, sehingga akan memengaruhi
fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. (Depkes RI, 2001).

2.2.2

Batasan Lanjut Usia

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), ada empat tahapan yaitu :


a. Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) usia > 90 tahun
13

Menurut Hurlock (1979), perbedaan lanjut usia terbagi dalam dua tahap, yaitu:
a. Early old age ( usia 60-70 tahun)
b. Advanced old age (usia 70 tahunke atas )
Menurut Burnside (1979), ada emapat tahap usia lanjut, yaitu :
a.
b.
c.
d.

Young old usia 60-69 tahun


Middle age usia 70-79 tahun
Oldold usia 80-89 tahun
Very old-old usia 90 tahun keatas
(Nugroho, 2008)

2.2.3

Perubahan Akibat Proses Menua


a. Perubahan Fisik

1)

Sel
Sel terjadi perubahan menjadi lebih sedikit jumlahnya/menurun,
ukuran sel lebih besar, jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler
berkurang, proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati
menurun, mekanisme perbaikan sel terganggu, otak menjadi
atrofi beratnya berkurang 5-10%, lekukan otak akan menjadi

2)

lebih dangkal dan melebar.


Sistem Persyarafan
Cepatnya menurun hubungan persyarafan, berat otak menurun
10-20%, (setiap orang berkurang sel saraf otaknya dalam setiap
harinya), respon dan waktu untuk bereaksi lambat (khususnya
terhadap stres), mengecilnya saraf panca indera, berkurangnya
penglihatan,

hilangnya

pendengaran,

mengecilnya

syaraf

pencium dan perasa, lebih sensitif terhadap perubahan suhu,


3)

kurang sensitif terhadap sentuhan dan defisit memori.


Sistem Pendengaran
Presbiakusis (gangguan dalam pendengaran). Hilangnya
kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap

14

bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas,
sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65
tahun, otosklerosis akibat atrofi membran tympani, terjadinya
pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya
keratin, pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang
mengalami ketegangan jiwa/stress.
4)Sistem Penglihatan
Respon terhadap sinar menghilang, kornea lebih berbentuk sferis
(bola), lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak,
jelas menyebabkan gangguan penglihatan, meningkatnya ambang
pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat
dan susah melihat dalam cahaya gelap, penurunan/hilangnya
5)

daya akomodasi.
Sistem Kardiovaskuler
Katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung
memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20
tahun, hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan
volumenya, kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya
efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenisasi, perubahan
posisi dari tidur ke duduk (duduk ke berdiri) bisa menyebabkan
tekanan darah menurun menjadi 65 mmhg (mengakibatkan
pusing mendadak), tekanan darah meninggi diakibatkan oleh
meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer.

6)

Sistem Pengaturan Suhu Tubuh

15

Temperatur tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis akibat


metabolisme yang menurun, keterbatasan refleks menggigil dan
tidak dapat memproduksi panas akibatnya aktivitas otot menurun.
7)

Sistem Pernapasan
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku,
menurunnya aktivitas dari silia, paru-paru kehilangan elastisitas,
menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum
menurun, dan kedalaman bernafas menurun, alveoli ukuranya
melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang, kemampuan untuk
batuk berkurang, kemampuan kekuatan otot pernafasan akan

8)

menurun seiring dengan pertambahan usia.


Sistem Pencernaan
Kehilangan gigi akibat periodontal disease, kesehatan gigi yang
buruk dan gizi yang buruk, indera pengecap menurun, hilangnya
sensitivitas saraf pengecapan di lidah terhadap rasa manis, asin,
asam, dan pahit, eosephagus melebar, rasa lapar menurun, asam
lambung menurun, peristaltik lemah dan biasanya timbul

9)

konstipasi, fungsi absorbsi melemah.


Sistem Reproduksi
Vagina mengalami kontraktur dan mengecil, menciutnya ovari
dan uterus, atrofi payudara, atrofi vulva, selaput lendir vagina
menurun dan sekresi berkurang.
10) Sistem Perkemihan
Ginjal Merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme
tubuh melalui urin, darah yang masuk ke ginjal disaring di
glomerulus (nefron). Nefron menjadi atrofi dan aliran darah ke
ginjal menurun sampai 50%. Otot-otot vesika urinaria menjadi
lemah, menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat.
16

11)

Sistem Endokrin
Produksi semua hormon menurun, fungsi paratiroid dan
sekresinya tidak berubah, hipofisis: pertumbuhan hormon ada
tapi lebih rendah dan hanya di dalam pembuluh darah,
menurunnya

aktivitas

tyroid,

menurunnya

BMR

(Basal

Metabolic Rate), dan menurunnya daya pertukaran zat,


menurunya sekresi hormon kelamin misalnya, progesteron dan
12)

estrogen.
Sistem Integumen
Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak,
permukaan kulit kasar dan bersisik, terjadi perubahan pada
daerah sekitar mata timbul kerut-kerut halus, respon terhadap
trauma menurun, kulit kepala dan rambut menipis berwarna
kelabu, rambut dalam hidung dan telinga menebal, jumlah dan

13)

fungsi kelenjer keringat berkurang.


Sistem Muskuloskeletal
Tulang kehilangan densitas (cairan) dan semakin rapuh, kekuatan
dan stabilitas tulang menurun, kifosis, gerakan pinggang, lutut
terbatas, gangguan gaya berjalan, persendian membesar dan
menjadi kaku, tendon mengerut dan mengalami sklerosis,
komposisi otot berubah sepanjang waktu.
(Nugroho,2008)
b. Perubahan Mental
1) Di bidang mental atau psikis pada lanjut usia, perubahan dapat
berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah curiga, cemas,
bertambah pelit atau tamak bila memiliki sesuatu.

