Anda di halaman 1dari 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Stres Kerja


Stres adalah merupakan suatu fenomena yang sangat kompleks dan unik
sehingga banyak pakar berbeda pendapat dalam memberikan defenisi tentang
stres, walaupun pada dasarnya antara satu defenisi dengan defenisi lainnya
terdapat inti persamaannya.
Menurut Hawari (2001), yang dimaksud dengan stres adalah respon
tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Misalnya
bagaimana respon tubuh seseorang mana kala yang bersangkutan mengalami
beban pekerjaan yang berlebihan. Bila ia sanggup mengatasinya artinya tidak ada
gangguan pada fungsi organ tubuh, maka dikatakan yang bersangkutan tidak
mengalami stres, tetapi sebaliknya bila ia mengalami gangguan pada satu atau
lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan
fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami stres.
Menurut Cooper (1995), stres adalah tekanan yang terlalu besar bagi kita.
Stres itu sangat bersifat personal, setiap orang memiliki tingkatan toleransi
tertentu pada tekanan di setiap waktunya, yaitu kemampuan kita untuk mengatasi
atau tidak mengatasinya.
National Safety Council (2004) di Amerika Serikat, Stres adalah sebagai
ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional,

Universitas Sumatera Utara

dan spiritual manusia, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik
manusia tersebut.
Stres kerja timbul akibat kepuasan kerja tidak terwujud dari
pekerjaannya. Stres kerja perlu sedini mungkin diatasi oleh pimpinan agar hal-hal
yang merugikan perusahaan dapat diatasi. Stres adalah suatu kondisi ketegangan
yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seseorang. Orang-orang
yang mengalami stres menjadi nervous dan merasakan kekuatiran kronis. Mereka
sering menjadi marah-marah, agresif, tidak dapat relaks, atau memperlihatkan
sikap yang tidak kooperatif.
Stres dapat terjadi pada hampir semua pekerja, baik tingkat pimpinan
maupun pelaksana. Kondisi kerja yang lingkungannya tidak baik sangat potensial
untuk menimbulkan stres bagi pekerjanya. Stres dilingkungan kerja memang tidak
dapat dihindarkan, yang dapat dilakukan adalah bagaimana mengelola, mengatasi
atau mencegah terjadinya stres tersebut, sehingga tidak menganggu pekerjaan
(Notoatmodjo,2002).
Gejala stres yang dapat mengancam dan mengganggu pelaksanaan kerja
mereka. Luthans (2000) mendefenisikan stres sebagai suatu tanggapan dalam
menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses
psikologis, sebagai konsekuensi dari tindakan lingkungan, situasi atau peristiwa
yang terlalu banyak mengadakan tuntutan psikologis dan fisik seseorang. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa stres kerja timbul karena tuntutan lingkungan
dan tanggapan setiap individu dalam menghadapinya dapat berbeda. Masalah stres

Universitas Sumatera Utara

kerja di dalam organisasi perusahaan menjadi gejala yang penting diamati sejak
mulai timbulnya tuntutan untuk efesiensi di dalam pekerjaan. Akibat adanya stres
kerja tersebut, yaitu orang menjadi nervous, merasakan kecemasan yang kronis,
peningkatan ketegangan pada emosi, proses berfikir dan kondisi fisik individu.
Selain itu, sebagai hasil dari adanya stres kerja karyawan mengalami beberapa hal,
seperti : mudah marah dan agresif, tidak dapat relaks, emosi yang tidak stabil,
sikap tidak mau bekerja sama, perasaan tidak mampu terlibat dan kesulitan dalam
masalah tidur.
Menurut National Safety Council (2004), penyebab stres kerja
dikelompokkan dalam tiga kategori yaitu :
1. Penyebab Organisasional yang terdiri dari :
a)

Otonomi yaitu kemandirian perawat dalam menjalankan tugasnya serta


tidak membutuhkan pengawasan yang ketat dari atasannya.

b) Relokasi pekerjaan (mutasi) yaitu perpindahan tempat kerja seseorang dari


satu bagian/unit ke bagian/unit yang lain.
c)

Karier yaitu jabatan yang diduduki seseorang dalam pekerjaannya.

d) Beban kerja yaitu pekerjaan yang diterima atau diemban seseorang yang di
dukung dengan tanggung jawab dari pekerjaan tersebut.
e)

Interaksi dengan pasien yaitu kontak langsung antara pasien dengan


perawat dalam asuhan keperawatan yang dilaksanakan oleh seorang
perawat.

