Anda di halaman 1dari 59

MAKALAH PERIODONSIA

OBAT KUMUR, CaHPO42H2O, TEORI PEMBENTUKAN KALKULUS,


KALKULUS PADA PEROKOK DAN VISKOSITAS SALIVA
TERHADAP PEMBENTUKAN KALKULUS

Disusun Oleh :
1. Dewi Indah Sari
2. Claudine Radot PBT
3. Dona Fiorentina
4. Izzatunnisa
5. Fairuz Hilwa

04031381419059
04031381419060
04031381419061
04031381419062
04031381419063

Dosen Pengampu :
Drg. Mellani Cindera Negara

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
2015
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan berkah dan rahmat-Nya sehinggga kami dapat menyelesaikan
makalah periodonsia berjudul OBAT KUMUR, CaHPO42H2O, TEORI

PEMBENTUKAN KALKULUS, KALKULUS PADA PEROKOK DAN


VISKOSITAS SALIVA TERHADAP PEMBENTUKAN KALKULUS
Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengajar drg. Mellani
Cindera Negara telah memberikan kesempatan kami untuk menyelesaikan
makalah dan membimbing kami dalam pembuatan makalah.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dari makalah ini, bagi dosen
dan pembaca mohon kritik dan saran untuk perbaikan kedepannya.

Palembang, Desember 2015

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN
Obat kumur sering digunakan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan
gigi dan mulut. Kegiatan menyikat gigi dua kali sehari dan penggunaan dental
floss merupakan rekomendasi standar untuk menjaga kebersihan serta kesegaran
mulut dan mencegah berbagai penyakit gigi dan mulut (Tao He dkk., 2010).
Komposisi obat kumur terdiri dari agen antibakterial seperti minyak esensial

yakni Thymol 0,06%, Eucalyptol 0,09%, Menthol 0,04% dan Methyl salicylate
yang berfungsi sebagai agen antiseptic.
Kelebihan

dari

obat

kumur

menghambat

pertumbuhan

plak,

menghilangkan sisa plak yang masih tertinggal setelah menyikat gigi,


menghilangkan bau mulut, pecegahan terhadap infeksi ringan infeksi rongga
mulut, pencegahan terhadap infeksi sebelum dan setelah tindakan operasi rongga
mulut. Kekurangan dari obat kumur yaitu terbatasnya penggunaan obat kumur
pada beberapa golongan (kandungan alkohol), peluang peningkatan resiko kanker
mulut (kandungan alkohol), terjadinya staining, reaksi iritan dan sensitivitas
mukosa, black hairy tounge,
Penyebutan nama dari rumus kimia CaHPO42H2O adalah Dibasic
Calcium Phosphate Dehydrate atau Calcium Monohydrogen Phosphate
Dehydrate. Dicalcium phosphate (CaHPO4) merupakan misnomer (nama yang
salah) dari dibasic calcium phosphate. Formula kimianya adalah CaHPO4. Oleh
karena itu, penyebutan dikalsium adalah tidak tepat. Nama yang tepat untuk
material ini adalah dibasic calcium phosphate atau calcium monohydrogen
phosphate.
Kalkulus adalah lapisan keras yang terbentuk pada gigi dan sudah sejak
lama mempunyai hubungan dengan penyakit periodontal. Kalkulus jarang
ditemukan pada gigi susu dan gigi permanen pada usia muda. Beberapa teori
pembentukan kalkulus menurut para peneliti yaitu teori mineralisasi, teori bakteri,
teori karbon dioksida, pembentukn amonia, konsep booster, pembentukan
fosfatase, teori pembenihan, teori inhibisi. Analisa berdasarkan survei NHANES 1
menunjukkan bahwa perokok termasuk kelompok dengan indeks plak dan
kalkulus serta level penyakit periodontal yang tinggi dibandingkan bukan
perokok. Hal inilah yang menyebabkan merokok sering dikaitkan sebagai faktor
sekunder atau faktor pendorong dalam menimbulkan kehilangan gigi dan tulang
alveolar pada penyakit periodontal.
Laju aliran saliva mempunyai hubungan yang erat dengan viskositas
saliva. Viskositas saliva yang lebih rendah akan meningkatkan laju aliran saliva,
sehingga didapatkan self-cleansing yang baik. Sebaliknya viskositas saliva yang
tinggi (kental/mukus) menyebabkan laju aliran saliva akan lebih rendah dan

terjadinya penurunan self-cleansing dalam rongga mulut. Keadaan ini akan


menyebabkan sisa makanan melekat pada permukaan gigi dan penumpukan plak
lebih mudah terjadi yang akhirnya terkalsifikasi menjadi kalkulus.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. Obat Kumur
Obat kumur sering digunakan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan
gigi dan mulut. Kegiatan menyikat gigi dua kali sehari dan penggunaan dental
floss merupakan rekomendasi standar untuk menjaga kebersihan serta kesegaran
mulut dan mencegah berbagai penyakit gigi dan mulut (Tao He dkk., 2010).
Kegiatan menyikat gigi bertujuan untuk menghilangkan

plak di seluruh

permukaan gigi, namun kurang efektif untuk daerah gigi yang sulit terjangkau
seperti daerah interproksimal (Marchetti dkk., 2011). Bukti ilmiah menjelaskan
bahwa menyikat gigi selama dua menit hanya mampu menghilangkan 50% plak
(Brothwell dkk., 1998), sehingga untuk optimalisasi penghilangan plak gigi
dibutuhkan bantuan mekanisme kemoterapeutik melalui obat kumur anti bakterial
(Terezhalmy dkk., 2007).

Obat kumur merupakan salah satu produk perawatan kesehatan mulut


yang dikategorikan sebagai obat bebas dan dapat diperoleh tanpa perlu peresepan
tenaga

medis

profesional.

Berbagai

jenis

obat

kumur

diklasifikasikan sebagai bahan untuk keperluan kosmetik

yang

tersedia

karena tidak

diaplikasikan sebagai tindakan terapi spesifik untuk kondisi tertentu, lain halnya
dengan obat paten atau alat medis (Schmalz dan Bindslev, 2009). Masyarakat
dengan mudah membeli obat kumur sebagai obat bebas dan menggunakannya
tanpa mengetahui secara pasti komposisi yang mungkin menimbulkan efek
samping secara spesifik terhadap rongga mulut. Semakin tinggi pengetahuan
masyarakat mengenai manfaat menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut
memungkinkan perkembangan produk ini secara cepat. Kini berbagai produsen
bahan kedokteran gigi telah memproduksi obat kumur dengan beragam jenis dan
fungsinya. Fungsi obat kumur secara umum adalah untuk menghilangkan atau
membunuh bakteri, sebagai astringen, penghilang bau mulut dan memiliki efek
terapeutik untuk mengurangi infeksi dan mencegah terbentuknya karies
(Combe,1992). Efek terapeutik diperoleh dengan penambahan bahan tertentu ke
dalam komposisinya, seperti fluoride (Phillips, 1991) dan kandungan bahan aktif
antibakterial, seperti chlorhexidine dan minyak esensial (Marcheti dkk., 2011).
Komposisi obat kumur terdiri dari agen antibakterial seperti minyak
esensial yakni Thymol 0,06%, Eucalyptol 0,09%, Menthol 0,04% dan Methyl
salicylate yang berfungsi sebagai agen antiseptik. Minyak esensial akan penetrasi
ke dalam biofilm dan memberikan efek antimikroba yang signifikan terhadap
bakteri didalam biofilm setelah berkumur selama 30 detik (Aneja dkk., 2010;
Goldstep, 2014). Komposisi lain ialah astringen berupa zink asetat, zink klorida,
alumunium potasium sulfat. Komposisi seperti pewarna, pemanis dan etanol juga
ditambahkan ke dalam obat kumur (Combe, 1992).
Alkohol berfungsi untuk melarutkan bahan aktif antibakterial berupa
minyak esensial dan beberapa substansi lain (Kerr dkk., 2007). Konsentrasi
alkohol sebagai zat pelarut dalam produk obat kumur dapat mencapai hingga 26
% (Lachenmeier, 2008). Beberapa merk komersial yang beredar di Amerika Utara

mengandung 6 - 26,9% alkohol dan kini hampir seluruh obat kumur yang
diproduksi di berbagai belahan dunia mengandung komponen alkohol hingga 25%
(Schmalz dan Bindslev, 2009). Alkohol dengan bahan aktif minyak esensial
merupakan agen antiseptik yang menunjukan aktivitas antimikroba dan
bakterisidal yang signifikan (Hammond dkk., 2000; Goldstep, 2014), akan tetapi
bahan aktif minyak esensial memiliki potensi mengiritasi mukosa dan dapat
menyebabkan perubahan mukosa mulut pada lansia yang mengalami xerostomia.
Setelah penggunaan selama tujuh hari terjadi penipisan lapisan superfisial epitel
(Fischman dkk., 2004).
Alkohol sebagai zat pelarut dalam obat kumur juga terbukti menimbulkan
beberapa efek yang tidak diperlukan seperti sensasi terbakar ketika berkontak
dengan mukosa dan rasa kering pada mukosa mulut (Epstein, 2008; Reidy dkk.,
2011). Farah dkk. (2009) menyatakan bahwa alkohol dengan konsentrasi tinggi
(lebih dari 20%) dalam obat kumur mungkin memiliki efek yang merugikan
dalam rongga mulut seperti keratosis, ulserasi mukosa, gingivitis, dan nyeri.
Menurut Soames (2005), konsentrasi alkohol yang tinggi dalam obat
kumur berhubungan dengan perkembangan leukoplakia dan dicurigai dapat
meningkatkan kerentanan individu terhadap kanker. Alkohol dapat menghasilkan
senyawa metabolik yang bersifat karsinogenik berupa acetaldehyda serta dapat
mengganggu fungsi kelenjar saliva. Penurunan fungsi kelenjar akan mengurangi
aksi pembersihan agen karsinogenik secara lokal sehingga meningkatkan risiko
perkembangan kanker (Seitz dan Oneta, 1998; Friedlander dkk., 2003; Figuero,
2004).
Obat kumur beralkohol menimbulkan efek samping jika dipakai dalam
jangka waktu yang lama sehingga digunakan obat kumur non alkohol sebagai
penggantinya. Obat kumur Chlorhexidine, hexetidine dan betadine merupakan
contoh sediaan obat kumur non alkohol yang beredar di pasaran. Chlorhexidine
merupakan agen antiplak yang paling efektif saat ini. Loe dan Schiot (1970),
meneliti penggunaan chlorhexidine di kedokteran gigi dan menunjukan bahwa

berkumur menggunakan 10 ml larutan chlorhexidine gluconate 0,2% selama 60


detik dua kali sehari menghambat pertumbuhan plak dan perkembangan
gingivitis.

Chlorhexidine

konsentrasinya.

