Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Anemia adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan kulit dan membran
mukosa pucat, dan pada test laboratorium didapatkan Hitung Hemoglobin (Hb),
Hematokrit (Hm), dan eritrosit kurang dari normal. Rendahnya kadar hemoglobin itu
mempengaruhi kemampuan darah menghantarkan oksigen yang dibutuhkan untuk
metabolisme tubuh yang optimal.
Anemia adalah penurunan kuantitas atau kualitas sel-sel darah merah dalam
sirkulasi, yang dapat disebabkan oleh gangguan pembentukan sel darah merah,
peningkatan kehilangan sel darah merah melalui perdarahan kronik atau mendadak,
atau lisis (destruksi) sel darah merah yang berlebihan (Elizabeth Corwin, 2002).
Dimana insidennya 30% pada setiap individu di seluruh dunia. Prevalensi
terutama tinggi di negara berkembang karena faktor defisiensi diet dan atau
kehilangan darah akibat infeksi parasit gastrointestinal.
Umumnya anemia asemtomatid pada kadar hemoglobin diatas 10 gr/dl, tetapi
sudah dapat menyebabkan gangguan penampilan fisik dan mental. Bahaya anemia
yang sangat parah bisa mengakibatkan kerusakan jantung, otak dan organ tubuh lain,
bahkan dapat menyebabkan kematian.
Sel darah merah mengandung hemoglobin yang memungkinkan mereka
mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.
Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin
dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam
jumlah sesuai yang diperlukan tubuh.
Anemia bukan suatu penyakit tertentu, tetapi cerminan perubahan
patofisiologik yang mendasar yang diuraikan melalui anamnesis yang seksama,
pemeriksaan fisik, dan konfirmasi laboratorium (Baldy, 2006).
Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di
seluruh dunia, disamping berbagai masalah kesehatan utama masyarakat, terutama di

negara berkembang, yang mempunyai dampak besar terhadap kesejahteraan sosial


dan ekonomi, serta kesehatan fisik (Bakta, 2006).
Masyarakat Indonesia masih belum sepenuhnya menyadari pentingnya zat
gizi, karena itu prevalensi anemia di Indonesia sekarang ini masih cukup tinggi,
terutama anemia defisiensi nutrisi seperti besi, asam folat, atau vitamin B12.Setelah
menentukan diagnosis terjadinya anemia, maka selanjutnya perlu disimpulkan tipe
anemia itu sendiri.Penatalaksanaan anemia yang tepat sesuai dengan etiologi dan
klasifikasinya dapat mempercepat pemulihan kondisi pasien.

. B. Perumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa Definisi Anemia?


Apa Penyebab Anemia?
Bagaimana klasifikasi anemia ?
Bagaimana tanda-tanda akibat anemia?
Bagaimana kriteria anemia
Bagaimana pencegahan anemia ?
Bagaimana Pengobatan Anemia?
. bagaiman penanggulangan anemia?

C. Tujuan Pembahasan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mengetahui Definisi Anemia


Mengetahui Penyebab Anemia
Mengetahui klasifikasi anemia
mengetahui tanda-tanda akibat anemia?
Mengetahui criteria anemia
Mengetahui pencegahan anemia
Mengetahui Pengobatan Anemi
mengetahui penanggulangan

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pengertian Anemia
Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah
sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel
darah merah berada di bawah normal. Anemia adalah berkurangnya hingga
dibawah nilai normal eritrosit, kuantitas hemoglobin, dan volume packed red
blood cell (hematokrit) per 100 ml darah.
Anemia Gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah
yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan
Hb.Anemia terjadi karena kadar hemoglobin (Hb) dalam darah merah sangat
kurang. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan
zat besi (Fe) hingga disebut Anemia Kekurangan Zat Besi atau Anemia Gizi Besi.

B.

Penyebab Anemia
Penyebab Umum dari Anemia:

Kehilangan darah atau Perdarahan hebat seperti:


Perdarahan Akut (mendadak), Kecelakaan, Pembedahan, Persalinan, Pecah
pembuluh darah, perdarahan Kronik (menahun), Perdarahan menstruasi yang

C.

sangat banyak, serta hemofilia.


Berkurangnya pembentukan sel darah merah seperti:
Defesiensi zat besi,defesiensi vitamin B12, defesiensi asam folat,dan Penyakit
kronik.
Gangguan produksi sel darah merah seperti:
Ketidaksanggupan sumsum tulang belakang membentuk sel-sel darah.

