Anda di halaman 1dari 194

! " # # $ % &$'# ($)&*' '$# '+ ,

# - , . , / - $ . /

! 0

1 1 2 -344 5 6"7 +8 ( 9 : ; 9 </ -33=; ' (
1
1
2 -344
5 6"7 +8
( 9 : ;
9 </ -33=;
' ( -
! " # # $ % &$'# ($)&*' '$# '+ , # - , .

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

! " # #$ %

/ > 0 / !

. 0 ? 0 0 ? 0 / 0

/ -333 $ ! ' 9

7 6. 8 6 1 8

6> 0 8 7 6% ' 8

/ 6 0 8 6. 8

> 9 @ ? * @ $ * / ! # !

! " # #$ % / > 0 / ! . 0 ? 0 0

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

/ ! /

 

*

? 9 @A 0 : ? @

7

/

 
 

9 $ 9 & B 9 . 9 C / / 9 )

 
 

) $ / ! ! / ! !

 
 

! ! ! 0 / ) *

 

D D

D % . $ C # # )
D
% . $
C
# # )

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

C / 9

 
 

& '

http://www.kenduricinta.com

( ' http://www.facebook.com/#!/pages/Komunitas-

Kenduri-Cinta/34798057138?v=info

 
C / 9 & ' http://www.kenduricinta.com ( ' http://www.facebook.com/#!/pages/Komunitas- Kenduri-Cinta/34798057138?v=info Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Panggillah “Mbah Nun

...

!”

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 22 Februari 2010 jam 9:54 Catatan: Münzir Màdjid

TIBA-TIBA, plak-plak, pukulan mendarat ke mulut seorang anak muda. “Tidak

sopan, jangan panggil Cak Nun, panggillah dengan hormat, Mbah Nun SATU:

...

!”

Pernah dengar nama KH Muslim Rifa’i Imam Puro? Nama lengkap ini tidaklah begitu populer. Namun jika disebut “Mbah Lim” banyak kalangan yang mengenalnya, paling tidak sering mendengar.

Apalagi bagi kalangan nahdliyyin, mereka sangat mengenal sosok Mbah Lim. Bahkan kiai-kiai NU sangat takzim terhadap beliau, termasuk Gus Dur (Allah yarham). Karena Mbah Lim sangat rajin menghadiri helatan-helatan yang yang diselenggarakan NU, terutama Muktamar. Kecenderungan pilihan Mbah Lim terhadap sosok yang kelak memimpin NU biasanya itulah suara Nahdliyyin.

Jika pertama kali berjumpa pasti tak akan mempercayai bahwa orang ini sangat disegani dari berbagai kalangan. Sangat nyentrik. Berpakaian dengan padu padan sangat tidak pas. Bertutup kepala topi (bukan peci) dipadu dengan sorban. Yang tak pernah ketinggalan, mencangklong tas kain lusuh. Nama pesantrennya aneh, tidak biasa: Pondok Pesantren Al Muttaqin Pancasila Sakti, Desa Karang Anom, Klaten. Dengan penampilan yang “mboys” ini, tidak aneh, jika banyak yang beranggapan bahwa Mbah Lim adalah seorang wali.

Cara berbicaranya tidak jelas, cedal (cadel). Sukar dipamahami. Maka sering didampingi oleh santri atau keluarganya sebagai juru bicara.

Panggillah “Mbah Nun ... !” oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 22 Februari 2010 jam 9:54 Catatan:

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Suatu hari, pesantrennya mengadakan acara dengan mengundang Emha Ainun Nadjib untuk memberikan ceramah. Tibalah saatnya, Emha harus naik ke atas podium. Seorang santri yang bertindak sebagai MC memanggil Emha.

"Kami persilakan Cak Nun dari

"

...

Belum juga MC selesai berbicara, Mbah Lim berlari-lari sambil teriak-teriak ke arah MC. Tiba-tiba, plak-plak, tangan Mbah Lim mendarat di mulut MC, sambil tetap berteriak-teriak, "Bukan Cak Nun, Mbah Nun. Ingat itu Mbah Nun!"

“Iya Mbah.”

Jawab santri agak gemetar. Bukan sakitnya ditampar kiainya. Tapi kaget dan sama sekali tak terduga. Tamparannya tidak keras, karena sesungguhnya Mbah Lim sangat menyayangi semua santrinya.

Jamaah geger. Tapi tidak lama. Berganti dengan gelak tawa karena Emha sangat pandai merubah suasana.

Mbah Lim sendiri tetap mendampingi MC sampai usai acara, berjaga-jaga agar kesalahan ucap tak terulang lagi.

DUA:

Pernah menyaksikan bapak dan anak saling ejek, sindir menyindir? Itulah jika Emha Ainun Nadjib satu panggung dengan Sabrang Mowo Damar Panuluh, anaknya.

“Pergaulan yang aneh,” begitu komentar Dik Doank suatu saat.

Suatu hari, pesantrennya mengadakan acara dengan mengundang Emha Ainun Nadjib untuk memberikan ceramah. Tibalah saatnya, Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Jangan anggap mereka ada konflik. Emha sangat mencintai Sabrang, sebaliknya Sabrang juga sangat menghormatinya. Mereka saling share tentang berbagai hal. Banyak pengetahuan-pengetahuan baru, atau penemuan-penemuan ilmiah (baru) yang disampaikan Sabrang kepada Emha. Sebaliknya Emha-pun sering memberi arahan-arahan --jelas bapaknya lebih berpengalaman, ditularkan kepada Sabrang.

Jaman SMA, setahu saya, Sabrang tidak mengenal rokok. Emha sendiri, siapapun tahu, adalah penikmat rokok.

“Jika sakit jangan merokok!” kata Emha. “Rokok hanya untuk orang sehat,” lanjutnya. Lho?

Logika ini mungkin saja ditentang oleh aktivis anti rokok. Jika ingin sehat jauhilah rokok, slogannya.

Tamat SMA, saya juga tidak melihat Sabrang menyentuh rokok. Kalau pegang rokok sangat wagu, hanya diamin-mainkan, diisap tanpa api. Baguslah itu, batinku.

Usai kuliah dari Kanada, berkumpul lagi dengan kawan-kawan SMA-nya, belakangan membentuk Grup Band Letto. Saat itulah, mungkin saja, sering belajaran merokok.

“Liiiil !” .... “Iya Mas,” jawab Kholil.

Kholil, pemuda tanggung yang bertahun-tahun ikut di rumah Emha-Novia. Racikan kopinya enak. Kental tak terlalu manis.

Bersijingkat Kholil masuk ke dalam rumah mengambil sesuatu dan diserahkan kepada Sabrang. Entah “persengkokolan” apa antara Sabrang dan Kholil. Jika dipanggil oleh Sabrang mafhumlah apa tugas Kholil.

Jangan anggap mereka ada konflik. Emha sangat mencintai Sabrang, sebaliknya Sabrang juga sangat menghormatinya. Mereka saling

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Sampai suatu hari, entah bagaimana ceritanya, Emha mengetahui sesuatu yang tidak beres.

“Lil,” panggil Emha.

“Nggih Pak “Apa itu?” “Rokok, Mas Sabrang

...

.... Bungkusan rokok berwarna kuning ada di gegamannya.

“Oh, mulai kapan?” “Lami Pak, wonten setahunan.” (Sudah lama Pak, sekitar setahun).

Emha, biasanya punya simpanan rokok agak banyak. Beli sendiri atau pemberian dari beberapa kalangan yang berbaik hati. Sesungguhnya, telah lama, tanpa sepengetahuannya Sabrang meminta tolong Kholil mengambilkan rokok milik bapaknya secara diam-diam. Kali ini ‘tertangkap basah.’

Maka dalam suatu acara di Kenduri Cinta, beberapa tahun lalu, Emha menagih Sabrang.

“Coba kalikan hutangmu itu, satu bungkus dikalikan setahun!”

Sampai suatu hari, entah bagaimana ceritanya, Emha mengetahui sesuatu yang tidak beres. “Lil,” panggil Emha. “Nggih

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Jamaah-pun tertawa.

“Dicicil saja, tiap pentas Letto, potong 10%

....

Sabrang yang sudah dikenal sebagai vokalis Letto, hanya menanggapi dengan senyum-senyum.

TIGA:

Surabaya. Emha dan Kiai Kanjeng siap-siap acara. Hari yang sama, Sabrang dan Letto juga pentas di kota yang sama, Kota Bonek.

Meskipun bapak dan anak masih satu rumah, jarang sekali ketemu. Emha dan Kiai Kanjeng keliling memenuhi banyak undangan, Sabrang dan Letto-pun padat acara.

Bapak dan anak saling kangen dan janjian bertemu di warung sate, makanan favorit mereka. Emha yang sudah dulu tiba langsung memesan beberapa porsi sate. Tak lama kemudian Sabrang datang.

“Ayo Brang, dimakan

!”

... “Ntar Pa,” jawab Sabrang sembari buka-buka HP. Berceritalah mereka dengan asyiknya. Lalu Emha tersadar, hidangannya belum juga dijamah. “Lho, kok tidak dimakan, tadi sudah makan ya.” Sabrang menjawab dengan enteng, “Belum Pa, aku puasa.” “Asu kowe Brang, lha ngapain saya janjian di sini kalau puasa!”

Jamaah-pun tertawa. “Dicicil saja, tiap pentas Letto, potong 10% ” .... Sabrang yang sudah dikenal sebagai

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

EMPAT:

Saya ingin mengatakan bahwa Sabrang sudah terlatih rialat. Sebuah ‘lelaku’ yang pada umumnya anak semuda dia belum merasa perlu menjalani. Pasti banyak yang mengira bahwa bapaknyalah yang mengajari. Atau minimal memberi contoh dalam keseharian. Saya berani bilang, bahwa secara langsung kayaknya tidak. Emha tidak pernah mengajarkan sebagaimana orang tua lain mendidik anaknya.

“Le, kowe puasa ya, rajin shalat!”

Tampaknya tidak pernah seperti itu.

Sampai kemudian saya mendengar bahwa Sabrang punya “guru spiritual.” Keren ya istilahnya. Maksud saya, guru ngaji. Seorang ustadz atau kiai. Sosoknya jarang yang kenal, seorang kiai sederhana dan kini bertempat tinggal di Lampung.

Dulu, saat Sabrang masih SMP, memang saya pernah diutus bapaknya mengantar seorang guru ngaji dari Jogja ke Lampung. Seorang guru ngaji privat selama tiga bulan untuk mengajari “alif ba ta” dan pelajaran dasar-dasar agama.

Tapi bukan guru ngaji itu.

EMPAT: Saya ingin mengatakan bahwa Sabrang sudah terlatih rialat. Sebuah ‘lelaku’ yang pada umumnya anak semuda

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Namanya KH Mustofa, saya pernah sekali bertemu di kantor, Jakarta. Sabrang memanggilnya Pakde Mus. Kepada Pakde Mus inilah Sabrang banyak meminta nasehat.

Saya sendiri kurang tahu sejak kapan Sabrang mengenal dan menjadikan Pakde Mus sebagai tempat bertanya.

Belakangan juga saya mengetahui bahwa Pakde Mus adalah santrinya Mbah Lim. Bisa jadi Pakde Mus, kala pertama, tidak menyadari bahwa Sabrang adalah anaknya Emha, yang oleh Mbah Lim sendiri ditahbiskan sebagai “Mbah Nun.”

Ini agak muter-muter. Pakde Mus sangat takzim terhadap Emha, sebagaimana santrinya Mbah Lim lain, memanggilnya juga: Mbah Nun.

Hujanpun semakin kerap. Tamu-tamu berlarian. Semua orang menduga bahwa acara akan berantakan. Emha yang punya gawe berlari naik ke atas panggung.

“Allahu Akbar, Alaahu Akbar.” “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” azan digemakan sampai usai.

Resepsi pernikahan Sabrang dengan Uchi (26 Maret 2009) tetap berjalan dengan lancar di Monjali, Jogja. Hujan mulai reda. Langitpun kembali dipenuhi bintang gemintang. Di pojokan, entah di mana, Pakde Mus ngumpet sampai acara usai. Berdoa dengan khusuk untuk “anak” kesayangannya, Sabrang.

Namanya KH Mustofa, saya pernah sekali bertemu di kantor, Jakarta. Sabrang memanggilnya Pakde Mus. Kepada Pakde

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

LIMA:

Selamat kepada Sabrang dan Uchi untuk kelahiran putri pertamanya, 8 Februari 2010: Rih Anawai Lu'lu' Bodronoyo. []

Jkt-Pwt, Des 2009, Jan, Feb 2010

Tulisan ini untuk bapakku. Semoga cepat sembuh. Anakmu, sungguh menyayangimu.

LIMA: Selamat kepada Sabrang dan Uchi untuk kelahiran putri pertamanya, 8 Februari 2010: Rih Anawai Lu'lu'

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

ABDURAHMAN WAHID-WAHID

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 18 Juni 2010 jam 11:01 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Lambat atau cepat hegemoni kekuatan persepakbolaan dunia akan bergeser ke Afrika, meskipun kemudian akan bergilir ke wilayah lainnya. Sejak piala dunia beberapa kali yang lalu Aljazair, Camerun, Nigeria, Marokko, sudah ngamping- amping - tetapi memang masih ada semacam nuansa rasisme dalam mekanisme politik persepakbolaan, yang tercermin pada psikologi wasit atau pengurus organisasi persepakbolaan.

Sayang Mesir tak masuk, gara-gara Gus Dur di-impeach oleh MPR. Orang Mesir cinta Indonesia, Sukarno dan merasa memiliki Gus Dur karena sejarah kakek beliau serta karena pernah kuliah di Cairo. Gus Dur jatuh mengecewakan orang Mesir, sehingga sampai hari ini belum tentu Megawati diterima di sana. Sampai- sampai kesebelasan Mesir kacau hatinya dan tidak bisa menang lawan Aljazair. Skor 1-1, padahal kalau 1-0, Mesir masuk Piala Dunia. Kalau Gus Dur waktu itu

tetap jadi presiden, skor pasti 1-0. 1 itu Wahid. Kalau 1-0 berarti Wahidnya satu.

Kalau skor 1-1 maka nama Gus Dur menjadi Abdurahman Wahid Wahid Mesir gagal ke Piala Dunia.

Maka ...

Tapi toh sekarang Senegal memberi lampu kuning, meskipun tidak akan semulus yang kita impikan. Bagi kita yang berpikiran standar, tentu kaget kok Perancis bisa kalah oleh Senegal. Meskipun tak ada Zidane tapi ya jan gan lantas begitu loyo, tidak kreatif, tidak punya daya menaklukkan, permainan individu kalah, tidak punya aransemen dengan akselerasi gerak dan irama bermain.

ABDURAHMAN WAHID-WAHID oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 18 Juni 2010 jam 11:01 Ditulis Oleh: Emha Ainun

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Tapi bagi yang sudah punya instink dan tahu bahwa Senegal akan unggul, hasil pertandingan awal Piala Dunia tadi malam tidak mengejutkan. Namun demikian saya sarankan sebaiknya kita memilih kaget saja menyaksikan setiap kejadian selama Piala Dunia, sebab tujuan kita memang untuk terkaget-kaget, sehingga asyik dan selalu ada dinamika, ada tegangan.

Kalau pada pertandingan perdana Perancis kalah tapi nantinya malah jadi juara, sebaiknya kita kaget. Kalau ternyata Perancis tak bisa sampai ke final, marilah tetap kaget. Kalau Senegal menang terus setelah yang awal ini, juga marilah kaget. Kalau kalah dan tidak bisa masuk ke babak berikutnya, marilah terus kaget. Kalau tidak kaget, apa gunanya nonton sepakbola.

Hari ini saya bertugas di tiga acara, dan pertandingan perdana Perancis-Senegal berlangsung pada acara terakhir saya tadi malam. Saya nonton tidak intensif dan tidak seluruhnya. Sambil kedinginan dalam acara - karena tempatnya dekat Kutub Selatan - saya bertanya-tanya siapa yang menang, dan tiba-tiba ada SMS masuk berbunyi :"Itali juara Cak!". Gendeng. Tapi memang nonton sepakbola adalah peluang sangat indah untuk berkhayal, menciptakan lakon-lakon apa saja di dalam benak kita, membayang-bayangkan, melampiaskan obsesi, bahkan bisa nonton sepakbola untuk menerapkan ideology, sentimen-sentimen sejarah atau selera pribadi. Teman saya yang memandang sepakbola secara professional- estetik, tidak senang Perancis kalah, karena tidak cocok dengan teori baku tentang mutu kesebelasan. Tapi bagi teman lain yang pikirannya dipenuhi oleh romantisme perjuangan kaum tertindas, bersorak-sorak karena Senegal menang, karena mengidentifikasi Perancis sebagai salah satu negara penjajah pada abad- abad yang lalu.

Tapi bagi yang sudah punya instink dan tahu bahwa Senegal akan unggul, hasil pertandingan awal Piala

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Semula dia mencita-citakan finalnya nanti Perancis vs. Kamerun dan akan dimenangkan kesebelasan negara kaum hitam yang nenek moyangnya dulu dijajah. Cuma ideologi teman saya ini menjadi agak tidak mantap kalau dia ingat bahwa Zidan beragama Islam ...

Ah, apa Anda pernah mendengar musik Senegal? Tidak ada musik yang asyiknya melebihi asyiknya musik Senegal serta negara-negara Afrika agak Utara lainnya. Kreativitas musik di wilayah ini menggabungkan 3 dimansi keindahan: dinamika Afrika, romantisme Timur Tengah dan kecanggihan Eropa. Beruntung saya pernah ***

pentas bareng mereka di lapangan pinggir pantai Rotterdam

......

Semula dia mencita-citakan finalnya nanti Perancis vs. Kamerun dan akan dimenangkan kesebelasan negara kaum hitam yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Akal dan Otak

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 23 April 2010 jam 11:01 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Akal tidak sama dengan Otak. Ayam dan kambing juga punya otak, tapi jangan bilang kambing berakal. Otak itu hanya hardware-machine dari suatu fungsi berfikir. Adapun akal itu suatu potensialitas rohaniah, kita harus menggalinya sepanjang zaman, karena yang kita dapatkan darinya hanya gejala-gejalanya saja, Anda kenal inspirasi, kretivitas, ilham, ide, gagasan. Serpihan-serpihan meloncat dalam kandungan rahasia akal ke memori dan kesadaran kita. Akal itu bagaikan ujung jari Tuhan yang menyentuh cintanya kepada kita untuk mentransfer cinta, silaturahmi, janji kasih, dan berbagai anugrah. Kalau dikatakan ada orang kehilangan akal, artinya ia mengalami keterputusan kontak dengan hidayah Tuhan. Pikirannya buntu dan otaknya terbengkalai. Jadi, otak bisa tidak sehat, cara berpikir bisa khilaf dan terpeleset, tapi akal selalu sehat dan benar. Yang tak sehat biasanya adalah metode dan mekanisme berpikir.

Akal dan Otak oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 23 April 2010 jam 11:01 Ditulis Oleh: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Apa tho Nak, Emansipasi itu?”

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 21 April 2010 jam 9:06 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Ibu menjaga hasrat baik agar terus memenuhi desa, berperang melawan kelapukan akibat tumpahan hujan dari kekuatan-kekuatan yang mengatasi desa kita.

Mungkin sekedar ‘kelas’ rukuh, tapi soalnya ialah kerajinan Ibu untuk menerobos dan menelusup, di samping rukuh memang menyediakan rasa tidak aman bagi kemunafikan. Ibu juga maju ke Pak Polisi, angkat tangan memotong pidato Pak Pejabat di mimbar, melayani segala kesulitan pekerjaan birokratis yang bisanya ditangani oleh kaum

“Apa tho Nak, Emansipasi itu?” oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 21 April 2010 jam 9:06 Ditulis

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

lelaki, menampung pertengkaran suami istri-suami istri, membendungi gejala saling benci di antara siapapun, mempertanyakan sesuatu kepada Pak- Pak Pamong, tanpa rasa sungkan atau pakewuh seperti yang lazim diketahui sebagai lenderteal pembungkus sikap sosial orang Jawa. Meskipun toh frekuensi ketidakberesan yang pada umumnya tumpah dari atas selalu akan bisa mengubur usaha-usaha hasrat baik Ibu.

Pasti ada ribuan orang di negeri ini yang melakukan seperti yang Ibu lakukan. Ratusan kawan-kawan anakmu juga mampu mengerjakan berbagai hal yang penuh arti. Tapi lihatlah, apa yang lebih bermutu dari sepak terjang anakmu ini selain

lelaki, menampung pertengkaran suami istri-suami istri, membendungi gejala saling benci di antara siapapun, mempertanyakan sesuatu kepada

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

merengek-rengek? Banyak hal pada kegiatan kaum wanita di desa kita yang membuat segala pembicaraan tentang masyarakat patrimonial menjadi terasa aneh. Tetapi toh Ibu juga tak bosan-bosan bertanya kepada anak-anakmu atau kepada kawan-kawan anak-anakmu yang datang ke desa:“apa tho Nak emansipasi wanita itu?” (Sumber: “IBU, TAMPARLAH MULUT ANAKMU” Sekelumit Catatan Harian. 23.8.1985. foto oleh: Budhi Ipoeng)

merengek-rengek? Banyak hal pada kegiatan kaum wanita di desa kita yang membuat segala pembicaraan tentang masyarakat

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Bakso Khalifatullah

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 12 Februari 2010 jam 9:36 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.

“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”

“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.

Bakso Khalifatullah oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 12 Februari 2010 jam 9:36 Ditulis Oleh: Emha Ainun

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.

30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”

Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar. Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.

yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”

“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”

“Berarti saya hutang?”

“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”.

Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!

Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah took kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya. Ketika dating saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”

Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk: “Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”

Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece. Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi. Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun. Bakso Khlifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.

“Lho, uang saya tidak cukup, Pak” “Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap” “Berarti saya hutang?” “Ndaaak.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol. Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama. **

Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Bid'ah

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 07 April 2010 jam 9:54 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Bid’ah itu adalah sesuatu yang tidak dilakukan/dipakai oleh Rasulullah, terus kita pakai. Bid’ah itu berlaku diwilayah mahdhah. Islam itu dibagi 2 berdasarkan firman Allah, yang satu namanya ibadah mahdhah jumlah firmannya 3,5 %, yang kedua namanya ibadah muamalah ayat-ayatnya menyeluruh sekitar 96,5%. Ibadah mahdhah itu apa?, ibadah muamalah itu apa?. Pedomannnya ibadah mahdhah adalah jangan lakukan apapun kecuali yang Aku perintahkan. Kalau ibadah muamalah, lakukan apa saja semaumu asalkan tidak melanggar syariat Ku. Contoh ibadah mahdhah itu: syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji, itu saja yang tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi.

Bid'ah oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 07 April 2010 jam 9:54 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

BU CAMMANA KEKASIH

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 31 Maret 2010 jam 13:03 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Maiyahan terakhir Kiai Kanjeng dengan saya adalah di garis kaki dan 'pantat' belakang Pulau Selawesi. Dari Makassar menuju utara lewat trans Sulawesi - di sisi barat sesudah sisi lain ditakuti karena kasus Poso. 5 jam pertama menuju Tinambung, salah satu titik sisa kerajaan di antara 7 kerajaan pantai dan 7 kerajaan pegunungan.

Serombongan 22 orang, berangkat awalnya enak karena naik pesawat, tapi dari Makassar kami menyusuri jalanan ratusan kilometer untuk pekerjaan yang kami beri judul "latihan tawakkal". Medan sangat berat, suhu sangat panas, tidak mesti bisa mandi, keringatan terus menerus tanpa sempat mencuci atau menjemur pakaian. Acara formalnya hanya enam kali, tapi yang non-formal - dan di sini letak konteks maiyah kemasyarakatan kami - bertubi-tubi.

Ibunda Cammana, saat menerima penghargaan Satyalancana dari Presiden RI, pada Minggu malam lalu, 28 Maret 2010

Maiyahan dengan ribuan masyarakat yang turun dari gunung-gunung dan sudah tiba di tempat itu satu dua hari sebelumnya karena tidak mudahnya transportasi. Maiyahan mengidentifikasi masalah-masalah mereka, merundingkannya, membukakan wacana dan mencari solusi bersama-sama - dibungkus perjanjian

BU CAMMANA KEKASIH oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 31 Maret 2010 jam 13:03 Ditulis Oleh: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

vertical dengan Allah melalui dzikir dan shalawat bersama yang diperindah oleh musik Kiai Kanjeng.

Maiyahan dengan ribuan masyarakat di pertigaan tengah kota kecil Tinambung - pusat asal usul Pasukan Balanipa - yang dua puluh tahun yang lalu hampir menyerbu Majene dan kami hentikan di tengah jalan, kami cegat dan kami giring pulang untuk berkumpul di Masjid. "Musuh Anda bukan orang lain golongan atau lain suku" - demikian saya sempat omong waktu itu - "Musuh Anda akan masuk lewat jembatan yang dua tahun lagi akan di bangun di Sungai Mandar ini. Truk- truk dan fasilitas kekuasaan orang kota akan masuk kesini. Pertanyaan yang harus Anda jawab adalah apakah jembatan itu akan memasukkan kesejahteraan ke kampung-kampung Anda ataukah justru akan dipakai untuk menguras kekayaan "

Anda ke Jakarta

...

Maiyahan di lapangan Majene, di depan pasar Polewali-Mamassa, di alun-alun Mamuju. Jika lampu mati - karena PLN belum berpengalaman dengan penggunaan sound-system yang butuh teknologi los stroom - rembulan menaburkan cahaya dan keremangan di bawah langit sangat mengkhusyukkan kehadiran Allah dan Rasulullah.

Di sekitar lapangan maiyah selalu tampak pebukitan yang subur, laut dan cakrawala remang. Ketika siang hari kami melintasi daerah-daerah itu, tak bisa menahan hati untuk mengatakan kepada ribuan jamaah maiyah bahwa "Anda semua di wilayah yang subur ini sesungguhnya tidak butuh Indonesia. Negara ini jelas lebih banyak mengganggu Anda dar ipada menyayangi dan membantu "

kehidupan Anda

....

Kemudian diskusi tentu saja menjadi berkepanjangan.

vertical dengan Allah melalui dzikir dan shalawat bersama yang diperindah oleh musik Kiai Kanjeng. Maiyahan dengan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Entah butuh berapa ratus halaman untuk mengisahkan indahnya pengalaman maiyahan dengan saudara-saudara kita di pelosok itu. Tidak mungkin terucap oleh rangkaian kata sepuitis apapun maiyahan kami di dusunnya Bu Cemmana - Ibu tua yang vocalnya seperti terompet, powernya tidak bisa dilawan oleh Ian Gillan, warna suaranya seperti perawan 14 tahun. Ibu asset bangsa yang bangsanya sendiri tidak punya ilmu sama sekali untuk menghargainya ....

Bangsa ini membiayai putauw dengan uang tak terbatas, membiayai kemaksiatan tanpa hitungan, membiayai kekonyolan dengan malah membangga-banggakan, membiayai fitnah dan berita-berita pembodohan dengan trliyunan rupiah. Bu Cemmana.****

Entah butuh berapa ratus halaman untuk mengisahkan indahnya pengalaman maiyahan dengan saudara-saudara kita di pelosok itu.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Bulan Purnama Rendra

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 23 Agustus 2009 jam 16:52 Sumber: GATRA

Tuhan memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Rendra. Malam Jumat, di bawah cahaya bulan purnama. Orang besar itu telah pergi dengan gagah sebagaimana ajarannya: ''gagah dalam kemiskinan''. Istrinya, Ken Zuraida, menyatakan ''ia sangat bahagia'', meskipun pasti bagi setiap yang terlibat kematian selalu ada semacam ''derita manusiawi'' yang membungkusnya.

Ini adalah puncak tangis mengguguk-guguk seorang pecinta yang air matanya tumpah di ufuk kesadaran tentang nyawiji. Selama sakit di pembaringan, Rendra selalu spontan menyebut, ''Ya Lathif, wahai Yang Mahalembut." Di saat-saat paling menderita oleh sakitnya, ia meneguhkan hatinya dengan ''Qul huwal-Lahu ''

Ahad, Allahus-Shamad

Setengah sadar, sambil saya genggam tangan kirinya,

''

....

.... saya minta ia menambahi, ''Mas, ucapkan juga Qul Huwal-Lahu Wahid

Ia berbisik, ''Apa bedanya Ahad dengan Wahid, Nun'', saya jawab, ''Mas, Ahad itu Allah yang tunggal, yang satu, yang gagah perkasa dengan maha-eksistensi-Nya. Wahid itu Allah yang manunggal, yang menyatu, yang integral, yang merendahkan

diri-Nya, mendekat ke hamba-Nya, nyawiji

''

Meledak tangis Rendra dalam rasa

.... dan kesadaran bahwa ia tak berjarak dengan-Nya dan Ia tak berjarak dengan dirinya. Tatkala mereda gejolak hatinya, Rendra menorehkan puisi yang diakhiri

dengan kalimat, ''Tuhan, aku cinta pada-Mu."

Bulan Purnama Rendra oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 23 Agustus 2009 jam 16:52 Sumber: GATRA Tuhan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Maka, Rendra tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah menyatu dengannya. Mungkin Rendra memang telah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum detik kematiannya, karena kita meletakkan diri semakin jauh dari titik nyawiji yang Rendra sudah lama menikmatinya.

***

Tapi sudah pasti kemudian terdengar suara dari seluruh penjuru: ''Kita sangat kehilangan'', ''Bangsa kita ditinggalkan lagi oleh salah seorang putra terbaiknya'', atau ''Tidak. Rendra tak pernah pergi. Orang besar tak pernah mati''.

