Anda di halaman 1dari 26

OBAT-OBAT ANESTESI DAN EMERGENCY

PENDAHULUAN
Obat merupakan zat atau bahan atau paduan
bahan
yang
digunakan
untuk
mencegah,
mendiagnosa, menyembuhkan, mengurangi gejala
penyakit, memulihkan kesehatan dan untuk
memperbaiki atau memperelok tubuh (Dinkes,
2013). Berdasarkan sifat pemakaiannya, obat-obat
yang tertuang dalam Formularium Rumah Sakit
dibedakan dalam dua jenis yaitu obat gawat
darurat dan obat bukan gawat darurat

KLASIFIKASI
1. GOLONGAN NARKOTIKA
2. GOLONGAN SEDATIVA DAN TRANQUILIZER
3. GOLONGAN OBAT EMERGENCY

GOLONGAN NARKOTIKA
A. PETHIDIN
.Efek : analgesia, sedasi, euphoria, depresi
nafas dan efek sentral lainnya.
.Indikasi
:
hanya
digunakan
untuk
menimbulkan analgesia.
.Kontraindikasi : gangguan fungsi ginal
berat
.Dosis : 1-2 mg/kgBB
.Efek
samping
:
pusing,berkeringat,
euphoria,
mual
muntah,
gangguan
penglihatan, palpitasi, sinkop, disforia.

B. FENTANIL
Efek : merupakan agonis opiod poten.
Sebagai suatu analgetik. Fentanil dapat
meningkatkan anastetik local pada saraaf
tepi.
Indikasi : analgesic narkotik pada anestesi
regional atau general.
Kontraindikasi : depresi pernafasan, cedera
kepala,
alkoholisme
akut,
asma
akut,
intoleransi, hamil, dan menyusui
Dosis : - dosis rendah 2 mcg/kgBB
- dosis sedang 2-20 mcg/kgBB
- dosis tinggi 20-50 mcg/kgBB
Efek

samping

depresi

pernafasan,

GOLONGAN SEDATIVA
A. MIDAZOLAM
.Indikasi : sebagai premedikasi, induksi anestesi dan
penunjang anestesi umum, sedasi untuk tindakan
diagnostic dan anestesi local.
.Kontraindikasi : bayi premature, mystenia gravis,
glaucoma, hipersensitif, syok, hipotensi, dan pemakai
narkoba.
.Dosis : - premedikasi : dewasa 0.07-0.1 mg/kgBB
anak 0.15-0.2 mg/kgBB
- sedasi intravena : 1- 2.5 mg IV
- induksi anestesi : 0.1-0.2 mg/kgBB
- sedasi post op : 0.2-4 mg IV
.Efek samping : mual muntah, nyeri kepala, cegukan,
laringospasme, dyspnea, halusinasi, ataksia, ruam kulit,
reaksi paradoksikal, episode amnesia.

B. PROPOFOL
Indikasi : merupakan obat sedative-hipnotik
yang dapat digunakan dalam induksi maupun
pemeliharaan pada anestesi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas pada
bahan penyusun obat, pasien alergi terhadap
telur atau produk telur, alergi kedelai atau
produk kedelai.
Dosis : - dosis dewasa 1.5- 2.5 mg/kgBB
- dosis anak 2.5 mg/kgBB
disesuaikan keperluan
Efek samping : bradikardia, nausea, sakit
kepala, eksitasi, nyeri local pada daerah
suntikan, depresi pernafasan dan jantung

GOLONGAN OBAT EMERGENCY


A. EPINEFRIN
.Efek : meningkatkan kontraktilitas miokardium, FJ,
TDS, dan CJ. Epinefrin juga merelaksasikan otot polos
bronchial.
.Indikasi : henti jantung, reaksi hipersensitivitas,
anafilaksis,
serangan
asma
akut,
bradikardia
simtomatik, hipotensi berat.
.Kontraindikasi : glaucoma sudut sempit dan
insufisiensi coroner.
.Dosis : untuk pasien yang mengalami henti jantung,
berikan 1 mg melalui IV (ikuti dengan 20 ml cairan IV).
.Efek samping : disritmia ventrikel, angina pectoris,
nyeri kepala, tremor, produksi urin berkurang,
ansietas