Pada

memiliki

konsentrasi

efek
rendah

yang

berbeda

(0,1g/ml),

sesuai

agen

ini

dengan
bersifat

bakteriostatik sedangkan pada konsentrasi yang lebih dari 100 g/ml merupakan
agen bakterisid yang bereaksi dengan cepat (Emilson, 2007).
Obat kumur lain dengan kemampuan bakterisidal yang baik adalah
hexetidine. Hexetidine merupakan derivat grup pirimidin yang memiliki efek
bekterisidal terhadap bakteri Gram-positif. Afinitas yang tinggi hexetidine
terhadap protein oral mukosa dan plak dapat mengurangi 98% bakteri saliva
secara langsung (Ernst dkk., 2005).
Vokurka dkk. (2005) menjelaskan bahwa obat kumur mengandung
betadine

dengan

kandungan

povidone

iodine

1%,

tidak

menunjukan

penghambatan plak secara signifikan. Berdasarkan penelitian Kerr dkk. (2007),


pada subyek dewasa rerata usia 40 tahun menunjukkan tidak terdapat perbedaan
secara signifikan mengenai perbedaan curah saliva serta keluhan xerostomia
antara kelompok subyek dewasa yang menggunakan obat kumur mengandung
alkohol (listerine) dan obat kumur tanpa kandungan alkohol (mint act). Produk
obat kumur non alkohol yang digunakan dalam penelitian tersebut tidak terdapat
di Indonesia, sehingga sejauh ini belum terdapat bukti mengenai perbedaan curah
saliva dan keluhan xerostomia akibat penggunaan obat kumur beralkohol dan obat
kumur non alkohol yang beredar di pasaran Indonesia.
Penggunaan obat kumur sebagai produk kedokteran gigi yang umum dan
bebas, membuat lanjut usia dapat dengan mudah menggunakan produk ini.
Kondisi yang terjadi pada lansia sama sekali berbeda dengan kondisi pada
individu dewasa normal lainnya. Pada lansia, terjadi hipofungsi kelenjar saliva
yang disebabkan olehproses fisiologis murni atau kondisi patologis dan iatrogenik
yang berhubungan dengan perubahan usia (Burke, 2010). Perubahan usia
menyebabkan jaringan ikat kelenjar saliva meningkat dan terjadi deposisi sel

adiposa serta penurunan sel asinar namun perubahan tersebut tidak menyebabkan
perubahan sekresi saliva (Dayal, 2005). Secara fisiologis, mukosa rongga mulut
lansia mengalami perubahan histologis seperti hilangnya elastisitas, reduksi
ketebalan dan penurunan kemampuan keratinisasi epitel yang secara klinis tampak
Satin-like epitelium dan hilangnya hidrasi. Perubahan tersebut menyebabkan
mukosa mulut lansia mudah terkena trauma dan jika terluka mudah terbentuk
fissure, abrasi dan ulkus traumatik (Lamster dkk., 2013).
Penelitian yang dilakukan oleh Fischman dkk. (2004) terhadap lansia yang
mengalami xerostomia menunjukan bahwa efek minyak essensial dalam obat
kumur berpotensi mengiritasi mukosa mulut lansia padahal kondisi keluhan mulut
kering (xerostomia) dan hiposalivasi merupakan masalah yang sering muncul
pada lansia. Lansia juga mengalami perubahan fisiologis pada mukosa mulutnya
sehingga kombinasi efek astringen dari alkohol serta kemungkinan efek iritan dari
bahan aktif minyak esensial menjadi alasan perlunya dilakukan penelitian
mengenai penggunaan obat kumur yang mengandung alkohol dan obat kumur non
alkohol terhadap curah saliva pada lansia.

1.1.

Kelebihan dan kekurangan obat kumur


a. Kelebihan obat kumur

1. Menghambat pertumbuhan plak


Salah satu formulasi obat kumur adalah cetylpyridinium chloride (CPC). CPC
adalah senyawa amonium kuaternari yang merupakan bakterisid monokationik
dengan kegunaan yang mirip dengan agen-agen aktif kationik lainya. CPC
biasanya digunakan untuk terapi infeksi superfisial rongga mulut dan
kerongkongan. CPC dengan konsentrasi 0,05%-0,1% efektif meningkatkan
aktivitas penghambat plak ketika digunakan sebagai tambahan disamping
penyingkiran plak secara mekanis.

Gambar 1.
Interaksi CPC terhadap Bakteri (a) CPC dengan muatan positif bertemu bakteri
dengan muatan negatif, (b) CPC secara cepat berinteraksi dengan
membran bakteri dan melarutkanya, (c) membran yang larut merusak
permeabilitas melepasan kunci internal dari kelompok-kelompok bakteri,

(d) CPC tertinggal dalam rongga mulut dalam jangka waktu yang panjang
setelah penggunaan
2. Menghilangkaan sisa plak yang masih tertinggal setelah sikat gigi
Obat

kumur

merupakan

kontrol

plak

secara

kimiawi

yang

dapat

menghilangkan sisa plak yang masih tertinggal setelah adanya kontrol plak secara
mekanik baik menyikat gigi maupun pembersihan interdental gigi. Obat kumur
yang dipakai untuk kontrol plak adalah obat kumur yang mengandung anti plak
dan antimikroba. Anti plak dan antimikroba bertujuan untuk mencegah terbentuk
nya biofilm/plak dan menghilangkan plak yang sudah ada pada permukaan gigi.
3. Menghilangkan bau mulut
Obat kumur dapat memberikan rasa yang menyenangkan pada rongga
mulut, memberikan rasa yang nyaman dan segar pada mulut dan nafas, mencegah
dengan cepat jumlah bakteri atau flora normal rongga mulut dan mengurangi bau
mulut dengan cepat.
4. Pencegahan terhadap infeksi ringan rongga mulut
Obat kumur memiliki kandungan bahan aktif tambahan yang dapat
mencegah, menghentikan atau membantu menyembuhkan proses penyakit atau
lesi-lesi di dalam mulut. Contoh obat kumur dengan fungsi terapeutik ini adalah
chlorhexidine. Obat kumur ini memiliki kombinasi antara aktifitas antimikrobial
dan memiliki masa perlekatan yang panjang ke permukaan gigi. Obat menjadi
aktif di dalam saliva bahkan setelah 24 jam, sehingga chlorhexidine mampu
mencegah pembentukan plak dan gingivitis pada rongga mulut yang sehat untuk
batas periode waktu tertentu tanpa melakukan prosedur kontrol plak secara
mekanis.
5. Pencegahan terhadap infeksi sebelum dan sesudah tindakan operasi rongga
mulut

b. Kekurangan obat kumur

1. Terbatasnya penggunaan obat kumur pada beberapa golongan (kandungan


alkohol)
Menurut Witt dkk, dengan adanya alkohol sebagai kandungan dari obat
kumur, akan membatasi penggunaan obat kumur tersebut untuk golongangolongan tertentu, antara lain anak-anak, ibu hamil/menyusui, pasien dengan
serostomia, dan golongan-golongan yang menganut keyakinan religius tertentu.
Eldridge dkk (1998) menyatakan bahwa orang-orang dengan mukositis, pasienpasien yang mengalami irradiasi kepala dan leher dan gangguan sistem imunitas
tidak disarankan menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol
2. Peluang peningkatan resiko kanker mulut (kandungan alkohol)
Para ahli telah melaporkan dan kemudian dipublikasikan dalam Dental
Journal of Australia bahwa obat kumur yang mengandung alkohol memberi 3
kontribusi dalam peningkatan risiko perkembangan kanker rongga mulut.
Penelitian internasional telah memperlihatkan pada kebiasaan 3210 orang dan
dijumpai bahwa penggunaan obat kumur dengan kandungan alkohol sehari-hari
merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap perkembangan kanker rongga
mulut. Penelitian ini tanpa memperhatikan pengguna obat kumur tersebut perokok
atau peminum alkohol.
Mekanisme alkohol dalam meningkatkan risiko kanker rongga mulut
adalah melalui etanol dalam obat kumur yang berperan sebagai zat karsinogen.
Zat karsinogen berpenetrasi dalam lapisan rongga mulut dengan demikian
kerusakan terjadi. Di samping itu asetaldehid yang merupakan racun dari alkohol,
dapat berakumulasi dalam rongga mulut ketika seseorang berkumur-kumur.
Karena hal tersebut di atas risiko kanker meningkat karena senyawa ini
merupakan penyebab kanker
3. Terjadinya staining

Obat kumur chlorhexidine juga menimbulkan efek samping pembentukan


bercak atau staining kuning kecoklat-coklatan pada 1/3 gingiva dan interproksimal
gigi dan lidah. Terjadinya staining diduga karena pengendapa sulfida besi dan
dipengaruhi oleh diet. Sulfida besi dibentuk akibat reaksi sulfur yang berasal dari
kelompok tiol dari protein yang mengalami denaturasi dengan ion besi yang
berasal dari makanan dan minuman.
Selain itu, obat kumur yang mengandung senyawa fenol-minyak esensial
juga bisa menimbulkan efek samping berupa staining meskipun signifikan lebih
ringan dibandingkan dengan yang diakibatkan oleh chlorhexidine.
4. Reaksi iritan dan sensitivitas mukosa
Ada dua tipe reaksi yang dapat terjadi, yaitu reaksi iritasi primer dan
reaksi sensitivitas atau alergik. Reaksi ini dipengaruhi oleh faktor-faktor kualitas
biologik jaringan struktur histologisnya, kosentrasi obat dan lama pemakaian.
Pada reaksi primer terjadi efek toksik langsung dari bahan kimia topikal pada
epitel dan pembuluh darah. Sedangkan pada reaksi sensitivitas biasanya jarang,
bersifat lambat dan terjadi setelah pemakaian berulang kali.
Manifestasi klinis yang sering muncul akibat iritasi obat kumur antara lain
pengelupasan atau deskuamasi epitel mukosa mulut, ulserasi, inflamasi, gingivitis,
petekia, meningkatnya pertumbuhan candida albicans, lidah terasa terbakar dan
geographic toungue.
Hasil penelitian Gagari et al (1995), terhadap obat kumur yang
mengandung alkohol tinggi, mengemukakan bahwa makin lama obat kumur
tersebut berkontak dengan mukosa mulut, maka makin besar kemungkinannya
untuk menimbulkan lesi atau kelainan.
Penggunaan obat kumur kosentrasi pekat atau pemakaian jangka waktu
lama dapat menimbulkan iritasi pada jaringan mukosa mulut. Menurut Roth dan
Calmes (1981), pemakaian chlorhexidine dengan kosentrasi 0,1% atau 0,2%
dalam jangka waktu 4 bulan dapat memberikan efek toksik spesrti deskuamasi
atau pengelupasan membran mukosa mulut
Penggunaan obat kumur yang mengandung antibiotika selain dapat
menimbulkan reaksi hipersensitivitas, juga dapat menyebabkan bakteri resisten

dan juga infeksi oleh jamur candida albicans. Oleh karena itulah obat kumur ini
tidak dipakai untuk pemakaian rutin dan jarang diresepkan.
5. Black hairy tongue
Salah satu zat antiseptik yang dapat dijumpai dalam obat kumur yaitu
hidrogen peroksida (H2O2), dimana pemakaian obat kumur ini untuk jangka waktu
yang lama dapat menimbulkan black hairy tongue. Black hairy tongue adalah
suatu keadaan yang ditandai oleh memanjangnya lapisan coklat atau hitam yan
padat.

1. Positif dan Negatif penggunaan obat kumur anti mikrobial


a. Penggunaan obat kumur secara umum

Pencegahan terhadap infeksi ringan rongga mulut

Membantu kerja antibiotik sistemik dalam menurunkan jumlah kuman rongga


mulut pada infeksi yang berat

Membantu menghilangkan bau mulut

Pencegahan terhadap infeksi sebelum dan sesudah tindakan operasi rongga


mulut

Menggantikan penggunaan sikat gigi ketika tidak memungkinkan seperti pada


kondisi di bawah ini:
i. Infeksi akut mukosa rongga mulut dan gusi
ii. Setelah operasi periodontal atau rongga mulut dan selama masa
penyembuhan

iii. Setelah operasi kosmetik tulang rahang atau fiksasi intermaksila untuk
penyembuhan patah tulang rahang
iv. Pasien handicap (dengan keterbatasan) secara fisik dan mental.

b. Positif dan negatif Penggunaan senyawa antimikroba


Penggunaan senyawa antimikroba dalam bentuk formulasi obat kumur
memainkan peranan penting dalam pemeliharaan kesehatan mulut melalui
mekanisme kerjanya dalam pencegahan pembentukan plak dan pada akhirnya
pencegahan terhadap gingivitis dan karies

Cetylpyridinium Chloride (CPC)


Dampak positif :
CPC dengan konsentrasi 0,05%-0,1% efektif meningkatkan aktivitas penghambat
plak ketika digunakan sebagai tambahan disamping penyingkiran plak secara
mekanis.
Dampak negatif :
1) Dosis yang fatal dari CPC adalah sekitar 1-3 g. Gejala-gejala keracunan yang
ditimbulkan dari dosis tersebut adalah muntah, iritasi gastro intestinal, gelisah,
confusion, gangguan pernafasan, sianosis, kolaps, konvulsi, koma, lemah otot,
dan pada akhirnya kematian yang disebabkan oleh paralisis otot-otot
pernafasan.
2) Menimbulkan

efek

pewarnaan

ekstrinsik

dibandingkan dengan obat kumur CHX.

Chlorhexidine (CHX)
Dampak positif :

namun

hanya

sedikit

jika

CHX

dapat

menghambat

pertumbuhan

plak

dan

mencegah

gingivitis.