Bisa jadi, pekikan-pekikan hati itu sebenarnya tidak terutama tentang Rendra, melainkan lebih terkait dengan kandungan batin kita sendiri. Semua pernyataan itu sangat memancarkan kedalaman cinta, semangat mempertahankan optimisme ke depan. Mungkin juga diam-diam terdapat kandungan kecemasan dan kebingungan dari dalam ego kita sendiri.

Terutama bagi orang yang semakin berangkat tua seperti saya: mengibarkan kehidupan Rendra pada momentum kematiannya sesungguhnya diam-diam sangat tajam mencerminkan kengerian terhadap kehidupan dan kematian saya sendiri. Kita berduyun-duyun menghadiri pemakamannya, mungkin untuk menyatakan kepada Tuhan betapa cintanya kita kepada kehidupan kita dan betapa khawatirnya kita akan datangnya maut sewaktu-waktu atas kita.

Maka, Rendra tak pergi. Tak pernah pergi. Ia tidak perlu pergi menuju sesuatu yang ia sudah

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Mungkin terdapat semacam raungan di kandungan jiwa setiap pen-takziyah pemakaman Rendra. Raungan panjang seperti puisi "Rick dari Corona'' atau ''Khotbah''. Tetapi mungkin berakhir sublim dan mengkristal menjadi Drama Mini Kata Rendra: ''Bip Bop'', ''Rambate Rate Rata'' ....

Sementara bagi para pen-takziyah yang muda-muda, yang menyangka bahwa maut ada kaitannya dengan muda dan tua, di kompleks Bengkel Teater meneriakkan puisi-puisi perjuangan, mengibarkan kepercayaan di dalam diri mereka bahwa kepergian Rendra bukanlah sirnanya perjuangan sosial, progresivisme ideologi nasional dan martabat kemanusiaan. Mereka seolah menghadirkan kembali panggung ''Mastodon dan Burung Kondor'', ''Sekda'', bahkan ''Kasidah Barzanji'', hingga puisi ''Orang Miskin di Jalan'', ''Bersatulah Pelacur-pelacur Ibukota'', ''Seonggok Jagung di Kamar''.

***

Wahai maut, siapakah engkau? ''Bukan kematian benar menusuk kalbu,'' kata Chairil Anwar, penyair terbesar Indonesia di samping Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri. ''Keridaanmu menerima segala tiba. Tak kutahu setinggi itu atas debu. Dan

duka Maha Tuan bertahta

"

....

Tuhan tak sudi dipergoki. Takdir-Nya tak bisa dicegat. Kehendak-Nya tak mungkin dibatasi. Hak-Nya atas misteri garis terang dan gelap kehidupan, serta atas ketentuan detik maut dihadirkan, tak membuka diri sedikit pun untuk dirumuskan oleh segala ilmu dan pengalaman. Kehidupan sangat mengaitkan sakit dengan kematian, tetapi maut tidak bersedia dikaitkan dengan sakit.

Mungkin terdapat semacam raungan di kandungan jiwa setiap pen-takziyah pemakaman Rendra. Raungan panjang seperti puisi "Rick

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Orang bisa sakit berkepanjangan tanpa kunjung maut menjemputnya. Orang sehat walafiat bisa mendadak dihadang oleh kematian. Rendra dipanggil Allah tidak berdasar akselerasi logis dari sakit demi sakit yang dideritanya: pikiran yang memberat, jantung bekerja terlalu keras, ginjal menanggung akibatnya, kemudian tiba-tiba demam berdarah menelusup ke darahnya dan menganiaya jiwanya.

Keadaannya justru membaik, sehingga diperkenankan keluar dari rumah sakit, kemudian menempuh jalan yang ia menyebutnya: ''Aku pengin membersihkan tubuhku dari racun kimia. Aku ingin kembali kepada jalan alam. Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah. Tuhan, aku cinta pada-Mu'' (31 Juli

2009).

Rasulullah Muhammad SAW menderita panas badan yang sangat luar biasa melebihi kebanyakan orang. Beliau menjawab pertanyaan salah seorang sahabatnya tentang panas yang ekstra itu: bahwa beliau dibebani Allah tanggung jawab sangat besar melampaui semua yang lain, sehingga Tuhan menganugerahkan juga kemuliaan yang sangat tinggi melebihi siapa pun, tetapi harus juga beliau tanggung panas yang amat tinggi dan dahsyat yang orang lain tak menanggungnya.

Demikianlah juga kadar derita sakit yang dialami Rendra, takaran jenis kesengsaraan yang menimpanya, yang khalayak ramai tidak perlu mengetahui atau turut menghayatinya. Rendra bahagia di dalam anugerah kemuliaan yang diterimanya dalam rahasia. Bahkan lautan kebahagiaan dan kemuliaan Rendra tidak perlu ''digarami'' oleh pernyataan pers Presiden Republik Indonesia sebagaimana Mbah Surip dianggap memerlukannya.

Orang bisa sakit berkepanjangan tanpa kunjung maut menjemputnya. Orang sehat walafiat bisa mendadak dihadang oleh kematian.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Pada hari wafatnya Rendra, di samping menikmati pemandangan indahnya kemuliaan rahasia Rendra itu, saya mendapat cipratan anugerah yang lain:

menyaksikan seseorang menginfakkan Rp 6,1 trilyun --dengan Allah merebut seluruh kemuliaan hamba-Nya itu-- dengan cara membiarkan sesama manusia justru memperhinakannya. Alangkah anehnya metode cinta Tuhan.

Di hadapan akal sehat, presiden berpidato untuk wafatnya Mbah Surip tapi tidak untuk wafatnya Rendra adalah kehancuran logika dan kebangkrutan parameter nilai budaya. Tapi, di hadapan karamah Allah, itu justru keindahan yang spesifik. SBY bikin stempel tegas atas dirinya sendiri.

Ini sama sekali bukan polarisasi antara Rendra dan Mbah Surip. Tiga tahun lebih saya ikut mengawal dan menjunjung Mbah Surip dan ''Tiga Gorilla''-nya --bersama Bertha dan almarhum Ndang: melalui forum rakyat rutin bulanan di Jakarta, Jombang, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta.

Sehingga Tak Gendong dan Tidur Lagi sudah sangat dihafal oleh komunitas lima kota itu dan terus-menerus diulang karena sangat dicintai sebagai ''lagu kebangsaan'' komunitas kami. Kami ''I love you full'' kepada Mbah Surip, meskipun dua bulan terakhir menjelang beliau wafat, kami kehilangan diri kami di penggalan akhir sejarah Mbah Surip, tanpa Mbah Surip pernah hilang dari hati kami.

***

Pada hari wafatnya Rendra, di samping menikmati pemandangan indahnya kemuliaan rahasia Rendra itu, saya mendapat cipratan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Rendra dipanggil Allah justru di puncak optimisme keluarganya atas kesembuhannya. Candle light phenomenon, kata orang. Fenomena lilin yang apinya membesar dan memancarkan cahaya sangat benderang, sebelum akhirnya padam. Tapi Tuhan berhak juga bikin lilin membenderang apinya, kemudian tidak padam. Atau lilin tidak pernah membenderang dan lantas padam.

Tuhan berhak memaparkan suatu gejala yang pada repetisi kesekian dihipotesiskan oleh manusia sebagai jenis "perilaku" Tuhan atas nasib manusia. Tapi Tuhan juga berhak kapan saja melanggar rumusan apa pun yang pernah Ia berikan. Bahkan Tuhan seratus persen tidak berkewajiban untuk berbuat adil kepada siapa pun, karena Ia tidak terikat atau bergantung pada pola hubungan apa pun dengan siapa pun, yang secara logis membuat-Nya wajib bertindak adil.

Namun Ia selalu sangat adil kepada siapa pun, dan tindakan adil-Nya itu bukan karena Ia wajib adil, melainkan karena Ia sangat sayang kepada makhluk-Nya.

Termasuk bagaimana cara maut ditimpakan kepada seseorang, Tuhan menolak untuk kita rumuskan. Ada bandit mati ketika bersujud. Ada orang sangat alim saleh pergi ke masjid di tengah malam diserempet motor, kemudian ia dipukuli pengendara motor itu sampai meninggal. Ada pendosa besar mati ketika bertawaf, ada true believer pengkhusyuk ibadah mati kecelakaan secara sangat mengenaskan.

Semua fenomena itu tidak menggambarkan apa-apa kecuali kemutlakan kuasa Tuhan. Posisi manusia hanya pada dinamika doa: selalu cemas dan memohon

Rendra dipanggil Allah justru di puncak optimisme keluarganya atas kesembuhannya. Candle light phenomenon, kata orang. Fenomena

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

kepada-Nya agar diperkenankan untuk tidak tampak hina di hadapan sesama manusia.

Pun tak usah merumuskan sebab-akibat antara baik-buruknya manusia dan jumlah pelayat, volume pemberitaan media, tayangan langsung atau tunda, tatkala meninggal. Ada ratu lalim diantarkan ke pemakaman oleh puluhan ribu orang, ada nabi dikuburkan hanya oleh enam orang. Jadi, Rendra tidak bisa kita ukur kualitas mautnya, tak juga bisa kita takar mutu hidupnya. Tidak ada jenis dan wilayah ilmu manusia apa pun yang bisa dipakai untuk merumuskan hidup dan matinya Rendra. Sirrul-asror. Itu misteri seserpih rahasia di antara jagat raya tak terhingga rahasia iradah-Nya.

Yang mungkin, dan harus, kita lakukan adalah meneliti dan menghitung ulang karya-karya Rendra, menghormatinya dengan ilmu, merayakannya terus-menerus dengan cinta, menjunjungnya dengan semangat tanpa henti untuk memelihara keindahan hidup, serta menghidupkan kembali kandungan karya-karyanya itu di dalam berbagai modus kreatif kebudayaan kita.

Rendra telah diterima Allah untuk bergabung dalam keabadian. Kelabakanlah kita, sebab yang kita punyai pada saat ini adalah budaya instan, pola berpikir sepenggal, perhatian terlalu rendah terhadap sejarah, serta kefakiran yang luar biasa terhadap kualitas hidup. ''Kami cuma tulang-tulang berserakan,'' kata Chairil, ''Tapi adalah kepunyaanmu." Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan. Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan, dan harapan '' ....

Emha Ainun Nadjib Budayawan [Obituari, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 13 Agustus 2009]

kepada-Nya agar diperkenankan untuk tidak tampak hina di hadapan sesama manusia. Pun tak usah merumuskan sebab-akibat

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Bulan Tidak Suci

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 25 Agustus 2009 jam 13:27 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Kita menghormati ramadhan dengan selalu menyebutnya sebagai bulan suci ramadhan. Mungkin karena ramadhan ini memang khas. Ramadhan mengandung malam seribu bulan. Bulan penuh kekhususan. Padanya al-quran diturunkan, dan Allah sendiri begitu posesif terhadap ibadah puasa dengan mengemukakan bahwa ibadah yang satu ini khusus untukNya. Apakah bulan yang selain ramadhan boleh kita sebut bulan tidak suci? Apakah syawal bukan bulan suci, padahal padanya justru para pelaku puasa yg sukses mencapai kesucian atau kefitriannya kembali? Apakah ada bulan yang tidak suci? Apakah ada tahun, hari, jam, menit, detik, second atau waktu ciptaan Allah yang tidak suci? Apa sesungguhnya konsep dan pengertian tentang kesucian?. (Dikutip dari hikmah puasa)

Bulan Tidak Suci oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 25 Agustus 2009 jam 13:27 Ditulis Oleh: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Dia mati; Alhamdulillah…………

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 25 Januari 2010 jam 9:01

Petani Pugra berkata, “besok saya akan ke Solo dan mungkin akan tinggal lama sekali, karena saya akan belajar untuk bisa bertemu dengan aku saya yang sejati” – dan besoknya ia mati. Ia ketemu aku-nya yang sejati. Ini terjadi tahun 1974, jadi di kurun kita dimana orang haus akan dunia ini jua. Jadi, Wisanggeni yang lenyap ke telingan Sang Hyang Tunggal mungkin khayalan, tapi esensinya riil. Para Sufi, di Arab atau Jawa, yang bercinta terus menerus untuk bertemu dengan Tuhan kekasihnya, bukan impian atau omong besar belaka. Terkadang oleh keterbatasan manusiawinya, mereka ingin cepat sampai ke kaki Tuhan (baca dengan ‘bahasa kita’: ingin cepat mati). Namun inti sikapnya jelas: dunia ini fana belaka, dan tidak terlalu penting dan sangat naif untuk membikin manusia berduyun jadi binatang serakah. Ini bukan igauan. Maka sufi itu menguburkan badan rekanya sambil berkata, “Dia mati; Alhamdulillah………….” [Emha Ainun Nadjib, Indonesia bagian dari desa saya, hal 208].

Dia mati; Alhamdulillah………… oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 25 Januari 2010 jam 9:01 Petani Pugra berkata,

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Dimaafkan, Memaafkan, dan Tidak Memaafkan

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 09 September 2010 jam 10:47 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Dimaafkan adalah kelegaan memperoleh rizqi, tapi Memaafkan adalah perjuangan yang sering tidak ringan dan membuat kita penasaran kepada diri sendiri. Tidak Memaafkan adalah suatu situasi psikologis dimana hati kita menggumpal, alias menjadi gumpalan, atau terdapat gumpalan di wilayah ruhani- Nya. Gumpalan itu benda padat, sedangkan gumpalan daging yang kita sebut dengan hati diantara dada dan perut itu bukanlah hati, melainkan indikator fisik dari suatu pengertian ruhani tentang gaib. Jika hati hanyalan gumpalan daging; ia tak bisa dimuati oleh iman atau cinta. Maka gumpalan daging itu sekedar tanda syari’at hati, sedangkan hakikatnya adalah watak ruhani.

Didalam kehidupan manusia, yang biasanya berupa gumpalan dalam hati, misalnya, adalah watak dendam. Dendam bersumber dari mitos tentang harga diri dan kelemahan jiwa. Manusia terlalu ‘GR’ atas dirinya sendiri, dan tidak begitu percaya bahwa ia ‘faqir indallah’: ’musnah dan menguap’ dihadapan Allah.

Dimaafkan, Memaafkan, dan Tidak Memaafkan oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 09 September 2010 jam 10:47 Ditulis

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kemudian cemburu. Ini watak yang juga mejadi ‘suku cadang’ dari hakikat cinta dan keindahan. Namun syari’atnya ia harus diletakkan pada konteks yang tepat. Hanya karena punya sepeda, saya tidak lantas jengkel dan cemburu kepada setiap orang yang memiliki mobil. Sambil makan di warung pinggir jalan tak usah kita hardik mereka yang duduk di kursi mengkilap sebuah restoran.?

Kemudian cemburu. Ini watak yang juga mejadi ‘suku cadang’ dari hakikat cinta dan keindahan. Namun syari’atnya

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Gelar Karya Para Rajawali

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 09 Agustus 2010 jam 9:02 Oleh: Emha Ainun Nadjib

Sebagai penggembira Gelar Karya Para Maestro Yogya, saya ingin turut merayakan kegembiraan dan optimisme peristiwa ini dengan sebuah wacana klasik tentang Burung Rajawali.

Pada awalnya saya ingin bersegera mensyukuri dua hal. Pertama, telah lahirny satu Genre Baru Masyarakat budaya yang otentik dan orisinal, satu dua tahun terahir ini di Yogyakarta, melalui berbagai peristiwa kreativitas di sejumlah laboratorium kebudayaan, termasuk Taman Budaya Yogyakarta.

Akan tetapi saya menekan diri saya sendiri untuk bersabar dengan terlebih dahulu bercerita tentang Rajawali, sebab ada kemungkinan Sang Rajawali itu terdapat pada Genre baru itu.

Alkisah, burung Rajawali itu oleh Tuhan dikasih rangsum usia relative sama dengan umumnya makhluk manusia, yakni 60-80an tahun, naik turun. Kalau manusia Yogyakarta menggunakan wacana “katuranggan” dan menemukan dirinya adalah Rajawali, bukan mprit atau Cipret, atau sekurang-kurangnya ia menemukan potensi Rajawali di dalam dirinya : maka ia tinggal bercermin pada burung itu, karena hidup pada irama dan skala waktu yang relative sama.

Gelar Karya Para Rajawali oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 09 Agustus 2010 jam 9:02 Oleh: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Manusia Yogya memiliki potensial untuk “hamengku” alias sikap memangku berbagai formulasi peradaban. Semua hasil “ijtihad” kosmologi diakomodasikan olehnya. Berbagai satuan tahun – dari Yunani, Mesir Kuno, Sanskrit, Jawi, Java— satuan bulan, siklus hari, bahkan weton dan neptu, dielus-elus oleh manusia Yogya dari pangkuanya.

Sudah pasti itu disebabkan oleh keistimewaan manusia Yogya, sehingga daerah ini tidak perlu dilegarisir oleh otoritas apapun untuk menjadi istimewa, karena keistimewaan Yogya sudah lama ‘niscaya’ oleh dirinya sendiri, ada atau tidak ada NKRI, dengan atau tanpa Indonesia.

Keistimewaan itu akan memuat dan menerbitkan kepantasan kepemimpinan nasional secara politik dan internasional secara kebudayaan. Hal itu akan mewujud atau tidak, Yogya tidak pusing, sebab de facto ia tetap istimewa dan pemimpin. Kalau sejarah tidak menerimanya, maka kehancuran sejarah tidak akan mengurangi keistimewaan dan kepemimpinan kultural Yogya.

Pada usia 40 tahun, burung Rajawali terbang ke gunung jauh, mencari batu karang, memilih yang paling baja dari bebatuan itu, mematuknya, menggigitnya,

Manusia Yogya memiliki potensial untuk “hamengku” alias sikap memangku berbagai formulasi peradaban. Semua hasil “ijtihad” kosmologi

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

sekeras-kerasnya, sekuat-kuatnya, dan takkan dilepaskanya sampai paruhnyatanggal dari mulut dan kepalanya.

Demikian juga cakar-cakar kedua kakinya. Ia cengkeramkan ke batu paling karang, dengan daya cengkeram sekali seumur hidup, dan takkan dibatalkanya sampai lepas tanggal kuku-kukunya dari jari-jemari kedua kakinya.

Kemudian dia akan kesakitan, tergeletak, terbang dengan lemah, hinggap di seberang tempat tanpa kekuatan untuk berpegang. Rajawali mengambil keputusan untuk menderita, untuk mereguk sakit dan kesengsaraan, sampai akhirnya hari demi hari paruh dan kuku-kukunya tumbuh kembali.

Nanti setelah sempurna pertumbuhan paruh dan kuku-kuku barunya, maka barulah itu yang sejati bernama bernama paruh dan kuku-kuku Rajawali, yang membuatnya pantas disebut Garuda.

Tariklah garis pengandaian: Rajawali itu adalah Anda. Sesungguhnya yang anda lakukan adalah, pertama : keberanian mental, ketahanan jasad, ketangguhan hati dan keikhlasan rohani untuk menyelenggarakan perubahan yang bukan hanya mendasar dan mengakar, melainkan ekstra-eksistensial, kegagahan untuk merelakan segala perolehan sejarah untuk di-nol-kan kembali, dan itu probabilitasnya benar-benar terletak diantara hidup dan mati.

sekeras-kerasnya, sekuat-kuatnya, dan takkan dilepaskanya sampai paruhnyatanggal dari mulut dan kepalanya. Demikian juga cakar-cakar kedua kakinya.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kedua, pengambilan keputusan Anda sang Rajawali itu tidak mempersyaratkan sekedar keputusan hati, tapi juga keputusan akal dan nalar dengan pengetahuan yang sempurna tentang alur waktu ke depan. Keputusan itu bukan sekedar tindakan mental, tapi juga intelektual dan rohaniah. Rajawali diakui dan digelari Sang Garuda karena mengerti dan berani betapa beratnya menyangga kalimat sehari-hari yang sederhana dari Bapak Mbok dan para tetangganya di desa : yakni “mati sakjroning urip”.

Garuda Rajawali atau Rajawali Garuda itu pastilah Anda semua yang kini ada dihadapan saya. Sebab nyuwun sewu saya tidak menjumpai potensi dan kecenderungan itu di wilayah pemerintahan, di hamparan keummatan dan gerombolan-gerombolan kemasyarakatan. Termasuk di kalangan yang disebut Kaum Intelektual atau Kelas Menengah. Apalagi kaum Selebritis, meskipun gebyar beiau-beliau sangat penuh dengan kata ‘dahsyat’, ‘super’, ‘luar biasa’ dan banyak lagi ungapan-ungkapan yang penuh ketidakpercayaan diri.

Kita sedang mengalami hukuman dari suatu Negri yang terlanjur mengalami kesalahan-kesalahan sangat substansial pada filosofi kebangsaan dan kostitusi kenegaraanya. Kita sedang berada di dalam berbagai cengkeraman global dan reaksi kita adalah berjuang untuk siapa tahu bisa menjadi bagian dari pencengkeram, atau minimal sanggup membangun kenikmatan di dalam cengkeraman.

Kedua, pengambilan keputusan Anda sang Rajawali itu tidak mempersyaratkan sekedar keputusan hati, tapi juga keputusan akal

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Hukuman sejarah itu berupa kehancuran logika, kemusnahan nalar sosial, ketidakmengertian tentang apa yang layak dikagumi dan apa yang menghancurkan martabat kemanusiaan, kebutaan untuk menentukan tokoh, pemimpin, idola, dan panutan. Kita dihukum dengan mengalami Negara yang hampir selalu gagal sebagai Negara, dengan Pemerintah yang benar-benar tidak mengerti pada tingkat elementer pun di mana sebenarnya letak Pemerintah, peranya, fungsinya, hak, dan kewajiban.

Kita dihukum dengan memiliki kekayaan alam yang melimpah dan harus membeli sangat mahal hasil kekayaan kita sendiri itu, setelah kita sewa para tetangga mancanegara untuk mengolah kekayaan itu dengan bayaran yang harus kita tanggung dengan menelan kenyataan bahwa kekayaan itu ternyata akhirnya menjadi milik mereka.

Bangsa ini sungguh-sungguh memerlukan “pengambilan keputusan paruh dan kuku Rajawali”. Namun lihatlah, potensi untuk itu betapa rendahnya, kecuali pada Anda semua yang kini berada di depan saya.

Maka di Yogya kita menggelar karya para Rajawali : Umar Kayam yang memelihara dan menjaga karakter bangsanya, Kuntowijoyo yang sungguh- sungguh berilmu Rajawali, Nasyah Djamin yang allround sanggup terbang sanggup pula melata, Muhammad Diponegoro yang mampu memasak nasi sastra di atas kompor budaya Agama lingkunganya yang hampir tanpa sumbu dan api, Linus Suryadi AG yang menyelam di latan kemesraan dan estika ‘Jawi’ gen-nya,

Hukuman sejarah itu berupa kehancuran logika, kemusnahan nalar sosial, ketidakmengertian tentang apa yang layak dikagumi dan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Suryanto Sastro atmojo penjaga simpul tali sejarah dari Astinapura, Lemoria Atlantis, Anglingdharma Batik madrim hingga Kemusu, Romo YB Mangun Wijaya yang mewasiti manusia dan masyarakat kemanusiaan, Rendra yang tidak sedia membiarkan anak-anak bangsanya merunduk rendah diri, yang senantiasa gagah karena menjaga pertanda manusia adalah kreativitasnya, serta Pak Besut yang dengan suaranyamembangun kegembiraan hidup menjadi kebesaran sehingga mengatasi segala yang bukan kegembiraan.

Siapakah yang belajar kepada Rajawali, selain Rajawali? Siapakah Rajawali itu, selain anda yang berkumpul di sini belajar kepada Gelar Karya Para Rajawali? Itulah yang diawal tulisan ini saya sebut Genre Baru Masyarakat Kebudayaan di Yogya.

Terhisap oleh hidungku bau darah dari kandungan jiwa Rajawali-Rajawali, berhembus dari kaum muda yang dating berduyun-duyun, yang hadir dan belajar dengan otentisitas dan orisinalitasnya, yang melangkahkan kaki mereka dan mengerubungi medan pembelajaran Rajawali dengan sukses mentransendensikan dirinya dari arus pusaran sejarah yang terlalu penuh sampah sepuluh tahun terahir ini.Kadipiro 6 Agustus 2010

*) (Dibacakan untuk membuka acara ‘Repertoar Maestro Sastra Yogya 2010’ di Gedung Kesenian Sositet Taman Budaya Yogyakarta, jum’at 6 Agustus 2010).

Suryanto Sastro atmojo penjaga simpul tali sejarah dari Astinapura, Lemoria Atlantis, Anglingdharma Batik madrim hingga Kemusu,

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Gunung Jangan Pula Meletus?

by Komunitas Kenduri Cinta Ditulis oleh: Emha Ainun Nadjib, Sumber: Kiai Bejo Kiai Untung Kiai Hoki, Gramedia Pustaka Utama, 2007

Khusus untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai- nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.

“Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!” aku menyerbu.

“Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,” Sudrun menyambut dengan kata-kata, yang seperti biasa, menyakitkan hati.

“Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?”

Gunung Jangan Pula Meletus? by Komunitas Kenduri Cinta Ditulis oleh: Emha Ainun Nadjib, Sumber: Kiai Bejo

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga.”

“Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?”

“Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan.”

“Termasuk Kiai….”

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.

“Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?”

“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga.” “Orang Aceh-lah yang selama

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.

“Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan? Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?” katanya.

Aku menjawab tegas, “Ya”

“Kalau Tuhan diam saja bagaimana?”

“Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan terus mempertanyakan.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kapan pun!”

“Sampai mati?”

“Ya!”

“Kapan kamu mati?”

“Gila!”

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari kata-kataku. Badannya terguncang-guncang. “Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu tabuh genderang perang menantangNya!”

“Aku ini, Kiai!” teriakku, “datang kemari, untuk merundingkan hal- hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah diktator dan otoriter….”

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.

“Kamu jahat,” katanya, “karena ingin menghindar dari kewajiban.”

“Kewajiban apa?”

“Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu- satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah.

Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya."

"Ainun, Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini…” -ia meraih lengan saya dan menyeret ke tembok- “Kupinjamkan dinding ini kepadamu….”

“Apa maksud Kiai?” aku tidak paham.

“Pakailah sesukamu”

“Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Emang untuk apa?”

“Misalnya untuk membenturkan kepalamu….”

“Sinting!”

“Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh.”

Ia membawaku duduk kembali.

“Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk manusia menurut pertimbanganmu?” ia pegang bagian atas bajuku.

“Kamu tahu Muhammad?” ia meneruskan, “Tahu? Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, tahu? Ia manusia mutiara yang memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi. Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang rumahnya 4,80 m, lebar 4,62 m. Ia manusia yang paling dicintai Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang

“Emang untuk apa?” “Misalnya untuk membenturkan kepalamu….” “Sinting!” “Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa bencana, Tuhan yang kalian salahkan?”

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke belakang.

“Kiai

” kata saya agak pelan, “Aku ingin mempertahankan keyakinan bahwa icon

.. utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim….”

“Sangat benar demikian,” jawabnya, “Apa yang membuatmu tidak yakin?”

“Ya Aceh itu, Kiai, Aceh…. Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi.”

kampung Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi.”

“Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu….”

“Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial, Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?”

“Aceh, Kiai, Aceh.”

“Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia. Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua pihak”

“Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi.” “Terserah

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan.”

“Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu. Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah keburukan? berhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika kamu mati.”

“Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa, sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat hidup nikmat sejahtera?”

“Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya, sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya kepada rakyatnya malah panjang umurnya?”

“Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar dibayangkan akan mampu tertanggungkan.” “Dunia bukan tempat

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Gusti Gung Binathoro!” saya mengeluh, “Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan.”

“Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri- maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan bagi yang masih dibiarkan hidup.”

“Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai ketidakadilan….”

“Alangkah dungunya kamu!” Sudrun membentak, “Sedangkan ayam menjadi riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia sedang riang dan bersyukur”

“Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera hidupnya?”

“Gusti Gung Binathoro!” saya mengeluh, “Kami semua dan saya sendiri, Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia, dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada kemungkinan….”

“Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!” aku memotong, karena ngeri membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.

“Bilang sendiri sana sama gunung!” ujar Sudrun sambil berdiri dan ngeloyor meninggalkan saya.

“Kiai!” aku meloncat mendekatinya, “Tolong katakan kepada Tuhan agar beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam….”

“Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan, kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?”

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

“Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka sehingga selama satu dua bulan terakhir

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Gusti, Kok Pas Sih

....

!

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 28 Januari 2010 jam 8:51 Catatan: Munzir Madjid

NAMANYA “Muhammad Ainun Nadjib,” diutak-atik sendiri menjadi “Emha Ainun Nadjib.” Sejak tahun 1970-an namanya mulai dikenal sebagai penyair dari Jogja. Wilayah jelajah berikutnya sebenarnya tidak melulu di dunia kepenyairan.

Bahkan pertengahan 1960-an, kala masih tercatat sebagai pelajar SMA, sudah dipercaya mengasuh rubrik “Sastra-Budaya” di sebuah harian lokal Jogjakarta. Tahun 1980-an mulai melanglang dunia; ke Amerika Serikat, Filipina, Jerman, Belanda dan lorong-lorong Negara Eropa yang lain. Di tahun 80-an pula, tulisan- tulisannya mulai memenuhi berbagai majalah dan harian nasional. Undangan-pun berdatangan dari berbagai kalangan untuk dijadikan nara sumber lintas disiplin keilmuan.

