Anda di halaman 1dari 84

Metabolisme Porfirin &

Pigmen Empedu
Febrika Wediasari, dr
Marisa Anggraini, dr
Prof.dr. Zainal Nang Agus

Tujuan Instruksional
Umum:
Pemahaman tentang:

Biosintesis senyawa inti porfirin serta


hem
Katabolisme hemoglobin & pigmen
empedu
Memahami tentang penyakit yang
berkaitan dgn timbulnya ikterus.

Indroduction
Porfirin merupakan senyawa utama
pembentuk hemoglobin & eritrosit.
Punya inti porfin yang dibentuk
oleh gabungan 4 cincin pirol
berbentuk siklik yang dihubungkan
dgn jembatan metinil.

Cincin Pirol
CH

CH

CH

N
H

CH

Porfirin (C2OH14N4)

Inti porfirin mengikat logam


metaloporfirin
Hem (porfirin yang mengikat besi)
Klorofil (porfirin yang mengikat Mg)

Metaloporfirin + protein
senyawa biologis aktif untuk
proses kimia.

Hemoglobin
Merupakan porfirin besi yang berikatan
dengan protein globin.
Hb + O2 oksihemoglobin (pengangkut
oksigen dlm darah yang penting dlm
proses respirasi)
BM: 64.500, tiap 4 subunit mengikat 1
molekul hem & 1 molekul besi dlm
bentuk ferro (Fe2+)

Mioglobin
Porfirin-besi yang molekulnya mirip
hemoglobin, terdpt dlm otot.
Mengikat oksigen untuk respirasi
sel otot.
BM: 17.000, tiap molekul
mengandung 1 atom besi.

Sitokrom
Merupakan porfirin besi yang
berperan sebagai koenzim
pemindah elektron.
Mis: sitokrom c, BM: 13.000
mengandung 1 atom besi
permolekulnya.

Katalase
Katalase merupakan porfirin besi
dengan BM 225.000 mengandung
4 atom besi permolekulnya.
Merupakan bagian enzim
peroksidase yg berfungsi
membuang hidrogen peroksida
dari dalam jaringan.

Triptophan Pirolase
Merupakan porfirin besi, yang
berperan mengkatalisis triptophan
formil kinurenin.

Struktur Porfirin
Porfirin yg ditemukan di alam adlh
senyawa inti porfin dgn rantai
samping pd 8 atom H luar
berikatan dgn senyawa lain.
Fischer:
Dgn mghilangkan jembatan metinil &
tiap cincin dibuat seperti persegi 4
dgn 8 posisi substituen yg diikatkan
disitu pd H luar yg diberi nomer.

Substituen dapat bermacam-macam yaitu


asam asetat, asam butirat atau metil.

Uroporfirin III
1

A
A: CH2COOH, P: CH2CH2COOH, M: CH3

Bermacam porfirin telah


ditemukan, perbedaan molekulnya
pada cincin ke IV, ada yg simetris
& asimetris.
Di alam hy ada tipe I & III.
Plg banyak di alam tipe III, spt hem
& sitokrom.
Porfirin tipe III : asimetris
Koproporfirin tipe III : simetris

Uroporfirin ditemukan di urin &


jaringan lain.
Koproporfirin ditemukan di feses,
juga urin.

Biosintesis Porfirin
Pd awalnya ada 2 senyawa yg
terlibat:
Suksinat aktif (suksinil-KOA)
Asam amino glisin

Pd awal reaksi glisin perlu diaktifkan


dgn proses spt basa-schift yg perlu
piridoksal fosfat, disini terjadi
penggabungan C dr alfa glisin dgn C
dari karbonil suksinat.

Reaksi kondensasi suksinat + glisin


asam alfa amino beta ketoadipat cepat
mengalami dekarboksilasi asam 8 amino
levulinat (Amlev) reaksi ini terjadi dlm
mitokondria dikatalisis amlev sintetase.
Amlev sintetase berperan mengatur
kecepatan biosintesis porfirin dlm sel
hepar mamalia.
Pembentukan tetrapirol pd molekul porfin
tjd oleh kondensasi 8 subunit monopirol dr
porfobilinogen.