17

2) Yang perlu dimengerti adalah sikap umum yang ditemukan pada


hampir setiap lanjut usia, yakni keinginan berumur panjang,
tenaganya sedapat mungkin didapat.
3) Mengkarapkan tetap diberi peranan dalam masyarakat.
4) Ingin mempertahankan hak dan hartanya, serta ingin tetap
berwibawa.
5) Jika meninggal pun, mereka ingin meninggal secara terhormat
dan masuk surga, (Nugroho, 2008).
c. Perubahan Kenangan (Memori)
Kenangan jangka panjang, beberapa jam sampai beberapa hari yang
lalu dan mencakup beberapa perubahan. Kenangan jangka pendek
atau seketika (0-10 menit), kenangan buruk (bisa kearah dimensia),
(Nugroho, 2008).

d. Perubahan Intelegentia question (IQ)


IQ tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan
verbal.

Penampilan,

persepsi,

dan

ketrampilan

psikomotor

berkurang. Terjadi perubahan pada daya membayangkan karena


tekanan faktor waktu, (Nugroho, 2008).
e. Perubahan Psikososial
Nilai seseorang sering diukur melalui produktivitasnya dan
identitasnya dikaitkan dengan peran dalam pekerjaan. Bila
mengalami pensiun (purnatugas), seseorang akan mengalami
1)

kehilangan, antara lain:


Kehilangan finansial (pendapatan berkurang).
2) Kehilangan status (dulu mempunyai jabatan/posisi yang cukup
tinggi, lengkap dengan semua fasilitas).
18

3) Kehilangan teman/kenalan.
4) Kehilangan pekerjaan.
(Nugroho, 2008).
f. Perubahan Spiritual
1) Agama/kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan,
(Maslow,1970).
2) Lanjut usia semakin matur dalam kehidupan keagamaannya. Hal
ini terlihat dalam berpikir dan bertindak sehari-hari, (Murray dan
Zentner,1970).
3) Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun menurut Folwer
(1978), universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat
ini adalah berpikir dan bertindak dengan cara memberi contoh
cara mencintai dan keadilan.
(Nugroho, 2008).
g. Perubahan Sosial
Lanjut usia jarang mengetahui dunia luar, kurang menikmati
keadaan di luar, merasa jemu hal itu dikarenakan penurunan
kekuatan fisiknya sehingga sisoalisasi mereka menjadi berkurang,
(Nugroho, 2008).

2.3

Konsep Memori
2.3.1

Definisi Memori
Memori (daya ingat) adalah kemampuan individu untuk menyimpan

informasi dan informasi tersebut dapat dipanggil kembali dapat digunakan


beberapa waktu kemudian.
Memori merupakan inti dari perkembangan kognitif, sebab segala bentuk
belajar dari individu melibatkan memori.Dengan memori individu dapat
menyimpan segala informasi yang dia terima.

19

2.3.2

Model Penyimpanan Memori


1. Memori sensori (Sensory Memory)
2. Memori jangka pemdek (Short Term Memory, STM)
3. Memori jangka panjang (Long Term Memory, LTM)

2.3.3

Definisi Memori Jangka Pendek


Memori jangka pendek merupakan penyimpanan sementara peristiwa atau

item yang diterima dalam sekejap, yakni kurang dari beberapa menit biasanya
malah lebih pendek (beberapa detik). Memori jangka pendek tidak permanen
penyimpanannya jadi akan terhapus dalam waktu pendek kecuali kalau diupayakan
secara khusus dengan mengulang-ulang. Memori jangka pendek dicirikan oleh
ingatan 5 10 item setelah beberapa detik atau beberapa menit. Materi yang
dipakai dalam pengukuran memori janga pendek metupakan rangkaian yang tidak
berurutan satu sama lain, berupa angka, huruf atau symbol. Tes rentang memori
pada umumnya dimasukkan kedalam test intelegensi yang dibakukan itemnya.
Dengan menggnakan test ini, terbukti bahwa adanya peningkatan memori jangka
pendek pada lanjut usia dengan demensia.

2.3.3

Faktor Yang Mempengaruhi Memori


1. Umur
2. Genetik
3. Nutrisi
4. Hormon Tyroid
5. Stimulus
6. Infeksi
7. Brain injury
8. Epilepsi
20

2.4

Konsep Demensia
2.4.1

Definisi Demensia
Demensia adalah suatu penyakit penurunan kognitif, gangguan intelektua,

daya ingat, yang makin lama makin memburuk (progresif) dan tidak dapat diubah
(irreversible)

2.4.2

Penyebab Dimensia
1. Usia : pertambahan usia memang menjadi salah satu factor resiko
paling penting seorang menderita penyakit dimensia ( usia > 40 tahun )
2. Genetik : Individu yang memiliki hubungan keluarga dekat dengan
penderitya beresiko 2x lipat untuk terkena dimensia.
3. Jenis Kelamin : Prevalensi perempuan yang menderita dimensia lebih
tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Dikarenakan usia harapan hidup
wanita lebih lama disbanding laki-laki.
4. Pendidikan : Seseorang memiliki tingkat pendidikan tinggi memiliki
factor pelindung dari dimensia. Hal ini disebabkan karena edukasi
berhubungan erat dengan intelegensi.
5. Trauma Kepala : Berberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan
antara Alzeimer dengan trauma kepala.

