Anda di halaman 1dari 3

Semenjak tahun 2002, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah meluncurkan program

perubahan (change program) atau reformasi administrasi perpajakan yang secara singkat
biasa disebut Modernisasi. Adapun jiwa dari program perubahan ini adalah pelaksanaan good
governance, yaitu penerapan sistem administrasi perpajakan yang transparan dan akuntabel,
dengan memanfaatkan sistem informasi teknologi yang handal dan terkini. Strategi yang
ditempuh adalah pemberian pelayanan prima sekaligus pengawasan intensif kepada para
wajib pajak. Jika program modernisasi ini ditelaah secara mendalam, termasuk perubahanperubahan yang telah, sedang, dan akan dilakukan, maka dapat dilihat bahwa konsep
modernisasi ini merupakan suatu terobosan yang akan membawa perubahan yang cukup
mendasar dan revolusioner. Perubahan-perubahan yang dilakukan meliputi bidang-bidang
berikut:
Struktur organisasi
Business process dan teknologi informasi dan komunikasi
Manajemen sumber daya manusia
Pelaksanaan good governance
Setelah hampir 12 tahun Kementerian Keaungan termasuk DJP mendeklarasikan diri sebagai
pionir modernisasi di sistem birokrasi negara ini, bagaimana dengan kenyatannya?? Marilah
kita lihat beberapa fakta yang ada di lapangan :
1. Dari ke-empat bidang di atas ternyata tidak seluruhnya mengalami perubahan ke arah yang
lebih baik. Dari struktur organisasi serta business process serta teknologi informasi &
komunikasi, mungkin bagi beberapa pihak menilai telah mengalami perubahan dibanding
sebelumnya. Adanya pemekaran-pemekaran KPP serta pembentukan aplikasi-aplikasi dalam
bentuk e-filling, e-SPT serta web-web dalam administrasi internal menunjukkan dari sudut ini
arahnya memang menunjukkan modernisasi dari sisi kerasnya / hard side. Namun secara hasil
apakah dari pembenahan hard side ini telah memberikan kontribusi dalam bentuk tercapainya
target penerimaan pajak tiap tahunnya?? Apakah informasi yang diperoleh dari sumber
internal atau sumber eksternal sudah dimanfaatkan untuk mendapatkan penerimaan sektor
pajak dengan efisien??..jawabannya adalah : TIDAK. Data statistik membuktikan bahwa
beberapa tahun terakhir ini target penerimaan pajak tidak tercapai. Tanggung jawab siapakah
ini?..Institusi?? Dirjen?? Pegawai?? Sistem kerja?? Atau sistem negara secara keseluruhan ??
2. Bagaimana dengan sisi manajemen sumber daya manusia serta pelaksanaan good
governance yang notabene adalah sisi lunaknya/ soft side nya?? Dalam perubahan organisasi,
jika mengharapkan perubahan yang lebih baik, faktor yang menentukan adalah bagaimana
mengelola soft side nya. Publik sudah mengetahui bahwa Kementerian Keuangan dalam hal

ini DJP, memiliki kualitas SDM di atas rata-rata SDM institusi lainnya. Namun dengan
keunggulan

