Anda di halaman 1dari 6

A.

LATAR BELAKANG
Perkembangan lingkungan permukiman kumuh dan padat yang biasanya terjadi di
daerah perkotaan tidak terlepas dari pesatnya laju pertumbuhan penduduk kota itu sendiri
maupun karena faktor urbanisasi. Dampak negatif urbanisasi yang telah berlangsung
selama ini disebabkan oleh tidak seimbangnya peluang untuk mencari nafkah di daerah
pedesaan, sehingga memunculkan adanya daya tarik kota yang dianggap mampu
memberikan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat pedesaan atau luar kota,
sementara latar belakang kapasitas dan kemampuan para pendatang sangat marjinal
seiring dengan pertumbuhan penduduk di daerah perkotaan, maka kebutuhan akan
penyediaansarana dan prasarana permukiman juga akan meningkat, baik melalui
peningkatan lahan maupun pembangunan baru.
Selanjutnya, pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana permukiman baik dari
segi perumahan maupun lingkungan permukiman yang terjangkau dan layak huni belum
sepenuhnya dapat disediakan, baik oleh masyarakat itu sendiri maupun pemerintah
setempat. Hal itu mengakibatkan kapasitas daya dukung sarana dan prasarana lingkungan
permukiman yang ada mulai menurun yang pada gilirannya memberikan kontribusi
terjadinya lingkungan permukiman padat dan kumuh.
Selain itu, permukiman padat dan kumuh juga disebabkan oleh bencana alam.
Dalam hal ini, masyarakat yang menjadi korban bencana alam tidak mendapat perhatian
dari pemerimtah. Sehingga masyarakat berusaha sendiri mendi
Undang-undang No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
khususnya di bagian VII dan VIII menjelaskan berbagai hal tentang pemeliharaan dan
perbaikan kawasan permukiman, serta pencegahan dan peningkatan kualitas perumahan
dan permukiman kumuh dengan tiga pola penanganan yaitu pemugaran, peremajaan dan
pemukiman kembali, dan didalam tahapan penanganan kawasan kumuh UU No. 1/2011
tentang

Perumahan

dan

Kawasan

Permukiman

mengamanatkan

pemerintah

kota/kabupaten dalam melaksanakan pembinaan memiliki tugas menyusun: (i) menyusun


Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman
(RP3KP), (ii) menyusun Rencana Kawasan Permukiman (RKP) sebagai pelaksanaan

Hal. I-1

tahapan perencanaan dalam penyelenggaraan permukiman dan (iii) menetapkan kawasan


perumahan/permukiman kumuh berdasarkan indikator dan kriteria sesuai karakteristik di
wilayahnya masing-masing.
Kota Parepare yang merupakan salah satu kota diprovinsi Sulawesi selatan selain
Kota Makassar menunjukkan perkembangan yang pesat dalam pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan infrastruktur perkotaan, dengan kondisi yang seperti ini berakibat laju
urbanisasi masyarakat yang ingin mencari pekerjaan dan bertempat tinggal semakin
meningkat. Oleh karena itu pertumbuhan pemukiman akan ikut berkembang dan
menciptakan pemukiman dan lingkungan yang tidak laik.
Berdasarkan kebijakan dan kondisi empiris di lapangan, diperlukan suatu rencana
tindak (action plan) penanganan permukiman kumuh pada kawasan dengan tipologi
perkotaan. Sesuai dengan tugas dan fungsinya, Direktorat Pengembangan Kawasan
Permukiman, Direktorat Jenderal Cipta Karya akan memberikan fasilitas berupa
pendampingan dalam penyusunan Rencana Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan
(RKPKP) di Kabupaten/Kota sebagai bentuk pembinaan kepada Pemerintah Daerah dalam
rangka penyusunan rencana penanganan permukiman kumuh di Kabupaten/Kota-nya
masing-masing dengan harapan sebagai berikut:
Percepatan penanganan permukiman kumuh secara menyeluruh dan tuntas bagi
kawasan kumuh yang telah disepakati dalam SK Kumuh pada Kabupaten/Kota.
Keterpaduan

program

yang

dapat

menyelesaikan

dan/atau

menuntaskan

permasalahan permukiman kumuh perkotaan melalui semua peran sektor ke-Cipta


Karya-an melalui kegiatan reguler sektoral.
Perkuatan pemerintah Kabupaten/Kota melalui pelibatan aktif dalam proses
penanganan

permukiman

kumuh

bersama

Badan

Keswadayaan

Masysarakat/Kelompok Swadaya Masyarakat (BKM/KSM).


