Anda di halaman 1dari 14

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Batugamping telah dapat digunakan untuk beberapa keperluan seperti di sector
industri, konstruksi, dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan, pengapuran
untuk pertanian, industri semen. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
batugamping biasanya direduksi hingga ukuran tertentu. Akan tetapi proses
reduksi dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan menggunakan
hammer mill.
Hammer mill adalah salah satu peralatan kominusi yang mengandalkan kombinasi
metode pukul-bentur (Gupta and Yan, 2006; Nasir, 2005; Feurstenau and Han,
2003). Sejumlah palu terikat pada sebuah poros yang terhubung ke motor listrik.
Palu-palu diputar begitu cepatnya sehingga setiap material padat yang memasuki
ruang putar di pukul dan dibenturkan ke plat penghancur yang mengelilingi ruang
remuk.
Pada proses penghancuran, jenis dan kekerasan material yang akan dihancurkan
sangat mempengaruhi ukuran butir yang akan dihasilkan, karena semakin tinggi
tingkat kekerasan material akan semakin sulit untuk dihancurkan dan akan
menghasilkan ukuran butir yang berbeda.
Sehubungan dengan hal tersebut peneliti ingin bermaksud untuk menyelidiki
apakah proses reduksi hammer mill yang dilengkapi dengan sebuah saringan
dapat menghasilkan distribusi ukuran yang berbeda dan pengaruh jenis dan
kekerasan batuan terhadap perbedaan ukuran distribusi butir batuan.

1.2. Maksud Dan Tujuan


1.2.1. Maksud
Maksud dari penelitian ini adalah :
1.

Meremuk 3 jenis sampel batugamping, masing-masing berasal dari karo,


penen, dan bahorok, proses peremukan menggunakan hammer mill yang
dilengkapi dengan sebuah saringan.

2. Mengukur distribusi butir tiap ukuran saringan, 3,00; 5,00; 7,50; 10; dan 12,50
mm.
3. Menghitung rata-rata ukuran butir tiap percobaan.
4. Membandingkan distribusi tiap percobaan
5. Membandingkan distribusi ukuran butir batugamping giling dari hasil
penelitian sebelumnya.
1.2.2. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah produk dari
sebuah reduksi dipengaruhi oleh ukuran saringan dan karakteristik bahan bakunya
menggunakan analisis varian.
1.3. Rumusan Masalah
1. Berapa rata rata ukuran butir untuk tiap percobaan ?
2. Bagaimana hubungan ukuran butir terhadap ukuran lubang saringan ?
3. Adakah perbedaan distribusi ukuran butir untuk tiap ukuran lubang
saringan ?
4. Apakah kekerasan batuan juga mempengaruhi distribusi ukuran butirnya ?
1.4. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Penelitian ini dilakukan di laboratorium tambang Institut Teknologi Medan.
2. Batu gamping yang digunakan berasal dari daerah Karo, Penen, dan Bahorok.

2. LANDASAN TEORI

2.1. BatuGamping
Batu gamping adalah batuan sedimen karbonat yang terdapat di alam. Tampak
luar bahan tambang batu gamping berwarna putih, putih kekuningan, abu-abu
hingga hitam. Berdasarkan determinasi bahan tambang batu gamping merupakan
salah satu bahan galian industri yang potensinya sangat besar. Cadangan batu
gamping di seluruh Indonesia diperkirakan lebih dari 28 milyar ton yang tersebar
hampir diseluruh wilayah Indonesia, salah satu lokasi depositnya yang cukup
besar adalah di Tasikmalaya bagian Selatan (AnonimI.2010).
Batu gamping menurut definisi Reijers dan Hsu (1986) adalah batuan yang
mengandung kalsium karbonat hingga 95 %. Sehingga tidak semua batuan
karbonat adalah batu gamping.
2.2. Komponen Penyusun Batu Gamping
Komponen penyusun batuan sedimen dapat berupa mineral, dan dapat pula
fragmen cangkang, fragmen tumbuhan atau fragmen batuan lain. Semua
komponen berupa fragmen tersebut bila ada akan dapat kita kenal dengan mudah.
Untuk komponen berupa mineral, mungkin sulit mengenal jenis mineralnya, tetapi
kita dapat kita kenal dari sifat fisiknya seperti mineral lempung yang lunak.
Mineral-mineral kristalin umunya terasa seperti butiran pasir. Menurut Tucker
(1991), komponen penyusun batugamping dibedakan atas non skeletal grain,
skeletal grain, matrix dan semen.
2.2.1. Non Skeletal Grain
a. Ooid dan Pisoid
Ooid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elips yang punya satu
atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti. Inti penyusun

