Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perpindahan panas didefinisikan sebagai berpindahnya energi dari satu
tempat ke tempat lainnya yang disebabkan perbedaan temperatur antara tempattempat tersebut. Bila dalam suatu sistem terdapat gradien temperatur atau bila dua
sistem yang temperaturnya berbeda disinggungkan maka akan terjadi perpindahan
energi yang disebut panas (heat). Energi ini tidak dapat diukur atau diamati secara
langsung tetapi arah perpindahan dan pengaruhnya dapat diamati dan diukur.
Pada umumnya terdapat tiga proses perpindahan panas yaitu konduksi,
konveksi, dan radiasi. Ilmu perpindahan panas tidak hanya membahas bagaimana
energi itu berpindah dari suatu bagian ke bagian lainnya tetapi juga meramalkan
laju perpindahan energi pada suatu kondisi-kondisi tertentu. Ilmu perpindahan
panas berbeda dari ilmu termodinamika. Dalam perpindahan panas membahas
masalah laju perpindahan panas sedangkan pada termodinamika membahas sistem
dalam keseimbangan. Termodinamika dapat digunakan untuk meramalkan energi
yang diperlukan untuk mengubah sistem dari keadaan setimbang satu ke keadaan
setimbang lainnya, tetapi tidak dapat meramalkan kecepatan perpindahan panas
tersebut. Keadaan ini disebabkan pada waktu perpindahan panas itu berlangsung,
sistem tidak berada dalam keadaan setimbang.
1.2 Tujuan Percobaan :
1. Dapat menghitung luas perpindahan panas bedasarkan data ukuran pipa.
2. Mampu menghitung nilai Uo dan Ui bedasarkan neraca panas.
3. Mampu menghitung Uc,Ud,dan Rd.
4. Mampu menggambar grafik hubungan flowrate vs U.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Perpindahan Panas
Heat exchanger merupakan alat penukar kalor yang sangat penting dalam
proses industri. Prinsip kerja heat exchanger adalah perpindahan panas dan fluida
panas dan fluida dingin. Heat exchanger dapat digunakan untuk memanaskan dan
mendinginkan fluida. Sebelum bahan masuk ke reaktor, biasanya bahan
dimasukan dulu ke dalam alat penukar kalor agar suhu bahan sesuai dengan
spesifikasi jenis reaktor yang digunakan. Di dunia industri, heat exchanger
merupakan unit alat yang berperan dalam berbagai unit operasi, misalnya dalam
industri obat-obatan farmasi, industri perminyakan, industri makanan-minuman
dan lain-lain.
Percobaan dalam skala kecil (skala laboratorium) ini dimaksudkan agar
praktikan lebih memahami tentang kecepatan transfer panas, keefektifan, jenis dan
berbagai macam hal yang menyangkut heat exchanger agar ilmu pengetahuan ini
dapat diterapkan pada skala yang lebih besar, yaitu skala industri. Di mana pada
percobaan ini digunakan concentric tube heat exchanger dan jacketed vessel.
Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan
untuk memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan
bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium
pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa
sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin
agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran
panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang
memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct contact). Penukar
panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia
maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu
contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana cairan
pendingin memindahkan panas.(Cengel,1997)

2.1.1

Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas


Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu :

2.1.2

1.

Counter current flow (aliran berlawanan arah)

2.

Paralel flow/co current flow (aliran searah)

3.

Cross flow (aliran silang)

4.

Cross counter flow (aliran silang berlawanan)

Jenis-jenis penukar panas


Jenis-jenis penukar panas antara lain :
1.

Double Pipe Heat Exchanger

2.

Plate and Frame Heat Exchanger

3.

Shell and Tube Heat Exchanger

4.

Adiabatic wheel heat exchanger

5.

Pillow plate heat exchanger

6.

Dynamic scraped surface heat exchanger

7.

Phase-change heat exchanger


Dalam industri proses kimia masalah perpindahan energi atau panas adalah

hal yang sangat banyak dilakukan. Sebagaimana diketahui bahwa panas dapat
berlangsung lewat 3 cara, dimana mekanisme perpindahan panas itu sendiri
berlainan adanya. Adapun perpindahan itu dapat dilaksanakan dengan:
1. Secara molekular, yang disebut dengan konduksi.
2. Secara aliran yang disebut dengan perpindahan konveksi.
3. Secara gelombang elektromagnetik, yang disebut dengan radiasi.

Pada heat exchanger menyangkut konduksi dan konveksi (Sitompul, 1993).


Heat exchanger yang digunakan oleh teknisi kimia tidak dapat
dikarakterisasi dengan satu rancangan saja, perlu bermacam-macam peralatan
yang mendukung. Bagaimanapun satu karakteristik heat exchanger adalah
menukar kalor dari fase panas ke fase dingin dengan dua fase yang dipisahkan
oleh solid boundary (Foust, 1980).

2.1.3 Beberapa jenis heat exchanger:


1. Concentric Tube Heat Exchanger (Double Pipe)
Double pipe heat exchanger atau consentric tube heat exchanger yang
ditunjukkan pada gambar 2.1 di mana suatu aliran fluida dalam pipa seperti pada
gambar 2.1 mengalir dari titik A ke titik B, dengan space berbentuk U yang
mengalir di dalam pipa. Cairan yang mengalir dapat berupa aliran cocurrent atau
countercurrent. Alat pemanas ini dapat dibuat dari pipa yang panjang dan
dihubungkan satu sama lain hingga membentuk U. Double pipe heat exchanger
merupakan alat yang cocok dikondisikan untuk aliran dengan laju aliran yang
kecil (Geankoplis, 1983).