Orang-orang terbiasa memanggilnya “Cak Nun.” Panggilan khas jawatimuran karena Emha berasal dari Jombang, Jawa Timur. Yang memanggil “Emha” juga tidak sedikit, terutama dari pergaulan dengan kalangan di luar Jogja dan Jawa Timur. Emha sendiri tidak terlalu peduli dengan berbagai panggilan itu, bahkan ada yang menjuluki “Kiai Mbeling.” Barangkali karena dalam berbagai

Gusti, Kok Pas Sih .... ! oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 28 Januari 2010 jam 8:51

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

kesempatan, baik dalam tulisan atau ucapan-ucapannya, Emha sangat fasih menyitir ayat-ayat Al Qur’an. Mungkin pula orang mau memanggil “Kiai” tanpa embel-embel “Mbeling” masih agak diragukan, kurang rela dan tidak pantas.

Beda lagi orang Makassar. Emha selalu dipanggil dengan “Cak Nung.” Saya tidak tahu kenapa lidah orang Makassar susah mengucapkan “Nun,” sebab bila nama Anda “Agung” akan dipanggil “Mas Agun.” Yang ini kebalik ‘kan, susah melafalkan “Mas Agung.”

Maka jangan heran jika di suatu tempat Emha dipanggil “Bapak Cak Nun,” sebagaimana orang keliru memanggil Bung Karno dengan “Bapak Bung Karno” atau Gus Dur dipanggil “Bapak Gus Dur.” Atau malah dikelira-kelirukan dengan “Cak Nur” (Nurcholish Madjid, Allah yarham).

<“Cak Nur kan?” seseorang menodong di Bandara Soekarno Hatta.

Emha kebingungan menjawabnya, jika dijawab tidak, kasihan juga.

“Cak Nur kan?”

kesempatan, baik dalam tulisan atau ucapan-ucapannya, Emha sangat fasih menyitir ayat-ayat Al Qur’an. Mungkin pula orang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Emha hanya tersenyum.

“Iya, Nurcholish Ainun Nadjib kan?”

Saya sebenarnya bingung mau menulis apa tentang Emha, memulai dari mana dan menuju kemana. Banyak sekali memori saya tentang Emha, selama bertahun- tahun bergaul sampai sekarang. Beberapa kawan menyarankan saya menulis lagi sebagaimana tulisan-tulisan berseri yang pernah saya tuturkan. Saya bukan orang yang cerdas menyerap ilmu lalu saya deskripsikan dalam sebuah tulisan dengan berbagai analisa. Jadi mohon maaf, kalau tulisan ini hanya “wadag,” dan bukan “ruh.” Terlebih memohon maaf kepada Emha, jika ternyata tuturan saya tidak pas atau malah berlebihan.

Dalam suatu acara, seorang MC memanggil, “Kami persilakan Bapak KH Emha

Ainun Nadjib, yang kita kenal sebagai Cak Nun

...

Sejak kapan Emha menjadi haji, saya membatin. Memang pada saat itu Emha belum berangkat haji, bahkan ke Makkah-pun belum pernah. Dan ‘haji’ dalam pemahaman kita juga bukan titel sebagaimana rukun Islam lain.

Emha hanya tersenyum. “Iya, Nurcholish Ainun Nadjib kan?” Saya sebenarnya bingung mau menulis apa tentang Emha,

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Beberapa kali sahabat-sahabatnya ‘memaksa’ Emha untuk berangkat haji, dengan fasilitas ONH Plus-nya. Dengan cara halus Emha selalu menolaknya. Seorang pejabat penting mengirim ajudannya dengan membawa amplop berisi ribuan US Dollar untuk ongkos naik haji. Setelah amplop diterima dan dibuka isinya lalu Emha menyerahkan kembali kepada sang ajudan. Entahlah, apakah amplop diserahkan kembali kepada sang pejabat, atau diam-diam tidak diserahkan dengan alasan jika dikembalikan mendapat resiko dimarahi. Nilai nominalnya banyak lho, taruhlah misalnya USD 10.000 dikalikan kurs sekarang. Wallahu a’lam.

Barangkali pejabat tadi, yang sangat akrab dengan Emha, melihat Emha belum juga mau berangkat haji, meminta lagi kepada Emha untuk kesekian kalinya. Kali ini Emha mau menerima ongkos naik haji, tapi bukan untuk dirinya melainkan untuk beberapa orang miskin di kampungnya. Kalau Anda bertanya kapan kejadiannya, saat musim haji berbarengan dengan musibah terowongan Mina.

Lagi, di Bandara Soekarno Hatta. Seseorang wanita paruh baya mendatangi Emha. Emha sendiri merasa tidak mengenalnya. Emha berencana menuju Surabaya lalu ke Jombang. Saat sedang beracara di Jakarta dikabari bahwa salah satu kakaknya mendapat musibah kecelakaan mobil dan di rawat di RSUD Jombang.

“Mas Emha kan?” wanita berwajah oriental itu menyapa.

Beberapa kali sahabat-sahabatnya ‘memaksa’ Emha untuk berangkat haji, dengan fasilitas ONH Plus-nya. Dengan cara halus Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Iya bu,” Emha dengan santun menjawabnya.

“Saya ada titipan, mohon diterima,” wanita itu memohon.

“Terima kasih bu,” Emha menerima amplop dengan ucapan terima kasih.

Aneh. Mereka tidak saling kenal dan tidak saling memperkenalkan diri. Kejadiannya sangat cepat. Emha tersadar, kok tidak bertanya namanya siapa, dan ini amplop apa.

Sampailah Emha di RSUD Jombang dan menjenguk sang kakak. Lalu seseorang menyerahkan kwitansi pembiayaan pengobatan. Buru-buru Emha menuju toilet dan membuka isi amplop. Amplop berisi uang itu dihitung dan disesuaikan dengan tagihan biaya rumah sakit. Emha terkejut, nominalnya sangat pas.

“Gusti, syukur Alhamdulillah, tapi mbok yao dilebihin barang limapuluh ribu-

lah

...

!”

Emha mengucap dalam batin. []

Jkt, 26.01.2010. 11:41

“Iya bu,” Emha dengan santun menjawabnya. “Saya ada titipan, mohon diterima,” wanita itu memohon. “Terima kasih

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Hijrah dan Kultus Individu

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 26 Februari 2010 jam 9:44 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Tidak ada satu peristiwa apa pun dalam kehidupan yang dihuni oleh manusia ini yang tidak bersifat hijrah. Seandainya pun ada benda yang beku, diam dan seolah sunyi abadi: ia tetap berhijrah dari jengkal waktu ke jengkal waktu berikutnya.

Orang jualan bakso menghijrahkan bakso ke pembelinya, dan si pembeli menghijrahkan uang ke penjual bakso. Orang buang ingus, buang air besar, melakukan transaksi, banking, ekspor impor, suksesi politik, revolusi, apapun saja, adalah hijrah.

Tidak ada satu peristiwa apa pun dalam kehidupan yang dihuni oleh manusia ini yang tidak bersifat hijrah. Seandainya pun ada benda yang beku, diam dan seolah sunyi abadi: ia tetap berhijrah dari jengkal waktu ke jengkal waktu berikutnya.

Orang jualan bakso menghijrahkan bakso ke pembelinya, dan si pembeli menghijrahkan uang ke penjual bakso. Orang buang ingus, buang air besar,

Hijrah dan Kultus Individu oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 26 Februari 2010 jam 9:44 Ditulis Oleh:

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

melakukan transaksi, banking, ekspor impor, suksesi politik, revolusi, apapun saja, adalah hijrah.

Inti ajaran Islam adalah hijrah. Icon Islam bukan Muhammad, melainkan hijrah. Muhammad hanya utusan, dan Allah dulu bisa memutuskan utusan itu Darsono atau Winnetou, tanpa ummat manusia men-demo Tuhan kenapa bukan Muhammad. Oleh karena itu hari lahirnya Muhammad saw. Tidak wajib diperingati. Juga tidak diletakkan sebagai peristiwa nilai Islam. Hari lahir Muhammad kita ingat dan selenggarakan peringatannya semata-mata sebagai peristiwa cinta dan ucapan terima kasih atas jasa-jasanya melaksanakan perintah Tuhan.

12 Rabiul Awal bukan hari besar Islam sebagaimana Natal bagi ummat Kristiani. Sekali lagi, itu karena Islam sangat menghindarkan ummatnya dari kultus individu. Wajah Muhammad tak boleh digambar. Muhammad bukan founding father of islam. Muhammad bukan pencipta ajaran, melainkan pembawa titipan. Tahun Masehi berdasarkan kelahiran Yesus Kristus, sementara Tahun Hijriyah berdasarkan peristiwa hijrah Nabi, yang merupakan momentum terpenting dari peta perjuangan nilainya. Kesadaran hijriyah menghindarkan ummat dari penyembahan individu, membawanya menyelam ke dalam substansi ajaran -- siapa pun dulu yang diutus oleh Tuhan untuk membawanya.

melakukan transaksi, banking, ekspor impor, suksesi politik, revolusi, apapun saja, adalah hijrah. Inti ajaran Islam adalah

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Hijrah adalah pusat jaring nilai dan ilmu. Dari gerak dalam fisika dan kosmologi hingga perubahan dan transformasi dalam kehidupan sosial manusia. Manusia Muslim tinggal bersyukur bahwa wacana dasar hijrah sedemikian bersahaja, bisa langsung dipakai untuk mempermatang cara memasak makanan, cara menangani pendidikan anak-anak, cara mengurus organisasi dan negara.

Hijrah Muhammad saw. dan kaum Anshor ke Madinah, di samping merupakan pelajaran tentang pluralisme politik dan budaya, juga bermakna lebih esoterik dari itu.

Peristiwa Isra' Mi'raj misalnya, bisa dirumuskan sebagai peristiwa hijrah, perpindahan, atau lebih tepatnya transformasi, semacam proses perubahan atau 'penjelmaan' dari materi ke (menjadi) energi dan ke (menjadi) cahaya.

Sebenarnya sederhana saja. Kalau dalam ekonomi: uang itu materi, kalau diputar atau digerakkan atau 'dilemparkan' maka menjadi enerji. Itu kejadian isro' namanya. Tinggal kemudian enerji ekonomi itu akan digunakan (dimi'rajkan) untuk keputusan budaya apa. Kalau sudah didagangkan dan labanya untuk beli motor: motornya dipakai untuk membantu anak sekolah atau sesekali dipakai ke tempat pelacuran.

Hijrah adalah pusat jaring nilai dan ilmu. Dari gerak dalam fisika dan kosmologi hingga perubahan dan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Di dalam teknologi, tanah itu materi. Ia bisa ditransformasikan menjadi genting atau batu-bata. Logam menjadi handphone, besi menjadi tiang listrik, atau apapun. Tinggal untuk apa atau ke mana mi'rajnya.

Peristiwa isro' bergaris horisontal. Negara-negara berteknologi tinggi adalah pelopor isro' dalam pengertian ini. Pertanyaannya terletak pada garis vertikal tahap mi'raj sesudahnya. Kalau vertikal ke atas, berarti transform ke atau menjadi cahaya. Artinya produk-produk teknologi didayagunakan untuk budaya kehidupan manusia dan masyarakat yang menyehatkan jiwa raga mereka dunia akhirat. Kalau garis vertikalnya ke bawah, berati transform ke atau menjadi kegelapan. Mesiu Cina diimport ke Eropa menjadi peluru, meriam dan bom. Kita bisa dengan gampang menghitung beribu macam produk teknologi isro' pemusnah manusia, perusak mental dan moral masyarakat.

Dalam pengertian umum dan baku selama ini, Isra' Mi'raj selain merupakan peristiwa besar dalam sejarah, namun pada umumnya berhenti sebagai wacana dongeng, dan belum digali simbol-simbol berharganya atas idealitas etos tranformatif.

Dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan rumus di atas, segala sesuatu yang menyangkut kehidupan manusia-baik di bidang ekonomi, politik, sosial budaya

Di dalam teknologi, tanah itu materi. Ia bisa ditransformasikan menjadi genting atau batu-bata. Logam menjadi handphone,

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

dan sebagainya-terjadi secara berputar membentuk bulatan. Yang sehari-hari sajapun: badan kita (materi), tentu, jika tidak diolah-ragakan (dienergikan), mengakibatkan tidak sehat. Tidak sehat adalah kegelapan.

Setelah badan kita sehat dan menyehatkan, lantas dipergunakan untuk kegiatan yang baik, yang memproduk cahaya bagi batin kehidupan kita, serta bermanfaat seoptimal mungkin bagi sesama manusia dan alam-lingkungan.

dan sebagainya-terjadi secara berputar membentuk bulatan. Yang sehari-hari sajapun: badan kita (materi), tentu, jika tidak diolah-ragakan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Humor

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 26 Juli 2010 jam 11:43 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Humor orisinal dari kehidupan sehari-hari adalah bahasa atau ungkapan budaya yang paling canggih dalam penggambaran inti realitas zaman. Kalau tulisan atau buku-buku ilmiah, harus berputar-putar dulu kalau hendak membawa kita ke realitas. Mesti melalui jalan metodologi dan terminologi yang ruwet, yang hanya bisa dijangkau oleh hanya sebagian orang yang punya uang untuk sekolah.

Sementara sepotong humor langsung saja membenturkan kita ke inti kenyataan. Humor adalah sinar laser yang amat tajam, yang mengirimkan kita secara sangat pragmatis untuk mengerti terhadap sesuatu hal.

Humor oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 26 Juli 2010 jam 11:43 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Indonesia Maafkan Aku

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 17 Agustus 2010 jam 11:08 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Indonesia maafkan aku tak ada yang bisa kuperbuat untukmu karena engkau terlalu besar untukku dan aku terlalu kecil untukmu

Indonesia maafkan aku tak bisa menolongmu karena engkau terlalu kuat bagiku dan aku terlalu lemah bagimu

Indonesia maafkan tak ada peran yang bisa kupersembahkan kepadamu karena engkau terlalu agung untuk kupahami dan aku terlalu kerdil dan tak berarti bahkan memalukan untuk menjadi bagian darimu

Indonesia Maafkan Aku oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 17 Agustus 2010 jam 11:08 Ditulis Oleh: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Indonesia maafkan kakiku tak sanggup melangkah untukmu tanganku tak mampu bergerak buatmu engkau semesta gaib yang tak mampu kujangkau dan aku daun kering layu, mengotori tanah sucimu

Indonesia maafkan aku tak sanggup mengikuti jalanmu karena langkahmu langkah cakrawala sedangkan aku cacing melata

Indonesia maafkan aku berpaling karena wajahmu terlalu berkilause hingga tak sanggup aku menatapmu

Indonesia karena tak ada satupun dari perilakumu yang sanggup kumengerti maafkan aku abstain ... aku abstain ... *) diambil dari pementasan Jangan Cintai Ibu Pertiwi GKJ 2-3 April 2009

Indonesia maafkan kakiku tak sanggup melangkah untukmu tanganku tak mampu bergerak buatmu engkau semesta gaib yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Industri dan Sportivitas Sepakbola

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 29 Juni 2010 jam 10:53 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Lucunya, kalau sportivitas nomer satu, industri sepakbola tidak jalan. Sportivitas hanya aktual di wilayah-wilayah romantik. Masing-masing kita menjagokan kesebelasan sendiri-sendiri. Pertimbangan kita bukan sportivitas, melainkan selera pribadi.

Sedangkan orang yang mengerti ilmu sejati, berkata: “Engkau menjadi lemah dan kelak bisa menjadi celaka kalau menjalankan hidup bersadarkan senang dan tidak senang, mengandalkan selera pribadi dan kemauan sendiri. Manusia yang kuat dan akan menemukan hakekat hidup adalah yang melangkahkan kaki berdasarkan pilihan yang benar, baik dan indah, serta meninggalkan yang salah, buruk, dan konyol".

Industri dan Sportivitas Sepakbola oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 29 Juni 2010 jam 10:53 Ditulis Oleh:

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

”Islamic Valentine Day”

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 14 Februari 2010 jam 8:08 Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

JUDUL ini harus dikasih tanda petik di awal dan akhir, karena sesungguhnya itu istilah ngawur dari sudut apapun kecuali dari sisi iktikad baik tentang cinta kemanusiaan.

Islam bukan kostum drama, sinetron atau tayangan-tayangan teve Ramadan. Islam itu substansi nilai, juga metodologi.Ia bisa memiliki kesamaan atau perjumpaan dengan berbagai macam substansi nilai dan metodologi lain, baik yang berasal dari ”agama” lain, dari ilmu-ilmu sosial modern atau khasanah tradisi. Namun sebagai sebuah keseluruhan entiti, Islam hanya sama dengan Islam.

Bahkan Islam tidak sama dengan tafsir Islam.Tidak sama dengan pandangan pemeluknya yang berbagai-bagai tentang Islam. Islam tidak sama dengan Sunni, Syi’i, Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir dan apapun saja aplikasi atas tafsir terhadap Islam. Islam yang sebenar-benarnya Islam adalah dan hanyalah Islam yang sejatinya dimaksudkan oleh Allah.

Semua pemeluk Islam berjuang dengan pandangan-pandangannya masingmasing mendekati sejatinya Islam. Sehingga tidak ada satu kelompok pun yang legal dan logis untuk mengklaim bahwa Islam yang benar adalah Islamnya kelompok ini atau itu. Kalau ada teman melakukan perjuangan ”islamisasi”, ”dakwah Islam”,

”Islamic Valentine Day” oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 14 Februari 2010 jam 8:08 Ditulis Oleh: Muhammad

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

”syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan ”Negara Islam Indonesia” – yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka masingmasing.

Dan Islamnya si A si B si C tidak bisa diklaim sebagai sama dengan Islamnya Allah sejatinya Islam. Demikianlah memang hakekat penciptaan Allah atas kehidupan. Sehingga Islam bertamu ke rumahmu tidak untuk memaksamu menerimanya. La ikroha fid-din.Tak ada paksaan dalam Agama, juga tak ada paksaan dalam menafsirkannya. Tafsir populer atas Islam bahkan bisa menggejala sampai ke tingkat pelecehan atas Islam itu sendiri.

Islam bisa hanya disobek-sobek, diambil salah satu sobekannya yang menarik bagi seseorang karena enak dan sesuai dengan seleranya. Islam bisa diperlakukan hanya dengan diambil salah satu unsurnya, demi mengamankan psikologi subyektif seseorang sesudah hidupnya ia penuhi dengan pelanggaran- pelanggaran terhadap Islam.

Islam bisa hanya diambil sebagai ikon untuk mengkamuflase kekufuran, kemunafikan, kemalasan pengabdian,korupsi atau keculasan. Islam bisa dipakai untuk menipu diri, diambil satu faktor pragmatisnya saja: yang penting saya sudah tampak tidak kafir, sudah merasa diri bergabung dengan training shalat, sudah kelihatan di mata orang lain bahwa saya bagian dari orang yang mencari sorga, berdzikir ingat keserakahan diri dan keserakahan itu bisa dihapus dengan beberapa titik air mata di tengah ribuan jamaah yang berpakaian putih-putih bagaikan pasukan Malaikat Jibril.

”syiar Islam”, bahkan perintisan pembentukan ”Negara Islam Indonesia” – yang sesungguhnya mereka perjuangkan adalah Islamnya mereka

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan film, diskusi pengajian, yang penting dikasih kostum Islam.Tentu saja tidak usah kita teruskan sampai tingkat menyelenggarakan tayangan ”Gosip Islami”, ”Lokalisasi Pelacuran Islami”, ”Peragaan Busana Renang Wanita Muslimah” atau pertandingan volley ball wanita muslimah berkostum mukena putih-putih. Sampai kemudian dengan tolol dan ahistoris kita resmikan salah satu hari ganjil di tengah sepuluh hari terakhir Ramadan sebagai Hari Valentine Islami.

Tapi sesungguhnya saya serius dengan makna Hari Kasih Sayang Islam versi Rasulullah Muhammad SAW. Fathu Makkah, yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubiiina, kemenangan yang nyata, terjadi pada Bulan Ramadan, tepatnya pada tanggal 10 Ramadan tahun ke-8 Hijriyah. Pasukan Islam dari Madinah merebut kembali kota Makkah. Diizinkan Allah memperoleh kemenangan besar. Ribuan tawanan musuh diberi amnesti massal.

Rasulullah berpidato kepada ribuan tawanan perang: ”

hadza laisa yaumil

... malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah,wa antumut thulaqa

”.Wahai

.... manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih

sayang, dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing. Pasukan Islam mendengar pidato itu merasa shock juga. Berjuang hidup mati,diperhinakan dilecehkan sekian lama, ketika kemenangan sudah di genggaman: malah musuh dibebaskan. Itu pun belum cukup. Rasulullah memerintahkan papasan perang, berbagai harta benda dan ribuan onta, dibagikan kepada para tawanan.

Sedemikian rupa sehingga kita selenggarakan dan lakukan berbagai formula dunia modern, industri liberal, mode show, pembuatan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka dikumpulkan dan Muhammad SAW bertanya: ”Sudah berapa lama kalian bersahabat

denganku?” Mereka menjawab: sekian tahun, sekian tahun

”Selama kalian

... bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau

tidak mencintai kalian?”

Tentu saja sangat mencintai. Rasulullah mengakhiri pertanyaannya: ”Kalian memilih mendapatkan onta ataukah memilih cintaku kepada kalian?” Menangislah mereka karena cinta Rasulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan langit. Tentu saja, andai kita berada di situ sebagai bagian dari pasukan Islam, kelihatannya kita menjawab agak berbeda:

”Sudah pasti kami memilih cinta Rasulullah onta dan emas barang segram dua gram

...

tapi kelau boleh mbok ya juga diberi (Sindo, 21/09/2007)

...

Sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa. Sehingga mengeluh dan memproteslah sebagian pasukan Islam kepada Rasulullah. Mereka

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kangen

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 20 Januari 2010 jam 13:09 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Kangen itu baik. Kangen itu mahluk ciptaan Allah yang tergolong paling indah. Ia mutiara batin, atau api yang menghidupkan jiwa. Karena kangen yang menggebu, dulu Ibrahim mengembarai bumi dan langit bertahun-tahun, untuk akhirnya menemukan apa yang paling dibutuhkan oleh hidupnya: Allah.

Oleh kangen yang tak tertahan pula, Musa bermaksud membelah kodrat, menerobos maqom dan ingin memergoki Allah yang amat dicintainya. Tentu saja gagal, sebab ketika itu ia masih manusia, masih darah daging.

Kangen membuat seorang istri paham arti kehidupan. Kangen membikin suaminya, yang pergi nun jauh, membatalkan penyelewengannya sebagai lelaki. Kangen mendorong seorang gadis menancapkan cintanya lebih dalam. Kangen membuat pemuda kekasihnya mengerjakan kesibukan-kesibukan baik untuk memelihara kebersihan rindu yang dinikmatinya. [ ...]

Kangen oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 20 Januari 2010 jam 13:09 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” - I

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 19 Mei 2010 jam 11:23 Catatan: Kang Munzir

Yasinan

Seorang berteriak lantang, mengagetkan semua orang. “Api, api

!” Matanya

.... melotot ke atas seolah melihat hal yang menakjubkan. Kedua tangannya digerakkan mengikuti irama teriakan bak seorang pembaca puisi. “Lihatlah, aku

melihat api

...

!”

Orang-orang berdatangan usai magrib. Tikar dan karpet telah tertata rapi di ruang tamu dan ruang tengah. Sebagian mahasiswa, seniman dan pengangguran. Beberapa wajahnya tidak terlalu asing karena rutin datang ke Patangpuluhan, rumah kontrakan Emha Ainun Nadjib.

Entah sejak kapan, tiap Kamis (malam Jumat) diselenggarakan Yasinan, membaca QS Yasin. “Santri-santri” mahasiswa mengaji, yang lain, mungkin kurang tartil atau berbeda agama, duduk santun di teras mendengarkan. Salah satu mahasiswa memimpin dan berdoa. Emha tentu saja ikut di lingkaran, mengaji dan menyimak.

Usai ngaji, orang-orang tidak beranjak. Biasanya ngobrol ngalor ngidul membahas berita yang menjadi issu nasional. Diskusi. Dari pintu belakang terlihat teh manis

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” - I oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 19 Mei 2010 jam 11:23

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

dan nasi kuning mulai dikeluarkan. Sejak sore, seksi dapur yang ditangani Mbak Roh, Dik In dan Mbak Wik (almarhumah) sudah sibuk belanja dan memasak.

Di tengah pembicaraan yang kadang panas, tiba-tiba Agus Supriyatna, seorang

mahasiswa dari Karawang berteriak seperti orang trance. Mata hampa seolah

melihat sesuatu, entah apa. “Api, api, lihatlah

....!”

Mulut terus berbunyi. Bagai

melafal bait-bait puisi. Jika hal semacam terjadi, biasanya Emha mendekat, mengelus punggungnya dan seolah membacakan sesuatu di telinga dan ubun-

ubun. Lalu berangsur tenang.

Tema-tema obrolan muncul begitu saja. Pelontar umumnya berawal dari pertanyaan-pertanyaan mahasiswa yang diajukan kepada Emha. Karena pesertanya berbeda latar belakang, maka diantara mereka sering saling ngotot mempertahankan argumen masing-masing. Kalangan mahasiswa dengan bahasa- bahasa “planet” yang bagi kalangan awam susah dipahami, nukilan-nukilan text book dengan istilah-itilah asing. Sementara yang seniman berpuitis dan berbahasa “nyufi.”

Jika malam makin larut, secara perlahan satu persatu berpamit. Pasti mereka tidak terbiasa “melek malam.” Yang lain tetap bertahan, bisa jadi dilanjut dengan permainan gaple. Main gaple seolah menebak nasib, meramal takdir. Kita tidak sanggup menghitung “balak” apa yang akan muncul. Meski jumlah kartu bisa dihitung, probabilitasnya agak susah untuk memastikan. Bahkan Emha sering agak ekstrim mengemukakan bahwa pasti “Tangan Tuhan” ikut berperan. Kartu dikocok sekian kali, kartu dibagi, masing-masing pemain tidak bisa memilih kartu terbaik. Seorang pemain ahli-pun bisa kalah jika tandem sisi kiri atau kanan ngawur cara membuang kartu. Permainan gaple (atau kartu) hampir mirip sopir

dan nasi kuning mulai dikeluarkan. Sejak sore, seksi dapur yang ditangani Mbak Roh, Dik In dan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

taxi atau tukang ojek. Tuhan-lah yang mengatur detik demi detik jalannya rejeki. Kita tidak bisa memperkirakan seberapa cepat melajukan kendaraan tatkala tiba di pojok jalan seseorang muncul dan menyetop kendaraan kita. Laju cepat sedikit orang itu belum keluar dari rumah, diperlambat, kendaraan lainlah yang distop. Pertemuan di titik antara sopir taxi dan calon penumpang adalah pertemuan agung yang diatur Tuhan.

Seorang kawan aktifis kebudayaan dari Banten yang berdiam lama di Solo, adalah lawan ulet Emha. Mereka saling mengalahkan. Saling ejek. Untuk membuktikan bahwa Tuhan juga ikut “bermain gaple,” Emha berani taruhan dengan receh lima puluh rupiah (Rp 50,- --mungkin kurs sekarang setara dengan Rp 500,-). Kali ini Emha menang bagai bandar. Ih, berjudi ya? Jangan khawatir, siapa yang menang uang receh dikumpulkan untuk makan bersama. Jelas saja kurang, pasti harus ada yang nombokin kekurangannya. Makan di waktu malam di Jogja sangat mengasyikkan. Banyak tempat bisa dikunjungi, semuanya serba murah. Mau pilih menu apa? Oseng-oseng mercon, gudeg Permata, warung “gua hira,” nasi kucing Mbah Wongso atau sayur brongkos Pojok Beteng?

Kapan sejarah ini berlangsung? Untuk mengingat bulan dan tahun, apalagi tanggal, saya agak sulit. Tampaknya akhir tahun 1980-an, 1988-1989 atau awal 1990-an. Beberapa orang yang sering muncul adalah Agung Waskito, Seteng Agus Yuniawan, Jebeng Slamet Jamaluddin, Wahyudi Nasution, Godor, Muhammad Hadiwiyono, Imam Syuhada, Hamim Ahmad, Irfan Mukhlis, Goetheng Iku Ahkin, Moh Zainuri, Joko Kamto, Novi Budiyanto, Jemek, Toro, Toto Rahardjo, beberapa aktifis mahasiswa dan LSM.

taxi atau tukang ojek. Tuhan-lah yang mengatur detik demi detik jalannya rejeki. Kita tidak bisa memperkirakan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Saya tidak berani mengklaim atau men-justifikasi bahwa kelak pengajian Padhang Bulan ber-embrio dari sini, Yasinan di Patangpuluhan. Lalu gerakan shalawat menyebar dari Jakarta, yang berawal dari idenya Cak Dil (Adil Amrullah) membuat wadah HAMAS (Himpunan Masyarakat Shalawat), setelah Emha merasa “gamang” dengan gagalnya reformasi 1).

Itulah proses. Yasinan di Patangpuluhan, Pengajian Padhang Bulan, HAMAS Jakarta, Mocopat Syafaat 17 Agustus 1999 di Jogjakarta, Kenduri Cinta dan seterusnya, yang kemudian menjadi Jamaah Maiyah.

Catatan judul. Kawah Api “Universitas Patangpuluhan” istilah ini yang pertama kali melontarkan Emha sendiri. Universitas Patangpuluhan, harus dengan tanda petik. Patangpuluhan, bukan Patang Puluhan.

Jkt.09.05.2010, 13:06 Bersambung.

1). Emha sangat aktif ikut membidani jalannya reformasi melalui pertemuan demi pertemuan dengan berbagai pihak dan mengawal prosesi 21 Mei 1998, sampai kemudian Pak Harto secara suka rela meletakkan jabatan. Namun reformasi yang diharapkan benar-benar sebagai momentum perubahan, justru tidak sesuai harapan. Habibie, wakil presiden, naik menggantikan Pak Harto sebagai presiden dengan menteri-menteri yang tidak jauh berbeda dengan Orde Baru. Lebih lengkap tercatat dalam buku kecil “Ikrar Khusnul Khatimah.” Atau “Satu Setengah Jam Bersama Pak Harto.”

