Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakanag
Apendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus buntu yang dikenal di
masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus buntu yang sebenarnya adalah
sekum. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini sering menimbulkan masalah
kesehatan. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk
menghindari komplikasi yang umumnya berbahaya.
Apendisitis merupakan peradangan dari apendiks vermiformis, yang lebih
dikenal dengan sebutan infeksi usus buntu dan ini merupakan penyakit yang
sering dijumpai. Meskipun sebagian besar pasien dengan apendisitis akut dapat
dengan mudah didiagnosis tetapi tanda dan gejalanya cukup bervariasi, sehingga
diagnosis secara klinis dapat menjadi sulit ditegakkan, untuk itu dokter harus
mempunyai pengetahuan yang baik untuk mengenal apendisitis. Pada apendisitis
tidak mungkin dapat ditemukan satu galala klinis yang tidak dapat ditentukan oleh
satu test khusus untuk mendiagnosanya secara tepat. Pada beberapa kasus
apendisitis dapat sembuh tanpa pengobatan, tapi banyak juga yang memerlukan
laparotomi. Apendisitis akut dapat menyebabkan kamatian karena peritonitis dan
syok.
Apendisitis merupakan penyebab tersering dari nyeri abdomen yang
progresif dan menetap pada semua golongan umur, kegagalan menegakkan
diagnosa dan keterlambatan penatalaksanaannya akan menyebabkan peningakatan
morbiditas dan mortalitas.
Pada masyarakat dengan kebiasaan diet tinggi serat, apendisitis jarang
terjadi, dikarenakan serat akan menurunkan viskositas feses, mempersingkat
waktu transit feses dan menghambat pembentukan fekalit. Fekalit dapat
menyababkan obstruksi pada lumen apendiks. Kejadian apendisitis dapat
berkurang karena kebiasaan diet tinggi serat dan kebiasaan menggunakan toilet
jongkok bila dibandingkan dengan toilet duduk.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi dan fisiologis


Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

dan berpangkal di sekum. Lumennya menyempit di bagian proksimal dan melebar


di bagian distal. Namun demikian pada bayi apendiks berbentuk kerucut, lebar
pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya.
Apendiks terletak di ileosekum dan merupakan pertemuan ketiga tinea
koli. Untuk mencarinya cukup dicari pertemuan 2 tinea tersebut. Didekatnya
terdapat valvula Bauhini. Apendiks juga dapat terbentang retrocaecal, retroileal,
dan pelvic.
Apendiks

menerima

aliran

darah

dari

cabang

apendikuler

dari

a.ileocoelica. Arteri ini berasal dari ileum terminalis superior memasuki


mesoapendiks dekat dasar apendiks. Cabang arteri kecil berjalan melalui a. caecal.
Sistem limfe apendiks berjalan menuju nodus limfatik yang terbentang sepanjang
ileocoelica.
Persarafan apendiks berasal dari persarafan simpatis yang berasal dari
plexus mesenterikal superior (T10-L1), dan parasimpatis yang aferennya berasal
dari n.vagus. Meskipun fungsi apendiks sampai saat ini tidak jelas, tetapi mukosa
apendiks seperti mukosa lainnya mampu menghasilkan sekresi cairan, musin, dan
enzim proteolitik.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated
Lymphoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks,
ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.
Namun demikian pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun karena
jumlah kelenjar limfe disini sedikit sekali jika dibandingkan jumlahnya di saluran
cerna atau di seluruh tubuh.

Gambar 2.1 Anatomi Appendiks

2.2

Etiologi dan Patofisiologi Apendisitis


Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Faktor-faktor yang dapat

menjadi pencetus apendisitis akut :


a. Obsruksi lumen apendiks : Obstruksi ini akan menyebabkan distensi
pada apendiks karena terkumpulnya cairan intraluminal. Obstruksi ini
dapat disebabkan oleh :
-

Masuknya fekalit

Kerusakan mukosa dan adanya tumor

Terdapat bekuan darah

Sumbatan oleh cacing ascaris

Pengendapan barium di pemeriksaan x-ray sebelumnya.

b. Anatomi apendiks
a. Apendiks merupakan bagian dari sekum secara embriologis.
Karena itu ada hubungan mikroorganisme antar keduanya.
b. Sirkulasi dari cabang ileocoelica saja (satu arah) sehingga bila
ada bagian yang buntu maka begian yang terletak dibawahnya
akan mati.

c. Apendiks merupakan tabung yang ujungnya buntu pada satu


tempat dan satu tempat lagi ada valvula atau klep dan lumennya
relatif kecil, tapi memproduksi mucus.
Kalau ada obstruksi mucus tetap diproduksi tekanan
akan meningkat pecah nekrosis.
c. Ras dan makanan
a. Lebih banyak pada orang barat.
b. Makan daging kemungkinannya lebih besar.
d. Konstipasi dan pemakaian laksatif
Flora usus normal apatogen menjadi patogen.
5. Fokal infeksi dari tempat lain yang manjalar secara hematogen.
Dalam pathogenesis appendisitis akut urutan kejadiannya adalah :
1. Obstruksi lumen menyebabkan sekresi mucus dan cairan yang
menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal
2. Ketika tekanan intrauminal meningkat, tekanan dalam mukosa venula
dan limfatik meningkat, aliran darah dan limfe terhambat karena
tekanan meningkat pada dinding apendiceal.
3. Ketika tekanan kapiler meningkat, terjadi iskemia mukosa inflamasi
dan ulserasi kemudian bakteri tumbuh pesat didalam lumen dan bakteri
menyerang mukosa dan submukosa sehingga terjadi inflamasi
transmural, edema, vascular stasis, dan nekrosis dari muscular. Perforasi
mungkin dapat terjadi.
Pada perjalanan penyakitnya, penyakit apendisitis akut dapat berubah menjadi :
1. Phlegmon 2-3 hari perforasi, 3-5 hari peritonitis difusasepsis.
Phlegmon ialah proses penahanan dalam jaringan ikat longgar, Pada
orang dewasa, terjadi karena keterlambatan dalam menegakkan
diagnosa, sedangkan pada anak kecil disebabkan apendiks kecil dan
kurang komunikatif.
2. Mikroperforasi massa/infiltrate periappendiks.
Mikroperforasi adalah suatu peradangan oeh omentum dan jaringan
sekitarnya. Tubuh melokalisir perforasi oleh karena daya tahan tubuh

