Anda di halaman 1dari 6

ISSN No.

1978-3787

Media Bina Ilmiah 1

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM OPERASIONAL DAN PENGELOLAAN SISTEM


JARINGAN DRAINASE DI KOTA DENPASAR
Oleh:
Ni Putu Ety Lismaya Dewi
Dosen dpk Universitas Nusa Tenggara Barat

Abstrak: Salah satu penyebab permasalahan banjir di perkotaan seperti Kota Denpasar adalah pertambahan
penduduk yang sangat cepat dari kota/wilayah tersebut.Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan
penyediaan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai menyebabkan pemanfaatan lahan perkotaan
menjadi tidak tertib dan tidak terkendali dengan baik. Beberapa program kebijakan telah dilakukan oleh
Pemerintah Kota Denpasar dalam mengatasi banjir di Kota Denpasar antara lain dengan perbaikan dan
pemeliharaan jaringan drainase, sosialisasi masyarakat akan larangan membuang sampah di sungai dan
larangan mendirikan bangunan di atas saluran drainase. Namun, berbagai upaya tersebut belum mampu
mengatasi permasalahan banjir di Kota Denpasar.Oleh karena itu, penyelesaian permasalahan banjir
perkotaan memerlukan partisipasi masyarakat, terutama dalam hal operasional dan pemeliharaannya.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat yang meliputi pemahaman
dan kepedulian masyarakat dalam operasional danpengelolaan sistem jaringan drainase. Pengujian instrumen
penelitian menggunakan uji validitas dan reliabilitas dengan bantuan Statistical Package for Social Science
(SPSS) versi 17.00.Selanjutnya untuk mendekripsikan hasil digunakan skala sikap Likert. Hasil penelitian
menunjukkan pemahaman masyarakat di Kota Denpasar tentang fungsi jaringan drainase adalah 77,64%
yang artinya bahwa masyarakat Kota Denpasar memiliki pemahaman yang tinggi terhadap fungsi jaringan
drainase. Kepedulian masyarakat dalam pengelolaan jaringan drainase adalah 58,31% yang artinya bahwa
kepedulian masyarakat Kota Denpasar terhadap pengelolaan jaringan drainase termasuk dalam kategori
cukup. Sehingga total nilai partisipasi masyarakat yang meliputi pemahaman dan kepedulian adalah 66,37%
yang artinya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan jaringan drainase di Kota Denpasar berada pada
kategori cukup.
Kata Kunci : Pengelolaan Sistem Jaringan Drainase
PENDAHULUAN
Salah satu penyebab permasalahan banjir di
perkotaan
seperti
Kota
Denpasar
adalah
pertambahan penduduk yang sangat cepat dari
kota/wilayah tersebut.Hal ini terjadi akibat dari
pertumbuhan penduduk yang sangat cepat di atas
rata-rata pertumbuhan nasional, akibat urbanisasi
baik migrasi maupun permanen yang menyebabkan
perubahan
kawasan
terbangun
dengan
cepat.Pertambahan penduduk yang tidak diimbangi
dengan penyediaan sarana dan prasarana perkotaan
yang memadai menyebabkan pemanfaatan lahan
perkotaan menjadi tidak tertib dan tidak terkendali
dengan baik. Laju pertumbuhan penduduk Kota
Denpasar per tahun selama sepuluh tahun terakhir
dari tahun 2000-2010 menurut data Badan Pusat
Statistik Kota Denpasar (2010) adalah sebesar 4,00
persen. Berdasarkan hasil pencacahan Sensus
Penduduk 2010, jumlah penduduk Kota Denpasar
adalah sebanyak 788.445 orang. Dengan luas
wilayah Kota Denpasar sebesar 127,78 km2 yang
didiami oleh 788.445 orang maka rata-rata tingkat
kepadatan penduduk Kota Denpasar adalah
sebanyak 6.170 orang/km2.