Universitas Sumatera Utara

2. Penyebab Individual yang terdiri dari :


a)

Keluarga yaitu dukungan yang berasal dari suami/isteri dan anak-anak


serta sanak saudara dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

b) Kejenuhan yaitu adanya kebosanan dengan pekerjaan yang selalu sama


sepanjang tahun dan sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau
banyak.
c)

Konflik dengan rekan kerja yaitu ketidak sesuaian antara dua atau lebih
anggota atau kelompok di tempat kerja.

3. Penyebab Lingkungan.
Menurut Grainger (1999), petugas kesehatan dalam menjalankan tugasnya
menghadapi banyak sekali stressor diantaranya : 1) menghadapi pasien yang :
menderita, sekarat, lumpuh, kematian pasien, 2) harus selalu bersikap baik kepada
orang yang mungkin tidak disukai, 3) berbicara dengan kerabat pasien, bertatatap
muka langsung dengan orang lain, 4) waktu kerja yang lama dan kerja shift, 5)
melakukan tindakan yang bersifat traumatis, 6) kemajuan teknologi, 7)
pertanggung jawaban terhadap manusia, 8) akibat yang sangat besar dari
keputusan yang salah, 9) risiko penularan penyakit akibat pekerjaan, 10)
pengharapan dan tuntutan masyarakat, 11) risiko kekerasan fisik, 12)
pengembangan karir yang tidak dapat diramalkan.
2. Profesi Perawat
Perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan
melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang
diperoleh melalui pendidikan keperawatan (Undang-undang Kesehatan No. 23

Universitas Sumatera Utara

tahun 1992). Seorang perawat dikatakan profesional jika memiliki ilmu


pengetahuan, keterampilan keperawatan profesional serta memiliki sikap
profesional sesuai kode etik profesi.
Menurut Keputusan Menpan Nomor 94/KEP/M.PAN/11/2001, perawat
adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan
hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pelayanan
keperawatan kepada masyarakat pada sarana kesehatan, perawat berkedudukan
sebagai pelaksana teknis fungsional pelayanan keperawatan yang merupakan
bagian integral dari pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan (Men PAN, 2001).
Sebagian besar perawat adalah pegawai rumah sakit, perawat merupakan tenaga
kesehatan yang dominan di rumah sakit baik dari segi jumlah maupun
keberadaannya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien, perawat
mempunyai hubungan langsung dengan pasien (Praptiningsih, 2006).
3. Stres Kerja Pada Perawat
Stres adalah tekanan yang terlalu besar bagi individu (Towner, 2002)
Terjadinya stress di tempat kerja hampir tidak dapat dihindari dalam banyak jenis
pekerjaan. Perawat sebagai sumber daya manusia yang bekerja di rumah sakit,
dalam melaksanakan pekerjaannya dihadapkan pada kondisi-kondisi (karakteristik
organisasi) yang dapat menimbulkan stres kerja.
Menurut Highley dalam Cox (1996) perawat, secara alamiah merupakan
profesi yang penuh dengan stres, berdasarkan hasil observasinya sebagai berikut :
Setiap hari perawat berhadapan dengan penderita yang kaku, duka cita dan

Universitas Sumatera Utara

kematian,

banyak

tugas-tugas perawat tidak

diberi penghargaan,

tidak

meyenangkan dan penuh tekanan, sering diremehkan, menakutkan.