meningkat (dengan pemberian antibiotik). Jika peradangan tidak


sempurna, dapat terjadi penyebaran pus dari ruangan omentum.
2.3. Manifestasi klinis
Appendisitis akut mempunyai gejala klinis yang banyak ekali dan
menyerupai penyakit lain. Pada bebrapa kasus appendiks tidak mempunyai tanda
utama, gejala, maupun tes diagnostik yang akurat.
Gejala klinis
Gejala klinis appendisitis akut adalah nyeri abdomen. Secara klasik nyeri
timbul pertama kali ditengah bagian bawah epigastrium atau daerah umbilicus,
menetap, kadang disertai rasa kram yang intermitten. Setelah periode 12 jam,
biasanya antara 4-6 jam lokasi nyeri terlokalisir di kuadran kanan bawah di titik
McBurney. Kadang tidakada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga
penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya
karena memermudah terjadinya perforasi.
Variasi letak appendiks akan menyebabkan letak nyeri yang bervariasi
juga. Appendiks yang terletak retrosekal akan menyebabkan nyeri peda daerah sisi
dan nyeri punggung, sedangkan appendiks yang terletak pelvic akan
menyebabkan nyeri pada suprapubis, serta yang terletak retroileal dapat
menyebabkan nyeri pada daerah testis.
Bila terjadi peritonitis, dapat ditemukan nyeri tekan yang difus, defence
muskuler, bising usus yang menurun atau hilang pada distensi abdomen.
Anoreksia hampir selalu menyertai appendicitis. Vomitus terjadi pada kira-kira
75% pasien tetapi tidak terus menerus, sebagian besar pasien mengalami vomitus
hanya 1-2 kali. Obstipasi sebagian besar terjadi sebelum nyeri abdomen dan
merasa bahwa defekasi dapat mengurangi rasa nyeri perutnya. Diare dapat terjadi
pada beberapa pasien.
2.4. Pemeriksaan Klinis
Tanda-tanda vital tidak mengalami perubahan yang banyak pada appendicitis
yang sederhana. Kenaikan temperature jarang melebihi 1 0C. Kecepatan nadi dapat
normal atau sedikit meningkat.

Palpasi
Pada palpasi didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa
disertai nyeri lepas. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan
peritoneum parietale. Nyeri tekan dan nyeri lepas secara klasik di kuadran kanan
bawah pada appendiks letak anterior yang mengalami inflamasi. Nyeri tekan yang
maksimal terletak pada atau dekat titik McBurney. Nyeri tekan pada perut kanan
ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan
nyeri pada perut kanan bawah (tanda Rovsing). Pada appendisitis retrosekal atau
retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. Karena
terjadi pergeseran sekum ke kraniolateral dorsal oleh uterus, keluhan nyeri pada
appendiks sewaktu hamil trimester I dan III akan bergeser ke kanan sampai ke
pinggang kanan. Anda pada kehamilan trimester I tidak berbeda dengan orang
tidak hamil, karena itu harus dibedakan apakah nyeri berasal dari appendiks atau
uterus, bila penderita miring ke kiri, nyeri akan berpindah sesuai dengan
pergeseran uterus, terbukti proses bukan berasal dari appendiks.
Peristaltik usus sering normal,peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik
pada peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata.
Rectal Toucher
Pada rectal toucher menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai
dengan jari telunjuk, misalnya pada appendisitis pelvika, pada appendisitis
pelvika, tanda perut sering meragukan maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas
sewaktu dilakukan rectal toucher. Pada pemeriksaan rectal toucher, akan
didapatkan :
-

Nyeri tekan positif pada arah jam 9-11.

Pada yang mengalami komplikasi, ampula teraba distensi/cenderung


kolaps.

Gambar 2.2 Pemeriksaan Rectal Toucher


Pada anak-anak, tidak diperlukan rectal toucher, karena appendiksnya
berbentuk konus atau pendek.
Pemeriksaan tambahan (pemeriksaan khusus)
1.

Rovsings Sign :
Dengan cara penekanan pada kuadran kiri bawah menyebabkan
refleks nyeri pada daerah kuadran kanan bawah.

Gambar 2.3 Pemeriksaan Rovsings sign


2.

Psoas sign :
Mengindikasikan adanya iritasi ke muskulus psoas. Tes ini
dilakukan dengan rangsangan otot psoas dengan hiperekstensi sendi
panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha
ditahan. Tes ini dilakukan dengan cara pasien terlentang. Secara
perlahan tungkai kanan pasien diekstensikan kearah kiri pasien

sehingga menyebabkan peregangan m. psoas. Rasa nyeri pada


maneuver ini menandakan tes positif.

Gambar 2.4 Pemeriksaan Psoas sign


3.

Obturator sign
Dilakukan untuk melihat apakah appendiks yang meradang kontak
dengan m. Obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil.
Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang akan
menimbulkan nyeri pada appendisitis pelvika. Positif dari nyeri
hipogastrik pada peregangan m. Obturator internus yang menandakan
iritasi pada daerah tersebut. Tes dilakukan dengan cara pasien berbaring
terlentang, tungkai kanan difleksikan dan dilakukan rotasi interna secara
pasif.

Gambar 2.5 Pemeriksaan Obturator sign


2.5. Pemeriksaan Penunjang
Pada appendicitis akut tanpa komplikasi, pemeriksaan laboratorium
menemukan leukositosis (10.000-18.000/mm3) dengan peningkatan PMN. Jika
leukosit > 18.000, dengan adanya shift to the left, harus dipikirkan telah terjadi
perforasi atau penyakit infeksi lain.
Foto polos abdomen
Dapat membantu dalam mendiagnosis appendicitis akut, tetapi gambaran
radiologis yang didapatkan kadang tidak spesifik dan harus diinterpretasikan
dengan baik.
Beberapa petunjuk dalam menilai foto polos abdomen , menurut Brooks
dan Killen (1965) :
1. Adanya fluid level yang terlokalisir dalam sekum dan ileum terminal,
menandakan suatu inflamasi lokal pada abdomen kanan bawah.
2. Ileus yang terlokalisir dengan gas didalam sekum, kolon ascenden dan
ileum terminal.
3. Garis panggul kanan yang tidak jelas (kabur), dimana garis radioluscen
timbul akibat adanya lemak diantara peritoneum dan m. tranversus
abdominis.
4. Bertambahnya densitas jaringan lunak pada kuadran kanan bawah.
5. Adanya fekalit pada fossa iliaka kanan.
6. Bayangan psoas yang tidak jelas (kabur) pada sisi kanan.

