Anda di halaman 1dari 3

BAB III

PEMBAHASAN
Dari skenario terdapat beberapa kata kunci untuk menyelesaikan masalah
yang ada. Gadis tersebut berusia 20 tahun mempunyai keluhan menorrhagia sudah
berlangsung selama 2 minggu. Sebelumnya tidak menderita sakit apapun, tidak panas,
tidak ada riwayat trauma, dan tidak minum obat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
purpura pada paha kanan dan kiri. Keluhan lainnya adalah perdarahan saat gosok
gigi. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan hemoglobin 10.0 g/dl, jumlah
leukosit dan hitung jenis leukosit dalam batas normal, sedang jumlah trombosit
40.000/L.
Keluhan menorrhagia pada pasien disebabkan karena kadar trombosit rendah
yaitu 40.000/L, normal 150.000-400.000/L, hal ini menyebabkan gangguan pada
hemostasis primer karena kurangnya trombosit untuk menyumbat pembuluh darah
yang luka pada wanita yang menstruasi. Sehingga disimpulkan bahwa menorrhagia
ini akibat dari bleeding disorder, dan bukan merupakan kelainan hormonal karena
gadis tersebut tidak memiliki riwayat trauma. Dan akibat dari menorrhagia ini maka
kadar Hb dalam tubuh sedikit menurun (tidak drastis).
Purpura pada paha kanan dan kiri pasien juga disebabkan oleh defek kuantitas
trombosit, pada keadaan normal, pembuluh-pembuluh darah kecil dibawah kulit
sering mengalami ruptur akibat trauma-trauma minor setiap hari, kekurangan
trombosit akan menyebabkan darah sulit mengalami pembekuan sehingga keluar ke
jaringan menghasilkan warna ungu (purpura). Perdarahan saat gosok gigi bisa
disebabkan karena adanya petechie pada gusi akibat kekurangan trombosit sehingga
dengan gesekan lemah akan menyebabkan perdarahan.
Dari pasien yang berusia 20 tahun tersebut diketahui bahwa tidak menderita
sakit apapun, tidak panas, tidak ada riwayat trauma, dan tidak minum obat. Hal ini
dapat menyingkirkan kemungkinan kemungkinan penyakit yang disebabkan oleh
hal-hal yang tidak dialami pasien sebagai contoh pasien tidak panas dapat diartikan

bahwa penyebab penyakit pasien bukan karena infeksi , selain itu pasien juga tidak
minum obat ini dapat menyingkirkan kemungkinan trombositopenia karena
diindukasi obat . Pasien juga tisak mengalami trombositopenia sebagai manifestasi
penyakit lain seperti sirosis hepatis jika dilihat dari pernyataan pasien yang tidak
menderita sakit apapun.
Pada gadis ini kemungkinan menderita ITP ( idiopathic thrombositopenic
purpura), yaitu suatu gangguan autoimun yang ditandai dengan trombositopenia yang
menetap ( angka trombosit darah perifer kurang dari 150.000/L) akibat autoantibodi
yang mengikat antigen trombosit yang menyebabkan destruksi prematur trombosit
dalam sistem retikuloendotel terutama di limpa. Namun untuk kepastian diagnosis,
masih diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa uji skrining hemostasis, BMP, dan
deteksi antibodi. Uji skrining hemostasis ini meliputi pemeriksaan BT, CT, AT, PPT,
dan APTT . Dilakukan BMP (Bone Marrow Puncture) ialah untuk mengetahui apakah
ada gangguan pada produksi trombosit.
Diagnosis untuk menegakkan ITP adalah:
1. Gambaran klinik berupa perdarahan kulit atau mukosa
2. Trombositopenia
3. Sumsum tulang: megakariosit normal atau meningkat
4. Antibodi antiplatelet (IgG) positif, tetapi bukan suatu keharusan.
5. Tidak ada penyebab trombositopenia sekunder.
Terapi untuk ITP, yaitu Terapi untuk mengurangi proses imun sehingga
mengurangi perusakan trombosit meliputi terapi kortikosteroid:
1. Untuk menekan aktivitas mononuclear phagocyte (makrofag) sehingga
mengurangi destruksi trombosit.
2. Mengurangi pengikatan igG oleh trombosit.
3. Menekan sintesis antibodi
Preparat yang diberi: prednison 60-80 mg/hari kemudian turunkan perlahanlahan, untuk mencapai dosis pemeliharaan. Dosis pemeliharaan sebaiknya

kurang dari 15 mg/hari. Sekitar 80% kasus mengalami remisi setelah terapi
steroid.
Jika dalam 3 bulan tidak memberi respons pada kortikosteroid (trombosit
<30x109/l) atau perlu dosis pemeliharaan yang tinggi maka diperlukan:
1. Splenektomi- sebagian besar memberi respons baik
2. Obat-obat

imunosupresif

lain:

vincristine,

cyclophosphamide,

atau

azathioprim.
Terapi suportif, terapi untuk mengurangi pengaruh trombositopenia dengan
pemberian androgen( danazol) dan pemberian high dose immunoglobulin untuk
menekan fungsi makrofag, sedangkan untuk tranfusi konsentrat trombosit hanya
dipertimbangkan pada penderita dengan resiko perdarahan mayor.