Saya tidak berani mengklaim atau men-justifikasi bahwa kelak pengajian Padhang Bulan ber-embrio dari sini, Yasinan di

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” - II

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 26 Mei 2010 jam 9:31 Catatan: Kang Munzir

Guk Nuki

Di Jawa Timur panggilan yang paling populer adalah “Cak,” mengalahkan panggilan “Mas” untuk Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogjakarta). Orang Sunda terbiasa dengan “Aa.” Panggilan “Cak” lebih egaliter, tidak memandang strata sosial. Cak Ruslan, Cak Markeso (bukan Markesot), Cak Kandar, Cak Kartolo atau Cak Nur.

Ternyata ada panggilan yang lebih “ndeso” lagi, kurang populer, mungkin orang Jawa Timur-pun banyak yang sudah lupa, yaitu “Guk.” Panggilan “Guk” lebih banyak digunakan di desa-desa untuk petani, pangon, tukang ngarit dst. Saya sendiri bukan dari Jawa Timur, jika ternyata kurang pas mohon diberi pembenaran.

Markesot Sang Legenda

Tersebutlah nama Guk Nuki sebagai kawan main Emha sejak kecil. Bukan teman sekolah, karena Guk Nuki sendiri tidak tamat sekolah tingkat dasar. Bisa jadi semacam teman “nakal.” Teman mencuri mangga milik tetangga, memindahkan sandal ke tempat tersembunyi sesama kawan di langgar. Atau, mengikat sebutir garam dengan benang lalu dimasukkan ke mulut kawannya yang sedang tidur, jika

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” - II oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 26 Mei 2010 jam 9:31

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

garam dikecap secara perlahan benang diangkat. Kenakalan yang sungguh mengasyikkan. Sampai kini Guk Nuki dan Guk Nun masih berkawan akrab.

Nama aslinya, saya kurang begitu paham, Nuchin siapa gitu. Di usia remaja merantau ke pedalaman Kalimantan. Ia bergaul dengan alam yang ganas dan lingkungan dari berbagai suku. Ia bisa masuk ke suku melayu, dayak dan madura. Keahliannya merakit ulang mesin yang rusak, dari berbagai jenis. Dari kipas angin, diesel, motor, mobil dan kapal yang teronggok. Dengan kreatifitasnya ia bisa menghidupkan kembali mesin tanpa dengan spare part baru. Bisa dengan cara kanibal atau rekayasa ketrampilan tangannya.

Konon, kala tidur di bawah pohon tua di hutan pedalaman Kalimantan pernah mengalahkan para jin yang tiba-tiba mengeroyoknya. Ia “preman” juga rupanya. Dialek bicaranya sangat kental jawatimuran dan kasar. Raut mukanya dihiasi kumis dan jenggot tak teratur.

Guk Nuki ini menginspirasi Emha untuk mengangkat menjadi tulisan berseri di Surabaya Post, akhir 1980-an sampai awal 1990-an: “Markesot Bertutur.” Guk Nuki ini ya Markesot itu.

Dari cara berpikirnya yang sederhana, menjadi buah-buah pikiran yang sangat filosofis. Emha seolah menemukan “sumur ilham” untuk menjadikan “Markesot Bertutur” tulisan yang hidup, jujur, polos dan sangat bernas. Berkat tulisan berseri ini, fasilitas sekolah dan lembaga pendidikan “Al Muhammady” di Menturo, Jombang; diperbaiki. Karena Emha menghibahkan hasil honor seluruhnya untuk kelangsungan pembangunan lembaga pendidikan milik keluarga tsb.

Jkt,12.05.2010, 07:35 Bersambung.

garam dikecap secara perlahan benang diangkat. Kenakalan yang sungguh mengasyikkan. Sampai kini Guk Nuki dan Guk

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” - III

oleh Kenduri Cinta pada 02 Juni 2010 jam 10:55 Catatan: Kang Munzir

Bengkel Markesot

Yasinan di Patangpuluhan makin hari semakin banyak yang ikut bergabung. Terutama dari mahasiswa UGM, IAIN (kini UIN) dan beberapa perguruan tinggi lain; UII dan IKIP Muhammadiyah (UAD, Universitas Ahmad Dachlan). Mahasiswa- mahasiswa ini terutama dari Jamaah Shalahuddin UGM karena Sanggar Shalahuddin, yang bergiat di teater, aktivitasnya bersentuhan dengan Patangpuluhan. (Jamaah Shalahuddin lintas perguruan tinggi, tidak hanya UGM).

Di tengah perbincangan serius, tiba-tiba Markesot menyela dan membantah. Bantahannya kadang sangat tidak konteks dengan apa yang menjadi perdebatan. Hal ini berulang terjadi. Siapa saja yang berbicara selalu berhadapan dengan Markesot. Beberapa mahasiswa dibuat jengkel. Bagi mahasiswa, kalimat-kalimat Markesot tidak tersusun secara sistematis.

Markesot dan Cak Nun

Emha, yang ada di lingkaran, hanya terlihat tersenyum menyimak. Sesekali Emha meninggalkan forum masuk ke bilik pribadinya. Siapapun tahu, Emha meneruskan mengetik tulisan yang mendekati deadline beberapa surat kabar dan majalah. Surabaya Post, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Yogya Post, Suara Merdeka,

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” - III oleh Kenduri Cinta pada 02 Juni 2010 jam 10:55 Catatan:

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Wawasan, Tempo. Beberapa redaktur berkirim surat minta tulisan, untuk secara temporal dimuat; Kompas, Suara Pembaruan dst.

“Mahasiswa ini bagaimana, katanya orang pintar kok tidak paham omongan saya,” Markesot protes.

“Orang pintar itu harus memahami bahasanya orang bodoh,” Markesot masih protes.

Semua hadirin terkesiap. Markesot tidak tamat sekolah dasar tapi omongannya sangat dalam.

“Kalau saya tidak paham omongan sampeyan, ya wajar, lha saya kan tidak sekolah!” Markesot terus mencerca para mahasiswa. Matanya memerah. Tangannya diacung-acungkan. Beberapa mahasiswa di kiri kanan Markesot berusaha meredam dengan mengelus punggungnya. Markesot secara kasar membuang tangan yang mengelusnya, “Saya tidak marah...!”

Dari balik pintu Emha ikut melongok, lalu bergabung. Bantah berbantah masih berlangsung.

“Pertanyaannya adalah orang awam harus memahami orang pintar atau sebaliknya?” Emha memulai ikut berbicara.

Wawasan, Tempo. Beberapa redaktur berkirim surat minta tulisan, untuk secara temporal dimuat; Kompas, Suara Pembaruan dst.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

“Seharusnya mahasiswa, orang-orang pintar, dituntut bisa memahami bahasanya orang bodoh, bahasanya orang awam. Jangan sebaliknya. Kalian ini orang-orang beruntung, bisa sekolah tinggi. Tampunglah semua orang, tampunglah Markesot.”

Markesot merasa dibela. Hampir sebagian forum merasa kesal dengan Markesot. Karena tiap diskusi yang dibangun selalu berantakan jika ada Markesot. Ia menjadi momok. Sangat menjengkelkan. Markesot dianggap bodoh.

Itulah Guk Nuki, kawan lama “Guk Nun.” Orang yang sangat disayang Emha. Kini Markesot di Jogja.

Setelah melanglang di hutan Kalimantan, Markesot pulang ke Jombang. Kerja serabutan di kampungnya atau di Surabaya. Sesekali dipanggil untuk bantu-bantu service mobilnya Emha.

Keahlian Markesot mbenerin mobil sangat spesial. Tanpa mengganti spare part baru dengan kecerdasannya sebuah mobil ngadat bisa jalan lagi dan irit bensin. Repotnya, sewaktu-waktu mobil bermasalah sementara Markesot berhalangan tidak bisa ke Jogja, maka “terpaksa” mobil harus ditangani montir bengkel konvensional. Disitulah akan terjadi “pertarungan kultural.” Versi Markesot akan diganti semuanya oleh montir bengkel. Karena dianggap merepotkan dan tidak baku teorinya. Jalan pintasnya, ganti spare part baru. Ini kan hukum dagang, rusak sedikit harus beli yang baru. Mudah kan?

Lalu, Emha meminta tolong Toto Rahardjo untuk mencari tanah kosong untuk

dijadikan tempat mangkalnya Bengkel Markesot Jkt,26.05.2010, 09:32 Bersambung.

...

[]

“Seharusnya mahasiswa, orang-orang pintar, dituntut bisa memahami bahasanya orang bodoh, bahasanya orang awam. Jangan sebaliknya. Kalian

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” - IV

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 14 Juni 2010 jam 10:50 Catatan: Kang Munzir

Pacar Markesot

SIAPA sih Toto Rahardjo ? Pacar Markesot? Bukan.

Saya menggelar “tikar” dahulu agar cerita ini bisa dinikmati tanpa ada selaan atau banyak “interupsi.”

Entah sejak kapan Toto “menyatu” dengan Emha. Awalnya saya juga tidak begitu tahu “makhluk” dari mana, hanya medok banyumasan saja yang mudah dikenali. Saya dengan dia beda “aliran.” Saya bersama kawan-kawan dari kampus, sementara Toto adalah tokohnya LSM. Sesekali muncul, 2-3 hari ngendon di Patangpuluhan, tiba-tiba menghilang entah kemana.

Toto “anak” kesayangan Romo Mangun Widjaya, seorang pastur yang sangat “islami,” hidup menyatu di perkampungan kumuh Kali Code. Istrinya Toto semacam sekretaris pribadinya Romo Mangun.

Kawah Api: “Universitas Patangpuluhan” - IV oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 14 Juni 2010 jam 10:50

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Jangan kaget, di awal kemunculan KiaiKanjeng (1994) -–Toto salah satu pendiri—- ikut memainkan alat musik Gong. Untuk memainkan alat musik tersebut cukup sulit, kapan dipukul dan kapan berhentinya. Entah dari mana belajarnya, nyanyi saja tidak pernah.

Emha memberi mandat kepada Toto untuk mencari lokasi bakal tempat bengkel Markesot. Sebidang tanah kosong di jalan Bugisan dibangun gubugan, kios tidak permanen. Yang kerja kita-kita juga di bawah arahan “mandor” Markesot. Lalu bla bla bla berdirilah Bengkel Markesot, terpampang spanduk: Menerima Service Mobil/Motor. Dan, “slametan” pun diadakan dengan mengundang tetangga kiri kanan dan “pekok-pekok” Patangpuluhan.

Satu dua hari masih sepi. Seminggu dua minggu mulai satu dua mobil atau motor diservice. Itu juga masih orang-orang dekatnya Emha. Emha tidak segan ikut mempromosikan.

Dalam kehidupan keseharian Markesot memang sering menjengkelkan. Perbedaan kultur dan budaya “preman” ikut mewarnai. Saya seringkali berantem omong. Masalahnya juga hal remeh temeh, sama sekali bukan prinsip. Saking ngeyelnya saya, entah masalah apa, tiba-tiba Markesot mengeluarkan “simpanan”-nya. Semua terkesiap. Sebilah celurit diambil dari almari. Lha kok ada celurit di almari? Padahal almari itu pakainya rame-rame, pakaian saya disimpan disitu juga.

Jangan kaget, di awal kemunculan KiaiKanjeng (1994) -–Toto salah satu pendiri—- ikut memainkan alat musik Gong.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Takut? Jelas mengkeretlah. Markesot memang temperamental. Oleh kawan saya, Imam Syuhada, Markesot diajak ngobrol hal lain. Diambil hatinya agar emosinya menurun. Agak lega saya. Terima kasih tak terhingga untuk: Imam Syuhada

Konflik kecil-kecilan ini tanpa sepengetahuan Emha. Pasti dia akan marah. Seharusnya kitalah yang memahami dan menampung Markesot. Untuk beberapa saat saya dan Markesot saling diam. Kalau disapa melengos dan diam. Asem. Jelek banget.

Jangan khawatir, tidak lama kok. Kita hidup satu atap (tanpa perkawinan), di rumah kontrakan milik Emha, rumah Patangpuluhan. Apa yang disuguhkan di meja kita makan bersama dalam kesederhanaan. Sesekali jalan mencari soto atau makanan khas kaki lima.

“Orang Jogja malas!” kata Markesot di warung. “Kenapa memang?” tanya saya kaget. “Nyuguhin teh ndak mau ngaduk!” “Hahaha, oh itu.”

Teh manis di Jogja memang nyamleng. Wangi dan enak. Karena sering dijog ulang, gulanya hampir setengah gelas. Penjual tidak pernah mengaduk. Penikmatlah yang mengaduk sesuai selera kadar manisnya. Budaya ini yang belum dipahami Markesot.

Takut? Jelas mengkeretlah. Markesot memang temperamental. Oleh kawan saya, Imam Syuhada, Markesot diajak ngobrol hal lain.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Markesot, kala itu usianya 40-an tahun. Jejaka kasep. Badan tegap, tangan kaki kekar. Rambut sedikit gondrong dengan kumis dan jambang tak beraturan. Salah seorang adik laki-lakinya sedang kuliah di Surabaya, bergiat juga di teater.

Sering saya pergoki, Markesot menerima tamu seorang wanita, usianya relatif sama. Berkelakar dan saling cubit. Ah, sudah tuwek pacaran juga, bikin iri saja.

Siapa wanita “sial” yang, kok, mau-maunya pacaran dengan Markesot? Ia seorang lulusan sarjana, dan menempati posisi penting di perusahaan Kereta Api yang berpusat di Bandung. Tiap akhir pekan, Sabtu atau Minggu datang dari Bandung ke Patangpuluhan, Jogjakarta, menjenguk sang pujaan hati, Markesot. Tidak jelas kisah asmaranya. Dari beberapa sumber, wanita ini sudah lama sekali menjalin kasih dengan Markesot, namun Markesot malah merantau belasan tahun. Cinta lama bersemi kembali. Kelak, wanita ini dipersunting oleh Markesot. Pernikahan beda status sosial. Why not?

Kembali ke bengkel. Sebulan sudah berjalan, bulan-bulan berikutnya menyusul; kok bengkelnya masih sepi juga. Maksud saya, konsumen ada satu dua dalam sehari, tiga empat sampai lima, namun kok pendapatan sekedar untuk makan minum saja sering nombok.

Wah, jangan-jangan Markesot korupsi. Apa yang didapat tidak berterus terang, tidak dilaporkan, atau ada sesuatu yang disembunyikan.

Markesot, kala itu usianya 40-an tahun. Jejaka kasep. Badan tegap, tangan kaki kekar. Rambut sedikit gondrong

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Secara tidak sengaja ada yang memberi info, bahwa Markesot “terlalu baik.” Jika ada orang kena apes, ban motornya gembos kena paku, misalnya, dengan senang hati Markesot akan menambalnya, meski resminya Bengkel Mobil/Motor; bukan tambal ban. Anehnya, jika dilihat orang yang kena apes itu potongannya orang susah, maka Markesot tidak mau dibayar. Oh, ini tho biang keladinya.

Bisa diduga, semua konsumen diperlakukan sama; bayar murah. Apalagi jika sudah saling mengenal. Gratis.

“Lho kok gak mau dibayar Cak?” “Mesakno, kena apes masa harus bayar.” “Lha ini bengkel, siapapun harus bayar.” “Menolong kan baik!”

Sangat naif. Bengkelnya akhirnya ditutup. Bangkrut. Besar pasak dari pada tiang. Untuk membayar uang kontrakan tahun berikutnya tidak mencukupi.

“Markesot bukan pedagang,” kata Emha.

Jkt,08.06.2010, 01:00 Bersambung.

Secara tidak sengaja ada yang memberi info, bahwa Markesot “terlalu baik.” Jika ada orang kena apes,

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kekuatan Yang Mendasari Kekuatan

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 24 Februari 2010 jam 11:22 Ditulis Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh

Sembilan tahun yang lalu, ketika masih merantau di negeri orang, ada momentum di mana saya menggelandang beberapa bulan, tak punya tempat tinggal dan tak begitu punya uang, sehingga sempat menjadikan sebuah masjid terbesar di kota itu sebagai tempat tinggal. Tempat di mana saya mendapatkan sebuah jawaban menarik dari sebuah pertanyaan sederhana. Pertanyaan itu adalah, “kenapa saya merasa bahwa umat Islam terasa lebih solid di negara non-Islam daripada negara yang mayoritas beragama Islam?” Jawaban dari Syeikh di mesjid tersebut, ”di mana pun, minoritas punya kecenderungan untuk berkumpul bersama demi membangun sebuah kekuatan. Dengan syarat di antara mereka harus mampu melupakan/menghargai perbedaan-perbedaan kecil di antara mereka.”

Ini bukan tentang Islam. Ini kecenderungan psikologi manusia di mana yang merasa minoritas biasanya akan bereaksi dengan berkumpul bersama, berorganisasi, bikin gank atau apalah, demi mendapatkan sebuah kekuatan dari jumlah yang besar.

Kalau mau jujur, sepertinya jamaah Maiyah juga bisa dikatakan semacam ‘kumpulan’ orang-orang. Saya pribadi belum berani mengambil kesimpulan apakah anggotanya adalah kumpulan orang-orang minoritas atau bukan. Yang pasti kita bisa mencari sebenarnya jenis ‘kekuatan‘ yang mana yang dicari oleh Jamaah Maiyah ini. Politik, ekonomi, sosial-budaya?

Kekuatan Yang Mendasari Kekuatan oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 24 Februari 2010 jam 11:22 Ditulis Oleh:

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kekuatan politik. Untuk menjadi sebuah kekuatan politik, sekumpulan orang seharusnya (harus ala Indonesia) membentuk sebuah partai politik. Ada anggotanya, ada organisasinya, ada pengurusnya dan tak lupa ada lambangnya untuk dicoblos. Oh, maksud saya dicontreng. Tapi sepengamatan saya Jamaah Maiyah belum pernah bergerak ke arah itu. Berarti mungkin bukan kekuatan politik yang dicari.

Kekuatan ekonomi. Untuk menjadi kekuatan ekonomi, sekumpulan orang biasanya membuat sebuah perusahaan, atau minimal perjanjian di antara mereka. Yang efeknya adalah, mereka yang ada dalam perjanjian tersebut merupakan satu entitas di mata dunia ekonomi. Contohnya begini, saham perusahaan bisa berfluktuasi sesuai keadaan pasar global. Akan tetapi gaji pekerja dalam perusahaan tidak fluktuatif seperti sahamnya. Jadi perkumpulan yang bertujuan sebagai kekuatan ekonomi, paling tidak memiliki komitmen di antara satu anggota dengan anggota yang lain untuk bersama-sama sebagai satu kesatuan yang utuh dalam menghadapi pasar luas. Lagi-lagi saya pribadi tidak melihat ini di Jamaah Maiyah.

Kekuatan sosial budaya. Kemampuan untuk mempengaruhi atau menahan sebentuk kondisi. Mungkin di Jamaah Maiyah kita bisa mengatakan ‘ada’ tentang pembentukan kekuatan ini, walaupun untuk mendapatkan ukuran secara pasti dan kuantitatif akan sangat tidak mudah.

Ketika terlibat di lingkungan ini, dari tindak-tanduk, kebiasaan, dan mekanisme, saya melihat sebuah potensi yang berbeda. Jamaah Maiyah tidak membentuk sebuah padatan yang diterjemahkan menjadi kekuatan. Jamaah Maiyahsepertinya

Kekuatan politik. Untuk menjadi sebuah kekuatan politik, sekumpulan orang seharusnya (harus ala Indonesia) membentuk sebuah partai

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

berusaha mencari dan menemukan bahan mentah (cair) yang bisa membentuk padatan-padatan tersebut.

Semoga tidak terlalu muluk-muluk jika saya mempunyai harapan yang besar bahwa Jamaah Maiyah mampu membentuk sebuah jenis kekuatan yang baru. Yaitu kekuatan NILAI. Sebuah kekuatan yang mendasari kekuatan-kekuatan yang lain. Kekuatan nilai yang matang akan bisa diterjemahkan menjadi kekuatan- kekuatan yang lain. Dan kekuatan-kekuatan yang terbentuk dari kekuatan nilai akan menjadi sesuatu yang lebih komprehensif untuk (dalam) kebersamaan. Kekuatan ekonomi yang mampu memaslahatkan banyak orang, kekuatan politik yang bertanggung jawab, dan kekuatan sosial politik yang cerdas dan tidak dangkal-romantis.

Tentu itu sekadar harapan dan pandangan. Yang bisa mendefinisikan Jamaah Maiyah adalah Jamaah sendiri. Ketika ini adalah kekuatan nilai, berarti semua sudah dewasa menghadapi ekonomi, politik, sosial dan budaya. Sampai titik yang manakah kita sekarang? []

berusaha mencari dan menemukan bahan mentah (cair) yang bisa membentuk padatan-padatan tersebut. Semoga tidak terlalu muluk-muluk

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Konser8

by Komunitas Kenduri Cinta

  • 1. Tahun 1996, brsm #caknun, @kiaikanjeng meluncurkan album "Kado

Muhammad". Hit album itu adlh TOMBO ATI yg dilantunkan dg bait2 puisi.

  • 2. Sambutan masyarakat sangat luar biasa. Mulailah shalawat & syair khasanah

masyarakat Islam mendapatkan perhatian secara nasional.

  • 3. Sampai saat ini, @kiaikanjeng tlah mengunjungi lbh dr 21 propinsi, 384

kabupaten, 1030 kecamatan & ribuan desa di seluruh Indonesia.

  • 4. Gamelan @kiaikanjeng bukan nama grup musik, melainkan nama sebuah

konsep nada pd alat musik gamelan yg diciptakan oleh Novi Budianto.

  • 5. Walau berbagai alat musik dimainkan pd kelompok musik ini, namun GAMELAN

bisa disebut sebagai ciri khas piranti musikal @kiaikanjeng.

  • 6. Meski wujud lahiriah sama persis dengan gamelan Jawa pd umumnya, gamelan

@kiaikanjeng sesungguhnya bukan lagi sekadar gamelan Jawa.

  • 7. Dlm khasanah musik Jawa, (lazimnya gamelan) sistem tangga nadanya adlh

laras pentatonis. Terbagi pd dua jenis nada: pelog dan slendro.

  • 8. Maka gamelan yg digubah oleh Novi Budianto ini (gamelan @kiaikanjeng) tidak

berada pd jalur salah satunya, alias bkn pelog bkn slendro.

  • 9. Meski bila ditinjau dr segi bahan & bentuk, gamelan @kiaikanjeng ttp sama dg

gamelan Jawa pd umumnya. Perbedaan terletak pd jmlh bilahan.

10. Serta, kenyataan bahwa gamelan @kiakanjeng juga merambah ke wilayah diatonis, meski tidak sepenuhnya. Ini keunikan gamelan @kiaikanjeng.

Konser8 by Komunitas Kenduri Cinta 1. Tahun 1996, brsm #caknun, @kiaikanjeng meluncurkan album "Kado Muhammad". Hit

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

  • 11. Keunikan td, memungkinkan eksplorasi musikal @kiaikanjeng merambah ke

mana saja aliran musik. Membuat musik mereka bersifat adaptif.

  • 12. @kiaikanjeng adlh kelompok musik 'plus' mencoba menjalankan kemerdekaan

alias tak terkungkung pada satu-dua jenis aliran musik.

  • 13. Pelarasan nada ini oleh Novi Budianto pd mulanya dipilih atas pengalamannya

menata musik-puisi #caknun sejak berproses brsm di Dinasti.

11. Keunikan td, memungkinkan eksplorasi musikal @kiaikanjeng merambah ke mana saja aliran musik. Membuat musik mereka

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kira-kira Tuhan Pilih Yang Mana?

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 09 Desember 2009 jam 10:04 Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini?.

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”

Kalau saya,memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kira-kira Tuhan Pilih Yang Mana? oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 09 Desember 2009 jam 10:04 Ditulis

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Komposisi Debu dan Aransemen Ruh

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 20 Oktober 2010 jam 11:07 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Setiap ayat Allah sesungguhnya mengandung dimensi-dimensi yang sangat kompleks dan sangat penuh ketidakterdugaan. Misalnya, ada ayat yang kelihatannya cuma perintah perilaku sederhana yang menyangkut akhlak, tapi ternyata di baliknya tersimpan ilmu fisika, biologi, kimia, dan seterusnya.

Saya dikasih tahu oleh anak saya tentang semacam pemahaman, atau sebut saja spekulasi, bahwa ruh itu tidak berbeda dengan badan, tidak berbeda dengan jisim. Jisim itu kulit arinya ruh. Ruh itu pada penampilannya yang paling dangkal, yang simptoma-simptoma yang sederhana dia itu bernama jisim, tapi seluruhnya ini sebenarnya adalah dunia ruh. Jadi bukan ini ruh, ini badan, bukan begitu.

Sama dengan jangan ditanyakan apa badan Rasulullah ikut Isra` Mi`raj atau tidak. Bukan begitu. Karena, ketika beliau naik Buraq dengan percepatan tertentu, badan beliau berubah atau transformed menjadi energi. Ketika dia memakai percepatan Mi`raj yaitu kecepatan yang dulu bisa memindahkan istana Bulkis sekejapan mata sebelum Sulaiman selesai berkedip Istana sudah sampai ke situ. Dan itulah kecepatan Mi`raj. Pada saat itu tubuh Rasulullah sudah menjadi barqun, yang menaiki buraqun.

Dia sudah menjadi halilintar, sudah menjadi cahaya maha cahaya.

Komposisi Debu dan Aransemen Ruh oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 20 Oktober 2010 jam 11:07 Ditulis

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Jadi ruh dan badan itu tidak berbeda. Bahan dasarnya adalah partikel yang sama. Yang berbeda adalah komposisi dan aransemennya. Badan itu adalah ketika ruh mengaransir dan mengkomposisikan diri ke dalam suatu formula yang paling sederhana, maka dia bernama jisim atau badan.

Siapakah komposer dan arranger? Sehingga kita menyaksikan batu, angin, virus, buah mangga, dan pada diri kita ini sendiri ada tulang, daging, sungsum, darah, nanah, ingus, bahkan juga segumpal hati yang berisi ruang tak terhingga, serta sekepal otak yang sistem hardware sedemikian canggih dan sistem software-nya sedemikian tak kita kenali - siapakah gerangan Sang Komposer dan Arranger?"

Kata anak saya, kalau manusia bisa menguakkan rahasia amr, rahasia perintah, yang di genggaman tangan-Nya terdapat 'partitur' segala sesuatu dalam kehidupan ini -- maka kita bisa meracik pasir dengan campuran tertentu menjadi emas, bisa mengubah kain celana menjadi nasi goreng.?

Jadi ruh dan badan itu tidak berbeda. Bahan dasarnya adalah partikel yang sama. Yang berbeda adalah

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kostum Agama

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 07 September 2009 jam 12:21 Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Budaya keagamaan islam mencapai puncak kemeriahannya terutama pada bulan Ramadhan. Televisi berlomba menggelar mubaligh dan presenter. Berbagai busana muslim-muslimah kita tonjolkan. Hiasan dan konsum warna-warni mewah meriah kita pajang. Saya sendiri berusaha menyesuaikan diri, sehinggak untuk keperluan shooting saya pinjam sarung untuk kemul-kemul. Untuk siapakah semua itu dipertunjukkan? Untuk Allah, untuk bulan ramadhan, atau untuk pemirsa? Kita ber-husnudhan bahwa kita ini semua sangat mencintai dan menghormati Allah. Hanya saja, seakan-akan hanya pada bulan ramadhan saja Allah hadir. Seolah-olah hanya pada bulan ramadhan saja kita semua berhadapan dengan Allah. Dan kalau sesudah selesai acara lantas kita berganti pakaian yang asli seakan-akan hanya didepan kamera saja kita menghormati Allah. Saya sangat takut jangan-jangan Allah merasa kita bohongi.(Dikutip dari hikmah puasa)

Kostum Agama oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 07 September 2009 jam 12:21 Ditulis Oleh: Muhammad Ainun

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Lupa dan Salah

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 30 Juli 2010 jam 11:51 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Ada 4 jenis Kelupaan atau Kesalahan dalam diri manusia.

Pertama, namanya 'Nisyan', itu artinya lupa, tapi lupa dan melupakan itu berbeda. Kalau lupa itu gak ada kesalahan, tidak ada pasal hukumnya, pasal akhlak maupun akidahnya, tapi kalau melupakan itu suatu tindakan moral, suatu tindakan yang bisa menyentuh batas hukum, baik hukum negara maupun akhlak.

Yang kedua, namanya 'Qoto', itu salah. Kesalahan juga ada 2 macam, kesalahan teknis manajemen, ada kesalahan dalam arti bermakna moral, misalnya saya ujian berhitung matematik, saya melakukan kesalahan, saya tidak dosa karena saya ada kekeliruan ngitung, kalau keliru ngitung-nya ini dalam administrasi negara, dalam klausul-klausul, policy-policy aturan, ini bukan kesalahan intelektual, ini sebagai kesalahan moral.

Nomer ketiga, namanya 'Dhulm', itu artinya aniaya, penindasan, penganiayaan. Jadi ini ketika lupa dan kesalahan sudah pada tingkat dimana kekuatan berbenturan pada manusia. Yang kuat ke yang lemah dan terjadi pada berbagai macam lini, bidang atau level pada kehidupan manusia. Ada penganiayaan dalam arti praksis politik kekuasaan, dalam arti violence, kekerasan. ada kekerasan fisik pakai peluru, pakai sepatu lars. Ada kekerasan kata-kata, ada kekerasan tayangan, ada kekerasan religius.