7. Terisinya appendiks oleh gas


8. Adanya bayangan udara bebas intraperitoneum.
9. Adanya deformitas bayangan gas sekum karena berdekatan dengan massa
yang meradang (hal ini sulit untuk diinterpretasikan, karena mungkin
terganggu oleh gas sekal dari cairan intraluminal atau feses.
Ultrasonografi
Dapat

membantu

dalam

menegakkan

diagnosis

appendiks

akut.

Peradangan appendiks ditujukkan dengan pembesaran diameter terluar lebih dari 6


mm, tidak tertekan, berkurangnya peristaltik ataupun akumulasi cairan disekitar
periappendikal. Appendiks yang meradang dapat ditunjukkan secara tepat pada
86% kasus, sehingga dapat menurunkan appendektomi yang tidak perlu sekitar
7% dan penundaan operasi yang lebih dari 6 jam, sebanyak 2%. USG
menunjukkan sensitifitas 75%, spesifisitasnya 100%. Laparoskopi dapat
digunakan sebagai alat diagnostik, sekaligus terapi. Alat ini dapat membedakan
kelainan ginekologis dan ileitis dengan appendisitis. Bila diagnosis appendisitis
akut dapat ditegakkan, maka dapat langsung dilakukan appendektomi per
laparoskopi.
CT scan
Dapat digunakan untuk diagnosis appendisitis. Pada CT scan appendiks
yang mengalami inflamasi tampak berdilatasi (lebih besar dari 5 cm) dan
dindingnya lebih tipis. Fekalit dapat mudah dilihat, tetapi kehadirannya tidak
patognomonis pada diagnosis appendisitis.
2.6. Diagnosis
Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis
apendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Kesalahan
diagnosis lebih sering pada perempuan dibanding lelaki. Hal ini dapat disadari
mengingat pada perempuan terutama yang masih muda sering timbul gangguan
yang mirip apendisitis akut. Keluhan itu berasal dari genitalia interna karena
ovulasi, menstruasi, radang di pelvis, atau penyakit ginekologik lain.

10

Untuk menegakkan diagnosis appendisitis akut didahului dengan anamnesis


yang lengkap, diikuti dengan pemeriksaan fisik dan diperkuat dengan
pemeriksaan penunjang.
2.7. Diagnosis Banding
Terdapat banyak penyakit akut abdomen yang mempunyai tanda dan gejala
yang mirip dengan apendisitis akut :
a. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual, muntah, dan diare mendahului rasa sakit.
Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistalsis sering
ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan
apendisitis akut.
b. Demam Dengue
Demam Dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis. Di
sini didapatkan hasil tes positif untuk Rumple Leede, trombositopenia,
dan hematokrit yang meningkat.
c. Limfadenitis Mesenterika
Limfadenitis mesenterika yang biasanya didahului oleh enteritis atau
gastroenteritis ditandai dengan nyeri perut, terutama kanan disertai
dengan perasaan mual, nyeri tekan perut samar, terutama kanan.
d. Kelainan ovulasi
Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri
peurt kana bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Pada
anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul lebih dahulu. Tidak ada
tanda radang, dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam, tetapi
mungkin dapat mengganggu selama dua hari.
e. Infeksi panggul
Salpingitis akut kanan sering di kacaukan dengan apendisitis akut.
Suhu biasanya lebih tingi daripada apendesitis dan nyeri perut bagian
bawah perut lebih difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya
disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina, akan timbul

11

nyeri hebat dipanggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat


dilakukan colok dubur bila perlu untuk diagnosis banding
f. Kehamilan diluar kandungan
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak
menentu. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan diluar rahim
dengan perdarahan, akan timbul nyeri yang mendadak difus didaerah
pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada pemeriksaan
vaginal didapatkan nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan pada
kuldosentesis di dapatkan darah.
g. Kista ovarium terpuntir
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba
massa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut, colok vaginal,
atau colok rektal. Tidak terdapat demam. Pemeriksaan ultrasonografi
dapat menetukan diagnosis.
h. Endometriasis eksterna
Endometrium diluar rahim akan memberikan keluhan nyeri ditempat
endometriosis berada, dan darah menstruasi terkumpul ditempat itu
karena tidak ada jalan keluar.
i. Urolitiasis pielium/ureter kanan
Batu ureter atau batu ginjal kanan. Adanya riwayat kolik dari
pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran
yang khas. Eritrosituria serung ditemukan. Foto perut polos atau
urografi intravena dapat meyakinkan penyakit tersebut. Pielonefritis
sering disertai dengan demam tinggi, menggigil, nyeri kostovertebral
disebelah kanan, dan piuria.
j. Penyakit saluran cerna lainnnya
Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan diperut,
seperti divertikulitis Meckel, perforasi tukak duodenum atau kolon,
obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid abdominalis,
karsinoid, dan mukokel apendiks.

12

2.8. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adlah perforasi. Baik berupa
perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami
perdindingan sehingga berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum,
dan lekuk usus halus. Komplikasi apendisitis akut diantaranya :
-

Apendisitis abses

Apendisitis perforata

Apendisitis kronis

2.9. Penatalaksanaan
Terapi pilihan satu-satunya : Pembedahan ( Apendektomi)
Pada appendisitis dengan abses atau phlegmon.
Dianjurkan untuk drainase abses dan appendektomi dilakukan 6-10
minggu kemudian.
Pada appendisitis dengan perforasi.
Perlu dilakukan laparotomi. Sebelum pembedahan perlu dilakukan
perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk
kuman gram negatif dan positif serta kuman anaerob , dan pemasangan

