Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
The

Millennium

Development

Goals

(MDGs)

merupakan

delapan

tujuan

pembangunan internasional yang telah disetujui oleh WHO agar tercapai pembangunan di
berbagai aspek dan bidang yang diharapkan dapat terwujud pada tahun 2015. Kedelapan
tujuan tersebut masing-masing memiliki target kualitatif dan kuantitatif. Salah satu dari
tujuan pembangunan tersebut adalah mengurangi angka kematian balita sebesar dua
pertiganya antara tahun 1990 dan 2015. Telah didapatkan data tingkat kematian anak umur
1-5 tahun per 1000 anak pada tahun 2007 sebanyak 44 anak, sedangkan tingkat kematian
bayi per 1000 bayi sebanyak 34 anak. Indikator MDGs merujuk pada angka kematian anak
dibawah 5 tahun (balita). Target MDGs adalah untuk mengurangi dua pertiga angka pada
tahun 1990.1
Hasil yang dicapai saat ini dirasa masih cukup rendah bila dibandingkan negaranegara berkembang di dunia. 1 Data yang dikemukakan oleh UNICEF, sekitar 35 juta balita
masih beresiko jika target angka kematian anak tidak dicapai. Sekitar 150.000 anak
Indonesia meninggal pada tahun 2012. Jika kecenderungan ini terus berlanjut, dunia tidak
akan memenuhi target MDGs pada tahun 2015, dan lebih buruk lagi sampai tahun 2028.2
Diare masih menjadi penyebab utama kematian anak secara global. Diare adalah
gangguan buang air besar yang ditandai dengan buang air besar lebi dari 3 kali sehari
dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai darah maupun lendir. Pada tahun 2013, terdapat
hampir 1,7 milyar kasus diare di seluruh dunia. Penyakit diare membunuh 2.195 anak setiap
harinya dan menyebabkan kematian 1 dari 9 anak di seluruh dunia. Diare merupakan
penyebab kematian kedua terbanyak pada anak balita dimana sekitar 760.000 balita
meninggal setiap tahunnya akibat diare. Sekitar 88% kematian yang disebabkan oleh diare
diketahui berhubungan dengan air yang tidak sehat, sanitasi yang tidak adekuat, dan
higienitas personal yang kurang.2
Di Indonesia sendiri, penyakit diare termasuk penyakit endemis dan juga merupakan
penyakit potensial KLB yang sering disertai dengan kematian. Berdasarkan karakteristik
penduduk, kelompok umur balita adalah kelompok yang paling tinggi menderita diare.

Menurut hasil Riskesdas 2007, diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi
(31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur merupakan
penyebab kematian yang keempat (13,2%). Menurut Riskesdas 2013, prevalensi diare pada
seluruh kelompok umur adalah sebesar 7% dan pada balita sebesar 6,7%

dimana

karakteristik diare pada balita tertinggi terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan (7,6%),
laki-laki (5,5%), tinggal di daerah pedesaan (5,3%), dan kelompok kuintil indeks
kepemilikan terbawah (6,2%). Prevalensi di provinsi Jawa Tengah adalah sebesar 5,4% dan
menurut data yang diperoleh oleh Puskesmas Delanggu didapatkan data jumlah penderita
diare sepanjang Januari-Agustus 2015 menempati urutan pertama dalam lima besar penyakit
pasien rawat jalan yaitu sebanyak 1.494 (31,33%) yang didominasi oleh balita dan anakanak.3
Sistem sanitasi yang buruk, terutama di daerah pedesaan cukup berperan dalam
tingginya angka kejadian diare di masyarakat, terutama pada balita dan anak-anak. MDGs
juga menargetkan untuk memperbaiki tingkat sanitasi dari 30,9% pada tahun 1990 hingga
mencapai 65,5% pada tahun 2015, yaitu mengurangi sepatuh proporsi penduduk yang tidak
memiliki akses ke sanitasi yang aman.1
Data yang diperoleh dari Riskesdas 2013, proporsi rumah tangga di Indonesia yang
menggunakan fasilitas jamban milik sendiri adalah 76,2%, milik bersama sebanyak 6,7%,
dan fasilitas umum adalah 4,2%. Masih terdapat rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas
jamban, yaitu sebesar 12,9%. Sedangkan proporsi rumah tangga yang memiliki akses
terhadap fasilitas sanitasi improved (kriteria JMP WHO Unicef) di Indonesia adalah sebesar
58,9%.3 menurut kriteria tersebut, rumah tangga tersebut harus menggunakan fasilitas
jamban milik sendiri, jenis jamban berupa jenis leher angsa atau plengsengan, dan tempat
pembuangan akhir tinja jenis tangki septik.3
Berdasarkan karakteristik, proporsi rumah tangga yang menggunakan fasilitas
jamban milik sendiri di perkotaan lebih tinggi (84,9%) jika dibandingkan dengan pedesaan
(67,3%), sedangkan proporsi jamban di tingkat rumah tangga di fasilitas milik bersama dan
umum maupun buang air besar sembarangan di pedesaan masih lebih tinggi (masing-masing
6,9%, 5,0%, dan 20,8%) dibandingkan dengan perkotaan (6,6%, 3,5%, dan 5,1%).3
Masyarakat pada umumnya tergantung pada jamban dengan tangki septik atau
menggunakan toilet umum. Pada beberapa kasus, dapat pula menggunakan kolam, sawah,

sungai, ataupun pantai. Pada tahun 1990, proporsi target rumah tangga yang memiliki
sanitasi yang aman adalah sekitar 30%, sehingga target untuk tahun 2015 adalah 65%. Pada
tahun 2006, didapatkan rata-rata 69,3%. Sayangnya, banyak sistem tersebut berada di bawah
standar. Selain itu walaupun target telah tercapai, namun target yang telah ditetapkan tidak
cukup tinggi sehingga kita perlu menanamkan investasi lebih banyak.1
Puskesmas sebagai unit pelayanan terdepan menempati posisi yang strategis sebagai
pusat pengembangan pembangunan kesehatan dalam mencapai salah satu tujuan
pembangunan nasional. Puskesmas diartikan sebagai suatu organisasi kesehatan fungsional
yang memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah
kerjanya.

Agar

tercapainya

tujuan

tersebut,

puskesmas

bertanggung

jawab

menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat demi


tercapainya tujuan tersebut. Jika ditinjau dari sistem kesehatan nasional, upaya kesehatan
perorangan maupun masyarakat merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya
kesehatan tersebut yakni Upaya Kesehatan Wajib yang ditetapkan berdasarkan komitmen
nasional, regional, dan global serta yang memiliki daya ungkit tinggi untuk peningkatan
derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini, harus diselenggarakan oleh setiap
puskesmas yang ada di Indonesia. Upaya kesehatan tersebut adalah Upaya promosi
kesehatan, Upaya kesehatan lingkungan, Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga
berencana, Upaya perbaikan gizi masyarakat, Upaya pencegahan dan pemberantasan
penyakit menular, dan Upaya pengobatan.4
1. Peter stalker. millennium development goals. 2008. UNDP. Jakarta www.undp.org
2.nuraini razak. Sekitar 35 juta balita masih beresiko. 2015. UNICEF Indonesia.
www.unicef.org
3. Riset Kesehatan Dasar. 2013. Badan penelitiab dan pengembangan kesehatan.
Kementrian kesehatan R1. Jakarta. www.depkes.go.id