Menurut Cox (1996), ciri-ciri situasi kerja perawat yang penuh dengan
stres, antara lain : 1) bekerja dengan kebutuhan-kebutuhan yang menimbulkan
ancaman : pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang tidak sesuai untuk
mengatasi masalah keperawatan, 2) pekerjaan tidak sesuai dengan kebutuhan, 3)
situasi dimana perawat memiliki sedikit kontrol terhadap pekerjaan berlebih, 4)
situasi dimana perawat menerima sedikit dukungan dalam pekerjaan dan diluar
pekerjaan.
Banyak hasil penelitian membuktikan bahwa stressor kerja pada perawat
sangat bervariasi, antara lain seperti tersebut di bawah ini : menurut Ilmi (2005),
stresor kerja pada perawat sesuai urutannya adalah beban kerja berlebih sebesar
82%, pemberian upah yang tidak adil 58%, kondisi kerja 52%, tidak diikutkan
dalam pengambilan keputusan 45%.
Sementara itu, Graytoft

dan Anderson (1981),

mengidentifikasi 7

sumber stres pada perawat yang bekerja di rumah sakit yaitu : 1) Menghadapi
kematian, 2) Konflik dengan dokter, 3) Persiapan yang tidak memadai untuk
menghadapi kebutuhan-kebutuhan emosional pasien dan keluarganya, 4)
Kurangnya dukungan terhadap staf, 5) Konflik dengan perawat yang lain dan
supervisor, 6) Beban kerja berlebih, 7) Ketentuan pengobatan.
Bailey (1980), menambahkan bahwa sumber stress kerja perawat antara
lain : kesulitan manajemen, hubungan antar pribadi dengan perawat yang lain, dan

Universitas Sumatera Utara

staf medis, isu perawatan pasien, pendidikan teknis dan ketrampilan, beban kerja
dan isu karir.
4. Dampak Negatif Stres Kerja
Menurut Rice (1987) yang mengutip pendapat Beehr dan Newman, ada
3 dampak negatif yang terjadi pada individu sehubungan dengan stres kerja yaitu
: gejala psikologis, gejala fisik dan gejala perilaku seperti berikut ini :
Gejala Psikologis yaitu :
tersinggung,

a) cemas, tegang, bingung dan mudah

b) perasaan frustrasi, marah c) sensitif dan reaktif, d) perasaan

tertindas, e) penurunan efektivitas komunikasi, f) kemunduran dan depresi, g)


terisolasi dan terasing, h) kebosanan dan ketidakpuasan kerja, i) kelelahan mental
dan penurunan fungsi intelektual, j) kehilangan konsentrasi, k) kehilangan
spontanitas dan kreatifitas, l) harga diri rendah. motivasi yang rendah untuk pergi
bekerja.
Gejala fisik yaitu : a) peningkatan denyut nadi dan tekanan darah, b)
penyakit jantung, c) peningkatan sekresi adrenalin dan noradrenalin, d) gangguan
gastrointestinal : ulkus lambung, e) masalah pernafasan, f) peningkatan keringat,
g) kelainan kulit, h) sakit kepala, i) kelelahan fisik, j) ketegangan otot,

k)

gangguan tidur, l) kematian


Gejala Perilaku yaitu : a) kinerja dan produktifitas rendah, b) peningkatan
penggunaan alkohol dan penyalahgunaan obat, c) sabotase pekerjaan, d)
peningkatan kunjungan ke dokter, e) makan berlebihan dan kegemukan, f) tidak