13

BAB III
REGIONAL ANASTESI SUBARANOID BLOCK
3.1. Definisi RA-SAB
Anastesi regional adalah pemberian anestesi ke bagian tubuh tanpa
terjadihilangnya kesadaran atau berkurangnya kesadaran. Ada dua kelompok
teknik central neuraxis blockade (blokade epidural atau subarachnoid) dan
peripheral nerve blockade.
Persiapan analgesia spinal terdiri dari melakukan informed consent (izin dari
pasien), pemeriksaan fisik (ada tidaknya kelainan punggung), dan pemeriksaan
laboratorium anjuran (hemoglobin, hematokrit, PPT dan aPTT). Peralatan yang
diperlukan dalam analgesia spinal ini terdiri atas peralatan monitor seperti tekanan
darah, nadi, pulse oxymetry, dan EKG; peralatan resusitasi/anestesi umum; serta
jarum spinal dengan ujung tajam (Quincke-Babcock) atau jarum spinal dengan
ujung pensil.
3.2. Indikasi, Kontraindikasi, Komplikasi
Tabel.Indikasi, Kontraindikasi, dan Komplikasi Analgesia Spinal

14

Teknik Anastesi
Teknik anestesi spinal dimulai dengan memposisikan pasien duduk atau
posisi tidur lateral. Posisi ini adalah yang paling sering dikerjakan. Perubahan
posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.
Berikut teknik anesthesia spinal dengan blok subarachnoid :
a. Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalnya dalam posisi dekubitus lateral.
Beri bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya tulang spinosus
mudah teraba. Posisi lain adalah duduk.

15

b. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua Krista iliaka dengan


tulang punggung ialah L4 atau L4-5. Tentukan tempat tusukannya,
misalnya L2-3, L3-4, atau L4-5. Tusukan pada L1-2 atau di atasnya
berisiko trauma medulla spinalis.
c. Sterilkan tempat tusukan dengan betadin atau alkohol.
d. Beri anestetik lokal pada tempat tusukan, misalnya dengan lidokain 1-2%
2-3 ml.
e. Cara tusukan median atau para median. Untuk jarum spinal sebesar 22 G,
23 G atau 25 G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang kecil 27
G atau 29 G, dianjurkan menggunakan introducer (penuntun jarum), yaitu
jarum suntik biasa semprit 10cc. Tusukkan introduser sedalam kira-kira 2
cm agak sedikit kearah sefal, kemudian masukkan jarum spinal berikut
mandrinnya ke lubang jarum tersebut. Setelah resistensi menghilang,
mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor, pasang semprit berisi
obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0,5 ml/detik) diselingi
aspirasi sedikit, hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Untuk
analgesia spinal kontinyu dapat dimasukkan kateter.
Berat jenis cairan serebrospinalis (CSS) pada suhu 37C adalah 1,003
1,008. Anestetik lokal dengan berat jenis sama dengan CSS disebut isobarik.
Anestetik local dengan berat jenis lebih besar dari CSS disebut hiperbarik.
Anestetik lokal dengan berat jenis lebih kecil dari CSS disebut hipobarik.
Anestetik lokal yang sering digunakan adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan
mencampur anestetik lokal dengan dekstrosa. Untuk jenis hipobarik biasanya
digunakan tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi.
3.3. Preoperatif
a. Penilaian Preoperatif
Penilaian preoperative merupakan langkah awal dari serangkaian tindakan
anesthesia yang dilakukan terhadap pasien yang direncanakan untuk
menjalani tindakan operatif. 5 Tujuan:
Mengetahui status fisik pasien praoperatif
Mengetahui dan menganalisis jenis operasi

16

Memilih jenis atau teknik anesthesia yang sesuai


Meramalkan penyulit yang mungkin terjadi selama operasi dan
atau pascabedah
Mempersiapkan obat atau alat guna menanggulangi penyulit yang
diramalkan.Tatalaksana evaluasi.
Anamnesis
Anamnesis baik autoanamnesis maupun hetero anamnesis, yakni meliputi
identitas pasien, anamnesis khusus yang berkaitan dengan penyakit bedah yang
mungkin menimbulkan kerusakan fungsi organ, dan anamnesis umum yang
meliputi riwayat penyakit sistemik, riwayat pemakaian obat-obatan, riwayat
operasi/anesthesia terdahulu, kebiasaan buruk, dan riwayat alergi.
Pemeriksaan fisik.
Yakni memeriksa status pasien sayang meliputi kesadaran, frekuensi nafas,
tekanan darah, nadi, suhu tubuh, berat dan tinggi badan untuk menilai status
gizi/BMI. Disamping itu juga dilakukan pemeriksaan fisik umum yang meliputi
pemeriksaan status psikis, saraf, respirasi, hemodinamik, penyakit darah,
gastrointestinal, hepato-bilier, urogenital dan saluran kencing, metabolik dan
endokrin, otot rangka.
Pemeriksaan laboratorium, radiologi dan yang lainnya.
Meliputi pemeriksaan rutin yakni pemeriksaan darah dan urin. Selain itu
pada pasien yang akan operasi besar dan pasien yang menderita penyakit sistemik
tertentu

diperlukan

pemeriksaan

khusus

sesuai

indikasi

yang

meliputi

pemeriksaan laboratorium lengkap, pemeriksaan radiologi.


Konsultasi dan koreksi terhadap kelainan fungsi organ vital.
Konsultasi dilakukan dengan lab/staf medis fungsional yang terkait bila
dijumpai gangguan fungsi organ, konsultasi bisa dilakukan berencana atau
darurat. Koreksi dapat dilakukan bila dianggap perlu, pada kasus elektif koreksi
dapat dilkukan mandiri oleh staf medis fungsional ataupun bersama dengan staf
medis lain di bangsal, pada kasus darurat koreksi dilakukan bersama diruang
resusitasi IRD atau di kamar operasi IRD
Menentukan prognosis pasien properatif.

