Anda di halaman 1dari 6

Judul Pokok Bahasan : Konsep Keluarga Kristen

Sub Pokok Bahasan

: Ideologi Gender dalam Keluarga

Judul

: Keserasian Peran antar Suami-Istri

Nama

: Daniel Lazuardi

NPM

: 1506725773

Keluarga merupakan sebuah lembaga sosial primer yang beranggotakan seorang


suami, seorang istri, dengan anak-anak mereka, ataupun tanpa anak, dan juga kerabat-kerabat
yang masih saling berhubungan antar satu dengan lainnya. Jika kita tinjau dari definisinya
menurut KBBI, keluarga adalah orang seisi rumah yang menjadi tanggungan atau batih.
Menurut Sigmund Freud keluarga merupakan manifestasi dari pada dorongan seksual
sehingga landasan keluarga itu adalah kehidupan seksual suami isteri. Selain itu, keluarga
juga merupakan lembaga yang menjadi unsur dasar masyarakat kita. Keluarga merupakan
tempat utama bagi suatu individu untuk belajar mengerti mengenai hubungan antarmanusia,
mengerti tentang dunia, dan tentang penciptaan oleh tangan Tuhan sang Maha Pencipta.
Seorang ahli bernama Garner Murphy dalam tulisannya yang berjudul Family
Dynamics mengatakan bahwa keluarga tidak hanya merupakan barometer yang menunjukan
apa yang sedang terjadi di dunia sekarang ini, tetapi juga menunjukan apa yang akan terjadi
besok, lusa, dan hari yang akan datang.
Hal ini menunjukan pentingnya peran sebuah keluarga bagi keberlangsungan bangsa
dan Negara. Sekarang ini, banyak Negara modern yang telah mengakui perkawinan sebagai
suatu lembaga hukum Negara. Tetapi, Allah terlebih dahulu memberikan hukum-hukum dan
peraturan-peraturan mengenai keluarga. Jika kita menghendaki keluarga yang penuh dengan
kasih dan damai sejahtera, menaati hukum Allah merupakan satu-satunya cara yang dapat
sebuah keluarga tempuh untuk merealisasikan hal tersebut. Begitupun sebaliknya, sebuah
keluarga juga tidak akan dapat hidup dalam kasih dan damai sejahtera, jika keluarga itu
sendiri tidak menaati hukum-hukum serta perintah-perintah yang sudah ditetapkan oleh
Allah, mengingat Kristus yang merupakan Kepala dari setiap keluarga.
Namun, seringkali kita temukan berbagai masalah dalam sebuah keluarga,
permasalahan tersebut timbul akibat pandangan-pandangan yang berlaku di masyarakat, yaitu
bias gender yang seringkali kita temukan terjadi di dalam sebuah keluarga.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai bias gender, mari kita menelusuri
definisi asli dari kata bias gender tersebut. Menurut KBBI, bias diartikan yaitu simpangan.
Sedangkan gender tidak memiliki Bahasa khusus tersendiri dalam Bahasa Indonesia.
Penerjemahan kata gender disamakan dengan penerjemahan kata sex dalam bahasa Indonesia
yaitu jenis kelamin. Padahal, sex dan gender memiliki makna yang berbeda, Gender
merupakan pandangan suatu golongan masyarakat terhadap sebuah jenis kelamin tertentu.
Misalnya lelaki dipandang kuat dan perkasa, sedangkan perempuan dipandang lemah dan
cocok untuk melakukan pekerjaan rumah. Jadi dapat disimpulkan, bahwa bias gender adalah
kebijakan / program / kegiatan atau kondisi yang memihak atau merugikan salah satu jenis
kelamin. anggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak
cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik
rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum perempuan. Konsekuensinya, banyak kaum
perempuan yang harus bekerja keras dan lama untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah
tangganya, mulai dari membersihkan dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air
untuk mandi hingga memelihara anak.
Bias gender yang mengakibatkan beban kerja tersebut seringkali diperkuat dan
disebabkan oleh adanya pandangan atau keyakinan di masyarakat bahwa pekerjaan yang
dianggap masyarakat sebagai jenis pekerjaan perempuan, seperti semua pekerjaan domestik,
dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang dianggap
sebagai pekerjaan lelaki, serta dikategorikan sebagai bukan produktif sehingga tidak
diperhitungkan dalam statistik ekonomi negara. Sementara itu kaum perempuan, karena
anggapan gender ini, sejak dini telah disosialisasikan untuk menekuni peran gender
mereka.Di lain pihak kaum lelaki tidak diwajibkan secara kultural untuk menekuni berbagai
jenis pekerjaan domestik itu..
Oleh karenanya rumah tangga juga menjadi tempat kritis dalam mensosialisasikan
ketidakadilan gender. Yang terakhir dan yang paling sulit adalah ketidakadilan gender
tersebut mengakar didalam keyakinan dan menjadi ideologi kaum perempuan maupun lakilaki baik perorangan , keluarga, hingga pada tingkat negara bahkan global.
Contoh diskriminasi bias gender terhadap wanita yaitu:
1.