Tiap karbon amino dr glisin (alfa,


beta, gamma & delta) mjd sumber
karbon metilen yg mghubungkan
masing2 4 cincin pirol.
Enzim yg terlibat dlm perubahan
amlev porfobilinogen, khusus
berada dlm sitosol
Porfobilinogen uroporfirinogen III
(merupakan prekursor sintesis hem)

Reaksi sintesis uroporfirinogen tipe


I & III dikatalisis oleh 2 kompleks
enzim:
Uroporfirinogen I sintetase
(menggabungkan porfobilinogen dgn
uroporfirinogen I)
Uroporfirinogen III kosintetase (akan
mbtk uroporfirinogen III/isomer
uroporfirinogen I) tidak berwarna &
mdh autooksidasi uroporfirin III.

Uroporfirinogen III mdh


dekarboksilasi pd semua gugus
asetat (A) diubah gugus metil (M)
sehingga senyawanya menjadi
koproporfirinogen.
Reaksi dikatalisis uroporfirinogen
dekarboksilase.
Koproporfirinogen III msk mitokondria
diubah jadi protoporfirinogen III
protoporfirin III.

Reaksi dikatalisis koproporfirinogen


oksidase melalui reaksi
dekarboksilasi & oksidasi 2 rantai
samping propionat mbtk
protoporfirinogen III
protoporfirin III (oleh enzim
protoporfirinogen oksidase)

Biosintesis Amlev
Suksinil-KOA
+
Glisin

Asam Alfa Amino


Beta Keto Adipat

Asam Delta
Amino Levulinat
(amlev)

Biosintesis Porfobilinogen
Kondensasi 2 mol
asam aminolevulinat

Porfobilinogen
(Prazat Pertama Pirol)

Konversi Porfibilinogen Uroporfirinogen


4 Molekul Porfobilinogen

Uroporfirino
gen sintetase

Uroporfirinogen
Tipe I

4NH3

4NH3

Uroporfirinogen
I Sintetase
Uroporfirinogen
III Sintetase

Uroporfirinogen
Tipe III

Uroporfirinogen III
(Tidak Berwarna)

6H

Auto Oksidasi
dgn Sinar

Uroporfirin III
(Berwarna)

Biosintesis Hem
Biosintesis Hem terjadi di mitokondria.
Enzim yang bekerja enzim hem sintetase
atau ferro kelatase mengkatalisis
penggabungan besi ferro ke dalam
molekul protoporfirin.
Berlangsung di semua jaringan kec.
Eritrosit.
Porfirinogen (porfirin tereduksi)
merupakan zat antara dlm sintesis
protoporfirin & hem.

Kecepatan sintesis inti porfirin


ditentukan oleh aktivitas amlev
sintetase yg diatur kadar hem itu
sendiri (apopressor)
Terdapat inhibisi umpan balik, ttp
kadar hem pengaruhnya lbh kuat.
Bila kdr hem tinggi penimbunan
amlev sintetase berkurang.
Sebaliknya bila hem rendah
Amlev sintetase tertimbun.

Peningkatan aktivitas Amlev sintetase


dpt dipengaruhi oleh:
Insektisida
Karsinogen
Obat-obatan spt fenobarbital
Metabolisme fenobarbital di hepar perlu
banyak hemoprotein spesifik (sitokrom P-450)
Bila sitokrom banyak dipakai kdr hem dlm
sel hepar menurun depresi sintesis Amlev
sintetase pacuan sintesis hem utk
memenuhi kebutuhan sel.

Senyawa yang dpt menginduksi aktivitas


Amlev sintetase dlm sel hepar
Glukosa & Besi (btk kelated memberikan efek
sinergistik terhadap Amlev sintetase hepar)

Steroid memungkinkan terjadinya derepresi


Amlev sintetase shg memacu aktivitasnya.
Hematin mencegah derepresi menekan
aktivitas Amlev sintetase.
Keadaan hipoksia dlm jaringan eritropoetik
menaikkan aktivitas Amlev sintetase di
jaringan itu sendiri, tp tidak di hepar.