Lupa dan Salah oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 30 Juli 2010 jam 11:51 Ditulis Oleh: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Yang keempat 'junun', namanya Junun itu dari kata jin, jadi 'something outside of the logics' itu namanya majnun. Jin itu aplikasi kemahlukannya, majnun itu orang biasa, orang manusia yang ditimpa oleh junun. Kata junun bisa dijelaskan secara psikiatrik maupun psikologis. Cinta kalau disakiti terus menerus akan menjadi kebencian, tapi kalau engkau menyelam kedalam apa yang disebut kebencian sesungguhnya dia adalah cinta yang tulus.[]

Yang keempat 'junun', namanya Junun itu dari kata jin, jadi 'something outside of the logics' itu

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Makalah Diskusi Forum Martabat: Pertanyaan dalam "Bertanya"

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 03 Agustus 2010 jam 12:45 Ditulis Oleh: Sabrang Mowo Damar Panuluh

“Segelas kopi panas, diminum dikala sore hari sambil ngobrol-ngobrol sembari menikmati rokok yang baru kemarin lusa difatwa haram, benar-benar membuat sore ini terasa sangat nikmat.”

Jawab dengan jujur, dengan sekali baca cerita diatas, bagaimana reaksi anda ? membayangkan suasana sore hari yang nikmat, membayangkan gelak canda tawa sekelompok orang, membayangkan dua orang ngobrol ngga jelas sambil melamun, atau justru mengkernyitkan dahi?

Prekonsepsi pengalaman sore hari yang biasa pembaca alami sangat mempengaruhi ‘hantaman imajinasi’ pertama sebagai respon terhadap cerita diatas. Jika anda diberi kesempatan melontarkan satu pertanyaan untuk menggali informasi lebih dalam, kira-kira apa yang akan anda tanyakan ?

Dari teori bertanya yang selama ini kita kenal, yaitu 5W 1 H (What, why, where, who, when dan how), kira-kira yang mana yang akan anda lontarkan ? Atau teori itu justru tidak menjadi pedoman ketika anda bertanya?

Makalah Diskusi Forum Martabat: Pertanyaan dalam "Bertanya" oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 03 Agustus 2010 jam

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Ada teori lain tentang ‘pertanyaan’ yang saat ini tidak begitu populer, (mungkin karena baru dikarang) yang disebut PRWT (Pitakonan Ra Waton Takon), jangan dikritik dulu, ini juga baru dikarang. Teori ini mengatakan bahwa setiap pertanyaan harus mempunyai syarat, prasyarat dan kerangka yang jelas pada peta yang lebih luas. Samasekali bukan untuk menggantikan 5W1H, teori ini justru mencoba menambahkan apa yang masih belum terdefinisikan dalam 5W1H.

Sebelum menentukan jenis pertanyaan yang akan dilontarkan, adalah wajib memastikan bahwa si penanya dan yang ditanya mempunyai ‘bahasa’ yang sama (duh ). Ngga lucu juga si penanya pakai bahasa Jawa sementara yang ditanya berbahasa Swahili. Bisa saja terjadi, tapi maksud saya adalah ‘bahasa’ pada level pemahaman. Setiap bangsa, setiap budaya, setiap suku, bahkan setiap orang mempunyai ‘bahasa’nya sendiri. Kata yang terucap tidak selalu mempunyai makna yang sama untuk pengucapnya, walaupun tidak sama sekali berbeda. Mari ambil contoh populer. Cinta, tanyakan definisinya pada 100 orang dan anda akan mempunyai 100 jenis jawaban.

Jika anda mengatakan bahwa tidak mungkin kita mengkonfirmasi bahwa semua kata bisa tersampaikan sempurna, saya setuju. Tapi adalah kewajiban penanya untuk meminimalisir dicrepancy pemahaman kata. Disini kata kuncinya adalah menghindari ambigu atau bahkan salah faham.

Pernahkah anda berargument dengan diri anda sendiri ? sepertinya tidak harus menjadi orang gila untuk punya penglaman tersebut. Jika anda belum pernah, mungkin ada baiknya sekali-sekali dicoba. Paling tidak, berguna ketika tidak ada lawan ngobrol dikala sepi. usul saya cobalah tanyakan pertanyaan ini pada pertanyaan yang akan anda tanyakan.

Ada teori lain tentang ‘pertanyaan’ yang saat ini tidak begitu populer, (mungkin karena baru dikarang) yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Pertama, tujuan/fungsi pertanyaan ini apa ya ? Untuk menggali informasi, memancing informasi, memancing emosi, mengerucutkan tema bahasan, melebarkan tema bahasan, mengganti tema, menghabiskan waktu, mengajak berkonklusi dst dst … sangat banyak kemungkinan. Dengan modal itu, konsep pertanyaan akan menjadi lebih terarah karena anda akan siap dengan reaksi lanjutannya.

Kedua, apakah pertanyaan saya mengandung asumsi pribadi yang belum terkonfirmasi oleh object yang ditanya ? Kalau ini belum ‘clear’, potensi ambigu dan salah faham akan meningkat. Contoh : “Ketika bapak sedang tidak kerja, apa yang bapak lakukan”. Sepertinya pertanyaan yang sangat innocent. Apakah anda sudah meluruskan bahwa arti kata “kerja” antara anda dan penanya adalah sama ? misalnya dijawab begini : “Loh dik, kapan saya ngga kerja, orang bernafas saja sudah saya anggap kerja, ibadah kepada Tuhan”. Tambah ruwet pastinya. Jangan asumsikan si bapak tidak tahu maksud anda, dia hanya berperilaku jujur terhadap pemahaman dia kepada kata “kerja”. Kewajiban penanya lah mencari kata yang lebih tajam atau memberi ‘lambaran’ kepada si bapak agar tidak bisa ‘menghindari’ pertanyaan.

Ketiga, apakah pertanyaan saya ‘sesuai’ ? Sesuai memang kata-kata yang sangat cair, tidak mudah mendefinisikanya. Karena selalu dibutuhkan kesensitifitasan terhadap konteks, ruang dan waktu. Faktornya bisa kesopanan, kepantasan, pilihan istilah, ranah bahasan dll. Keempat, dengan apa saya akan menggali informasi. Jangan lupa alat bertanya tidak hanya kata-kata yang keluar dari mulut. Hanya dengan mengernyitkan dahi anda bisa membuat orang berbicara lebih banyak, hanya dengan senyuman anda akan bisa mendapat respon yang lebih friendly. Hanya dengan tertawa anda akan bisa membuat object yang ditanya

Pertama, tujuan/fungsi pertanyaan ini apa ya ? Untuk menggali informasi, memancing informasi, memancing emosi, mengerucutkan tema

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

merasa lebih nyaman mengungkapkan informasi. Dari cerita ‘minum kopi sore sore’ diatas, siapa diantara pembaca yang bertanya : “nikmat karena rokoknya haram kah ? (sambil tersenyum)” ?. Anda baru saja membuat pencerita tersenyum atau bahkan tertawa, yang berarti membuka pintu-pintu pertanyaan lain yang akan dijawab dengan senyuman. Selamat.

Diskusi Martabat kali ke 7 ini mencoba mencari formula yang berhubungan dengan ‘pertanyaan’ agar setiap kita bertanya, kritis itu menjadi otomatis, tidak perlu nyinyir atau amis, tapi praktis, pragmatis dan etis. Pisss !!

*) Pengantar Diskusi Martabat 28 Juli 2010

merasa lebih nyaman mengungkapkan informasi. Dari cerita ‘minum kopi sore sore’ diatas, siapa diantara pembaca yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 02 September 2009 jam 10:50 Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Tulisan ini bisa dimulai dari perspektif Rukun Islam. Dari syahadah hingga menunaikan haji di rumah suci Allah. Kita mencoba menjelaskan satu per satu maqam Rukun Islam tersebut. Dan, pada akhirnya, kita akan melihat maqam ibadah puasa, yang menjadi topik bahasan tulisan ini. Apakah maqam-maqam itu saling terkait, atau tidak?

‘Alamat’ dan ‘Jurusan’

Syahadah. Salah satu Rukun Islam berarti ketetapan dan penetapan titik pijak dan sekaligus arah tujuan gerak kehidupan manusia Muslim. Semacam ‘alamat’ dan ‘jurusan’. Pertama barangkali pada spektrum kosmologis kemudian teologis, baru kemudian kedua kultural.

Pandangan tentang ’sangkan paran’, semacam alamat historis-kosmologis, menurut manusia untuk (melalui akal pikiran maupun melalui informasi wahyu, mawaddah wa rahmah, juga huda, bayyinat, wa furqan) menentukan alamat teologis (atau a-teologis)nya. Berdasarkan itu maka ia berangkat merumuskan alamat sosialnya, alamat kulturalnya, juga mungkin alamat politiknya, bahkan bukan tidak mungkin juga alamat geografisnya. Dengan itu, beda pandang manusia mengenai dunia, akhirat, dan tentang dunia akhirat menjadi terumuskan.

Makna Spiritual Dan Sosial Ibadah Puasa oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 02 September 2009 jam 10:50

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Menduniakan Akhirat, Mengakhiratkan Dunia, dan Mendunia-akhiratkan Kehidupan

Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang disusun dalam kolektivitas mereka, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorganisasian kekuasaan dan kesejahteraan di antara mereka, dilaksanakan dengan mengandaikan bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan segala akhir.

Wadahnya hanya dunia. Substansinya hanya dunia. Metodenya hanya dunia. Dan, targetnya juga hanya dunia. Orang lahir, orang bersekolah, orang bekerja, orang berkuasa, orang berkarier, dalam ‘durasi’ dunia.

Segala sesuatunya akan berbeda dengan pandangan lain yang meletakkan dunia sebagai titik tolak dan titik pijak untuk melangkah ke akhirat. Sejarah di dunia dikerjakan sebagai jalan (syari’, thariq, shirath), dan produknya adalah akhirat. Setiap kegiatan dan fungsi manusia dalam sejarah, selama dunia berlangsung, berlaku sebagai metoda. Berkedudukan tinggi, berjaya, unggul, atau menang di antara manusia, tidak dipahami sebagai neraka. Sebab surga dan neraka adalah produk dari penyikapan (teologis, moral, kultural) manusia atas semua keadaan tersebut.

Dalam hal ini belum akan kita perdebatan tentang apakah dunia dan akhirat itu diwadahi oleh dua satuan waktu yang berbeda, atau terletak pada rentang waktu yang sama, yang dibatasi oleh momentum yawm al-qiyamah, ataukah dunia dan akhirat itu sesungguhnya berlangsung sekaligus.

Menduniakan Akhirat, Mengakhiratkan Dunia, dan Mendunia-akhiratkan Kehidupan Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui syahadatain, ibadah lain serta ’syariat’ hidup secara menyeluruh adalah suatu pengambilan sikap, suatu pilihan terhadap pandangna atas dunia dan akhirat. Dengan pijakan sikap ini manusia menggerakkan aktivitas sosialnya, melaksanakan upaya-upaya hidupnya, serta menja-dikannya sebagai pedoman di dalam memandang, menghayati dan memperlakukan apapun saja dalam hidupnya.

Tidak termasuk dalam katagori ini pola sikap manusia yang dalam bersyahadat seakan-akan mengambil keputusan teologis yang memetodekan dunia untuk target akhirat, namun dalam praktiknya ia lebih cenderung meletakkan dunia sebagai target dan tujuan.

Kerancuan sikap semacam ini bisa dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan (spiritual), oleh inkonsistensi (mental), oleh kemunafikan (moral), atau oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual). Yang terjadi padanya adalah kecenderungan menduniakan akhirat. Sementara pada manusia yang dalam konteks tersebut tercerahkan spiritualitasnya, yang konsisten sikap mentalnya, yang teguh moralnya, dan yang tegak pengetahuannya- kecenderungannya adalah mengakhiratkan dunia, atau dari sisi lain ia bermakna menduniaakhiratkan kehidupan.

Evolusi Salat dan Idul Fitri-Idul Fitri Kecil

Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui syahadatain, ibadah lain serta ’syariat’ hidup secara menyeluruh

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Salat. Ibadah Salat merupakan suatu metode ‘rutin’ kultural untuk proses pengakhiratan. Momentum-momentum salat lima waktu memungkinkan manusia pelakunya untuk secara berkala melakukan pengambilan ‘jarak dari dunia’.

Itu bisa berarti suatu disiplin intelektual untuk menjernihkan kembali persepsi- persepsinya, untuk memproporsionalkan dan mensejatikan kembali pandangan- pandangannya terhadap dunia dan isinya, sekaligus itu bermakna ia menemukan kembali kefitrian-diri-kemanusiaan. Salat dengan demikian adalah idul fitri-idul fitri kecil yang bersifat rutin. Sekurang-kurangnya salat mengandung potensi untuk membatalkan atau mengurangi keterjeratan oleh dunia. Ini sama sekali bukan pandangan antidunia. Yang saya maksud, sebagai substansi, target, titik berat atau tujuan kehidupan.

Ibadah salat dengan demikian adalah suatu transisi sistem yang terus-menerus mengingatkan dan mengkodisikan pelakunya yang memelihara sikap mengakhiratkan dunia atau menduniaakhiratkan kehidupan. Ibadah salat menawarkan irama, yaitu proporsi kedunia-akhiratan yang dialektis berlangsung dalam kesadaran, naluri dan perilaku manusia.

Kalau kita idiomatikkan bahwa salat itu bermakna pencahayaan (’air hujan’, salah satu jenis air yang disebut oleh al-Qur’an), maka jenis ibadah berkala ini berfungsi mencahayai dan mencahayakan kehidupan pelakunya. Mencahayai dalam arti menaburkan alat penjernihan diri dan persepsi hidup. Mencahayakan dalam arti memberi kemungkinan kepada pelakunya untuk bergerak dari konsentrasi kuantitas (benda, materi) menuju dinamika kreativitas (energi) sampai akhirnya menuju atau menjadi kualitas cahaya (Allahu nur al-samawat wa al-ardl).

Salat. Ibadah Salat merupakan suatu metode ‘rutin’ kultural untuk proses pengakhiratan. Momentum-momentum salat lima waktu memungkinkan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Ibadah salat bersifat kumulatif dan evolusioner, sebagimana zakat yang berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut oleh al-Qur’an). Kambing tidak meminum susunya sendiri, melainkan mendistribusi-kannya kepada anak-anak dan makhluk lain. Etos zakat adalah membersihkan harta perolehan manusia. Membersihkan artinya memproporsikan letak hak dan wajib harta. Manusia tidak memberikan zakat, melainkan membayarkan atau menyampaikan hak orang atau makhluk lain atasnya.

Revolusi Puasa, Melampiaskan dan Mengendalikan

Puasa. Berbeda dengan salat dan zakat, ibadah puasa bersifat lebih ‘revolusioner’ radikal dan frontal. Waktunya pun dilakukan pada masa yang ditentukan, seperti disebutkan al-Qur’an. Dan, waktu puasa wajib sangat terbatas. Hanya pada bulan Ramadhan.

Orang yang berpuasa diperintahkan untuk berhadapan langsung atau meng- engkau-kan wakil-wakil paling wadag dari dunia dan diinstruksikan untuk menolak dan meninggalkannya pada jangka waktu tertentu.

Pada orang salat, dunia dibelakanginya. Pada orang berzakat, dunia di sisinya, namun sebagian ia pilah untuk dibuang. Sementara pada orang berpuasa, dunia ada di hadapannya namun tak boleh dikenyamnya.

Orang berpuasa disuruh langsung berpakaian ketiadaan: tidak makan, tidak minum, dan lain sebagainya. Orang berpuasa diharuskan bersikap ‘tidak’ kepada

Ibadah salat bersifat kumulatif dan evolusioner, sebagimana zakat yang berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan mulut untuk mengambil dan memakan sesuatu yang disenangi; dan itu adalah perang frontal terhadap sesuatu yang sehari-hari meru-pakan tujuan dan kebutuhan.

Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menum-pahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini; ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan. Keduanya merupakan musuh besar, dan akan berperang frontal jika masing-maisng menjadi lembaga sejarah yang sama kuat.

Sementara ibadah haji adalah puncak ‘pesta pora’ dan demonstrasi dari suatu sikap, pada saat dunia disepelekan dan ditinggalkan. Dunia disadari sebagai sekadar seolah-olah megah.

Ibadah thawaf adalah penemuan perjalanan sejati sesudah seribu jenis perjalanan personal dan personal yang tidak menjanjikan kesejatian dan keabadian. Nanti kita ketahui gerak melingkar thawaf adalah aktualisasi dasar teori inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Suatu perjalanan nonlinier, perjalanan melingkar perjalanan siklikal, perjalanan yang ‘menuju’ dan ‘kembali’nya searah.

Ihram adalah ‘pelecehan’ habis-habisan atas segala pakaian dan hiasan keduniaan yang palsu status sosial, gengsi budaya, pangkat, kepemilikan, kedudukan, kekayaan, atau apapun saja yang sehari-hari diburu oleh manusia. Sehabis berihram mestinya sang pelaku mengerti bahwa nanti kalau ia pulang dan hadir

isi pokok dunia yang berposisi ‘ya’ dalam substansi manusia hidup. Orang berpuasa tidak menggerakkan tangan dan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

kembali ke kemegahan-kemegahan dunia–tak lagi untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan.

Tauhid Vertikal dan Tauhid Horisontal

Adapun apa, ke mana, dan bagaimanakah sesungguhnya yang dijalani oleh para pelaku Rukun Islam, terutama yang ber’revolusi’ dengan puasa?

Pilar utamanya adalah tauhid vertikal (tawhid ilahiyyah) dan tauhid horisontal (tawhid basyariyyah). Tauhid itu proses penyatuan. Penyatuan (ilahiyyah) ke atau dengan Allah, serta penyatuan ke atau dengan sesama manusia atau makhluk, memiliki rumus dan formulanya sendiri-sendiri.

Perlawanan terhadap dunia, penaklukan atas diri dan kehidupan untuk diduniaakhiratkan yang ditawarkan oleh ibadah puasa–sekaligus berarti proses deindividualisasi, bahkan deeksistensialisasi. Tauhid adalah perjalanan deeksistensialisasi, pembebasan dari tidak pentingnya identitas dan rumbai- rumbai sosial keduniaan di hadapan Allah. Segala kedudukan, fungsi dan peran di dunia dipersembahkan atau dilebur ke dalam eksistensi sejati Allah dan kasih sayang-Nya. Tauhid sebagai perjalanan deindividualisasi berarti menyadari dan mengupayakan proses untuk larut menjadi satu atau lenyap ke dalam wujud- qidam-baqa’ Allah. Manusia hanya diadakan, diselenggarakan seolah-olah ada, ada-nya palsu–oleh Yang Sejati Ada.

kembali ke kemegahan-kemegahan dunia–tak lagi untuk disembahnya atau dinomorsatukannya. Karena ihramlah puncak mutu dan kekayaan. Tauhid

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan peragian. Dematerialisasi bisa dipahami melalui, umpamanya, konteks peristiwa Isra’ Mi’raj. Rasulullah mengalami proses transformasi dari materi menjadi energi menjadi cahaya. Maka, dematerialisasi vertikal bisa berarti mempersepsikan, menyikapi dan mengolah materi (badan, pemilikan, dunia, perilaku, peristiwa) untuk dienergikan menuju pencapaian cahaya. Fungsi sosial dikerjakan, managemen dijalankan, musik diciptakan, karier ditempuh, ilmu digali dan buku dicetak, uang dicari dan harta dihamparkan–tidak dengan orientasi ke kebuntuan dunia sebagai materi yang fana, melainkan digerakkan ke makna ruhani, pengabdian dan taqarrub kepada Allah, sampai akhirnya masuk dan bergabung ke dalam ‘kosmos’ dan sifat-Nya.

Proses dematerialisasi, proses ruhanisasi atau proses transformasi menuju (bergabung, menjadi) Allah, meminta hal-hal tertentu ditanggalkan dan ditinggalkan. Dalam bahasa sehari-hari orang bilang: jangan mati-matian mencari hal-hal yang tidak bisa dibawa mati.

Menanggalkan dan meninggalkan itu mungkin seperti perjalanan transformasi padi menjadi beras, dan menjadi nasi. Padi menjadi beras dengan menanggalkan kulit. Beras juga padi, tapi beras bukan lagi padi, sebagaimana padi belum beras. Nasi itu substansinya padi atau beras, tapi sudah melalui proses suatu pencapaian transformatif. Para pemakan nasi tidak antipadi, tapi juga tidak makan padi dan menanggalkan kulit padi. Pemakan nasi sangat membutuhkan beras, tapi tidak makan beras dan tidak membiarkan beras tetap jadi gumpalan keras. Pemakan nasi memproses bahan dan substansi yang sama menjadi atau menuju sesuatu yang baru.

Yang juga ditawarkan oleh puasa adalah proses dematerialisasi, atau peruhanian atau dalam konteks tertentu pelembutan dan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah benda, melainkan mentransformasikan (mengamalsalehkannya), meruhanikannya (menyaringnya menjadi bermakna akhirat). Bahkan manusia akan menanggalkannya dan meninggalkan dirinya sendiri (gumpalan individu, wajah, badan, performance, eksistensi dunia), karena ‘dirinya’ di akhirat, dirinya yang bergabung ke Allah adalah sosok amal salehnya.

Pada ‘citra’ waktu, dematerialisasi, peruhanian, deindividualisasi, dan deeksistensialisasi berarti pengabdian. Pembebasan dari kesementaraan. Yang ditanggalkan dan ditinggalkan adalah kesementaraan. Segumpal tanah bersifat sementara, tapi ia difungsikan dalam sistem manfaat dan rahmat, maka fungsinya itu mengabdi. Sebagaimana gumpalan badan kita serta segala materi eksistensi kita bersifat sementara, yang menjadi abadi adalah produk ruhani pemfungsian atas semua gumpalan itu.

Melampiaskan dan Mengendalikan

Juga dalam proses tauhid horisontal, penyatuan berarti sosialisasi pribadi. Kalau masih pribadi yang individualistik (ananiyyah), ia gumpalan. Begitu integral-sosial (tawhid basyariyyah), ia mencair, melembut. Yang ananiyyah itu temporer dan berakhir, yang tauhid basyariyah itu baqa’ dan tak berakhir.

Identitas sosial, harta benda, individu, segala jenis pemilikan dunia, dienergikan, diputar, disirkulasikan, didistribusikan, dibersamakan atau diabadikan ke dalam keberbagian sosial. Itulah peruhanian horisontal.

Jadi, jika pemburu atau pengabdi Allah tidak antidunia, tidak antimateri, tidak antibenda, tapi juga tidak menyembah

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya–sesungguhnya merupakan aktualisasi tauhid secara horisontal.

Kita tinggal memperhatikan setiap sisi, segmen dan lapisan dari proses sosial umat manusia (pergaulan, kebudayaan, negara, sistem, organisasi) melalui terma- terma materialisasi versus peruhanian, satu versus kemenyatuan, pensementaraan versus pengabdian, penggumpalan versus pelembutan, sampai akhirnya nanti pelampiasan versus pengendalian. Budaya ekonomi-industri- konsumsi kita mengajak manusia untuk melampiaskan. Sementara agama menganjurkan manusia untuk mengendalikan. Kalau kedua arus itu sama-sama menemukan lembaga dan kekuatan sejarahnya yang berimbang, konflik peradaban akan serius.

Ibadah puasa merupakan jalan ‘tol’ bagi perjuangan manusia untuk mencapai kemenangan di tengah tegangan-tegangan konflik tersebut. Juga dalam pergulatan antara iradah al-nas dalam arti individualisme individu-kecil dengan iradah Allah Individu Besar Total.

Kita bisa menolak ke terma sab’a samawat, tujuh langit– Roh-Benda-Tumbuhan- Hewan-Manusia- Ruhanisasi-Ruh– bisa kita temukan siklus-siklus kecil dan besar proses peruhanian yang diselenggarakan oleh manusia.

Atau terma Empat ‘Agama’–’agama’intuitif-instinktif, ‘agama’ intelektual, ‘agama’ wahyu, serta ‘agama atas agama’--kita bisa menemukan bahwa ketika penerapan wahyu –Agama terjebak menjadi berfungsi gumpalan-gumpalan, maka ‘agama atas agama’ merupakan fenomena peruhanian, kristalisasi substansi. Semua manusia bekerjasama menempuh nilai-nilai inti peruhanian yang mengatasi gumpalan-gumpalan aliran, sekte, kelompok, mazhab atau organisasi agama.

Karena itu, proses-proses menuju keadilan sosial, kemerataan ekonomi, distribusi kesejahteraan, kebersamaan kewenangan dan lain sebagainya–sesungguhnya merupakan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi pelakunya adalah derajat dan kualitas takwa. Dalam terapan empiriknya, kita mencatat stratifikasi fiqh/hukum-akhlak- takwa. Kondisi peradaban umat manusia masih tidak gampang untuk sekadar mencapai tataan manusia fiqh/hukum atau budaya fiqh/hukum. Apalagi naik lebih lagi ke level akhlak dan takwa. []

__________

arsip/1996

Terma lain yang mungkin bisa kita sentuh adalah cakrawala puasa la’allakum tattaqun. Produk maksimal puasa bagi

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Manajemen adalah .......

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 22 Juli 2010 jam 10:58 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Manajemen bukanlah kita punya sayur-sayuran lantas kita memasaknya. Manajemen adalah tidak punya apa-apa tapi sanggup menyuguhkan sayur kepada orang yang memerlukan.

Manajemen adalah ditiadakan namun mampu menjadi lebih ada dibanding pihak yang meniadakan.

Manajemen adalah kaki diborgol kemudian memenangkan lomba lari melawan orang yang memborgol.

Manajemen adalah sayapmu dipangkas namun mampu terbang lebih cepat, tinggi, dan jauh dibanding mereka yang memangkas sayapmu.

Manajemen adalah hampir tak ada air tapi bisa mandi dan menjadi lebih bersih dibanding pencuri airmu.

Manajemen adalah engkau tak boleh bicara, tak ditampilkan, tak ditayangkan, tak dianggap ada, namun mampu hadir lebih mendalam dan evergreen didalam kalbu orang banyak dibanding mereka yang membunuh eksistensimu atau mereka yang diunggul-unggulkan dimuan-muat ditayang-tayangkan dibesar-besarkan siang malam oleh penindasmu.[]

Manajemen adalah ....... oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 22 Juli 2010 jam 10:58 Ditulis Oleh: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

MATINYA SANG PENTAFSIR

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 19 Februari 2010 jam 9:37 Ditulis Oleh: Ratri Dian Ariani

Pernah Cak Nur (Dr. Nurcholish Madjid) mengatakan bahwa 3,4% dari Alquran memuat perkara ibadah mahdhoh, sedangkan sisanya yang 96,6%-nya membicarakan ibadah muamalah. Kitab suci Alquran keberlakuannya universal, melintasi batas-batas teritori dan rentang waktu. namun nyatanya pada wilayah tafsir, sangat mungkin menjadi sangat berbeda antara satu kepala dengan yang lain. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah siapa saja yang ber-'hak' melakukan penafsiran itu? Di wilayah mana kita memenuhi syarat melalkukan tafsir?

Pada majlis kali ini kita akan memetakan apa itu sinkretisme, hibridasi, dan multikulturalisme. Kemudian kita akan menyimpulkan apakah plural itu esensi dalam aufklarung?

Nursamad Kamba

Filsafat bicara soal apakah kebenaran itu bernilai mutlak atau relatif. Melalui kisah Nabi Yusuf alaihissalam, Allah mengakui adanya kebenaran yang diliputi

MATINYA SANG PENTAFSIR oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 19 Februari 2010 jam 9:37 Ditulis Oleh: Ratri

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

kebathilan. Saudara-saudara Yusuf membajui kebathilan yang mereka rencanakan melalui logika yang merreka sampaikan pada sang ayah, Ya'qub alaihissalam.

Bisa jadi, Allah membiarkan hamba-nya melakukan perbuatan bathil, dan pada waktunya Dia akan memberikan balasan yang seberat-beratnya.

Piagam Madinah memberikan pelajaran pada kita bahwa masyarakat tidak usah repot-repot mencari pemerintahan. Poinnya, tidak ada seorang pun yang boleh menganggur, dengan maiyah sebagai spiritnya. maka pada waktu itu perekonomian Madinah demikian maju.

Diajarkan pada kita bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah seorang tukang fatwa, bicara ini halal itu haram.

Dalam sejarah, ada ilmu Islam yang kemudian dilembagakan sehingga menjadi doktrin. Pada abad 4 Hijriah, lahir ilmu kalam yang saat ini berkembang menjadi doktrin. Maka ada beberapa orang yang meng-'kafir'-kan siapa saja yang tidak mengakui Sifat Duapuluh. Padahal, ilmu kalam adalah sebuah pendekatan untuk memahami aspek-aspek filsafat.

Al-Muhasiby (tahun 300 H), guru dari Imam Al-Ghazali, mengatakan bahwa penafsiran Alquran tidak ada rumus baku. Penafsiran merupakan interaksi yang hidup antara hamba dengan Allah, sehingga bukan sesuatu yang aneh jika tafsir Alquran bervariasi. Pendapat ya pendapat saja. Keberagaman pikiran tidak akan menimbulkan dampak apapun kecuali memperkaya.

kebathilan. Saudara-saudara Yusuf membajui kebathilan yang mereka rencanakan melalui logika yang merreka sampaikan pada sang ayah,

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Yang paling berbahaya dari agama adalah ketika agama dilembagakan dalam forum-forum tertentu, seperti kependetaan contohnya. Ada di sekitar kita kelompok-kelompok tertentu yang mengklaim kebenaran. Padahal, ilmu ada di mana-mana. jangan pernah mempersempit ruang kemungkinan ilmu!

