Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

EKONOMI PUBLIK
Keberadaan Barang Publik dan Eksternalitas
Oleh:
FITRIAH
151.106.064

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, tentunya kita pernah mendengar tentang barang-barang
publik. Berbicara tentang barang publik, maka akan terlintas dalam benak kita tentang bendabenda atau tempat-tempat yang dengan sengaja dirancang atau dibuat oleh pemerintah untuk
rakyatnya.
Aktifitas pemerintah dapat mempunyai eksternalitas yang penting. Seluruh warga negara
akan merasakan manfaat atas berbagai barang yang dibeli oleh pemerintah. Contohnya,
penyediaan pertahanan umum. Seluruh masyarakat mendapatkan manfaat dari hal itu, apakah
mereka membayar pajak atau tidak.
Pemerintah menetapkan sesuatu seperti undang-undang hak milik dan hukum kontrak
yang menciptakan lingkungan hukum dimana transaksi ekonomi terjadi. Keuntungan yang
timbul dari lingkungan ini dinikmati oleh seluruh masyarakat. Pemerintah menyediakan banyak
barang publik kepada masyarakat. Sekilas, pemerintah tidak jauh berbeda dengan organisasi lain
seperti serikat pekerja, asosiasi profesional, atau bahkan perkumpulan seperti klub mahasiswa.
Mereka memberikan manfaat dan menciptakan kewajiban bagi para anggotanya. Pemerintah
berbeda, terutama karena mereka dapat mencapai skala ekonomis dan karena pemerintah
mempunyai kemampuan untuk membiayai aktivitas mereka melalui pendapatan pajak.
Umumnya, barang publik harus disediakan oleh pemerintah. Barang ini dikonsumsi secara
kolektif. Hal ini dilakukan oleh pemerintah karena pada umumnya swasta enggan terlibat dalam
penyediaan tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini penyusun akan membahas tentang
barang publik.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Barang Publik (Public Goods) dan Barang Privat (Private Goods)
Secara umum barang publik biasa dipahami sebagai sesuatu yang dapat dinikmati atau
dibutuhkan oleh semua orang. Suatu barang publik merupakan barang-barang yang tidak dapat
dibatasi siapa penggunanya dan sebisa mungkin bahkan seseorang tidak perlu mengeluarkan
biaya untuk mendapatkannya. Barang publik adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh
individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Barang
publik memiliki sifat non-rival dan non-eksklusif. Ini berarti konsumsi atas barang tersebut oleh
suatu individu tidak akan mengurangi jumlah barang yang tersedia untuk dikonsumsi oleh
individu lainnya dan non-eksklusif berarti semua orang berhak menikamti manfaat dari barang
tersebut. Contoh barang publik ini diantaranya udara, cahaya matahari, papan marka jalan, lampu
lalu lintas, pertahanan nasional, pemerintahan dan sebagainya. Akan sulit untuk menentukan
siapa saja yang boleh menggunakan papan marka jalan misalnya, karena keberadaannya memang
untuk konsumsi semua orang.
Barang publik (public goods) adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu
tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut. Barang publik
sempurna (pure public goods) adalah barang yang harus disediakan dalam jumlah dan kualitas
yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat. Barang publik hampir sama dengan barang
kolektif. Bedanya, barang publik adalah untuk masyarakat secara umum (keseluruhan),
sementara barang kolektif dimiliki oleh satu bagian dari masyarakat (satu komunitas yang lebih
kecil) dan hanya berhak digunakan secara umum oleh komunitas tersebut.
Sedangkan Barang privat adalah barang yang diperoleh melalui mekanisme pasar, dimana
titik temu antara produsen dan konsumen adalah mekanisme harga. Sebagian besar barang yang
kita konsumsi adalah barang privat, yaitu barang yang hanya dapat digunakan oleh satu
konsumen pada satu waktu. Misalnya, ketika seseorang sedang memakan kue miliknya, orang
lain tidak dapat melakukan hal serupa. Eksklusivitas kepemilikan menjadi faktor pembeda utama
barang privat dengan barang publik.
Sifat-sifat barang privat tersebut adalah sebagai berikut:
1) Rivalrous consumption, dimana konsumsi oleh satu konsumen akan mengurangi atau
menghilangkan kesempatan pihak lain untuk melakukan hal serupa. Terjadi rivalitas antar calon
konsumen dalam mengkonsumsi barang ini.
2) Excludable consumption, dimana konsumsi suatu barang dapat dibatasi hanya pada mereka
yang memenuhi persyaratan tertentu (biasanya harga), dan mereka yang tidak membayar atau
tidak memenuhi syarat dapat dikecualikan dari akses untuk mendapatkan barang tersebut
(excludable). Contohnya, pakaian di toko hanya dapat dinikmati oleh mereka yang membeli atau
membayar, sementara mereka yang tidak membayar tidak dapat menikmati pakaian tersebut.
3) Scarcity, yaitu kelangkaan atau keterbatasan dalam jumlah. Kelangkaan dan ketersediaan inilah
yang menimbulkan kedua sifat sebelumnya.

Barang privat biasanya memang diadakan untuk mencari profit atau laba. Karena sifatsifatnya tadi, barang privat dapat menjaga efisiensi pasar dalam pengadaannya. Efisiensi inilah
yang menarik minat sektor swasta dan menimbulkan pemahaman bahwa barang privat adalah
barang yang diproduksi oleh sektor swasta. Meskipun begitu, pemerintah pun sebenarnya dapat
berlaku sebagai sektor swasta dan menjadi bagian dari pasar dalam penyediaan barang privat
untuk tujuan-tujuan tertentu.
B. Perbedaan barang publik dengan barang yang lain
1) Non-eksklusivitas
Salah satu sifat yang membedakan barang publik dengan barang lain adalah apakah orang
dapat dikecualikan dari manfaat barang tersebut atau tidak. Bagi kebanyakan barang pribadi,
pengecualian tentu saja sangat dimungkinkan. Pertahanan nasional merupakan contoh standar.
Sekali suatu angkatan bersenjata dibentuk, setiap orang di suatu negara tersebut diuntungkan,
apakah dia membayar atau tidak. Barang noneksklusif ini dapat dilawan dengan barang
konsumsi pribadi yang eksklusif, seperti mobil atau film dimana pengecualian-pengecualian
merupakan suatu masalah sederhana. Mereka yang tidak membayar barang pribadi tersebut tidak
menerima jasa yang dijanjikan oleh barang tersebut.
2) Non-rivalitas
Sifat kedua yang menjadi karakter dari barang-barang publik adalah nonrivalitas. Barangbarang nonrivalitas adalah barang dimana manfaatnya dapat diberikan bagi pengguna tambahan
dengan biaya marjinal nol. Pada sebagian besar barang, tambahan jumlah konsumsi
membutuhkan sejumlah biaya produksi marjinal. Misalkan tambahan pemirsa pada satu saluran
televisi tidak akan menambah biaya meskipun tindakan ini menyebabkan terjadinya tambahan
konsumsi. Konsumsi oleh tambahan pengguna dari barang semacam itu adalah
nonrivalitas/nonpersaingan sehingga tambahan konsumsi tersebut membutuhkan biaya marjinal
sosial dari produksi sebesar nol, konsumsi tersebut tidak mengurangi kemampuan orang lain
untuk mengkonsumsi.
C. Macam-macam Barang Publik
Barang publik memiliki dua sifat atau dua aspek yang terkait dengan penggunaannya,
yaitu :
1) Non-rivalry
Berarti bahwa penggunaan satu konsumen terhadap suatu barang tidak akan mengurangi
kesempatan konsumen lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap orang dapat
mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi menfaat yang diperoleh orang
lain. Contoh, dalam kondisi normal, apabila kita menikmati udara bersih dan sinar matahari,
orang-orang di sekitar kita pun tetap dapat mengambil manfaat yang sama.
2) Non-excludable
Berarti bahwa apabila suatu barang publik tersedia, tidak ada yang dapat menghalangi
siapapun untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut. Dalam konteks pasar, maka baik
mereka yang membayar maupun tidak membayar dapat menikmati barang tersebut. Contoh,
masyarakat membayar pajak kemudian diantaranya digunakan untuk membiayai

penyelenggaraan jasa kepolisian, dapat menggunakan jasa kepolisian tersebut tidak hanya
terbatas pada yang membayar pajak saja. Mereka yang tidak membayar pun dapat mengambil
menfaat atas jasa tersebut. Singkatnya, tidak ada yang dapat dikecualikan (excludable) dalam
mengambil manfaat atas barang publik.
D. Macam-macam Barang
1) Barang pribadi
Barang pribadi adalah barang-barang yang ekskludabel dan rival. Contoh: Es Cendol. Es
cendol jelas bersifat ekskludabel karena kita bisa mencegah orang lain dari mengkonsumsinya.
Es cendol juga bersifat rival karena, jika hanya ada satu es cendol, dan ada seseorang yang
mengkonsumsinya maka orang lain tidak bisa mengkonsumsinya.
2) Barang publik
Barang publik adalah barang-barang yang tidak ekskludabel dan juga tidak rival. Artinya
siapa saja tidak bisa mencegah untuk memanfaatkan barang ini, dan konsumsi seseorang atas
barang ini tidak mengurangi peluang orang lain melakukan hal yang sama. Contoh: pertahanan
suatu negara aman karena mampu melawan setiap serangan dari negara lain, maka siapa saja di
negara itu tidak bisa dicegah untuk menikmati rasa aman, peluang bagi orang lain untuk turut
menikmati keamanan sama sekali tidak berkurang.
3) Sumber daya milik bersama (common resources)
Common resource adalah barang-barang yang tidak ekskludabel, namun rival. Contoh: ikan
laut. Tidak ada seseorang yang melarang menangkap ikan laut, atau meminta bayaran kepada
nelayan atas ikan-ikan yang mereka tangkap. Namun ada saat seseorang melakukannya, maka
jumlah ikan di laut berkurang, sehingga kesempatan orang lain melakukan hal yang sama
menjadi berkurang.
4) Adapula barang yang ekskludabel, namun tidak memiliki rival
Adapun barang seperti ini muncul dalam situasi monopoli ilmiah, yaitu produksi yang
dikuasai oleh satu perusahaan. Contoh: Jasa pemadam kebakaran suatu kota kecil. Sangatlah
mudah mencegah seseorang menikmati jasa ini. Petugas kebakaran dapat membiarkan sebuah
rumah terbakar begitu saja. Namun jasa perlindungan kebakaran ini tidaklah bersifat rival,
karena kebakaran rumah tidak terjadi setiap saat, dan setiap rumah memperoleh perlindungan
yang sama. Petugas pemadam kebakaran lebih sering menunggu daripada beraksi memadamkan
kebakaran, sehingga melindungi sebuah rumah tambahan tidak akan mengurangi kualitas
perlindungan mereka pada rumah-rumah lain. Dengan kata lain, begitu pemerintah kota
membuat anggaran untuk jasa pemadam kebakaran, maka tambahan untuk melindungi tambahan
satu rumah baru sangatlah kecil.
E. Barang Publik yang Penting
1) Pertahanan Nasional
Jika suatu negara berhasil dipertahankan, tidak ada seorang pun yang bisa dicegah untuk
menikmati manfaatnya. Ketika seseorang menikmati manfaatnya, manfaat yang dirasakan oleh

orang lain tidak akan berkurang. Oleh sebab itu, pertahanan nasional tidak bersifat ekskludabel
maupun rival.
2) Penelitian ilimu pengetahuan
Jika seorang matematikawan menemukan sebuah teorima baru, maka teorima tersebut akan
masuk kedalam ilmu pengetahuan yang boleh dimanfaatkan siapa saja secara gratis. Karena
pengetahuan adalah barang publik, maka perusahaan-perusahaan swasta yang mencari
keuntungan cenderung untuk menumpang gratis pada pengetahuan yang ditemukan oleh pihak
lain, dan hasilnya, perusahan-perusahaan ini mengalokasikan sumber-sumber daya yang terlalu
sedikit untuk menciptakan pengetahuan baru. Dengan hak paten, penemuannya bisa menikmati
sendiri sebagian besar manfaatnya sampai batas waktu tertentu. Sebaliknya, seorang
matematikawan tidak dapat mematenkan teorimanya karena pengetahuan umum seperti itu dapat
digunakan oleh siapa saja dengan gratis. Dengan kata lain, berkat adanya undang-undang hak
paten, pengetahuan spesifik dan teknis sifatnya ekskludabel, sedangkan pengetahuan umum tidak
bisa dijadikan ekskludabel.
3) Pengentasan Kemiskinan
Sistem kesejahteraan bersama memberikan sedikit uang kepada keluarga miskin. Begitu
juga, program makanan murah ditujukan untuk mengurangi biaya pembelian makanan bagi
keluarga miskin berbagai program tempat tinggal dari pemerintah membuat harga tempat tinggal
lebih terjangkau. Program-program anti kemiskinan ini dibiayai oleh pajak yang dipungut
permerintah dari keluarga atau individu yang sukses secara finansial.
F. Sumber Daya Milik Bersama
Sama halnya dengan barang publik, sumber daya milik bersama tidak ekskludabel, yaitu
sumber-sumber daya ini tersedia secara gratis bagi siapa saja yang ingin memanfaatkannya.
Namun, tidak seperti barang publik, sumber daya milik bersama berifat rival, yaitu
pemanfaatannya oleh seorang akan mengurangi peluang orang lain untuk melakukan hal serupa.
Maka, sumber daya milik bersama menimbulkan masalah baru. Setelah barang jenis ini
disediakan, para pembuatan kebijakan perlu mempertimbangkan seberapa banyak barang jenis
ini dimanfaatkan.
Sumber daya milik bersama yang penting, yakni sebagai berikut:
1) Air dan Udara Bersih
Pasar tidak mampu melindungi lingkungan hidup dengan baik. Polusi merupakan
eksternalitas negatif yang dapat diatasi oleh pemerintah dengan regulasi atau pemberlakuan
pajak atas kegiatan-kegiatan yang menghasilkan polusi.
2) Jalan yang padat
Jalan bisa merupakan barang publik atau sumber daya milik bersama. Jika jalan raya tidak
padat, maka pemanfaatannya oleh seseorang tidak akan mempengaruhi orang lain. Pada kasus
ini, jalan raya bukan barang rival, dan karenanya jalan raya dalam keadaan padat, jalan raya
menjadi semakin padat, dan orang-orang lain harus mengendarai kendaraan yang lebih lambat.
Pada kasus ini, jalan raya adalah sumber daya milik bersama.