Klasifikasi Anemia
Ada 2 penggolongan Anemia yaitu:
1. Berdasarkan Morfologinya:
a. Anemia Mikrositik Hipokrom
Anemia Defisiensi Zat besi: Adalah Anemia defisiensi besi adalah anemia
yang disebabkan oleh kurangnya persediaan besi untk eritropoiesis, karena
cadangan besi kosong (depleted iron store) sehngga pembentukan hemoglobin

berkurang..
Anemia Penyakit Kronik: Adalah anemia pada penyakit ini merupakan jenis
anemia terbanyak kedua setelah anemia defisiensi yang dapat ditemukan pada

orang dewasa di Amerika Serikat.


b. Anemia Makrositik
Defisiensi vitamin B12: Adalah Anemia yang diakibatkan oleh karena
kekurangan vitamin B12 dikenal dengan nama anemia pernisiosa.

Defisiensi Asam folat: Adalah bahan esensial untuk sintesis DNA dan RNA.
Jumlah asam folat dalam tubuh berkisar 6-10 mg, dengan kebutuhan perhari
50mg. Asam folat dapat diperoleh dari hati, ginjal, sayur hijau, ragi. Asam
folat sendiri diserap dalam duodenum dan yeyenum bagian atas, terikat pada

protein plasma secara lemah dan disimpan didalam hati. Tanpa adanya asupan
folat, persediaan folat biasanya akan habis kira-kira dalam waktu 4 bulan.
c. Anemia Normositik Normokron
Anemia karena perdarahan: Adalah Perdarahan yang banyak saat trauma baik
di dalam maupun di luar tubuh akan menyebabkan anemia dalam waktu yang
relatif singkat. Perdarahan dalam jumlah banyak biasanya terjadi pada maag
khronis yang menyebabkan perlukaan pada dinding lambung. Serta pada
wanita yang sedang mengalami menstruasi dan post partus.

2. Berdasarkan beratnya:
a. Anemia aplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh ketidaksanggupan sumsum tulang
belakang membentuk sel darah merah
b. Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan oleh proses hemolisis, yaitu pemecahan
eritrosit dalam pembuluh darah sebelum waktunya.
D.

Tanda dan Akibat Anemia


Tanda tanda dari penyakit anemia yakni:
a. Lesu, lemah , letih, lelah, lalai (5L).
b. Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang, dan konjungtiva pucat.
c. Gejala lebih lanjut adalah kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan
menjadi pucat.
d. Nyeri tulang, pada kasus yang lebih parah, anemia menyebabkan tachikardi,
dan pingsan.
1. Akibat dari penyakit anemia yakni:
a. Anak-anak:
Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
Menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan otak.

Meningkatkan risiko menderita penyakit infeksi karena system imun


menurun

b. Wanita:
Anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah sakit.
Menurunkan produktivitas kerja.
Menurunkan kebugaran.
c. Remaja putri:

Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.


Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal.
Menurunkan kemampuan fisik olahragawati.
Mengakibatkan muka pucat.

d. Ibu hamil:

Menimbulkan perdarahan sebelum atau saat persalinan.


Meningkatkan risiko melahirkan Bayi dengan Berat Lahir Rendah atau

BBLR (<2,5 kg).


Pada anemia berat, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu dan/atau
bayinya.

E.

Kriteria Anemia
Untuk memenuhi definisi anemia, maka perlu ditetapkan batas
hemoglobin atau hematokrit yang dianggap sudah terjadi anemia. Batas
tersebut sangat dipengaruhi oleh usia,jenis kelamin,dan ketinggian tempat
tinggal dari permukaan laut.
NO.
1.
2,
3.
4.
5.

Jenis Kelamin/Usia
Laki-Laki
Perempuan dewasa tidak hamil
Perempuan
Anak usia 6-14 bulan
Anak usia 6 bulan 6 tahun

Kadar Hemoglobin
Hb <13gr/dl
Hb <12gr/dl
Hb <11gr/dl
Hb <12gr/dl
Hb <11gr/dl

Batasan yang umum dipengaruhi adalah kriteria WHO pada tahun


1968.Dinyatakan sebagai anemia bila tedapat nilai dengan criteria sebagai
berikut:
Untuk kriteria anemia di klinik, rumah sakit,atau praktik klinik pada
umumnya dinyatakan anemia bila terdapat nilai sebagai berikut.
1. Hb < 10gr/dl
2. Hematokrit < 30%
3. Eritrosit < 2,8 juta
Kasus Anemia
Dari berbagai banyak klasifikasi atau golongan dari anemia maka
sesuai dengan bahan ini, saya mengangkut kasus mengenai anemia defisiensi
besi (Fe).
An. Samson, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ke dokter
dengan keluhan pucat. Menurut anamnesis dari ibu, anaknya terlihat pucat
sejak 2 bulan yang lalu. Keluhan lain yang menyertai adalah demam yang
tidak terlalu tinggi, perut mual, dan susah makan. Sejak kecil Samson
memang tidak suka makan daging. Kata guru TK-nya, saat mengikuti
pelajaran Samson sering tertidur di kelas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan
konjungtiva pucat, bising jantung, tidak didapatkan hepatomegali ataupun
splenomegali. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 8,0 g/dL.
Dokter memberikan tablet tambah darah untuk Samson.
Pasien dalam kasus menderita anemia akibat defisiensi besi, padahal
tingkat kebutuhan besi (Fe) meningkat dalam masa pertumbuhan. Akibat
kurangnya asupan zat gizi berupa besi yang penting dalam proses hemopoiesis
ini menimbulkan konsekuensi berbagai gejala klinis yang dialami oleh pasien

