Anda di halaman 1dari 12

Perdarahan Saluran Cerna

BAB I
PENDAHULUAN
Pertolongan penderita gawat darurat dapat terjadi dimana saja baik di dalam
rumah sakit maupun di luar rumah sakit, dalam penanganannya melibatkan tenaga
medis maupun non medis termasuk masyarakat awam. Pada pertolongan pertama yang cepat dan
tepat akan menyebabkan pasien/korban dapat tetap bertahan hidup untuk mendapatkan
pertolongan yang lebih lanjut.
Adapun yang disebut sebagai penderita gawat darurat adalah penderita yang
memerlukan pertolongan segera karena berada dalam keadaan yang mengancam nyawa,sehingga
memerlukan suatu pertolongan yang cepat, tepat, cermat untuk mencegah kematian maupun
kecacatan. Untuk memudahkan dalam pemberian pertolongan korban harus diklasifikasikan
termasuk dalam kasus gawat darurat, darurat tidak gawat, tidak gawat tidak darurat dan
meninggal.
Salah satu kasus gawat darurat yang memerlukan tindakan segera dimana pasien
berada dalam ancaman kematian karena adanya gangguan hemodinamik adalah trauma abdomen
di mana secara anatomi organ-organ yang berada di rongga abdomen adalah organ-organ
pencernaan. Selain trauma abdomen kasus-kasus kegawatdaruratan pada system pencernaan
salah satunya perdarahan saluran cerna baik saluran cerna bagian atas ataupun saluran cerna
bagian bawah bila hal ini dibiarkan tentu akan berakibat fatal bagi korban atau pasien bahkan
bisa menimbulkan kematian. Oleh karena itu kita perlu memahami penanganan
kegawatdaruratan pada system pencernaan secara cepat,cermat dan tepat sehingga hal-hal
tersebut dapat kita hindari.

BABII
PEMBAHASAN
A.

DEFINISI PERDARAHAN SALURAN CERNA DAN TRAUMA ABDOMEN


Perdarahan saluran cerna yaitu perdarahan yang bisa terjadi dimana saja di sepanjang
saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus. Bisa berupa ditemukannya darah dalam tinja
atau muntah darah,tetapi gejala bisa juga tersembunyi dan hanya bisa diketahui melalui
pemeriksaan tertentu. Saluran perncernaan dibagi menjadi 2 yaitu, perdarahan saluran cerna
bagian atas dan saluran cerna bagian bawah. Saluran cerna bagian atas ( upper GI ) meliputi :

mulut, faring, esophagus dan lambung. Sedangkan saluran cerna bagian bawah ( lower GI)
meliputi : usus halus dan usus besar sampai anus.
Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus
serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001 : 2476 )
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara
diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk (Ignativicus &
Workman, 2006).
B. ETIOLOGI
1. Perdarahaan saluran cerna
Perdarahan saluran cerna bagian atas ( upper GI ) umumnya dapat disebabkan antara lain :
a. Ulkus peptikum
b. Varises esophagus pada hipertensi portal
c. Gastritis erosive atau ulseratif :
Alcohol dalam jumlah besar
Obat-obatan : salisilat, fenilbutazon, indometasin, kortikosteroid, reserpin dosis besar
(oral/parenteral).
Stress berat : penyakit intracranial, luka bakar, sepsis.
d. Lain-lain : esofagitis, karsinoma lambung ( biasanya bersifat perdarahan kronik ), ruptura
aneurisma aorta, laserasi hepar ( hemobilia ), uremi.
Perdarahan saluran cerna bagian bawah ( lower GI) umumnya disebabkan antara lain:
a. Lesi daerah anus : hemoroid, fisura ani, fistula ani.
b. Penyakit rectum dan usus besar : karsinoma, polip, radang ( colitis ulseratif, penyakit crohn,
amuba ) dan divertikulum.
c. Penyakit jejunum dan ileum : volvulus, enterokolitis nekrotikans ( keduanya pada bayi baru lahir
), invaginasi ( bayi dan anak-anak < 2 tahun ), divertikulum Meckel (perdarahan banyak dan
berulang pada anak dan dewasa muda), tifoid.
2.