Allah memberikan dua pahala pada mujtahid atas ijtihadnya yang benar. kemudian ketika ternyata ijtihadnya tidak benar, ia tetap mendapatkan satu pahala. Dari sini kita dapat menyimpulkan adanya ruang kemungkinan yang ditawarkan Allah. Yang tidak boleh adalah memaksa orang lain untuk mengikuti ijtihadnya.

Betapa arifnya Rasululah yang mengatakan, "Hikmah ada di mana-mana, siapa yang mendapatkan di memetiknya." Kita menjadi sengsara karena mengandalkan ilmu kita sendiri, padahal ilmu Allah dapat diperoleh dengan cara bermaiyah dengan Allah, Rasululah, dan makhluk-makhluk-Nya.

Kondisi bangsa kita dapat dianalogikan sebagai perahu. Problem ada bukan pada penumpang atau nakhodanya saja, melainkan pada perahunya (sistemik). Sedangkan jika kita bicara kosmologi, problem mungkin ada pada samuderanya.

Baginda Siregar (Masyarakat Hukum Indonesia)

Memberikan antitesis pada apa yang telah disampaikan sebelumnya, Baginda berpijak pada kenyataan bahwa alquran terdiri dari ayat-ayat muhkamat dan

Yang paling berbahaya dari agama adalah ketika agama dilembagakan dalam forum-forum tertentu, seperti kependetaan contohnya. Ada

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

mutasyabihat. Hukum merupakan seperangkat norma dan sanksi. Berjalannya hukum mensyaratkan adanya pemerintahan atau kekuasaan.

Hukum Islam bukanlah potong tangan, rajam, jilid, dan sebagainya, melainkan 'dilarang mencuri', dilarang 'berzina'. Poin hukum adalah pada norma yang berupa perintah dan larangan. Norma-norma itu tetap keberlakuannya.

Indonesia telah bersepakat mengakui KUHP sebagai sistem hukum. yang menjadi permasalahan adalah kita tidak konsisten dalam menerapkan hukum. Hukum digunakan untuk akal-akalan, dan yang pertama kali menjual hukum adalah masyarakat, aparatur hukum hanya berposisi sebagai pembelinya. Maka kesadaran hukum harus dimulai dari masyarakat.

Setelah itu ada Mas Arya sebagai pembicara, yang menilik persoalan-persoalan negara ini dari perspektif ekonomi.

Masyarakat kita adalah masyarakat yang mampu survive pada kondisi apapun, yang didorong oleh faktor imunitas dan kreativitas. Jangan sampai negara mengambil langkah-langkah yang dapat berakibat pada terbunuhnya dua potensi itu.

Dalam bargaining position, ada unsur bargaining power dan bargaining value. Kalau ditarik bisa sampai pada 'mati sajroning urip'.

mutasyabihat. Hukum merupakan seperangkat norma dan sanksi. Berjalannya hukum mensyaratkan adanya pemerintahan atau kekuasaan. Hukum Islam

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Ada tiga konsep Tuhan dalam sejarah tiga nabi. Musa meletakkan Tuhan sebagai 'Dia', Isa sebagai 'Aku', dan Muhammad sebagai 'Engkau'. Hal serupa terjadi juga dalam agama ardhi. Agama Hindu mengenal tuhan yang banyak, Buddha mengenal-Nya sebagai seseorang yang telah menjadi brahman sedangkan agama Jawa mengenal-Nya sebagai Sang Hyang Tunggal.

Pada puncaknya, Kiai Budi menghamparkan 'sajak-sajak'-nya yang --as usual-- mendobrak kedalaman hati. Saya tak mampu menuliskannya di sini. (Kenduri Cinta tanggal 12 Februari 2010)

Ada tiga konsep Tuhan dalam sejarah tiga nabi. Musa meletakkan Tuhan sebagai 'Dia', Isa sebagai 'Aku',

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Membaca Sajak-Sajak Emha: membaca perjalanan sujud

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 14 Desember 2009 jam 9:29 Ditulis Oleh: Sedopati Sukandar

Karena hidupku tidak bersih maka selalu kuincar Engkau untuk jadi muatan utama perjalananku Sebab kalau toh kelak Engkau tak menerimaku Aku masih akan berani menangis-nangis Ke hadiratMu dengan bergumam-gumam Untuk hatiku sendiri bahwa sekotor-kotor Hidupku dulu tetap kukejar Engkau (Karena Aku kotor, 5, Emha Ainun Nadjib)

Sepertinya Emha adalah orang yang dengan terus terang dan lantang berkabar tentang tak ada yang kita miliki selain Allah azza wa jalla, tak ada yang bisa kita andalkan dalam setiap jangkah kehidupan selain Dia. Puisi-puisi, ceramah- ceramah dan segudang ruang yang menampungnya senantiasa bermuatan dan menempatkan Tuhan sebagai payung utama dalam perjalanan.

Demikian Cak Nun (panggilan khas unutk Emha Ainun Nadjib) menapaki segenap lorong kehidupannya. Dalam dunia sastra, puisi-puisinya seperti tak berhenti menyerukan Asma-asma Allah dan persujudan dia. Sebagaimana yang ia tulis :

Membaca Sajak-Sajak Emha: membaca perjalanan sujud oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 14 Desember 2009 jam 9:29

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

‘hamba bukan sekedar pelayan, hamba buruh Paduka/ Hamba bukan sekedar pembantu, hamba pekatik paduka’ demikikan 2 baris kalimat yang mengawali sajak ‘Hamba Budak’ dalam kumpulan puisi Tarian rembulan. Emha senantiasa konsisten mengusung keyakinan yang direngkuhnya. Dalam setiap acara, tidak pernah dia tidak menyatakan bahwa yang bisa kita lakukan sekarang adalah menduwur, transenden, merajuk pada pertolonganNya. Terlebih pada kondisi bangsa kekinian yang sudah hilang arah.

Membaca sajak-sajak Emha seperti mengantar kita pada ruang dengan suasana yang sarat akan makna ketuhanan atau lebih pas nilai keIlahian. Sering dalam sajak-sajaknya kita dihentak pada makna dasar manusia yang menurutnya, kita ini adalah hamba atau budakNya saja. Meski demikian dalam sajak-sajaknya, Emha juga tak jarang mengajak pembacanya untuk merangkak perlahan ke rumah persujudan. Emha, dengan kecerdasan bahasa dan dalam membangun suasana, mampu menyorong seseorang pada wilayah ketuhanan dengan terkadang tanpa disadari oleh si pembaca. Semisal dalam sajak Nyanyian Gelandangan, Emha dengan lantang menyurakan potret dan wajah gelandangan dan pada puncak- puncak sajak ia mengajak pada sebuah ruang yang tak lain adalah ruang persujudan yang agak aneh.

Dalam sajak yang panjang itu kita diajak ziarah pada rumah gelandangan sekaligus pada rumah besar tempat mereka tinggal yang pengap dan berjejal soal. Dengan selingan dan dialog-dialog yang menggoda, dalam sajak itu kita seakan menjadi timbul tenggelam di air dan sampai akhirnya kita megap-megap dan percaya bahwa kita berada pada keadaan yang menyedihkan dan butuh pertolongan. Memang sebagian besar sajak-sajak Emha akan sangat hidup ketika dibacakan olehnya dan inilah yang juga menjadi salah satu kelebihan Emha dalam memindahkan nilai yang ia bawa ke para pembaca ataupun pendengarnya. Emha

‘hamba bukan sekedar pelayan, hamba buruh Paduka/ Hamba bukan sekedar pembantu, hamba pekatik paduka’ demikikan 2

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

juga mempunyai kemampuan yang sangat cukup dalam membawa sajak-sajaknya pada orang-orang di sekitarnya, lewat pembacaan yang tak jarang dibarengi alunan dan irama musik.

Menggelinding begitu saja, namun terkadang menderas dan sesekali mendayu. Kemampuan meramu kata dan menyampaikan menjadikan Emha tidak saja bisa menulis puisi namun juga membacakannya. Terlepas dari kemampuan yang sangat cukup itu, yang terasa sangat jelas tentu adalah isi dari sajak-sajaknya yang sebagian besar adalah refleksi perjalanannya. Baik sisi spiritual. intelektual ataupun perjalanan sosialnya. Ia mengemasnya dalam rangkaian sajak yang beraneka ragam namun kemudian seperi menyatu dalam satu warna, satu muara pada akhirnya : persujudan. Inilah yang kemudian menjadikan pembaca sajaknya bisa hampir jelas melihat langkah perjalanan yang sedang ditempuh Emha. Para pembaca hampir bisa melihat apa yang menjadi kegundahan dan cita-cita Emha.

Seperti yang banyak juga ia sampaikan dalam beragam perjumpaan dengan beragam strata masyarakat, bahwa yang harus dipegang teguh adalah keberanian kita untuk menjadi khalifah yang mampu membawa setiap yang dijumpa pada sebuah persujudan padaNya. Dalam sajak-sajaknya Emha konsisten dengan hal itu. Perjalanan Emha memang tidak hanya pada karya puisi saja, cukup banyak ruang telah ditempuhnya dan ini tentu juga mencipta ruang tersendiri bagi para pembaca karya—karyanya untuk setidaknya memandang dia. Namun terlihat saat membaca sajak-sajaknya, kita mau tidak mau dibawanya pada satu kenyataan yang mengarahkan bahwa sajak-sajaknya menajdi teropong yang bisa digunakan untuk melihat gerak dan bahkan kelebat hidupnya.

juga mempunyai kemampuan yang sangat cukup dalam membawa sajak-sajaknya pada orang-orang di sekitarnya, lewat pembacaan yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Membaca sajak-sajak Emha seperti terus membawa kita pada ruang diri dan permenungan namun juga tindakan. Seperti yang pernah ia tulis dan tanyakan di baris-baris kalimat pada sebagian puisinya.

Aku bertanya padamu masih tersediakah ruang di dalam dada dan akal kepala kita untuk sesekali berkata kepada diri sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka bahwa yang melakukan dosa-dosa bukan hanya ia tetapi juga kita …………. (masih tersediakah ruang, Emha Ainun Nadjib)

Membaca sajak-sajak Emha, seperti mangantar kita pada ruang persujudan yang tanpa henti, setidaknya bagi saya.

Membaca sajak-sajak Emha seperti terus membawa kita pada ruang diri dan permenungan namun juga tindakan. Seperti

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Merendahkan Diri

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 11 Maret 2010 jam 8:24 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Pekerjaan malaikat itu cuma satu, yakni ya’malu ma yu’marun, mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah kepadanya. Karena itu, malaikat suci bukan buatan. Bahkan mereka hanya memiliki kesucian. Tapi kenapa mahluk manusia ditentukan oleh Allah lebih tinggi daripada malaikat? Kenapa para mahluk suci itu harus sujud kepada Adam?. Tentulah karena manusia diberi tangan kemungkinan, diberi peluang untuk memperjuangkan diri menuju puncak kapasitasnya – dihadapan Allah – yang lebih sophisticated dibanding malaikat. Apalagi dibanding iblis.

Tetapi salah satu nilai kemanusiaan yang sering kita anggap luhur adalah

merendahkan diri. Betul-betul merendahkan diri. Kalau kita melakukan keburukan kita bilang, “Lho, saya kan bukan malaikat”. Padahal kita bisa lebih tinggi

derajatnya dari malaikat

padahal merendahkan diri tidaklah sama dengan

.. tawadhu. (Buku Secangkir Kopi Jon Parkiri)

Merendahkan Diri oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 11 Maret 2010 jam 8:24 Ditulis Oleh: Emha Ainun

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Merenungkan Mutu Kebudayaan

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 19 Juli 2009 jam 13:44 Ditulis Oleh: WS. Rendra

Membangun kebudayaan pada hakikatnya meningkatkan budi dan daya manusia di dalam mengembangkan mutu dan kesejahteraan hidupnya. Kesejahteraan hidup manusia harus mengandung mutu untuk kepuasan batin dan pikiran. Sebaliknya idealisme mutu harus ada kaitannya dengan kenyataan kesejahteraan.

Kesejahteraan yang diperoleh dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan mana bisa menimbulkan ketentraman? Mana mungkin kesejahteraan dibangun dengan merusak kehidupan kaum lemah dan memorak-porandakan lingkungan alam? Sebaliknya pula, nilai-nilai mutu yang dipertahankan haruslah mengandung dinamika yang mampu menjawab tantangan zaman. Apakah gunanya nilai-nilai yang mengekang perkembangan kehidupan sosial kaum perempuan, misalnya? Dan apakah gunanya pula nilai-nilai yang menyebabkan masyarakat menjadi kolot? Meningkatkan budi dan daya manusia pada intinya adalah meningkatkan kesadaran dan kekuatan daya hidup. Totalitas kesadaran manusia tidak terdiri dari kesadaran pikiran semata, tetapi juga kesadaran batin dan panca indranya. Oleh sebab itu, olah kepekaan panca indra yang dikembangkan oleh dunia persilatan dan seni bela diri, juga dunia kanuragan dan dunia kepanduan pantas untuk dilestarikan. Sebab pancaindra adalah pintu pertama ke arah penyadaran terhadap kenyataan-kenyataan kebendaan di luar diri kita.

Pengamatan yang total dan teliti atas kenyataan kebendaan dari zat dan jasad di dalam alam semesta ini telah mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan

Merenungkan Mutu Kebudayaan oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 19 Juli 2009 jam 13:44 Ditulis Oleh: WS.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

teknologi. Bagi para seniman hal tersebut bisa melahirkan kemampuan untuk melukiskan kekayaan detail.

Adapun kepekaan batin adalah unsur kesadaran yang paling dalam pada diri manusia. Iman, cinta, kedamaian, kepuasan dan sejenisnya tidak bisa ditangkap oleh pancaindra. Bahkan, kadang luput dari pengertian pikiran. Tetapi bisa seketika dihayati oleh batin.

Ikatan jodoh antara lelaki dan perempuan, antara seorang dengan bangsa dan tanah airnya, dengan keluarganya, atau sahabatnya adalah ikatan batin. Semua pengalaman kita yang hanya menjadi pengalaman panca indra dan pikiran akan sedikit artinya bagi perkembangan kehidupan apabila tidak mendalam menjadi pengalaman batin. Tanpa penghayatan batin, tidak ada kenikmatan hidup yang memuaskan manusia. Membangun kebudayaan yang mengabaikan segi kehidupan batin justru akan menimbulkan keresahan dan ketegangan.

Glamor kebudayaan Sodom dan Gomorah, atau keperkasaan proyek menara Babil, bukanlah jawaban untuk kepuasan hidup manusia. Karena, tidak mengandung masukan terhadap batin. Ternyata tujuan tidak bisa menghalalkan cara. Karena, kita tidak pernah bisa hindar untuk bertanggung jawab kepada batin kita mengenai cara-cara kita dalam mencapai tujuan. Macbeth dan Duryudana harus menanggung derita batin yang berat karena cara-caranya dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Elvis Presley, Marilyn Monroe, dan Michael Jackson menjulang dan kaya raya sampai akhir hidupnya. Tetapi, karena batin yang sakit, mereka tidak bisa menikmati kejayaannya itu. Di dalam membangun kebudayaan perhatian kepada

teknologi. Bagi para seniman hal tersebut bisa melahirkan kemampuan untuk melukiskan kekayaan detail. Adapun kepekaan batin

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

kehidupan batin tidak semata-mata terwujud dalam besaran anggaran belanja, tetapi terutama di dalam ketulusan untuk menciptakan iklim pertumbuhannya. Harus ada ketulusan politik untuk menciptakan keadaan yang beradab dan menyingkirkan kebatilan.

Kebudayaan tidak bisa diciptakan dengan kerakusan dan brutalitas. Sebab, batin manusia akan tersiksa. Di sisi lain, memuliakan batin kita tidak mungkin dilakukan tanpa memuliakan batin orang lain di dalam kehidupan bersama.

Apabila kesadaran batin adalah dasar kemantapan kebudayaan, kesadaran pikiran adalah motor kemajuannya. Ia sumber daya cipta yang bisa menyajikan cita-cita dan konsep untuk hidup bersama. Pikiran mampu bernalar secara sebab-akibat, sehingga melahirkan filsafat. Pikiran mampu bernalar secara analisis, sehingga melahirkan ilmu pengetahuan; atau secara paralel sehingga bisa mendekati batin, selanjutnya melahirkan mistikisme dan kesenian.

Selalu ada halangan di segenap kurun masa untuk memperkembangkan pikiran. Suatu penemuan pikiran yang akhirnya bisa diterima oleh masyarakat akan menjadi kesadaran akal sehat kolektif. Pemikiran baru yang datang kemudian, kadang-kadang sangat sulit untuk membuka dan memperkembangkan akal sehat kolektif itu.

Akal sehat kolektif yang pada zaman tertentu dinilai sangat progresif, di kurun masa sesudahnya bisa dianggap sangat konservatif. Bangsa yang dianggap maju di dunia pada suatu zaman, apabila terlalu sulit berkembang akal sehatnya, bisa menjadi bangsa yang mundur dan terbelakang pada zaman berikutnya

kehidupan batin tidak semata-mata terwujud dalam besaran anggaran belanja, tetapi terutama di dalam ketulusan untuk menciptakan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

(Bandingkan Tiongkok di zaman Ch’in Shih-Huang Ti dan Tiongkok di permulaan abad XX). Oleh karena itu, daya dinamik akal sehat kolektif harus selalu dijaga. Inilah tugas para pemikir dan seniman di dalam masyarakat. Sebab, kesibukan operasi kekuasaan politik, sosial, dan ekonomi masyarakat sering mengesampingkan standar mutu akal sehat kolektif itu.

Bahkan sering terjadi, para pemikir dan seniman-–yang biasanya peka pada mutu kesadaran pikiran—dengan sengaja dibungkam, sehingga akal sehat kolektif menjadi beku, pasif, ataupun malah merosot standarnya. Namun keadaan seperti itu malah dianggap sebagai yang ideal, yang rukun, yang stabil untuk landasan operasi yang lancar. Tidak pernah disadari bahwa akal sehat kolektif yang beku dan pasif adalah bom waktu yang akan membuat mobilitas masyarakat menjadi sekadar mekanis, tidak kreatif. Lalu akhirnya akan mengakibatkan mobilitas itu tersendatsendat seperti mesin yang bobrok, dan ujungnya menjadi bangsa yang kalah, tak berdaya, dijajah secara halus ataupun brutal oleh kekuatan-kekuatan lain di dunia.

Dengan kata lain, apabila keadaan sudah sedemikian parah serupa itu, hanya dengan susah payah, banyak toleransi, dan kesabaran, bisa diperbaiki. Esensial Inilah kenyataan yang pedih. Kita ketinggalan perkembangan pikiran. Pedih. Tetapi kepedihan ini seharusnya bisa menjadi cambuk untuk kebangkitan

Pembangunan struktural sangatlah penting, tetapi dapat menjadi sia-sia bila tidak disertai secara sekaligus membangun yang esensial, yaitu dunia pikiran dan kelestarian dunia batin.

Tanpa kelestarian dunia batin, kebudayaan tidak akan mendatangkan ketenteraman hidup kepada masyarakat. Tanpa dinamika dunia pikiran, struktur

(Bandingkan Tiongkok di zaman Ch’in Shih-Huang Ti dan Tiongkok di permulaan abad XX). Oleh karena itu,

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

dan infrastruktur akan kehilangan fungsi, sehingga menjadi sekadar berhala belaka. Sebenarnya di dalam sila-sila kehidupan kita bersama telah tersedia jawaban yang positif. Melestarikan dunia batin akan ditunjang oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Mengembangkan filsafat kemanusiaan, mengenal adanya Kedaulatan Manusia dengan segenap hak dan kewajibannya akan ditunjang oleh Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Dan hak rakyat untuk mengembangkan akal sehat kolektif dengan mempraktikkan disiplin analisis akan sesuai dengan kalimat di dalam Preambule UUD 1945 yang berbunyi: Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dengan batin yang damai dan penuh iktikad baik, kita sebagai suatu bangsa harus siap bertanggung jawab untuk menjawab pertanyaanpertanyaan itu, tidak sekadar berdasarkan prinsip, sekaligus berdasarkan pelaksanaan yang operatif. Itulah salah satu jalan keluar untuk bangkit dan mengejar cakrawala kita.

(Sumber: Media Indonesia, 14 Juli 2009)

dan infrastruktur akan kehilangan fungsi, sehingga menjadi sekadar berhala belaka. Sebenarnya di dalam sila-sila kehidupan kita

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Mudik Keluarga, Mudik Bangsa

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 17 September 2009 jam 11:26 Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Andaikan kata mudik berasal dari bahasa Arab: dho'a=hilang, mudli'=orang yang menghilangkan, orang yang kehilangan. Menjelang Lebaran, orang berduyun- duyun pulang dari perantauan ke kampungnya, karena selama setahun mereka merasa kehilangan. Kemudian, mereka mudik untuk menemukan kembali.

Meskipun sudah tinggal permanen di Jakarta atau di negeri mana pun, kampungnya adalah rumah sejatinya. Saya punya banyak teman-teman PKI atau yang di-PKI-kan hidup puluhan tahun di Jerman, Ceko, Prancis, tapi hatinya tetap berdomisili di kampung kelahirannya. Tak hanya di Indonesia, tapi lebih detail: di rumah keluarga di kampungnya. Banyak di antara mereka mengimpor istri dari kampung. Karena rumah mereka di mancanegara haruslah tetap terasa seperti rumahnya di kampung.

Kalau agak sok ilmiah, katakanlah: ada mudik sosiologis, ada mudik antropologis, ada mudik kosmologis. Mudik sosiologis itu waktunya ''sekarang'', ruangnya adalah skala atau teritori sosial budaya. Kita cari hidup, mengembangkan diri, dari kampung bersekolah keluar, bekerja, sampai jadi presiden atau gelandangan di tepian jalan protokol Jakarta. Di depan ada masa depan, di belakang ada masa silam. Masa silam sebenarnya selalu lebih kuat dibandingkan dengan masa depan.

Mudik Keluarga, Mudik Bangsa oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 17 September 2009 jam 11:26 Ditulis Oleh:

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Masa silam memberi kenikmatan prima karena cukup dikhayalkan, dan mudah menambah unsur dalam khayalan merdeka setiap orang. Kita jadi presiden kemudian memitologisasikan kepada seluruh rakyat bahwa asal usul kita adalah anak petani, sambil meyakin-yakinkan alias menipu diri kita sendiri tentang apa saja yang kita manipulasikan secara sosial. Atau kita rekayasa bahwa memang sudah selayaknya kita jadi presiden karena aslinya kita bernasab Keraton Solo atau Yogya, atau keturunan Prabu Brawijaya, Sunan Giri, atau turunan Rasulullah Muhammad SAW.

Pandangan ke masa silam sungguh kenikmatan tiada tara. Sementara masa depan berujung di maut. Kalau kita gagal berkarier, hidup miskin, tak punya keunggulan apa-apa, menabung kematian dalam kehidupan, mungkin malah agak enteng memandang ke masa depan. Maut sudah kita akrabi melalui riwayat-riwayat kesengsaraan dan kegagalan.

Tapi kalau kita sukses, dari sopir meningkat tata usaha meningkat wartawan terus jadi menteri dalam kabinet dan negara yang nirkualifikasi: kita semakin takut meninggalkan apa yang kita sangka sukses hidup. Semakin uzur usia semakin menyesali berkurangnya umur. Semakin tua usia semakin karib dengan kekosongan dan kengerian berada dalam kubur. Maka upacara mudik kita perlukan agar para kerabat dan handai tolan di kampung mengerti sukses kita, dan itu merupakan snack kepuasan sosial budaya sesaat.

Orang tak pernah punya sukses kayak saya terbebas dari post-power syndrome. Tetapi bisa juga ada dialektika yang sebaliknya. Karena hidup tak begitu sukses, masa depan terjauh hanya tua dan mati, maka mumpung masih dikasih jatah hidup oleh Tuhan, mending kita rajin pulang kampung. Dan yang paling efektif

Masa silam memberi kenikmatan prima karena cukup dikhayalkan, dan mudah menambah unsur dalam khayalan merdeka setiap

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

adalah seusai Ramadan, semua keluarga pasti berkumpul dan kita bisa bercengkerama beberapa saat untuk menutupi kekecewaan hidup yang menggumpal di kalbu.

Mudik sosiologis setiap Lebaran menjadi momentum yang jangan sampai terlewat. Karena masih lebih nikmat mengenang sejenak asal usul sosial budaya kita di kampung bersama keluarga, dibandingkan dengan menikmati kehidupan nyata.

Orang sukses sangat membutuhkan mudik antropologis, karena melancong ke wilayah nasab diri dari Hayam Wuruk sampai Homo sapiens dan mungkin Homo erectus sungguh menambah bersinarnya ikon eksistensi kita. Sekarang bahkan sangat banyak kartu ID yang mencantumkan nama plus gelar plus nenek moyang hebat. Kebanyakan orang akan mengenal nama itu dan kagum kepada pemilik ID-

card itu. Nama Gus Fullah bin Kiai Haji Fulan keturunan Syekh Falun bin Maulana

Fulun bin Ayatullah Fulus

mudik sangat penting untuk mengisi kekosongan diri

... di tengah zaman yang menindas harkat manusia dan derajat kemanusiaan.

Mudik Lebaran setahun sekali, tapi banyak modus mudik yang bisa kita lakukan. Saya tidak punya prestasi apa-apa tidaklah penting, pokoknya saya keturunan Nabi Ibrahim.

Adapun mudik kosmologis adalah hakikat setiap detik untuk berproses dalam lingkar Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Itulah prinsip utama kehidupan yang oleh kebudayaan manusia dialihkan menjadi tanda kematian. Kalau jalan kaki dari Jakarta menuju Jakarta, maka rutenya harus melingkar. Orang tak bisa untuk tidak

adalah seusai Ramadan, semua keluarga pasti berkumpul dan kita bisa bercengkerama beberapa saat untuk menutupi kekecewaan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

mudik, karena hidup adalah pergi untuk kembali. Atau, perginya orang hidup, adalah kembali.

Takkan ke mana-mana engkau pergi, meskipun kau lalui seribu peperangan dan kemenangan, kau libas setiap pesaing, kau menangkan pemilihan nasional, kau pertahankan kursi kekuasaan, kau memancar di puncak mercusuar popularitas, kau bangun segala kemegahan, kau tumpuk gumpalan emas dan kau himpun seribu dayang menjadi budak yang melayanimu memakaikan baju, menyikat gigimu dan menceboki tinjamu. Tak kan ke mana engkau pergi kecuali menyerahkan dirimu kembali, terpaksa atau ikhlas, kepada asal usul yang sejati.

Juga apa pun saja yang kau pikir kau miliki: kekayaan, harta benda, kau tumpuk- tumpuk mereka hanya untuk satu tujuan: mereka meninggalkanmu atau engkau mendadak meninggalkan mereka. Kalau kau curi uang dan harta milyaran trilyunan itu untuk kau pergikan ke mana? Sebab setiap momentum pergi adalah kembali. Engkau mencuri sesuatu dari suatu tempat yang sertifikatnya milik Tuhan, engkau memindahkannya mentransfernya ke suatu tempat yang juga milik Tuhan.

Setiap tempat pergi adalah tempat kembali. Setiap barang yang kau curi tidak punya jalan lain kecuali kau setorkan kembali ke "Tukang Tadah Agung" yang sesungguhnya tidak menadahi apa-apa kecuali milik-Nya sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Sesungguh-sungguhnya kita dan apa saja adalah adalah hak-Nya dan satu-satunya kemungkinan hanyalah kembali ke pangkuan-Nya.

mudik, karena hidup adalah pergi untuk kembali. Atau, perginya orang hidup, adalah kembali. Takkan ke mana-mana

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Tak ada kekuasaan yang bisa benar-benar kau raih, karena menjelang engkau lahir tak kau setorkan apa-apa untuk saham rencana kelahiranmu. Jangan sekadar katakan bahwa kekuasaan hanyalah titipan: dirimu sendiri pun titipan. Karena engkau tak mampu menciptakan dirimu sendiri. Bahkan kedua orangtuamu tak bisa merancang panjang hidungmu, jenis rambutmu, apalagi tingkat kecerdasan pikiranmu.

Tak ada kemenangan yang sejati engkau raih. Karena setelah seorang petinju menjatuhkan lawan, tunggu sejam lagi dan pertarungkan mereka kembali:

kemungkinannya bisa berbeda. Kemenangan berlaku sesaat, dan batal substansinya pada detik berikutnya. Indonesia menjadi Juara Dunia Demokrasi, memilih presiden langsung dengan rekor jumlah pemilih dan rekor keamanan kedamaian pemilu. Tetapi apa hasil dari puncak demokrasi itu hari ini? Bertanyalah kepada hati dan analisis akalmu, mintalah mereka berdua agar tak terkontaminasi oleh apa pun untuk jujur menjawab.

Maka salah satu impian saya adalah pada pemilu mendatang, semoga Allah menjadi pencoblos pertama. Semoga coblosan pertama itu adalah hidayah yang menggiring seluruh pemilih Nusantara "yadhuluna fi dinillahi afwaja", berduyun- duyun memasuki cakrawala kasih sayang Allah. Ratusan kali saya bertanya langsung kepada ribuan publik di hadapan forum saya di berbagai wilayah Indonesia: "Saudara-saudara dulu beramai-ramai memilih SBY karena ilmu pengetahuan tentang beliau atau berdasar sangka-sangka? Karena mengerti siapa beliau atau kira-kira?"