tersebut. Dalam laporan ini, penulis membahas perbandingan berbagai jenis


anemia, namun lebih fokus difokuskan kepada anemia defisiensi besi
a. Defisiensi Zat Besi
Adalah anemia yang disebabkan oleh kurangnya persediaan besi untk
eritropoiesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) sehingga
pembentukan hemoglobin berkurang.
b.

Etiologi
Anemia defisiensi besi secara umum dapat disebabkan oleh
kekurangan asupan besi, gangguan penyerapan besi, serta kehilangan besi
akibat penyakit tertentu.
Penyebab spesifik yang terkait dengan 3 proses diatas adalah:

Perdarahan menahun misalnya tukak peptik, menoragi, hematuria,

hemoptisis, infeksi cacing tambang.


Kurangnya jumlah besi dalam makanan.
Peningkatan kebutuhan besi yang tidak sesuai dengan asupan.
Gangguan absorbsi besi.
c. Gejala Klinis
Keadaan lemah, lesu, mual, dan muntah.
Muka pucat, demam, dan aneroksia.
Mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging.
Gejala khas yang dijumpai pada defisiensi besi dan tidak dijumpai
pada anemia lain yaitu:
1. Koilorikia: kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertical, dan cekung
sehingga menjadi sendok.
2. Atrofi papilla lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengilap karena
papil lidah menghilang.
3. Stomatitis angularis: adanya peradangan pada sudut mulut, sehingga
tampak pada bercak berwarna pucat keputihan.

Pada kasus diatas, pasien mengalami anemia, namun hasil pemeriksaan


lebih lanjut belum didapatkan, sehingga tipe anemia yang lebih spesifik belum
diketahui.
Namun berdasarkan pemeriksaan hemoglobin, Hb 8 gr/dL menunjukkan
bahwa pasien memang mengalami anemia, karena pada anak-anak, Hb dibawah 11
g/dL dikategorikan sebagai anemia. Untuk menentukan jenis anemia yang spesifik
agar penatalaksanaannya berjalan efektif perlu dilakukan serangkaian tes
lain,seperti tes laboratorium.
Hemoglobinisasi yang tidak adekuat menyebabkan central pallor di tengah
eritrosit berwarna pucat berlebihan yang lebih dari sepertiga diameternya,
sehingga menimbulkan keadaan pucat pada pasien. Sementara itu, besi dibutuhkan
oleh enzim untuk sintesis DNA dan enzim mieloperoksidase netrofil sehingga
menurunkan imunitas seluler. Akan tetapi, defisiensi besi juga menyebabkan
berkurangnya penyediaan besi pada bakteri sehingga menghambat pertumbuhan
bakteri yang berakibat pada ketahanan terhadap infeksi. Maka dari itu, timbul
demam yang tidak terlalu tinggi.
Defisiensi besi dapat menyebabkan gangguan enzim aldehid oksidase
sehingga terjadi penumpukan serotonin yang merupakan pengontrol nafsu makan.
Hal ini mengakibatkan reseptor 5 HT meningkat, di usus halus
menyebabkan mual dan muntah. Selain itu, defisiensi besi juga dapat
menyebabkan gangguan enzim monoamino oksidase sehingga terjadi penumpukan
katekolamin dalam otak. Hal inilah yang menjadi sebab terjadinya keadaan mual
dan sulit makan.
Selanjutnya, pasien sering tidur di kelas karena oksigen yang tersedia
dalam darah tidak cukup untuk menyuplai kebutuhan sel-sel otak, sehingga pasien
mengantuk dan sering tertidur. Sedangkan bising jantung disebabkan akibat kerja
jantung yang lebih kuat karena adanya gangguan oksigenasi jaringan.
Mekanisme peningkatkan kecepatan aliran darah inilah yang menimbulkan
bising jantung. Hepatomegali terjadi pada anemia hemolitik, akibat dari kerja hati