Marjinalisasi / peminggiran adalah kondisi atau proses peminggiran terhadap

kaum perempuan dari arus/ pekerjaan utama sehingga secara agregat kaum perempuan lebih

miskin. misalnya bidang pekerjaan wanita lebih rendah daripada laki-laki misalnya laki-laki
lebih cocok sebagai direktur sedangkan wanita cukup sebagai sekertaris atau bahkan cukup
didapur.
2.

Masih sedikitnya jumlah perempuan yang bekerja pada posisi atau peran

pengambil keputusan atau penentu kebijakan dibanding laki-laki.Dikalangan keluarga miskin


beban yang sangat berat ini harus ditanggung oleh perempuan tersebut harus bekerja, maka ia
memikul beban kerja ganda.
Ideologi gender yang berasal dari hasil konstruksi pikiran masyarakat menimbulkan
berbagai masalah dalam keluarga, dan merupakan salah satu akar dari berbagai sumber
permasalahan yang umumnya terjadi dalam suatu keluarga. Salah satu pemahaman yang tidak
benar adalah bahwa setelah menikah, istri adalah sepenuhnya milik suami. Hal ini tentu tidak
baik, karena jika seorang suami salah menafsirkan, suami akan cenderung berperilaku untuk
menguasai istri mereka.
Adanya perbedaan peran dan kedudukan antara suami dan istri dalam kehidupan
berkeluarga tidak lepas dari kesalahan atau kekeliruan dalam penafsiran terhadap ayat-ayat
Alkitab. Misalnya, gereja yang berada dalam kehidupan bermasyarakat, tidak dapat lepas dari
hasil konstruksi masyarakat tersebut. Tradisi gereja menempatkan Alkitab sebagai ukuran
normatif. Padahal, ideologi gender pun sangat kental dalam penulisan Alkitab itu. Ada
banyak kutipan atau perikop dalam Alkitab yang mengatakan bahwa istri tunduk dan patuh
kepada suami.
Akan tetapi, akibat dari pandangan normative itulah, maka berbagai kisah dalam
Alkitab, seolah-olah memarginalisasikan atau mengsubordinasikan peran perempuan.
Terlebih lagi jika dalam penafsiran ayat-ayat firman Tuhan itu hanya berdasarkan pada
pemahaman teks yang tidak secara lengkap atau hanya sepotong-potong, dan bukan secara
kontekstual dengan pengamatan secara holistik.
Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. Hai
isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, (Efesus 5:21-22). Dan kamu
tuan-tuan, perbuatlah demikian juga terhadap mereka dan jauhkanlah ancaman. Ingatlah
bahwa Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di Sorga dan ia tidak memandang muka (Efesus
6:9). Kedua ayat tersebut sangatlah menggambarkan penolakan Alkitab terhadap pandangan

