Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

HUKUM POISEUILLE DAN SISTEM KARDIOVASKULER

KELOMPOK B-01

Anggota

Muhamad Rezha Cahyana

1102014163

Muhamad Wilianto

1102014164

Muhammad Faisal Indrasyah

1102014167

Nimas Ayu Azizah

1102014194

Perty Hasanah Permatahati

1102014209

Putri Kurnia

1102014214

Sarah Fathiynah Putri

1102014238

Siti Rohaeni

1102014254

Widia Siti Sarah

1102013301

UNIVERSITAS YARSI JAKARTA


Jl. Let. Jend. Suprapto, Cempaka Putih, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10510
Telp. (021) 4206675

DAFTAR ISI

K-1
HUKUM POISEUILLE

1. Tujuan Percobaan
1. Memahami karakteristik aliran fluida
2. Mengukur debit aliran fluida yang melewati pipa dengan diameter serta variabel
yang berbeda-beda
2. Alat-alat Percobaan
1. Tabung gelas yang panjangnya 80 cm
2. Statif untuk menjepit tabung agar berdiri vertikal
3. Gelas ukur
4. Stopwatch
5. Aerometer dengan daerah ukur sampai 1,1 g/cm3
6. Pipa karet
7. Spluit (alat suntik )
8. Larutan NaCl
3. Dasar Teori
Lapisan paling luar fluida melekat pada dinding pipa dan kecepatannya nol.dinding
pipa menahan gerak lapisan paling luar dan lapisan ini menahan pula lapisan
berikutnya,begitU seterusnya. Asal kecepatan tidak terlalu besar,aliran akan laminer,
dengan kecepatan paling besar dibagian tengah pipa,lalu berangsur kecil sampai
menjadi nol pada dinding pipa.
Sepotong pipa yang radius dalamnya R dan panjangnya L mengalir fluida yang
viskositasnya secara laminer. Silinder kecil beradius r berada dalam kesetimbangan
disebabkan gaya dorong yang timbul akibat perbedaan tekanan antara ujung-ujung
silinder itu serta gaya kekentalan yang menahan pada permukaan luar.gaya dorong ini
adalah:
(P1-P2) r2
Menggunakan persamaan umum untuk mencari koefisien viskositas,maka gaya
kekentalan:
(P1-P2) r2 = x2 rL x dv/dr
Dimana dv/dr ialah gradien kecepatan pada jarak radial r dari sumbu.Tanda (-)negatif
diberikan karena v berkurang bila r bertambah.dengan menjabarkan gaya-gaya dan
mengintegrasikannya akan diperoleh persamaan parabola.Gradien kecepatan untuk r
sembarang merupakan kemiringan garis lengkung ini yang diukur terhadap sebuah
sumbu vertikal.
Untuk menghitung debit aliran Q atau volume fluida yang melewati sembarang
penampang pipa persatuan waktu.Dengan mengambil rumusan v dari persamaan (2)
kemudian mengintegrasikan seluruh elemen antara r = 0 dan r = R,dan membagi
dengan dt.
Hukum Poiseuille menyatakan bahwa aliran melalui suatu tabung bergantung pada
perbedaan tekanan antara satu ujung dengan ujung lain, panjang tabung, dan jari-jari
tabung, serta viskositas cairan.

Apabila kecepatan suatu fluida yang mengalir dalam sebuah pipa melampaui harga kritis
tertentu (yang bergantng pada sifat-sifat fluida dan pada radius pipa), maka sifat aliran
menjadi sangat rumit. Di dalalam lapisan sangat tipis sekali yang bersebelahan dengan
dinding pipa, disebut lapisan batas, alirannya masih laminar. Kecepatan aliran di dalam
lapisan batas pada dinding pipas adalah nol dan semakin bertambah besar secara uniform di
dalam lapisan itu. Sifat-sifat lapisan batas sangat penting sekali dalam menentukan tahanan
terhadap aliran, dan dalam menentukan perpindahan panas kea tau dari fluida yang sedang
bergerak itu.
Di luar lapisan batas, gerak fluida sangat tidak teratur. Di dalam fluida timbul arus
pusar setempat yang memperbesar tahanan terhadap aliran. Aliran semacam ini disebut aliran
yang turbulen. Percobaan menunjukkan bahwa ada kombinasi empat faktor yang menentukan
apakah aliran fluida melalui pipa bersifat laminar atau turbulen. Kombinasi ini dikenal
sebagai bilangan Reynold, NR dan didefinisikan sebagai :
NR =
Dimana ialah rapat massa fluida, v ialah kecepatan aliran rata-rata, ialah viskositas dan
D adalah diameter pipa. Kecepatan rata-rata adalah kecepatan uniform melalui penampang
lintang yang menimbulkan kecepatan pengosongan yang sama. Bilangan Reynold aialah
besaran yang tidak berdimensi dan besar angkanya adalah sama dalam setiap system satuan
tertentu. Tiap percobaan menunjukkan bahwa apabila bilangan Reynold lebih kecil dari kirakira 2000, aliran akan laminar ; jika lebih dari 3000, aliran akan turbulen ; dalam daerah
transisi Antara 2000-3000, aliran tidak stabil dan dapat berubah dari laminar menjadi turbulen
atau sebaliknya.
4. Prosedur Percobaan
A. Menghitung debit aliran dengan panjang pipa sama dan tekanan berbeda.
1) Bersihkan tabung terlebih dahlu dengan air kemudian jepitlah tabung secara vertikal
pada statif yang tersedia
2) Tutuplah kran pada kedua pipa yang panjang sama dengan ketinggian berbeda
kemudian isilah air sampai batas yang ditentukan .
3) Taruhlah gelas ukur pada ujung kedua pipa untuk menampung air yang keluar.

4) Hidupkanlah pompa air, buka kran pada kedua pipa dan tekan stopwatch selama 15
detik secara serentak dan bersama-sama.
5) Hitunglah volume air yang ditampung dalam kedua gelas ukur tersebut.
6) Ulangi percobaan no.4 dan 5 sebanyak 5 kali
B. Menghitung debit aliran dengan panjang pipa sama dan viskositas berbeda.
1) Bersihkan tabung terlebih dahulu dengan air kemudian jepitlah tabung secara vertikal
pada statif yang tersedia.
2) Buatlah larutan kecap (dianggap konsentrasinya 100%). Ukurlah massa jenisnya
dengan aerometer dan isikan pada tabel data.
3) Isilah larutan kecap ke dalam tabung sampai batas yang ditentukan.
4) Taruhlah gelas ukur pada ujung pipa untuk menampung air yang keluar.
5) Buka kran pada pipa sambil menekan stopwatch selama 25 detik secara serentak dan
bersama-sama.
6) Hitunglah volume air yang ditampung dalam gelas ukur tersebut.
7) Ulangi percobaan untuk larutan kecap sebanyak 3x.
8) Ulangi percobaan 2 sampai 7 untuk larutan kecap yang diencerkan menjadi 50%
C. Menghitung debit aliran untuk panjang pipa dan radius / jari-jari yang berbeda, caranya
sama dengan bagian (a).
DATA PERCOBAAN K-1 : HUKUM POSEUILLE
Densitas Aquadest : aq = 1 g/cm3
Densitas Kecap 100% : kecap1 = 13 g/cm3
Densitas Kecap 50% : kecap2 = 6 g/cm3
a) Mengihtung debit aliran untuk panjang pipa sama dan tekanan berbeda
Volume (ml)
Debit aliran (ml/s)
No
Waktu (s)
Pipa 1
Pipa 2
Pipa 1
Pipa 2
1
15
120
350
8
20,6
2
15
160
350
10,6
23,3
3
15
150
310
10
20,6
Pada debit aliran dengan panjang pipa sama dan tekanan berbeda disimpulkan pipa yang
memiliki tekanan yang besar memiliki debit aliran yang besar, begitu pun sebaliknya
tekanan kecil maka debit aliran yang dihasilkan pun akan kecil.
b) Menghitung debit aliran untuk panjang pipa sama dan viskositas berbeda
i.
Konsentrasi Kecap 100%
Volume (ml)
Debit aliran (ml/s)
No
Waktu (s)
Pipa 1
Pipa 2
Pipa 1
Pipa 2
1
135
195
2,05
2
142
180
1,76
3
148
185
1,71
ii. Konsentrasi kecap 50%
No

Waktu (s)

11

Volume (ml)
Pipa 1
Pipa 2
175

Debit aliran (ml/s)


Pipa 1
Pipa 2
2,91

2
3

45
53

190
185

4
3,49

Pada debit aliran untuk panjang pipa sama dan viskositas berbeda dapat disimpulkan
bahwa apabila viskositas (kekentalan) semakin besar maka debit aliran yang
dihasilkannya akan kecil dan begitupun sebaliknya
c) Menghitung debit aliran untuk panjang pipa berbeda dan tekanan sama

No

Waktu (s)

1
2
3

15
15
15

Volume (ml)
Pipa 1
Pipa 2
320
330
340
350
300
350

Debit aliran (ml/s)


Pipa 1
Pipa 2
21,3
22
22,6
23,3
20
23,3

Pada debit aliran untuk panjang pipa berbeda dan tekanan sama dapat disimpulkan
bahwa pada pipa yang panjang menghasilkan debit aliran yang kecil dan pipa yang
pendek menghasilkan debit aliran yang lebih deras atau cepat.
d) Menghitung debit aliran untuk panjang pipa sama dan diameter berbeda

No

Waktu (s)

1
2
3

15
15
15

Volume (ml)
Pipa 1
Pipa 2
145
340
160
350
150
390

Debit aliran (ml/s)