Universitas Sumatera Utara

ada nafsu makan, kombinasi gejala depresi, g) kehilangan berat badan yang tibatiba, h) perilaku beresiko : judi dan ngebut, h) agresi, pengrusakan, dan
merampok, i) hubungan yang buruk dengan keluarga dan teman, j) bunuh diri atau
percobaan bunuh diri.
5. Stres, Koping dan Adaptasi
Stres juga merupakan realitas kehidupan setiap hari. Setiap orang tidak
dapat terhindar dari stres. Setiap orang pernah stres dan akan mengalaminya,
akan tetapi kadarnya berbeda-beda serta dalam jangka waktu yang tidak sama
(Hardjana, 1994). Selye (1956 dalam davis, et al, 1995) menyatakan bahwa stres
merupakan tanggapan menyeluruh dari tubuh baik fisik maupun mental terhadap
setiap tuntutan ataupun perubahan yang mengganggu, mengancam rasa aman
dan harga diri individu. Pengalaman stres adalah pengalaman pribadi dan
bersifat subjektif. Stres terjadi apabila individu menilai situasi yang ada pada
dirinya adalah situasi yang mengancam. Stres sendiri dapat berakibat baik atau
buruk pada individu, tergantung pada penilaian dan daya tahan individu terhadap
hal, peristiwa, orang dan keadaan yang potensial atau netral kandungan stresnya
(Hardjana,1994). Berdasarkan hal tersebut, maka setiap individu akan
mengalami stres karena adanya stimulus (stressor), dimana stimulus tersebut
dapat menimbulkan perubahan atau masalah (stres) yang memerlukan cara
menyelesaikan atau menyesuaikan kondisi terhadap masalah tersebut (koping)
sehingga individu dapat menjadi lebih baik atau menjadi adaptif.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Proses stress, koping dan adaptasi


Pada individu, sumber stressor dapat berupa:
1. Lingkungan
a. Sikap lingkungan: berupa tuntutan, pandangan positif dan negatif terhadap
keberhasilan diterima bekerja.
b. Tuntutan dan sikap keluarga, misalnya keharusan mendapatkan pekerjaan,
keinginan akan pilihan orang tua untuk bekerja.
c. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), makin cepatnya
memperoleh informasi dan trend masa depan jika berhasil terhadap sesuatu
yang diinginkan.
2. Diri sendiri
a. Kebutuhan psikologis yaitu keinginan yang harus dicapai terhadap yang
diinginkannya.
b. Proses internalisasi diri, yaitu penyerapan terhadap yang diinginkan secara
terus menerus sesuai dengan perkembangannya.

Universitas Sumatera Utara

3. Pikiran
a. Berkaitan dengan penilaian individu terhadap lingkungan dan pengaruhnya
pada diri serta persepsi terhadap lingkungan.
b. Berkaitan dengan cara penilaian diri tentang cara penyesuaian yang biasa
dilakukan oleh individu yang bersangkutan.
Dampak stressor dipengaruhi oleh berbagai faktor (Kozier & Erb, 1983
dikutip Keliat, 1999) yaitu :
1. Sifat stressor
Pengetahuan individu tentang stressor tersebut dan pengaruhnya pada
individu tersebut.
2. Jumlah stressor
Banyaknya stressor yang diterima individu dalam waktu bersamaan. Jika
individu tidak siap akan menimbulkan perilaku yang tidak baik. Misalnya
marah pada hal-hal yang kecil.
3. Lama stressor
Seberapa sering individu menerima stressor yang sama. Makin sering
individu mengalami hal yang sama maka akan timbul kelelahan dalam
mengatasi masalah tersebut
4. Pengalaman masa lalu
Pengalaman individu yang lalu mempengaruhi individu menghadapi
masalah.

Universitas Sumatera Utara

5. Tingkat perkembangan
Tiap individu tingkat perkembangannya berbeda.
Koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah, individu menyesuaikan diri dengan koping dan respons terhadap situasi
yang menjadi ancaman bagi diri individu. Cara yang dapat dilakukan adalah :
1. Individu
a. Kenali diri sendiri
Merupakan tahap awal yang harus dilakukan. Karena individu yang
sudah kenal akan dirinya, akan siap untuk menghadapi stressor yang ada.
Cara yang dapat dilakukan adalah:
- Identifikasi siapa diri anda
- Tanyakan pada orang lain siapa anda
- Mintalah umpan balik jika anda sudah kenal diri anda
b. Turunkan kecemasan
- Identifikasi penyebab cemas
- Cari tindakan yang dapat menurunkan kecemasan
- Lakukan teknik relaksasi
c. Tingkatkan harga diri
- Identifikasi aspek positif yang di miliki
- Mulai gali kemampuan positif yang di miliki
- Pertahankan aspek positif yang di miliki

