Anda di halaman 1dari 3

Birokrat pemerintah banyak dikritik selama perubahan presiden pada tahun 1998, terutama

karena dugaan perilaku korup mereka (Dwiyanto et al, 2008;. Tjiptoherijanto, 2007).
Menanggapi meningkatnya permintaan dari masyarakat, badan politik tertinggi di
Indonesia, Majelis Pemusyawaratan Rakyat, diamanatkan presiden untuk membangun
struktur birokrasi Indonesia yang akan transparan, akuntabel, bersih, dan bertanggung
jawab kepada rakyat dan untuk menjadi pelayan publik yang mengabdi kepada masyarakat
dan Negara. (Tjiptoherijanto, 2007, hlm. 2). Tekanan dari penduduk dari Indonesia seperti
yang diungkapkan melalui lembaga-lembaga demokrasi baru adalah salah satu latar
belakang pendorong utama di balik peluncuran manajemen perubahan yang dilakukan.
Mungkin alasan lebih penting mengapa Indonesia melakukan reformasi di bidang birokrasi
karena tekanan oleh IMF dan Bank Dunia. Keterlibatan IMF dimulai dengan persetujuan
Surat Pernyataan Kehdendak (LOI) pada akhir Oktober 1997 (Soesastro et al., 2008). LOI
adalah hasil permintaan Indonesia kepada IMF untuk bailout demi menyelamatkan kondisi
perekonomian. Tujuan utama dari Surat Pernyataan Kehendak adalah untuk stabilisasi
ekonomi makro, yang membutuhkan baik moneter dan penyesuaian fiskal (IMF, 2000).
Perjanjian tersebut menjadi kerangka kerja menyeluruh untuk reformasi birokrasi di
Indonesia. Inisiatif termasuk kembali ke posisi fiskal yang berkelanjutan dan pengendalian
yang dirancang untuk membatasi pengeluaran pemerintah (Soesastro et al., 2008).
Pembentukan birokrasi yang efisien di Indonesia merupakan tujuan utama dari prakarsa ini.
Pemerintah yang baru kemudian meluncurkan reformasi kelembagaan di lembaga-lembaga
pemerintah pusat, yang dianggap sebagai salah satu reformasi devolusi yang tercepat dan
paling komprehensif yang pernah dilakukan di Indonesia (Kristiansen, Dwiyanto,
Pramusinto, & Putranto, 2009). Agenda ini dimulai pada tiga lembaga strategis, yaitu
Kementerian Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan, dan Mahkamah Agung, sebagai pilot
project reformasi birokrasi untuk proyek yang lebih besar meliputi semua aspek
pemerintah. Reformasi birokrasi di Departemen Keuangan secara resmi diluncurkan pada
akhir tahun 2006. Namun reformasi parsial dalam beberapa unit di bawah Kementerian
Keuangan dimulai sebelumnya. Hal ini termasuk reformasi di bidang administrasi
perpajakan yang dimulai pada tahun 2002.

Reformasi birokrasi di kantor Pajak dimulai sebagai akibat langsung dari perjanjian antara
pemerintah Indonesia dan IMF sebagaimana tercantum dalam LOI tersebut. Seperti
dirangkum oleh Stewart dan Jogarajan (2004), Indonesia menerima 22 LOIs dari
tahun1997-2003, yang masing-masing termasuk elemen spesifik dalam reformasi
administrasi perpajakan.
Untuk mengubah efektivitas sistem pengawasan, terdapat dua pilihan yang dapat diambil
oleh organisasi, yaitu untuk memperkuat atau melonggarkan pengawasannya. Ada yang
menilai

bahwa

ketidakefektifan

pelayanan

publik

terjadi

sebagai

akibat

dari

ketidaksempurnaan teori Birokrasi yang diprakarsai oleh Weber (du Gay, 2005, 2011; Abuabu, 2005; Hopfl 2006, 2011; McSweeney, 2006; Parker & Bradley, 2004). Berbeda
dengan birokrasi, organisasi pasca-birokrasi dapat menawarkan desain organisasi baru,
yang berpendapat untuk lebih adaptif (Styhre, 2009). Perdebatan ini tidak mungkin
diselesaikan dengan satu cara atau yang praktis, karena pilihan yang dihadapi oleh
organisasi sangat tergantung pada lingkungan baik di dalam maupun di luar organisasi dan
evaluasi kondisi yang sedang dihadapi oleh organisasi dan Negara pada saat ini.
Pada tahun 1974 Weber mengusulkan ide dari struktur organisasi formal untuk menghindari
atau meminimalkan tumpang tindih fungsional, pembagian kerja, hierarki koordinasi dan
kontrol, dimana prosedur dan aturan tindakan diformalkan dan membuat hubungan
impersonal di antara para anggotanya. Untuk Weber, penciptaan organisasi modern ini
menghasilkan sistem kerja yang efisien, pengurangan nepotisme dan perilaku oportunistik
lainnya, bersama dengan munculnya kelas-kelas profesi dan kelompok-kelompok yang baru
dalam masyarakat (Styhre, 2009)
Dapat disimpulkan bahwa manajemen perubahan yang ada di Direktorat Jenderal Pajak
ditujukan untuk membentuk organisasi yang lebih birokratis serta telah menunjukkan
beberapa perubahan seperti kinerja yang lebih baik (Departemen Keuangan, 2010) dan
tingkat korupsi yang lebih rendah (Transparency International, 2008).
Namun perubahan yang dilakukan dinilai terlalu memaksakan dan sangat tidak kontekstual
karena telah mengabaikan perbedaan sosial dan budaya yang ada di Indonesia dengan
mengadaptasi model perubahan budaya barat yang dinilai tidak cocok dengan nilai-nilai
kebudayaan yang ada di Indonesia. Seperti yang dipaparkan oleh Minogue (2001), bahwa:

. . . masalah variasi budaya memiliki arti bahwa diperlukannya adaptasi substansial


terhadap manajemen perubahan yang dilakukan. Tanpa adaptasi fleksibel terhadap kondisi
budaya lokal, perubahan tidak akan berbuah baik dan menjadi tidak efektif. (hal. 36)
Oleh karena itu, perubahan dalam organisasi harus secara hati-hati diupayakan dengan
mengadopsi budaya-budaya lokal agar sesuai dengan konsep budaya yang ada (Horvath et
al., 1976, 1981). Sehingga memungkinkan budaya yang ada dalam masyarakat yang
berbeda untuk mencapai tingkat perkembangan sesuai dengan sejarah, keadaan, dan
kebutuhan yang berbeda juga (Ohemeng 2010, p. 457).