Demi Allah 100% mereka menjawab: "Kira-kira!", "Dengar-dengar!", "Kayaknya!", "Kata teman-teman, kata tetangga". Bangsa Indonesia tidak punya akses lebih

Tak ada kekuasaan yang bisa benar-benar kau raih, karena menjelang engkau lahir tak kau setorkan apa-apa

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

dari 10% informasi tentang siapa-siapa tokoh nasionalnya. Andaikanpun ada cukup informasi, mereka juga tak cukup memiliki parameter untuk mengukur dan menilai. Rakyat Indonesia sama sekali belum memenuhi syarat untuk menjadi pelaku kecerdasan demokrasi kenegaraan mereka.

Masuk akal dari sudut itu pujangga Ronggowarsito menyebut kalau SBY adalah Satrio Pambuko Gerbang, kepemimpinan berikutnya, kalau Indonesia mau bangkit dari keterpurukan totalnya: sebaiknya mulai mudik, mulai pergi untuk kembali, mulai belajar memahami dimensi-dimensi nilai di balik idiom Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu.

Sebagaimana dulu Gus Dur afdhal letakkan dirinya sebagai pada posisi "Sunan Ampel", memimpin peralihan zaman, bukan sebagai "Raden Patah" yang raja. SBY juga pembuka gerbang: konsep kepemimpinannya membereskan segala sesuatu agar siap masuk gerbang milenium Nusantara Baru. Sebagaimana Thalut menyiapkan rakyat Yahudi menuju Era Daud, kebangunan yang sesungguhnya.

Buka saja dulu gerbangnya, segala yang tidur mulai dibangunkan, yang buntu coba dibor, yang jauh didekatkan, yang flu di-fresh-kan, yang macet dibukakan jalan. Untuk kebangkitan yang sesungguhnya diperlukan seorang pemimpin yang kesatria, menguasai peta masalah, jantan tegas, profesional, cakap manajemen. Satrio. Juga harus pinandito: memiliki kapasitas spiritual, aura, awu, wibawa, berani menindas dunia di dalam dirinya, ringan menepis nafsu keduniaan. Bahkan sinisihan wahyu: setiap langkah dan perilakunya relevan dan terbimbing oleh al- yad al-khair, tangan bajiknya Tuhan.(Sumber: Gatra Nomor 47 Beredar Kamis, 4 Oktober 2007, ilustrasi: handaru.light17.com)

dari 10% informasi tentang siapa-siapa tokoh nasionalnya. Andaikanpun ada cukup informasi, mereka juga tak cukup memiliki

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

MUHAMMADKAN HAMBA YA RABBI

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 16 Agustus 2010 jam 10:16

Puisi: Emha Ainun Nadjib

  • Di setiap tarikan napas dan langkah kaki

Tak ada dambaan yang lebih sempurna lagi

  • Di ufuk jauh kerinduan hamba Muhammad berdiri

Muhammadkan hamba ya Rabbi

Muhammmadkan ya Rabbi hamba yang hina dina

Seperti siang dan malammu yang patuh dan setia

Seperti bumi dan martahari yang bekerja sama

Menjalankan tugasnya dengan amat terpelihara

MUHAMMADKAN HAMBA YA RABBI oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 16 Agustus 2010 jam 10:16 Puisi: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Sebagai Adam hamba lahir dari gua garba ibunda

Engkau tuturkan pengetahuan tentang benda-benda

Hamba meniti alif-ba-ta makrifat pertama

Mengawali perjuangan untuk menjadi mulia

Ya Rabbi engkau tiupkan ruh ke dalam Nuh hamba

Dengan perahu di padang pasir yang mensamudera

Hamba menangis oleh pengingkaran amat dahsyatnya

Dan bersujud di bawah kebenaran-Mu yang nyata

Sebagai Adam hamba lahir dari gua garba ibunda Engkau tuturkan pengetahuan tentang benda-benda Hamba meniti alif-ba-ta

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Sesudah berulangkali bangun dan terbanting

Merenung dan mencarilah hamba sebagai Ibrahim

Menatapi laut, bulan, bintang dan matahari

Sampai gamblang bagi hamba Allah yang sejati

Jadilah hamba pemuda pengangkat kapak

Menghancurkan berhala sampai luluh lantak

Hamba lawan jika pun Fir’aun sepuluh jumlahnya

Karena api sejuk membungkus badan hamba

Sesudah berulangkali bangun dan terbanting Merenung dan mencarilah hamba sebagai Ibrahim Menatapi laut, bulan, bintang dan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kemudian ya Rabbi engkau ajarkan hal kedewasaan

Yakni penyembelihan dan kurban, pasrah dan keikhlasan

Tatkala dengan hati pedih pedang hamba ayunkan

Sukma hamba memasuki Ismail yang menelentang

Ismail hamba membisikkan firman-Mu ya Rabbi

Bahwa dewasa tidak ditandai kegagahan diri

Melainkan rela menyaring dan menyeleksi

Agar secara jernih berkenalan dengan yang inti

Kemudian ya Rabbi engkau ajarkan hal kedewasaan Yakni penyembelihan dan kurban, pasrah dan keikhlasan Tatkala dengan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Di

saat meng-Ismail itu betapa jiwa hamba gemetar

Ego pribadi adalah musuh yang teramat tegar

Jika di hadapan-Mu masih ada sejumput saja pamrih

Maka leher hamba sendiri yang bakal tersembelih

Dan memang kepala hamba tanggal berulangkali

  • Di medan peperangan modern ini ya Rabbi

Hamba kambing di jalanan peradaban ini

Darah mengucur, daging hamba dijadikan kenduri

Di saat meng-Ismail itu betapa jiwa hamba gemetar Ego pribadi adalah musuh yang teramat tegar Jika

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Tulus hati dan istiqamah Ismail ya Rabbi

Betapa sering lenyap dari gairah perjuangan ini

Keberanian untuk bersetia kepada kehendak-Mu

Di hadapan musuh gugur satu demi satu

Maka hamba-Mu yang dungu belajar menjadi

Musa Meniti kembali setiap hakikat alif-ba-ta

Belajar berkata-kata, belajar merumuskan cara

Harun hamba membantu mengungkapkannya

Tulus hati dan istiqamah Ismail ya Rabbi Betapa sering lenyap dari gairah perjuangan ini Keberanian untuk

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Musa hamba membukakan universitas cakrawala

Setiap gejala dan segala warna zaman hamba baca

Dengan seribu buku dan seribu perdebatan

Hamba tuntaskan makna kebangkitan

Tongkat hamba angkat dan tegakkan ya Rabbi

Memusnahkan iklan-iklan takhayul Fir’aun yang keji

Ular klenik pembangunan, sihir gaya kebudayaan

Karena telah hamba genggam yang bernama kebenaran

Musa hamba membukakan universitas cakrawala Setiap gejala dan segala warna zaman hamba baca Dengan seribu buku

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Ya Rabbi alangkah agung segala ciptaan ini

Kebenaran belaka membuat hidup kering dan sepi

Maka Engkau jadikan hamba Isa yang lembut wajahnya

Dengan mata sayu namun bercahaya, mengajarkan cinta

Isa hamba sedemikian runduknya kepada dunia

Segala tutur kata dan prilakunya kelembutan belaka

Sehingga murid-murid hamba dan anak turunnya terkesima

Tenggelam mesra dalam Isa hamba yang disangka tuhannya

Ya Rabbi alangkah agung segala ciptaan ini Kebenaran belaka membuat hidup kering dan sepi Maka Engkau

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Ya Rabbi, haruslah berlangsung keseimbangan

Antara cinta dan kebenaran

Haruslah ada tuntunan pengelolaan

Atas segala ilmu dan nilai yang Engkau anugerahkan

Karena itu Muhammadkan hamba ya Rabbi

Bukakan pintu kesempurnaan yang sejati

Pamungkas segala pengetahuan hidup dan hati suci

Perangkum bangunan keselamatan para rasul dan nabi

Ya Rabbi, haruslah berlangsung keseimbangan Antara cinta dan kebenaran Haruslah ada tuntunan pengelolaan Atas segala ilmu

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Muhammadkan hamba ya Rabbi Muhammadkan

Agar tak menangis dalam keyatim piatuan

Agar tak mengutuk meski batu dan benci ditimpakan

Agar sesudah hijrah hamba memperoleh kemenangan

Muhammadkan hamba ya Rabbi Muhammadkan hamba

Agar kehidupan hamba jauh melampaui usia hamba

Agar kesakitan tak menghentikan perjuangan

Agar setiap langkah mengantarkan rahmat bagi alam

Muhammadkan hamba ya Rabbi Muhammadkan Agar tak menangis dalam keyatim piatuan Agar tak mengutuk meski batu

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Muhammadkan hamba ya Rabbi Muhammadkan

Di rumah, di tempat kerja serta di perjalanan

Agar setiap ucapan, keputusan dan gerakan

Menjadi ayat-Mu yang indah dan menaburkan keindahan

Takkan ada lagi sosok pribadi seanggun ia

Dipahami ataupun disalahpahami oleh manusia

Kalau tak sanggup kaki hamba menapaki jejaknya

Penyesalan hamba akan tak terbandingkan oleh apapun saja

Muhammadkan hamba ya Rabbi Muhammadkan Di rumah, di tempat kerja serta di perjalanan Agar setiap ucapan,

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Para malaikat sedemikian hormat dan segan kepadanya

Bagai dedaunan yang merunduk kepada keluasan semesta

Para nabi berbaris menegakkan sembahyang

Engkau perkenankan ia berdiri menjadi imam

Ya Rabbi Muhammadkan hamba, Muhammadkan hamba

Perdengarkan tangis bayi padang pasir di kelahiran hamba

Alirkan darah Al-Amin di sekujur badan hamba

Sarungkan tameng Al-Ma’shum di gerak perjuangan hamba

Para malaikat sedemikian hormat dan segan kepadanya Bagai dedaunan yang merunduk kepada keluasan semesta Para nabi

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Kalungkan kebencian Abu Jahal di leher hamba

Sandingkan keteduhan Abu Thalib di kaki duka lara hamba

Payungkan awan cinta-Mu di bawah terik politik durjana

Usapkan tangan sejuk Khadijah pada kening derita hamba

Kirimkan Jibril mencuci hati Muhammad hamba

Lahirkan kembali wahyu-Mu di detak gemetar jantung hamba

Dan kucurkan darah luka Muhammad oleh pedang kaum pendusta

Hadiahkan kepada hamba rasa sakitnya

Kalungkan kebencian Abu Jahal di leher hamba Sandingkan keteduhan Abu Thalib di kaki duka lara hamba

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Ya Rabbi ya Rabbi Muhammadkan hamba

Bersujud dan tafakkur di gua Hira jiwa hamba

Berkeliling ke rumah tetangga, negeri dan dunia

Menjajakan cahaya

Ya Rabbi ya Rabbi Muhammadkan hamba Bersujud dan tafakkur di gua Hira jiwa hamba Berkeliling ke

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Pasar dan Pasar Bebas

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 02 Maret 2010 jam 10:09 Ditulis Oleh: Toto Rahardjo

Tulisan ini memang hanya sekadar cerita berdasarkan ingatan, dari apa yang pernah dilihat, didengar dari cerita orang, maka janganlah berharap Anda akan menemukan hal-hal ilmiah dalam tulisan ini.

Kalau Anda berasal dari pedesaan pasti memiliki cerita kenangan tentang pasar. Mayoritas anak-anak di pedesaan selalu berbinar-binar ketika hari pasar tiba, karena pasar memang tidak setiap hari ada. Apa yang dibayangkan pada saat menjelang hari pasar—yakni, kesempatan anak-anak bisa jajan, ada secercah harapan anak-anak, karena akan dibelikan sesuatu oleh orang tuanya. Apalagi menjelang lebaran, adalah saat akan mendapatkan baju baru. Pasar memang menjadi peristiwa dan perhelatan bagi orang tua, anak-anak, perempuan, laki- laki. Bahkan pasar menjadi tempat pertemuan, tempat ngrumpi, silaturahmi, menjadi pusat informasi selain tentu saja mempunyai fungsi pokok, yakni menjadi tempat interaksi si penjual dan si pembeli. Maka tidaklah heran jika pasar menjadi ajang lobby politik, untuk mengetahui perkembangan apa yang sedang terjadi di desa-desa sekitar pasar, juga perkembangan-perkembangan menarik di daerah lain.

Rata-rata putaran penyelenggaraan pasar di masing-masing tempat sekitar dua sampai dengan lima hari sekali. Selain tujuh nama hari yang dikenal diseluruh penjuru tanah air yakni; Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu), di

Pasar dan Pasar Bebas oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 02 Maret 2010 jam 10:09 Ditulis Oleh:

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Jawa juga dikenal lima hari yang sering dimaknai sebagai hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon).

Jadi putaran penyelenggaraan pasar terjadi lima hari sekali. Ada pasar Legi di desa tertentu yang lebih banyak untuk menjual hasil-hasil bumi, ada Pasar Kliwon di desa anu yang lebih khusus menjual grabah dan alat-alat pertanian, ada Pasar Pon di wilayah lain yang khusus menjual hewan (maka sering dikenal dengan pasar hewan). Selain penyelenggaraan pasar yang lumintu itu, juga ada pasar-pasar khusus yang biasanya terjadi pada saat-saat tertentu, misalnya tepat pada hari- hari besar (lebaran misalnya) yang biasanya jauh lebih lengkap barang-barang dagangan dan jauh lebih besar jumlah dan ragamnya—sering disebut dengan prepegan. Ada juga pasar malam yang memang diselenggarakan di malam hari biasanya disertai dengan berbagai pertunjukan atau hiburan—namun perhelatan seperti ini tidak setiap saat ada (biasanya terjadi pada momen-momen tertentu, pada hari-hari besar).

Pengertian Pasar dipahami secara arief dan sederhana, sebuah interaksi jual beli memang sudah diniati sejak dari rumah, karena ada kebutuhan untuk mendapatkan sesuatu—tanpa dipaksa dan terpaksa, bahkan untuk menjual atau membeli telah dipikir masak-masak melalui perdebatan di setiap keluarga, minimal selama lima hari sebelum pasar itu tiba.

Tentu saja di dalam pasar itu ada saja orang-orang yang menipu, ada yang mengambil barang dengan cara diam-diam dan kecil-kecilan, itu disebut ngutil, ada yang khusus mengambil uang dari kantong celana atau baju atau dompet secara cepat, itu disebut copet. Namun profesi-profesi itu biasanya sudah diketahui oleh khalayak, baik ciri-ciri wajah, pola-pola gerak-geriknya maupun dari

Jawa juga dikenal lima hari yang sering dimaknai sebagai hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage dan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

mana asalnya (biasanya dari tempat-tempat tertentu), sehingga kewaspadaan sesungguhnya telah melekat pada setiap orang yang akan pergi ke pasar. Namun profesi (ngutil, copet, jambret dll) mengandung resiko besar, tidak jarang para pelaku itu tertangkap basah di pasar dan pasti akan diadili beramai-ramai, minimal mereka akan dipermalukan.

Melihat penyelenggaraan pasar, pada mulanya ada kesepakatan kapan dan di mana pasar itu diselenggarakan, bahkan spesial untuk jenis produk apa yang akan dijual di pasar itu. Jelas ada sirkulasi produksi, kapan dipasarkan, bukan dengan cara eksploitatif setiap hari, apalagi setiap jam, menit dan detik.Karena harus melalui kalkulasi, kapan waktunya produk itu dibutuhkan; misalnya alat-alat pertanian, grabah, alat-alat rumah tangga tidaklah setiap hari orang akan membeli.

Pasar bagi masyarakat bukanlah momok apalagi terkesan monster—pasar bahkan menjadi tempat bercanda bagi ibu-ibu, pasar juga menjadi tempat untuk menukar benih-benih pertanian antar petani yang akan menanam, tempat menukar sekian kambing dengan seekor sapi, kelak di zaman modern disebut barter.

Yang jelas sebagian proses penyelenggaraan pasar dikendalikan bersama-sama oleh masyarakat. Ada banyak kesepakatan-kesepakatan tak tertulis yang ternyata sangat dipatuhi di pasar itu yang intinya untuk melindungi kepentingan bersama.

Mulailah jaman modern masuk dan menginterfensi, mengatur bahkan menguasainya. Aturan-aturan yang disepakati secara kolektif berubah, bahkan secara fisik pasar oleh para modernis dianggap kumuh dan tak teratur maka harus

mana asalnya (biasanya dari tempat-tempat tertentu), sehingga kewaspadaan sesungguhnya telah melekat pada setiap orang yang akan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

dibangun. Konsep pembangunan pasar menjadi tak bisa dijangkau lagi oleh masyarakat, bahkan yang terjadi penghuni asli pasar yang ada selama ini harus menyingkir, tergusur karena dianggap tak pantas.

Penyelenggaraan pasar tidak lagi harus menunggu setiap hari pasaran, setiap saat ada pasar (dimana saja, kapan saja ada pasar). Nama-nama hari pasaran sudah tidak penting lagi. Padahal fungsi hari pasar bagi masyarakat juga terkait dengan hitungan-hitungan kehidupan lainnya. Orang sering memaknai hari kelahiran (weton) yang dihitung dari gabungan hari nasional dan pasaran, misalnya Sabtu Pahing, Jumat Kliwon. Juga terkait dengan hitungan-hitungan kapan hari yang tepat untuk menanam, untuk mendirikan rumah, untuk bepergian, untuk menikahkan anaknya, bahkan untuk mengawinkan kambing pun harus dihitung dengan cara yang sama.

Kini nama-nama hari, apalagi hari pasaran menjadi tidak penting karena setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik orang boleh menginginkan apa saja, boleh melakukan apa saja, boleh membeli apa saja, menjual apa saja, artinya metabolisme tidaklah penting lagi.

Kok sekarang ini ada lagi yang bernama Pasar Bebas! Apakah itu berbeda dengan pasar di kampungku dulu?!

Mengapa itu disebut pasar bebas? Apakah bebas itu berarti setiap orang bebas untuk menjual apa saja, atau apakah itu berarti negara bisa menjual apa saja, ataukah berarti kita juga bebas untuk tidak menjual dan bebas untuk tidak membeli?

dibangun. Konsep pembangunan pasar menjadi tak bisa dijangkau lagi oleh masyarakat, bahkan yang terjadi penghuni asli

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Di

pasar kampung ada pencuri kecil-kecilan yang disebut ngutil dan nyopet,

namun menurut pengalaman saya kejadian-kejadian itu bisa diatasi setidaknya oleh pengurus pasar, bahkan di tingkat masyarakat luas. Terus terang saya tidak bisa membayangkan bagaimana praktek pencurian yang terjadi dalam dunia pasar bebas, tentunya tidak setingkat ngutil atau nyopet seperti yang terjadi di pasar kampung. Di kehidupan pasar kampung, ada juga istilah bank plecit yakni orang yang meminjamkan uang—yang biasanya untuk modal berdagang kecil-kecilan— dengan bunga yang cukup tinggi. Untuk pedagang kecil memang berat, kami semua tahu bahwa rentenir, lintah darat itu dosanya besar. Tapi harus diakui bahwa bank plecit itu tidak pernah memaksa, dan kadang kala memang itu

berguna. Sebab bagi orang kecil membutuhkan pelayanan cepat, karena untuk pinjam dari bank pemerintah yang ada, yang bunganya kecil, ternyata juga tidak mudah bahkan cenderung bertele-tele.

Dipasar kampung juga ada profesi-profesi yang di sebut blantik, yakni orang yang kerjanya merayu, mempengaruhi pembeli maupun penjual agar memperoleh upah jasa, sesekali juga bisa mendapatkan keuntungan dari harga bakunya.

  • Di pasar bebas, ternyata ada juga bank plecit bertaraf besar yang beroperasi

dengan canggih, bahkan tidak tanggung-tanggung melakukan pemaksaan secara

canggih melalui otoritas negara. Dengan cara mengkritik bahwa instrumen pasar

  • di sebuah negara dianggap ‘tidak sehat’. Ada-ada saja. Istilah ‘tidak sehat’,

parameternya dan obatnya mereka yang menentukan. Jadi kata ‘bebas’ di sini berarti kira-kira hanya yang kuat saja yang bebas menentukan apa saja, bebas membeli apa saja dan bebas menjual apa saja. Sementara yang tidak kuat tidak kuasa untuk menjual dan tidak kuasa pula untuk membeli. Bagi yang lemah, barang-barang yang penting bagi kehidupannya bisa dipaksa untuk dijual ke yang

Di pasar kampung ada pencuri kecil-kecilan yang disebut ngutil dan nyopet, namun menurut pengalaman saya kejadian-kejadian

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

kuat, dan bagi si lemah ia bisa dipaksa untuk membeli apa saja yang dijual oleh yang kuat.

Pasar dalam arti sempit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran bertemu, dalam hal ini lebih condong ke arah pasar tradisional. Sedangkan dalam arti luas adalah proses transaksi antara permintaan dan penawaran, dalam hal ini lebih condong ke arah pasar modern. Permintaan dan Penawaran dapat berupa Barang atau Jasa. Maka kata “pasar” mestinya masih sama namun sungguh sangat jauh melenceng maknanya, walaupun saya sudah dikasih tahu bahwa yang terjadi dalam pasar bebas itu ada kejahatan-kejahatan terselubung, dan yang terjadi sudah tidak lagi sekadar menjual atau membeli barang, tetapi yang tak nampak adalah jual beli pikiran, sikap, prinsip bahkan menjual diri dan rasa kemanusiaan.

Tetap saja saya tidak paham, memang saya ini orang desa.

Pertanyaan-pertanyaan terus saja berkecamuk: “Siapa yang menjadi Kepala Pasar Bebas?”, “Siapa ya yang menjadi tukang Bea di Pasar Bebas?, siapa yang menjadi blantik?”. Karena kalau Kepala Pasar di kampung saya itu jelas rumahnya, jelas alamatnya, tak jauh juga dari rumahku. Sekali lagi semakin tak paham, bahkan sekarang ini aku tak paham dengan diriku sendiri, “Apakah betul segala kemauanku, segala keinginanku, niatku sungguh-sungguh dan senyata-nyatanya aku yang menentukan sendiri?”, Saya semakin tidak mudheng bahwa pikiranku, segala keinginanku juga telah dikendalikan oleh sesuatu yang tak pernah aku pahami.

Nah, di manakah letak Maiyah? Sepengetahuan saya, Maiyah menaruh kritisisme terhadap pasar bebas. []

kuat, dan bagi si lemah ia bisa dipaksa untuk membeli apa saja yang dijual oleh yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Pemerintah

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 30 November 2009 jam 14:11 Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Pemerintah kerjanya melarang dan memerintah. Kalau Tuhan memegang hak seratus persen memerintah dan melarang karena memang Ia yang menciptakan kita dan semua alam ini, serta yang menyediakan hamparan rejeki dan menjamin hidup manusia. Tapi pemerintah kan menyuruh kita cari makan sendiri-sendiri. Kalau kita kelaparan atau dikubur utang, kita tidak bisa mengeluh kepada pemerintah. Hubungan kita dengan pemerintah adalah bahwa kita semua berada di bawah kekuasaannya tanpa ada jaminan bahwa kalau kita mati kelaparan lantas mereka akan menangisi kita dan menyesali kematian itu.

Pemerintah oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 30 November 2009 jam 14:11 Ditulis Oleh: Muhammad Ainun Nadjib

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Pencerahan dan Ketercerahan

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 01 Oktober 2010 jam 10:58

Kalau Anda orang Islam alangkah indahnya kalau serajin dan sedalam mungkin Anda menggali nilai-nilai Islam untuk Anda kontribusikan kepada seluruh bangsa kita, agar proses-proses demokrasi, keadilan dan penyejahteraan yang kita lakukan bareng-bareng ini semakin efektif. Di kulit luar Al-Qur'an bagian belakang, biasanya ditulis firman Allah La yamassuhu illal muthahharun. Biasanya ustadz- ustadz kita mengartikan bahwa kalau kita sedang dalam keadaan batal dan belum berwudlu, maka dilarang menyentuh Al-Qur'an. La itu tidak atau jangan. Yamassu itu menyentuh. Hu itu kata ganti untuk Al-Qur'an. Illa itu kecuali. Muthahharun itu orang-orang yang dalam keadaan suci.

Sekali lagi, sebelum pegang Qur'an, kita berwudlu dulu, supaya muthahhar. Itu tidak salah, dan bagus untuk pendidikan dasar etika vertikal keislaman. Tapi sebaiknya tidak tertutup bagi pengembangan interprestasi. Misalnya, kita ambil dua hal. Yang pertama, yang disebut Qur'an dalam tafsir dasar di atas sebenarnya adalah mushaf. Terdiri dari kertas dan goresan tinta. Itu yang jangan dipegang kalau dalam keadaan batal. Pastilah Qur'an bukan kertas dan tinta.

Qur'an adalah suatu rumusan dan tuturan firman, yang bersifat rohaniah (intelektualitas itu rohaniah), yang diantarkan oleh bahasa atau peralatan budaya manusia melalui kertas dan tinta. Dulu malaikat Jibril tidak datang dari langit kepada Muhammad SAW. membawa berkas buku, melainkan membawa titipan ucapan Tuhan. Ketika dikatakan 'Bacalah !', bukan berarti Jibril menyodorkan kertas yang ada tulisannya dan Muhammad disuruh membaca. 'Membaca' di situ memiliki pengertian yang sangat-sangat luas. Intinya: membaca kehidupan. Utsman ibn Affan yang kemudian mempelopori pe-mushaf-an rohani Qur'an itu.

Pencerahan dan Ketercerahan oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 01 Oktober 2010 jam 10:58 Kalau Anda orang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Jadi mushaf adalah suatu sarana budaya atau fasilitas teknologi yang mengantarkan Qur'an kepada manusia. Maka, la yamassuhu, tidak (bisa, boleh) menyentuh, sasarannya bukan terutama mushaf, melainkan substansi Qur'an itu sendiri.

Oleh karena itu pengembangan interpretasi atas ayat Allah yang menghiasi kulit belakang mushaf itu, bisa begini: Kalau jiwamu tidak berada dalam keadaan muthahhar, enlighted, tersucikan, maka engkau tidak berada di dalam koridor hidayah dan fungsi Qur'an bagi kehidupanmu.

Katakanlah ada beberapa fungsi Qur'an, umpamanya: ia bukan hanya informasi, tapi juga informasi yang pasti benar. Ia bukan sekedar pemberitahuan, tetapi petunjuk. Ia bukan sekedar berita, tapi kabar gembira.

Ia bukan hanya penuturan ilmu, tapi juga rahmat. Ia bukan hanya perintah, tapi rahasia ilmu. Ia bukan hanya ketegasan kebenaran, tapi juga cinta dan kedamaian yang matang. Ia bukan hanya selebaran tentang iblis dan setan, tapi juga rangsangan eksplorasi fisika, biologi, astronomi. Serta banyak lagi.

Manusia yang pikirannya skeptis terhadap Qur'an, yang hatinya blocked-out dari firman pamungkas Allah itu, yang sikap hidupnya mempergelap dirinya sendiri, logis kalau tidak memperoleh sentuhan apapun dari multi-probabilitas rahmat Allah melalui Qur'an. La yamassuhu illal muthahharun.

Tidak memperoleh apa-apa darinya kalau menolak enlightment. Dan kalau memang kita memilih yang ini, tak ada masalah bagi Tuhan, Muhammad atau siapa pun saja. Allah tidak menangis, Muhammad tidak merugi, Islam tidak merasa kurang suatu apa. Sebab Islam tidak akan mendapatkan risiko apa-apa, ia bukan manusia yang harus bertanggung jawab kepada sumbernya. [EAN]. (Sumber: " Kitab Ketentraman Emha Ainun Nadjib " ]?

Jadi mushaf adalah suatu sarana budaya atau fasilitas teknologi yang mengantarkan Qur'an kepada manusia. Maka, la

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Peran Tuhan

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 24 Maret 2010 jam 9:57 Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Secara empiric, setidaknya ada empat peran Tuhan dalam kehidupan kita bersama. Pertama, Tuhan sebagai pemberi solusi atau jalan keluar atas semua problem manusia. Manusia adalah makhluk serba terbatas. Karenanya, apapun saja yang diupayakannya, suatu saat pasti akan terbentur oleh kendala-kendala, dan kebuntuan-kebuntuan. Maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah atas problem dan persoalan hidupnya. Kedua, Tuhan sebagai sumber dana atau asal-usul rahasia rejeki yang tak terduga-duga. Prinsip ini begitu mendasar dan penting, dalam konteks upaya manusia mengejar kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Tuhan adalah Maha Pengatur Rejeki. Ketiga, Tuhan sebagai akuntan atau manajer ada penghidupan setiap hamba-Nya. Keempat, Tuhan sebagai public relation atau humas atau penyampai maksud, impian, kepada siapa saja yang diharapkan terkait dengan itu. Tuhan adalah harapan terakhir dari apa pun aktivitas yang dilakukan oleh mahlukNya.

Peran Tuhan oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 24 Maret 2010 jam 9:57 Ditulis Oleh: Emha Ainun

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Reciever Lailatul Qadar

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 02 September 2010 jam 11:09

Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Yang sepenuhnya harus kita urus dalam ‘menyambut’ Lailatul Qadar adalah Reciever Spiritual kita sendiri untuk mungkin menerima Lailatul-Qadar. Kesiapan diri kita. Kebersihan Jiwa kita. Kejernihan Ruh kita. Kepenuhan Iman kita. Totalitas iman dan kepasrahan kita. Itulah yang harus kita maksimalkan.

Kalau lampumu tak bersumbu dan tak berminyak, jangan bayangkan api. Kalau gelasmu retak, jangan mimpi menuangkan minuman. Kalau mentalmu rapuh, jangan rindukan rasukan tenaga dalam. Kalau kaca jiwamu masih kumuh oleh kotoran-kotoran dunia, jangan minta cahaya akan memancarkan dengan jernih atasmu.