Dekarboksilasi Uroporfirinogen
koproporfirinogen dlm sitosol
M

P
P

P
P

Uroporfirinogen
Dekarboksilase

M
A

P
A

Uroporfirinogen III

4CO2

Koproporfirinogen I

P
M

Uroporfirinogen I
A

4CO2

P
P

Koproporfirinogen III

Pengubahan Koproporfirinogen
Protoporfirin dlm Mitokondria
(O2)

2CO2

Koproporfirinogen
Oksidase

Protoporfirinogen III (IX)

Koproporfirinogen III

6H
Protoporfirinogen
Oksidase

Protoporfirin III (IX)

Mekanisme Represi-Derepresi
Sintesis Hem
Hemoprotein
Protein
Fe2+

Heme
Proporfirin III
Proporfirinogen III

Koproporfirinogen III
Uroporfirinogen III
Porfobilinogen
AMLEV
Amlev
Sintetase

Suksinil-KOA + Glisin

Apopressor

Tes untuk Porfirin


Deteksi adanya koproporfirin/uroporfirin
py kepentingan yg berarti dlm klinik krn
2 senyawa ini diekskresi dlm urin
jumlahnya meningkat pd penderita
porfiria.
Dlm urin normal, kadar porfirin dlm urin
berkisar 67 g/urin 24 jam:
14 g (isomer tipe I)
53 g (isomer tipe III)

Perubahan rasio normal yg diekskresi akan


berguna untuk menentukan jenis penyakit
pd hepar.
Penyebaran zat antara biosintesis hem dlm
urin & feses mencerminkan peningkatan
kualitas hidrofob senyawa yg diekskresi.
Uroporfirinogen yg lbh polar akan
diekskresikan lbh banyak dlm urin drpd dlm
feses, sedangkan koporporfirinigen &
protoporfirinogen yg kurang polar akan lbh
banyak di dlm empedu & feses dibanding
dlm urin.

Porfiria
Kumpulan penyakit dgn tanda yg
menunjukkan peningkatan ekskresi
porfirin atau prazat porfirin dlm urin.
Bersifat herediter
Dibagi 3 kelompok:
Porfiria eritropoetika
Porfiria hepatika
Protoporfiria

1. Porfiria Akut Intermitten


(kambuh-kambuhan)

Sifat autosomal heterozigot dominan


Akibat defisiensi parsial uroporfirinogen I sintetase
Penderita banyak mengekskresikan porfobilinogen
& amlev dlm urin
Porfobilinogen & amlev tidak berwarna, tpp bila
kena sinar & udara bebas polimerisasi spontan
& memberikan warna (porfobilin & porfirin)
Warna urin coklat

Pemberian fenobarbital & steroid


menimbulkan kekambuhan penyakit ini
Hal ini disebabkan adanya pacuan pada
aktivitas uroporfirinogen I sintetase
shg terjadi penimbunan amlev &
porfobilinogen
Gejala: muntah, konstipasi & kelainan
vaskular
Pemberian infus hematin memperbaiki
induksi amlev I sintetase & mengurangi
gejalanya.

2. Porfiria Eritropoetika
Merupakan penyakit herediter yg dibawa
gen autosomal resesif
Disini terjadi ketidak-seimbangan antara
aktivitas uroporfirinogen III kosintase &
uroporfirinogen I sintetase, sehingga
sintesis uroporfirinogen I lbh banyak dr
uroporfirinogen III
Uroporfirinogen III dlm urin mengalami
oksidasi spontan uroporfirin I &
koproporfirin I warna merah.

Krn kekurangan hem maka terjadi


pacuan aktivitas amlev sintetase &
overproduksi porfirinogen I yang
disertai peningkatan ekskresi
porfobilinogen & amlev dlm urin.

3. Koproporfiria
Kelainan herediter bersifat autosomal
dominan.
Defisiensi enzim koproporfirinogen III
oksidase yg berperan mengubah.
koproporfirinogen III protoporfirin IX shg
koproporfirinogen III bnyk diekskresi lwt urin
selanjutnya dioksidasi koproporfirin.
Ada hambatan sintesis hem & overproduksi
amlev sintetase & porfobilinogen.
Keadaan diperbaiki dgn infus hematin.