Pipa 1
Pipa 2
9,6
22,6
10,6
23,3
10
26

Pada debit aliran untuk panjang pipa sama dan diameter berbeda dapat disimpulkan
bahwa pada pipa dengan diameter yang besar maka akan menghasilkan debit aliran yang
besar sedangkan pada pipa dengan diameter yang kecil akan menghasilkan debit aliran
yang kecil pula.
5. Tugas Pada Laporan Akhir
1. Bandingkan debit aliran pada pipa I dan pida II, apa yang dapat saudara simpulkan?
A. Percobaan A (panjang pipa sama dan tekanan berbeda)
Pipa I = tekanan lebih kecil
Pipa II = tekanan lebih besar
Kesimpulan = semakin besar tekanan yang diberikan, maka volume dan debit air yang
dikeluarkan lebih besar juga. Tekanan berbanding lurus dengan volume dan debit air
B. Percobaan B (panjang pipa sama dan viskositas berbeda)
Pipa I = viskositas 100%
Pipa II = Viskositas 50%
Kesimpulan = semakin tinggi viskositas, maka semakin kecil volume dan debit air
yang dikeluarkan. Semakin rendah viskositas, maka semakin besar volume dan debit
air yan dikeluarkan. Viskositas berbanding terbalik dengan volume dan debit air
C. Percobaan III (panjang pipa berbeda dan tekanan sama)
Pipa I = pipa yang lebih pendek

Pipa II = pipa yang lebih panjang


Kesimpulan = semakin pendek pipa yang dilewati air, maka volume dan debit air
yang dikeluarkan semakin banyak. Semakin panjang pipa yang dilewati air, maka
volume dan debit air yang dikeluarkan semakin sedikit. Panjang pipa berbanding
terbalik dengan volume dan debit air
D. Percobaan IV (panjang pipa sama dan diameter berbeda)
Pipa I = diameter pipa lebih kecil
Pipa II = diameter pipa lebih besar
Kesimpulan = pada percobaan digunakan air, sehingga semakin besar diameter maka
aliran air semakin lambat, tetapi semakin kecil diameter maka aliran air semakin
cepat. Jika cairan yang digunakan menggunakan viskositas yang tinggi, semakin besar
diameter maka aliran cairan semakin cepat, tetapi semakin kecil diameter maka aliran
cairan semakin lambat.
2. Hitunglah galat debit aliran pada pipa I dan pipa II untuk masing-masing percobaan
(terlampir di Hasil Percobaan)
3. Hitunglah bilangan Reynold (Nr) pada masing-masing percobaan
4. Buatlah grafik hubungan antara debit aliran terhadap tekanan

KESIMPULAN
A. Menghitung debit aliran untuk panjang pipa sama dan tekanan berbeda Percobaan yang
dilakukan telah membuktikan rumus Poiseuille, di mana jika tekanan yang lebih besar
akan menghasilkan debit aliran yang meningkat dan sebaliknya.
B. Menghitung debit aliran untuk panjang pipa sama dan viskositas berbeda Percobaan yang
dilakukan telah membuktikan rumus Poiseuille, di mana jika viskositas dinaikkan akan
menghasilkan debit aliran yang menurun dan sebaliknya.
C. Menghitung debit aliran untuk panjang pipa berbeda dan tekanan sama Percobaan yang
dilakukan telah membuktikan rumus Poiseuille, di mana jika panjang pipa dinaikkan akan
menghasilkan debit aliran yang menurun dan sebaliknya.
D. Menghitung debit aliran untuk panjang pipa sama dan diameter berbeda Percobaan yang
dilakukan telah membuktikan rumus Poiseuille, di mana jika diameter pipa diperbesar
akan menghasilkan debit aliran yang meningkat dan sebaliknya, walaupun peningkatan
yang terjadi tidak sesignifikan yang dilakukan oleh Poiseuille.

III. SISTEM KARDIOVASKULER


III. 1 PENGUKURAN SECARA TIDAK LANGSUNG TEKANAN DARAH ARTERI
PADA ORANG
DASAR TEORI
Tekanan darah adalah tekanan yang diberikan oleh sirkulasi darah pada dinding
pembuluh darah, dan merupakan salah satu tanda-tanda vital utama. Pada setiap detak
jantung, tekanan darah bervariasi antara tekanan maksimum (sistolik) dan minimum
(diastolik). Tekanan darah dikarenakan oleh pemompaan jantung dan resistensi pembuluh
darah, berkurang sebagai sirkulasi darah menjauh dari jantung melalui arteri. Tekanan darah

memiliki penurunan terbesar dalam arteri kecil dan arteriol, dan terus menurun ketika
bergerak melalui darah kapiler dan kembali ke jantung melalui pembuluh darah. Gravitasi,
katup dalam pembuluh darah, dan memompa dari rangka kontraksi otot, adalah beberapa
pengaruh lain pada tekanan darah diberbagai tempat di dalam tubuh.
Tekanan darah dinilai dalam dua hal, sebuah tekanan tinggi sistolik yang menandakan
kontraksi maksimal jantung dan tekanan rendah diastolik atau tekanan istirahat. Tekanan
darah merujuk kepada tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri darah ketika darah di
pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan
mengambil dua ukuran dan biasanya diukur seperti berikut - 120 /80 mmHg. Nomor atas
(120) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung, dan disebut
tekanan sistole. Nomor bawah (80) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara
pemompaan, dan disebut tekanan diastole.
Pemeriksaan tekanan darah biasanya dilakukan pada lengan kanan, kecuali pada
lengan tersebut terdapat cedera. Perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut
tekanan denyut. Di Indonesia, tekanan darah biasanya diukur dengan tensimeter air raksa.
Saat yang paling baik untuk mengukur tekanan darah adalah saat Anda istirahat dan dalam
keadaan duduk atau berbaring. Tidak ada nilai tekanan darah 'normal' yang tepat, namun
dihitung berdasarkan rentang nilai berdasarkan kondisi pasien. Tekanan darah amat
dipengaruhi oleh kondisi saat itu, misalnya seorang pelari yang baru saja melakukan lari
maraton, memiliki tekanan yang tinggi, namun ia dalam nilai sehat. Dalam kondisi pasien
tidak bekerja berat, tekanan darah normal berkisar 120/80 mmHg. Tekanan darah tinggi atau
hipertensi diukur pada nilai sistolik 140-160 mmHg. Tekanan darah rendah disebut hipotensi.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anakanak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan
darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan
aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda;
paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari. Bila tekanan
darah diketahui lebih tinggi dari biasanya secara berkelanjutan, orang itu dikatakan
mengalami masalah darah tinggi. Penderita darah tinggi mesti sekurang-kurangnya
mempunyai tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat.
Tekanan yang diciptakan oleh kontraksi ventrikel adalah kekuatan pendorong untuk
aliran darah melalui pembuluh dari sistem. Ketika darah meninggalkan ventrikel kiri, aorta
dan arteri diperluas untuk mengakomodasi hal itu. Ketika ventrikel relaks dan menutup katup
semilunar, dinding elastis arteri mundur, mendorong darah maju ke arteri yang lebih kecil dan
arteriol. Dengan mempertahankan tekanan aliran darah selama ventrikel berelaksasi, arteri
terus-menerus menghasilkan aliran darah melalui pembuluh darah. Sirkulasi arus di sisi arteri
berdenyut, mencerminkan perubahan dalam tekanan arteri sepanjang siklus jantung. Ketika
melewati arteriol, gelombang menghilang.
Dalam sirkulasi sistemik, tekanan darah tertinggi terletak pada arteri dan terendah di
pembuluh darah kecil. Tekanan darah tertinggi di arteri dan jatuh terus seperti darah mengalir
melalui sistem sirkulasi. Penurunan tekanan terjadi karena energi yang hilang akibat
hambatan dari pembuluh darah. Resistensi terhadap aliran darah juga berasal dari gesekan
antara sel-sel darah. Dalam sirkulasi sistemik, tekanan tertinggi terjadi di dalam aorta dan
mencerminkan tekanan diciptakan oleh ventrikel kiri. Tekanan aorta mencapai tinggi rata-rata
120 mm Hg selama sistol ventrikel, kemudian terus menurun dari 80 mm Hg selama diastol
ventrikel. Perhatikan bahwa meskipun tekanan dalam ventrikel turun menjadi hampir 0 mm
Hg sebagai ventrikel relaks, tekanan diastolik dalam arteri besar masih relatif tinggi. Tekanan
diastolik yang tinggi dalam arteri mencerminkan kemampuan wadahnya untuk menangkap
dan menyimpan energi dalam dinding elastis. Peningkatan tekanan yang cepat terjadi saat
ventrikel kiri mendorong darah ke aorta dapat ditinggalkan sebagai denyut nadi, atau tekanan

