Anda di halaman 1dari 16

33

BAB V
HASIL PENILAIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Indikator dan Tolak Ukur Keluaran Program
Program yang akan kami evaluasi adalah program Pemberantasan Penyakit
Menular (P2M). Alasan kami memilih program P2M adalah karena sejauh ini
penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan di Negara-negara tropis,
khususnya di Indonesia. Ruang lingkup program P2M di Indonesia terdiri dari
Imunisasi, Surveilence epidemiologi, TB, Malaria, Kusta, DBD, Penanggulangan
KLBISPA/Pneumonia, Filariasis, AFP, Diare, Rabies/Gigitan hewan penular
rabies (HPR), Kesehatan Matra (haji dan penanggulangan bencana), Frambusia,
Leptospirosis,dan HIV AIDS.
Langkah awal untuk dapat menentukan adanya masalah dari pencapaian
hasil keluaran (output) atau dampak (impact) adalah dengan menetapkan indikator
yang akan dipakai untuk mengukur keluaran atau dampak sebagai keberhasilan
dari suatu program kesehatan. Indikator yang digunakan dalam evaluasi program
P2M di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Kecamatan Pontianak
Utara tahun 2015 disusun berdasarkan sumber rujukan yang berasal dari laporan
pelaksana program P2M. Berikut adalah indikator keluaran dan tolak ukur
program tersebut di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara tahun 2015:
Tabel 5.1. Indikator dan Tolak ukur program
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Indikator
% Penemuan pasien baru TB BTA +
% Kesembuhan penderita TBC BTA+
% Penderita HIV/AIDS yang mendapatkan penanganan
% Infeksi Menular Seksual (IMS) yang diobati sesuai standar
% Penderita DBD yang ditangani
% Penemuan penderita diare yang ditangani

5.2. Identifikasi Masalah

Tolak Ukur/
Target (%)
75
>80
100
100
100
100

34

Identifikasi masalah dilakukan dengan mencari adanya kesenjangan antara


pencapaian program P2M di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara tahun
2015 dengan tolak ukur yang telah ditetapkan.
Tabel 5.2. Tabel identifikasi masalah
Tolak Ukur/

Capaian

Masalah

% Penemuan pasien baru TB BTA +


% Kesembuhan penderita TBC BTA+
% Penderita HIV/AIDS yang

Target (%)
75
>80
100

(%)
83,6
75
100

+
-

mendapatkan penanganan
% Infeksi Menular Seksual (IMS) yang

100

528,57

diobati sesuai standar


% Penderita DBD yang ditangani
% Penemuan penderita diare yang

100
100

100
43

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Indikator

ditangani

Berdasarkan data diatas, ada dua indikator P2M yang tidak tercapai yaitu: %
Kesembuhan penderita TB BTA+ dan Penemuan Penderita diare yang ditangani
ditemukan.
5.3. Penentuan Prioritas Masalah
Tidak tercapainya indikator menyebabkan kurang optimalnya keberhasilan
program di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara tahun 2015. Untuk
mencapai hasil maksimal semua permasalahan seharusnya dicari alternatif
pemecahannya, namun karena beberapa keterbatasan yang ada maka harus dipilih
prioritas masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Penentuan prioritas masalah dilakukan dengan teknik kriteria matriks
sederhana (criteria matrix technique). Pada teknik ini terdapat beberapa variabel,
yaitu:

1. Pentingnya masalah(Importancy) = I yang diukur berdasarkan:


a.

Besarnya masalah (Prevalence) = P

b.

Akibat yang ditimbulkan masalah (Severity) = S

35

c.

Kenaikan besarnya masalah (Rate of Increase) = RI

d.

Keinginan masyarakat tidak terpenuhi (Degree of Unmeet Need) = DU

e.

Keuntungan sosial karena selesainya masalah (Social Benefit) = SB

f.

Keprihatinan masyarakat (Public Concern) = PB

g.