Pembentukan plak dapat dicegah dengan berkumur-kumur larutan CHX0,2%,


Namun pengaruhCHX terhadap plak subgingiva berkurang jika dibandingkan
pengaruh CHX terhadap plak supragingiva.
Dampak negatif :
1) CHX memberikan efek samping berupa rasa yang tidak enak, mengganggu
sensasi rasa, dan menghasilkan warna coklat pada gigi yang susah
disingkirkan. Hal ini juga dapat terjadi pada mukosa membran dan lidah yang
dihubungkan dengan pengendapan faktor diet chromogenic pada gigi dan
membran mukosa.
2) Penggunaan jangka panjang dari CHX sebaiknya dilarang pada pasien dengan
keadaan periodontal yang normal. CHXdigunakan dalam jangka waktu yang
pendek hingga dua minggu ketika prosedur higiena oral sukar atau tidak
mungkin dilakukan. Seperti pada infeksi rongga mulut akut, dan setelah
prosedur bedah rongga mulut.
c. Obat kumur mengandung alkohol
Dampak Positif :
1) Alkohol merupakan bagian komposisi obat kumur yang berfungsi sebagai
astringents (zat penciut) dengan tujuan untuk memicu kontraksi pembuluh
darah yang dapat mengurangi bengkak pada jaringan.
2) Menurut Quirynen dkk (2005) Alkohol dimasukkan dalam obat kumur dengan
pertimbangan sifat-sifat alkohol tersebut, diantaranya adalah alkohol sendiri
merupakan antiseptik dan dapat menstabilkan ramuan-ramuan aktif dalam obat
kumur. Alkohol juga dapat memperpanjang masa simpan dari obat kumur dan
mencegah pencemaran dari mikroorganisme, serta melarutkan bahan-bahan
pemberi rasa.

Dampak Negatif :

Para ahli telah melaporkan dan kemudian dipublikasikan dalam Dental


Journal of Australia bahwa obat kumur yang mengandung alkohol memberi
kontribusi dalam peningkatan risiko perkembangan kanker rongga mulut.
Penelitian internasional telah memperlihatkan pada kebiasaan 3210 orang dan
dijumpai bahwa penggunaan obat kumur dengan kandungan alkohol seharihari merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap perkembangan kanker
rongga mulut. Penelitian ini tanpa memperhatikan pengguna obat kumur
tersebut perokok atau peminum alkohol.

1.2.

Kondisi Menggunakan Obat Kumur

Setelah operasi (flap, operasi impacted)


Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat kumur
chlorhexidin 0,2 /o selama 7 hari setelah operasi flep memberi respon
kesembuhan gingiva secara klinis lebih baik di bandingkan penggunaan
pek periodontal. Selain itu terdapat korelasi yang kuat antara penurunan
indeks plak dengan perubahan warna dan derajat perdarahan gingiva pada
penderita RPP tipe II.

Setelah pencabutan
Kemungkinan terjadinya komplikasi Dry Socket dapat dihindari
bila dilakukan pencegahan seperti menggunakan obat kumur yang
mengandung antimikroba pada pra-operatif dan pasca-operatif. Jangan
gunakan obat kumur untuk 6 jam pertama karena dapat memicu
perdarahan sebelum terbentuknya bekuan darah.

Kasus periodontal (gingivitis, periodontitis)


Terdapat berbagai bahan aktif yang sering digunakan sebagai
kumur-kumur. Yang dijual bebas umumnya berasal dari minyak tumbuhtumbuhan seperti metal salisilat ( seperti pada produk Listerine ),
sedangkan yang perlu diresepkan dokter adalah chlorhexidine 0.20 %
( seperti pada produk minosep) dan H2O2 1.5 % atau 3.0 %. Kumurkumur sekurangnya 1 menit sebanyak 10 cc terbukti efektif dalam
meredakan proses peradangan pada jaringan periodontal.

Menggantikan penggunaan sikat gigi ketika tidak memungkinkan seperti


pada kondisi di bawah ini:
a. Infeksi akut mukosa rongga mulut dan gusi
b. Setelah operasi periodontal atau rongga mulut dan selama masa
penyembuhan

c. Setelah operasi kosmetik tulang rahang atau fiksasi intermaksila untuk


penyembuhan patah tulang rahang
d. Pasien handicap (dengan keterbatasan) secara fisik dan mental

Tidak digunakan setiap hari karena dapat mengganggu keseimbangan flora


normal dalam mulut.

Dalam kondisi sariawan. Sebab, selain mampu mengusir bakteri obat


kumur juga dapat mengurangi rasa perih yang ditimbulkan akibat sariawan
sekaligus mencegah datangnya kembali bakteri.

Ketika memiliki masalah dengan karang gigi, terutama setelah dibersihkan


karang gigi. Obat kumur harus digunakan sampai kondisi mulut membaik.

Ketika terjadi peradang pada mulut, obat kumur dapat mempercepat


kesembuhan, karena mengandung antiseptic dan antinyeri.

1.3.

Menggunakan Obat Kumur

Boleh atau tidak menggunakan obat kumur?


Boleh, untuk menetralisir kuman didalam mulut. Obat kumur memang
dibutuhkan, tapi tidak pada setiap keadaan. Hanya dibutuhkan apabila rongga
mulut tidak bersih, sedang meradang, atau terinfeksi.

Tidak

lengkap

rasanya

membersihkan

mulut

tanpa

mengakhirinya

denganmemakai obat kumur. Obat kumur sendiri sangat membantu dalam


menghindari pembentukan plak dan kerusakan gigi.
Banyak orang yang menganggap obat kumur hanya berfungsi menyegarkan napas.
Hal ini karena banyak obat kumur yang hanya mengandung zat untuk memerangi
bakteri penyebab bau mulut.
Padahal ada banyak produk obat kumur yang telah diperkaya dengan flouride.
Obat kumur berflouride ini bisa membantu mencegah kerusakan gigi. Obat kumur
sendiri biasanya memiliki kandungan dasar berupa air, agen pembersih, bahan
pengharum, dan alkohol.
Berdasarkan bahan aktif yang terkandung di dalam obat kumur, produk ini bisa
digolongkan menjadi 4, yaitu:
1. Obat kumur yang mengandung bahan aktif antimikroba.
Produk jenis ini memiliki fungsi mengontrol pertumbuhan bakteri pada
mulut. Selain itu, obat kumur jenis ini bertindak sebagai pengurang plak,
meminimalkan keparahan gingivitis atau radang gusi, dan menghilangkan
napas tidak sedap.
2. Obat kumur yang mengandung bahan aktif fluoride.
Fungsi utama dari produk dengan bahan aktif ini adalah untuk membantu
mengurangi lubang kecil pada anamel. Flouride juga diklaim mampu
mencegah kerusakan gigi.
3. Obat kumur yang ditambahkan bahan aktif utama berupa garam.
Garam ini berfungsi menghilangkan bau napas tidak sedap.
4. Bahan penghilang bau juga bisa dijadikan bahan aktif untuk obat kumur.
Bahan aktif ini akan berperan sebagai bahan kimia yang mampu menetralisasi
bau mulut.

Beberapa Perdebatan Tentang Obat Kumur


Tidak selamanya obat kumur dipandang menguntungkan bagi penggunanya. Hal
ini sangat tergantung dengan kondisi masing-masing individu.
Bagi sebagian pihak, obat kumur memiliki banyak manfaat, antara lain:
1. Dianggap mampu mencegah gigi berlubang yang didukung oleh banyak
sekali penelitian yang membuktikannya. Contohnya obat kumur yang
mengandung flouride dianggap mampu mengurangi demineralisasi dan
kavitasi pada gigi.
2. Obat kumur kemungkinan mampu mencegah penyakit-penyakit yang
menyerang gusi makin parah. Obat kumur antibakteri ini memiliki bahan
aktif alkohol atau chlorhexidine guna membantu mencegah periodontal
atau gingivitis.
3. Produk ini dianggap mampu mengatasi sariawan. Juga dianggap mampu
meringankan sakit kanker serta mampu melakukan detoksifikasi. Hal ini
masuk akal mengingat kemampuan obat kumur yang dapat memerangi
pertumbuhan bakteri.
4. Terdapat klaim yang menyatakan bahwa obat kumur memiliki peran yang
cukup signifikan bagi menurunnya risiko ibu hamil melahirkan bayi
prematur dan berat badan rendah. Obat kumur memungkinkan ibu hamil
untuk terhindar dari terkena penyakit gusi yang parah. Sakit gusi parah
dinilai sebagai pemicu gangguan kehamilan di atas.
Sementara itu, ada juga beberapa pihak yang menganggap bahwa obat kumur
memiliki efek buruk bagi kesehatan. Adapun efek buruk yang dikaitkan dengan
obat kumur antara lain:

1. Membuat sariawan makin sakit terutama jika kandungan alkoholnya


berlebihan.
2. Produk ini hanya dianggap sebagai penyegar napas dalam jangka pendek
atau sementara. Hal ini berarti obat kumur tidak memberi dampak positif
kesehatan bagi seseorang yang memiliki kesehatan mulut yang buruk.
3. Ada pendapat yang menyatakan bahwa obat kumur bisa menimbulkan
kanker mulut, namun bukti mengenai hal ini belum kuat. Efek negatif ini
terutama dikaitkan dengan adanya kandungan alkohol..

Faktanya adalah kita tidak memerlukan obat kumur kalau rongga mulut kita
terjaga kebersihannya. Lebih dari sekadar bersih, rongga mulut juga perlu sehat
dan terjaga higienisnya. Rongga mulut yang tidak bersih, selain berbau tak sedap
akan memberikan habitat untuk kuman tumbuh.
Asal bibit penyakit
Rongga mulut orang normal tidak sepenuhnya bersih tanpa kuman. Berbagai jenis
bibit penyakit termasuk virus ada di situ, namun umumnya bersifat jinak dan tidak
mengganggu. Hanya saja bila kondisi tubuh sedang menurun, bibit penyakit di
rongga mulut bisa berubah sifat menjadi ganas. Pada saat itulah rongga mulut
memiliki kemungkinan terinfeksi.
Rongga mulut meradang bila terkena makanan dan minuman yang terlalu panas
sehingga akan tumbuh sariawan. Kalau sariawan tumbuh, artinya terdapat lapisan
selaput lendir rongga mulut yang berubah menjadi tak utuh. Kalau lapisan itu tak
utuh, bibit penyakit di rongga mulut siap menerjang dan memperburuk keadaan.
Infeksi rongga mulut menimbulkan bau tak sedap, selaput lendir mulut meradang,
gusi membengkak, dan tumbuhnya seriawan. Luka selaput lendir mulut oleh
kejadian tergigit sendiri sering terjadi. Sariawan muncul bila luka tergigit tidak
diredam, dan akan terinfeksi bila kebersihan rongga mulut diabaikan. Perlu

diperhatikan bahwa kalau sariawan tak kunjung sembuh dan tumbuhnya di tempat
yang sama, kemungkinan herpes penyebabnya. Sariawan herpes lebih sukar untuk
disembuhkan.
Bibit penyakit juga bersarang di gigi yang keropos, bolong dan terinfeksi; oleh
karena itu memelihara gigi yang dibiarkan rusak tidak dianjurkan. Perawatan gigi
geligi menjadi syarat penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut.
Sumber bibit penyakit di rongga mulut juga berasal dari amandel. Bila kelenjar
tonsil yang berada di pangkal rongga mulut bermasalah, ia berpotensi menjadi
sarang kuman. Kelenjar amandel ini akan digerogoti, lalu membesar, dan bila
dibiarkan akan menutupi pintu rongga mulut.
Jangan lupa, kunjungan ke dokter gigi tidak sepenuhnya aman dari kuman. Tidak
semua peralatan dokter gigi suci hama sehingga menjadi ajang penular bibit
penyakit. Bukan saja infeksi rongga mulut, termasuk juga infeksi virus hepatitis,
HIV, dan bibit penyakit lainnya. Oleh karena itu, berkumur dengan obat setiap kali
selesai berobat gigi sangat pentingnya.