Trauma tumpul abdomen


Dapat disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman
(set-belt) (FKUI, 1995).

C. PATOFISIOLOGI
1. Perdarahan saluran cerna bagian atas
Ulkus peptikum, perdarahan pada ulkus peptikum merupakan manifestasi yang utama dari
penyakit ini .
Gastritis erosive tjd org yg mengkonsumsi alkohol & obat-obat antiinflamasi dpt menyebabkan
terjadinya erosi lambung. Erosi lambung juga terjadi pada orang yang mengalami trauma berat,
pembedahan, & penyakit sistemik yang berat.7
Varises & gastropati hipertensi portal, terjado secara mendadak disebabkan oleh hipertensi portal
yang terjadi sekunder akibat sirosis hepar, kemudian akan menyebabkan perdarahan varises.

Ruptur mukosa esofagogastrika (Sindrom Mallory Weiss), perdarahan disebabkan karena laserasi
mukosa.
2. Perdarahan saluran cerna bagian bawah
Lesi pd anus & rectum, perdarahan dapat terjadi karena feses yang mengeras sehingga defekasi
dilakukan dengan mengejan. Trauma rectum & msuknya benda asing dalam rectum juga dapat
menyebabkan terjadinya hematochezia.
Lesi pada colon, perdarahan terjadi karena karsinoma maupun polip pada colon.
3. Trauma tumpul
Pada trauma tumpul dengan velisitas rendah (misalnya akibat tinju) biasanya menimbulkan
kerusakan satu organ. Sedangkan trauma tumpul velositas tinggi sering menimbulkan kerusakan
organ multipel, seperti organ padat ( hepar, lien, ginjal ) dari pada organ-organ berongga.
(Sorensen, 1987)
Yang mungkin terjadi pada trauma abdomen adalah :

Perforasi
Gejala perangsangan peritonium yang terjadi dapat disebabkan oleh zat kimia atau
mikroorganisme. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya lambung, maka terjadi
perangsangan oleh zat kimia segera sesudah trauma dan timbul gejala peritonitis hebat.
Bila perforasi terjadi di bagian bawah seperti kolon, mula-mula timbul gejala karena
mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak. Baru setelah 24 jam timbul
gejala-gejala
akut
abdomen
karena
perangsangan
peritoneum.
Mengingat kolon tempat bakteri dan hasil akhirnya adalah faeses, maka jika kolon terluka dan
mengalami perforasi perlu segera dilakukan pembedahan. Jika tidak segera dilakukan
pembedahan, peritonium akan terkontaminasi oleh bakteri dan faeses. Hal ini dapat
menimbulkan peritonitis yang berakibat lebih berat.
Perdarahan
Setiap trauma abdomen (trauma tumpul, trauma tajam, dan tembak) dapat menimbulkan
perdarahan. Yang paling banyak terkena robekan pada trauma adalah alat-alat parenkim,
mesenterium, dan ligamenta; sedangkan alat-alat traktus digestivus pada trauma tumpul biasanya
terhindar. Diagnostik perdarahan pada trauma tumpul lebih sulit dibandingkan dengan trauma
tajam, lebih-lebih pada taraf permulaan. Penting sekali untuk menentukan secepatnya, apakah
ada perdarahan dan tindakan segera harus dilakukan untuk menghentikan perdarahan tersebut.
Sebagai contoh adalah trauma tumpul yang menimbulkan perdarahan dari limpa. Dalam taraf
pertama darah akan berkumpul dalam sakus lienalis, sehingga tanda-tanda umum perangsangan
peritoneal belum ada sama sekali.
Dalam hal ini sebagai pedoman untuk menentukan limpa robek(ruptur lienalis) adalah:

Adanya
bekas
(jejas)
trauma
di
daerah
limpa

Gerakkan
pernapasan
di
daerah
epigastrium
kiri
berkurang
Nyeri tekan yang hebat di ruang interkostalis 9 - 10 garis aksiler depan kiri.

Trauma
(kecelakaan)

Penetrasi & Non-Penetrasi

Terjadi perforasi lapisan abdomen


(kontusio, laserasi, jejas, hematom)

Menekan saraf peritonitis

Terjadi perdarahan jar.lunak dan rongga abdomen Nyeri

Motilitas usus

Disfungsi usus Resiko infeksi

Refluks usus output cairan berlebih

Gangguan cairan
dan eloktrolit

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Kelemahan fisik

Gangguan mobilitas fisik

D. MANIFESTASI KLINIS
1. Saluran pencernaan

Gambaran kliniknya berbeda-beda tergantung pada :


Letak sumber perdarahan dan kecepatan gerak usus
Kecepatan dan jumlah perdarahan
Keadaan penderita sebelum perdarahan
Hematemesis ialah dimuntahkannya darah dari mulut, darah dapat berasal dari saluran cerna
bagian atas atau darah dari luar yang tertelan (epistaksis, hemoptisis, ekstraksi gigi,
tonsilektomi). Tergantung pada lamanya kontak dengan asam lambung, darah dapat berwarna
merah, coklat atau hitam. Biasanya tercampur sisa makanan dan bereaksi asam.
Melena ialah feces berwarna hitam seperti ter karena tercampur darah ;umumnya terjadi akibat
perdarahan saluran cerna bagian atas yang lebih dari 50-100ml dan biasanya disertai
hematemesis. Melana tanpa hematemesis terjadi pada perdarahan jejunum atau ileum asalkan
perjalanannya dalam usus lambat. Biasanya melena berlangsung 1-3 hari, lalu berangsur normal
meskipun darah samar mungkin menetap sampai 3-8 hari (perdarahan <50 ml, diketahui dengan
tes benzidin).
Hematokezia ialah keluarnya darah segar dari anus umumya terjadi akibat perdarahan saluran
cerna bagian bawah. Dapat juga disebabkan perdarahan saluran cerna bagian atas yang besar dan
cepat disalurkan melalui usus.
2. Trauma tumpul
Gambaran kliniknya antara lain :
Nyeri
Nyeri dapat terjadi mulai dari nyeri sedang sampai yang berat. Nyeri dapat timbul di bagian yang
luka atau tersebar. Terdapat nyeri saat ditekan dan nyeri lepas.
Darah dan cairan
Adanya penumpukan darah atau cairan dirongga peritonium yang disebabkan oleh iritasi.
Cairan atau udara dibawah diafragma
Nyeri disebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan limpa. Tanda ini ada saat pasien dalam
posisi rekumben.
Mual dan muntah
Penurunan kesadaran (malaise, letargi, gelisah)
Yang disebabkan oleh kehilangan darah dan tanda-tanda awal shock hemoragi
E. PROSEDUR DIAGNOSTIK
1. Perdarahan saluran pencernaan bagian atas
Anamnesis,
pemeriksaan
fisik
dan
laboratorium
Dilakukan anmnesis yang teliti dan bila keadaan umum penderita lamah atau kesadaran menurun
maka dapat diambil aloanamnesis. Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu, misalnya hepatitis,
penyakit hati menahun, alkoholisme, penyakit lambung, pemakaian obat-obat ulserogenik dan
penyakit darah seperti: leukemia dan lain-lain. Biasanya pada perdarahan saluran makan bagian
atas yang disebabkan pecahnya varises esofagus tidak dijumpai adanya keluhan rasa nyeri atau
pedih di daerah epigastrium dan gejala hematemesis timbul secara mendadak. Dari hasil
anamnesis sudah dapat diperkirakan jumlah perdarahan yang keluar dengan memakai takara

yang praktis seperti berapa gelas, berapa kaleng dan lain-lain. Pemeriksaan fisik penderita
perdarahan saluran makan bagian atas yang perlu diperhatikan adalah keadaan umum, kesadaran,
nadi, tekanan darah, tanda-tanda anemia dan gejala-gejala hipovolemik agar dengan segera
diketahui keadaan yang lebih serius seperti adanya rejatan atau kegagalan fungsi hati. Disamping
itu dicari tanda-tanda hipertensi portal dan sirosis hepatis, seperti spider naevi, ginekomasti,
eritema palmaris, caput medusae, adanya kolateral, asites, hepatosplenomegali dan edema
tungkai. Pemeriksaan laboratorium seperti kadar hemoglobin, hematokrit, leukosit, sediaan darah
hapus, golongan darah dan uji fungsi hati segera dilakukan secara berkala untuk dapat mengikuti
perkembangan penderita.
Pemeriksaan
Radiologik
Pemeriksaan radiologik dilakukan dengan pemeriksaan esofagogram untuk daerah esofagus dan
diteruskan dengan pemeriksaan double contrast pada lambung dan duodenum. emeriksaan
tersebut dilakukan pada berbagai posisi terutama pada daerah 1/3 distal esofagus, kardia dan
fundus lambung untuk mencari ada/tidaknya varises. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan,
dianjurkan pemeriksaan radiologik ini sedini mungkin, dan sebaiknya segera setelah
hematemesis berhenti.
Pemeriksaan
endoskopik
Dengan adanya berbagai macam tipe fiberendoskop, maka pemeriksaan secara endoskopik
menjadi sangat penting untuk menentukan dengan tepat tempat asal dan sumber perdarahan.
Keuntungan lain dari pemeriksaan endoskopik adalah dapat dilakukan pengambilan foto untuk
dokumentasi, aspirasi cairan, dan biopsi untuk pemeriksaan sitopatologik. Pada perdarahan
saluran makan bagian atas yang sedang berlangsung, pemeriksaan endoskopik dapat dilakukan
secara darurat atau sedini mungkin setelah hematemesis berhenti.
Pemeriksaan
ultrasonografi
dan
scanning
hati
Pemeriksaan dengan ultrasonografi atau scanning hati dapat mendeteksi penyakit hati kronik
seperti sirosis hati yang mungkin sebagai penyebab perdarahan saluran makan bagian atas.
Pemeriksaan ini memerlukan peralatan dan tenaga khusus yang sampai sekarang hanya terdapat
dikota besar saja.
2. Trauma tumpul
Riwayat
Dapatkan keterangan mengenai perlukaannya, bila mungkin dari penderitanya sendiri, orang
sekitar korban, pembawa ambulans, polisi, atau saksi-saksi lainnya, sesegera mungkin,
bersamaan dengan usaha resusitasi.
Penemuan
Trauma tumpul pada abdomen secara tipikal menimbulkan rasa nyeri tekan, dan rigiditas otot,
pada daerah terjadinya rembesan darah atau isi perut. Tanda-tanda ini dapat belum timbul hingga

12 jam atau lebih pasca trauma, sehingga kadanga-kadang diperlukan pengamatan yang terusmenerus yang lebih lama. Nyeri yang berasal dari otot dan tulang, mungkin malah tak terdapat
tanda-tanda objektif yang dapat menunjukan perlukaan viseral yang luas. Fraktur pada iga bagian
bawah sering kali menyertai perlukaan pada hati dan limpa. Pemeriksaan rektum secaga digital,
dapat menimbulkan adanya darah pada feses
Test
Laboratorium
Secara rutin, diperiksa hematokrit, hitung jenis leukosit, dan urinalisis, sedangkan test lainnya
dilakukan bila diperlukan. Nilai-nilai amilase urine, dan serum dapat membantu untuk
menentukan adanya perlukaan pankreas atau perforasi usus.
Foto Sinar X

Film polos abdomen dapat menunjukkan adanya udara bebas intraperitoneal, obliterasi
bayangan psoas, dan penemuan-penemuan lainnya yang pada umunya tak khas. Fraktur prosesus
transversalis menunjukan adanya trauma hebat, dan harus mengingatkan kita pada kemungkinan
adanya perlukaan viseral yang hebat.
Film dada dapat menunjukkan adanya fraktur iga, hematotorak, pnemotorak, atau lainnya
yang berhubungan dengan perlukaan thorak
Penderita dengan tauma tumpul sering memerlukan foto thorak sinar X tengkorak, pelvis, dan
anggota gerak lainnya.
Studi kontras pada saluran kemih diperlukan bila terdapat hematuria.
Foto sinar X dengan kontras pada saluran pencernaan atas dan bawah, diperlukan pada kasus
tertentu.
C.T Scan abdomen sangat membantu pada beberapa kasus, tetapi inibelim banyak dilakukan.
Angiografi dapat memecahkan teka-teki tantang perlukaan pada limpa, hati, dan pakreas. Pada
kenyataanya, angiografi abdominal jarang dilakukan.

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
1.
a.
b.
c.
d.
e.

Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA)


Penatalaksanaan perdarahan saluran cerna bagian atas dapat dibagi atas:
Penatalaksanaan umum/suportif
Penatalaksanaan khusus
Usaha menghilangkan faktor agresif
Usaha meningkatkan faktor defensif
Penatalaksanaan bedah

a.

Penatalaksanaan umum atau suportif

Penatalaksanaan ini memperbaiki keadaan umum dan tanda vital. Yang paling penting pada
pasien perdarahan SCBA adalah memberikan resusitasi pada waktu pertama kali datang ke
rumah sakit. Kita harus secepatnya memasang infus untuk pemberian cairan kristaloid (seperti
NaCL 0.9% dan lainnya) ataupun koloid (plasma expander) sambil menunggu darah
dengan/tanpa komponen darah lainnya bila diperlukan. Selang nasogastrik perlu dipasang untuk
memonitor apakah perdarahan memang berasal dari SCBA dan apakah masih aktif berdarah atau
tidak dengan melakukan bilasan lambung tiap 6 jam sampai jernih.
Pasien harus diperiksa darah perifer (hemoglobin, hematokrit, leukosit dan trombosit) tiap 6 jam
untuk memonitor aktifitas perdarahan. Sebaiknya bila dicurigai adanya kelainan pembekuan
darah seperti Disseminated Intravascular Coagullation (DIC) dan lainnya, harus dilakukan
pemeriksaan pembekuan darah seperti masa perdarahan, masa pembekuan, masa protrombin,
APTT, masa trombin, Burr Cell, D dimmer dan lainnya. Bila terdapat kelainan pembekuan darah
harus diobati sesuai kelainannya. Pada penderita dengan hipertensi portal dimana perdarahan
disebabkan pecahnya varises esofagus dapat diberikan obat somatostatin atau oktreotide. Pada
perdarahan non varises yang masif,
dapat juga diberikan somatostatin atau oktroetide tetapi jangka pendek 1-2 hari saja. Pada
prinsipnya, urutan penatalaksanaan perdarahan SCBA dapat mengikuti anjuran algoritme
penatalaksanaan dari Konsensus Nasional Indonesia atau Palmer atau Triadapafilopoulos.
Selain pengobatan pada pasien perdarahan perlu diperhatikan pemberian nutrisi yang optimal
sesegera mungkin bila pasien sudah tidak perlu dipuasakan lagi , dan mengobati kelainan
kejiwaan/psikis bila ada dan memberikan edukasi mengenai penyakit pada pasien dan keluarga
misal memberi tahu mengenai penyebab perdarahan dan bagaimana cara-cara pencegahaan agar
tidak mengalami perdarahan lagi.
b. Penatalaksanaan khusus
Penatalaksanaan khusus merupakan penatalaksanaan hemostatik perendoskopik atau terapi
embolisasi arteri.
Terapi hemostatik perendoskopik yang diberikan pada pecah varises esofagus yaitu tindakan
skleroterapi varises perendoskopik (STE) dan ligasi varises perendoskopik (LVE). Pada
perdarahan karena kelainan non varises, dilakukan suntikan adrenalin di sekitar tukak atau lesi
dan dapat dilanjutkan dengan suntikan etoksi-sklerol atau obat fibrinogen-trombin atau dilakukan
terapi koagulasi listrik atau koagulasi dengan heat probe atau terapi laser, atau koagulasi
denganbipolar probe atau yang paling baik yaitu hemostatik dengan terapi metal clip.
Bila pengobatan konservatif, hemostatik endoskopik gagal atau kelainan berasal dari usus halus
dimana skop tak dapat masuk dapat dilakukan terapi embolisasi arteri yang memperdarahi daerah
ulkus.
Terapi ini dilakukan oleh dokter spesialis radiologi intervensional.
c. Usaha menghilangkan faktor agresif
Usaha yang diperlukan untuk menghilangkan faktor agresif pada perdarahan SCBA karena
kelainan non varises antara lain :
a. Memperbaiki/menghindari faktor predisposisi atau risiko seperti gizi, stres, lingkungan,
sosioekonomi

b. Menghindari/menghentikan paparan bahan atau zat yang agresif seperti asam, cuka, OAINS,
rokok, kortikosteroid dan lainnya
c. Memberikan obat yang dapat mengurangi asam lambung seperti antasida, antimuskarinik,
penghambat reseptor H2 (H2RA), penghambat pompa proton (PPI). PPI diberikan per injeksi
bolus intra vena 2-3 kali 40 mg/hari atau bolus intra vena 80 mg dilanjutkan kontinu infus drip 8
mg/jam selama 12 jam kemudian intra vena 4 mg/jam sampai 5 hari atau sampai perdarahan
berhenti lalu diganti oral 1-2 bulan. Alasan mengapa PPI diindikasikan pada perdarahan non
varises, karena PPI dapat menaikkan pH diatas 6 sehingga menyebabkan bekuan darah yang
terbentuk tetap stabil, tidak lisis
d. Memberikan obat eradikasi kuman Helicobacter pylori dapat berupa terapi tripel dan terapi
kuadrupel selama 1- 2 minggu :
Terapi tripel :
1. PPI + amoksisilin + klaritromisin
2. PPI + metronidazol + klaritromisin
3. PPI + metronidazol + tetrasiklin
Terapi kuadrupel, bila tripel gagal :
1. Bismuth + PPI + amoksisilin + klaritromisin
2. Bismuth + PPI + metronidazol + klaritromisin
3. Bismuth + PPI + tetrasiklin + metronidazole (untuk daerah
resistensi tinggi klaritromisin)
d. Usaha meningkatkan faktor defensif
Usaha ini dilakukan dengan memberikan obat-0bat yang meningkatkan faktor defensif selama 4
8 minggu antara lain :
a. Sukralfat 3 kali 500-1000 mg per hari
b. Cetraxate 4 kali 200 mg per hari
c. Bismuth subsitrat 2 kali 2 tablet per hari
d. Prostaglandin eksogen 2-3 kali 1 tablet per hari
e. Tephrenone 3 kali 50 mg per hari
f. Rebamipide 3 kali 100 mg per hari
e. Penatalaksanaan bedah/operatif
Penatalaksanaan bedah/operatif merupakan penatalaksanaan yang cukup penting
bilapenatalaksanaan konservatif dan khusus gagal atau memang sudah ada komplikasi yang
merupakan indikasi pembedahan. Biasanya pembedahan dilakukan bila pasien masuk dalam :

a. Keadaan gawat I sampai II


b. Komplikasi stenosis pilorus-duodenum, perforasi, tukak duodenum refrakter
Yang dimaksud dengan gawat I adalah bila perdarahan SCBA dalam 8 jam pertama
membutuhkan darah untuk transfusi sebanyak 2 liter, sedangkan gawat II adalah bila dalam 24
jam pertama setelah gawat I pasien masih membutuhkan darah untuk transfusi sebanyak 2 liter.
2. Perdarahan saluran cerna bagian bawah ( SCBB )

Penatalaksanaan perdarahan SCBB tentunya akan bervariasi tergantung pada penyebab atau lesi
sumber perdarahan, dampak hemodinamik yang telah terjadi pada waktu masuk rumah sakit,
pola perdarahan yang bersifat akut atau telah berlangsung lama/kronik.
Riwayat Penyakit
Nilai dalam anamnesis apakah perdarahan/darah tersebut bercampur dengan feses (seperti terjadi
pada kolitis atau lesi di proksimal rektum) atau terpisah/menetes (terduga hemoroid), pemakaian
antikoagulan, atau terdapat gejala sistemik lainnya seperti demam lama (tifoid, kolitis infeksi),
menurunnya berat badan (kanker), perubahan pola defekasi (kanker), tanpa rasa sakit (hemoroid
intema, angiodisplasia), nyeri perut (kolitis infeksi, iskemia mesenterial), tenesmus ani (fisura,
disentri). Apakah kejadian ini bersifat akut, pertama kali atau berulang, atau kronik, akan
membantu ke arah dugaan penyebab atau sumber perdarahan.

Pemeriksaan Fisik
Segera nilai tanda vital, terutama ada tidaknya renjatan atau hipotensi postural (Tilt test). Jangan
lupa colok dubur untuk menilai sifat darah yang keluar dan ada tidaknya kelainan pada anus
(hemoroid interna, tumor rektum). Pemeriksaan fisis abdomen untuk menilai ada tidaknya rasa
nyeri tekan (iskemia mesenterial), rangsang peritoneal (divertikulitis), massa intraabdomen
(tumor kolon, amuboma, penyakit Crohn). Pemeriksaan sistemik lainnya: adanya artritis
(inflammatory bowel disease), demam (kolitis infeksi), gizi buruk (kanker), penyakit jantung
koroner (kolitis iskemia).
Laboratorium
Segera harus dinilai adalah kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit, dan kalau sarana lengkap
waktu protrombin. Laboratorium lain sesuai indikasi. Penilaian hasil laboratorium harus
disesuaikan dengan keadaan klinis yang ada. Penilaian kadar hemoglobin dan hematokrit,
misalnya pada perdarahan akut dan masif, akan berdampak pada kebijakan pilihan jenis darah
yang akan diberikan pada proses resusitasi.
Anoskopi/Rektoskopi
Pada umumnya dapat segera mengetahui sumber perdarahan tersebut bila berasal dari perdarahan
hemoroid interna atau adanya tumor rektum. Dapat dikerjakan tanpa persiapan yang optimal.
Sigmoidoskopi
Perdarahan dari sigmoid (misalnya tumor sigmoid) masih mungkin dapat diidentifikasi dengan
pemeriksaan ini dengan hanya persiapan laksan enema (YAL) atau klisma, mengingat darah
dalam lumen usus itu sendiri sudah bersifat laksan.
Kolonoskopi
Pada keadaan yang bersifat elektif dengan persiapan yang optimal, pemeriksaan ini dapat dengan
relatif mudah mengidentifikasi sumber perdarahan di seluruh bagian kolon sampai ileum
terminal. Tetapi pada keadaan perdarahan aktif, lumen usus penuh darah (terutama bekuan
darah), maka lapang pandang kolonoskop akan terhambat. Diperlukan usaha yang berat untuk
membersihkan lumen kolon secara kolonoskopi. Sering sekali lumen skop tersumbat total
sehingga pemeriksaan harus dihentikan. Tidak jarang hanya dapat menyumbangkan informasi