gelombang, diteruskan melalui arteri berisi cairan dari sistem kardiovaskular. Gelombang
tekanan sekitar 10 kali lebih cepat dari darah itu sendiri.
Pengaruh Tekanan Darah Arteri Rata-Rata
Tekanan darah arteri rata-rata adalah gaya utama yang mendorong darah ke jaringan.
Tekanan ini harus diatur secara ketat karena dua alas an. Pertama, tekanan tersebut harus
tinggi untuk menghasilkan gaya dorong yang cukup; tanpa tekanan ini, otak dan jaringan lain
tidak akan menerima aliran yang adekuat seberapapun penyesuaian lokal mengenai resistensi
arteriol ke organ-organ tersebut yang dilakukan. Kedua, tekanan tidak boleh terlalu tinggi,
sehingga menimbulkan beban kerja tambahan bagi jantung dan meningkatkan resiko
kerusakan pembuluh serta kemungkinan rupturnya pembuluh-pembuluh halus. Mekanismemekanisme yang melibatkan integrasi berbagai komponen sistem sirkulasi dan sistem tubuh
lain penting untuk mengatur tekanan darah arteri rata-rata ini. Dua penentu utama tekanan
darah arteri rata-rata adalah curah jantung dan resistensi perifer total:
Tekanan darah arteri rata-rata = curah jantung x resistensi perifer total
Pada gilirannya, sejumlah faktor menentukan curah jantung dan resistensi perifer
total. Dengan demikian, kita dapat memahami kompleksitas pengaturan tekanan darah.
Perubahan setiap faktor tersebut akan mengubah tekanan darah kecuali apabila terjadi
perubahan kompensatorik pada variable lain sehingga tekanan darah konstan. Aliran darah ke
suatu jaringan bergantung pada gaya dorong berupa tekanan darah. Dengan demikian,
variable kardiovaskular harus terus-menerus diubah untuk mempertahankan tekanan darah
yang konstan walaupun kebutuhan jaringan akan darah berubah-ubah.
Tekanan arteri rata-rata secara konstan dipantau olehbaroreseptor (sensor tekanan) di
dalam sistem sirkulasi. Apabila reseptor mendeteksi adanya penyimpangan dari normal, akan
dimulai serangkaian respons refleks untuk memulihkan tekanan arteri ke nilai normalnya.
Penyesuaian jangka pendek (dalam beberapa detik) dilakukan dengan mengubah curah
jantung dan resistensi perifer total, yang diperantarai oleh pengaruh sistem saraf otonom pada
jantung, vena, dan arteriol. Penyesuaian jangka panjang (memerlukan waktu beberapa menit
sampai hari) melibatkan penyesuaian volume darah total dengan memulihkan keseimbangan
garam dan air melalui mekanisme yang mengatur pengeluaran urine dan rasa haus. Besarnya
volume darah total, pada gilirannya, menimbulkan efek nyata pada curah jantung dan tekanan
arteri rata-rata.
Metode Pengukuran Tekanan Darah
Bila kanula dimasukkan ke arteri, tekanan arteri dapat diukur secara langsung dengan
manometer air raksa atau ukuran dasar ketegangan yang sesuai dan suatu osiloskop diatur
untuk menulis secara langsung pada potongan kertas yang bergerak. Bila arteri diikat diatas
titik tempat memasukkan kanula, suatu tekanan terekam. Aliran dalam arteri terganggu, dan
semua energy kinetic dari aliran dikonversi menjadienergi tekanan. Bila, pilihan lain, suatu
tabung T dimasukkan kedalam pembuluh darah dan tekanan diukur pada sisi lengan tabung,
rekaman tekanan sisi pada tekanan turun karena tahanan diabaikan ialah lebih rendah
dibandingkan tekanan ujung oleh energy kinetic dari aliran.
Metode Auskultasi
Tekanan darah arteri pada manusia secara rutin diukuk dengan metode auskultasi.
Suatu manset yang dapat dipompa dihubungkan pada manometer air raksa kemudian
dililitkan disekitar lengan dan stetoskop diletakkan diatas arteri brakialis pada siku.
Manset secara tepat dipompa sampai tekanan didalamnya diatas tekanan sistolik yang
diharapkan dalam arteri brakialis. Arteri dioklusi oleh manset dan tidak ada suara

terdengar oleh stetoskop. Kemudian tekanan dalam manset diturunkan secara perlahanlahan. Pada titik tekana sistolik dalam arteri dapat melampaui tekanan manset, semburan
darah melewatinya pada tiap denyut jantung dan secara sinkron dengan tiap denyut, bunyi
detakan didengar dibawah manset.
Metode Palpasi
Tekanan sistolik dapat ditentukan dengan memompa manset lengan dan kemudian
membiarkan tekanan turun dan tentukan tekanan pada saat denyut radialis pertama kali
teraba. Oleh karena kesukaran dalam menetukan secara pasti kapan denyut pertama
teraba, tekanan yang diperoleh dengan metode palpasi biasanya 2-5 mm Hg lebih rendah
dibandingkan dengan yang diukur menggunakan metode auskultasi.
Adalah bijaksana melakukan kebiasaan meraba denyut nadi radialis ketika
memompa manset selama pengukuran tekanan darah dengan metode auskultasi. Bila
tekanan manset diturunkan, bunyi Korotkoff kadang-kadang menghilang pada tekanan
diatas tekanan diastolic, kemudian muncul lagi pada tekanan yang lebih rendah. Bila
manset dimulai untuk dipompa sampai denyut radialismenghilang, pemeriksa dapat yakin
bahwa tekanan manset diatas tekanan sistolik dan nilai tekanan rendah palsu dapat
dihindari.
Metode Oscillometric
Metode Oscillometric pertama kali ditunjukkan pada tahun 1876 dan melibatkan
pengamatan osilasi dalam tekanan manset sphygmomanometer yang disebabkan oleh
aliran darah osilasi, yaitu pulsa. Versi elektronik dari metode ini kadang-kadang
digunakan dalam lama jangka pengukuran dan praktik umum. Metode ini menggunakan
manset sphygmomanometer seperti metode auscultatory, tapi dengan sensor tekanan
elektronik (transducer) untuk mengamati osilasi tekanan manset, elektronik untuk
menafsirkannya secara otomatis, dan otomatis inflasi dan deflasi manset. Sensor tekanan
harus dikalibrasi secara berkala untuk menjaga akurasi.
Pengukuran oscillometric memerlukan keterampilan teknik lebih sedikit daripada
auscultatory, dan mungkin cocok untuk digunakan oleh staf terlatih dan untuk
pemantauan di rumah pasien secara otomatis. Pada awalnya tekanan manset ini
mengembang melebihi tekanan arteri sistolik, dan kemudian mengurangi tekanan
diastolik selama sekitar 30 detik. Ketika aliran darah adalah nol (tekanan manset melebihi
tekanan sistolik) atau tanpa hambatan (tekanan manset di bawah tekanan diastolik),
tekanan manset akan konstan. Kebenaran ukuran manset sangat penting karena ukuran
manset yang kecil/sempit dapat menghasilkan tekanan yang terlalu tinggi, sedangkan
ukuran manset yang besar/longgar dapat menghasilkan tekanan yang terlalu rendah.
Ketika aliran darah hadir, tetapi dibatasi, tekanan manset, yang dipantau oleh sensor
tekanan, akan bervariasi secara berkala selaras dengan siklus ekspansi dan kontraksi arteri
brakialis, yaitu, akan terombang-ambing. Kemudian nilai-nilai sistolik dan tekanan
diastolic dihitung, sebenarnya tidak diukur dari data mentah, tetapi menggunakan
algoritma, lalu hasil yang telah dihitung akan ditampilkan.
Oscillometric monitor bisa menghasilkan pembacaan yang tidak akurat pada pasien
dengan masalah jantung dan sirkulasi, yang meliputi arteri sklerosis, aritmia, preeklampsia, pulsus alternans, dan pulsus paradoxus.
Dalam praktiknya, metode yang berbeda tidak memberikan hasil identik; algoritma
dan koefisien yang diperoleh secara eksperimental digunakan untuk menyesuaikan hasil
oscillometric untuk memberikan bacaan yang sesuai dengan hasil auscultatory sebaikbaiknya. Beberapa peralatan komputer menggunakan analisis dibantu sesaat gelombang
tekanan arteri untuk menentukan sistolik, berarti, dan diastolik poin. Karena banyak
perangkat oscillometric belum divalidasi, kehati- hatian harus diberikan karena
kebanyakan tidak cocok dalam klinis dan pengaturan perawatan akut.

TUJUAN
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat:
1. Mengukur tekanan darah arteri brachialis dengan cara auskultasi dengan penilaian
menurut metoda lama dan metode baru The American Heart Association (AHA)
2. Mengukur tekanan darah arteri brachialis dengan cara palpasi
3. Menerangkan perbedaan hasil pengukuran cara auskultasi dengan cara palpasi
4. Membandingkan hasil pengukuran tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring,
duduk dan berdiri
5. Menguraikan berbagai factor penyebab perubahan hasil pengukuran tekanan darah pada
ketiga sikap tersebut di atas.
6. Membandingkan hasil pengukuran darah arteri brachialis sebelum dan sesudah kerja otot
7. Menjelaskan berbagai factor penyebab perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah
kerja otot
Alat yang diperlukan :
1. Sfigmomanometer
2. Stetoskop
TATA KERJA
I. Pengukuran tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring, duduk, dan
berdiri
Berbaring telentang :
1. Suruhlah orang percobaan (o.p) berbaring telentang dengan tenang selama 10
menit
2. Selama menunggu, pasanglah manset sfigmomanometer pada lengan o.p
3. Carilah dengan cara palpasi denyut arteri brachialis pada fossa cubiti dan denyut
arteri radialis pada pergelangan tangan kanan op
4. Setelah o.p berbaring 10 menit, tetapkanlah keliam fase Korotkoff dalam
pengukuran tekanan darah op tersebut.
5. Ulangi pengukuran sub.4 sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai rata-rata dan
catatlah hasilnya.
Duduk :
6. Tanpa melepaskan manset o.p disuruh duduk. Setelah ditunggu 3 menit ukurlah
lagi tekanan darah arteri brachialisnya dengan cara yang sama. Ulangi pengukuran
sebanyak 3 kali untuk mendapatkan nilai rata-rata dan catatlah hasilnya.
Berdiri:

7. Tanpa melepaskan manset, o.p disuruh berdiri. Setelah ditunggu 3 menit ukurlah
lagi tekanan darah arteri brachialisnya dengan cara yang sama. Ulangi pengukuran
sebanyak 3 kali untuk mendapatkan hasil rata-rata dan catatlah hasilnya.
8. Bandingkanlah hasil pengukuran tekanan darah o.p pada ketiga sikap yang berbeda
di atas.
II. Pengukuran tekanan darah sesudah kerja otot
1. Ukurlah tekanan darah a.bracialis o.p dengan penilaian menurut metode baru pada
sikap duduk (o.p tidak perlu yang sama seperti pada sub.1)
2. Tanpa melepaskan manset suruhlah o.p berlari ditempat dengan frekuensi kurang
lebih 120 loncatan/menit selama 2 menit. Segera setelah selesa o.p disuruh duduk dan
ukurlah tekanan darahnya.
3. Ulangi pengukuran tekanan darah ini tiap menit sampai tekanan darahnya kembali
seperti semula. Catatlah hasil pengukuran tersebut.
III.Pengukuran tekanan darah a.brachialis dengan cara palpasi
1. Ukurlah tekanan darah a.brachialis o.p pada sikap duduk dengan cara auskultasi
(sub.1)
2. Ukurlah tekanan darah a.brachialis o.p pada sikap yang sama dengan cara palpasi.
HASIL PRAKTIKUM
1. Pengukuran tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring, duduk, dan
berdiri
OP:
A.radialis (palpasi, sistolik) (mmHg)

A.brachialis (palpasi, sistolik) (mmHg)

a. Saat Berbaring

a. Radialis (sistolik, palpasi) = mmHg

a. Brachialis
-

Palpasi (sistolik) = mmHg

Auskultasi = mmHg

Palpasi (mmHg)

Auskultasi (mmHg)

b. Saat Duduk
A. Brachialis
Palpasi (mmHg)

Auskultasi (mmHg)

c. Saat Berdiri
A. Brachialis
Palpasi (mmHg)

Auskultasi (mmHg)

2. Pengukuran tekanan darah sesudah kerja otot


OP:
Sesudah Loncat selama 2 menit : mmHg
Setelah loncat (istirahat 1 menit) : mmHg
Setelah loncat (istirahat 1,5menit) : mmHg
3. Pengukuran tekanan darah a.brachialis dengan cara palpasi
OP:
Palpasi
: mmHg
Auskultasi : mmHg
PEMBAHASAN
1. Pengukuran tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring, duduk, dan berdiri
2. Pengukuran tekanan darah sesudah kerja otot
3. Pengukuran tekanan darah a.brachialis dengan cara palpasi
Jawaban Pertanyaan
I. Pengukuran tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring, duduk, dan
berdiri
Berbaring
1. Apa yang harus diperhatikan pada waktu memasang manset?
Jawaban: pemasangan manset berada di lengan atas (kurang lebih 3 jari di atas fossa
cubiti), jangan terbalik, tidak terlalu longgar dan tidak terlalu kencang (karena dapat
mempengaruhi tekanan darah o.p.) Bila manset tidak terpasang dengan tepat maka
dapat diperoleh pembacaan yang abnormal tinggi.
2. Mengapa kita harus meraba letak denyut arteri brachialis dan arteri radialis op?

Jawaban:untuk menghitung tekanan darah kita harus meraba arteri yang denyutan nya
cukup jelas dan tempat aliran darah nya sudah laminer (tenang) serta mudah
untuk diperiksa pada o.p./ pasien dan untuk menentukan sistole o.p. tersebut
3. Tindakan apa yang saudara lakukan secara berturut-turut untuk mengukur tekanan
darah ini?
Jawaban:
a) Pasanglah manset pada lengan atas , dengan batas bawah manset 2 - 3 cm dari
lipat siku dan perhatikan posisi pipa manset yang akan menekan tepat di atas
denyutan arteri dilipat siku ( arteri brakialis)
b) Letakkan stetoskop tepat di atas arteri brakialis
c) Rabalah pulsasi arteri pada pergelangan tangan (arteri radialis)-(lihat gambar)
d) Pompalah manset hingga tekanan manset mencapai 30 mmHg setelah pulsasi
arteri radialis menghilang.
e) Bukalah katup manset dan tekanan manset dibirkan menurun perlahan dengan
kecepatan 2-3 mmHg/detik
f) Bila bunyi pertama terdengar , ingatlah dan catatlah sebagai tekanan sistolik.
g) Bunyi terakhir yang masih terdengar dicatat sebagai tekanan diastolik
h) Turunkan tekanan manset sampai 0 mmHg, kemudian lepaskan manset.
4. Sebutkan kelima fase Korotkoff. Bagaimana menggunakan fase Korotkoff tersebut
dalam pengukuran tekanan darah dengan penilaian menurut metode lama dan baru?
Jawaban:

Fase I : timbulnya dengan tiba-tiba suatu bunyi mengetuk yang jelas dan makin
lama makin keras sewaktu tekanan menurun 10-14 mmHg berikutnya. Ini disebut
pula nada letupan.

Fase II : bunyi berubah kualitasnya menjadi bising selama penurunan tekanan 1520 mmHg berikutnya.

Fase III : bunyi sedikit berubah dalam kualitas, tetapi menjadi jelas dan keras
selama penurunan tekan 5-7 mmHg berikutnya.

Fase IV : bunyi meredam (melemah) selama penurunan 5-6 mmHg berikutnya.


Setelah itu bunyi menghilang

Fase V : titik dimana bunyi menghilang.

Suara yang pertama kali terdengar (fase I) terjadi pada tekanan berapa, itulah
tekanan sistole.
Fase V dalam metode baru merupakan tekanan diastole
Fase IV dalam metode lama merupakan tekanan diastole
5. Apa yang harus diperhatikan bila kita ingin mengulangi pengukuran tekanan darah?
Apa sebabnya?
Jawaban: pasien harus relaksasi terlebih dahulu karena tekanan darah yang
dipengaruhi oleh kontraksi otot (belum relaksasi) lebih tinggi.
Duduk
6. Sebutkan 5 faktor yang menentukan besar tekanan darah arteri?
Jawaban:
a. Pengembalian darah melalui vena/ jumlah darah yang kembali ke jantung melalui
vena. Jika darah yang kembali menurun, otot jantung tidak akan terdistensi,
kekuatan ventricular pada faase sistolik akan menurun dan tekanan darah akan
menurun. Hal ini bisa disebabkan oleh perdarahan berat. Pada keadaan tidur atau
berbaring dimana tubuh dalam keadaan posisi horizontal, pengembalian darah ke
jantung melalui vena bisa dipertahankan dengan mudah. Tapi, ketika berdiri
aliran darah vena kembali ke jantung mengalami tahanan lain, yaitu gravitas.
Terdapat 3 mekanisme membantu pengembalian darah melalui vena, yaitu
konstriksi vena, pompa otot rangka dan pompa respirasi
b. Frekuensi dan kekuatan konstraksi jantung. Secara umum, apabila frekuensi dan
kekuatan konstraksi jantung meningkat, tekanan darah ikut meningkat. Inilah
yang terjadi saat exercise. Akan tetapi apabila jantung berdetak terlalu kencang,
ventrikel tidak akan terisi sepenuhnya diantara detakan, sehinga curah jantung
dan tekanan darah akan menurun
c. Resistensi perifer. Yaitu resistensi dari pembuluh darah bagi aliran tubuh. Arteri
dan vena biasanya sedikit berkonstraksi,sehingga tekanan darah diastole normal
d. Elastisitas arteri besar. Saat ventrikel kanan berkonstraksi, darah yang memasuki
arteri besar akan membuat dinding arteri berdistensi. Dinding arteri berdifat
elastis dan dapat menyerap sebagian gaya yang dihasilkan darah. Elastisitas ini
menyebabkan tekanan diastole yang meningkat dan sistol menurunv. Saat
ventrikel kiri berrelaksasi, dingin arteri jiga akan kembali ke ukuran awal.
e. Viskositas darah : viskositas darah normal bergantung pada keberadaan SDM dan
protein plasma, terutama albumin.
Berdiri
7. Mengapa pengukuran dilakukan beberapa saat setelah berdiri?
Jawaban: agar konstraksi otot yang digunakan semakin besar, sehingga dapat
dibandingkan tekanan darah saat sedang rileks (duduk) dengan berkonstraksi (duduk)

II. Pengukuran tekanan darah sesudah kerja otot


1. Bagaimana tekanan darah seseorang segera setelah melakukan kerja otot?

Jawaban: Lebih tinggi dari normal. Karena kerja otot yang digunakan semakin besar,
sehingga jumlah otot yang memerlukan nutrisi dan oksigen bertambah, jadi, kontraksi
otot berhubungan dengan tekanan darah
III.Pengukuran tekanan darah a.brachialis dengan cara palpasi
1. Bagaimana cara melakukan pengukuran tekanan darah cara palpasi?
Jawaban:Rabahlah a.radialis atau a.brachialis op dan tekanan dalam manset dinaikkan
dengan memompa sampai denyut menghilang. Tekanan dalam manset
kemudian diturunkan dengan memutar tombol pada pompa perlahan-lahan.
Saat dimana denyut arteri teraba kembali menunjukkan tekanan darah
sistolis. Dengan metode ini kita tidak dapat menentukan tekanan darah
diastolis. Metode palpasi harus dilakukan sebelum melakukan auskultasi
untuk menentukan tinggi tekanan sistolis yang diharapkan.
KESIMPULAN
1. Pengukuran tekanan darah arteri dapat diketahui dengan 16actor16a yaitu palpasi dan
auskultasi.
2. Tekanan darah dipengaruhi oleh beberapa 16actor, seperti aktivitas kerja otot dan sikap
tubuh. Aktivitas kerja otot yang besar membutuhkan oksigen dan nutrisi yang besar sehingga
tekanan darah meningkat untuk menyalurkan darah ke otot yang bekerja. Sikap tubuh yang
memerlukan kerja otot yang besar (kontraksi) menyebabkan tekanan darah meningkat juga.
DAFTAR PUSTAKA
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC
III.2. KESANGGUPAN KARDIOVASKULER
1. Dasar Teori
Tekanan darah pada pembuluh darah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor dasar
yang mempengaruhinya adalah cardiac output, total tahanan perifer pembuluh darah di
arteriola, volume darah, dan viskositas darah. Dengan faktor tersebut, tubuh kita
melakukan kontrol agar tekanan darah menjadi normal dan stabil. Pengaturan pembuluh
darah yang bekerja dalam mengontrol tekanan darah yaitu pengaturan lokal, saraf dan
hormonal.
Kontrol lokal (intrinsik) adalah perubahan-perubahan di dalam suatu jaringan yang
mengubah jari-jari pembuluh, sehingga alirah darah ke jaringan tersebut berubah melalui
efek terhadap otot polos arteriol jaringan. Kontrol lokal sangat penting bagi otot rangka
dan jantung, yaitu jaringan-jaringan yang aktivitas metabolik dan kebutuhan akan
pasokan darahnya sangat bervariasi, dan bagi otak, yang aktivitas metabolic
keseluruhannya dan kebutuhan akan pasokan darah tetap konstan. Pengaruh-pengaruh
lokal dapat bersifat kimiawi atau fisik.

