Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MATA KULIAH

MANAJEMEN LINGKUNGAN INDUSTRI LANJUT


PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN MENGGUNAKAN BIOSAND
FILTER

Oleh:
Rafika Ratik Srimurni
F351150191

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam era globalisasi dewasa ini dibeberapa negara yang sedang
berkembang termasuk Indonesia, isu kualitas lingkungan menjadi permasalahan
yang perlu dicari pemecahannya. Penurunan kualitas lingkungan di suatu negara
akan sangat berpengaruh terhadap kualitas penduduk dan berdampak pada tingkat
kesehatan penduduk dikarenakan tempat tinggal mereka telah tercemar. Salah satu
penyebab penurunan kualitas lingkungan adalah pencemaran air, di mana air yang
dipergunakan setiap harinya tidak lepas dari pengaruh pencemaran yang
diakibatkan oleh aktivitas manusia. Beberapa bahan pencemar seperti bahan
mikrobiologik, bahan organik seperti pestisida, deterjen serta bahan kimia
berbahaya lainnya banyak ditemukan dalam air yang dipergunakan sehari-hari.
Dengan memperhatikan permasalahan di atas maka diperlukan suatu
teknologi alternatif yang dapat mereduksi tingkat bahaya dari limbah cair. Salah
satu teknologi alternatif yang dapat digunakan ialah biosand filter. Biosand filter
merupakan suatu proses penyaringan atau penjernihan air limbah di mana limbah
yang akan diolah dilewatkan pada suatu media proses dengan kecepatan rendah
yang dipengaruhi oleh diameter media dan keberadaan lapisan biofilm yang
tertanam di atasnya. Keuntungan teknologi ini selain murah, membutuhkan sedikit
pemeliharaan dan beroperasi secara gravitasi (Utami, A.R. 2013).
Reaktor Biosand Filter (BSF) dapat menurunkan Escherichia coli hingga
80% dan COD hingga 60%. BSF juga telah terbukti efektif dalam menghapus
patogen, parasit, kekeruhan dan logam. Serta dapat menghapus hingga 90% dari
virus, dan parasit dan 0,75% dari besi dan mangan. Reaktor activated carbon
dapat menurunkan kadar phospat hingga 50% (Wardhana dkk, 2009).
B. Tujuan

1.
2.
3.
4.

Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu untuk:


Mengetahui secara detail dan skematik prinsip atau mekanisme kerja teknik
pengendalian limbah cair.
Mengetahui kinerja teknik pengolahan tersier limbah cair menggunakan
metode biosand filter.
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengolahan tersier limbah cair
menggunakan metode biosand filter.
Mengidentifikasi masalah pengolahan tersier limbah cair menggunakan metode
biosand filter serta usulan solusinya (disertai pentahapannya).

II. ISI
A. Limbah Cair
Limbah cair adalah buangan yang berwujud cair berasal dari sisa-sisa usaha
dan kegiatan manusia yang berwujud cair yang bila dibiarkan terus menerus akan
meresap kedalam tanah dan biasanya berdampak buruk bagi lingkungan
disekitarnya. Contohnya adalah pestisida, tumpahan minyak, air raksa, air cucian,
dan minyak goreng bekas.
Karakteristik limbah cair bisa dilihat dari sifat racunnya atau sifat-sifat yang
dimiliki seperti sifat fisika, kimia dan biologis. Berukuran mikro, dinamis,
berdampak luas (penyebarannya), berdampak jangka panjang (antar generasi).
Limbah cair dapat bersumber dari:
a. Kegiatan rumah tangga
b. Kegiatan Industri
c. Kegiatan rumah sakit dan aktivitas yang bergerak di bidang kesehatan
d. Kegiatan pertanian
e. Kegiatan pertambangan
f. Kegiatan transportasi
g. Kegiatan penebangan hutan
Limbah cair mengandung polutan yang berasal dari berbagai proses. Jenis
polutan yang menyebabkan pencemaran air yaitu sebagai berikut:
1. Panas/limbah termal
Suhu air bervariasi tergantung pada perubahan cuaca /iklim. Biasanya
terdapat pada penambahan air panas dari limbah atau pembangkit tenaga
listrik. Air yang menjadi panas menyebabkan suhu di air meningkat karena
hewan berdarah dingin meningkatkan metabolisme tubuhnya yang
membutuhkan banyak oksigen, sehingga oksigen didalam air berkurang dan
menyebabkan ikan mati kekurangan oksigen.
2. Zat padat tersuspensi
Meliputi pasir, lumpur, bakteri, dan ganggang. Zat ini berasal dari lahan
terbuka yang tererosi bersama air. Adanya zat padat tersuspensi akan
mempengaruhi penetrasi sinar matahari sehingga mengganggu fotosintesis
tumbuhan air, mengubah pH, dan menurunkan kadar oksigen terlarut.
a) Bahan kimia terlarut ion logam berat
Pencemaran oleh ion logam berat biasanya terjadi pada badan air
terbuka seperti sungai, laut, dan danau. Beberapa ikan dan kerang mampu
menyerap logam berat ini. Sifat racun dari ion logam bersifat akumulatif
melalui melalui rantai makanan. Dampak pencemaran oleh ion logam antara
lain kerja enzim terhambat, kerusakan sel, dan gangguan sistem saraf.
b) Unsur dan senyawa kimia