17

Hal ini dapat menggunakan klasifikasi yang dibuat oleh American Society
of Anesthesiologist (ASA) Tabel 1. Klasifikasi ASA Klasifikasi status fisik ASA
bukan merupakan alat prakiraan risiko anestesi, karena efek samping anestesi
tidak dapat dipisahkan dari efek samping pembedahan. Penilaian ASA
diklasifikasikan menjadi 5 kategori.Kategori ke-6 selanjutnya ditambahkan untuk
ditujukan terhadap brain-dead organ donor. Status fisik ASA secara umum juga
berhubungan dengan tingkat mortalitas perioperatif. Karena penyakit yang
mendasari hanyalah satu dari banyak faktor yang berkontribusi terhadap
komplikasi periopertif. Meskipun begitu, klasifikasi status fisik ASA tetap
berguna dalam perencanaan manajemen anestesi, terutama teknik monitoring.
b. Persiapan Preoperatif
1. Masukan oral
Reflek laring mengalami penurunan selama anestesi. Regurgitasi isi
lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan nafas merupakan resiko
utama pada pasien yang menjalani anestesi. Untuk meminimalkan risiko
tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif dengan
anestesi harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama periode
tertentu sebelum induksi anestesi. Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8
jam, anak kecil 4 6 jam dan pada bayi 3 4 jam. Makanan tak berlemak
diperbolehkan 5 jam sebelum induksi anestesi. Minuman bening, air putih,
teh manis sampai 3 jam dan untuk keperluan minum obat air putih dalam
jumlah terbatas boleh 1 jam sebelum induksi anesthesia.
2. Terapi Cairan
Pasien yang puasa tanpa intake cairan sebelum operasi akan mengalami
deficit cairan karena durasi puasa .Dengan tidak adanya intake oral, defisit
cairan dan elektrolit bisa terjadi cepat karena terjadinya pembentukan urin,
sekresi gastrointestinal, keringat, dan insensible losses yang terus menerus
dari kulit dan paru.Defisit bisa dihitung dengan mengalikan kebutuhan
cairan maintenance dengan waktu puasa.
3. Premedikasi

18

Premedikasi ialah pemberian obat 1- 2 jam sebelum induksi anestesi


dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari
anestesi diantaranya:

Meredakan kecemasan dan ketakutan

Memperlancar induksi anestesi

Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus

Meminimalkan jumlah obat anestetik

Mengurangi mual muntah pasca bedah

Menciptakan amnesia

Mengurangi isi cairan lambung

Mengurangi reflek yang membahayakan

Kecemasan merupakan reaksi alami, jika seseorang dihadapkan pada


situasi yang tidak pasti. Membina hubungan baik dengan pasien dapat
membangun kepercayaan dan menentramkan hati pasien. Obat pereda kecemasan
bias digunakan diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum induksi
anestesi. Jika disertai nyeri karena penyakitnya dapat diberikan opioid misalnya
petidin 50 mg intramuskular.
Cairan lambung 25 ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis
asam. Untuk meminimalkan kejadian di atas dapat diberikan antagonis reseptor
H2 histamin misalnya simetidin 600 mg atau oral ranitidin 150 mg 1-2 jam
sebelum jadwal operasi. Untuk mengurangi mual-muntah pasca bedah sering
ditambahkan premedikasi suntikan intramuskular untuk dewasa droperidol 2,5-5
mg atau ondansetron 2 4 mg.
Sebelum dilakukan anestesi, pasien diberikan premedikasi berupa
pemberian injeksi Metoclopramide 10 mg dan injeksi Ranitidine 50 mg untuk
profilaksis dari PONV (postoperative nausea and vomiting). Metoclopramide
digunakan sebagai anti emetik dan untuk mengurangi sekresi kelenjar. Pemilihan
metokloperamide dikarenakan obat ini mempunyai efek menstimulasi asetilkolin
pada otot polos saluran cerna, meningkatkan tonus sfinger esofagus bagian bawah,
mempercepat pengosongan lambung dan menurunkan volume cairan lambung
sehingga efek efek ini akan menimalisir terjadinya pnemonia aspirasi.

19

Metokloperamide juga mempunyai efek analgesik pada kondisi-kondisi yang


berhubungan dengan spasme otot polos (seperti kolik bilier atau ureter, kram
uterus, dll). Selain itu metokloperamide juga berefek memblok receptor
Dopamine pada chemoreceptor trigger zone pada sistem saraf pusat sehingga
sangat berguna untuk pencegahan muntah pasca operasi. Obat premedikasi lain
yang digunakan adalah ranitidin. Pemilihan ranitidine dikarenakan obat ini
mempunyai fungsi sebagai anti reseptor H2 sehingga dapat mengurangi produksi
asam lambung yang nantinya dapat mengurangi risiko pneumonia aspirasi
c. Durante Operasi
1. Persiapan Pasien
Pasien dilakukan monitor balans cairan. Perlu juga untuk mengatur suhu
pendingin ruangan.
2. Pemakaian Obat Anastesi
Infiltrasi lokal menggunakan lidokain 5% di area L4-5 dengan menyusuri
Krista iliaka. Dilanjutkan dengan bupivacaine 0.5%.
3. Terapi Cairan
Terapi cairan intravena dapat terdiri dari infus kristaloid, koloid, atau
kombinasi keduanya.Cairan kristaloid adalah cairan dengan ion low
molecular weight (garam) dengan atau tanpa glukosa, sedangkan cairan
koloid juga mengandung zat-zat high molecular weight seperti protein atau
glukosa polimer besar. Cairan koloid menjaga tekanan onkotik koloid
plasma dan untuk sebagian besar intravaskular, sedangkan cairan kristaloid
cepat menyeimbangkan dengan dan mendistribusikan seluruh ruang cairan
ekstraseluler. Cairan dipilih sesuai dengan jenis kehilangan cairan yang
digantikan. Untuk kehilangan terutama yang melibatkan air, penggantian
dengan cairan hipotonik, juga disebut cairan jenis maintenance. Jika
kehilangan melibatkan baik air dan elektrolit, penggantian dengan cairan
elektrolit isotonik, juga disebut cairan jenis replacement. Karena
kebanyakan kehilangan cairan intraoperatif adalah isotonik, cairan jenis
replacement yang umumnya digunakan. Cairan yang paling umum
digunakan adalah larutan Ringer laktat. Meskipun sedikit hipotonik,
menyediakan sekitar 100 mL free water per liter dan cenderung untuk

