Anda di halaman 1dari 93

FIQH KONTEMPORER-TRANSPALANTASI TUBUH,

TRANFUSI DARAH, DAN BANK ASI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Berbagai ragam permasalahan yang muncul ditengah-tengah masyarakat,
baik yang menyangkut masalah ibadah, aqidah, ekonomi, sosial, sandang, pangan,
kesehatan dan sebagainya, seringkali meminta jawaban kepastiannya dari sudut
hukum. Dalam kondisi yang demikian, maka berkembanglah salah satu disiplin
ilmu yang dinamakan Masail Fiqhiyyah. Berbagai masalah yang dibicarakan
dalam ilmu ini biasanya amat menarik, unik dan sekaligus problematik. Hal ini
terjadi karena untuk menjawab berbagai masalah tersebut telah bermunculan
beragam jawaban yang disebabkan karena latar belakang pendekatan dan sistem
pemecahan yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi dalam pengambilan
keputusan hukum.
Dengan perkembangan pengetahuan, dan berkembangnya teknologi yang
sangat jauh berbeda dengan perkembangan pada masa perkembangan Islam pada
masa itu. Dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sampailah
kepada bidang kedokteran, tidak hanya dibidang informatika, atau sains,
melainkan bidang kedokteranpun menggunakan teknologi yang amat canggih
untuk masa sekarang. Jadi tidak heran jika ada perbedaan tingkah laku mengenai
penanganan para ahli bidang kesehatan dengan memanfaatkan perkembangan
teknologi seperti transplantasi tubuh, transfusi darah dan bank ASI, yang mana
jika di lihat dari kacamata Hukum Islam mengandung banyak petanyaan apakah
hal semacam itu diperbolehkan ataukah di larang oleh hukum Agama
Dengan latar belakang inilah penulis ingin membahas lebih lanjut tentang
Transplantasi Tubuh, Transfusi Darah, dan Bank ASI yang mana ketiga sub
tema tersebut merupakan kelahiran baru yang berawal dari perkembangan

pengetahuan, karena sebelumnya tidak ditemukan khususnya pada masa


Rasulullah atau pada masa Sahabat.
B. Batasan Masalah.
1.
2.
3.
4.
5.

Pengertian Tranplantasi tubuh, tranfusi darah, dan bank ASI.


Tujuan Tranplantasi dan tranfusi darah secara medis.
Hukum Tranplantasi berdasarkan kondisi si donor dalam syariat islam.
Menjelaskan hukum tranfusi darah dan fenoena sosial hari ini.
Hukum bank ASI dalam syariat islam dikaitkan dengan kemaslahatan terhadap
perkawinan.

C. Tujuan.
Makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan kita sebagai mahasiswa
tentang apa itu tranplantasi tubuh, tranfusi darah, dan bank ASI beserta hukum
nya dalam pandangan islam.

BAB II
PEMBAHASAN
TRANSPLANTASI TUBUH, TRANFUSI DARAH, DAN BANK ASI
A. Pengertian Tranplantasi Tubuh, Tranfusi Darah, dan Bank Asi.
1. Pengertian Tranplantasi Tubuh.
Transplantasi berasal dari bahasa Inggris to transplant, yang berarti to
move from one place to another, bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Menurut Taylor (1965:1065) transplantasi berasal dari bahasa Inggris, yakni
transplantation brntuk noun dari kata kerja to tranplants yang berarti to take up
and plant to another (mengambil dan menempelkan pada tepat lain.
Adapun pengertian menurut ahli ilmu kedokteran, transplantasi itu ialah:
Pemindahan jaringan atau organ dari tempat satu ke tempat lain. Yang dimaksud
jaringan di sini ialah: Kumpulan sel-sel (bagian terkecil dari individu) yang sama

mempunyai fungsi tertentu, atau Transplantasi ialah pemindahan organ tubuh


yang masih mempunyai daya hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang
tidak sehat dan tidak berfungsi lagi dengan baik. Pencangkokan organ tubuh yang
menjadi pembicaraan pada waktu ini adalah: mata, ginjal dan jantung, karena
ketiga organ tubuh tersebut sangat penting fungsinya untuk manusia, terutama
sekali ginjal dan jantung. Mengenai donor mata pada dasarnya dilakukan, karena
ingin membagi kebahagiaan kepada orang yang belum pernah melihat keindahan
alam ciptaan Allah ini, ataupun orang yang menjadi buta karena penyakit. Para
donor yang kita kenal sekarang ini lebih banyak dari kalangan orang yang sudah
meninggal dunia dan tidak banyak dari orang yang masih hidup.1[1]
Sedangkan transplantasi dalam literatur Arab kontemporer dikenal dengan
istilah naql al-ad{a atau juga disebut dengan zaru al-ad{a. Kalau dalam
literatur Arab klasik transplantasi disebut dengan istilah al-was} (penyambungan).
Adapun pengertian transplantasi secara terperinci dalam literatur Arab klasik dan
kontemporer sama halnya dengan keterangan ilmu kedokteran di atas. Sedang
transplantasi di Indonesia lebih dikenal dengan istilah pencangkokan
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tranplantasi tubuh
adalah suatu proses pemindahan salah satu organ tubuh seseorang kepada orang
lain yang tidak memiliki daya hidup secara optimal setelah menjalani prosedur
pengobatan secara medis maupun non medis.
Pembagian Transplantasi
Melihat dari pengertian di atas, Djamaluddin Miri membagi transplantasi
itu pada dua bagian
a) Transplantasi jaringan seperti pencangkokan kornea mata
b) Transplantasi organ seperti pencangkokan organ ginjal, jantung dan sebagainya.
Melihat dari hubungan genetik antara donor (pemberi jaringan atau organ
yang ditransplantasikan) dari resipien (orang yang menerima pindahan jaringan
atau organ), ada tiga macam pencangkokan 2[2]:
1
2

1) Auto transplantasi, yaitu transplantasi di mana donor resipiennya satu individu.


Seperti seorang yang pipinya dioperasi, untuk memulihkan bentuk, diambilkan
2)

daging dari bagian badannya yang lain dalam badannya sendiri.


Homo transplantasi, yakni di mana transplantasi itu donor dan resipiennya
individu yang sama jenisnya, (jenis di sini bukan jenis kelamin, tetapi jenis
manusia dengan manusia). Pada homo transplantasi ini bisa terjadi donor dan
resipiennya dua individu yang masih hidup, bisa juga terjadi antara donor yang

telah meninggal dunia yang disebut cadaver donor, sedang resipien masih hidup.
3) Hetero transplantasi ialah yang donor dan resipiennya dua individu yang
berlainan jenisnya, seperti transplantasi yang donornya adalah hewan sedangkan
resipiennya manusia.
Pendapat Ulama Tentang Transplantasi
Para ulama fiqh (pakar hukum Islam) klasik sepakat bahwa menyambung
organ tubuh manusia dengan organ manusia boleh selama organ lainnya tidak
didapatkan. Sedangkan pakar hukum Islam kontemporer berbeda pendapat akan
boleh dan tidaknya transplantasi organ tubuh manusia. Berikut ini pernyataan para
pakar hukum Islam klasik dan kontemporer:
Imam al-Nawawi (w. abad VI) dalam karyanya Minhaj al-Talibin
mengatakan.
Jika seseorang menyambung tulangnya dengan barang yang najis
karena tidak ada barang yang suci maka hukumnya udhu>r (tidak apa-apa).
Namun, apabila ada barang yang suci kemudian disambung dengan barang yang
najis maka wajib dibuka jika tidak menimbulkan bahaya, dikatakan jika
membahayakan atau (menimbulkan) kematian maka tidak mengambilnya (tulang
tersebut) itu dibolehkan
Zakariya al-Ansari (abad IX) dalam karyanya Fathu al-Wahhab Sharh
Manhaj al-Tullab, kitab Manhaj al-Tullab merupakan kitab ringkasan dari kitab
Minhaj al-Talibin karya imam al-Nawawi (w. abad VI). Zakariya mengatakan.
Jika ada seseorang melakukan penyambungan tulangnya atas dasar
butuh dengan tulang yang najis dengan alasan tidak ada tulang lain yang cocok.
Maka hal itu, diperbolehkan dan sah sholatnya dengan tulang najis tersebut.
Kecuali, jika dalam penyambungan itu tidak ada unsur kebutuhan atau ada

tulang lain yang suci selain tulang manusia maka ia wajib membuka (mencabut)
kembali tulang najis tersebut walaupun sudah tertutup oleh daging. Dengan
catatan,

jika

proses

pengambilan

tulang

najis

tersebut

aman

(tidak

membahayakan) dan tidak menyebabkan kematian.


Al-Bujayrami, dalam komentarnya atas ibarah (teks) kitab Fathu alWahhab di atas, mengatakan bahwa tidak diperbolehkannya menyambung tulang
dengan tulang manusia, jika yang lain masih ada walaupun tulangnya hewan yang
najis seperti celeng dan anjing. Oleh karena itu, jika yang lain baik yang suci
maupun yang najis tidak ada, maka menyambung tulang dengan tulang manusia
itu hukumnya boleh.
Pakar hukum Islam kontemporer dalam masalah transplantasi boleh dan
tidaknya ada dua pendapat :
Pertama, Ibn Baz ulama dari Saudi Arabia mengatakan bahwa praktek
transplantasi anggota tubuh manusia kepada manusia lainnya yang dilakukan atas
dasar kemaslahatan pada orang lain itu tidak boleh berdasarklan hadith Nabi saw.

..
Merusak tulang orang mati hukumnya sama dengan merusak tulang
orang hidup.
Hadith tersebut menunjukkan bahwa manusia itu muhtaramah (mulya)
hidup dan matinya dan kalaupun si mayyit mewasiatkan anggota tubuhnya untuk
diberikan kepada orang lain, maka wasiat itu tidak sah karena manusia tidak
mempunyai (hak atas) tubuhnya sendiri dan ahli waris hanya menerima warisan
dari mayyit harta peninggalan saja bukan termasuk di dalamnya (warisan) anggota
tubuh mayyit.
Kedua, berbeda dengan Ibn Baz para pakar hukum Islam kontemporer di
antaranya Qardawi, al-Buti, Abd Allah Kanun dan Abd Allah al-Faqih yang
mengatakan bahwa praktek transplantasi boleh dan kebolehannya itu bersifat
muqayyad (bersyarat). Seseorang tidak boleh mendonorkan sebagian organ
tubuhnya yang justru akan menimbulkan bahaya, kesulitan dan kesengsaraan bagi

dirinya atau bagi seseorang yang punya hak tetap atas dirinya misalnya suami atau
orang tua. Qardawi dalam fatwanya mengatakan3[3]:
Ada yang mengatakan bahwa diperbolehkannya seseorang mendermakan
atau mendonorkan sesuatu ialah apabila itu miliknya. Maka, apakah seseorang
itu memiliki tubuhnya sendiri sehingga ia dapat mempergunakan sekehendak
hatinya, misalkan mendodnorkannya. Lanjut Qardawi, perlu diperhatikan bahwa
meskipun tubuh merupakan titipan dari Allah, tetapi manusia diberi wewenang
untuk memanfaatkan dan mempergunakannya, sebagaimana harta.

anamiagabeS 33 : ruN-na tarus malaD .TWS hallA


namrif
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian
(diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budakbudak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat
perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan
berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya
kepadamu. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan
pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, Karena kamu hendak
mencari keuntungan duniawi. dan barangsiapa yang memaksa mereka, Maka
Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada
mereka) sesudah mereka dipaksa itu.
Sebagaimana manusia boleh mendermakan sebagian hartanya untuk
kepentingan orang lain yang membutuhkannya, maka diperkenankan juga
seseorang

mendermakan

sebagian

tubuhnya

untuk

orang

lain

yang

memerlukannya. Hanya saja perbedaannya adalah bahwa manusia adakalanya


boleh mendermakan atau membelanjakan seluruh hartanya, tetapi dia tidak boleh
mendermakan seluruh anggota badannya. Bahkan ia tidak boleh mendermakan
dirinya (mengorbankan dirinya) untuk menyelamatkan orang sakit dari kematian,
dari penderitaan yang sangat atau dari kehidupan yang sengsara.
Sementara hasil keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama sebagaimana
termaktub dalam ahkamul fuqaha mengatakan bahwa pecangkokan organ tubuh
manusia ada yang membolehkan dengan syarat : Karena diperlukan, dengan
ketentuan tertib pengamanan dan tidak ditemukan selain organ tubuh manusia itu.
3

Dari penjelasan di atas bahwa transpslntasi dalam hukum Islam terdapat


perselisihan pendapat dalam hal ini ada yang melarang praktek tersebut secara
mutlak berdasarkan hadith Nabi saw dan dalil aqli bahwa anggota tubuh manusia
bukan milik manusia sendiri melainkan hanya titipan Allah yang harus dijaga
hidup dan mati.
Sementara pakar hukum Islam lainnya mengatakan boleh dengan beberapa
syarat seperti dijelaskan di atas, kalau tidak memenuhi syarat-syaratnya maka
hukumnya sebagaimana pendapat pertama yaitu tidak boleh.
Termasuk syarat yang memperbolehkan praktek transplantasi menurut
banyak pakar hukum Islam yaitu bahwa praktek tersebut dilakukan dengan hibah
(pemberian) tanpa adanya jual beli di antara dua pihak pendonor dan resipien
namun ada pendapat yang mengatakan bahwa praktek transplantasi boleh
dilakukan dengan jual beli.
Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, dalam bukunya Masail Fiqhiyah
menyebutkan kriteria boleh dan tidaknya transplantasi dalam pandangan Islam:
Pertama; apabila pencangkokan dilakukan atau diambil dari donor yang
masih hidup maka Islam tidak membenarkannya. Dasarnya adalah :
Surat Al-Baqarah ayat 195
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik
Ayat di atas menunjukkan manunusia agar tidak gegabah dalam berbuat
sesuatu yang bisa berakibat fatal bagi dirinya, sekalipun hal tersebut mempunyai
tujuan kemanusiaan.
Kaidah hokum Islam

.
.
Menghindari kerusakan/resiko didahulukan atas menarik kemaslahatan

Bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya lainnya

Kedua; apabila pencangkokan diambil dari donor yang dalam keadaan


koma atau hamper dipastikan meninggal, maka Islam pun tidak membenarkannya.
Dasarnya adalah:
Hadits Nabi riwayat Malik dari Anas bin Yahya



"Tidak boleh membikin madhlarat pada dirinya dan tidak boleh membikin
madhlarat pada orang lain".
Ketiga; apabila pencangkokan diambilkan dari donor yang sudah
meninggal secara kliniks dan yuridis, maka Islam membolehkannya dengan syarat
:
a. Dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkannya
b. Pencangkokan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih
gawat bagi resepien.
Dasarnya adalah :
Al Quran surat al-Maidah ayat 32
dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolaholah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya
Hadits Nabi SAW




.
berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya
Allah tidak meletakkan sesuatu penyakit, kecuali Dia meletakkan obat
penyembuhnya, selain penyakit yang satu yaitu penyakit tua (pikun) (Hadits
riwayat Ahmad bin Hambal, Al-Tirmidzi, Abu Daud, Al-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu
Hibran dan Al-Hakim dari Usamah bin Syarik)
Kaidah hokum Islam



Bahaya itu harus dilenyapkan atau dihilangkan

2. Pengertian Tranfusi Darah.


Menurut Dr.Rustam Masri, transfusi darah adalah proses pekerjaan
memindahkan darah dari orang yang sehat kepada orang yang sakit, yang
bertujuan untuk :
a.

menambahkan jumlah darah yang beredar dalam badan orang yang sakit yang
darahnya berkurang karena sesuatu sebab, misalnya pendarahan, operasi,

b.

kecelakaan dan sebab lainnya.


menambah kemampaun darah dalam badan si sakit untuk menambah atau
membawa zat asam atau O2.
Dr. Ahmad Sopian memberikan pengertian, bahwa transfusi darah adalah
memasukkan darah orang lain ke dalam pembuluh yang akan di tolong.
Tranfusi darah (blood tranfusi, bahasa Belanda), ialah meindahkan darah
dari seseorang kepada orang lain untuk menyelamatkan jiwanya. Tranfusi darah
adalah memanfaatkan darah manusia dengan cara memindahkannya dari tubuh
orang yang sehat kepada orang yang membutuhkannya, untuk mempertahankan
hidupnya.
Dengan demikian, transfusi darah itu tiada lain adalah suatu cara
membantu pengobatan yang sudah ada dan darah hanya membantu saja sebagai
salah satu pelengkap daripada metode pengobatan. Namun demikian perlu
diperhatikan lagi, bahwa transfusi darah itu bukanlah pekerjaan yang tanpa risiko
dan mungkin merupakan suatu pekerjaan yang banyak risikonya bagi si sakit.
Hubungan Antara Donor Dan Resipien (Penerima)
Adapun hubungan antara donor dan resipien (penerima) setelah terjadi
transfusi darah, tidak membawa akibat hukum ada hubungan kemahraman (haram
kawin), umpamanya di pandang sebagai saudra sepersusuan. Sebab, faktor-faktor

yang dapat menyebabkan kemahramannya, sudah ditentukan dan ditetepkan oleh


agama islam sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An-Nisa 23.
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang
perempuan saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu
yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak
perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari
saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara
perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang
dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu
belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak
berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak
kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan
yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dari ayat tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :4[4]
1)

Mahram karena ada hubungan nasab. Misalnya hubungan antara anak dengan

ibunya atau saudaranya sekandung/sebapak seibu.


2)
Mahram karena ada hubungan perkawinan. Misalnya hubungan seseorang
dengan mertuanya, anak tiri dari isterinya yang telah dicampurinya.
3) Mahram karena ada hubungan persusuan. Misalnya hubungan seseorang dengan
wanita yang pernah menyusuinya atau dengan orang yang sepersusuan.
Dengan demikian jelas, bahwa transfusi darah tidak mengakibatkan
hubungan kemahraman antara donor dengan resipien (penerima). Karena itu jika
si donor dengan resipien ingin mengadakan hubungan perkawinan, maka tidak
ada larangan dalam agama islam.
Pandangan Agama Islam
Agama

Islam

tidak

melarang

seorang

muslim

atau

muslimah

menyumbangkan drahnya untuk tujuan kemanusiaan dan bukan komersial. Darah


itu dapat disumbangkan secara langsung kepada yang memerlukannya, seperti
4

untuk keluarga sendiri, atau diserahkan kepada Palang Merah Indonesia atau bank
darah untuk disimpan dan sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menolong orang
yang memerlukan, apakah seagama atau tidak. Para resipien sebaiknya tidak usah
mempertanyakan tentang donor, apakah seagama dengan dia atau tidak. Demikian
juga sebaliknya si donor pun tidak usah mempersoalkan tentang penggunaan
darah tersebut. Apabila hal ini dipersoalkan, maka akan mengalami kesukaran
bagi

pengelola

(Palang

merah),

karena

penggunaan

darah

itu

harus

memperhatikan juga golongan darah yang menerimanya.


hukum donor darah itu diperbolehkan, karena tidak ada dalil yang
melarangnya, baik dari Al-Qur'an maupun hadits. Namun demikian tidak berarti,
bahwa kebolehan itu dapat dilakukan tanpa syarat, bebas lepas begitu saja. Sebab
bisa saja terjadi, bahwa sesuatu yang pada awalnya diperbolehkan, tetapi karena
ada hal-hal yang dapat membahayakan resipien, maka akhirnya menjadi terlarang.
Umpamanya saja, donor dalam keadaan berpenyakit menular seperti AIDS dan
penyakit-penyakit lainya (yang dapat menular via darah), maka transfusi darah
menjadi terlarang. oleh sebab itu, sebelum para donor memberikan darahnya,
harus dperiksa lebih dahulu (bagi yang diduga ada penyakitnya).5[5]
3. Pengertian Bank ASI.
Bank ASI, yaitu suatu sarana yang dibuat untuk menolong bayi-bayi yang
tidak terpenuhi kebutuhannya akan ASI. Pendapat lain mengatakan bahwa Bank
ASI adalah bank khusus untuk menampung air susu ibu atau suatu lembaga untuk
menyimpan atau menghimpun air susu ibu.
Air susu ibu (ASI) adalah makanan yang terbaik bagi bayi, karena
pengelolaannya telah berjalan secara alami dalam tubuh si ibu. Sebelum anak
5

lahir, makanannya telah dipersiapkan lebih dahulu. Begitu anak itu lahir, air susu
ibu telah dapat dimanfaatkan. Demikian kasih sayang Allah terhadap makhluknya.
Pada akhir-akhir ini, pemerintah selalu menghimbau kepada kaum ibu,
supaya persediaan makanan yang ada pada diri si ibu itu, jangan disia-siakan
kemudian menggantinya dengan makanan yang lain.
Menggunakan makanan lain seperti susu dan tepung yang telah khusus
untuk bayi, sebenarnya tidak dilarang tetapi sebagai makanan tambahan. Air susu
ibu, adalah makanan yang terpokok yang khusus dipersiapkan untuk si bayi dan
ASI itu sudah pasti cocok untuk bayi itu. Berbeda dengan makanan lainnya, perlu
ada penyesuaian, sebab ada kalanya si bayi itu mencret, atau muntah-muntah,
yang mengakibatkan bayi itu sakit.
Hukum Bank ASI
Ulama berbeda pandangan dalam menentukan hukum berdirinya BANK
ASI. Setidaknya ada tiga pandangan mengenai hal ini:
Pendapat Pertama menyatakan bahwa mendirikan bank ASI hukumnya
boleh. Di antara alasan mereka sebagai berikut: Bayi yang mengambil air susu
dari bank ASI tidak bisa menjadi mahram bagi perempuan yang mempunyai ASI
tersebut, karena susuan yang mengharamkan adalah jika dia menyusu langsung
dengan cara menghisap puting payudara perempuan yang mempunyai ASI,
sebagaimana seorang bayi yang menyusu ibunya. Sedangkan dalam bank ASI,
sang bayi hanya mengambil ASI yang sudah dikemas.
Ulama besar semacam Prof.Dr. Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa dia
tidak menjumpai alasan untuk melarang diadakannya Bank ASI. Asalkan
bertujuan untuk mewujudkan mashlahat syariyah yang kuat dan untuk memenuhi
keperluan yang wajib dipenuhi.
Beliau cenderung mengatakan bahwa bank ASI bertujuan baik dan mulia,
didukung oleh Islam untuk memberikan pertolongan kepada semua yang lemah,
apa pun sebab kelemahannya. Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah bayi
yang baru dilahirkan yang tidak mempunyai daya dan kekuatan.
Beliau juga mengatakan bahwa para wanita yang menyumbangkan
sebagian air susunya untuk makanan golongan anak-anak lemah ini akan

mendapatkan pahala dari Allah SWT, dan terpuji di sisi manusia. Bahkan
sebenarnya

wanita

itu

boleh

menjual

air

susunya,

bukan

sekadar

menyumbangkannya. Sebab di masa Nabi (Muhammad) s.a.w., para wanita yang


menyusui bayi melakukannya karena faktor mata pencaharian. Sehingga
hukumnya memang diperbolehkan untuk menjual air susu.
Bahkan Al-Qardhawi memandang bahwa institusi yang bergerak dalam
bidang pengumpulan air susu itu yang mensterilkan serta memeliharanya agar
dapat dinikmati oleh bayi-bayi atau anak-anak patut mendapatkan ucapan terima
kasih dan mudah-mudahan memperoleh pahala.
Selain Al-Qaradhawi, yang menghalalkan bank ASI adalah Al-Ustadz AsySyeikh Ahmad Ash-Shirbasi, ulama besar Al-Azhar Mesir. Beliau menyatakan
bahwa hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu harus
melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua orang saksi
wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.6[6]
Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak
mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak
bayi tersebut.
Pendapat Kedua menyatakan bahwa mendirikan Bank ASI hukumnya
haram. Alasan mereka bahwa Bank ASI ini akan menyebabkan tercampurnya
nasab, karena susuan yang mengharamkan bisa terjadi dengan sampainya susu ke
perut bayi tersebut, walaupun tanpa harus dilakukan penyusuan langsung,
sebagaimana seorang ibu yang menyusui anaknya.
Di antara ulama kontemporer yang tidak membenarkan adanya Bank ASI
adalah Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhayli. Dalam kitab Fatawa Muashirah, beliau
menyebutkan bahwa mewujudkan institusi bank susu tidak dibolehkan dari segi
syariah.
Demikian juga dengan Majma al-Fiqih al-Islamiy melalui Badan
Muktamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 2228 Desember 1985
M./1016 Rabiul Akhir 1406 H.. Lembaga ini dalam keputusannya (qarar)
6

menentang keberadaan bank air susu ibu di seluruh negara Islam serta
mengharamkan pengambilan susu dari bank tersebut.
Pendapat Ketiga menyatakan bahwa pendirian Bank ASI dibolehkan jika
telah memenuhi beberapa syarat yang sangat ketat, di antaranya : setiap ASI yang
dikumpulkan di Bank ASI, harus disimpan di tempat khusus dengan menulis nama
pemiliknya dan dipisahkan dari ASI-ASI yang lain. Setiap bayi yang mengambil
ASI tersebut harus ditulis juga dan harus diberitahukan kepada pemilik ASI
tersebut, supaya jelas nasabnya. Dengan demikian, percampuran nasab yang
dikhawatirkan oleh para ulama yang melarang bisa dihindari.
Prof.DR. Ali Mustafa Yaqub, MA., salah seorang Ketua MUI Pusat
menjelaskan bahwa tidak ada salahnya mendirikan Bank ASI dan Donor ASI
sepanjang itu dibutuhkan untuk kelangsungan hidup anak manusia. Hanya saja
Islam mengatur, jika si ibu bayi tidak dapat mengeluarkan air susu atau dalam
situasi lain ibu si bayi meninggal maka si bayi harus dicarikan ibu susu. Tidak ada
aturan main dalam Islam dalam situasi tersebut mencarikan susu sapi sebagai
pengganti, kendatipun zaman nabi memang tidak ada susu formula tapi susu
kambing dan sapi sudah ada, . ini berarti bahwa mendirikan Bank ASI dan donor
ASI boleh-boleh saja karena memang Islam tidak mentoleransi susu yang lain
selain susu Ibu sebagai susu pengganti dari susu ibu kandungnya.
Hanya saja pencatatannya harus benar dan kedua keluarga harus
dipertemukan serta diberikan sertifikat. Karena 5 kali meminum susu dari ibu
menyebabkan menjadi mahramnya si anak dengan keluarga si ibu susu. Artinya
anak mereka tidak boleh menikah,.
Menurut Prof. Ali, masalah menyusu langsung atau tidak langsung, itu
hanya masalah teknik mengeluarkan susu saja, hukumnya sama. Jika sudah 5 kali
meminum susu maka jatuh hukum mahram kepada keduanya.
Sebab terjadinya perbedaan:
Terjadinya perbedaan pandangan ulama mengenai hal tersebut di atas
disebabkan adanya perbedaan dalam memahami tentang apa itu radhaah,
berapa batasan umur, bagaimana cara menyusui dan berapa kali susuan:

Tentang Pengertian ar-Radha7[7]


Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ar -radha. Menurut
Hanafiyah bahwa ar-Radha adalah seorang bayi yang menghisap puting payudara
seorang perempuan pada waktu tertentu. Sedangkan Malikiyah mengatakan
bahwa ar radha adalah masuknya susu manusia ke dalam tubuh yang berfungsi
sebagai gizi. As Syafiiyah mengatakan ar-radha adalah sampainya susu seorang
perempuan ke dalam perut seorang bayi. Al Hanabilah mengatakan ar-radha
adalah seorang bayi di bawah dua tahun yang menghisap puting payudara
perempuan yang muncul akibat kehamilan, atau meminum susu tersebut atau
sejenisnya.
Batasan Umur
Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan batasan umur ketika
orang menyusui yang bisa menyebabkan kemahraman. Mayoritas ulama
mengatakan bahwa batasannya adalah jika seorang bayi berumur dua tahun ke
bawah.8[8] Dalilnya adalah firman Allah swt:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu
bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS. Al Baqarah: 233)
Hadist Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
Hanyasanya persusuan (yang menjadikan seseorang mahram) terjadi karena
lapar(HR Bukhari No. 2647 dan Muslim No.3679).
Jumlah Susuan
Madzhab Syafii dan Hanbali mengatakan bahwa susuan yang
mengharamkan adalah jika telah melewati 5 kali susuan secara terpisah. Hal ini
berdasarkan hadits Aisyah ra berikut ini:
Dahulu dalam Al Qur`an susuan yang dapat menyebabkan menjadi
mahram ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus)
dengan lima kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al
Qur`an masih tetap di baca seperti itu. (HR Muslim No.3670)
7
8

Cara Menyusu
Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara menyusu yang bisa
mengharamkan9[9]:
Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang penting adalah sampainya air
susu tersebut ke dalam perut bayi, sehingga membentuk daging dan tulang, baik
dengan cara menghisap puting payudara dari perempuan langsung, ataupun
dengan cara as suuth (memasukkan susu ke lubang hidungnya), atau
dengan cara /al- wujur (menuangkannya langsung ke tenggorakannya),
atau dengan cara yang lain.
Adapun Madzhab Dhahiriyah mengatakan bahwa persusuan yang
mengharamkan hanyalah dengan cara seorang bayi menghisap puting payu dara
perempuan secara langsung. Selain itu, maka tidak dianggap susuan yang
mengharamkan. Mereka berpegang kepada pengertian secara lahir dari kata
menyusui yang terdapat di dalam firman Allah swt:
(Diharamkan atas kamu mengawini) Ibu-ibumu yang menyusui kamu
dan saudara perempuan sepersusuan (QS.An-Nisa: 23)
B. Tujuan Tranplantasi dan Tranfusi Darah Secara Medis.
1. Tujuan Tranplantasi Tubuh.
Tranplantasi sebagai suatu upaya untuk melepaskan manusia dari
penderitaan secara biologis mengalami keabnormalan, atau menderita suatu
penyakit yang mengakibatkan rusaknya fungsi suatu organ, jaringan atau sel, pada
dasarnya bertujuan :
a. Kesembuhan suatu penyakit, misalnya kebutaan, rusaknya jantung, ginjal, dsb.
b. Pemuihan kembali fungsi suatu organ, jaringan atau sel yang telah rudak atau
mengalami kelainan tetapi sama sekali tidak terjadi kesakitan biologis, misalnya
bibir sumbing.
Jika ditinjau dari segi tingkatan tujuannya, maka tranplantasi bermaksud :

1)

Semata-mata pengobatan dari sakit atau cacat yang kalau tidak dilakukannya
dengan pencakokan tidak akan menimbulkan kematian, seperti tranplantasi cornea

dan bibir sumbing.


2) Sebagai jalan terakhir yang kalau tidak dilakukan akan menimbulkan kematian,
seprti tranplantasi ginjal, hati dan jantung.
Zamzami Saleh (dalam artikel Syariah Project, 2009) menjelaskan bahwa
tujuan dari transplantasi adalah sebagai pengobatan dari penyakit karena islam
sendiri memerintahkan manusia agar setiap penyakit diobati, karena membiarkan
penyakit bersarang dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian, sedangkan
membiarkan diri terjerumus dalam kematian (tanpa ikhtiyar) adalah perbuatan
terlarang. Sebagaimana firman Allah dalam Al-quran Surat An-Nisa ayat 29 :

. .
Dan jangan lah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha
penyayang kepadamu.
Maksudnya apabila sakit maka manusia harus berusaha secara optimal
untuk mengobatinya sesuai kemampuan, karena setiap penyakit sudah ditentukan
obatnya, maka dalam hal ini transplantasi merupakan salah satu bentuk
pengobatan. Jadi Tujuan transplantasi tubuh adalah untuk maslahattan umat
2. Tujuan Tranfusi Darah.
a. Untuk memelihara dan mempertahankan kesehatan donor sehingga dengan
b.

tranfusi darah dapat menjadi sembuh lagi.


Untuk mengganti kekurangan komponen sekuler atau kimia darah yang

c.

disebabkan karena kekurangan darah.


Untuk memelihara keadaan biologis darah atau komponen-komponennya agar

tetap bermanfaat.
d. Memelihara dan mempertahankan volume darah yang normal pada peredaran
darah (stabilitas peredaran darah).
e. Mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah.
f. Meningkatkan oksigenasi jaringan.
g. Memperbaiki fungsi Hemostatis.
h. Tindakan terapi kasus tertentu.
C. Hukum Tranplantasi Berdasarkan kondisi sidonor dalam Syariat islam.
Didalam syariat islam terdapat 3 macam hukum mengenai tranplantasi
organ dan donor organ ditinjau dari keadaan sipendonor. Adapun ketiga hukum

tersebut, yaitu : Pertama, tranplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor
hidup sehat. Kedua, tranplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor
sakit (koma). Ketiga, tranplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor
telah meninggal.
1. Tranplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor hidup sehat.
Menurut Prof.Drs. Masyfuk Zuhdi, dilarang (haram) berdasarkan alasanalasan sebagai berikut :
Firman Allah dalam QS. Al-baqarah : 195. Dan An-Nisa : 29
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Maksudnya, orang yang menyumbangkan sebuah mata atau ginjalnya
kepada orang lain yang buta atau tidak mempunyai ginjal. Ia (mungkin) akan
menghadapi resiko sewaktu-waktu mengalami tidak normalnya atau tidak
berfungsinya mata atau ginjalnya yang tinggal sebuah itu.
2. Transplantasi Organ Tubuh yang Dilakukan Ketika Pendonor Sakit (koma).
Hukum islampun tidak membolehkan tranplantasi pada kondisi ini
berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut :
Adanya hadist Rasulullah yang artinya : Tidak boleh membahayakan diri
sendiri dan tidak boleh membahayakan diri orang lain. Maksudnya adalah
membuat mudharat pada diri orang lain, yakni pendonor yang dalam keadaan
sakit (koma).
Orang tidak boleh menyebabkan matinya orang lain. Dalam kasus ini,
orang yang sedang sakit (koma) akan meninggal sengan diambilnya organ
tubuhnya tersebut. Sekalipun tujuan dari pencakokan tersebut adalah mulia, yakni
untuk menyembuhkan sakitnya orang lain (resipien).
3. Tranplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor telah meninggal.
Tranplantasi ketika pendonor telah meninggal menurut hukum islam ada
yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Yang membolehkan
menggantungkan pada dua syarat sebagai berikut :
a.

Resipien dalam keadaan darurat, yang dapat mengancam jiwanya dan ia sudah
menempuh pengobatan secara medis dan non medis, tapi tidak berhasil.

b.

Pencakokan tidak menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih berat bagi


resipien dibandingkan dengan keadaan sebelum pencakokkan.
Alasan islam islam membolehkan tranplantasi organ tubuh yang dilakukan
ketika pendonor telah meninggal adalah berlandaskan kepada Firman Allah, QS.
Al-Maidah : 32.
. . . dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. . .
Ayat ini menunjukkan bahwa islam sangat menghargai tindakan
kemanusiaan yang dapat menyelamatkan jiwa

manusia. Dalam kasus ini

seseorang yang menyumbangkan organ tubuhnya setelah ia meninggal, maka


islam

membolehkan.

Bahkan

memandangnya

sebagai

amal

perbuatan

kemanusiaan yang tinggi nilainya. Lantaran menolong jiwa sesama manusia atau
membantu berfungsinya kembali organ tubuh sesamanya yang tidak berfungsi.
D. Hukum Tranfusi Darah dan Realita Fenomena Sosial Hari Ini.
Berbicara mengenai hukum tranfusi darah, kita dapat berpegang pada dalil
syari, berdasarkan kaidah hukum Fiqh Islam yang berbunyi : Bahwasanya pada
prinsipnya segala sesuatu itu boleh hukumnya, kecuali kalau ada dalil yang
mengharamkannya.
Hukum transfusi darah pada dasarnya haram berdasarkan surat AlMaidah:3.
Diharamkan bagimu (mempergunakannya) bangkai, darah, daging babi,
daging hewan yang disembelih bukan atas nama Allah.
Transfusi darah menjadi berhadapan dengan hajat (kebutuhan) manusia
untuk mempergunakannya dalam keadaan darurat, sedangkan sama sekali tidak
ada bahan lagi yang dapat dipergunakaanya untuk menyelamatkan nyawa
seseorang maka najis itu boleh dipergunakannya hanya sekedar kebutuhan untuk
mempertahankan kehidupan; misalnya seseorang menderita kekerungan darah
karena kecelakaan, maka hal itu debolehkan dalam islam untuk menerima darah
dari orang lain, yang disebutnya Transfusi Darah. Hal tersebut, sangat
dibutuhkan (dihajatkan) untuk menolong seseorang dalam keadaan darurat.10[10]
10

Dalam fenomena sekarang orang banyak menjual-beli darah. Terlebih


dahulu kita lihat hukum jual beli darah.
Imam Abu Hanifah dan Zahiri membolehkan menjual-belikan benda najis
yang ada manfaatnya, seperti kotoran hewan seperti serbuk. Secara analogis
mazhab ini membolehkan jual beli darah karena besar manfaatnya bagi manusia
untuk keperluan transfusi darah untuk keperluan operasi dan sebagainya.
Imam Syafii mengharamkan jual beli benda najis termasuk darah . Ayat
Al-Quran menyatakan secara tegas bahwa darah termasuk benda yang
diharamkan. Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3.
Menurut Drs. H. Mahyudin, M..Pd.I juga berpendapat tentang jual beli
darah yang dilakukan oleh Tim medis itu bahwa dibolehkan oleh islam bila
seseorang menerima bantuan darah dibebani biaya untuk administrasi dan imbalan
jasa kepada dokter. Dengan cara pengumpulan dana dari pasien, berarti Yayasan
atau Badan yang bergerak dalam pengumpulan darah dari para donor dapat
menjalankan tugasnya dengan lancar. Sebab dana-dana tersebut dapat digunakan
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam tugas-tugas operasional yayasan atau
badan tersebut termasuk gaji perawat, biaya peralatan medis dan perlengkapan
lainnya. Tentu saja dana yang dipergunakan untuk biaya hidup para pegawai dan
karyawan atau badan yang mengelolanya.
Maka dapat disimpulkan

bahwa tranfusi darah diperbolehkan asalkan

tidak untuk tujuan komersial. Bila dilihat dari segi tujuannya, tranfusi darah
merupakan perbuatan terpuji. Karena dengan mendonorkan darah berarti kita
telah membantu kesulitan yang sedang dihadapi seseorang. Contohnya, seseorang
yang mengalami kecelakaan akan tertolong jiwanya setelah mendapatkan
tambahan darah.
Jika dilihat realitas fenomena hari

ini banyak sekali orang yang

mendonorkan darahnya hanya karena alasan komersial. Misalnya seseorang


mensyaratkan sejumlah uang ataupun benda kepada pihak yang membutuhkan
donor setelah proses pendonoran dilakukan. Tidak hanya itu, sekarang ini ada hal
yang lebih mengkhawatirkan yaitu kondisi kesehatan pendonor tidak diperiksa
terlebih dahulu secara teliti sebelum pendonoran dilakukan. Hal ini akhirnya bisa

membahayakan penerima donor, karena tidak tertutup kemungkinan penerima


donor akan menderita penyakit seperti yang diderita oleh pendonor, seperti
penyakit AIDS yang dapat menular melalui tranfusi darah. Kalau kejadiannya
seperti itu, hukum tranfusi darah yang awalnya dibolehkan akan menjadi haram
karena akan mendatangkan kemudharatan.
E. Hukum Bank ASI dalam Syariat Islam Dikaitkan Dengan Kemaslahatan &
Implikasinya Terhadap Perkawinan.
Berbicara tentang Bank ASI para ulama kontemporer memiliki beberapa
pandangan. Sebagian mendukung adanya bank ASI tetapi ada juga para ulama
yang tidak setuju.
1. Pendapat yang membolehkan.
Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menyatakan bahwa ia tidak menjumpai alasan
untuk melarang diadakannya semacam bank ASI. Asalkan bertujuan untuk
mewujudkan maslahat syariyhah yang kuat dan untuk memenuhi keperluan yang
wajib dipenuhi. Beliau cendrung mengatakan bahwa bank ASI bertujuan baik dan
mulia. Didukung oleh islam untuk memberikan pertolongan kepada semua yang
lemah, apapun sebab kelemahannya. Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah
bayi yang baru dilahirkan yang tidak mempunyai daya dan kekuatan.
Beliau juga mengatakan bahwa para wanita yang menyumbangkan
sebagian air susunya untuk bayi-bayi tersebut akan mendapatkan pahala dari Allah
SWT, dan terpuji disisi manusia. Bahkan sebenarnya wanita itu boleh menjual ASI
nya, bukan sekedar menyumbangkannya. Sebab dimasa nabi Muhammad, para
wanita yang menyusui bayi melakukannya karena faktor mata pencaharian.
Sehingga hukumnya memang diperbolehkan untuk menjual ASI.
Kemudian ada juga Al-Ustadz Asy-Syeikh Ahmad Ash-Shirbasi, ulama
besar Al-Azhar Mesir yang menyatakan bahwa hubungan mahram yang
diakibatkan karena penyusuan itu harus melibatkan saksi dua orang laki-laki dan
dua orang saksi wanita sebagai ganti satu saksi laki-laki. Bila tidak ada saksi atas
penyusuan tersebut, maka penyusuan tersebut tidak mengakibatkan hubungan
kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak tersebut.
2. Pendapat yang tidak membolehkan.

Dr. Wahbah Az-Zuhayli dan juga Majma Fiqh Islami. Dalam kitab Fatawa
Muashirah, beliau menyebutkan bahwa mewujudkan instutisi bank ASI tidak
diperbolehkan dari segi syariah. Dan Majma al-Fiqh al islamiy melalui Badan
Muktamar Islam yang diadakan di Jeddah pada 22-28 Desember 1985 M/ 10-16
Rabiul Akhir 1406 H. Lembaga ini dalam keputudannya (qarar) menentang
keberadaan bank ASI diseluruh negara islam serta mengharamkan susu dari bank
tersebut.11[11]

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Transplantasi organ tubuh (Naql ada al-Insan)

yaitu

pemindahan organ tubuh seseorang yang fungsinya sudah tidak


dapat dipertahankan lagi dengan organ tubuh yang sehat dari
orang lain. Transfusi darah (blood transfusi) diambil dari bahasa
Belanda yang berarti memindahkan darah dari seseorang kepada
orang lain untuk menyelamatkan jiwanya. Sedangkan Bank ASI
adalah

suatu

lembaga

yang dibuat dengan

tujuan

untuk

menyimpan atau mengumpulkan ASI yang bertujuan untuk


memenuhi kebutuhan bayi. Transplantasi dibolehkan jika dalam
keadaan darurat.
B. Saran
Demikianlah makalah ini saya buat, semoga dengan adanya
makalah ini bisa menjadi salah satu bahan rujukan dan
membantu
11

proses

perkuliahan,

mohon

maaf

jika

terdapat

kesalahan kata atau penulisan karena tidak ada manusia yang


sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah SWT, mudahmudahan makalah kedepan lebih baik lagi amiiin ya robbal
alamin.

http://luckymelansari.blogspot.co.id/2015/03/fiqh-kontemporer-transpalantasitubuh.html
1403215

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dengan perkembangan pengetahuan, dan berkembangnya teknologi yang


sangat jauh berbeda dengan perkembangan pada masa perkembangan Islam pada
masa itu. Dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi sampailah
kepada bidang kedokteran, tidak hanya dibidang informatika, atau sains,
melainkan bidang kedokteranpun menggunakan teknologi yang amat canggih
untuk masa sekarang. Jadi tidak heran jika ada perbedaan tingkah laku mengenai
penanganan para ahli bidang kesehatan dengan memanfaatkan perkembangan
teknologi seperti cangkok ginjal, transfusi darah dan sebagainya, yang mana jika
di lihat dari kacamata Hukum Islam mengandung banyak petanyaan apakah hal
semacam itu diperbolehkan ataukah di larang oleh hukum Agama.
Dengan latar belakang inilah penulis ingin membahas lebih lanjut tentang
Transplantasi Tubuh, Transfusi Darah, dan Bank ASI yang mana ketiga sub
tema tersebut merupakan kelahiran baru yang berawal dari perkembangan
pengetahuan, karena sebelumnya tidak ditemukan khususnya pada masa
Rasulullah atau pada masa Sahabat.
B.
1.
2.
3.

Batasan Masalah
Pengertian transplantasi tubuh, transfusi darah, dan bank ASI
Tujuan transplantasi tubuh dan transfusi darah secara medis
Hukum transplantasi berdasarkan kondisi si donor dalam syariat

Islam
4. Hukum tranfusi darah dan realitas fenomena sosial hari ini

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Transplantasi Tubuh, Tranfusi Darah dan Bank Asi.


1. Transplantasi tubuh
Transplantasi tubuh adalah pemindahan organ tubuh yang mempunyai
daya hidup yang sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan
tidak berfungsi degan baik.12[1] Apabila diobati dengan prosedur medis, atau
pemindahan organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu tempat ke
tempat yang lain pada tubuh yang sama.

2. Transfusi Darah
Dalam kamus umum bahasa Indonesia kata transfusi diartikan sebagai
pemindahan darah (pemasukan darah kepada orang yang kekurangan darah). DR.
Ahmad Sofian mengartikan transfusi darah sebagai istilah pindah-tuang darah.
Sebagaimana dikemukakannya dalam rumusan definisinya yang berbunyi:
pengertian pindah-tuang darah adalah memasukkan darah orang lain ke dalam
pembuluh darah orang yang akan ditolong
Jadi transfusi darah adalah proses pemindahan darah dari seseorang yang
sehat (donor) ke orang sakit (respien) untuk menyelamatkan jiwanya.

3. Bank ASI
Bank ASI adalah suatu lembaga untuk menyimpan atau menghimpun air susu ibu.
Bank ASI merupakan tempat penyimpanan dan penyalur ASI dari donor ASI yang
kemudian akan diberikan kepada ibu-ibu yang tidak bisa memberikan ASI sendiri
ke bayinya. Ibu yang sehat dan memiliki kelebihan produksi ASI bisa menjadi
pendonor ASI. ASI biasanya disimpan di dalam plastik atau wadah, yang
didinginkan dalam lemari es agar tidak tercemar oleh bakteri. Kesulitan para ibu
12

memberikan ASI untuk anaknya menjadi salah satu pertimbangan mengapa bank
ASI perlu didirikan, terutama di saat krisis seperti pada saat bencana yang sering
membuat ibu-ibu menyusui stres dan tidak bisa memberikan ASI pada anaknya.

B. Tujuan Transplantasi Tubuh Dan Tranfusi Darah.


1. Tujuan Transplantasi Tubuh
Zamzami Saleh (dalam artikel Syariah Project, 2009) menjelaskan bahwa
tujuan dari transplantasi adalah sebagai pengobatan dari penyakit karena islam
sendiri memerintahkan manusia agar setiap penyakit diobati, karena membiarkan
penyakit bersarang dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian, sedangkan
membiarkan diri terjerumus dalam kematian (tanpa ikhtiyar) adalah perbuatan
terlarang. Sebagaimana firman Allah dalam Al-quran Surat An-Nisa ayat 29 :

Artinya: Dan jangan lah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha
penyayang kepadamu.
Maksudnya apabila sakit maka manusia harus berusaha secara optimal
untuk mengobatinya sesuai kemampuan, karena setiap penyakit sudah ditentukan
obatnya, maka dalam hal ini transplantasi merupakan salah satu bentuk
pengobatan. Jadi Tujuan transplantasi tubuh adalah untuk maslahattan umat
2. Tujuan Transfusi Darah
a. Memelihara dan mempertahankan kesehatan donor.
b. Memelihara keadaan biologis darah atau komponen komponennya agar tetap
bermanfaat.
c. Memelihara dan mempertahankan volume darah yang normal pada peredaran
d.
e.
f.
g.

darah (stabilitas peredaran darah).


Mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah.
Meningkatkan oksigenasi jaringan.
Memperbaiki fungsi Hemostatis.
Tindakan terapi kasus tertentu.

C. Hukum Transplantasi Berdasarkan Kondisi Si Donor Dalam Syariat Islam.


Ditinjau dari segi kondisi donor (pendonor)-nya maka ada tiga keadaan
donor:13[2]
a.

Donor dalam keadaan hidup sehat


Tipe ini memerlukan seleksi yang cermat dan general check up
(pemeriksaan kesehatan yang lengkap), baik terhadap donor maupun terhadap
resipien, demi menghindari kegagalan transplantasi yang disebabkan oleh karena
penolakan tubuh resipien dan sekaligus untuk mencegah resiko bagi donor.
Ada beberapa pendapat tentang hukum transplantasi ini, yaitu:

1) Hukumnya tidak Boleh (Haram). Meskipun pendonoran tersebut untuk keperluan


medis (pengobatan) bahkan sekalipun telah sampai dalam kondisi darurat. Sesuai
dengan Firman Allah SWT:

Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah maha


penyayang kepadamu ( Q.S.An-Nisa:4:29)

Maksudnya adalah bahwa Allah SWT

melarang manusia untuk

membunuh dirinya atau melakukan perbuatan yang membawa kepada kehancuran


dan kebinasaan. Sedangkan orang yang mendonorkan salah satu organ tubuhnya
secara tidak langsung telah melakukan perbuatan yang membawa kepada
kehancuran dan kebinasaan. Padahal manusia tidak disuruh berbuat demikian,
manusia hanya disuruh untuk menjaganya (organ tubuhnya) sesuai ayat di atas.
13

Manusia tidak memiliki hak atas organ tubuhnya seluruhnya,karena pemilik organ
tubuh manusia Adalah Allah swt.
2) Hukumnya jaiz (boleh) namun memiliki syarat-syarat tertentu. Seseorang yang
mendonorkan organ tubuhnya kepada orang lain untuk menyelamatkan hidupnya
merupakan perbuatan saling tolong-menolong atas kebaikan.
Setiap insan, meskipun bukan pemilik tubuhnya secara pribadi namun
memiliki kehendak atas apa saja yang bersangkutan dengan tubuhnya, ditambah
lagi bahwa Allah telah memberikan kepada manusia hak untuk mengambil
manfaat dari tubuhnya, selama tidak membawa kepada kehancuran, kebinasaan
dan kematian dirinya Oleh karena itu, sesungguhnya memindahkan organ tubuh
ketika darurat merupakan pekerjaan yang mubah (boleh).
b. Donor dalam keadaan hidup koma atau diduga kuat akan meninggal segera
Untuk tipe ini, pengambilan organ tubuh donor memerlukan alat kontrol
dan penunjang kehidupan, misalnya dengan bantuan alat pernafasan khusus.
Kemudian alat-alat penunjang kehidupan tersebut dicabut, setelah selesai proses
pengambilan organ tubuhnya. Hanya, kriteria mati secara medis/klinis dan yuridis
perlu ditentukan dengan tegas dan tuntas, karena itu merupakan pegangan bagi
dokter dalam menjalankan tugasnya, sehingga ia tidak khawatir dituntut
melakukan pembunuhan berencana oleh keluarga yang bersangkutan sehubungan
dengan praktek transplantasi itu.
Para ulama menyatakan bahwa melakukan transplantasi organ tubuh donor
dalam keadaan masih hidup, meskipun dalam keadaan koma, hukumnya haram.
Sesuai hadist Nabi SAW:
Sesungguhnya perbuatan mengambil salah satu organ tubuh manusia dapat
membawa kepada kemudaratan, sedangkan perbuatan yang membawa kepada
kemudaratan merupakan perbuatan yang terlarang.

Manusia wajib berusaha untuk menyembuhkan penyakitnya demi


mempertahankan hidupnya, karena hidup dan mati itu berada ditangan Allah
SWT. Oleh sebab itu, manusia tidak boleh mencabut nyawanya sendiri atau
mempercepat

kematian

orang

lain,

meskipun

untuk

mengurangi

atau

menghilangkan penderitaan pasien.

c.

Donor dalam keadaan meninggal


Tipe ini merupakan tipe yang ideal, sebab secara medis tinggal menunggu
penentuan kapan donor dianggap meninggal secara medis yuridis, dan harus
diperhatikan pula daya tahan organ tubuh yang mau diambil untuk tranplantasi. 14
[3]
Adapun pendapat ulama tentang hukum trasnplantasi in adalah:

1)

Hukumnya Haram karena kesucian tubuh manusia setiap bentuk agresi atas
tubuh manusia merupakan hal yang terlarang.
Tubuh manusia adalah amanah, pada dasarnya bukanlah milik manusia
tapi merupakan amanah dari Allah yang harus dijaga, karena itu manusia tidak
memiliki hak untuk mendonorkannya kepada orang lain

2) Hukumnya Boleh
Dalam kaidah fiqiyah menjelaskan bahwa Apabila bertemu dua hal yang
mendatangkan mafsadah (kebinasaan), maka dipertahankan yang mendatangkan
madharat yang paling besar dengan melakukan perbuatan yang paling ringan
madharatnya dari dua madharat.
Selama dalam pekerjaan transplantasi itu tidak ada unsur merusak tubuh mayat
sebagai penghinaan kepadanya.

14

Hukum transplantasi tubuh pada dasarnya haram bagi si pendonor dalam


kondisi hidup atau mati dengan berlandasan firman Allah Surat Al-baqarah:195.
dan surat An-Nisa: 29.

ArtinyaDan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu


menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Kemudian Menjadi pendonor hukumnya mubah (boleh) pada kondisi si


pendonor sudah meninggal dunia, dengan catatan sebelum dia meninggal dunia si
pendonor menyumbangkan salah satu organ tubuhnya yang bermanfaat bagi orang
lain adanya izin dari sipendonor sendiri sebelum wafat dan setelah meninggal
harus mendapatkan izin dari ahli warisnya, memanfaatkan organ tubuh manusia
sebagai pengobatan dibolehkan dalam keadaan darurat bahkan bernilai Ibadah
kalau dilakukan dengan Ikhlas.

D. Hukum Transfusi Darah dan Realitas Fenomena Social Hari Ini


Hukum transfusi darah pada dasarnya haram berdasarkan surat AlMaidah:3.

ArtinyaDiharamkan bagimu (mempergunakannya) bangkai, darah, daging babi, daging


hewan yang disembelih bukan atas nama Allah.

Transfusi darah menjadi berhadapan dengan hajat (kebutuhan) manusia


untuk mempergunakannya dalam keadaan darurat, sedangkan sama sekali tidak
ada bahan lagi yang dapat dipergunakaanya untuk menyelamatkan nyawa
seseorang maka najis itu boleh dipergunakannya hanya sekedar kebutuhan untuk
mempertahankan kehidupan; misalnya seseorang menderita kekerungan darah
karena kecelakaan, maka hal itu debolehkan dalam islam untuk menerima darah
dari orang lain, yang disebutnya Transfusi Darah. Hal tersebut, sangat
dibutuhkan (dihajatkan) untuk menolong seseorang dalam keadaan darurat.
Dalam fenomena sekarang orang banyak menjual-beli darah. Terlebih
dahulu kita lihat hukum jual beli darah.
Imam Abu Hanifah dan Zahiri membolehkan menjual-belikan benda najis
yang ada manfaatnya, seperti kotoran hewan seperti serbuk. Secara analogis
mazhab ini membolehkan jual beli darah karena besar manfaatnya bagi manusia
untuk keperluan transfusi darah untuk keperluan operasi dan sebagainya.
Imam Syafii mengharamkan jual beli benda najis termasuk darah . Ayat
Al-Quran menyatakan secara tegas bahwa darah termasuk benda yang
diharamkan. Firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3.
Menurut Drs. H. Mahyudin, M..Pd.I juga berpendapat tentang jual beli
darah yang dilakukan oleh Tim medis itu bahwa dibolehkan oleh islam bila
seseorang menerima bantuan darah dibebani biaya untuk administrasi dan imbalan
jasa kepada dokter. Dengan cara pengumpulan dana dari pasien, berarti Yayasan
atau Badan yang bergerak dalam pengumpulan darah dari para donor dapat
menjalankan tugasnya dengan lancar. Sebab dana-dana tersebut dapat digunakan
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam tugas-tugas operasional yayasan atau
badan tersebut termasuk gaji perawat, biaya peralatan medis dan perlengkapan

lainnya. Tentu saja dana yang dipergunakan untuk biaya hidup para pegawai dan
karyawan atau badan yang mengelolanya.

E. Hukum Bank Asi Dalam Syariat Islam Dikaitkan Dengan


Maslahatan Dan Implementasinya Terhadap Perkawinan.

Hukum bank asi dalam syariat Islam adalah boleh demi kemaslahatan
umat, dengan ketentuan jelas orang yang menyusuinya dan kalau dalam suatu
lembaga itu jelas siapa yang mempunyai atau pemilik dari air susu tersebut atau
jelas Administrasinya. Seandainya dalam suatu instansi atau lembaga yang
menghimpun air susu ibu tidak memiliki administrasi yang jelas tentang siapa
pemilik ASI atau bercampur raduknya ASI tersebut maka hukumnya haram.
Karena akan menimbulkan dampak yang begitu besar yaitu timbulnya perkawinan
yang dilarang oleh Allah (perkawinan sepersusuan). Sesuai dengan firman Allah
dalam surat An-Nisa:23.

ArtinyaDiharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu


yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara
bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak
perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari
saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara
perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang
dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu
belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak
berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak
kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan
yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayani.

Makna penyusuan yang menjadi ajuan syara dalam menetapkan


pengharaman(perkawinan) menurut jumhur fugaha termasuk tiga orang imam
mazhab yakni imam abu hanifah, imam malik, dan imam syafii adalah segala
sesuatu yang sampai keperut bayi melalui kerongkngan atau lainnya, seperti
dengan al wajur(menuangkan air susu lewat mulut kekerongkongan), bahwa
mereka samakan dengan menuangkan air susu kehidung lantas kekerongkongan.
Serta ada pula yang menyatakan disuntikkan lewat dubur(anus).
Sedangkan dalam kitab al-ikhtar yang merupakan salah satu kitab hanafi
disebutkan:Seorang perempuan yang memasukkan punting susunya dalam mulut
seorang anak, sedang ia tidak tahu apahak air susunya masuk kerongkongan
ataukah tidak, maka yag demikian itu tidakmengharamkan pernikahan.
Demikian pula seorang anak yang disusui beberapa penduduk kampong,
dan tidak diketahui siapa saja mereka itu, lalu ia dinikahkan dengan oleh salah
seorang laki-laki pennduduk kampung tersebut, maka pernikahan tersebut
dibolehkan, karena kebolehan nikah merupakan hokum asal yang tidak dapat
dihapuskan oleh sesuatu yang meragukan.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Transplantasi organ tubuh (Naql ada al-Insan)

yaitu

pemindahan organ tubuh seseorang yang fungsinya sudah tidak


dapat dipertahankan lagi dengan organ tubuh yang sehat dari
orang lain. Transfusi darah (blood transfusi) diambil dari bahasa
Belanda yang berarti memindahkan darah dari seseorang kepada
orang lain untuk menyelamatkan jiwanya. Sedangkan Bank ASI
adalah

suatu

lembaga

yang dibuat dengan

tujuan

untuk

menyimpan atau mengumpulkan ASI yang bertujuan untuk


memenuhi kebutuhan bayi. Transplantasi dibolehkan jika dalam
keadaan darurat.

B. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga dengan adanya
makalah ini bisa menjadi salah satu bahan rujukan dan
membantu

proses

perkuliahan,

mohon

maaf

jika

terdapat

kesalahan kata atau penulisan karena tidak ada manusia yang


sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah SWT, mudahmudahan makalah kedepan lebih baik lagi amiiin ya robbal
alamin.

http://hidayatfirtson.blogspot.co.id/2013/10/transplantasi-tubuh-tranfusi-darahdan.html
071013

TRANFUSI, TRANSPLANTASI, BANK ASI


A. TRANSFUSI DARAH

Transfusi (pemindahan) darah telah dilakukan oleh para ahli kedokteran


sejak ratusan tahun yang lalu tepatnya pada abad ke-18. pada masa itu
pengetahuan tentang sirkulasi darah yang dirintis oleh William Harvey masih
belum memuaskan. Dalam kondisi seperti itu pada umumnya transfusi darah
mengalami kegagalan dan banyak mendatangkan kecelakaan bagi manusia.
Namun para ahli tidak henti-hentinya melakukan percobaan sampai pada suatu
saat Dr. Karl Landsteiner pada tahun 1900 telah menemukan golongan-golongan
darah dan transfusi darah tidak merupakan pekerjaan yang berbahaya, tetapi
sebaliknya banyak menolong jiwa manusia dari ancaman kematian disebabkan
kehilangan darah.
Dalam hal ini agama islam sangat menyambut baik perkembangan ilmu
pengetahuan, khususnya di bidang kedokteran yang menyangkut pada
permasalahan transfusi (pemindahan) darah manusia, dalam rangka penyelamatan
jiwa manusia, sesuai dengan firman Allah :

`B

@_r&

y79s

$oY;tF2

4n?t

_t/

@u ) mRr& `tB @tFs% $GtR t/


CtR rr& 7$|s F{$# $yJRr'x6s @tFs% }
$Z9$# $YJy_ `tBur $yd$umr& !$uKRr'x6s
$umr& }$Y9$# $YJy_ 4 s)s9ur Og?u!$y_
$uZ= MuZi t79$$/ OO b) #Z Wx.
OgYiB yt/ 9s F{$# cqJs9

Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa:
barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi,
Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa
yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah
memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang
kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang
jelas, Kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh
melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.
Pengertian Transfusi Darah
Menurut Dr.Rustam Masri, transfusi darah adalah proses pekerjaan
memindahkan darah dari orang yang sehat kepada orang yang sakit, yang
bertujuan untuk :
menambahkan jumlah darah yang beredar dalam badan orang yang sakit yang
darahnya berkurang karena sesuatu sebab, misalnya pendarahan, operasi,
kecelakaan dan sebab lainnya.
menambah kemampaun darah dalam badan si sakit untuk menambah atau
membawa zat asam atau O2.
Dr. Ahmad Sopian memberikan pengertian, bahwa transfusi darah adalah
memasukkan darah orang lain ke dalam pembuluh yang akan di tolong.
Dengan demikian, transfusi darah itu tiada lain adalah suatu cara
membantu pengobatan yang sudah ada dan darah hanya membantu saja sebagai
salah satu pelengkap daripada metode pengobatan. Namun demikian perlu
diperhatikan lagi, bahwa transfusi darah itu bukanlah pekerjaan yang tanpa risiko
dan mungkin merupakan suatu pekerjaan yang banyak risikonya bagi si sakit.
Hubungan Antara Donor Dan Resipien (Penerima)

Adapun hubungan antara donor dan resipien (penerima) setelah terjadi


transfusi darah, tidak membawa akibat hukum ada hubungan kemahraman (haram
kawin), umpamanya di pandang sebagai saudra sepersusuan. Sebab, faktor-faktor
yang dapat menyebabkan kemahramannya, sudah ditentukan dan ditetepkan oleh
agama islam sebagaimana disebutkan dalam Q.S. An-Nisa :23.

MtBh m
$oYt/ur

N6n=t

N3GygB&

N6?uqyzr&ur

N3Gn=yzur

N$oYt/ur

N3?

N3GJtur
F{$#

N$oYt/ur

MzW{$# N6FygB&ur L9$# N3oY|


r&

N6?uqyzr&ur

iB

py| 9$#

MygB&ur N3!$|S N66t/uur L9$#

N2qfm

`iB

N3!$|pS

L9$#

OF=yzy `g/ b*s N9 (#qRq3s? OF=yzy


g/

xs

yy$oY_

N6n=t

@n=ymur

N6!$oY/r& t9$# `B N67n=r& br&ur


(#qyJfs? t/ tGzW{$# w) $tB s%
y#n=y 3 c) !$# tb%x. #Yqx $VJm
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan saudarasaudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara
ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anakanak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu;
saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam

pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan
isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan
diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam
perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau;
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari ayat tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :


Mahram karena ada hubungan nasab. Misalnya hubungan antara anak dengan
ibunya atau saudaranya sekandung/sebapak seibu.
Mahram karena ada hubungan perkawinan. Misalnya hubungan seseorang dengan
mertuanya, anak tiri dari isterinya yang telah dicampurinya.
Mahram karena ada hubungan persusuan. Misalnya hubungan seseorang dengan
wanita yang pernah menyusuinya atau dengan orang yang sepersusuan.
Dengan demikian jelas, bahwa transfusi darah tidak mengakibatkan
hubungan kemahraman antara donor dengan resipien (penerima). Karena itu jika
si donor dengan resipien ingin mengadakan hubungan perkawinan, maka tidak
ada larangan dalam agama islam.
Pandangan Agama Islam
Agama

Islam

tidak

melarang

seorang

muslim

atau

muslimah

menyumbangkan drahnya untuk tujuan kemanusiaan dan bukan komersial. Darah


itu dapat disumbangkan secara langsung kepada yang memerlukannya, seperti
untuk keluarga sendiri, atau diserahkan kepada Palang Merah Indonesia atau bank
darah untuk disimpan dan sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menolong orang
yang memerlukan, apakah seagama atau tidak. Para resipien sebaiknya tidak usah

mempertanyakan tentang donor, apakah seagama dengan dia atau tidak. Demikian
juga sebaliknya si donor pun tidak usah mempersoalkan tentang penggunaan
darah tersebut. Apabila hal ini dipersoalkan, maka akan mengalami kesukaran
bagi

pengelola

(Palang

merah),

karena

penggunaan

darah

itu

harus

memperhatikan juga golongan darah yang menerimanya.


Sebagai dasar hukum yang memperbolehkan donor darah ini, dapat dilihat
dalam kaidah hukum Islam berikut :



. .
.

Bahwa pada prinsipnya segala sesuatu itu boleh (mubah), kecuali ada
dalil yang mengharamkannya.
Berdasarkan kaidah tersebut di atas, maka hukum donor darah itu
diperbolehkan, karena tidak ada dalil yang melarangnya, baik dari Al-Qur'an
maupun hadits. Namun demikian tidak berarti, bahwa kebolehan itu dapat
dilakukan tanpa syarat, bebas lepas begitu saja. Sebab bisa saja terjadi, bahwa
sesuatu yang pada awalnya diperbolehkan, tetapi karena ada hal-hal yang dapat
membahayakan resipien, maka akhirnya menjadi terlarang. Umpamanya saja,
donor dalam keadaan berpenyakit menular seperti AIDS dan penyakit-penyakit
lainya (yang dapat menular via darah), maka transfusi darah menjadi terlarang.
oleh sebab itu, sebelum para donor memberikan darahnya, harus dperiksa lebih
dahulu (bagi yang diduga ada penyakitnya). demikan juga darah tersebut harus
benar-benar bebas dari virus yang berbahaya, baru diberikan kepada yang
memerlukanya, sesuai dengan kaidah fiqihnya:

Artinya : kemudharatan itu harus dilenyapkan


Kaidah tersebut diatas bersumber dari firman Allh:
Artinya :sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan (al-qashash:77)
Disamping itu lagi kaidah yang perlu diperhatikan :

Artinya: kemudharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemudharatan


lainya.
Umpamanya,si sakit yang memerlukan pertolongan darah,dikorbankan
donor yang kurang darah,walaupun dia rela.si sakit mungkin dapat tertolong
dengan darah tersebut,tetapi akan muncul bahaya baru, yaitu si donor tadi.
Secara umum hendaknya dapat dipegang kaidah:

Tidak boleh memudhorotkan diri sendiri dan tidak boleh pula


memudharatkan orang lain.

B. TRANSPLANTASI (PENCANGKOKAN) ANGGOTA BADAN


Pengertian Transplantasi
Transplantasi berasal dari bahasa Inggris to transplant, yang berarti to
move from one place to another, bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Adapun
pengertian menurut ahli ilmu kedokteran, transplantasi itu ialah : Pemindahan
jaringan atau organ dari tempat satu ke tempat lain. Yang dimaksud jaringan di
sini ialah : Kumpulan sel-sel (bagian terkecil dari individu) yang sama

mempunyai fungsi tertentu, atau Transplantasi ialah pemindahan organ tubuh


yang masih mempunyai daya hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang
tidak sehat dan tidak berfungsi lagi dengan baik. Pencangkokan organ tubuh yang
menjadi pembicaraan pada waktu ini adalah: mata, ginjal dan jantung, karena
ketiga organ tubuh tersebut sangat penting fungsinya untuk manusia, terutama
sekali ginjal dan jantung. Mengenai donor mata pada dasarnya dilakukan, karena
ingin membagi kebahagiaan kepada orang yang belum pernah melihat keindahan
alam ciptaan Allah ini, ataupun orang yang menjadi buta karena penyakit. Para
donor yang kita kenal sekarang ini lebih banyak dari kalangan orang yang sudah
meninggal dunia dan tidak banyak dari orang yang masih hidup.
Sedangkan transplantasi dalam literatur Arab kontemporer dikenal
dengan istilah naql al-ad{a atau juga disebut dengan zaru al-ad{a. Kalau
dalam literatur Arab klasik transplantasi disebut dengan istilah al-was}l
(penyambungan). Adapun pengertian transplantasi secara terperinci dalam
literatur Arab klasik dan kontemporer sama halnya dengan keterangan ilmu
kedokteran di atas. Sedang transplantasi di Indonesia lebih dikenal dengan istilah
pencangkokan.
Pembagian Transplantasi
Melihat dari pengertian di atas, Djamaluddin Miri membagi transplantasi
itu pada dua bagian
1.

Transplantasi jaringan seperti pencangkokan kornea mata.

2.

Transplantasi organ seperti pencangkokan organ ginjal, jantung dan sebagainya.


Melihat dari hubungan genetik antara donor (pemberi jaringan atau organ
yang ditransplantasikan) dari resipien (orang yang menerima pindahan jaringan
atau organ), ada tiga macam pencangkokan :

Auto transplantasi, yaitu transplantasi di mana donor resipiennya satu individu.


Seperti seorang yang pipinya dioperasi, untuk memulihkan bentuk, diambilkan
daging dari bagian badannya yang lain dalam badannya sendiri.
Homo transplantasi, yakni di mana transplantasi itu donor dan resipiennya individu
yang sama jenisnya, (jenis di sini bukan jenis kelamin, tetapi jenis manusia
dengan manusia). Pada homo transplantasi ini bisa terjadi donor dan resipiennya
dua individu yang masih hidup, bisa juga terjadi antara donor yang telah
meninggal dunia yang disebut cadaver donor, sedang resipien masih hidup.
Hetero transplantasi ialah yang donor dan resipiennya dua individu yang berlainan
jenisnya, seperti transplantasi yang donornya adalah hewan sedangkan resipiennya
manusia.
Pendapat Ulama Tentang Transplantasi
Para ulama fiqh (pakar hukum Islam) klasik sepakat bahwa
menyambung organ tubuh manusia dengan organ manusia boleh selama organ
lainnya tidak didapatkan. Sedangkan pakar hukum Islam kontemporer berbeda
pendapat akan boleh dan tidaknya transplantasi organ tubuh manusia. Berikut ini
pernyataan para pakar hukum Islam klasik dan kontemporer:
Imam al-Nawawi (w. abad VI) dalam karyanya Minhaj al-Talibin
mengatakan.
Jika seseorang menyambung tulangnya dengan barang yang najis
karena tidak ada barang yang suci maka hukumnya udhu>r (tidak apa-apa).
Namun, apabila ada barang yang suci kemudian disambung dengan barang yang
najis maka wajib dibuka jika tidak menimbulkan bahaya, dikatakan jika
membahayakan atau (menimbulkan) kematian maka tidak mengambilnya (tulang
tersebut) itu dibolehkan
Zakariya al-Ansari (abad IX) dalam karyanya Fathu al-Wahhab Sharh
Manhaj al-Tullab, kitab Manhaj al-Tullab merupakan kitab ringkasan dari kitab
Minhaj al-Talibin karya imam al-Nawawi (w. abad VI). Zakariya mengatakan.
Jika ada seseorang melakukan penyambungan tulangnya atas dasar
butuh dengan tulang yang najis dengan alasan tidak ada tulang lain yang cocok.

Maka hal itu, diperbolehkan dan sah sholatnya dengan tulang najis tersebut.
Kecuali, jika dalam penyambungan itu tidak ada unsur kebutuhan atau ada
tulang lain yang suci selain tulang manusia maka ia wajib membuka (mencabut)
kembali tulang najis tersebut walaupun sudah tertutup oleh daging. Dengan
catatan,

jika

proses

pengambilan

tulang

najis

tersebut

aman

(tidak

membahayakan) dan tidak menyebabkan kematian.


Al-Bujayrami, dalam komentarnya atas ibarah (teks) kitab Fathu alWahhab di atas, mengatakan bahwa tidak diperbolehkannya menyambung tulang
dengan tulang manusia, jika yang lain masih ada walaupun tulangnya hewan yang
najis seperti celeng dan anjing. Oleh karena itu, jika yang lain baik yang suci
maupun yang najis tidak ada, maka menyambung tulang dengan tulang manusia
itu hukumnya boleh.
Pakar hukum Islam kontemporer dalam masalah transplantasi boleh dan
tidaknya ada dua pendapat :
Pertama, Ibn Baz ulama dari Saudi Arabia mengatakan bahwa praktek
transplantasi anggota tubuh manusia kepada manusia lainnya yang dilakukan atas
dasar kemaslahatan pada orang lain itu tidak boleh berdasarklan hadith Nabi saw.

..
Merusak tulang orang mati hukumnya sama dengan merusak tulang
orang hidup.
Hadith tersebut menunjukkan bahwa manusia itu muhtaramah (mulya)
hidup dan matinya dan kalaupun si mayyit mewasiatkan anggota tubuhnya untuk
diberikan kepada orang lain, maka wasiat itu tidak sah karena manusia tidak
mempunyai (hak atas) tubuhnya sendiri dan ahli waris hanya menerima warisan
dari mayyit harta peninggalan saja bukan termasuk di dalamnya (warisan) anggota
tubuh mayyit.
Kedua, berbeda dengan Ibn Baz para pakar hukum Islam kontemporer di
antaranya Qardawi, al-Buti, Abd Allah Kanun dan Abd Allah al-Faqih yang
mengatakan bahwa praktek transplantasi boleh dan kebolehannya itu bersifat
muqayyad (bersyarat). Seseorang tidak boleh mendonorkan sebagian organ

tubuhnya yang justru akan menimbulkan bahaya, kesulitan dan kesengsaraan bagi
dirinya atau bagi seseorang yang punya hak tetap atas dirinya misalnya suami atau
orang tua. Qardawi dalam fatwanya mengatakan:
Ada yang mengatakan bahwa diperbolehkannya seseorang mendermakan
atau mendonorkan sesuatu ialah apabila itu miliknya. Maka, apakah seseorang
itu memiliki tubuhnya sendiri sehingga ia dapat mempergunakan sekehendak
hatinya, misalkan mendodnorkannya. Lanjut Qardawi, perlu diperhatikan bahwa
meskipun tubuh merupakan titipan dari Allah, tetapi manusia diberi wewenang
untuk memanfaatkan dan mempergunakannya, sebagaimana harta. Sebagaimana
firman Allah SWT. Dalam surat an-Nur : 33.

#tGu9ur t%!$# w tbrgs %n%s3R


4Lym NkuZ !$# `B &#s 3 t%!
$#ur

tbqtG6t

N3ZyJr&

|=tG39$#

Ndq7?%s3s

$JB
b)

Ms3n=tB
NGJ=t

Nk #Z yz ( Ndq?#uur `iB A$B !$#


%!$#

N38s?#u

N3GutGs
$YYptrB

n?t

wur

!$t79$#

(#qtG;tGj9

ut t

(#qd 3?
b)

tbur&

o4qupt:$#

$uR9$# 4 `tBur `gd 3 b*s !$# .`B


t/ `gdt .) qx Om
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian
(diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budakbudak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat
perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan
berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya
kepadamu. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan
pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, Karena kamu hendak
mencari keuntungan duniawi. dan barangsiapa yang memaksa mereka, Maka
Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada
mereka) sesudah mereka dipaksa itu.

Sebagaimana manusia boleh mendermakan sebagian hartanya untuk


kepentingan orang lain yang membutuhkannya, maka diperkenankan juga
seseorang

mendermakan

sebagian

tubuhnya

untuk

orang

lain

yang

memerlukannya. Hanya saja perbedaannya adalah bahwa manusia adakalanya


boleh mendermakan atau membelanjakan seluruh hartanya, tetapi dia tidak boleh
mendermakan seluruh anggota badannya. Bahkan ia tidak boleh mendermakan
dirinya (mengorbankan dirinya) untuk menyelamatkan orang sakit dari kematian,
dari penderitaan yang sangat atau dari kehidupan yang sengsara.
Sementara hasil keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama sebagaimana
termaktub dalam ahkamul fuqaha mengatakan bahwa pecangkokan organ tubuh
manusia ada yang membolehkan dengan syarat : Karena diperlukan, dengan
ketentuan tertib pengamanan dan tidak ditemukan selain organ tubuh manusia
itu.
Dari penjelasan di atas bahwa transpslntasi dalam hukum Islam terdapat
perselisihan pendapat dalam hal ini ada yang melarang praktek tersebut secara
mutlak berdasarkan hadith Nabi saw dan dalil aqli bahwa anggota tubuh
manusia bukan milik manusia sendiri melainkan hanya titipan Allah yang harus
dijaga hidup dan mati.
Sementara pakar hukum Islam lainnya mengatakan boleh dengan beberapa
syarat seperti dijelaskan di atas, kalau tidak memenuhi syarat-syaratnya maka
hukumnya sebagaimana pendapat pertama yaitu tidak boleh.
Termasuk syarat yang memperbolehkan praktek transplantasi menurut
banyak pakar hukum Islam yaitu bahwa praktek tersebut dilakukan dengan hibah
(pemberian) tanpa adanya jual beli di antara dua pihak pendonor dan resipien
namun ada pendapat yang mengatakan bahwa praktek transplantasi boleh
dilakukan dengan jual beli.
Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi, dalam bukunya Masail Fiqhiyah
menyebutkan kriteria boleh dan tidaknya transplantasi dalam pandangan Islam :
Pertama; apabila pencangkokan dilakukan atau diambil dari donor yang
masih hidup maka Islam tidak membenarkannya. Dasarnya adalah :
Surat Al-Baqarah ayat 195

Rr&ur @6y !$# wur (#q)=? 3(q#)


r' n<) ps3=kJ9$# (#qZmr&ur b) !
$# =t tZsJ9$#
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu
menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Ayat di atas menunjukkan manunusia agar tidak gegabah dalam berbuat
sesuatu yang bisa berakibat fatal bagi dirinya, sekalipun hal tersebut mempunyai
tujuan kemanusiaan.
Kaidah hokum Islam

.
.
Menghindari kerusakan/resiko didahulukan atas menarik kemaslahatan

Bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya lainnya


Kedua; apabila pencangkokan diambil dari donor yang dalam keadaan
koma atau hamper dipastikan meninggal, maka Islam pun tidak membenarkannya.
Dasarnya adalah:
Hadits Nabi riwayat Malik dari Anas bin Yahya



"Tidak boleh membikin madhlarat pada dirinya dan tidak boleh
membikin madhlarat pada orang lain".
Ketiga; apabila pencangkokan diambilkan dari donor yang sudah
meninggal secara kliniks dan yuridis, maka Islam membolehkannya dengan syarat
:
a. Dalam keadaan darurat atau sangat membutuhkannya
b. Pencangkokan tidak akan menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih
gawat bagi resepien.
Dasarnya adalah :

Al Quran surat al-Maidah ayat 32

`tBur $yd$umr& !$uKRr'x6s $umr& }$Y9$#


$YJy_ 4
dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya
Hadits Nabi SAW




.
berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya
Allah tidak meletakkan sesuatu penyakit, kecuali Dia meletakkan obat
penyembuhnya, selain penyakit yang satu yaitu penyakit tua (pikun) (Hadits
riwayat Ahmad bin Hambal, Al-Tirmidzi, Abu Daud, Al-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu
Hibran dan Al-Hakim dari Usamah bin Syarik)
Kaidah hokum Islam



Bahaya itu harus dilenyapkan atau dihilangkan

C. BANK ASI
Air susu ibu (ASI) adalah makanan yang terbaik bagi bayi, karena
pengelolaannya telah berjalan secara alami dalam tubuh si ibu. Sebelum anak
lahir, makanannya telah dipersiapkan lebih dahulu. Begitu anak itu lahir, air susu
ibu telah dapat dimanfaatkan. Demikian kasih sayang Allah terhadap makhluknya.
Pada akhir-akhir ini, pemerintah selalu menghimbau kepada kaum ibu,
supaya persediaan makanan yang ada pada diri si ibu itu, jangan disia-siakan
kemudian menggantinya dengan makanan yang lain.
Menggunakan makanan lain seperti susu dan tepung yang telah khusus
untuk bayi, sebenarnya tidak dilarang tetapi sebagai makanan tambahan. Air susu

ibu, adalah makanan yang terpokok yang khusus dipersiapkan untuk si bayi dan
ASI itu sudah pasti cocok untuk bayi itu. Berbeda dengan makanan lainnya, perlu
ada penyesuaian, sebab ada kalanya si bayi itu mencret, atau muntah-muntah,
yang mengakibatkan bayi itu sakit.
Hukum Bank ASI
Ulama berbeda pandangan dalam menentukan hukum berdirinya BANK
ASI. Setidaknya ada tiga pandangan mengenai hal ini:
Pendapat Pertama menyatakan bahwa mendirikan bank ASI hukumnya
boleh. Di antara alasan mereka sebagai berikut: Bayi yang mengambil air susu
dari bank ASI tidak bisa menjadi mahram bagi perempuan yang mempunyai ASI
tersebut, karena susuan yang mengharamkan adalah jika dia menyusu langsung
dengan cara menghisap puting payudara perempuan yang mempunyai ASI,
sebagaimana seorang bayi yang menyusu ibunya. Sedangkan dalam bank ASI,
sang bayi hanya mengambil ASI yang sudah dikemas.
Ulama besar semacam Prof.Dr. Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa dia
tidak menjumpai alasan untuk melarang diadakannya Bank ASI. Asalkan
bertujuan untuk mewujudkan mashlahat syariyah yang kuat dan untuk memenuhi
keperluan yang wajib dipenuhi.
Beliau cenderung mengatakan bahwa bank ASI bertujuan baik dan mulia,
didukung oleh Islam untuk memberikan pertolongan kepada semua yang lemah,
apa pun sebab kelemahannya. Lebih-lebih bila yang bersangkutan adalah bayi
yang baru dilahirkan yang tidak mempunyai daya dan kekuatan.
Beliau juga mengatakan bahwa para wanita yang menyumbangkan
sebagian air susunya untuk makanan golongan anak-anak lemah ini akan
mendapatkan pahala dari Allah SWT, dan terpuji di sisi manusia. Bahkan
sebenarnya

wanita

itu

boleh

menjual

air

susunya,

bukan

sekadar

menyumbangkannya. Sebab di masa Nabi (Muhammad) s.a.w., para wanita yang


menyusui bayi melakukannya karena faktor mata pencaharian. Sehingga
hukumnya memang diperbolehkan untuk menjual air susu.

Bahkan Al-Qardhawi memandang bahwa institusi yang bergerak dalam


bidang pengumpulan air susu itu yang mensterilkan serta memeliharanya agar
dapat dinikmati oleh bayi-bayi atau anak-anak patut mendapatkan ucapan terima
kasih dan mudah-mudahan memperoleh pahala.
Selain Al-Qaradhawi, yang menghalalkan bank ASI adalah Al-Ustadz
Asy-Syeikh Ahmad Ash-Shirbasi, ulama besar Al-Azhar Mesir. Beliau
menyatakan bahwa hubungan mahram yang diakibatkan karena penyusuan itu
harus melibatkan saksi dua orang laki-laki. Atau satu orang laki-laki dan dua
orang saksi wanita sebagai ganti dari satu saksi laki-laki.
Bila tidak ada saksi atas penyusuan tersebut, maka penyusuan itu tidak
mengakibatkan hubungan kemahraman antara ibu yang menyusui dengan anak
bayi tersebut.
Pendapat Kedua menyatakan bahwa mendirikan Bank ASI hukumnya
haram. Alasan mereka bahwa Bank ASI ini akan menyebabkan tercampurnya
nasab, karena susuan yang mengharamkan bisa terjadi dengan sampainya susu ke
perut bayi tersebut, walaupun tanpa harus dilakukan penyusuan langsung,
sebagaimana seorang ibu yang menyusui anaknya.
Di antara ulama kontemporer yang tidak membenarkan adanya Bank ASI
adalah Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhayli. Dalam kitab Fatawa Muashirah, beliau
menyebutkan bahwa mewujudkan institusi bank susu tidak dibolehkan dari segi
syariah.
Demikian juga dengan Majma al-Fiqih al-Islamiy melalui Badan
Muktamar Islam yang diadakan di Jeddah pada tanggal 2228 Desember 1985
M./1016 Rabiul Akhir 1406 H.. Lembaga ini dalam keputusannya (qarar)
menentang keberadaan bank air susu ibu di seluruh negara Islam serta
mengharamkan pengambilan susu dari bank tersebut.
Pendapat Ketiga menyatakan bahwa pendirian Bank ASI dibolehkan jika
telah memenuhi beberapa syarat yang sangat ketat, di antaranya : setiap ASI yang
dikumpulkan di Bank ASI, harus disimpan di tempat khusus dengan menulis nama
pemiliknya dan dipisahkan dari ASI-ASI yang lain. Setiap bayi yang mengambil
ASI tersebut harus ditulis juga dan harus diberitahukan kepada pemilik ASI

tersebut, supaya jelas nasabnya. Dengan demikian, percampuran nasab yang


dikhawatirkan oleh para ulama yang melarang bisa dihindari.
Prof.DR. Ali Mustafa Yaqub, MA., salah seorang Ketua MUI Pusat
menjelaskan bahwa tidak ada salahnya mendirikan Bank ASI dan Donor ASI
sepanjang itu dibutuhkan untuk kelangsungan hidup anak manusia. Hanya saja
Islam mengatur, jika si ibu bayi tidak dapat mengeluarkan air susu atau dalam
situasi lain ibu si bayi meninggal maka si bayi harus dicarikan ibu susu. Tidak ada
aturan main dalam Islam dalam situasi tersebut mencarikan susu sapi sebagai
pengganti, kendatipun zaman nabi memang tidak ada susu formula tapi susu
kambing dan sapi sudah ada, . ini berarti bahwa mendirikan Bank ASI dan donor
ASI boleh-boleh saja karena memang Islam tidak mentoleransi susu yang lain
selain susu Ibu sebagai susu pengganti dari susu ibu kandungnya.
Hanya saja pencatatannya harus benar dan kedua keluarga harus
dipertemukan serta diberikan sertifikat. Karena 5 kali meminum susu dari ibu
menyebabkan menjadi mahramnya si anak dengan keluarga si ibu susu. Artinya
anak mereka tidak boleh menikah,.
Menurut Prof. Ali, masalah menyusu langsung atau tidak langsung, itu
hanya masalah teknik mengeluarkan susu saja, hukumnya sama. Jika sudah 5 kali
meminum susu maka jatuh hukum mahram kepada keduanya.

Sebab terjadinya perbedaan:


Terjadinya perbedaan pandangan ulama mengenai hal tersebut di atas
disebabkan adanya perbedaan dalam memahami tentang apa itu radhaah,
berapa batasan umur, bagaimana cara menyusui dan berapa kali susuan:
Tentang Pengertian ar-Radha
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ar -radha. Menurut
Hanafiyah bahwa ar-Radha adalah seorang bayi yang menghisap puting payudara
seorang perempuan pada waktu tertentu. Sedangkan Malikiyah mengatakan

bahwa ar radha adalah masuknya susu manusia ke dalam tubuh yang berfungsi
sebagai gizi. As Syafiiyah mengatakan ar-radha adalah sampainya susu seorang
perempuan ke dalam perut seorang bayi. Al Hanabilah mengatakan ar-radha
adalah seorang bayi di bawah dua tahun yang menghisap puting payudara
perempuan yang muncul akibat kehamilan, atau meminum susu tersebut atau
sejenisnya.
Batasan Umur
Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan batasan umur ketika
orang menyusui yang bisa menyebabkan kemahraman. Mayoritas ulama
mengatakan bahwa batasannya adalah jika seorang bayi berumur dua tahun ke
bawah. Dalilnya adalah firman Allah swt:

.

.
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS. Al Baqarah:
233)
Hadist Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

. .
.

Hanyasanya persusuan (yang menjadikan seseorang mahram)


terjadi karena lapar(HR Bukhari No. 2647 dan Muslim No.3679).

Jumlah Susuan
Madzhab Syafii dan Hanbali mengatakan bahwa susuan yang
mengharamkan adalah jika telah melewati 5 kali susuan secara terpisah. Hal ini
berdasarkan hadits Aisyah ra berikut ini:

. .
. . . . .
- . .
. . -
Dahulu dalam Al Qur`an susuan yang dapat menyebabkan menjadi
mahram ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus)

dengan lima kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al
Qur`an masih tetap di baca seperti itu. (HR Muslim No.3670)
Cara Menyusu
Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara menyusu yang bisa
mengharamkan:
Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang penting adalah sampainya
air susu tersebut ke dalam perut bayi, sehingga membentuk daging dan tulang,
baik dengan cara menghisap puting payudara dari perempuan langsung, ataupun
dengan cara as suuth (memasukkan susu ke lubang hidungnya), atau
dengan cara /al- wujur (menuangkannya langsung ke tenggorakannya),
atau dengan cara yang lain.
Adapun Madzhab Dhahiriyah mengatakan bahwa persusuan yang
mengharamkan hanyalah dengan cara seorang bayi menghisap puting payu dara
perempuan secara langsung. Selain itu, maka tidak dianggap susuan yang
mengharamkan. Mereka berpegang kepada pengertian secara lahir dari kata
menyusui yang terdapat di dalam firman Allah swt:

.

.
(Diharamkan atas kamu mengawini) Ibu-ibumu yang menyusui kamu
dan saudara perempuan sepersusuan (QS.An-Nisa: 23)
KESIMPULAN

Jadi, mengenai pencangkokan organ tubuh, tidak usah kita mempersoalkan


para donor dan resipiennya, karena tujuannya untuk kemanusiaan dan dilakukan
dalam keadaan darurat. Sama halnya seperti tranfusi darah, tidak mempersoalkan
donor dan resipiennya.



. .
.

Bahwa pada prinsipnya segala sesuatu itu boleh (mubah), kecuali ada dalil yang
mengharamkannya.
Berdasarkan kaidah tersebut di atas, maka hukum donor darah itu
diperbolehkan, karena tidak ada dalil yang melarangnya, baik dari Al-Qur'an
maupun hadits. Namun demikian tidak berarti, bahwa kebolehan itu dapat
dilakukan tanpa syarat, bebas lepas begitu saja. Sebab bisa saja terjadi, bahwa
sesuatu yang pada awalnya diperbolehkan, tetapi karena ada hal-hal yang dapat
membahayakan resipien, maka akhirnya menjadi terlarang.
Pemanfaatan air susu dari bank ASI, adalah dalam keadaan terpaksa
(bukan karena haram). Sebab, selagi Ibu si bayi itu masih mungkin menyusukan
anaknya itu, maka itulah sebenarnya yang terbaik.
http://widodoromi.blogspot.co.id/2012/05/tranfusi-transplantasi-bank-asi.html
180512

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tranplantasi, Transfusi dan Bank ASI


1.
Transplantasi Organ
Transplantasi berasal dari bahasa Inggris transplantation, bentuk noun dari
kata kerja to transplant, yang berarti to take up and plant to another
(mengambil dan menempelkan pada tempat lain), demikian menurut Taylor (1965:
1065). Menurut Bornby dkk (1963: 1075) transplantasi adalah to move from one
place to another (memindahkan dari satu tempat ke tempat lain), sedang Wojo
Wasito dan Poerwadarmita mengartikan transplantasi dengan pemindahan
(tanaman).15[1]
Secara umum transplantasi dapat dipahami bahwa transplantasi adalah
pemindahan organ tubuh yang mempunyai daya hidup yang sehat untuk
menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi dengan baik, yang

15

apabila diobati dengan prosedur medis biasa, harapan penderita untuk bertahan
hidup tidak ada lagi.16[2]
2.

Transfusi Darah
Menurut dr. Rustam Masri, transfusi darah adalah proses pekerjaan

memindahkan darah dari orang yang sehat kepada orang yang sakit. Sedangkan dr.
Ahmad Sopian

memberikan pengertian lain, bahwa transfusi darah ialah

memasukkan darah orang lain ke dalam pembuluh yang akan ditolong. Dengan
demikian transfusi darah itu tiada lain adalah suatu cara membantu pengobatan. 17
[3]

3.

Bank ASI
Bank ASI merupakan tempat penyimpanan dan penyalur ASI dari donor

ASI yang kemudian akan diberikan kepada ibu-ibu yang tidak bisa memberikan
ASI sendiri ke bayinya. Ibu yang sehat dan memiliki kelebihan produksi ASI bisa
menjadi pendonor ASI. ASI biasanya disimpan di dalam plastik atau wadah, yang
didinginkan dalam lemari es agar tidak tercemar oleh bakteri.18[4]
2.2 Tujuan dari Transplantasi, Transfusi dan Bank ASI
1. Transplantasi
Transplantasi pada dasarnya bertujuan untuk :
1) Kesembuhan dari suatu penyakit, misalnya kebutuhan, rusaknya jantung, ginjal
2)

dan sebagainya.
Pemulihan kembali fungsi dari suatu organ, jaringan atau sel yang telah rusak
atau mengalami kelainan tetapi sama sekali tidak terjadi kesakitan biologis,
misalnya bibir sumbing.
16
17
18

Jika ditinjau dari segi tingkat tujuannya, maka transplantasi bermaksud :


... semata-mata pengobatan dari sakit atau cacat yang kalau tidak dilakukan
dengan pencangkokan tidak akan menimbulkan kematian,.(Rahman, 1980 : 33),
seperti transplantasi cornea dan bibir sumbing
sebagai jalan terakhir yang kalau tidak dilakukan akan menimbulkan kematian...
(Rahman, 1980 : 34). Seperti transplantasi ginjal, jantung dan hati.19[5]
2. Transfusi Darah
Transfusi darah merupakan suatu cara membantu proses pengobatan yang
sudah ada, dan darah hanya membantu saja sebagai salah satu pelengkap daripada
metode pengobatan.20[6]
3. Bank ASI
Kesulitan para ibu memberikan ASI untuk anaknya menjadi salah satu
pertimbangan mengapa bank ASI perlu didirikan, terutama di saat krisis seperti
pada saat bencana yang sering membuat ibu-ibu menyusui stres dan tidak bisa
memberikan ASI pada anaknya.21[7]
2.3 Hukum Transplantasi Berdasarkan Kondisi Si Donor dalam Syariat Islam
1. Hukum transplantasi organ tubuh dalam keadaan hidup sehat
Apabila transplantasi organ tubuh diambil dari orang yang masih dalam keadaan
hidup

sehat,

maka

hukumnya

haram,

dengan

alasan

a) Firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 195 :


Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Ayat tersebut mengingatkan, agar jangan gegabah dan ceroboh dalam
melakukan sesuatu, tetapi harus memperhatikan akibatnya, yang kemungkinan
19
20
21

bisa berakibat fatal bagi pendonor, meskipun perbuatannya itu mempunyai tujuan
kemanusiaan yang baik dan luhur.
b) Kaidah Fiqyah









Menolak kemadharatan lebih utama dari pada menarik kemaslahatan
Berkenaan dengan transplantasi, sesorang harus lebih mengutamakan
memelihara dirinya dari kebinasaan, daripada menolong orang lain dengan cara
mengorbankan diri sendiri, akhirnya ia idak dapat melaksanakan tugas dan
kewajibannya, terutama kewajbannya dalam melaksanakan shalat.
2. Hukum transplantasi organ tubuh dalam keadaan hidup koma
Melakukan transplantasi organ tubuh dalam keadaan masih hidup,
meskipun dalam keadaan koma, hukumnya tetap haram walaupun menurut dokter
bahwa si donor itu akan segera meninggal, karena hal itu dapat mempercepat
kematiannya dan mendahului kehendak allah. Hal tersebut dapat dikatakan
sebagai euthanasia atau mempercepat kematian. Tidak etis melakukan
transplantasi atau mengambil organ dalam keadaan sekarat.
Hadis nabi :
Tidak boleh membuat madharat pada diri sendiri dan tidak boleh pula membuat
mudharat pada orang lain
Berdasarkan hadits tersebut, mengambil organ tubuh orang dalam keadaan
sekarat/koma haram hukumnya karena dapat membuat mudharat kepada donor
tersebut yang memepercepat kematiannya. Manusia wajib berusaha untuk
menyembuhkan penyakitnya demi mempertahankan hidupnya, karena hidup dan
mati berada di tangan Allah.
3. Hukum transplantasi organ tubuh donor dalam keadaan telah meninggal

Mengambil organ donor (jantung, mata atau ginjal) yang sudah meninggal
secara yuridis dan medis, hukumnya mubah yaitu dibolehkan menurut pandangan
Islam, dengan syarat bahwa resipien (penerima sumbangan organ tubuh) dalam
keadaan darurat yang mengancam jiwanya bila tidak dilakukan transplantasi itu,
sedangkan ia sudah berobat secara optimal, tetapi tidak berhasil. Hal ini
berdasarkan kepada qaidah fiqyah






Darurat itu bisa membolehkan yang dilarang.
Selain itu pencangkokan cocok dengan organ resipien dan tidak akan
menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih gawat dibanding sebelumnya.
Dengan syarat, harus ada wasiat dari donor kepada ahli warisnya untuk
menyumbangkan organ tubuhnya bila meninggal, atau ada izin dari ahli warisnya.
Demikian ini sesuai dengan fatwa MUI tanggal 27 Juni 1987, bahwa
dalam kondisi tidak ada pilihan lain yang lebih baik, maka penambilan katup
jantung orang yang sudah meninggal untuk kepentingan orang yang masih hidup,
dapat dibenarkan oleh hukum Islam dengan syarat ada izin dari yang bersangkutan
(lewat wasiat sewaktu masih hidup)dan izin keluarga/ahli waris.22[8]

Dalilnya terdapat dalam QS al-Baqarah ayat 195, QS al-Maidah ayat 32 dan QS


al-Maidah ayat 2.
QS al-Maidah ayat 32 :

Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa:
barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi,
Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya dan barangsiapa
yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah
22

memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang


kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang
jelas, Kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh
melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.
QS al-Maidah ayat 2 :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah,


dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula)
mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari
kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu Telah menyelesaikan
ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu)
kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolongmenolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwakepada
Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya
2.4 Hukum Transfusi Darah dalam Realitas Fenomena Saat Ini
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh,
yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan
(diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan
anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir Telah putus
asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada
mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa Karena kelaparan
tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.

Ayat diatas pada dasarnya melarang memakan maupun


mempergunakan darah, baik secara langsung maupun tidak.
Akan tetapi apabila darah merupakan satu-satunya jalan untuk

menyelamatkan jiwa seseorang yang kehabisan darah, maka


mempergunakan darah dibolehkan dengan jalan transfusi.23[9]
Agama

Islam

tidak

melarang

seorang

muslim

atau

muslimah menyumbangkan darahnya untuk tujuan kemanusiaan


dan bukan komersial. Darah itu dapat disumbangkan secara
langsung kepada yang memerlukannya, seperti untuk keluarga
sendiri, atau diserahkan kepada palang meah indonesia atau
bank darah untuk disimpan dan sewaktu-waktu dapat digunakan
untuk menolong orang yang memerlukan, apakah seagama atau
tidak.

Sesuai

dengan

kaidah

hukum

Islam

Bahwa

pada

prinsipnya segala sesuatu itu boleh (mubah), kecuali ada dalil


yang mengharamkannya.
Berdasarkan kaidah tersebut, maka hukum donor darah itu
dibolehkan karena tidak ada dalil yang melarangnya. Namun
demikian tetap harus memenuhi persyaratan yang ditentukan
seperti mendonor dalam keadaan berpenyakit menular adalah
terlarang.24[10]
2.5 Hukum Bank Asi Dalam Syariat Islam Dikaitkan dengan Kemaslahatan dan
Implikasinya terhadap Perkawinan
Bank ASI dan kaitannya dengan Rada'ah :

Pengertian ar-Radha'
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ar -radha' atau
susuan. Menurut Hanafiyah bahwa ar-Radha' adalah seorang bayi yang
23
24

menghisap puting payudara seorang perempuan pada waktu tertentu. Sedangkan


Malikiyah mengatakan bahwa ar-Radha' adalah masuknya susu manusia ke dalam
tubuh yang berfungsi sebagai gizi. As-Syafi'iyah mengatakan ar-Radha' adalah
sampainya susu seorang perempuan ke dalam perut seorang bayi. Al-Hanabilah
mengatakan ar-Radha' adalah seorang bayi di bawah dua tahun yang menghisap
puting payudara perempuan yang muncul akibat kehamilan, atau meminum susu
tersebut atau sejenisnya. (Ibnu Nujaim, al Bahru ar Raiq: 3/221, Ibnu Arafah,
Syarhu Hudud: 1/316, al Muthi'i, Takmilah al Majmu': 19/309, al Bahuti, Syarhu
Muntaha al Iradat: 4/ 1424).

Batasan Umur
Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan batasan umur ketika
orang menyusui yang bisa menyebabkan kemahraman. Mayoritas ulama
mengatakan bahwa batasannya adalah jika seorang bayi berumur dua tahun ke
bawah. Dalilnya adalah firman Allah swt:

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu
bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi
makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak
dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu
menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan
warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum
dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada
dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain,
Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha
melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 2 [al - Baqarah] : 233)
Hadist Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

"Sesungguhnya persusuan (yang menjadikan seseorang mahram) terjadi karena


lapar" (HR Bukhari dan Muslim)

Jumlah Susuan
Madzhab Syafi'i dan Hanbali mengatakan bahwa susuan yang mengharamkan
adalah jika telah melewati 5 kali susuan secara terpisah. Hal ini berdasarkan hadits
Aisyah ra, bahwasanya beliau berkata:



(
"Dahulu dalam Al Qur`an susuan yang dapat menyebabkan menjadi mahram
ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan lima
kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al Qur`an masih
tetap di baca seperti itu." (HR Muslim)
Kapan seorang bayi menyusui dan dianggap sebagai satu susuan? Yaitu
jika dia menyusui, setelah kenyang dia melepas susuan tersebut menurut
kemauannya. Jika dia menyusu lagi setelah satu atau dua jam, maka terhitung dua
kali susuan dan seterusnya sampai lima kali menyusu. Kalau si bayi berhenti
untuk bernafas, atau menoleh kemudian menyusu lagi, maka hal itu dihitung satu
kali susuan saja. (Sidiq Hassan Khan, Raudhatu an Nadiyah, 2/174)

Cara Menyusu
Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara menyusu yang bisa
mengharamkan. Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang penting adalah
sampainya air susu tersebut ke dalam perut bayi, sehingga membentuk daging dan
tulang, baik dengan cara menghisap puting payudara dari perempuan langsung,
ataupun dengan cara as-su'uth (memasukkan susu ke lubang hidungnya), atau
dengan cara al-wujur (menuangkannya langsung ke tenggorakannya), atau dengan
cara yang lain. Sebagaimana Riwayat Abu Daud dan Daar Kuthny dari Ibnu
Mas'ud bahwasannya Rasulullah Saw. Bersabda,







Tidak ada penyusuan kecuali yang membesarkan tulang dan menumbuhkan
daging. (HR. Abu Dawud)

nupadAnagned

halaynah
nakmarahgnem
gnay
naususrep
awhab
nakatagnem
hayirihahD
bahzdaMnialeS

.gnusgnal araces naupmerep araduyap


gnitup pasihgnem iyab gnaroes aracadapek

gnagepreb
akereM .nakmarahgnem gnay nausus paggnaid kadit
akam ,utihallA

namrif malad id tapadret gnay iusuynem


atak irad rihal araces naitregnep:tws

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan;


saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang
perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan
dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudarasaudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara
perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang
dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu
belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak
berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak
kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan
yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4 [an Nisa]: 23).

Hukum Jual Beli Asi


Air Susu Ibu (ASI) adalah bagian yang mengalir dari anggota tubuh
manusia, dan tidak diragukan lagi itu merupakan karunia Allah bagi manusia
dimana dengan adanya ASI tersebut seorang bayi dapat memperoleh gizi. ASI
tersebut merupakan sesuatu hal yang urgen di dalam kehidupan bayi. Karena
pentingnya ASI tersebut untuk pertumbuhan maka sebagian orang memenuhi
kebutuhan tersebut dengan membeli ASI pada orang lain. Jual beli ASI manusia
itu sendiri di dalam fiqih Islam merupakan cabang hukum yang para ulama
berbeda pendapat di dalamnya. Ada dua pendapat ulama tentang hal tersebut.

Pertama, tidak boleh menjualnya. Ini merupakan pendapat ulama madzhab


Hanafi kecuali Abu Yusuf, salah satu pendapat yang lemah pada madzhab Syafi'i
dan merupakan pendapat sebagian ulama Hanbali.
Kedua, pendapat yang mengatakan dibolehkan jual beli ASI manusia. Ini
merupakan pendapat Abu Yusuf (pada susu seorang budak), Maliki dan Syafi'i,
Khirqi dari madzhab Hanbali, Ibnu Hamid, dikuatkan juga oleh Ibnu Qudamah
dan juga madzhab Ibnu Hazm.

Hukum Mendirikan Bank ASI


Melihat efek yang buruk dari pendirian bank ASI ini, karena akan
membawa bahaya kepada kita semua, mulai dari bahaya fisik atau rusaknya
hubungan darah antara manusia yang dikarenakan bank susu tersebut tidak bisa
mengontrol sejauh mana pembelian dan penjualan susu tersebut.
Karlany berkata bahwa di dalam pembolehan menjual ASI itu ada
kemunkaran karena bisa menimbulkan rusaknya pernikahan yang disebabkan
kawinnya orang sesusuan dan hal tersebut tidak dapat diketahui jika antara lelaki
dan wanita meminum ASI yang dijual bank ASI tersebut. Namun, ada juga yang
berpendapat bahwa menjual ASI tersebut membawa manfaat bagi manusia yaitu
tercukupinya gizi bagi bayi karena kita melihat bahwa banyak bayi yang tidak
memperoleh ASI yang cukup baik karena kesibukan sang ibu ataupun karena
penyakit yang diderita ibu tersebut. Tetapi pendapat tersebut dapat ditolak karena
kemudaratan yang ditimbulkan lebih besar dari manfaatnya yaitu terjadinya
percampuran nasab. Padahal Islam menganjurkan kepada manusia untuk selalu
menjaga nasabnya. Kaidah ushul juga menyebutkan bahwa :









Menolak kemadharatan lebih utama dari pada menarik kemaslahatan.
Ibnu Sayuti di dalam kitab Asybah Wa Nadhaair menyebutkan bahwa di dalam
kaidah disebutkan bahwa diantara prinsip dasar Islam adalah :

Kemudaratan itu tidak dapat dihilangkan dengan kemudaratan lagi.


Hal ini jelas, karena akan menambah masalah. Kaitannya dengan pembahasan kita
yaitu, ketiadaan ASI bagi seorang bayi adalah suatu kemudaratan, maka memberi
bayi dengan ASI yang dijual di bank ASI adalah kemudaratan pula. Maka apa
yang tersisa dari bertemunya kemudaratan kecuali kemudaratan. Karena Fiqih
bukanlah pelajaran fisika dimana bila bertemu dua kutub yang sama akan
menghasilkan hasil yang berbeda. Maka penulis sependapat dengan perkataan Ibn
Karlany yang mengatakan bahwa hendaknya kita melihat mana yang lebih besar
manfaatnya daripada kerusakannya.
Sebagian ulama kontemporer membolehkan pendirian bank ASI ini, diantara
mereka adalah Dr. Yusuf al-Qardhawi. Mereka beralasan :
1. Bahwa kata kata radha'(menyusui) di dalam bahasa Arab
bermakna menghisap puting payudara dan meminum ASI-nya.
Maka oleh karena itu meminum ASI bukan melalui menghisap
payudara tidak disebut menyusui, maka efek dari penyusuan model
ini tidak membawa pengaruh apa-apa di dalam hukum nasab
nantinya.
2. Yang menimbulkan adanya saudara sesusu adalah sifat "keibuan",
yang ditegaskan Al-Qur'an itu tidak terbentuk semata-mata
diambilkan air susunya, tetapi karena menghisap teteknya dan
selalu lekat padanya sehingga melahirkan kasih sayang si ibu dan
ketergantungan si anak. Dari keibuan ini maka muncullah
persaudaraan sepersusuan. Jadi, keibuan ini merupakan asal
(pokok), sedangkan yang lain mengikutinya.

3. Alasan yang dikemukakan oleh beberapa madzhab dimana mereka


memberi ketentuan berapa kali penyusuan terhadap seseorang
sehingga antara bayi dan ibu susu memilki ikatan yang diharamkan
nikah, mereka mengatakan bahwa jika si bayi hanya menyusu
kurang dari lima kali susuan maka tidaklah membawa pengaruh di
dalam hubungan darah.
http://chandrayuliasman.blogspot.co.id/2013/06/fiqh-kontemporer-tranplantasiorgan.html
260613

AB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbagai ragam permasalahan yang muncul ditengah-tengah masyarakat,
baik yang menyangkut masalah ibadah, aqidah, ekonomi, sosial, sandang, pangan,
kesehatan dan sebagainya, seringkali meminta jawaban kepastiannya dari sudut
hukum. Dalam kondisi yang demikian, maka berkembanglah salah satu disiplin
ilmu yang dinamakan Masail Fiqhiyyah. Berbagai masalah yang dibicarakan
dalam ilmu ini biasanya amat menarik, unik dan sekaligus problematik. Hal ini
terjadi karena untuk menjawab berbagai masalah tersebut telah bermunculan
beragam jawaban yang disebabkan karena latar belakang pendekatan dan sistem
pemecahan yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi dalam pengambilan
keputusan hukum.
Studi yang menyangkut berbagai masalah fiqhiyyah tersebut terus
berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat sebagai akibat dari
kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak hal yang dahulu
tidak ada kini bermunculan yang selanjutnya menuntut jawaban dari segi hukum.
Begitu dekatnya masalah hukum ini dengan kehidupan umat Islam,
menyebabkan bidang kajian masalah ini sudah demikian akrab dengan masyarakat
dibandingkan dengan studi lainnya seperti tafsir, hadits, ilmu kalam dan
sebagainya. Fiqhlah yang paling banyak dikenal dan amat populer di masyarakat
Indonesia.
Kajian terhadap masalah ini sudah demikian lama dan telah melembaga di
masyarakat Islam. Kajian terhadap pertumbuhan ilmu fiqh, ushul fiqh dan qawaid

fiqhiyyah sudah amat berkembang. Hal yang demikian terjadi karena adanya
perubahan sosial yang berpengaruh terhadap perubahan hukum. Seiring dengan
itu, kajian pemikiran hukum Islam dari sudut theologi juga banyak dilakukan para
ahli dengan berbagai pendekatan yang digunakan.
Dalam menghadapi perkembangan masyarakat yang semakin modern,
telah muncul berbagai masalah di sekitar, transplantasi organ tubuh dan masih
banyak yang lainnya, yang mana mau tidak mau akan mendorong para pakar
hukum untuk mencarikan pemecahannya secara komprehensif dan utuh.
Tentu saja jawaban-jawaban tersebut diatas pada akhirnya menghendaki
adanya metode dan pendekatan yang digunakan. Dalam kaitan ini, telah pula
muncul metodologi ijtihad yang imam Jafar al-Shiddiq dari kalangan Syiah
Imamiyyah, istihsan Abu Hanifah dan lain sebagainya.
Dengan menggunakan berbagai pendekatan tersebut, maka para pakar
hukum Islam, termasuk dari Indonesia telah melakukan upaya jawaban hukum
terhadap berbagai masalah yang berkembang.
B. Rumusan Masalah
a. Pengertian transplantasi organ tubuh,tranfusi darah, dan bank ASI?
b. Bagaimana pandangan Islam dalam masalah transplatasi organ tubuh, transfusi
c.

darah dan bank ASI?


Bagaimana pandangan hukum negara dalam masalah tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Transplantasi Organ Tubuh


Pengertian transplantasi (pencangkokan) ialah pemindahan organ tubuh yang
mempunyai daya hidup yang sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak
sehat dan tidak berfungsi dengan baik, yang apabila diobati dengan prosedur
medis biasa, harapan penderita untuk bertahan hidupnya tidak ada lagi.

Dalam pelaksanaan transplantasi organ tubuh ada tiga pihak yang terkait
dengannya:
Pertama, Donor, yaitu orang yang menyumbangkan organ tubuhnya yang masih
sehat untuk dipasangkan pada orang lain yang organ tubuhnya menderita sakit
atau terjadi kelainan.
Kedua, Resipien, yaitu orang yang menerima organ tubuh dari donor yang karena
satu dan lain hal, organ tubuhnya harus diganti.
Ketiga, Tim ahli, yaitu para dokter yang menangani operasi transplantasi dari
pihak donor kepada resipien.
Berkenaan dengan donor, transplantasi dapat dikategorikan ke dalam tiga tipe,
1.

yaitu :
Donor dalam keadaan hidup sehat. Dalam tipe ini perlu adanya seleksi yang
cermat dan harus dilakukan general check up (pemeriksaan kesehatan yang
lengkap menyeluruh), baik terhadap donor maupun terhadap resipien (penerima),
demi menghindari kegagalan transplantasi yang disebabkan penolakan tubuh
resipien dan sekaligus menghindari dan mencegah resiko bagi donor. Sebab
menurut data statistik, 1 dari 1000 donor meninggal, dan si donor juga merasa
was-was dan merasa tidak aman, karena dia menyadari, misalnya bila dia donor

ginjal, dia tak akan memperoleh kembali ginjalnya seperti sedia kala.
2. Donor dalam keadaan koma. Apabila donor dalam keadaan koma atau diduga
kuat akan meninggal segera, maka dalam pengambilan organ tubuh donor
memerlukan alat kontrol dan penunjang kehidupan, misalnya dengan bantuan alat
pernafasan khusus. Kemudian alat-alat penunjang kehidupan tersebut dicabut
setelah selesai proses pengambilan organ tubuhnya.25[1] Hanya, kriteria
meninggal secara medis/klinis dan yuridis perlu ditentukan dengan tegas dan
tuntas, apakah kriteria itu ditandai dengan berhentinya denyut jantung dan
pernafasan26[2], atau ditandai dengan berhentinya fungsi otak.27[3]

25
26
27

3.

Donor dalam keadaan meninggal. Dalam tipe ini, organ tubuh yang akan
dicangkokkan diambil ketika donor telah meninggal berdasarkan ketentuan medis
dan yuridis, juga harus diperhatikan daya tahan organ yang akan diambil untuk
transplantasi28[4], apakah masih ada kemungkinan untuk bisa berfungsi bagi
resipien atau apakah sel-sel jaringannya telah mati, sehingga tidak berguna lagi
bagi resipien.
Berdasarkan uraian diatas, maka muncul suatu pertanyaan: Bagaimanakah
pandangan hukum Islam tentang transplantasi organ tubuh, baik donor dalam
keadaan sehat, dalam keadaan koma, maupun dalam keadaan meninggal?. Inilah
yang menjadi pokok masalah dalam tulisan ini, yang mana dalam pembahasannya
berpedoman pada hukum Islam (Quran dan Hadits) secara eksplisit, serta
mengaitkan hal tersebut pada qaidah fiqhiyyah yang benar.

B.Hukum Transplantasi Organ Tubuh


1. Hukum Transplantasi Organ Tubuh Donor Dalam Keadaan Sehat
Apabila transplantasi organ tubuh diambil dari orang yang masih dalam keadaan
hidup sehat, maka hukumnya Haram, dengan alasan :
Firman Allah dalam Al Quran surah Al Baqarah ayat 195 :




Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan.