2.4.3

Manifestasi Klinis Dimensia


1. Rusaknya saluran jajaran fungsi kognitif
2. Awaknya gangguan data ingat jangka pendek
3. Gangguan perilaku dan kepribadian
4. Defisit neurologi dan fokal
5. Mudah tersinggung, bermusuhan, angitasi, perubahan Moodly.
21

6. Gangguan psikotik ; Halusinasi, ilusi, waham, paranoid


7. Gangguan bahasa
8. Dll

2.5

Kajian Jurnal-Jurnal Penelitian Tentang Terapi Musik & Peningkatan


Memori Jangka Pendek Pada Pasien Dengan Dimensia.
1. Dari Jurnal Ilmu Keperawatan
Berdasarkan jurnal ilmu keperawatan, dimana penelitian ini dilakukan pada
bulan Mei 2013, dengan judul EFEKTIVITAS ANTARA PENGGUNAAN
EEA

(EXPLICIT

INTERNAL

AIDS)

EKSTERNAL
SEBAGAI

AIDS)

DENGAN

MNEMONIC

IIA

(IMPLICIT

STRATEGY

DALAM

MENINGKATKAN MEMORI PADA LANSIA didapatkan memori jangka


pendek dari tes Immediate Free Recall (IFR) sebelum dan sesudah intervensi
pada kedua kelompok mengalami peningkatan. Kelompok intervensi EEA
mampu menyampaikan kembali informasi yang disampaikan kurang lebih 5
item kata sebelum diberikan intervensi, setelah diberikan intervensi kemampuan
responden meningkat sehingga mampu menyampaikan 9 item kata. Sedangkan
Responden pada kelompok intervensi IIA mampu menyampaikan kembali 4
item kata sebelum diberikan intervensi dan hasil penilaian setelah intervensi
menunjukkan bahwa kemampuan responden meningkat menjadi 8 item kata.
Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan memori jangka pendekkedua
kelompok mengalami peningkatan setelah diberikan intervensi. Peningkatan
kemampuan memori jangka pendek pada responden EEA lebih tinggi dari pada
responden IIA. sebelum dan sesudah dilakukan intervensi.
22

Peningkatan kemampuan memori jangka pendek pada responden EEA lebih


tinggi dari pada responden IIA. Hasil uji statistik paired t-test dengan tingkat
kemaknaan = 0,05 pada kelompok intervensi EEA diperoleh nilai p=0.000.
Nilai p pada kelompok intervensi EEA p=0.000, sehingga menunjukkan bahwa
ada perbedaan hasil penilaian IFR pada kelompok

intervensi dengan

menggunakan metode EEA antara sebelum dan sesudah intervensi. Sedangkan


pada kelompok intervensi IIA diperoleh nilai p=0.000, sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa ada perbedaan hasil penilaian IFR pada kelompok intervensi
IIA sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Berdasarkan hasil analisis
menyatakan bahwa intervensi menggunakan kedua metode baik EEA maupun
IIA mempunyai pengaruh terhadap hasil penilaian IFR. Peneliti ingin
mengetahui apakah ada perbedaan antara antara kedua metode tersebut, untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan antara metode EEA dengan IIA peneliti
menggunakan uji statistik Independen t-test. Berdasarkan uji statistic
independen ttest diperoleh nilai p=0.021, hal ini berarti H0 di tolak. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan antara penggunaan metode EEA
dengan IIA terhadap peningkatan hasil penilaian memori yang berupa tes IFR
(Immediate Free Recall).

2. Dari Jurnal Nurul Hidayati


Berdasarkan jurnal Nurul Hidayati, dimana penelitian ini dilakukan
pada February 2013 pada Lansia di UPTD Griya Wreda Surabaya yang berjudul
MEMORY TRAINING MENINGKATKAN MEMORI JANGKA PENDEK
LANSIA maka dapat disimpulkan bahwa memori jangka pendek sebelum
diberikan tindakan memory training menunjukkan belum ada responden yang
dapat menggambar jam dengan tepat. Recall test sebelum diberikan tindakan
memory training menunjukkan hanya ada satu responden yang dapat
menyebutkan 9 kata dengan tepat. Memori jangka pendek sesudah diberikan
tindakan memory training menunjukkan ada 6 responden (60 %) yang dapat
menggambar jam dengan tepat. Recall test sesudah tindakan memory training
menunjukkan ada 2 responden (20%) dapat menyebutkan 9 kata dengan tepat.
Hasil analisis menggunakan uji paired ttest pada kelompok intervensi
23

menunjukkan nilai p=0.000 pada clock drawing test dan p=0.002 pada recall
test. Nilai p0.05 yang berarti bahwa adanya pengaruh pemberian tindakan
memory training pada kelompok intervensi. Berdasarkan hasil uji independent
t-test menunjukkan nilai p=0.031 pada clock drawing test dan p=0.018 pada
recall test. Nilai p0.05, hal ini berarti bahwa adanya pengaruh memory
training terhadap kemampuan memori jangka pendek pada Lansia di
UPTD Griya Wreda Surabaya.

2.6

Alat Ukur Memori Jangka Pendek


SHORT PORTABLE MENTAL STATUS QUESTIONNAIRE (SPMSQ)
Penilaian Untuk Mengetahui Fungsi Intelektual Lansia

Nama

Jenis Kelamin :
Usia
Skor
+
-

:
No

Pertanyaan

1
2
3
4
5
7
8
9
10

Tanggal berapakah hari ini?


Hari apa sekarang?
Apa nama tempat ini?
Di mana alamat anda ?
Berapa usia anda ?
Siapa nama presiden sekarang ?
Kapan anda lahir ?
Siapa nama kecil anda ?
Menyebutkan Pengurangan 10 1 secara

Jawaban

menurun

Kesimpulan :
24

0 2 = fungsi intelektual utuh


3 4 = kerusakan intelektual ringan
5 7 = kerusakan intelektual sedang
7 10 = kerusakan intelektual berat

25

2.7

Kerangka Konseptual
Faktor-faktor yang
mempengaruhi dimensia
pada lanjut usia :
a.
b.
c.
d.

Umur
Jenis Kelamin
Tingkat Pendidikan
Genetik
e. Trauma Kepala

Lanjut Usia

Jenis Terapi Musik :


1. Terapi Musik Pasif
2. Terapi Musik Aktif

Musik Dangdut, Musik Rock, Musik


Jazz, Musik Klasik, Musik Keroncong.