Indikasi berkumur
Berkumur dengan obat diperlukan bagi mereka yang memiliki kondisi-kondisi
tersebut di atas, yakni bila ada cedera selaput lendir rongga mulut, ada seriawan,
amandel, gigi rusak dan bolong, infeksi gusi dan semua keadaan rongga mulut
yang meradang yang membutuhkan obat kumur. Sedangkan orang sehat normal
cukup berkumur dengan air setiap kali habis selesai bersantap, terutama bila
mengkonsumsi yang manis-manis dan berkarbohidrat, karena dua hal tersebut
yang berpotensi membuat gigi berlubang.
Berbeda halnya bila rongga mulut, gigi geligi, dan amandel sedang bermasalah.
Tujuan berkumur dengan obat adalah agar keadaan rongga mulut tidak bertambah
buruk. Obat kumur berisikan bahan yang mematikan bibit penyakit,. Selain untuk

membunuh bibit penyakit, berkumur dengan obat berarti mempercepat


penyembuhan sekiranya sedang ada gangguan rongga mulut sebelumnya.
Teknik berkumur
Berkumur ada caranya:

Jangan lekas-lekas membuang obat kumurnya.


Biarkan obat kumur tertahan di rongga mulut cukup lama.
Beri kesempatan obatnya membunuh dan meniadakan bibit penyakit yang
bersarang. Bahkan kalau sarang bibit penyakitnya di bolong gigi, di
amandel yang rusak, perlu berkumur dengan lebih keras, agar obatnya

memasuki bagian rongga mulut yang paling dalam.


Hanya bila berkumur dengan intens, bibit penyakit yang bersarang di
rongga mulut akan terbasmi. Berkumur yang cepat, dan segera dibuang,
tidak memberi kesempatan membunuh seluruh bibit penyakit di rongga
mulut.

Kelemahan obat kumur adalah terdapat beberapa jenis yang bisa menyisakan
warna (staining) pada permukaan gigi. Selain itu kuman jinak yang bersahabat di
rongga mulut ikut terbasmi juga. Maka lebih baik merawat rongga mulut supaya
tidak sampai bermasalah dengan cara menjaga kebersihannya. Menggosok gigi
perlu dilakukan dengan benar, kecukupan vitamin dan mineral juga perlu dijaga
agar lapisan rongga mulut utuh, tak lapuk dan tak mudah lecet. Jangan
mengkonsumsi menu yang merangsang, termasuk tidak langsung menyantap
minuman atau makanan yang terlalu panas.
Apabila ingin menggunakan obat kumur sebaiknya menggunakan obat kumur
yang tidak mengandung alkohol. Yang wajib diperhatikan juga bahwa pemakaian
obat kumur tidak menghilangkan kewajiban seseorang untuk menggosok gigi atau
flossing. Jadi, jangan lupa untuk berkunjung ke dokter gigi tiap 6 bulan.

1.4.

Obat kumur yang boleh digunakan

Setiap merk obat kumur memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Diperlukannya pemakaian obat kumur berdasarkan aturan pakai: jangka waktu
dan banyaknya pemakaian, untuk menghindari efek samping yang tidak
diinginkan dari obat kumur tersebut.
Obat kumur beralkohol menimbulkan efek samping jika dipakai dalam jangka
waktu yang lama sehingga digunakan obat kumur non alkohol sebagai
penggantinya. Obat kumur Chlorhexidine, hexetidine dan betadine merupakan
contoh sediaan obat kumur non alkohol yang beredar di pasaran.

1. Chlorhexidine

Obat kumur golongan bisguanida yang paling dikenal adalah obat kumur
yang mengandung chlorhexidine, seperti chlorhexidine glukonat dan minosep.
Chlorhexidine merupakan antiseptik bersprektrum luas dan merupakan suatu
bisguanida kationik.
Chlorhexidine merupakan derivat bisquanid dan umumnya digunakan
dalam bentuk gukonatnya. Mempunyai antibakteri dengan spektrum luas, efektif
terhadap Gram positif dan Gram negatif meskipun untuk jenis yang terakhir
efektivitasnya sedikit lebih rendah. Chlorhexidine sangat efektif mengurangi
radang gingiva dan akumulasi plak, pendapat ini sesuai dengan pendapat bahwa
larutan chlorhexidine sangat efektif digunakan untuk plak kontrol pada perawatan
radang gingival (gingivitis). Efek anti plak chlorhexidine tidak hanya
bakteriostatik tetapi juga mempunyai daya lekat yang lama pada permukaan gigi
sehingga memungkinkan efek bakterisid.
Chlorhexidine merupakan agen antiplak yang paling efektif saat ini. Loe
dan Schiot (1970), meneliti penggunaan chlorhexidine di kedokteran gigi dan
menunjukan bahwa berkumur menggunakan 10 ml

larutan chlorhexidine

gluconate 0,2% selama 60 detik dua kali sehari menghambat pertumbuhan plak

dan perkembangan gingivitis. Chlorhexidine memiliki efek yang berbeda sesuai


dengan konsentrasinya. Pada konsentrasi rendah (0,1g/ml), agen ini bersifat
bakteriostatik sedangkan pada konsentrasi yang lebih dari 100 g/ml merupakan
agen bakterisid yang bereaksi dengan cepat (Emilson, 2007).
Chlorhexidine dapat menghambat pertumbuhan plak karena memiliki
kemampuan untuk mengadakan ikatan dengan kelompok asam anionik
glikoprotein saliva, sehingga pembentukan pelikel akuid yang diperlukan untuk
kolonisasi bakteri plak terhambat. Kemudian dapat mengadakan ikatan dengan
lapisan polisakarida yang meyelubungi bakteri sehingga absorpsi bakteri ke
permukaan gigi atau pelikel akuid terhambat. Selanjutnya chlorhexidine juga
dapat mengendapkan faktor-faktor aglutinasi asam yang ada di dalam saliva dan
menggantikan kalsium yang diperlukan sebagai perekat bakteri membentuk massa
plak.

Chlorhexidine

sangat

berguna

untuk

menurunkan

gingivitis

dan

pembentukan plak. Saat ini chlorhexidine merupakan obat kumur anti plak dan
anti gingivitis yang paling efektif.
Berbagai percobaan klinis menggunakan obat kumur mengandung
chlorhexidine telah banyak dilakukan dan ternyata chlorhexidine berpengaruh
terhadap gingivitis dan periodontitis. Pengaruh ini pertama kalli dilaporkan oleh
Loe dan Schiott pada golongan Aarthus bahwa chlorhexidine dapat menghambat
pertumbuhan plak dan mencegah terjadinya radang gingiva. Pembentukan plak
dapat dicegah dengan kumur-kumur larutan chlorhexidine 0.2% dan tidak tampak
tanda-tanda

radang

gingiva

setelah

beberapa

minggu

walaupun

tanpa

membersihkan mulut secara mekanis. Dinyatakan pula bahwa perawatan raadng


gingival dapat dilakukan dengan menggunakan obat kumur chlorhexidine.
Pernyataan ini menguatkan percobaan yang telah dilakukan di beberapa negara,
bahwa chlorhexidine dapat menghambat pertumbuhan plak dan mencegah
terjadinya radang gingival (gingivitis).
Pengaruh

chlorhexidine

terhadap

plak

subgingival

berkurang

dibandingkan dengan plak supra-gingival. Untuk meningkatkan pengaruh

chlorhexidine terhadap radang jaringan periodonsium yang mengandung poket


sering dilakukan skeling.
Cara pemberian, frekuensi pemakaian serta konsentrasi chlorhexidine
ternyata mempunyai pengaruh. Aplikasi 0.2% larutan chlorhexidine dibandingkan
dengan kumur-kumur memberikan hasil yang sama efektif. Cara aplikasi ini tidak
selalu dapat dilakukan di tiap individu, tergantung dari keadaan klinis penderita.
Untuk hasil yang baik dari menyikat gigi 2 kali sehari menggunakan 1%
chlorhexidine gel di daerah dengan pembentukan poket perlu dilakukan skeling.
Aplikasi pasta chlorhexidine pada sekelompok anak-anak muda sekali sehari
menghasilkan penurunan indeks baik plak maupun radang gingiva, tetapi kurang
baik bila dibandingkan dengan pemberian 2 kali sehari.
Mekanisme Kerja Chlorhexidine
Chlorhexidine mempunyai pengaruh yang luas terutama untuk bakteri
Gram positif dan Gram negarif, bakteri ragi juga jamur. Pada pH fisiologis,
chlorhexidine mengikat bakteri di permukaan rongga mulut, tergantung
konsentrasinya, dapat bersifat bakteriostatik atau bakterisid. Sifat bakteriostatik
bila konsentrasi antara 432 g/ml; konsentrasi yang lebih tinggi akan
menyebabkan efek bakterisid, karena terjadinya persipitasi protein sitoplasma.
Efek bakterisid kurang penting dibandingkan dengan efek bakteriostatik.
Hambatan pertumbuhan plak oleh chlorhexidine dihubungkan dengan sifatnya
untuk membentuk ikatan dengan komponen-komponen pada permukaan gigi.
Ikatan tersebut terjadi 1530 detik setelah kumur dan lebih dari 1/3 bagian
chlorhexidine diserap dan melekat, namun jumlah perlekatan sebanding dengan
konsentrasinya. Penelitian menunjukkan bahwa perlekatan akan terjadi sampai 24
jam, yang berarti sebanding dengan efek bakteriostatik terhadap bakteri. Dasar
yang kuat untuk mencegah terbentuknya plak adalah terjadinya ikatan antara
chlorhexidine dengan molekul-molekul permukaan gigi antara lain polisakarida,
protein, glikoprotein dan saliva, pelikel, mukosa serta permukaan dari
hidroksiapatit. Akibat terjadinya ikatan-ikatan tersebut maka pembentukan plak
yang merupakan penyebab utama dan radang gingiva dihambat. Penelitian

menunjukkan bahwa larutan 0.2% chlorhexidine sebagai obat kumur selama 1


minggu menurunkan indeks plak sebanyak 72% pada hari ke-3 dan 85% pada hari
ke-7, dan terjadi penurunan indeks radang gingiva sebanyak 32% pada hari ke-3
dan 77% pada hari ke-7.
Secara ringkas mekanisme penghambatan plak oleh chlorhexidine adalah
sebagai berikut:
a. Mengikat kelompok asam anionik dari glikoprotein saliva sehingga
pembentukan pelikel akuid terhambat. Hal ini menghambat kolonisasi
bakteri plak.
b. Mengikat plasma polisakarida yang menyelubungi bakteri atau langsung
berikatan dengan dinding sel bakteri. Ikatan dengan lapisan polisakarida
yang menyelubungi bakteri akan menghambat adsorbsi bakteri ke
permukaan gigi atau pelikel akuid. Sebaliknya ikatan chlorhexidine
langsung

dengan

sel

bakteri

menyebabkan

perubahan

struktur

permukaannya yang pada akhirnya menyebabkan pecahnya membran


sitoplasma bakteri.
c. Mengendapakan faktor-faktor

aglutinasi

asam

dalam

saliva

dan

menggantikan kalsium yang berperan merekatkan bakteri membentuk


massa plak.
Dengan demikian, chlorhexidine bukan saja bersifat bakteriostatis tetapi
juga bersifat substantivitas. Dengan sifat substrantivitas dimaksudkan
kemampuan untuk mengabsorbsi ke permukaan gigi atau mukosa, untuk
kemudian dilepas dalam level terapeutik sehingga lebih efektif dalam
mengontrol pertumbuhan plak bakteri. Meskupun chlorhexidine dinilai efektif
sebagai bahan anti plak, tetapi bahan ini mempunyai kelemahan berupa
pembentukan stein pada permukaan gigi maupun mukosa serta gangguan
pengecapan secara temporer. Oleh sebab itu, penggunaannya diindikasikan
untuk jangka pendek (sampai 2 minggu).

2. Hexetidine

Obat kumur lain dengan kemampuan bakterisidal yang baik adalah hexetidine.
Obat kumur Hexetidine mengandung bahan aktif hexetidine yang merupakan
antiseptic. Hexetidine dapat digunakan sebagai obat kumur. Hexetidine bekerja
membunuh bakteri dan fungi dan untuk itu hexetidine mengobati atau
menghilangkan infeksi mulut minor, termasuk oral trush (sariawan).
Hexetidine dapat juga digunakan untuk mengobati kondisi mulut yang sakit
akibat bakteri, seperti penyakit gusi, sakit tenggorokan dan ulser mulut.
Hexetidine juga digunakan untuk membunuh bakteri yang menyebabkan nafas
bau, dan untuk mencegah infeksi sebelum dan sesudah operasi mulut.

Penggunaannya:

Hexetidine digunakan sebagai obat kumur. Setelah dikumur, hexetidine di

dalam mulut harus dibuang, bukan ditelan.