yang melakukan stereotype kepada masing-masing jenis kelamin baik laki-laki maupun
perempuan. Tetapi seringkali orang-orang salah menafsirkan ayat tersebut, terlebih pada
Efesus 5:22 yang ditafsirkan yaitu setiap istri harus tunduk kepada suaminya seperti kepada
Tuhan. Akibatnya, sangat sering kita temukan adanya tindakan sewenangnya dari pihak
suami kepada istri mereka masing-masing. Ini disebabkan karena mereka tidak menafisrkan
ayat-ayat tersebut secara holistik, mereka tidak dapat memahami konteks dari ayat tersebut
dengan benar.
Jika kita memahami konteks yang tercantum dalam ayat tersebut secara benar, maka
ada dua hal yang dapat menjawab permasalahan tersebut. Yang pertama, jika dilihat dari segi
keluarga, suami dilihat sebagai kepala keluarga dan istri wajib tunduk padanya serta
menghormatinya. Tetapi tunduk disini bukan berarti mengikuti segala sesuatu kemauan
suami, melainkan tetap megikuti perintah suami berdasarkan aturan yang telah ditetapkan
oleh Allah. Selain itu, sebagai seorang kepala keluarga, suami harus mengasihi istrinya
seperti diri sendiri serta mengasuh dan merawatnya bagaikan tubuhnya sendiri. Jika seorang
suami dapat mengasihi istrinya dengan sangat tulus, seperti ia mengasihi dirinya sendiri,
maka tidak ada kemungkinan bahwa suami akan memerintahkan sesuatu kepada istri yang
tidak sesuai dengan perintah Allah, karena seluruh hal yang tidak berkenan kepada Allah
bersifat merusak.
Yang kedua, dari segi gerejawi, Kristus dilihat sebagai kepala tubuh-Nya, yaitu gereja.
Kristus mengasihi tubuh-Nya dan merawat kita sebagai anggota tubuh itu, dan kita
hendaknya tunduk pada-Nya dalam segala hal. Hal itu merupakan satu rahasia besar, yang
hanya dapat diterima dalam iman kita terhadap Kristus. Dari kedua yang telah kita dapatkan,
terdapat kesamaan dan perbedaan dalam kedua hal tersebut antara lain:
1. Suami dan Kristus berlaku sebagai kepala dari setiap keluarga Kristen. Tetapi
sebagai kepala rumah tangga, sang suami menjalankan suatu fungsi sosial dan
sang istri hendaknya tunduk kepada bidang itu saja. Istri tetapi bertanggung jawab
kepada Allah, sebab pasti akan ada situasi bahwa istri hendaknya memilih apa
yang baik di hadapan Allah, sekalipun suaminya tidak setuju. Sebagai kepala
tubuh-Nya atau Gereja, Kristus menentukan kehidupan para anggotanya dan
mereka semua melakukan tanggung jawab penuh dalam kehidupan mereka
kepada-Nya.

2. Suami dan Kristus sama-sama mengasihi, tetapi Kristus menyerahkan nyawa-Nya


dan menyelamatkan gereja, sedangkan suami merawat istri dalam hidup seharihari serta menerima keselamatan bersamanya dari Kristus.
Dalam Alkitab,

kata-kata

tunduk

berasal

dari

kata Yunani

yang

disebut

hypotasso. Dimana kata tersebut menunjuk pengertian sukarela, yang dilakukan dalam kasih,
berfokus pada suatu hubungan pribadi yang dalam berdasar kasih dan tanggung jawab. Hal
tersebut tidak menunjuk pada hierarkhi, melainkan lebih bersifat saling berbalasan dan juga
sebagai suatu gaya hidup orang percaya dalam kasih yang mendalam satu dengan yang lain,
baik suami maupun istri. Pengertian dari saling dalam hal ini memiliki sebuah arti baik
suami maupun istri dapat bergantian tunduk atau saling tunduk satu sama lain, dan hal ini
bukanlah merupakan suatu struktur yang bersifat baku atau tetap.
Keluarga sebagai sebuah unit sosial diharapkan mampu memberikan sebuah
pemikiran atau pandangan bahwa masing-masing dari suami maupun istri sama-sama
memiliki perannya masing-masing untuk saling melengkapi dan saling bahu membahu.
Bukannya untuk memerintah atau diperintah oleh satu dengan yang lainnya. Adanya
perbedaan peran antara suami dan istri tidak boleh dijadikan sebagai sebuah sarana untuk
menguasai. Alangkah baiknya apabila tugas dan peran antara suami dan istri dapat dibagi
dengan baik dan benar, tanpa adanya pihak yang merasa dirugikan ataupun keberatan.
Seorang suami istri harusnya mengerti perasaan satu sama lain dan siap membantu jika
pasangannya mengalami kesulitan dalam menjalankan peran. Oleh karena itu, pandangan
terhadap tugas suami dan istri yang selama ini berlaku dalam masyarakat tidaklah mutlak.
Melainkan, sebuah pasangan suami istri dapat menyesuaikan peran dan tugas mereka masingmasing untuk saling membantu menciptakan keharominasian sebuah keluarga Kristen yang
hidup di dalam Kristus.

Daftar Pustaka:
http://www.definisi-pengertian.com/2015/04/pengertian-keluarga-definisi-menurut-paraahli.html
http://kbbi.web.id/bias
http://infosetyawan.blogspot.co.id/2012/06/bias-gender.html