Anda di halaman 1dari 4

27 April 2016

TUGAS RESUME TEORI AKUNTANSI


TEORI AKUNTANSI POSITIF
Deegan, C & Unerman, J (2006) Chapter 8
Nama : Talisa Noor Widya
NIM

: 145020304111011

Kelas : CE
A. Pendahuluan
Alasan mengapa organisasi menyediakan informasi akuntansi secara sukarela dijelaskan dalam
system-oriented theories, yang berasumsi bahwa organisasi dan pihak eksternalnya saling
mempengaruhi. Teori-teori tersebut meliputi (1) legitimacy theory, (2) stakeholder theory, dan (3)
institutional theory.
Kebijakan pengungkapan akuntansi (termasuk pengungkapan pertanggungjawaban sosial dan
pemilihan teknik akuntansi tertentu) merupakan strategi untuk mempengaruhi hubungan organisasi
dengan pihak eksternal.
B. Political economy theory (teori ekonomi politis)
Legitimacy theory dan stakeholder theory merupakan bagian dari political economy theory,
sedangkan institutional theory dapat dikaitkan dengan political economy theory.
Political economy berarti rerangka sosial, politis, dan ekonomis yang mana manusia hidup di
dalamnya. Masyarakat, politik, dan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Terdapat 2 aliran, yaitu:
Classical political economy: struktur masyarakat tidak setara; akuntansi digunakan sebagai cara

untuk mempertahankan posisi (kekayaan/kekuasaan) pihak yang mengendalikan sumber daya.


Bourgeouis political economy: dunia adalah pluralistik secara esensial (masyarakat berbeda-

beda), tidak secara eksplisit menekankan kelas pada masyarakat.


Stakeholder theory dan legitimacy theory berasal dari aliran classical political economy, sedangkan
institutional theory dapat diaplikasikan pada kedua aliran tersebut.
C. Legitimacy theory (teori legitimasi)
Legitimacy theory berpendapat bahwa organisasi ingin selalu memastikan bahwa mereka beroperasi
sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungannya sehingga terlihat dari pihak eksternal bahwa
mereka adalah organisasi yang legitimate/patuh terhadap norma.
1. Legitimasi, ekspektasi publik, dan kontrak sosial

Terdapat kontrak sosial, yaitu harapan publik mengenai bagaimana organisasi harus beroperasi,
misalnya terkait dampak lingkungan dan keselamatan kerja. Teori legitimasi menekankan bahwa
organisasi harus tampak mempertimbangkan hak publik secara keseluruhan, bukan hanya
investor. Kegagalan dalam memenuhi ekspektasi publik dapat berakibat pada sanksi sosial,
seperti pelarangan secara hukum, pembatasan sumber daya, dan boikot produk.
2. Legitimasi dan perubahan ekspektasi sosial
Ekspektasi masyarakat dapat berubah, dan organisasi harus dapat beradaptasi dengan cara ikut
berubah (atau setidaknya menyatakan secara eksplisit mengapa mereka tidak berubah).
Legitimasi organisasional adalah proses mempertahankan kongruensi antara ekspektasi
masyarakat dengan persepsinya tentang bagaimana organisasi bekerja.
Menurut Dowling dan Pfeffer (1975), organisasi dapat melegitimasi aktivitasnya dengan cara:
- Menyesuaikan output, tujuan, dan metode operasinya dengan ekspektasi sosial
- Berusaha meredefinisikan legitimasi sosial agar ia dapat sesuai dengan praktik organisasi
-

yang sekarang
Menjadikan dirinya dapat diidentifikasi dengan simbol, nilai, atau institusi yang memiliki

dasar legitimasi yang kuat.


Menurut Lindblom, ada 4 strategi yang dapat dilakukan organisasi untuk memperoleh atau
mempertahankan legitimasinya, yaitu:
- Mengedukasi dan menginformasikan kepada masyarakat mengenai perubahan aktual di
-

dalam kinerja organisasi


Mengubah persepsi masyarakat mengenai kinerja dan aktivitas organisasi, tetapi tidak
mengubah perilaku aktual organisasi (namun membuat pengungkapan dalam laporan

perusahaan seolah kinerja dan aktivitasnya mengalami perubahan)


Memanipulasi persepsi dengan cara mengalihkan perhatian dari isu yang sedang
dipermasalahkan ke isu lain yang terkait, sehingga tampak bahwa organisasi telah memenuhi

ekspektasi sosial pada bidang yang lain


Berusaha mengubah ekspektasi ekternal mengenai kinerja organisasi, dengan cara

menunjukkan bahwa ekspektasi sosial tersebut tidak beralasan.


3. Penggunaan laporan keuangan dalam strategi legitimasi
Pengungkapan publik seperti laporan keuangan dapat menjadi sarana bagi perusahaan untuk
mengimplementasikan strategi di atas, misalnya dengan menuliskan aktivitas CSR perusahaan,
namun tidak menuliskan tentang hal yang negatif seperti polusi atau kecelakaan kerja.
4. Pandangan korporat mengenai pentingnya kontrak sosial
2

Kebanyakan perusahaan setuju bahwa organisasi akan mendapatkan sanksi sosial apabila tidak
beroperasi sesuai dengan ekspektasi publik.
5. Legitimasi dan manajemen risiko reputasi
Ancaman terhadap legitimasi (reputasi) perusahaan dapat berimbas kepada menurunnya nilai
perusahaan. Inilah alasan pentingnya manajemen risiko reputasi, dengan cara mengungkapkan
aktivitas perusahaan yang sejalan dengan ekspektasi sosial.
6. Uji empiris atas teori legitimasi
Kebanyakan penelitian yang dilakukan tentang pengungkapan akuntansi memberikan hasil yang
sejalan dengan teori legitimasi, dimana pengungkapan pertanggungjawaban sosial dan
lingkungan lebih banyak dilakukan utamanya setelah ada insiden terkait isu sosial dan lingkungan
pada industri yang digeluti perusahaan. Contohnya, pengungkapan yang dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan minyak setelah insiden tumpahnya minyak di Alaska tahun 1989.
a. Studi tentang teori legitimasi dan pengungkapan keuangan
Pemerintah State of New York menggunakan GAAP untuk melegitimasi dirinya di hadapan
masyarakat dan pasar kredit. GAAP adalah simbol legitimasi.
b. Studi tentang perilaku manajerial terkait teori legitimasi
Media agenda setting theory berpendapat bahwa level pemberitaan isu tertentu di media akan
mempengaruhi level perhatian masyarakat terhadap isu tersebut. Manajer tidak selalu
membuat corporate social disclosure (CSD) untuk melegitimasi dirinya di hadapan publik
7. Membedakan teori legitimasi dengan Teori Akuntansi Positif
Teori legitimasi mirip dengan political cost hypothesis. Namun, teori legitimasi menekankan pada
kontrak sosial sebagai basisnya. Teori legitimasi tidak berasumsi bahwa semua orang bertindak
atas kepentingan pribadi, serta tidak berasumsi tentang efisiensi pasar.
D. Stakeholder theory
Stakeholder theory menjelaskan perilaku manajerial terkait CSD dipengaruhi oleh kelompokkelompok stakeholder (bukan masyarakat secara keseluruhan), dan ada pengaruh kekuatan dari
stakeholder yang berbeda.
Ada 2 cabang dalam stakeholder theory, yaitu cabang etis (normatif) dan manajerial (positif).
1. Cabang etis stakeholder theory
Perspektif moral dari teori ini adalah bahwa semua stakeholder harus diperlakukan sama untuk
dipenuhi haknya dan diberikan informasi mengenai bagaimana organisasi berdampak pada
mereka. Tanggung jawab perusahaan terhadap stakeholder haruslah karena dampak aktivitasnya
terhadap kehidupan stakeholder, bukan karena kekuatan ekonominya terhadap perusahaan.
3

Stakeholder adalah semua pihak yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian
organisasi (Freeman dan Reed, 1983). Menurut Clarkson, stakeholder terbagi menjadi 2 jenis
yaitu primer (yang tanpanya organisasi tidak dapat bertahan) dan sekunder (yang
dipengaruhi/mempengaruhi organisasi namun tanpanya organisasi masih dapat bertahan).
Menurut Gray, Owen, dan Adams, akuntabilitas meliputi 2 tanggung jawab, yaitu untuk
melakukan/tidak melakukan suatu kegiatan dan untuk menyediakan pertanggungjawaban atas
kegiatan tersebut. Model akuntabilitas ini menekankan bahwa pelaporan dilakukan atas dasar
tanggung jawab, bukan permintaan.
2. Cabang manajerial stakeholder theory
Perspektif manajerial menekankan bahwa perusahaan cenderung memeuhi ekspektasi stakeholder
yang memiliki pengaruh yang paling kuat terhadapnya. Pengaruh tersebut dapat berupa modal,
akses terhadap media, lobi pemerintah, dll. Informasi (akuntansi maupun aksi sosial) merupakan
elemen

yang

dapat

dikontrol

oleh

organisasi

agar

stakeholder

dapat

memberikan

dukungan/persetujuan.
3. Uji empiris atas stakeholder theory
Berbagai penelitian dilakukan untuk menguji perspektif manajerial stakeholder theory untuk
mengetahui pengaruh kekuatan stakeholder dan kebutuhan informasinya terhadap level dan tipe
CSD.
E. Institutional theory
Teori institusional menjelaskan bagaimana mekanisme penyesuaian praktik dan karakteristik
organisasi dengan nilai sosial dan budaya yang berlaku diinstitusionalisasikan di sebuah organisasi. 2
dimensi teori institusional: isomorphism dan decoupling.