20

menurunkan natrium serum 130 mEq/L, Ringer laktat umumnya memiliki


efek yang paling sedikit pada komposisi cairan ekstraseluler dan
merupakan menjadi cairan yang paling fisiologis ketika volume besar
diperlukan. Kehilangan darah durante operasi biasanya digantikan dengan
cairan RL sebanyak 3 hingga empat kali jumlah volume darah yang hilang.
Metode yang paling umum digunakan untuk memperkirakan kehilangan
darah adalah pengukuran darah dalam wadah hisap/suction dan secara
visual memperkirakan darah pada spons atau lap yang terendam darah.
Untuk 1 spon ukuran 4x4 cm dapat menyerap darah 10 cc sedangkan untuk lap
dapat menyerap 100-150 cc darah. Pengukuran tersebut menjadi lebih akurat jika
spons atau lap tersebut ditimbang sebelum dan sesudah terendam oleh darah.
4. Monitoring
Salah satu tugas utama dokter anestesi adalah menjaga pasien yang dianestesi
selama operasi. Karena proses monitoring sangat membantu dalam
mempertahankan kondisi pasien, oleh karena itu perlu standard onitoring
intraoperatif yang diadopsi dari ASA (standard monitor berikut ini

adalah

standard minimal monitoring)

Standard Basic Anesthetic Monitoring


Standard ini diterapkan di semua perawatan anestesi walaupun pada
kondisi emergensi, appropriate life support harus diutamakan.
Standard ini ditujukan hanya tentang basic anesthetic monitoring, yang
merupakan salah satu komponen perawatan anestesi. Pada beberapa
kasus yang jarang atau tidak lazim (1) beberapa metode monitoring ini
mungkin tidak praktis secara klinis dan (2) penggunaan yang sesuai
dari

metode

monitoring

mungkin

gagal

untuk

mendeteksi

perkembangan klinis selanjutnya.

Standard I
Personel anestesi yang kompeten harus ada di kamar operasi selama
general anestesi, regional anestesi berlangsung, dan memonitor
perawatan anestesi.

Standard II

21

Selama semua prosedur anestesi, oksigenasi, ventilasi, sirkulasi, dan


temperature pasien harus dievalusi terus menerus. Parameter yang
biasanya digunakan untuk monitor pasien selama anestesi adalah :
Frekuensi napas, kedalaman, dan karakter
Heart rate, nadi, dan kualitasnya
Warna membran mukosa, dan capillary refill time
Kedalaman/stadium anestesi (tonus rahang, posisi mata,
aktivitas reflek palpebra)
Kadar aliran oksigen dan obat anestesi inhalasi
Pulse oximetry : tekanan darah, saturasi oksigen, suhu.
d. Postoperatif
1. Pemindahan Pasien dari Kamar Operasi ke Recovery Room
Segera setelah operasi, pasien akan dipindah ke post-anesthesia care unit
(PACU), biasa disebut dengan recovery room. Di tempat ini, pasien akan
diobservasi dengan ketat, termasuk vital sign dan level. Pemindahan pasien
dari kamar operasi ke PACU memerlukan pertimbangan-pertimbangan
khusus. Pertimbangan ini di antaranya ialah letak insisi bedah, perubahan
vaskular, dan pemajanan. Letak insisi bedah harus selalu dipertimbangkan
setiap kali pasien pasca operasi dipindahkan. Banyak luka ditutup dengan
tegangan yang cukup tinggi, dan setiap upaya dilakukan untuk mencegah
regangan sutura yang lebih lanjut. Selain itu, pasien diposisikan sehingga
tidak berbaring pada posisi yang menyumbat drain dan selang drainase.
Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan dari satu
posisi ke posisi yang lain. Bahkan memindahkan pasien yang telah
dianestesi ke brankard dapat menimbulkan masalah vaskular juga. Untuk itu
pasien harus dipindahkan secara perlahan dan cermat. Segera setelah pasien
dipindahkan ke brankard atau tempat tidur, gaun pasien yang basah (karena
darah atau cairan lainnya) harus segera diganti dengan gaun yang kering
untuk menghindari kontaminasi. Selama perjalanan transportasi tersebut
pasien diselimuti dan diberikan pengikat di atas lutut dan siku serta side rail
harus dipasang untuk mencegah terjadinya risiko injury. Selain itu, hal
22

tersebut di atas untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan pasien.


Selang dan peralatan drainase harus ditangani dengan cermat agar dapat
berfungsi dengan optimal. Pasien ditransportasikan dari kamar operasi ke
PACU. Jika PACU terletak jauh dari kamar operasi, atau jika kondisi umum
pasien jelek, monitoring adekuat terhadap pasien sangat diperlukan. Dokter
anestesi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa proses transfer
tersebut berjalan dengan lancer

2. Perawatan Post Anastesi di Recovery Room


Recovery dari anestesi terjadi ketika efek obat-obatan anestesi hilang dan
fungsi tubuh mulai kembali. Perlu beberapa waktu sebelum efek anestesi
benar-benar hilang. Setelah anestesi, sejumlah kecil obat masih terdapat
dalam tubuh pasien, tetapi efeknya minimal. 7Waktu recovery dari anestesi
bergantung pada jenis anestesi, usia pasien, jenis operasi, durasi operasi,
pre-existing disease, dan sensitivitas individu terhadap obat-obatan.
Perkiraan waktu recovery yang tepat dapat ditentukan jika semua spesifikasi
pembedahan, riwayat pasien dan jenis anestesi diketahui. Observasi ketat
harus terus dipertahankan hingga pasien benar-benar pulih dari anestesia.
Observasi klinis harus dilakukan dengan pemantauan seperangkat alat
berikut

Pulse

oximeter

Non-invasive

blood

pressure

monitor

Elektokardiograf Nerve stimulator Pengukur suhu Capnograph Risiko Pasca


anesthesia, dibagi dalam 3 kelompok :

Kelompok I : pasien dengan risiko tinggi gagal nafas dan


goncangan kardiovaskular pasca anesthesia/bedah, sehingga perlu
nafas kendali pasca anesthesia/bedah, pasien ini langsung dirawat
di Unit Terapi Intensif pasca anesthesia/bedah.

Kelompok II : sebagian besar pasien masuk dikelompok ini,


perawatan pasca anesthesia bertujuan menjamin agar pasien
secepatnya mampu menjaga respirasi yang adekuat.

Kelompok III: pasien yang menjalani operasi kecil, singkat dan


rawat jalan. Pada pasien ini respirasi adekuat harus dipertahankan

23

selain itu juga harus bebas dari rasa ngantuk, ataksia, nyeri dan
kelemahan otot sehingga pasien dapat kembali pulang.
Ruang Pulih

Tujuan perawatan pasca anesthesia di ruang pulih: memantau secara


kontinyu dan mengobati secara cepat dan tepat masalah respirasi dan
sirkulasi, mempertahankan kestabilan sistem respirasi dan sirkulasi,
memantau perdarahan luka operasi, mengatasi/mengobati masalah nyeri
pasca bedah.

Pasien yang tidak memerlukan perawatan pasca anesthesia di ruang pulih:


pasien dengan anesthesia lokal yang kondisinya normal, pasien dengan
risiko tinggi tertular infeksi sedangkan di ruang pulih tidak ada ruang
isolasi, pasien yang tidak memerlukan terapi intensif, pasien yang akan
dilakukan tindakan khusus di ruangan. Pemantauan dan penanggulangan
kedaruratan Medik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan yaitu meliputi pemulihan kesadaran,


respirasi (sumbatan jalan nafas dan depresi nafas), sirkulasi (tekanan darah
dan denyut jantung), fungsi ginjal dan saluran kencing, fungsi saluran
cerna, aktivitas motorik, suhu tubuh, masalah nyeri, posisi pasien,
pemantauan pasca anesthesia dan criteria pengeluaran yakni dengan
menggunakan Skor Aldrete. Pasien tetap berada dalam PACU sampai pulih
sepenuhnya dari pengaruh anestesi, yaitu tekanan darah stabil, fungsi
pernapasan adekuat, saturasi oksigen minimal 95%, dan tingkat kesadaran
baik.
Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien

untuk dikeluarka dari PACU adalah :

Fungsi pulmonal yang tidak terganggu

Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat

Tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah

Orientasi pasien terhadap tempat, waktu, dan orang

Produksi urin tidak kurang dari 30 ml/jam

Mual dan muntah dalam control

Nyeri minimal

24

Kontrol nyeri postoperatif, mual dan muntah, dan mempertahankan


normotermia sebelum pasien di discharge sangat dibutuhkan. Sistem skoring
untuk discharge digunakan secara luas. Sebagian besar kriteria yang dinilai adalah
SpO2 (atau warna kulit), kesadaran, sirkulasi, respirasi, dan aktivitas motorik.
Sebagian besar pasien memenuhi kriteria discharge dalam waktu 60 menit di
PACU. Sebagai tambahan dari kriteria diatas, pasien dengan general anestesi
seharusnya juga menunjukkan adanya resolusi dari blokade sensoris dan motoris.
Postoperative nausea and vomiting (PONV) merupakan masalah yang sering
terjadi setelah prosedur general anestesi, terjadi pada sekitar 20-30% pasien.
Bahkan, PONV bisa terjadi ketika pasien di rumah 24 jam setelah discharge
(postdischarge nausea and vomiting). Etiologi PONV biasanya multifaktorial
yang meliputi agen anestesi, tipe atau jenis anestesi, dan factor pasien sendiri.
Terjadi peningkatan insiden mual setelah pemberian opioid selama
anestesi, setelah pembedahan intraperitoneal (umumnya laparoskopi), dan operasi
strabismus. Insidensi tertinggi terjadi pada wanita muda. Meningkatnya tonus
vagal bermanifestasi sebagai sudden bradikardi yang seringkali mendahului atau
bersamaan dengan emesis. Anestesi propofol menurunkan insiden PONV.
Selective 5-hydroxytryptamine (serotonin) receptor 3 (5-HT3) antagonis seperti
ondansetron 4 mg (0.1 mg/kg pada anak-anak), granisetron 0.010.04 mg/kg, dan
dolasetron 12.5 mg (0.035 mg/kg pada anak-anak) juga sangat efektif untuk
mencegah PONV dan menerapi
PONV yang sudah terjadi. Metoclopramide, 0.15 mg/kg intravena, kurang
efektif tetapi obat ini merupakan alternatif yang bagus.5-HT3 antagonis tidak
berhubungan dengan manifestasi akut extrapyramidal (dystonic) dan reaksi
disforik yang mungkin ditimbulkan oleh metoclopramide atau phenothiazine-type
antiemetics. Dexamethasone, 410 mg (0.10 mg/kg in children), bila
dikombinasikan dengan antiemetik lainnya biasanya efektif untuk mual dan
muntah yang refrakter. Bahkan efektif hingga 24 jam sehingga bisa digunakan
untuk postdischarge nausea and vomiting. Profilaksis non farmakologis untuk
mencegah PONV misalnya hidrasi yang adekuat (20 mL/kg) setelah puasa dan
stimulasi P6 acupuncture point (pergelangan tangan). Pada kasus ini, tidak
didapatkan mual muntah postoperatif, tetapi untuk pencegahan tetap diberikan

25

metoclopramide 3x10 mg dan ranitidine 2x50 mg intravena. Jika terjadi muntah


.diberikan ondansetron 4 mg, kepala dimiringkan, dan suction aktif.

26

STATUS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Nn. Vina Wildani

Usia

: 20 Tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Medan Denai

Status

: Belum menikah

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Suku

: Mandailing

Agama

: Islam

Masuk Rumah Sakit : 28/04/2016


No RM

:24-91-43

II. ANAMNESA
Nn. Vina Wildani, 20 tahun datang ke RS Haji Medan pada tanggal 28-042016 dengan
Keluhan utama : Sakit perut kanan bawah
Telaah :
Sakit perut kanan bawah dialami os sejak 10 hari ini, dan semakin
memberat 2 hari ini. Os mengaku sudah meminum obat rasa sakit, sakitnya hilang
namun kembali sakit sejak tadi malam dan sakitnya tidak menghilang setelah
minum obat. Riwayat yang sama pernah dialami os lebih kurang 1,5 tahun yang
lalu. Os didiagnosa dengan apendiksitis akut dan disarankan untuk operasi namun
os menolak untuk diopeasi. BAB (+) normal BAK (+) normal. Riwayat demam
sejak 1 hari yang lalu.
RPT : Appendiksitis Akut (-)
RPO : III. PEMERIKSAAN FISIK
TB

: 160 cm

BB

: 63 cm

27

Pemeriksaan Kepala
Mata

: Conj. palpebra inferior pucat (-), sklera ikterik (-), pupil


isokor, Refleks cahaya (+/+)

Hidung

: Sekret (-), deviasi (-)

Bibir

: Mukosa bibir basah, sianosis (-)