tersebut

apakah

sudah

menjamin

perubahan

ke

arah

yang

lebih

baik??...jawabannya : TIDAK..!! Dengan kualitas SDM yang lebih unggul tanpa didukung
oleh tingkat fairness dalam pelaksanaan pekerjaan serta penggunaan wewenang , sudah pasti
keinginan untuk pelaksanaan good governance hanya tinggal pepesan kosong. Jika memang
arah perubahan DJP sudah benar , tidak mungkin terjadi penumpukkan surat permohonan
pengunduran diri pegawainya di Kementerian Keuangan yang mencapai lebih dari 20% total
32.000 karyawan DJP, yang notabene mayoritas adalah pegawai-pegawai yang telah
berpengalaman kerja lebih dari 10 tahun dan telah memberikan kontribusi penerimaan negara
dalam karirnya sejak modernisasi. Dengan kenyataan ini patut dipertanyakan, ada apa
sebenarnya dengan internal DJP sampai-sampai ribuan karyawan yang berpengalaman lebih
memilih menggunakan hak-nya yang terakhir sebagai PNS yaitu mengundurkan diri daripada
meneruskan karir dan mengabdi di DJP ??
3. Bagaimana dengan tingkat fairness penerapan peraturan-peraturan dalam menjalankan
wewenang sebagai otoritas pajak negara?? Pejabat-pejabat teras DJP selalu mendengungkan
bahwa pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan aturan yang berlaku , tapi apakah
demikian dengan kenyataan di lapangan??......Tingkat fairness aparat DJP baru akan terlihat
pada saat adanya sengketa pajak / tax dispute dalam proses pemeriksaan pajak maupun
keberatan. Disini akan terlihat perbedaan kualitas mana aparat DJP yang memahami
peraturan serta fakta lapangan serta mana aparat yang mental dan pikirannya berkaca mata
kuda . Banyak kasus-kasus sengketa pajak dipicu oleh penerapan aturan yang keblinger
dari segelintir aparat DJP. Keblinger disini maksudnya adalah suatu kondisi yang terjadi
dimana aparat DJP menciptakan sendiri sengketa pajak atas dasar wewenang yang
dikarenakan menyangkal atau tidak mengakui atau tidak mempertimbangkan dengan kata lain
menutup mata terhadap peraturan-peraturan dari level undang-undang sampai dengan
keputusan dirjen yang notabene adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh institusinya
sendiri. Aparat-aparat tersebut terkesan masih arogan dan menghalalkan segala cara untuk
dapat menghasilkan penerimaan pajak demi meraih prestasi untuk kelangsungan karirnya,
sekalipun dengan jalan mengorbankan hak Wajib Pajak yang telah menjalankan kewajiban
perpajakannya. Gejala ini secara obyektif dapat dikatakan sebagai suatu kondisi yang aneh,
lucu sekaligus keterlaluan. Ternyata dengan tingkat kualitas SDM di DJP yang konon diatas
rata-rata institusi lainnya, secara sadar atau tidak sadar telah merendahkan serta membodohi
kualitas dirinya sendiri dengan jalan menggunakan wewenangnya dengan cara yang salah
yaitu tidak mempertimbangkan aturan-aturan institusinya sendiri dalam menangani proses

pemeriksaan serta keberatan. Perlu diketahui bahwa kondisi ini termasuk dalam ranah
penyalahgunaan wewenang yang dapat dibawa ke peradilan tata usaha negara (PTUN).
Dengan fenomena ini janganlah berharap bahwa misi pelaksanaan good governance tidak
akan terwujud. Menurut Prof. Jean Rivero dan Prof. Waline, pengertian penyalahgunaan
kewenangan dalam Hukum Administrasi dapat diartikan dalam 3 wujud, yaitu : 1.
Penyalahgunaan kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan
kepentingan umum atau untuk menguntungkan kepentingan pribadi, kelompok atau golongan
; 2. Penyalahgunaan kewenangan dalam arti bahwa tindakan pejabat tersebut adalah benar
ditujukan untuk kepentingan umum, tetapi menyimpang dari tujuan apa kewenangan tersebut
diberikan oleh undang-undang atau peraturan-peraturan lain 3. Penyalahgunaan kewenangan
dalam arti menyalahgunakan prosedur yang seharusnya dipergunakan untuk mencapai tujuan
tertentu, tetapi telah menggunakan prosedur lain agar terlaksana ; Dari beberapa fakta di atas,
patutlah kita menilai secara obyektif apakah modernisasi di DJP telah berjalan on-track. DJP
merupaka suatu lingkaran sistem kecil yang berputar bersama sistem-sistem institusi lainnya
yang menggerakan roda besar birokrasi negara ini. DJP sama halnya dengan institusi negara
lainnya, adalah milik Negara dan Bangsa Indonesia, bukan milik para pejabat yang
memimpinnya. Saran kepada para pejabat DJP, sebelum anda memberikan statemen kepada
media mengenai modernisasi di tubuh DJP, lihatlah faktanya dulu baru bicara, karena
masyarakat sudah alergi terhadap budaya omong doank. Adanya tamparan-tamparan keras
dari luar kepada DJP mencerminkan bahwa bangsa ini masih mencintai institusinya.
Selanjutnya tugas anda para pejabat di DJP untuk lebih menaruh perhatian kepada sisi soft
side dalam mengawal perubahan di tubuh DJP. Pertanyaannya, berdasarkan fakta di atas ,
sudahkah anda memimpin insitusi DJP dengan benar & profesional?? Jawabannya adalah :
Fakta

akan

berbicara

lebih

keras

daripada

statemen

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/npadna1974/sisi-lain-modernisasi-di-direktoratjenderal-pajak-djp_54f84547a333112b5e8b496a