Model Penyimpanan
Memori

Kategori SPMSQ

Keterangan :

Terapi Musik Aktif:

Intelektual Utuh (0-2)


Kerusakan Intelektual Ringan (3-4)
Kerusakan Intelektual Sedang (5-7)
Kerusakan Intelektual Berat (8-10)

: Tidak diteliti

: Ada pengaruh

: Diteliti

: Ada hubungan

a. Memori Sensori
b.b. Memori Jangka Pendek
c. Memori Jangka Panjang

Tingkatan Memori Jangka Pendek


Diukur Dengan SPMSQ

Pengaruh Pemberian Terapi Musik Aktif Terhadap Peningkatan Memori Jangka Pendek Pada Pasien Dimensia di Panti Werdha
Pangesti Lawang

26

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1

Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu menggunakan
pendekatan Quasi Eksperiment, pada dasarnya rancangan ini adalah rancangan
waktu. (Notoatmodjo, 2012). Penelitian ini menganalisa pengaruh pemberian terapi
music aktif terhadap peningkatan memori jamgka pemdek lansia dengan demensia
di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang. Bentuk rancangannya
sebagai berikut :
Kelompok Eksperimen
Pretest

Terapi Music Aktif

Post test

(Notoatmodjo, 2012)
Gambar 3.1: Quasi Eksperiment

3.2

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada hari

tanggal

15 Februari 2016.

Pelaksanaan penelitian pada waktu luang dan istirahat lansia di Panti Werdha
Pangesti Lawang Kabupaten Malang

3.3

Kerangka Kerja (Frame work)


Gambar 3.2 : Kerangka kerja (frame work)
POPULASI
Populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 30 orang

27

SAMPLING
Total Sampling
SAMPEL
Sebagian lansia di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang 30
orang
DESAIN PENELITIAN
Korelasional dengan pendekatan Quasi Eksperimen

IDENTIFIKASI VARIABEL
INDEPENDEN
Terapi Musik Aktif

IDENTIFIKASI VARIABEL
DEPENDEN
Peningkatan Memori Jangka Pendek

PRETEST
Pengukuran peningkatan memori jangka pendek dengan Kuesioner
Clossended
PERLAKUAN PEEMBERIAN TERAPI MUSIK PASIF
POSTEST
Pengukuran peningkatan memori jangka pendek dengan Kuesioner
Clossended

ANALISA DATA
Editing, Coding, Tabulating . (Uji Statistik dengan metode
Wilcoxon dengan bantuan SPSS 18 for windows 7)
KESIMPULAN
Jika hitung < tabel , maka Hi ditolak artinya ada Pengaruh
Jika hitung > tabel , maka
Ho diterima
artiya tidak ada Pengaruh
PENYAJIAN
DATA

Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan bentuk narasi.
Gambar 3.2

: Keranka kerja penelitian pengaruh terapi music aktif terhadap


peningkatan memori jangka pendek pada pasien demensia di
Panti Werdha Pangesti Lawang.

3.4

Desain Penelitian
3.4.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia di Panti Werdha Pangesti
Lawang Kabupaten Malang yang berjumlah 67 orang.
28

3.4.2

Sampel
Sebagian lansia di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang

sebanyak 30 orang.
3.4.3

Sampling
Pengambilan sampel dalam penelitian ini secara Purposive Sampling.

Jadi pemilihan sampel dilakukan dengan penentuan sampel berdasarkan


pertimbangan tertentu dari peneliti.
3.5

Identifikasi Variabel
3.5.1 Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terapi music aktif lansia di Panti
Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang.
3.5.2

Variabel Terikat (Dependent Variable)


Variabel terikat dalam penelitian ini adalah peningkatan memori jangka

pendek lansia dengan demensia yang tinggal di Panti Werdha Pangesti Lawang
Kabupaten Malang.

29

3.6

Tabel Definisi Operasional :Kerangka kerja penelitian hubungan pemberian terapi music pasif terhadap peningkatan memori
jangka pendek pada pasien demensia di Panti Werdha Pangesti Lawang
Identifikasi
Cara
Definisi Operasional
Indikator
Skala ukur
Skoring
Variabel
Mengukur
Variabel
Terapi Musik Aktif
Terapi Musik yang diberikan adalah :
bebas:
diberikan kepada
1. Musik Dangdut
Terapi Musik responden Dilakukan 2. Musik Pop
aktif
selama 1 Minggu.
3. Musik Jazz
4. Musik Keroncong
5. Musik Klasik

Variabel
terikat :
Peningkatan
memori
jangka pendek

Memori jangka
Alat ukur yang digunakan adalah
pendek penyimpanan Kuesioner yang terdiri dari 10 item.
sementara informasi
yang diterima. Alat
ukur memori jangka
pendek adalah
SHORT PORTABLE
MENTAL STATUS
QUESTIONNAIRE
(SPMSQ) yang terdiri
dari 10 item
pertanyaan.

Kuesioner
Clossended

Ordinal

Kategori :
1 Kesalahan 0-2 : Fungsi
Intelektual Utuh
2 Kesalahan 3-4 : Kerusakan
Intelektual Ringan
3 Kesalahan 5-7 : Kerusakan
Intelektuan Sedang
4 Kesalahan 8-10 : Kerusakan
Intelektual Berat

30

31

3.7

Pengumpulan Data dan Analisa Data


3.7.1

Pengumpulan Data

1. Proses Pengumpulan data


Proses pengumpulan data langsung mendatangi lansia yang akan dijadikan
sebagai responden pada waktu luang kemudian peneliti melakukan inform
consent kepada lansia yang akan dilakukan penelitian. Kemudian peneliti
melakukan wawancara kepada responden kemudian mengisi kuesioner yang
telah dijawab oleh responden. Kemudian kuisioner langsung dianalisa dan
dievaluasi.

2. Instrumen pengumpulan
Data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kuisioner tertutup
menggunakan Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ) yang
berjumlah 10 item dimana responden memilih jawaban kemudian dianalisa.

3.7.2

Metode Analisa Data


1 Editing
Editing adalah merupakan kegiatan untuk pengecekan dan
perbaikan isian formulir atau kuesioner (Notoatmodjo, 2012).

