Anda di halaman 1dari 36

Oleh.

Martono, SKp., Ns., MPd

JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA
TAHUN 2016
REVIEW STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM SARAF

Oleh. Ns. Martono, SKp, MPd


Sistem saraf manusia merupakan suatu sistem yang mengontrol dan mengintegrasikan
berbagai aktivitas tubuh. Sistem saraf dapat dibedakan menjadi sistem saraf pusat ( Central
Nervus Sistem ) dan sistem saraf perifer ( Peripheral Nervus Sistem ). Saraf pusat terdiri dari
otak ( Brain ) dan spinal cord. Saraf peripheral terdiri saraf cranial dan saraf spinal dan
komponen saraf outonom.
I. STRUKTUR MIKRO SARAF
A.

SEL SARAF
Sistem saraf dibentuk oleh 2 tipe sel yaitu neuron dan neuroglia, Meskipun

neuroglia jumlahnya lebih banyak, tetapi kebanyakan neuroglia mengandung neuron,


yang merupakan unit fungsional sistem saraf. Neuron secara umum tidak melakukan
mitosis sehingga tidak dapat melakukan regenerasi bila mengalami kerusakan.
Sedangkan neuroglia dapat melakukan mitosis, sehingga ketika mengalami kerusakan
dapat melakukan regenerasi.
1. Neuron
Merupakan unit fungsional saraf, yang mempunyai karakteristik memiliki kemampuan
mencetuskan impuls ( Excitability ), kemampuan mentransmisikan impuls ke sel yang
lain ( conductivity ) dan kemampuan mempengaruhi neuron lain, sel otot dan sel
kelenjar.
Neuron terdiri dari :
Badan

sel,

yaitu

mengandung

inti

sel

dan

cytoplasma yang menjadi pusat metabolisme sel


neuron.
Dendrit, yaitu tangkai pendek yang berfungsi
sebagai penerima impuls ( pesan ) dari axon neuron
lain dan membawa pesan tersebut ke dalam badan
sel.
Axon

yaitu

tangkai

panjang

yang

berfungsi

membawa impuls dari badan sel ke neuron lain atau


target organ ( otot, kelenjar ).
Gambar : Neuron
2. Neuroglia

Neuroglia atau sel glia berfungsi memelihara, memberi nutrisi dan melindungi
neuron. Neuroglia terdapat hampir setengah massa otak dan spinal cord, dan 5 10
kali lebih banyak dari pada neuron. Tipe sel glia yaitu oligodendroglia, astrocyte,
ependimal, mikroglia.
B.

SINAP
Informasi yang dikomunikasikan sistem saraf melalui proses kimia dan elektrikal.
Transmisi impuls ( hantaran pesan ) dari neuron ke neuron berikutnya melalui suatu
sinap. Sinap adalah tempat hubungan antara dua neuron. Disinilah aktivitas elektrik satu
neuron mempengaruhi neuron yang lain. Secara struktural setiap sinap terdiri dari ;
a. Pre sinap yaitu terdiri dari knop sinap (axon terminal ).
b. Celah sinap yaitu celah kecil antara knop sinap dengan post sinap.
c. Post sinap yaitu terdiri membran sub sinap.
Bilamana ada suatu rangsangan( potensial aksi ) di pre sinap akan menyebabkan
pengeluaran neurotransmiter dari vesikel sinap ke celah sinap yan selanjutnya
neurotransmiter ini akan diterima atau diikat oleh receptor yang ada di membran sub
sinap post sinap, selanjutnya akan mempengaruhi proses excitatory atau inhibitory.

Gambar: Sinap
C.

NEUROTRANSMITER
Neurotransmiter adalah substansi kimia yang merupakan pesan kimia yang
dikeluarkan oleh vesikel pre sinap yang dapat mempengaruhi neuron post sinap ( otot
skeletal, jantung, otot halus dan kelenjar ). Pengaruhi dari neurotransmiter ini dapat
berupa excitasi atai inhibisi. Macam -macam neurotransmiter yaitu :

a. Acethylcoline
b. Monoamin : Catecolamin(Dopamin, epinefrine), Histamin,serotinin.
c. Asam Amino: GABA.
d. Peptida : Angiotensin, bradikinin dan hormon.
II. STRUKTUR DAN FUNGSI SARAF
A. SISTEM SARAF PUSAT
Saraf pusat terdiri dari spinal cord dan otak. Otak terdiri dari hemisphere cerebral,
cerebelum dan batang otak.
1. Spinal Cord
Spinal cord berhubungan dengan batang otak dan keluar dari rongga
kranial melalui foramen magnum. Pada potongan melintang akan tampak bagian
tengah sebagai Gray matter dan di kelilingi white matter. Gray matter
mengandung badan sel dari neuron motorik volunter dan preganglion neuron
motorik outonom. White matter mengadung axon sensorik asending dan motorik
desending yang dikenal sebagai traktus ( Jaras )
a. Traktus Asending
Secara umum traktus asending membawa informasi spesifik ke tingkat
lebih tinggi CNS. Informasi berasal dari ujung saraf spesifik ( receptor ) di kulit,
otot, persendian, viseral dan pembuluh darah, yang masuk ke spinal cord melalui
akar dorsal saraf spinal. Columna Posterior membawa impuls( informasi dan
mentransmisikan impuls/ sensasi tekanan, vibrasi, posisi dan kinethesia( gerakan,
berat dan bagian tubuh ). Traktus Spinocerebelar membawa imformasi tetntang
tegangan otot dan posisi tubuh ke cerebelum untuk koordinasi gerakan. Traktus
spinotalamik membawa informasi tentang nyeri dan suhu.
b. Traktus Desending
Suatu traktus ( jaras ) yang bertugas membawa impuls( pesan ) motorik
untuk mengerakkan otot. Traktus motorik antara lain yaitu: traktus cortico bulbar
dan cortico spinal dan secara kolektif disebut traktus piramidal yaitu traktur yang
membawa impuls motorik voluntary dari cortex ke saraf cranial dan saraf
peripheral. Traktus extrapiramidal adalah traktus desending yang membawa
impuls dari sistem extrapiramidal, meliputi semua sistem motorik( kecuali sistem
piramidal ). Traktus extra piramidal meliputi traktus yang berasal dari batang otak,
ganglia basal dan cerebelum. Out put motorik keluar spinal cord melalui akar
ventral dari saraf spinal.

c. Lower dan Upper motor neuron


Lower motor neuron( LMNs ) adalah bagaian akhir/luar traktus, dimana traktus
desending mempengaruhi otot skeletal, organ efektor untuk pergerakan.
bAdan sel LMN yang mengirimkan axon ke otot skeletal lengan, leher dan kaki
berada di anterior horn spinal cord. LMN otot skeletal mata, wajah, mulut
berada di batang otak. Badan sel dan axonnya membentuk komponen motorik
somatik saraf kranial. Adanya lesi pada LMN secara umum menyebabkan
kelemahan atau paralisis, atropi, hiporeflek atau arefleksia dan penurunan
tonus otot( Flaccid ).
Upper motor neuron berasal dari kortek cerebral dan berjalan turun.
Corticobulbar berakhir di batang otak, cortico spinal berakhir di spinal cord.
Adanya lesi pada uppre motor neuron dapat mengakibatkan weaknes atau
paralisis, atrophy, hiperrefleksia dan tonus otot meningkat( spasticity ).

