Anda di halaman 1dari 3

Studi Perdamaian & Resolusi Konflik

Konflik Antar Suku Lampung Dan Suku Bali Di Lampung


Selatan

Disusun Oleh:
Hariadi
201310360311127

HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

1. Latar Belakang
Kesalahan persepsi kultur subyektif dalam menyikapi keragaman identitas suku,
budaya, dan agama dalam kehidupan bermasyarakat di Provinsi Lampung tercermin dalam
kasus kerusuhan sosial yang baru saja terjadi di Kabupaten Lampung Selatan pada 27
Oktober 2012 sampai dengan 29 Oktober 2012 yang melibatkan Suku Lampung dan Suku
Bali dipicu persoalan sepele yang tidak terselesaikan secara hukum adat istiadat yang
berlaku. Konflik bermula dari peristiwa kecelakaan sepeda motor yang melibatkan pemuda
dari Desa Balinuraga Kecamatan Way Panji yang mayoritas Suku Bali dan pemudi dari Desa
Agom Kecamatan Kalianda yang mayoritas Suku Lampung. Kedua desa tersebut masuk
dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, secara geografis letak keduanya tidak terlalu
berjauhan, jarak kedua desa hanya sekitar lima kilo meter. Peristiwa kecelakaan lalu lintas
tersebut kemudian berkembang menjadi Isu SARA yang tidak hanya melibatkan kedua desa
tersebut, namun melibatkan banyak desa dari kedua suku yang ada, Suku Lampung dan Suku
Bali. Konflik bermula pada tanggal 27 Oktober 2012,

kemudian berlanjut pada hari

berikutnya, dan memuncak pada tanggal 29 Oktober 2012. Peristiwa penyerbuan dan bentrok
berdarah oleh ribuan warga Desa Agom serta desa-desa sekitarnya yang berpenduduk Suku
Lampung terhadap warga Desa Balinuraga yang mayoritas Suku Bali mengakibatkan
jatuhnya korban jiwa sebanyak 14 orang tewas, puluhan orang luka-luka, 166 unit rumah
warga di Desa Balinuraga dan Sidoreno dibakar massa.1
Menurut Prof.Mohtar Mas`oed, pakar resolusi konflik dari pusat studi keamanan dan
perdamaian (PSKP) UGM, konflik berupa bentrok antar warga di Lampung Selatan
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari konflik yang terjadi sebelumnya dan kembali
terulang. Konflik tersebut tidak hanya melibatkan etnik-etnik yang ada di sana, namun
memiliki akar persoalan yang lebih dalam. Beberapa konflik yang terjadi sebelumnya terkait
dengan persoalan transmigrasi, perkebunan inti rakyat, hingga tambak udang. Konflik ini
juga terkait dengan sejarah dan sosiologis yang berhubungan dengan politik etis di zaman
Hindia-Belanda tentang program irigasi, edukasi, dan transmigrasi. Hal ini menyebabkan
terjadinya proses state building dan akumulasi kapital sehingga memunculkan perubahan
demografi. Perubahan itu menimbulkan gesekan antara warga asli dengan pendatang.2
1 http://dutaonline.com/korban-lampung-14-tewas-bentrok-laindi3daerah/downloa

ad.04/01/2013
2

http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=5064/download .14/01/2013

Kondisi ini semakin keruh saat isu-isu tentang kesenjangan ekonomi mewarnai
konflik suku di Lapung Selatan ini. Terutama suku pendatang hampir menguasai sentral
perekonomian di darah tersebut. Dikuasainya sentra perekonomian oleh suku pendatang
membuat suku asli Lampung mengalami kecemburuan sosial. Suku asli Lampung menjadi
budak di daerah sendiri.
2. Rumusan Masalah
Apa faktor-faktor yang pemicu terjadinya konflik kerusuhan antar suku Lampung dan suku
BAli di Lampung Selatan?
3. Alat Analisa yang Digunakan