Coding
Coding adalah pemberian kode yakni mengubah data berbentuk
kalimat

atau

huruf

menjadi

data

angka

atau

bilangan

(Notoatmojo,2012).
a. Kode untuk variable peningkatan memori jangka pendek lanjut
usia :
Kode 1
Kode 2

: Fungsi Intelektual Utuh


: Kerusakan Intelektual Ringan

Kode 3

: Kerusakan Intelektual Sedang

32

Kode 4

: Kerusakan Intelektual Berat

b. Kode untuk jenis kelamin :


Kode 1
: Laki-Laki
Kode 2
: Perempuan
3.

Tabulating
Tabulating adalah kegiatan memasukkan data yang telah
dikumpulkan ke dalam master tabel atau database komputer, kemudian
membuat distribusi frekuensi sederhana.
a. Scoring
Pemberian skor untuk variabel peningkatan memori jangka pendek
pada lanjut usia :
Fungsi Intelektual Utuh
:1
Kerusakan Intelektual Ringan
:2
Kerusakan Intelektual Sedang
:3
Kerusakan Intelektual Berat
:4
b. Klasifikasi
Variabel peningkatan memori jangka pendek pada lanjut usia :
Penilaian diklasifikasikan dalam 4 kategori yaitu :

3.8

Kesalahan 0-2

: Fungsi Intelektual Utuh

Kesalahan 3-4

: Kerusakan Intelektual Ringan

Kesalahan 5-7

: Kerusakan Intelektuan Sedang

Kesalahan 8-10

: Kerusakan Intelektual Berat

Analisa Data
1.

Analisa Univariat
Setelah proses klasifikasi data selesai selanjutnya data tersebut
diubah ke bentuk prosentase yang mana frekuensi/alternatif jawaban

responden yang ada kemudian dikalikan 100%, maka dirumuskan :


F x 100
P=
N
Keterangan :
33

: Nilai akhir/prosentase

: Frekuensi

N : Jumlah responden
Untuk variable independen dan dependen hasil skor
penilaian diinterpretasikan dengan skala kualitatif yaitu :
Prosentas
e
0
1- 24%
25 - 49%
50%
51 -7 4%
75 - 99%
100%

Kriteria
Tidak ada
Sebagian kecil
Kurang dari setengahnya
Setengahnya
Sebagian besar
Hampir seluruhnya
Seluruhnya

(Arikunto, 2006)
Setelah mengalami proses pengolahan data akan disajikan dalam bentuk tabel
distribusi frekwensi dan narasi sederhana mengenai hasil table distribusi
frekuensi. Narasi digunakan untuk menyampaikan ulasan mengenai data dengan
nilai mencolok atau ekstrim, sehingga lebih komunikatif (Arikunto, 2006).

2. Analisa Bivariat
Uji statistik dalam penelitian ini menggunakan rumus Wilcoxon dengan bantuan
SPSS 18 for windows 7) (Dahlan, 2013). Dimana rumus Wilcoxon digunakan
untuk melihat peningkatan memori jangka pendek sebelum (pretest) dan
sesudah (postest) diberikan terapi music pasif.

Cara Penarikan Kesimpulan


hitung > tabel
a. Jika
atau nilai signifikasi (p) < 0.05, maka Hi ditolak artinya
terdapat pengaruh

pemberian terapi music aktif

terhadap peningkatan

34

memori jangka pendek pada lansia dengan demensia di Panti


Pangesti Lawang.
hitung < tabel
b. Jika

Werdha

atau nilai signifikasi (p) > 0.05, maka Ho diterima

artinya tidak ada pengaruh

pemberian terapi music aktif

terhadap

peningkatan memori jangka pendek pada lansia dengan demensia di Panti


Werdha Pangesti Lawang.

3.9

Etika Penelitian
3.9.1

Lembar Persetujuan (Informed Consent)


Informed Consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti
dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.
Informed Consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan
dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden. Jika
responden bersedia diteliti maka responden harus menandatangani lembar
persetujuan, (Hidayat, 2014).

3.9.2

Tanpa Nama (Anonimity)


Tanpa nama (Anonimity) digunakan untuk menjaga kerahasiaan
identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden secara
lengkap pada lembar pengumpulan data (lembar observasi), tetapi diganti
dengan inisial nama, (Hidayat, 2014).

3.9.3

Kerahasiaan (Confidentiality)
Confidentiality merupakan masalah etika dengan memberikan
jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalahmasalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin
kerahasiaannnya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan
dilaporkan pada hasil riset, (Hidayat, 2014).
35

3.10.

Keterbatasan Penelitian
Dimana dalam penelitian ini jenis terapi music aktif yang digunakan terlalu
banyak (music dangdut, music pop, music klasik, music jazz, music keroncong)
sehingga kami selaku peneliti tidak dapat mengetahui secara pasti jenis music apa
yang dapat meningkatkan memori jangka pendek pada pasien lansia dengan
dimensia di Panti Wedha Pangesti Lawang.

BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Penelitian
Pada bab ini disajikan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh
pemberian terapi music aktif terhadap peningkatan memori jangka pendek lansia
dengan demensia di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang. Adapun
hasil dari penelitian akan disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi dan
narasi.
Data umum pada penelitian ini meliputi lokasi penelitian dan karakteristik
responden. Sedangkan pada data khusus meliputi memori jangka pendek pada
lansian. Kemudian menganalisis peningkatan memori jangka pendek lansia dengan
demensia sebelum (pretest) dan sesudah (postest) diberikan terapi music aktif.
dengan menggunakan uji Wilcoxon.

4.1.1

Data Umum
36

Penelitian dilaksanakan di Panti Werdha Pangesti Lawang


Kabupaten Malang.