Sedikitnya 15 ml larutan Hexetidine harus digunakan untuk kumur-kumur.
Prosedur ini dapat dilakukan dua sampai tiga kali sehari.

Efek samping:

Iritasi mulut atau lidah.


Alterasi dalam rasa.
Kematian rasa sementara dalam mulut
Dapat menyebabkan reaksi alergi khususnya pada orang-orang yang
alergi terhadap aspirin, dikarenakan mengandung azorubin (E122).

Hexetidine merupakan derivat grup pirimidin yang memiliki efek bekterisidal


terhadap bakteri Gram-positif. Afinitas yang tinggi hexetidine terhadap protein
oral mukosa dan plak dapat mengurangi 98% bakteri saliva secara langsung (Ernst
dkk., 2005).
Hexadol atau Hexatidine sebagai obat kumur dipasarkan dengan merek
dagang Bactidol termasuk golongan antiseptic dan merupakan derivat pridin.
Mempunyai sifat anti bakteri, bermanfaat untuk bakteri Gram positif dan Gram
negatif, dan dapat digunakan untuk mengurangi terjadinya keradangan.
Hexetidine

merupajan

antibakteri

dengan

spektrum

luas

dengan

konsentrasi rendah bermanfaat untuk mikroorganisme rongga mulut. Hexetidine


dapat digunakan pada penderita dengan radang rongga mulut dan nasofaring.
Pernyataan ini dibuktikan pada percobaan dengan larutan 0.1% hexetidine sebagai
obat kumur pada orang-orang Anglo di Amerika yang menderita radang rongga
mulut; ternyata radang dapat sembuh dengan baik. Hal ini berarti hexetidine akan
bermanfaat untuk penderita dengan kelainan periodontal yang disebabkan oleh
mikroorganisme.
Penelitian lain membuktikan bahwa hexetidine dapat mengikat protein
mukosa mulut sehingga dapat menguntungkan hexetidine sebagai antibakteri.
Pendapat ini diperkuat oleh Bourgonet yang mengatakan bahwa hexetidine dapat
memperpanjang efek antibakteri karena adanya ikatan dengan protein mukosa.
Ikatan protein tersebut akan menghambat metabolism mikroorganisme yang
berada pada permukaan mukosa dan plak. Ikatan dengan mukosa dan plak ini
terjadi selama 7 jam setelah kumur. Penelitian menggunakan larutan 0.1%
hexetidine sebagai obat kumur pada orang-orang, percobaan selama 14 hari dapat

menurunkan radang gingiva sampai 34% pada hari ke-7 dan 38% pada hari ke-15,
tergantung dari keparahan keradangan, maka rata-rata akan sembuh selama 4
minggu.
Hexetidine juga dapat menghambat pertumbuhan plak, tetapi kurang
efektif bila dibandingkan dengan chlorhexidine. Penelitian dengan menggunakan
larutan 0.1% hexetidie sebagai obat kumur yang dipakai 2 kali sehari sebanyak
10ml tiap kali kumur selama 30-60 detik, menyebabkan penurunan indeks plak
sebanyak 25% pada hari ke-3 dan 52% pada hari ke-7.
3. Betadine

Betadine adalah obat antiseptic yang unggul dengan bahan aktif


Mundidone yang terbukti secara klinis mampu membasmi berbagai jenis kuman
dalam waktu singkat. Betadine terpilih sebagai antiseptic yang digunakan NASA
dalam penerbangan luar angkasa. Selain sebagai obat luka serba guna (solution),
Betadine juga tersedia dalam berbagai produk seperti obat kumur, shampoo,
vaginal douche, salep dan sabun cair. Betadine kini berkembang menjadi obat
bebas terbatas tanpa resep dokter. Khusus bagi kalangan medis, dipasarkan
Isodine sebagai pengganti. (Suyanto, 2007).
Vokurka dkk. (2005) menjelaskan bahwa obat kumur mengandung
betadine

dengan

kandungan

povidone

iodine

1%,

tidak

menunjukan

penghambatan plak secara signifikan. Providone Iodine 1% sebagai obat kumur


yang dipasarkan dengan merek dagang Betadine sebagai antiseptic mempunyai
sifat anti bakteri. Obat kumur ini dapat dipakai untuk mengurangi bakteremia
setelah pencabutan gigi atau perawatan bedah. Efek betadine terhadap bakteri
rongga mulut sangat cepat dan pada konsentrasi yang tinggi dapat mematikan
bakteri rongga mulut. Bila dibandingkan dengan chlorhexidine, betadine hanya
sedikit mempunyai sifat anti plak (Prijantojo, 2006).
Betadine merupakan obat kumur antiseptik golongan halogen iodofor yang
mengandung povidon iodida 1%. Povidon iodin dengan polivinilpirolidon sebagai
pembawa molekulnyanya mengandung 1% yodium yang bersifat bakteriostatik
pada kadar 640 u/ml. Mikrobakteri tuberkulosa resisten terhadap bakteri ini.
Toksisitas povidon iodin rendah pada jaringan, sehingga bahan ini banyak
digunakan untuk profilaksis pasca bedah.
Povidone iodine terdiri dari polyvinylpyrrolidone (povidone, PVP) dan
elemen iodine sekitar 9-12%. PVP-1 adalah suatu bahan yang dapat larut dalam
air dingin, alkohol, polyethylene glycol dan glycerol. (Prijantojo, 2006). Providone
iodine adalah suatu bahan organic dari bahan aktif polivinil pirolidon yang
merupakan kompleks iodine yang larut dalam air. Bekerja sebagai bakterisida
yang juga membunuh spora, jamur, virus dan sporozoa. Povidone iodine
diabsorbsi secara sistemik sebagai iodine, jumlahnya tergantung konsentrasi, rute
pemberian dan karakter kulit. Selain sebagai obat kumur yang digunakan setelah
gosok gigi, povidone iodine gargle digunakan untuk mengatasi infeksi mulut dan
tenggorokan seperti gingivitis dan sariawan. ( Prijantojo, 2006 )
Betadine gargle mempunyai nama generic povidone iodine yang
merupakan antiseptik. Povidone iodine adalah kompleks iodine, yang membunuh
mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus, protozoa dan spora bakteri. Oleh
karena itu dapat digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan
mikroorganisme. (Paulson, 2005)
Obat kumur povidone iodine digunakan untuk mengobati infeksi mulut
dan tenggorokan, seperti gingivitis (radang gusi) dan tukak mulut. Hal ini juga

digunakan untuk menjaga kebersihan mulut, untuk membuh mikroorganisme


sebelum, selama dan setelah operasi gigi dan mulut yang bertujuan mencegah
infeksi. (Paulson, 2005)
Indikasi dari betadine gargle adalah untuk pengobatan infeksi akut mukosa
mulut dan faring, misalnya radang gusi dan luka pada mukosa mulut dan juga
untuk kebersihan mulut sebelum, selama dan setelah operasi gigi dan mulut.
Betadine gargle ini tidak direkomendasikan untuk anak-anak. Untuk dewasa dan
anak lebih dari 6 tahun dapat digunakan sebagai obat kumu dengan cara kumur
atau bilas hingga 10 ml selama 30 detik tanpa ditelan. Perlu diperhatikan bahwa
penggunaan betadine tidak boleh digunakan untuk orang-orang yang alergi
terhadap yodium dan tidak digunakan untuk ibu hamil dan menyusui.

Hampir semua obat kumur mengandung lebih dari satu bahan aktif dan
hampir semua dipromosikan dengan beberapa keuntungan bagi pengguna. Masing
masing obat kumur merupakan kombinasi unik dari senyawa-senyawa yang
dirancang untuk mendukung higiena rongga mulut. Beberapa bahan-bahan aktif
beserta fungsinya secara umum dapat dijumpai dalam obat kumur, antara lain :
a) Bahan antibakteri dan antijamur, mengurangi jumlah mikroorganisme dalam
rongga mulut, contoh: hexylresorcinol, chlorhexidine, thymol, benzethonium,
cetylpyridinium chloride, boric acid, benzoic acid, hexetidine, hypochlorous acid.
b) Bahan oksigenasi, secara aktif menyerang bakteri anaerob dalam rongga mulut
dan busanya membantu menyingkirkan jaringan yang tidak sehat, contoh:
hidrogen peroksida, perborate.
c) Astringents (zat penciut), menyebabkan pembuluh darah lokalberkontraksi dengan
demikian dapat mengurangi bengkak pada jaringan, contoh:

alkohol, seng

klorida, seng asetat, aluminium, dan asam-asam organik, seperti tannic, asetic, dan
asam sitrat.

d)

Anodynes, meredakan nyeri dan rasa sakit, contoh:

turunan fenol, minyak

eukaliptol, minyak watergreen.


e) Bufer, mengurangi keasaman dalam rongga mulut yang dihasilkan dari fermentasi
sisa makanan, contoh: sodium perborate, sodium bicarbonate.
f) Deodorizing agents (bahan penghilang bau), menetralisir bau yang dihasilkan dari
proses penguraian sisa makanan, contoh: klorofil.
g) Deterjen, mengurangi tegangan permukaan dengan demikian menyebabkan
bahan-bahan yang terkandung menjadi lebih larut, dan juga dapat menghancurkan
dinding sel bakteri yang menyebabkan bakteri lisis. Di samping itu aksi busa
darideterjen membantu mencuci mikroorganisme ke luar rongga mulut, contoh:
sodium laurel sulfate

Pada uraian di atas telah disinggung bahwa alkohol merupakan bagian


komposisi obat kumur yang berfungsi sebagai astringents (zat penciut) dengan
tujuan untuk memicu kontraksi pembuluh darah yang dapat mengurangi bengkak
pada jaringan. Pada umumnya obat kumur mengandung 5-25 % alkohol. Alkohol
sendiri dimasukkan ke dalam obat kumur untuk beberapa pertimbangan. Menurut
Quirynen dkk (2005) Alkohol dimasukkan dalam obat kumur dengan
pertimbangan sifat-sifat alkohol tersebut, diantaranya adalah alkohol sendiri
merupakan antiseptik dan dapat menstabilkan ramuan-ramuan aktif dalam obat
kumur. Alkohol juga dapat memperpanjang masa simpan dari obat kumur dan
mencegah pencemaran dari mikroorganisme, serta melarutkan bahan-bahan
pemberi rasa
Menurut Witt dkk, dengan adanya alkohol sebagai kandungan dari obat
kumur, akan membatasi penggunaan obat kumur tersebut untuk golongangolongan tertentu, antara lain anak-anak, ibu hamil/menyusui, pasien dengan
serostomia, dan golongan-golongan yang menganut keyakinan religius tertentu.2
Eldridge dkk (1998) menyatakan bahwa orang-orang dengan mukositis, pasienpasien yang mengalami irradiasi kepala dan leher dan gangguan sistem imunitas
tidak disarankan menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol

Para ahli telah melaporkan dan kemudian dipublikasikan dalam Dental


Journal of Australia bahwa obat kumur yang mengandung alkohol memberi
kontribusi dalam peningkatan risiko perkembangan kanker rongga mulut.
Penelitian internasional telah memperlihatkan pada kebiasaan 3210 orang dan
dijumpai bahwa penggunaan obat kumur dengan kandungan alkohol sehari-hari
merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap perkembangan kanker rongga
mulut. Penelitian ini tanpa memperhatikan pengguna obat kumur tersebut perokok
atau peminum alkohol. Risiko perokok yang mengunakan obat kumur 9 kali lebih
besar, demikian juga halnya dengan peminum alkohol yang menggunakan obat
kumur risiko yang terjadi 5 kali lebih besar, dan pada pengguna obat kumur yang
tidak perokok dan peminum alkohol, peningkatan risiko terjadinya kanker adalah
4-5 kali. Tim peneliti dari university of Sao Paulo mengatakan bahwa produkproduk obat kumur berkontak langsung dengan mukosa rongga mulut sebanyak
pecandu minuman beralkohol, dan dapat menyebabkan agregasi kimia dari sel-sel.
Mekanisme alkohol dalam meningkatkan risiko kanker rongga mulut
adalah melalui etanol dalam obat kumur yang berperan sebagai zat karsinogen.
Zat karsinogen berpenetrasi dalam lapisan rongga mulut dengan demikian
kerusakan terjadi. Di samping itu asetaldehid yang merupakan racun dari alkohol,
dapat berakumulasi dalam rongga mulut ketika seseorang berkumur-kumur.
Karena hal

tersebut di atas risiko kanker meningkat karena senyawa

ini

merupakan penyebab kanker.