Sebagai pusat pemerintahan dan pendidikan


serta pariwisata, tanah di Kota Denpasar sangat
potensial beralih fungsi dari lahan sawah menjadi
lahan kering (perumahan, industri, jalan dan lainlain).Luas wilayah Kota Denpasar sebesar 12.778
Ha atau 2,18% dari luas wilayah Propinsi Bali.
Sedangkan bila dilihat dari penggunaan tanahnya,
dari luas wilayah yang ada sekitar 2.632 Ha
merupakan tanah sawah, 10.136 Ha merupakan
tanah kering dan sisanya seluas 10 Ha merupakan
tanah lainnya seperti tambak, kolam, tebat dan
empang. Selama kurang lebih lima tahun terakhir ini
luas lahan sawah berkurang sekitar 283 Ha atau
menyusut rata-rata tiap tahun sekitar 2,8%.
Perubahan tata guna lahan yang sangat cepat ini
menyebabkan berkurangnya daerah resapan air yang
berkontribusi atas meningkatnya debit banjir. Pada
daerah pemukiman dimana telah padat dengan
bangunan sehingga tingkat resapan air ke dalam
tanah berkurang, jika terjadi hujan dengan curah
hujan yang tinggi maka sebagian besar air akan
menjadi aliran air permukaan yang langsung masuk
ke dalam sistem drainase sehingga kapasitasnya
terlampaui dan menyebabkan banjir.

_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com

Volume 7, No. 3, Mei 2013

2 Media Bina Ilmiah


Berdasarkan kondisi eksisting, sistem jaringan
drainase yang ada di wilayah Kota Denpasar dapat
dibagi menjadi 5 (lima) sistem utama (PT. Suwanda
Karya Mandiri, 2012) yaitu:
1. Sistem I : Sistem Tukad Badung
2. Sistem II : Sistem Tukad Ayung
3. Sistem III : Sistem Tukad Mati
4. Sistem IV : Sistem Niti Mandala-Suwung dan
sekitarnya
5. Sistem V : Sistem Pemogan
Dari laporan pendahuluan studi evaluasi
prasarana dan sarana drainase Kabupaten Badung
dan Kota Denpasar (PT. Suwanda Karya Mandiri,
2012), daerah genangan air pada masing-masing
sistem adalah:
1. Pada sistem I, daerah genangan air terdapat di Jl.
Gatsu VI dan sekitarnya, Jl. Gatot Subroto, Jl.
Sari Gading, Jl. Ratna, Jl. Suli, Jl. Kamboja di
Desa Dangin Puri Kangin, Desa Sumertha Kauh.
2. Pada sistem II, daerah genangan air terdapat di
Jl. Gatsu Timur Desa Kesiman Petilan, Jl.
Gumitir Desa Kesiman Kertalangu.
3. Pada sistem III, daerah genangan air terdapat di
Jl. Cargo dan sekitarnya, Jl. Buluh Indah dan
sekitarnya, Jl. Gunung Agung, Jl. Gunung Batur
dan sekitarnya, lingkungan Desa Tegal Kerta
dan Desa Tegal Harum (Perumnas), lingkungan
Jl. Demak, Jl. Kertapura Desa Pemecutan Kelod,
lingkungan Br. Abian Timbul Desa Pemecutan
Kelod.
4. Pada sistem IV, daerah genangan air terdapat di
Jl.Waturenggong dan sekitarnya, Jl. Tukad Yeh
Penet, Lingkungan Br. Peken, Lingkungan Br.
Pande Kelurahan Renon, Jl. Bedugul, Jl. Dewata
dan sekitarnya Desa Sidakarya, lingkungan
pemukiman Bumi Ayu Sanur, Jl. By Pass
Ngurah Rai Sanur dan sekitarnya.
5. Pada sistem V, daerah genangan air terdapat di
Jl. Pulau Seram, Jl. P. Tarakan, Jl. P. Buton dan
sekitarnya, Jl. Satelit, Jl. P. Serangan,
lingkungan Kantor BPTP Br. Sanggaran,
lingkungan Gria Anyar Br. Rangkan Sari,
lingkungan Jl. Sunia Negara, Jl. Raya Pemogan,
JL. By Pass Ngurah Rai dan pertokoan mebel,
lingkungan Perumahan Mekar II Pemogan.
Beberapa program kebijakan telah dilakukan
oleh Pemerintah Kota Denpasar dalam mengatasi
banjir di Kota Denpasar antara lain dengan
perbaikan dan pemeliharaan jaringan drainase,
sosialisasi masyarakat akan larangan membuang
sampah di sungai dan larangan mendirikan
bangunan di atas saluran drainase. Namun, berbagai
upaya
tersebut
belum
mampu
mengatasi
permasalahan banjir di Kota Denpasar.
_______________________________________________
Volume 7, No. 3, Mei 2013