Suasana politik (Political Climate) = PC

2. Kelayakan teknologi (Technical feasibility) = T


Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah, makin diprioritaskan masalah tersebut.
3. Ketersediaan sumber daya (Resources availability) = R
Sumber daya terdiri dari tenaga (man), dana (money), dan sarana
(material). Makin tersedia sumber daya yang dapat dipakai untuk mengatasi
masalah makin diprioritaskan masalah tersebut.
Semua variabel diberi nilai antara 1 (tidak penting) sampai dengan 5
(sangat penting). Penetapan prioritas masalah dilakukan dengan cara
mengalikan I, T dan R. Sedangkan nilai I dihitung dengan menambahkan
semua variabelnya. Lebih jelas rumus untuk menghitung prioritas masalah
dapat dilihat di bawah ini:
P (priority) = I x T x R
Tabel 5.3. Penentuan prioritas masalah
No
1

Indikator
DU SB

Daftar Masalah

RI

% Kesembuhan

Jumlah

PC

PB

(IxTxR)
405

288

penderita TBC
2

BTA+
% Penemuan
penderita diare
yang ditangani

Berdasarkan perhitungan di atas, maka dapat ditetapkan prioritas masalah


pada program P2M di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara adalah
persentase (%) Kesembuhan penderita TB BTA+.

36

Pada perhitungan yang kami lakukan, alasan memberikan nilai 2 pada


besarnya masalah (Prevalence) = P karena perbedaan selisih antara target dan
pencapaian masih kurang dari 20% yaitu 5%, karena menurut kami meskipun
angka selisih hanya 5% TB paru merupakan penyakit yang sangat menular. Untuk
S (Severity) yaitu akibat yang ditimbulkan masalah, kami memberikan nilai 5
karena penyakit TB merupakan penyakit yang tingkat morbiditas maupun
mortalitas tinggi.
Untuk RI (Rate of Increase) yaitu kenaikan besarnya masalah kami
memberikan nilai 4 karena terjadi penurunan capaian dari tahun 2014 ke 2015
sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai program apa yang kurang maksimal
pada tahun 2015, nilai 4 untuk keinginan masyarakat tidak terpenuhi (Degree of
Unmeet Need) = DU karena secara umum semua pasien ingin sembuh dari TB
paru yang mereka alami akan tetapi pada kenyataannya masih ada pasien yang
belum sembuh karena beberapa hal seperti kepatuhan dalam meminum obat,
dukungan keluarga dalam pengobatan, motivasi dari petugas kesehatan, dan lainlain.
Kami memberikan nilai 5 pada keuntungan sosial karena selesainya masalah
(Social Benefit) = SB, karena TB paru merupakan penyakit menular yang masih
memiliki stigma negatif di masyarakat. Selain itu TB paru juga merupakan
penyakit yang sangat menular. Dengan adanya kesembuhan penyakit TB maka
pasien tersebut dapat terhindar dari stigma negatif mengenai TB paru yang selama
ini masih melekat di masyarakat sehingga dapat kembali ke masyarakat dan dapat
menjalani kehidupan seperti sedia kala, selain itu adanya kesembuhan penyakit
TB dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas TB di masyarakat.
Kami memberikan nilai 2 pada keprihatinan masyarakat (Public Concern) =
PB karena sejauh ini masyarakat masih belum terlalu peduli mengenai TB paru.
Masyarakat cenderung apatis terhadap masalah pncegahan penyakit menular. Nilai
5 pada Suasana politik (Political Climate) PC = karena pada tahun 2015 WHO
menargetkan untuk menekan angka kejadian TB sampai 0%. Dengan dukungan
politik dari pemerintah berupa ketersedian OAT serta pendanaan untuk Program
TB diharapkan penyakit TB dari ditekan sampai serendah mungkin.

