Anda di halaman 1dari 15

DEFINISI SEHAT DAN SAKIT

1. Perkins (1939), sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan
beberapa factor yang berusaha mempengaruhinya
2. WHO (1974), sehat adalah suatu keadaan yang sempurna dari aspek fisik, mental, soaial dan tidak hanya bebas dari
penyakit atau kelemahan.
3. Neuman (1989) sakit sebagai totalitas dari seluruh proses kehidupan, termasuk memandang sakit sebuah proses
4. UU NO.23, 1992, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan social yang memungkinkan hidup produktif
secara social dan ekonomi
5. Perkins (1937), sakit adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga
menimbulkan gangguan aktifitas sehari-hari baik aktivitas jasmani, rohani dan social
6. WHO (1974), sakit adalah suatu keadaan yang tidak seimbang/sempurna seseorang dari aspek medis, fisik, mental,
sosial, psikologis dan bukan hanya mengalami kesakitan tetapi juga kecacatan
7. Raverlyy (1940an), sakit adalah tidak adanya keselarasan antara lingkungan, agen dan individu
8. UU NO.23, 1992,sakit adalah jika seseorang menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain
yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari-hari) seperti masuk
angin, pilek tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia dianggap tidak sakit.
MODEL SEHAT SAKIT
1. Rentang sehat sakit (kontinum)
Menurut model kontinum sehat sakit, sehat adalah sebuah keadaan yang dinamis yang berubah secara terus menerus
sesuai dengan adaptasi individu terhadap perubahan lingkungan internal dan eksternal untuk mempertahankan keadaan fisik,
emosional, intelektual, sosial, perkembangan dan spiritual yang sehat.

Sakit adalah sebuah proses dimana fungsi individu mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan
kondisi individu sebelumnya.
2. Model kesejahtraan tingkat tinggi
Model kesejahteraan tingkat tinggi berorientasi pada cara memaksimalkan potensi sehat pada setiap individu utuk mampu
mempertahankan rentang keseimbangan dan arah yang memiliki tujuan tertentu dalam lingkungan.
Model ini mencakup kemajuan tingkat fungsi ke arah yang lebih tinggi, yang menjadi suatu tantangan yang luas dimana
individu mampu hidup dengan potensi yang paling maksimal, merupakan suatu proses yang dinamis, bukan suatu keadaan
yang statis dan pasif.
3. Model agen-penjamu-lingkungan
Menurut pendekatan ini, tingkat sehat sakit individu atau kelompok ditentukan oleh hubungan yang dinamis antara ketiga
variable agen, pejamu dan lingkungan.
a. Agen
Adalah faktor internal atau eksternal yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit. Contohnya : seseorang terkena
penyakit typoid, dimana agen adalah bakteri.
b. Penjamu
Adalah seseorang atau sekelompok orang yang rentan terhadap penyakit atau sakit tertentu. Contohnya : riwayat
keluarga, usia, gaya hidup
4. Lingkungan

seluruh faktor yang ada diluar pejamu. Lingkungan fisik antara lain tingkat ekonomi, iklim, kondisi tempat tinggal.
Lingkungan sosial terdiri dari
interaksi seseorang dengan orang lain, termasuk stress, konflik dengan orang lain, kesulitan ekonomi, krisis hidup, kematian
pasangan.