Universitas Sumatera Utara

d. Persiapan diri
- Tingkatkan kemampuan kognitif atau pengetahuan
- Berdoa
- Mencari informasi
- Diskusi dengan orang yang sudah punya pengalaman bekerja
- Identifikasi kebutuhan yang perlu dipersiapkan
e. Pertahankan dan tingkatkan cara yang sudah baik.
2. Dukungan sosial (keluarga, teman dan masyarakat)
a. Pemberian dukungan terhadap peningkatan kemampuan kognitif
b. Ciptakan lingkungan keluarga yang sehat, misalnya waktu berdikusi
dengan anggota keluarga.
c. Berikan bimbingan mental dan spiritual
d. Berikan bimbingan khusus, misalnya konseling
Adaptasi merupakan hasil akhir dari upaya koping. Karakteristik respon
beradaptasi adalah:
- Dapat mempertahankan keseimbangan
- Adaptasi memerlukan waktu
- Kemampuan adaptasi berbeda untuk tiap individu
- Adaptasi melelahkan dan untuk itu perlu bantuan dari orang lain.

Universitas Sumatera Utara

6. Mekanisme koping pada perawat


6.1. Pengertian Koping
Koping adalah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan
situasi stresfull. Merupakan respon terhadap situasi yang mengancam dirinya baik
fisik maupun psikologik (Rasmun, 2004)
Foklman dan Lazarus (1988 dalam Kozier. 2004) mendefinisikan koping
sebagai upaya kognitif dan tingkah laku untuk mengatur tuntutan yang spesifik
baik eksternal maupun internal yang dinilai sebagai beban atau sumber-sumber
yang melebihi kemampuan seseorang.
Koping sebagai upaya kognitif dan tingkah laku individu dalam
menyelesaikan situasi stresfull baik internal maupun eksternal yang dinilai
sebagai beban yang melebihi kemampuan.
6.2. Mekanisme koping
Kozier (2004) mengatakan bahwa koping merupakan suatu karakteristik
atau cara menjawab tantangan dari perubahan lingkungan atau situasi dari suatu
masalah yang spesifik. Individu dapat menggunakan satu atau lebih sumber
koping

dalam

mengatasi

masalah.

Mekanisme

koping

berdasarkan

penggolonganmya dibagi menjadi dua menurut Stuart dan Sunden dalam


Mustikasari (2006) yaitu : mekanisme koping adaptif dan mekanisme koping
maladaptif.

Universitas Sumatera Utara

Mekanisme koping adaptif adalah mekanisme koping yang mendukung


fungsi integratif, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah
berbicara pada orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi,
latihan seimbang dan aktifitas kontruktif. Mekanisme koping maladaptif adalah
mekanisme

koping

yang

menghambat

fungsi

intregrasi,

memecahkan

pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan.


Kategorinya

adalah

makan

berlebihan/tidak

makan,

bekerja

berlebihan,

menghindar (Mustikasari, 2006).


Tipe mekanisme koping dapat diklasifikasikan menjadi dua: (1)
Mekanisme koping berfokus pada masalah, meliputi tindakan dan usaha segera
untuk mengatasi ancaman pada dirinya. Contoh: negosiasi, konfrontasi dan
meminta nasehat; (2) Mekanisme koping berfokus pada emosi, meliputi ide dan
gagasan untuk

mengurangi distress emosional.