Penjelasan diatas merupakan alas an mengapa penggunaan obat kumur yang
mengandung alkohol tidak dianjurkan.

Tabel penurunan indeks plak dan indeks radang gingiva dari beberapa
antiseptik dibandingkan dengan plasebo/air

Antiseptik (obat Lama Pemakaian Penurunan

Penurunan

kumur)

Indeks

Plak Indeks Gingivitis

Listerine

1 bulan

(dalam %)
15.5

(%)
5.1

Povidone Iodine

3 bulan

20.9

(Betadine(&)

6 bulan

23.7

20.8

Hexetidine

9 bulan

19.58

23.9*

(Bactidol)

10 bulan

Kurang bermakna

Kurang bermakna

Hidrogen

3 bulan

25

24

Peroksidase

7 bulan

52*

37

(H2O2 3%)

14 bulan

58*

Chlorhexidine

14 bulan

50*

22*

Gluconate 0.2%

3 bulan

72*

32

(Minosep)

7 bulan

85*

77*

2. CaHPO42H2O

Penyebutan nama dari rumus kimia CaHPO42H2O adalah Dibasic Calcium


Phosphate Dehydrate atau Calcium Monohydrogen Phosphate Dehydrate.
Dicalcium phosphate (CaHPO4) merupakan misnomer (nama yang salah) dari
dibasic calcium phosphate. Formula kimianya adalah CaHPO4. Oleh karena itu,
penyebutan dikalsium adalah tidak tepat. Nama yang tepat untuk material ini
adalah dibasic calcium phosphate atau calcium monohydrogen phosphate.
Terdapat tiga bentuk kristalinnya :
1) Dihidrat, CaHPO42H2O atau disebut dibasic calcium phosphate
dehydrate (DCPD), mineral brushite;
1
2) Hemihidrat, CaHPO4
H2O ; dan
2
3) Anhydrous CaHPO4 (DCPA), mineral monetite.
Dibawah pH 4.8, bentuk dihidrat dan anhydrous dari dibasic calcium phosphate
merupakan bentuk yang paling stabil (insoluble) dari calcium phosphate. Dibasic
calcium phosphate digunakan sebagai aditif makanan, ditemukan dalam beberapa
pasta gigi sebagai agen polishing dan merupakan biomaterial. Dalam bentuk
dihidrat (brushite), ditemukan dalam beberapa batu ginjal dan kalkulus gigi.

Dibasic calsium phosphate dihidrat merupakan bahan abrasif yang terdapat dalam
pasta gigi. Umumnya berbentuk bubuk pembersih yang dapat memolis dan
menghilangkan stain dan plak. Bentuk dan jumlah bahan abrasif dalam pasta gigi
membantu untuk menambah kekentalan pasta gigi.

3. Teori-Teori Pembentukan Kalkulus


Proses Pembentukan Kalkulus
Sejumlah penelitian menunjukkan, penyebab dari beberapa masalah
rongga mulut adalah dental plaque atau plak gigi. Setelah kita menyikat gigi, pada
permukaan gigi akan terbentuk lapisan bening dan tipis yang disebut pelikel.
Pelikel ini belum ditumbuhi kuman. Apabila pelikel sudah ditumbuhi kuman
disebutlah dengan plak. Plak berupa lapisan tipis bening yang menempel pada
permukaan gigi, terkadang juga ditemukan pada gusi dan lidah. Lapisan itu tidak
lain adalah kumpulan sisa makanan, segelintir bakteri, sejumlah protein dan air
ludah. Plak selalu berada dalam mulut karena pembentukannya selalu terjadi
setiap saat, dan akan hilang bila menggosok gigi atau menggunakan benang
khusus. Plak yang dibiarkan, lama kelamaan akan terkalsifikasi (berikatan dengan
kalsium) dan mengeras sehingga menjadi karang gigi. Mineralisasi plak mulai
didalam 24-72 jam dan rata-rata butuh 12 hari untuk matang. Karang gigi
menyebabkan permukaan gigi menjadi kasar dan menjadi tempat menempelnya
plak kembali sehingga kelamaan karang gigi akan semakin mengendap, tebal dan
menjadi sarang kuman. Karang gigi dapat terlihat kekuningan atau kehitaman,
warna kehitaman biasanya akibat bercampur dengan rokok, teh, dan zat lain yang
dapat meninggalkan warna pada gigi.Jika dibiarkan menumpuk, karang gigi dapat
meresorbsi ( menyerap ) tulang alveolar penyangga gigi dan akibatnya gigi mudah
goyang dan tanggal. Jaringan periodontal ini yang menjadi tempat tertanamnya
gigi. Jaringan ini terdiri dari gusi, sementum, jaringan pengikat tulang penyangga
gigi (alveolar). Jaringan penyangga gigi inilah yang mengikat gigi, pembuluh
darah dan persarafan menjadi satu kesatuan.Karang gigi mengandung banyak
kuman-kuman yang dapat menyebabkan penyakit lain di daerah sekitar gigi. Bila
tidak dibersihkan, maka kuman-kuman dapat memicu terjadinya infeksi pada
daerah penyangga gigi tersebut.

Bila sudah infeksi maka masalah lebih lanjut bisa timbul. Penderita
biasanya mengeluh gusinya terasa gatal, mulut berbau tak sedap, sikat gigi sering
berdarah, bahkan adakalanya gigi dapat lepas sendiri dari jaringan penyangga
gigi. Infeksi yang mencapai lapisan dalam gigi (tulang alveolar) akan
menyebabkan tulang pernyangga gigi menipis sehingga pada perbandingan
panjang gigi yang tertanam pada tulang dan tidak tertanam 1:3, gigi akan goyang
dan mudah tanggal. Selain mengakibatkan gigi tanggal, kuman infeksi jaringan
penyangga gigi juga dapat menyebar ke seluruh tubuh. Melalui aliran darah,
kuman dapat menyebar ke organ lain seperti jantung. Karena itu ada beberapa
kasus penyakit yang sebenarnya dipicu oleh infeksi dari gigi, ini disebut infeksi
fokal. Penyakit infeksi otot jantung (miokarditis) termasuk penyakit yang dapat
disebabkan oleh infeksi fokal. Oleh karena itu, masalah karang gigi tidak dapat
disepelekan. Bila plak sudah mengendap menjadi karang gigi maka penyikatan
sekeras apapun dengansikat gigi biasa tidak akan menghilangkannya. Satu-

satunya cara untuk mengatasikarang gigi adalah dengan pergi ke dokter gigi untuk
dibersihkan agar terhindar dari penyakit yang lebih berat dan tentunya butuh biaya
yang lebih besar.Karang gigi harus dibersihkan dengan alat yang disebut scaler.
Ada yang manual ataupun dengan ultrasonic scaler. Setelah dibersihkan dengan
scaler,karang gigi akan hilang dan gigi menjadi bersih kembali. Namun, karang
gigi dapat timbul kembali apabila kebersihan gigi tidak dijaga dengan
baik.Dianjurkan melakukan tindakan pencegahan sebelum karang gigi timbul
yaitudengan menyikat gigi secara teratur dan sempurna. Dental floss juga perlu
digunakan untuk membersihkan permukaan antar dua gigi yang sering menjadi
tempat terselipnya makanan dan menjadi tempat penimbunan plak. Obat kumur
yang mengandung clorhexidine dapat digunakan untuk mencegah timbulnya
plak,obat ini dapat digunakan setelah penyikatan gigi.
Beberapa macam teori dikemukakan oleh para peneiti mengenai proses
pembentukan kalkulus, antara lain :
1. Teori Mineralisasi
Saliva diubah menjadi jenuh sehubungan dengan garam-garam sehingga
mampu mendukung pertumbuhan kristal-kristal, tapi pengendapan secara spontan
itu tidak terjadi kecuali larutannya diunggulkan. Kristal-kristal untuk proses
nukleasi ini ada dalam permukaan gigi tapi kristal-kristal tersebut ditutupi oleh
pelikel sehingga tidak dapat digunakan untuk fungsi tersebut.
2. Teori Bakteri
Bakteri memiliki peranan yang sungguh penting dalam pembentukan kalkulus.

Bakteri dapat membentuk fosfatase yang meningkatkan konsentrasi lokal

fosfat dan menyebabkan kalsifikasi.


Bakteri mempengaruhi pH plak dan saliva dan menghancurkan tindakan

protektif koloidal.
Bakteri melekatkan kalkulus ke gigi.
Bakteri menyediakan zat-zat kimia yang menstimulasi mineralisasi.

Terdapat satu pandangan alternatif bahwa bakteri dapat hanya terlibat secara
pasif dalam pembentukan kalkulus dan dengan mudah bakteri terkalsifikasi
sejalan dengan komponen-komponen plak yang lain. Kelangsungan hidup
organisme-organisme bukan hal yang diperlukan untuk partisipasi dalam
mineralisasi sejak organisme yang tidak hidup dapat dengan mudah terkalsifikasi.
Penurunan aktivitas metabolik dengan produksi asam organik yang menurun yang
merupakan hasil dari glikolisis dapat menjadi sebuah prasyarat sebelum bakteri
dapat melakukan mineralisasi.
3. Teori Karbon Dioksida
Teori karbon dioksida menyatakan bahwa tingkat karbon dioksida yang ada di
dalam saliva yang meninggalkan duktus kelenjar saliva, jauh lebih tinggi daripada
yang ditemukan pada saliva di dalam mulut. Perbedaan ini mengakibatkan
lepasnya karbon dioksida dari saliva, sehingga terjadi kenaikan pH. Ketika pH
saliva naik, menyebabkan tidak dapat menahan banyak ion kalsium dan fosfat
dalam larutan, sehingga terjadi pengendapan secara spontan.
Menurut teori ini pengendapan garam kalsium fosfat terjadi akibat adanya
perbedaan tekanan CO dalam rongga mulut dengan tekanan CO dari duktus
saliva, yang menyebabkan pH saliva meningkat sehingga larutan menjadi jenuh.
Telah dinyatakan bahwa saliva yang baru disekresi dan meninggalkan saluran
pembuka duktus saliva memiliki tensi kira-kira 60 mmHg, sedangkan saliva yang
lebih lama disekresinya meningalkan saluran pembuka duktus saliva dengan tensi
kira-kira 29 mmHg, atmosfirnya adalah 0.3 mmHg, perbedaan ini akan
mengakibatkan lepasnya CO2 dari saliva, pH akan naik, ketika pH saliva naik,
sedikit Ca dan Fosfor dapat ditampung dalam bentuk terionisasi dan akibatnya
pengendapan secara spontan dapat terjadi, setelah kristal hadir, jumlah
supersaturasi fisiologis akan bertumbuh. Teori ini menjelaskan pembentukan
kalkulus di dekat orifis kelenjar saliva mayor dalam jumlah yang banyak. Teori ini

tidak dapat menjelaskan pembentukan kalkulus sub gingiva, yang mungkin


dibentuk dari garam-garam dalam eksudat gingiva.
4. Pembentukan Amonia
Teori pembentukan ammonia menyatakan bahwa produksi ammonia
menghasilkan kenaikan pH plak karena telah ditunjukkan bahwa pembentuk
kalkulus secara cepat memiliki konsentrasi urea yang naik pada saliva. Pemecahan
protein pada plak dapat dihasilkan dari akibat produksi lokal urea dan berikutnya
ammonia. Ini pada gilirannya menyebabkan kenaikan pH plak yang akan
menstimulasi pengendapan lokal ion-ion kalsium dan fosfat.
Pada waktu tidur, aliran saliva berkurang, urea saliva akan membentuk
ammonia sehingga pH saliva naik dan terjadi pengendapan garam kalsium fosfat.
Amonia merupakan produk pecahan dari urea dan dapat mengakibatkan kenaikan
pH lokal dalam plak, tingkat pH plak sebenarnya sering diatas pH lokal saliva dan
ini dikaitkan dengan aktivitas proteolitik yang dapat menghasilkan pembentukan
amina, urea dan ammonia. Enzim proteolik terdapat dalam plak dan korelasi
positif telah ditemukan diantara aktivitas proteolik dan pembentukan kalkulusnya.
5. Konsep Booster
Pengendapan mineral merupakan hasil dari kenaikan lokal derajat saturasi ionion kalsium dan fosfat, yang dapat dibawa dalam berbagai cara.
Mekanisme booster atau kenaikan pH saliva menyebabkan pengendapan garamgaram kalsium fosfat dengan menurunkan pengendapan konstan.

pH dapat dinaikkan dengan cara hilangnya karbon dioksida dan


pembentukan ammonia oleh plak gigi atau oleh degradasi protein selama

stagnasi.
Protein koloid dalam saliva mengikat ion-ion kalsium dan fosfat dan
memelihara larutan lewat jenuh (supersatured) berkenaan dengan garam-

garam kalsium fosfat. Denan stagnasi saliva, koloid menetap; bagian


supersatured tidak lagi dipelihara, menyebabkan pengendapan garamgaram kalsium fosfat.
6.