Jadi, bertapalah dengan puasamu, bersunyilah dengan i’tikafmu, mengendaplah dengan lapar dan hausmu. Membeninglah dengan rukuk dan sujudmu. Puasa mengantarkanmu menjauh dari kefanaan dunia, sehingga engkau mendekat ke alam spiritualitas. Puasa menanggalkan barang-barang pemberat pundak, nafsu- nafsu pengotor hati, serta pemilikan-pemilikan penjerat kaki kesorgaanmu. ?

Reciever Lailatul Qadar oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 02 September 2010 jam 11:09 Ditulis Oleh: Emha

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Sistem Nilai Apakah yang Kita Pilih?

by Komunitas Kenduri Cinta Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib

Benarkah yang salah selalu adalah ia dan mereka? Sementara yang benar pasti kita dan saya?

Benarkah yang harus direformasi selalu adalah yang di situ dan di sana, dan bukan yang di dalam diri kita sendiri?

Mungkinkah reformasi eksternal dikerjakan tanpa berakar pada reformasi internal?

Apakah sesungguhnya yang sedang berlangsung di dalam syaraf-syaraf hati kita serta sel-sel otak kita?

Sistem nilai apakah yang sesungguhnya kita pilih untuk mengerjakan gegap gempita yang kita sebut reformasi ini? Demokrasi, sosialisme, Jawaisme,Islam, Protestanisme, Yahudisme, Serabutanisme, kebencian, dendam, atau apa.

Sistem Nilai Apakah yang Kita Pilih? by Komunitas Kenduri Cinta Ditulis Oleh: Emha Ainun Nadjib Benarkah

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Supremasi Keselarasan (bagian I)

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 25 November 2009 jam 13:29

Dengan kondisi obyektif manusia Indonesia, masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini, yang merupakan hasil dari disain peradaban berabad-abad lamanya: tidak mungkin kita bisa menegakkan Supremasi Hukum, atau lebih tinggi lagi Supremasi Keadilan. Yang kita handal membangun dan sangat lihai menyelengarakan adalah Supremasi Keselarasan.

Tema ini memerlukan uraian, analisis dan perdebatan yang harus sangat panjang, sehingga malam ini sekedar kita buka pintu saja. Para ilmuwan sosial dan ahli-ahli kebudayaan, sebaiknya mengagendakan tema ini untuk riset yang serius. Dan mohon disiapkan kerja sama penelitian dan diskusi dengan wilayah-wilayah kepakaran yang lebih luas, misalnya antropologi, biologi dan fisika bahkan genekologi, sejarah umat manusia, sampai ke konsep dasar Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta.

Semua wilayah itu saling terkait. Manusia dan bangsa Indonesia sedang berada di puncak ketidak-mengertian atas dirinya sendiri dalam multi-konteks yang barusan saya deretkan itu, sehingga tidak memiliki landasan ilmu dan pengetahuan yang memadai untuk melakukan kebangkitan dan pembangunan apapun yang menyangkut dirinya sendiri.

Dengan ganti kepemimpinan berapa kalipun, dengan pilihan ideologi kenegaraan apapun,pembangunan dan kebangkitan yang diselenggarakan tetap akan membuat rakyatnya kecele, jika penelitian atas dirinya sendiri itu tak segera di lakukan.

Supremasi Keselarasan (bagian I) oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 25 November 2009 jam 13:29 Dengan kondisi

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Bangsa Indonesia tidak punya kosa kata untuk hukum dan keadilan. Keduanya kita import dari bahasa Arab. Kalau ternyata ada, entah dari bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Bugis, Madura atau manapun, saya mengusulkan kata hukum dan adil itu segera diganti dengan milik kita yang asli, agar kita punya keberangkatan hukum dan keadilan yang mantap dan relevan dengan sejarah kita sendiri.

Yang kita punya adalah kata laras. Selaras. Yang kita bangun adalah keselarasan. Tak apa mencuri, asalkan mekanismenya bisa diselaraskan. Kita korupsi bareng- bareng di tempat masing-masing, dengan kesepakatan bahwa semua kita sama- sama menjaga keselarasan. Pemimpin bangsa adalah Kepala Pemelihara Keselarasan Nasional. Siapa harus di hukum dan siapa harus di pertahankan, pedomannya adalah mempertahankan keselarasan yang sudah terlanjur di bangun dan di informasikan, bukan obyektifitas hukum atau keadilan.

Bangsa kita menomersatukan 'norma', menomerduakan 'nilai'. Nilai mengikat setiap orang untuk tidak mencuri di manapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun. Norma adalah kesepakatan bersama, terutama kesepakatan di antara mereka yang berkuasa untuk selaras. Tidak masalah kita langgar undang-undang, hukum dan moral asalkan tetap selaras

dan citranya tetap bisa kita bikin tampak baik-baik saja. Kita jangan lakukan ini atau itu, prinsipnya bukan ini tidak benar dan itu tidak baik, melainkan yang kita jaga adalah "apa kata tetangga".

Kalau kita menangkap maling di kampung, kita bentak dia, "Jangan seenaknya berbuat di kampung kami, kalau mau mencuri jangan di sini!" Prinsipnya bukan

Bangsa Indonesia tidak punya kosa kata untuk hukum dan keadilan. Keduanya kita import dari bahasa Arab.

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

maling itu tidak boleh melainkan ada norma yang berlaku di kampung sini bahwa jangan ada yang tampak mencuri. Mencuri tidak ada tapi jangan kelihatan mencuri. Melanggar hukum dan keadilan itu soal tahu sama tahu yang tidak boleh adalah melanggar keselarasan.

Perbenturan antara KPK dengan POLRI dan Pemerintah secara keseluruhan adalah perbenturan antara keadilan melawan keselarasan. Yang mungkin tidak terlalu disadari oleh Bibit dan Chandra adalah bahwa mereka itu perusak keselarasan. Mereka juga belum faham benar bahwa di Negara Kesatuan Republik Selaras Indonesia, hukum dan keadilan harus patuh kepada keselarasan. Mereka tidak boleh merusak pekerjaan para petugas keselarasan nasional. Satu langkah saja lagi hukum dan keadilan melakukan ketidaktaatan kepada keselarasan, maka ia akan diberi label anarkisme atau makar.

....

Ditulis oleh: Emha Ainun Nadjib - Kado Ulangtahun buat Gatra, 22 November 2009

maling itu tidak boleh melainkan ada norma yang berlaku di kampung sini bahwa jangan ada yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Supremasi Keselarasan (bagian II)

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 26 November 2009 jam 15:06

Indonesia Mengejutkan Dunia

Mohon jangan salah sangka, ungkapan tentang Supremasi Keselarasan itu tadi sekedar titipan salah satu kado kepada Gatra dari guru saya, seorang Kiai yang bernama Kiai Alhamdulillah. Saya sekedar mentranskrip dan menyampaikan amanat itu kepada Gatra. Siapakah gerangan Kiai Alhamdulillah itu? Apa saudaranya Kiai Astaghfirullah, Kiai Subhanallah dan Kiai Masyaallah?

Ceritanya begini. Gatra saya kenal sejak ia lahir, 19 November 15 tahun silam. Saya juga mengenal orang-orang Gatra jauh sebelum Gatra lahir. Tetapi semua itu pasti itu tidak membuat saya memiliki kompetensi ilmu, kredibilitas professional atau kepatutan budaya untuk berdiri di sini. Saya merasa bahwa yang menjerumuskan Gatra agar tersesat menyuruh saya berpidato kebudayaan malam ini adalah 'sekedar' nilai persaudaraan dan kemanusiaan. Alhasil, sebenarnya saya kurang percaya diri menjalankan penugasan dari Gatra ini, sehingga saya memerlukan datang kepada Kiai Alhamdulillah untuk berkonsultasi, meminta restu, syukur ditiup-tiupkan kekuatan ke ubun-ubun saya.

Ternyata beliau memang sudah menyiapkan kado untuk Gatra. Begitu saya di terima, beliau langsung menyeret saya, didudukan di kursi, kemudian beliau omong panjang tentang Supremasi Keselarasan itu.

"Tolong disampaikan kepada Gatra sebagai kado dari saya" kata beliau.

Supremasi Keselarasan (bagian II) oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 26 November 2009 jam 15:06 Indonesia Mengejutkan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Meskipun saya sangat bergembira karena dipercaya untuk menyampaikan titipan kado itu, sebenarnya saya tidak paham-paham amat isinya. Saya merespon sekedarnya, "Tapi isinya kok penuh pesimisme, Kiai?"

Beliau menjawab, "Alhamdulillah kado saya ini tidak ada hubungannya dengan pesimisme atau optimisme. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang menjalani hidup dengan tangguh tanpa terganggu oleh kecengengan yang bernama

pesimisme atau optimisme

"

...

"Aduh saya kurang paham, Kiai", saya menyela.

"Alhamdulillah tidak masalah, tidak paham itu tidak dosa. Yang penting kau sampaikan saja kepada Gatra bahwa ulang tahunnya hari ini adalah ulang tahun yang sangat indah. Gatra berulang tahun tatkala kita semua sedang berada pada momentum zaman yang sangat menggairahkan. Terutama berkaitan dengan akan segera datangnya saat dimana Indonesia akan mengejutkan dunia. Dunia akan tampil dengan keindahan peradaban baru di bawah kepemimpinan Indonesia"

"Wah, optimis ya Kiai?" saya menyela lagi.

"Kamu cengeng" jawab Pak Kiai, "Watakmu kurang Indonesia. Orang Indonesia asli itu watak utamanya adalah nekad dan tidak perduli"

Meskipun saya sangat bergembira karena dipercaya untuk menyampaikan titipan kado itu, sebenarnya saya tidak paham-paham amat

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

"Maksud saya, saya senang mendengar pernyataan Kiai yang terakhir tentang

bangkitnya Indonesia

"

...

"Hari-hari ini tanda-tandanya mulai muncul dari berbagai arah" Kiai Alhamdulillah melanjutkan, "perhatikan dahsyatnya kepemimpinan negaramu sekarang ini, amati mozaik penuh cahaya kebudayaan, kejujuran dan kelihaian manusia dan bangsanya, riuh rendah estetika demokrasinya, sebaran delapan penjuru angin pendidikan informasi persnya, progressifitas persekolahan dan kependidikannya, cakrawala amat luas cara pemelukan keagamaannya, kerendahan hati olahraganya, sopan santun pariwisatanya, serta yang utama tak terbendungnya fenomenologi pemikiran-pemikiran baru yang semakin maju melampaui garda- garda post modernisme. Akumulasi dari seluruh pergerakan dari sejarah dari nusantara itu akan tak bisa dielakan oleh semua masyarakat dunia bahwa

Indonesia segera akan memimpin lahirnya peradaban baru dunia

"

.....

"Maaf ya Pak Kiai, tadi kata sampeyan Hukum dan Keadilan mustahil ditegakkan, karena yang berlangsung selalu adalah Supremasi Keselarasan. Bagaimana mungkin dengan kondisi itu Indonesia bangkit memimpin dunia?"

"Jangan kawatir, nak" jawab beliau, "Yaumul Qiyamat pasti tiba. Yaum itu Hari, Qiyamat itu Kebangkitan. Hari Kebangkitan peradaban baru dunia yang dipimpin oleh Indonesia"

"Jadi benar akan Kiamat ya Kiai? Apakah itu yang di maksud dengan tahun 2012?"

"Maksud saya, saya senang mendengar pernyataan Kiai yang terakhir tentang bangkitnya Indonesia " ... "Hari-hari ini

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

"Jangan mendahului Tuhan, nanti malah di batalkan"

"Lha ya itu maksud saya, Kiai, kengerian 2012 itu kita omong-omongkan terus supaya Tuhan tersinggung sehingga membatalkan. Cuma masalahnya bagaimana dengan hukum, keadilan dan keselarasan itu, Kiai?"

Bayi Lahir Putra Ibu Pertiwi

Kiai Alhamdulillah tidak langsung menjawab pertanyaan saya itu. Ia diam memandang saya, kemudian berkata sangat serius dan pelan:

"Alhamdulillah tolong jangan potong saya sampai selesai, ini kado cinta sakral kepada Gatra" kata beliau. "Alhamdulillah manusia dan bangsa Indonesiamu itu berasal dari gen unggul, sehingga mereka lebih besar dan lebih tinggi dari hukum, keadilan dan keselarasan. Bangsa Indonesia tinggal membolak-balik tangan, segala sesuatu bisa diubah dan diatur.

Sebentar lagi bayi Indonesia akan segera lahir. Ibu pertiwi yang akan melahirkan, bayi itu sekarang sudah mengalami "bukaan-2", kalau bukaan sudah sampai ke- 10, bayi akan lahir. Bayi itu bisa merupakan hasil total refresing dari anak bungsu Ibu Pertiwi yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, atau bayi yang sama sekali baru.

"Jangan mendahului Tuhan, nanti malah di batalkan" "Lha ya itu maksud saya, Kiai, kengerian 2012 itu

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Sangat tergetar hati saya menantikan kelahiran bayi itu, sebagaimana dulu air

ketuban pecah pada 28 oktober 2008 kemudian lahir bayi pada 17 Agustus 1945 -- karena bangsa Indonesia tampaknya tergolong bangsa dengan peradaban tertua

  • di muka bumi. Kalau bangsa Yahudi dan Arab yang sekarang menguasai keuangan

dunia adalah keturunan kakek Ibrahim AS, bisa jadi Induk Bangsamu beberapa

puluh atau ratus generasi sebelum itu.

Katakanlah mungkin sejak Javet alias Khawit atau Kawit putra Nuh AS, saudaranya Kan'nan, Hasyim, Habsyah dan Bustomah. Bangsa Indonesia bukan bangsa yang lahir tahun 1945, bangsa Indonesia adalah bangsa yang melahirkan Negara Indonesia 1945. Bangsa Indonesia sudah sangat teruji melewati peradaban Lemorian dan Atlantis, Astinapura dan Mahabharata, tidak sekedar meninggalkan jejak di Somalia, jerman, Uruguay atau Madagaskar, juga tak sekedar melahirkan Ajisaka, Keling, Kaliswara, Kalakulilo, Kutai, Tarumanagara atau Salakanagara. Apalagi sekedar Singasari, Majapahit, Demak dan Mataram.

Berbagai kelompok generasi muda Indonesia saat ini sedang diam-diam

melakukan penelitian dan eksplorasi sosial di kantung dan jaringan yang dunia media tidak memperhatikannya. Sebagian mereka sedang mempelajari situs-situs

  • di dua pertiga bumi, dari Eropa, Amerika Latin, hingga Afrika, Cina, Rusia,

terutama daratan luas dari yang sekarang di kenal sebagai jazirah Saudi hingga Irian Jaya, yang memaparkan sebagai identifikasi tentang siapa bangsa Indonesia sesungguhnya, dan mereka mampu menjelaskan lebih detail dari produk-produk

ilmiah yang sejauh ini ada.

Sebagian yang lain sedang menekuni fakta-fakta Replikasi Tuhan ke Manusia ke peradaban, untuk mengetahui lebih persis bentuk kehancuran yang sedang

Sangat tergetar hati saya menantikan kelahiran bayi itu, sebagaimana dulu air ketuban pecah pada 28 oktober

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

berlangsung menuju puncaknya pada Peradaban ummat manusia mutakhir. Mereka menguji dan mengkaji kembali apa yang sesungguhnya terselenggara sejak Revolusi Industri. Mereka sedang mencari garis sambung antara low-tech replikasi jasad, high-tech replikasi system-logic otak, automation assembly line, prinsip digital, 0 dan 1, real-number dan imaginary-number, Boolean Logic dan Fuzzy Logic, 8% dan 92% wilayah fungsi otak, komputer yang secanggih- canggihnya namun tak sedikitpun mampu membaca kerinduan, amarah, penasaran, sedih atau gembira dan semua itu coba ditemukan konstekstualitasnya dengan informasi-informasi langit: bagan struktur misbah dan zujajah, sistem kerja dinamis ruhullah, dzatullah, sifatullah, jasadullah, hingga ke regulasi Negara mahdloh dan fenomenologi kebudayaan muamalah.

Beruntunglah ummat manusia yang menghuni puncak Peradaban di abad 20-21 yang di temani oleh wahyu Tuhan. Sebelum era Nabi Musa mundur hingga Adam, ummat manusia mencari Tuhan sendiri dan merumuskannya sendiri, tanpa ada wacana firman. Kalian sekarang tinggal menghapalkan Qul huwallohu Ahad, 99 asma Allah, di tambah dua tiga ayat, langsung jadi Ustadz. Para ilmuwan tinggal buka Kitab Suci untuk menemukan karbon, pertemuan laut asin dan tawar, interaksi dinamis antara otak dengan hidayah, sumber pemahaman dasar matematika, fisika, biologi dan hipnotisme. Atau apapun saja. Anak-anak muda itu tidak mau bangsanya terpuruk tanpa berkesudahan. Dengan penelitian-penelitian itu langkah mereka ke depan adalah merumuskan dan meletakkan kembali dasar- dasar Ideologi Negara, Ideologi Pendidikan, Ideologi Informasi, Ideologi Keagamaan, Ideologi Kebudayaan, Ideologi Ekonomi, Ideologi Hukum, bahkan Ideologi Pangan dan Kesejahteraan"

Ditulis oleh: Emha Ainun Nadjib - Kado Ulangtahun buat Gatra, 22 November 2009

berlangsung menuju puncaknya pada Peradaban ummat manusia mutakhir. Mereka menguji dan mengkaji kembali apa yang sesungguhnya

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Supremasi Keselarasan (bagian III - Selesai)

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 07 Desember 2009 jam 11:46

Negeri Demokrasi Sufi

Tidak sengaja spontan saya merespon: "Itu makar, Kiai!"

Pak Kiai tertawa. "Alhamdulillah tidak perlu ada makar. Di negerimu rakyat tidak merasa terancam, sepanjang mereka masih punya sandang pangan, yang mereka bisa mengusahakannya sendiri, dengan atau tanpa Pemerintah. Pemerintah tidak perlu melakukan apapun, sebenarnya rakyat tidak masalah. Bahkan banyak rakyat yang mempersilahkan uang pajak nasional itu dibagi-bagi saja oleh para Pejabat, tidak ada masalah, asalkan jangan mempremani atau memalak rakyat yang sedang bekerja mencari nafkah. Jadi, sekali lagi, tidak ada makar. Memang ada kehancuran nilai, moral, mental, intelektual dan spiritual, tidak itu tidak dianggap kehancuran. Kehancuran yang dikenal oleh bangsamu hanyalah kehancuran fisik."

"Maka alhamdulillah bayi itu akan lahir. Kita semua berdoa, jika ada yang berusaha membuntu lubang rahim Ibu Pertiwi, sehingga diharapkan sang Bayi akan batal lahir, semoga jangan lantas ada keputusan Operasi Cesar oleh petugas- petugas Jagad Raya, para Eksekutor Alam Semesta, oleh Kepala-Kepala Dinas Samudera dan Tsunami, Hujan, Banjir dan Longsor, Gunung, Lempengan Bumi di perut bumi Nusantara dan Gempa, Pemanasan Global, Gas Metan di Kutub Utara, anarkisme meteor-meteor, serta ruh-ruh Energi dan Frekwensi yang serabutan maqamat-nya, serta sejumlah birokrat langit bumi lainnya"

Supremasi Keselarasan (bagian III - Selesai) oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 07 Desember 2009 jam 11:46

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

"Akan tetapi bencana-bencana itu bisa tak perlu terjadi, karena semua semua yang terjadi ini tetap dalam lingkup Pancasila, yang menjunjung tinggi nilai-nilai rohaniah. Bencana-bencana itu bisa batal, meskipun korupsi makin merajalela. Karena dalam Pancasila terbuka peluang sangat luas untuk menafsirkan nilai-nilai. Misalnya, sesungguhnya itu semua bukan korupsi, bukan sistem yang korup, bukan pencurian yang merata — melainkan Shadaqah. Shadaqah adalah beralihnya uang, dana atau jasa secara sukarela dari satu tangan ke tangan lain.

Ciptakan suatu atmosfir kenegaraan dengan wacana-wacana yang membuat semua peralihan keuangan itu bersifat sukarela dan bermakna shodaqah. Sosialisasikan nilai bahwa ridha bir-ridla atau saling sukarela adalah pencapaian silaturahmi yang ideal. Kalau ada yang belum ridha dan merasa itu adalah pemerasan, harus dididik sampai bisa mencapai ridha. Kewajiban mendidik warganegara menuju tingkat ridha itulah tugas Pemimpin, Pemerintah, Para Wakil Rakyat, Kaum Ulama segala Agama, Pers dan semua pelaku-pelaku utama yang lain dalam seiarah. Pasanglah spanduk di jalan-jalan yang mendidik publik:

`Relakanlah ke manapun uang Negara pergi, toh yang memakai adalah sesama manusia, sesama makhluk Allah'.

"Pancasila bisa menggali nilai-nilai Agama, misalnya Sufisme. Kalau perlu dilegalisir saja pedoman nasional bahwa Negeri kita adalah Negeri Demokrasi Sufi yang berlandaskan pancasila. Di dalam Negeri Demokrasi Sufi, Presidennya harus Sufi, seluruh Menteri dan Pejabat-pejabatnya harus Sufi. Demikian juga Tentaranya, Polisinya, termasuk para Pengusahanya, olahraganya, keseniannya, harus Sufi. Presiden Sufi adalah Presiden yang sesungguhnya tidak bersedia menjadi Presiden lagi, tetapi demi Indonesia bersatu maka `Lanjutkan!'. " "Kabinet Sufi adalah Menteri-Menteri yang rela lilo legowo tidak ditempatkan atau ditempatkan di penugasan Kementerian manapun, meskipun seandainya

"Akan tetapi bencana-bencana itu bisa tak perlu terjadi, karena semua semua yang terjadi ini tetap dalam

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

mereka tidak memiliki kompetensi proffesional. Kalau mereka menolak, akan bisa terjadi pertengkaran antar kelompok politik. Presiden dan Menteri-Menteri Sufi harus menomersatukan kedamaian, dan menghindarkan segala kemungkinan konflik."

"Sufisme itu intinya adalah kesanggupan berpuasa. Berpuasa makna luasnya adalah sanggup melakukan sesuatu yang ia tidak suka, atau mampu tidak melakukan yang ia suka. Umpamanya saya tidak suka memeras orang, tetapi demi mengasah kemampuan rohaniah, maka saya memeras"

"Menutupi aib sesama manusia, adalah termasuk nilai Sufi yang tinggi. Apalagi yang punya aib itu orang dijajaran tugas kita sendiri. Tuhan melarang hamba-Nya memperhinakan sesamanya. Bahkan dalam berolahraga, sebisa mungkin kita menjaga hati sesama manusia. Kalau kita menang dalam pertandingan sepakbola atau bulutangkis, harus kita perhitungkan bahwa lawan main kita pasti kesakitan hatinya kalau kita kalahkan. Maka yang terbaik adalah kita mengalah. Kalau ada striker lawan menggiring

bola capk-capek ke gawang kita, Kiper kita harus minggir dan mempersilahkan bola dimasukkan. Dengan demikian olahraga kita memiliki kwalitas nilai kemanusiaan yang sangat tinggi".

"Atau ambil contoh lain misalnya Pengusaha, Khusus di Indonesia, para Pengusaha memiliki peluang sangat besar untuk berjuang mencapai tingkat Sufi yang tertinggi. Para Pengusaha di Indonesia setiap saat harus siap bersedekah, setiap langkahnya harus bersedekah kepada Negara yang diberikan melalui para Pengurus Negara. Pengusaha yang tidak bersedekah, alhamdulillah pasti menjadi Sufi bangkrut."

mereka tidak memiliki kompetensi proffesional. Kalau mereka menolak, akan bisa terjadi pertengkaran antar kelompok politik. Presiden

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

"Sebab sedekah itu kemuliaan, bukan keanehan. Kamu tahu artinya sedekah? Infaq yang tidak wajib itu namanya shadaqah, kalau wajib itu namanya zakat. Pengusaha Indonesia tidak wajib bershadaqah, tapi mereka perlu meningkatkan kwalitas rohaniahnya, sehingga yang sebenarnya tidak wajib bisa ditingkatkan menjadi wajib. Ada yang bertanya: apakah itu bukan pemerasan? Itu pemerasan hanya bagi Pengusaha yang tidak berhati ikhlas. Jadi ini bukan soal hukum, melainkan soal keikhlasan hati. Kemudian ada lagi yang bertanya: apakah itu bukan sogokan? Alhamdulillah sama sekali bukan sogokan, sebab Pejabat yang menerima sedekah itu niatnya bukan mencari uang, melainkan menguji iman si Pengusaha"

Kaliber Dunia

"Saya akhiri kado ini", kata Kiai Alhamdulillah akhirnya, "karena saya ingin Gatra tetap langgeng penerbitannya"

"Sampaikan respek saya kepada Gatra. Pers Indonesia, dan pasti juga Gatra, adalah salah satu sumber energi sosial dan pendidikan sejarah yang turut memberi sumbangan besar kepada Kebangkitan Indonesia 2012. Koran-koran dan Majalah melakukan pencerdasan bangsa 3-5 kali lipat dibanding era-era sebelumnya. Televisi-televisi bekerja keras 24 jam sehari untuk membuat bangsanya menjadi sangat dewasa, matang dan berwawasan luas"

"Pers bisa ambil peranan besar dan hampir mutlak dalam hal Yaumul Qiyamat ini. Apalagi Pers Indonesia adalah pers terbebas di seluruh dunia. Paling merdeka dan

"Sebab sedekah itu kemuliaan, bukan keanehan. Kamu tahu artinya sedekah? Infaq yang tidak wajib itu namanya

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

independen. Pers Indonesia tidak punya atasan, semua yang lain adalah bawahannya: baik dan buruk, benar dan salah, indah dan jorok, informasi dan disinformasi, tuhan dan hantu, semuanya patuh kepada kebijakan dan strategi redaksionalnya. Pers Indonesia sangat independen, berdiri karena dirinya sendiri, melindungi dirinya sendiri, setia dan memegang sepenuhnya hak untuk menghukum dirinya sendiri"

"Jangan lupa, mantapkan hati Gatra, bahwa uemokrasi Indonesia adalah demokrasi paling fenomenal dan gegap gempita di seluruh dunia. Hendaknya Gatra berbangga memiliki Pemerintah yang paling sukses dan prolifik di seluruh dunia.

Gatra adalah bagian dari bangsa tertangguh dan paling proffesional me-maintain kehidupannya masing-masing dibanding seluruh bangsa-bangsa lain di dunia. Manusia Gatra adalah manusia Indonesia, manusia paling tahan uji, paling banyak tersenyum dan tertawa, bahagia, penyabar, pemaaf dan pelupa di seluruh dunia. Gatra adalah pelaku kebudayaan Indonesia, kebudayaan yang terkaya, paling ragam dan tak terbatas kreativitasnya sehingga tidak memerlukan bentuk dan kepribadian.

Para pekerja Gatra adalah juga bagian yang indah dari dinamika kehidupan beragama di Indonesia, yang paling matang di seluruh dunia. Kematangan itu sedemikian rupa membuat para pemeluknya sudah sempurna prosesnya, tidak lagi memerlukan pemikiran, penafsiran, pembenahan atau perbaikan apapun"

"Dan akhirnya, jangan pernah lupa bersyukur Gatra dan bangsa Indonesia memiliki pemimpin seorang Negarawan tingkat tinggi dan Presiden berkaliber dunia. Gatra jangan ikuti orang-orang yang dangkal berpikirnya dan sempit pandangannya, yang selalu mengkritik Presidenmu sebagai pemimpin yang

independen. Pers Indonesia tidak punya atasan, semua yang lain adalah bawahannya: baik dan buruk, benar dan

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

peragu, lamban, tidak punya ketegasan, tidak punya nyali untuk bertindak obyektif, atau macam-macam lagi kesimpulan-kesimpulan yang cengeng dan hanya bersifat impressional. Alhamdulillah, beliau itu manusia yang sangat lembut perasaannya dan tidak hatinya tegaan. Beliau tidak kuat perasaannya menyaksikan satu saja warganegaranya yang kesakitan. Beliau pasti akan membela mati-matian siapapun yang akan dijatuhkan atau disakiti, terutama yang sudah membuktikan kerja keras dan kesetiaan kepada beliau. Beliau adalah Panglima Keselarasan".

Ditulis oleh: Emha Ainun Nadjib - Kado Ulangtahun buat Gatra, 22 November 2009

peragu, lamban, tidak punya ketegasan, tidak punya nyali untuk bertindak obyektif, atau macam-macam lagi kesimpulan-kesimpulan yang

Catatan Komunitas Kenduri Cinta I

Tak Ada Cinta di Media: Tribute to Mbah Surip

oleh Komunitas Kenduri Cinta pada 29 Juli 2009 jam 16:34 Ditulis Oleh: Muhammad Taufiq

Saya mengenal Mbah Surip sekitar tahun 2004. Waktu itu SCTV yang beberapa kali menayangkannya. Tetapi “ledakan” kepopulerannya tidak terjadi. Terhitung hanya beberapa bulan saja orang mengenal dan membicarakannya. Mungkin karena kemasan entertaining-nya ga “kena” waktu itu.

Lama berselang, kakek yang kabarnya lahir di Mojokerto 60-an tahun yang lalu ini, tidak saya dengar sama sekali. Hingga sampai akhir tahun 2006 saya mendapati kembali pria paruh baya dengan penampilan dan gaya khasnya ini di acara Kenduri Cinta (KC). Dia selalu menjadi “artis tetap” di acara yang dimotori oleh Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Nadjib) ini. Waktu itu KC selalu digelar sebulan sekali. Namun seiring dengan dialektika yang terjalani, acara yang digelar setiap Jumat kedua ini hanya tentatif saja belakangan. Ia akan hadir di Taman I