4. Porfiria Varigata

Kelainan herediter bersifat autosom dominan


Terjadi hambatan pengubahan proporfirinogen
hem
Pengubahan itu dipengaruhi oleh proporfirinogen
oksidase & ferokelatase dlm mitokondria.
Terjadi defisiensi hem & amlev sintetase hepatik
mengalami depresi.
Dlm urin terjadi peningkatan ekskresi amlev,
porfobilinogen, uroporfirin
Dlm feses terjadi peningkatan uroporfirin,
koproporfirin & protoporfirin.

5. Porfiria Kutanea Tarda


Merupakan bentuk yg paling sering
dijumpai
Terjadi pada penderita yg mengalami
kerusakan hepar misalnya pada
alkoholisme atau keracunan besi.
Terjadi defisiensi parsial uroporfirinogen
dekarboksilase.
Mungkin bersifat autosomal dominan, ttp
faktor kerusakan hepar lebih besar.

Dlm urin jarang terjadi


peningkatan ekskresi amlev &
porfobilinogen & kadang-kadang
ada porfin yang memberi warna
merah muda.
Terjadi peningkatan sensitivitas
kulit terhadap sinar matahari.

6. Porfiria Akuisita
Terjadi keracunan dari
hexaklorobenzen, timah hitam &
logam berat.
Juga krn obat-obatan seperti
griseovulvin & apronalid
Logam berat menghambat
beberapa enzim dlm jalur sintetase
& ferokelatase.

Katabolisme Hem &


Pigmen Empedu
Katabolisme Hem
Eritrosit yg tua (sekitar 121 hari) akan
dihancurkan oleh sel RES hepar,
limpa & sumsum tulang.
Setiap jam ada 2 x 108 eritrosit yang
dihancurkan hemoglobin hem &
globin.
Orang dewasa: dihasilkan 6 gr
Hb/hari.

Protein globin digunakan kembali


atau dipecah menjadi asam amino,
selanjutnya dimetabolisme sebagai
asam amino.
Besi hem di dalam mikrosom sel RES
dioksidasi oleh enzim sistem hem
oksigenase, diubah jadi hemin dgn
besi bntk ferri.
Hemin + albumin methemalbumin

Hemin direduksi dgn NADPH &


Oksigen, sedangkan besi ferro ferri.
Dgn penambahan oksigen CO & ion
ferri bebas serta biliverdin XI-alfa
warna hijau.
Diperkirakan dari setiap 1 gr Hb
dihasilkan 35 mg bilirubin.
Dws dihasilkan 350 mg bilirubin/hari.

Metabolisme bilirubin selanjutnya


berlangsung dlm sel parenkim
hepar melalui 3 proses:
Penangkapan bilirubin oleh sel
parenkim hepar
Bilirubin dikonjugasi dgn asam
glukoronat dlm retikulum
endoplasmik halus
Sekresi bilirubin terkonjugasi ke
dalam empedu.

Sintesis Bilirubin dlm


Mikrosom

Proses utama (ambilan,


konjugasi & sekresi)

Metabolisme Bilirubin dlm


Hepar
Bilirubin dlm plasma terikat pd
protein albumin krn hy sedikit yg
larut dlm air (non polar).
Ada 2 sisi albumin yg mampu
mengikat bilirubin yaitu
Sisi dgn afinitas ikatan lemah
Sisi dgn afinitas ikatan tinggi

Dlm 100 ml plasma terdapat 25 mg


bilirubin terikat albumin pd sisi
afinitas tinggi, bila batas
kemampuan mengikat ini terlampaui
maka bilirubin sisanya akan terikat
pd bagian yg afinitas ikatannya
lemah.
Albumin disini berfungsi sebagai alat
pengangkut bilirubin dlm plasma.

