Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana umumnya manusia tidak luput dari perbuatan
dosa, baik itu merupakan dosa kecil maupun dosa besar. Perbuatan
dosa sering dilakukan oleh manusa, karena manusia lebih sering
mengikuti hawa nafsunya dengan tidak memikirkan akibat buruk
dan apa yang dilakukannya.
Sekalipun manusia di ciptakan Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka
bumi ini, namun karena sifatnya yang lemah, manusia tidak pernah terlepas dari
perbuatan salah dan dosa, kecuali orang-orang yang selalu beriman dan senantiasa
mendapat petunjuk dari Allah SWT.
Untuk itu ketika seseorang melakukan dosa Allah telah menyerukan untuk
segera bertaubat. Dan jika telah bertaubat, maka kemungkinan taubat itu dapat
diterima oleh Allah. Tetapi jika syarat-syarat atau tatacaranya tidak sesuai sehingga
taubat tersebut ditolak maka yang demikian itu merupakan suatu bencana. Oleh karena
itu dalam makalah ini akan mengkaji tentang macam-macam dosa besar serta tatacara
bertaubat.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dosa?
2. Apa sajakah macam-macam dosa besar?
3. Bagaimana tatacara bertaubat?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dosa
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan dosa adalah
perbuatan yang melenggar hukum tuhan atau agama.

Menurut ulama

fukoha (ahli hukum islam) dosa adalah akibat tidak melaksanakan


perintah Allah SWT yang hukumnya wajib dan mengerjakan
larangan Allah yang hukumnya haram.

Dalam hadits yang

diriwayatkan oleh Imam Muslim terdapat definisi kebajikan dan


dosa Adapun redaksi haditsnya adalah sebagai berikut: selain itu
juga terdapat hadits lain tentang definisi dosa yang diriwayatkan
oleh



( )









ArtinyaDiriwayatkan dari Nawas bin Saman RA, bahwa Nabi
SAW bersabda: Kebajikan adalah Akhlak yang baik dan dosa adalah
segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain
sampai melihatnya (HR.Muslim)

Selain hadits yang diriwayatkan imam muslim juga terdapat


hadits hasan tentang definisi dosa yang diriwayatkan dari dua
kitab musnad yang ditulis oleh dua imam, Ahmad bin Hanbal dan
Darimi dengan Isnad hasan. Adapun redaksi haditsnya adalah
sebagai berikut:

:


,







)




,
(

ArtinyaDiriwayatkan dari Wabishoh bin Mabad RA bahwa ia
berkata: Aku pernah datang menemui Rasulullah SAW lalu beliau
bertanya Apakah engkau datang untuk menanyakan soal kebajikan?
Aku menjawab ya beliau kemudian bersabda mintalah fatwa kepada
hatimu sendiri! Kebajikan adalah sesuatu yang membuat senang jiwa
dan hati sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengusik jiwa dan
meragukan hati, sekalipun manusia memfatwakan hal itu kepadamu
(hadist hasan yang diriwayatkan dari dua kitab musnad yang ditulis
oleh dua imam, Ahmad bin Hanbal dan Darimi dengan Isnad hasan) 1

Menurut pandangan Islam, macam-macam dosa terbagi


menjadi dua bagian sebagaimana yang disebutkan dalam QS.AnNisaayat 31:












Artinya: Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosadosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus
kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan
kamu ke tempat yang mulia (surga) (QS.An Nisa:31)

Berdasarkan ayat tersebut menjelaskan adanya dosa besar


yang berarti pula terdapat dosa kecil. Sedangkan didalam
memberikan definisi mengenai dosa besar para ulama berbeda
pendapat yang dapat terlihat dari rangkaian pembahasan berikut:
Setiap sesuatu yang dilarang Allah, segala sesuatu yang
diharamkan melalui nash
mengancam

perlakuan

Al-Quran, seluruh nash-nash


perbuatan

dengan

ancaman

yang
dihari

kiamat, mendapat laknat Allah atau mendapat ancaman keras,


dan pelakunya diberi predikat fasik, atau pelakunya harus diberi
hukuman had
1 Imam Yahya bin Syaifuddin An-Nawawi,2014, Syarah Hadits Arbain,Solo:
Al Qowam,hlm 209-210.