yang lebih keras dalam merombak eritrosit karena hemolisis yang tidak wajar.
Sedangkan splenomegali juga terjadi pada anemia hemolitik, dimana eritrosit yang
rapuh melewati kapiler yang sempit dalam limpa, sehingga pecah dan menyumbat
kapiler limpa sehingga terjadi pembesaran limpa. Tidak adanya hepatomegali dan
splenomegali menunjukkan bahwa pasien dalam kasus tidak mengalami anemia
jenis hemolitik.
Seperti yang telah dikemukakan dalam kasus, pasien tidak suka makan
daging. Padahal, daging merupakan sumber zat besi sebagai pembentuk heme
yang absorpsinya tidak dihambat oleh bahan penghambat sehingga mempunyai
bioavailabilitas tinggi. Selain besi, daging juga mengandung zat gizi lain, misalnya
asam folat.
Protein daging lebih mudah diserap karena heme dalam hemoglobin dan
mioglobin tidak berubah sebagai hemin (bentuk feri dari heme). Kompleksnya
nutrisi yang terkandung dalam daging inilah yang menyebabkan pasien mengalami
anemia, walaupun yang paling dominan adalah akibat dari defisiensi besi.
Tablet tambah darah yang diberikan berisi besi dan asam folat, jadi sesuai
terapi anemia defisiensi besi yang dianjurkan. Selain itu, apabila pasien karena
hal-hal tertentu tidak dapat menggunakan terapi besi oral, maka terapi dapat
diganti dengan terapi besi parenteral. Terapi penunjang seperti diet juga diperlukan
untuk menunjang keberhasilan terapi.
Sehubungan dengan kasus tersebut maka tata laksana atau pengobatan
yang kita lakukan khusus anemia defisiensi zat gizi yaitu:
Tatalaksana dari anemia defisiensi besi meliputi tatalaksana kausa
penyebab anemia dan pemberian preparat pengganti besi (Iron replacement
therapy).

Tatalaksana kausa
Merupakan terapi terhadap kondisi yang menyebabkan anemia misalnya

memberikan obat cacing pada pasien dengan infeksi cacing atau pembedahan pada
pasien hemmoroid.

Iron replacement therapy


Tujuan dari terapi ini adalah mengkoreksi nilai hemoglobin dan juga

mengisi cadangan besi tubuh secara permanen. Besi yang diberikan dapat melalui
pemerian oral atau pemberian parenteral.

Suplemen besi oral


Suplemen besi oral merupakan salah satu pilihan yang baik untuk

mengganti defisiensi besi karena harganya yang relatif murah dan mudah didapat.
Terdapar berbagai sediaan preparat besi oral seperti ferrous sulfas, ferrous
fumarat, ferrous lactate, dan lainnya namun demikian ferrous sulfat merupakan
pilihan utama karena murah dan cukup efektif.
Suplemen besi oral ini diberikan dengan dosis 300 mg/hari yang dapat
dibagikan menjadi beberapa kali makan. Dengan dosis suplementasi tersebut
diharapkan terserap 50 mg/hari karena besi memang diserap dalam jumlah yang
tidak banyak oleh sistem pencernaan manusia. Besi yang diserap akan digunakan
langsung untuk eritropoiesis, hasilnya di hari ke 4-7 biasanya eritropoesis telah
jauh meningkat dan memuncak pada hari 8-12 setelah terapi dimulai.
Setelah terjadi penyerapan besi dalam jumlah besar di awal terapi tubuh
akan merespon dengan penurunan eritropoetin sehingga penyerapan di besi di usus
dikurangi, akibatnya kadar penyerapan tidak lagi sebesar sebelumnya. Tujuan yang
juga akan dicapai dari terapi ini adalah mengisi cadangan besi tubuh sebanyak 0,51 g besi karena itu suplementasi ini diberikan selama 6-12 bulan untuk mengatasi
asorbsi usus yang telah menurun.

Edukasi kepada pasien tentang suplementasi besi merupakan salah satu


kewajiban dokter. Pasien diberikan informasi bahwa sebaiknya suplemen tersebut
dikonsumsi sebelum pasien makan karena akan meningkatkan absorbsinya.
Efek samping obat ini yaitu gangguan gastrointestinal juga perlu
diberitahukan kepada pasien. Penyebab kegagalan terapi besi oral antara lain
gangguan absorbsi dan kepatuhan minum obat pasien yang rendah. Jika defisiensi
besi masih belum juga tertangani dengan langkah-langkah tersebut dipikirkan
untuk memberikan terapi besi parenteral.