Bilirubin diglukoronat &


konjugasinya
UDP-GLUKOSA
DEHIDROGENASE

UDP-GLUKORONAT

UDP-GLUKOSA
2 NAD

UDP-GLUKOSA GLUKORONAT
+ BILIRUBIN

2NADH+2H

UDP-GLUKOSA
DEHIDROGENASE

UDP-GLUKORONAT
+ UDP

UDP-GLUKOSA
DEHIDROGENASE

UDP-GLUKORONAT
+ BILIRUBIN MONOGLUKORONAT

BILIRUBIN-DIGLUKURONAT
+ UDP

Sejumlah obat antibiotik & senyawa


tertentu dpt bersaing utk berikatan dgn
albumin pd afinitas tinggi shg senyawa
ini dpt mendesak bilirubin dr albumin &
ini mempunyai pengaruh klinis yg
berarti.
Dlm hepar, bilirubin dilepas dari albumin
& ditangkap (up-take) oleh permukaan
hepatosit melalui perantaraan suatu
karrier & selanjutnya dimetabolisme.

Bilirubin bersifat non polar, agar


menjadi polar & larut dlm air m.k.
perlu proses konjugasi dgn glukoronat.
Proses konjugasi berlangsung dlm RES
halus sel hepar dgn bantuan enzim
khusus yaitu uridin difosfat glukoronat
glukoronil transferase (UDPglukoroniltransferase) shg terbntk
bilirubin diglukoronida (konjugated
bilirubin) yg dpt larut dlm air,
disimpan dlm kantong empedu.

Reaksi tersebut terjadi di hepar,


dpt jg terjadi di ren & mukosa
intestinum.
Aktifitas UDP-glukoroniltransferase
dpt diinduksi oleh obat spt:
fenobarbital.

Sekresi Bilirubin ke dalam


Empedu
Bilirubin
terkonjugasi
dlm sel hepar
akan disekresi
ke dlm empedu
di hepar.

Sekresi ini melalui mekanisme yg


melawan gradien konsentrasinya,
o.k. itu perlu penggunaan energi
atau melalui transport aktif.
Sistem ini merupakan mekanisme
pengaturan metabolisme bilirubin
dlm hepar.

Semua bilirubin yang dikeluarkan


dr kantong empedu tlh mengalami
konjugasi.
Tetapi setelah pengobatan dgn
fototerapi, banyak ditemukan
bilirubin tak-terkonjugasi
(unkonjugated bilirubin) di dlm
kantong empedu.

Metabolisme Bilirubin Di
Usus
Sekresi empedu di usus akan
membawa bilirubin-terkonjugasi
sampai ke ujung ileum & usus besar.
Glukoronida akan dilepas oleh enzim
mikroba usus & bilirubin akan
direabsorpsi & disekresi kembali
melalui jalur sirkulasi enterohepatik
atau siklus enterohepatik
urobilinogen.

Bila terjadi suatu keadaan patologis,


sekresi empedu berlebih maka siklus
enterohepatik tidak mampu menyerap
semua urobilinogen di usus, maka
urobilinogen akan di ekskresi dlm urin.
Sebagian urobilinogen di kolon akan
dioksidasi menjadi urobilin yg memberikan
warna & diekskresi bersama feses. Bila
urobilinogen dlm feses teroksidasi oleh
udara bebas akan berubah menjadi
urobilin yg memberi warna hitam pd feses.

Siklus Enterohepatik

Hiperbilirubinemia
Adalah keadaan kadar bilirubin dlm
darah naik di atas normal.
N dlm darah: 1 mg/dl (17,1 mol/L)
Bilirubin dpt tertimbun di jaringan shg
jaringan berwarna kuning (ikterus /
jaundice).

Keadaan ini dpt terjadi krn produksi


bilirubin berlebih.
Misalnya hemolisis berat,
kerusakkan jaringan parenkim hepar
(hepatitis) atau sumbatan saluran
empedu (bilirubin retensi /
regurgitasi) akbt batu empedu shg
bilirubin tidak dpt diekskresi, diserap
kembali masuk ke dalam pembuluh
darah kadar naik dlm darah

Metoda penentuan kadar bilirubin dlm


darah pertama kali ditemukan oleh Van
den Berg, yg menggunakan metoda
pengukuran bilirubin dlm urin (tes
Ehrlich).
Tes Ehrlich positif didasarkan atas
terjadinya reaksi antara asam
sulfanilat diazo (pereaksi diazo Ehrlich)
dgn bilirubin akan memberikan warna
ungu kemerah-merahan.