Gigi

: Caries (-)

Pemeriksaan Leher
Pembesaran KGB (-), Thyroid (+) normal
Axilla :
Pembesaran KGB axilla (-)
Pemeriksaan Thoraks :
Paru-paru:
Depan
Inspeksi

: Simetris fusiformis

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri , nyeri (-)

Perkusi

: Sonor kedua lapangan paru

Auskultasi

: Suara pernapasan : vesikuler

Suara tambahan

: (-)

Belakang
Inspeksi

: Simetris fusiformis

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor kedua lapangan paru

Auskultasi

: Suara pernapasan : vesikuler

Suara tambahan

: (-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Dalam batas normal

Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II normal, regular

Status Lokalis
At Regio Abdomen

28

Inspeksi

: Simetris, membesar (-)

Palpasi

: Soepel, nyeri tekan (+), di regio hypocondriaca dextra

Perkusi

: tidak dilakukan pemeriksaan

Auskultasi

: Peristaltik (+) normal

Genitalia
Inguinal

: pembesaran KGB (-)

Pemeriksaan Ekstremitas
Kekuatan otot :

55555
00000

Sensibilitas

: Dextra dan sinistra tidak ada kelainan.

Pemeriksaan penunjang :
Hasil Laboratorium :
Darah rutin
Hb

: 14,6 gr/dl

HT

: 40,6 %

Eritrosit

: 4,5 x 106 /l

Leukosit

: 8.200 gr/dl

Trombosit

: 239.000 /l

Metabolik
KGDS

: 73 mg/dl

Fungsi Hati
SGOT

:-

SGPT

:-

Fungsi Ginjal
Ureum

:-

Kreatinin

:-

Urine Rutin
Makroskopis : Mikroskopis : DIAGNOSA KERJA
Apendiksitis

29

RENCANA TINDAKAN
Tindakan

: Apendectomy

Anastesi

: RA-SAB

PS-ASA

:1

Posisi

: Supinasi

Pernafasan

: Spontan, terpasang nasal canul

KEADAAN PRA BEDAH


PRE OPERATIF
B1 (BREATH)
Airway

: Clear

RR

: 20 x/menit

SP

: Vesikuler ka=ki

ST

: Ronki (-), Wheezing (-/-)

B2 (BLOOD)
Akral

: Hangat/Merah/Kering

TD

: 120/70 mmHg

HR

: 90 x/menit

B3 (BRAIN)
Sensorium

: Compos Mentis

Pupil

: Isokor ka=ki 3mm/3mm

RC

: +/+

B4 (BLADDER)
UOP

: 200 cc

Kateter

: 300 cc

B5 (BOWEL)

30

Abdomen

: Soepel

Peristaltik

: Normal (+)

Mual/Muntah : +/+
B6 (BONE)
Oedem

:-

Durasi Operatif
Lama Anastesi

: 10.20 selesai

Lama Operasi

: 10.25 11.25

Jenis Anestesi

: RA-SAB (Regional Anasthesi Subrachnoid Block)

Teknik Anestesi

: Posisi duduk (LLD,FLD,SITTING)Identifikasi L3-L4

desinfektan betadine + alcoholinsersi spinocain 25G CSF (+), darah(-)


inj.BupivacaineAtur blok setinggi T4
Teknik anestesia :
1. Memposisikan pasien dengan kondisi duduk, meluruskan punggung dan kaki,
tapi tetap dalam keadaan tidak tegang, dan menundukkan kepala.
2. Lokasi injeksi diberi antiseptik
3. Identifikasi ruang interspinosus diantara L4 L5.
4. Dilanjutkan anestesi dengan insersi spino catheter ukuran 27 gauge, darah (-)
dan cairan serebrospinal (+).
5. Injeksi bupivacaine 0.5% 15 mg kemudian dilakukan pengecekan area sensoris,
motoris dan tanda tanda toksikasi pada pasien.
Obat-obatan
Premedikasi :
o Medikasi
o Fentanyl 25 g
o Bupivacain 0,5 % 15 mg
Induksi :
o O2 2L
Relaksan : -

31

Jumlah Cairan
PO

: RL 500cc

DO

: RL 500 cc

Produksi urin : 300 cc


Perdarahan
Kassa basah

: 3x10 = 30cc

Kassa basah: 7x5 = 35cc


Suction

:-

Total

: 65cc

Catatan
EBV

: 80 kg x 65 = 5200 cc

EBL

10% = 520 cc
20% = 1040 cc
30% = 1560 cc
Durasi Operatif
Lama Anastesi

: 10.20 selesai

Lama Operasi

: 10.25 11.25

Post Operasi
Operasi berakhir pukul 11.30 WIB
Setelah operasi selesai pasien di observasi di Recovery Room. Tekanan Darah,
Nadi, Pernafasan
dipantau hingga kembali normal.
Pasien boleh pindah ke ruangan bila Alderette Score > 8
Pergerakan

:2

Pernafasan

:2

Warna Kulit

:2

Tekanan Darah: 2

32

Kesadaran

:2

Dalam hal ini, pasien memiliki score 10 sehingga bisa dipindahkan ke ruang
rawat.
Perawatan Post Operasi
Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke ruang pemulihan, setelah dipastikan
pasien pulih dari anastesi dan keadaan umum, kesadaran serta vital sign stabil,
pasien dipindahkan ke bangsal dengan anjuran bedrest 24 jam, tidur telentang,
karena obat anastesi masih ada.
Terapi Post Operasi
Istirahat sampai pengaruh obat anastesi hilang
IVFD RL 30gtt/menit
Minum sedikit sedikit bila sadar penuh dan keadaan umum sudah membaik
Inj. Ketorolac 30mg/8jam IV
Inj. Ranitidin 50mg/12jam IV
Inj. Metoclopramide 10mg/8jam IV

33

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidjat. R, De Jong. W, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC; Jakarta. 2004
Seymor I. Schwartz, Appendix, in Principles of Surgery, 8th ed, Mc Graw Hill inc;
USA. 2005.
Sugandi . W, Referat Appendisitis, Sub Bagian Bedah Digestif, Fk UNPADRSHS; Bandung. 2005.
Tek, J.K, Referat Appendisitis, Sub Bagian Bedah Digestif, Fk UNPADRSHS,;Bandung . 2003.

34