1) Tes peninggian tekanan darah dengan pendinginan (Cold-pressure test)


Perubahan temperatur lingkungan menjadi dingin merupakan salah satu contoh
pengaruh fisik lokal pada otot, sehingga tekanan darah dapat berubah. Bila pada
pendinginan, tekanan sistolik naik lebih besar dari 20 mmHg dan tekanan diastolik
lebih dari 15 mmHg dibandingkan dengan tekanan basal, maka o.p tergolong
hiperreaktor.Bila kenaikan tekanan darah o.p masih di bawah angka-angka tersebut,
o.p tergolong hiporeaktor.
2) Percobaan naik turun bangku (Harvard Step Test)
Saat berolahraga, terjadi peningkatan metabolisme dalam tubuh. Hal ini
mempengaruhi tekanan darah, dan termasuk sebagai pengaruh lokal kimiawi. Sebab
olahraga menyebabkan:
Penurunan O2 oleh karena sel-sel yang aktif melakukan metabolism menggunakan
lebih banyak O2 untuk fosforilasi oksidatif untuk menghasilkan ATP.
Peningkatan CO2 sebagai produk sampingan fosforilasi oksidatif
Peningkatan asam lebih banyak asam karbonat yang dihasilkan dari peningkatan
produksi CO2 akibat peningkatan aktivitas metabolic. Juga terjadi penimbunan
asam laktat apabila yang digunakan untuk menghasilkan ATP adalah jalur
glikolitik.
Peningkatan K+ -- potensial aksi yang terjadi berulang-ulang dan mengalahkan
kemampuan pompa Na+ untuk mengembalikan gradient konsentrasi istirahat,
menyebabkan peningkatan K+ di cairan jaringan.
Peningkatan osmolaritas ketika metabolism sel meningkat karena meningkatnya
pembentukan partikel-partikel yang secara osmotis aktif.
Pengeluaran adenosin sebagai respon terhadap peningkatan aktivitas metabolism
atau kekurangan O2, terutama di otot jantung.
Pengeluaran prostaglandin
Tekanan sistolik dan diastolik dalam keadaan istirahat dan dalam keadaan
setelah beraktivitas (misalnya: olahraga) akan berbeda karena saat olahraga terjadi
peningkatan aliran balik vena.
Efek aktivitas otot rangka selama berolahraga adalah salah satu cara untuk
mengalirkan simpanan darah di vena ke jantung. Penekanan vena eksternal ini
menurunkan kapasitas vena dan meningkatkan tekanan vena. Peningkatan aktivitas
otot mendorong lebih banyak darah keluar dari vena dan masuk ke jantung.
Pada Harvard Step Test menggunakan parameter waktu lama kerja dan frekuensi
denyut nadi, Denyut nadi dapat diketahui dengan menghitung denyut arteri radialis,
suara detak jantung, atau dengan bantuan eleftrokardiogram. Dengan memakai kedua
factor tersebut dapat dihitung indeks kesanggupan badan, yang dibedakan antara
kesanggupan kurang sampai kesanggupan amat baik. (Andrajati, Retnosari dkk. 2008)
2. Tujuan
1. Mengukur tekanan darah arteri brachialis pada saat berbaring.
2. Memberi rangsangan pendingin pada tangan selama 1 menit
3. Mengukur tekanan darah a.brachialis selama perangsangan
4. Menetapkan waktu pemulihan a.brachialis
5. Meggolongkan hiperreaktor atau hiporeaktor
6. Melakukan percobann naik turun bangku
7. Menetapkan indeks kesanggupan badan manusia dengan cara lambat dan cepat.

8. Menilai indeks kesanggupan badan manusia dari hasil


3.
1.
2.
3.
4.
5.

Alat yang diperlukan:


Stigmomanometer dan stestoskop
Ember kecil berisi air es dan thermometer kimia
Pengukur waktu (arloji atau stopwatch)
Bangku setinggi 19 inchi
Metronome (frekuensi 120x/menit)

4. Tata Kerja
1) Tes Peninggian tekanan darah dengan pendinginan (Cold Pressure Test)
1. Suruh o.p berbaring terlentang dengan tenang selama 20 menit.
2. Selama menunggu pasanglah manset sfigmomanometer pada lengan kanan atas
o.p.
3. Setelah o.p. berbaring 20 menit, tetapkanlah tekanan darahnya setiap 5 menit
sampai terdapat hasil yang sama selama 3 kali berturut-turut (tekanan basal).
4. Tanpa membuka manset surulah o.p. memasukan tangan kirinya kedalam air es
(4o C) sampai pergelangan tangan.
5. Pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan, tetapkanlah tekanan sistolik dan
diastoliknya.
6. Catatlah hasil pengukuran tekanan darah o.p. selama pendinginan. Bila pada
pendinginan tekanan sistolik nak lebih besar dari 20mmHg dan tekanan sistolik
lebih dari 15mmHg dari tekanan basal, maka o.p. termasuk golongan hipereaktor.
Bila kenaikan tekanan darah o.p. masih dibawah angka-angka tersebut diatas,
maka o.p. termasuk golongan hiporeaktor.
7. Surulah o.p. segera mengeluarkan tangan kirinya dari es dan tetapkanlah tekanan
sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ke tekanan darah basal.
8. Bila terdapat kesukaran pada waktu mengukur tekanan sistolik dan diastolic pada
detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan, percobaan dapat dilakukan dua kali.
Pada percobaan pertama hanya dapat dilakukan penetapan tekanan sistolik pada
detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan. Surulah o.p segera mengeluarkan tangan
kirinya dari es dan tetapkanlah tekanan sistolik dan diastolic setiap 2 menit sampai
kembali ke tekanan darah basal. Setelah tekanan darah kembali ke tekanan basal,
lakukan percobaan yang kedua untuk menetapkan tekanan diastolic pada detik ke
30 dan detik ke 60 pendinginan.
2) Percobaan naik turun bangku (Harvard Step Test)
1. Suruhlah o.p. berdiri menghadap bangku setinggi 19inchi sambil mendengarkan
sebuah metronome dengan frekwnsi 120 kali per menit.
2. Suruhlah o.p. menempatkan salah satu kakinya di bangku, tepat pada suatu
detakan metronome.
3. Pada detakan berikutnya (dianggap sebagai detakan kedua) kaki lainnya dinaikan
ke bangku sehingga o.p. berdiri tegak di atas bangku.
4. Pada detakan ketiga, kaki yang pertama kali naik diturunkan.
5. Pada detakan ketiga, kaki yang masih di atas bangku diturunkan sehingga o.p.
berdiri tegak lagi didepan bangku.
6. Siklus tersebut diulang terus menerus sampai o.p. tidak kuat lagi tetapi tidak lebih
dari 5 menit. Catat berapa lama percobaan tersebut dilakukan dengan
mennggunakan stopwatch.

7. Segera setelah o.p. disuruh duduk. Hitunglah dan catatlah frekwensi denyut
nadinya selama 30 detik sebanyak 3 kali masing-masing dari 1-130, dari 2230 dan dari 3-330.
8. Hitunglah indeks kesanggupan o.p. serta berikan penilaiannya menurut 2 cara
berikut ini:
a. Cara lambat
Indeks kesanggupan badan = lama naik turun bangku (dalam detik) x 100
2x jumlah ketiga denyut nadi tiap 30
Penilaian:

Kurang dari 55
55 64
65 79
80 89
Lebih dari 90

= Kesanggupan kurang
= Kesanggupan sedang
= Kesanggupan cukup
= Kesanggupan baik
= Kesanggupan amat baik

b. Cara cepat
Dengan rumus
Indeks kesanggupan badan = lama naik turun bangku (dalam detik) x 100
5,5 x denyut nadi selama 30 pertama
Dengan daftar

Pemulihan denyut nadi dari 1 menit hingga 11

Lamanya

menit

percobaan

40-

45-

50-

55-

60-

65-

70-

75-

80-

85-

0- 29
030-059
10-129
130-159
20-229
230-259
30-329
330-359
40-429
430-459
50

44
5
20
30
45
60
70
85
100
110
125
130

49
5
15
30
40
50
64
75
85
100
110
115

54
5
15
25
40
45
60
70
80
90
100
105

59
5
15
25
35
45
55
60
70
80
90
95

64
5
15
20
30
40
50
55
65
75
85
90

69
5
10
20
30
35
45
55
60
70
75
80

74
5
10
20
25
35
40
50
55
65
70
76

79
5
10
15
25
30
40
45
55
60
65
70

84
5
10
15
25
30
35
45
50
55
60
65

89
5
10
15
20
30
35
40
45
55
60
65

Petunjuk petunjuk :
Carilah baris yang berhubungan dengan lamanya percobaan.
Carilah lajur yang berhubungan dengan banyaknya denyut nadi selama 30
pertama.
Indeks kesanggupan badan terdapat di persilangan baris dan lajur.
Penilaian: Kurang dari 50 = kurang
50 80
= sedang
Lebih dari 80 = baik

905
10
15
20
25
35
40
45
50
55
60

5. Hasil Praktikum
1) Tes Peninggian tekanan darah dengan pendinginan (Cold Pressure Test)
Tekanan basal setelah 20 menit istirahat
Tekanan

Waktu

Sistole
105 mmHg
105 mmHg
105 mmHg

0 menit
5 menit
5 menit

Diastole
65 mmHg
65 mmHg
65 mmHg

Tekanan darah saat tangan dimasukkan kedalam air es


Tekanan
Waktu
Sistole
30 detik
120 mmHg
60 detik
130 mmHg

Diastole
70 mmHg
85 mmHg

Tekanan darah setelah tangan dikeluarkan daria air es


Tekanan

Waktu

Sistole
115 mmHg
110 mmHg
105 mmHg

2 menit
2 menit
2 menit
Nama o.p. : Putri

2) Percobaan naik turun bangku (Harvard Step Test)


Nama o.p
Wili
Waktu
233
Nadi I
68
Nadi II
60
Nadi III
58

Diastole
75 mmHg
70 mmHg
65 mmHg

Perty
135
74
68
61

a. Cara lambat
Indeks kesanggupan badan = lama naik turun bangku (dalam detik) x 100
2x jumlah ketiga denyut nadi tiap 30
Wili

Perty =

(Kesanggupan kardiovaskular kurang)

(Kesanggupan kardiovaskular kurang)

b. Cara cepat
Indeks kesanggupan badan = lama naik turun bangku (dalam detik) x 100
5,5 x denyut nadi selama 30 pertama

Wili

Perty =

(Kesanggupan kardiovaskular kurang)

(Kesanggupan kardiovaskular kurang)

6. Pembahasan
1) Tes Peninggian Tekanan Darah dengan Pendinginan (Cold-pressure Test)
Pada data hasil percobaan di atas, terlihat secara umum bahwa tekanan darah
basal sistol dan diastol mengalami peningkatan setelah tangan dimasukkan ke dalam
air es. Hal ini sesuai dengan mekanisme homeostatis tubuh manusia. Saat tubuh
manusia berada pada temperatur yang relatif lebih rendah, pembuluh-pembuluh darah
akan menyempit (vasokonstriksi), terutama pembuluh darah perifer. Tujuan
vasokonstriksi tersebut adalah untuk menjaga panas tubuh agar tidak keluar.
Vasokonstriksi tersebut berdampak pada naiknya tekanan darah sistol dan diastol.
Kemungkinan lain yang menyebabkan tekanan darah o.p naik adalah sebelum o.p
memasukkan tangan kirinya ke dalam air es atau sebelum menjalani percobaan, o.p
merasa takut atau grogi akan dinginnya es yang akan melingkupi tangannya sehingga
tekanan darah o.p meningkat.
Di samping itu, adanya respon stress yang ditimbulkan tubuh saat tangan o.p
dimasukkan dalam es yang bersuhu 4 oC juga mungkin menjadi alasan naiknya
tekanan darah o.p. Suhu yang sangat dingin ini akan menyebabkan tubuh tidak
mampu mempertahankan kondisi homeostasis, sehingga menimbulkan respon stress.
Respon stress ini akan memacu disekresikannya hormon adrenalin yang memacu
peningkatan aktivitas kardiovaskuler termasuk peningkatan tekanan darah.
Bila pada pendinginan tekanan sistolik naik lebih besar dari 20 mmHg dan
tekanan distolik lebih dari 15 mmHg dari tekanan basal, maka o.p. termasuk golongan
hiperreaktor yang dapat diprediksi memiliki potensi hipertensi. Bila kenaikan tekanan
darah o.p. masih dibawah angka-angka tersebut diatas, maka o.p. termasuk golongan
hiporeaktor.
Berdasarkan hasil percobaan, untuk o.p. Putri tekanan darah sistolnya naik 25
mmHg, yaitu dari 105 mmHg menjadi 120 mmHg pada detik ke 30 dan menjadi 130
mmHg pada detik ke 60. Sedangkan tekanan diastoliknya naik 20 mmHg, yaitu dari
65 mmHg menjadi 70 mmHg pada detik ke 30 dan 85 mmHg pada detik ke 60. Maka
dapat disimpulkan bahwa Putri termasuk golongan HIPERREAKTOR.
2) Percobaan naik turun bangku (Harvard Step Test)
Dari percobaan Harvard Step Test, kita dapat menentukan indeks kesanggupan
badan seseorang dalam melakukan aktivitas otot. Terlihat dengan jelas bahwa indeks
kesanggupan badan sangat bergantung dari lama orang tersebut mampu terus menerus
naik-turun bangku dan frekuensi denyut nadinya segera setelah melakukan aktivitas
tersebut. Semakin lama ia mampu bertahan naik-turun bangku dan semakin cepat
frekuensi denyut nadinya pulih ke frekuensi normal, maka semakin baik pula
kesanggupannya.
Pada prinsipnya olahraga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas fungsional
individu dan menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung yang diperlukan pada
tingkatan latihan fisik, baik pada orang sehat maupun orang sakit. Pada latihan fisik
akan terjadi dua perubahan pada sistem kardiovaskular yaitu peningkatan curah

jantung dan redistribusi aliran darah dari organ yang kurang aktif ke organ yang aktif.
Peningkatan curah jantung dilakukan dengan meningkatan isi sekuncup dan denyut
jantung.
Kesanggupan badan seseorang dinyatakan dengan Indeks Kesanggupan Badan
(IKB) yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus di atas. Semakin besar nilai
dari IKB seseorang maka kesanggupan badannya semakin baik.
7. Pertanyaan & Jawaban
Cold Pressure Test
1. Mengapa o.p harus berbaring selama 20 menit?
Jawaban:
Supaya lebih rileks dan nyaman agar hasil test lebih baik
2. Apa kontraindikasi untuk melakukan Cold Pressure Test?
Jawaban:
Orang dengan penyakit jantung atau vaskuler, terutama penderita Sindrom Raynauld,
yang memiliki masalah pada tekanan darah, diabetes, epilepsi, kehamilan, dan luka
serius
3. Bagaimana caranya supaya saudara dapat mengukur tekanan darah o.p. dengan cepat?
Jawaban:
Siap sebelum memeriksa sehingga lebih sigap mengukur saat detik ke-30
4. Apa yang diharapkan terjadi pada tekanan darah o.p. selama pendinginan,
terangkanlah mekanismenya?
Jawaban:
Saat tubuh manusia berada pada temperatur yang relatif lebih rendah,
pembuluh-pembuluh darah akan menyempit (vasokonstriksi), terutama pembuluh
darah perifer. Tujuan vasokonstriksi tersebut adalah untuk menjaga panas tubuh agar
tidak keluar. Vasokonstriksi tersebut berdampak pada naiknya tekanan darah sistol dan
diastol.
Bila pada pendinginan tekanan sistolik naik lebih besar dari 20 mmHg dan
tekanan distolik lebih dari 15 mmHg dari tekanan basal, maka o.p. termasuk golongan
hiperreaktor yang dapat diprediksi memiliki potensi hipertensi. Bila kenaikan tekanan
darah o.p. masih dibawah angka-angka tersebut diatas, maka o.p. termasuk golongan
hiporeaktor.
5. Apa gunanya kita mengetahui bahwa seseorang termasuk golongan hiperreaktor atau
hiporeaktor?
Jawaban:
Untuk memprediksi o.p. apakah ia memiliki kecenderungan untuk hipertensi apa
tidak. Jika o.p. hiperreaktor, diprediksi cenderung hipertensi.
Harvard Step Test
6. Hitung indeks kesanggupan badan seseorang dengan cara lambat dan cepat dengan
data sebagu berikut:
Lama naik turun bangku: 4
Denyut nadi pada
1 130=75
2 230=60
3 330=40
Jawaban:

Waktu
percobaan
(detik)

Frekuensi denyut nadi selama


30 detik pada menit ke1-130 2-230 3-330

240

75

60

40

Indeks
Kesanggupan
Badan (IKB)
Cara
Cara
lambat
cepat
68
15

Keterangan IKB
Cara
lambat
Cukup

Cara
cepat
Sedang

a. Cara Lambat
Indeks Kesanggupan Badan =

(Kesanggupan kardiovaskular Cukup)

b. Cara Cepat
Indeks Kesanggupan Badan =

(Kesanggupan kardiovaskular Sedang)

8. Kesimpulan
1) Suhu mempengaruhi tekanan darah, dimana pada suhu rendah pembuluh darah akan
mengalami vasokontriksi , dimana aliran darah nantinya akan meningkat. Sehingga
Cardiac Output meningkat. Maka bila Cardiac Output meningkat tekanan darah
akan mengingkat.
2) Kesanggupan badan seseorang dapat dinyatakan dengan Indeks Kesanggupan Badan
(IKB). Semakin besar nilai IKB maka semakin baik kesanggupan badan seseorang.
III.3 PENGARUH PERANGSANGAN NERVUS VAGUS PADA JANTUNG KURAKURA
Dasar Teori
Perangsangan sayaf parasimpatis yang menuju ke jantung (vagus) akan menyebabkan
pelepasan hormon asetikolin pada ujung saraf vagus. Hormon ini mempunyai dua pengaruh
utama pada jantung, yaitu menurunkan frekuensi irama nodus sinus , dan hormon ini akan
menurunkan eksitabilitas serabut-serabut penghubung A-V yang terletak diantara otot-otot
atrium dan nodus A-V, sehingga akan memperlambat penjalaran impuls jantung yang menuju
ke ventrikel.
Mekanisme pengaruh vagus
Asetikolin yang dilepaskan pada ujung saraf vagus sangat meningkatkan
permeabilitas membrane serabut terhadap ion kalium, sehingga akan mempermudah
terjadinya kebocoran yang cepat dari serabut-serabut konduksi. Hal ini akan menyebabkan

peningkatan kenegatifan di dalam serabut yang disebut sebagai hiperpolarisasi, yang


