Anda di halaman 1dari 8

A.

METODE PENDEKATAN
Dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan dokumen RKP kumuh perkotaan Kota
Parepare, maka metode pendekatan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan Komprehensif
Pendekatan perencanaan yang komprehensif dalam penyusunan RKP Kumuh
Perkotaan adalah melakukan perencanaan penanganan permukiman kumuh secara
menyeluruh meliputi aspek sosial, ekonomi, fisik lingkungan.
2. Pembangunan Terintegrasi
Pendekatan pembangunan yang terintegrasi dalam penyusunan RKP Kumuh Perkotaan
adalah melakukan perencanaan pembangunan tersistem dari skala lingkungan,
kawasan dan kota.
3. Keterpaduan Program
Pendekatan keterpaduan program dalam penyusunan RKP Kumuh Perkotaan adalah
melakukan penyusunan rencana investasi pembangunan yang melibatkan semua
sumber pembiayaan dari Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat dan swasta.
4. Keberlanjutan
Pendekatan keberlanjutan dalam penyusunan RKP Kumuh Perkotaan adalah
melakukan

penyusunan

rencana

pengelolaan

paska

pembangunan

dengan

memastikan fungsi dan kualitas lingkungan untuk kepentingan kualitas hidup


masyarakat yang bermukim.

B. STRATEGI PELAKSANAAN
Strategi yang dapat diterapkan dalam Pelaksanaan RKP Kumuh Perkotaan Kota
Parepare, adalah:
1) Mendorong Proses Transformasi Sosial dari Masyarakat Tidak Berdaya/Miskin
Menuju Masyarakat Berdaya :
a. Internalisasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal, sebagai pondasi yang kokoh
untuk memberdayakan masyarakat menuju tatanan masyarakat yang mampu
mewujudkan kemandirian dan pembangunan berkelanjutan.

Hal. III-1

b. Penguatan Lembaga Masyarakat melalui pendekatan pembangunan bertumpu


pada kelompok (Community based Development), dimana masyarakat
membangun dan mengorganisir diri atas dasar ikatan pemersatu (common
bond), antara lain kesamaan kepentingan dan kebutuhan, kesamaan kegiatan,
kesamaan domisili, dll, yang mengarah pada upaya mendorong tumbuh
berkembangnya kapital sosial.
c. Pembelajaran Penerapan Konsep Tridaya dalam Penanggulangan Kemiskinan ,
menekankan pada proses pemberdayaan sejati (bertumpu pada manusiamanusianya) dalam rangka membangkitkan ketiga daya yang dimiliki manusia,
agar tercipta masyarakat efektif secara sosial, tercipta masyarakat ekonomi
produktif dan masyarakat pembangunan yang mampu mewujudkan lingkungan
perumahan dan permukiman yang sehat, produktif dan lestari.
d. Penguatan Akuntabilitas Masyarakat , menekankan pada proses membangun
dan menumbuhkembangkan segenap lapisan masyarakat untuk peduli untuk
melakukan kontrol sosial secara obyektif dan efektif sehingga menjamin
pelaksanaan kegiatan yang berpihak kepada masyarakat miskin dan mendorong
kemandirian serta keberlanjutan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan di
wilayah masing-masing.
2) Mendorong Proses Transformasi Sosial dari Masyarakat Berdaya Menuju Masyarakat
Mandiri
a. Pembelajaran Kemitraan antar Stakeholders Strategis, yang menekankan pada
proses pembangunan kolaborasi dan sinergi upaya-upaya penanggulangan
kemiskinan antara masyarakat, pemerintah kota/kabupaten, dan kelompok
peduli setempat agar kemiskinan dapat ditangani secara efektif, mandiri dan
berkelanjutan.
b. Penguatan

Jaringan

antar

Pelaku Pembangunan,

dengan

membangun

kepedulian dan jaringan sumberdaya dan mendorong keterlibatan aktif dari para
pelaku pembangunan lain maka dapat dijalin kerjasama dan dukungan
sumberdaya bagi penanggulangan kemiskinan, termasuk akses penyaluran
(channeling)

bagi

keberlanjutan

program-program

di

masyarakat

dan

penerapkan Tridaya di lapangan. Para pelaku pembangunan lain yang dimaksud


antara lain : LSM, Perguruan Tinggi setempat, lembaga-lembaga keuangan
(perbankan), Pengusaha, Asosiasi Profesi dan Usaha Sejenis, dll.