4.1.2

Distribusi Data Umum


1. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
Tabel 4.1: Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis
Kelamin Lansia di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten
Malang.
No Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%)
1 Laki-Laki
10
33%
2 Perempuan
20
67%
Total
30
100%
Sumber: Data Primer Penelitian Tahun 2016
Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan data bahwa dari 30 responden
sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 20
responden (67%) dan sebagian kecil responden berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 10 responden (33%).

4.1.3

Data Khusus
Dalam data khusus ini disajikan mengenai peningkatan memori
jangka pendek pada lansia dengan demensia tingkat sebelum (pretest) dan

37

sesudah (postest) diberikan terapi music aktif di Panti Werdha Pangesti


Lawang Kabupaten Malang.
1. Tingkat memori jangka pendek lansia dengan demensia sebelum
(pretest) dan sesudah (postest) diberikan terapi music aktif di Panti
Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang.

90%
80%
70%
60%
50%
Pretest

40%

Postest

30%
20%
10%
0%
Utuh

Sedang

Ringan

Berat

Sumber: Data Primer Penelitian Tahun 2016


Berdasarkan Diagram 4.2 didapatkan data bahwa dari 30 responden
sebelum (pretest) diberikan terapi music aktif sebagian besar responden
mengalami kerusakan intelektual sedang sebanyak 26 responden (86%) dan
sebagian kecil responden mengalami kerusakan intelektual berat sebanyak
2 responden (7%) dan ringan sebanyak 2 responden (7%).
38

Serta dari 30 responden sesudah (postest) diberikan terapi music


aktif sebagian besar responden mengalami keutuhan intelektual sebanyak
15 responden (15%) dan sebagian kecil responden mengalami kerusakan
intelektual sedang sebanyak 23 orang (50%).

2. Tabulasi silang memori jangka pendek pada lansia dengan


dimensia sebelum (pretest) dan sesudah (postest) diberikan terapi
music aktif di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang.
Tabel 4.3: Tabulasi silang memori jangka pendek pada lansia dengan
dimensia sebelum (pretest) dan sesudah (postest) diberikan
terapi music aktif di Panti Werdha Pangesti Lawang
Kabupaten Malang.
Tingkat Memori Jangka Pendek
Utuh
Ringan
Sedang
Berat
Perlakuan
F
%
f
%
F
%
F
Pretest
0
0
2
7
26
86
2
Postest
15
50
8
27
7
23
0
Sumber: Data Primer Penelitian Tahun 2016

%
7
0

Total
%
100
100

F
30
30

Berdasarkan table 4.3 didapat bahwa hasil dari tabulasi silang pada
30 responden sebelum (pretest) diberikan terapi music aktif sebagian besar
responden mengalami kerusakan intelektual sedang sebanyak 26 responden
(86%) dan sebagian kecil responden mengalami kerusakan intelektual berat
sebanyak 2 responden (7%) dan ringan sebanyak 2 responden (7%) dan
sesudah (postest) diberikan terapi music aktif sebagian besar responden
mengalami keutuhan intelektual sebanyak 15 responden (15%) dan

39

sebagian kecil responden mengalami kerusakan intelektual sedang


sebanyak 23 orang (50%).

4. Analisa memori jangka pendek pada lansia dengan dimensia


sebelum (pretest) dan sesudah (postest) diberikan terapi music aktif di
Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang.
Tabel 4.4 : Hasil Analisa Peningkatan Memori Jangka Pendek Pada Lansia
Dengan Dimensia Sebelum (Pretest) dan Sesudah (Postest) di
berikan terapi Musik Aktif di Panti Werdha Pangesti Lawang
Kabupaten Malang.

N
Sebelum Terapi Musik Aktif
Sesudah Terapi Musik Aktif

30

Mean
(minimum-maksimum )
2,17 ( 2 4 )

P
0,000

30

1,00 ( 1 3 )

Uji Wilcoxon
Dari table 4.4, dengan melihat significancy P yang besarnya 0,000, karena nilai
P < 0,05, dapat disimpulkan bahwa H a ada pengaruh, yang artinya terdapat pengaruh
yang sangat signifikan antar sebelum (pretest) dan sesudah (postest) diberikan terapi
music aktif pada lasnia dengan dimensia Aktif

di Panti Werdha Pangesti Lawang

Kabupaten Malang.

40

4.2

Pembahasan
Setelah dilakukan penelitian oleh peneliti pada bulan februari 2016
didapatkan data umum sebagai berikut bahwa dari 30 responden sebagian besar
responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 20 responden (67%) dan
sebagian kecil responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 10 responden (33%).
Data khusus yang didapat dalam penelitian yang dilakukan pada bulan
februari 2016 adalah sebagai berikut bahwa dari 30 responden sebelum (pretest)
diberikan terapi music aktif sebagian besar responden mengalami kerusakan
intelektual sedang sebanyak 26 responden (86%) dan sebagian kecil responden
mengalami kerusakan intelektual berat sebanyak 2 responden (7%) dan ringan
sebanyak 2 responden (7%). Dan didapatkan data bahwa dari 30 responden
sesudah (postest) diberikan terapi music aktif sebagian besar responden mengalami
keutuhan intelektual sebanyak 15 responden (15%) dan sebagian kecil responden
mengalami kerusakan intelektual sedang sebanyak 23 orang (50%).
Dari hasil uji Wilxocon, dengan melihat significancy P yang besarnya
0,000, karena nilai P < 0,05, dapat disimpulkan bahwa H a ada pengaruh, yang
artinya terdapat pengaruh yang sangat signifikan antar sebelum (pretest) dan
sesudah (postest) diberikan terapi music aktif pada lasnia dengan dimensia Aktif
di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang.
Pemberian terapi music aktif sangatlah berpengaruh terhadap peningkatan
memori jangka pendek pada lansia dengan dimensia di Panti Werdha Pangesti
Lawang Kabupaten Malang ini dibuktikan dengan dilakukannya penelitian pada
bulan februari 2016 dimana hasil uji statistic menggunakan Wilcoxon didapatkan
nilai significancy P yang besarnya 0,001.
41

