Anda di halaman 1dari 96

A.

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
1. Tinjauan RTRW Provinsi Sulawesi Selatan
a. Tujuan
Tujuan umum penyusunan RTRWP Sulsel Tahun 2008-2028 adalah untuk
mewujudkan ruang wilayah provinsi yang mengakomodasikan keterkaitan antar
kawasan andalan, antar kawasan strategis, antar kabupaten dan kota dalam
perwujudan perekonomian dan lingkungan yang berkesinambungan.
Tujuan khusus penyusunan RTRWP Sulsel adalah untuk:
1) Menciptakan kepastian hukum dalam hal pemanfaatan ruang provinsi, sebagai
salah satu faktor penting dalam merangsang partisipasi pemangku
kepentingan dalam berinvestasi.
2) Menjadi pedoman bagi aparat terkait dalam hal pengendalian pemanfaatan
ruang, baik melalui pengawasan dan atau perizinan maupun tindakan
penertiban pemanfaatan ruang lintas kab./ kota.
3) Merupakan dasar bagi penyusunan rencana yang bersifat lebih operasional
dalam perencanaan pembangunan dan pemanfaatan ruang di wilayah Provinsi
Sulsel.
b. Struktur Ruang
1) Sistem Perkotaan
Berdasarkan PP No 26 Tahun 2008 tentang RTRW Nasional sistem
perkotaan ditentukan sebagai berikut:

Pusat Kegiatan Nasional (PKN) berupa Kawasan Perkotaan Mamminasata;

Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang berskala provinsi Pangkajene,


Jeneponto, Palopo, Watampone, Bulukumba, Barru dan Parepare;

Pusat Kegiatan Lokal (PKL) merupakan pusat-pusat kegiatan skala


kabupaten dan kota, sebagai pusat kegiatan industri dan jasa, serta
simpul transportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa
kecamatan, sehingga semua kota dan ibukota kabupaten juga berfungsi
sebagai PKL.

Hal. II-1

Pusat kegiatan sub lokal merupakan kawasan pengembangan ekonomi


lokal atau Local Economic Development (LED) termasuk sentra-sentra
produksi pertanian termasuk kehutanan, perkebunan, tanaman pangan,
peternakan dan perikanan, sentra produksi pertambangan, pusat-pusat
industri manufaktur, pusat perdagangan, kawasan wisata, pusat
pelayanan jasa yang tersebar di seluruh wilayah provinsi Sulsel.

Rencana Struktur Ruang Provinsi Sulawesi Selatan, diperlihatkan pada Gambar


2.1 sebagai berikut :

Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang Wilayah


Provinsi Sulawesi Selatan

Hal. II-2

Berdasarkan surat Menko bidang Perekonomian Republik Indonesia No S268/D.IV.M.Ekon/12/2007 tertanggal 18 Desember 2007 perihal dukungan
pembangunan Kabupaten Selayar sebagai pusat distribusi bahan pokok KTI,
maka Selayar diusulkan dan direncanakan menjadi PKN.
2) Kawasan Andalan
Berdasarkan PP 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, kawasan andalan di
wilayah Provinsi Sulsel adalah sebagai berikut:
Kawasan andalan Mamminasata dan sekitarnya (Makassar, Maros, Gowa
dan Takalar) dengan sektor unggulan pariwisata, industri, pertanian,
perikanan, industri umum dan agroindustri serta perdagangan;
Kawasan andalan Palopo dan sekitarnya dengan sektor unggulan
pariwisata, perkebunan, pertanian dan perikanan;
Kawasan andalan Bulukumba-Watampone dan sekitarnya dengan sektor
unggulan pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan
perdagangan;
Kawasan andalan Parepare dan sekitarnya dengan sektor unggulan
pertanian, perkebunan, perikanan, agroindustri dan perdagangan;
Kawasan andalan laut Kapoposan dan sekitarnya dengan sektor unggulan
perikanan dan pariwisata;
Kawasan andalan laut Teluk Bone dan sekitarnya dengan sektor unggulan
perikanan, pariwisata dan pertambangan;
Kawasan andalan laut Singkarang-Takabonerate dan sekitarnya dengan
sektor unggulan perikanan dan pariwisata;
Kawasan andalan laut Selat Makassar dengan sektor unggulan perikanan
dan pariwisata.
3) Kawasan Strategis
Berdasarkan PP 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, Kawasan Strategis
(Kawstra) Nasional di wilayah Provinsi Sulsel adalah:

Kawasan Perkotaan Makassar Maros Sungguminasa - Takalar


(Mamminasata);

Kawasan pengembangan ekonomi terpadu Parepare;

Kawasan pariwisata budaya dan alam Toraja dan sekitarnya;

Kawasan Stasiun Bumi Parepare;

Kawasan pertambangan nikel Soroako dan sekitarnya;

Hal. II-3

4) Sistem dan Prasarana Jaringan Transportasi


Sebagai bagian dari sistem nasional dan pulau Sulawesi, sistem
transportasi dan prasarana transportasi wilayah Sulsel merujuk pada Sistem
Transportasi Nasional dan Rencana Jalan Pulau Sulawesi.
Bandara

internasional

Hasanuddin

sangat

mendukung

akses

internasional maupun nasional karena posisinya relatif di tengah-tengah


wilayah nusantara. Pelabuhan Makassar merupakan pelabuhan hub utama
KTI, pelabuhan Parepare dan Barru potensiil berkembang menjadi pelabuhan
nasional, sedangkan Selayar yang secara nasional ditetapkan sebagai pusat
distribusi bahan kebutuhan pokok KTI perlu dibangun pelabuhan yang mampu
disandari kapal-kapal antar pulau.
5) Sistem dan Prasarana Komunikasi dan Informasi
Sistem komunikasi dan informasi direncakan menjangkau sampai
pusat-pusat permukiman dan sentra-sentran produksi baik di daerah
perkotaan maupun perdesaan, yang akan mendukung arus informasi dari dan
ke wilayah hinterland serta wilayah depan. Untuk mendukung sistem
interkoneksitas tersebut diarahkan rencana pengembangan jaringan kabel
telepon mengikuti pola jalan, sedangkan sistem telekomunikasi nir-kabel
didukung dengan menara-menara penerima dan pemancar yang dilokasikan
pada bukit-bukit di dekat ibukota provinsi dan di dekat ibukota-ibukota
kabupaten.
6) Sistem dan Prasarana Energi
Menurut kantor PLN Sulawesi Selatan Barat dan Tenggara, jaringan
listrik sebagai penyalur energi listrik bersumber dari pembangkit listrik tenaga
air (PLTA) Bakaru 126 MW, Pembangkit listrik tenaga disel (PLTD) Palopo,
pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) Sengkang 135 MW yang direncanakan
ditambah 20 MW (Intrim) + 65 MW, PLTD Suppa 62 MW di Parepare, rencana
pembangunan PLTU Bone 2x50 MW, PLTU Tello 197 MW, PLTD Sewatama 15
MW Mamminasata, PLTA Bilibili 20 MW, rencana pembangunan PLTU
Lakatong 3x30 MW di Jeneponto dan rencana pembangunan PLTU Punagaya
4x100 MW di Jeneponto, serta PLTD di Selayar.

Hal. II-4

7) Sistem dan Prasarana Keairan


Ada empat strategi berbeda sebagai alternatif dalam pengelolaan air,
resiko dan pemanfaatannya, (Offringa G., 1987), yang dapat dijadikan
pertimbangan penyusunan rancangan yang lebih operasional:

Strategi 1 mengontrol banjir secara total tanpa mengijinkan ada resiko


kerusakan di suatu wilayah, dengan pembangunan tanggul lingkar
penahan banjir. Perlu diperhatikan bahwa merubah daerah banjir menjadi
daerah terlindung banjir berarti mengurangi daerah limpasan dan
penyerapan air, sehingga daerah lain akan dialiri air dalam volume yang
lebih besar.

Strategi 2 memprioritaskan pada pengurangan volume aliran air pada saat


debit air puncak dengan usaha penahanan dan penyimpanan air sungai
di wilayah-wilayah tangkapan air (situ) di daerah hulu, sekaligus berfungsi
sebagai cadangan air.

Strategi 3 secara kontras lebih memprioritaskan ke pengfungsian


hidraulika alami sungai, dengan pengembangan kawasan green river
yang mengijinkan air sungai membanjiri wilayah tersebut pada saat debit
sungai membahayakan daerah hilir tempat aglomerasi penduduk serta
kegiatan dan fasilitas perkotaannya. Green river yang dimaksud adalah
wilayah sungai dengan berbagai elemen penghijauan seperti hutan,
taman, ruang terbuka hijau, rawa dan sebagainya yang mampu menahan
banjir dalam waktu tertentu.

Strategi 4 adalah memberlakukan fungsi hidrolika alami sepenuhnya,


dengan mengijinkan seluruh wilayah dimasuki banjir. Tata guna lahan dan
kegiatan manusia harus menyesuaikan dengan perilaku alami sungai
secara total.

8) Sistem dan Prasarana Pengelolaan Limbah


Berdasarkan prinsip umum pengelolaan limbah 3R sebisa mungkin
pada sumber produk limbah, kalau tidak memungkinkan baru diangkut dan
diolah secara terpusat di suatu tempat dengan akses dan kondisi yang tidak
banyak mengganggu fungsi dan kegiatan lain:
Reduce, yang maknanya usaha sedapat mungkin meminimalisasi produksi
limbah, baik padat, cair maupun gas;
Reuse, yang maknanya usaha mengguna-ulang barang bekas pakai atau

Hal. II-5

limbah;
Recycling, yang maknanya mendaur-ulang limbah.
Pada daerah hulu diusahakan dapat menetralisir produk limbah cairnya
agar tidak mengalir ke hilir. Prinsip ini dijadikan acuan dalam
pembangunan sistem dan prasarana pengelolaan limbah, maupun dalam
penyusunan pedoman pengelolaan termasuk pengolahan limbah yang
lebih operasional. Dalam hal ini Metropolitan Mamminasata direncanakan
membangun tempat pengolahan akhir sampah terpadu di Samata.
c. Pola Ruang
1) Kawasan Lindung
Menyadari pentingnya keberadaan dan fungsi kawasan lindung bagi
kehidupan manusia di satu sisi, dan melihat besarnya ancaman pengrusakan
oleh penduduk karena desakan ekonomi dan kebutuhan ruang hunian di sisi
lain, perlu dibangun suatu sistem pengelolaan kawasan lindung yang lebih
rasional. Paradigmanya perlu diubah dari penekanan pada aspek legal dan
lingkungan semata-mata ke aspek keterpaduan antara legal-lingkungan dan
sosial-ekonomi-budaya. Masyarakat tidak hanya dilihat sebagai ancaman,
tetapi juga sebagai potensi yang bermanfaat sebagai pengendali dan
pemelihara kawasan lindung secara aktif. Dalam pendekatan ini, kawasan
lindung, misalnya dalam wilayah DAS, dilindungi oleh penduduk karena
memberikan keuntungan ekonomi secara langsung. Programnya perlu
dirancang secara cermat, dirancang sesuai dengan kondisi dan permasalahan
DAS masing-masing. Pendekatan seperti ini menjadi sangat penting karena
potensi degradasi lingkungan di Sulsel yang besar dengan indikasi proses
erosi, longsor, dan banjir, sementara tekanan penduduk terhadap lingkungan
akibat penggunaan lahan bertambah dengan cepat. Program pengembangan
dan pengelolaan kawasan lindung hendaknya diintegrasikan dan disinergikan
dengan pengembangan DAS.
2) Kawasan Budidaya Strategis Provinsi

Kawasan Permukiman
- Rencana Kawasan Permukiman Perkotaan
Permukiman perkotaan didominasi oleh kegiatan non agraris dengan
konsekwensi kepadatan bangunan, penduduk serta prasarana dan
sarana perkotaan yang sangat intensif dalam pemanfaatan ruang

Hal. II-6

darat, perairan maupun udaranya. Bangunan-bangunan permukiman


di tengah kawasan perkotaan yang padat penduduknya seperti
tengah kota Makassar, Maros, Sungguminasa, Parepare dan
diarahkan berorientasi vertikal seperti rumah susun dan gedunggedung bertingkat.
Untuk mengurangi beban kota Makassar, maka dalam sistem tata
ruang Metropolitan Mamminasata sudah waktunya direncanakan
pengembangan kota-kota baru sebagai satelit kota Makassar di
Kabupaten Maros, Gowa dan Takalar.
- Rencana Kawasan Permukiman Perdesaan
Permukiman perdesaan didominasi oleh kegiatan agraris dengan
kondisi kepadatan bangunan, penduduk serta prasarana dan sarana
perkotaan yang rendah, dan kurang intensif dalam pemanfaatan
lahan untuk keperluan non agraris. Walaupun demikian agar selalu
tetap terjaga atmosfir tumbuh berkembangnya hubungan harmonis
sosial antar manusia, hubungan simbiosis mutualistis antar manusia
dengan alam dan hubungan transendental yang kondusif antar
manusia dengan Tuhan, maka tatanan kawasan permukiman
perdesaan yang terdiri dari sumber daya buatan seperti perumahan,
fasilitas sosial, fasilitas umum, prasarana dan sarana perdesaan
seperti jalan, irigasi, drainase, prasarana pengolahan limbah cair
maupun

padat

diarahkan

pembangunannya

tetap

menjaga

kelestarian alam dan harmonisasi interkoneksi tersebut di atas.


Bangunan-bangunan perumahan diarahkan menggunakan nilai
kearifan budaya lokal seperti pola rumah kebun dengan bangunan
berlantai panggung.

Kawasan Industri
Berdasarkan potensi sumber daya alam baik berupa komoditas pertanian
maupun pertambangan dan posisi geografis wilayah Provinsi Sulsel,
serta mempertimbangkan pemerataan kesejahteraan antar wilayah dan
antar lapisan masyarakat, maka selain kawasan industri besar juga
diarahkan tumbuh berkembangnya kawasan-kawasan industri kecil di
sentra-sentra produksi yang berorientasi ke pengembangan industri
rakyat sebagai komunitas lokal. Kawasan industri pengolahan yang

Hal. II-7

bersifat umum diarahkan pembangunannya terpadu dan berada di pusat


kegiatan nasional serta pusat-pusat kegiatan wilayah yang mempunyai
aksesibilitas pelabuhan laut tinggi, seperti Mamminasata, Bulukumba,
Watampone, Pangkep, Barru, Parepare, yang diarahkan perencanaannya
mengembangkan kawasan terpadu pelabuhan, industri, pergudangan
dan perdagangan dengan memanfaatkan lalu-lintas kapal-kapal di Selat
Makassar. Kawasan industri ini terutama diarahkan untuk mengolah
barang-barang setengah jadi terutama hasil agroindustri rakyat yang
disebar ke sentra-sentra produksi komoditas pertanian di perdesaan.
Selain dari pada itu juga dibuka kesempatan pembangunan kawasan
industri khusus yang mengolah bahan bakunya di sentra pertambangan
seperti pabrik semen dan marmer di Maros dan Pangkep, serta pabrik
pengolahan nikkel di Sorowako.

Kawasan Perdagangan
Berdasarkan pandangan yang sama dalam pengembangan sektor
industri, maka sektor perdagangan juga diarahkan pengembangannya
untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Oleh karena itu kawasan
perdagangan juga diarahkan tumbuh berkembang terpadu dengan
pengembangan kawasan industri lokal di sentra-sentra produksi di
seluruh wilayah Provinsi Sulsel. Kawasan perdagangan ukuran sedang
diarahkan berkembang di ibukota-ibukota kabupaten, sedangkan
kawasan perdagangan skala besar diarahkan pembangunannya di Pusat
Kegiatan Nasional dan Pusat Kegiatan Wilayah. Pembangunan kawasan
perdagangan diarahkan perencanaannya terpadu dengan fasilitas
pendukungnya seperti perkantoran swasta, perbankan, pertokoan, hotel
dan restauran, terminal bis pembantu, pergudangan dsb.

Kawasan Pariwisata
Secara umum obyek wisata budaya dan alam Tanah Toraja merupakan
ikon pariwisata Sulsel yang sudah dikenal secara mendunia. Selain
daripada itu taman laut Takabonerate sangat potensiil dikembangkan
menjadi ikon wisata bahari dengan keharusan usaha keras untuk
mengembangkan faktor aksesibilitas, akomodasi dan perlindungan
terumbu karang dan anak-anak ikan, yang saat ini sangat kritis akibat
ketidak arifan penangkap ikan yang menggunakan jaring ukuran kecil,

Hal. II-8

racun maupun bom. Sifat budaya yang dialektis berpeluang terjadinya


proses pelunturan atau pudarnya jati diri budaya lokal karena masuknya
budaya-budaya luar baik melalui para wisatawan maupun teknologi
informatika dan komunikasi. Selain dari pada itu peningkatan
aksesibilitas ke kawasan-kawasan preservasi baik di darat maupun di laut
juga dapat menurunkan kualitas lingkungan dan terganggunya habitat
berbagai flora dan fauna langka mempunyai resiko semakin punahnya
ragam hayati Wallacea.

Rencana Pemanfaatan Laut dan Pulau Pulau Kecil


Berdasarkan semiloka penentuan definisi dan pendataan pulau di
Indonesia oleh DKP Tahun 2003, didapat suatu kesepakatan bahwa
definisi pulau kecil yang operasional di Indonesia mengacu pada UNESCO
(1991) yaitu pulau dengan area 2000 km2. UU No 32/2004 tentang
Pemerintahan

Daerah

menjelaskan

bahwa

dalam

rangka

penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat UUD 45,


pemerintah daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan
untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat,
serta peningkatan daya keistimewaan dan kekhususan suatu daerah
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam hal ini pulaupulau kecil sebagai entitas yang memiliki ukuran, karakteristik dan
kerentanan khusus sehingga perencanaan dan pengelolaan pulau-pulau
kecil memerlukan format yang berbeda dengan pulau besar.
2. Tinjauan RTRW Kota Parepare
a. Tujuan Penataan Ruang
Penataan ruang wilayah Kota Parepare bertujuan untuk mewujudkan kondisi
ruang kota yang aman, nyaman, efisien dan produktif secara berkelanjutan, sesuai
dengan fungsinya sebagai kota pusat pelayanan kawasan Ajattappareng berbasis
perdagangan dan jasa, dengan tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan
serta kelestarian sumber daya alam.
b. Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang

Hal. II-9

1) Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi:


Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi
yang merata dan berhirarki; dan
Peningkatan

kualitas dan

jangkauan

pelayanan

jaringan

prasarana

transportasi, telekomunikasi, energi dan sumber daya air yang terpadu dan
merata di seluruh wilayah Kota Parepare.
2) Kebijakan pengembangan pola ruang meliputi:
Kebijakan pengembangan kawasan lindung; dan
Kebijakan pengembangan kawasan budi daya.
3) Kebijakan pengembangan kawasan lindung meliputi:
Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan
kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup.
4) Kebijakan pengembangan kawasan budi daya meliputi:
Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan
budi daya;
Pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya
dukung dan daya tampung lingkungan; dan
Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.
5) Kebijakan pengembangan kawasan meliputi:

Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup


untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem,
melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistem, mempertahankan dan
meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, dan melestarikan keunikan
bentang alam; dan

Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan


perekonomian nasional yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam
perekonomian internasional.

6) Strategi peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan


ekonomi wilayah yang merata dan berhirarki meliputi:
Mendorong kemudahan aksesibilitas pelayanan kegiatan dan menjaga
keterkaitan antar kawasan perkotaan sebagai Pusat Pelayanan Kota (PPK),
Sub Pusat Pelayanan Kota (Sub PPK) dan Pelayanan Lingkungan (PL);

Hal. II-10

Menjaga keterkaitan antarkawasan perkotaan dengan kabupaten di


sekitarya;
Mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani
oleh pusat pertumbuhan; dan
Mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih
kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di sekitarnya.
7) Strategi peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana
meliputi:
Meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan
pelayanan transportasi darat dan laut;
Meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan jaringan telekomunikasi
ke seluruh wilayah kota;
Meningkatkan

jaringan

energi

secara

optimal

serta

mewujudkan

keterpaduan sistem penyediaan listrik;


Meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan
sistem jaringan sumber daya air dan meningkatkan pemerataan pelayanan
jaringan air minum ke seluruh wilayah kota;
Mengatur lintasan dan jadwal angkutan barang dan angkutan berat, serta
menghindari angkutan barang (truk) masuk ke kawasan pusat kota;
Mengembangkan transportasi angkutan umum yang diarahkan untuk
menghubungkan

pusat

permukiman,

pusat

ekonomi

serta

fasilitas

umum/fasilitas sosial;
Mengembangkan fungsi halte angkutan umum yang diarahkan pada lokasi
yang memiliki akses terhadap jaringan utama, serta dekat dengan sumber
timbulnya pergerakan;
Mengembangkan jalur hijau yang diarahkan sebagai pembatas jalan,
peneduh jalan, dan membentuk citra estetika kota, dengan memperhatikan
kepentingan keamanan dan kenyamanan berlalu lintas.
8) Strategi pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup
meliputi:
Menetapan kawasan lindung;
Meningkatkan perlindungan dan pelestarian serta pencegahan alih fungsi
kawasan lindung; dan

Hal. II-11

Meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat


pengembangan kegiatan budi daya, dalam rangka mewujudkan dan
memelihara keseimbangan ekosistem wilayah.
9) Strategi pencegahan dampak negatif

kegiatan manusia yang dapat

menimbulkan kerusakan lingkungan hidup meliputi:


Menyelenggarakan

upaya-upaya

terpadu

untuk

melestarikan

fungsi

lingkungan hidup;
Mengoptimalkan kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan
dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap
mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;
Mengoptimalkan kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi
dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya;
Meningkatkan kegiatan atas tindakan yang dapat secara langsung atau tidak
langsung

menimbulkan

perubahan

sifat

fisik

lingkungan

yang

mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang


pembangunan yang berkelanjutan;
Mengoptimalkan pengendalian pemanfaatan sumber daya alam secara
bijaksana untuk menjamin kepentingan generasi masa kini dan generasi
masa depan;
Mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam tak terbarukan untuk
menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang
terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap
memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya; dan
Mengembangkan kegiatan budi daya yang mempunyai daya adaptasi
bencana di kawasan rawan bencana.
10) Strategi perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar
kegiatan budi daya meliputi:
Menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis untuk
pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat, ruang laut dan ruang udara,
termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan
keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah;
Mengembangkan kegiatan budi daya unggulan di dalam kawasan beserta
prasarananya

secara

sinergis

dan

berkelanjutan

untuk

mendorong

pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya;

Hal. II-12

Mengembangkan kegiatan budi daya untuk menunjang aspek politik,


pertahanan dan keamanan, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan
teknologi; dan
Mengembangkan dan pelestarian kawasan budi daya pertanian pangan
untuk mewujudkan ketahanan pangan.
11) Strategi pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui
daya dukung dan daya tampung lingkungan meliputi:
Membatasi perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan
bencana untuk memperkecil potensi kejadian bencana dan potensi kerugian
akibat bencana; dan
Mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling kurang 30 (tiga
puluh) persen dari luas kawasan perkotaan.
12) Strategi peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan meliputi:
Mendukung penetapkan kawasan strategis nasional dengan fungsi khusus
pertahanan dan keamanan;
Mengembangkan kegiatan budi daya secara selektif di dalam dan disekitar
kawasan strategis nasional untuk menjaga fungsi pertahanan dan
keamanan;
Mengambangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budi daya tidak
terbangun disekitar kawasan strategis nasional sebagai zona penyangga
yang memisahkan kawasan strategis nasional dengan budi daya terbangun;
Turut serta memelihara dan menjaga aset-aset pertahanan/TNI-POLRI.
13) Strategi pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup
untuk

mempertahankan

dan

meningkatkan

keseimbangan

ekosistem,

melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistem, mempertahankan dan


meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, dan melestarikan keunikan
bentang alam meliputi:
Menetapkan kawasan strategis berfungsi lindung;
Membatasi dan mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis yang
berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;
Membatasi dan mencegah pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis
yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;
Membatasi dan mencegah pengembangan prasarana dan sarana di dalam
dan di sekitar kawasan strategis yang dapat memicu perkembangan kegiatan

Hal. II-13

budi daya;
Mengoptimalkan pengembangan kegiatan budi daya tidak terbangun di
sekitar kawasan strategis yang berfungsi sebagai zona penyangga yang
memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun; dan
Memulihkan/merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat
dampak pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar
kawasan strategis.
14) Strategi

pengembangan

dan

peningkatan

fungsi

kawasan

dalam

pengembangan perekonomian meliputi:


Mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam
dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan
wilayah;
Menciptakan iklim investasi yang kondusif dan selektif serta mengoptimalkan
promosi peluang investasi dan memberikan insentif terhadap investor untuk
berinvestasi;
Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya
dukung dan daya tampung kawasan;
Menjaga dampak negatif kegiatan budi daya agar tidak menurunkan kualitas
lingkungan hidup dan efisiensi kawasan; dan
Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan
ekonomi.
c. Rencana Struktur Ruang Kota Parepare
1) Rencana Hirarki Sistem Pusat Pelayanan Kota Parepare
Sistem pusat pelayanan dan skala pelayanan ini sangat erat kaitannya dengan
sistem pusat pelayanan yang telah dibahas sebelumnya. Terbentuknya pusatpusat pelayanan akan menentukan peran dan fungsi pelayanan kota sebagai
pusat kegiatan pengembangan kawasan.
Pusat pelayanan kota (PPK) sebagai pusat pelayanan pemerintahan dan
pusat kesehatan skala kota di Kecamatan Bacukiki.
Sub Pusat pelayanan kota (PPK) sebagai pelayanan pemerintahan dan
pelayanan kesehatan skala kecamatan serta pelayanan pendidikan dan
kegiatan perdagangan dan jasa di Kecamatan Ujung, Kecamatan Soreang,
Kecamatan Bacukiki dan Kecamatan Bacukiki Barat.

Hal. II-14

Pusat Lingkungan sebagai pelayanan pemerintahan skala kelurahan dan


pelayanan pendidikan dasar yang tersebar diseluruh kelurahan.
2) Rencana Sistem Jaringan Prasarana Kota
Jaringan jalan terdiri atas: jaringan jalan arteri primer; jaringan jalan kolektor
primer; jaringan jalan kolektor sekunder; dan jaringan jalan lokal.
Jaringan jalan arteri primer meliputi: Jl.H. A. Arsyad - Jl. Lasinrang - Jl. Sultan
Hasanuddin - Jl. Baso Dg. Tompo - Jl. Jend. M. Yusuf (Jl. Lingkar Parepare),
Jl. Bau Massepe, dan Jl. A. Yani.
Jaringan jalan kolektor primer meliputi : Jl. Jend. Sudirman, Jl. H. Agussalim,
dan Jl. Mattirotasi.
Jaringan jalan kolektor sekunder meliputi: Jl. Titang, Jl. Baronang, Jl.
Katambak, Jl. Bete-bete, Jl. Bau Massepe, Jl. Durian, Jl. Langsat, Jl.
Rambutan, Jl. Nenas, Jl. Kesuma, Jl. Kesuma Timur, Jl. Kesuma Utara, Jl.
Reformasi, Jl. Mayor Haddade, Jl. Atletik, Jl. Atletik Timur, Jl. Harapan, Jl.
Keterampilan, Jl. Pinisi, Jl. Puang Minding, Jl. Pengayoman, Jl. Geddongnge,
Jl. Lambo, Jl. Belanak, Jl. Pemuda, Jl. Siratalmustakim, Jl. H. P. Cara, Jl.
Masjid Jabal Nur, Jl. Layang, Jl. Pepaya, Jl. Bumi Harapan, Jl. Jati Putih, Jl.
Marham Alam Raya, Jl. Drs. H. Syamsul Alam Bulu, Jl. Andi Mancung, Jl.
Beringin, Jl. Balai Kota, Jl. Cendana, Jl. Lontar, Jl. Kemiri, Jl. Mahoni, Jl.
Kelapa Gading, Jl. Buana Lestari, Jl. Sakinah, Jl. Persada Utama, Jl. Persada
Sentosa, Jl. Swaka Alam Lestari, Jl. Bumi Asri, Jl. Persada Indah, Jl.
Nurussamawati, Jl. Bambu Runcing, Jl. M. P. Remmang, Jl. Petta Cangge,
Jl. Perkebunan, Jl. Pertanian, Jl. Peternakan, Jl. Kebun Jeruk, Jl. Kebun Mete,
Jl. Kebun Jagung, Jl. Kebun Kacang, Jl. Kebun Jati, Jl. Sawah Lompoe, Jl.
Sawah Makkoring, Jl. Lapesona, Jl. Padi, Jl. Lemo Gempae, Jl. Labulaweng,
Jl. Padaelo, Jl. Sungai Caramelo, Jl. Pesantren, Jl. H. Andi Sapada, Jl. H. Abd.
Djabbar D, Jl. Andi Dewang, Jl. H.M Jubair, Jl. Damis, Jl. H. Muh. Ishak, Jl.
Brimob, Jl. Pendidikan, Jl. Perintis, Jl. Makkaseseang, Jl. Tuna, Jl. Kerungkerung, Jl. Khalid, Jl. Taqwa, Jl. Pahlawan, Jl. Koperasi, Jl. H. Mirdin Kasim,
SH, Jl. Drs. H.S Mangurusi, Jl. H. A. Iskandar, Jl. S. Abdul Rasyid, Jl. Arung
Mampi, Jl. Arung Tarumpu, Jl. Abdul Jalil, Jl. Lapangape, Jl. Baitul Jamil, Jl.
Puri Gandaria Permai, Jl. Puri Gandaria Indah, Jl. Latasakka, Jl.
Pesanggarahan, Jl. Massalengka, Jl. Gunung Tolong, Jl. Mattiri Jompie, Jl.
Matalie, Jl. Bacukiki Raya, Jl. Puang Halide, Jl. Lappa Angin, Jl. Makkarennu,

Hal. II-15

Jl. Korban 40.000, Jl. H. Mukaddas, Jl. Lamihade, Jl. Lasangga, Jl. Lammide,
Jl. Gelora Mandiri, Jl. Tere Massikereng, Jl. Mansaruna, Jl. Liu BuloE, Jl.
Garuda, Jl. Mayor Abd. Zainuddin, Jl. Abdul Kadir, Jl. Andi Cammi, Jl. Syamsul
Bahri, Jl. Lanumang, Jl. Titang, Jl. Tinumbu, Jl. Cumi-cumi, Jl. Durian, Jl.
Mangga, Jl. Delima, Jl. Rusa, Jl. Kijang, Jl. Singa, Jl. Callakara, Jl. Bandar
Madani, Jl. Alwi Abdul Djalil Habibie, Jl. Usman Isa, Jl. Dg. Parani, Jl. Karang
Burane, Jl. Abu Bakar Caco, Jl. Usman Jafar, Jl. Ilham, Jl. Andi Isa, Jl.
Ganggawa, Jl. Mawar, Jl. Anggrek, Jl. Matahari, Jl. Delima, Jl. Veteran, Jl. M.
Kurdi, Jl. Andi Laetong, Jl. Andi Mallarangeng, Jl. Andi Mappatola, Jl.
Lasiming, Jl. Kasuari, Jl. Panca Marga, Jl. Panca Bhakti, Jl. Pelita Tenggara,
Jl. Pancasila Selatan, Jl. Pancasila Utara, Jl. Panorama, Jl. Panorama Timur,
Jl. Panorama Indah, Jl. Samparaja, Jl. Baso Dg. Patompo, Jl. Andi Mangkau,
Jl. H. Abu Bakar, Jl. Manungke, Jl. Andi Makkasau, Jl. Lapansiung, Jl. Andi
Sulolipu, Jl. Pettana Rajeng, Jl. Kalimantan, Jl. Nusantara, Jl. Sulawesi, Jl.
Irian, Jl. Tarakan, Jl. Masjid Raya, Jl. Veteran, Jl. Zasilia, Jl. Sikapamase, Jl.
Andi Mannaungi, Jl. Andi Mappangara, Jl. Lagaligo, Jl. Atletik, Jl. Sejahtera,
Jl. Hikmah, Jl. Tentara Pelajar, Jl. Wirabuana, Jl. Persatuan, Jl. Bukit Madani,
Jl. Karya Bakti, Jl. Handayani, Jl. Mayjen Isnaeni, Jl. A. Akrab, Jl. Opu Dg.
Risaju, Jl. Pelita, Jl. Pelita Utara, Jl. Muh. Arsyad, Jl. Andi Sinta, Jl. H. Muh.
Amin Laengke, Jl. Lahalede, Jl. Kapten H. Lanca, Jl. Pertamina, Jl.
Lapansiung, Jl. Baharuddin, Jl. Dg. Pawero, Jl. H. Badaruddin, Jl. Moh.
Djasmin, Jl. Messang Bau Massepe, Jl. Ajatappareng II, Jl. Ajatappareng, Jl.
Ajatappareng I, Jl. AG. H. Baharuddin Syata, Jl. KH. Sanusi Maggu, Jl. Surya
Fatma Manggu, Jl. H. Tjambi Kallado, Jl. H. Abd. Hamid Saleh, Jl. Pelabuhan
Rakyat, Jl. A. Mahmud Makkasau, Jl. H. A. Sodji Datu Kanjenne, Jl. Pettana
Rajeng, Jl. Gelatik, Jl. Ag. H. Ambo Dalle, Jl. Guru M. Amin, Jl. Belibis, Jl.
Ketilang, Jl. Sawi, Jl. H. Andi Ajaib, Tsanawiah/H.A.Syamsuddin Ahmah, Jl.
Ladong Mursadi, Jl. Andi Makkasau Timur, Jl. Abubakar Lambogo, Jl. Panti
Asuhan, Jl. Muhammadiyah, Jl. Kebun Sayur, Jl. H. Jamil Ismail, Jl. Andi
Makkulau, Jl. Industri Kecil, Jl. Terung, Jl. Bayam, Jl. Ambo Nonci, Jl.
Takkalao, Jl. Sibali, Jl. La Ondeng, Jl. Muspika, Jl. Bukit Indah, Jl. H. A. Muh
Arsyad, Jl. Laupe, JL. Andi Mappangulung, Jl. Drs. H. M. Yoesoef Madjid, Jl.
Wisata JompiE, Jl. Taebe, Jl. Kompleks Veteran, Jl. Melingkar, Jl. Nusa Karya,
Jl. Bukit Harapan, Jl. H. Laele, Jl. Amal Bakti, Jl. Kompleks Lauleng, Jl. Andi

Hal. II-16

Muh. Amin, Jl. Manunggal, Jl. A.R. Malaka, Jl. Laponjo, Jl. Bumpunnge, Jl.
Al-Hikma, Jl. Kampung Duri, Jl. Latsitardanus 1, Jl. Latsitardanus 2, Jl. Sosial,
Jl. Lapan, Jl. Nusantara Raya, Jl. Kawasan Industri, Jl. Satelit, Jl. Menara, Jl.
Petta Oddo, JL. Pattukku, Jl. Sumur Jodoh, Jl. Petta Unga, Jl. Nusantara.
Rencana pengembangan jalan baru, meliputi: pembukaan jalan akses ke
dan dari Jl. Swaka Alam Lestari Jl. Jend. M. Yusuf; pembukaan jalan akses
ke dan dari Jl. Mattorotasi Baru Tonrangeng; pembukaan jalan akses ke
dan dari Pelabuhan Cappa Ujung Kawasan Industri; pembukaan jalan
akses ke dan dari Hutan Alitta 1 Hutan Alitta 2; pembukaan jalan akses ke
Kawasan Keanekaragaman Hayati; pembukaan jalan akses ke Taman
Estuari; pembukaan jalan akses ke Kawasan agrowisata; dan peningkatan
jalan alternatif ke dan dari kawasan industri Lariang Nyarengnge Jl. Jend.
M. Yusuf Terminal Type A Arah Makassar; pembukaan jalan baru untuk
membuka hubungan antar wilayah serta upaya peruntukan pembangunan
yang meliputi jalan akses yang menghubungkan kawasan-kawasan
perumahan dan permukiman; pengembangan jalan lingkar luar, serta
membuka akses jalan baru sesuai kepentingan; Penataan jalur transportasi
antar kota dan dalam kota dengan pemisahan jalur agar lebih efisien dalam
mengurangi angka kecelakaan dan kemacetan; Pengembangan jalur
jaringan jalan secara terpadu, yaitu untuk jaringan listrik, telepon serta
jaringan komunikasi lainnya dan air bersih; Pengembangan jaringan jalan
yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini akan disesuaikan dengan
rencana induk jaringan jalan yang akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Walikota.
Terminal penumpang meliputi: (1) Terminal Tipe A meliputi Terminal
Lumpue yang terletak di Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat; (2)
Terminal Tipe B meliputi:

Terminal Lapadde di Kelurahan Lapadde,

Kecamatan Ujung; dan Terminal Soreang di Kelurahan Bukit Harapan,


Kecamatan Soreang. (3) Terminal Tipe C meliputi: Terminal Wekkee di
Kelurahan Lompoe, Kecamatan Bacukiki; dan Terminal Lakessi di Kelurahan
Lakessi, Kecamatan Soreang.
Terminal barang berada di Kelurahan Labukang, Kecamatan Ujung.
Rencana pengembangan terminal penumpang meliputi: Terminal Tipe A,
akan dikembangkan dengan mengintegrasikan kegiatan ke dalam satu

Hal. II-17

kawasan yang memadukan dua moda yaitu jalan raya dan kereta api;
Terminal Tipe B, akan dikembangkan untuk melayani pergerakan regional
antara 2 (dua) atau 3 (tiga) kabupaten terdekat, berupa aglomerasi
angkutan; dan Terminal Tipe C, akan dikembangkan untuk melayani
pergerakan regional dan wilayah kota, ditempatkan sesuai dengan tingkat
kepadatan dan arus pergerakan dari dan ke lokasi perumahan/permukiman
atau pada pusat pelayanan umum untuk menunjang kelancaran angkutan
umum dalam dan antarkota serta untuk pengembangan ekonomi serta
terminal kota, akan dikembangkan untuk melayani pergerakan lokal dalam
wilayah daerah.
Jaringan trayek angkutan penumpang meliputi: Trayek A melayani jalur rute
Pasar Lakessi-Lumpue; Trayek B melayani jalur rute Pasar Lakessi- RSU
A.Makkasau; Trayek C melayani jalur rute Pasar Lakessi-Lapadde; Trayek D
melayani jalur rute Pasar Lakessi-Soreang; Trayek E melayani jalur rute
Pasar Lakessi-Perumnas Wekkee;

Trayek F melayani jalur rute Pasar

Lakessi-Lemoe; dan Trayek angkutan umum taksi yang melayani seluruh


wilayah Kota Parepare.
Jaringan lintas angkutan barang dikembangkan pada jalur jalan menuju ke
pelabuhan Parepare.
Jaringan jalur kereta api umum meliputi: jalur kereta api Makassar - Parepare
sebagai bagian dari rencana jalur kereta api Trans-Sulawesi; dan jalur kereta
api Parepare - Pinrang.
Stasiun kereta api terhubung dengan jalur Makassar-Parepare dan jalur
Parepare-Pinrang terletak di Kelurahan Lumpue, Kecamatan Bacukiki dan
ditempatkan secara terpadu dengan Teminal Tipe A.
Tatanan kepelabuhanan terdiri atas: Pelabuhan Pengumpul yaitu Pelabuhan
Nusantara Parepare di Kecamatan Ujung dan Pelabuhan Cappa Ujung di
Kecamatan Ujung; dan Terminal khusus minyak di Kecamatan Soreang.
Alur pelayaran meliputi: Alur pelayaran nasional yang terdiri atas: Kota
Parepare Pantoloan; Kota Parepare Balikpapan; Kota Parepare
Samarinda; Kota Parepare Tarakan; dan Kota Parepare Nunukan.
Alur pelayaran lokal yang melayani jalur Parepare-Pinrang di Teluk
Parepare/Tanjung Lero.

Hal. II-18

Jaringan bahan bakar minyak dan gas meliputi : Depo bahan bakar minyak
di Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang; Stasiun Pengisian dan
Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) Parepare di Kelurahan Lumpue,
Kecamatan Bacukiki Barat; dan Transmisi pipa gas nasional SengkangParepare dengan sumber gas Blok Sengkang.
Jaringan transmisi tenaga listrik meliputi jaringan transmisi tenaga listrik
dikembangkan untuk menyalurkan tenaga listrik antar sistem, berupa kawat
Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) melalui Gardu Induk Parepare yang
terletak di Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Bacukiki Barat.
Pembangkit tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
merupakan pembangkit listrik untuk pelayanan kelistrikan Kota Parepare
berasal dari: PLTA Bakaru dengan kapasitas 63 MW; PLTD Suppa dengan
kapasitas 126 MW; PLTGU Sengkang dengan kapasitas 193 MW; dan PLTU
Tello dengan kapasitas 20 MW.
Sistem jaringan kabel berupa sambungan lokal, sambungan langsung jarak
jauh dan sambungan Internasional dengan lokasi sentral di Kelurahan
Mallusetasi Kecamatan Ujung.
Sistem nirkabel adalah sambungan telepon nirkabel dan lokasi menara Base

Tranceiver Station (BTS) terletak di Kelurahan Lapadde, Kelurahan Wattang


Soreang, Kelurahan Ujung Baru, Kelurahan Ujung Sabbang, Kelurahan
Mallusetasi, Kelurahan Lumpue, Kelurahan Lompoe, Kelurahan Sumpang
Minangae, Kelurahan Cappa Galung, Kelurahan Kampung Baru dan
Kelurahan Bumi Harapan.
Pengembangan telepon nirkabel dan lokasi menara Base Tranceiver Station
(BTS) di wilayah Kota Parepare diatur lebih lanjut dengan peraturan daerah.
Rencana

pengembangan

sistem

jaringan

telekomunikasi,

meliputi:

pengembangan sarana dan fasilitas telepon yang lebih memadai dalam


jangkauan yang lebih luas untuk seluruh wilayah kota baik sistem jaringan
kabel maupun sistem selular; pengembangan jaringan telepon nirkabel dan
menara Base Tranceiver Station (BTS) dimungkinkan diseluruh wilayah Kota
Parepare sesuai dengan kondisi kapasitas pelayanan, estetika lingkungan
dan keamanan, dan penataan lokasi menara BTS terpadu untuk
dimanfaatkan secara bersama-sama antar operator yang akan diatur lebih
lanjut dengan peraturan daerah; dan pengaturan jumlah dan lokasi

Hal. II-19

penempatan BTS diatur berdasarkan titik-titik lokasi yang ditentukan dengan


berpedoman pada ketentuan yang terkait dengan bangunan gedung, yang
mengatur tentang jumlah dan letak BTS di Kota Parepare.
Sistem jaringan sumber daya air meliputi: Wilayah Sungai; Jaringan dan
Prasarana Air Baku; Sistem Jaringan Irigasi; dan Sistem Pengamanan Pantai.
Wilayah Sungai (WS) adalah WS lintas provinsi yaitu WS Saddang meliputi
Daerah Aliran Sungai (DAS) Karajae;.
Jaringan dan Prasarana air baku terdiri atas: sungai meliputi Sungai Karajae,
Sungai Assokkangnge, Sungai Jawi-jawi, Sungai Padampero, Sungai
Bacukiki, Sungai Labureng, Sungai Alokkoe, Sungai Lompoe, Sungai Puso,
Sungai Kaboe, dan Sungai Lamare; dan bendung meliputi Bendung Lamerri,
Bendung Akkajangnge, Bendung Buto, Bendung Caramele I, Bendung
Caramele II, Bendung Ladoma I, Bendung Ladoma II, Bendung Karajae,
Bendung Assokkangenge, dan Bendung Lappa Angin yang semuanya
terletak di Kecamatan Bacukiki.
Sistem jaringan irigasi dilayani oleh Daerah Irigasi (DI) meliputi DI Ladoma
seluas 200 (dua ratus) hektar, DI Caramele seluas 200 (dua ratus) hektar,
DI Padaelo seluas 200 (dua ratus) hektar, DI Paciro seluas 100 (seratus)
hektar, dan DI Lamerri seluas 100 (seratus) hektar yang semuanya terletak
di Kecamatan Bacukiki.
Sistem pengamanan pantai dilakukan melalui pengurangan laju sedimentasi,
pengurangan energi gelombang yang mengenai pantai, dan/atau penguatan
tebing pantai di sepanjang pantai di wilayah Kota Parepare.
Rencana sumber daya air dikembangkan dengan tetap memperhatikan
upaya perlindungan dan pelestarian fungsi dan daya dukung sumber daya
air, meliputi: pengembangan dan pengamanan kawasan lindung dan
konservasi,

penghutanan

kembali

lahan-lahan

kritis,

pengendalian

penggunaan air dari eksploitasi secara berlebihan dan pengamanan daerah


sempadan sungai, pantai dan mata air dari kegiatan yang merusak atau
mencemarkan; mengamankan kawasan-kawasan resapan air, khususnya
pada zona resapan tinggi untuk mencegah kekeringan di musim kemarau
dan erosi di musim hujan serta menghindari terjadinya bencana
alam/lingkungan akibat fluktuasi aliran air permukaan yang bersifat ekstrim;
mengatur pemanfaatan air tanah pada kawasan perkotaan dengan akuifer

Hal. II-20

terbatas, air tanah langka dan zona resapan rendah; dan pelarangan dan
atau pembatasan wilayah yang diperuntukkan sebagai lokasi penambangan
yang bersentuhan langsung dengan kawasan sumber daya air.
Sistem penyediaan air minum dilayani oleh unit produksi terdiri atas: (1)
Instalasi Pengolahan Air (IPA) meliputi: IPA 1 di Kelurahan Galung Maloang,
Kecamatan Bacukiki dengan kapasitas debit air 40 (empat puluh) liter/detik
melayani Kelurahan Bumi Harapan, Kelurahan Sumpang Minangae,
Kelurahan Lapadde, dan Kelurahan Ujung Bulu; IPA 2 di Kelurahan Galung
Maloang, Kecamatan Bacukiki dengan kapasitas debit air 40 (empat puluh)
liter/detik melayani Kelurahan Galung Maloang, Kelurahan Lapadde,
Kelurahan Bukit Harapan, dan Kelurahan Bukit Indah; IPA 3 di Kelurahan
Galung Maloang, Kecamatan Bacukiki dengan kapasitas debit air 40 (empat
puluh) liter/detik melayani Kelurahan Labukkang, Kelurahan Kampung Baru,
Kelurahan Tiro Sompe, Kelurahan Sumpang Minangae, dan Kelurahan
Lumpue; IPA 4 di Kelurahan Galung Maloang dengan kapasitas debit air 20
(duapuluh) liter/detik melayani Kelurahan Lompoe, Kelurahan Lemoe,
Kelurahan Watang Bacukiki, Kelurahan Galung Maloang, dan Kelurahan Bumi
Harapan; dan IPA 5 di Kelurahan Galung Maloang dengan kapasitas debit air
20 (dua puluh) liter/detik melayani Kelurahan Lapadde, Kelurahan Galung
Maloang, Kelurahan Lompoe, dan Kelurahan Ujung Baru. (2) Instalasi
Pengolahan Air Tanah Dalam, meliputi: Sumur Dalam (SD) P-1 E Harapan di
Kelurahan Bumi Harapan Kecamatan Bacukiki Barat dengan kapasitas debit
air 10 (sepuluh) liter/detik; SD P-4 C Takkalao di Kelurahan Bukit Indah
Kecamatan Soreang dengan kapasitas debit air 20 (dua puluh) liter/detik; SD
P-5 B Wekkee di Kelurahan Lapadde Kecamatan Ujung melayani Kelurahan
Ujung Sabbang, Kelurahan Mallusetasi, Kelurahan Ujung Bulu, Kelurahan
Ujung Baru, Kelurahan Ujung Lare, Kelurahan Lakessi, dan Kelurahan
Kampung Pisang dengan kapasitas debit air 20 (dua puluh) liter/detik; dan
SD P-2 F Jompie di Kelurahan Bukit Harapan Kecamatan Soreang melayani
Kelurahan Watang Soreang, Kelurahan Bukit Harapan, dan Kelurahan Bukit
Indah dengan kapasitas debit air 20 (dua puluh) liter/detik. (3) Instalasi
Pengolahan Air Tanah Dangkal Labatu terletak di Kecamatan Ujung dengan
kapasitas debit air 5 (lima) liter/detik.

Hal. II-21

Rencana pengembangan sistem penyediaan air minum, meliputi: pelayanan


sarana dan prasarana air bersih dilakukan melalui pengembangan rencana
induk dan peta jaringan air bersih, dengan mengutamakan pemenuhan
kebutuhan untuk rumah tangga, jasa dan industri, kesehatan dan lainnya;
membangun sumur-sumur dalam pada wilayah rawan air bersih yang tidak
terjangkau jaringan perpipaan; meningkatkan cakupan wilayah pelayanan
distribusi air bersih di seluruh wilayah Kota Parepare; dan memperbaiki
jaringan pipa air bersih secara bertahap dan meningkatkan manajemen
operasional pelayanan.
Sistem pengelolaan air limbah meliputi: Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) yang terletak di Kelurahan Lapadde, Kecamatan Ujung; dan Instalasi
Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) yang terletak di Kelurahan Lapadde,
Kecamatan Ujung.
Rencana pengembangan sistem pengelolaan limbah wilayah Kota Parepare
meliputi: mengembangkan sistem pengelolaan air limbah domestik dan non
domestik secara terpisah; meningkatkan kondisi dan tingkat pelayanan air
limbah dengan pembangunan fasilitas sanitasi terpadu pada kawasankawasan pengembangan atau yang dibutuhkan; dan membangun tempat
pengelolaan limbah B3 dengan memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian
lingkungan, keselamatan dan keberlanjutan di kawasan TPA Lapadde.
Sistem pengelolaan persampahan wilayah Kota Parepare terdiri atas:
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Lapadde di Kecamatan Ujung; Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) tersebar di Kecamatan Bacukiki,
Bacukiki Barat, Ujung dan Soreang; dan Wilayah pengangkutan sampah
meliputi: Wilayah 1, meliputi Kelurahan Ujung Lare, Kelurahan

Lakessi,

Kelurahan Ujung Baru, Kelurahan Kampung Pisang, Kelurahan Bukit


Harapan, Kelurahan Watang Soreang, dan Kelurahan Ujung Sabbang;
Wilayah 2, meliputi Kelurahan Lapadde, Kelurahan Mallusetasi, Kelurahan
Ujung Bulu, Kelurahan Labukkang, dan Kelurahan Kampung Baru; Wilayah
3, meliputi Kelurahan Galung Maloang, Kelurahan Bumi Harapan, Kelurahan
Lompoe, Kelurahan Lemoe, dan Kelurahan Watang Bacukiki; dan Wilayah
4, meliputi Kelurahan Sumpang Minangae, Kelurahan Tiro Sompe, Kelurahan
Lumpue, dan Kelurahan Cappa Galung.

Hal. II-22

Penanganan sampah meliputi: pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan


pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah dan/atau sifat sampah;
pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari
sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat
pengolahan sampah terpadu; pengangkutan dalam bentuk membawa
sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara
atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat
pemrosesan akhir; pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik,
komposisi, dan jumlah sampah; dan pemrosesan akhir sampah dalam bentuk
pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan hasil sebelumnya
ke media lingkungan secara aman.
Rencana pengembangan sistem pengelolaan persampahan, meliputi:
mengkaji dan menentukan lahan-lahan untuk TPS yang baru serta
menempatkan minimal 2 (dua) TPS skala kelurahan di setiap kecamatan;
mengembangkan TPA dengan sistem sanitary land fill; dan mengembangkan
kemitraan dengan swasta dan/atau kerjasama dengan kota/kabupaten
sekitarnya yang berkaitan untuk pengelolaan sampah.
Sistem drainase terdiri atas: saluran primer berupa sistem saluran yang
berhubungan langsung dan bermuara ke laut dan sungai Kota Parepare,
yaitu saluran primer yang melewati Jalan Bau Massepe Kelurahan Lumpue,
Jalan Bau Massepe Kelurahan Sumpang Minangae, Jalan Mattirotasi
Kelurahan Cappa Galung, Jalan Mattirotasi Kelurahan Kampung Baru, Jalan
Mattirotasi Labukkang, Jalan Andi Cammi Kelurahan Labukkang, Jalan Andi
Cammi Kelurahan Mallusetasi, Jalan Alwi Habibie Kelurahan Mallusetasi,
Jalan Sultan Hasanuddin Kelurahan Ujung Sabbang, Jalan Kalimantan
Kelurahan Ujung Sabbang, Jalan Lasinrang Kelurahan Lakessi, Jalan H.M.
Arsyad Kelurahan Watang Soreang; saluran sekunder berupa sistem saluran
berupa selokan yang dikembangkan mengikuti sistem jaringan jalan; dan
saluran tersier berupa sistem saluran drainase pada jalan-jalan lingkungan.
Rencana pengembangan sistem drainase, meliputi: mengembangkan sistem
drainase kota sesuai dengan Rencana Induk Drainase Daerah; meningkatkan
kualitas jaringan drainase primer dan sekunder yang berada ditengah kota
dan sepanjang jalan utama; membuat dan meningkatkan saluran drainase
tersier di sisi kiri kanan ruas jalan lingkungan dipadukan dengan drainase

Hal. II-23

sekunder dan utama; membuat saluran drainase pada tempat-tempat yang


belum terlayani yaitu wilayah Selatan dan Timur Kota Parepare; memperbaiki
sistem drainase pada kawasan rawan banjir dan genangan, yaitu di sekitar
Kelurahan Ujung Lare, Kelurahan Labukkang, Kelurahan Lumpue, Kelurahan
Cappa Galung, Kelurahan Mallusetasi dengan sistem berjenjang terpadu;
melaksanakan penertiban jaringan utilitas lain yang menghambat fungsi
drainase; dan membangun kolam-kolam retensi air/kolam penampungan air
hujan dan meningkatkan sistem drainase baik drainase primer maupun
sekunder.
Sistem penyediaan prasarana dan sarana jaringan jalan pejalan kaki wilayah
Kota Parepare meliputi: pengembangan sarana trotoar yang diarahkan
terutama pada semua jalan utama pada kedua sisi jalan untuk pengguna
jasa pejalan kaki; dan pengembangan prasarana dan sarana jaringan jalan
pejalan kaki diarahkan pada jalan-jalan yang secara fisik memungkinkan
yaitu sepanjang Jalan Mattirotasi, Jalan Jend. M. Yusuf, Jalan Bumi Asri,
Jalan Bumi Harapan dan Jalan Kelapa Gading.
Ketentuan mengenai penyediaan prasarana dan sarana jaringan jalan
pejalan kaki selanjutnya diatur dengan Peraturan Walikota.

Hal. II-24

Gambar 2.2 Peta Rencana Struktur Ruang Kota Parepare


d. Rencana Pola Ruang Kota Parepare
1) Kawasan Lindung
Kawasan hutan lindung berlokasi tersebar di Kecamatan Bacukiki dengan
luas kurang lebih 2.048 (dua ribu empat puluh delapan) hektar.
Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan di bawahnya,
meliputi: kawasan resapan air; dan kawasan hutan mangrove.
Kawasan resapan air meliputi pengembangan kawasan resapan air di
Kecamatan Ujung, Soreang, Bacukiki dan Bacukiki Barat dengan luas kurang
lebih 740 (tujuh ratus empat puluh) hektar.
Kawasan hutan

mangrove meliputi pengembangan kawasan hutan

mangrove yang terletak di Muara Sungai Karajae, Kecamatan Bacukiki Barat,

Hal. II-25

dan Muara Sungai Soreang, Kecamatan Soreang, seluas kurang lebih 53


(lima puluh tiga) hektar.
Kawasan perlindungan, meliputi: sempadan sungai; dan sempadan pantai.
Sempadan sungai meliputi: kawasan sempadan sungai meliputi sempadan
Sungai Karajae, Sungai Jawi-jawi, Sungai Lamare, Sungai Assokkangnge,
Sungai Padampero, Sungai Bacukiki, Sungai Labureng, Sungai Allokkoe,
Sungai Lompoe, Sungai Puso, Sungai KaboE, dan Sungai Sanabe; kawasan
sempadan sungai tidak bertanggul adalah kawasan kiri dan kanan sungai
yang lebarnya kurang lebih 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai; kawasan
sempadan sungai bertanggul adalah kawasan kiri dan kanan sungai yang
lebarnya kurang lebih 25 (dua puluh lima) meter dari kaki tanggul terluar;
dan kawasan sempadan sungai yang berada di kawasan perumahan adalah
kawasan kiri dan kanan sungai yang lebarnya kurang lebih 10 (sepuluh)
meter.
Sempadan pantai adalah Kawasan sempadan pantai yang meliputi kawasan
yang belum terbangun di sepanjang pantai Kota Parepare sepanjang 11,83
km dengan batas sempadan kurang lebih 10 meter dari titik pasang tertinggi
air laut, kecuali yang meliputi wilayah Pantai Permandian Lumpue Kelurahan
Lumpue Kecamatan Bacukiki Barat dan wilayah perbatasan Kabupaten
Pinrang di Kelurahan Watang Soreang Kecamatan Soreang ditetapkan
kurang lebih 50 meter dari titik pasang tertinggi air laut.
Kawasan suaka alam dan cagar budaya berupa pengembangan terumbu
karang sebagai kawasan konservasi alam yang terletak di Kelurahan
Lumpue, Kecamatan Bacukiki Barat.
Kawasan rawan bencana alam terdiri atas: kawasan rawan banjir; kawasan
rawan longsor; dan kawasan rawan kebakaran.
Kawasan rawan banjir meliputi kawasan Mangimpuru/Lontangnge di
Kelurahan Lemoe, Kecamatan Bacukiki.
Kawasan rawan longsor meliputi: kawasan sekitar Jalan Ahmad Yani,
Kelurahan Ujung Baru dan Kawasan BTN Pepabri/BTN Lapadde di Kecamatan
Ujung; kawasan Mangimpuru/Lontangnge di Kecamatan Bacukiki; kawasan
sekitar belakang SMKN 1/SMPN 5, kawasan jl. Kesuma Timur dan kawasan
Cappa Galung di Kecamatan Bacukiki Barat; dan kawasan sekitar Bukit

Hal. II-26

Indah/Ujung Baru, kawasan belakang Kantor Kecamatan Soreang/SMA 3,


dan kawasan perumahan sosial di Kecamatan Soreang.
Kawasan rawan kebakaran meliputi Kawasan SPPBE Lumpue di Kecamatan
Bacukiki Barat dan Kawasan Depot Pertamina di Kecamatan Soreang.
RTH publik yang telah ada di Kota Parepare, meliputi kawasan seluas kurang
lebih 2.406 (dua ribu empat ratus enam) hektar atau sekitar kurang lebih
lebih 24 (dua puluh empat) persen dari luas wilayah Kota Parepare yang
meliputi: taman kota terdistribusi di Kecamatan Ujung (eks kompleks
gabungan dinas jalan Ganggawa), Kecamatan Soreang, Kecamatan Bacukiki
dan Kecamatan Bacukiki Barat dengan luas kurang lebih 22 (dua puluh dua)
hektar; kawasan taman hutan penelitiaan dan wanawisata, yang terletak di
kompleks hutan Alitta Kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan Soreang,
dengan luas kurang lebih 84 (delapan puluh empat) hektar; kawasan kebun
raya, yang terletak di Kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan Soreang, dengan
luas kurang lebih 13 (tiga belas) hektar; kawasan hutan kota terletak di
Kelurahan Ujung Baru, Kecamatan Soreang dengan luas kurang lebih 0,45
(nol koma empat puluh lima) hektar, dan pengembangan kawasan hutan
kota meliputi kecamatan Bacukiki, kecamatan Bacukiki Barat, kecamatan
Ujung, dan kecamatan Soreang dengan luas kurang lebih 10 (sepuluh)
hektar; pemakaman umum dan swasta terletak di Kecamatan Ujung,
Kecamatan Bacukiki, dan Kecamtan Bacukiki Barat seluas kurang lebih 22
(dua puluh dua) hektar; daerah penyangga hutan lindung (kawasan
keanekaragaman hayati) di Kelurahan Lemoe, Kecamatan Bacukiki seluas
kurang lebih 120 (seratus dua puluh) hektar; kawasan sempadan sungai
tersebar diseluruh wilayah Kota Parepare dengan luas kurang lebih 788
(tujuh ratus delapan puluh delapan) hektar; kawasan sempadan pantai
tersebar di wilayah pesisir Kota Parepare dengan luas kurang lebih 194
(seratus sembilan puluh empat) hektar; kawasan agrowisata di kelurahan
Watang Bacukiki kecamatan Bacukiki dan di kelurahan Lemoe kecamatan
Bacukiki dengan luas kurang lebih 398 (tiga ratus Sembilan puluh delapan)
hektar; Kawasan resapan air seluas 740 (tujuh ratus empat puluh) hektar;
dan lapangan olahraga/lapangan terbuka hijau tersebar di Kota Parepare
dengan luas kurang lebih 15 (lima belas) hektar.

Hal. II-27

RTH privat, meliputi : RTH pekarangan rumah tinggal; halaman perkantoran,


pertokoan dan tempat usaha; dan halaman terminal, pelabuhan, sarana
peribadatan, sarana pendidikan, sarana kesehatan, kawasan TPA dan sarana
pariwisata.
Rencana pengembangan RTH Kota Parepare, meliputi: pengembangan
taman RT dan RW pada pusat unit-unit pengembangan perumahan dan pada
kawasan permukiman; pengembangan taman kota disetiap kelurahan dan
kecamatan pada wilayah Kota Parepare; dan pembukaan RTH baru dari
lahan-lahan yang terlantar dan alih fungsi dari kawasan budi daya menjadi
RTH.

Hal. II-28

Gambar 2.3. Peta Rencana Pola Ruang Kota Parepare


3. Rencana Program Jangka Menegah Daerah (RPJMD) Kota Parepare
a. Visi Pembangunan
Didalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah
(RPJPD) Kota Parepare Tahun 2005-2025, Visi Pembangunan Kota Parepare adalah
Terwujudnya Masyarakat Maju Yang Religius Dan Berdayatahan Lingkungan,
dimana RPJMD Kota Parepare Tahun 2013-2018 merupakan tahapan kedua dan
ketiga pentahapan pembangunan daerah sebagaimana diatur di dalam RPJPD Kota
Parepare. Oleh karena itu Visi Pembangunan Kota Parepare didalam RPJMD Tahun

Hal. II-29

2013-2018 harus tetap mengacu pada Visi yang ada di dalam RPJPD Kota Parepare
tersebut serta arahan-arahan pembangunan daerah.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010
disebutkan bahwa Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah Visi Kepala
Daerah (Hasil Pemilihan Kepala Daerah), dimana didalam Visi Kepala Daerah dan
Wakil Kepala Daerah yang terpilih harus menggambarkan arah pembangunan
daerah atau kondisi masa depan yang ingin dicapai dalam masa jabatan 5 (lima)
tahun sesuai Misi yang diemban. Oleh karena itu sesuai dengan Visi dan Misi yang
telah disampaikan oleh Walikota dan Wakil Walikota terpilih pada saat kampanye
maka ditetapkan Visi Pembangunan Kota Parepare untuk Tahun 2013-2018 sebagai
berikut: Terwujudnya Kota Parepare yang Maju, Peduli, Mandiri dan Bermartabat
Visi Pembangunan Kota Parepare Tahun 2013-2018 di atas, memiliki makna:

Maju, mengandung arti: mempunyai kualitas dan kemampuan untuk berprestasi


dan berdaya saing sehingga masyarakat Kota Parepare dapat sejajar atau
bahkan lebih tinggi dari daerah lain, ditandai dengan meningkatnya kualitas
hidup dan tercukupinya kebutuhan kehidupan masyarakat.

Peduli, mengandung arti: mempunyai keikhlasan dan empati untuk maju serta
berkembang demi masa depan bersama, yang ditandai dengan meningkatnya
partisipasi

masyarakat

dalam

pelaksanaan

pembangunan

daerah

dan

kelestarian lingkungan.

Mandiri,

mengandung

arti:

mempunyai

inisiatif

untuk

menyelesaikan

permasalahan berdasarkan rujukan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Bermartabat, mengandung arti: harkat atau harga diri yang menunjukkan


eksistensi atau identititas (jati diri) masyarakat Kota Parepare yang dapat
dijadikan teladan dalam berbagai sendi kehidupan.

b. Misi Pembangunan
Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, ditetapkan 5 (lima) Misi Pembangunan
Kota Parepare Tahun 2013-2018 adalah sebagai berikut :
1) Meningkatkan optimalisasi pelayanan pendidikan dan kesehatan secara
berkeadilan, berkualitas dan berkesinambungan.

Hal. II-30

2) Mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah yang berbasis pada


sumber daya lokal, mengembangkan investasi dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
3) Mempercepat

pemerataan

pembangunan

infrastruktur

wilayah

melalui

keseimbangan penataan ruang dan adaptibilitas perubahan lingkungan hidup.


4) Memantapkan penegakan supremasi hukum, menyelenggarakan pemerintahan
yang bersih dan meningkatkan partisipatif aktif masyarakat.
5) Mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan budaya lokal dalam mengembangkan
kehidupan bersama yang lebih baik.
c. Tujuan dan Sasaran
Untuk melaksanakan kelima misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
(RPJMD) Kota Parepare Tahun 2013-2018 tersebut, maka dirumuskan tujuan dan
sasaran pada masing-masing misi sebagai berikut :
Misi Pertama : Meningkatkan optimalisasi pelayanan pendidikan dan kesehatan
secara berkeadilan, berkualitas dan berkesinambungan.
Tujuan:
1) Pemerataan layanan pendidikan menuju masyarakat yang cerdas.
Sasaran:
Meningkatnya daya saing (ilmu dan pengetahuan) masyarakat.
2) Pemerataan layanan kesehatan menuju masyarakat yang sehat.
Sasaran:
Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat.
Misi Kedua : Mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah yang berbasis
pada sumber daya lokal, pengembangan investasi dan peningkatan kesejahteraan
masyarakat sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Tujuan:
1) Akselerasi pembangunan daerah yang berkeadilan dan berkesinambungan.
Sasaran:
Meningkatnya kesejahteraan ekonomi masyarakat.
2) Mewujudkan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Sasaran:
Meningkatnya ketersediaan pangan utama dengan harga terjangkau.

Hal. II-31

Misi Ketiga : Mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur wilayah


melalui keseimbangan penataan ruang dan adaptibilitas perubahan lingkungan
hidup.
Tujuan:
1) Akselarasi pembangunan infrastruktur antar wilayah yang berbasis pada
rencana tata ruang wilayah dan perubahan lingkungan hidup.
Sasaran:
Meningkatnya implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Meningkatnya ketersediaan air bersih.
Meningkatnya pengendalian lingkungan hidup.
Misi Keempat : Memantapkan penegakan supremasi hukum, penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih dan peningkatan partisipatif aktif masyarakat.
Tujuan:
1) Menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat
Sasaran:
Menurunnya pelanggaran ketertiban dan keamanan masyarakat.
2) Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang baik (Good Governance).
Sasaran:
Meningkatnya akuntabilitas kinerja pemerintah daerah
Meningkatnya sinergitas perencanaan pembangunan antara masyarakat
dan pemerintah
3) Mewujudkan pengarusutamaan gender serta perlindungan terhadap
perempuan dan anak.
Sasaran:
Meningkatnya kesetaraan gender.
Meningkatnya perlindungan perempuan dan anak
Misi Kelima: Mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan budaya lokal dalam
mengembangkan kehidupan bersama yang lebih baik.
Tujuan:
1) Mewujudkan masyarakat Parepare yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama
dan budaya
Sasaran:
Terjaganya kerukunan antar umat beragama
Terpeliharanya nilai-nilai budaya lokal yang tumbuh di masyarakat.

Hal. II-32

d. Isu-Isu Strategis
Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dalam
dokumen RPJMD Kota Parepare tahun 2013-2018 karena menjadi dasar utama visi
dan misi pembangunan jangka menengah 5 (lima) tahun kedepan. Oleh karena itu,
penyajian analisis ini harus dapat menjelaskan butir-butir penting isu-isu strategis
yang akan menentukan kinerja pembangunan dalam 5 (lima) tahun mendatang.
Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu
strategis.
1) Permasalahan Pembangunan
Permasalahan pembangunan daerah merupakan gap expectation
antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan
serta antara apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi riil saat
perencanaan dibuat. Potensi permasalahan pembangunan daerah pada
umumnya timbul dari kekuatan yang belum didayagunakan secara optimal,
kelemahan yang tidak diatasi, peluang yang tidak dimanfaatkan, dan ancaman
yang tidak diantisipasi.
Tujuan dari perumusan permasalahan pembangunan daerah adalah
untuk

mengidentifikasi

berbagai

faktor

yang

mempengaruhi

keberhasilan/kegagalan kinerja pembangunan daerah dimasa lalu. Identifikasi


faktor-faktor tersebut dilakukan terhadap lingkungan internal maupun eksternal
dengan mempertimbangkan masukan dari SKPD.

Tabel 2.1 Identifikasi Permasalahan Pembangunan Kota Parepare


No
1
1.1
1.1.1

Indikator Kinerja

Interpretasi Capaian
Target

Permasalahan

Faktor-Faktor
Penentu

URUSAN WAJIB
Pendidikan

Pendidikan Dasar
Angka partisipasi sekolah
(SD/MI)

Angka partisipasi sekolah


tingkat SD/MI telah

Hal. II-33

No

Indikator Kinerja

1.1.2

Angka partisipasi sekolah


(SLTP/MTs)

1.1.3

Angka partisipasi sekolah


(SMA/SMK/MA)

1.1.3

Rasio Ketersediaan
sekolah/ penduduk usia
sekolah

1.1.4

Rasio Guru/murid

1.1.5

Rasio Guru/murid per


kelas rata-rata

No

1.2

Indikator Kinerja

Interpretasi Capaian
Target
mencapai 98,82%,
pencapaian ini diatas ratarata propinsi (97,16%) dan
nasional
Angka partisipasi sekolah
tingkat SLTP/MTs
mengalami peningkatan
yang sangat signifikan
selama periode 2008 2012. Pada tahun 2012
mencapai 91,37% yang
berarti telah melampaui
rata-rata propinsi dan
nasional
APS jenjang pendidikan
SMA/SMK/MA di Kota
Parepare dalam kurun
waktu lima tahun
meningkat cukup tajam dari
56,20 persen pada tahun
2008 menjadi 65,73 persen
padatahun 2012 dan
posisinya setiap tahun
berada di atas APS Prov.
Sulsel.
Rasio Ketersediaan sekolah/
penduduk usia sekolah
selama periode 2008-2012
mengalami perkembangan
yang fluktuatif, pada tahun
2012 rasio ketersediaan
sekolah terjadap
pendududk usia sekolah
adalah 1 : 188 (setiap satu
unit sekolah mampu
menampung sekitar 188
penduduk usia sekolah
untuk jenjang pendidikan
dasar )
Rasio guru terhadap murid
pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah
pertama pada periode
2008-2012 berkisar pada
1:11 hingga 1:13. Artinya
bahwa setiap satu orang
guru rata-rata menangani
atau mengawasi murid
sebanyak 11 atau 13 siswa
Rasio guru per kelas rata
rata untuk jenjang
pendidikan dasar berkisar
antara 2 sampai 3 guru per
kelas sedangkan rasio
murid pendidikan dasar per
kelas rata-rata 19-28 siswa
ini menujukkan tingkat
pelayanan publik di bidang
pendidikan terkait dengan
ketersediaan guru cukup
baik.
Interpretasi Capaian
Target

Permasalahan

Faktor-Faktor
Penentu

Masih kurangnya ketersediaan


sekolah untuk menampung
penduduk usia sekolah yang
setiap tahun terus bertambah

Ketersediaan tenaga guru


dengan kualifikasi dan
kompetensi belum sesuai
dengan kebutuhan sehingga
beberapa mata pelajaran
mengalami kelebihan guru
namun disisi lain beberapa
mata pelajaran juga
mengalami kekurangan guru.

Permasalahan

Faktor-Faktor
Penentu

Pendidikan Menengah

Hal. II-34

1.2.1

Angka Partisipasi
sekolah (SMA/SMK/MA)

APS tingkat SMA/SMK/MA


telah meningkat, dimana
pada tahun 2012 mencapai
65,73%. Angka ini diatas
rata-rata propinsi (59,55%)
dan Nasional (60,78%)
Rasio Ketersediaan sekolah
terhadap penduduk usia
sekolah pada tahun 2008
mencapai 1 : 289 dan
tahun 2012 menurun
menjadi 1 : 263
Untuk jenjang pendidikan
SLTA. Selama lima tahun
terakhir (2008-2012), ratarata setiap satu orang guru
menangani atau mengawasi
8 siswa
Rasio guru perkelas rata
untuk pendidikan
menengah adalah sekiat 2
sampai 4 guru per kelas
sedangkan rata-rata rasio
muridnya per kelas adalah
25-28 siswa
Penduduk yang berusia >15
Tahun melek huruf (tidak
buta aksara) pada tahun
2008 sebesar 57,92% dan
meningkat pada tahun 2012
menjadi 94,85 %, ini berarti
kinerjanya sudah
terkategori baik berkisar 95
persen dari seluruh
penduduk yang berusia
diatas 15 tahun yang melek
huruf. Meskipun demikian,
masih ada sekitar 5 persen
yang masih perlu upaya
serius untuk mencapai 100
persen

1.2.2

Rasio Ketersediaan
sekolah terhadap
penduduk usia sekolah

1.2.3

Rasio Guru terhadap


murid

1.2.4

Rasio Guru /murid per


kelas rata-rata

1.2.5

Penduduk yang berusia


> 15 tahun melek huruf
(tidak buta aksara)

1.3

Fasilitas Pendidikan

1.3.1

Sekolah pendidikan
SD/MI Kondisi bangunan
baik

Hingga tahun 2012, kondisi


bangunan SD/MI dalam
keadaan baik sudah
mencapai 100 persen

1.3.2

Sekolah
pendidikanSMP/MTs dan
SMA/SMK/MA Kondisi
bangunan baik

Selama periode tahun 20082011, persentase bangunan


sekolah SMP/MTs dan
SMA/SMK/MA mengalami
peningkatan. Pada tahun
2008 mencapai 77,55%,
angka ini terus meningkat
hingga pada tahun 2012
menjadi 83,64%.

1.4

Pendidikan Anak Usia Dini

1.4.1

Pendidikan Anak Usia


Dini

Masih kurangnya ketersediaan


sekolah untuk menampung
penduduk usia sekolah yang
setiap tahun terus bertambah

Jumlah anak usia dini yang


berusia 4 6 tahun terus
mengalami peningkatan
dimana pada tahun 2012
mencapai 5.561 siswa
sehingga secara persentase
PAUD di Kota Parepare
pada tahun 2012 sudah
mencapai 40,35%.

Hal. II-35

No

Interpretasi Capaian
Target

Indikator Kinerja

1.5

Angka Putus Sekolah (APS)

1.5.1

Angka putus sekolah


(APS) SD/MI

1.5.2

Angka putus sekolah


(APS)SMP/MTs

1.5.3

Angka putus sekolah


(APS) SMA/SMK/MA

1.6

Angka Kelulusan (AL)

1.6.1

Angka kelulusan SD/MI

1.6.2

Angka kelulusan
SMP/MTs

1.6.3

Angka kelulusan
SMA/SMK/MA

1.6.4

Angka Melanjutkan (AM)


dari SD/MI ke SMP/MTs

1.6.5

Angka Melanjutkan (AM)


dari SMP/MTs ke
SMA/SMK/MA

1.6.6

Guru yang memenuhi


kualifikasi S1 / D IV

Permasalahan

Faktor-Faktor
Penentu

Angka putus sekolah SD/MI


selama periode 2008-2012
menunjukkan angka cukup
baik, pada tahun 2008
mencapai 0,13% dan pada
tahun 2012 hanya 0,10%
Pada tahun 2009, APS
SMP/MTs sebesar 0,34% dan
pada tahun 2011 angka APS
dapat ditekan menjadi 0,24%
Dalam 5 tahun terakhir, APS
tingkat SMA/SMK/MA
menunjukkan kecendrungan
yang baik. Pada tahun 2009
mencapai 1,85% namun pada
tahun 2012 angka ini dapat
ditekan menjadi 1,67%
Angka kelulusan tingkat SD/MI
mengalami perkembangan
yang fluktuatif. Pada tahun
2008 mencapai 95,37%,
kemudian berturut-turut
99,88%, dan pada tahun 2012
mencapai 100%.
Pada tahun 2008, Angka
Kelulusan SMP/MTs mencapai
60,85% dan pada tahun 2012
mencapai 99,68%. Pencapaian
ini masih dibawah tingkat
kelulusan provinsi yang
mencapai 99,81%
Angka kelulusan SMA/SMK
pada tahun 2012 mencapai
99,35%
Angka Melanjutkan dari SD/MI
ke SMP/MTs dalam periode
2008-2012 mencapai diatas
100% hal ini dikarenakan
banyaknya siswa dari luar
daerah yang memilih
bersekolah di Parepare
Angka Melanjutkan dari
SMP/MTs ke SMA/SMK/MA
dalam periode 2008-2012
juga menunjukkan diatas
100% hal ini dikarenakan
banyaknya siswa dari luar
daerah yang memilih
bersekolah di Parepare
Pada tahun 2012, Guru yang
berkualifikasi S1/DIV sebesar
2.788 orang

Masih terdapat Guru yang


belum berkualifikasi S1/DIV

Sesuai dengan UU
Pendidikan yang
mewajibkan
semua Guru
berkualifikasi
S1/DIV, maka
perlu pemberian
beasiswa dan
fasilitas lainnya
bagi guru yang
belum S1/DIV
untuk melanjutkan
studinya

Hal. II-36

No

Indikator Kinerja

Interpretasi Capaian
Target

Permasalahan

2
2.1

Kesehatan
Rasio posyandu per
satuan balita

2.2

Rasio puskesmas,
poliklinik, pustu per
satuan penduduk

2.3

Rasio Rumah Sakit per


satuan penduduk

2.4

Rasio dokter per satuan


penduduk

Rasio dokter persatuan


penduduk pada tahun 2008
adalah setiap satu orang
dokter mampu melayani
sebanyak 2.090 penduduk
dan pada tahun 2012
sebesar 1.572 penduduk.
Hal Ini menunjukkan bahwa
perkembangan penduduk
yang cepat diikuti dengan
penambahan jumlah dokter.

Jumlah dokter umum


sudah mencukupi namun
jumlah dokter spesialis
tertentu masih kurang

2.5

Rasio tenaga medis per


satuan penduduk

Jumlah tenaga medis


sudah sangat mencukupi
namun kapasitas dan
kompetensinya masih
perlu ditingkatkan

2.6

Cakupan komplikasi
kebidanan yang ditangani

Rasio tenaga medis per


satuan penduduk dalam
periode 2008-2012
berfluktuatif, tahun 2008
rasionya 1 : 295 dan tahun
2012 rasionya 1 : 299. Rasio
Rasio ini menujukkan bahwa
pertumbuhan penduduk
yang setiap tahunnya terus
meningkat tidak diiringi
dengan penambahan jumlah
tenaga medis yang banyak.
Cakupan komplikasi
kebidanan yang ditangani
cenderung mengalami
penurunan. Tahun 2008
mencapai 6,69% dan tahun
2012 hanya 4,48%, jauh
dibawah rata-rata propinsi
yang mencapai 57,73%

Rasio Posyandu per satuan


balita, pada tahun 2008
mencapai 58,67 atau 59
balita untuk setiap
posyandu dam pada tahun
2012 menjadi 72,41 balita .
Rasio puskesmas, poliklinik,
pustu per satuan penduduk
pada tahun 2008 adalah
yaitu setiap satu
puskesmas/poliklinik/ pustu
melayani 5.090 penduduk
dan pada tahun 2012
mampu melayani sebanyak
4.716 penduduk.
Rasio rumah sakit per
satuan penduduk juga
mengalami stagnasi dalam
periode 2008-2012 yaitu 0,1
yang berarti satu rumah
sakit melayani 100.000
penduduk

Jumlah balita yang


mendapatkan pelayanan
di Posyandu terus
bertambah sedangkan
jumlah posyandu yang
ada hanya mengalami
penambahan sekitar 1 -2
unit posyandu saja
1. Belum optimalnya
penyediaan jumlah
fasilitas kesehatan
2. Tidak adanya
pelayanan
kesehatan dokter
ahli di Puskesmas
1. Rasio ini
menunjukkan
ketersediaan rumah
sakit relatif
mencukupi, namun
jumlah kamar kelas
III masih kurang.
2. Belum semua rumah
sakit menerima
pasien
Jamkesmas/Jamkesda

1. Kemampuan
Puskesmas dalam
melakukan
penatalaksanaan
PONED standar masih
rendah
2. Kemampuan Bidan
untuk mengidentifikasi

Faktor-Faktor
Penentu
Meningkatkan sarana
dan prasarana serta
pelayanan Posyandu

1. Peningkatan sarana
dan prasarana
fasilitas kesehatan
khususnya di
Puskesmas
2. Penempatan dokter
ahli tertentu di
Puskesmas
1. Peningkatan jumlah
tempat tidur kelas
III
2. Mendorong seluruh
rumah sakit
pemerintah dan
swasta untuk
berperan aktif
dalam program
kesehatan gratis
melalui BPJS
kesehatan
1. Mendorong para
dokter umum untuk
melanjutkan ke
tingkat spesialisasi
yang dibutuhkan
masyrakat melalui
pemberian beasiswa
2. Penerimaan tenaga
dokter harus
diutamakan dokter
spesialis dan
disesuikan dengan
kebutuhan di unit
pelayanan
kesehatan
Peningkatan kapasitas
dan kompetensi tenaga
medis melalui
pelatihan, bimbingan
teknis dan kursuskursus singkat

1. Melaksanakan
penguatan
Puskesmas dalam
penatalaksanaan
PONED.
2. Peningkatan
kapasitas Bidan

Hal. II-37

komplikasi masih
rendah

Interpretasi Capaian
Target
Capaian tahun 2012
sebesar 83,92%, capaian
ini cukup baik namun
masih dibawah capaian
propinsi sebesar 93,68%

No

Indikator Kinerja

2.7

Cakupan pertolongan
persalinan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan

2.8

Cakupan Desa/kelurahan
Universal Child
Immunization (UCI)

Dalam periode 2010-2012


realisasi UCI mencapai
100%

2.9

Cakupan Balita Gizi


Buruk mendapat
perawatan

2.10

Cakupan penemuan dan


penanganan penderita
penyakit TBC BTA

Cakupan Balita Gizi Buruk


yang mendapatkan
perawatan mencapai
100%. Namun
kecendrungan penderita
Balita Gizi Buruk terus
meningkat dalam periode
2008 - 2012. Pada tahun
2008 hanya 1 orang,
peningkatan drastis jumlah
balita gizi buruk terjadi
pad atahun 2011 sebanyak
49 orang.
Capaian pada tahun 2012
sebesar 88,57%, lebih
tinggi dibanding capaian
propinsi sebesar 67,12%.

2.11

Cakupan penemuan dan


penanganan penderita
penyakit DBD

2.12

Cakupan pelayanan
kesehatan rujukan pasien
masyarakat miskin

Permasalahan
1. Tidak semua persalinan
oleh Tenaga Kesehatan
dilakukan di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan
2. ANC (Antenatal Care)
terpadu belum optimal

Kurang optimalnya
pelaksanaan PWS sehingga
kasus Balita Gizi Buruk tidak
dapat dicegah

Faktor-Faktor
Penentu
1. Peningkatan fasilitas
pelayana KIA di
Puskesmas/rumah
sakit
2. Peningkatan kapasitas
SDM Kesehatan
1. Peningkatan sarana
dan prasarana Fasilitas
Kesehatan (Puskesmas
Posyandu, Pustu)
dalam pemberian
imunisasi yang
terstandarisasi.
2. Pemberian
pemahaman kepada
masyarakat tentang
pentingnya imunisasi
secara
berkesinambungan
1. Peningkatan
Optimalisasi kinerja
petugas PWS
2. Peningkatan
pemberian makanan
tambahan bagi Balita
di Posyandu

1. Fasilitas Pelayanan
Kesehatan yang
melakukan program TB
DOTS (Directly Observed
Treatment
Short/Pengobatan
Jangka Pendek) masih
terbatas.
2. Masih kurangnya
Pemahaman masyarakat
tentang pengobatan TB

1. Peningkatan sarana
dan prasarana
Fasilitas Kesehatan
agar dapat
melaksanakan
program TB Dots.
2. Pemberian
pemahaman kepada
masyarakat tentang
pengobatan TB

Capaian sejak tahun 2008


- 2012 sebesar 100%.

Kurangnya kesadaran
masyarakat dalam
pemberantasan sarang
nyamuk sehingga Penyakit
DBD belum dapat dicegah

Pada tahun 2012, Cakupan


pelayanan kesehatan
rujukan pasien masyarakat
miskin meningkat
mencapai 37,10%

1. Masih sering terjadi


pembebanan tambahan
biaya obat pada
masyarakat miskin.
2. Belum semua rumah
sakit menerima pasien
masyarakat miskin yang
menggunakan
Jamkesmas/Jamkesda

1. Peningkatan peran
serta masyarakat
dalam
pemberantasan
sarang nyamuk
2. Pengefektifan
pelaksanaan Fogging
1. Peningkatan
ketersediaan obat di
rumah sakit rujukan
2. Mendorong semua
rumah sakit untuk
menerima pasien
masyarakat miskin

Hal. II-38

2.13

Cakupan kunjungan bayi

No

Indikator Kinerja

2.14

Cakupan puskesmas

2.15

Cakupan pembantu
puskesmas

3
3.1

Pekerjaan Umum
Proporsi panjang
jaringan jalan dalam
kondisi baik

3.2

Rasio tempat ibadah per


satuan penduduk

3.3

Persentase rumah tinggal


bersanitasi

3.4

Rasio tempat
pembuangan sampah per
satuan penduduk

Pada tahun 2012, cakupan


kunjungan bayi mencapai
101,11%. Hal ini
menunjukkan tingginya
kesadaran ibu-ibu untuk
memeriksakan bayinya ke
sarana kesehatan untuk
mendapatkan pelayanan
kesehatan standar
Interpretasi Capaian
Target
Sejak tahun 2008-2012,
cakupan puskesmas
mencapai 150%, yang
berarti jumlah puskesmas
yang ada telah melebihi
jumlah kecamatan

Peningkatan fasilitas
Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA) di seluruh
Puskesmas, Posyandu
dan rumah sakit

Permasalahan

Faktor-Faktor
Penentu
1. Peningkatan sarana
dan prasarana
Puskesmas
2. Peningkatan
kapasitas dokter dan
tenaga medis di
Puskesmas
Optimalisasi peranan
PUSTU dalam pelayanan
kesehatan

Sejak tahun 2011,


Cakupan pembantu
puskesmas sebesar
86,36%, yang berarti
keberadaan PUSTU telah
hampir di seluruh
kelurahan

Luas wilayah Kota


Parepare relatif kecil dan
mudahnya aksesibilitas
masyarakat terhadap
fasilitas kesehatan lainnya
menyebabkan kunjungan
ke PUSTU relatif kurang

Panjang jalan pada tahun


2008 adalah 304,609 km
dan pada tahun 2012
meningkat 6,8% menjadi
326,84 km. Namun dari
jumlah itu, hanya 63,72 %
atau 208,259 km dalam
kondisi baik, kondisi
sedang rusak 39,386 km
(12,05%) dan dalam
kondisi rusak 79,205 km
(24,23%)
Selama periode tahun
2008 - 2012, rasio tempat
ibadah per satuan
penduduk cenderung
berkurang dari 1,68 pada
tahun 2008 menjadi 1,26
pada tahun 2012.
Persentase rumah tinggal
bersanitasi pada tahun
2012 hanya 52,85%.
Capaian ini masih jauh
dibawah capaian propinsi
sebesar 75,28%

1. Kinerja
pengelolaan
jaringan jalan masih
rendah
2. Biaya
pemeliharaan
jalan terbatas

1. Prioritisasi
pembangunan
dan
pemeliharaan jalan
pada
kawasan
perekonomian
dan
kawasan
strategis
lainnya.
2. Optimalisasi
DAK
untuk pemeliharaan
jalan.

Masih kurangnya
kesadaran masyarakat
dalam pemanfaatan
sarana ibadah

Peningkatan kesadaran
masyarakat dalam
pemanfaatan sarana
ibadah

1. Kurangnya kesadaran
masyarakat dalam
pengelolaan air minum
dan air limbah
2. Belum tertanamkannya
PHBS pada masyarakat

Pada tahun 2012, rasionya


mencapai 5,38 yang
artinya setiap 5,38 m3 TPS
melayani atau digunakan
oleh 1000 penduduk..
Pencapaian ini masih jauh
lebih baik dari capaian
propinsi sebesar 0,23

1. Laju pertambahan
penduduk yang cepat
dan aktivitas penduduk
belum dapat didukung
oleh keberadaan
sarana persampahan
(TPS)

1. Kurangnya
kesadaran
masyarakat dalam
pengelolaan air
minum dan air
limbah
2. Peningkatan
pemahaman
masyarakat tentang
PHBS
3. Peningkatan
keterlibatan
masyarakat dalam
pengelolaan sanitasi
1. Peningkatan
kesadaran
masyarakat tentang
perlunya TPS
sebagai
penampungan
sementara

Hal. II-39

3.5

No

Panjang jalan dilalui


Roda 4

Indikator Kinerja

3.6

Rasio Rumah layak huni

3.7

Rasio permukiman layak huni

3.8

Panjang jalan kabupaten


dalam kondisi baik ( > 40
KM/Jam )

4
4.1

Perumahan
Rumah tangga pengguna air
bersih

4.2

Rumah tangga pengguna


listrik

4.3

Lingkungan pemukiman
kumuh

Hingga tahun 2012,


panjang jalan yang dapat
dilalui Roda 4 sebesar
80,90 km (0,25%)

Interpretasi Capaian
Target
Data tahun 2012
mencatat bahwa rasio
rumah layak huni
terhadap jumlah
penduduk adalah 1 : 5
(setiap 5 rumah
penduduk ada 1 rumah
penduduk yang layak
huni).