ISSN No. 1978-3787


Berdasarkan uraian di atas tercermin bahwa
permasalahan banjir perkotaan/wilayah tidak
semata-mata persoalan teknis, tetapi juga terkait erat
dengan masalah non teknis yaitu kondisi sosial,
budaya dan ekonomi masyarakat.Oleh karena itu,
penyelesaian permasalahan banjir perkotaan
memerlukan partisipasi masyarakat, terutama dalam
hal operasional dan pemeliharaannya.
Dengan memperhatikan latar belakang di atas
maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu
Bagaimana tingkat partisipasi masyarakat yang
meliputi tingkat pemahaman masyarakat akan fungsi
sistem jaringan drainase serta tingkat kepedulian
masyarakat dalam pengelolaan sistem jaringan
drainase di Kota Denpasar?
METODE
a.

Pengumpulan Data Primer


Pengumpulan data primer yang dilakukan pada
penelitian ini dengan cara survei langsung di
lapangan, wawancara ataupun penyebaran kuesioner
terhadap warga masyarakat dan para expertis yang
menjadi sasaran penelitian. Adapun data primer
yang diperlukan adalah data partisipasi masyarakat
terhadap
pengelolaan
sistem
drainase.Data
partisipasi masyarakat didapat dengan cara
wawancara dan penyebaran kuisioner kepada warga
masyarakat di sekitar sistem jaringan drainase.
Dalam penelitian ini, sebagai populasi adalah
masyarakat yang tinggal di Kota Denpasar.Teknik
sampling yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Propotionate Stratified Random Sampling
yaitu penentuan sampel dilakukan secara
proporsional di tiap-tiap strata/tingkatan.Teknik ini
dipilih karena populasi penduduk terdiri dari 4
(empat) kecamatan yang mempunyai luas wilayah
yang berbeda-beda dan jumlah penduduk yang
berbeda. Penentuan jumlah sampel yang diambil
dalam studi ini menggunakan rumusan sebagai
berikut (Sugiyono, 2011):
1
Dimana :n = jumlah sampel/responden
N = jumlah populasi
d = derajat kecermatan
Significance)

(Level

of

Dalam studi ini, nilai derajat kecermatan yang


diambil adalah 10%.Hal ini menunjukkan bahwa
tingkat kecermatan studi dapat dikategorikan cermat,
untuk tingkat kepercayaan 90%.Berdasarkan data
yang diperoleh jumlah penduduk Kota Denpasar
tahun 2010 adalah 788.445 jiwa. Maka jumlah
responden yang diambil adalah:

http://www.lpsdimataram.com

ISSN No. 1978-3787


788445
788455 0.1
n = 100 responden.

Media Bina Ilmiah 3

Maka untuk penelitian ini akan digunakan 100


responden yang mewakili seluruh populasi di Kota
Denpasar. Kemudian untuk menentukan jumlah
sampel untuk masing-masing kecamatan dihitung
secara bertingkat (berstrata) dengan rumusan alokasi
proporsional (Sugiyono, 2011) sebagai berikut:
.
Dimana :
ni = jumlah sampel menurut stratum
n = jumlah sampel seluruhnya
Ni = jumlah populasi menurut stratum
N = jumlah populasi seluruhnya
Sehingga didapat besarnya sampel untuk masingmasing kecamatan yaitu:
1. Kecamatan Denpasar Barat
=
(229432/788445)x100 = 29 orang
2. Kecamatan Denpasar Utara
=
(175889/788445)x100 = 22 orang
3. Kecamatan Denpasar Timur
=
(138404/788445)x100 = 18 orang
4. Kecamatan Denpasar Selatan =
(244851/788445)x100 = 31 orang
Selanjutnya sampel disesuaikan dengan kondisi
eksisting jaringan drainase sehingga dapat mewakili
kelima sistem jaringan drainase di Kota Denpasar.
b.

Pengumpulan Data Sekunder


Pengumpulan
data
sekunder
adalah
pengumpulan data yang dilakukan dengan
mengumpulkan data yang ada pada instansi terkait,
studi pustaka dan data-data hasil penelitian
sebelumnya yang terkait dengan penelitian
ini.Adapun data sekunder yang diperlukan terkait
dengan wilayah studi adalah kondisi umum wilayah
studi,
kondisi
existing
jaringan
drainase,
kependudukan, luas area layanan dan tata guna
lahan.
c.