37

Kami memberikan nilai 5 untuk kelayakan teknologi (Technical feasibility)


= T karena secara umum alat-alat penunjang untuk pemeriksaan dan diagnosis TB
paru seperti mikroskop dan pewarnaan Ziehl Neelsen sudah tersedia. Nilai 3 untuk
Ketersediaan sumber daya (Resources availability) = R karena secara umum
sumber daya yang ada sudah lengkap seperti analis, perawat dan dokter, hanya
saja mereka masih merangkap tugas lain dan jumlahnya terbatas.
5.4. Identifikasi Faktor Penyebab Masalah
Sesuai

dengan

pendekatan

sistem,

ketidakberhasilan

pencapaian

pemeriksaan dahak pada penderita suspek tuberkulosis merupakan suatu


output/hasil yang tidak sesuai dengan target. Untuk mengatasinya, dengan
pendekatan sistem harus diperhatikan kemungkinan adanya masalah pada
komponen lain pada sistem, mengingat suatu sistem merupakan keadaan yang
berkesinambungan dan saling mempengaruhi.
Terdapat dua faktor utama yang mempengarui keberhasilan program yaitu,
faktor internal dan eksternal. Faktor internal antara lain:
1. Promosi Kesehatan
2. Pendanaan kegiatan
3. Pelaksana / SDM (Petugas kesehatan dan laboran)
4. Penetapan pasien suspek untuk dilakukan pemeriksaan BTA
5. Sarana-prasarana dan obat
Faktor eksternal antara lain :
1. Pengetahuan, sikap dan perilaku (PSP) masyarakat mengenai penyakit
tuberkulosis paru
2. Akses tempat pelayanan kesehatan
3. Balai Pengobatan swasta
Setelah mengetahui faktor atau masalah dominan, langkah berikutnya
adalah mencari akar masalah dalam hal ini kami mencari akar masalah dengan
menggunakan diagram fishbone.

38

Gambar 5.1. Diagram fishbone


Dari diagram fishbone di atas, masih perlu mencari penyebab-penyebab
masalah yang paling memiliki peranan dalam mencapai keberhasilan program.
5.4. Prioritas Penyebab Masalah
Tabel 5.4. Identifikasi penyebab masalah
No

1.

2.

Capaian

Indikator

Tolak Ukur

Pengetahuan Petugas

Petugas penyuluhan

Petugas penyuluhan

penyuluhan

memiliki

telah memiliki

mengenai pengawas

pengetahuan baik

pengetahuan baik

minum obat (PMO)

mengenai PMO

mengenai PMO

TB
Petugas kesehatan

Petugas terdiri atas

Hanya terdapat satu

dokter dan perawat

dokter dan satu

yang memiliki

perawat yang

tugas terfokus pada

bertanggung jawab,

program

dan masih memiliki

penanggulangan

tugas rangkap

dan pencegahan TB

bertanggung jawab
dengan program yang
lain, sehingga tidak
terfokus pada program

Masalah
-

39

penanggulangan dan

3.

4.

Persediaan Pot dahak

Persediaan OAT

Peralatan
5.

laboratorium
penunjang

Puskesmas

pencegahan TB
Puskesmas telah

memiliki

memiliki persediaan

persediaan pot

pot dahak untuk

dahak untuk

menampung sputum

menampung

penderita

sputum penderita
Puskesmas

Puskesmas memiliki

memiliki

persediaan OAT yang

persediaan OAT

lengkap

yang lengkap
Laboratorium

Laboratorium

puskesmas

puskesmas telah

memiliki

memiliki peralatan

mikroskop, reagen,

laboratorium

serta bahan dan alat

penunjang

penunjang

pemeriksaan TB

pemeriksaan

dengan lengkap

sputum BTA
lainnya dengan

6.

Pelatihan Petugas

lengkap
Petugas diberikan

Petugas diberikan

pelatihan mengenai

pelatihan mengenai

penanggulangan

penanggulangan dan

dan pencegahan TB

pencegahan TB

minimal 1 kali setahun


oleh Dinas Kesehatan
7.