Keberlanjutan program penanganan permukiman kumuh sebagai bagian dari strategi
pengurangan luasan kawasan permukiman kumuh.
B. MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN
Maksud dilaksanakannya kegiatan Penyusunan Rencana Kawasan Permukiman (RKP)
Kumuh Perkotaan ini adalah untuk menghasilkan suatu dokumen rencana penyelenggaraan
pembangunan kawasan permukiman perkotaan sebagai bagian dari peningkatan kualitas
lingkungan

permukiman

bagi

kawasan

permukiman

kumuh

perkotaan

yang

Hal. I-2

diselenggarakan sebagai aksi sinergitas antar pemangku kepentingan dan pendampingan


pemerintah kabupaten/kota secara berkelanjutan.
Berdasarkan pada maksud dilaksanakannya kegiatan ini, maka tujuan yang ingin
dicapai adalah :
1. Melakukan identifikasi potensi dan permasalahan kawasan permukiman dalam
penyajian suatu profil kawasan mengacu kepada hasil penetapan SK Walikota Parepare
terkait kawasan kumuh.
2. Melakukan pendampingan terhadap penyusunan Dokumen Rencana Kawasan
Permukiman Kumuh Perkotaan melalui keterpaduan program semua sektor ke-Cipta
Karya-an, sebagai acuan pelaksanaan penanganan kawasan kumuh perkotaan bagi
seluruh pelaku (stakeholders) yang bersifat menyeluruh, tuntas, dan berkelanjutan
(konsep delivery system).
3. Menyusun strategi penanganan kumuh secara spasial dan tipologi kawasan, indikasi
program dan kegiatan penanganan kawasan kumuh perkotaan oleh seluruh pelaku,
dan nota kesepakatan bersama bagi seluruh pelaku dalam pengendalian pembangunan
bersama selama jangka waktu berjalan (2015-2019).
4. Menyusun Rencana Kegiatan Aksi Komunitas (Community Action Plan) sebagai bentuk
perkuatan kapasitas Pemerintah Kota dengan kelompok masyarakat (komunitas
masyarakat BKM/KSM/CBOs) untuk dapat lebih aktif terlibat dalam menangani
permukiman kumuh di lingkungannya.
5. Menyusun Dokumen Perancangan Aksi (Action Plan) yang mengacu pada RP2KP dan
RPKPP, berupa Rencana Aksi Penanganan Kawasan Kumuh dan DED kegiatan tahun
pertama, Peta Perencanaan skala 1:1000 dan 1:5000, Dokumentasi Visual dan
Visualisasi 3 dimensi dan Dokumen Perencanaan.
Sedangkan sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini adalah :
1. Tersedianya Dokumen Perencanaan Kawasan Kumuh Perkotaan sebagai acuan
pelaksanaan

penanganan

kawasan

kumuh

perkotaan

bagi

seluruh

pelaku

(stakeholders) pelaksanaan penyelenggaran penanganan kawasan permukiman


kumuh perkotaan yang menyeluruh, tuntas,

dan berkelanjutan (konsep delivery

system).
2. Tersedianya strategi penanganan kumuh secara spatial dan tipologi kawasan, indikasi
program dan kegiatan penanganan kawasan kumuh perkotaan oleh seluruh pelaku,
dan nota kesepakatan bersama bagi seluruh pelaku dalam pengendalian pembangunan

Hal. I-3

bersama selama jangka waktu berjalan (2015-2019).


3. Tersedianya

Rencana Kegiatan Aksi Komunitas (community action plan) sebagai

bentuk perkuatan kapasitas Pemerintah Kabupaten/Kota dan kelompok masyarakat


(komunitas masyarakat/BKM/KSM/CBOs) untuk dapat lebih aktif terlibat dalam
menangani permukiman kumuh di lingkungannya.
4. Tersedianya Dokumen Rencana Aksi (Action Plan) yang mengacu pada RP2KP dan
RPKPP, Peta Perencanaan skala 1:1000 dan 1:5000, Dokumentasi Visual dan Visualisasi
3 dimensi Dokumen Perencanaan, serta DED rencana penanganan kumuh kegiatan
tahun pertama (1:200, 1:100, 1:50)
C. DASAR HUKUM
Dasar hukum yang mendasari pelaksanaan Penyusunan Rencana Kawasan
Permukiman (RKP) Kumuh Perkotaan Kota Makassar ini, sebagai berikut :
-

Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 (Amandemen) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

UU No. 5 tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria (LNRI Tahun 1960
No. 104);

UU No. 23 Tahun 1997, tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan


Lingkungan (LNRI No. 12 tahun 1982, TLN No. 3215);