Uji Validitas dan Reabilitas Data


Untuk menguji validitas, alat ukur dilakukan
dengan cara mengkorelasikan setiap butir alat ukur
dengan skor total yang merupakan jumlah setiap
skor butir, dengan rumus Pearson Product Moment
adalah:
rhitung =

n(XY) (XY)

[nX (X) ][nY (Y) ]


2

Dimana :
rhitung
= koefisien korelasi
n
= jumlah responden

= jumlah skor item

= jumlah skor total (seluruh item)

Uji reabilitas dilakukan secara internal yaitu


dengan menganalisis data yang berasal dari satu kali
pengisian kuisioner.Reabilitas diukur dari koefisien
Alpha.
Bila
koefisien
alpha
(Cronbach's
Alpha)>0,60 maka instrumen tersebut dinyatakan
realibel. Nilai koefisien alpha dihitung dengan
rumus:

1
1
Dimana:
= reabilitas instrumen
k = banyaknya butir pertanyaan
= jumlah varians butir
= varians total
d. Analisis Data
Analisis tingkat pemahaman dan kepedulian
masyarakat merupakan metode analisis yang bersifat
kualitatif.Data kualitatif yang didapat dari hasil
survei tersebut dikategorikan menjadi beberapa
tingkatan dalam skala menggunakan analisis skala
sikap Likert.Untuk analisis skala sikap Likert ini
berdasarkan pada klasifikasi data yaitu dengan skala
sikap, skor dan katagori.
Dalam penelitian ini akan ditentukan skor
jawaban pertanyaan pada kuisioner yang diajukan
kepada masyarakat mulai dari 1 sampai Untuk
mendapatkan pemeringkatan tingkat pemahaman
dan kepedulian masyarakat diajukan beberapa
pertanyaan kepada responden sebagai berikut :
1. Pemahaman terhadap fungsi jaringan drainase
selanjutnya disingkat pemahaman,diajukan 5
pertanyaan yang ditunjukkan dengan indikator
sebagai berikut:
a) Masyarakat memahami bahwa fungsi sistem
jaringan drainase adalah menampung dan
menyalurkan air hujan agar lokasi tidak
banjir
b) Masyarakat memahami bahwa sistem
jaringan drainase juga berfungsi untuk
pembuangan air limbah rumah tangga
c) Masyarakat memahami bahwa sistem
jaringan drainase tidak boleh digunakan
sebagai
tempat
pembuangan
sampah/bongkaran bangunan
d) Masyarakat memahami bahwa tidak boleh
mendirikan bangunan di atas saluran
drainase
e) Masyarakat memahami bahwa saluran
drainase harus dipelihara secara rutin agar
tetap berfungsi dengan baik
2. Kepedulian dalam pengelolaan jaringan
drainase
selanjutnya
disingkat
kepedulian,diajukan 7 pertanyaan yang
ditunjukkan dengan indikator sebagai berikut:

_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com

Volume 7, No. 3, Mei 2013

4 Media Bina Ilmiah


a) Frekuensi pembersihan saluran drainase
secara individu/gotong royong
b) Melakukan pengawasan untuk mencegah
pembuangan sampah ke badan saluran
c) Keterlibatan dalam pengawasan
d) Melaporkan apabila ada kerusakan pada
saluran drainase
e) Keterlibatan dalam rapat pemeliharaan dan
penanganan kerusakan jaringan drainase
f) Sikap apabila dilakukan pemungutan iuran
rutin untuk pemeliharaan dan penanganan
kerusakan jaringan drainase
g) Sikap apabila diterapkan sanksi tegas
apabila membuang sampah ke dalam badan
saluran
Menurut Sugiyono (2011), rentangan skor
untuk masing-masing kategori diperoleh sebagai
berikut:
& '
( %"
& '
)*#
!"# #"%
+,-#". #"% *
!"#
100% 20%
16%
5
Skor terbesar merupakan hasil maksimal yang
diperoleh responden apabila memberikan nilai 5
(lima) untuk semua pertanyaan yang ada.
Sebaliknya skor terkecil merupakan hasil minimal
yang diperoleh responden apabila memberikan nilai 1
(satu) untuk semua pertanyaan.
Dengan memperhitungkan skor terbesar adalah
12 x 5 = 60, maka diperoleh prosentase skor terkecil
yaitu :
12x1
x100% 20%
60
Berdasarkan perhitungan di atas, dapat dilihat
tingkat kondisi masing-masing sebagai berikut:
1. 20% - 36% = sangat rendah
2. > 36 % - 5 2 % = rendah
3. >52% - 68% = sedang/cukup
4. > 68% - 84% = tinggi
5. > 84 % - 100 % = sangat tinggi
Nilai
pemahaman
atau
kepedulian
masyarakat diketahui dengan menjumlahkan skor
dari masing-masing indikator dengan perhitungan
sebagai berikut:
& ' 3" 4 *5 '# .
*#"*
67'('
& ' -" %*-"#
Skor yang diperoleh merupakan total nilai yang
didapat oleh responden berdasarkan jawaban
kuesioner. Sementara skor maksimalmerupakan
total nilai maksimal dari seluruh pertanyaan
yang ada.

_______________________________________________
Volume 7, No. 3, Mei 2013

ISSN No. 1978-3787


HASIL DAN PEMBAHASAN
a.

Hasil Uji Validitas dan Reabilitas


Instrumen Penelitian
Pengujian instrumen penelitian menggunakan
uji validitas dan reliabilitas dengan bantuan
Statistical Package for Social Science (SPSS) versi
17.00. Besarnya sampel yang dipakai dalam menguji
reliabilitas dan validitas kuesioner
ini adalah
sebanyak 30 sampel. Jumlah tersebut dipakai karena
dianggap sudah mewakili seluruh sampel dalam
penelitian ini.
Uji validitas bertujuan untuk mengetahui
apakah instrumen penelitian mampu mengukur apa
yang ingin diukur dan dapat mengungkapkan data
dari variabel yang diteliti secara tepat. Instrumen
penelitian dikatakan valid jika koefisien korelasi
item pertanyaan lebih besar dari 0,300 terhadap total
item pertanyaan (Sugiyono, 2011). Hasil uji validitas
dengan SPSS versi 17.00 didapatkan nilai r hitung
0,300 dan nilai probabilitas (p) dibawah 0,05. Hal ini
membuktikan pertanyaan dalam kuisioner yang
dipergunakan sudah teruji validitasnya sehingga
penelitian bisa dilanjutkan.
Uji reliabilitas dilakukan secara internal yaitu
dengan menganalisis data yang berasal dari satu kali
pengisian kuisioner.Hasil uji reliabilitas instrumen
menunjukkan angka Croncbachs alpha di atas
0,600 sehingga reliabel untuk mengukur variabel
dalam penelitian.
b.

Analisis Tingkat Partisipasi Masyarakat


Menurut
Departemen
Pemukiman
dan
Prasarana Wilayah (2003), operasi dan pemeliharaan
jaringan drainase lokal(minor drainage system)
dikelola oleh masyarakat di lingkungan yang
bersangkutan.Oleh karena itu, untuk mengetahui
tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan
jaringan drainase di Kota Denpasar dilakukan
analisis dengan menggunakan skala sikap Likert.
Partisipasi masyarakat dalam penelitian ini meliputi:
1. Pemahaman terhadap fungsi jaringan drainase
selanjutnya disingkat pemahaman,diajukan 5
pertanyaan.
2. Kepedulian dalam pengelolaan jaringan drainase
selanjutnya disingkat kepedulian,diajukan 7
pertanyaan.
Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner kepada
masyarakat dan hasil analisis sebagaimana terlihat
pada lampiran 4, maka dapat diuraikan partisipasi
masyarakat di Kota Denpasar sebagai berikut:

http://www.lpsdimataram.com

ISSN No. 1978-3787


1. Pemahaman masyarakat di Kota Denpasar
tentang fungsi jaringan drainase
Pemahaman masyarakat di Kota Denpasar
tentang fungsi jaringan drainase berdasarkan analisis
dengan skala sikap Likert adalah 77,64% yang
artinya bahwa masyarakat Kota Denpasar memiliki
pemahaman yang tinggi terhadap fungsi jaringan
drainase. Berdasarkan jawaban responden, sebagian
besar masyarakat memahami bahwa sistem jaringan
drainase memiliki peranan yang penting untuk
menyalurkan air hujan agar lingkungan pemukiman
tidak banjir dan untuk pembuangan air limbah
rumah tangga. Selain itu, sebagian besar masyarakat
juga memahami bahwa sistem jaringan drainase
tidak boleh digunakan sebagai tempat pembuangan
sampah/bongkaran bangunan.Sehingga pembuangan
sampah oleh sebagian besar masyarakat tidak ke
dalam saluran tetapi sudah ke tempat penampungan
dan tempat pembuangan sampah sementara (TPS).
Masyarakat Kota Denpasar memahami bahwa
tidak boleh mendirikan bangunan di atas saluran
drainase.Akan tetapi di beberapa tempat masih
terdapat bangunan-bangunan liar di atas saluran
drainase yang difungsikan sebagai tempat
berjualan.Hal ini perlu mendapat perhatian dan
tindakan tegas dari pihak pemerintah maupun aparat
berwenang.
Pemeliharaan saluran drainase secara rutin agar
tetap berfungsi dengan baik juga telah dipahami
oleh sebagian besar masyarakat di Kota Denpasar.
Akan tetapi, pada beberapa saluran sekunder seperti
di daerah Pemogan sering terjadi kiriman sampah
dari hulu yang menyebabkan terjadinya genangan di
pemukiman masyarakat.Mereka berharap instansi
terkait dapat membantu menanggulangi masalah ini,
sehingga dapat meminimalisir kiriman sampah dari
hulu.
2. Kepedulian masyarakat dalam pengelolaan
jaringan drainase
Kepedulian masyarakat dalam pengelolaan
jaringan drainase berdasarkan analisis dengan skala
sikap Likert adalah 58,31% yang artinya bahwa
kepedulian masyarakat Kota Denpasar terhadap
pengelolaan jaringan drainase termasuk dalam
kategori cukup. Dari jawaban responden didapat
bahwa frekuensi masyarakat untuk membersihkan
saluran drainase baik secara individu maupun
gotong royong jarang. Tetapi di lingkungan
pemukiman telah dilakukan pengawasan untuk
mencegah pembuangan sampah ke badan saluran
antara lain dengan pemasangan spanduk di tempattempat tertentu dan masyarakat cukup sering terlibat
dalam pengawasan tersebut.
Apabila terjadi kerusakan
pada saluran
drainase, masyarakat cukup aktif
melaporkan
kepada kepala lingkungan. Walaupun masyarakat

Media Bina Ilmiah 5


cukup sering dilibatkan dalam rapat-rapat
pemeliharaan dan penanganan kerusakan saluran
drainase, tetapi mereka berharap untuk lebih
dilibatkan
dalam
pemeliharaan
jaringan
drainase.Sebagian besar masyarakat Kota Denpasar
setuju apabila dilakukan pemungutan iuran rutin
untuk pemeliharaan jaringan drainase di lingkungan
mereka.Masyarakat beranggapan bahwa biaya
pemeliharaan jaringan drainase lokal adalah
tanggung jawab bersama baik masyarakat maupun
pemerintah.
Tetapi komentar berbeda dikemukakan oleh
sebagian kecil masyarakat.Mereka sebetulnya
keberatan jika harus mengeluarkan biaya untuk
kegiatan rehabilitasi jaringan drainase, mengingat
mereka telah berkontribusi melalui pajak yang
mereka bayarkan secara rutin kepada negara.Akan
tetapi, masyarakat setuju apabila diterapkan sanksi
tegas kepada anggota masyarakat yang masih
membuang sampah ke dalam saluran drainase.
Berdasarkan pembahasan di atas, total nilai
partisipasi masyarakat yang meliputi pemahaman
dan kepedulian adalah 66,37% yang artinya
partisipasi masyarakat dalam pengelolaan jaringan
drainase di Kota Denpasar berada pada kategori
cukup.Untuk meningkatkan tingkat partisipasi
masyarakat
khususnya
kepedulian
terhadap
pengelolaan jaringan drainase di Kota Denpasar
maka perlu disusun mekanisme kerjasama
pengelolaan drainase antara pemerintah dan
masyarakat. Selain itu, perlu dilakukan upaya-upaya
untuk meningkatkan peran masyarakat sebagai
upaya penyadaran untuk mendorong peningkatan
perannya dalam memelihara dan membersihkan
prasarana drainase di lingkungannya.
PENUTUP
a. Simpulan
Pemahaman masyarakat di Kota Denpasar
tentang fungsi jaringan drainase adalah 77,64% yang
artinya bahwa masyarakat Kota Denpasar memiliki
pemahaman yang tinggi terhadap fungsi jaringan
drainase. Kepedulian masyarakat dalam pengelolaan
jaringan drainase adalah 58,31% yang artinya bahwa
kepedulian masyarakat Kota Denpasar terhadap
pengelolaan jaringan drainase termasuk dalam
kategori cukup. Sehingga total nilai partisipasi
masyarakat yang meliputi pemahaman dan
kepedulian adalah 66,37% yang artinya partisipasi
masyarakat dalam pengelolaan jaringan drainase di
Kota Denpasar berada pada kategori cukup.
b.