RENTANG SEHAT SAKIT


Rentan sehat

Sehat
optimal

sehat

Rentan sakit

NORMAL

sakit

kematian

Variabel yang mempengaruhi status kesehatan


a. Internal factors

Dimensi biologis

Genetik, ras, jenis kelamin, usia, dan tingkat perkembangan

Dimensi psikologis

Pikiran-tubuh interaksi, konsep diri

Dimensi kognitif

Pilihan gaya hidup dan keyakinan spiritual dan religius


c. External factors

Geografi

Lingkungan

Standar hidup

Keluarga dan budaya keyakinan

Jaringan dukungan sosial

Faktor yang mempengaruhi perilaku sehat

Perkembangan
Status kesehatan dapat dipengaruhi oleh faktor perkembangan yang mempuyai arti bahwa perubahan status
kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia.
Sosial dan Kultural
dapat juga mempengaruhi proses perubahan bahan status kesehatan seseorang karena akan mempengaruhi
pemikiran atau keyakinan sehingga dapat menimbulkan perubahan dalam perilaku kesehatan.
Pengalaman masa lalu
dapat mempegaruhi perubahan status kesehatan,dapat diketahiu jika ada pengalaman kesehatan yang tidak diinginkan
atau pengalamam kesehatan yang buruk sehingga berdampak besar dalam status kesehatan selanjutya.
Harapan sesorang tentang dirinya
Harapan merupakan salah satu bagian yang penting dalam meningkatkan perubahan status kesehatan kearah yang
optimal. Adanya suatu harapan adalah suatu pendorong untuk memotifasikan suatu individu untuk selalu menjaga
kesehatannya.
Keturunan
Keturunan juga memberikan pengaruh terhadap status kesehatan seseorang mengingat potensi perubahan status
kesehatan telah dimiliki melalui faktor genetik.
Lingkungan
Lingkungan fisik mencakup kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal dan kebersihan individu
Pelayanan
Pelayanan dapat berupa tempat pelayanan atau sistem pelayanan kesehatan yang tersedia dilingkungan tempat tingal
sekitar yang dapat mempengaruhi status kesehatan

KEPATUHAN PERAWATAN KESEHATAN


Merupakan sejauh mana perilaku individu bertepatan dengan saran medis atau kesehatan
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan:

Motivasi pasien untuk menjadi baik

Tingkat perubahan gaya hidup yang diperlukan

Persepsi keparahan masalah kesehatan

Nilai ditempatkan pada mengurangi ancaman penyakit

Kesulitan dalam memahami dan melakukan perilaku tertentu

Tingkat ketidaknyamanan dari penyakit itu sendiri atau dari regimen

2. Mengatasinya

Menetapkan mengapa pasien tidak mengikuti rejimen

menunjukkan kepedulian

Mendorong perilaku sehat melalui penguatan positif

Gunakan alat bantu untuk memperkuat pengajaran

Menjalin hubungan terapeutik kebebasan, tanggung jawab bersama dengan pasien dan dukungan orang

PERILAKU SAKIT
Saat seseorang jatuh sakit, ia akan menunjukkan berbagai perilaku sakit. Berikut ini contoh perilaku sakit.

1. Tidak memegang tanggung jawab selama sakit. Orang yang sakit biasanya dibebaskan dari tanggung jawab yang
diembannya sewaktu sehat. Jika yang sakit adalah ibu, tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga akan dialihkan ke
ayah( mis. Mengurus anak-anak). Dengan kata lain, ibu dibebaskan dari tanggung jawabnya mengurus rumah tangga
selam dia sakit.
2. Bebas dari tugas dan peran social. Dalam hubungan social, seseorang yang didiagnosis menderita penyakit akan
dibebaskan dari segala tugas dan peran di masyarakat. Sebagai contoh jika ketua RT sakit, tugas dan perannya
sebagai ketua RT akan dilimpahkan kepada wakilnya.
3. Berupaya mencapai kondisi sehat secepat mungkin. Seseorang yang merasa tubuhnya tidak sehat, secara naluriah
akan berusaha mencari cara untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Beberapa cara mungkin ditempuh adalah pergi ke
dokter. Pilihan cara bergantung sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki terkait penyembuhan.
4. Bersama keluarga mencari bantuan dengan segera. Selain individu, keluarga juga berusaha mencari bantuan guna
kesembuhannya. Pasti semua keluarga ikut berperan dalam proses penyembuhan anggota keluarga yang sakit.
FAKTOR YANG MERMPENGARUHI PERILAKU SAKIT
1. Faktor Internal
a. Persepsi individu terhadap gejala dan sifat sakit yang dialami Klien akan segera mencari pertolongan jika gejala tersebut
dapat mengganggu rutinitas kegiatan sehari-hari. Misal: Tukang Kayu yang menderitas sakit punggung, jika ia merasa hal
tersebut bisa membahayakan dan mengancam kehidupannya maka ia akan segera mencari bantuan. Akan tetapi persepsi
seperti itu dapat pula mempunyai akibat yang sebaliknya. Bisa saja orang yang takut mengalami sakit yang serius, akan
bereaksi dengan cara menyangkalnya dan tidak mau mencari bantuan.
b. Asal atau Jenis penyakit
Pada penyakit akut dimana gejala relatif singkat dan berat serta mungkin mengganggu fungsi pada seluruh dimensi yang ada,
Maka klien bisanya akan segera mencari pertolongan dan mematuhi program terapi yang diberikan. Sedangkan pada
penyakit kronik biasany berlangsung lama (>6 bulan) sehingga jelas dapat mengganggu fungsi diseluruh dimensi yang ada.