Pengetahuan, sikap,

Masyarakat

Kota maupun Provinsi


Pengetahuan, sikap,

dan perilaku

memiliki

dan perilaku

masyarakat

pengetahuan, sikap,

masyarakat mengenai

mengenai Penyakit

dan perilaku yang

Penyakit TB masih

TB

baik mengenai

rendah, karena petugas

Penyakit TB

puskesmas selama ini

40

kurang berperan aktif


dalam penyuluhan
sehingga pasien jarang
melapor bila batuk
sudah lebih dari 2

Masyarakat

minggu
Pengetahuan, sikap,

memiliki

dan perilaku

pengetahuan, sikap,

masyarakat mengenai

dan perilaku yang

PMO TB masih

Pengetahuan, sikap,

baik mengenai

rendah, karena petugas

dan perilaku

PMO TB

puskesmas selama ini

masyarakat

kurang berperan aktif

mengenai PMO TB

dalam penyuluhan dan

kurang efektifnya
PMO yang bukan
berasal dari mantan

9.

10.

10.

Akses menuju

Puskesmas mudah

penderita TB
Puskesmas memiliki

dijangkau

akses yang mudah

puskesmas jauh

Balai pengobatan
swasta

Contact Tracing TB

dijangkau oleh
Balai pengobatan

masyarakat
Balai pengobatan

swasta

swasta tidak

berkoordinasi

berkoordinasi dengan

dengan Puskesmas

puskesmas dalam

dalam

penanggulangan

penanggulangan

pasien TB

pasien TB
Contact tracing

Contact Tracing TB

TB dilakukan

dilakukan pada

dengan maksimal

keluarga pasien yang


diketahui menderita
TB paru BTA + tetapi
belum maksimal

41

Berdasarkan data diatas, terdapat lima masalah yang menjadi faktor


penyebab masih rendahnya persentase (%) kesembuhan penderita TB BTA+, yaitu
faktor:
1. Petugas Kesehatan
2. Pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat mengenai Penyakit TB
3. Pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat mengenai PMO TB
4. Balai Pengobatan Swasta
5. Contact tracing TB
Dengan menggunakan model teknik kriteria matriks pemilihan prioritas
dapat dipilih masalah yang paling dominan.
5.5. Prioritas Penyebab Masalah
Tabel 5.5. Teknik kriteria matriks pemilihan prioritas penyebab masalah
P
4
4

S
4
5

RI
3
3

I
DU SB
2
1
4
2

500

balai 2

156

No

Daftar Masalah

1
2

Petugas Kesehatan
Pengetahuan,

PB
1
2

JUM

PC
1
4

4
5

3
4

IxTxR
192
500

sikap, dan
perilaku
masyarakat
mengenai
3

penyakit TB paru
Pengetahuan,
sikap,

dan

perilaku
masyarakat
mengenai

PMO

TB
4

Keterlibatan

pengobatan swasta
dalam

42

penanggulangan
TB
5

Contact Tracing TB 2

189

Setelah dilakukan pemilihan prioritas masalah, didapatkan penyebab dua


masalah yang ada yakni masalah pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat
mengenai PMO dan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat mengenai
penyakit TB paru itu sendiri.
Pertama, PMO merupakan salah satu faktor penting dalam proses
pengobatan dan kesembuhan pasien TB. Jika terdapat pasien yang didiagnosis TB
petugas puskesmas hanya memberikan edukasi kepada keluarga pasien untuk
menjadi PMO tetapi tidak ditindak lanjuti. Selain itu, layanan kesehatan TB paru
di UPTD Puskesmas Kecamatan Pontianak Utara hanya bersifat kuratif saja,
artinya hanya sekedar mengobati apabila ada pasien TB. Sedangkan untuk layanan
preventif sebagai tindakan pencegahan pasien putus obat, petugas hanya
mengingatkan pasien melalui telepon jika ada pasien yang tidak datang
mengambil obat sesuai jadwal. Jika pasien tetap tidak datang maka langkah
terakhir yang dilakukan petugas adalah melakukan kunjungan rumah untuk
membawakan obat dan mengingatkan secara langsung pasien mengenai
pentingnya kepatuhan minum obat sesuai jadwal.
Hal ini menunjukkan bahwa petugas hanya berfokus pada kepatuhan pasien
mengambil obat sesuai jadwal yang telah ditentukan. Padahal faktor terpenting
yang menunjang kesembuhan pasien TB, bukan hanya masalah mengenai
pengambilan obat yang sesuai jadwal, tapi juga mengenai kepatuhan minum obat
setiap harinya. Disinilah PMO memiliki peranan yang sangat penting untuk
memastikan pasien meminum obat tepat waktu setiap harinya.
PMO adalah seseorang yang ditunjuk dan dipercaya untuk mengawasi dan
memantau penderita tuberkulosis dalam meminum obat secara teratur dan tuntas.
PMO bisa berasal dari keluarga, tetangga, kader, tokoh masyarakat, ataupun
petugas kesehatan. Adapun Tugas seorang PMO adalah:

43

1. Mengawasi pasien TB paru agar menelan obat secara teratur sampai selesai
pengobatan, memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur,
mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah
ditentukan.
2. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB paru yang mempunyai
gejala-gejala mencurigakan TB paru untuk segera memeriksakan diri ke unit
pelayanan kesehatan/UPK.
3. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan pada pasien
dan keluarga. TB paru disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau
kutukan, TB paru dapat disembuhkan dengan berobat teratur, mengetahui cara
penularan TB paru, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahan serta
cara pemberian pengobatan pasien (Tahap intensif dan lanjutan). Selain itu juga
pentingnya pengawasan pasien berobat teratur dan kemungkinan terjadinya
efeksamping obat serta perlunya segera meminta pertolongan ke UPK.
Akan tetapi PMO hanya bekerja pada anggota keluarga atau pasien yang
mengidap TB paru sehingga untuk pasien-pasien yang mengidap gejala tersebut
tetapi tidak mengetahui mengenai penyakit TB paru itu sendiri dapat tidak
terdeteksi sehingga akan menjadi fenomena gunung es di masyarakat. Hal ini
dikarenakan penularan TB paru melalui droplet nuclei dapat menyebar secara
luas apabila masyarakat tidak mengetahui mengenai penyakit TB paru. Sehingga
terdapat masalah lain yaitu mengenai Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
masyarakat mengenai penyakit TB paru.
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibatukkan atau
dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara sekitar kita. Partikel
infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada
atau tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembapan. Dalam
suasana lembap dan gelap kuman dapat tahan berhari-hari hingga berbulanbulan. Bila partikel infeksi ini terisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada
saluran napas atau jaringa paru. Pengetahuan masyarakat yang kurang akan hal
ini akan memperluas penularan tuberculosis paru yang sangat luas apalagi bila
pasien yang mengalami infeksi TB paru sekunder local yang asimptomatik. Oleh
karena itu diperlukan pengetahuan masyarakat yang cukup agar pelaporan secara

44

mandiri mengenai TB paru khususnya pada kalangan pendidikan dan ekonomi


menengah kebawah dapat berjalan dengan aktif. Saat ini penyuluhan yang
dilakukan pada keluarga pasien yang diketahui mengidap TB paru dan hal
tersebut tidak selalu pasti dilakukan selain karena petugas kesehatan yang
terbatas dan merangkap jabatan, penggunaan layanan media informasi yang
kurang dapat ditangkap masyarakat juga menjadi alasan rendahnya tingkat
pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap penyakit TB paru.
1.7. Perencanaan

Penyelesaian

Masalah

dan

Penentuan

Alternatif

Penyelesaian Masalah
Prioritas penyebab masalah yang dipilih adalah pengetahuan, sikap, dan
perilaku masyarakat yang masih kurang mengenai PMO TB. Alternatif
pemecahan masalah yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
1. Penambahan

jumlah

tenaga

kesehatan

yang

bertugas

khusus

melaksanakan program penanggulangan dan pencegahan TB


a. Tujuan: Menempatkan tenaga kesehatan yang khusus menjalankan
program penanggulangan dan pencegahan TB secara lengkap dan
menyeluruh,
b. Sasaran: tenaga kesehatan (perawat, bidan)
c. Bentuk kegiatan: Puskesmas menunjuk satu sampai dua orang
petugasnya, khusus untuk menjalankan program penanggulangan dan
pencegahan TB, yang terdiri atas:
1) Pelacakan kasus baru penderita TB
2) Memberikan OAT secara teratur kepada penderita TB sesuai jadwal
3)
4)
5)
6)

yang telah ditentukan


Melakukan follow-up pengobatan secara rutin bagi penderita TB
Melaksanakan pelacakan dan edukasi kepada pasien mangkir berobat
Melakukan pembentukan dan pembinaan secara rutin terhadap PMO
Melakukan pembentukan dan pembinaan secara rutin terhadap

Koordinator PMO (KPMO)


d. Waktu kegiatan: Sepanjang masa kerja
e. Dana dan peralatan: Dana operasional puskesmas
2. Pembentukan kader PMO dan penyuluhan yang berasal dari mantan
pengidap TB paru

45

a. Tujuan: Meningkatkan motivasi penderita TB paru mengenai kepatuhan


meminum obat karena motivasi yang diberikan berasal dari orang yang
pernah meminum obat tersebut serta adanya peningkatan penyuluhan di
masyarakat oleh mantan penderita TB paru yang diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan masyarakat.
b. Sasaran: mantan penderita TB paru
c. Bentuk kegiatan: perekrutan kader dan pelatihan oleh pemegang program
TB paru
d. Waktu kegiatan: perekrutan dan pembinaan memerlukan waktu kira-kira
6 bulan
e. Dana dan peralatan: Dana operasional puskesmas, bantuan pemerintah
daerah atau dinas kesehatan

3. Mengoptimalkan program Contact Tracing TB


a. Tujuan: Mengoptimalkan program yang sudah dimiliki puskesmas agar
risiko penyebaran penyakit TB terutama yang dekat dengan pasien dapat
diketahui
b. Sasaran: Tenaga pelaksana program TB
c. Bentuk kegiatan: Setiap ditemukan pasien TB, petugas berperan aktif
untuk mendatangi rumah pasien dan memeriksa keluarga yang bertempat
tinggal sama dengan pasien serta 10 rumah di depan, disamping dan
dibelakang untuk mengoptimalkan program contact tracing TB
d. Waktu kegiatan: Sepanjang masa kerja
e. Dana dan peralatan: Dana operasional puskesmas, bantuan pemerintah
daerah atau dinas kesehatan
4. Pembuatan video penyuluhan mengenai Penyakit TB Paru
a. Tujuan: membuat penyuluhan dimasyarakat lebih dimengerti dan lebih
efisien dan efektif
b. Sasaran: masyarakat umum, dan tenaga kesehatan
c. Bentuk kegiatan:
1) Perekrutan kader yang memiliki pengetahuan mengenai media social
dan teknologi
2) Pengonsepan dan pembuatan video kreatif mengenai TB paru untuk
diputar disetiap penyuluhan atau bekerja sama dengan media
informasi untuk disebarluaskan

46

d. Waktu

kegiatan:

Pembentukan

dan

pembinaan

diperkirakan

membutuhkan waktu 3 bulan


e. Dana dan peralatan: Dana operasional puskesmas, bantuan pemerintah
daerah atau dinas kesehatan, dan dana swadaya masyarakat.
Penentuan prioritas penyelesaian masalah dilakukan untuk memilih
alternatif penyelesaian masalah yang paling menjanjikan. Sebelum melakukan
pemilihan sebaiknya dicoba memadukan berbagai alternatif penyelesaian masalah
terlebih dahulu. Bila tidak dapat dilaksanakan barulah dilakukan pemilihan. Cara
pemilihan yang dianjurkan adalah dengan menggunakan teknik kriteria matriks.
Kriteria yang dimaksud adalah:
1.

Efektifitas penyelesaian masalah


Cara ini dilakukan dengan memberikan nilai 1 untuk alternatif

penyelesaian masalah yang paling tidak efektif sampai nilai 5 untuk yang
paling efektif. Untuk menentukan efektifitas ini digunakan kriteria tambahan
sebagai berikut:
a.