Pembentukan Fosfatase

Teori phosphatase Robinson: Menurutnya, adanya alkaline phosphatase


membebaskan ion-ion yang berperan dalam mineralisasi dan meningkatkan
konsentrasi ion-ion tersebut pada tingkat pengendapan ion-ion tersebut terlihat.
Objeksi: Alkaline phosphatase ada bahkan dalam jaringan yang tidak mengalami
kalsifikasi.
Fosfatase berasal dari plak gigi, sel-sel epitel mati atau bakteri (yang
mengendapkan kalsium fosfat dengan cara menghidrolisis fosfat organik dalam
saliva, sehingga meningkatkan konsentrasi ion-ion fosfat bebas).

Fosfatase

membantu proses hidrolisa fosfat saliva sehingga terjadi pengendapan garam


kalsium fosfat.

7. Teori Pembenihan (Seeding)


Karbohidrat-protein

kompleks

dapat

menginisiasi

kalsifikasi

dengan

membersihkan kalsium dari saliva dan berikatan dengan kalsium untuk


membentuk nukleus yang menstimulasi deposisi mineral. Agen-agen seeding
menstimulasi foci kecil kalsifikasi yang membesar dan bersatu membentuk massa
yang terkalsifikasi.
Teori seeding menyatakan bahwa kristalisasi dinukleasi oleh gabungan
komposisi kimia yang berbeda, walaupun gabungan yang harusnya memulai
kristalisasi belum dikenal. Namun demikian, mikroorganisme merosot dibawah

kondisi eksperimen telah ditunjukkan untuk membentuk kristal kalsium fosfat dari
jenis yang sama dengan yang ada dalam kalkulus. Ditujukan pada adanya zat
pembenihan atau nukleasi yang bertindak sebagai cetakan atau template pada
dimana kristal-kristal diendapkan, zat pembenihan menyerupai kristal-kristal
apatit. Plak gigi merupakan tempat pembentukan inti ion-ion kalsium dan fosfor
yang akan membentuk kristal inti hidroksi apatit dan berfungsi sebagai benih
kristal kalsium fosfat dari saliva jenuh.
Agen-agen seeding menstimulasi foci kalsifikasi yang membesar dan bersatu
membentuk massa yang terkalsifikasi. Konsep ini telah ditujukan sebagai konsep
epitactic, atau nukleasi heterogenous. Agen-agen pembenihan dalam
pembentukan kalkulus tidak diketahui, tapi dicurigai bahwa matriks interseluler
atau plak mengambil peran aktif. Karbohidrat protein kompleks dapat
menginisiasi kalsifikasi dengan cara membuang kalsium dari saliva (chelation)
dan melakukan pengikatan dengan kalsium untuk membentuk nukleus yang
menstimulasi pengendapan mineral sesudahnya. Bakteri plak juga telah terlibat
mungkin sebagai agen pembenihan.
Epitactic mengacu pada pembentukan kristal ( contohnya: hidroksiapatit )
melalui pembibitan oleh senyawa lain. Senyawa kedua memiliki konfigurasi
molekul yang serupa dengan kisi kristal hidroksiapatit sehingga garam-garam
kalsium mengendap pada senyawa tersebut dari larutan metastable di saliva.
Matriks organik plak diasumsikan menyediakan tempat dengan kemampuan
konfigurasi molekul termasuk pengendapan berorientasi hidroksiapatit tidak
memerlukan produk daya larut agar hidroksiapatit dapat lewat. Pendapat lain
melaporkan pembenihan atau pembibitan hidroksiapatit dengan transformasi dari
brushite atau octacalcium phosphate.

8. Teori Inhibisi

Pendekatan lain mempertimbangkan kalsifikasi terjadi pada tempat spesifik


karena adanya mekanisme penghambat pada tempat yang tidak terkalsifikasi.
Dimana kalsifikasi terjadi, rupanya penghambat diubah atau disingkirkan. Satu zat
penghambat yang mungkin adalah pyrophosphate ( mungkin polyhphosphate yang
lain ) dan diantara mekanisme pengontrol adalah enzim alkaline phosphate.
Pyrophosphate menhambat kalsifikasi dengan mencegah inisial nucleus
bertumbuh, kemungkinan dengan cara meracuni pusat pertumbuhan kristalkristal.

4. Kalkulus Pada Perokok


4.1.
Kandungan Rokok

Setiap kali menghisap sebatang rokok, beresiko terpapar 45 jenis bahan


kimia beracun. Sebenarnya terdapat lebih dari 200 unsur. Beberapa senyawa
penting namun berbahaya adalah lutidin, rubidin, formaldehide, asam karbolik,
metalimin, akreolit, colidi, viridin, arsenik, asamformik, nikotin, hidrogen sulfida,
pirel, furfurol, benzopiren, metil alkohol, asam hidrosianik, korodin, amonia,
metana, karbon monoksida, dan piridin.

1. Nikotin
Nikotin adalah obat perangsang ( stimulus drug ) yang biasa memberikan
rangsangan, ketagihan, perasaan senang sekaligus menyenangkan. Nikotin
berbentuk cairan, tidak berwarna, merupakan basa yang mudah menguap. Nikotin
berubah warna menjadi coklat dan berbau mirip tembakau setelah bersentuhan
dengan udara kadarnya dalam tembakau antara 12%.
Nikotin mendorong terjadinya adhesi platelet yang diasosiasikan dengan
penyakit kardiovaskuler dan hipertensi. Nikotin merupakan bahan yang
mempunyai aktifitas biologi yang poten yang akan menaikkan tingkat epinefrin
dalam danah, menaikkan tekanan darah,

menambah denyut jantung dan

menginduksi vasokonstriksi perifer. Nikotin selain dimetabolisme di hati, paruparu dan ginjal, juga diekskresi melalui air susu.
Nikotin dengan produk dekomposisi, khususnya pyridine merupakan
substansi penghasil stain yang sering terlihat pada gigi perokok. Unsur tersebut
akan membentuk deposit berpigmen yang melekat erat pada permukaan gigi,
berwarna coklat sampai hitam serta menimbulkan bau yang menyengat. Stain
selain menimbulkan problem estetik juga menyebabkan iritasi gingival dengan
menciptakan permukaan gigi yang kasar sehingga menunjang akumulasi dan
retensi plak.
Pada perokok berat, kadar nikotin dalam air susu dapat mencapai 0,5 mg/l.
Nikotin umumnya diyakini menyebabkan gejala akut yang berkembang setelah
merokok dan menyebakan terganggu kesehatannya apabila merokok terusmenerus.

2. Karbondioksida
Karbondioksida adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau.
Karbondioksida mengikat hemoglobin dalam darah

untuk membentuk

carboxyhemoglobin yang 2,1 kali lebih kuat daripada mengikat oksigen dengan
hemoglobin untuk membentuk oksihemoglobin. Karbondioksida tidak hanya
untuk hemoglobin, tetapi juga untuk banyak protein lainnya (Goldsmith et al
1958). Konsentrasi karbondioksida dalam asap rokok dari sekitar 2,9-5,1%. Asap
rokok ini mengandung gas dan bahan-bahan kimia yang bersifat racun atau
karsionogenik.
3. Tar
Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada
paru-paru. Tar adalah kumpulan dari ratusan bahkan ribuan bahan kimia dalam
komposisi padat asap rokok setelah dikurangi nikotin dan air. Tar ini mengandung
bahan-bahan karsinogen (dapat menyebabkan kanker).

Kandungan tar di

Indonesia berkisar antara 19-33 mg.

4.2.

Dampak Merokok

4.2.1.

Terhadap Mukosa Mulut

Merokok menyebabkan perubahan panas pada jaringan mukosa mulut. Initasi


kronis dan panas menyebabkan perubahan vaskularisasi dan sekresi kelenjar liur.
Rangsangan asap rokok yang lama dapat menyebabkan perubahan-perubahan
yang bersifat merusak bagian mukosa mulut yang terkena, yang bervariasi dan
penebalan menyeluruh bagian epitel mulut (smokers keratosis) sampai bercak
putih keratotik yang menandai leukoplakia dan kanker mulut. Leukoplakia
bervariasi dan lesi putih yang rata/halus sampai lesi yang tebal dan keras.
Tembakau merupakan penyebab keratosis yang paling sering dalam mulut. Pasien
sering kali mempunyai kebersihan mulut yang buruk dan berada pada dekade
kehidupan ke lima atau enam. Lebih sering menyerang pria daripada wanita dan

ada hubungan antara jumlah rokok dan jumlah serta keparahan lesi. Jumlah rokok
yang dihisap lebih penting daripada lamanya merokok. Kerentanan individu
tampaknya menjadi faktor yang penting dalam menentukan derajat dan sifat seta
hyperkeratosis.
4.2.2. Terhadap Kesehatan Mulut
Preber dan Kant (1973), meneliti efek merokok pada anak sekolah usia 15
tahun dan melaporkan terjadi peningkatan indeks kebersihan mulut pada perokok
bila dibanding dengan bukan perokok. Dan Pindborg et al. menyimpulkan bahwa
terdapat hubungan antara konsumsi tembakau dan deposisi ka1ku1us. Analisis
selanjutnya dan data yang sama oleh Kowalski menunjukkan bahwa bukan
perokok mempunyai kalkulus supragingival yang lebih kecil daripada bukan
perokok.
Penelitian-penelitian epidemiologis lainnya seperti oleh MacGregor dan
edgar yang melakukan pemeriksaan air liur dan menunjukkan terjadinya
peningkatan plak (prevelensi lebih tinggi pada supragingiva), deposisi
kalkulus,dan stain dalam rongga mulut yang lebih besar pada perokok daripada
bukan perokok.8
Merokok tampaknya memperburuk status kebersihan mulut seorang
individu dan bersama-sama dengan kebersihan mulut yang buruk, ia bertindak
sebagai ko-faktor untuk terjadinya gingivitis dan periodontitis.
4.2.3. Terjadinya Gingivitis
Beberapa penelitian kros-seksional menunjukkan bahwa pada perokok
dijumpai ambang inflamasi gingiva yang lebih rendah (sampai batas ambang plak
tertentu) dibanding bukan perokok. Pada penelitian ini digunakan indeks gingiva
dan evaluasi bleeding secara dikotomi pada probing. Selain itu hasil observasi
ternyata komposisi plak kurang begitu berbeda pada perokok dan bukan perokok.
Lebih lanjut, perkembangan inflamasi gingiva dalam merespons akumulasi plak
pada perokok kurang begitu menonjol dibandingkan bukan perokok.
4.2.4. Terjadinya Periodontitis

Berbagai penelitian bertujuan mengetahui keterkaitan kerusakan jaringan


periodontal dengan merokok. Melalui pengukuran probing depth, hilangnya
attachment klinis dan hilangnya tulang alveolar dapat diketahui bahwa keadaan
menjadi lebih prevalen dan lebih berat pada perokok dibanding kontrol yang
bukan perokok.
Perokok

memiliki

faktor

resiko

terjadinya

keparahan

kerusakan

periodontal daripada bukan perokok. Perokok menunjukkan 2-7 kali lebih


mungkin terjadinya peridontitis.10 Perokok juga memilki frekuensi rata-rata
kedalaman poket yang lebih dalam daripada bukan perokok yaitu PPD>4mm. 11
Tidak hanya itu kehilangan perlekatan, kehilangan tulang alveolar, kehilangan gigi
selama perawatan periodontal juga terjadi pada perokok Selama periode 10 tahun,
kehilangan tulang dilaporkan dua kali lebih cepat pada perokok dibandingkan
bukan perokok.