Selain ion logam, ternyata air juga melarutkan unsur dan senyawa
2

kimia lain seperti flour (F), ion sulfat (S O4 ), klor (Cl) dan asam sulfida
(H2S)
3. Pencemaran secara biologi
Polutan limbah cair secara biologi yaitu ganggang dan bakteri. Ganggang
dapat membuat makanannya dengan cara fotosintesis tetapi kepadatan tinggi
ganggang juga berbahaya bagi lingkungan. Setelah ganggang tumbuh subur,
sisa ganggang memusuk dengan melibatkan oksigen dalam air, sehingga
konsentrasi oksigen dalam air berkurang.
Bakteri yang menyebabkan pencemaran adalah bakteri patogen. Bakteri
patogen adalah bakteri yang merugikan. Ada 2 jenis patogen :
a) Bakteri parasit : bakteri yang memperoleh makanan dari makluk hidup lain.
(Contoh : Vibro cholera penyebab kolera)
b) Bakteri Autotrof : bakteri yang menyusun makanannya dari bahan organik.
Bakteri jenis ini akan menghasilkan senyawa-senyawa yang dapat
menurunkan pH air.
B. Teknik Pengendalian Limbah Cair
Teknologi pengolahan limbah cair adalah salah satu alat untuk memisahkan,
menghilangkan dan atau mengurangi unsur pencemar dalam limbah (Ginting
2007).
1. Pengolahan Primer (Primary Treatment)
a) Penyaringan (Screening), yaitu menyisihkan bahan-bahan padat berukuran
besar (sampah) dari air limbah menggunakan jeruji saring (bar screen).
b) Pengendapan (Sedimentasi), yaitu memisahkan pasir dan partikel padat
tersuspensi berukuran besar dari air limbah menggunakan grit chamber dan
tangki pengendapan dengan cara memperlambat aliran limbah.
c) Pengapungan (Flotasi), yaitu menyisihkan limbah berupa minyak atau
lemak dari air limbah menggunakan alat yang dapat menghasilkan
gelembung-gelembung udara berukuran kecil (30-120 mikron) yang akan
membawa partikel minyak dan lemak ke permukaan air limbah.
2. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)
Prinsip kerja pengolahan secara biologis, yaitu dengan melibatkan
mikroorganisme yang dapat mengurai/mendegradasi bahan organik,
diantaranya terdapat 3 metode pengolahan :
a) Metode Trickling Filter (penyaringan dengan tetesan)
Penggunaan bakteri aerob untuk mendegradasi limbah organik yang
tumbuh dan melekat pada suatu lapisan media kasar seperti serpihan
batu/plastik dengan ketebalan 1-3 meter. Limbah cair disemprotkan ke
permukaan media dan dibiarkan merembes melewati media tersebut. Selama
perembesan, bahan organik yang terkandung dalam limbah akan didegradasi

oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar lapisan media,


limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudisn disalurkan
ke tangki pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan
mikroorganisme dari air limbah.
b) Metode Activated Sludge (lumpur aktif)
Limbah cair disalurkan ke sebuah tangki dan didalamnya limbah
dicampur dengan lumpur yang kaya akan bakteri aerob. Proses degradasi
berlangsung di dalam tangki tersebut selama beberapa jam, dibantu dengan
pemberian gelembung udara untuk aerasi (pemberian oksigen) untuk
mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah. Selanjutnya limbah
disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses pengendapan,
sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke tangki
aerasi.
c) Metode Treatment Ponds/Lagoons (kolam perlakuan)
Limbah cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang
tumbuh di permukaan kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen.
Oksigen tersebut kemudian digunakan oleh bakteri aerob untuk proses
penguraian/degradasi bahan organik dalam limbah. Selama proses degradasi
di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan di dasar kolam.
3 Pengolahan Tersier (tertiary treatment)
Prinsip kerja pengolahan secara kimia dan fisika yang bertujuan pada
umumnya untuk menghilangkan zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat,
dan garam mineral, diantaranya dengan menggunakan beberapa metode, yaitu
saringan pasir (sand filter), saringan multimedia, precoal filter, microstaining,
vacum filter, penyerapan (adsorption) dengan karbon aktif, pengurangan besi
dan mangan, dan osmosis bolak-balik.
4 Desinfeksi (desinfection)
Pengolahan
bertujuan
untuk
membunuh
atau
mengurangi
mikroorganisme pathogen (penyebab penyakit) yang ada dalam limbah cair.
Prinsip kerja pengolahan dapat secara kimia, yaitu dengan menggunakan
senyawa/zat tertentu yang disebut desinfektan, atau dengan perlakuan fisik,
diantaranya dengan penambahan klorin (klorinasi), penyinaran dengan sinar
ultraviolet (UV), atau dengan ozon (O3).
5 Pengolahan Lumpur (sludge treatment)
Endapan lumpur hasil pengolahan limbah diolah dengan cara
diurai/dicerna secara anaerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke
beberapa alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill),
dijadikan pupuk kompos, atau dibakar (incinerated).

C. Biosand Filter

Biosand filter merupakan filter dengan konsep saringan pasir lambat yang
khusus didesain untuk skala rumah tangga. Biosand filter menggunakan media
pasir halus, pasir kasar dan kerikil. Pasir halus berperan sebagai media filter,
sedangkan pasir kasar dan kerikil berperan sebagai lapisan penyangga.
Penambahan karbon aktif bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dalam
menurunkan kadar bahan-bahan organik yang terlarut dalam limbah (Sari 2010).
Biosand filter (BSF) merupakan pengembangan dari slow sand filter, di
mana BSF juga melalui proses yang sama dengan saringan pasir lambat, yaitu
dengan cara melewati pasir dalam filter. Bahan pencemar ini akan bertumbukan
dan menjerap ke dalam partikel-partikel pasir. Bakteri dan zat padat yang terapung
mulai meningkat dalam kepadatan yang tinggi di lapisan pasir paling atas menuju
biofilm. Lapisan biofilm ini mampu mendegradasi rasa, bau dan warna. Biosand
filter memiliki ketinggian berkisar 0,9-1 meter dan 0,3 meter sepanjang tepi
bagian dalamnya. BSF didesain 5cm di bagian atas air yang dilapisi pasir halus.
Ketinggian 5cm menjadi ketinggian optimum dari perpindahan patogen. Jika
tingkatan air terlalu dangkal, lapisan biofilm dapat lebih mudah terganggu karena
rusak oleh kecepatan datangnya air. Di sisi lain, jika tingkatan air terlalu dalam
maka jumlahnya tidak cukup pada difusi O2 pada biofilm, sehingga
mengakibatkan kematian dari mikroorganisme pada lapisan biofilm. Ketika air
yang terkontaminasi mikroorganisme dimurnikan dengan biosand filter,
organisme pemangsa (predator) yang berada di lapisan biofilm akan memakan
patogen-patogen yang ada (Ngai dan Walewijk 2003).
Menurut Haarhof and Cleasby (1991), kriteria desain dari biosand filter
dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1. Kriteria desain biosand filter.
Kriteria Desain
Ukuran pasir halus
Ukuran pasir kasar
Ukuran kerikil pada underdrain
Luas permukaan pasir
Flow rate
Ukuran biosand filter

Range
<1mm
1mm 6mm
6mm 15mm
540 m2
1L/min
30cm x 30cm x 90cm

Menurut Sukawati (2008), lapisan biofilm terdiri dari sel-sel


mikroorganisme yang melekat erat ke suatu permukaan sehingga berada dalam
keadaan diam, tidak mudah lepas atau berpindah tempat (irreversible). Biasanya
lapisan biofilm ini digunakan untuk menandakan zona aktivitas biologi yang
umumnya terjadi di dalam bed pasir. Zona ini berbeda dalam kaitan dengan fungsi
gandanya yang meliputi penyaringan mekanis, kedalaman biofilm bisa dikatakan
dapat berhubungan kepada zona penetrasi dari partikel-partikel padatan di mana
ukurannya yaitu antara 0,5 2 cm dari bed suatu biosand filter.
Seeding dan aklimatisasi dilakukan secara bersamaan karena pembenihan
bakteri langsung dari dalam reaktor. Parameter untuk mengetahui adanya

pertumbuhan bakteri dapat dihitung dengan rasio perbandingan antara substrat


(food) terhadap mikroorganisme (M). Makanan mikroorganisme dapat berasal dari
kandungan limbah, misalnya berupa BOD dan COD. Rasio perbanding F/M harus
menghasilkan angka 0,2 0,3 (Sugiharto 2008).
1. Bagian-bagian biosand filter
Biosand filter memiliki kerangka yang dapat dibuat dari beton, plastik,
atau bahan lain yang tahan air, anti karat dan bahan non toksik. Bahan yang
paling banyak digunakan yaitu wadah beton sekitar 0,9 m dengan permukaan
0,3 m2 (Lantagne et al 2006). Bagian dalam biosand filter dapat dilihat pada
gambar 2.

Gambar 2. Bagian-bagian biosand filter.


a) Plat penyaring (diffuser plate)
Plat penyaring adalah lapisan saringan berpori kecil yang dipasang
dengan tujuan sebagai filter awal untuk menyaring partikel tersuspensi. Plat
penyaring juga berfungsi membuat air yang dituang ke dalam biosand filter
menyebar di permukaannya sehingga air merembes jatuh dengan merata dan
lembut di atas lapisan pasir sehingga tekstur lapisan pasir dan biolayer tidak
rusak oleh tetesan air.
b) Biolayer/biofilm
Lapisan biolayer atau biofilm adalah lapisan mikroorganisme yang
membentuk koloni dalam air di atas media pasir. Mikroorganismemikroorganisme ini akan melakukan penguraian terhadap zat-zat pencemar
air, baik cemaran berupa zat organik maupun mikroorganisme patogen
dalam air. Biofilm terbentuk karena adanya interaksi bakteri dan
permukaan yang ditempeli. Interaksi ini terjadi dengan adanya faktor-faktor
yang meliputi kelembapan permukaan, makanan yang tersedia,
pembentukan matrik ekstraseluller (exopolimer) yang terdiri dari
polosakarida, faktor-faktor fisikakimia seperti interasi muatan permukaan
dan bakteri, ikatan ion, ikatan Van Der Waals, pH dan tegangan permukaan
serta pengkondisian permukaan.
c) Lapisan pasir

Lapisan pasir setinggi 40 cm ini berfungsi untuk menyaring partikel


tersuspensi. Pasir yang digunakan adalah pasir halus. Sehingga efektif untuk
menyaring partikel dalam ukuran kecil.
d) Lapisan kerikil
Lapisan kerikil adalah lapisan penyaring terakhir yang terdiri dari dua
lapisan yaitu kerikil koral kecil sedalam 10 cm dan kerikil koral besar
sedalam 10 cm. Lapisan ini berfungsi menyempurnakan penyaringan
sebelumnya dan mengalirkan air ke bagian bawah biosand filter agar air
bisa keluar melalui pipa outlet.
e) Pipa outlet
Pipa outlet berfungsi untuk mengalirkan air hasil saringan ke luar
biosand filter.
2. Mekanisme kerja biosand filter
Cara kerja biosand filter adalah dengan menuangkan air yang akan
disaring di atas plat penyaring (diffuser plate). Plat penyaring akan membuat
air jatuh menyebar pada biolayer yang akan melakukan penyaringan secara
biologis terhadap mikroorganisme dan zat organik yang mencemari air.
Selanjutnya air akan merembes ke dalam lapisan pasir. Lapisan pasir akan
melakukan penyaringan secara mekanis terhadap partikel-partikel tersuspensi
dalam air. Tahap selanjutnya adalah penyaringan oleh lapisan kerikil yang
memiliki fungsi yang serupa dengan lapisan pasir, kerikil akan membuat air
merembes melalui sela-selanya ke bagian bawah tangki biosand filter untuk
dialirkan keluar lewat pipa outlet. Kapasitas biosand filter untuk sekali proses
penyaringan adalah 20 liter. Sedangkan dalam satu hari, biosand filter dapat
menyaring 80-100 liter air dengan kecepatan 0,6 liter per menit. Cara kerja
biosand filter dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Mekanisme kerja biosand filter.


Dengan menggunakan prinsip saringan pasir lambat, eliminasi
mikroorganisme patogen di dalam biosand filter terjadi melalui kombinasi
antara proses penyaringan biologis dan penyaringan mekanis. Biosand filter
mengeliminir mikroorganisme patogen, baik bakteri, virus, dan kista melalui
empat cara, yaitu :

a) Penjeratan mekanis
Endapan dan pathogen secara fisik terjebak di dalam ruang yang
terbentuk di antara butiran pasir.
b) Predasi
Mikroorganisme yang membentuk biolayer bertindak sebagai predator
mikroorganisme patogen dalam air yang disaring. Zat-zat organik dalam air
yang disaring juga akan diuraikan oleh mikroorganisme pada biolayer
sehingga dapat menurunkan kadar mikroorganisme patogen dan zat organik
dalam air.
c) Kematian mikroorganisme secara alami
Mikroorganisme yang lolos dari proses penyaringan biologis maupun
mekanis akan mati dengan sendirinya karena kekurangan zat organik
sebagai makanannya, dan kekurangan oksigen. Sebab, zat organik yang
terkandung dalam air telah diuraikan oleh biolayer, dan oksigen pun
digunakan pula oleh biolayer untuk penguraian zat organik tersebut.
d) Absorpsi
Virus terabsopsi oleh butiran pasir, dan oleh zat antiviral yang
diproduksi oleh mikroorganisme pada biolayer virus tersebut dimetabolisme
atau dibuat tidak aktif. Zat organik juga bisa diarbsopsi oleh pasir sehingga
memudahkan mikroorganisme pada biolayer untuk menguraikannya.
e) Perangkap mekanis
Butiran pasir dan kerikil memerangkap partikel tersuspensi, dan kista
dalam air sehingga tidak dapat keluar bersama air bersih dalam pipa outlet.
Butiran pasir juga dapat memfilter zat anorganik dan logam dalam air.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses mekanisme biosand filter
Faktor yang berperan penting dalam biofilter adalah ukuran butiran pasir
dan kedalaman pasir. keduanya memiliki efek penting dalam ilmu bakteri dan
kualitas air secara fisik. Kebanyakan literatur merekomendasikan bahwa
ukuran pasir yang efektif yang digunakan untuk saringan pasir lambat yang
dioperasikan sekitar 0,15-0,35 mm dan keseragaman koefisien sekitar 1,5 mm
-3 mm (Murcott and Lucas, 2002).

a) Karakteristik fisik pasir


Karakteristik fisik pasir yang perlu diperhatikan untuk media filter
antara lain adalah :
1) Bentuk pasir
Bentuk pasir umumnya dalam satu jenis pasir ditemukan bentuk
lebih dari satu bentuk butir. Pasir dengan bentuk bundar memberikan
kelolosan lebih tinggi dari pada pasir bentuk lain.
2) Ukuran butiran pasir