Besarnya masalah yang dapat diselesaikan/M (magnitude)

b.

Pentingnya penyelesaian masalah, yang dikaitkan dengan


kelanggengan selesainya masalah/I (importance)

c.

Sensitivitas, yang dikaitkan dengan kecepatan dalam


menyelesaikan masalah/V (vulnerability)

2. Efisiensi penyelesaian masalah


Nilai efisiensi dikaitkan dengan biaya/C (cost) yang diperlukan untuk
melaksanakan penyelesaian masalah. Semakin besar biaya dianggap semakin
tidak efisien (dinilai sampai dengan 5), sedangkan makin kecil biaya dianggap
semakin efisien (diberi nilai 1). Prioritas didapat dengan membagi hasil
perkalian nilai M x I x V dengan nilai C. Penyelesaian masalah dengan nilai P
tertinggi adalah prioritas penyelesaian masalah yang dipilih.
Setelah dijelaskan mengenai alternatif penyelesaian masalah yang dapat
dilaksanakan maka langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas alternatif
penyelesaian masalah dengan menggunakan tabel matriks berikut.
Tabel 5.6. Penentuan prioritas alternatif penyelesaian masalah

47

Alternatif Penyelesaian
Masalah
Penambahan

jumlah

Efektivitas
I

Efisiensi

Jumlah

(C)
4

(M x I x V/C)
6,75

25

tenaga kesehatan yang


bertugas
melaksanakan

khusus
program

penanggulangan

dan

pencegahan TB

Pembentukan

kader

PMO
penyuluhan

dan
yang

berasal dari mantan


pengidap TB paru
Mengoptimalkan
program Contact tracing
TB
Pembuatan

video

mengenai penyakit TB
paru

Untuk nilai efektivitas (M), angka 5 diberikan pada alternatif ketiga. Angka
ini diberikan atas pertimbangan bahwa alternatif kedua akan dapat menyelesaikan
masalah lebih baik daripada alternatif yang lain. Pembentukan dan pembinaan
kader yang bertugas sebagai KPMO dan peyuluhan yang berasal dari mantan
penderita TB paru akan mempermudah masyarakat untuk memahami PMO dan
lebih percaya karena kader pernah mengalaminya. Selain itu pada saat penyuluhan
diharapkan kader-kader ini lebih aktif karena mereka sendiri pernah menderita
penyakit tersebut dan mengerti stigma dan bahaya dari TB paru.
Untuk nilai efektivitas (I), angka 5 adalah diberikan pada alternatif ketiga.
Alternatif kedua mendapat angka 5 karena dengan pembentukan dan pembinaan
kader yang optimal, akan membangun pondasi yang kuat pada kaderisasi dan
pembentukan PMO dan pembentukan pengetahuan di masyarakat semakin kuat

48

sehingga masalah PMO terselesaikan dan diharapkan angka pelaporan oleh


masyarakat secara mandiri mengenai suspek TB paru meningkat.
Untuk nilai efektivitas (V), angka 4 diberikan pada alternatif ketiga. Hal ini
dikarenakan alternatif ketiga dirasa akan lebih efektif karena selain berasal dari
penderita TB paru itu sendiri biaya reward dan pembentukan kader PMO akan
lebih murah dibanding biaya penambahan petugas sehingga Cost yang ditanggung
tidak terlalu tinggi (pemberian skor mengenai Cost=3).
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa
pembentukan dan pembinaan kader yang bertugas sebagai KPMO dan penyuluhan
yang berasal dari Mantan Penderita TB paru merupakan prioritas penyelesaian
masalah yang diharapkan dapat meningkatkan persentase (%) kesembuhan
penderita TB BTA (+) di UPTD Pontianak Utara. Apabila solusi ini terwujud
maka dengan pelatihan dan motivasi yang cukup kader ini dapat berjalan dan
masalah TB paru dimasyarakat diharapkan dapat ditekan.