Hal. III-2

3) Mendorong Proses Transformasi Sosial dari Masyarakat Mandiri Menuju Masyarakat


Madani
Intervensi RKP untuk mampu mewujudkan transformasi dari kondisi masyarakat
mandiri menuju masyarakat madani lebih dititikberatkan pada proses penyiapan
landasan yang kokoh melalui penciptaan situasi dan lingkungan yang kondusif bagi
tumbuhberkembangnya

masyarakat

madani,

melalui

intervensi

komponen

Pembangunan Lingkungan Permukiman Kelurahan Terpadu (Neighbourhood

Development), yakni proses pembelajaran masyarakat dalam mewujudkan prinsipprinsip pembangunan berkelanjutan yang berbasis nilai menuju terwujudnya
lingkungan permukiman yang tertata, sehat, produktif dan lestari.

Gambar 3.1 Prinsip Penanganan Lingkungan Permukiman Kumuh


Berbasis Kawasan
C. LINGKUP PENANGANAN
Sesuai dengan UU No. 4/1992 Pasal 27, lingkup penanganan lingkungan permukiman
kumuh mencakup hal-hal berikut di bawah ini:
1. Perbaikan dan Pemugaran
Secara konseptual, implementasi prinsip perbaikan dan pemugaran meliputi 1)
Revitalisasi, 2) Rehabilitasi, 3) Renovasi, 4) Rekonstruksi, dan 5) Preservasi.

Revitalisasi adalah upaya menghidupkan kembali suatu kawasan mati, yang pada
masa silam pernah hidup, atau mengendalikan dan mengembangkan kawasan

Hal. III-3

untuk menemukan kembali potensi yang dimiliki atau pernah dimiliki atau
seharusnya dimiliki oleh sebuah kota.

Rehabilitasi merupakan upaya mengembalikan kondisi komponen fisik lingkungan


permukiman yang mengalami degradasi.

Renovasi

adalah melakukan perubahan sebagian atau beberapa bagian dari

komponen pembentukan lingkungan permukiman.

Rekonstruksi merupakan upaya mengembalikan suatu lingkungan permukiman


sedekat mungkin dari asalnya yang diketahui, dengan menggunakan komponenkomponen baru maupun lama.

Preservasi merupakan upaya mempertahankan suatu lingkungan permukiman dari


penurunan kualitas atau kerusakan. Penanganan ini bertujuan untuk memelihara
komponen yang berfungsi baik dan mencegah dari proses penyusutan dini
(kerusakan), misalnya dengan menggunakan instrumen: Ijin Mendirikan Bangunan
(IMB). Ketentuan atau pengaturan tentang: Koefesien Lantai Bangunan, Koefesien
Dasar Bangunan, Garis Sempadan Bangunan, Garis Sempadan Jalan, Garis
Sempadan Sungai, dan lain sebagainya.

2. Peremajaan
Peremajaan adalah upaya pembongkaran sebagian atau keseluruhan lingkungan
perumahan dan permukiman dan kemudian di tempat yang sama dibangun prasarana
dan sarana lingkungan perumahan dan permukiman baru yang lebih layak dan sesuai
dengan rencana tata ruang wilayah. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk
meningkatkan nilai pemanfaatan lahan yang optimal sesuai dengan potensi lahannya.
Di samping itu, diharapkan mampu memberikan nilai tambah secara ekonomis dan
memberi vitalitas baru dari lahan permukiman yang diremajakan. Pada umumnya,
peremajaan ini memberikan konsekuensi bentuk teknis penanganan seperti halnya:
land consolidation, land re-adjustment dan land sharing.
3. Pengelolaan dan Pemeliharaan Berkelanjutan
Pengelolaan dan pemeliharaan berkelanjutan adalah upaya-upaya untuk mencegah,
mengendalikan atau mengurangi dampak negatif yang timbul, serta meningkatkan
dampak positif yang timbul terhadap lingkungan hunian.
D. METODOLOGI KEGIATAN
Metodologi pelaksanaan kegiatan penyusunan RKP kumuh perkotaan Kota Parepare
dapat dilihat sebagai berikut :

Hal. III-4

Tahapan pelaksanaan kegiatan penyusunan RKP Kumuh Perkotaan dilaksanakan


dalam 6 (enam) tahapan, yaitu:

Gambar 3.2 Tahapan Pelaksanaan Kegiatan RKP-KP


1. Persiapan
Tahap persiapan secara umum meliputi 2 (dua) kegiatan utama adalah sebagai
berikut :
a. Sosialisasi
Sosialisasi

dimaksudkan

untuk

menyamakan

persepsi

terhadap

kegiatan

penyusunan Dokumen RKP-KP serta merumuskan rencana kerja yang akan


dilaksanakan.
b. Konsolidasi
Kegiatan konsolisasi dimaksudkan untuk memperole kesepakatan terhadap
lembaga-lembaga yang akan terlibat dalam kegiatan ini.
c. Preparasi kegiatan
Adapun kegiatan dalam taapan preparasi kegiatan ini adala
Penyusunan rencana kerja
Penyiapan data awal
d. Penyiapan profil kawasan
Base line data kumuh

Hal. III-5

SK kumuh Walikota/Bupati, yang berisikan :


- Data Profil
- Data Peta, dan
- Data pendukung
e. Penyiapan kelembagaan masyarakat
Adapun output yang dihasilkan dalam taap persiapan ini adalah sebagai berikut :
Rencana kerja
Desain survey
Format kegiatan
Data awal profil kawasan
Data awal kelembagaan local (BKM/TPM, dll),
Kelembagaan kemasyaratakan
2. Survey Dan Identifikasi
Pada tahapan ini, secara garis besar terdapat 3(tiga) kegiatan utama, yaitu :
a. Survey dan observasi
Survey dan observasi dilakukan untuk mengetahui :
Sebaran lokasi kumuh kota
Tipologi kumuh kota
Identifikasi skala kota
Lembaga swadaya
Potensi dan permasalahan
b. Verifikasi/Justifikasi lokasi
Adapun verifikasi/justifikasi yang dimaksud adalah meliputi :
Lokasi
Deliniasi
Luasan
Layanan hunian
Infrastruktur
c. Survey kampung sendiri (SKS)
Adapun output yang akan dihasilkan pada tahapan ini adalah :
Pendataan kawasan
Data identifikasi/mapping kawasan
Verifikasi lokasi

Hal. III-6

Hasil justifikasi skala penanganan


Pendataan Survey Kampung Sendiri (SKS)
3. Kajian dan Perumusan I
Secara umum, pada tahapan kajian dan perumusan I ini terdapat 6 (enam) kegiatan
utama, yaitu :
a.

Kajian Profil
Pada tahapan kajian profil, ada beberapa hal yang harus dikaji, yaitu :
Overview permukiman kumuh kota
Overview kebijakan dan program penanganan kumuh (SPPIP/RPKPP/RP3KP,
dll)
Overview profil kawasan kumuh

b.

Penilaian kampung sendiri

c.

Perumusan konsep dan strategi

d.

Perumusan prioritas kebutuhan

e.

Perumusan program dan kegiatan

f.

Perencanaan partisifatif

Adapun output dari kegiatan kajian dan perumusan I, ini adalah :

Hasil overview dokumen dokumen perencanaan terkait

Rumusan konsep dan strategi penanganan

Pemutakhiran profil

Rumusan program dan kegiatan

Rumusan akar permasalahan permukiman kumuh

Rumusan prioritas kebutuhan

Rumusan rencana dan sumberdaya penanganan

4. FGD dan Perumusan II


Secara umum, terdapat 4 (empat) kegiatan utama pada tahapan kegiatan ini, yaitu :
a.

Perumusan memorandum program keciptakaryaan

b.

Penyusunan draft CAP

c.

Pelaksanaan FGD

d.

Penyusunan DED

Adapun output dari kegiatan, ini adalah :

Berita acara FGD

Hal. III-7

Dokumen rumusan pembangunan/memorandum program

Kesepakatan penanganan

Draft CAP

5. Kolokium
Pada tahapan ini, terdapat 2 (dua) kegiatan utama, yaitu :
a. Kolokium
Tahap Kolokium merupakan upaya pendampingan dari pusat untuk memastikan
kualitas proses dan substansi yang telah dan dalam proses penyusunan sesuai
dengan metodologi pelaksanaan. Tim Tenaga Ahli bersama dengan Tim Teknis
Pemeritah Kabupaten/Kota akan memberikan pelaporan kemajuan pencapaian
kegiatan maupun hasil kesepakatan di daerah dalam penyusunan pekerjaan ini.
b. Penajaman pasca kolokium
Tahap penajaman pasca kolokium adalah merupakan perbaikan atas masukan
dari tim teknis pusat dan konsultan manajemen pendamping untuk selanjutnya
dilaksanakan dasar/acuan dalam pelaksanaan konsultasi publik guna
menyebarluaskan informasi mengenai rencana dan program yang akan
dilaksanakan.
6. Penyusunan Desain Teknis
Tahapan ini adalah merupakan tahapan terakhir dari rangkaian kegiatan penyusunan
dokumen Rencana Kawasan Permukiman Kumuh Kawasan Perkotaan yang secara
umum menghasilkan 2 (dua) dokumen utama, yaitu :
a. Dokumen RKP
b. Dokumen CAP
Dokumen RKP dan CAP sekurang-kurangnya hasus memuat :
a.

Dokumen RKP ini sekurang-kurangnya memuat :


Rencana aksi 0% kumuh (2015-2019)
Dokumen Teknis Tahun I
Memorandum program pembangunan sektor Cipta Karya
DED Kumuh prioritas
Dokumen CAP

b. Evaluasi kinerja penanganan kumuh hingga tahun 2015


c. Perwali/Perbup RKP Kumuh Perkotaan

Hal. III-8