Mengapa kalkulus lebih banyak pada perokok

Analisa berdasarkan survei NHANES 1 menunjukkan bahwa perokok


termasuk kelompok dengan indeks plak dan kalkulus serta level penyakit
periodontal yang tinggi dibandingkan bukan perokok. Hal inilah yang
menyebabkan merokok sering dikaitkan sebagai faktor sekunder atau faktor
pendorong dalam menimbulkan kehilangan gigi dan tulang alveolar pada penyakit
periodontal.
Penelitian epidemiologi juga menunjukkan bahwa menurunnya kebersihan
rongga mulut perokok disertai dengan peningkatkan deposisi kalkulus, plak debris
dan stain tembakau. Pinborg, dkk menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara
konsumsi tembakau terhadap deposisi kalkulus. Analisa selanjutnya dengan data
yang sama oleh Kowalski juga menunjukkan bahwa bukan perokok mempunyai
kalkulus supragingiva jauh lebih rendah dibandingkan perokok.

Kalkulus lebih banyak pada perokok :


1. Mulut perokok kering (xerostomia)
Asap panas yang secara kontinu masuk ke dalam rongga mulut bertindak
sebagai stimulus panas dan menyebabkan perubahan dalam aliran darah serta
penurunan produksi saliva, akibatnya rongga mulut menjadi kering.
2. Stain pada gigi
Timbulnya staining pada permukaan gigi terjadi karena deposisi tar,
staining pada gigi mempermudah akumulasi plak karena terbentuknya permukaan

kasar akibat stain itu sendiri. Terbentuknya plak dan kalkulus yang meningkat,
berkaitan dengan akumulasi plak akibat terbentuknya permukaan kasar karena
staining pada gigi, sehingga memudahkan penyakit periodontal.
3. Peningkatan laju aliran saliva
Terdapat peningkatan laju aliran saliva dan konsentrasi ion Kalsium pada
saliva, selama proses merokok. Senyawa Kalsium fosfatase yang ditemukan pada
kalkulus supragingiva, berasal dari saliva. Hal tersebut dapat dijadikan dasar,
mengapa skor kalkulus pada perokok lebih tinggi dibanding bukan perokok.
4. Kenaikan pH saliva
Kenaikan pH saliva yang membuat suasana rongga mulut menjadi basa
dapat membentuk kristal-kristal yang menyimpang sehingga terjadi pembentukan
karang gigi atau kalkulus (Amerongen 1988).

5. Viskositas Saliva Terhadap Pembentukan Kalkulus

Kalkulus adalah lapisan keras yang terbentuk pada gigi dan sudah sejak lama
mempunyai hubungan dengan penyakit periodontal. Kalkulus jarang ditemukan
pada gigi susu dan gigi permanen pada usia muda. Oliver dkk., cit Dorothy
menyatakan bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap prevalensi dan
tingkat keparahan penyakit periodontal adalah kalkulus. Kalkulus adalah plak
yang mengalami kalsifikasi dan terbentuk tidak hanya pada permukaan gigi
namun juga pada permukaan restorasi dan gigi tiruan.
Penelitian oleh Collin dkk., menyatakan bahwa pembentukan kalkulus lebih
sering terjadi pada permukaan gigi yang terletak berdekatan dengan duktus saliva.
Faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kalkulus adalah pH, kalsium, fosfat,
laju aliran saliva dan viskositas saliva. Penelitian Carneiro dkk., mengenai karies,

plak supragingiva dan kalkulus di Tanga, Tanzania menyatakan bahwa prevalensi


kalkulus pada mahasiswa adalah sebanyak 56.9%. Kelenjar saliva mayor terdiri
dari kelenjar parotis, submandibularis, sublingualis dan kelenjar saliva minor
yaitu kelenjar lingualis, bukalis, labialis, palatinal dan glossopalatine. Cairan
saliva merupakan sekresi eksokrin yang terdiri dari 99% air, dan mengandung
berbagai elektrolit (natrium, kalium, kalsium, klorida, magnesium, bikarbonat,
fosfat) dan protein.
Saliva juga mengandung enzim, immunoglobulin, faktor antimikroba,
glikoprotein mukosa, albumin, beberapa polipeptida dan oligopeptida yang
penting bagi kesehatan rongga mulut. Kontribusi saliva dalam keadaan tidak
terstimulasi terdiri dari sekresi beberapa kelenjar yaitu 25% kelenjar parotis, 60%
kelenjar submandibula, 7% sampai 8% kelenjar sublingualis dan kelenjar saliva
minor.
Rerata jumlah laju aliran saliva bervariasi sepanjang hari, mengalami
peningkatan ketika makan dan menurun ketika tidur. Produksi saliva normal
masingmasing individu adalah antara 0,5 liter dan 1,5 liter/hari. Penelitian oleh
Patricia dkk., menyatakan bahwa laju aliran saliva dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti penyakit sistemik, obat-obatan dan dehidrasi.
Peran saliva di dalam rongga mulut adalah sebagai pelindung rongga mulut
karena saliva berperan sebagai pelumas, pelindung fisik, pembersih, buffering,
remineralisasi gigi dan antibakteri. Efisiensi saliva sebagai pelindung tergantung
pada viskositas saliva dan laju aliran saliva. Viskositas berhubungan erat dengan
laju aliran saliva. Viskositas saliva yang normal penting dalam membantu fungsi
bicara, mencerna makanan, mastikasi dan penelanan. Vikositas saliva dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti pH, kadar kalsium dan konsentrasi glikoprotein.
Penelitian oleh Hirotomi dkk., cit Yas menyatakan bahwa vikositas yang
meningkat akan menyebabkan penurunan laju aliran saliva.

Peneliti juga menyatakan bahwa peningkatan viskositas saliva juga merupakan


penyebab terjadinya penyakit periodontal. Namun hal ini bertentangan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Shannon dkk., cit Jin yang berpendapat bahwa
peningkatan laju aliran saliva akan menyebabkan pembentukan plak bakteri dan
kalkulus yang lebih banyak.

Umumnya, peningkatan viskositas saliva akan

menyebabkan penurunan dalam laju aliran saliva sehingga self-cleansing di dalam


rongga mulut menjadi kurang sempurna. Keadaan ini akan menyebabkan
penumpukan plak mudah terjadi dan akhirnya menyebabkan terbentuknya
kalkulus. Perbedaan pendapat ini membuat penulis tertarik melakukan penelitian
ini untuk mengetahui pengaruh vikositas dan laju aliran saliva terhadap
pembentukan kalkulus.
Pengaruh Viskositas Dan Laju Aliran Saliva Terhadap Pembentukan
Kalkulus
Secara klinis, viskositas saliva yang normal terlihat bening dan encer
sementara saliva yang kental atau bergelembung menunjukkan kadar viskositas
saliva yang tinggi. Menurut Shannon dkk., cit Inoue, viskositas saliva mempunyai
hubungan positif dengan peningkatan glikoprotein mucin-5 subtype B (MUC5B)
yaitu mucin dengan berat molekul yang tinggi/ high-molecular-weight mucin
(MG1). Penelitian yang dilakukan oleh Hiroko I dkk telah membuktikan bahwa
terdapat perbedaan viskositas dan jumlah mucin saliva pada hasil saliva
terstimulasi dan tidak terstimulasi.
Laju aliran saliva mempunyai hubungan yang erat dengan viskositas
saliva. Viskositas saliva yang lebih rendah akan meningkatkan laju aliran saliva,
sehingga didapatkan self-cleansing yang baik. Sebaliknya viskositas saliva yang
tinggi (kental/mukus) menyebabkan laju aliran saliva akan lebih rendah dan
terjadinya penurunan self-cleansing dalam rongga mulut. Keadaan ini akan
menyebabkan sisa makanan melekat pada permukaan gigi dan penumpukan plak
lebih mudah terjadi yang akhirnya terkalsifikasi menjadi kalkulus.8

Secara

umum, apabila viskositas saliva meningkat, laju aliran saliva dan efek selfcleasing rongga mulut akan berkurang. Akibatnya, penumpukan plak dan
pembentukan kalkulus supragingiva serta kalkulus subgingiva mudah terjadi.

Sebaliknya, penurunan viskositas akan menyebabkan laju aliran dan efek


selfcleansing rongga mulut meningkat serta penumpukan plak dan kalkulus lebih
sulit terjadi. Jumlah kalkulus yang semakin meningkat akan menyebabkan
terjadinya inflamasi dan kerusakan pada jaringan pendukung serta penyakit
periondontal lain seperti gingivitis dan periondontitis.
Umumnya, peningkatan viskositas saliva akan menyebabkan penurunan
dalam laju aliran saliva sehingga self-cleansing di dalam rongga mulut menjadi
kurang sempurna. Keadaan ini akan menyebabkan penumpukan plak mudah
terjadi dan akhirnya menyebabkan terbentuknya kalkulus.

Ada beberapa teori yang sudah diperkenalkan sehubungan mekanisme


mineralisasi plak awal.
a) Teori pertama menyatakan bahwa saliva dapat dianggap sebagai larutan jenuh
(supernaturasi) yang tidak stabil dari kalsium fosfat. Oleh karena tegangan karbon
dioksida / CO2 relatif lebih rendah di dalam mulut, CO2 akan keluar dari saliva
bersama dengan deposisi kalsium fosfat yang tidak mudah larut.
b) Selama tidur, aliran saliva berkurang dan amonik terbentuk dari urea saliva,
menaikkan pH yang memungkinkan terjadinya pengendapan kalsium fosfat.
c) Protein dapat mempertahankan konsentrasi kalsium yang lebih tinggi tetapi jika
saliva berkontak dengan gigi, protein akan dikeluarkan dari larutan dan
menyebabkan pengendapan kalsium dan fosfor
Laju aliran saliva mempunyai hubungan yang erat dengan viskositas saliva.
Viskositas saliva yang lebih rendah akan meningkatkan laju aliran saliva, sehingga
didapatkan self-cleansing yang baik. Sebaliknya viskositas saliva yang tinggi
(kental/mukus) menyebabkan laju aliran saliva akan lebih rendah dan terjadinya
penurunan self-cleansing dalam rongga mulut. Keadaan ini akan menyebabkan

sisa makanan melekat pada permukaan gigi dan penumpukan plak lebih mudah
terjadi yang akhirnya terkalsifikasi menjadi kalkulus.
Secara umum, apabila viskositas saliva meningkat, laju aliran saliva dan efek
self-cleasing rongga mulut akan berkurang. Akibatnya, penumpukan plak dan
pembentukan kalkulus supragingiva serta kalkulus subgingiva mudah terjadi.
Sebaliknya, penurunan viskositas akan menyebabkan laju aliran dan efek
selfcleansing rongga mulut meningkat serta penumpukan plak dan kalkulus lebih
sulit terjadi. Jumlah kalkulus yang semakin meningkat akan menyebabkan
terjadinya inflamasi dan kerusakan pada jaringan pendukung serta penyakit
periondontal lain seperti gingivitis dan periondontitis

Referensi

Hassan S A, Al Sandook T A. Salivary calcium concentration in patients with high


incidence of calculus formation. Al Rafidain Dent J 2005; 5: 88-90
Helderman, W.H.V.P., Veld J.H.J.H., Dirks O.B. 1993, Plak Gigi. In: IlmuKedokteran
Gigi Pencegahan, C.V EGC, Jakarta
Mangoenprasodjo & Hidayati. (2005). Hidup Sehat Tanpa Rokok. Yogyakarta: Pradipta
Publishing.
Manson, J.D., B.M. Elley 1993. Buku Ajar Periodonti (Outline Of Periodontics),
Hipokrates, Jakarta
Nanci, Antonio 2003, Ten Cate's Oral Histology: Development, Structure, and Function,
Ed. ke-6, Mosby Co., Missouri
Pejcic A., Obradovic R., Kesic L., and Kojovic D. Smoking and periodontal disease: A
review. Medicine and Biology 2007. 14(2): 53 9
Sinor Z. Association Between Salivary Parameters And Periodontal Disease.
International Medical Journal 1994; 20: 1-5.
Tarigan, R, 1995. Kesehatan Gigi dan Mulut. Cetakan Ke Empat, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Yuliharsini, Sri. 2008. Kegunaan dan Efek Samping Obat Kumur dalam Rongga Mulut.
Medan : USU-eRepository