adanya demarkasi atau batas antara lumen kolon yang bersih dari darah dan diambil kesimpulan
bahwa letak sumber perdarahan di distal demarkasi tersebut
Push Enteroskopi
Pemeriksaan ini dilakukan melalui SCBA dan melewati ligamentum Treitz serta dapat
mengidentifikasi perdarahan pada usus kecil. Sarana ini masih sangat jarang di Indonesia.
Barium Enema (colon in loop)
Pada keadaan perdarahan akut dan emergensi, pemeriksaan ini tidak mempunyai peran. Bahkan
kontras yang ada akan memperlambat rencana pemeriksaan kolonoskopi (kontras barium
potensial dapat menyumbat saluran pada skop) atau skintigrafi (kontras barium akan
mengacaukan interpretasi) bila diperlukan. Serta tidak ada tambahan manfaat terapeutik. Tetapi
pada keadaan yang elektif, pemeriksaan ini mampu mengidentifikasi berbagai lesi yang dapat
diprakirakan sebagai sumber perdarahan (tidak dapat menentukan sumber perdarahan).
Angiografi/Arteriografi
Injeksi zat kontras lewat kanul yang dimasukkan melalui arteri femoralis dan arteri mesenterika
superior atau inferior, memungkinkan visualisasi lokasi sumber perdarahan. Dengan teknik ini
biasanya perdarahan arterial dapat terdeteksi bila lebih dari 0,5 ml per menit. Arteriografi dapat
dilanjutkan dengan embolisasi terapeutik pada pembuluh darah yang menjadi sumber
perdarahan.

Blood Flow Scintigraphy (Nuclear Scintigraphy)


Darah pasien diambil dan dilabel dengan zat radioaktif (99m.technitium), kemudian dimasukkan
kembali ke dalam tubuh. Darah yang berlabel tersebut akan bersirkulasi dan keluar pada
daerah/lokasi lesi. Tehnik ini dilaporkan dapat mendeteksi perdarahan yang relatif sedikit (0,1 ml
per menit). Scanning diambil pada jam 1 dan 4 setelah injeksi darah berlabel serta 24 jam setelah
itu atau sesuai dengan prakiraan terjadinya perdarahan. Sehingga dapat mendeteksi perdarahan
yang bersifat intermiten dengan cara mengambil scanning pada jam-jam tertentu.
Operasi Laparatomi Eksplorasi
Tentunya proses operasi secara langsung dapat mengidentifikasi sumber perdarahan. Tetapi
masalahnya adalah kapan tindakan ini akan dilakukan sebagai modalitas diagnostik sekaligus
terapeutik, bagaimana pertimbangan toleransi operasi bagi pasien dan sejauh mana kemudahan
untuk mengidentifikasi sumber perdarahan durante operasi. Secara nyata dalam praktek
penatalaksanaannya di rumah sakit, hal ini sering menimbulkan kontroversi. Keadaan ini
membutuhkan koordinasi multidisiplin yang terkait. Pada dasarnya laparatomi eksplorasi
diindikasikan bila perdarahan hebat yang tidak dapat diatasi secara konservatif. Perdarahan
berulang pada keadaan yang sudah teridentifikasi sumber perdarahan pada pemeriksaan
kolonoskopi, arteriografi, atau scanning, juga tidak memerlukan intervensi operasi. Risiko
operasi akan menurun bila pada operasi tersebut dapat dilakukan identifikasi sumber perdarahan
per kolonoskopik, baik sebelum maupun durante operasi.
3. Trauma tumpul abdomen
Abdominal paracentesis

Menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritonium, merupakan indikasi untuk laparotomi.
Pemeriksaan laparoskopi
Mengetahui secara langsung penyebab abdomen akut.
Pemasangan NGT
Memeriksa cairan yang keluar dari lambung pada trauma abdomen.
Pemberian antibiotik
Mencegah infeksi.
Laparotomi