Sebagian ulama mengatakan : Apabila anda ingin


mengetahui perbedaan antara dosa besar dan dosa-dosa kecil,
maka bandingkanlah kerusakan yang diakibatkan dari dosa-dosa
tersebut dengan dosa besar yang telah ada nash-Nya. Apabila
pada kenyataannya kerusakan yang ditimbulkan itu hanya
sedikit, maka yang demikian adalah dosa kecil. Tetapi apabila
kerusakan yang diakibatkannya sebanding atau lebih besar yang
demikian itu adalah dosa besar2.

2 Afif Abdul Fattah Thabarrah, 1980,Dosa dalam Pandangan Islam,


Bandung:Risalah Bandung, hlm 3-4.

B. Macam-macam Dosa Besar


Rasulullah SAW dalam hadits telah bersabda tentang daftar
dosa-dosa besar. Salah satunya yaitu hadits Anas.











( )




Artinya : Hadits Anas ra. Dimana ia berkata: Rasulullah saw.

ditanya tentang dosa-dosa besar, kemudian beliau menjawab:


Mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua,
membunuh jiwa (manusia), dan saksi palsu.(HR.Imam Bukhori)
Berdasarkan hadits diatas terdapat 4 macam dosa besar
yaitu

menyukutukan

Allah,

durhaka

kepada

orang

tua,

membunuh jiwa manusia tanpa hak dan menjadi saksi palsu.


Dalam

hadits

lain

dari

abi

Hurairah

juga

terdapat

pembagian dosa besar sebanyak 7 macam.

..



: .







:


,

















,
,






,



,

()










Artinya: Abu Hurairah
r. a berkata: Nabi SAW bersabda:
tinggalkanlah tujuh dosa yang dapat membinasakan, sahabat bertanya: apakah itu
ya Rasulullah? Nabi SAW menjawab: Syirik mempersekutukan Allah, Berbuat
sihir (tenung}, membunuh jiwa yang di haramkan Allah kecuali dengan hak,
Makan harta riba, Makan harta anak yatim, melarikan diri dari perang jihad saat
berperang, dan menuduh wanita muminat yang sofat (berkeluarga) dengan zina .
( HR.Bukhari Muslim)

Berdasarkan hadits dosa besar terbagi menjadi 7 macam yaitu:


1. Menyekutukan Allah
Dosa yang paling besar adalah menyekutukan Allah
dengan sesuatu. Dosa tersebut ada dua macam. Misalnya
menyembah kepada batu, pohon, matahari, bulan, Nabi, orang
yang dianggap mulia, orang yang berkuasa, malaikat, dan

lain-lain. Maka itulah syirik yang dinyatakan dosa yang paling


besar yang diterangkan oleh Allah dalam al-quran dalam
QS.An-Nisa ayat 48:









Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,
dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan
Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW


bersabda: Maukah aku tunjukkan padamu dosa yang paling
besar? Hal itu dinyatakan oleh Nabi SAW sebanyak tiga kali.
Lalu

para

sahabat

Rasulullah,

Nabi

menjawab:

menjawab:

Ya,

yaitu

tunjukkanlah

wahai

menyekutukan

Allah

(dengan sesuatu), dan durhaka kepada kedua orang tua (ibu


dan Bapak). Nabi dlam keadaan bertongkat lalu duduk sambil
mengatakan: Ketahuilah pula, dosa
bersaksi

palsu.

mengulangi

Sahabat

ucapan

berkata:

tersebutsampai

berkata

dusta dan

Senantiasa
kami

Nabi

mengharapkan

semoga Nabi itu diam. (Riwayat Bukhari, Muslim, dan Ahmad)


dan Nabi Muhammad SAW bersabda:










()

Artinya: Allah berfirman: Barang siapa beramal suatu amalan


yang

disitu

dia

menyekutukan

dengan

selain-Ku,

maka

baginya telah beramal untuk orang yang disekutukan itu,


sedangkan Aku (Allah) berlepas diri dari padanya.3
2. Membunuh Manusia
Allah berfirman dalam Q.S. An-Nisa: 93









3 Abu Abdullah Muhammad, Dosa-Dosa Besar. Surabaya: PT Bina Ilmu.
1990 hal. 6-8

Artinya: Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin


dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di
dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya
serta menyediakan azab yang besar baginya.