Jika penyakit kronik itu tidak dapat disembuhkan dan terapi yang diberikan hanya menghilangkan sebagian gejala yang ada,
maka klien mungkin tidak akan termotivasi untuk memenuhi rencana terapi yang ada.
2. Faktor Eksternal
a.Gejala yang Dapat Dilihat Gajala yang terlihat dari suatu penyakit dapat mempengaruhi Citra Tubuh dan Perilaku Sakit.
Misalnya: orang yang mengalami bibir kering dan pecah-pecah mungkin akan lebih cepat mencari pertolongan dari pada
orang dengan serak tenggorokan, karena mungkin komentar orang lain terhadap gejala bibir pecah-pecah yang dialaminya.
b.Kelompok Sosial
Kelompok sosial klien akan membantu mengenali ancaman penyakit, atau justru meyangkal potensi terjadinya suatu penyakit.
Misalnya: Ada 2 orang wanita, sebut saja Ny. A dan Ny.B berusia 35 tahun yang berasal dari dua kelompok sosial yang
berbeda telah menemukan adanya benjolan pada Payudaranya saat melakukan SADARI. Kemudian mereka
mendisukusikannya dengan temannya masing-masing. Teman Ny. A mungkin akan mendorong mencari pengobatan untuk
menentukan apakah perlu dibiopsi atau tidak; sedangkan teman Ny. B mungkin akan mengatakan itu hanyalah benjolan biasa
dan tidak perlu diperiksakan ke dokter.
c.Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya dan etik mengajarkan sesorang bagaimana menjadi sehat, mengenal penyakit, dan menjadi sakit.
Dengan demikian perawat perlu memahami latar belakang budaya yang dimiliki klien.
d.Ekonomi
Semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang biasanya ia akan lebih cepat tanggap terhadap gejala penyakit yang ia rasakan.
Sehingga ia akan segera mencari pertolongan ketika merasa ada gangguan pada kesehatannya.
e.Kemudahan Akses Terhadap Sistem Pelayanan Dekatnya jarak klien dengan RS, klinik atau tempat pelayanan medis lain

sering mempengaruhi kecepatan mereka dalam memasuki sistem pelayanan kesehatan. Demikian pula beberapa klien
enggan mencari pelayanan yang kompleks dan besar dan mereka lebih suka untuk mengunjungi Puskesmas yang tidak
membutuhkan prosedur yang rumit.
f.Dukungan
Sosial
Dukungan sosial disini meliputi beberapa institusi atau perkumpulan yang bersifat peningkatan kesehatan. Di institusi tersebut
dapat dilakukan berbagai kegiatan, seperti seminar kesehatan, pendidikan dan pelatihan kesehatan, latihan (aerobik, senam
POCO-POCO
dll).
Juga menyediakan fasilitas olehraga seperti, kolam renang, lapangan Bola Basket, Lapangan Sepak Bola, dll.
DAMPAK HOSPITALISASI PADA KLIEN DAN KELUARGA
Hospitalisasi merupakan pengalaman yang mengancam bagi setiap orang. Penyakit yang diderita akan menyebabkan
perubahan perilaku normal sehingga klien perlu menjalani perawatan (hospitalisasi). Secara umum, hospitalisasi
menimbulkan dampak pada lima aspek, yaitu privasi, gaya hidup, otonomi diri, peran, dan ekonomi.
1. Privasi. Privasi dapat diartikan sebagai refleksi perasaan nyaman pada diri seseorang dan bersifat pribadi. Bisa
dikatakan, privasi adalah suatu hal yang sifatnya pribadi. Sewaktu di rawat di rumah sakit, klien kehilangan privasinya.
Kondisi disebabkan oleh beberapa hal. Pertama , selam dirawat di rumah sakit, klien berulangkali diperiksa oleh
petugas kesehatan dalam hal ini perawat dan dokter. Bagian tubuh yang biasanya dijaga agar tidak dilihat orang tibatiba dilihat dan disentuh orang lain. Hal ini tentu akan membuat klien merasa tidak nyaman. Kedua, klien adalah orang
yang berada di keadaan lemah dan bergantung pada orang lain. Kondisi ini cenderung membuat klien pasrah dan
menerima apapun tindakan petugas kesehatan kepada dirinya asalkan dia cepat sembuh. Menyikapi hal ini, perawat
harus selalu memerhatikan dan menjaga privasi kien ketika berinteraksi dengan mereka. Beberapa hal yang dapat
perawat lakukan guna menjaga privasi klien sebagai berikut:

a. Setiap akan melakukan tindakan, perawat harus selalu memberitahu dan menjelaskan perihal tindakan tersebut
kepada klien.
b. Memerhatikan lingkungan sebelum melaksanakan tindakan keperawatan. Yakinkan bahwa lingkungan tersebut
menunjang privasi klien.
c. Menjaga kerahasiaan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan klien. Sebagai contoh, setelah selesai
melakukan pemasangan kateter, perawat tidak boleh menceritakan alat kelamin pada orang lain, sekalipun teman
sejawat.
d. Menunjukkan sikap professional selam berinteraksi dengan klien. Perawat tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang
dapat membuat klien malu atau marah. Sikap tubuh pun tidak boleh layaknya majikan kepada pembantu.
e. Libatkan klien dalam aktivitas keperawatan sesuai dengan batas kemampuannya jika tidak ada kontraindikasi.
2. Gaya hidup. Klien yang dirawat dirumah sakit sering kali mengalami perubahan pola gaya hidup. Hal ini disebabkan
oleh perubahan situasi antara rumah sakit dan rumah tempat tinggalklien, juga oleh perubahan kondisi kesehatan klien.
Aktivitas hidup yang klien jalani sewaktu sehat tentu berbeda aktivitas yang dijalaninya di rumah sakit. Apabila jika yang
dirawat adalah seorang pejabat. Hal tentu akan membawa perubahan yang signifikan pada klien. Perubahan gaya
hidup akibat hospitalisasi inilah yang harus menjadi perhatian setiap perawat. Asuhan keperawatan yang diberikan
harus diupayakan sedemikian rupa agar dapat menghilangkan atau setidaknya meminimalkan perubahan yang terjadi.
3. Otonomi. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, individu yang sakit dan dirawat di rumah sakit berbeda dalam posisi
ketergantungan. Artinya, ia akan pasrah terhadap tindakan apa pun yang dilakukan oleh petugas kesehatan demi
mencapai keadaan sehat. Ini menunjukkan bahwa klien yang dirawat di rumah sakit akan mengalami perubahan
otonomi. Untuk mengatasi perubahan ini, perawat harus selalu memberi tahu klien sebelum melakukan intervensi
apapun dan melibatkan klien dalam intervensi, baik secara aktif maupun pasif.
4. Peran. Peran dapat diartikan sebagai seperangkat perilaku yang diharapkan oleh individu sesuai dengan status
sosialnya. Jika ia seorang perawat, peran yang diharapkannya adalah peran sebagai perawat, bukan sebagai dokter.
Selain itu, peran yang dijalani seseorang juga bergantung pada status kesehatannya. Peran yang dijalani sewaktu
sehat tentu berbeda dengan peran yang dijalani saat sakit. Hal ini sesuai dengan peran sakit yang dijalani individu.