G. Free Riders dalam Penyediaan Barang Publik


Free riders adalah permasalahan yang muncul dalam penyediaan barang publik terkait
dengan kedua sifatnya, yaitu Non-rivalry dan Non-excludable. Free riders ini adalah mereka
yang ikut menikmati barang publik tanpa mengeluarkan kontribusi tertentu, sementara
sebenarnya ada pihak lain yang berkontribusi untuk mengadakan barang publik tersebut.
Contohnya adalah mereka yang tidak membayar pajak tadi, tapi ikut menikmati jasa-jasa atau
barang-barang yang diadakan atas biaya pajak. Contoh lain, sebuah jalan desa dibangun dengan
kerja bakti. Free rider adalah mereka yang tidak ikut kerja bakti, tetapi kemudian ikut
menggunakan jalan desa tersebut.
Penyebab sektor bisnis gagal dalam menyediakan barang publik, yaitu dilihat dari
sifatnya yang non-excludable, bahwa apabila suatu barang publik tersedia, tidak ada yang dapat
menghalangi siapapun untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut, sektor swasta tentu akan
menyerahkan pada pihak lain untuk mengadakan barang publik karena terlalu tidak efisien bagi
mereka. Hal ini kemudian menimbulkan penafsiran bahwa barang publik adalah barang yang
harus disediakan oleh pemerintah. Hal ini tidak selamanya benar. Karena penggunaannya yang
untuk publik, maka pada hakikatnya, publiklah yang juga harus menyediakannya. Sektor swasta
biasanya kemudian mengembangkan cara-caranya sendiri untuk mengatasi efek eksternalitas
dan free rider yang dapat menimbulkan inefisiensi tersebut. Contoh: sistem jalan toll, sehingga
hanya mereka yang membayar yang dapat menggunakan jalan tersebut.
Pemerintah pun pada hakikatnya hanya dapat terwujud karena diadakan oleh publik.
Pihak pemerintah pun mengadakan barang publik dengan meminta kontribusi dari publik,
diantaranya dengan pajak. Selain itu, sering kali juga pemerintah dapat bertindak sebagai
fasilitator penyedia barang publik untuk kemudian hanya masyarakat tertentu yang bisa
menikmatinya, atau untuk meningaktkan efisiensi produksinya kemudian bekerja sama dengan
sektor swasta dengan batasan-batasan tertentu. Contohnya penyediaan tenaga listrik atau
pengolahan air bersih, yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang membayar untuk itu, atau
membangun jalan dan jembatan juga dari pajak, dan sebagainya. Bisa saja kemudian masyarakat
sendiri yang menyedaikan barang publik untuk pemenuhan kebutuhannya, misalnya dengan
kerja bakti dan sebagainya.
H. Barang Publik dan Eksternalitas
1) Eksternalitas dan efisiensi pasar
Eksternalitas adalah kerugian atau keuntungan yang diderita atau dinikmati pelaku
ekonomi karena tindakan pelaku ekonomi lain yang tidak tercermin dalam harga pasar.
Sedangkan efisiensi pasar adalah suatu keadaan apabila suatu pasar sudah dapat mengalokasikan
seluruh sumber-sumber daya yang pada umumnya secara efisien.
Pada bagian ini kita akan memakai perangkat-perangkat analisis yang menelaah
bagaimana eksternalitas mempengaruhi kesejahteraan ekonomi. Analisis yang kita lakukan di
sini akan menunjukkan secara jelas, mengapa eksternalitas menyebabkan pasar mengalokasikan
sumber-sumber secara tidak efisien. Untuk memperjelas gambarannya, kita perlu mengambil
sebuah pasar tertentu, sebagai contoh kasus. Kita ambil saja pasar aluminium. Kita mengingat

kembali, bahwa kurva penawaran dan kurva permintaan mengandung informasi-informasi


penting tentang biaya dan keuntungan (cost and benefit). Kurva permintaan aluminium
mencerminkan nilai aluminium bagi para pembelinya, dan nilai itu dihitung berdasarkan harga
yang mau mereka bayarkan. Pada setiap kuantitas, ketinggian kurva permintaan menunjukkan
kesediaan membayar para konsumen marginal. Dengan kata lain, kurva-kurva tersebut
menunjukkan biaya yang dipikul produsen marginal. Dengan kata lain, kurva tersebut
menunjukkan nilai atas unit terakhir aluminium yang dijual.
Jika sama sekali tidak ada intervensi pemerintah, maka harga aluminium akan bergerak
secara bebas menyesuaikan diri dalam rangka menyeimbangkan permintaan dan penawarannya.
Kuantitas yang diproduksi dan dikonsumsi pada ekuilibrium pasar dapat dikatakan efisien,
karena kuantitas tersebut memaksimalkan surplus produsen dan surplus konsumen. Dalam
kondisi tersebut, pasar mampu mengalokasikan segenap sumber daya sedemikian rupa, sehingga
memaksimalkan nilai total konsumen yang membeli dan memakai aluminium minus biaya total
produsen yang membuat dan menjual aluminium tersebut.
2) Teori Kesejahteraan Ekonomi
Teori kesejahteraan ekonomi adalah cabang ilmu ekonomi yang menggunakan teknik
ekonomi mikro untuk mengevaluasi kesejahteraan ekonomi, terutama relatif terhadap
keseimbangan umum kompetitif dalam ekonomi untuk efisiensi ekonomi dan distribusi
pendapatan yang dihasilkan yang terkait dengannya. Menganalisis kesejahteraan sosial, secara
terukur, dalam hal kegiatan ekonomi dari individu yang terdiri dari masyarakat teoritis yang
dipertimbangkan. Dengan demikian, individu, dengan kegiatan ekonomi yang terkait, merupakan
unit dasar penggabungan untuk kesejahteraan sosial, apakah kelompok, komunitas, atau
masyarakat, dan tidaklah ada kesejahteraan sosial yang terpisah dari kesejahteraan yang
berhubungan dengan unit-unit individu.
Kesejahteraan ekonomi biasanya memerlukan preferensi individu seperti yang diberikan
dan menetapkan peningkatan kesejahteraan dalam hal efisiensi pareto dari keadaan sosial A ke
keadaan sosial B jika setidaknya satu orang lebih menyukai B dan tak ada orang lain yang
menentangnya. Tidak ada persyaratan ukuran kuantitatif yang unik dari peningkatan
kesejahteraan yang tersirat dengan hal ini. Aspek lain dari kesejahteraan memperlakukan
pendapatan / distribusi barang, termasuk kesetaraan, sebagai dimensi kesejahteraan lebih lanjut.
3) Eksternalitas Negatif dan Positif dalam Produksi maupun Konsumsi
Ketika seseorang terlibat dalam suatu aktivitas yang mempengaruhi kesejahteraan,
meskipun tidak secara langsung dan belum membayar maupun belum menerima kompensasi atas
dampak tersebut. Ketika pengaruhnya terhadap lingkungan kurang baik, eksternalitas disebut
sebagai eksternalitas negatif. Ketika pengaruhnya pada lingkungan mendatangkan manfaat,
eksternalitas disebut sebagaieksternalitas positif.
4) Eksternalitas dalam Produksi
Eksternalitas negatif:
Dalam melangsungkan kegiatan produksinya, pabrik-pabrik aluminium menimbulkan polusi.
Untuk setiap aluminium yang mereka produksi, sejumlah asap kotor yang mengotori atmosfer