2. Adanya keengganan
masyarakat jika
disekitar
lingkungannya
terdapat TPS
Masih banyak jalan yang
lebarnya kurang dari 3
meter

Permasalahan
1. Masih tingginya
jumlah rumah tangga
yang menghuni
rumah tidak layak
huni (0,69) akibat
keterbatasan akses
bagi masyarakat
berpenghasilan
rendah terhadap
penguasaan lahan
2. Akses MBR terhadap
fasilitas KPR dan
pembiayaan
perumahan juga
terbatas.

2. Mempercepat
pengangkutan
sampah dari TPS ke
TPA
Perbaikan dan pelebaran
jalan

Faktor-Faktor
Penentu
1. Memfasilitasi MBR
dalam mengakses
rumah layak huni
melalui program
peningkatan kualitas
perumahan
2. Memfasilitasi MBR
dalam memperoleh
pembiayaan rumah
sederhana (RS) atau
Rumah Sangat
Sederhana (RSS)
3. Pembangunan
Rumah Susun
sebagai pilot project.

Data Tida Ada dari Dinas


Tata Ruang
Panjang jalan
kabupaten dalam kodnisi
baik pada tahun 2008
sebesar 57,19% dan
meningkat pad atahun
2012 menjadi 63,72%
Rumah tangga
pengguna air bersih
hingga tahun 2012
mencapai 17.263 rumah
tangga (57,45%).
Pencapaian ini masih
jauh dari propinsi yang
mencapai 84,75%

1. Banyaknya
permukiman baru
yang lokasinya belum
dapat diakses oleh
jaringan air bersih
dari PDAM
2. Ketersediaan air baku
sangat terbatas

Rumah tangga
pengguna listrik
mencapai 91,98% pada
tahun 2012. Angka ini
jauh lebih tinggi
dibanding propinsi
sebesar 70,63%. Hal ini
menunjukkan
ketersediaan energi
listrik oleh PLN sangat
memadai di Kota
Parepare
Pada tahun 2010 luas
lingkungan kumuh 31,09
ha dan pada tahun 2011

Biaya pemasangan
sambungan baru masih
cukup mahal bagi MBR

1. Peningkatan jaringan
instalasi air bersih
termasuk sistem
sambungan rumah
sehingga dapat
menjangkau
permukiman baru
2. Eksplorasi dan
eksploitasi sumbersumber air baku baru
3. Optimalisasi
pemanfaatan dan
pengelolaan air
bersih
Fasilitasi kemudahan
pemasangan sambungan
baru bagi MBR

1. Identifikasi lokasi dan


kebutuhan
penanganan

1. Optimalisasi
Pelaksanaan
Identifikasi lokasi dan

Hal. II-40

menurun menjadi 17,75


ha, namun pada tahun
2012 meningkat lagi
menjadi 27,40 ha.
Penambahan luasan
tahun 2011 ke 2012
diakibatkan oleh
pelaksanaan up dating
lingkungan kumuh

No

Indikator Kinerja

4.4

Rumah tangga berSanitasi

4.5

Rasio rumah layak huni


per 1.000 penduduk

5
5.2

Penataan Ruang
Persentase ruang terbuka
hijau terhadap luas
wilayah

5.3

Rasio bangunan ber- IMB


per 100 bangunan

Interpretasi Capaian
Target
Persentase rumah
tinggal bersanitasi pada
tahun 2012 hanya
52,85%. Capaian ini
masih jauh dibawah
capaian propinsi sebesar
75,28%

lingkungan
permukiman kumuh
belum optimal
2. Belum
optimalnya
pengetahuan
dan
pemahaman
masyarakat terhadap
PHBS
3. Keterbatasan
penguasaan
lahan
bagi MBR

Permasalahan
1. Kurangnya kesadaran
masyarakat dalam
pengelolaan air minum
dan air limbah
2. Belum tertanamkannya
PHBS pada masyarakat

kebutuhan
penanganan
lingkungan
permukiman kumuh
2. optimalisasi
pengetahuan
dan
pemahaman
masyarakat terhadap
PHBS
3. Fasilitasi penguasaan
lahan bagi MBR

Faktor-Faktor
Penentu
1. Kurangnya kesadaran
masyarakat dalam
pengelolaan air
minum dan air
limbah
2. Peningkatan
pemahaman
masyarakat tentang
PHBS
3. Peningkatan
keterlibatan
masyarakat dalam
pengelolaan sanitasi

Berdasarkan pendataan
rumah kurang/tidak
layak huni tahun 2012
tersebut sebanyak 3.375
unit rumah yang masuk
kategori rumah tidak
layak huni dari
masyarakat penghasilan
rendah yang tersebar di
22 kelurahan

1. Masih tingginya jumlah


rumah tangga yang
menghuni rumah tidak
layak huni (0,69) akibat
keterbatasan akses bagi
masyarakat
berpenghasilan rendah
terhadap penguasaan
lahan
2. Akses MBR terhadap
fasilitas KPR dan
pembiayaan perumahan
juga terbatas.

1. Memfasilitasi MBR
dalam mengakses
rumah layak huni
melalui program
peningkatan kualitas
perumahan
2. Memfasilitasi MBR
dalam memperoleh
pembiayaan rumah
sederhana (RS) atau
Rumah Sangat
Sederhana (RSS)
3. Pembangunan
Rumah Susun
sebagai pilot project.

Hingga tahun 2012,


persentase RTH baru
mencapai 21,20% masih
kurang dari target
nasional sebesar 30%
dari luas wilayah

1. Terbatasnya lahan untuk


dijadikan RTH
2. Kurangnya RTH privat

Tahun 2008 jumlah


bangunan berIMB
sebanyak 3.817 unit dan
terus mengalami
peningkatan sehingga
tahun 2012 mencapai
8.449 unit. Ada
peningkatan rata-rata
82% dalam kurun waktu
2008-2012.
Penambahan ini

1. Banyaknya
bangunan/rumah
yang
sudah ada sebelum Perda
IMB diberlakukan
2. Sebagian
masyarakat
belum mengurus IMB

1. Identifikasi lahan
yang dapat dijadikan
RTH
2. Peningkatan
kesadaran
masyarakat untuk
berpartisipasi dalam
pembangunan RTH
Privat
1. Peningkatan
kesadaran
masyarakat
untuk
mengurus IMB
2. Penegakan
sanksi
terhadap
pelanggaran IMB

Hal. II-41

6
6.1

menunjukkan semakin
meningkatnya
pembangunan di Kota
Parepare dari tahun ke
tahun.
Perencanaan Pembangunan
Tersedianya dokumen
Penyusunan Dokumen
perencanaan RKPD yang
RKPD telah dilaksnakan
telah ditetapkan dengan
PERKADA
setiap tahunnya

No

Indikator Kinerja

6.2

Tersedianya dokumen
perencanaan RPJPD yang
telah ditetapkan dengan
PERDA

6.3

Tersedianya dokumen
perencanaan RPJMD yang
telah ditetapkan dengan
PERDA/PERKADA

6.4

Penjabaran program
RPJMD kedalam RKPD
(%)

7
7.1

Perhubungan
Jumlah arus penumpang
angkutan umum

1. Sinkronisasi
antara
program prioritas dan
target capaian antara
RKPD dengan RPJMD
belum dapat dilaksanakan
secara maksimal karena
IKU dan terget dalam
RPJMD kurang jelas
2. Belum
terciptanyan
Konsistensi program dan
kegiatan dalam RKPD
dengan PPAS/APBD

Interpretasi Capaian
Target
Dokumen RPJPD Kota
Parepare Tahun 2005 - 2025
telah ditetapkan melalui
Perda No. 4 Tahun 2009
tentang Rencana
Pembangunan Jangka
Panjang Daerah Tahun
2005-2025
Dokumen RPJMD Kota
Parepare telah ditetapkan
melalui Perda Nomor 5
Tahun 2009 tentang
Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah
Tahun 2008-2013

Permasalahan
Belum semua SKPD
mengacu pada RPJPD
dalam penyusunan Renstra
SKPD

Penjabaran Program RPJMD


dalam RKPD sebesar 100%

Sinkronisasi antara
program prioritas dan
target capaian antara
RKPD dengan RPJMD
belum dapat dilaksanakan
secara maksimal karena
IKU dan terget dalam
RPJMD kurang jelas

Jumlah arus penumpang


angkutan umum selama
periode tahun 2008-2012
cenderung mengalami
penurunan dan pada tahun
2012 mencapai 4.488.000,
hal ini menunjukkan
mobilitas masyarakat cukup
tinggi yang diimbangi oleh

Beberapa sarana dan


prasarana transportasi
yang kurang mendukung
seperti terminal
penumpang yang hingga
sekarang belum bisa
dimanfaatkan seoptimal
mungkin

1. Pelaksanaan
koordinasi yang
intensif antara
Bappeda dengan
SKPD dalam
penyusunan Rencana
Kerja SKPD
2. Penjabaran program
/ kegiatan RKPD
dalam Renja SKPD
secara konsisten

Faktor-Faktor
Penentu
Peningkatan
Koordinasi antara
Bappeda dengan
SKPD dalam
menyusun dokumendokumen
perencanaann
1. Penyusunan
RPJMD tahun
2013-2018 harus
berpedoman pada
Permendagri No.
54 Tahun 2010
dengan
mencantumkan
indikator kinerja
utama dan target
yang ingin dicapai.
2. Pelaksanaan
koordinasi yang
intensif antara
Bappeda dengan
SKPD dalam
penyusunan
Renstra SKPD
Pelaksanaan
koordinasi yang
intensif antara
Bappeda dengan
SKPD dalam
penyusunan Rencana
Kerja SKPD

Optimalisasi
pemanfaatan terminal
penumpang

Hal. II-42

7.2

Rasio ijin trayek

7.3

Jumlah uji kir angkutan


umum

7.4

Jumlah Pelabuhan
Laut/Udara/ Terminal bus

No

Indikator Kinerja

kinerja pelayanan
transportasi yang cukup baik
Jumlah ijin trayek yang telah
dikeluarkan oleh Dinas
Perhubungan setiap
tahunnya terus meningkat
dari 96 ijin pada tahun 2008
kemudian meningkat hingga
150 ijin pada tahun 2012
Jumlah uji KIR pada tahun
2012 hanya 196 sangat jauh
berkurang jika dibanding
tahun 2008 yang mencapai
380
Pelabuhan Laut 3 buah dan
Terminal Bus 3 buah sudah
mencukupi bagi Kota
Parepare

Interpretasi Capaian Target


Persentase Angkutan darat
selama periode 2008-2012
menunjukkan angka yang stabil
yaitu 9,52%
Pada tahun 2008 kepemilikan
KIR mencapai 1.843 namun
pada tahun 2012 mengalami
penurunan menjadi 1.539
Waktu yang dibutuhkan untuk
pengujian kelayakan angkutan
Umum (KIR) adalah 15 - 30
menit dan telah memenuhi
standar Kementrian
Perhubungan
Selama periode 2008-2012 biaya
pengujian KIR sebesar Rp.
26.000 - Rp. 30.500 yang
ditetapkan melaui Perda
Pemasangan rambu-rambu
mencapai 100% selama lima
tahun terakhir

Peningkatan izin trayek


masih kurang diharapkan
dapat mencapai 300 izin
trayek yang dikeluarkan

Peningkatan
pelayanan
pengurusan izin
trayek

Jumlah uji KIR angkutan


umum hanya tergantung
pada jumlah kendaraan
yang masuk di Kota
Parepare
Belum optimalnya
1.
pemanfaatan Terminal Bus
angkutan Darat serta
belum maksimalnya
pemanfaatan Pelabuhan
Semi Kontainer di Cappa
Ujung
2.

Permasalahan

7.5

Angkutan darat

7.6

Kepemilikan KIR
angkutan umum

7.7

Lama pengujian
kelayakan angkutan
umum (KIR)

7.8

Biaya pengujian
kelayakan angkutan
umum

7.9

Pemasangan ramburambu

Lingkungan Hidup

8.1

Persentase
penanganan sampah

Pada tahun 2008 volume


sampah 177.025 m3 yang dapat
ditangani 172,645 m3 (97,53%),
namun pada tahun 2012
penanganan sampah berkurang
dari volume sebesar 183.595 m3
yang tertangani hanya 171.185
m3 (93,24%)

1. Penanganan
sampah
selalu terfokus pada
timbunan
sampah
(pengangkutan dari TPS
ke TPA)
2. Kurangnya
partisipasi
masyarakat
dalam
mengurangi
volume
sampah

8.2

Persentase Penduduk
berakses air minum

Jumlah penduduk yang berakses


air minum terus mengalami
peningkatan, pada tahun 2012
mencapai 80,16%. Capaian ini
telah melampaui target
pemerintah sebesar 80% serta

1. Belum
optimalnya
pengelolaan air baku air
minum yang dikelola
oleh PDAM sehingga
mempengaruhi kualitas
air
minum
yang
dikonsumsi masyarakat

Waktu yang dibutuhkan


masih perlu dikurangi
hingga maksimal 20 menit

Masih banyak pengguna


jalan yang belum mentaati
rambu-rambu lalu lintas

Peningkatan
kualitas pelayanan
dan manajemen
pengelolaan
Terminal Bus dan
Pelabuhan Laut
Pengintegrasian
moda transportasi

Faktor-Faktor
Penentu

Peningkatan
pelayanan pengujian
kelayakan angkutan
umum (KIR)
Peningkatan
pelayanan pengujian
kelayakan angkutan
umum (KIR)
Peningkatan
pelayanan pengujian
kelayakan angkutan
umum (KIR)
Peningkatan
kesadaran pengguna
jalan untuk mentaati
rambu-rambu lalu
lintas
1. Peningkatan sarana
dan
prasarana
pengelolaan
persampahan
2. Peningkatan
partisipasi
masyarakat dalam
mengurangi
volume
sampah
rumah tangga
1. Peningkatan
kualitas
pengelolaan
air
baku pada IPA
PDAM
2. Peningkatan
cakupan penduduk

Hal. II-43

jauh di atas target MDGs sebesar


68,87%.

2. Kurangnya sumber air


baku
3. Penduduk yang belum
dapat mengakses air
minum masih cukup
besar yaitu 19,84%

8.4

Pencemaran status
mutu air

Pencemaran status mutu air


sejak tahun 2008 - 2012
mencapai 28,57%

Belum optimalnya
penanganan kerusakan
lingkungan akibat tidak
tersedianya sistem data
dan informasi yang
terintegrasi

8.5

Cakupan penghijauan
wilayah rawan
longsor dan Sumber
Mata Air

Cakupan penghijauan wilayah


rawan longsor dan Sumber Mata
Air hanya mencapai 50%

Masih kurangnya
keterlibatan masyarakat
dalam penghijaun

No
8.4

8.5

8.6

8.7

10
10.1

Indikator
Kinerja
Pencemaran status
mutu air

Cakupan
penghijauan
wilayah rawan
longsor dan
Sumber Mata Air
Cakupan
pengawasan
terhadap
pelaksanaan
amdal.
Tempat
pembuangan
sampah (TPS) per
satuan penduduk

Interpretasi Capaian Target


Pencemaran status mutu air
sejak tahun 2008 - 2012
mencapai 28,57%

Cakupan penghijauan wilayah


rawan longsor dan Sumber
Mata Air hanya mencapai 50%
Di Kota Parepare hanya 1
perusahaan yang wajib amdal
dan telah memenuhi
kewajibannya sehingga
capaiannya 100%
Hingga tahun 2012, daya
tampung TPS mencapai 710 m3
(0,54%) dengan jumlah
penduduk 132.048 jiwa. Seiring
dengan semakin meningkatnya
jumlah penduduk Kota
Parepare, maka rasio tempat
pembuangan sampah per
satuan penduduk juga terus
meningkat setiap tahunnya

Kependudukan dan Catatan Sipil


Rasio penduduk
Jumlah penduduk yang
ber KTP per
mempunyai KTP terus
satuan penduduk
mengalami peningkatan. Pada
tahun 2012 jumlah penduduk
yang wajib ber-KTP 88.809 jiwa
dan yang mempunyai KTP
78.428 jiwa sehingga rasionya
sudah sekiat 1 : 1 yang berarti
bawah setiap penduduk yang

yang berakses air


minum
melalui
peningkatan
sambungan rumah
3. Penambahan
kapasitas air baku
melalui eksplorasi
dan eksploitasi
4. Perlindungan
sumber air baku
dari pencemaran
lingkungan
1. Peningkatan
kapasitas
SDM
aparatur
2. Peningkatan
penyediaan data
dan
informasi
lingkungan hidup
Peningkatan
partisipasi masyarakat
dalam penghijauan

Permasalahan

Faktor-Faktor Penentu

Belum optimalnya
penanganan kerusakan
lingkungan akibat tidak
tersedianya sistem data
dan informasi yang
terintegrasi
Masih kurangnya
keterlibatan masyarakat
dalam penghijaun

3. Peningkatan kapasitas
SDM aparatur
4. Peningkatan
penyediaan data dan
informasi lingkungan
hidup
Peningkatan partisipasi
masyarakat dalam
penghijauan

TPS cenderung menjadi


tempat penumpukan
sampah yang
mengakibatkan bau pada
masyarakat sekitar dan
mengganggu keindahan
sehingga sebagian
masyarakat merasa
terganggu dengan
adanya TPS
dilingkungannya

Peningkatan frekuensi
pengangkutan sampah
dari TPS ke TPA

Sebagian masyarakat
masih kurang memahami
tentang pentingnya tertib
administrasi
kependudukan

1. Peningkatan
pelayanan administrasi
kependudukan
2. Sosialisasi
tentang
pentingnya
tertib
administrasi
kependudukan

Hal. II-44

wajib KTP sudah semuanya


telah memiliki KTP.
Rasio bayi berakte kelahiran
pada tahun 2008 sebesar 2,95
dan pada tahun 2012
meningkat menjadi 3,08

10.2

Rasio bayi berakte


kelahiran

10.3

Rasio pasangan
berakte nikah

Dalam kurun waktu 2008-2012,


dari keseluruhan pasangan
nikah yang ada sudah
seluruhnya memiliki akta nikah
sehingga rasionya sudah 1 : 1

Sebagian masyarakat
masih kurang memahami
tentang pentingnya tertib
administrasi
kependudukan

10.4

Kepemilikan KTP

Jumlah Kepemilikan KTP


mencapai 88,31%

Sebagian masyarakat
masih kurang memahami
tentang pentingnya tertib
administrasi
kependudukan

10.5

Kepemilikan akte
kelahiran per 1000
penduduk

Kepemilikan akte kelahiran per


1000 penduduk pada tahun
2012 mencapai 18,34%

Sebagian masyarakat
masih kurang memahami
tentang pentingnya tertib
administrasi
kependudukan

Indikator
Kinerja
Kepemilikan KTP

Interpretasi
Capaian Target
Jumlah Kepemilikan
KTP mencapai 88,31%

10.5

Kepemilikan akte
kelahiran per 1000
penduduk

Kepemilikan akte
kelahiran per 1000
penduduk pada tahun
2012 mencapai
18,34%

Sebagian masyarakat masih


kurang memahami tentang
pentingnya tertib administrasi
kependudukan

10.6

Ketersediaan
database
kependudukan
skala provinsi

Sejak tahun 2008


hingga tahun 2012
database
kependudukan skala
propinsi telah
tersedian di kab/kota

Pengoperasian dan
pemeliharaan Sistem Informasi
Administrasi Kependudukan
(SIAK) secara terpadu belum
terkoordinasi dengan baik

10.7

Penerapan KTP
Nasional berbasis
NIK

No
10.4

11
11.1

Sebagian masyarakat
masih kurang memahami
tentang pentingnya tertib
administrasi
kependudukan

Permasalahan
Sebagian masyarakat masih
kurang memahami tentang
pentingnya tertib administrasi
kependudukan

1. Peningkatan
pelayanan administrasi
kependudukan
2. Sosialisasi
tentang
pentingnya
tertib
administrasi
kependudukan
1. Peningkatan
pelayanan administrasi
kependudukan
2. Sosialisasi
tentang
pentingnya
tertib
administrasi
kependudukan
1. Peningkatan
pelayanan administrasi
kependudukan
2. Sosialisasi tentang
pentingnya tertib
administrasi
kependudukan
1. Peningkatan
pelayanan administrasi
kependudukan
2. Sosialisasi tentang
pentingnya tertib
administrasi
kependudukan

Faktor-Faktor Penentu
3. Peningkatan pelayanan
administrasi
kependudukan
4. Sosialisasi tentang
pentingnya tertib
administrasi
kependudukan
3. Peningkatan pelayanan
administrasi
kependudukan
4. Sosialisasi tentang
pentingnya tertib
administrasi
kependudukan
1. Peningkatan kapasitas
aparatur pemerintah
dalam menyusun
database kependudukan
2. Peningkatan koordinasi
antar tingkat
pemerintahan dalam
pengopersian SIAK
Peningkatan pelayanan
administrasi kependudukan

Sejak tahun 2013 KTP


Penerapan KTP Nasional
Nasional Beerbasis NIK Berbasis NIK belum menjangkau
telah diterapkan di
seluruh masyarakat
Kota Parepare
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Persentase
1. Partisipasi
1. Masih rendahnya persentase
1. Peningkatan pendidikan
partisipasi
perempuan
di
perempuan di lembaga
politik bagi perempuan
perempuan
legislatif mencapai
legislatif
2. Penerapan kebijakan
dilembaga
16%
dari 2. Tingginya dominasi laki-laki
afirmasi untuk
pemerintah
keseluruhan
pada jabatan struktural di
memberikan ruang yang
anggota Legislatif
lembaga pemerintahan karena
setara antara perempuan

Hal. II-45

2. Partisipasi
perempuan lebih banyak pada
Perempuan dalam
jabatan fungsional (guru dan
lembaga
perwat)
pemerintahan
3. Belum ada kebijakan afirmasi
sebesar 57,10%
untuk mendorong
keterwakilan perempuan pada
jabatan struktural

dan laki-laki pada jabatan


struktural

11.2

Partisipasi
perempuan di
lembaga swasta

Partisipasi perempuan
pada lembaga swasta
mencapai 23,05%

Rendahnya akses dan partisipasi


perempuan di lembaga swasta

Peningkatan kapasitas/skil
perempuan untuk dapat
berpartisipasi di lembaga
swasta
1. Peningkatan upaya KIE
(komunikasi, informasi,
dan edukasi) kepada
seluruh masyarakat dan
lembaga pemerhati
perempuan dan anak
untuk pencegahan deteksi
dini, dan penanganan
kasus KDRT
2. Optimalisasi penerapan
SPM bidang layanan
terpadu penanganan
korban kekerasan
terhadap ibu dan anak
1. Peningkatan
penanggulangan anak
putus sekolah
2. Peningkatan akses
terhadap kesehatan dan
pendidikan bagi tenaga
kerja di bawah umur atau
anak yang terpaksa
bekerja

11.3

Rasio KDRT

Rasio KDRT dalam


tahun 2012 mencapai
0,11

1. Masih adanya keengganan


korban KDRT untuk
melaporkan ke pihak yang
berwenang
2. Layanan penanganan korban
KDRT belum berfungsi secara
optimal
3. Sarana dan prasarana P2TP2A
belum memadai
4. Belum tersedianya rumah
aman bagi korban kekerasan
terhadap perempuan dan
anak

11.4

Persentase jumlah
tenaga kerja
dibawah umur

Jumlah tenaga kerja di 1. Masih tingginya tingkat


bawah umur mencapai
kemiskinan rumah tangga dan
5,04%
rendahnya pendidikan
memicu meningkatnya jumlah
pekerja di bawah umur
2. Tidak ada jaminan
kesejahteraan, kesehatan dan
pendidikan bagi tenaga kerja
di bawah umur

No

Indikator Kinerja

Interpretasi Capaian Target

11.5

Partisipasi angkatan
kerja perempuan

Pada tahun 2012, partisipasi


angkata kerja perempuan
mencapai 13,42%

1. Masih adanya budaya


patriarkhi dalam
masyarakat sehingga
akses perempuan di
sektor publik terbatas
2. Adanya perbedaan
upah antara tenaga
kerja perempuan
dengan tenaga kerja
laki-laki

11.6

Penyelesaian
pengaduan
perlindungan
perempuan dan
anak dari tindakan
kekerasan

Data tahun 2013 untuk


perempuan 57,36% dan anak
55,36%

1. Masih kurangnya
pemahaman tentang
hak perempuan dan
anak
2. Masih adanya
anggapan bahwa lakilaki lebih berperan
dari perempuan
3. Partisipasi anak dan
suara anak belum
menjadi
pertimbangan
pemerintah

12
12.1

Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera


Rata-rata jumlah
Dalam kurun waktu tahun
anak per keluarga
tahun 2008 hingga 2012, rata-

Permasalahan

Masih perlunya
pemahaman kepada

Faktor-Faktor
Penentu
1. Meningkatkan
kesadaran masyarakat
tentang kesetaraan
gender dalam
mengakses peluang
kerja
2. Pengawasan
penerapan
perlindungan pekerja
perempuan
diperusahaan/lembaga
swasta
1. Meningkatkan
pemahaman bahwa
laki-laki dan
perempuan
mempunyai peran
yang sama
2. Meningkatkan
pemahaman tentang
hak dan kewajiban
anak
3. Meningkatkan
pemahaman tentang
kewajiban orang tua
terhadap anak
1. Penyebarluasan KIE
Generasi berencana

Hal. II-46

12.2

Rasio akseptor KB

12.3

Cakupan peserta KB
aktif

12.4

Keluarga Pra
Sejahtera dan
Keluarga Sejahtera I

13
13.1

Sosial
Sarana sosial seperti
panti asuhan panti
jompo dan panti
rehabilitasi

No

Indikator Kinerja

13.2

PMKS yang
memperoleh bantuan
sosial

13.3

Penanganan
penyandang masalah
kesejahteraan sosial

rata jumlah anak perkeluarga


adalah sebanyak 2 orang.

masyarakat tentang
keutamaan keluarga
berencana

Pada tahun 2008, rasio


akseptor KB sudah daapat
dikatakan hampir berhasil
karena perbandingan rasionya
adalah 1 : 2 dimana untuk
setiap 2 pasangan usia subur
baru satu pasangan yang
menjadi akseptor KB .
Cakupan KB aktif mencapai
104,27% yang menunjukkan
bahwa jumlah peserta KB aktif
lebih besar dari jumlah
pasangan usia subur. Capaian
propinsi hanya 73,47%
Keluarga Pra Sejahtera dan
Keluarga Sejahtera I mencapai
42,95%, lebih tinggi dibanding
propinsi yang hanya 38,29%

Partisipasi KB Pria masih


rendah

Jumlah sarana sosial sejak


tahun 2008 hingga 2012 masih
tetap 10 buah

Alokasi anggaran untuk


peningkatan sarana dan
prasarana pendukung
sangat terbatas

Interpretasi Capaian
Target
Jumlah PMKS yang
memperoleh bantuan kian
menurun, pada tahun 2008
mencapai 124,26% namun
pada tahun 2012 berkurang
menjadi 21,70%

Penanganan penyandang
masalah kesejahteraan
sosial juga mengalami
penurunan, pada tahun
2008 mencapai 88,10%
namun pada tahun 2012
hanya 15,38%

Partisipasi KB Pria masih


rendah

1. Masih
tingginya
presentasi keluarga
pra sejahtera dan
Keluarga sejahtera 1
2. Adanya
kecendrungan
peningkatan
pernikahan dini di
kalangan remaja

2. Penyebarluasan
informasi keluarga
kecil sehat dan
sejahtera
3. Peningkatan
pemahaman
masyarakat tentang
perencanaan
kelahiran anak
1. Peningkatan kualitas
dan cakupan layanan
KB, khususnya bagi
pasangan usia subur
2. Mendorong partisipasi
pria dalam ber-KB
1. Peningkatan kualitas
dan cakupan layanan
KB, khususnya bagi
pasangan usia subur
2. Mendorong partisipasi
pria dalam ber-KB
1. Perluasan
lapangan
kerja layak
2. Peningkatan
partisipasi ber-KB
3. Penyuluhan tentang
dampak
negatif
pernikahan dini dan
pentingnya
perencanaan keluarga
Perlunya peningkatan
alokasi anggaran

Permasalahan

Faktor-Faktor Penentu

1. Jumlah anggaran untuk


pemberian bantuan bagi
PMKS sangat terbatas
sehingga masih banyak
PMKS
yang
tidak
menerima bantuan
2. Belum adanya data yang
valid tentang PMKS dan
standarisasi PMKS yang
boleh menerima bantuan
Penyelesaian masalah
PMKS masih parsial dan
terfokus pada pemberian
bantuan

1. Peningkatan kepedulian
masyarakat
terhadap
PMKS
2. Menambah
alokasi
anggaran
sehingga
jangkauan
pelayanan
bagi
PMKS
dapat
diperluas
3. Ketersediaan data yang
valid tentang PMKS
1. Adanya komitmen yang
kuat dari pemerintah
untuk menangani PMKS
2. Peningkatan kepedulian
masyarakat terhadap
PMKS
3. Penyelesaian PMKS
secara komprehensif
dengan melibatkan
seluruh komponen
terkait.
4. Peningkatan
pemberdayaan sosial,
rehabilitasi sosial,
perlindungan dan

Hal. II-47

jaminan sosial bagi


kebutuhan dasar

14
14.1

Ketenagakerjaan
Angka partisipasi
angkatan kerja

14.2

Angka sengketa
pengusaha-pekerja
per tahun

14.3

Angka partisipasi angkatan


kerja pada tahun 2012
mencapai 66,48%, lebih
tinggi dibanding propinsi
yang sebesar 62,82%
Angka sengketa pengusaha
pekerja pada tahun 2012
adalah 1,58%, capaian ini
lebih baik dibanding capaian
propinsi sebesar 12,50%

Rendahnya keterampilan
tenaga kerja

Peningkatan kapasitas
tenaga kerja melalui
pelatihan keterampilan
dan manajemen

Pada umumnya tenaga


kerja mempunyai posisi
tawar yang rendah
terhadap besaran upah
sehingga menimbulkan
sengketa dengan
pengusaha

Tingkat partisipasi
angkatan kerja

Tingkat partisipasi angkatan


kerja pada tahun 2012
sebesar 63,05%

Perlunya peningkatan
keterampilan bagi tenaga
kerja

14.4

Pencari kerja yang


ditempatkan

1. Ketersediaan lapangan
kerja masih terbatas
2. Ketidaksesuaian antara
jenis
pendidikan
dengan
kebutuhan
pasar kerja

14.5

Tingkat
pengangguran
terbuka

Dalam lima tahun terakhir


rata-rata pencari kerja yang
ditempatkan sebesar
51,94%, capaian tertinggi
pada tahun 2011 sebesar
57,85% jauh lebih tinggi
dibanding capaian propinsi
sebesar 12,80%
Tingkat pengangguran
terbuka dalam lima tahun
terakhir mengalami
penurunan yang signifikan,
pada tahun 2008 mencapai
19,33% sedang tahun 2012
berkurang menjadi 4,21%,
adapun capaian propinsi
sebesar 5,87%

1. Penetapan
upah
minimum propinsi yang
disesuaikan
dengan
kemampuan
pengusaha
serta
pengawasan
yang
ketat
dalam
implementasinya
2. Peningkatan
peran
pemerintah
dalam
penyelesaian sengketa
pekerja dan pengusaha
Revitalisasi
Kantor
Pelatihan kerja sebagai
tempat pembinaan dan
pelatihan
keterampilan
bagi tenaga kerja
1. Penciptaan/perluasan
lapangan kerja baru
2. Peningkatan pelatihan
kerja
berbasis
kebutuhan pasar kerja

No

Indikator Kinerja

14.6

Keselamatan dan
perlindungan

Interpretasi Capaian
Target
Jumlah perusahaan yang
menerapkan K3 selama
kurun waktu 5 tahun
terakhir terus mengalami
peningkatan dimana pada
tahun 2008 ada 124
(16,23%) perusahaan hingga
tahun 2012 ada 248
(30,17%)

1. Pertumbuhan angkatan
kerja
lebih
tinggi
dibanding
lapangan
kerja yang tersedia
2. Aksessibilitas Informasi
bursa tenaga kerja
masih terbatas

Permasalahan
Belum semua
perusahaan
mendaftarkan tenaga
kerjanya dalam
program perlindungan
Jamsostek

1. Penciptaan/perluasan
lapangan kerja baru
2. Pengembangan sistem
informasi bursa tenaga
kerja yang mudah
diakses

Faktor-Faktor Penentu
Mendorong pemilik
perusahaan untuk
mengikutsertakan pekerjanya
dalam program perlindungan
Jamsostek

Hal. II-48

14.7

15
15.1

Perselisihan buruh
Belum ada aturan dari
dan pengusaha
pemerintah daerah
terhadap kebijakan
pemerintah daerah
Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
Persentase koperasi
Jumlah koperasi pada tahun
aktif
2012 adalah 204 unit namun
yang aktif beroperasi hanya
103 unit (50,49%). Capaian
ini lebih rendah dari capaian
propinsi sebesar 69%

15.2

Jumlah UKM non


BPR / LKM UKM

Jumlah UKM aktif Non


BPR/LKM UMKM selama
kurun waktu tahun 20082012 terus mengalami
peningkatan dimana pada
Tahun 2008 sebanyak 3.050
UKM Aktif hingga Tahun
2012 mencapai 4.349

15.3
15.4

Jumlah BPR / LKM


Usaha Mikro Kecil

Data tidak ada


Usaha Mikro dan Kecil yang
ada di Kota Parepare selama
lima tahun terakhir mencapai
lebih dari 99% dari jumlah
seluruh UMKM yang ada. Hal
ini ditandai dengan semakin
meningkatnya jumlah usaha
mikro dan usaha kecil setiap
tahunnya

17
17.1

Kebudayaan
Sarana
penyelenggaraan
seni dan budaya

17.2

Benda, situs dan


kawasan cagar
budaya yang
dilestarikan

No

Indikator
Kinerja

Jumlah Sarana
penyelenggaraan seni dan
budaya meningkat dari 4 unit
pada tahun 2008 menjadi 8
unit pada tahun 2012
Benda, situs dan kawasan
cagar budaya yang
dilestarikan sejauh ini masih
1 - 2 buah

Interpretasi Capaian
Target

1. Regulasi bidang
ekonomi yang
dikeluarkan belum
sepenuhnya
berpihak pada
pengembangan
koperasi
2. Belum optimalnya
peran pemerintah
dalam
menggalakkan
gerakan
perkoperasian
1. Terbatasnya
kemampuan
manajerial yang
dimiliki pelaku UKM
2. Kurangnya
aksesibilitas pelaku
UKM dalam
mendapatkan
tambahan modal
untuk
pengembangan
usaha melalui
lembaga keuangan

1. Perlu adanya komitmen


yaang kuat dari
pemerintah untuk
menyusun regulasi yang
berpihak pada
perkembangan koperasi
2. Optimalisasi peran
pemerintah dalam
membina koperasi

1. Terbatasnya
kemampuan
manajerial
yang
dimiliki
pelaku
Usaha Mikro Kecil
2. Kurangnya
aksesibilitas pelaku
Usaha Mikro Kecil
dalam
mendapatkan
tambahan modal
untuk
pengembangan
usaha
melalui
lembaga keuangan

1. Peningkatan kemampuan
manajerial pelaku UMK
melalui
pelatihan
dan
bimbingan teknis
2. Fasilitasi pelaku UMK dalam
memperoleh kredit usaha
dengan bunga rendah
3. Pemberdyaan pelaku UMK
melalui
regulasi
dan
bantuan
usaha
dari
pemerintah

Masih kurangnya
sarana
penyelenggaraan seni
dan budaya yang
representatif
Belum adanya data
yang valid tentang
jumlah Benda, situs
dan kawasan cagar
budaya

Perlu peningkatan sarana


penyelenggaraan seni dan
budaya agar lebih
representatif

Permasalahan

1. Peningkatan kemampuan
manajerial pelaku UKM
melalui pelatihan dan
bimbingan teknis
2. Fasilitasi pelaku UKM
dalam memperoleh kredit
usaha dengan bunga
rendah

Perlunya pendataan tentang


jumlah Benda, situs dan
kawasan cagar budaya yang
ada di Kota Parepare

Faktor-Faktor Penentu

Hal. II-49

17.3

Penyelenggaraan
festival seni dan
budaya

Penyelenggaraan festival
budaya yang dilakukan
mulai meningkat dari 3
kali pada tahun 2008
menjadi 5 kali sejak
tahun 2009-2012

18
18.1

Kepemudaan dan Olahraga


Jumlah organisasi
Jumlah organisasi
pemuda
kepemudaan sebanyak 29
organisasi

18.2

Jumlah organisasi
olahraga

Organisasi olahraga yang


tercatat sebanyak 29
organisasi

Belum terpolanya
pemassalan dan
pembinaan olahraga

18.3

Jumlah kegiatan
kepemudaan

Jumlah kegiatan
kepemudaan sebanyak 36
Jenis

18.4

Jumlah kegiatan
olahraga

Jumlah kegiatan olah


raga sebanyak 6 jenis

18.5

Gelanggang/balai
remaja (selain
swasta)

Jumlah gelanggang/balai
remaja sampai tahun
2012 hanya 2 unit

18.6

Lapangan olahraga

Jumlah lapangan
olahraga sebanyak 174
buah (1,3%) dari jumlah
penduduk

Kegiatan kepemudaan
yang dilaksanakan belum
dikoordinasikan dengan
baik diantara organisasi
kepemudaan
Ketersediaan saran dan
prasarana olahraga
belum optimal dalam
mendukung kegiatan
keolahragaan
Kurangnya jumlah
gelanggang remaja jika
dibandingkan dengan
jumlah penduduk
Terbatasnya lahan untuk
lapangan olahraga

19

Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri

19.1

Kegiatan
Pembinaan
terhadap LSM,
Ormas dan LKP
Kegiatan
pembinaan politik
daerah

19.2

19.3

Jumlah LSM

Selama tahun 2012 hanya


dilaksanakan 1 kegiatan
Kegiatan pembinaan
politik daerah
dilaksanakan sebanyak 5
kali dalam tahun 2012
Jumlah LSM pada tahun
2012 sebanyak 51 LSM

1. Kurangnya Promosi
pelaksanaan Festival
seni dan budaya
sehingga masih
banyak masyarakat
yang tidak
mengetahui
2. Pelaksanaan Festival
Seni Budaya masih
cenderung bersifat
kedaerahan sehingga
belum mampu
menarik banyak
pengunjung dari luar
daerah
3. Anggaran
pelaksanaannya
masih bergantung
pada APBD

1. Peningkatan promosi
pelaksanaan Festival
2. Untuk menarik pengunjung
dari luar daerah maka
pelaksanaan festival seni
budaya harus ditingkatkan
menjadi skala propinsi
maupun nasional sehingga
perlu kerja sama dengan
pihak ketiga
3. Penganggaran pelaksanaan
Festival dilakukan melalui
kerja sama saling
menguntungkan dengan
pihak sponsor sehingga
anggaran yang dialokasikan
dalam APBD hanya sebagai
"pemicu" untuk menggalang
dana yang lebih besar dari
pihak sponsor

Belum adanya pola yang


jelas/baku tentang
pemberdayaan organisasi
pemuda

Memfasilitasi secara terbatas


baik teknis, manajemen maupun
dana dalam rangka mewujudkan
organisasi kepemudaan yang
mandiri
1. Meningkatkan pola pembinaan
atlet melalui olahraga pelajar
2. Perlunya prioritisasi cabang
olahraga yang akan
dikembangkan
Mendorong dan memfasilitasi
kegiatan kepemudaan untuk
meningkatkat produktifitas,
kreativitas dan prestasi generasi
muda
Fasilitasi sarana dan prasarana
olahraga yang memadai dan
berkualitas
Memfasilitasi pendirian
gelangggang/ balai remaja yang
baru
1.
2.

Memfasilitasi ketersediaan
lahan
Meningkatkan keterlibatan
pihak swasta/BUMN

Kurangnya perhatian
pemerintah dalam
membina LSM, Ormas
dan LKP

Peningkatan pelaksanaan
kegiatan pembinaan LSM, Ormas
dan LKP

Masih ada LSM yang


tidak aktif

Perlunya koordinasi yang baik


antara pemerintah dan LSM
dalam menjalankan fungsi
masing-masing

Hal. II-50

No
20
20.1

20.2
20.3

20.4

20.5

20.6

20.7

20.8

20.9

20.10

Faktor-Faktor
Penentu
Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah,
Kepegawaian dan Persandian
Rasio jumlah polisi
Rasio jumlah polisi pamong praja
1. Belum berimbangnya
1. Pengangkatan
pamong praja per
tahun 2012 adalah 3
jumlah Polisi Pamong
polisi
pamong
10.000 penduduk
Praja dengan jumlah
praja
sesuai
penduduk
kebutuhan
dan
2. Belum semua anggota
kondisi
Kota
polisi pamong praja
Parepare
bersertifikasi
2. Peningkatan
kompetensi Polisi
Pamomg
Praja
melalui
pendidikan
dan
pelatihan
Jumlah Linmas per
Hingga tahun 2012 jumlah
jumlah 10.000
Linmas masih nihil
penduduk
Rasio Pos Siskamling
Rasio Pos Siskamling per jumlah
Belum optimalnya
Peningkatan
per jumlah
desa/kelurahan adalah rata-rata
pemanfaatan Poskamling
kesadaran
desa/kelurahan
8 unit yang ada disetiap
dalam menjaga
masyarakat dalam
kelurahan
keamanan lingkungan
pemanfaatan
poskamling dalam
menjaga keamanan
lingkungan
Penegakan Perda
Penegakan Perda yang dilakukan
Jumlah Penyidik PNS
Meningkatkan
pada tahun 2012 adalah 60%
penegak Perda masih
kapasitas Penyidik
terbatas
PNS dan Satpol PP
dalam penegakan
Perda
Cakupan patroli
Jumlah patroli petugas satpol PP
Masih kurangnya sarana
Peningkatan
petugas Satpol PP
pada tahun 2012 adalah 153
dan prasarana patroli
ketersedian sarana
orang lebig rendanh dibanding
yang berdampak pada
dan prasarana Patroli
tahun 2011 (243 orang) dan
kurangnya intensitas
Satpol PP
tahun 2010 (557 orang)
cakupan patroli Satpol PP
Tingkat Penyelesaian
Pada tahun 2012, jumlah
Jumlah Penyidik PNS
Meningkatkan
pelanggaran K3
pelanggaran K3 adalah 183 kasus masih terbatas
kapasitas Penyidik
(Ketertiban,
dan yang ditangani mencapai 169
PNS dan Satpol PP
Ketentraman,
kasus (92,35%) lebih tinggi dari
dalam penyelesaian
Keindahan) di
capaian propinsi (91%)
pelanggaran K3
Kabupaten
Petugas
Hingga tahun 2012 jumlah
Perlindungan
Linmas masih nihil
Masyarakat (Linmas)
di Kaota
Cakupan pelayanan
Jumlah Mobil Pemadam
1. Sebagian sarana dan
1. Perlunya
bencana kebakaran
kebakaran pada tahun 2012
prasarana yang ada
peremajaan
kota
sebanyak 7 unit jika dibanding
telah dimakan usia
sarana
dan
dengan jumlah penduduk
2. Masih
kurangnya
prasarana
(131.915 jiwa) rasionya 0,01%
kapasitas
petugas
2. Meningkatkan
pemadam kebakaran
kapasitas
petuga
pemadam
kebakaran
melalui
pendidikan dan
pelatihan dasar
dan lanjutan
Tingkat waktu
Data tidak ada
tanggap (response
time rate) daerah
layanan Wilayah
Manajemen
Kebakaran (WMK)
Cakupan sarana dan
Dalam kurun waktu tahun 2008prasarana
2012, cakupan sarana dan
perkantoran
prasarana perkantoran
Indikator Kinerja

Interpretasi Capaian Target

Permasalahan

Hal. II-51

pemerintahan desa
yang baik

No
21
21.1

Indikator
Kinerja
Ketahanan
Pangan
Regulasi
ketahanan
pangan

pemerintahan /kelurahan yang


baik sudah rata-rata 100%

Interpretasi Capaian
Target

Ketersediaan
pangan utama

22
22.1

Pemberdayaan Masyarakat dan Desa


Rata-rata
Dalam kurun waktu lima
jumlah
tahun terakhir rata-rata LPM
kelompok
hanya membina 10
binaan lembaga
kelompok. Capaian ini lebih
pemberdayaan
baik dibanding rata-rata
masyarakat
propinsi yang hanya 1
(LPM)
kelompok binaan per LPM
Rata-rata
Jumlah kelompok binaan PKK
jumlah
dalam lima tahun terakhir
kelompok
rata-rata 10 kelompok
binaan PKK
Jumlah LSM
Jumlah LSM pada tahun
2012 sebanyak 51 LSM

22.3

Faktor-Faktor Penentu

Regulasi ketahanan pangan


Dengan ketiadaan regulasi
Perlunya penyusunan
diperlukan untuk mendukung ketahanan pangan maka
Regulasi ketahanan pangan
pemberdayaan masyarakat
pemberdayaan masyarakat
dalam pemenuhan hak atas
dalam pemenuhan hak atas
pangan, namun hingga
pangan akan berjalan tanpa
tahun 2013 regulasi
aturan hukum yang jelas
ketahanan pangan belum
ada
Pada tahun 2012, rata-rata
1. Sebagian besar pangan
1. Perlunya peningkatan
ketersediaan pangan utama
utama (beras) berasal
produksi lokal untuk
mencapai 25.958 ton untuk
dari daerah sekitar
memenuhi kebutuhan
memenuhi kebutuhan
karena produksi lokal
pangan utama
132.048 jiwa penduduk
belum mampu
2. Perlunya menjaga
memenuhi kebutuhan
kelancaran sistem dan
masyarakat
jalur distribusi pangan
2. Ketersediaan pangan
utama sangat tergantung
pada kelancaran
distribusi pangan

21.2

22.2

Permasalahan

22.4

LPM Berprestasi

Dari 110 jumlah LPM pada


tahun 2012, 6 diantaranya
merupakan LSM berprestasi
(5,45%) lebih baik dibanding
capaian propinsi (0,96%)

22.5

PKK aktif

Selama periode 2008 - 2012


tercatat ada 27 PKK dan
semuanya aktif dalam
pemberdayaan masyarakat
(100%)

22.6

Posyandu aktif

Jumlah posyandu yang


tercatat tahun 2012
sebanyak 115 posyandu dan
yang aktif memberikan
pelayanan kesehatan
sebanyan 112 posyandu

Jumlah kelompok yang


dibina oleh LPM cenderung
stagnan

Perlunya peningkatan jumlah


kelompok binaan untuk
setiap LPM

Jumlah kelompok yang


dibina oleh PKK cenderung
stagnan

Perlunya peningkatan jumlah


kelompok binaan PKK untuk
meningkatkan upaya
pemberdayaan masyarakat
Perlunya penyusunan
Database dan pembinaan
terhadap jumlah LSM yang
aktif bergerak dalam
pemberdayaan masyarakat
Pemerintah daerah harus
melakukan penilaian dan
pemberian reward bagi LPM
yang berhasil dalam
pemberdayaan masyarakat

Data LSM aktif belum


terinventaris dengan baik
khususnya LSM yang
bergerak di bidang
pemberdayaan masyarakat
Masih rendahnya aktivitas
penghargaan yang
dilakukan oleh pemerintah
daerah dalam menilai
kinerja LPM di bidang
pemberdayaan masyarakat
Koordinasi antara Tim
Penggerak PKK tingkat kota
dengan TP PPK tingkat
kecamatan dan kelurahan
masih kurang

1.
2.

Beberapa kader
posyandu belum
terlatih
Sarana dan prasarana
Posyandu masih
terbatas

1. Peningkatan koordinasi
antar TP PKK di semua
tingkatan
2. Perlunya revitalisasi
peran PKK sehingga
dapat berperan lebih
besar dalam upaya
pemberdayaan
masyarakat dan
pengentasan kemiskinan
1. Meningkatkan kualitas
kader posyandu melalui
pelatihansecara reguler
2. Inventarisasi dan
peningkatan sarana dan
prasarana posyandu

Hal. II-52

(97,39%). Capaian ini masih


rendah dibanding capaian
propinsi (98,,89%)

No

Indikator Kinerja

22.6

Posyandu aktif

23
23.1

Statistik
Buku
"Kabupaten/Kota
Dalam Angka"

3.

Biaya transportasi
kader posyandu masih
terbatas
(Rp.65.000/bulan)

Interpretasi Capaian Target

Permasalahan

Jumlah posyandu yang tercatat


tahun 2012 sebanyak 115
posyandu dan yang aktif
memberikan pelayanan kesehatan
sebanyan 112 posyandu
(97,39%). Capaian ini masih
rendah dibanding capaian
propinsi (98,,89%)

1. Beberapa kader
posyandu belum
terlatih
2. Sarana dan prasarana
Posyandu masih
terbatas
3. Biaya transportasi
kader posyandu masih
terbatas
(Rp.65.000/bulan)

Buku Parepare Dalam Angka


sudah tersedia

1.

2.

23.2

Buku " PDRB


Kabupaten/Kota"

24
24.1

Kearsipan
Pengelolaan arsip
secara baku

3. Peningkatan biaya
transportasi kader
posyandu

Format Data yang


disajikan dalam DDA
sangat
kaku
sehingga
banyak
data
yang
dibutuhkan
untuk
perencanaan
pembangunan
daerah tidak tersedia
Penyelesaian
penyusunan
DDA
sangat
terlambat
biasanya
diakhir
tahun

Buku PDRB telah tersedia

Penyelesaian penyusunan
PDRB sangat terlambat
biasanya pada akhir
tahun

Dari 33 SKPD yang ada baru 5


SKPD (15,15%) yang mengelola
arsip secara baku

1. Ketersediaan tenaga
arsiparis sangat
terbatas
2. Pengelolaan Arsip di
SKPD masih apa
adanya belum dikelola
sesuai dengan kaidah
kearsipan
3. Belum
dilaksanakannya UU
no. 43 Tahun tentang
Kearsipan yang
mengamanatkan
pembentukan unit
kearsipan di setiap
SKPD

Faktor-Faktor
Penentu
1. Meningkatkan
kualitas
kader
posyandu melalui
pelatihansecara
reguler
2. Inventarisasi dan
peningkatan
sarana
dan
prasarana
posyandu
3. Peningkatan biaya
transportasi kader
posyandu
1.

Perlunya
perubahan
format
data
sehingga
data
yang tersaji lebih
sesuai
dengan
kebutuhan
perencanaan
pembangunan
daerah
2. Perlunya
percepatan
penyelesaian
Buku
DDA
sehingga
data
yang
tersaji
dapat
dimanfaatkan
dalam
penyusunan
dokumen
perencanaan
Perlunya percepatan
penyelesaian Buku
PDRB sehingga data
yang tersaji dapat
dimanfaatkan dalam
penyusunan dokumen
perencanaan
1. Penyediaan
tenaga arsiparis di
semua SKPD
2. Peningkatan SDM
pengelola
kearsipan
agar
dapat
menerapkan
kaidah kearsipan
dalam
pengelolaan arsip
3. Mendorong semua
SKPD
untuk
membentuk unit
pengelola
arsip
sesuai ketentuaa

Hal. II-53

4. Ketersediaan sarana
dan prasarana
kearsipan masih
terbatas

No
24.2

Indikator Kinerja
Peningkatan SDM
pengelola kearsipan

Interpretasi Capaian Target


Jumlah kegiatan peningkatan
SDM Pengelola kearsipan
sebanyak 2 kali

Permasalahan
1.

2.

Ketersediaan dan
kapasitas SDM
pengelola arsip
belum memadai
Belum optimalnya
pembinaan
pengelolaan
kearsipan di SKPD
karena kurangnya
tenaga arsiparis

25.1
25.2

Komunikasi dan Informatika


Jumlah jaringan
Jumlah jaringan komunikasi yang
komunikasi
ada sebanyak 85 jaringan

25.3

Rasio wartel/warnet
terhadap penduduk

Jumlah warnet pada tahun 2012


sebanyak 21 unit jika
dibandingkan dengan jumlah
penduduk maka rasionya
mencapai 1 : 6.288

25.4

Jumlah surat kabar


nasional/lokal

Jumlah surat kabar nasional yang


beredar adalah 8 jenis

25.5

Jumlah penyiaran
radio/TV lokal

Pada tahun 2012 Jumlah


penyiaran radio adalah 3 unit
dan jumlah TV Lokal 1 unit

1. Kualitas stasiun televisi


lokal dan siaran radio
lokal masih rendah
baik dari segi sarana
dan prasaran maupun
konten siaran
2. Kurangnya tenaga
komisioner yang
memantau konten
penyiaran TV lokal dan
siaran Radio Lokal

25.6

Website milik
Pemerintah Daerah

Sejak beberapa tahun terakhir


pemerintah daerah telah memiliki
website

Website pemerintah
belum dapat memberikan
informasi tentang
pelaksanaan kegiatan
pembangunan dan hasil-

Jaringan komunikasi
seluler di beberapa
wilayah (khususnya
daerah kota atas)
memiliki kualitas yang
rendah
Distribusi warnet belum
merata masih terfokus
pada wilayah kota
sehingga beberapa
wilayah lainnya belum
terdapat warnet
Penyajian informasi
penyelenggaraan
pemerintah daerah yang
up to date melalui surat
kabar masih terbatas

peraturan
perundangundangan
4. Peningkatan
sarana
prasarana
kearsipan

dan

Faktor-Faktor
Penentu
1. Peningkatan
jumlah dan
kapasitas SDM
pengelola arsip
melalui diklat atau
bintek
2. Penyediaan
tenaga arsiparis di
semua SKPD

Peningkatan kualitas
jaringan komunikasi
seluler di beberapa
wilayah bagian kota
atas
Penyediaan saranan
dan prasarana
jaringan komunikasi
pada wilayah yang
belum tersedia
warnet
1. Peningkatan
jumlah, kualitas
dan kapasitas
surat kabar lokal
2. Peningkatan
peran pemerintah
dalam
peningkatan
kualitas dan
kapasitas
pemerintah
daerah
1. Peningkatan
Fasilitasi
pemerintah
daerah dalam
peningkatan
sarana dan
prasarana serta
konten siaran
2. Peningkatan
peran serta
masyarakat dalam
memantau konten
penyiaran TV
Lokal/Siaran
Radio Lokal
Peningkatan
pengelolaan website
pemerintah, termasuk
pengembangan SDM
pengelola, sarana dan
prasarana maupun

Hal. II-54

hasil pembangunan yang


telah dicapai
25.7

Pameran/expo

No

Indikator Kinerja

26
26.1

Perpustakaan
Jumlah Perpustakaan

26.2

26.3

1
1.1

1.2

Pada tahun 2012 dilaksanakan 1


(satu) kali pameran / expo

Interpretasi Capaian
Target

Jumlah pelaksanaan
kegiatan pameran/expo
sangat kurang

peningkatan jumlah
informasi yang
disajikan
Perlunya peningkatan
peran pemerintah
dalam
penyelenggaraan
pameran /expo

Permasalahan

Faktor-Faktor Penentu

Total jumlah perpustakaan


yang ada di Kota Parepare
adalah sebanyak 212 buah
yang terdiri dari
perpustakaan milik
pemerintah daerah 1 unit,
dan Perpustakaan diluar
milik Pemda.

1. Jumlah dan jenis buku


yang ada belum
memadai
2. Jenis buku untuk
siswa dan mahasiswa
sangat terbatas
3. Kurangya tenaga
pustakawan

Persentase
pengunjung
perpustakaan per
tahun

Pada tahun 2012


persentase pengunjung
perpustakaan per tahun
adalah 94,33 %

Jumlah kunjungan
pengunjung
perpustakaan sangat
rendah menunjukkan
kurangnya minat baca
masyarakat karena belum
tumbuhnya budaya baca
di lingkungan keluarga

1. Peningkatan
alokasi
anggaran pemerintah
untuk memperbanyak
jumlah dan jenis buku
2. Pengadaan
buku
berkualitas
untuk
kalangan
mahasiswa
untuk
mendukung
berkembangnya
pendidikan tinggi di
Kota Parepare
3. Peningkatan
SDM
tenaga pustakawan
1. Peningkatan fasilitas
serta pengelolaan
perpustakaan untuk
meningkatkan jumlah
kunjungan
2. Peningkatan peran
pemerintah untuk
memacu minat baca
masyarakat khususnya
siswa dan mahasiswa
3. Peningkatan frekuensi
Perpustakaan keliling

Koleksi buku yang


tersedia di
perpustakaan daerah

Koleksi buku yang ada


diperpustakaan kota pada
tahun 2012 sebesar
34,09%

Koleksi buku sangat


terbatas baik dari segi
judul maupun jenis buku

Peningkatan anggaran
pengadaan buku untuk
memperbanyak judul dan
jenis buku

Produktifitas padi dalam 5


tahun terkahir mengalami
penurunan dari 5,09 ton
pada tahun 2008 berkurang
menjadi 3,51 ton pada
tahun 2012.

1. Penyediaan sarana
produksi (benih dan
pupuk) belum
memenuhi prinsip
5T(tepat, waktu, tepat
jenis, tepat jumlah,
tepat tempat dan tepat
harga)
2. Belum optimalnya
dukungan sarana dan
prasarana pertanian
3. Sebagian lahan
merupakan sawah
tadah hujan

1. Ketersediaan
sarana
produksi
yang
memenuhi prinsip 5T
2. Perluasan
jaringan
irigasi dan peningkatan
alat mesin pertanian
3. Fasilitasi
permodalan
dan pembiayaan usaha
tani

Kontribusi sektor pertanian


/perkebunan cenderung
mengalami penurunan,
tahun 2008 sektor pertanian

Berkurangnya kontribusi
sektor pertanian
berbanding lurus dengan
berkurangnya

1. Peningkatan sarana dan


prasarana pertanian

URUSAN PILIHAN
Pertanian
Produktivitas padi
atau bahan pangan
utama lokal lainnya
per hektar

Kontribusi sektor
pertanian/
perkebunan terhadap
PDRB

Hal. II-55

1.3

No

Konstribusi sektor
pertanian (palawija)
terhadap PDRB

Indikator Kinerja

1.5

Kontribusi produksi
kelompok petani
terhadap PDRB

1.6

Cakupan bina
kelompok petani

2
2.1

Kehutanan
Rehabilitasi hutan
dan lahan kritis

2.2

2.3

berkontribusi 7,51%
terhadap PDRB, namun
pada tahun 2012 hanya
berkotribusi 5,81%. Capaian
ini jauh lebih rendah
dibanding propinsi (24,79%)

pendapatan petani yang


mengakibatkan
berkuranganya daya beli
petani

Kontribusi pertanian
palawija juga mengalami
penurunan dari 2,18% pada
tahun 2008 berkurang
menjadi 0,31%. Capaian ini
jauh di bawah capaian
propinsi (12,08%)

Produksi palawija dalam


lima tahun terakhir
berkurang drastis
menyebabkan
berkurangnya
pendapatan petani

Interpretasi Capaian
Target
Kontribusi kelompok petani
dalam PDRB tahun 2012
mencapai 4.937 ton (79,75%)

Permasalahan

2. Fasilitasi permodalan
dan pembiayaan usaha
tani
3. Perbaikan dan
peningkatan mutu hasil
perkebunan
(pengolahan pasca
panen)
1.
2.
3.

Peningkatan sarana dan


prasarana pertanian
Fasilitasi permodalan
dan pembiayaan usaha
tani
Perbaikan dan
peningkatan mutu hasil
perkebunan
(pengolahan pasca
panen)
Faktor-Faktor Penentu

Produktifitas lahan yang


dikelola kelompok tani
sangat berkurang dalam
5 tahun terakhir

1. Peningkatan peran
pemerintah dalam
pembinaan dan
penyuluhan bagi
kelompok petani
2. Fasilitasi permodalan
dan pembiayaan bagi
usaha kelompok tani

Cakupan bina kelompok tani


pada tahun 2012 sebesar
45,98%

Terbatasnya anggaran
bantuan yang
dialokasikan pemerintah
untuk pembinaan
kelompok tani

Peningkatan alokasi
anggaran untuk bantuan
kelompok tani

Luas hutan dan lahan kritis


pada tahun 2012 mencapai
490 Ha namun yang telah
direhabilitasi sekitar 10 Ha
(2,04%)

1. Kurangnya sumber
daya pemerintah
dalam melakukan
rehabilitasi hutan dan
lahan kritis
2. Meningkantya
deforestrasi dan
degradasi hutan
3. Rendahnya
pengawasan hutan

Kerusakan kawasan
hutan

Kerusakan kawasan hutan


mencapai 100 Ha (4%) dari
total luas hutan sebesar 2.499
Ha. Capaian ini masih lebih
baik dari propinsi yang
mencatat 12% kawasan hutan
yang rusak

1. Meningkantya
deforestrasi dan
degradasi hutan
2. Rendahnya
pengawasan hutan

Kontribusi sektor
kehutanan terhadap
PDRB

Sektor kehutanan
berkontribusi 0,69% (Rp.
16,350 M) dari total PDRB
Kota Parepare

Luas Hutan yang ada di


Parepare relatif kecil
sehingga secara ekonomi
tidak dapat berkontribusi
besar dan dikhawatirkan
peningkatan PDRB dari
sektor kehutanan justru
menambah luas lahan
kritis

1. Penyelesaian tata
batas kawasan hutan
dan peningkatan
pengelolaan kawasan
hutan
2. Peningkatan
pengawasan hutan
3. Pembinaan dan
pemberdayaan
masyarakat di sekitar
lokasi hutan
1. Penyelesaian tata
batas kawasan hutan
dan peningkatan
pengelolaan kawasan
hutan
2. Peningkatan
pengawasan hutan
3. Pembinaan dan
pemberdayaan
masyarakat di sekitar
lokasi hutan
Peningkatan Pengelolaan
kawasan hutan dengan
memperhatikan

Hal. II-56

3
3.1
3.2

3.3
3.4

No
3.5

Peternakan
Peningkatan Populasi
ternak besar (% dari
populasi)
Pelayanan umum
kesehatan hewan (%
dari laporan kasus)
Pelayanan Inseminasi
Buatan (% dari
Laporan Kasus)
Pengendalian
penyakit
menular/zoonosis
ternak Brucellosis (%
dari jumlah kasus)

Indikator Kinerja
Pengendalian
penyakit
menular/zoonosis
Avian Influensa (%
dari jumlah kasus)

Data Tidak Ada


Persentase Pelayanan umum
kesehatan yang dilaksanakan
selama tahun 2010 - 2012
sebesar 90%
Data Tidak Ada

Masih terbatasnya
sarana dan prasarana
fasilitas pelayanan
kesehatan hewan

Pengendalian penyakit
menular/zoonosis ternak
Brucellosis yang dilaksanakan
tahun 2011 mencapai 25%
dan tahun 2012 meningkat
mencapai 75%

Belum semua kasus


1. Peningkatan pelayanan
penyakit
penyakit
menular/zoonosis ternak
menular/zoonosis ternak
Brucellosis dapat
Brucellosis
ditangani sehingga dapat 2. Peningkatan kapasitas
menular ke hewan
petugas pelayanan
lainnya
penyakit menular hewan
3. Peningkatan
Pemeliharaan kesehatan
dan pencegahan
penyakit menular ternak

Interpretasi Capaian
Target
Pengendalian penyakit
menular zoonosis Avian
Influensa mencapai 60%

Peningkatan sarana dan


prasarana Fasilitas
kesehatan hewan

Permasalahan
1.

2.

3.

3.6

Pencegahan penyakit
Anthrax dan penyakit
strategis ternak
lainnya (% dari
populasi)

Persentase pencegahan
penyakit anthrax dan
penyakit strategis ternak
lainnya baru mencapai
33%

1.
2.

3.
3.7

Pencegahan penyakit
rabies pada hewan
kesayangan (% dari
populasi)

Pada tahun 2012


pencegahan penyakit
rabies mencapai 60%

1.
2.

3.

Faktor-Faktor
Penentu
Peningkatan
pelayanan penyakit
menular/zoonosis
Avian Influensa
Peningkatan
kapasitas petugas
pelayanan penyakit
menular hewan
Peningkatan
Pemeliharaan
kesehatan
dan
pencegahan
penyakit
menular
ternak
Peningkatan
kapasitas
SDM
peternakan
Pemeliharaan
kesehatan
dan
pencegahan
penyakit
menular
ternak
Peningkatan
pengawasan
perdagangan ternak
Peningkatan
pelayanan penyakit
rabies
Peningkatan
kapasitas petugas
pelayanan penyakit
menular hewan
Peningkatan
Pemeliharaan
kesehatan
dan
pencegahan
penyakit
menular
ternak

Hal. II-57

3.8

3.9

4
4.1

No
4.2
5
5.1

Ketersediaan
Posyandu (Pos
Pelayanan Terpadu(
penyakit ternak dan
hewan
kesayangan/hobby
yang beroperasi
Regulasi sistem
usaha pola kemitraan
untuk ternak unggas
potong yang pro
kepada masyarakat
peternak
Pariwisata
Kunjungan
Wisata(orang)

Data Tidak Ada

Data Tidak Ada

Jumlah pengunjung wisata


dalam 5 tahun terakhir
mengalami peningkatan,
pada tahun 2008
mencapai 225.594 orang
meningkat menjadi
489.580 orang pada tahun
2012

Interpretasi Capaian
Target
Kontribusi sektor
Kontribusi sektor
Pariwisata terhadap
pariwisata pada tahun
PDRB
2012 mencapai
Kelautan dan Perikanan
Produksi Perikanan
Pada tahun 2012 produksi
perikanan ditargetkan
3.400 ton namun yang
terealisasi 3.329 ton
(97,91%)
Indikator Kinerja

5.2

Konsumsi Perikanan

5.3

Cakupan Bina
kelompok Nelayan

Pada tahun 2012,


konsumsi perikanan
ditargetkan 31,92 Kg
namun yang terealisasi
hanya 30,,92 Kg (96,87%).
Capaian ini lebih rendah
dari propinsi yang mencpai
41,40 Kg
Pada tahun 2011, ada 45
kelompok nelayan dan
semuanya memperoleh
bantuan dari pemerintah.
Adapun tahun 2012 belum
terdata

1. Sarana dan prasarana


pariwisata sangat terbatas
2. Belum adanya Rencana
Induk Pengembangan
Pariwisata
3. Kurangnya Promosi
pariwisata
4. Sangat terbatasnya ikon
pariwisata yang dapat dijual
5. Belum ada kegiatan
tahunan/festival yang dapat
menarik pengunjung dari luar
daerah
6. Parepare bukan merupakan
Daerah Tujuan Wisata
utama

Permasalahan

1. Pengembangan
sarana
dan
prasarana
Pariwisata
2. Penyusunan
Rencana
Induk
Pengembangan
Pariwisata
3. Penyelenggaraan
even wisata sebagai
agenda
tahunan
dengan melibatkan
pihak ketiga
4. Peningkatan
promosi wisata

Faktor-Faktor Penentu

1. Produksi perikanan masih


didominasi oleh
perikanan tangkap
2. Keterbatasan sarana dan
prasarana armada kapal
penangkap ikan
3. Pengelolaan hasil
perikanan tangkap masih
tradisional

1. Pengembangan
budidaya perikanan
2. Peningkatan sarana
dan prasaranA
perikanan tangkap
3. Pengembangan SDM
masyarakat pesisir
dalam pengelolaan
hasil perikanan melalui
pelatihan dan
pendampingan

Penurunan ketersediaan
ikan

1. Pembinaan produk nilai


tambah dan diseminasi
teknologi pengolahan
2. Peningkatan mutu
produk hasil perikanan

Tidak adanya monitoring


dan evaluasi terhadap
dampak bantuan yang
diberikan terhadap
peningkatan produksi
perikanan

1. Meningkatkan
pembinaan dan
pemberdayaan
kelompok nelayana
2. Inovasi teknologi pada
usaha perikanan

Hal. II-58

5.4

Produksi perikanan
kelompok nelayan

6
6.1

Perdagangan
Kontribusi sektor
perdagangan
terhadap PDRB

No
6
6.1

Indikator Kinerja
Perdagangan
Kontribusi sektor
perdagangan
terhadap PDRB

Produksi perikanan
kelompok nelayan hanya
sekitar 798,96 ton (24%)
dari total produksi tahun
2012 sebesar 3.329 ton.
Angka ini sangat rendah
dibanding capaian propinsi
(72%)

1. Produktifitas kelompok
nelayan masih rendah
2. Produksi kelompok
nelayan sangat
bergantung pada hasil
tangkapan
3. Keterbatasan
infrastruktur, sarana dan
prasarana perikanan
tangkap

Kontribusi sektor
perdagangan terhadap
PDRB tahun 2012
mencapai Rp. 257,269 juta
(28,84%) dari total PDRB,
lebih tinggi dibanding ratarata propinsi (17%)

Masih besarnya potensi


peningkatan sektor
perdagangan

Interpretasi Capaian
Target
Kontribusi sektor perdagangan
terhadap PDRB tahun 2012
mencapai Rp. 257,269 juta
(28,84%) dari total PDRB,
lebih tinggi dibanding rata-rata
propinsi (17%)

1. Pendampingan dan
pemberdayaan
kelompok nelayan
2. Peningkatan produksi
melalui budidaya
perikanan (perikanan
darat dan keramba
jaring apung)
3. Pengembangan SDM
Kelompok nelayan
dalam kelembagaan
dan pengelolaan hasil
perikanan melalui
pelatihan dan
pendampingan
1. Optimalisasi peran
sektor perdagangan
terhadap PDRB
2. Peningkatan koordinasi
antara pemerintah
dengan stakeholders
lainnya dalam upaya
memacu kontribusi
sektor perdagangan
terhadap PDRB
3. Peningkatan dan
pemanfaatan
infrastruktur
perdagngan

Faktor-Faktor
Penentu

Permasalahan
Masih besarnya potensi
peningkatan sektor
perdagangan

4.

5.

6.

6.2
6.3

7
7.1

Ekspor bersih
perdagangan
Cakupan Bina
Kelompok
Pedagang/usaha
informal
Perindustrian
Kontribusi sektor
industri terhadap
PDRB

Optimalisasi peran
sektor
perdagangan
terhadap PDRB
Peningkatan
koordinasi antara
pemerintah
dengan
stakeholders
lainnya
dalam
upaya
memacu
kontribusi sektor
perdagangan
terhadap PDRB
Peningkatan dan
pemanfaatan
infrastruktur
perdagngan

Data Tidak Ada


Data Tidak Ada

Pada tahun 2008, Sektor


industri mampu berkontribusi
sebesar Rp. 19,214 Juta
(2,93%) dan pada tahun 2012

1.

Industri
yang
ada
didominasi oleh industri
rumah tangga dan
industri kecil lainnya

1.

Pembinaan industri
rumah tangga dan
industri
kecil
lainnya

Hal. II-59

sebesar Rp. 22.972 juta


(2,58%) dari total PDRB,
capaian ini lebih rendah dari
propinsi sebesar 12,23 %

2.

Tidak adanya investasi


pada sektor industri
pengolahan

7.2

Kontribusi industri
rumah tangga
terhadap PDRB sektor
industri

Kontribusi industri rumah


tangga terhadap PDRB sektor
industri pada tahun 2012
sebesar Rp. 12,450 Milyard
(24,68%) dari total PDRB
sektor industri sebesar Rp.
50,448 Milyard.

Produktifitas industri rumah


tangga masih rendah

7.3

Pertumbuhan industri

Dalam lima tahun terakhir


pertumbuhan industri
menunjukka tren positif, pada
tahun 2008 terdapat 1.146
unit usaha dan pada tahun
2012 meningkat menjadi
1.353 unit usaha

1.

Pada tahun 2012, pemerintah

Masih kurangya peran


pemerintah dalam
pembinaan pengrajin

7.4

Cakupan bina
kelompok pengrajin

daerah baru membina 47,94


% pengrajin

Pertumbuhan industri
masih didominasi oleh
industri rumah tangga
dan industri kecil
Tidak adanya investasi
di
sektor
industri
pengolahan

2.

2.

Penyusunan
regulasi
yang
dapat
menarik
investor
3. Penciptaan
iklim
investasi
yang
lebih baik
1. Peningkatan
produktifitas
industri rumah
tangga melalui
pembinaan dan
bantuan peralatan
2. Peningkatan
manajemen usaha
1. Pembinaan industri
rumah tangga dan
industri
kecil
lainnya
2. Penyusunan
regulasi
yang
dapat
menarik
investor
3. Penciptaan
iklim
investasi
yang
lebih baik
Meningkatkan peran
pemerintah dalam
pembinaan dan
pemberdayaan
pengrajin

2) Isu-Isu Strategis
Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan
dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi
entitas (daerah/masyarakat) dimasa datang. Suatu kondisi/kejadian yang
menjadi isu trategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi, akan
menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya, dalam hal tidak
dimanfaatkan,

akan

menghilangkan

peluang

untuk

meningkatkan

kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Beberapa isu strategis yang


cukup relevan di Kota Parepare adalah:
a)

Isu Strategis di Tingkat Global


Perubahan Iklim dan Pemanasan Global
Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warning)
pemicu

utamanya

adalah

meningkatnya

emisi

karbon

akibat

Hal. II-60

penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya,


yang tidak dapat diperbarui).
Isu Global warning adalah permasalahan lingkungan hidup
perkotaan. Perencanaan perkotaan yang tidak berwawasan lingkungan
pasti akan mengalami kemunduran secara ekologis yang diakibatkan
terjadinya ketidakharmonisan antara hubungan manusia dengan
lingkungan hidup. Hal ini berimplikasi meningkatnya suhu udara
diperkotaan.

Penurunan

air

tanah,

banjir/genangan,

penurunan

permukaan tanah, intrusi air laut, abrasi pantai, pencemaran air oleh
bakteri dan unsur logam, pencemaran udara seperti peningkatan debu,
kadar karbon monoksida (CO), Ozon (O3), karbon Dioksida (CO2),
Oksida Nitrogen (NO) dan Belerang (SO)m serta suasana yang gersang,
monoton, bising dan kotor, Olehnya itu untuk menuju perencanaan kota
yang berwawasan lingkungan diperlukan penataan ruang kota yang
sedapat mungkin disesuaikan dengan kondisi bio-geografi lingkungan
alaminya. Kebijakan penataan ruang mutlak menerapkan keseimbangan
antara ruang binaan dan ruang alam sehingga proses asimilasimetabolisme alami dalam lingkungan perkotaan tetap bias berlangsung
secara alami dengan tersedianya Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Pengarusutamaan Gender
Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang
Pengarusutamaan

Gender,

yang

bertujuan

untuk

menurunkan

kesenjangan antara perempuan dan laki-laki dalam mengakses dan


memperoleh manfaat pembangunan, serta meningkatkan partisipasi
dalam

dan

penguasaan

terhadap

proses

pembangunan,

maka

pengarusutamaan Gender ini menjadi salah satu isu strategis


pembangunan di Kota Parepare. Selanjutnya berdasarkan Permendagri
Nomor 67 Tahun 2011, setiap Pemerintah Daerah wajib menyusun
kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang responsif gender
ke dalam Dokumen RPJMD, Renstra SKPD dan Renja SKPD. Oleh karena
itu dalam RPJMD Kota Parepare Tahun 2013-2018 ini, semua yang
terkait dengan responsif gender sudah harus dimasukkan.

Hal. II-61

Pembangunan Berkelanjutan
Dalam menghadapi Pembangunan Berkelanjutan

di Kota

Parepare, tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan namun juga


harus memperhatikan isu lainnya yang mencakup tiga lingkup kebijakan
yaitu : pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan
lingkungan. Ketiga hal tersebut saling terkait dan merupakan pilar
pendorong bagi pembangunan berkelanjutan, oleh karena itu maka
Pemerintah Kota Parepare harus saling terpadu berupaya secara
maksimal mengembangkan potensi sumberdaya pembangunan yang
memperhitungkan keuntungan dan manfaat rakyat banyak.
Terkait

dengan

Pembangunan

Berkelanjutan

maka

Perencanaan menjadi titik awal dalam proses pembangunan, sehingga


keterlibatan seluruh stake holders sangat diperlukan dalam langkah awal
yang sangat menentukan tersebut. Pengembangan suatu wilayah,
tentunya memerlukan kajian yang sangat mendalam agar supaya prinsip
berkelanjutan dapat terpenuhi. Mekanisme dalam penyelenggaraan
pembangunan akan baik apabila sesuai dengan alur proses manajemen,
mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan serta pemantauan dan
evaluasi.
Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Konsep utama dari AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN
adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan
basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor
produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan
antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi
kemiskinan

dan

kesenjangan

ekonomi

diantara

negara-negara

anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan.


Konsep tersebut diharapkan dapat membentuk kawasan ini lebih
dinamis serta kompetitif dibanding kawasan lainnya melalui mekanisme
dan pengukuran baru.
Pada 2015 mendatang, kesepakatan Masyakarat Ekonomi
ASEAN atau pasar bebas ASEAN tersebut mulai berlaku, oleh karena itu
Kota Parepare harus mengantisipasi dampak dari pemberlakukan MEA
tersebut dengan cara meningkatkan produk-produk unggulan yang ada

Hal. II-62

di Kota Parepare baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya serta


pembinaan terhadap seluruh pelaku usaha kecil dan menengah (UKM)
yang akan memiliki dampak besar terhadap dalam pemberlakuan
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 ini.
b) Isu Strategis di Tingkat Nasional
Keberlanjutan Desentralisasi dan Otonomi Daerah
UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disertai dengan
berbagai peraturan pelaksanaannya telah mengamanatkan perlunya upayaupaya terkoordinasi secara nasional untuk menjamin tercapainya tujuan dan
sasaran

kebijakan

Otonomi

Daerah.

Pemerintah

daerah

dengan

keleluasaannya untuk menentukan struktur organisasi serta mengelola


sumber daya manusianya sendiri, telah memungkinkan menentukan alokasi
anggaran belanja berdasarkan kebutuhan dan prioritasnya. Salah satu faktor
penting yang mempengaruhi keberhasilan implementasi otonomi daerah
adalah kapasitas atau tingkat kemampuan daerah dalam berbagai bidang
yang relevan.
Oleh karena itu Kota Parepare dalam menghadapi globalisasi,
teknologi, dan perubahan sosial yang mengakibatkan dampak yang besar
terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah, harus sudah siap
menghadapi perubahan-perubahan tersebut dengan jalan memberikan
pelayanan yang lebih optimal kepada masyarakat dalam keterbatasan
anggaran yang ada, meningkatkan kemampuan aparat Pemerintah daerah
dalam berpikir, bersikap, bertindak kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan
peluang-peluang serta mengatasi tantangan dalam perubahan yang begitu
cepat.
Peningkatan Daya Saing
Isu utama pembangunan Nasional dalam lima tahun ke depan adalah
peningkatan daya saing. Di dalam dokumen RPJP Nasional 2005-2025
disebutkan secara tegas bahwa substansi utama RPJM Nasional Tahapan
Ketiga (2015-2019) adalah memantapkan pembangunan secara menyeluruh
dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian
yang berbasis pada sumberdaya alam yang tersedia, sumberdaya manusia
yang berkualitas, dan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

Hal. II-63

Dalam kaitan ini, Kota Pare-Pare perlu menempatkan isu tersebut dalam
desain perencanaan pembangunan daerahnya untuk lima tahun ke depan.
Kota Pare-Pare perlu memastikan bahwa seluruh sumberdaya yang
dimilikinya dapat dioptimalkan untuk mendorong peningkatan daya saing
daerah.
Perwujudan Tata Kelola Pemerintahan (Good Governance)
Salah satu instrumental input yang signifikan pengaruhnya terhadap
penyelenggaraan pemerintahan di Kota Pare-Pare adalah perwujudan good

governance. Aspek ini bukan lagi merupakan tuntutan, melainkan


kebutuhan. Implikasi dari praksis ini terletak pada dua hal: pertama,
kesadaran kolaboratif dalam mengelola kepemerintahan yang tidak hanya
melibatkan kelembagaan pemerintah, tetapi juga kelembagaan dunia usaha
dan

kelembagaan

masyarakat.

Kedua,

bahwa

kolaborasi

dalam

kepemerintahan tersebut berlangsung dalam saling kontrol akuntabilitas,


transparansi, dan supremasi hukum diantara ketiga ruang kelembagaan. Hal
ini akan menjadi tantangan bagi pemerintah Kota Pare-Pare, karena
bagaimanapun kelembagaan pemerintahlah yang harus mengambil inisiatif
bagi keberlanjutan praksis ini.
c)

Isu Strategis di Tingkat Regional


Rencana Pengembangan Infrastruktur Kereta Api
Dari sisi geografis, Kota Parepare berjarak 155 kilometer ke arah
utara. Pengembangan Jalur kereta api lintas Makassar-Parepare dibutuhkan,
selain karena kondisi lalu lintas jalan raya sudah padat sehingga
menghambat pergerakan orang dan barang antara kedua kota tersebut,
sehingga dengan pembangunan jalur kereta api lintas Makassar-Parepare
diharapkan akan meningkatkan pembangunan di Makassar dan Parepare,
serta pemerataan pembangunan wilayah Indonesia Timur, khususnya
Provinsi Sulawesi Selatan.
Berdasarkan peraturan Menteri Perhubungan No, 43 Tahun 2011
tentang Rencana Perkeretaapian Nasional, bahwa program pengembangan
jaringan dan layanan kereta api antar kota pulau Sulawesi khususnya lintas
Makassar-Parepare berada pada Tahap II (2016-2020). Adapun Kebijakan
Kota Parepare sebagai pendukung :

Hal. II-64

Pertama : Peraturan Daerah Kota Parepare No. 10/2011 tentang Rencana


Tata Ruang Wilayah Kota Parepare Tahun 2011-2031 :
- Pasal 16 : mengatur tentang jaringan jalur kereta api umum dan stasiun
kereta api
- Pasal 20 : mengatur tentang Jalur kereta api Makassar-Parepare sebagai
bagian dari rencana jalur kereta api trans Sulawesi
- Pasal 77 : mengatur tentang zonasi jaringan transportasi perkeretaapian
Untuk lokasi stasiun di Kota Parepare yaitu Lumpue (jenis stasiun : Besar)
merupakan Stasiun Intermodal (Kereta Api dan Terminal Tipe A) hal ini
sesuai pasal 18 ayat (5) Perda No. 10/2011 tentang RTRW Kota Parepare.
Kedua : Keputusan Walikota Parepare Nomor 482 Tahun 2013 tentang
Pembentukan Tim Verifikasi Lahan Jalur Kereta Api Pemerintah Kota
Parepare.
Kota Parepare berada di jalur Utama Trans Sulawesi
Kebijakan pembangunan sector transportasi yang merujuk pada
arahan pengembangan tataran transportasi antara pusat dan daerah yang
serasi dan sinergi dalam mencapai keseimbangan pembangunan antar
daerah yang mantap dan dinamis diharapkan mampu menumbuhkan dan
memanfaatkan sarana dan prasarana transportasi secara optimal dalam
rangka peningkatan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah.
Provinsi Sulawesi Selatan yang mempunyai luas wilayah yang cukup
besar, membutuhkan pengembangan jaringan transportasi yang diarahkan
pada upaya untuk mengintegrasikan dan mengkombinasikan sistem jaringan
transportasi dan moda transportasi sesuai dengan potensi wilayah,
utamanya pada daerah tengah Sulawesi yaitu Kota Parepare.
Sistem jaringan prasarana transportasi di Kota Parepare yang
merupakan simpul jaringan transportasi utama di wilayah tengah Sulawesi
atau jalur Trans Sulawesi yang harus dikembangkan secara tersistem dan
terpadu, sehingga penyiapan prasarana transportasi lainnya seperti
keberadaan terminal regional dan pelabuhan laut harus dibentuk menjadi
satu kesatuan koneksitas sistem pergerakan, sistem jaringan dan sistem
regulasi manajemen yang lebih baik.
Selain itu, pelayanan angkutan umum antar Kota Parepare dengan
kabupaten lainnya dalam Provinsi Sulawesi Selatan (Parepare-Parepare,

Hal. II-65

Parepare-Makassar, Parepare-Provinsi Sulawesi Barat) yang telah dilengkapi


prasarana Terminal Induk Lumpue, mempunyai posisi yang sangat strategis
sebagai perlintasan angkutan umum AKDP dan AKAP (bus dan non bus)
untuk wilayah utara dan timur Provinsi Sulawesi Selatan dan menuju Provinsi
Sulawesi Barat. Mencermati kondisi prasarana transportasi trans Sulawesi
tersebut, maka diperlukan sinkronisasi kebijakan dan pengembangan
jaringan transportasi agar jalur utama dari berbagai daerah dapat terlayani
dengan maksimal.
Pembangunan jalan arteri primer dari arah Kota Parepare menuju
Provinsi Sulawesi Barat Provinsi Sulawesi Tengah dan Provinsi Sulawesi
Tenggara (merupakan koridor trans Sulawesi) perlu dilaksanakan secara
simultan agar sehingga pada masa yang akan datang perlu adanya
peningkatan jalan, baik itu pelebaran maupun peningkatan konstruksinya.
Kebijakan Pendidikan dan Kesehatan Gratis
Terkait dengan Kebijakan Pendidikan dan Kesehatan Gratis yang juga
merupakan salah satu program prioritas dalam RPJMD Provinsi Sulawesi
Selatan, maka Kota Parepare harus mengakomodir dalam RPJMD Kota
Parepare Tahun 2013-2018 dalam bentuk Program Pembangunan Daerah
dan Pendanaannya, disamping itu kebijakan mengenai pendidikan dan
kesehatan gratis juga merupakan salah satu Program Prioritas dari Walikota
dan Wakil Walikota terpilih periode 2013-2018.
Upaya yang akan dilakukan untuk menindaklanjuti kebijakan tersebut
antara lain dengan menyediakan Call Center serta Mobil Ambulan Gratis
untuk melayani masyarakat, penyediaan transportasi gratis untuk anak
sekolah, pemberian beasiswa bagi siswa tidak mampu.
d) Isu Strategis di Tingkat Lokal
Kota Parepare sebagai Pusat Pengembangan KAPET
KAPET Parepare adalah salah satu kawasan strategis Nasional (KSN)
yang memiliki keterkaitan fungsional dan sektoral dengan 5 (lima) daerah
yang termasuk dalam kawasan tersebut dengan keunggulan masing-masing
dan telah memberi kontribusi terhadap kemajuan Sulawesi Selatan, Hal ini
dibuktikan dengan Persentase PDRB Parepare terhadap PDRB Sulsel 4,7%,
Jika sektor-sektor ekonomi dioptimalkan dengan baik bukan tidak mungkin

Hal. II-66

peranan KAPET terhadap perekonomian Sulawesi Selatan dapat mendukung


percepatan Sulawesi Selatan sebagai pilar pembangunan Nasional.
Perencanaan pengembangan Ekonomi wilayah mengacu pada
optimalisasi fungsi KSN KAPET Parepare yang terintegrasi dengan dokumen
perencanaan lainnya, serta arah koridor MP3EI, maka perlu KAPET
mendukung percepatan dan perluasan potensi dan keunggulan yang
dimilikinya

adalah

bahagian

yang

tak

terpisahkan

dengan

arah

pengembangan KSN Parepare.


Ketersediaan Air Baku
Salah satu target Millenium Development Goals (MDGs) pada target
ke-7 menjelaskan bahwa pembangunan diarahkan pada keberlanjutan
lingkungan. Salah satu misi yang harus dicapai adalah pengurangan
masyarakat yang masih kesulitan mendapatkan air bersih mengingat ari
bersih merupakan kebutuhan pokok manusia. Untuk itu pemerintah telah
berupaya meningkatkan penyediaan air bersih diberbagai daerah, baik yang
memiliki potensi ketersediaan air bersih cukup banyak namun belum
dioptimalkan secara maksimal terlebih lagi daerah yang kurang memiliki
potensi air bersih termasuk didaerah yang rawan kekeringan pada saat
musin kemarau.
Kota Parepare memiliki karateristik khasnya sendiri, sebagai Kota
Pelabuhan, parepare menempati lahan yang relatif sempit. Wilayah Parepare
dibatasi oleh Teluk Makassar disebelah barat dengan kontur tanah relatif
datar dan merambat naik ke arah perbukitan disebelah selatan kota yang
kemudian berbatasan langsung dengan daerah pesisir merupakan salah satu
akses jalan

menuju Makasar. Keadaan ini membawa kecenderungan

aktivitas warga yang memadat kedalam wilayah yang relatif datar. Dengan
demikian tingginya kepadatan penduduk dan aktivitas komersial di pusat
kota, maka kecenderungan tumbuhnya wilayah permukiman baru didaerah
atas atau lahan perbukitan cukup potensial. Hal ini merupakan tantangan
tersendiri bagi PDAM Kota Parepare dalam mengantisipasi sebaran
permukiman sementara bagi Pemerintah Kota Parepare dan seluruh warga
Parepare, dibutuhkan kesadaran bersama akan adanya ancaman terhadap
daya dukung lingkungan Kota Parepare kedepan yang membutuhkan
tindakan nyata untuk mengatasinya.

Hal. II-67

Salah satu sektor yang sangat penting dalam menunjang kehidupan


perkotaan adalah penyediaan air minum karena merupakan kebutuhan dasar
manusia dan mempunyai peranan yang sangat strategis. Ketersediaan dalam
jumlah yang cukup terutama untuk keperluan minum dan masak merupakan
tujuan dari program penyediaan air bersih yang terus menerus diupayakan
pemerintah.
e. Strategi Dan Arah Kebijakan
1) Strategi
Strategi merupakan langkah untuk memecahkan permasalahan yang
penting dan mendesak untuk segera dilaksanakan dalam kurun waktu 5 (lima)
tahun ke depan serta memiliki dampak yang besar terhadap pencapaian visi,
misi, tujuan, dan sasaran pembangunan daerah. Untuk mewujudkan Visi
Pembangunan Jangka Menengah Kota Parepare Tahun 2013-2018, maka
Pemerintah Kota Parepare akan melaksanakan 5 (lima) misi pembangunan
daerah yang kemudian dijabarkan ke dalam berbagai strategi pembangunan
daerah untuk jangka waktu 5 (lima) tahun mendatang.
Di dalam Permendagri 54 Tahun 2010 disebutkan bahwa strategi
merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk
mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah. Strategi harus dijadikan salah
satu rujukan penting dalam perencanaan pembangunan daerah. Rumusan
strategi berupa pernyataan yang menjelaskan bagaimana tujuan dan sasaran
akan dicapai yang selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan.
Tabel 2.2 Strategi Pembangunan RPJMD Kota Parepare Tahun 2013 2018
Misi ke 1
Meningkatkan Optimalisasi Pelayanan Pendidikan Dan Kesehatan Secara Berkeadilan,
Berkualitas Dan Berkesinambungan
No
1

Tujuan
Pemerataan layanan
pendidikan menuju
masyarakat yang cerdas.

Sasaran
1.1 Meningkatnya
daya saing (ilmu
dan
pengetahuan)
masyarakat.

2.1 Meningkatnya
derajat

Strategi
- Penghapusan biaya-biaya pendidikan yang
dibebankan kepada siswa/orang tua siswa
(Usia Dini s/d SMA).
- Pemberian motivasi kepada anak untuk terus
melanjutkan pendidikan hingga perguruan
tinggi.
- Pengembangan sarana pendidikan dan
informasi.
- Peningkatan Pola Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) bagi masyarakat Parepare.

Hal. II-68

Pemerataan layanan
kesehatan menuju
masyarakat yang sehat.

kesehatan
masyarakat.

- Pengembangan sarana penunjang kesehatan


masyarakat

Misi ke 2
Mendorong Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Yang Berbasis Pada Sumber Daya
Lokal, Pengembangan Investasi Dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Sesuai Dengan
Prinsip Pembangunan Berkelanjutan
No
1

Tujuan
Akselarasi pembangunan
ekonomi daerah yang
berkeadilan dan
berkesinambungan.
Mewujudkan pemenuhan
kebutuhan dasar
masyarakat.

Sasaran
1.1 Meningkatnya
kesejahteraan
ekonomi
masyarakat.
2.1 Meningkatnya
ketersediaan
pangan utama
dengan harga
terjangkau.

Strategi
- Peningkatan nilai tambah hasil kegiatan
perekonomian daerah.
- Intensifikasi dan divesifikasi bahan pangan
utama

Sumber : RPJMD Kota Parepare Tahun 2013 2018


Misi ke 3
Mempercepat Pemerataan Pembangunan Infrastruktur Wilayah Melalui Keseimbangan
Penataan Ruang Dan Adaptibilitas Perubahan Lingkungan Hidup
No
1

Tujuan
Akselarasi pembangunan
infrastruktur antar wilayah
yang berbasis pada
rencana tata ruang
wilayah dan perubahan
lingkungan hidup.

Sasaran

Strategi

1.1 Meningkatnya
implementasi
Rencana Tata
Ruang Wilayah
(RTRW).

- Pengembangan infrastruktur kawasan


budidaya kota

1.2 Meningkatnya
ketersediaan air
bersih.

- Peningkatan perlindungan dan konservasi


Sumber Daya Alam dan Mineral

1.3 Meningkatnya
pengendalian
lingkungan
hidup.

- Pengembangan kawasan Ruang Terbuka


Hijau

Sumber : RPJMD Kota Parepare Tahun 2013 2018


Misi ke 4
Memantapkan Penegakan Supremasi Hukum, Penyelenggaraan Pemerintahan Yang Bersih
Dan Peningkatan Partisipatif Aktif Masyarakat
No

Tujuan

1.

Menciptakan rasa aman


dan nyaman bagi
masyarakat.

2.

Mewujudkan tata kelola


pemerintahan yang baik
(Good Governance).

Sasaran
1.1. Menurunnya
pelanggaran
ketertiban dan
keamanan
masyarakat.
2.1. Meningkatnya
akuntabilitas kinerja
pemerintah daerah

Strategi
- Peningkatan kesadaran masyarakat
terhadap hukum (peraturan
perundang-undangan dan peraturan
daerah).
- Peningkatan keahlian dan
profesionalisme aparatur

Hal. II-69

3.

Mewujudkan
pengarusutamaan gender
serta perlindungan
terhadap perempuan dan
anak.

2.2. Meningkatnya
sinergitas perencanaan
pembangunan antara
masyarakat dan
pemerintah.
3.1. Meningkatnya
kesetaraan gender.
3.2. Meningkatnya
perlindungan
perempuan dan anak

- Peningkatan kapasitas masyarakat


dalam penyusunan proses
pembangunan.

- Penguatan kelembagaan kesetaraan


gender dan anak serta peningkatan
perlindungan terhadap perempuan dan
anak.

Sumber : RPJMD Kota Parepare Tahun 2013 2018

Misi ke 5
Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Agama Dan Budaya Lokal Dalam Mengembangkan Kehidupan
Bersama Yang Lebih Baik
No
1.

Tujuan
Mewujudkan masyarakat
parepare yang
menjunjung tinggi nilainilai agama dan budaya.

Sasaran

Strategi

1.1. Terjaganya kerukunan


antar umat beragama

- Peningkatan kualitas kehidupan


beragama

1.2. Terpeliharanya nilainilai budaya lokal yang


tumbuh di masyarakat.

- Pelestarian nilai-nilai budaya lokal


masyarakat.

Sumber : RPJMD Kota Parepare Tahun 2013 2018

f.

Arah Kebijakan
Arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah merupakan
pedoman untuk menentukan tahapan dan prioritas pembangunan lima tahunan
guna mencapai sasaran RPJMD secara bertahap. Tahapan dan prioritas yang
ditetapkan mencerminkan urgensi permasalahan dan isu strategis yang hendak
diselesaikan berkaitan dengan pengaturan waktu. Kebijakan tahunan yang belum
terlaksana tetap akan menjadi perhatian pada tahun berikutnya disamping
kebijakan prioritas tahun berjalan.
Penekanan prioritas kebijakan pada setiap tahapan berbeda-beda, namun
memiliki kesinambungan dari satu periode ke periode lainnya dalam rangka
mencapai sasaran tahapan lima tahunan dalam RPJMD.

Arah kebijakan

pembangunan lima tahun Kota Parepare adalah sebagai berikut.


1) Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2014
Penyelenggaraan birokrasi dan tata kelola kepemerintahan yang baik (good

governance) untuk menciptakan pelayanan publik yang berkeadilan

Hal. II-70

termasuk peningkatan kualitas pengelolaan pengadaan barang dan jasa


secara transparan dan akuntabel melalui e-procurement serta peningkatan
pengelolaan keuangan daerah;
Peningkatan aksesibilitas dan kualitas pendidikan bagi semua kelompok
masyarakat;
Peningkatan pengelolaan pelayanan kesehatan;
Pemeliharaan dan perluasan sarana prasarana kota
Pengembangan kawasan perkotaan melalui pendekatan estetika yang tinggi;
Peningkatan perekonomian daerah melalui pemberdayaan dan penguatan
sektor UMKM;
Pengelolaan Lingkungan Hidup Berkelanjutan;
Peningkatan Pelayanan Informasi;
Layanan Sosial dan Bantuan Hukum.
Perlindungan sosial, budaya, keamanan dan keagamaan bagi masyarakat.
Penguatan Legislasi Pengarusutamaan Gender.
2) Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2015
Arah kebijakan pembangunan tahun 2015 di fokuskan pada beberapa
hal di bawah berikut:
Penyelenggaraan layanan pendidikan yang berkualitas secara gratis SD s.d
SMA/SMK dan pembinaan kepada anak usia sekolah serta anak usia dini.
Penyelenggaraan layanan kesehatan yang berkualitas bagi semua lapisan
masyarakat.
Penguatan Pengarusutamaan Gender.
Peningkatan dan pengembangan Kapasitas Politik Lembaga Legislatif
Pengembangan dan peningkatan kawasan strategis kota untuk kepentingan
ekonomi dan pariwisata.
Peningkatan sistem jaringan prasarana perkotaan.
Penguatan Industri Kecil dan Menengah yang berbasis klaster dan
Agroindustri.
Penguatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah serta Koperasi.
Pengembangan keanekaragaman bahan pangan utama.
Layanan Sosial dan Bantuan Hukum.
Perlindungan sosial, budaya, keamanan dan keagamaan bagi masyarakat.

Hal. II-71

Peningkatan kapasitas aparat sipil daerah menuju pengelolaan pemeritahan


yang transparan, akuntabel serta profesional.
Peningkatan kualitas perencanaan pembangunan dan pengelolaan keuangan
daerah.
Urusan pemerintahan yang merupakan tugas pokok dan fungsi setiap
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang tidak termaktub dalam kebijakan
pembangunan tahun 2015 tetap berjalan sebagaimana yang telah diatur dalam
peraturan.
3) Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2016
Arah kebijakan pembangunan tahun 2016 di fokuskan pada beberapa
hal di bawah berikut:
Penyelenggaraan layanan pendidikan yang berkualitas secara gratis SD s.d
SMA/SMK dan pembinaan kepada anak usia sekolah serta anak usia dini.
Penyelenggaraan layanan kesehatan yang berkualitas bagi semua lapisan
masyarakat.
Penguatan Pengarusutamaan Gender.
Pengembangan dan peningkatan kawasan strategis kota untuk kepentingan
lingkungan
Pengembangan dan peningkatan kawasan strategis kota untuk kepentingan
sosial budaya
Peningkatan sistem jaringan prasarana perkotaan.
Pengembangan Industri Kecil dan Menengah yang berbasis klaster dan
Agroindustri.
Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah serta Koperasi.
Pengembangan keanekaragaman bahan pangan utama.
Layanan Sosial dan Bantuan Hukum.
Perlindungan sosial, budaya, keamanan dan keagamaan bagi masyarakat.
Peningkatan kapasitas aparat sipil daerah menuju pengelolaan pemeritahan
yang transparan, akuntabel serta profesional.
Peningkatan kualitas perencanaan pembangunan dan pengelolaan keuangan
daerah.
Urusan pemerintahan yang merupakan tugas pokok dan fungsi setiap
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang tidak termaktub dalam kebijakan

Hal. II-72

pembangunan tahun 2016 tetap berjalan sebagaimana yang telah diatur dalam
peraturan.
4) Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2017
Arah kebijakan pembangunan tahun 2017 di fokuskan pada beberapa
hal di bawah berikut:
Penyelenggaraan layanan pendidikan yang berkualitas secara gratis SD s.d
SMA/SMK dan pembinaan kepada anak usia sekolah serta anak usia dini.
Peningkatan layanan perguruan tinggi negeri bagi masyarakat Parepare
Penyelenggaraan layanan kesehatan yang berkualitas bagi semua lapisan
masyarakat.
Penguatan Pengarusutamaan Gender.
Peningkatan sistem jaringan prasarana perkotaan.
Pengembangan Ruang Terbuka Hijau.
Pengembangan produk unggulan daerah.
Pengembangan Produk-produk Agricultur.
Pengembangan investasi industri besar.
Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi
daerah.
Layanan Sosial dan Bantuan Hukum.
Perlindungan sosial, budaya, keamanan dan keagamaan bagi masyarakat.
Urusan pemerintahan yang merupakan tugas pokok dan fungsi setiap
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang tidak termaktub dalam kebijakan
pembangunan tahun 2017 tetap berjalan sebagaimana yang telah diatur dalam
peraturan.
5) Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2018
Arah kebijakan pembangunan tahun 2018 di fokuskan pada beberapa
hal di bawah berikut:
Penyelenggaraan layanan pendidikan yang berkualitas secara gratis SD s.d
SMA/SMK dan pembinaan kepada anak usia sekolah serta anak usia dini.
Penyelenggaraan layanan kesehatan yang berkualitas secara gratis bagi
semua lapisan masyarakat.
Penguatan Pengarusutamaan Gender.
Peningkatan dan pengembangan Kapasitas Politik Lembaga Legislatif

Hal. II-73

Peningkatan sistem jaringan prasarana perkotaan.


Penataan dan pengembangan kawasan peternakan
Pengembangan investasi pariwisata.
Layanan Sosial dan Bantuan Hukum.
Perlindungan sosial, budaya, keamanan dan keagamaan bagi masyarakat
Urusan pemerintahan yang merupakan tugas pokok dan fungsi setiap
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang tidak termaktub dalam kebijakan
pembangunan tahun 2018 tetap berjalan sebagaimana yang telah diatur dalam
peraturan.
Untuk efektifitas penggunaan anggaran pada tahun 2017 dan 2018,
maka pengalokasian anggaran untuk memenuhi arah kebijakan pembangunan
pada tahun berkenaan, juga di arahkan untuk mempercepat pencapaian kinerja
pembangunan pada tahun-tahun sebelumnya.

Hal. II-74

B. PROFIL WILAYAH KOTA PAREPARE


1. Kondisi Geografis Dan Fisik Wilayah
a.

Letak Geografis
Secara astronomis, Kota Parepare terletak antara 3o 57 39 - 4o 04 49
Lintang Selatan dan 119o 36 24 - 119o 43 40 Bujur Timur. Sedangkan
berdasarkan posisi geografisnya, Kota Parepare memiliki batas-batas : Kabupaten
Pinrang di sebelah utara, Kabupaten Sidrap di sebelah timur, Kabupaten Barru di
sebelah selatan, dan Selat Makassar di sebelah barat.
Luas wilayah Kota Parepare adalah 99,33 km2 meliputi 4 kecamatan
(Kecamatan Bacukiki, Kecamatan Bacukiki Barat, Kecamatan Ujung, dan
Kecamatan Soreang), dan 22 kelurahan. Kecamatan Bacukiki merupakan
kecamatan terluas dengan wilayah seluas 66,70 km2 atau 67,15 persen luas Kota
Parepare.

Gambar 2.4 Peta Administrasi Kota Parepare

Hal. II-75

Tabel 2.3 Luas Wilayah Kota Parepare Menurut Kecamatan dan Kelurahan, Tahun 2013
Kecamatan
Bacukiki

Sub Total
Bacukiki
Barat

Sub Total
Ujung

Sub Total
Soreang

Kelurahan
Watang Bacukiki
Lemoe
Lompoe
Galung Maloang

Status
(D/K)*
D
D
K
K

Lumpue
Bumi Harapan
Sumpang Mianangae
Cappagalung
Tiro Sompe
Kampung Baru

K
K
K
K
K
K

Labukkang
Mallusetasi
Ujung Sabbang
Ujung Bulu
Lapadde

K
K
K
K
K

Kampung Pisang
Lakessi
Ujung Baru
Ujung Lare
Bukit Indah
Watang Soreang
Bukit Harapan

K
K
K
K
K
K
K

Sub Total
Sumber : Kota Parepare Dalam Angka 2014

Luas 1
(Km2)
25.52
29.75
5.27
6.16
66.70
4.99
6.16
0.31
0.70
0.38
0.46
13.00
0.36
0.22
0.36
0.38
9.98
11.30
0.12
0.15
0.48
0.18
1.19
0.65
5.56
8.33

Persentase Terhadap Luas


Kecamatan
Kota
100.00
25.69
116.58
29.95
20.65
5.31
24.14
6.20
261.36
67.15
1,609.68
5.02
1,987.10
6.20
100.00
0.31
225.81
0.70
122.58
0.38
148.39
0.46
4,193.55
13.09
163.64
0.36
100.00
0.22
163.64
0.36
172.73
0.38
4,536.36
10.05
5,136.36
11.38
66.67
0.12
83.33
0.15
266.67
0.48
100.00
0.18
661.11
1.20
361.11
0.65
3,088.89
5.60
4,627.78
8.39

b. Kondisi Topografi dan Kemiringan Lereng


Wilayah Kota Parepare apabila ditinjau dari aspek topografinya terdiri dari
daerah datar sampai bergelombang, dengan klasifikasi kurang lebih 80 % luas
daerahnya merupakan daerah perbukitan dan sisanya daerah datar dengan
ketinggian 25 - 500 meter diatas permukaan laut (mdpl), dengan dataran tinggi
bergelombang dan berbukit (88,96 %) dengan fungsi doniman untuk lahan
perkebunan (18,56 %), kehutanan (43,04 %), dan daerah permukiman (1,57 %),
serta sebagaian kecil merupakan dataran rendah yang rata hingga landai (11,04
%) dengan fungsi permukiman (2,80 %), pertanian (9,40 %) dan perikanan (0,24
%).
Kota Parepare sebagian besar wilayahnya berada pada ketinggian atau
perbukitan terutama pada wilayah Kecamatan Bacukiki dengan ketinggian >500

Hal. II-76

meter dpl. Khusus untuk Kecamatan Ujung dan Kecamatan Soreang yang
merupakan lokasi rencana Kawasan Berikat, berada pada ketinggian 0-500 m dpl.
Dengan kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa morfologi Kota Parepare terbagi
atas morfologi rendah dan tinggi (perbukitan/pegunungan). Lebih jelasnya lihat
tabel berikut.
Tabel 2.4 Luas Wilayah Berdasarkan Ketinggian Dari Permukaan Laut Tiap
Kecamatan Di Kota Parepare
Luas Ketinggian Wilayah (Ha)
0-7 M
8-25 M
26-100 M
101-500 M
Bacukiki
154,6
776,4
2668,78
3119,0
Ujung
87,16
214,78
476,64
54,40
Soreang
70,84
38,6
914,64
105,92
Bacukiki Barat
Jumlah
312,6
1029,78
5060,06
2279,32
Sumber : Data Pokok Kota Parepare
Kecamatan

> 500 M
316,11
316,11

Kondisi topografi dan lereng mempengaruhi terhadap kesesuaian lahan dan


penataan lingkungan alami. Untuk kawasan terbangun, kondisi topografi
berpengaruh terhadap terjadinya longsor dan ketahanan konstruksi bangunan.
Kemiringan lereng adalah faktor utama yang menentukan fungsi
kawasan, untuk diarahkan sebagai kawasan lindung atau kawasan budidaya.
Penggunaan lahan untuk kawasan fungsional seperti persawahan, ladang dan
kawasan terbangun membutuhkan lahan dengan kemiringan dibawah 15 %,
sedangkan lahan dengan kemiringan diatas 40 % akan sangat sesuai untuk
perkebunan, pertanian tanaman keras dan hutan.
1) Kelerengan 0% - 5% dapat digunakan secara intensif dengan pengelolaan
kecil.
2) Kelerengan 5% - 10% dapat digunakan untuk kegiatan perkotaan dan
pertanian, namun bila terjadi kesalahan dalam pengelolaannya masih mungkin
terjadi erosi.
3) Kelerengan 10% - 30% yakni daerah yang sangat mungkin mengalami
erosi, terutama bila tumbuhan pada permukaannya ditebang, daerah ini
masih dapat dibudidayakan namun dengan usaha lebih.
4) Kelerengan >30% Yakni daerah yang sangat peka terhadap bahaya
erosi, dan kegiatan di atasnya harus bersifat non budidaya. Apabila terjadi
penebangan hutan akan membawa akibat terhadap lingkungan yang lebih
luas.

Hal. II-77

Faktor kemiringan lereng sangat berkaitan dengan kemampuan lahan


untuk mengakomodasikan berbagai aktifitas masyarakat dalam suatu ruang.
Aktifitas masyarakat akan relatif mudah dilakukan pada lahan yang landai dengan
kemiringan 0-2%. Kemiringan lahan untuk kegiatan perkotaan sebaiknya tidak
melebihi dari 15% agar memudahkan pembangunan sarana dan prasarana kota.
Lahan dengan kemiringan lereng lebih dari 15% cenderung mempunyai kendala
dalam pemanfaatan ruang kota, karena semakin curam kondisi suatu lahan, maka
akan semakin mudah terjadi erosi terhadap permukaan tanah. Morfologi wilayah
Kota Parepare secara umum dapat dibagi menjadi dua satuan yaitu: dataran
rendah, perbukitan dan pegunungan.
Morfologi dataran rendah terdapat pada bagian yang sempit sekitar muara
Sungai Karajae, sepanjang pesisir dan melebar di sekitar Soreang. Tingginya
berkisar antara 0 sampai 50 meter di atas muka laut, dengan lereng landai
hingga datar.
Morfologi perbukitan secara luas menempati bagian barat wilayah kota,
memanjang dengan arah kurang lebih Utara Selatan, umumnya berlereng
landai hingga curam. Ketinggiannya berkisar antara 50 sampai 250 meter di
atas muka laut di sekitar Bacukiki dan Lapadde.
c. Keadaan Geologi dan Jenis Tanah
Tatanan statigrafi pada umumnya terdiri dari endapan Aluvium, Miosen
tengah-akhir serta Eosen akhir-Miosen tengah dengan sedikit terobosan Andesit.
Endapan Aluvium terdiri dari lempung, pasir, lumpur, kerikil dan bongkah batuan
yang tidak padu (lepas). Endapan ini berasal dari hasil desintegrasi batuan yang
lebih tua. Struktur tanah yang terbentuk meliputi jenis tanah entisol, inceptisol,
molisol, dan ultisol.
Morfologi dataran rendah dan pantai terdapat di sebelah barat, memanjang
dari utara ke selatan dan pada umumnya diisi oleh endapan sedimen Sungai dan
pantai berpotensi pengembangan pertanian dan perikanan (tambak). Sedangkan
morfologi perbukitan dengan ketinggian 50 - 200 meter dari permukaan laut yang
berada pada bagian tengah ke arah Timur dan Selatan pada umumnya wilayah
perbukitan yang berpotensi untuk pengembangan perkebunan. Berdasarkan
Litostratigrafi, wilayah Kota Parepare mencakup 4 (empat) satuan batuan:

Hal. II-78

1) Satuan tufa kasar dan tufa halus yang bersifat masam. Satuan tufa kasar dan
tufa halus ini menempati pada bagian Utara Kota Parepare, bersesuaian
dengan satuan morfologi dataran rendah.
2) Satuan Batu gamping yang dijumpai di daerah Tanah Mailie dalam
komposisi kalkarenit. Kemudian menumpang tidak selaras di atas satuan tufa
yaitu satuan breksi vulkanik. Satuan batuan ini terdiri dari fragmen dan matrik
yang bersifat andesitan. Batuan ini tersingkap dengan baik di bagian Selatan
dan Barat Kota Parepare.
3) Satuan Batuan Beku yang dijumpai di pantai Lumpue, batuan beku ini
bersifat masam.
4) Satuan keempat termuda, yaitu satuan alluvial yang menempati sebagian
pantai Kota Parepare. Bahannya berupa bongkahan, kerakal, kerikil, pasir dan
lempung serta endapan pantai yang sampai sekarang pembentukannya masih
berlangsung.
Formasi geologi di Kota Parepare sebagai pembentuk struktur batuan
antara lain: endapan alluvial dan pantai, pasir, lempung, lumpur dan batu gamping
koral. Selain itu terdapat juga batu gunung api berupa tufa, breksi, konglomerate
dan lava. Jenis tanah di Kota Parepare antara lain berupa:

Tanah Regosol, tanah ini memiliki tekstur yang kasar dengan tanah kadar pasir
yang lebih dari 60% dan memiliki solum yang dangkal.

Tanah Alluvial, adalah tanah endapan yang tidak memiliki horizon yang
lengkap karena kerap kali tercuci akibat erosi pada daerah kemiringan.

d. Keadaan Hidrologi
Kondisi iklim di wilayah Kota Parepare terbagi dalam dua zona yakni zona
hujan masing-masing zona C2 dan D2. Zona iklim tipe C2 ditandai dengan jumlah
bulan basah sekitar 5-6 bulan dan jumlah bulan kering 2-3 bulan. Zona ini meliputi
wilayah bagian barat Kota Parepare sampai pesisir pantai dengan luas 60% dari
luas wilayah Kota Parepare, sedangkan Zona iklim tipe D2 ditandai dengan jumlah
bulan basah sekitar 3-4 bulan dan jumlah bulan kering 2-3 bulan. Zona ini meliputi
wilayah bagian timur Kota Parepare dengan luas 40% dari luas wilayah Kota
Parepare. Dengan demikian, Kota Parepare didominasi oleh tipe iklim C2 dimana
jumlah bulan basah lebih dominan dibanding bulan kering.

Hal. II-79

Karena wilayah Kota Parepare memiliki dua (2) pola musim yaitu musim
penghujan dan musim kemarau. Dari data curah hujan yang diperoleh dari stasiun
pengamatan Kecamatan Ujung menunjukkan bahwa rata-rata curah hujan
tahunan berkisar 1796 mm/thn. Curah hujan bulanan yang terjadi di wilayah ini
umumnya lebih kecil dari 400 mm/thn kecuali pada bulan desember. Besar curah
hujan rata-rata bulanan berkisar antara 40-428 mm dengan curah hujan terendah
terjadi pada bulan Agustus dan tertinggi pada bulan Desember.
Curah hujan tertinggi di Kota Parepare adalah 556 mm/tahun dan terendah
menunjukkan angka 0 mm/tahun atau nol hari pada Bulan Agustus di
Kecamatan Bacukiki. Rata-rata kecepatan angin berkisar antara 2,5-5,8 m/detik
yang bertiup dari arah Barat ke Timur selama Bulan November sampai April,
sedangkan temperatur suhu udara rata-rata berkisar 28,1-28,8 0C.
Tabel 2.5 Jumlah Curah Hujan, Kecepatan Angin Dan Suhu Udara Rata-Rata Tiap
Kecamatan Di Kota Parepare
Kecamatan Bacukiki
CH
KA
Suhu
(mm)
(m/dtk)
(oC)
303
1,7
28,7

Bulan
Januari

Kecamatan Ujung
CH
KA
Suhu
(mm)
(m/dtk)
(oC)
205
1,7
28,7

Kecamatan Soreang
CH
KA
Suhu
(mm)
(m/dtk)
(oC)
205
1,7
28,7

Februari

51

1,8

28,2

265

1,7

28,2

265

1,7

28,2

Maret

212

1,9

28,2

442

2,0

28,2

442

2,0

28,2

April

336

2,0

28,1

313

1,9

28,1

313

1,9

28,1

Mei

142

2,1

28,6

115

1,9

28,6

115

1,9

28,6

Juni

78

2,2

28,8

23

2,1

28,8

23

2,1

28,8

Juli

16

2,8

28,5

42

2,6

28,5

42

2,6

28,5

Agustus

2,5

28,5

115

2,4

28,5

115

2,4

28,5

Septembe

5,9

28,7

87

5,8

28,7

87

5,8

28,7

Oktober

30

2,7

28,7

93

2,3

28,7

93

2,3

28,7

November

204

2,5

28,7

152

2,5

28,7

152

2,5

28,7

Desember

385

2,4

28,6

556

2,5

28,6

556

2,5

28,6

Sumber : Data Pokok Kota Parepare

Ket : Data untuk Kecamatan Bacukiki Barat maish menyatu dengan Kecamatan Bacukiki
(induk).
e. Penggunaan Lahan
Kondisi penggunaan lahan di Kota Parepare secara umum terdiri atas;
permukiman dan bangunan sarana lainnya, persawahan, kebun campuran, hutan
dan lain sebagainya. Pergesaran pemanfaatan lahan di Kota Parepare secara

Hal. II-80

umum mengalami perubahan yang cukup drastis, pada beberapa areal lahan
kosong telah beralih fungsi menjadi kawasan terbangun.
Dari sumber data yang diperoleh menunjukkan pola penggunaan lahan di
Kota Parepare didominasi oleh pemanfaatan lahan untuk areal permukiman dan
guna lahan lainnnya dengan luas 5.705,85 Ha, dengan total luas wilayah 9.930
Ha. Selanjutnya untuk mengetahui kondisi dan jenis pemanfaatan lahan di Kota
Parepare, jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.6 Luas Dan Jenis Penggunaan Lahan di Kota Parepare
Penggunaan Lahan
Permukiman & Guna Lahan Lainnya
Lahan Sawah
Hutan Rakyat
Hutan Produksi
Hutan Lindung
Lahan Kritis
Hutan Kota
Perkebunan
JUMLAH

Luas (Hektar)

Persentase (%)

5.705,85
750,00
550,00
436,40
2.050,00
993,00
13,50
427,25
9.933,00

47,45
7,55
5,54
4,39
20,64
10,00
0,14
4,30
100,00

Sumber : Data Pokok Kota Parepare


2. Kependudukan
Keadaan demografi dan kependudukan hingga akhir tahun 2013 di Kota
Parepare menunjukkan kenaikan angka yang cukup signifikan. Hasil catatan registrasi
pada Biro Pusat Statistik menunjukkan Kota Parepare saat ini dihuni penduduk
kurang lebih 135.200 jiwa. Angka tersebut memberikan indikator pesatnya kegiatan
pembangunan yang perlu disiapkan dimasa yang akan datang.
a.

Distribusi Jumlah dan Kepadatan Penduduk.


Jumlah penduduk kota Parepare Tahun 2013 berjumlah 135.200 jiwa
yang tersebar di 4 kecamatan dan 22 kelurahan. Kecamatan Soreang mempunyai
jumlah penduduk terbanyak yaitu 45.551 jiwa. Disusul kemudian oleh Kecamatan
Bacukiki Barat sebanyak 40.908 jiwa, Kecamatan Ujung sebanyak 33.570 jiwa, dan
Kecamatan Bacukiki sebanyak 15.171 jiwa. Jumlah penduduk di kecamatan
Bacukiki merupakan jumlah penduduk yang terendah jika dibandingkan dengan
tiga kecamatan lainnya di Kota Parepare.

Hal. II-81

Kepadatan tinggi berada di wilayah Kecamatan Soreang dengan jumlah


penduduk sebesar 5.468 jiwa/km2, kepadatan penduduk terendah berada di
Kecamatan Bacukiki dengan jumlah sebesar 227 jiwa/km2. Demikian pula
halnya dengan pola penyebaran penduduk terjadi secara tidak merata. Data yang
diperoleh menunjukkan pola penyebaran penduduk di Kota Parepare terakumulasi
di daerah pusat kota. Perkembangan jumlah penduduk, dan kepadatan dirinci
menurut kecamatan di Kota Parepare pada tabel berikut.

Tabel 2.7 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk Dan Kepadatannya Dirinci Tiap
Kecamatan Di Kota Parepare, Tahun 2013
Kecamatan
Bacukiki
Bacukiki Barat
Ujung
Soreang
Jumlah
TAHUN

2012
2011
2010
2009

Luas Wilayah
(Km2)
66,70
13,00
11,30
8,33
99,33
99,33
99,33
99,33
99.33

Jumlah
Penduduk
15.171
40.908
33.57
45.551
135.200
132.048
130.582
129.262
118.842

Kepadatan Penduduk
(jiwa/km2)
227
3.147
2.971
5.468
1.361
1.329
1.314
1.301
1.196

Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014


b. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin.
Rasio jenis kelamin penduduk Kota Parepare yaitu sebesar 96 (kurang
dari 100). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk perempuan lebih banyak
daripada penduduk laki-laki dimana dari 100 wanita hanya terdapat 96 laki-laki,
dengan rincian terdapat 66.274 jiwa penduduk laki-laki dan 68.926 jiwa penduduk
perempuan.
Tabel 2.8 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dan Rasio Jenis Kelamin
Dirinci Tiap Kecamatan Di Kota Parepare Tahun 2013
Kecamatan
Bacukiki
Bacukiki Barat
Ujung
Soreang

Pria
7.525
20.015
16.335
22.399

Penduduk
Wanita
7.646
20.893
17.235
23.152

Jumlah
15.171
40.908
33.570
45.551

Rasio
98
96
95
97

Hal. II-82

Jumlah
66.274
2012
63.763
2011
63.055
Tahun
2010
63.481
2009
57.032
Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014

68.926
68.285
67.527
65.781
61.810

135.200
132.048
130.582
129.262
118.842

96
93
93
97
92

c. Jumlah Penduduk Usia Kerja (15 ke atas) Menurut Kegiatan


Penduduk Usia Kerja (penduduk yang berumur 15 tahun ke atas) yang
ada di Kota Parepare berjumlah 92.345 orang yang terdiri dari 53.678 orang
Angkatan Kerja dan 39.327 orang Bukan Angkatan Kerja. Mereka yang termasuk
dalam Angkatan Kerja adalah penduduk yang bekerja dan yang sedang mencari
pekerjaan. Angkatan kerja yang sudah bekerja ada sebanyak 51.070 orang atau
sebesar 95,14 persen, sedangkan sisanya yaitu 2.608 orang masih menganggur
atau sebesar 4,86 persen.
Sedangkan yang termasuk Bukan Angkatan Kerja adalah mereka yang
bersekolah, mengurus rumahtangga/melakukan kegiatan lainnya. Mayoritas
pencari kerja yang terdaftar dan yang telah ditempatkan oleh Disnaker, Dinas Kependudukan, dan Catatan Sipil adalah laki-laki dengan rata-rata tingkat pendidikan
yang ditamatkan adalah SLTA/sederajat.
Tabel 2.9 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Kegiatan Tahun 2013
Kegiatan
Laki-Laki
Angkatan Kerja
33.656
- Bekerja
32.215
- Pengangguran
1.441
Bukan Angkatan Kerja
11.075
- Sekolah
6.77
- Mengurus Rumah Tangga
1.043
- Lainnya
3.262
Jumlah
44.071
Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014

Perempuan
20.022
18.855
1.167
28.252
6.992
19.015
2.245
48.274

Jumlah
53.678
51.07
2.608
39.327
13.762
20.058
5.507
92.345

3. Sosial, Pendidikan dan Kesehatan


Bagian ini akan menyajikan data mengenai pendidikan, kesehatan, dan hal-hal yang
berkaitan dengan keadaan sosial lainnya.
a. Pendidikan

Hal. II-83

Program pendidikan dasar yang terus digalakkan oleh pemerintah


nampaknya membuat partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan semakin
meningkat setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat dari makin meningkatnya jumlah
murid di setiap jenjang jenjang pendidikan.
Tabel 2.10 Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Ijazah Tertinggi
Dan Jenis Kelamin Di Kota Parepare, 2013
IJAZAH TERTINGGI
Tidak Punya Ijazah
SD / MI
SLTP / MTS
SLTA / MA
SMK
DIPLOMA I/II
AKADEMI/D3
DIPLOMA IV/S1/S2/S3
JUMLAH

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

JUMLAH

12,45
18,74
19,04
28,86
7,85
0,71
1,27
11,08
100,00

15,73
21,46
19,14
24,82
5,56
0,68
3,03
9,58
100,00

14,15
20,15
19,09
26,76
6,66
0,70
2,18
10,31
100,00

Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014


Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat keberhasilan tingkat
pendidikan adalah tingkat buta huruf. Semakin rendah tingkat buta huruf
menunjukkan semakin berhasilnya program pendidikan. Sebaliknya makin tinggi
persentase penduduk yang buta huruf mengidikasikan kurang berhasilnya program
pendidikan. Angka menujukkan bahwa persentase penduduk 10 tahun ke atas yang
tidak dapat membaca/menulis sebesar 5,29 persen.
Tabel 2.11 Penduduk (Diatas 10 Tahun) Menurut Kemampuan Membaca/Menulis Dan
Jenis Kelamin Di Kota Parepare, Tahun 2013
KEMAMPUAN MEMBACA DAN MENULIS
Huruf Latin
Huruf Arab
Huruf Lainnya
Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014

LAKI-LAKI
96,30
39,28
21,07

PEREMPUAN
92,26
43,20
23,91

JUMLAH
94,21
41,31
22,54

b. Kesehatan
Bagian ini menyajikan berbagai indikator tentang kesehatan yang diolah dari
data hasil Susenas, khususnya untuk data bayi dan balita. Persalinan oleh dokter,
bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau
tenaga non medis lainnya. Pada tahun 2011 sekitar 95,65 persen ditolong oleh
tenaga medis dengan komposisi 29,62 persen oleh dokter, 66,03 persen oleh bidan
dan 4,35 persen oleh tenaga non medis lainnya.

Hal. II-84

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan Program KB, jumlah akseptor di Kota


Parepare pada tahun 2012 sebanyak 13.605 orang. Pada umumnya akseptor
tersebut memilih menggunakan alat kontrasepsi suntikan dan pil yakni masingmasing 5.103 orang dan 4.213 orang atau kedua kontrasepsi tersebut dipilih oleh
sekitar 68 persen dari seluruh akseptor.
Tabel 2.12 Banyaknya Tenaga Kesehatan Menurut Jenisnya
Di Kota Parepare Tahun 2013
JENIS TENAGA KESEHATAN

Bacukiki

Dokter Umum
Dokter Gigi
Dokter Ahli
Bidan
Paramedik Keperawatan
Paramedik Non Keperawatan
Apoteker
Tenaga Kesehatan Lainnya
Sumber : Data Pokok Kota Parepare

3
3
17
38
17
3
3
2014

Bacukiki
Barat
15
5
17
36
185
39
20
32

Ujung

Soreang

Jumlah

22
5
1
34
178
22
8
13

14
6
23
42
23
11
12

54
19
18
110
443
101
44
60

c. Tempat Ibadah
Pembangunan di bidang spiritual dapat dilihat dari banyaknya sarana
peribadatan. Pada tahun 2012 Kementrian Agama Kota Parepare mencatat adanya
122 bangunan masjid, 16 bangunan gereja, dan 4 bangunan vihara. Hal lain yang
dapat dijadikan indikator tingkat ketaqwaan umat adalah banyaknya jumlah jemaah
haji yang diberangkatkan ke tanah suci. Selama periode 2011 - 2012 jumlah jemaah
haji yang diberangkatkan ke tanah suci mengalami penurunan meskipun tidak
terlalu signifikan, tercatat sebanyak 127 orang pada tahun 2011 turun menjadi 121
orang pada tahun 2012.
Tabel 2.13 Banyaknya Tempat Beribadah Di Kota Parepare Tahun 2009-2013
TEMPAT IBADAH

2009

2010

2011

2012

2013

Masjid
106
118
Langgar
5
5
Musholla
64
33
Gereja Kristen
17
18
Gereja Katolik/ Kapel
2
2
Pura/Kuil/Sanggal
1
1
Vihara/Cetya/ Kelenteng
2
4
Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014

121
24
15
2
1
4

122
24
14
2
1
4

141
20
2
1
4

Hal. II-85

d. Tempat Tinggal
Manusia membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal dan berinteraksi
dengan manusia lainnya serta menjadi tempat berlindung dari segala macam
gangguan. Indikator perumahan seperti luas lantai, sumber air minum, sumber
penerangan dan fasilitas tempat buang air besar. Dari hasil Susenas menunjukkan
bahwa sebagian besar rumah tangga di Kota Parepare (36,14 %) menempati rumah
dengan luas lantai sebesar 50-99 meter persegi.
e. Tempat Ibadah
Sumber air minum yang paling banyak digunakan adalah air isi ulang yaitu
sebesar 44,12 persen. Sebesar 99,32 persen rumah tangga di Kota Parepare sudah
mendapatkan sumber penerangan dari PLN. Selain itu sebagian besar rumah tangga
di Kota Parepare sudah memiliki fasilitas pembuangan air besar pribadi yaitu sebesar
71,34 persen.
4. Angkutan, Pariwisata Dan Telekomunikasi
a. Sarana Transportasi Darat
Jalan merupakan sarana pengangkutan darat yang penting untuk
memperlancar perekonomian. Dengan makin meningkatnya usaha, maka menuntut
peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan
memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain.
Panjang jalan di Kota Parepare berdasarkan kondisinya.Total panjang jalan
di Kota Parepare adalah sepanjang 328.250 km dengan kondisi baik sepanjang
234.365 km atau sebesar 71,40 persen, kondisi sedang sepanjang 19.852 km atau
sebesar 6,05 persen, dan kondisi rusak sepanjang 74.033 km atau sebesar 22,55
persen. Persentase panjang jalan yang berada dalam kondisi baik meningkat
sebesar 12,54 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Sedangkan kondisi jalan
yang buruk (sedang & rusak) mengalami penurunan sebesar 20,83 persen. Hal ini
menunjukkan keseriusan pemerintah Kota Parepare dalam hal penyediaan
infrastruktur yang baik bagi seluruh masyarakat.

Hal. II-86

Tabel 2.14 Panjang Jalan Kabupaten/Kota Menurut Kondisinya Di Kota Parepare


Tahun 2008 2013 (Km)
TAHUN

BAIK
SEDANG
2013
234.365
19.852
2012
208.249
39.386
2011
197,421
39,624
2010
182,153
41,802
2009
179,350
38,481
2008
174,209
37,675
Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014

KONDISI
RUSAK
RUSAK BERAT
74.033
79.205
80,725
92,725
92,725
92,725
-

TOTAL
328.25
326.84
317,770
316,680
310,556
304,609

b. Sarana Transportasi Darat


Pembangunan sarana pos dan telekomunikasi diarahkan untuk meningkatkan
kelancaran arus informasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Kelancaran
informasi/data-data diharapkan mampu memacu kegiatan perekonomian antar
daerah.
Banyaknya Wesel Pos di Kota Parepare Tahun 2010-2013. Pada Tahun 2013
tercatat 56.301.666 rupiah diterima dan 19.309.741 rupiah dikirim. Jumlah ini
meningkat dibanding tahun sebelumnya, baik untuk wesel yang diterima maupun
wesel yang dikirim.
Tabel 2.15 Banyaknya Wesel Pos Di Kota Parepare Tahun 2010-2013
Diterima
Jumlah
Nilai (000)
2 01 3
24.969 56.301.666
2 01 2
12.253 55.609.235
2 01 1
28.467 57.727.098
2 01 0
5.78
7.354.767
Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014
Tahun

Dikirim
Jumlah
Nilai (000)
11.881 19.309.741
27.644 17.644.486
12.517 19.591.437
3.774
4.845.666

Fasilitas telekomunikasi sangat diperlukan untuk memperlancar arus


informasi dalam rangka memacu kegiatan ekonomi yang semakin baik dan
menuntut pelayanan yang efisien, efektif dan cepat. Pemanfaatan sarana
telekomunikasi khususnya telepon dari tahun ke tahun menunjukkan adanya
peningkatan.

Hal. II-87

Tabel 2.16 Banyaknya Produk PT. Telkom Pada Kantor Daerah Telkomunikasi
Di Kota Parepare Tahun 2013
Jml Telepon
Pulsa Lokal
Tetap (Sst)
(Rp)
Januari
6.606
43.825.022
Februari
6.508
40.237.805
Maret
6.538
39.023.876
April
6.792
40.419.820
Mei
6.449
37.681.242
Juni
6.301
37.749.220
Juli
6.139
36.027.711
Agustus
6.003
36.795.578
September
5.868
33.498.752
Oktober
5.908
33.107.893
Nopember
5.699
34.123.330
Desember
5.634
32.719.638
JUMLAH
74.445
445.209.887
Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014
Bulan

Pulsa Interlokal
(Rp)
298.812.212
284.883.485
284.412.524
283.731.432
270.499.508
279.574.521
271.102.648
269.003.414
233.833.583
257.101.973
267.894.915
248.759.249
3.249.609.464

Pulsa InterNasional (Rp)


2.291.765
1.606.686
2.506.133
1.128.115
2.381.965
2.846.008
2.351.119
1.163.305
463.73
1.076.600
837.29
1.183.830
19.836.546

c. Pariwisata
Pembangunan kepariwisataan diarahkan pada peningkatan sektor pariwisata untuk
menggalakkan kegiatan ekonomi, sehingga lapangan kerja, pendapatan masyarakat
serta pendapatan asli daerah dapat meningkat melalui upaya pembangunan dan
pendayagunaan berbagai potensi kepariwisataan suatu daerah.
Indikator keberhasilan kepariwisataan di suatu daerah dapat ditunjukkan
dari banyaknya hotel/wisma/ penginapan yang tersedia dan arus wisatawan yang
berkunjung ke suatu daerah.
Jumlah hotel di Kota Parepare pada tahun 2013 tercatat ada sebanyak 32 hotel
dengan total jumlah kamar sebanyak 750 kamar, 1.159 tempat tidur dan 380 tenaga
kerja.
Sedangkan jumlah tamu yang berkunjung ke Kota Parepare yang menggunakan
jasa akomodasi hotel peng-inapan pada tahun 2013 tercatat ada sebanyak 126.411
orang terdiri dari 125.826 orang tamu domestik dan 585 tamu asing
5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Kemiskinan
a. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Manusia adalah subjek sekaligus objek pembangunan, oleh sebab itu
manusia harus mampu meningkatkan kualitas hidupnya, dan untuk itu peran

Hal. II-88

pemerintah serta masyarakat sangat dibutuhkan. Manusia adalah kekayaan bangsa


yang sesungguhnya. Pembangunan sumber daya manusia secara fisik dan
mental mengandung makna sebagai peningkatan kemampuan dasar penduduk.
Kemampuan

dasar

penduduk

tersebut

diperlukan

untuk memperbesar

kesempatan berpartisipasi dalam proses pembangunan.


Peningkatan kemampuan dasar dapat dilakukan melalui peningkatan
derajat kesehatan, pengetahuan

dan

keterampilan

penduduk. Hal

tersebut

penting karena dapat direfleksikan dalam kegiatan ekonomi produktif, sosial


budaya, dan politik.
Kemajuan pembangunan manusia secara umum dapat ditunjukkan
dengan melihat perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang
mencerminkan pencapaian kemajuan dibidang pendidikan, kesehatan, dan
ekonomi.
Tabel 2.17 Indeks Pembangunan Manusia Kota Parepare Tahun 2009 - 2013
Indikator

2009

2010

2011

2012

2013

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

77,45

77,78

78,19

78,63

79,02

Indeks Pendidikan

86,11

86,17

86,46

86,84

86,92

- Angka Melek Huruf (%)

97,06

97,16

97,17

97,33

97,36

9,63

9,63

9,76

9,88

9,91

Indeks Kesehatan

81,53

82,12

82,48

82,85

83,4

- Angka Harapan Hidup

73,92

74,27

74,49

74,71

75,04

Indeks Daya Beli

64,72

64,20

65,64

66,19

66,74

640,04

641,55

644,04

646,40

648,80

- Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun)

- Rata-rata Pengeluaran Perkapita (000)


Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014

b. Kemiskinan
Dalam kurun waktu tahun 2009-2013, persentase tingkat kemiskinan di
Kota Parepare selalu berada dibawah tingkat kemiskinan Provinsi. Sulawesi Selatan
dimana pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin di Kota Parepare sebesar 7.690
jiwa dan turun menjadi 7.368 jiwa pada tahun 2012 tetapi naik lagi pada tahun 2013
menjadi 8.600. Hal ini menandakan bahwa Program-program Pemerintah Kota
Parepare dalam rangka mengurangi angka kemiskinan sudah cukup baik.

Hal. II-89

Tabel 2.18 Penduduk Miskin Kota Parepare Tahun 2009 2013 (Jiwa)

2009

Penduduk Miskin
(Jiwa)
7.690

2010

8.500

2011

7.784

2012

7.368

Tahun

2013
8.600
Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014
Meskipun demikian, pemerintah Kota Parepare tetap berupaya untuk
merumuskan kebijakan dan program-program yang dapat memperluas lapangan
kerja sehingga jumlah penduduk yang tergolong ke dalam angkatan kerja terserap
lebih banyak untuk bekerja dibandingkan dengan yang menganggur.
6. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu cerminan
kemajuan perekonomian suatu daerah, yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai
tambah barang dan jasa yang dihasilkan dalam waktu satu tahun di wilayah tersebut.
a. PDRB Kota Parepare Atas Dasar Harga Berlaku menurut Lapangan Usaha
PDRB Kota Parepare atas dasar harga berlaku tahun 2013 sebesar
2.771.804,96 Juta Rupiah. Tiga sektor yang memberikan kontribusi terbesar
diberikan oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran yakni sebesar 24,92 persen
kemudian disusul oleh sektor jasa-jasa sebesar 21,14 persen serta sektor angkutan
& komunikasi dengan sumbangan sebesar 17,94 persen.
Tabel 2.56 PDRB Kota Parepare Atas Dasar Harga Berlaku menurut
Lapangan Usaha, Tahun 2013
Lapangan Usaha
Pertanian
Pertambangan Dan Galian
Industri Pengolahan
Lapangan Usaha
Listrik, Gas & Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel & Restoran
Angkutan & Komunikasi
Keuangan, Persewaan Dan Jasa Perusahaan
JasaJasa Lainnya
PDRB ADHB 2000

2011

2012

2013

138.016,90
6.261,53
45.922,23
2011
27.256,41
174.606,92
526.383,69
410.202,88
309.690,79
435.214,58

151.591 ,43
7.375,45
50.448,48
2012
30.898,31
203.940,88
598.957,37
449.123,68
374.342,65
509.843,07

174,459.62
8,710.21
56,096.82
2013
35,060.13
239,989.78
690,707.06
497,178.16
483,728.91
585,874.28

2.073.555,94

2.376.521,26

2.771.804.96

Hal. II-90

b. PDRB Kota Parepare Atas Dasar Harga Konstan 2000


PDRB Kota Parepare atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2013
sebesar 967.507,82 juta rupiah, naik sebesar 8,47 persen. Angka tersebut
merupakan angka pertumbuhan ekonomi Kota Parepare 2013. Pertumbuhan
ekonomi pada tahun ini cenderung mengalami percepatan jika dibandingkan dengan
pertumbuhan ekonomi tahun kemarin yang mencapai angka 7,92 persen.
Percepatan ini disebabkan karena meningkatnyanya pertumbuhan sub sektor
perbankan di tahun 2013 ini. Dimana pada tahun sebelumnya sektor ini mampu
tumbuh sebesar 15,25 persen, sedangkan di tahun ini dapat tumbuh sebesar 29,22
persen.
c. PDRB Kota Parepare Dan Angka Perkapita
Angka lainnya yang dapat diturunkan dari angka PDRB adalah angka PDRB
perkapita. Indikator ini biasanya digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran
penduduk di suatu daerah. PDRB per kapita atas dasar harga konstan 2000 Kota
Parepare pada tahun 2013 sebesar Rp 7.156.546,37. Sedangkan PDRB perkapita
atas dasar harga berlaku tahun 2013 sebesar 20.502.729,16 rupiah. Angka tersebut
meningkat jika dibandingkan dengan PDRB perkapita tahun kemarin yang hanya
mencapai angka sebesar 7.156.546,37 rupiah atas dasar harga konstan dan
17.997.404,43 atas dasar harga berlaku.
Tabel 2.20 PDRB Dan Angka Perkapita Atas Dasar Konstan 2000 Kota Parepare
URAIAN
PDRB Atas Dasar Harga Pasar

2011

2013

826.486,23

891.923.09

967.507,82

130.563

132.048

135.192

6.330.171,87

6.754.536,91

7.156.546,37

Penduduk
PDRB Perkapita

2012

Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014

Dapat dikatakan bahwa tingkat kemakmuran masyarakat Kota Parepare


semakin meningkat setiap tahunnya. Namun angka PDRB perkapita ini bukanlah
satu-satunya indikator yang dapat menentukan kesejahteraan rakyat, sebab PDRB
perkapita yang tinggi tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya pemerataan
pendapatan yang adil bagi masyarakatnya.
Tabel 2.21 PDRB Dan Angka Perkapita Atas Dasar Berlaku Kota Parepare
URAIAN

2011

2012

2013

Hal. II-91

PDRB Atas Dasar Harga Pasar

2.073.555,94

2.376.521,26

2.771.804,96

130.563

132.048

135.192

15.881.650,54

17.997.404,43

20.502.729,16

Penduduk
PDRB Perkapita

Sumber : Data Pokok Kota Parepare 2014

7. Perumahan dan Permukiman


a.

Rumah Tangga Pengguna Air Bersih


Jumlah rumah tangga di Kota Parepare yang menggunakan air bersih
terus mengalami peningkatan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan
pertumbuhan ekonomi penduduk yang semakin membaik. Pada tahun 2008 rumah
tangga pengguna air bersih sebesar 15.273 unit atau sekitar 60,10 persen dari
jumlah seluruh rumah tangga yang ada dan pada tahun 2012 sebesar 17.263 unit
atau sekitar 57,45 persen. Sehingga secara persentase rumah tangga pengguna
air bersih dalam kurun waktu lima tahun menurun. Hal ini terutama diakibatkan
oleh pertambahan jumlah rumah tangga lebih cepat daripada pertambahan rumah
tangga pengguna air bersih. Atau setiap rumah tangga tidak semuanya menjadi
pengguna air bersih.
Tabel 2.22 Rumah Tangga Pengguna Air Bersih Kota Parepare
NO
1
2

BIDANG / URUSAN

SATUAN

Jumlah Rumah Tangga


Pengguna Air Bersih
(Pelanggan PDAM)
Jumlah seluruh rumah
tangga
Rumah tangga
pengguna air bersih

TAHUN
2008

2009

2010

2011

2012

Unit

15.273

16.135

16.452

16.575

17.263

Unit

25.412

26.659

28.879

29.948

30.049

60,10

60,52

56,97

55,35

57,45

Sumber : PDAM &Buku Parepare Dalam Angka Tahun 2013


b. Rumah Tangga Pengguna Listrik
Sebagai sumber penerangan dan energi lain baik di sektor rumah tangga
maupun industri, listrik memegang peranan yang sangat vital. Kebutuhan akan
listrik di Kota Parepare dipasok oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Hal. II-92

Tabel 2.23 Rumah Tangga Pengguna Listrik Kota Parepare


NO
1
2

BIDANG / URUSAN

2008

2009

TAHUN
2010

Unit

21.710

23.835

24.681

26.182

27.638

Unit

25.412

26.659

28.879

29.948

30.049

85,43

89,41

85,46

87,42

91,98

SATUAN

Jumlah Rumah Tangga


Pengguna Listrik
Jumlah seluruh rumah
tangga
Rumah tangga
pengguna listrik

2011

2012

Sumber : Buku Parepare Dalam Angka Tahun 2013


Berdasarkan tabel tersebut, tenaga listrik yangdisalurkan oleh PLN
sebagian besar digunakan oleh rumah tangga yaitu pada tahun 2008 sebesar
85,43 persen rumah tangga dan pada tahun 2012 mencapai 91,98 persen rumah
tangga yang menggunakan listrik. Hal ini berarti jumlah pelanggan PLN bertambah
setiap tahunnya. Namun demikian, setiap pertambahan rumah tangga nampaknya
tidak langsung berlangganan PLN yang ditandai oleh masih ada sekitar 8 persen
rumah tangga dari seluruh rumah tangga yang belum menggunakan listrik.
c. Rumah Tangga Bersanitasi
Pada tahun 2008 rumah tangga bersanitasi di Kota Parepare sebanyak
10.068 unit dan terus mengalamipeningkatan hingga tahun 2012 sebanyak 15.342
unit. Meskipun mengalami peningkatan, namun secara persentase baru mencapai
51 persen dari jumlah seluruh rumah tangga yang ada. Kondisi ini berarti masih
sekitar 49 persen rumah tangga belum menggunakan sanitasi.
Tabel 2.24 Rumah Tangga Bersanitasi Kota Parepare
NO
1
2

BIDANG / URUSAN

2008

2009

TAHUN
2010

2011

2012

Unit

10.068

11.186

12.428

13.808

15.342

Unit

25.412

26.659

28.879

29.948

30.049

39,62

41,96

43,03

46,11

51,06

SATUAN

Jumlah rumah tangga


bersanitasi
Jumlah seluruh Rumah
Tangga
Rumah tangga berSanitasi

Sumber : Dinas Kesehatan Tahun 2013


d. Lingkungan Pemukiman Kumuh
Di Kota Parepare nampaknya masih terdapat lingkungan perumahan
kumuh. Pada tahun 2010 luas lingkungan kumuh 31,09 ha dan pada tahun 2011
menurun menjadi 17,75 ha, namun pada tahun 2012 meningkat lagi menjadi 27,40

Hal. II-93

ha. Penambahan luasan tahun 2011 ke 2012 diakibatkan oleh pelaksanaan up


dating lingkungan kumuh, dimana pada tahun 2011 pendataan dilakukan
berdasarkan titik-titik kumuh Kota Parepare, namun ada perubahan permintaan
dari kementerian sehingga pada tahun 2012 dilakukan pendataan berdasarkan
lingkungan kumuh, sehingga terjadi perbedaan luasan. Upaya pemerintah untuk
menurunkan persentase pemukiman kumuh masih tetap menjadi perhatian dan
akan dilaksakan secara bertahap dalam kurun waktu 5 (lima) tahun.
Tabel 2.25 Lingkungan Pemukiman Kumuh Kota Parepare
NO

BIDANG / URUSAN

TAHUN

SATUAN

2008

2009

2010

2011

2012

Luas Lingkungan Pemukiman


Kumuh

Ha

31,09

17,75

27,40

Luas Wlayah

Ha

9.933

9.933

9.933

Lingkungan pemukiman kumuh

0,31

0,18

0,28

Sumber : Dinas Tata Ruang, Tahun 2013


e.

Rumah Layak Huni


Pertumbuhan jumlah penduduk yang tiap tahunnya semakin bertambah
dan semakin meningkatnya sektor-sektor usaha di perkotaan, mengakibatkan
kebutuhan suatu tempat hunian yang lebih layak semakin sulit. Berdasarkan Tabel
2.54 jumlah rumah Kota Parepare semakin bertambah dari tahun ke tahun. Namun
untuk rumah yang tidak layak huni belum teridentifikasi dari tahun 2008 s.d 2011
sehingga pada tahun 2012 dilakukan pendataan rumah tidak layak huni bagi
Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Berdasarkan pendataan rumah kurang/tidak layak huni tahun 2012
tersebut sebanyak 3.375 unit rumah yang masuk kategori rumah tidak layak huni
dari masyarakat penghasilan rendah yang tersebar di 22 kelurahan.
Tabel 2.26 Rumah Layak Huni Kota Parepare Tahun 2008-2012
NO

BIDANG / URUSAN

SATUAN

TAHUN
2008

2009

2010

2011

2012

Jumlah Rumah Layak Huni

unit

29.416

Jumlah Rumah Tidak Layak


Huni

unit

3.375

Jumlah Seluruh Rumah

unit

28.789

29.719

31.172

Rumah layak huni

94,37

Sumber : Dinas Tata Ruang, Tahun 2013

Hal. II-94

Rumah layak huni yang terdata tahun 2012 tersebut akan ditangani secara
bertahap melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) melalui
Kementerian Perumahan Rakyat, atau melalui anggaran Dinas Tata Ruang dan
Perkim Prov. Sulawesi Selatan maupun melalui APBD Kota Parepare

Hal. II-95

II 96

Anda mungkin juga menyukai