Semula pd metoda Ehrlich


digunakan metanol sebagai pelarut
reagen diazo & bilirubin.
Ketika Van den Berg mencoba
pertama kali ia lupa menggunakan
metanol pd waktu penentuan
bilirubin dlm serum darah manusia.
Tpp ia heran krn hasilnya warna
kemerah-merahan timbul secara
langsung.

Metoda penentuan bentuk bilirubin yg bereaksi


secara langsung tnp tambahan metanol disebut
metoda reaksi langsung (direct-reacting).
Reaksi-langsung ini terjadi pada kasus
hiperbilirubinemia yg disebabkan oleh
obstruksi.
Pada kasus hiperbilirubinemia bukan krn
obstruksi ttp krn hemolisis berat msh perlu
penambahan metanol, shg metoda ini disebut
metoda reaksi tidak langsung(indirectreacting)

Reaksi langsung untuk penentuan


bilirubin-terkonjugasi.
Reaksi tidak langsung untuk
penentuan bilirubin bebas
(bilirubin tidak terkonjugasi)
Bilirubin bebas tidak larut dlm air
shg perlu penambahan metanol
sebagai pelarut.

Bilirubin tak terkonjugasi dpt melewati


barrier darah otak dpt masuk ke dlm
jaringan otak kerusakkan otak.
Keadaan ini disebut ensefalopati
hiperbilirubinemia (kernikterus).
Keadaan ini terjadi krn retensi atau
hemolisis berat.
Kadar bilirubin tak terkonjugasi naik.
Bilirubin terkonjugasi dpt ditemukan dlm
urin.

Choluric jaundice (ikterus koluria)


hanya terjadi pd hiperbilirubinemia
regurgitasi.
Acholuric jaundice (ikterus
akoluria) hanya terjadi bila ada
kenaikkan kadar bilirubin tak
terkonjugasi.

Hiperbilirubinemia Tak
Terkonjugasi

Keadaan ini terjadi pd hemolisis berat.


Biasanya hiperbilirubinemia-tak
terkonjugasi ringan kadarnya di bawah
4 mg/dl (68,4 mol/L) .
Keadaan yg plg srg untuk kasus ini
adalah ikterus neonatorum fisiologis
yg bersifat sementara.

Hiperbilirubinemia pd kasus ini


terjadi karena hemolisis yg cepat,
sedangkan sistem hepatik belum
cukup dewasa utk menangkap &
mengkonjugasi bilirubin &
mensekresikannya dlm btk bilirubin
terkonjugasi.
Aktivitas UDP-glukoroniltransferase
berkurang & ada penurunan UDPglukoronat.

Kadar bilirubin-tak terkonjugasi yg meningkat


melampaui kemampuan ikat albumin (20-25
mg/dl) dpt menimbulkan kernikterus.
Konjugasi bilirubin dpt dipacu oleh fenobarbital
shg pemberian obat ini pd bayi ikterus dpt
membantu mengurangi ikterusnya.
Cahaya tampak (visible-light) dpt
mempercepat ekskresi bilirubin-tak
terkonjugasi oleh hepar & sebagian diubah
menjadi derivat yg dpt diekskresi ke dlm
empedu.

Sindroma Crigler-Najjar
Disebut
tipe
I : ikterus non hemolitik kongenital.
Herediter, autosomal resesif jarang.
Biasanya fatal meninggal umur 15
bulan, tetapi ada jg yg smp dewasa.
Terjadi gangguan metabolisme primer pd
konjugasi bilirubin.
Ditandai ikterus kongenital berat krn tidak
ada aktivitas UDP-glukoroniltransferase di
hepar.
Terapi: fototerapi & pemberian
fenobarbital.

Sindroma Crigler-Najjar
tipe
IIherediter yang jarang.
Kelainan
Kdr bilirubin serum biasanya di bawah 20
mg/dl (bilirubin-tak terkonjugasi).
Terjadi gangguan metabolisme primer pd
konjugasi bilirubin.
Ditandai tidak adanya aktivitas UDP-glukoroniltransferase di hepar shg tidak ditemukan
bilirubin monoglukuronida dlm empedu.
Terapi: fenobarbital.