Ayat tersebut mengingatkan manusia, agar jangan gegabah dan ceroboh dalam
melakukan sesuatu, namun tetap menimbang akibatnya yang kemungkinan bisa
berakibat fatal bagi diri donor, walaupun perbuatan itu mempunyai tujuan
kemanusiaan yang baik dan luhur. Umpamanya seseorang menyumbangkan
sebuah ginjalnya atau matanya pada orang lain yang memerlukannya karena
hubungan keluarga, teman atau karena berharap adanya imbalan dari orang yang
memerlukan dengan alasan krisis ekonomi. Dalam masalah yang terakhir ini,
yaitu donor organ tubuh yang mengharap imbalan atau menjualnya, haram
28

hukumnya, disebabkan karena organ tubuh manusia itu adalah milik Allah (milk
ikhtishash), maka tidak boleh memperjualbelikannya. Manusia hanya berhak
mempergunakannya, walaupun organ tubuh itu dari orang lain.
Orang yang mendonorkan organ tubuhnya pada waktu masih hidup sehat
kepada orang lain, ia akan menghadapi resiko ketidakwajaran, karena mustahil
Allah menciptakan mata atau ginjal secara berpasangan kalau tidak ada hikmah
dan manfaatnya bagi seorang manusia. Maka bila ginjal si donor tidak berfungsi
lagi, maka ia sulit untuk ditolong kembali. Maka sama halnya, menghilangkan
penyakit dari resipien dengan cara membuat penyakit baru bagi si donor. Hal ini
tidak diperbolehkan karena dalam qaidah fiqh disebutkan:


Bahaya

(kemudharatan)

tidak

boleh

dihilangkan

dengan

bahaya

(kemudharatan) lainnya29[5]
Qaidah Fiqhiyyah











Menghindari

kerusakan/resiko,

didahulukan

dari/atas

menarik

kemaslahatan30[6]
Berkaitan transplantasi, seseorang harus lebih mengutamakan menjaga dirinya
dari kebinasaan, daripada menolong orang lain dengan cara mengorbankan diri
sendiri dan berakibat fatal, akhirnya ia tidak mampu melaksanakan tugas dan
kewajibannya, terutama tugas kewajibannya dalam melaksanakan ibadah.

2. Hukum Transplantasi Organ Tubuh Donor Dalam Keadaan Koma


29
30

Melakukan transplantasi organ tubuh donor dalam keadaan koma,


hukumnya tetap haram, walaupun menurut dokter, bahwa si donor itu akan segera
meninggal, karena hal itu dapat mempercepat kematiannya dan mendahului
kehendak Allah, hal tersebut dapat dikatakan euthanasia atau mempercepat
kematian.

Tidaklah

berperasaan/bermoral

melakukan

transplantasi

atau

mengambil organ tubuh dalam keadaan sekarat. Orang yang sehat seharusnya
berusaha untuk menyembuhkan orang yang sedang koma tersebut, meskipun
menurut dokter, bahwa orang yang sudah koma tersebut sudah tidak ada harapan
lagi untuk sembuh. Sebab ada juga orang yang dapat sembuh kembali walau itu
hanya sebagian kecil, padahal menurut medis, pasien tersebut sudah tidak ada
harapan untuk hidup. Maka dari itu, mengambil organ tubuh donor dalam keadaan
a.

koma, tidak boleh menurut Islam dengan alasan sebagai berikut:


Hadits Nabi, riwayat Malik dari Amar bin Yahya, riwayat al-Hakim, al-Baihaqi
dan al-Daruquthni dari Abu Said al-Khudri dan riwayat Ibnu Majah dari Ibnu
Abbas dan Ubadah bin al-Shamit :

Tidak boleh membuat madharat pada diri sendiri dan tidak boleh pula membuat
madharat pada orang lain31[7]
Berdasarkan hadits tersebut, mengambil organ tubuh orang dalam keadaan
koma/sekarat haram hukumnya, karena dapat membuat madharat kepada donor
tersebut yang berakibat mempercepat kematiannya, yang disebut euthanasia.
b.

Manusia

wajib

berusaha

untuk

menyembuhkan

penyakitnya

demi

mempertahankan hidupnya, karena hidup dan mati berada di tangan Allah. Oleh
karena itu, manusia tidak boleh mencabut nyawanya sendiri atau mempercepat
kematian orang lain, meskipun hal itu dilakukan oleh dokter dengan maksud
mengurangi atau menghilangkan penderitaan pasien.
3. Hukum Transplantasi Organ Tubuh Donor Dalam Keadaan Meninggal

31

Mengambil organ tubuh donor (jantung, mata atau ginjal) yang sudah meninggal
secara yuridis dan medis, hukumnya mubah, yaitu dibolehkan menurut pandangan
a.

Islam dengan syarat bahwa :


Resipien (penerima sumbangan organ tubuh) dalam keadaan darurat yang
mengancam jiwanya bila tidak dilakukan transplantasi itu, sedangkan ia sudah
berobat secara optimal baik medis maupun non medis, tetapi tidak berhasil. Hal
ini berdasarkan qaidah fiqhiyyah :

Darurat akan membolehkan yang diharamkan.32[8]

Juga berdasarkan qaidah fiqhiyyah :


Bahaya itu harus dihilangkan33[9]

b.

Juga pencangkokan cocok dengan organ resipien dan tidak akan menimbulkan
komplikasi penyakit yang lebih gawat baginya dibandingkan dengan keadaan
sebelumnya. Disamping itu harus ada wasiat dari donor kepada ahli warisnya,
untuk menyumbangkan organ tubuhnya bila ia meninggal, atau ada izin dari ahli
warisnya.
Demikian ini sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia tanggal 29 Juni
1987, bahwa dalam kondisi tidak ada pilihan lain yang lebih baik, maka
pengambilan katup jantung orang yang telah meninggal untuk kepentingan orang
yang masih hidup, dapat dibenarkan oleh hukum Islam dengan syarat ada izin dari

32
33

yang bersangkutan (lewat wasiat sewaktu masih hidup) dan izin keluarga/ahli
waris.34[10]
Adapun fatwa MUI tersebut dikeluarkan setelah mendengar penjelasan
langsung Dr. Tarmizi Hakim kepada UPF bedah jantung RS Jantung Harapan
Kita tentang teknis pengambilan katup jantung serta hal-hal yang berhubungan
dengannya di ruang sidang MUI pada tanggal 16 Mei 1987. Komisi Fatwa sendiri
mengadakan diskusi dan pembahasan tentang masalah tersebut beberapa kali dan
terakhir pada tanggal 27 Juni 1987.35[11]
Adapun dalil-dalil yang dapat menjadi dasar dibolehkannya transplantasi
organ tubuh, antara lain:
a) Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 195 yang telah kami sebut dalam pembahasan
didepan, yaitu bahwa Islam tidak membenarkan seseorang membiarkan dirinya
dalam bahaya, tanpa berusaha mencari penyembuhan secara medis dan non medis,
termasuk upaya transplantasi, yang memberi harapan untuk bisa bertahan hidup
dan menjadi sehat kembali.
b) Al-Quran surah Al-Maidah ayat 32:

Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolaholah ia memelihara kehidupan manusia semuanya.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa tindakan kemanusiaan (seperti transplantasi)
sangat dihargai oleh agama Islam, tentunya sesuai dengan syarat-syarat yang telah
disebutkan diatas.
c)

Al-Quran surah Al-Maidah ayat 2: Dan tolong-menolonglah kamu dalam


kebaikan dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa. Selain itu juga ayat
195, menganjurkan agar kita berbuat baik. Artinya: Dan berbuat baiklah karena
Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

34
35

Menyumbangkan organ tubuh si mayit merupakan suatu perbuatan tolongmenolong dalam kebaikan, karena memberi manfaat bagi orang lain yang sangat
memerlukannya.
Pada dasarnya, pekerjaan transplantasi dilarang oleh agama Islam, karena
agama Islam memuliakan manusia berdasarkan surah al-Isra ayat 70, juga
menghormati jasad manusia walaupun sudah menjadi mayat, berdasarkan hadits
Rasulullah saw. : Sesungguhnya memecahkan tulang mayat muslim, sama
seperti memecahkan tulangnya sewaktu masih hidup. (HR. Ahmad, Abu Daud,
Ibnu Majah, Said Ibn Mansur dan Abd. Razzaq dari Aisyah).36[12]
Tetapi menurut Abdul Wahab al-Muhaimin; meskipun

pekerjaan

transplantasi itu diharamkan walau pada orang yang sudah meninggal, demi
kemaslahatan karena membantu orang lain yang sangat membutuhkannya, maka
hukumnya mubah/dibolehkan selama dalam pekerjaan transplantasi itu tidak ada
unsur merusak tubuh mayat sebagai penghinaan kepadanya 37[13]Hal ini
didasarkan pada qaidah fiqhiyyah :

Apabila bertemu dua hal yang mendatangkan mafsadah (kebinasaan), maka


dipertahankan yang mendatangkan madharat yang paling besar, dengan
melakukan perbuatan yang paling ringan madharatnya dari dua madharat.38[14]
Hadits Nabi saw.

Berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak


meletakkan suatu penyakit kecuali dia juga telah meletakkan obat penyembuhnya,
selain penyakit yang satu, yaitu penyakit tua.

36
37
38

(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Usamah ibnu Syuraih)

Oleh sebab itu, transplantasi sebagai upaya menghilangkan penyakit, hukumnya


mubah, asalkan tidak melanggar norma ajaran Islam.
Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda pula : Setiap penyakit ada obatnya,
apabila obat itu tepat, maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah. (HR.
Ahmad dan Muslim dari Jabir)
Selanjutnya berkenaan dengan hukum antara donor dan resipien yang seagama
atau tidak seagama, serta hukum organ tubuh yang diharamkan seperti babi, juga
dapat menimbulkan masalah, tetapi hal tersebut dapat dikaji berdasar ayat-ayat AlQuran surah al-Najm 38-41 :
1) Bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa
manusia itu tidak memperoleh selain apa yang ia usahakan. Dan bahwa
usahanya itu kelak akan diperlihatkan. Kemudian akan diberi balasannya dengan
balasan yang paling sempurna.
2) Al-Quran surah al-Baqarah ayat 286 : Ia mendapat pahala dari kebajikan yang
diusahakannya itu dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya.
Berdasar ayat-ayat diatas, berkenaan dengan hubungan antara donor dengan
resipien yang menyangkut pahala atau dosa maka dalam hal ini mereka masingmasing akan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan mereka sendirisendiri. Mereka tidak akan dibebani dengan pahala atau dosa, kecuali yang
dilakukan oleh masing-masing mereka. Yang perlu diingat, bahwa yang salah
bukan organ tubuh, tetapi pusat pengendali, yaitu pusat urat syaraf. Oleh sebab
itu, tidak perlu khawatir dengan organ tubuh yang disumbangkan, karena
tujuannya adalah untuk kemanusiaan dan dilakukan dalam keadaan darurat. Hal
ini sama dengan hukum tranfusi darah. Namun alangkah baiknya dan sangat
diharapkan demi kemaslahatan, jika organ tubuh itu kita dapatkan dari seorang
muslim juga, demi ketenangan kita dalam menjalankan kehidupan untuk ibadah,
dengan dasar :

Selanjutnya, bertalian dengan transplantasi dengan organ tubuh hewan


diharamkan yang dicangkokkan kepada manusia, seperti katup jantung babi atau
ginjalnya, dalam hal ini haram hukumnya, dengan dasar qaidah fiqh :

Pada dasarnya segala sesuatu itu adalah haram.

C. Pengertian Transfusi Darah


Transfuse darah adalah penginjeksian darah dari seseorang (yang disebut
donor) ke dalam system peredaran darah seseorang yang lain (yang disebut
resepien). Transfuse darah tidak pernah terjadi kecuali setelah ditemukannya
sirkulasi darah yang tidak pernah berhenti dalam tubuh.
Ada empat golongan darah yang utama, yaitu A, B, AB dan O. perbedaan di
antara golongan-golongan ini ditenrukan oleh ada tidaknya dua zat utama (yaitu A
dan B) dalam sel darah merah, serta oleh ada tidaknya dua unsur (yaitu unsur antiA dan unsur anti-B) dalam serum darah tersebut. Perlu dicatat bahwa ;walaupun
serum dan plasma itu mirip, tetapi perbedaan antara keduanya adalah bahwa
dalam serum, fibrinogen dan kebanyakan factor-faktor penggumpalan lainnya
tidak ada. Jadi, serum ini sendiri tidak dapat menggumpal karena ia tidak
memiliki factor-faktor penggumpal tersebut, yang ada adalah di dalam plasma
darah.
Seseorang yang bergolongan darah O di kenal sebagai donor universal,
Karena sel darah merah orang ini tidak mengandung zat kimia A maupun B.
tetapi, orang ini tidak dapat menerima darah orang lain kecuali yang bergolongan
O, karena serum darahnya berisi unsure anti-A dan anti-B sekaligus. Disisi lain,
seseorang yang bergolangan darah AB dapat menerima transfuse darah dari donor
kelompok manapun, sehingga ia disebut sebagai resepien universal, tetapi ia

hanya dapat menyumbangkan darahnya pada orang lain yang segolongan darah
AB.
D. Indikasi-indikasi Transfusi Darah
Pada dasarnya, ada dua alas an umum mengapa perlu dilakukan transfusi darah
1.

pada seseorang, yaitu :


Kehilangan darah : kehilangan darah dapat mengakibatkan kurangnya volume
darah yang mengalir dalam tubuh. Beberapa faktor yang menyebabkan, antara

1)

lain:
Pendarahan akibat luka-luka, atau dalam kasus korengan, radang usus, atau

persalinan.
2) Luka-luka, luka bakar, dan pembengkakan akibat kecelakaan.
3) Operasi, seperti operasi jantung, dan operasi-operasi bedah lainnya.
4) Ketidak cocokan darah antara ibu dan anak. Dalam kasus ini, transfusi pertukaran
5)

harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa si anak.


Anemia akut dan kronis, serta kekacauan system pembekuan darah, seperti

hemophilia.
2. Kekurangan unsur penting dalam darah, seperti pada kasus-kasus :
1) Pasien anemia yang menderita kekurangan sel darah merah, hanya membutuhkan
2)

transfusi sel darah merah saja.


Pasien hemophilia, sebagai akibat dari kekacauan system pembekuan darah,
beresiko pada timbulnya anaemia dan kehilangan darah yang berbahaya ketika
mengalami luka sekecil apapun, dikarenakan oleh proses pembekuan darah yang
terlalu lambat. Sehingga, dalam upaya menahan pendarahan, si pasien harus
mendapatkan transfuse plasma darah. Atau, si pasien dapat diinjeksi dengan AHF

(anti haemophilic factor).


E.Syarat-syarat Menjadi Pendonor
Umur 17-60 tahun( usia 17 tahun diperbolehkan menjadi donor bila mendapat

izin tertulis dari orang tua).


Berat badan minimal 45 kg.
Temperatur tubuh: 36,6 37,5 derajat Celcius.
Tekanan darah baik yaitu sistole = 110 160 mmHg, diastole = 70 100 mmHg.
Denyut nadi teratur yaitu sekitar 50 100 kali/ menit.
Hemoglobin Perempuan minimal 12 gram, sedangkan untuk pria minimal 12,5

gram.
Jumlah penyumbangan per tahun paling banyak lima kali dengan jarak
penyumbangan sekurang-kurangnya tiga bulan. Keadaan ini harus sesuai dengan
keadaan umum donor.

F. Orang-orang yang Tidak Boleh Menjadi Pendonor


Pernah menderita hepatitis B.
Dalam jangka waktu enam bulan sesudah kontak erat dengan penderita hepatitis.
Dalam jangka waktu enam bulan sesudah transfuse.
Dalam jangka waktu enam bulan sesudah tato/tindik telinga.
Dalam jangka waktu 72 jam sesudah operasi gigi.
Dalam jangka waktu enam bulan sesudah operasi kecil.
Dalam jangka waktu 12 bulan sesudah operasi besar.
Dalam jangka waktu 24 jam sesudah vaksinasi polio, influenza, kolera, tetanus

dipteria, atau profilaksis.


Dalam jangka waktu dua minggu sesudah vaksinasi virus hidup parotitis

epidemica, measles, dan tetanus toxin.


Dalam jangka waktu satu tahun sesudah injeksi terakhir imunisasi rabies

therapeutic
Dalam jangka waktu satu minggu sesudah gejala alergi menghilang.
Dalam jangka waktu satu tahun sesudah transplantasi kulit.
Sedang hamil dan dalam jangka waktu enam bulan sesudah persalinan.
Sedang menyusui.
Ketergantungan obat.
Alkoholisme akut dan kronis.
Mengidap Sifilis.
Menderita tuberkulosis secara klinis.
Menderita epilepsi dan sering kejang
Menderita penyakit kulit pada vena (pembuluh darah balik) yang akan ditusuk.
Mempunyai kecenderungan perdarahan atau penyakit darah, misalnya

kekurangan G6PD, thalasemia, dan polibetemiavera.


Seseorang yang termasuk kelompok masyarakat yang berisiko tinggi
mendapatkan HIV/AIDS (homoseks, morfinis, berganti-ganti pasangan seks, dan

pemakai jarum suntik tidak steril).


Pengidap HIV/ AIDS menurut hasil pemeriksaan saat donor darah.

G. Hukum Islam Mengenai Transfusi Darah


a) Penerima Donor (Recipient)

Para ulama menggolongkan donor darah sebagaimana makan bukan berobat.


Dengan demikian, pada hakikatnya, orang yang melakukan donor darah dianggap
telah memasukkan makanan berupa darah ke dalam tubuhnya. Untuk itu, ulama
memberikan batasan, bahwa donor darah diperbolehkan jika dalam kondisi
darurat. Dalil dalam masalah ini adalah firman Allah,:

MtBh m

N3n=t

ptGyJ9$#

P$!$#ur

Ntm:ur Y:$# !$tBur @d& t9 !$#


m/
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah . (Q.s. Al-Maidah:3).
Kemudian, di akhir ayat, Allah menyatakan,

Barang siapa berada dalam kondisi terpaksa karena kelaparan, (lalu) tanpa
sengaja (dia) berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang . (Q.s. Al-Maidah:3)
Allah memperbolehkan hamba-Nya untuk memakan makanan yang
diharamkan jika dalam kondisi terpaksa, karena kelaparan. Dalam kondisi yang
sama, orang sakit yang hendak menyelamatkan nyawanya, diperbolehkan untuk
memasukkan darah ke dalam tubuhnya, karena kondisi terpaksa.
b) Pendonor
Seseorang diperbolehkan melakukan donor darah, selama proses donor
tersebut tidak membahayakan dirinya. Dalil dalam masalah ini adalah sabda Nabi
shallallahu alaihi wa sallam,
Tidak boleh menimbulkan bahaya atau membahayakan yang lain. (H.r. Ibnu
Majah dan Ad-Daruquthni; dengan derajat hasan) (Disimpulkan dari fatwa Syekh
Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh).
Al Quran dan sunnah tidak membahas masalah transfuse darah. Tetapi,
menurut berbagai prinsip dan ajaran umum yang terdapat dalam sumber-sumber
orisinil islam, darah yang mengalir (dam masfuh) selalu dianggap sebagai benda

najis. Selain itu, islam melarang para pemeluknya untuk mengkonsumsi darah.
Diantara makanan yang di kategorikan haram di konsumsi yang disebut dalam Al
quran adalah dam masfuh yang artinya arah yang mengalir, dan dalam Firman
Allah SWT dalam surat Al-Anam 6:145 yang artinya : Katakan (Hai Muhammad)
: Aku tidak menemukan dalam apa yang telah diwahyukan kepadaku sesuatu yang
terlarang untuk dimakan oleh seseorang yang ingin memakannya, kecuali daging
bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi.
c) Peraturan Hukum Menurut Beberapa Tokoh
1. Menurut Mufti Syafi
Mufti Syafi menetapkan bahwa dengan mempertimbangkan kelonggaran dan
kemudahan yang diberikan syariat bagi kondisi-kondisi luar biasa yaitu yang
mengancam jiwa, dan bagi upaya pengobatan, maka transfuse darah hukumnya
boleh (jaiz). Pada penjelasan yang lain Muft Syafi menerangkan bahwa darah
diambil dengan jarum, tanpa mengiris bagian tubih manapun lalu di transfusikan
kedalam tubuh orang lain untuk memperpanjang hidupnya.
Muft Syafi juga berpendapat bahwa meskipun darah termasuk benda najis,
namun mendonorkan darah untuk di transfusikan pada orang lain hukumnya
adalah boleh atas dasar keterdesakan, dan hal ini termasuk dalam kategori
memanfaatkan benda terlarang sebagai obat. Pembolehan ini, kata dia, harus
dibatasi menurut ketentuan-ketentuan berikut :
a.