Gambar: Otak dan Spinal Cord


2. Lengkung Reflek
Reflek adalah respon tidak disadari terhadap stimulus. Komponen monosinap
reflek yaitu receptor organ, neuron afferent, neuron efferent dan organ efektor ( otot
skeletal ). Fungsi reflek adalah mempertahankan tonus otot, yang menjadi dasar
bagi postur tubuh.
3. Brain ( otak )

Otak dapat dibagi menjadi 3 bagaian utama yaitu cerebrum, batang otak dan
cerebelum.
a. Cerebrum
Cerebrum terdiri dari hemisphere kiri dan kanan, kedua hemisphere ini
dibedakan lagi menjadi 4 lobus yaitu lobus frontal, temporal, parietal dan
oksipital. Fungsi cerebrum luas dan komplek, area spesifik cortex cerebral
dapat diringkas sebagai berikut :
BAGIAN
AREA CORTICAL
1. Motorik
a.Primer
b.Suplemental
2. Sensorik
a. Somatik

LOKASI

Pracentral Gyrus
Mengontrol awal gerakan sisi
Anterior sampai precentral tubuh.
gyrus
Memfasilitasi aktivitas otot.
Pracentral girus

b. Visual
c. Auditory
d. Area
asosiasi

e. Bahasa

GANGLIA BASAL
TALAMUS
HIPOTALAMUS
System limbic

FUNGSI

Lobus oksipital
Superior temporal girus

Mencatat sensasi tubuh( suhu,


sentuhan, tekanan, nyeri dan sisi
tubuh ).
Mencatat image visual.
Mencatat imput pendengaran

Lobus parietal
Lobus temporal posterior
Lobus anterior frontal

Integrasi somatik dan imput


sensasi khusus.
Integrasi
imput
penglihatan,
Agular girus
pendengaran bahasa.
Area broca
Pusat
kontrol
pemecahan
maslah, perencanaan.
Integrasi pendengaran bahasa.
Mengatur expresi verbal
Dekat ventrikel lateral ke Mengontrol dan memfasilitasi
dua hemisphere.
belajar dan gerakan autonom.
Dibawah ganglia basal
Merelay iiput sensorik dan
motorik ke kortek dan bagian lain
cerebrum.
Dibawah talamus
Mengatur fungsi endorine dan
autonomic
( makan, tidur,
respon emosi dan seksual ).
Lateral
samapai Mempengaruhi afektif, pengendali
hipotalamus
dasar makan dan perilaku
seksual.

4. Batang Otak
Batang otak meliputi mid brain, pons dan medual. Serabut asending dan
desending berjalan melalui mid brain menuju dan dari cerebrum dan cerebelum.
Badan sel atau intisel saraf cranial III XII berada di batang otak( brain stem ).

Retikular Formation juga berada di brain stem, secara difus menyusun kelompok
neuron dan axonnye meluas dari medula ke talamus dan hipotalamus.
Fungsi retikular formation adalah :
Merelay informasi sensori
Mengontrol excytasi dan inhibisi neuron motorik spinal.
Mengontrol aktivitas vasomotor dan pernapasan.
Retikular aktivasi sistem ( RAS ) adalah bagian dari retikular formation dan
mengatur sistem aurosal, komponen kesadaran. Pusat pernafasan, vasomotor dan
fungsi jantung berada di medula. Batang otak ( brain stem ) juga mengandung
pusat bersin, batuk, cegukan, muntah, menelan dan menghisap.
5. Cerebelum
Cerebelum berada di bagian fossa posterior, berhubungan dengan brain
stem, dibawah lobus oksipitalis dari cerebrum. Fungsi cerebrum adalah
mengkoordinasi pergerakan volunter dan untuk mempertahankan stabilitas leher
dan

keseimbangan.

Mempengaruhi

aktivitas

motorik

melalui

hubungan/sambungan akson terhadap cortek motorik, inti brain stem dan traktus
desending. Cerebelum menerima informasi dari cortek cerebral, otot persendia
dan telinga dalam.
6. Ventrikel dan Cerebrospinal Fluid
Ventrikel dan cerebrospinal merupakan struktur pendukung penting
sistema saraf pusat dala meregulasi fungsi neuron dan mensuport otak. Ada 4
ventrikel yang saling berhubungan satu dengan yang lain dan dengan spinal
canal. Bagian bawah ventrikel VI berhubungan dengan spinal canal pada posisi
dibawah brain stem. Sinal canal berada di tengah tengah dan memanjang
sepanjang spinal cord.
Ventrikel dan spinal canal diisi dengan kurang lebih 135 ml CSf. CSF
bersirkulasi dalam ruang sub arahnoid. Fungsi CSF menjadi bantalan otak dan
spinal cord. CSF mengalir dari ruang cranial ke spinal cord dan membawa nutrisi.
CSF diproduksi fleksus choroid di sistem ventrikel. Sirkulasi CSF dari ventrikel
lateral ke ventrikel III melalui foramen Monro. Selanjutnya mengalir ke ventrikel IV
melalui ductus Sylvius, kemudian mengalir ke ruang sub arahnoid melalui
foramen Luskha dan foramen magendhi.
Cerebro Spinal Fluid di absorbsi di villi arahnoid dan ke sinus venousus
dan akhirnya menuju sistem vena. Analisis komposisi CSF dapat berguna untuk
diagnosis penyakit intra kranial. Peningkatan tekanan intrakranial menunjukkan

peningkatan tekanan CSF dan dapat menyebabkan herniasi otak dan penekanan
struktur vital batang otak.
B. SISTEM SARAF PERIPHERAL
Sistem saraf peripheral meliputi semua struktur yang terletak diluar sistem
saraf pusat. Sistem saraf peripheral terdiri dari saraf spinal dan saraf cranial, yang
keduanya berhubungan dengan ganglion dan bagian dari saraf autonom.
1. Saraf Spinal
Spinal cord dapat dilihat sebagai rangkaian / rentetan segment spinal.
Setiap segment terdiri dari sepasang saraf serabut sensorik ( dorsal ) dan serabut
saraf motorik ( ventral ), dimana beinervasi pada area spesifik leher, trunk,
limbs.Kombinasi saraf sensorik dan motorik ini ddisebut saraf spinal. Badan sel
sistem saraf motorik voluntary berada di anterior horn substantia kelabu spinal
cord. Badan sel saraf motorik autonom ( involuntary ) berada di bagian
anterolateral subtanstia kelabu spinal cord. Badan sel saraf sensorik berada di
ganglia akar dorsal. Keluarnya serabut saraf dari columna spinal, setiap saraf
dibedakan menjadi ventral dan dorsal. Kumpulan serabut saraf motorik sensorik
akhirnya menjadi struktur saraf perifer( kulit, otot, viceral ).
2. Saraf Kranial
Saraf Cranial ada 12, secara ringkas dapat di jelaskan sebagai berikut :
a. Nervus Olfactori ( N ervus I )
Berhubungan dengan otak di bagian anterior ventral cerebrum. Berfungsi saraf
sensorik dari epitelium olfactori di rongga hidung superior.
b. Nervus Optic ( Nervus II )
Berhubungan dengan brain di lateral geniculate body talamus. Fungsi: saraf
sensorik dari retina mata.
c. Nervus Oculomotorik ( Nervus III )
Berhubungan dengan mid brain, fungsi : Motorik pergerakan 4 otot mata dan
levator palpebral, sebagai saraf parasimpatis: otot halus bola mata.
d. Nervus Trochlear ( Nervus IV )
Bersambungan dengan mid brain, fungsi : mengatur pergerakan otot bola mata:
superior obligue.
e. Nervus Trigeminal ( Nervus V )

Cabang Optalmic, bersambungan dengan pons berfugsi: sensorik dari


kepala atas, mata, rongga hidung superior.

Cabang Maxilaris, bersambung dengan pons dan berfungsi : sensorik


dari rongga hidung inferior, wajah, gigi atas dan mukosa mulut superior.

Cabang Mandibula, sensorik rahang, gigi bawah, mukosa mulut bawah


dan bagian depan lidah. bersambungan dengan pons dan berfungsi :
f. Nervus Abducen ( Nervus VI )
Bersambungan dengan pons dan berfungsi : motorik gerakan otot mata lateral:
lateral rectus.
g. Nervus Facial ( Nervus VII )
Bersambungan dengan pertemuan antara pons dan medula, fungsi : motorik
otot wajah, sensorik 2/3 lidah anterior.
h. Nervus Vestibulocochlear ( Nervus VIII )
Cabang vestibular, berfungsi : sensorik organ keseimbangan, aparatus
vestibular.
Cabang Cochlear, berfungsi sensorik organ pendengaran, cochlea.
i. Nervus Glossopharingeal ( Nervus IX )
Bersambungan dengan medula, berfungsi sensorik dari pharing dan lidah
posterior.
j. Nervus Vagus ( Nervus X )
Bersambungan dengan medula, fungsi : sensorik organ viceral thorak dan
abdomen. Motorik laring dan otot tengan dan bawah paringeal. Parasimpatis :
otot jantung dan sistem digestive.
k. Nervus Acesory ( Nervus XI )
Bersambungan dengan medula dan segmen spinal superior, fungsi motorik otot
leher, sternocleidomastoid dan trapezius.
l. Nervus Hypoglosal ( Nervus XII ).
Bersambungan dengan medula, fungsi motorik instinsik dan extrinsik otot lidah.
3. Saraf Autonom
Perintah involuntar saraf autonum mengatur fungsi otat jantung , otot halus dan
kelenjar. Saraf autonom dapat dibedakan menjadi saraf simpatis dan saraf para
simpatis. Fungsi kedua sistem saraf ini selalu berlawanan. Secara ringkas dapat
dijelaskan sebagai berikut :

Efek Viceral
a. Jantung

Saraf symphatis
Saraf Parasympathis
Meningkatkan kecepatan dan Menurunkan kecepatan dan

kekuatan denyut jantung.


kekuatan denyut jantung.
b. Pembuluh darah kulit Konstriksi ( receptor alfa )
Tidak ada efek
c. Pembuluh darah otot Dilatasi ( receptor beta )
Tidak ada efek
skeletal
d. Arteri coroner
Dilatasi
(receptor
beta), Dilatasi
konstriksi( alfa )
e. Pembuluh abdomen
Constriksi ( receptor alfa )
Tidak ada efek
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

Pembuluh
darah Ejakulasi ( kontraksi otot halus
genitalia exsternal
ductus laki-laki: epidedymis, vas
deferen )
Bronchus
Dilatasi ( receptor beta )
Saluran pencernaan
Penurunan peristaltik
Spinter saluran cerna Konstraksi( receptor alfa )
Bladde
Relaksasi ( receptor beta )
Spinter urinaria
Kontraksi ( receptor alfa )
Iris
Kontraksi otot radial, dilatasi
pupil
Ciliar
Relaksasi,
akomodasi
peninglihatan jauh

n. Kelenjar keringat
o. Kelenjar
digestive(
saliva,
gastric )
p. Kelenjar Pancreas
q. Liver

C.

Peningkatan keringat
Penurunan sekresi saliva

Dilatasi pembuluh darah,


menyebabkan ereksi lakilaki.
Konstriksi
Peningkatan peristaltik
Relaksasi
Kontraksi
Relaksasi
Kontraksi
otot
circular,
konstriksi pupil.
Konstriksi,
penglihatan
dekat
Tidak ada efek
Peningkatan sekresi

Penurunan sekresi
Peningkatan sekresi
Peningkatan
glycogenolisis, Tidak ada efek
peningka-tan kadar gula darah

CIRCULASI CEREBRAL
Banyak darah yang perlu disediakan untuk memelihara fungsi otak yang aktif.
Otak memerlukan seperlima dari cardiac output yang dipompakan jantung, sebab otak
memerlukan 20 % ( 50% pada bayi) oksigen yang digunakan tubuh. Secara kasar ada
sekitar 800 ml darah yang mengalir melalui otak setiap menitnya. Suplay darah cerebral
berasal dari arteri carotis internal( sirkulasi anterior ) dan arteri vertebrae ( sirkulasi
posterior ). Satu arteri carotis internal mensuplay salah satu sisi hemisphere cerebral.
Arteri basilar dibentuk dari pertemuan dua ateri vertebrae, mensuplay darah bagian
posterior( cerebelum dan brainstem ). Circle willis berasal dari arteri basilar dengan dua
arteri carotis internal.

D.

STRUKTUR PROTEKTIVE ( PELINDUNG )

1. Meningen
Meningen adalah suatu membran jaringan konektif ( selaput non-neural ) yang
melapisi bagian luar dari otak dan medula spinalis, terdiri dari 3 lapisan yaitu :
a. Duramater adalah suatu membran fibrous tebal yang terletak di bawah /
bagian dalam tulang kranial. Antara tulang kranial dan duramater ada suatu
ruangan antara disebut epidural
b. Arahnoid adalah lapisan bawah duramater yang banyak mengandung
pembuluh darah. Suatu ruang antara duramater dan arahnoid disebut sub
dural.
c. Piamater adalah lapisan yang terletak sebelah luar dari otak dan medula
spinalis. Suatu ruang antara arahnoid dan piamater disebut ruang sub
arahnoid. Di ruang sub arahnoid berisikan cairan cerebro spinal. Piamater dan
arahnoid secara bersama-sam disebut leptomeningen.
2. Tulang Tengkorak ( Cranial )
Tulang cranial menjadi pelindung otak dari suatu trauma eksternal. Tulang tulang
tersebut adalah tulang frontalis, parietal, temporal, oksipital dll.
3. Columna Vertebral
Columna vertebral melindungi spinal cord, mempertahankan kepala dan memberikan
fleksibility. Tulang vertebral terdiri dari 33 tulang yaitu 7 tulang cervical, 12 tulang
thorak, 5 tulang lumbal, 5 tulang sakral dan 4 tulang cocygis.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MENINGITIS


By. Martono, SKp., Ns., MPd

_________________________________________________________________
A. Definisi
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan
medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur (Lewis,
2003). Lebih lanjut dijelaskan Smelter & Bare, 2002) bahwa pengertian Meningitis adalah
infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme
pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan
aseptis (virus). Sedangkan menurut Suriadi & Rita, (2001) Meningitis adalah peradangan
pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan
proses infeksi pada sistem saraf pusat.
B. Etiologi
1. Bakteri; Mycobacterium tuberculosa, Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria
meningitis

(meningokok),

Streptococus

haemolyticuss,

Staphylococcus

aureus,

Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas


aeruginosa
2. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia
3. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki laki lebih sering dibandingkan dengan wanita
4. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan
5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
6. Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan
sistem persarafan
C. Klasifikasi
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan
otak, yaitu :
1. Meningitis serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang
jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya
lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
2. Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula
spinalis.

Penyebabnya

antara

lain:

Diplococcus

pneumoniae

(pneumokok),

Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus

aureus,

Haemophilus

influenzae,

Escherichia

coli,

Klebsiella

pneumoniae,

Peudomonas aeruginosa.
C. Patofisiologi
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan
septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. Faktor
predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia
sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan
pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian
tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen;
semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri.
Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di
dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan
penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme
akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar
sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran
ventrikel serebral. Meningitis

bakteri dihubungkan

dengan perubahan fisiologis

intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan
otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi
meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi
dan

dihubungkan

dengan

meluasnya

hemoragi

(pada

sindrom

Waterhouse-

Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah
yang disebabkan oleh meningokokus.
D. Manifestasi klinis
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK:
1. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)
2. perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.
3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb:
a)

Rigiditas nukal (kaku leher). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran
karena adanya spasme otot-otot leher.

b)

Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan
fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.

c)

Tanda brudzinki: bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan
pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi
maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.

4. Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.


5. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat
purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tandatanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit
kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
7. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi
purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata
E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :
a)

Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah


putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa
jenis bakteri.

b)

Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih
meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur
virus biasanya dengan prosedur khusus.

2. Glukosa serum : meningkat ( meningitis )


3. LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )
4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri )
5. Elektrolit darah : Abnormal .
6. ESR/LED : meningkat pada meningitis
7. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi
atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi
8. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak
ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor
9. Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial.

F.

Pathway

G. Penatalaksanaan Medis

Farmakologis
A. Obat Anti Inflamasi
1. Meningitis bacterial, umur < 2 bulan :
a. Sefalosporin generasi ke 3
b. ampisilina 150 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4 6 kali sehari.
c. Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali sehari.
2. Meningitis bacterial, umur > 2 bulan :
a.
Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari.
b.
Sefalosforin generasi ke 3.
B. Pengobatan simtomatis
1. Diazepam IV : 0.2 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4
1. 0.6/mg/kg/dosis
2. Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.
3. Turunkan panas :
a.
Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis
b.
Kompres air hangat
C. Pengobatan simtomatis
1.
2.

Cairan intravena.
Zat asam, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar antara 30 50%.

H. Komplikasi
1. Hidrosefalus obstruktif
2. MeningococcL Septicemia ( mengingocemia )
3. Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC,perdarahan adrenal bilateral)
4. SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )
5. Efusi subdural
6. Kejang
7. Edema dan herniasi serebral
8. Cerebral palsy
9. Gangguan mental
10. Gangguan belajar
11. Attention deficit disorder
.

G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Biodata klien
b) Riwayat kesehatan yang lalu
(1) Apakah pernah menderita penyait ISPA dan TBC ?
(2) Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ?
(3) Pernahkah operasi daerah kepala ?
c) Riwayat kesehatan sekarang
(1) Aktivitas
Gejala: Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : ataksia, kelumpuhan, gerakan
involunter.
(2) Sirkulasi
Gejala: Adanya riwayat kardiopatologi: endokarditis dan PJK. Tanda: tekanan
darah meningkat, nadi menurun, dan tekanan nadi berat, taikardi, disritmia.
(3) Eliminasi
Tanda : Inkontinensi dan atau retensi.
(4) Makanan/cairan
Gejala: Kehilangan nafsu makan, sulit menelan. Tanda : anoreksia, muntah,
turgor kulit jelek dan membran mukosa kering.
(5) Higiene
Tanda: Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri.
(6) Neurosensori
Gejala: Sakit kepala, parestesia, terasa kaku pada persarafan yang terkena,
kehilangan sensasi, hiperalgesia, kejang, diplopia, fotofobia, ketulian dan
halusinasi penciuman. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma,
delusi dan halusinasi, kehilangan memori, afasia,anisokor, nistagmus,ptosis,
kejang umum/lokal, hemiparese, tanda brudzinki positif dan atau kernig positif,
rigiditas nukal, babinski positif,reflek abdominal menurun dan reflek
kremastetik hilang pada laki-laki.
(7) Nyeri/keamanan
Gejala: sakit kepala(berdenyut hebat, frontal). Tanda : gelisah, menangis.
(8) Pernafasan
Gejala: riwayat infeksi sinus atau paru. Tanda : peningkatan kerja pernafasan.
2. Diagnosa keperawatan

a) Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata


hematogen dari patogen
b) Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan
edema serebral, hipovolemia.
c) Risisko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan
umum, vertigo.
d) Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi.
e) Kerusakan

mobilitas

fisik

sehubungan

dengan

kerusakan

neuromuskular,

penurunan kekuatan
f)

Anxietas berhubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.

3. Intervensi keperawatan
a) Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata
hematogen dari patogen.
Mandiri
Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan
Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat.
Pantau suhu secara teratur
Kaji keluhan nyeri dada, nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus
Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nfas dalam
Cacat karakteristik urine (warna, kejernihan dan bau )
Kolaborasi
Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.
b) Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan
dengan edema serebral, hipovolemia.
Mandiri
Tirah baring dengan posisi kepala datar.
Pantau status neurologis.
Kaji regiditas nukal, peka rangsang dan kejang
Pantau tanda vital dan frekuensi jantung, penafasan, suhu, masukan dan
haluaran.
Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah mengejan.
Kolaborasi.
Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat.

Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit ).


Pantau BGA.
Berikan obat : steoid, clorpomasin, asetaminofen
c) Resiko

tinggi

terhadap

trauma

sehubungan

dengan

kejang

umum/vokal,

kelemahan umum vertigo.


Mandiri
Pantau adanya kejang
Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas
buatan
Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin, diaepam,
venobarbital.
d) Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi, toksin dalam sirkulasi.
Mandiri.
Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi
yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif
dan masage otot leher.
Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi)
Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif.
Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul
Kolaborasi
Berikan anal getik, asetaminofen, codein
e) Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
Kaji derajat imobilisasi pasien.
Bantu latihan rentang gerak.
Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab.
Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan, berikan matras udsra atau air
perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional.
Berikan program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi.
f)

Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis


Pantau perubahan orientasi, kemamapuan berbicara,alam perasaaan, sensorik
dan proses pikir.
Kaji kesadara sensorik : sentuhan, panas, dingin.
Observasi respons perilaku.

Hilangkan suara bising yang berlebihan.


Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik.
Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas.
Kolaborasi ahli fisioterapi, terapi okupasi,wicara dan kognitif.
g) Ansietas sehubungan dengan krisis situasi, ancaman kematian.
Kaji status mental dan tingkat ansietasnya.
Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.
Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan.
Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk
sumber penyokong.

DAFTAR PUSTAKA
Black, J.M. & Matassarin-Jacobs, F. (1993). Luckmann and Sorensens Medical-Surgical
Nursing: a psychophysiologic approach. (4th ed.). Philadelphia: W.B. Saunders
Company
Lewis, S.M., Heitkemper, M.M., & Dirksen, S.R.(2003.
Medical Surgical Nursing:
Assessment and Management of Clinical Problems. (5th ed.). St. Louis: Mosby.
Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa, I Made
Kariasa, N Made Sumarwati. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin
asih. Ed.3. Jakarta : EGC.
Harsono.(1996).Buku Ajar Neurologi Klinis.Ed.I.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Smeltzer, Suzanne C & Bare,Brenda G.(2001).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth.Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk.Editor edisi bahasa Indonesia,
Monica Ester.Ed.8.Jakarta : EGC.
Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And
Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998.
Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih
Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN STROKE


By. Martono, SKp., Ns., MPd
_________________________________________________________________
A. Definisi

Stroke

atau cedera cerebrovaskular (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang

diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Smeltzer & Bare, 2002). Stroke
adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progesi cepat, berupa defisit
neurologis fokal dan/ atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung
menimbulkan kematian, dan sematamata disebabkan oleh gangguan peredaran darah
otak non traumatik (Black, 2003).
Menurut Price & Wilson (2006) pengertian dari stroke adalah setiap gangguan neurologik
mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem
suplai arteri otak. Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian stroke
adalah gangguan sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan
pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan serebral sehingga terjadi
penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara mendadak.
B. Klasifikasi

Stroke diklasifikasikan menjadi dua :


1. Stroke Non Hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan yang ditandai
dengan kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak atau hemiparese, nyeri
kepala, mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia (kesulitan menelan). Stroke non
haemoragik dibagi lagi menjadi dua yaitu stroke embolik dan stroke trombotik
(Wanhari, 2008).
2. Stroke Hemoragik

Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya perdarahan intra
serebral atau perdarahan subarakhnoid. Tanda yang terjadi adalah penurunan
kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala fokal berupa hemiplegi, pupil
mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008).

D. Etiologi

Faktor resiko terjadinya stroke menurut Lewis (2003) adalah:


1. Yang tidak dapat diubah: usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, riwayat stroke,
penyakit jantung koroner, dan fibrilasi atrium.
2. Yang dapat diubah: hipertensi, diabetes mellitus, merokok, penyalahgunaan alkohol
dan obat, kontrasepsi oral, dan hematokrit meningkat.
Menurut Smeltzer & Bare (2002) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu empat
kejadian yaitu:
1. Thrombosis yaitu bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher.
2. Embolisme serebral yaitu bekuan darah atau material lain yang di bawa ke otak dari
bagian tubuh yang lain.
3. Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke area otak
4. Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke
dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak.
Akibat dari keempat kejadian diatas maka terjadi penghentian suplai darah ke otak, yang
menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir, memori, bicara,
atau sensasi.
F. Patofisiologi

Otak sangat tergantung kepada oksigen, bila terjadi anoksia seperti yang terjadi pada
stroke di otak mengalami perubahan metabolik, kematian sel dan kerusakan permanen yang
terjadi dalam 3 sampai dengan 10 menit (non aktif total). Pembuluh darah yang paling
sering terkena ialah arteri serebral dan arteri karotis Interna.
Adanya gangguan peredaran darah otak dapat menimbulkan jejas atau cedera pada otak
melalui empat mekanisme, yaitu :

1. Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan sehingga aliran


darah dan suplainya ke sebagian otak tidak adekuat, selanjutnya akan mengakibatkan
perubahan-perubahan iskemik otak.
2. Pecahnya dinding arteri serebral akan menyebabkan bocornya darah ke kejaringan
(hemorrhage).
3. Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan otak.
4. Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang interstitial jaringan otak.
Konstriksi lokal sebuah arteri mula-mula menyebabkan sedikit perubahan pada aliran
darah dan baru setelah stenosis cukup hebat dan melampaui batas kritis terjadi
pengurangan darah secara drastis dan cepat. Oklusi suatu arteri otak akan menimbulkan
reduksi suatu area dimana jaringan otak normal sekitarnya yang masih mempunyai
pendarahan yang baik berusaha membantu suplai darah melalui jalur-jalur anastomosis
yang ada. Perubahan awal yang terjadi pada korteks akibat oklusi pembuluh darah adalah
gelapnya warna darah vena, penurunan kecepatan aliran darah dan sedikit dilatasi arteri
serta arteriole. Selanjutnya akan terjadi edema pada daerah ini. Selama berlangsungnya
perisriwa ini, otoregulasi sudah tidak berfungsi sehingga aliran darah mengikuti secara
pasif segala perubahan tekanan darah arteri.. Berkurangnya aliran darah serebral sampai
ambang tertentu akan memulai serangkaian gangguan fungsi neural dan terjadi kerusakan
jaringan secara permanen.

G. Manifestasi Klinik
Menurut Smeltzer & Bare (2002) dan Price & Wilson (2006) tanda dan gejala penyakit
stroke adalah kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh,
hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran, penglihatan ganda atau kesulitan melihat
pada satu atau kedua mata, pusing dan pingsan, nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang
jelas, bicara tidak jelas (pelo), sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat,
tidak mampu mengenali bagian dari tubuh, ketidakseimbangan dan terjatuh dan hilangnya
pengendalian terhadap kandung kemih.
H. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksaan medis menurut menurut Smeltzer & Bare (2002) meliputi:
a. Diuretik untuk menurunkan edema serebral yang mencapai tingkat maksimum 3
sampai 5 hari setelah infark serebral.

b. Antikoagulan untuk mencegah terjadinya thrombosis atau embolisasi dari tempat lain
dalam sistem kardiovaskuler.
c. Antitrombosit karena trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan
thrombus dan embolisasi.
I. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit stroke menurut Smeltzer & Bare (2002)
adalah:
a. Hipoksia serebral, diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak.
Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan.
Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada
tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan.
b. Penurunan aliran darah serebral, bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan
integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intrvena) harus menjamin
penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi dan
hipotensi ekstrim perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral
dan potensi meluasnya area cedera.
c. Embolisme serebral, dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau
dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah
ke otak dan selanjutnya akan menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat
mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentian trombus lokal. Selain
itu, disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.
J. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut (Doenges dkk, 1999) pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada
penyakit stroke adalah:
a. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti
perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur.
b. CT-scan: memperhatikan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya infark.
c. Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis,
emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan iskemia otak
sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya

hemoragik subarakhnoid atau perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat
pada kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.
d. MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang mengalami infark,
hemoragik, dan malformasi arteriovena.
e. Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena.
f. EEG (Electroencephalography): mengidentifikasi penyakit didasarkan pada gelombang
otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
g. Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan
dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada thrombosis serebral.

Asuhan Keperawatan
Dari seluruh dampak masalah di atas, maka diperlukan suatu asuhan keperawatan yang
komprehensif. Dengan demikian pola asuhan keperawatan yang tepat adalah melalui proses
perawatan yang dimulai dari pengkajian yang diambil adalah merupakan respon klien, baik
respon biopsikososial maupun spiritual, kemudian ditetapkan suatu rencana tindakan
perawatan untuk menuntun tindakan perawatan. Dan untuk menilai keadaan klien, diperlukan
suatu evaluasi yang merujuk pada tujuan rencana perawatan klien dengan stroke non
hemoragik.
A. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan
pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat
diketahui kebutuhan klien tersebut. Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan
membantu menentukan status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan

menentukan status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan dalam
perumusan diagnosa keperawatan (Doenges dkk, 1999).
Adapun pengkajian pada klien dengan stroke (Doenges dkk, 1999) adalah :
a. Aktivitas/ Istirahat
Gejala: merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan, kehilangan sensasi
atau paralisis (hemiplegia), merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat (nyeri/ kejang
otot).
Tanda:

gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum,

gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran.


b. Sirkulasi
Gejala: adanya penyakit jantung, polisitemia, riwayat hipotensi postural.
Tanda: hipertensi arterial sehubungan dengan adanya embolisme/ malformasi vaskuler,
frekuensi nadi bervariasi, dan disritmia.
c. Integritas Ego
Gejala:

perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa

Tanda:

emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan gembira, kesulitan

untuk mengekspresikan diri.


d. Eliminasi
Gejala:

perubahan pola berkemih

Tanda:

distensi abdomen dan kandung kemih, bising usus negatif.

e. Makanan/ Cairan
Gejala:

nafsu makan hilang, mual muntah selama fase akut, kehilangan sensasi pada

lidah, dan tenggorokan, disfagia, adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.
Tanda:

kesulitan menelan, obesitas.

f. Neurosensori
Gejala: sakit kepala, kelemahan/ kesemutan, hilangnya rangsang sensorik kontralateral
pada ekstremitas, penglihatan menurun, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda:

status mental/ tingkat kesadaran biasanya terjadi koma pada tahap awal

hemoragis, gangguan fungsi kognitif, pada wajah terjadi paralisis, afasia, ukuran/ reaksi
pupil tidak sama, kekakuan, kejang.
g. Kenyamanan / Nyeri
Gejala:

sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda

Tanda:

tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot

h. Pernapasan
Gejala:

merokok

Tanda:

ketidakmampuan menelan/ batuk/ hambatan jalan nafas, timbulnya pernafasan

sulit, suara nafas terdengar ronchi.


i. Keamanan
Tanda:

masalah dengan penglihatan, perubahan sensori persepsi terhadap orientasi

tempat tubuh, tidak mampu mengenal objek, gangguan berespons terhadap panas dan
dingin, kesulitan dalam menelan, gangguan dalam memutuskan.
j. Interaksi Sosial
Tanda:

masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi

k. Penyuluhan/ Pembelajaran
Gejala:

adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke, pemakaian kontrasepsi oral,

kecanduan alkohol.
Diagnosa Keperawatan
Setelah data-data dikelompokkan, kemudian dilanjutkan dengan perumusan
diagnosa. Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan, dan
mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respons terhadap masalah aktual dan resiko
tinggi (Doenges dkk, 1999). Untuk membuat diagnosis keperawatan yang akurat, perawat
harus mampu melakukan hal berikut yaitu mengumpulkan data yang valid dan berkaitan,
mengelompokkan data, membedakan diagnosis keperawatan dari masalah kolaboratif,
merumuskan diagnosis keperawatan dengan tepat, dan memilih diagnosis prioritas
(Carpenito & Moyet, 2007). Diagnosa keperawatan pada klien dengan Stroke (Doenges
dkk, 1999) meliputi :
a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan:
1) Interupsi aliran darah
2) Gangguan oklusif, hemoragi
3) Vasospasme serebral
4) Edema serebral
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan:
1) Kerusakan neuromuskuler

2) Kelemahan, parestesia
3) Paralisis spastis
4) Kerusakan perseptual/ kognitif
c. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
1) Kerusakan sirkulasi serebral
2) Kerusakan neuromuskuler
3) Kehilangan tonus otot/ kontrol otot fasial
4) Kelemahan/ kelelahan
d. Perubahan sensori persepsi berhubungan dengan:
1) Perubahan resepsi sensori, transmisi, integrasi (trauma neurologis atau defisit)
2) Stress psikologis (penyempitan lapang perseptual yang disebabkan oleh ansietas)
e. Kurang perawatan diri berhubungan dengan:
1) Kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/
koordinasi otot
2) Kerusakan perseptual/ kognitif
3) Nyeri/ ketidaknyamanan
4) Depresi
f.

Gangguan harga diri berhubungan dengan:


1) Perubahan biofisik, psikososial, perseptual kognitif

g. Resiko tinggi kerusakan menelan berhubungan dengan:


1) Kerusakan neuromuskuler/ perceptual
h. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan berhubungan dengan:
1) Kurang pemajanan
2) Keterbatasan kognitif, kesalahan interprestasi informasi, kurang mengingat
3) Tidak mengenal sumber-sumber informasi
B. Intervensi
Perencanaan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang berpusat
pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk
mencapai tujuan tersebut (Potter & Perry, 2005). Perencanaan merupakan langkah awal
dalam menentukan apa yang dilakukan untuk membantu klien dalam memenuhi serta
mengatasi masalah keperawatan yang telah ditentukan. Tahap perencanaan keperawatan

adalah menentukan prioritas diagnosa keperawatan, penetapan kriteria evaluasi dan


merumuskan intervensi keperawatan. Tujuan yang ditetapkan harus sesuai dengan
SMART, yaitu spesific (khusus), messeurable (dapat diukur), acceptable (dapat diterima),
reality (nyata) dan time (terdapat kriteria waktu). Kriteria hasil merupakan tujuan ke arah
mana perawatan kesehatan diarahkan dan merupakan dasar untuk memberikan asuhan
keperawatan komponen pernyataan kriteria hasil. Rencana tindakan keperawatan yang
disusun pada klien dengan Stroke ( Doenges dkk, 1999) adalah sebagai berikut :
a. Diagnosa keperawatan pertama: perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
oedema serebral.
1) Tujuan; kesadaran penuh, tidak gelisah
2) Kriteria hasil tingkat kesadaran membaik, tanda-tanda vital stabil tidak ada tanda-tanda
peningkatan tekanan intrakranial.
3) Intervensi;
a) Pantau/catat status neurologis secara teratur dengan skala koma glascow
Rasional: Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran.
b) Pantau tanda-tanda vital terutama tekanan darah.
Rasional: autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan.
c) Pertahankan keadaan tirah baring.
Rasional: aktivitas/ stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan Tekanan Intra
Kranial (TIK).
d) Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikkan dan dalam posisi anatomis
(netral).
Rasional: menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase dan
meningkatkan sirkulasi/ perfusi serebral.
e) Berikan obat sesuai indikasi: contohnya antikoagulan (heparin)
Rasional: meningkatkan/ memperbaiki aliran darah serebral dan selanjutnya dapat
mencegah pembekuan.
b. Diagnosa keperawatan kedua: kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan.
1) Tujuan; dapat melakukan aktivitas secara minimum

2) Kriteria hasil mempertahankan posisi yang optimal, meningkatkan kekuatan dan fungsi
bagian tubuh yang terkena, mendemonstrasikan perilaku yang memungkinkan
aktivitas.
3) Intervensi;
a) Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas
Rasional: mengidentifikasi kelemahan/ kekuatan dan dapat memberikan informasi
bagi pemulihan
b) Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang, miring)
Rasional: menurunkan resiko terjadinya trauma/ iskemia jaringan.
c) Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas
Rasional: meminimalkan

atrofi

otot,

meningkatkan

sirkulasi,

membantu

mencegah kontraktur.
d) Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan
ekstremitas yang tidak sakit.
Rasional: dapat berespons dengan baik jika daerah yang sakit tidak menjadi lebih
terganggu.
e) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, dan ambulasi
pasien.
Rasional

program khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan

yang berarti/ menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, koordinasi, dan


kekuatan.
c. Diagnosa keperawatan ketiga: kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan
kerusakan neuromuskuler.
1) Tujuan; dapat berkomunikasi sesuai dengan keadaannya.
2) Kriteria hasil; Klien dapat mengemukakan bahasa isyarat dengan tepat, terjadi kesalah
pahaman bahasa antara klien, perawat dan keluarga
3) Intervensi;
a) Kaji tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi
Rasional: Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indikator dari derajat
gangguan serebral
b) Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana
Rasional:

melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik

c) Tunjukkan objek dan minta pasien menyebutkan nama benda tersebut


Rasional:

Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik

d) Ajarkan klien tekhnik berkomunikasi non verbal (bahasa isyarat)


Rasional:

bahasa isyarat dapat membantu untuk menyampaikan isi pesan yang

dimaksud
e) Konsultasikan dengan/ rujuk kepada ahli terapi wicara.
Rasional:

untuk mengidentifikasi kekurangan/ kebutuhan terapi.

d. Diagnosa keperawatan keempat: perubahan sensori persepsi berhubungan dengan stress


psikologis.
1) Tujuan; tidak ada perubahan perubahan persepsi.
2) Kriteria hasil mempertahankan tingkat kesadarann dan fungsi perseptual, mengakui
perubahan dalam kemampuan.
3) Intervensi;
a) Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/ dingin, tajam/ tumpul, rasa
persendian.
Rasional:

penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan perasaan kinetic

berpengaruh buruk terhadap keseimbangan.


b) Catat terhadap tidak adanya perhatian pada bagian tubuh
Rasional:

adanya agnosia (kehilangan pemahaman terhadap pendengaran,

penglihatan, atau sensasi yang lain)


c) Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan seperti berikan pasien suatu benda untuk
menyentuh dan meraba.
Rasional:

membantu melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan

persepsi dan interprestasi stimulasi.


d) Anjurkan pasien untuk mengamati kakinya bila perlu dan menyadari posisi bagian
tubuh tertentu.
Rasional:

penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu dalam

mengintergrasikan kembali sisi yang sakit.


e) Bicara dengan tenang dan perlahan dengan menggunakan kalimat yang pendek.
Rasional:

pasien mungkin mengalami keterbatasan dalam rentang perhatian atau

masalah pemahaman.

Diagnosa keperawatan kelima: kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan


neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/ koordinasi otot
1) Tujuan; kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi
2) Kriteria hasil klien bersih dan klien dapat melakukan kegiatan personal hygiene secara
minimal
3) Intervensi;
a) Kaji kemampuan klien dan keluarga dalam perawatan diri.
Rasional:

Jika klien tidak mampu perawatan diri perawat dan keluarga membantu

dalam perawatan diri


b) Bantu klien dalam personal hygiene.
Rasional: Klien terlihat bersih dan rapi dan memberi rasa nyaman pada klien
c) Rapikan klien jika klien terlihat berantakan dan ganti pakaian klien setiap hari
Rasional: Memberi kesan yang indah dan klien tetap terlihat rapi
d) Libatkan keluarga dalam melakukan personal hygiene
Rasional: ukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam program peningkatan aktivitas
klien
e) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/ ahli terapi okupasi
Rasional:

memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi

Diagnosa keperawatan keenam: gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik,
psikososial, perseptual kognitif.
1) Tujuan; tidak terjadi gangguan harga diri
2) Kriteria hasil mau berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan
yang terjadi, mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi.
3) Intervensi;
a) Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat ketidakmampuannya.
Rasional:

penentuan faktor-faktor secara individu membantu dalam mengembankan

perencanaan asuhan/ pilihan intervensi.


b) Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik.

Rasional:

membantu peningkatan rasa harga diri dan kontrol atas salah satu bagian

kehidupan.
c) Berikan dukungan terhadap perilaku/ usaha seperti peningkatan minat/ partisipasi
dalam kegiatan rehabilitasi.
Rasional:

mengisyaratkan kemampuan adaptasi untuk mengubah dan memahami

tentang peran diri sendiri dalam kehidupan selanjutnya.


d) Dorong orang terdekat agar member kesempatan pada melakukan sebanyak mungkin
untuk dirinya sendiri.
Rasional: membangun kembali rasa kemandirian dan menerima kebanggan diri dan
meningkatkan proses rehabilitasi.
e) Rujuk pada evaluasi neuropsikologis dan/ atau konseling sesuai kebutuhan.
Rasional:

dapat memudahkan adaptasi terhadap perubahan peran yang perlu untuk

perasaan/ merasa menjadi orang yang produktif.


Diagnosa keperawatan ketujuh:

resiko tinggi kerusakan menelan berhubungan dengan

kerusakan neuromuskuler/ perseptual.


1) Tujuan; kerusakan dalam menelan tidak terjadi.
2) Kriteria hasil mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan
aspirasi tercegah, mempertahankan berat badan yang diinginkan.
3) Intervensi;
a) Tinjau ulang patologi/ kemampuan menelan pasien secara individual.
Rasional:

intervensi nutrisi/ pilihan rute makan ditentukan oleh faktor-faktor ini.

b) Letakkan pasien pada posisi duduk/ tegak selama dan setelah makan
Rasional:

menggunakan gravitasi untuk memudahkan proses menelan dan

menurunkan resiko terjadinya aspirasi.


c) Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan.
Rasional:

menguatkan otot fasiel dan otot menelan dan menurunkan resiko

terjadinya aspirasi.
d) Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan/ kegiatan.
Rasional:

meningkatkan pelepasan endorphin dalam otak yang meningkatkan

perasaan senang dan meningkatkan nafsu makan.


e) Berikan cairan melalui intra vena dan/ atau makanan melalui selang.

Rasional :

memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika pasien tidak mampu

untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut.


Diagnosa keperawatan kedelapan:

kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan

berhubungan dengan Keterbatasan kognitif, kesalahan interprestasi informasi, kurang


mengingat
1) Tujuan; klien mengerti dan paham tentang penyakitnya
2) Kriteria hasil berpartisipasi dalam proses belajar
3) Intervensi;
a) Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien
Rasional: untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien
b) Berikan informasi terhadap pencegahan, faktor penyebab, serta perawatan.
Rasional: untuk mendorong kepatuhan terhadap program teraupetik dan meningkatkan
pengetahuan keluarga klien
c) Beri kesempatan kepada klien dan keluarga untuk menanyakan hal- hal yang belum
jelas.
Rasional: memberi kesempatan kepada orang tua dalam perawatan anaknya
d) Beri feed back/ umpan balik terhadap pertanyaan yang diajukan oleh keluarga atau
klien.
Rasional:

mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman klien atau keluarga

e) Sarankan pasien menurunkan/ membatasi stimulasi lingkungan terutama selama


kegiatan berfikir
Rasional:

stimulasi yang beragam dapat memperbesar gangguan proses berfikir.

DAFTAR PUSTAKA
Black, J.M. & Matassarin-Jacobs, F. (1993). Luckmann and Sorensens Medical-Surgical
Nursing: a psychophysiologic approach. (4th ed.). Philadelphia: W.B. Saunders
Company
Lewis, S.M., Heitkemper, M.M., & Dirksen, S.R.(2003. Medical Surgical Nursing:
Assessment and Management of Clinical Problems. (5th ed.). St. Louis: Mosby.
Carpenito, L.J & Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 10. Jakarta: EGC.

Doenges. M.E; Moorhouse. M.F; Geissler. A.C. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3.
Jakarta: EGC.
Mansjoer, A,.Suprohaita, Wardhani WI,.& Setiowulan, (2000). Kapita Selekta Kedokteran
edisi ketiga jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.
Nanda. (2005-2006). Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima medika.
Potter & Perry. (2006). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4 vol 1.
Jakarta: EGC
Price, S.A & Wilson. L.M. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi
6 vol 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 vol 3.
Jakarta: EGC