Contohnya:

penggunaan

mekanisme pertahanan ego seperti denial, supresi atau proyeksi mekanisme


koping yang berfokus pada emosi tidak memperbaiki situasi tetapi seseorang
sering merasa lebih baik (Kozier, 2004).
Koping dapat pula dikaji melalui berbagai aspek, salah satunya adalah
aspek psikososial yaitu: Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu berorientasi
terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stres secara realitis, dapat
berupa konstruktif dan destruktif. Misalnya: Prilaku menyerang (agresif) biasanya
untuk menghilangkan atau mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan.
Prilaku menarik diri digunakan untuk merubah cara melakukan, merubah tujuan
atau memuaskan aspek kebutuhan pribadi. Kemudian reaksi yang bersumber pada

Universitas Sumatera Utara

pertahanan ego yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental


(Mustikasari, 2006).
Dalam mengatasi masalah psikologis ada dua metode koping yang dapat
digunakan individu menurut Bell dalam Rasmun (2001) yaitu: Metode koping
jangka panjang, cara ini adalah konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan
realistis dalam menangani masalah psikologi dalam kurun waktu yang lama
seperti: berbicara pada orang lain (teman, keluarga atau profesi ) tentang masalah
yang dihadapi, mencoba mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang
dihadapi, menghubungkan masalah yang dihadapi dengan kekuatan supra natural,
melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan/masalah, menbuat berbagai
alternatif tindakan untuk mengurangi situasi, mengambil pelajaran dari peristiwa
atau pengalaman masa lalu.
Metode koping yang kedua yaitu metode koping jangka pendek, cara ini
digunakan untuk mengurangi stres/ketegangan psikoligis dan cukup efektif untuk
sementara waktu, tetapi tidak efektif untuk digunakan dalam jangka panjang
contohnya adalah: menggunakan alkohol atau obat mencoba melihat aspek humor
dari situasi yang tidak menyenangkan, melamun dan frustasi, tidak ragu dan
merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil, banyak tidur, banyak merokok,
menangis, beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah (Rasmun,
2001).
Selain koping individu itu sendiri, koping keluarga sangat berpengaruh
dalam mempertahankan koping individu yang adaptif. Keluarga merupakan faktor

Universitas Sumatera Utara

pendukung yang paling dekat dengan klien, yaitu: (1) Mencari dukungan sosial
seperti meminta bantuan keluarga, tetangga, teman atau keluarga jauh; (2)
Reframing yaitu mengkaji ulang kejadian masa lalu agar lebih dapat menangani
dan menerimanya; (3) Mencari dukungan spiritual dan berdoa, menemui pemuka
agama dan aktif dalam pertemuan ibadah; (4) Menggerakkan keluarga untuk
mencari dan menerima bantuan; (5) Penilaian secara pasif terhadap peristiwa yang
dialami dengan cara menonton tv, atau diam saja (Rasmun, 2001).
Jalowiec dalam Smeltzer (2001) mengidentifikasi lima cara penting
(koping) dalam menghadapi penyakit yaitu: (1) Mencoba optimis mengenai masa
depan; (2) Menggunakan dukungan sosial; (3) Menggunakan sumber spiritual; (4)
Mencoba tetap mengontrol situasi maupun perasaan; (5) Mencoba menerima
kenyataan yang ada.
6.3. Koping pada perawat
Menurunkan stres yang terkait dengan pekerjaan dapat menyebabkan
perubahan konteks organisasional keperawatan atau pendekatan perawat
individual terhadap kerja. Perbaikan lingkungan kerja dapat dipandang sebagai
suatu tanggungjawab manajerial dalam upaya meminimalkan stressor yang terkait
kerja. Dalam pelayanan kesehatan, perawat yang mengalami stres berat dapat
kehilangan motivasi, mengalami kejenuhan yang berat dan tidak masuk kerja
lebih sering (Gray & Anderson, 1981).

Universitas Sumatera Utara

Setiap orang mungkin mempunyai pendekatan yang berbeda dalam


menanggulangi dan mengurangi dampak akibat stres. Dewe (1989) meneliti
respon perawat stres dan mengidentifikasi enam kategori penanggulangan, yaitu :
1. Strategi pemecahan masalah.
2. Mencoba untuk meletakan sesuatu dalam perspektif (sebenarnya).
3. Menjaga masalah pada diri sendiri.
4. Melibatkan diri sendiri dalam pekerjaan dan bekerja lebih keras dalam waktu
yang lebih lama.
5. Menerima pekerjaan apa adanya.
6. Strategi pasif.

Universitas Sumatera Utara