Transfuse darah hanya boleh dilakukan jika ada kebutuhan yang mendesak untuk

b.

itu.
Transfuse darah juga boleh dilakukan ketika tidak membahayakan nyawa si
pasien tetapi, dalam pandangan dokter yang berkompeten, pasien tidak mungkin

c.

disembuhkan tanpa transfuse darah


Jika memungkinkan, lebih baik untuk memilih cara yang tidak melibatkan

transfuse darah.
d. Transfuse darah tidak di perbolehkan jika tujuannya hanya untuk peningkatan
kesehatan.

2. Menurut Syekh Ahmad Fahmi Abu Sinnah


Pengambilan darah dari tubuh donor dan pentransfusiannya ke dalam tubuh
resepien sama sekali tidak merusak martabat manusia. Justru tindakan semacam
ini dapat meningkatkan martabat manusia, Karena menolong sesame manusia
adalah sesuatu yang mulia, apalagi menolong orang yang terancam jiwanya.
Hak seseorang atas darahnya menjadi hilang tatkala ia menyetujui untuk
mendonorkannya. Namun, hokum islam melarang seseorang untuk mendonorkan
darahnya bila tindakannya itu bisa berakibat buruk pada keselamatan dan
kesehatannya. Jadi syarat-syarat berikut ini harus terpenuhi, yaitu :
a. Donor secara ikhlas berniat mendonorkan darahnya.
b. Tidak ada bahaya serius yang mengancam jiwa atau kesehatan donor akibat
transfuse itu.
c. Harus sudah dipastikan bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan nyawa
resipien kecuali dengan transfuse.
d. Derajat keberhasilan melalui cara pengobatan ini diperkirakan tinggi.
3. Menurut Dr. Abd al-Salam al-Syukri
Transfuse darah merupakan praktik yang diperbolehkan dan bergantung pada halhal berikut :
a. Donor tidak boleh menuntut imbalan financial dalam bentuk apapun.
b. Hidup donor sama sekali tidak terganggu setelah darah tidak diambil dari
tubuhnya.
c. Donor harus bebas dari segala macam penyakit menular, dan ia tidak menderita
kecanduan sesuatu.
4. Menurut Syekh Jad al-Haqq
Syariat memperbolehkan mengambil manfaat dari tubuh seseorang seperti darah
dan mentransfusikannya pada tubuh orang lain sebagai sebuah cara pengobatan,
dengan syarat bahwa tidak ada lagi cara pengobatan lain yang bisa di tempuh.
H. Manfaat Transfusi Darah Menurut Medis
1. Mengetahui golongan darahnya.

2.

Mengetahui tekanan darah secara berkala (tiga bulan sekali) pada setiap akan

3.

menyumbangkan darahnya.
Dapat memperbarui darah di tubuhnya, karena telah menyumbangkan darahnya

sebanyak 350 cc. Kemudian memperoleh darah yang baru pada bulan berikutnya.
4. Mengganti sel-sel darah merah yang telah bermetabolisme secara teratur, Sel
darah merah dibentuk dalam tubuh oleh hati, ginjal.
5. Sarana amal kemanusiaan bagi yang sakit, kecelakaan, operasi dll(setetes darah
merupakan nyawa bagi mereka).
6. Orang yang aktif donor jarang terkena penyakit ringan maupun berat.
7. Pemeriksaan ringan secara triwulanan meliputi Tensi darah, kebugaran (Hb),
gangguan kesehatan (hepatitis, gangguan dalam darah dll).
8. Mencegah stroke (Pria lebih rentan terkena stroke dibanding wanita karena wanita
keluar darah rutin lewat menstruasi kalau pria sarana terbaik lewat donor darah
aktif).
9. Dapat tidur nyenyak.
10. Nafsu makan bertambah.

I. Pengertian Bank ASI


Bank ASI merupakan tempat penyimpanan dan penyalur ASI dari donor
ASI yang kemudian akan diberikan kepada ibu-ibu yang tidak bisa memberikan
ASI sendiri ke bayinya. Ibu yang sehat dan memiliki kelebihan produksi ASI bisa
menjadi pendonor ASI. ASI biasanya disimpan di dalam plastik atau wadah, yang
didinginkan dalam lemari es agar tidak tercemar oleh bakteri. Kesulitan para ibu
memberikan ASI untuk anaknya menjadi salah satu pertimbangan mengapa bank
ASI perlu didirikan, terutama di saat krisis seperti pada saat bencana yang sering
membuat ibu-ibu menyusui stres dan tidak bisa memberikan ASI pada anaknya.
Semua ibu donor diskrining dengan hati-hati. Ibu donor harus memenuhi syarat,
yaitu non-perokok, tidak minum obat dan alkohol, dalam kesehatan yang baik dan
memiliki kelebihan ASI. Selain itu, ibu donor harus memiliki tes darah negatif
untuk Hepatitis B dan C, HIV 1 dan 2, serta HTLV 1 dan 2, memiliki kekebalan
terhadap rubella dan sifilis negatif. Juga tidak memiliki riwayat penyakit TBC

aktif, herpes atau kondisi kesehatan kronis lain seperti multiple sclerosis atau
riwayat kanker. Berapa lama ASI dapat bertahan sesuai dengan suhu ruangannya:
a. Suhu 19-25 derajat celsius ASI dapat tahan 4-8 jam.
b. Suhu 0-4 derajat celsius ASI tahan 1-2 hari
c. Suhu dalam freezer khusus bisa tahan 3-4 bulan
J. Kaitan Bank ASI dengan radla'ah
a. Pengertian ar-Radha'ah
Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan ar -radha' atau susuan.
Menurut Hanafiyah bahwa ar-Radha' adalah seorang bayi yang menghisap puting
payudara seorang perempuan pada waktu tertentu. Sedangkan Malikiyah
mengatakan bahwa ar-Radha' adalah masuknya susu manusia ke dalam tubuh
yang berfungsi sebagai gizi. As-Syafi'iyah mengatakan ar-Radha' adalah
sampainya susu seorang perempuan ke dalam perut seorang bayi. Al-Hanabilah
mengatakan ar-Radha' adalah seorang bayi di bawah dua tahun yang menghisap
puting payudara perempuan yang muncul akibat kehamilan, atau meminum susu
tersebut atau sejenisnya.39[15]
b. Batasan Umur
Para ulama berbeda pendapat di dalam menentukan batasan umur ketika orang
menyusui yang bisa menyebabkan kemahraman.40[16] Mayoritas ulama
mengatakan bahwa batasannya adalah jika seorang bayi berumur dua tahun ke
bawah. Dalilnya adalah firman Allah swt:

Nt$!uq9$#ur z` `dys9rr& ,s!


qym n=B%x. ( `yJ9 y#ur& br& L spt$|
9$# 4 n?tur q9qpRQ$# &s! `g%
`kEuq.ur

$rpRQ$$/

#=s3?

tR w) $ygyr 4 w !$? 8ot$!ur $yd$s!


uq/ wur q9qtB m9 n$s!uq/ 4 n?tur
^#uq9$# @VB y79s 3 b*s #y#ur&
w$| `t <#ts? $uKk]iB 9r$ts?ur xs
39
40

yy$oY_

$yJkn=t

(#qtIn@
/3n=t

N?ur&

/.ys9rr&

#s)

NFJ=y

$rpRQ$$/
(#qJn=$#ur

b)ur

3
br&

xs

!$B

$o3

yy$uZ_

Ls?#u

(#q)?$#ur
!$#

br&

!$#

tbq=uKs?
t/

Artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi
makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak
dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu
menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan
warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum
dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada
dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain,
Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha
melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 2 [al - Baqarah] : 233)
Hadist Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:







"Sesungguhnya persusuan (yang menjadikan seseorang mahram) terjadi karena


lapar" (HR Bukhari dan Muslim)
c.

Jumlah Susuan
Madzhab Syafi'i dan Hanbali mengatakan bahwa susuan yang mengharamkan
adalah jika telah melewati 5 kali susuan secara terpisah. Hal ini berdasarkan hadits
Aisyah ra, bahwasanya beliau berkata:

"Dahulu dalam Al Qur`an susuan yang dapat menyebabkan menjadi mahram


ialah sepuluh kali penyusuan, kemudian hal itu dinasakh (dihapus) dengan lima
kali penyusuan saja. Lalu Rasulullah saw wafat, dan ayat-ayat Al Qur`an masih
tetap di baca seperti itu." (HR Muslim)
Kapan seorang bayi menyusui dan dianggap sebagai satu susuan? Yaitu
jika dia menyusui, setelah kenyang dia melepas susuan tersebut menurut
kemauannya. Jika dia menyusu lagi setelah satu atau dua jam, maka terhitung dua
kali susuan dan seterusnya sampai lima kali menyusu. Kalau si bayi berhenti
untuk bernafas, atau menoleh kemudian menyusu lagi, maka hal itu dihitung satu
kali susuan saja. (Sidiq Hassan Khan, Raudhatu an Nadiyah, 2/174)
d. Cara Menyusu
Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara menyusu yang bisa
mengharamkan. Mayoritas ulama mengatakan bahwa yang penting adalah
sampainya air susu tersebut ke dalam perut bayi, sehingga membentuk daging dan
tulang, baik dengan cara menghisap puting payudara dari perempuan langsung,
ataupun dengan cara as-su'uth (memasukkan susu ke lubang hidungnya), atau
dengan cara al-wujur (menuangkannya langsung ke tenggorakannya), atau dengan
cara yang lain.41[17] Sebagaimana Riwayat Abu Daud dan Daar Kuthny dari Ibnu
Mas'ud bahwasannya Rasulullah Saw. Bersabda,

Tidak ada penyusuan kecuali yang membesarkan tulang dan menumbuhkan


daging. (HR. Abu Dawud).

41

K. Hukum Jual Beli Asi


Air Susu Ibu (ASI) adalah bagian yang mengalir dari anggota tubuh manusia, dan
tidak diragukan lagi itu merupakan karunia Allah bagi manusia dimana dengan
adanya ASI tersebut seorang bayi dapat memperoleh gizi. ASI tersebut merupakan
sesuatu hal yang urgen di dalam kehidupan bayi42[18]. Karena pentingnya ASI
tersebut untuk pertumbuhan maka sebagian orang memenuhi kebutuhan tersebut
dengan membeli ASI pada orang lain. Jual beli ASI manusia itu sendiri di dalam
fiqih Islam merupakan cabang hukum yang para ulama berbeda pendapat di
dalamnya. Ada dua pendapat ulama tentang hal tersebut.
Pertama, tidak boleh menjualnya. Ini merupakan pendapat ulama madzhab
Hanafi kecuali Abu Yusuf, salah satu pendapat yang lemah pada madzhab Syafi'i
dan merupakan pendapat sebagian ulama Hanbali. Kedua, pendapat yang
mengatakan dibolehkan jual beli ASI manusia. Ini merupakan pendapat Abu Yusuf
(pada susu seorang budak), Maliki dan Syafi'i, Khirqi dari madzhab Hanbali, Ibnu
Hamid, dikuatkan juga oleh Ibnu Qudamah dan juga madzhab Ibnu Hazm.43[19]
L.Sebab Timbulnya Ikhtilaf (Perbedaan)
Menurut Ibn Rusyd, sebab timbulnya perselisihan pendapat ulama di dalam hal
tersebut adalah pada boleh tidaknya menjual ASI manusia yang telah diperah.
Karena proses pengambilan ASI tersebut melalui perahan. Imam Malik dan Imam
Syafi'i membolehkannya, sedangkan Abu Hanifah tidak membolehkannya. Alasan
mereka yang membolehkannya adalah karena ASI itu halal untuk diminum maka
boleh menjualnya seperti susu sapi dan sejenisnya. Sedangkan Abu Hanifah
memandang bahwa hukum asal dari ASI itu sendiri adalah haram karena dia
disamakan seperti daging manusia.44[20] Maka karena daging manusia tidak boleh
memakannya maka tidak boleh menjualnya, adapun ASI itu dihalalkan karena
dharurah bagi bayi, sebagaimana qawaid fiqih :

42
43
44

Darurat itu bisa membolehkan yang dilarang.


M. Hukum Mendirikan Bank ASI.
Bahwa di dalam pembolehan menjual ASI itu ada kemungkaran karena bisa
menimbulkan rusaknya pernikahan yang disebabkan kawinnya orang sesusuan
dan hal tersebut tidak dapat diketahui jika antara lelaki dan wanita meminum ASI
yang dijual bank ASI tersebut.45[21] Namun, ada juga yang berpendapat bahwa
menjual ASI tersebut membawa manfaat bagi manusia yaitu tercukupinya gizi
bagi bayi karena kita melihat bahwa banyak bayi yang tidak memperoleh ASI
yang cukup baik karena kesibukan sang ibu ataupun karena penyakit yang diderita
ibu tersebut. Tetapi pendapat tersebut dapat ditolak karena kemudaratan yang
ditimbulkan lebih besar dari manfaatnya yaitu terjadinya percampuran nasab.
Padahal Islam menganjurkan kepada manusia untuk selalu menjaga nasabnya.
Kaidah ushul juga menyebutkan bahwa :46[22]

Menolak kemadharatan lebih utama dari pada menarik kemaslahatan.


Ibnu Sayuti di dalam kitab Asybah Wa Nadhaair menyebutkan bahwa di
dalam kaidah disebutkan bahwa diantara prinsip dasar Islam adalah :

Kemudaratan itu tidak dapat dihilangkan dengan kemudaratan lagi.

Hal ini jelas, karena akan menambah masalah. Kaitannya dengan


pembahasan kita yaitu, ketiadaan ASI bagi seorang bayi adalah suatu
kemudaratan, maka memberi bayi dengan ASI yang dijual di bank ASI adalah
kemudaratan pula. Maka apa yang tersisa dari bertemunya kemudaratan kecuali
45
46

kemudaratan. Karena Fiqih bukanlah pelajaran fisika dimana bila bertemu dua
kutub yang sama akan menghasilkan hasil yang berbeda. Maka penulis sependapat
bahwa hendaknya kita melihat mana yang lebih besar manfaatnya daripada
kerusakannya.
N. Sebagian Ulama Kontemporer Membolehkan Bank ASI.
Sebagian ulama kontemporer membolehkan pendirian bank ASI ini, diantara
mereka adalah Dr. Yusuf al-Qardhawi. Mereka beralasan :47[23]
a. Bahwa kata kata radha'(menyusui) di dalam bahasa Arab bermakna menghisap
puting payudara dan meminum ASI-nya. Maka oleh karena itu meminum ASI
bukan melalui menghisap payudara tidak disebut menyusui, maka efek dari
penyusuan model ini tidak membawa pengaruh apa-apa di dalam hukum nasab
b.

nantinya.
Yang menimbulkan adanya saudara sesusu adalah sifat "keibuan", yang
ditegaskan Al-Qur'an itu tidak terbentuk semata-mata diambilkan air susunya,
tetapi karena menghisap teteknya dan selalu lekat padanya sehingga melahirkan
kasih sayang si ibu dan ketergantungan si anak. Dari keibuan ini maka muncullah
persaudaraan sepersusuan. Jadi, keibuan ini merupakan asal (pokok), sedangkan

yang lain mengikutinya.48[24]


c. Alasan yang dikemukakan oleh beberapa madzhab dimana mereka memberi
ketentuan berapa kali penyusuan terhadap seseorang sehingga antara bayi dan ibu
susu memilki ikatan yang diharamkan nikah, mereka mengatakan bahwa jika si
bayi hanya menyusu kurang dari lima kali susuan maka tidaklah membawa
pengaruh di dalam hubungan darah.
Setelah memperhatikan berbagai pendapat yang disampaikan oleh para ulama,
penulis tampaknya cenderung kepada yang membolehkan keberadaan Bank ASI
dengan alasan sebagaimana yang disebutkan.

47
48

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

1.

Dari uaraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:


Transplantasi organ taubuh yang dilakukan ketika pendonor hidup sehat maka
hukumnya haram. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika pendonor
sakit (koma), hukumnya haram. Transplantasi organ tubuh yang dilakukan ketika
pendonor telah meninggal, ada yang berpendapat boleh dan ada yang berpendapat
haram.

2. Tranfusi darah diperbolehkan karena dengan perhitungan ilmiah yang tepat dapat
menolong /memberikan manfaat yang besar bagi resipien dan tidak memberkan
kerugian / kerusakan pada diri donor baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Hasil perbandingan antara kemaslakhatan dan kemudlorotan jelas, yaitu
kemaslahatan lebih besar dari kemudlorotan, sehingga tidak bertentangan dengan
kaidah usul fiqh. Hendaknya tujuan dari donor-tranfusi darah adalah untuk
menyelamatkan hidup resipien, bukan keuntungan materi dari pendonor (jual beli
darah). Mendonorkan darah hukumnya fardlu kifayah mengingat semakin
besarnya kebutuhan darah untuk menyelamtkan hidup manusia akibat bencana
alam, kecelakaan, operasi, perang dan berbagai penyakit yang lain. Jangan sampai
donor darah menyebabkan pelecehan terhadap kehormatan manusia, karena jual
beli anggota badan seperti donor anggota badan lain (ginjal, mata dll)
3.

Donor ASI melalui bank ASI, berpotensi merancukan hubungan mahram atau
persaudaraan karena sepersusuan. Pendonor hanya sekedar memberikan identitas
dirinya secara umum, seperti seseorang yang akan mendonorkan darahnya.
Selanjutnya tidak dapat dilacak siapa saja bayi-bayi yang pernah mengkonsumsi

ASI-nya, sehingga tidak jelas bagi seseorang siapa bermahram dengan siapa.
Akibatnya, akan terjadi kelak di kemudian hari, seorang laki-laki menikah dengan
seorang wanita yang ternyata pernah mengkonsumsi ASI dari seorang wanita
pendonor ASI yang sama. Bila hal ini terjadi, berarti pasangan tersebut telah
melakukan keharaman karena menikahi mahram yang terjadi akibat ikatan
saudara sepersusuan. Inilah bahaya yang nyata dari keberadaan donor ASI yang
disimpan di bank ASI tanpa dilengkapi dengan pencatatan secara syari.
http://yu-rha.blogspot.co.id/2013/06/bank-asi-dalam-islam.html
200613