Tidak mengherankan jika klien yang dirawat di rumah sakit mengalami perubahan peran. Perubahan yang terjadi akibat
hospitalisasi ini tidak hanya berpengaruh pada individu, tetapi pada keluarga. Perubahan tersebut antara lain:
a. Perubahan peran. Jika salah seorang anggota keluarga sakit, akan terjadi perubahan peran dalm keluarga. Sebagai
contoh, jika yang sakit adalah ayah, peran sebagai kepal keluarga akan dijalankan oleh ibu. Tentu perubahn peran
ini mengharuskan dilaksanakan tugas tertentu sesuai dengan peran tersebut.
b. Masalah keuangan. Keuangan keluarga akan terpengaruh oleh hospitalisasi. Keuangan yang sedianya ditujukan
untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga akhirnya digunakan untuk keperluan klienyang dirawat. Akibatnya,
keluarga mulai mengalami masalah keuangan. Masalah keuangan ini sangat riskan tentu pada keluarga yang
miskin. Dengan semakin mahalnya biaya kesehatan,beban keuangan keluarga semakin bertambah.
c. Kesepian. Suasan rumah akan berubah jika ada salah seorang anggota keluarga yang dirawat . keseharian
keluarga yang biasannya dihiasi dengan keceriaan, kegembiraan, dan senda gurau anggotanya tiba-tiba diliputi
oleh kesedihan. Suasana keluarga pun sepi karena perhatian keluarga terpusat pada penanganan anggota
keluarga yang dirawat.
d. Perubahan kebiasaan social. Keluarga merupakan unit terkecil kasyarakat. Karenanya, keluarga pun mempunyai
kebiasaan dalam lingkup sosialnya. Sewaktu sehat, keluarga mampu berperan serta dalam kegiatan social. Akan
tetapi, saat salah anggota keluarga sakit, keterlibatan keluarga dalam aktivitas social di masyarakat pun mengalami
perubahan.

PERAN PERAWAT TERHADAP SEHAT SAKIT (PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER, TERSIER)


Tujuan keperawatan adalah membantu individu meraih kesehatan yang optimal dan tingkat fungsi maksimal yang
mungkindiraih setiap individu. Peran perawat dalam konteks sehat/sakit adalah meningkatkan kesehatna dan mencegah
penyakit. Kaitannya dengan hal tersebut, promosi kesehatan merupakan suatu upaya mengarahkan sejumlah kegiatan guna
membantu klien mempertahankan atau meraih derajat kesehatan dan tingkat fungsi setinggi-tingginya serta menikmati

kenyamanan. Aktivitas keperawatan yang dapatdilakukan dalam upaya meningkatkan derajad kesehatan klien antara lain
pendidikan dan konseling kesehatan. Lebih lanjut, pencegahan penyakit adalah upaya mengarahkan sejumlah kegiatan untuk
melindungi klien dari ancaman kesehatan potensial. Dengan kata lain, pencegahaan penyakit adalah upaya mengekang
perkembangan penyakit, memperlambat kemajuan penyakit, dan melindungi tubuh dari berlanjutnya pengaruh yang lebih
membahayakan. Terdapat tiga tingkat pencegahan, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
1. Pencegahan primer. Pencegahan primer merupakan pencegahn yang dilakukan sebelum terjadinya patogenik.
Tujuannya adalah untuk mencegah penyakit dan trauma. Secara umum, pencegahan primer meliputi promosi
kesehatan (health promotion), dan perlindungan khusus(specific protection). Promosi kesehatan dapat dilakukan
melalui beberapa cara, antara lain pendidikan kesehatan, peningkatan gizi yang tepat, pengawasan pertumbuhan
individu, konseling pernikahan, dan pemeriksaan kesehatan berkala. Perlindungan khusus dilakukan melalui upaya
imunisasi, hygiene personal, sanitasi lingkungan, perlindungan baha penyakit kerja, avoidment allergic, dan nutrisi
khusus.
2. Pencegahan sekunder. Pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakukan pada fase awal patogenik yang
bertujuan untuk mendeteksi dan melakukan intervensi segera guna menghentikan penyakit pada tahap dini, mencegah
penyebaran penyakit, menurunkan intensitas penyakit atau mencegah komplikasi, serta mempersingkat fase
ketidakmampuan. Pencegahan sekunder dilakukan melalui upaya diagnosis dini/penanganan segera seperti penemuan
kasus, survey penapisan, pemeriksaan selektif.
3. Pencegahan tersier.pencegahan tersier terjadi atas upaya mencegah atau membatasi ketidakmampuan serta
membantu memulihkan klien yang tidak mampu agar dapat berfungsi secara optimal.langkah pencegahan ini antara
lain dilakukan melalui upaya pembatasan ketidakmampuan (disability limitation) dan rehabilitasi. Untuk pembatasan
ketidakmampuan, langkah yang bisa diambil adalah pelatihan tentang cara perawatan diri dan penyediaan fasilitas.
Untuk rehabilitasi, upaya yang dilakukan, antara lain pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kondisi klien yang
derehabilitasi, penempatan klien sesuai dengan keadaannya (selective places), terapi kerja, dan pembentukan
kelompok paguyuban khusus bagi klien yang memiliki kondisi yang sama.