Terapi besi parenteral


Alur terapi ini sangat efektif karena tidak melalui sistem pencernaan dan

menghadapi masalah absorbsi, namun demikian risikonya lebih besar dan


harganya lebih mahal oleh karena itu hanya diindikasikan untuk kondisi tertentu
saja misalnya kepatuhan pasien yang sangat rendah. Preparat yang tersedia untuk
terapi ini misalnya Iron dextran complex (50 mg/mL). Pemberian terapi parenteral
adalah melalui IV atau IM.
F. Pencegahan Anemia
Banyak jenis anemia tidak dapat dicegah. Namun, Anda dapat membantu
menghindari anemia kekurangan zat besi dan anemia kekurangan vitamin dengan
makan yang sehat, variasi makanan, termasuk:
1. Besi: Sumber terbaik zat besi adalah daging sapi dan daging lainnya.
Makanan lain yang kaya zat besi, termasuk kacang-kacangan, lentil, sereal
kaya zat besi, sayuran berdaun hijau tua, buah kering, selai kacang dan
kacang-kacangan.
2. Folat. Gizi ini, dan bentuk sintetik, asam folat, dapat ditemukan di jus jeruk
dan buah-buahan, pisang, sayuran berdaun hijau tua, kacang polong dan
dibentengi roti, sereal dan pasta.
3. Vitamin B-12. Vitamin ini banyak dalam daging dan produk susu.

4. SVitamin C. Makanan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk, melon dan


beri, membantu meningkatkan penyerapan zat besi.
Makan banyak makanan yang mengandung zat besi sangat penting
bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan besi yang tinggi, seperti anakanak , besi yang diperlukan selama ledakan pertumbuhan - dan perempuan
hamil dan menstruasi.
Ada beberapa jenis penjegahan anemia yaitu sebagai berikut:
1. Pencegahan Primer pada Anemia
1. Pendidikan
Pendidikan dan upaya yang ada kaitannya dengan peningkatan
asupan zat besi melalui makanan Konsumsi tablet zat besi dapat
menimbulkan efek samping yang mengganggu sehingga orang cenderung
menolak tablet yang diberikan. Agar mengerti, harus diberikan pendidikan
yang tepat misalnya tentang bahaya yang mungkin terjadi akibat anemia,
dan harus pula diyakinkan bahwa salah satu penyebab anemia adalah
defisiensi zat besi. Asupan zat besi dari makanan dapat ditingkatkan
melalui tiga cara :
o Pemastian konsumsi makanan yang cukup mengandung kalori sebesar
yang semestinya dikonsumsi.
o Meningkatkan ketersediaan hayati zat besi yang dimakan, yaitu dengan
jalan

mempromosikan

makanan

yang

dapat

memacu

dan

menghindarkan pangan yang bisa mereduksi penyerapan zat besi.


o peningkatan gizi berupa makan makanan yang mengandung vitamin zat
bezi, seperti sayur-sayuran (bayam,kangkung,jagung),telur,kismis.
2. Pola istirahat
Mengacu pada kegiatan/aktifitas yang mengakibatkan tubuh
mengalami/beresiko terkena anemia.menghindari kondisi dimana tubuh

mengalami gangguan pembentukan sel darah merah.dan istirahat yang


dianjurkan adalah minimal 8 jam per hari.
3. Pola Hidup
Menjaga agar sedikitnya jumlah hemoglobin dalam eritrosit.Kekurangan
hemoglobin ini menyebabkan kemampuan darah mengikat oksigen berkurang.
4. Pola Aktifitas
Menjaga kondisi dimana tubuh kekurangan zat gizi yang diperlukan
untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam
folat.Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan,
kelainan

genetik,

penyakit

kronik,

keracunan

obat,

dan

sebagainya.Menghindari situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang


membutuhkan oksigen.
Melakukan tes darah secara rutin untuk melihat profil darah dan
mencegah terjadinya anemia.
5.

Melakukan tes laboratorium


Mengetahui kandungan B12 dalam darah sehingga bisa membedakan
antara anemia biasa dengan anemia pernicious. Bila ternyata kadar vitamin
B12 normal, maka dapat dilakukan pemberian asam folat dengan dosis 0,1-1,0
mg/hari.
2. Pencegahan Sekunder pada Anemia
1. Pengawasan penyakit infeksi
Pengobatan yang efektif dan tepat waktu dapat mengurangi
dampak gizi yang tidak diingini.Meskipun, jumlah episode penyakit
tidak berhasil dikurangi, pelayanan pengobatan yangtepat telah
terbukti dapat menyusutkan lama serta beratnya infeksi. Tindakan yang
penting sekali dilakukan selama penyakit berlangsung adalah mendidik
keluarga penderita tentang cara makan yang sehat selama dan sesudah
sakit. Pengawasan penyakit infeksi memerlukan upaya kesehatan

seperti penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi lingkungan dan


kebersihan perorangan.Jika terjadi infeksi parasit, tidak bisa disangkal
lagi, bahwa cacing tambang (Ancylostoma dan Necator) serta
Schistosoma yang menjadi penyebabnya. Sementara peran parasit usus
yang lain terbukti sangat kecil. Ada banyak bukti tertulis, bahwa
parasit parasit dalam jumlah besar dapat menggaggu penyerapan
berbagai zat gizi.Karena itu, parasit harus dimusnahkan secara
rutin.Bagaimanapun juga, jika pemusnahan parasit usus tidak
dibarengi dengan langkah pelenyapan sumber infeksi, reinfeksi dapat
terjadi sehingga memerlukan obat lebih banyak.Pemusnahan cacing itu
sendiri dapat efektif dalam hal menurunkan parasit, tetapi manfaatnya
di tingkat hemoglobin sangat sedikit. Jika asupan zat besi bertambah,
baik melalui pemberian suplementasi maupun fortifikasi makanan,
kadar hemoglobin akan bertambah meskipun parasitnya sendiri belum
tereliminasi.
2. Fortifikasi makanan pokok dengan zat besi
Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang
diproses secara terpusat merupakan inti pengawasan anemia di
berbagai negara. Fortifikasi makanan merupakan salah satu cara
terampuh dalam pencegahan defisiensi zat besi. Di negara industri,
produk makana fortifikasi yang lazim adalah tepung gandum serta roti
makanan

yang

terbuat

dari

jagung

dan

bubur

jagung.Di

negardipertimbangkan untuk memfortifikasi garam, gula, beras dan


saus ikan.
3. Tranfusi Darah
Suatu tindakan medis yang bertujuan mengganti kehilangan
darah pasien.Darah yang tersimpan di dalam kantong darah dimasukan
ke dalam tubuh melalui selang infus.

4. Pemberian tablet atau suntikan zat besi


Pemberian tablet tambah darah pada pekerja atau lama suplementasi
selama 3- 4 bulan untuk meningkatkan kadar hemoglobin, karena kehidupan
sel darah merah hanya sekitar 3 bulan atau kehidupan eritrosit hanya
berlangsung selama 120 hari, maka 1/20 sel eritrosit harus diganti setiap hari
atau tubuh memerlukan 20 mg zat besi perhari.Tubuh tidak dapat menyerap
zat besi (Fe) dari makanan sebanyak itu setiap hari, maka suplementasi zat
besi tablet tambah darah sangat penting dilakukan.Suplementasi dijalankan
dengan memberikan zat gizi yang dapat menolong untuk mengoreksi keadaan
anemia gizi. Karena menurut hasil penelitian anemiagizi di Indonesia
sebagian besar disebabkan karena kekurangan zat besi.
5.

Melakukan tes laboratorium


Mengetahui kandungan B12 dalam darah sehingga bisa membedakan
antara anemia biasa dengan anemia pernicious. Bila ternyata kadar vitamin
B12 normal, maka dapat dilakukan pemberian asam folat dengan dosis 0,1-1,0
mg/hari.

.3. Pencegahan Tersier pada Anemia

pemberian suntikan untuk menghentikan pendarahanpemberian suntikan untuk

menghentikan pendarahan seperti vitmin B12 atau B kompleks.


Mengonsumsi bahan makanan sumber utama zat besi, asam folat, vitamin B6,
dan vitamin B12 seperti daging dan sayuran sesuai kecukupan gizi yang

dianjurkan.
Melakukan tes laboratorium untuk mengetahui kandungan B12 dalam darah
sehingga bisa membedakan antara anemia biasa dengan anemia pernicious.
Bila ternyata kadar vitamin B12 normal, maka dapat dilakukan pemberian

asam folat dengan dosis 0,1-1,0 mg/hari.


Mengkonsumsi Suplemen asam folat dapat merangsang pembentukan sel
darah merah.

Menjaga kondisi dimana tubuh kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk
sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat. Selebihnya
merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan genetik,
penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.Menghindari situasi
kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen.

H.

Penanggulangan Anemia
Tindakan penting yang dilakukan untuk mencegah kekurangan besi
antara lain:

1. Konseling untuk membantu memilih bahan makanan dengan kadar besi yang
cukup secara rutin pada usia remaja.
2. Meningkatkan konsumsi besi dari sumber hewani seperti daging, ikan,
unggas, makanan laut disertai minum sari buah yang mengandung vitamin C
(asam askorbat) untuk meningkatkan absorbsi besi dan menghindari atau
mengurangi minum kopi, teh, teh es, minuman ringan yang mengandung
karbonat dan minum susu pada saat makan.
3.
Suplementasi besi. Merupakan cara untuk menanggulangi ADB di daerah
dengan prevalensi tinggi. Pemberian suplementasi besi pada remaja dosis 1
mg/KgBB/hari.
4. Untuk meningkatkan absorbsi besi, sebaiknya suplementasi besi tidak diberi
bersama susu, kopi, teh, minuman ringan yang mengandung karbonat,
5.

multivitamin yang mengandung phosphate dan kalsium.