B. AMIODARON
Efek : memperpanjang durasi potensial aksi,
menekan
kecepatan
konduksi,
memperlambat
konduksi pada nodus AV. Mengurangi beban kerja
jantung dan konsumsi oksigen miokardium melalui
efek vasodilator.
Indikasi : takidisritmia atrium dan ventrikel
Kontraindikasi : sinus bradikardia berat, blok AV
derajat dua atau tiga, syok kardiogenik
Dosis : pada henti jantung berikan 300mg bolus IV,
ulangi dengan 150 mg melaluia IV dalam 3-5 menit
( dosis maksimum adalah 2.2 gr sehari)
Efek samping : gangguan lambung, mual, muntah,
pandangan kabur, mata menjadi sensitive terhadap
cahaya,
gangguan
tidur,
gangguan
indera
pengecapan.

C. NOREPHINEFRIN
Indikasi : mengendalikan tekanan darah pada
keadaan hipotensi akut. Dan merupakan terapi
penunjang pada gagal jantung dan hipotensi berat.
Kontraindikasi : pada keadaan hipotensi akinat
kekurangan darah,
pasien dengan thrombosis
vaskuler
perifer,
jangan
diberikan
selama
pemberian anestesi siklosporan dan halotan.
Dosis : encerkan 4 mg dalam NaCl 50 cc sehingga
diperoleh pengenceran 1 cc = 80 mcg. Dosis
pemberiannya 0.01-2 mcg/kgBB
Efek samping : hipoksia jaringan, bradikardia,
aritmia, anxietas, sakit kepala, dyspnea, nekrosis
pada tempat injeksi, depresi volume plasma pada
pemakaian lama.

D. DOBUTAMIN
Efek : meningkatkan kontraktilitas miokardium
dan meningkatkan CJ tanpa perubahan TD yang
signifikan. Dobutamin meningkatkan aliran
darah
coroner
dan
konsumsi
oksigen
miokardium
Indikasi : gagal jantun dan dekompensasi
jantung
Kontraindikasi : stenosis subaortik idiopatik,
syok tanpa pengganti cairan yang adekuat,
sensitivitas sulfit
Dosis : 2-20 mcg/kgBB intravena
Efek samping : mual, sakit kepala, palpitasi,
sesak nafas, dan nyeri dada

E.DOPAMIN
Indikasi
:
keadaan
syok
dan
bradikardia somtomatik
Kontraindikasi : takidisritmia yang
tidak
dikoreksi,
feokromositoma,
ventrikel fibrilasi
Dosis : 1-20 mcg/kgBB intravena
Efek samping : over aktivasi saraf
simpatis seperti nausea, takikardi, sakit
kepala dan mual muntah.

F. HEPARIN
Efek : menghambat antitrombonin III, mencegah
konversi fibrinogen menjadi fibrin dan prototombin
menjadi thrombin.
Indikasi : terapi thrombosis dan emboli, terapi
adjuvant pada IMA
Kontraindikasi : hipersensitivitas, perdarahan aktif,
hemophilia, baru menjalani pembedahan intracranial,
intraspinal, atau mata. Trombositopenia berat,
hipertensi berat, atau gangguan perdarahan.
Dosis : untuk IMA bolus 60 IU/kgBB (maksimum 4000
IU) yang diikuti dengan infus 12 IU/kgBB/jam.
Efek samping : pusing atau sakit kepala, perdarahan
pada gusi atau gigi, sakit perut, sakit punggung,
konstipasi, sendi terasa kaku, darah pada urine,
mimisan, menstruasi dengan volume darah berlebihan.

G. MORFIN SULFAT
Efek : mengurangi transmisi impuls nyeri,
mengurangi kebutuhan oksigen miokardium,
mengatasi kongesti paru.
Indikasi : nyeri dada dengan ACS yang tidak
berespon
terhadap
nitrat,
edema
paru
kardiogenik
Kontraindikasi : hipersensitivitas, frekuensi
pernpasan kurang dari 12 kali/menit.
Dosis : 2-4 mg melalui intravena selama 1-5
menit setiap 5-30 menit
Efek samping : mengantuk, pusing atau sakit
kepala, mual, sembelit, sulit BAK, gangguan
tidur, mulut terasa kering, tubuh berkeringat

H. EFEDRIN
Indikasi : digunakan sebagai bronkodilator,
untuk hipotensi kondisi CNS, dan kemacetan
nasal.
Kontraindikasi : sensitive terhadap efedrin,
aritmia, galukoma sudut tertutup, pengguan
bersama dengan agen simpatoimetik
Dosis : - sebagai bronkodilator diberikan
secara oral 25-50 mg. dosis pemberian secara
IV yaitu 5-25 mg dapat diberikan secara
perlahan.
Efek samping : mengantuk, pusing atau sakit
kepala, mual, sembelit, sulit BAK, gangguan
tidur, mulut terasa kering, tubuh berkeringat

I. SULFAS ATROPIN
Indikasi : sebagai antispasmodic, sebagai
premedikasi untuk mengeringkan bronchus dan
saliva yang bertambah pada intubasi dan anestesi
inhalasi, mengembalikan bradikardi yang berlebihan,
antidotum untuk keracunan organopospor.
Kontraindikasi : glaucoma sudut sempit, mistenia
gravis, ileus paralitik, stenosis pylori, pembesaran
prostat.
Dosis : - dewasa 300-600 mcg
- anak 10-20 mcg/kgBB
Efek samping : konstipasi, retensi urin,
dilatasipupil
dengan
heilangan
akomodasi,
fotophobia, mulut kering, mual, muntah dan
pusing.

J. AMINOFILIN
Indikasi : bronkodilatasi karna berbagai
sebab, termasuk gagal jantung kongestif
Kontraindikasi : hipersensitivitas terhadap
bahan aminofilin
Dosis : - IV 4 mg/kgBB, dapat diikuti infus 0.5
mg/kgBB/jam
- oral 100-300 mg diberikan 3-4 kali
sehari
Efek samping : detak jantung meningkat,
gelisah, gemetar, gangguan tidur, mual, sakit
kepala, sakit perut

K. DEKSAMETHASON
Indikasi : sebagai antialergi dan untuk
anafilaksis.
Kontraindikasi : hipersensitifitas , infeksi
jamur sistemik, malaria cerebral kausa jamur,
penggunaan pada mata dengan infeksi virus.
Dosis : - untuk alergi 0.75-9 mg/hari
- reaksi anafilaksis IV 1-6 mg/kgBB
Efek samping : aritmia, bradikardia, edema,
hipertensi, depresi, instabiltas emosional,
sakit kepala, peningkatan TIK, malaise, kulit
kering, dermatitis alergi, alopesia, dll.

L. ONDANSENTRON
Indikasi : Mual dan muntah akibat kemoterapi
dan radioterapi, untuk pencegahan mual dan
muntah selama operasi dan pasca operasi.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap
ondansentron, sidroma perpanjangan interval QT
bawaan.
Pemberian : Dewasa, kemoterapi dan
radioterapi yang menyebabkan muntah tingkat
sedang, oral 8 mg 1-2 jam sebelum terapi atau
injeksi intravena lambat, 8 mg sesat sebelum
terapi, dilanjutkan dengan 8 mg tiap 12 jam.
Efek samping : Sakit kepala, konstipasi, reaksi
lokasi injeksi, aritmia, reaksi ekstrapiramidal,
bradikardia, cegukan, peningkata fungsi hati.

M. KETOROLAC
Indikasi : Untuk penatalaksanaan nyeri akut yang berat
jangka pendek (< 5 hari)
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap ketorolac,
pasien dengan ulkus peptikum, perdarahan saluran cerna
atau perforasi, penderita dengan gangguan ginjal berat,
ibu menyusui, pasien yang mendapatkan OAINS lainnya.
Pemberian : Untuk pengobatan intramuscular jangka
pendek, diberikan 30-60 mg, dan kemudian dengan dosis
15-30 mg/6jam bila diperlukan. Dosis maksimum yang
dapat diberikan dalam sehari adalah 120 mg. untuk
meringankan rasa sakit derajat sedang pasca operasi
diberikan 30 mg dan 90 mg dengan derajat nyeri berat.
Durasi maksimum pengobatan ketorolac adalah selam 5
hari.
Efek samping : Ulkus, perdarahan saluran cerna dan
perforasi, hemoragis pasca bedah, gagal ginjal akut, reaksi
anafilaktoid, dan gagal hati.