UU No. 4 tahun 1992, tentang Perumahan dan Permukiman;

Undang-undang RI No. 28 Tahun 2002, tentang bangunan Gedung

Undang-undang RI No. 7 Tahun 2004, tentang Sumber Daya Air

Undang-undang RI No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan


Permukiman

Undang-undang RI No. 26 Tahun 2007 tentang penataan Ruang

Peraturan Pemerintah RI No. 63 Tahun 2002, tentang Hutan Kota

Peraturan Pemerintah RI No. 15 Tahun 2010, tentang Penyelenggaraan Penataan


Ruang

Peraturan Pemerintah RI No. 36 Tahun 2005, tantang peraturan pelaksanaan


pengadaan Tanah bagi pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum

Peraturan Pemerintah RI No. 34 Tahun 2006, tentang Jalan

Hal. I-4

Keputusan Presiden RI No. 32 Tahun 32 Tahun 1990, tentang pengelolaan Kawasan

Lindung
-

SNI 03-1733-2004, Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di perkotaan

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985, tentang jalan;

Peraturan Pemerintah No. 69, tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta
Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang;
Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 2000, tentang Tingkat Ketelitian Peta untuk

Penataan Ruang Kota;


-

Permendagri No. 2 tahun 1987, tentang penyusunan rencana kota;

Kepmendagri No. 59 tahun 1988, tentang pelaksanaan Permendagri No. 2 Tahun


1987;

Kepmendagri No. 650 658, tentang Keterbukaan Rencana kota untuk Umum;

Kepmenkimpraswil No. 377 Tahun 2002, tentang Pedoman Penyusunan Rencana


Tata Ruang Kawasan Perkotaan;
Inmendagri No. 14 Tahun 1998, tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah

Perkotaan.
D. LINGKUP KEGIATAN
1. Lingkup wilayah
Lingkup wilayah dalam kegiatan penyusunan Penyusunan Rencana Kawasan
Permukiman (RKP) Kumuh Perkotaan Kota Makassar adalah kawasan kumuh yang
berada dalam wilayah administrasi Kota Makassar serta ditetapkan dalam dokumen
RP2KP/RPKPP dan ditetapkan dalam SK Walikota Parepare.
2. Lingkup Substansi Proses Kegiatan
Lingkup Kegiatan yang ditetapkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini dibagi menjadi 6
tahap, yaitu:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Survei Identifikasi
c. Tahap Kajian dan Perumusan I
d. Tahap FGD (Focus Group Discussions) dan Perumusan II
e. Tahap Kolokium
f.

Tahap Penyusunan Desain Teknis

3. Lingkup Substansi Keluaran


Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah:

Hal. I-5

a. Dokumen Perencanaan Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan yang berisikan


strategi penanganan kumuh secara spatial dan tipologi kawasan, indikasi program
dan kegiatan penanganan kawasan kumuh perkotaan oleh seluruh pelaku, dan nota
kesepakatan bersama bagi semua pelaku dalam pengendalian pembangunan
bersama selama jangka waktu berjalan (2015-2019).
b. Dokumen Rencana Aksi Penanganan Permukiman Kumuh (Action Plan) yang
mengacu pada RP2KP/ SPPIP dan RPKPP, termasuk Rencana Kegiatan Aksi
Komunitas (community action plan),
c. Dokumentasi kondisi eksisting berupa foto/ film udara (aerial view/Drone)
d. Masterplan/ Desain umum penanganan kawasan beserta jadwal, skenario
pelaksanaan dan rumusan tahapan kegiatan
e. Berita Acara hasil kesepakatan/ Memorandum program dan kegiatan antar
pemangku kepentingan penanganan kumuh.
f. Peta Perencanaan skala 1:1000 dan 1:5000, Dokumentasi Visual dan Visualisasi 3
dimensi Dokumen Perencanaan (film, Clip/dokumenter).
g. Dokumentasi kertas kerja proses kegiatan KSM/ BKM bersama Tenaga Ahli dan Tim
Teknis Kabupaten/Kota (CAP)
h. DED Penataan kawasan permukiman dengan desain/ rancangan rinci tiap
komponen infrastruktur (1:200, 1:100, 1:50), spesifikasi teknis serta RAB untuk
kegiatan yang siap dilelangkan pada tahun pertama
i. Dokumen lelang :

Rencana Anggaran Biaya (RAB/EE)

Rincian Volume Pekerjaan (BQ)

Rencana Kerja dan syarat-syarat (RKS)

Dokumen persyaratan umum dan dokumen persyaratan administrasi

Hal. I-6