Skrining anemia. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit masih
merupakan pilihan untuk skrining anemia defisiensi besi.

Klasifikasi Prevalensi Anemia Sebagai Masalah Kesehatan Masyarakat


No. Prevalensi Anemia(%)

1.
2.

< 4,9
5 19,9

Klasifikasi Anemia Sebagai Masalah Kesehatan


Masyarakat
Bukan masalah kesehatan masyarakat
Masalah kesehatan masyarakat ringan

20 39,9
Masalah kesehatan masyarakat yang moderat
3.
> 40
Masalah kesehatan masyarakat yang parah
4.
Sumber: WHO. 2001. Iron Deficiency Anaemia Assessment, Prevention, and Control.

A guide for programmed managers.


PREVALENSI ANEMIA GIZI DI DUNIA
Data base prevalensi anemia gizi secara global sejak tahun 1993 2005 yang
dirilis WHO adalah sebagai berikut:
Tabel 3.2 Prevalensi Anemia Global
Prevalensi Anemia
Kelompok Populasi

Pra Sekolah
Anak sekolah
Ibu hamil
Wanita usia subur
Laki-Laki
Manula

Prevalensi Anemia

95% CI

46,4
25,4
41,8
30,1
12,7
23,9

Jumlah (Juta)

45,7 49,1
19,9 30,9
39,9 43,8
28,7 31,6
8,6 16,9
18,3 29,4

293
305
56
468
260
164

95% CI

283 303
238 371
54 59
446 491
175 345
126 202

Sumber: Unicef. 2002. Prevention and Control of Nutritional Anaemia: A South Asia
Priority.

Prevalensi Anemia Penduduk Dewasa Perkotaan Menurut Provinsi, Riskesdas


2007
Prevalensi
Indonesia
Papua
Papua barat
Maluku utara
Maluku
Sulawesi barat
Gorontalo
Sulawesi tenggara

Anak-anak
9,8
12,5
4,5
26,3
17,8
10,6
8,8
21,9

Laki-laki
13,1
23,8
17,9
24,3
14,9
5,2
18,7
23,6

perempuan
19,7
17,9
14,6
27,4
43,4
12,9
31,4
38

Sulawesi selatan
Sulawesi tenga
Sulawesi utara
Kalimantan timur
Kalimantan selatan
Kalimantan tenga
Kalimantan barat
Nusa tenggara timur
Nusa tenggara barat
Bali
Banten
Jawa timur
Di Yogyakarta
Jawa tengah
Jawa barat
Dki Jakarta
Kepilauan riau
Bangka Belitung
Lampung
Bengkulu
Sumatra selatan
Jambi
Riau
Sumatra barat
Sumatra utara
NAD

11,9
8,9
2,5
14,2
3,9
8,1
12,1
18,2
11,5
4,7
8,9
5,4
8,7
9,1
6,4
18,6
5
16,3
5,5
8
12,6
5,2
9,8
17,1
14,5
7,8

16,1
8,8
5
17,5
14,2
13,3
13,7
8,1
13,6
8
8,9
8,9
11,6
14,4
7,4
14,6
19,3
17,7
21,6
11,3
17,4
5,1
5,1
27,6
26,8
16,1

19,7
13,4
8,7
24,2
21,7
19,4
23,4
28,8
20,9
10,8
19,3
15,6
20,9
22,8
13,4
27,6
12,5
21,1
25,9
16,2
16,3
9
28,8
29,8
25
20,1

1. Pengobatan Anemia
Pengobatan anemia tergantung pada penyebabnya:
1. Anemia kekurangan zat besi. Bentuk anemia ini diobati dengan suplemen
zat besi, yang mungkin Anda harus minum selama beberapa bulan atau
lebih. Jika penyebab kekurangan zat besi kehilangan darah - selain dari
haid sumber perdarahan harus diketahui dan dihentikan. Hal ini mungkin
melibatkan operasi.
2. Anemia kekurangan vitamin. Anemia pernisiosa diobati dengan suntikan
yang seringkali suntikan seumur hidup, vitamin B-12. Anemia karena
kekurangan asam folat diobati dengan suplemen asam folat.