N. RANITIDIN
Indikasi :
Untuk pengobatan jangka pendek tukak usus, tukak
lambung aktif, mengurangi gelala refluks esophagitis.
Terapi pemeliharaan setelah setelah penyembuhan tukak
usus dan tukak lambung.
Pengobatan keadaan hipersekresi patologis, missal sindroma
zollinger Ellison dan mastositosis sistemik.
Kontraindikasi : Ranitidine dikontraindikasikan bagi
pasien yang hipersensitif atau alergi terhadap ranitidine.
Pemberian : Dosis ranitidine untuk orang dewasa adalah
150 mg dua kali sehari atau 300 mg sekali sehari. Untuk
peradangan kerongkongan, ranitidine dapat diberikaan
hingga 150 mg tiga kali sehari. Dosis untuk anak ialah 2-4
mg/kgBB dua kali sehari. Dosis maksimal untuk anak ialah
300 mg sehari.
Efek samping :Sakit kepala, sulit buang air besar, diare,
mual, nyeri perut, dan gatal-gatal pada kulit pasien.

O. DIFENHIDRAMINN
Indikasi : Sebagai antihistamin, antiemetic,
anti spasmodik seperti parkinsonisme, reaksi
ekstrapiramidal karena obat.
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap
difenhiramin, asma akut, ibu menyusui dan
tidak boleh untuk neonates.
Pemberian : Untuk pasien dewasa 25-50
mg tiga kali sehari dan untuk anak yaitu 5
mg/kgBB dalam sehari.
Efek samping : Dapat berpengaruh pada
kardiovaskuler dan SSP, gangguan darah,
reaksi alergi, gangguan saluran cerna.

P. LIDOKAIN
Indikasi : Lidokain sering digunakan secara suntikan untuk
anesthesia infiltrasi, blockade saraf, anesthesia epidural maupun
anesthesia selaput lender. Pada anesthesia infiltrasi biasanya
digunakan larutan 0,25% - 0.50% dengan atau tanpa adrenalin.
Lidokain dapat pula digunakan untuk anesthesia permukaan.
Untuk anesthesia rongga mulut, kerongkongan dan saluran cerna
bagian atas digunakan larutan 1-4% dengan dosis maksimal 1
gram sehari dibagi dalam beberapa dosis.
Kontraindikasi : Kontra indikasi untuk penggunaan lidokain
meliputi ; kontraindikasi obat inflamasi local, sepsis, septicemia,
tirotoksikosis, hipersensitif terhadap anestesi local golongan
amida.
Pemberian : Bila lidokain digunakan sebagai agen tunggal,
dosis total lidokain jangan lebih dari 200mg. penambahan
vasokontriktor akan meningkatkan dosis total menjadi 350 mg
serta memperlambat absorpsi.
Efek samping : Terbentuk ruam, gatal-gatal, kulit kering, kulit
memerah, demam, mati rasa pada daerah yang diinjeksi, reaksi
alergi.

Q. NEOSTIGMIN
Indikasi : Mistenia gravis, untuk mengatasi
kelumpuhan akibat pemberian pelemas otot nondepolarisasi.
Kontraindikasi : Obstruksi usus atau saluran
kemih
Pemberian :
Oral ; neonatus 1-5 mg tiap 4 jam setengah jam
sebelum menyusui, anak 7-15 mg, dewasa 1530 mg dapat diulang sesuai dengan kebutuhan
Injeksi, neonatus 50-250 mcg, anak 200-500
mcg, dewasa 1 2.5 mg
Efek samping : Mual muntah, diare,
hipersalivasi, kejang perut, bradikrdia, hipotensi,
agitasi, rasa lemah, dan paralisis.

GOLONGAN MUSCLE
RELAXANTA. NEOSTIGMIN
Indikasi : Suatu tambahan untuk anestesi
umum, untuk memfasilitasi intubasi
endotraekheal dan untuk memberikan relaksasi
otot skeletal selama pembedahan atau ventilasi
mekanikal.
Kontraindikasi : Penggunaan diperpanjang
(penggunaan dilanjutkan melewati batas waktu).
Pemberian : Dosis 0.5 mg/kgBB, 30-60 menit
untuk intubasi. Untuk relaksasi intraoperative
selama pembedahan 0.08-0.1 mg/kgBB.
Efek samping : Bronkhospasme, takikardia,
reaksi kulit, muka kemerahan, dan alergi

TERIMA KASIH