Butiran pasir berukuran kasar dengan diameter >2 mm memberikan


kelolosan yang besar, sedangkan ukuran pasir berukuran halus dengan
diameter 0,15mm - 0,45mm memberikan kelolosan yang rendah. Faktor
yang penting dalam memilih ukuran butiran pasir sebagai media saring
adalah effective size (ES).
3) Kemurnian pasir
Pasir yang digunakan sebagai media saringan semurni mungkin,
artinya pasir benar-benar bebas dari kotoran, misalnya lempung. Pasir
dengan kandungan lempung yang tinggi jika digunakan sebagai media
filter akan berpengaruh pada kualitas filtrasi yang dihasilkan.
4) Kekerasan pasir
Kekerasan pasir dihubungkan dengan kehancuran pasir selama
pemakaian sebagai media filter. Kekerasan berhubungan erat dengan
kandungan SiO2 yang tinggi, maka akan memberikan kekerasan yang
tinggi pula.
b) Proses penyaringan
Beberapa faktor penting dalam proses penyaringan, antara lain
kekeruhan air baku, media penyaring, tinggi lapisan penyaring, kemudahan
pencucian kembali dan ketinggian resisten kimia.
c) Struktur pori
Struktur pori juga merupakan faktor yang penting diperhatikan.
Struktur pori berhubungan dengan luas permukaan, semakin kecil pori-pori
arang aktif, mengakibatkan luas permukaan semakin besar. Dengan
demikian kecepatan adsorpsi bertambah.
4. Kelebihan biosand filter
a) Biosand filter merupakan instansi pengolahan yang dapat berdiri sendiri
sekaligus dapat memperbaiki kualitas secara fisik, kimia, biologis, bahkan
dapat menghilangkan bakteri pathogen tetapi dengan ketentuan operasi
dan pemiliharaan filter dilakukan secara benar dan baik.
b) Murah, karena pada dasarnya saringan pasir lambat tidak memerlukan
energi dan bahan kimia serta pembagunanya tidak memerlukan biaya
besar, biaya konstruksinya akan lebih murah dari biaya konstruksi saringan
pasir cepat.
c) Sederhana, karena operasi dan pemiliharaanya murah, tidak memerlukan
tenaga kusus yang terdidik dan terampil, sehingga cara ini cocok untuk
digunakan di daerah pedesaan, khususnya di negara- negara yang sedang
berkembang.
d) Menghilangkan hampir semua mikroorganisme patogen dalam air.
e) Menurunkan tingkat kekeruhan air, kadar besi, mangan, dan beberapa logam
berat dari dalam air.
f) Mudah dibuat dengan material lokal, dan biaya pembuatannya relatif murah
jika dibandingkan dengan teknologi pengolahan air lainnya seperti saringan
pasir cepat, atau pengolahan air dengan teknologi terpadu seperti yang

diterapkan di pengolahan air minum. Pembuatan biosand filter hanya


memerlukan biaya sekitar US $ 10 atau 110.000,00 rupiah.
g) Tidak memerlukan biaya operasional dalam penggunaannya karena tidak
memerlukan pergantian komponen.
h) Tahan lama karena pemeliharaannya mudah.
i) Kapasitas pengolahan airnya cukup tinggi yaitu hingga 100 liter per hari, ini
cukup untuk memenuhi kebutuhan air keluarga.
j) Dapat dikembangkan menjadi komoditi perdagangan.
k) Air hasil penyaringannya secara fisik memenuhi persyaratan, yaitu tidak
berwarna, berbau dan berasa.
5. Kekurangan biosand filter
a) Sangat sensitif dengan variasi pH air baku.
b) Waktu pengendapan air baku cukup lama sehingga proses filtrasi juga
berlangsung lama apabila kapasitas besar.
c) Karena pencucian umumnya dilakukan secara manual sehingga akan
membutuhkan tenaga manusia yang banyak, tetapi dalam skala kecil tidak
terlalu berat.
d) Sulit dipindah-pindahkan karena berat.
e) Biolayer memerlukan waktu 1-2 minggu untuk sampai pada kondisi untuk
bisa melakukan filtrasi secara optimal.
f) Menyaring air yang kekeruhannya melebihi 100 NTU akan menyebabkan
terjadinya sumbatan pada biosand filter yang memerlukan pemeliharaan
yang lebih intensif.
g) Tidak dapat menghilangkan residu pestisida dan residu pupuk.
h) Tidak dapat menurunkan kadar garam dan kesadahan.
D. Permasalahan dan Tahapan
Setelah beberapa waktu, pori di antara butiran pasir akan tersumbat oleh
sedimen. Sehingga kecepatan penyaringannya jadi lebih lambat. Untuk
membersihkannya, permukaan pasir harus diaduk untuk melepaskan sedimen dari
butiran pasir. Sedimen tersebut akan tersuspensi dengan lapisan air yang berada di
atas lapisan biolayer. Kemudian air tersebut dikeluarkan dari biosand filter. Proses
ini dapat diulang beberapa kali sesuai kebutuhan untuk mengembalikan kecepatan
penyaringan kepada kecepatan normalnya. Setelah dibersihkan, maka biolayer
akan membutuhkan waktu selama seminggu untuk memulihkan efisiensi
filtrasinya seperti keadaan semula.
Air hasil saringan biosand filter sebelum dikonsumsi, tetap harus dilakukan
desinfeksi terlebih dahulu untuk memastikan kualitas air yang didapat benar-benar
tinggi dan mencegah terjadinya kontaminasi ulang. Upaya desinfeksi yang dapat
dilakukan antara lain pasteurisasi, desinfeksi ultraviolet, klorinasi, dan yang
paling sederhana dan dapat diaplikasikan di tingkat rumah tangga adalah dengan
mendidihkan air.

III. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Teknologi pengolahan limbah cair secara tersier dapat menggunakan beberapa
metode, yaitu saringan pasir (sand filter), saringan multimedia, precoal filter,
microstaining, vacum filter, penyerapan (adsorption) dengan karbon aktif,
pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.
2. Biosand filter menggunakan plat penyaring (diffuser plate) sebagai saringan
air limbah yang kemudian diteruskan ke biolayer yang akan melakukan
penyaringan secara biologis terhadap mikroorganisme dan zat organik yang
mencemari air. Selanjutnya air akan merembes ke dalam lapisan pasir, lapisan
kerikil, tangki biosand filter dan pipa outlet.
3. Faktor yang berperan penting dalam biofilter adalah ukuran butiran pasir,
bentuk pasir, kemurnian pasir, kekerasan pasir, kedalaman pasir, proses
penyaringan, dan struktur pori.
4. Permasalahan yang sering timbul pada metode biosand filter ini yaitu pori di
antara butiran pasir akan tersumbat oleh sedimen dan harus dibersihkan dengan
cara mengaduk permukaan pasir untuk melepaskan sedimen dari butiran pasir.
Air hasil saringan biosand filter sebelum dikonsumsi, tetap harus dilakukan
desinfeksi dengan cara pasteurisasi, desinfeksi ultraviolet, klorinasi, dan atau
mendidihkan air.
B. Saran
Metode biosand filter merupakan metode pengolahan limbah cair
sederhanan dengan prinsip kerja pengolahan secara kimia dan fisika yang
bertujuan pada umumnya untuk menghilangkan zat-zat anorganik terlarut, seperti
nitrat, fosfat, dan garam mineral. Metode ini sangat cocok untuk diterapkan pada
setiap rumah tangga sehingga limbah cair rumah tangga dapat diolah dengan
sendirinya tanpa membuang polutan tersebut ke lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Ginting, Perdana. 2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri.
Bandung: Yrama Widya.
Kubare, M. dan Haarhoff, J. 2010. "Rational Design Of Domestic Biosand
Filters". Journal Of Water Supply: Research And Technology.
Murcot, S and Lucas. 2002. Nepal Water Project: 2001-2001, Department of Civil
and Environmental Engineering Master of Engineering Program.
Massachusetts Institute of Technology.
Ngai, T. dan Walewijk, S. 2003. The Arsenic Biosand Filter (ABF) Desaign Of An
Approriate Household Drinking Water Filter For Rural Nepal. Nepal.
Sari., Nur Maya. 2010. Studi Kinerja Biosand Filter untuk Pengolahan Air Minum
Ditinjau Terhadap Parameter Kekeruhan dan Besi. Tugas AkhirS1, Jurusan
Teknik Lingkungan FTSP-ITS, Surabaya.
Sugiharto. 2008. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta: UI-Press.
Sukawati. A. 2008. Penurunan Konsentrasi Chemical Oxygen Demand (COD)
Pada Air Limbah Laundry Dengan Menggunakan Reaktor Biosand Filter
Diikuti Dengan Reaktor Activated Carbon. Yogyakarta: Universitas Isalm
Indonesia
Utami, A.R. 2013. Pengolahan Limbah Cair Laundry Dengan Menggunakan
Biosand Filter Dan Activated Carbon. Jurnal Teknik Sipil Untan / Volume
13 Nomor 1.
Wardhana, I. W. Handayani, D. S. dan Rahmawati, D.I. 2009. Penurunan
Kandungan Phosphat Pada Limbah Cair Industri Pencucian Pakaian
(Laundry) Menggunakan Karbon Aktif Dari Sampah Plastik Dengan
Metode Batch Dan Kontinyu. Teknik. Vol. 30 (2). ISSN 0852-1697.