Gambar 2.1. Aliran double pipe heat exchanger

Gambar 2.2 Hairpin heat exchanger


(source : Kern, Process Heat Transfer, 1983)
Exchanger ini menyediakan true counter current flow dan cocok
untuk extreme temperature crossing, tekanan tinggi dan rendah untuk kebutuhan
surface area yang moderat (range surface area: 16000 ft2). Hairpin heat
exchanger tersedia dalam :
a. Single tube (double pipe) atau berbagai tabung dalam suatu hairpin shell
(multitube),
b. Bare tubes, finned tube, U-Tubes,
c. Straight tubes,
d. Fixed tube sheets

Double pipe heat exchanger sangatlah berguna karena ini bisa


digunakan dan dipasang pada pipe-fitting dari bagian standar dan menghasilkan
luas permukaan panas yang besar. Ukuran standar dari tees dan return head
diberikan pada tabel 2.1.
Tabel 2.1. double Pipe Exchanger fittings
Outer Pipe, IPS

Inner Pipe, IPS

3
(source : Kern, Process Heat Transfer, 1983)

Double pipe exchangers biasanya dipasang dalam 12, 15 atau 20-ft


Panjang efektif, panjang efektif dapat membuat jarak dalam each leg over di mana
terjadi perpindahan panas dan mengeluarkan inner pipe yang menonjol melewati
the exchanger section.
(Kern, 1983).
Susunan dari concentric tube ditunjukan pada gambar di bawah ini.
Aliran dalam type heat exchanger dapat bersifat cocurrent atau counter current
dimana aliran fluida panas ada pada inner pipe dan fluida dingin pada annulus
pipe.

Gambar 2.3 Double pipe heat exchanger aliran cocurrent dan counter current
Pada susunan cocurrent maka fluida di dalam tube sebelah dalam (inner
tubes) maupun yang di luar tube (dalam annulus), artinya satu lintasan tanpa
cabang. Sedangkan pada aliran counter current, di dalam tube sebelah dalam dan
fluida di dalam annulus masing-masing mempunyai cabang seperti terlihat pada
gambar 2.3 dan gambar 2.4.

Gambar 2.3. Double-pipe heat exchangers in series

Gambar 2.4. Double-pipe heat exchangers in seriesparallel


(Allan, 1981).
Keuntungan dan kerugian penggunaan double pipe heat exchanger:
a) Keuntungan
1. Penggunaan longitudinal tinned tubes akan mengakibatkan suatu heat
exchanger untuk shell sides fluids yang mempunyai suatu low heat transfer
coefficient.
2. Counter current flow mengakibatkan penurunan kebutuhan surface area
permukaan untuk service yang mempunyai suatu temperature cross.
3. Potensi kebutuhan untuk ekspansi joint adalah dihapuskan dalam kaitan
dengan konstruksi pipa-U.
4. Konstruksi sederhana dalam penggantian tabung dan pembersihan.
b) Kerugian
1) Bagian hairpin adalah desain khusus yang mana secara normal tidak
dibangun untuk industri standar dimanapun selain ASME code.
2) Bagian multiple hairpin tidaklah selisih secara ekonomis bersaing dengan
single shell dan tube heat exchanger.
3) Desain penutup memerlukan gasket khusus.
(Kern, 1983).
2. Shell And Tube Heat Exchanger
Shell and tube heat exchanger biasanya digunakan dalam kondisi tekanan
relatif tinggi, yang terdiri dari sebuah selongsong yang di dalamnya disusun suatu

annulus dengan rangkaian tertentu (untuk mendapatkan luas permukaan yang


optimal). Fluida mengalir di selongsong maupun di annulus sehingga terjadi
perpindahan panas antara fluida dengan dinding annulus misalnya triangular pitch
dan square pitch (Anonim1, 2009).

Gambar 2.5. Shell and Tube, (a) Square pitch dan (b) Triangular pitch
Keuntungan square pitch adalah bagian dalam tube-nya mudah dibersihkan dan
pressure drop-nya rendah ketika mengalir di dalamnya (fluida)
(Kern, 1983).

Gambar 2.6. shell and tube heat exchanger


Kebaikan-kebaikan dari shell and tube:
1. Konfigurasi yang dibuat akan memberikan luas permukaan yang besar
dengan bentuk atau volume yang kecil.
2. Mempunyai lay-out mekanik yang baik, bentuknya cukup baik untuk operasi
bertekanan.
3. Menggunakan teknik fabrikasi yang sudah mapan (well-astablished).
4. Dapat dibuat dengan berbagai jenis material, dimana dapat dipilih jenis
5.
6.
7.
8.

material yang digunakan sesuai dengan temperatur dan tekanan operasi.


Mudah membersihkannya.
Prosedur perencanaannya sudah mapan (well-astablished).
Konstruksinya sederhana, pemakaian ruangan relatif kecil.
Pengoperasiannya tidak berbelit-belit, sangat mudah dimengerti (diketahui
oleh para operator yang berlatar belakang pendidikan rendah).

9. Konstruksinya dapat dipisah-pisah satu sama lain, tidak merupakan satu


kesatuan yang utuh, sehingga pengangkutannya relatif gampang
(Sitompul,1993).
Kerugian penggunaan shell and tube heat exchanger adalah semakin besar jumlah
lewatan maka semakin banyak panas yang diserap tetapi semakin sulit
perawatannya.

(Kern, 1983).

10

3. Plate Type Heat Exchanger


Plate type heat exchanger terdiri dari bahan konduktif tinggi seperti
stainless steel atau tembaga. Plate dibuat dengan design khusus dimana tekstur
permukaan plate saling berpotongan satu sama lain dan membentuk ruang sempit
antara dua plate yang berdekatan. Jika menggabungkan plate-plate menjadi seperti
berlapis-lapis,

susunan

plate-plate

tersebut

tertekan

dan

bersama-sama

membentuk saluran alir untuk fluida. Area total untuk perpindahan panas
tergantung pada jumlah plate yang dipasang bersama-sama seperti gambar
dibawah.

Gambar

2.7.

Plate

type

heat

exchanger

dengan

aliran

countercurrent
(Allan, 1981).
4. Jacketed Vessel With Coil and Stirrer
Unit ini terdiri dari bejana berselubung dengan coil dan pengaduk, tangki
air panas, instrument untuk pengukuran flowrate dan temperatur. Fluida dingin
dalam vessel dipanaskan dengan mengaliri selubung atau koil dengan fluida
panas. Pengaduk dan baffle disediakan untuk proses pencampuran isi vessel.
Volume isi tangki dapat divariasikan dengan pengaturan tinggi pipa overflow.
Temperatur diukur pada inlet dan outlet fluida panas, vessel inlet dan isi vessel.

11

Gambar 2.8. Skema Dari Jacketed Vessel With Coil And


Stirrer
(Tim Dosen Teknik Kimia, 2009).
Hal-hal yang mempengaruhi rancangan suatu heat exchanger, yaitu:
1. Panas Konduksi Melalui Dinding Plat
Transfer panas di antara dua fluida melalui sebuah dinding pemisah secara
umum dapat ditulis:
k.A
qk
(T1 T2 )
l

(2.1)
(Tim Dosen PS Teknik Kimia, 2009).

2. Transfer Panas Konveksi


Kecepatan transfer panas konveksi dari permukaan benda yang bersuhu
tinggi ke fluida yang bersuhu rendah (Gambar 2.10) bisa dihitung dengan
persamaan berikut:
qc hc . A. Ts T
.(2.2)
Fluid
T
hc

qc

Gambar 2.10. Konveksi dari Permukaan ke Fluida


Kecepatan transfer panas konveksi dalam persamaan (2.2) bisa ditulis sebagai
berikut:
qc

Ts T T

1
Rc
hc .A
.(2.3)

12

3. Koefisien Transfer Panas Overall, U (Dinding Plat Datar)


Kecepatan transfer panas antara dua fluida melalui dinding pemisah yang
datar, dapat dihitung dengan persamaan:
q
=
U . A. (Ta Tb)

..(2.4)

Ta Tb

1
hc, a . A

k.A

1
hc ,b . A

U.A.(Ta Tb) =
1
1
hc, a . A

U.A

1
hc ,b . A

1
R

=
1
1 L 1

hc, a k hc,b .

..(2.5)
(Tim Dosen PS Teknik Kimia, 2009).

4. Fouling Factor (Faktor Pengotor)


Koefisien transfer panas overall heat exchanger sering berkurang akibat
adanya timbunan kotoran pada permukaan transfer panas yang disebabkan oleh
scale, karat, dan sebagainya. Pada umumnya pabrik heat exchanger tidak bisa
menetapkan kecepatan penimbunan kotoran sehingga memperbesar tahanan heat
exchanger. Fouling factor dapat didefinisikan sebagai berikut:
1 1
Rf

Ud U
(2.6)
(Tim Dosen PS Teknik Kimia, 2009).

13

(source : Coulson, Chemical Engineering, vol 6, page : 640)


5. Transfer Panas antara Dua Fluida Melalui Sebuah Dinding
L

Ta
T1
fluida a

hc ,b q
fluida b

k
Tb

T2
Gambar 2.11. Transfer
Panas dari Fluida a ke b
Jika Ta > Tb, panas akanc ,mengalir
dari
fluida
a ke permukaan dinding sebelah kiri
a

dengan cara konveksi. Di dalam dinding, panas mengalir secara konduksi dari
permukaan sebelah kiri ke permukaan sebelah kanan.
Heat transfer rate konveksi dari fluida a bersuhu Ta ke permukaan dinding sebelah
kiri Tb.
q h c.a . A (Ta T1 )
q
h c .a A

Ta T1

.(2.7)
Transfer panas konduksi dari permukaan dinding sebelah kiri ke sebelah kanan.
q h c.b . A.(T2 Tb )

14

q
T2 Tb
h c .b . A
(2.8)
Kecepatan transfer panas konveksi dari permukaan dinding sebelah kanan ke
fluida b.
q h c.b . A.(T2 Tb )
q
T2 Tb
h c.b . A
...(2.9)
Penjumlahan dari persamaan 2.7 dan 2.8:

Ta Tb

T T
q
a
b
1
L
1

h c , a kA h c ,b
q

Ta Tb
T

1
L
1 R

h c , a kA h c ,b

(2.10)
(Tim Dosen PS Teknik Kimia, 2009).
6. Log Mean Temperature Difference (LMTD)
Sebelum menentukan luas permukaan panas alat penukar kalor, maka
ditentukan dulu nilai dari . dihitung berdasarkan temperatur dari fluida yang
masuk dan keluar. Selisih temperatur rata-rata logaritmik (Tlm) (logaritmic mean
overall temperature difference-LMTD) depat dihitung dengan formula berikut :
Ta Tb
LMTD
Ta
ln
Tb
(2.11)
(Kern, 1983).
Untuk aliran countercurrent ;

15

Gambar 2.12. LMTD untuk aliran countercurrent

T1 t2 T2 t1
LMTD
T 1 t2
ln
T 2 t1

(2.12)

Untuk aliran cocurrent;

Gambar 2.13. LMTD untuk aliran cocurrent


T1 t1 T2 t2
LMTD
T1 t1
ln
T2 t2
(2.13)
7.

Keefektifan
Keefektifan heat exchanger adalah ratio/perbandingan transfer panas

aktual dengan transfer panas maksimum yang mungkin terjadi.


Keefektifan heat exchanger ()

mcp 1 h. Th,in Th,out


q act

q max mcp min Th,in Tc,in


..(2.13)

mcp 1 h. Tc,out Tc,in


q act

q max mcp min Th,in Tc,in

(2.14)
Karena itu, jika kita mengetahui keefektifan heat exchanger, kita bisa menentukan
kecepatan transfer panas:
q q act .q max
q . mcp min Th,in

..(2.15)
Tc,in
..(2.16)

16

Pemilihan fluida pada shell dan tube


1. Fluida bertekanan tinggi di alirkan di dalam tube karena tube standar cukup
kuat menahan tekanan yang tinggi.
2. Fluida berpotensi fouling dialirkan didalam tube agar pembersihan lebih
mudah dilakukan.
3. Fluida korosif di alirkan di dalam tube karena pengaliran di dalam shell
membutuhkan bahan kontruksi yang mahal yang lebih banyak.
4. Fluida bertemperatur tinggi dan di inginkan untuk memanfaatkan panasnya di
alirkan di dalam tube karena dengan ini kehilangan panas dapat dihindarkan.
5. Fluida dengan viskositas tinggi dengan penampang air yang kecil
membutuhkan energi yang lebih besar.
6. Fluida dengan viskositas tinggi ditempatkan di shell karena dapat digunakan
buffle untuk menambah laju perpindahan.
7. Fluida dengan laju alir rendah dialirkan tube. Diameter tube yang kecil
menyebabkan kecepatan linear fluida (velocity) masih cukup tinggi,
sehingga menghambat fouling dan mempercepat perpindahan panas.
8. Fluida yang mempunyai volume besar dilewatkan melalui tube, karena
adanya cukup ruangan.
2.2 Prinsip kerja heat exchanger
2.2.1 Prinsip dan Dasar Perpindahan Panas
Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu
tempat ke tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali.
Dalam suatu proses, panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu
zat dan atau perubahan tekanan, reaksi kimia dan kelistrikan.
Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung,
yaitu fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin
tanpa adanya pemisah dan secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas
dan fluida dingin tidak berhubungan langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat
pemisah.
2.2.2

Perpindahan Panas Secara Konduksi


Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling
berdekatan antar yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh
perpindahan molekul-molekul tersebut secara fisik. Molekul-molekul benda yang
panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekul-molekul benda yang berada

17

dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya dilimpahkan


kepada molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat
maka akan memberikan panas.
2.2.3

Perpindahan Panas Secara Konveksi


Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan
partikel atau zat tersebut secara fisik.

2.2.4

Perpindahan Panas Secara Radiasi


Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu
energi dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke
benda yang dingin) dengan pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga
elektromagnetik ini akan berubah menjadi panas jika terserap oleh benda yang
lain.
Pada Dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan
panas dari dua fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat
dilakukan secara langsung ataupun tidak lansung.

a.

Secara kontak langsung


Panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dinginmelalui permukaan
kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida.Transfer panas yang
terjadi yaitu melalui interfase / penghubung antara kedua fluida.Contoh : aliran
steam pada kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat
bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida.

b.

Secara kontak tak langsung

c.

Perpindahan panas terjadi antara fluida panas dandingin melalui dinding


pemisah dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.

2.3 Jenis jenis Heat Exchanger


2.3.1 Penukar panas pipa rangkap (double pipe heat exchanger )
Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis
penukar panas dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik
dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang annular dan
cairan lainnya dalam pipa.

18

Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang
dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat.
Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di
dalam ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis
ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi yang
tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar digunaan penukar panas jenis
selonsong dan buluh(shell and tube heat exchanger).

Gambar 2.14 . Penukar panas jenis pipa rangkap


(double pipe heat exchanger )
2.3.2

Penukar panas cangkang dan buluh (shell and tube heat exchanger)
Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang
dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel
(cangkang ). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida
yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau
bersilangan.
Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada
mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat
penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat ( buffle ). Ini bertujuan untuk
membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal ( residence time ),
namun pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan
menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan
panasnya harus diatur.

19

Gambar 2.15. Penukar panas jenis cangkang dan buluh


( shell and tube heat exchanger )
2.3.3

Penukar Panas Plate and Frame (and frame heat exchanger)


Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat pelat tegak
lurus, bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang
penyekat lunak (biasanya terbuat dari karet). Pelat pelat dan sekat disatukan oleh
suatu perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat 10 (kebanyakan segi empat)
terdapat lubang pengalir fluida. Melalui dua dari lubang ini, fluida dialirkan
masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan fluida yang lain mengalir melalui
lubang dan ruang pada sisi sebelahnya karena ada sekat.

20

Gambar 2.16. Penukar panas jenis pelat and Frame

Gambar 2.17. Penukar panas jenis pelat and frame


2.3.4

SDA diabatic wheel heat exchanger


Jenis keempat penukar panas menggunakan intermediate cairan atau toko
yang solid untuk menahan panas, yang kemudian pindah ke sisi lain dari penukar
panas akan dirilis. Dua contoh ini adalah roda adiabatik, yang terdiri dari roda
besar dengan benang halus berputar melalui cairan panas dan dingin, dan penukar
panas cairan.

2.3.5

Pillow plate heat exchanger


Sebuah pelat penukar bantal umumnya digunakan dalam industri susu
untuk susu pendingin dalam jumlah besar langsung ekspansi tank massal stainless
steel. Pelat bantal memungkinkan untuk pendinginan di hampir daerah seluruh
permukaan tangki, tanpa selain yang akan terjadi antara pipa dilas ke bagian luar
tangki. Pelat bantal dibangun menggunakan lembaran tipis dari logam-spot dilas
ke permukaan selembar tebal dari logam.

21

Pelat tipis dilas dalam pola teratur dari titik-titik atau dengan pola
serpentin garis las. Setelah pengelasan ruang tertutup bertekanan dengan kekuatan
yang cukup untuk menyebabkan logam tipis untuk tonjolan di sekitar lasan,
menyediakan ruang untuk cairan penukar panas mengalir, dan menciptakan
penampilan yang karakteristik bantal membengkak terbentuk dari logam.
2.3.6

Dynamic scraped surface heat exchanger


Tipe lain dari penukar panas disebut "(dinamis) besot permukaan heat
exchanger". Ini terutama digunakan untuk pemanasan atau pendinginan dengan
tinggi viskositas produk, proses kristalisasi, penguapan tinggi dan fouling
aplikasi. Kali berjalan panjang yang dicapai karena terus menerus menggores
permukaan, sehingga menghindari pengotoran dan mencapai kecepatan transfer
panas yang berkelanjutan selama proses tersebut.

2.3.7

Phase-change heat exchanger


Selain memanas atau pendinginan cairan hanya dalam satu fasa, penukar
panas dapat digunakan baik untuk memanaskan cairan menguap (atau mendidih)
atau digunakan sebagai kondensor untuk mendinginkan uap dan mengembun ke
cairan. Pada pabrik kimia dan kilang, reboilers digunakan untuk memanaskan
umpan masuk untuk menara distilasi sering penukar panas .
Distilasi

set-up

biasanya

menggunakan

kondensor

untuk

mengkondensasikan uap distilasi kembali ke dalam cairan. Pembangkit tenaga


listrik yang memiliki uap yang digerakkan turbin biasanya menggunakan penukar
panas untuk mendidihkan air menjadi uap.
Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang
sering disebut boiler atau generator uap. Dalam pembangkit listrik tenaga nuklir
yang disebut reaktor air bertekanan, penukar panas khusus besar yang melewati
panas dari sistem (pabrik reaktor) primer ke sistem (pabrik uap) sekunder, uap
memproduksi dari air dalam proses, disebut generator uap. Semua pembangkit
listrik berbahan bakar fosil dan nuklir menggunakan uap yang digerakkan turbin
memiliki kondensor permukaan untuk mengubah uap gas buang dari turbin ke
kondensat (air) untuk digunakan kembali.

22

Untuk menghemat energi dan kapasitas pendinginan dalam kimia dan


tanaman lainnya, penukar panas regeneratif dapat digunakan untuk mentransfer
panas dari satu aliran yang perlu didinginkan ke aliran yang perlu dipanaskan,
seperti pendingin distilat dan pakan reboiler pra-pemanasan.
Istilah ini juga dapat merujuk kepada penukar panas yang mengandung
bahan dalam struktur mereka yang memiliki perubahan fasa. Hal ini biasanya
padat ke fase cair karena perbedaan volume kecil antara negara-negara
ini. Perubahan fase efektif bertindak sebagai buffer karena terjadi pada suhu
konstan tetapi masih memungkinkan untuk penukar panas untuk menerima panas
tambahan. Salah satu contoh di mana ini telah diteliti untuk digunakan dalam
elektronik pesawat daya tinggi.

Gambar 2.18

Gambar 2.19
Percobaan yang telah dilaksanakan dengan alat heat transfer yang
merupakan alat penukar panas shell and tubes dimana alat tersebut terdiri dari
1shell dan 5 tubes yang dirancang dengan sistem single pass dapat dioperasikan

23

secara searah maupun lawan arah baik fluida panas dan fluida dingi di lewat
kan/shell maupun tube. Sebagai fluida panas, sebeluminya di operasi kan maka
dibuat dahulu melalui tank dengan pemanas listrik. Sebagai fluida dingin sebelum
di operasikan dibuat dahulu melalui tanki yang merupakan refrigerator.
Prinsip percobaan tersebut adalah akan mencari besarnya oferral heat
transfer coefficient (U) pada alat tersebut berbagai fariasi kecepatan fluida panas
maupun fluida dingin yang di alirkan pada heat exchanger tersebut. Untuk
menghitung jumlah panas dalam aliran di gunakan persamaan:
Q = MCpT
Besarnya panas yang ditransfer dapat dihitung dengan mengetahui
perubahan suhu dari fluida masuk dan keluar pada kecepatan tertentu. Sedangkan
pada suhu rata-rata logaritma dihitung dari perubahan suhu masuk dan keluar,
baik dari fluida panas maupun dingin. Dengan persamaan: q = U.A.TLMTD
dapat dihitung harga U dimana besarnya A dihitung dari ukuran alat penukar
panas tersebut. Dari

berbagi ffariasi perubahan kecepatan aliran dapatlah

sibuat/dibaca adanya perubahan harga U terhadap perubahan kecepatan aliran


Komponen-komponen yang terdapat pada heat exchanger adalah shell,
konstruksinya sangat ditentukan oleh keadaan tubes yang akan ditempatkan
didalamnya. Shell ini dapat dibuat dari pipa yang berukuran besar atau pelat
logam yang dirol. Shell merupakan badan dari heat exchanger, dimana didapat
tube bundle. Untuk temperatur yang sangart tinggi kadang-kadang shell dibagi
dua disambungkan dengan sambungan ekspansi. Tube atau pipa merupakan
bidang pemisah antara kedua jenis fluida yang mengalir didalamnya dan sekaligus
sebagai bidang perpindahan panas. Ketebalan dan bahan pipa harus dipilih pada
tekanan operasi fluida kerjanya. Selain itu bahan pipa tidak mudah terkorosi oleh
fluida kerja.
Tube sheet, tempat untuk merangkai ujung-ujung tube sehingga menjadi
satu yang disebut tube bundle. HE dengan tube lurus pada umumnya

24

menggunakan 2 buah tube sheet. Sedangkan pada tube tipe U menggunakan satu
buah tube sheet yang berfungsi untuk menyatukan tube-tube menjadi tube bundle
dan sebagai pemisah antara tube side dengan shell side.

25

BAB III
METODELOGI PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat :
1. Shell and tube heat exchanger
2. Thermometer
3. Thermostat
4. Selang
3.1.2 Bahan :
1. Air
3.1.3 Penetapan variabel percobaan.
A. Variabel tetap
1. Skala cold fluid
B. Variabel berubah
1. Skala hot fluid.
2. Jenis aliran co-current, counter co-current
3.2 Cara kerja
1. Nyalakan heater pada hot tank, atur knop thermometer sesuai suhu yang
ingin di capai pada hot tank
2. Pasang thermometer pada aliran masuk dan keluar HE untuk cold fluid dan
hot fluid.
3. Pompa dalam keadaan mati, hubungan keempat flexsibel hose dengan
socket yang ada di atas bench. Periksa sekali lagi apakah alian hot/cold
fluid sudah sesuia variabel percobaan. Jaga jangan sampai aliran hot fluid
dihubungkan silang dengan cold fluid karena akan merusak alat.
4. Setelah semua terpasang, cek kebocoran dengan cara menyalakan hot dan
cold pump. Jika terjadi kebocoran, matikan hot dan cold pump dan ulangi
langkah nomor 3 hingga tidak terjadi kebecoran.
5. Setelah tidak terjadi kebocoran tunggu suhu pada hot dan cold tank tercapai,
kemudian nyalakan hot dan cold pump.
6. Dengan valve pengatur flowrate, aturlah aliran hot dan cold fluid yang
masuk.
24 di jalankan dan catat data perubahan
7. Setelah flowrate sesuai, operasi mulai
suhu setiap 1 menit selama 9 menit.
8. Variabel yang divariasikan dalam percobaan ini adalah:
a. jenis aliran (co current dan counter current )
b. Flowrate hot fluid.

26

9. Bila percobaan telah selesai, matikan kedua pompa

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
RUN I
laju
bukaan
90
70
50

alir(L/m)
11.03
9.35
8.22

LMTD
5.494
5.494
5.263

Q
32.76
32.76
28.48

h
152.5
152.93
114.28

U
83.78
83.78
75.95

27

RUN II
bukaa

laju

n
90
70
50

alir(L/m)
9.71
9.06
8

LMTD
12.66
12.295
11.28

Q
48.06
40.36
35.64

h
135
125.97
111.23

LMTD
18.248
17.54
16.73

Q
67.95
56.34
57.99

h
146.82
113.04
108.59

U
53.34
46.12
44.38

RUN III
bukaa

laju

n
90
70
50

alir(L/m)
10.56
8.13
7.81

U
52.31
45.11
48.69

4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan semakin kecil bukaan maka laju alirnya
semakin kecil. Begitu juga sebaliknya26
semakin besar bukaan maka laju alir yang
diperoleh semakin besar. Ini terjadi dikarenakan pada bukaan 90 maka kran
tersebut terbuka penuh sehingga laju alirnya besar seperti yang kami dapat yaitu
11.03 L/menit, ketika pada bukaan 70 alirannya sudah agak kecil disebabkan
karena bukaan kran tidak lagi terbuka semua melainkan sudah tertutup sedikit
nilai laju alir yang kami dapat yaitu 9.3 L/menit dan begitu juga dengan bukaan
50 laju alirnya semakin kecil karena hamper sebagian bukaannya yang tertutup,
nilai yang kami dapat yaitu 8.22 L/menit. Untuk run 2 dan run 3 begitu juga yang
kami dapatkan sehingga hasil yang kami daptkan sesuai dengan teori yang ada
yait semakin besar bukaan kran maka laju alir yang didapat semakin besar pula,
begitu juga sebaliknya.(Mc. Cabe .1985)
Berdasarkan hasil percobaan untuk LMTD semakin kecil bukaan maka
LMTD yang didapat semakin kecil pula. Pengaruh LMTD terhadap laj alir adalah

28

ada nilai yang berkaitan dengan perbedaan temperature antara sisi panas dan sisi
dingin heat exchanger.(Geankoplis. 1983)
Pada laju perpindahan panas semakin kecil bukaan maka laju perpindahan
panasnya juga semakin kecil. Ini dipengaruhi oleh nilai dari laju alit, spesifik
kapasitas, Tin dan Tout yang diperoleh. Hasil yang kami dapatkan sesuai dengan
teori. Untuk nilai entalpi dipengaruhi oleh nilai laju perpindahan panas
berbanding terbalik dengan luas permukaan HE dan temperature Tin dan Tout.
Dan juga untuk koefisien perpindahan panas dipengaruhi oleh nilai laju
perpindahan panas, luas permukaan dan LMTD yang diperoleh semakin kecil laju
perpindahan panas maka semakin kecil entalpi dan koefisien perpindahan panas
yang didapat.(kern. 1965)

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Semakin kecil bukaan maka laju alir yang didapat semakin kecil pula.
Semakin kecil bukaan maka LMTD yang didapat semakin kecil pula
Semakin kecil laju perpindahan panas maka bukaannya semakin kecil
Semaikin kecil bukaan maka entalpi yang didapat semakin kecil
Semakin kecil bukaan maka koefisien perpindahan panas yang didapat

semakn kecil pula


5.2 Saran
1. Saran dari kami pada bukaan pipa seharusnya busur harus ada pada alat
heat exchanger tersebut, karena sangat berpengaruh pada air keluar masuk.
2. Alat heat exchanger sebaiknya ada tempat yang luas untuk melakukan
praktikum.
3. Prosudur kerja harus dijelaskan sangat detil.

29

2
8

30

DAFTAR PUSTAKA
Allan, D. Kraus, 1981, Heat Transfer Fundamental, University of Akren, Ohio.
Coulson, J.M., 1983, Chemical Engineering Volume 6, Pergamon Press, New
York.
Foust, 1980, Principles of Unit Operation, 2edJohn Willey and Sons, New York.
Geankoplis, J. C, 1983, Transport and Unit Operation, 2nd edition, Allyn and
Brown, Ind Massachusset.
Kern, D.Q, 1983,Process Heat Transfer, McGraw Hill Book Company, New
York.
Sitompul, T.M, 1993, Alat Penukar Kalor, Citra Niaga Rajawali, Jakarta.
Tim Dosen Teknik PS Kimia, 2009, Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia
2, Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Lambumg
Mangkurat, Banjarbaru.

31

LAMPIRAN I
DATA PENGAMATAN
RUN I
Bukaan

Laju Alir

Sin

Sout

Bukaan

Dingin

Laju Alir

Tin

Tout

38

35

38

35

38

34,5

Tin

Tout

47

42

47

2,5

46

41,5

Tin

Tout

54,5

48

54

47

54

46,5

Panas (L/m)

90

(L/m)
11,03

30

32

70

9,35

30

32

50

8,22

30

32

Sin

Sout

90

8,15

RUN II
Bukaan

Laju Alir

Bukaan

Dingin

Laju Alir
Panas (L/m)

90

(L/m)
9,71

30

34

70

9,06

31

34

50

31

34

90

8,65

RUN III
Bukaan

Laju Alir

Sin

Sout

Bukaan

Dingin

Laju Alir
Panas

90

(L/m)
10,56

31

35

(L/m)

70

8,13

31

35

50

7,81

32

35

90

LAMPIRAN II

8,69

32

PERHITUNGAN
1. Perhitungan LMTD
LMTD

t 2 t 1
= 2 . 3 log t 2 / t 1

RUN I
Bukaan 90o
T1
= 38 oC
T2
= 35 oC
t2
= T1-t2
t1
= T2-t1
t2-t1 = 1

t1
= 30
t2
= 32
= 38-32
= 35-30

=6
=5

1
1
=
=5.494 C
LMTD = 2.3 log6 /5 0.182

Bukaan 70o
T1
= 38 oC
T2
= 35 oC
t2
= T1-t2
t1
= T2-t1
t2-t1 = 1

t1
= 30
t2
= 30
= 38-32
= 35-30

=6
=5

1
1
=
=5.494 C
LMTD = 2.3 log6 /5 0.182

Bukaan 50o
T1
= 38 oC
t1
= 30
o
T2
= 34.5 C
t2
= 32
t2
= T1-t2
= 38-32
=6
t1
= T2-t1
= 34.5-30
= 4.5
t2-t1 = 1.5
1
1,5
=
=5.263 C
LMTD = 2.3 log6 /4.5 0.285
RUN II
Bukaan 90o
T1
= 47 oC
T2
= 42 oC
t2
= T1-t2
t1
= T2-t1
t2-t1 = 1

t1
= 30
t2
= 34
= 47-34
= 42-30

= 13
= 12

33

1
1
=
=12.66 C
LMTD = 2.3 log13 /12 0.079
Bukaan 70o
T1
= 47 oC
t1
= 31
o
T2
= 42.5 C
t2
= 34
t2
= T1-t2
= 47-34
= 13
t1
= T2-t1
= 42.5-31
= 11.5
t2-t1 = 1.5
1.5
1.5
=
=12.295 C
LMTD = 2.3 log13 /11.5 0.122
Bukaan 50o
T1
= 46 oC
T2
= 41.5 oC
t2
= T1-t2
t1
= T2-t1
t2-t1 = 1.5

t1
= 31
t2
= 34
= 46-34
= 41.5-31

= 12
= 10.5

1
1.5
=
=11.28 C
LMTD = 2.3 log 12/10.5 0.133
RUN III
Bukaan 90o
T1
= 54.5 oC
t1
= 31
T2
= 48 oC
t2
= 35
t2
= T1-t2
= 54.5-35
= 19.5
t1
= T2-t1
= 48-31
= 17
t2-t1 = 2.5
2.5
2.5
=
=18.248 C
LMTD = 2.3 log19.5/17 0.137
Bukaan 70o
T1
= 54 oC
T2
= 47 oC
t2
= T1-t2
t1
= T2-t1
t2-t1 = 3

t1
= 31
t2
= 35
= 54-35
= 47-31

= 19
= 16

3
1
=
=7.54 C
LMTD = 2.3 log19 /16 0.171
Bukaan 50o
T1
= 54 oC

t1

= 32

34

T2
t2
t1
t2-t1

= 46.5 oC
= T1-t2
= T2-t1
= 4.5

t2
= 35
= 54-35
= 46.5-32

=6
= 14.5

4.5
4.5
=
=16.73 C
LMTD = 2.3 log19 /14.5 0.269

2. Menghitung Laju Perpindahan Panas


Q
= M.Cp dT
RUN I
T
= 40 oC , Cp = 0.99 Btu/lboC
Bukaan 90o
Q
= M.Cp dT
= 11.03 x 0.99 x (38-35)
= 32.76 Btu/lb
Bukaan 70o
Q
= M.Cp dT
= 9.35 x 0.99 x (38-35)
= 32.76 Btu/lb
Bukaan 50o
Q
= M.Cp dT
= 8.22 x 0.99 x (38-34.5)
= 28.48 Btu/lb
RUN II
T
= 50 oC , Cp = 0.99 Btu/lboC
Bukaan 90o
Q
= M.Cp dT
= 9.71 x 0.99 x (47-42)
= 48.06 Btu/lb
Bukaan 70o
Q
= M.Cp dT
= 9.06 x 0.99 x (47-42.5)
= 40.36 Btu/lb
Bukaan 50o
Q
= M.Cp dT
= 8 x 0.99 x (46-41.5)
= 35.64 Btu/lb
RUN III
T
= 60 oC , Cp
Bukaan 90o

= 0.99 Btu/lboC

35

= M.Cp dT
= 10.56 x 0.99 x (54.5-48)
= 67.95 Btu/lb

Bukaan 70o
Q
= M.Cp dT
= 8.13 x 0.99 x (54-47)
= 56.34 Btu/lb
Bukaan 50o
Q
= M.Cp dT
= 7.81 x 0.99 x (54-46.5)
= 57.99 Btu/lb
3. Menghitung entalpi
h
A diketahui
RUN I
Bukaan 90o
h

Q
= A.T
= 0.0712 m2

32.76
32.76
Btu 2
=
=152.95
.m
= 0.0712(3835) 0.2136
lb

Bukaan 70o
h

32.76
32.76
Btu 2
=
=152.95
.m
= 0.0712(3835) 0.2136
lb

Bukaan 50o
h

28.48
28.48
Btu 2
=
=114.28
.m
= 0.0712(3834.5) 0.2492
lb

RUN II
Bukaan 90o
h

48.06
48.06
Btu 2
=
=135
.m
= 0.0712(4742) 0.356
lb

Bukaan 70o
h

40.36
40.36
Btu 2
=
=125.97
.m
= 0.0712(4742.5) 0.3204
lb

Bukaan 50o

36

35.64
35.64
Btu 2
=
=111.23
.m
= 0.0712(4641.5) 0.3204
lb

RUN III
Bukaan 90o
h

67.95
67.95
Btu 2
=
=146.82
.m
= 0.0712(54.548) 0.4628
lb

Bukaan 70o
h

56.34
56.34
Btu 2
=
=113.04
.m
= 0.0712(5447) 0.4984
lb

Bukaan 50o
h

57.99
57.99
Btu 2
=
=108.59
.m
= 0.0712(5446.5) 0.534
lb

4. Menghitung koefisien perpindahan panas


Q
U
= A . LMTD
RUN I
Bukaan 90o
U

Bukaan 70o
U

Bukaan 50o
U

RUN II
Bukaan 90o
U

Bukaan 70o

32.76
32.76
Btu 2
=
=83.78
.m
0.0712 x 5.494 0.391
lb

32.76
32.76
Btu 2
=
=83.78
.m
0.0712 x 5.494 0.391
lb

28.48
28.48
Btu 2
=
=75.95
.m
0.0712 x 5.263 0.375
lb

48.06
48.06
Btu 2
=
=53.34
.m
0.0712 x 12.66 0.901
lb

37

Bukaan 50o
U

RUN III
Bukaan 90o
U

Bukaan 70o
U

Bukaan 50o
U

40.36
40.36
Btu 2
=
=46.12
.m
0.0712 x 12.295 0.875
lb

35.64
35.64
Btu 2
=
=44.38
.m
0.0712 x 11.28 0.803
lb

67.95
67.95
Btu 2
=
=52.31
.m
0.0712 x 18.248 1.299
lb

56.34
56.34
Btu 2
=
=45.11
.m
0.0712 x 17.54 1.249
lb

57.99
57.99
Btu 2
=
=48.69
.m
0.0712 x 16.73 1.191
lb