tersembur dari tanur pabrik-pabrik tersebut. Karena asap itu membahayakan kesehatan siapa saja
yang menghirupnya, maka asap itu merupakan eksternalitas negatif dalam produksi aluminium.
Eksternalitas positif:
Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah pasar robot industri (robot yang khusus dirancang
untuk melakukan kegiatan atau fungsi tertentu di pabrik-pabrik). Robot adalah ujung tombak
kemajuan teknologi yang mutakhir. Sebuah perusahaan yang mampu membuat robot, akan
berkesempatan besar menemukan rancangan-rancangan rekayasa baru yang serba lebih baik.
Rancangan ini tidak hanya akan menguntungkan perusahaan yang bersangkutan, namun juga
masyarakat secara keseluruhan karena pada akhirnya rancangan itu akan menjadi pengetahuan
umum yang bermanfaat. Eksternalitas positif seperti ini biasa disebut imbasan teknologi
(technology spillover).
5) Eksternalitas dalam Konsumsi
Eksternalitas negatif:
Konsumsi minuman beralkohol, misalnya, mengandung eksternalitas negatif jika si peminum
lantas mengemudikan mobil dalam keadaan mabuk atau setengah mabuk, sehingga
membahayakan pemakai jalan lainnya.
Eksternalitas positif:
Contohnya adalah konsumsi pendidikan. Semakin banyak orang yang terdidik, masyarakat atau
pemerintahnya akan diuntungkan. Pemerintah akan lebih mudah merekrut tenaga-tenaga cakap,
sehingga pemerintah lebih mampu menjalankan fungsinya dalam melayani masyarakat.
6) Kebijakan publik dalam mengatasi eksternalitas
Setiap kali eksternalitas muncul sehingga mengakibatkan alokasi sumber daya yang
dilakukan pasar tidak efisien, pemerintah dalam melakukan salah satu dari dua pilihan tindakan
yang ada. Pilihan pertama adalah menerapkan kebijakan-kebijakan atau pendekatan komando
dan kontrol (command-and-control policies), atau menerapkan kebijakan-kebijakan berdasarkan
pendekatan pasar (market-base policies). Bagi para ekonom, pilihan kedua lebih baik, karena
kebijakan berdasarkan pendekatan pasar akan mendorong para pembuat keputusan di pasar
swasta, untuk secara sukarela memilih mengatasi masalahnya sendiri.

ANALISIS
Barang publik yang bisa dimiliki atau digunakan dan bisa dirasakan manfaatnya oleh
masyarakat yang diadakan maupun dibentuk oleh pemerintah tentunya bukan jadi dengan
sendirinya. Barang-barang publik tersebut dibuat dari dan untuk masyarakat. kami sebut dari
masyarakat karena penyediaan dan pengadaan barang-barang publik ini memang ada berkat
pengalokasian dana yang berasal dari masyarakat, yakni pajak. Kemudian dikatakan untuk
masyarakat, karena pengadaan barang-barang publik memang ditujukan untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
Pemenuhan barang publik adalah dilakukan oleh pemerintah melalui keputusan politik.
Pemerintah hendaknya dapat mengetahui kebutuhan masyarakat, kemudian pemerintah harus

menyusun daftar kebutuahn barang publik serta melaksanakan pemenuhannya dan menetapkan
pajak kepada warga negaranya.
Dalam penyediaan barang publik tercipta adanya free riders adalah orang yang ikut
menikmati barang publik tanpa mengeluarkan kontribusi tertentu, sementara ada pihak lain yang
berkontribusi untuk mengadakan barang publik tersebut. Hal inilah yang perlu dilihat dan
diperhatikan kembali oleh pemerintah.
Ketika suatu transaksi antara pembeli dan penjual secara langsung memengaruhi pihak
ketiga, efek ini disebut suatu eksternalitas. Eksternalitas negatif seperti polusi, menyebabkan
jumlah optimal secara sosial dalam pasar kurang dari jumlah keseimbangannya. Eksternalitas
positif, seperti imbas teknologi, menyebabkan jumlah optimal secara sosial lebih dari jumlah
keseimbanganya.
Pihak-pihak yang terkena efek dari eksternalitas dapat menyelesaikan masalah mereka
sendiri. Sebagai contoh ketika suatu bisnis menghasilkan eksternalitas bagi bisnis lain keduanya
dapat menginternalisasikan eksternalitas itu dengan cara merger. Ketika pihak-pihak swasta tidak
mampu menangani efek-efek eksternal, seperti polusi, pemerintahan membantu dengan ikut
campur. Kadang-kadang pemerintah menghindari dilakukannya kegiatan-kegiatan yang tidak
efisien dari segi sosial dengan melarang perilaku-perilaku tertentu. Sebagai contoh, pemerintah
dapat melindungi lingkungan dengan mengeluarkan sejumlah terbatas izin berpolusi. Hal ini juga
untuk melindungi masyarakat ataupun populasi lainnya di suatu wilayah atau kawasan tertentu.

BAB III
PENUTUP
Barang publik adalah barang yang apabila dikonsumsi individu tertentu tidak akan
mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut, bersifat non-rival dan non-eksklusif.
Macam barang publik menurut penggunaannya, yaitu non-rivalry dan non-excludable. Barang
publik yang penting yaitu pertahanan nasional, penelitian ilmu pengetahuan dan pengentasan
kemiskinan. Dalam penyediaan barang publik tercipta adanya free riders adalah orang yang ikut
menikmati barang publik tanpa mengeluarkan kontribusi tertentu, sementara ada pihak lain yang
berkontribusi untuk mengadakan barang publik tersebut.
Akhirnya pemenuhan barang publik adalah dilakukan oleh pemerintah melalui keputusan
politik. Cara penentuan tersebut hendaknya dapat ditempuh melalui proses otoriter atau
monopoli oleh pemimpin politik, dan proses voting yang melibatkan wakil rakyat. Dalam proses
monopoli, pemerintah hendaknya dapat mengetahui kebutuhan masyarakat, kemudian
pemerintah harus menyusun daftar kebutuahn barang publik serta melaksanakan pemenuhannya
dan menetapkan pajak kepada warga negaranya.

DAFTAR PUSTAKA
http://danisn.student.esaunggul.ac.id/tag/barang-publik-dan-eksternalitas/
http://dn3111.blogspot.com/2012/07/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Reksohadiprodjo, Sukanto. 2001. Ekonomika Publik. Yogyakarta: BPFE.