Sindroma Gilbert
Merupakan penyakit herediter yg
dibawa gen autosom dominan.
Menimbulkan hemolisis terkompensasi &
hiperbilirubinemia-tak terkonjugasi.
Disini jg ada kelainan penangkapan
bilirubin oleh hepar & aktivitas UDPglukoroniltransferase di hepar menurun.

Hiperbilirubinemia Toksik
Terjadi hiperbilirubinemia tak-terkonjugasi
yg disebabkan oleh gangguan fungsi hepar
disebabkan oleh zat racun spt: kloroform,
arsefenamine, karbon tetraklorida, virus
hepatitis & infeksi jamur tertentu.
Pd keadaan ini terjadi kerusakan parenkim
hepar & adanya obstruksi saluran empedu
yg mengakibatkan hiperbilirubinemiaterkonjugasi.

Hiperbilirubinemia
Terkonjugasi

Karena bilirubinemia-terkonjugasi
larut dlm air mk dpt dideteksi dlm
urin, sehingga sering disebut ikterus
koluria.

Ikterus Idiopatik Kronika


(Sindroma Dubin-Johnson)

Pada kelainan terjadi


hiperbilirubinemia-terkonjugasi pd
anak & dewasa
Kelainan autosom resesif shg
sekresi bilirubin-terkonjugasi ke dlm
empedu terganggu.
Pd kasus ini juga ada gangguan
sekresi estrogen terkonjugasi.

Pd test dgn senyawa sulfbromftalein terlihat


gangguan sekresi ini maka senyawa itu
diserap kembali ke dlm plasma sehingga
kadarnya dlm plasma naik (sekunder).
Bila menggunakan senyawa yg tidak
memerlukan konjugasi pd sekresinya spt
indosianin hijau ternyata tidak terjadi
peningkatan sekunder kadarnya dlm plasma.
Terjadi peningkatan dlm urin dr koproporfirin I
& penurunan koproporfirin III.

Obstruksi Saluran Empedu


Obstruksi saluran empedu yg disebabkan
oleh adanya batu empedu atau tumor pd
saluran empedu.
Dpt menutup total aliran empedu dr
kantong empedu ke duodenum.
Sumbatan mengakibatkan terjadinya
regusgitasi, bilirubin diserap kembali masuk
ke kapiler vena hepatik & pembuluh limfe
shg terjadi hiperbilirubinemia.

Bilirubin yang diserap kembali


berasal dr sel-sel hepar & kantong
empedu, bilirubin terkonjugasi.
Semua hiperbilirubinemia akibat
obstruksi disebut ikterus kolestatik.

Urobilinogen Urin
Dlm keadaan normal hy sedikit
urobilinogen:
Urin: 0,64 mg (maksimal 4 mg/24 jam)
Feses: 40-280 mg/24 jam.

N: bilirubin tidak ada dlm urin.


Pd sumbatan total saluran empedu
bilirubin tidak dpt sampai ke usus utk
mbtk urobilinogen melalui reduksi,
akibatnya bilirubin ditemukan dlm urin
ttp urobilinogen tdk. Urobilinogen dlm
feses ditemukan sedikit atau tidak ada

Hemolisis berat dpt menimbulkan


ikterus hemolisis.
Terjadi overproduksi bilirubin shg
terjadi peningkatan urobilinogen
yg dibuang lwt urin & feses.
Top bilirubin tidak ditemukan dlm
urin krn yang meningkat adalah
bilirubin tak terkonjugasi.
Infeksi saluran empedu jg dpt
meningkatkan kadar urobilinogen.

Pada hepatitis yg menimbulkan


kerusakan parenkim hepar terjadi
peningkatan urobilinogen dlm urin
krn hepar tdk mampu
mengekskresi urobilinogen yg
diabsorpsi di usus & urobilinogen
dlm feses berkurang & tidak
ditemukan bilirubin dlm urin.