membuat jaringan yang mudah tereksitasi ini menjadi kurang peka.
TUJUAN
Pada akhir praktikum ini mahasiswa harus dapat
1. Membebaskan N.vagus (N.X) kiri dan kanan.
2. Membuktikan pengaruh kegiatan N.X. yang terus menerus (vagotonus) pada jantung.
3. Mencatat dan menjelaskan pengaruh perangsangan lemah dan kuat N.X pada jantung
dalam hal:
a. Masa laten
b. Akibat ikutan (after effect)
c. Frekuensi denyut
d. Kekuatan kerutan
4. Mendemostrasikan peristiwa lolos vagus (vagal escape).
Alat dan binatang percobaan yang diperlukan :
1. Kura-kura + meja operasi kura + tali pengikat
2. Kimograf rangkap + kertas + perekat + kipas kimograf + statif dan klem
3. 2 pencatat jantung + 2 penjepit jantung
4. 2 sinyal maknit : 1 untuk mencatat tanda waktu (waktu = 1 detik),1 untuk mencatat
tanda rangsang
5. Stimulator induksi + elektroda perangsang + kawat-kawat
6. Botol plastik berisi larutan ringer + pipet
Benang + malam + kapas
Tata Kerja :
III.3.1 Pengaruh kegiatan N.X. yang terus menerus pada jantung.
1. Ikatlah keempat kaki kura kura yang telah dirusak otaknya dan dibor perisai
dadanya pada meja operasi.
2. Lepaskan perisai dada kura-kura yang telah dibor dari jaringan di bawahnya
dengan menggunakan pinset dan scalpel tanpa menimbulkan banyak
pendarahan.
3. Bukalah dengn gunting pericardium yang membungkus jantung secara hatihati agar jangan terjadi pendarahan. Sekarang terlihat jantung berdenyut
dengan jelas.
4. Bebaskan kedua N.X sesuai dengan petunjuk umum.
5. Buatlah 2 ikatan longgar ada setiap N.X.
6. Buktikanlah bahwa kedua saraf yang saudara bebaskan benar-benar N.X
dengan cara merangsangnya dengan arus faradic yang cukup kuat dan cukup
lama untuk memperlihatkan efek N.X terhadap jantung.
P.III.3.1 Apakah N.X termasuk golongan saraf kolinergik?
Jawab : Ya
P.III.3.2 Bagaimana pengaruh N.X. pada jantung berdasarkan pembagian saraf
adrenergic dan kolinergik?

Jawab : Dapat membuat denyut jantung semakin lambat


P.III.3.3 Apa yang saudara harapkan dapat dilihat pada jantung kura-kura bila
N.X.dirangsang?
Jawab: Denyut jantung akan semakin lambat dan kemudian berhenti sehingga
terjadi cardiac arrest
7. Hitunglah frekuensi denyut jantung.
8. Ikatlah kuat-kuat semua ikatan longgar tersebut di atas dan guntinglah kedua
N.X diantara dua ikatan.
9. Tunggulah 1 menit dan hitunglah kembali frekuensi denyut jantung.
P.III.3.4 Mengapa harus menunggu 1 menit sebelum menghitung kembali
frekuensi denyut jantung ?
Jawab : Karena efek dari pemotongan N.X baru terjadi setelah 1 menit.
P.III.3.5 Perubahan apa yang diharapkan pada frekuensi denyut jantung setelah
pemotongan kedua N.X?
Jawab : Tidak ada perubahan apa-apa, denyut jantung tetap dalam keadaan
normal.
III.3.2 Pengaruh perangsangan N.X pada atrium dan ventrikel.
1.

1.
2.

Pasanglah
berbagai alat sesuai
dengan gambar
sehingga saudara
dapat mencatat
a. Mekanomiogram atrium
b. Mekanomiogram ventrikel
c. Tanda rangsang
d. Tanda waktu (1detik)
Usahakan supaya ke-empat pencatat di atas mempunyai titik sinkron yang
sedapat dapatnya terletak pada 1 garis ventrikel.
Tanpa
menjalankan tormol,
rangsanglah N.X. kanan
bagian perifer
dengan rangsang faradic lemah, sehingga terlihat jelas timbulnya brakikardi.
Jalankan tromol dengan kecepatan yang tepat untuk mencatat 10 denyut
jantung sebagai kontrol. Tanpa menghentikan tromol rangsanglah N.X kanan
bagian perifer dengan rangsang sub2 selama 5 detik. Hentikan tromol setelah
terjadi pemulihan jantung yang sempurna.
Perhatikan : a. Masa laten
b. akibat ikutan (after effect)
c. Frekuensi denyut
d. Kekuatan kerutan

P.III.3.6 Apa yang dimaksud : a. Masa laten b. akibat ikutan ?

Jawab :
a. Masa laten adalah periode antara pemberian rangsang hingga timbul kontraksi
yang pertama
b. akibat ikutan adalah denyut ikutan yang lebih kuat sehingga terjadinya vagal
escape
3.

4.

Tanpa
menjalankan tromol
rangsanglah N.X
kanan
bagian perifer
dengan rangsang faradic yang cukup kuat sehingga terlihat jelas timbulnya
henti jantung.
Setelah menunggu 5 menit mengulangi percobaan sub3 dengan menggunakan
rangsang faradic sub4 sehingga terjadi henti jantung (cardiac arrest).

P.III.3.7 Bagaimana mekanisme henti jantung?


Jawab :
Henti jantung atau Cardiac arrest disebut juga cardio respiratory arrest,
cardiopulmonary arrest, atau circulatory arrest, merupakan suatu keadaan
darurat medis dengan tidak ada atau tidak adekuatnya kontraksi ventrikel kiri
jantung yang dengan seketika menyebabkan kegagalan sirkulasi. Gejala dan
tanda yang tampak, antara lain hilangnya kesadaran, napas dangkal dan cepat
bahkan bisa terjadi apnea (tidak bernafas), tekanan darah sangat rendah
(hipotensi) dengan tidak ada denyut nadi yang dapat terasa pada arteri, dan
tidak denyut jantung.
Penyebab cardiac arrest yang paling umum adalah gangguan listrik di
dalam jantung.Jantung memiliki sistem konduksi listrik yang mengontrol
irama jantung tetap normal. Masalah dengan sistem konduksi dapat
menyebabkan irama jantung yang abnormal, disebut aritmia. Terdapat banyak
tipe dari aritmia, jantung dapat berdetak terlalu cepat, terlalu lambat,atau
bahkan dapat berhenti berdetak. Ketika aritmia terjadi, jantung memompa
sedikit ataubahkan tidak ada darah ke dalam sirkulasi.
Aritmia dicetuskan oleh beberapa faktor, diantaranya: penyakit jantung
koroner yang menyebabkan infark miokard (serangan jantung), stress fisik
(perdarahan yang banyak akibat luka trauma atau perdarahan dalam, sengatan
listrik, kekurangan oksigen akibat tersedak,penjeratan, tenggelam ataupun
serangan asma yang berat), kelainan bawaan yang mempengaruhi
jantung,perubahan struktur jantung (akibat penyakit katup atau otot jantung)
dan obat-obatan. Penyebab lain cardiacarrest adalah tamponade jantung
dantension pneumothorax.
Patofisiologi cardiac arrest tergantung dari etiologi yang
mendasarinya.Namun, umumnya mekanisme terjadinya kematian adalah
sama.Sebagai akibat dari henti jantung, peredaran darah akan berhenti.
Berhentinya peredaran darah mencegah aliran oksigen untuk semua organ
tubuh. Organ-organ tubuh akan mulai berhenti berfungsi akibat tidak adanya
suplai oksigen, termasuk otak. Hypoxia cerebral atau ketiadaan oksigen ke

otak, menyebabkan korban kehilangan kesadaran dan berhenti bernapas


normal. Kerusakan otak mungkin terjadi jika cardiac arrest tidak ditangani
dalam 5menit dan selanjutnya akan terjadi kematian dalam 10 menit (Sudden
cardiac death).
III.3.3 Lolos Vagus (Vagal Escape)
1. Jalankan tromol dengan kecepatan yang tepat untuk mencatat 10 denyut jantung
sebagai kontrol. Tanpa menghentikan tromol rangsanglah N.X. kanan bagian
perifer dengan rangsang faradic cukup kuat sehingga terjadi henti jantung.
Teruskan perangsangan dan pencatatan sehingga timbul lolos vagus. Bila
perangsangan sudah berlangsung 30 detik tanpa terjadi lolos vagus hentikan
perangsangan.
P.III.3.8 Apa yang dimaksud dengan lolos vagus?
Jawab: Berdetaknya kembali denyut jantung setelah terjadinya cardiac arrest
P.III.3.9 Bagaimana mekanisme terjadinya lolos vagus?
Jawab : Pada saat cardiac arrest, tidak terjadi denyut. Tetapi dalam keadaan ini
darah terus mengalir dari atrium ke ventrikel, sehingga katup semilunar terbuka
dan terjadilah kontraksi denyut sistol pertama yang tidak begitu kuat.
2. Bila pada usaha saudara yang pertama lolos vagus tidak terjadi, maka boleh dicoba
2x lagi dengan waktu rangsang yang lebih lama, dan bila masih juga belum
berhasil hentikanlah percobaan saudara.
P.III.3.10 Faktor apa yang menghilangkan kemungkinan terjadinya lolos vagus ?
Jawab: Lolos vagus dapat tidak terjadi dikarenakan rangsangan yang terlalu lama
mengakibatkan NX terus bekerja, sehingga jantung tetap berhenti atau
dikarenakan

otot

jantung

yang

mengalami

kelelahan.

KESIMPULAN
Ketika dilakukan perangsangan pada N. Vagus maka akan terjadi cardiac arrest yaitu henti
jantung, namun ketika rangsangan yang diberikan terhadap N. Vagus tersebut dihentikan,
maka jantung akan kembali berdenyut dengan diawali kejadian lolos vagus

II.3 Urutan Denyut Kerutan Berbagai Bagian Jantung & Denyut


Ektopik Pada Jantung Kura-Kura

Dasar Teori
Aktivitas Listrik Jantung
Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung. 99% sel otot jantung adalah sel kontraktil,
yang melakukan kerja mekanis, yaitu memompa. Sel sel pekerja ini dalam keadaan normal
tidak menghasilkan sendiri potensial aksi. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya, sel
otoritmik, tidak berkontraksi tetapi mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan
potensial aksi yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel sel pekerja. Contohnya nodus
sinoatrium, Nodus atrioventrikel, berkas His dan serat purkinje.
Penyebaran Eksitasi Jantung
Sebuah potensial aksi yang dimulai di nodus SA pertama kali menyebar ke kedua
atrium. Penyebaran impuls tersebut di permudah oleh dua jalur penghantar atrium khusus,
jalur antar atrium dan jalur antar nodus. Nodus AV adalah satu satunya titik tempat potensial
aksi dapat menyebar dari atrium ke venrikel. Dari nodus AV, potensial aksi menyebar cepat
keseluruh ventrikel, diperlancar oleh sistem penghantar vetrikel khusus yang terdiri dari
berkas His dan serat purkinje. Daerah yang mengalami aksiasi abnormal, yakni fokus
ektopik, mencetuskan potensial aksi prematur yang menyebar ke seluruh bagian jantung
lainnya sebelum nodus SA dapat menghasilkan potensialaksi.
Proses Mekanis Pada Siklus Jantung
Siklus jantung tediri dari tiga kejadian penting:
a. Pembentukan
aktifitas listrik
sewaktu
jantung secara
otortmes mengalami
depolarisasi danrepolarisasi.
b. Aktivitas mekanis yang terdiri dari periode sistle (kontraksi dan pengosongan)
dan diastole (relaksasi dan pengisian) berganti ganti, yang dicetuskan oleh siklus
listrik yang berirama.
Arah aliran darah melintasi bilik bilik jantung yang ditentukan oleh pembukaan dan pentupan
katup-katup akibat perubahan tekanan yang dihasilkan oleh aktivitas mekanis.
TUJUAN
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat
1.
2.
3.
4.

Membuat sediaan jantung kura sesuai dengan petunjuk umum.


Menetapkan urutan berbagai bagian jantung kura atas dasar pengamatan sendiri.
Mencatat mekanokardiogram atrium dan ventrikel kura.
Merangsang atrium dan ventrikel jantung dengan arus buka pada berbagai fase :
Sistole
Puncak systole
Diastole
Akhir diastole
5. Membedakan peka rangsangan atrium dan ventrikel jantung pada berbagai fase
kontraksi tersebut diatas.
6. Menerangkan terjadinya perbedaan kepekaan pada berbagai fase tersebut diatas.
Alat dan binatang percobaan yang diperlukan :
1. Kura-kura + meja operasi kura + tali pengikat

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kimograf rengkap + kapas kimograf + kertas + perekat


Statif + klem
2 sinya maknit :1 untuk mencatat waktu, 1 untuk mencatat tanda
Kawat listrik
Stimulator induksi + elektroda perangsang
2 pencatat jantung + penjepit jantung
Batang kuningan berbentuk huruf L
Benang + malam
Botol plastik berisi larutan Ringer + pipet

Tata Kerja :
III.5.1 Urutan kerutan berbagai bagian jantung.
1. Ikatlah ke 4 kaki kura yang telah dirusak otaknya dan dibor perisai dadanya, ada meja
operasi.
2. Lepaskan perisai dada kura-kura yang telah dibor dari jaringan dibawahnya dengan
menggunakan pinset dan scalpel tanpa menimbulkan banyak perdarahan.
P.III.5.1. Bagaimana cara yang baik untuk menghindarkan perdarahan pada tindakan
ini?
Jawab: Cara menghindari perdarahannya adalah dengan membor secara hati-hati perisai dada
dari kurakura dan hindari jangan sampai jaringan dibawahnya terkena. Jaringan dibawah dibuka
menggunakan pinset dan skapel sehingga mengurangi pendarahan.

3. Bukalah dengan gunting pericardium yang membungkus jantung secara hati-hati


agar jangan terjadi perdarahan. Sekarang terlihat jantung berdenyut dengan jelas.
P.III.5.2. Apa beda anatomi yang penting antara jantung kura-kura dengan jantung
mammalia ?
Jawab: Beda jantung kura kura dengan jantung mamalia adalah jantung kura kura
hanya memiliki 1 ventrikel sedangkan mamalia 2 ventrikel.
4. Pelajari anatomi jantung kura-kura dengan bantuan petunjuk umum.
Untuk mempelajaribagian dorsal angkatlah ventrikel keatas dengan benda tumpul.
P.III.5.3.Apa bahaya manipulasi yang terlalu sering dan kasar terhadap jantung ?
Jawab : Dapat menyebabkan kerusakan jantung hingga henti jantung
5. Nyatakan urutan kerutan berbagai bagian jantung.
III.5.2.Denyut ektopik atrium dan ventrikel
1. Pasanglah pelbagi alat sesuai dengan gambar sehingga saudara dapat mencatat :
a. Mekanokardiogram atrium
b. Mekanokardiogram ventrikel
c. Tanda rangsangd

d. Tanda waktu
Usahakan supaya ke 4 pencatat itu mempunyai titik sinkron yang terletak pada satu
garisvertikal.
P.III.5.4 Apa yang dimaksud dengan titik sinkron ?
Jawab: Titik sinkron adalah sejumlah titik akhir sistole yang sejajar yang terjadi pada
ambang batas maksimum otot jantung dimana semua otot jantung telah berkontraksi
2. Tanpa menjalankan tromol kimogrof, carilah kekuatan rangsang buka yang dapat
menimbulkan denyut etopik atrium.
P.III.5.5 Apa yang dimaksud dengan denyut ektopik atrium?
Jawab : Denyut jantung abnormal yang rangsangannya tidak berasal dari SA node,
namun di otot atriumnya langsung
P.III 5.6 Pada saat apa sebaiknya perangsangan diberikan untuk menghasilkan
denyut ektopik?
Jawab : Pada saat diastol
P.III.5.7 Apa yang dimaksud dengan interval A.V dan bagaimana mengukurnya?
Jawab : Interval AV adalah jarak waktu dibutuhkan atrium dan ventrikel untuk
melakukan sistol dan diastol. Cara yang dilakukan dengan menggunakan
mekanokardiogram atrium dan ventrikel.
Berlatihlah sebaik-baiknya dalam memberikan rangsang dalam arus buka pada :
a. Sistole atrium
b. Puncak sistole atrium
c. Diastolik atrium
d. Akhir diastolik atrium
3. Jalankan tromol dengan kecepatan yang tepat (lihat gambar) untuk mencatat 10 denyut
jantung sebagai kontrol. Tanpa menghentikan tromol rangsanglah atrium dengan kekuat
an rangsang sub.2 pada :
a. Sistole atrium
b. Puncak sistole atrium
c. Diastole atrium
d. Akhir diastolik atrium
Setiap kali setelah perangsangan biarkanlah jantung berdenyut 56 kali
4. Tanpa menjalankan tromol carilah rangsang buka yang dapat menimbulkan denyut
ektopikventrike
P.III.5.8 Apa yang dimaksud dengan denyut ektopik ventrikel?
Jawab: denyut jantung abnormal yang rangsangannya tidak berasal dari SA node, namun
langsung di otot ventrikel.

P.III.5.9 Mengapa ventrikel tidak boleh dirangsang dengan rangsang faradic?


Jawab: karena dengan adanya denyut ektopik dengan jumlah yang bermakna dikhawatirkan
akan menimbulkan fibrilasi ventrikel spontan dan akhirnya jantung menjadi rusak.
P.III.5.10 Apakah denyut ektopik ventrikel diikuti oleh denyut ektopik atrium?
Jawab: Tidak
P.III.5.11 Apa yang dimaksud dengan rehat kompensasi?
Jawab: Rehat kompensasi adalah istirahat saraf setelah melakukan denyut ektopik untuk
menghindari rangsang berlebihan
P.III.5.12 Bila rehat kompensasi penuh dan tidak penuh?
Jawab : Rehat kompensasi penuh adalah istirahat saraf setelah melakukan denyut ektopik
sesuai dengan waktu yang diperlukan, sedangkan yang tidak penuh adalah istirahat yang
belum sesuai dengan waktu yang dibutuhkan.
5. Jalankan tromol dengan kecepatan yang tepat.
6. Catat 10 denyut normal sebagai kontrol. Tanpa menghentikan tromol rangsanglah
ventrikeldengan kekuatan rangsang sub 4 pada :
a. Sistole ventrikel
b. Puncak systole ventrikel
c. Diastole ventrikel
d. Akhir diastole ventrikel
Setiap kali setelah perangsangan biarkanlah jantung berdenyut 5-6 kali.
P.III.5.13 Apakah ada hubungan antara saat perangsangan dengan amplitudo denyut ektopik
yang dihasilkanya?
Jawab: Ya, amplitude yang dihasilkan menjadi lebih tinggi daripada amplitude denyut
normal.

KESIMPULAN
Denyut ektopik merupakan kelainan denyut yang timbul di luar sistol dan diastol (denyut
ekstra sistol). Denyut tersebut dapat dirangsang pada masa di luar refrakter absolut. Hal ini
dapat terjadi pada manusia jika saraf simpatis dirangsang secara kontinu (dengan konsumsi
kopi dan stress yang terus menerus).

Cat: tinggal masukin hasil, sama kesanggupan kardiovaskular


blm ada datanya, nuat table juga buat fisikanya!!!!!