Faktor yang mempengaruhi dimensia antara lain usia, genetic, jenis


kelamin, tingkat pendidikan, trauma kepala.
Usia, pertambahan usia memang menjadi salah satu factor resiko paling
penting seorang menderita penyakit dimensia ( usia > 40 tahun ).
Genetik, Individu yang memiliki hubungan keluarga dekat dengan
penderitya beresiko 2x lipat untuk terkena dimensia.
Jenis Kelamin, Prevalensi perempuan yang menderita dimensia lebih tinggi
dibandingkan dengan laki-laki. Dikarenakan usia harapan hidup wanita lebih lama
disbanding laki-laki.
Pendidikan, Seseorang memiliki tingkat pendidikan tinggi memiliki factor
pelindung dari dimensia. Hal ini disebabkan karena edukasi berhubungan erat
dengan intelegensi.
Trauma Kepala, Berberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan
antara Alzeimer dengan trauma kepala.
Memori (daya ingat) adalah kemampuan individu untuk menyimpan
informasi dan informasi tersebut dapat dipanggil kembali dapat digunakan
beberapa waktu kemudian. Model penyimpanan memori dibagi menjadi 3 yaitu
Memori sensori (Sensory Memory), Memori jangka pendek (Short Term Memory,
STM), Memori jangka panjang (Long Term Memory, LTM).
Dalam penelitian ini peneliti meneliti peningkatan memori jangka pendek
(Short Term Memory, STM). Memori jangka pendek merupakan penyimpanan
sementara peristiwa atau item yang diterima dalam sekejap, yakni kurang dari
beberapa menit biasanya malah lebih pendek (beberapa detik). Memori jangka
pendek tidak permanen penyimpanannya jadi akan terhapus dalam waktu pendek
kecuali kalau diupayakan secara khusus dengan mengulang-ulang. Memori jangka
pendek dicirikan oleh ingatan 5 10 item setelah beberapa detik atau beberapa
menit. Materi yang dipakai dalam pengukuran memori janga pendek metupakan
rangkaian yang tidak berurutan satu sama lain, berupa angka, huruf atau symbol.
Tes rentang memori pada umumnya dimasukkan kedalam test intelegensi yang
dibakukan itemnya. Dengan menggnakan test ini, terbukti bahwa adanya
peningkatan memori jangka pendek pada lanjut usia dengan demensia.
42

Pengukuran memori jangka pendek menggunakan SHORT PORTABLE


MENTAL STATUS QUESTIONNAIRE (SPMSQ), Penilaian Untuk Mengetahui
Fungsi Intelektual Lansia yang terdiri dari 10 item pertanyaan dan di kategorikan
menjadi 0 2 = Fungsi Intelektual Utuh, 3 4 = Kerusakan Intelektual Ringan, 5
7 = Kerusakan Intelektual Sedang, 7 10 = Kerusakan Intelektual Berat.
Terapi Musik merupakan materi yang mampu mempengearuhi kondisi
seseorang baik fisik maupun mental. Musik member rangsangan pertumbuhan
fungsi-fungsi otak, fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara serta analisis
intelek dan fungsi kesadaran, (Satiadarma, 2004).
Secara garis besar terapi music dibagi menjadi terapi music aktif dan terapi
music pasif. Yang termasuk terapi music aktif adalah pasien diajak bernyanyi,
belajar main menggunakan alat musik, menirukan nada-nada, bahkan membuat
lagu singkat. Dengan kata lain pasien berinteraksi aktif dengan dunia musik.
Sedangkan terapi music pasif adalah pasien tinggal mendengarkan dan menghayati
suatu alunan musik tertentu yang disesuaikan dengan masalahnya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan terapi music aktif, karena Inilah
terapi musik yang murah, mudah dan efektif. Pasien diajak bernyanyi, belajar main
menggunakan alat musik, menirukan nada-nada.

BAB 5

43

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1

Kesimpulan
1. Dari 30 responden sebelum (pretest) diberikan terapi music aktif sebagian
besar responden mengalami kerusakan intelektual sedang sebanyak 26
responden (86%) dan sebagian kecil responden mengalami kerusakan
intelektual berat sebanyak 2

responden (7%) dan ringan sebanyak

responden (7%).
2. Dari 30 responden sesudah (postest) diberikan terapi music aktif sebagian besar
responden mengalami keutuhan intelektual sebanyak 15 responden (15%) dan
sebagian kecil responden mengalami kerusakan intelektual sedang sebanyak 23
orang (50%).
3. Dari hasil uji statistic menggunakan rumus Wilcoxon dengan melihat
significancy P yang besarnya 0,000, karena nilai P < 0,05, dapat disimpulkan
bahwa Ha ada pengaruh, yang artinya terdapat pengaruh yang sangat signifikan
antar sebelum (pretest) dan sesudah (postest) diberikan terapi music aktif pada
lasnia dengan dimensia Aktif di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten
Malang.

5.2

Saran
1. Setelah dilakukannya penelitian ini diharap para petugas kesehatan di Panti
Werdha

Pangesti

Lawang

Kabupaten

Malang

agar

selalu

melaukukan/memberikan terapi music aktif guna meningkatkan memori jangka


pendek pada lansia serta juga sebagai hiburan bagi lansia agar kualitas
hidupnya lebih meningkat dan juga dapat menghilangkan/mengurangi stress
pada lansia. Jenis music yang banyak disenangi oleh lansia adalah music
dangdut.
2. Bagi peneliti selanjutnya agar bisa meneliti memori jangka panjang yang
bertujuan untuk mengurangi tingkat demensia yang lebih maksimal. Serta
44

menyarankan bagi peneliti selanjutnya untuk menggunakan metode lain untuk


mengurangi dimensia pada lansia di di Panti Werdha Pangesti Lawang
Kabupaten Malang.