biasanya partikel karbonat atau butiran kuarsa (Tucker, 1991). Ooid memiliki
ukuran butir < 2 mm dan apabila memiliki ukuran > 2 mm maka disebut pisoid.
b. Peloid
Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, elipsoid atau merincing yang
tersusun oleh mikrit dan tanpa struktur internal. Ukuran peloid antara 0,1 0,5
mm. Kebanyakan peloid ini berasala dari kotoran (faecal origin) sehingga disebut
pellet (Tucker 1991).
c. Agregat dan Intraklas
Agregat adalah kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang
tersemenkan bersama-sama oleh semen mikrokristalin atau tergabung akibat
material organik. Sedangkan intraklas adalah fragmen dari sedimen yang sudah
terlitifikasi atau setengah terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan air lumpur
pada daerah pasang surut atau tidal flat (Tucker,1991).
2. Skeletal Grain
Skeletal grain adalah butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri dari
seluruh mikrofosil, butiran fosil, maupun pecahan dari fosil-fosil makro.
Cangkang ini merupakan allochem yang paling umum dijumpai dalam
batugamping (Boggs, 1987). Komponen cangkang pada batugamping juga
merupakan penunjuk pada distribusi invertebrata penghasil karbonat sepanjang
waktu geologi (Tucker, 1991).
3. Lumpur Karbonat atau Mikrit
Mikrit adalah matriks yang biasanyaberwarna gelap. Pada batugamping hadir
sebagai butir yang sangat halus. Mikrit memiliki ukuran butir kurang dari 4
mikrometer. Pada studi mikroskop elektron menunjukkan bahwa mikrit tidak
homogen dan menunjukkan adanya ukuran kasar sampai halus dengan batas
antara kristal yang berbentuk planar, melengkung, bergerigi ataupun tidak teratur.
Mikrit dapat mengalami alterasi dan dapat tergantikan oleh mozaik mikrospar
yang kasar (Tucker, 1991).

4. Semen
Semen terdiri dari material halus yang menjadi pengikat antar butiran dan mengisi
rongga pori yang diendapkan setelah fragmen dan matriks. Semen dapat berupa
kalsit, silika, oksida besi ataupun sulfat.
2.3. Klasifikasi Batuan Karbonat
2.3.1 Klasifikasi Dunham (1962)
Klasifikasi ini didasarkan pada tekstur deposisi dari batugamping, karena menurut
Dunham dalam sayatan tipis, tekstur deposisional merupakan aspek yang tetap.
Kriteria dasar dari tekstur deposisi yang diambil Dunham (1962) berbeda dengan
Folk (1959).
Kriteria Dunham lebih condong pada fabrik batuan, misal mud supported atau
grain supported bila ibandingkan dengan komposisi batuan. Variasi kelas-kelas
dalam klasifikasi didasarkan pada perbandingan kandungan lumpur. Dari
perbandingan lumpur tersebut dijumpai 5 klasifikasi Dunham (1962). Nama nama
tersebut dapat dikombinasikan dengan jenis butiran dan mineraloginya.
Batugamping dengan kandungan beberapa butir (<10%) di dalam matriks lumpur
karbonat disebut mudstone dan bila mudstone tersebut mengandung butiran yang
tidak saling bersinggungan disebut wackestone. Lain halnya apabila antar
butirannya saling bersinggungan disebut packstone / grainstone.
Packstone mempunyai tekstur grain supported dan punya matriks mud. Dunham
punya

istilah

Boundstone

untuk

batugamping

dengan

fabrik

yang

mengindikasikan asal-usul komponenkomponennya yang direkatkan bersama


selama proses deposisi.
Klasifikasi Dunham (1962) punya kemudahan dan kesulitan. Kemudahannya
tidak perlu menentukan jenis butiran dengan detail karena tidak menentukan dasar
nama batuan. Kesulitannya adalah di dalam sayatan petrografi, fabrik yang jadi
dasar klasifikasi kadang tidak selalu terlihat jelas karena di dalam sayatan hanya
memberi kenampakan 2 dimensi, oleh karena itu harus dibayangkan bagaimana

bentuk 3 dimensi batuannya agar tidak salah tafsir. Pada klasifikasi Dunham
(1962) istilah-istilah yang muncul adalah grain dan mud. Nama-nama yang
dipakai oleh Dunham berdasarkan atas hubungan antara butir seperti mudstone,
packstone, grainstone, wackestone dan sebagainya. Istilah sparit digunakan dalam
Folk (1959) dan Dunham (1962) memiliki arti yang sama yaitu sebagai semen dan
sama-sama berasal dari presipitasi kimia tetapi arti waktu pembentukannya
berbeda.
Sparit pada klasifikasi Folk (1959) terbentuk bersamaan dengan proses deposisi
sebagai pengisi pori-pori. Sparit (semen) menurut Dunham (1962) hadir setelah
butiran ternedapkan. Bila kehadiran sparit memiliki selang waktu, maka butiran
akan ikut tersolusi sehingga dapat mengisi grain. Peristiwa ini disebut post early
diagenesis. Dasar yang dipakai oleh Dunham untuk menentukan tingkat energi
adalah fabrik batuan. Bila batuan bertekstur mud supporteddiinterpretasikan
terbentuk pada energi rendah karena Dunham beranggapan lumpur karbonat
hanya terbentuk pada lingkungan berarus tenang. Sebaliknya grain supported
hanya terbentuk pada lingkungan dengan energi gelombang kuat sehingga hanya
komponen butiran yang dapat mengendap.
2.3.2. Klasifikasi Mount (1985)
Proses pencampuran batuan campuran silisiklastik dan karbonat melibatkan
proses sedimentologi dan biologi yang variatif. Proses tersebut dapat
dikelompokkan menjadi 4 kategori :
a. Punctuated Mixing.
Pencampuran di dalam lagoon antara sedimen dan silisiklastik di dalam lagoon
yangberasal dari darat dengan sedimen karbonat laut. Proses pencampuran ini
terjadi hanya bila ada energi yang kuat melemparkan material karbonat ke arah
lagoon. Energi yang besar ini dapat terjadi padaa saat badai. Proses ini dicirikan
oleh adanya shell bed yang merupakan lapisan yang mebngandung intraklasintraklas cangkang dalam jumlah yang melimpah (Anonim2.2010).
b. Facies Mixing.

Percampuran yang terjadi pada batasbatas facies antara darat dan laut. Suatu
kondisi fasies darat berangsur-angsur berubah menjadi fasies laut memungkinkan
untuk terjadinya pencampuran silisiklastik dan karbonat (Anonim2.2010).

c. Insitu Mixing.
Percampuran terjadi di daerah sub tidal yaitu suatu tempat yang banyak
mengandung lumpur terrigenous. Kondisi yang memungkinkan terjadinya
percampuran ini adalah bila lingkungan tersebut terdapat organisme perintis
seperti algae. Apabila algae mati maka akan menjadi suplai material karbonat
(Anonim2.2010).
d. Source Mixing.
Proses percampuran ini terjadi karena adanya pengangkatan batuan ke permukaan
sehingga batuan tersebut dapat tererosi. Hasil erosi batuan karbonat tersebut
kemudian bercampur dengan material silisiklastik. Klasifikasi Mount (1985)
merupakan klasifikasi deskriptif. Menurutnya sedimen campuran memiliki 4
komponen, yaitu :- Silisiklastik sand (kuarsa, feldspar dengan ukuran butir pasir).Mud, yaitu campuran silt dan clay. Allochem, batuan karbonat seperti pelloid,
ooid dengan ukuran butir > 20 mikrometer.- Lumpur karbonat / mikrit, berukuran
< 20 mikrometer (Anonim2.2010).
Paling tidak terdapat empat bidang kegiatan yang memanfaatkan keunggulan sifat
fisik dan kimia batu gamping, yaitu, bidang pertanian, bahan bangunan, industri
dan lingkungan. Pemanfaatan batu gamping di bidang pertanian sangat prospektif.
Seperti dikatahui bahwa batu gamping dapat meningkatkan ketersediaan unsur
hara tanah untuk diserap tanaman. Proses kerjanya melalui penurunan kadar asam
tanah (AnonimI.2010).
Sementara itu lahan-lahan pertanian saat ini banyak yang mencapai keasaman
yang tinggi sehingga memerlukan penetralan melalui penggunaan batu gamping.
bidang industri, penggunaan batu gamping sangat beragam untuk pembuatan
berbagai produk, seperti kaca, karbid, bata silika, peleburan baja dan lain-lain.
Melihat penggunaan seperti itu, dapat disimpulkan, bahwa permintaan batu

gamping akan terus meningkat seiring dengan semakin bertambahnya jumnlah


penduduk dan dinamika pembangunan.
a. Pemanfaatan Batu Gamping.
Bidang Pertanian
1. Mengurangi derajat keasaman (pH) tanah.
2. Meningkatkan ketersediaan kandungan N, P, Ca, Mg, Na dan KTK tanah.
3. Mengurangi kandungan Alumunium.
4. Memperbaiki struktur fisik tanah.
Bidang Kontruksi
1. Podasi bangunan rumah, jalan dan jambatan.
2. Sebagai campuran dalam adukan pasangan bata/plester.
3. Pembutan semen trass atau semen merah
Bidang Industri
1. Industri keramik, berfungsi menurunkan suhu leleh.
2. Industri kaca digunakan sebagai bahan tambahan.
3. Pembuatan bata silika dengan kandungan CaO 90%.
4. Pembuatan karbid dengan kandungan kapur tohor (60% ), kokas (40 %)
antrasit, petrolium coke (carbon black).
5. Untuk pelaburan dan pemurnian baja sebagai imbuh pada tanur tinggi.
6. Bahan pemutih dalam industri kertas, pulp dan karet.
7. Pembuatan soda abu
8. Proses pengendapan biji logam non-ferrous.
9. Proses penjernihan nira tebu dan menaikan pH nira.
Bidang Lingkungan
1. Digunakan dalam pengolahan air bersih
2. Penetralisir air yang mengandung CO2

2.2. Hammer mill


Hammer mill adalah salah satu peralatan kominusi yang mengandalkan kombinasi
metode pukul-bentur (Gupta and Yan, 2006; Nasir, 2005; Feurstenau and Han,
2003). Sejumlah palu terikat pada sebuah poros yang terhubung ke motor listrik.
Palu-palu diputar begitu cepatnya sehingga setiap material padat yang memasuki
ruang putar di pukul dan dibenturkan ke plat penghancur yang mengelilingi ruang
remuk.

Gambar 2.1. Hammer mill


2.3. Gradasi agregat
Gradasi adalah susunan butir agregat sesuai ukurannya. Ukuran butir
agregat dapat diperoleh melalui pemeriksaan analisis saringan. Gradasi
agregat diperoleh dari hasil analisis pemeriksaan dengan menggunakan
satu set saringan yang umumnya terdiri dari saringan berukuran 4, 3 ,

3
3, 2 , 2, 1 , 1, , , /8, No.4, No.8, No.16, No.30, No.50,
No.100 dan No.200.
Gradasi agregat dinyatakan dalam prosentase lolos atau prosentase
tertahan, yang dihitung berdasarkan berat agregat. Gradasi agregat
mempengaruhi besarnya rongga antar butiran yang akan menentukan
stabilitas dan kemudahan dalam proses pelaksanaan.

Jika agregat

campuran terdiri dari agregat berukuran sama akan berongga atau berpori
banyak karena tidak terdapat agregat berukuran kecil yang dapat mengisi
rongga. Sebaliknya jika campuran agregat terdistribusi dari agregat
berukuran besar sampai kecil secara merata, maka rongga atau pori yang
terjadi sedikit. Hal ini disebabkan karena rongga yang terbentuk oleh
susunan agregat berukuran besar, akan diisi oleh agregat berukuran lebih
kecilDistribusi butiran butiran agregat dengan ukuran tertentu yang
dimiliki oleh suatu campuran menentukan jenis gradasi agregat. Gradasi
agregat dapat dikelompokkan menjadi :
1. Agregat bergradasi baik
Agregat bergradasi baik disebut pula agregat bergradasi rapat. Campuran
agregat bergradasi baik mempunyai pori sedikit, mudah dipadatkan dan
mempunyai stabilitas yang tinggi. Tingkat stablitas ditentukan dari ukuran
butiran agregat terbesar yang ada. Berdasarkan ukuran butiran agregat
yang dominan menyusun campuran agregat, maka agregat bergradasi baik
dapat dibedakan atas :
a. Agregat