Artinya: Dan orang-orang yang tidak menyembah
Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang
diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan)
yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan
yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan)
dosa(nya),(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada
hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam
Keadaan terhina,Kecuali orang-orang yang bertaubat,
beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan
mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah
Maha Pengampun lagi. Maha Penyayang. (Q.S. Al Furqon: 6870)



,



,














,







:
!

Artinya: Jika dua orang lelaki Muslim berjumpa dengan


membawa pedangnya masing-masing dengan tujuan saling
membunuh), maka pembunhuhnya dan yang terbunuh akan samasama masuk neraka. Lalu beliau ditanyakan oleh seorang sahabat:
Ya Rasulallah, benarlah jika pembunuh ini akan masuk neeraka,
tetapi mengapakah pula orang yangterbunuh itu turut sama masuk
nerak? Nabi SAW menjawab: Sebab yang terbunuh itu berusaha
pula untuk membunuh kawannya yang telah membunuh itu.

Menurut Imam Abu Sulaiman (Hamed bin Muhammad Al


Khaththabi, seorang ahli fiqih dari madzhab Syafii, wafat 388
H),

cara

yang

demikian

itu

jika

dalam

bentuk

saling

membunuhnya itu perlu kepada penjelasan (tawil), sehingga


jika ada dua orang (kelompok) yang saling berusaha untuk
membunuh

yang

lainnya

itu

atas

dasar

permusuhan,

fanatisme (kebangsaan atau kesukuan), atau karena untuk


mendapatkan harta keduniaan, atau martabat yang tinggi
(berebut

pangkat).

Adapun

orang

yang

membunuh

pemberontak yang memang harus dibunuh atau karena


membela istrinya (kelurganya yang diancam), maka orang
tersebut tidak termasuk kelompok hadits di atas, sebab tidak
ada niat di hatinya untuk membunuh, kecuali jika dia
bermaksud membunuhnya (dengan rasa dendam). Dan orang
yang

membunuh

atau

memerangi

pemberontak

atau

perampok dari kaum muslimin, maka yang demikian tidak


untuk membunuhnya, tetapi untuk membela diri, sehingga
tidak termasuk hadits diatas.4
3. Sihir
Seorang yang menyihir orang lain dapat menyebabkan kafir.
Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah(02) : 102




......










Artinya: Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitansyaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan
bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir). Padahal Sulaiman tidak kafir
(tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir
(mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia.....









:

,
,



()


Artinya: Tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu: Orang
pecandu arak, yang memutuskan hubungan persaaudaraan dan
yang mempercayai sihir. (H.R. Ahmad)

Adapun
golongan

jampi-jampi

yang

biasa

termasuk

dikalungkan

azimat,
oleh

yaitu

suatu

orang-orang

di

lehernya, anak-anaknya dan binatang peliharaannya termasuk


amaliyah

jahiliyah,

siapa

yang

mempercayainya

berarti

4 Abu Abdullah Muhammad, Dosa-Dosa Besar. Surabaya: PT Bina Ilmu. 1990 hal.
14

termasuk perbuatan syirik. Sedangkan tiwalah yang disebut


juga mahabbah yaitu semacam sihir untuk menimbulkan cinta
kasih suami isteri, ini juga termasuk syirik, sebab dapat
dikatakan

menentang

takdir

Allah.

Dalam

hadits

yang

diriwayatkan oleh Ibnu Masud, Rasulullah SAW bersabda:

Artinya:
Jampi-jampi (bacaan perdukunan), azimat
(penangkal), dan menyihir untuk menimbulkan kecintaan suami dari
isterinya itu adalah syirik. (HR. Abu Dawud)

Menurut

Al-Khaththabi

mengatakan,

adapun

jika

menjampi dengan menggunakan ayat al quran atau dengan


menggunakan nama-nama Allah SWT makayang demikian itu
hukumnya mubah )boleh(, sebab nabi Muhammad SAW
pernah

menjampi

cucunya

Hasan

dan

Husain

dengan

membaca:















,



( )



Artinya: :Aku melindungi kalian dengan nama Allah yang sempurna


dari gangguan syaitan, bintang yang beracun dan dari setiap mata
yang jahat.5

4. Riba


















Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
memakan Riba dengan berlipat gandadan bertakwalah kamu
kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi'ah. menurut


sebagian besar ulama bahwa riba nasi'ah itu selamanya
haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua
macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih
yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl
ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis,
tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan
5 Abu Abdullah Muhammad, Dosa-Dosa Besar. Surabaya: PT Bina Ilmu. 1990 hal.
19-20

mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan


emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud
dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum
terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq ia mengatakan bahwa orang
yang menambah dan yang meminta tambahan (yaitu dalam
perdagangan dengan sistem riba) itu akan memasuki neraka.
Ibnu Masud r.a. mengatakan: Jika seseorang berhutang
kepasa Anda, lau anda menerima suatu hadiah daripadanya,
maka

hadiah

tersebut

janganlah

diterima,

sebab

yang

demikian itu adlah riba. Dan Hasan r.a. berkata: Jika seseorang
berhutung pada anda, lalu anda makan-makan di rumahnya,
maka yang demikian adalah makanan yang haram. Hal
tersebut sesuai dengan sabda Nabi SAW:

Artinya: Semua pinjaman yang dapat menarik pda suatu manfaat


(keuntungan), maka yang demikin itu adlah riba. (HR. Haris bin Abu
Usamah)6

5. Memakan Harta Anak Yatim


Abu Said Al-Khudri mengatakan, bahwa Rasulullah SAW
bersabda sehubungan dengan peristiwa Isra Miroj: Maka tibatiba aku berjuma orang-orang yang menjaga beberapa orang
lain, sambil merobek-robek mulut merka, sedang mereka yang
lain telah datang dengan membawa batu dari api neraka, lalu
dilontarkan ke dalam mulut mereka sampai akhirnya keluar
melalui dubur (anus) merks. Lalu Nabi bertanya: Siapakah
mereka Hjibril? Lalau malaikat Jibril menawab: Mereka itulah
yang makan harta anak yatim dengan cara kejam (berdosa),
yang

sesungguhnya

mereka

itu

sama

saja

dengan

memasukkan api ke dalam perutnya. (Riwayat Muslim)

6Abu Abdullah Muhammad, Dosa-Dosa Besar. Surabaya: PT Bina Ilmu.


1990 hal. 105-106

Menurut Ibnul Jauzi dalam tafsirnya dalam hal memakan harta


anak yatim dengan cara yang baik itu ada empat pendapat:
a. Boleh mengambil harta anak yatim itu tetapi dengan cara
meminjamnya.
b. Boleh makan sekedar kebutuhan saja, tidak boleh lebih
(artinya dalam jumlah terbatas atau sedikit)
c. Boleh mengambil sekedar mengambil ongkos kerja, kalu dia
mengurusi harta anak yatim tersebut.
d. Wali tersebut boleh mengambilnya, jikadalam kedaan
terpaksa,

tetapi

jika

telah

mampu,

maka

dia

wajib

mengembalikannya, dan jika dia tidak mempunyai, mak hal


itu dihalalkan.
Dalam hadits shahih Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda:








,



()

Artinya: Aku dan pemelihara (wali) anak yatim di surga sperti ini,
sambil beliau mengisyaratkan jari telunjuknya dan jari tengahnya
dengan merenggangkan antara kedua jari tersebut. 7

6. Menuduh Wanita Berzina


















Artinya:Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita


yang baik-baik, yang lengah (wanita yang tidak pernah sekali juga
teringat oleh mereka akan melakukan perbuatan yang keji itu) lagi
beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat,
dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari (ketika), lidah, tangan
dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang
dahulu mereka kerjakan. (QS. An-Nur: 23-24)

Tuduhan itu misalnya diucapkan kepada wanita yang


bukan familinya, padahal wanita itu berakhlaq mulia, merdeka,
dan beragama islam. Contoh dari tuduhan tersebut adlah, Hai
wanita pezina!, Hai wanita pelacur!.8
7. Lari dari perang
7Abu Abdullah Muhammad, Dosa-Dosa Besar. Surabaya: PT Bina Ilmu. 1990 hal.
108-109

Artinya: Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur)


di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak
menggabungkan
diri
dengan
pasukan
yang
lain,
Maka
Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari
Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah
tempat kembalinya (QS.Al Anfal:16).9

Lari dari perang merupakan dosa-dosa yang besar


namun tindakan ini dibolehkan dengan syarat tertentu.
Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsamin berkata
bahwa Allah mengecualikan dalam dua keadaan:
a. Berbelok untuk siasat perang
b. Menggabungkan diri dengan pasukan yang lain
Jika jumlah tentara orang kafir lebih daei dua kali lipat
dari tentara muslimin, waktu itu boleh lari dari peperangan
berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Anfal:
















Artinya: Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia
telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada
diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat
mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu
orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua
ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang
sabar (QS.Al Anfal:66)

Atau tentara kafir memiliki kekuatan yang tidak mungkin


dilawan oleh kaum muslimin, sedangkan kaum muslimim tidak
mempunyai senjata untuk melawannya . Jika diketahui jika
8Abu Abdullah Muhammad, Dosa-Dosa Besar. Surabaya: PT Bina Ilmu. 1990 hal.
155-156

9Abu Abdullah Muhammad, Dosa-Dosa Besar. Surabaya: PT Bina Ilmu.


1990 hal. 177

bertahan akan menyebabkan kehancuran kaum muslimin,


maka mereka tidak boleh bertahan , karena hal itu berarti
mereka membahayakan diri mereka sendiri10.

C. Tata Cara Bertaubat


Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pada umumnya
tidak

pernah terhindar dari kemaksiatan maupun dosa

sebagaimana dalam hadits riwayat Darimi:

(
Artinya Diriwayatkan ad Darimi (berkata) muslim Ibn
Ibrahim telah menceritakan kepada Kami, ali Ibn Masadah al-Bahily
telah menceritakan kepada kami, Qatadah telah menceritakan
kepada kami dari anas, ia berkata ; Rasulullah SAW bersabda:
Setiap manusia (bani Adam ) itu mempunyai kesalahan dan sebaik
baiknya orang yang mempunyai kesalahan dan sebaik-baiknya
orang mempunyai kesalahan adalah orang yang bertaubat (HR. Ad
Darimi)

Berdasarkan

hadits

tersebut

bahwa

manusia

diperintahkan untuk selalu bertaubat kepada Allah. Selain itu


juga terdapat hadits tentang taubat dari Abi Burdah

yang

menjelaskan bahwa Nabi Muhammad meskipun SAW mempunyai


sifat masum (orang yang di jauhkan dari dosa) dan sudah dijanjikan oleh
Allah SWT akan masuk surga namun beliau masih membaca istighfar kepada
Allah SWT sebanyak 100x dan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammdad
SAW diikuti oleh umatnya untuk istighfar kepada Allah. Adapun redaksi
hadits tersebut adalah sebagai berikut:

10 http://www.fotodakwah.com/2016/03/dosa-besar-melarikan-diri-darimedan, diakses pada tanggal 15 April 2016 pukul 22.40 WIB

() .


Artinya: Dari Abi Burdah dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau
mengatakan,kami telah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: Wahai ingatlah
manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah pengampunan kami sekalian
kepada-Nya, maka sesungguhnya kami bertaubat kepada Allah dan kami mohon
pengampunan kepada-Nya pada tiap hari 100 kali atau lebih (HR Ahmad)

Hadits tersebut mengajak kita untuk memperbanyak istighfar dan bersegera untuk
bertaubat sedangkan jumlah hitungan taubat dan istighfar sebagaimana yang ada
dalam hadits bukan menunjukkan batasa yang pasti, tetapi kondisional artinya bisa
saja lebih dari seratus atau mungkin kurang dari seratus dengan batas kemampuan dan
keinginannya. Taubat harus dilakukan terus menerus karena seringkali dosa yang ada
didalam diri kita tidak terasa dan tidak diketahui.
Dalam pelaksanaan taubat terdapat tatacara atau syarat yang harus dipenuhi
yaitu :
1. Menyesal , sebab jika seseorang tidak menyesal atas perbuatan buruk, ini
artinya ia ridha dengan perbuatan buruk, disamping itu juga menunjukkan
bahwa ia selalu melakukannya.
2. Berhenti total ,adapun berhenti total dari perbuatan serupa merupakan
konsekuensi logis dari suatu pertaubatan. Adalah yang mustahil jika suatu
pertaubatan sedang berlangsung sementara ia melakukan dosa serupa.
3. Al-itidzar, maksud dari Al-itidzar yaitu memperlihatkan kelemahan serta
memelas atas musuh yang menguasai diri orang yang bertaubat11. Adakalanya
alasan yang dikemukakan oleh orang yang bertaubat justru menyudutkan demi
mengakui perbuatan dosanya dan demikian ini justru merupakan pertaubatan
yang paling sempurna.12
4. Meminta maaf kepada

orang

yang

di

dzalimi

apabila

berhubungan dengan hak orang lain

11 Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 2012, Taubat dan Inabah, Jakarta: Qisthi


Press, hlm 29.
12 Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, 2012, Taubat dan Inabah, Jakarta: Qisthi
Press, hlm 33.









" :










)












(

13

Artinya: Al-Bukhori (berkata): Adam Ibn Abi Iyas menceritakan kepada


kami, Ibn Abi Dzibn menceritakan kepada kami, Said al-maqbari
menceritakan kepada kami, dari Abi Hurairah R.A. berkata : Rasulullah SAW
besrabda: Barang siapa telah berbuat kedzaliman (tentang harga diri maupun
orang lain) kepada saudaranya, maka hendaknya minta dijadikan halal
seketika itu pula sebelum tidak berfungsinya dinar maupun dirham (datang
hari kiamat), jika ia mempunyai amal baik, maka akan diambil ukuran
kedzalimannya, jika tidak mempunyai amal kebaikam, maka kejelekan (dosa)
orang yang di dzalimi akan di bebankannya (HR. Imam Bukhori)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang mempunyai


kesalahan atau berbuat kejahatan kepada orang lain, maka harus
meminta maaf secepatnya, dan permohonan maaf itu harus kepada
orang yang telah di dzalimi dan ini merupakan syarat mutlak yang
harus dilakukan bagi orang yang bertaubat karena melanggar hak orang
lain14.
Selain melaksanakan taubat sesuai dengan tatacara diatas taubat juga harus
dilaksanakan pada waktu diterimanya taubat yaitu sebelum datang ajal sebelum
matahari terbit dari arah barat. Apabila dilaksanakan setelah itu maka taubat tidak
lagi diterima.
Adapun haditsnya sebagai berikut:

13 http://sunnah.com/bukhari/46/10 diakses pada tanggal 14 April 2016


pukul 19.59 WIB.
14 Samani Syaroni, 2013 , Taubat dalam Perspektif Hadits,
Pekalongan:Stain Pekalongan,hlm 10, diakses melalui http:// ejournal.stain-pekalongan.ac.id pada tanggal 14 april 2016 pukul 19.55 WIB.

( )

Artinya:Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah


Shallallahu alaihi wasallam bersabda:Sesungguhnya Allah
menerima taubat seorang hamba selama (ruh) belum sampai
di tenggorokan.(HR.Ibnu Majah)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. dosa adalah akibat tidak melaksanakan perintah Allah SWT
yang hukumnya wajib dan mengerjakan larangan Allah
yang

hukumnya

haram.

Apabila

pada

kenyataannya

kerusakan yang ditimbulkan itu hanya sedikit, maka yang


demikian adalah dosa kecil. Tetapi apabila kerusakan yang
diakibatkannya sebanding atau lebih besar yang demikian
itu adalah dosa besar.
2. Dalam hadits Anas terdapat 4 macam dosa besar yaitu:
menyekutukan

Allah,

durhaka

kepada

orang

tua,

membunuh manusia dan bersaksi palsu, sedangkan pada


hadits Abi Hurairah terdapat 7 macam dosa besar yaitu
menyukutukan Allah, membunuh manusia, sihir, riba,
memakan harta anak yatim, menuduh wanita berzina dan
lari dari perang.
3. Tatacara taubat

dilakukan

berdasarkan

hal

yaitu:

menyesal, berhenti total, al-itidzar dan Meminta maaf


kepada orang yang di dzalimi apabila berhubungan dengan
hak orang lain.
B. Saran

Kami membuat makalah ini dengan harapan menambah


pemahaman kita akan definisi dari dosa dan mengetahui
macam-macam dosa besar. Dengan mengetahui macammacam dosa ini diharapkan agar kita bisa terhidar dari dosa.
Selain itu juga bisa mengetahui tatacara bertaubat, karena
sebagai manusia biasa kita tak pernah luput dari dosa.