3. Anemia penyakit kronis. Tidak ada pengobatan khusus untuk anemia jenis
ini. Suplemen zat besi dan vitamin umumnya tidak membantu jenis
anemia ini . Namun, jika gejala menjadi parah, transfusi darah atau
suntikan eritropoietin sintetis, hormon yang biasanya dihasilkan oleh
ginjal, dapat membantu merangsang produksi sel darah merah dan
mengurangi kelelahan.
4. Aplastic anemia. Pengobatan untuk anemia ini dapat mencakup transfusi
darah untuk meningkatkan kadar sel darah merah. Anda mungkin
memerlukan transplantasi sumsum tulang jika sumsum tulang Anda
berpenyakit dan tidak dapat membuat sel-sel darah sehat. Anda mungkin
perlu obat penekan kekebalan tubuh untuk mengurangi sistem kekebalan
tubuh

Anda

dan

memberikan

kesempatan

sumsum

tulang

ditransplantasikan berespon untuk mulai berfungsi lagi.


5. Anemia terkait dengan penyakit sumsum tulang. Pengobatan berbagai
penyakit dapat berkisar dari obat yang sederhana hingga kemoterapi
untuk transplantasi sumsum tulang.
6. Anemias hemolitik. Mengelola anemia hemolitik termasuk menghindari
obat-obatan tertentu, mengobati infeksi terkait dan menggunakan obatobatan yang menekan sistem kekebalan Anda, yang dapat menyerang selsel darah merah. Pengobatan singkat dengan steroid, obat penekan
kekebalan atau gamma globulin dapat membantu menekan sistem
kekebalan tubuh menyerang sel-sel darah merah.
7. Sickle cell anemia. Pengobatan untuk anemia ini dapat mencakup
pemberian oksigen, obat menghilangkan rasa sakit, baik oral dan cairan
infus untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah komplikasi. Dokter juga
biasanya menggunakan transfusi darah, suplemen asam folat dan
antibiotik. Sebuah obat kanker yang disebut hidroksiurea (Droxia,
Hydrea) juga digunakan untuk mengobati anemia sel sabit pada orang
dewasa.

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
1. Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah
sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam
sel darah merah berada di bawah normal
2. Penyebab Umum dari Anemia Yaitu: Kehilangan darah atau Perdarahan
hebat, Berkurangnya pembentukan sel darah merah, dan Gangguan
produksi sel darah merah .
3. Tanda tanda dari penyakit anemia yakni: Lesu, lemah , letih, lelah, lalai
(5L),

Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang, dan

konjungtiva pucat, Gejala lebih lanjut adalah kelopak mata, bibir, lidah,
kulit dan telapak tangan menjadi pucat, serta Nyeri tulang, pada kasus
yang lebih parah, anemia menyebabkan tachikardi, dan pingsan.
4. Untuk memenuhi definisi anemia, maka perlu ditetapkan batas hemoglobin
atau hematokrit yang dianggap sudah terjadi anemia. Batas tersebut sangat
dipengaruhi oleh usia,jenis kelamin,dan ketinggian tempat tinggal dari
permukaan laut.
5. Untuk kriteria anemia di klinik, rumah sakit,atau praktik klinik pada
umumnya dinyatakan anemia bila terdapat nilai sebagai berikut:

Hb

<10gr/dl, Hematokrit <30% , dan Eritrosit <2,8juta


6. Kasus yang kami angkat dari materi ini ialah anem,ia akibat defesiensi zat
besi.

DAFTAR PUSTAKA
Adang Muhammad dan Osman Sianipar, 2005.Penentuan Defisiensi Besi Anemia
Penyakit Kronis Menggunakan Peran Indeks sTfR-F. Indonesian Journal of Clinical
Pathology and Medical Laboratory, Vol. 12, No. 1, Nov 2005: 915.
Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Anonim.

2010.

Basic

Iron

Metabolism

http://ahdc.vet.cornell.edu/clinpath/modules/chem/femetb.htm . Cornell University


Anonym, 2010.Anemia pada Usia Lanjut . http://www.inspirasisehat.com/sangobionhealthy-guides/1001-anemia-pada-usia-lanjut.
Anonym. 2010. Promoting dietary change. Intervening in school and recognizing
health messages in commercials. ISBN: 978-91-7346-677-6
Arisman, 2010.Gizi Dalam Daur Kehidupan. Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta
Arlinda, Sari, Wahyuni. 2004. Anemia Defisien Besi Pada Balita. Bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran USU.
Atmarita, T.S. Fallah. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Di
dalam : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII, Jakarta 17-19 Mei 2004.
Ballot DE et al. Fortification of curry powder with NaFeEDTA in an irondeficient
population: report of a controlled iron-fortification trial. American Journal of
Clinical Nutrition, 1989, 49:162169
Blum L.1974. Planning Health Development and Applicaffon of social change
theory.Human Sciences Press. New York
Citrakesumasari, dkk, 2011.Perbaikan Status Hemoglobin Ibu Hamil Dengan
Pendampingan Kader Masyarakat Di Kelurahan Manongkoki Polombangkeng Utara

Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Prodi Ilmu Gizi, FKM Universitas Hasanuddin
Makassar.