bergradasi

kasar

adalah

agregat

bergradasi

baik

yang

mempunyai susunan ukuran menerus dari kasar sampai dengan halus,


tetapi dominan berukuran agregat kasar.
b. Agregat

bergradasi

halus

adalah

agregat

bergradasi

baik

yang

mempunyai susunan ukuran menerus dari kasar sampai dengan halus,


tetapi dominan berukuran agregat halus.
2. Agregat bergradasi buruk

Agregat bergradasi buruk tidak memenuhi persyaratan gradasi baik.


Macam macam gradasi agregat yang dapat dikelompokkan kedalam
agregat bergradasi buruk adalah :
a. Agregat bergradasi seragam, terdiri dari butiran butiran agregat
yang berukuran sama. Campuran agregat ini mempunyai pori antar
butiran yang cukup besar, sehingga sering dinamakan juga agregat
bergradasi terbuka.
b. Agregat bergradasi terbuka, adalah agregat yang distribusi ukuran butirnya
sedemikian rupa sehingga pori porinya tidak terisi dengan baik.
c. Agregat bergradasi senjang adalah agregat yang distribusi ukuran
butirnya tidak menerus, atau ada bagian ukuran yang tidak ada, jika
ada hanya sedikit sekali. (Silvia Sukirman, 2003)
Masing masing fraksi agregat terlebih dahulu harus diperiksa gradasinya
yang

selanjutnya

digabungkan

menurut

perbandingan

sehingga

menghasilkan agregat campuran. Agregat campuran adalah agregat hasil


pencampuran secara proporsional fraksi agregat A, fraksi agregat B, dan
fraksi agregat C. Proporsi dari masing masing fraksi agregat dirancang
secara proporsional sehingga diperoleh gradasi agregat yang diinginkan.
Perencanaan campuran diperlukan untuk mendapatkan gradasi campuran
sesuai spesifikasi

campuran.

Batasan

gradasi

agregat

disebut

juga

spesifikasi gradasi agregat campuran, yaitu nilai rentang gradasi agregat


campuran yang diperbolehkan terjadi di lapangan. Gradasi tengah adalah
gradasi agregat yang merupakan nilai tengah dari rentang gradasi agregat
yang diberikan dalam spesifikasi. Gradasi tengah ini yang seringkali disebut
sebagai gradasi ideal dari spesifikasi campuran.
Untuk mendapatkan gradasi agregat campuran dapat dilakukan dengan
beberapa metode antara lain dengan metode trial and error, metode
analitis dan metode grafis. Namun pada praktek di lapangan umumnya
digunakan metode trial and error.

3. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian


Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan cara comperatif
analisis. Metode comperatif analisis adalah metode yang digunakan dengan
cara melihat perbandingan antara setiap variabel.
3.2. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
a. Data Primer
Jenis sumber data ini diperoleh dengan cara melakukan pengujian secara
langsung dalam skala laboratorium. Jenis data data yang diambil seperti :
1. Berat sampel dari tiap masing masing ukuran saringan.
2. Rata rata ukuran butir dari tiap sampel
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari study literatur yang dilakukan sebelum dan
selama penelitian. Literatur yang digunakan sebagai acuan tidak hanya
sebatas buku melainkan dari artikel, jurnal ilmiah, internet, dan informasi
dari penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan dan berhubungan dengan
permasalahan yang diteliti.
3.3. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah :


a. Menimbang berat masing masing sampel hasil crushing berdasarkan
ukuran saringan.
b. Menghitung rata rata distribusi ukuran butir tiap masing masing
sampel.
c. Menganalisa perbedaan ukuran butir dengan menggunakan analisis varian.

3.4. Diagram Alir Penelitian