DAFTAR PUSTAKA
Anne. 2008. Psychometric Prooerties of the Geriatric Anxiety Scale in CommunityDwelling, Clinical, and Madical Samples of Older Adults.
(http://digitool.library.colostate.edu///exlibris/dtl/d3_1/apache_media/L2V4b
GlicmlzL2R0bC9kM18xL2FwYWNoZV9tZWRpYS8yMDg4NDI=.pdf,diak
ses tanggal 4 Oktober 2014).
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Dahlan, Sopiyudin. 2013. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Hidayat, Aziz Alimul. 2014. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta: Salemba Medika.
Maryam, R.S, Ekasari, M.F, dkk. 2012. Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya.
Jakarta: Salemba Medika.
45

Nasution. 2011. Metode Research (Penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara.


Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nugroho, Wahjudi. 2008. Keperawatan Gerontik dan Geriatrik. Jakarta: EGC.
Nursalam. 2014. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Edisi 3. Jakarta:
Salemba Medika.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
Tjahyanto A dan Surilena. 2009.Penatalaksanaan Non-Farmakologis Demensia. Dimuat
dalam Majalah kedokteran Damianus, vol.8 No.1. Januari 2009
Indra P. 2010. Dimensia (Penurunan daya ingat) dalam www.itokindo.org
Ekaningrum SA. 2008. Studi Deskriptif Tentang Penanganan Dimensi Awal ( Studi Kasus
Di Panti Jompo )
Eddyanto, S. 2008. Pengaruh Terapi Musik Terhadap Intensitas Depresi Tahanan Di
Rumah Tahanan Negara Kelas I Surakarta. Jakarta: PPDS-I Psikiatri FKUNS.

Lampiran 1
INFORMED CONSENT
Kepanjen,
Kepada
Yth. Bapak/Ibu
Ditempat,
Dalam rangka untuk menyelesaikan tugas akhir (Mini Riset) pendidikan Profesi
Ners STIKES Kepanjen, kami yang bertandatangan dibawah ini :
Nama

: Ketua Kelompok

Program

: Ners

Bermaksud mengadakan penelitian yang berjudul Pengaruh Pemberian Terapi


Musik Aktif Terhadap Peningkatan Memori Jangka Pendek Pada Lansia Dengan Dimensia
di Panti Werdha Pangesti Lawang Kabupaten Malang.
46

Dalam penelitian ini peneliti ingin mengidentifikasi peningkatan memori jangka


pendek dengan memberikan terapi music aktif di Panti Werdha Pangesti Lawang
Kabupaten Malang
Untuk kelancaran pelaksanaan penelitian ini peneliti mengharap partisipasi dalam
menjawab kuesioner berkenaan dengan obyek yang diteliti.
Atas kesediaan anda menjadi responden, peneliti mengucapkan terima kasih.
Lawang, ..
Hormat saya,

Ketua Kelompok

Lampiran 2
Alat Ukur Memori Jangka Pendek
SHORT PORTABLE MENTAL STATUS QUESTIONNAIRE (SPMSQ)
Penilaian Untuk Mengetahui Fungsi Intelektual Lansia

Nama

Jenis Kelamin :
Usia
Skor
+
-

:
No

Pertanyaan

1
2
3

Tanggal berapakah hari ini?


Hari apa sekarang?
Apa nama tempat ini?

Jawaban

47

4
5
7
8
9
10

Di mana alamat anda ?


Berapa usia anda ?
Siapa nama presiden sekarang ?
Kapan anda lahir ?
Siapa nama kecil anda ?
Menyebutkan Pengurangan 10 1 secara
menurun

Kesimpulan :
-

0 2 = fungsi intelektual utuh


3 4 = kerusakan intelektual ringan
5 7 = kerusakan intelektual sedang
7 10 = kerusakan intelektual berat

Lampiran 3

48

Lampiran 4
MASTER TABEL
49

Pretest & Postest


N
o

Nama

Jenis
Kelamin
1

SKALA UKUR MEMORI JANGKA PENDEK


PRETEST

Skor

Kriteria

POSTEST

Skor

Kriteria

10

10

Om. Al

Om. Ch

Om. Th

Om. Gk

Om. Yn

Om. Pt

Om. Mr

Om. Jb

Om. Yk

10

Om. Mn

11

Om. Ms

12

Om. Yy

13

Om. Ln

14

Om. MY

15

Om. Sn

Skor

Kriteria

N
o

Nama

Jenis
Kelamin
1

SKALA UKUR MEMORI JANGKA PENDEK


Kriteri
Skor
a
POSTEST

PRETEST
1

10

10

50

16

Om. Yk

17

Om. Mr

18

Om.Ri

19

Om.Ib

20

Om. Mur

21

Op.pt

22

Op. Tf

23

Op. Fh

24

Op. An

25

Op. Hr

26

Op. Rd

27

Op. Aj

28

Op. Bb

29

Op. Tm

30

Op. Bp

51

Lampiran 5
Hasil Uji Statistik Wilxocon

Ranks
N
postest_memori pretest_memori

Mean Rank Sum of Ranks

Negative Ranks

24a

12.50

300.00

Positive Ranks

0b

.00

.00

Ties

6c

Total

30

a. postest_memori < pretest_memori


b. postest_memori > pretest_memori
c. postest_memori = pretest_memori

Test Statisticsb
postest_memori pretest_memori
Z
Asymp. Sig. (2tailed)

-4.428a
.000

a. Based on positive ranks.


b. Wilcoxon Signed Ranks Test

52

Descriptive Statistics
N

Minimum Maximum

Statistic

Statistic

Statistic

Mean

Std. Deviation

Statistic Std. Error

Statistic

Skewness

Kurtosis

Statistic Std. Error Statistic Std. Error

jenis_kelamin

30

1.67

.088

.479

-.745

.427

-1.554

.833

pretest_memori

30

3.00

.068

.371

.000

.427

5.581

.833

postest_memori

30

1.73

.151

.828

.551

.427

-1.313

.833

Valid N (listwise)

30

53