Saran
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat
khususnya kepedulian terhadap pengelolaan jaringan
drainase di Kota Denpasar maka perlu disusun

_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com

Volume 7, No. 3, Mei 2013

6 Media Bina Ilmiah

ISSN No. 1978-3787

mekanisme kerjasama pengelolaan drainase antara


pemerintah dan masyarakat.

Pusat Statistik. 2009.


Denpasar.Denpasar.

Semarang:

PT. Arthacons. 2010. Laporan Akhir DED Drainase


Denpasar.Denpasar.

DAFTAR PUSTAKA
Badan

Karanganyar)
(tesis).
Universitas Diponegoro.

Profil

Kota

Badan Pusat Statistik. 2010. Hasil Sensus Penduduk


2010 Kota Denpasar.Denpasar.
Badan Pusat Statistik. 2011. Denpasar dalam
Angka.Denpasar.
BAPPEDA Kota Denpasar.2010. Masterplan
Drainase
dan
Irigasi
Kota
Denpasar.Denpasar.
Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah.
2003. Panduan dan Petunjuk Praktis
Pengelolaan Drainase Perkotaan. Jakarta.
Deputi Bidang Sarana dan Prasarana.Kebijakan
Penanggulangan
Banjir
di
Indonesia.Direktorat Pengairan dan Irigasi.
Jakarta
Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2010. Pedoman
Operasi dan Pemeliharaan Prasarana
Dasar Desa. Jakarta.
Murdiono, B. 2008.Peran Serta Masyarakat Pada
Penyusunan Rencana Pengelolaan Daya
Rusak Sumber Daya Air (tesis). Semarang:
Universitas Diponegoro.
Mutaqqin, A.Y. 2006.Kinerja Sistem Drainase Yang
Berkelanjutan
Berbasis
Partisipasi
Masyarakat (Studi Kasus di Perumahan
Josroyo
Indah
Jaten
Kabupaten

_______________________________________________
Volume 7, No. 3, Mei 2013

PT.

Suwanda Karya Mandiri.2012. Laporan


PendahuluanStudi Evaluasi Prasarana
dan Sarana Drainase Kabupaten Badung
dan Kota Denpasar.Denpasar.

Purbawijaya, I.B.N. 2009.Manajemen Resiko


Penanganan Banjir Pada Sistem Jaringan
Drainase di Wilayah Kota Denpasar
(tesis). Denpasar: Universitas Udayana.
Saragi, T.E. 2007.Tinjauan Manajemen Sistem
Drainase Kota Pematang Siantar (tesis).
Medan: Universitas Sumatera Utara.
Sobriyah dan Wignyasukarto.2001. Peran Serta
Masyarakat dalam Pengendalian Banjir
untuk Mendukung Pelaksanaan Otonomi
Daerah.Makalah pada Kongres VII dan
PIT VIII Himpunan Ahli Teknik Hidraulik
Indonesia (HATHI). Malang.
Sugiyono. 2011. Statistika Untuk
Bandung: Penerbit Alfabeta.

Penelitian.

Suripin.2004. Sistem Drainase Perkotaan yang


Berkelanjutan. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Syahrial, F. 2007. Evaluasi Pengelolaan Sistem
Drainase Kota Padang (Studi Kasus
Drainase Air Tawar-Ganting) (tesis).
Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.

http://www.lpsdimataram.com