Konsep lingkungan yang mempengaruhi kesehatan (fisik, psikologis, biologis, sosial)

Kesehatan dan lingkungan merupakan wacana yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Kita tidak dapat memungkiri
bahwa keadaan lingkungan berpengaruh terhadap kesehatan suatu komunitas bahkan ekosistem lingkungan tersebut. Begitu
pula dengan kesehatan, kesehatan juga berperngaruh terhadap dinamika lingkungan terutama bila dipandang dalam sudut
biologis yang akan berdampak pada perubahan aspek sosialnya.
Lingkungan dapat diartikan sebagai tempat dimana kita tinggal yang meliputi keadaan hubungan sosial dan dinamika
ekosistem yang berada di sekitar kita dan berkaitan dengan hal lainnya, baik yang tampak dan tidak. Menurut kamus Bahasa
Indonesia, lingkungan adalah daerah yang termasuk di dalamnya. Namun kita sering kali mengaitkan lingkungan dengan
lingkungan hidup yang berarti kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia
dan perilakunya yang mempengaruhi kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya termasuk pula
dengan kesehatannya.
Kesehatan merupakan keadaan wujud atau fisik kita baik yang tampak atau tidak, kita sudah mengenal bahwa kesehatan
terbagi dua, yaitu kesahatan jasmani dan kesehatan rohani. Arti kesehatan sendiri menurut kamus Bahasa Indonesia adalah
kebaikan keadaan (badan dsb). Kesehatan jasmani adalah keadaan yang memfokuskan pada keadaan fisik, kesehatan
jasmani dapat kita peroleh dengan banyak berolah raga, beristirahat deang cukup, dan makan makanan yang bergizi bahkan
disarankan untuk memakan makanan 4 sehat 5 sempurna yang sudah mencakup protein, karbohidrat, lemak, dan zat laitnya
yang dibutuhkan oleh kita. Berbeda dengan kesehatan jasmani, kesehatan rohani berkaitan dengan keadaan mental yang
diniliai dengan sudut pandang agama atau pun psikologisnya.
Kesehatan fisik. Kesehatan fisik adalah suatu keadaan dimana bentuk fisik dan fungsinya tidak ada gangguan sehingga
memungkinkan perkembangan psikologi dan sosial dpat melakukan kegiatan sehari -hari dalam kondisi yang baik atau

optimal.Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri
dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan
fisik, social, dan ekonomi)dalam mempertahankan kesehatannya. terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh
sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau
tidak berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan
Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik,
tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial,ekonomi,politik dan sebagainya serta saling toleran dan
menghargai . Kesehatan sosial adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain di lingkungan
sekitarnya, sehingga mampu untuk hidup bersama dengan masyarakat lingkungannya.
Kesehatan psikologi adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai
kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan
kemampuan dirinya. Seseorang dikatakan memiliki mental sehat apabila terhindar dari gejala penyakit jiwa dengan
memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya. Kecemasan dan kegelisahan dalam
diri seseorang lenyap bila fungsi jiwa di dalam dirinya seperti fikiran, perasaan, sikap, jiwa, pandangan, dan keyakinan hidup
berjalan seiring sehingga menyebabkan adanya keharmonisan dalam dirinya.
Kesehatan biologis adalah suatu aktifitas atau kegiatan organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan , karena sudut
pandang biologis sendiri yang meliputi tumbuh-tumbuhan, binatang, sampai dengan manusia itu berperilaku.dengan kata lain
perilaku yang merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya.