Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan Tugas Kedua dari mata kuliah Hukum
dan Administrasi Pembangunan yaitu identifikasi ketentuan peraturan dan
perundang-undangan

terkait

studi

kasus

permasalahan

yang

diangkat

mengenai kegiatan konstruksi hotel berbintang lima melanggar sempadan


Pantai Sawangan, Kutai Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Di mana
dalam tugas ini membahas peraturan perundang-undangan yang dilanggar
serta penyesuaian terhadap rencana tata ruang yang berlaku, tindak lanjut
hukum serta penyelesaian dan rekomendasi terhadap kasus tersebut.
Informasi beserta data terkai studi kasus dalam makalah ini diperoleh
dari hasil survey literatur penulis. Semoga makalah ini dapat menggambarkan
dan memberikan rekomendasi terkait studi kasus Hukum dan Administrasi
Pembangunan mengenai identifikasi ketentuan peraturan dan perundangundangan. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata
kuliah Hukum dan Administrasi Pembangunan yaitu Bapak Putu Gde Ariastita,
ST., MT. dan Bapak Ir. Sardjito, MT. yang turut membimbing dalam penyelesaian
makalah ini, serta sumber-sumber terkait yang turut menjadi referensi makalah
ini. Jauh dari semua ini makalah kami masih jauh dari kata sempurna untuk itu
kami mengharapkan rekomendasi dan kritik dari para pembaca.

Surabaya, April 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................................................. 0


DAFTAR ISI .................................................................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................................ 3
1.1

Latar Belakang......................................................................................................................................... 3

1.2

Tujuan dan Manfaat .............................................................................................................................. 4

1.3

Sistematika ............................................................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................................................................. 5


2.1 Ketentuan Perundang-Undangan .......................................................................................................... 5
2.2 Permasalahan Pelanggaran Tata Ruang ........................................................................................... 14
2.3 Tindak Lanjut dan Penyelesaian Permasalahan ............................................................................. 14
BAB III PENUTUP.................................................................................................................................................... 16
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................................................. 16
3.2 Lesson Learned........................................................................................................................................... 16
Daftar Pustaka ........................................................................................................................................................ 17

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Bintoro Tjokroamidjojo (1998) mengenai lingkup adminis trasi
pembangunan, didefinisikan sebagai sebuah proses pengendalian usaha (administrasi) oleh
negara/pemerintah untuk merealisasikan pertumbuhan yang direncanakan ke suatu keadaan
yang dianggap lebih baik dan maju dalam berbagai aspek kehidupan bangsa dan bernegara.
Hal ini sejalan dengan keilmuan perencanaan wilayah dan kota yang memiliki tujuan sebagai
pemrakarsa ide/rencana guna menciptakan sekaligus mengontrol perkembangan wilayah
terutama dalam hal mikro tata guna lahan perkotaan (urban landuses) yang sustain dan
livable. Oleh karena itu adanya rencana tata ruang wilayah dalam tingkat nasional, provinsi
hingga kabupaten/kota beserta instrumen-instrumen hukum dalam peraturan menteri,
peraturan daerah dan rencana detail spasial perkotaan harus bersinergis sehingga dapat
melaksanakan fungsi controling dan evaluasi pembangunan di daerah.
Controling dan evaluasi pembangunan sangat dibutuhkan untuk menegakkan
ketentuan dalam hukum yang berlaku. Dengan ditegakkannya fungsi tersebut pada akhirnya
mampu memunculkan kasus-kasus pelanggaran terhadap hukum dan tata ruang. Sehingg
akibatnya konsekuensi dan sanksi harus diterima oleh pihak-pihak yang terlibat dalam
kegiatan pelanggaran tersebut mulai dari pemberhentian kegiatan pembangunan, proses
mediasi, pengadilan hingga ganti rugi. Pada umumnya, munculnya kasus pelanggaran ke
publik disebabkan adanya partisipasi pemerhati lingkungan (apabila dampaknya terhadap
lingkungan), masyarakat terdampak dan sebagian kecil pihak-pihak berkepentingan.
Sehingga partisipasi publik sangat diharapkan dalam implementasi hukum dan rencana tata
ruang sebagai pihak yang dikenai rencana tata ruang maupun proses pembangunan beserta
dampak kegiatannya.
Meninjau hal tersebut, alangkah baiknya bila negara/pemerintah bersama dengan
masyarakat dan pemerhati dapat bersinergis me-monitoring seluruh kegiatan pemanfaatan
ruang di setiap daerah. Salah satunya dengan mengidentifikasi project pembangunan yang
memiliki kemungkinan memberikan dampak pada lingkungan maupun pelanggaran
terhadap ketentuan hukum dan tata ruang beserta mengetahui sejauh mana proses hukum
dan pengadilan berlangsung dalam studi kasus kegiatan konstruksi hotel berbintang lima
yang melanggar sempadan Pantai Sawangan, Kutai Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Hingga diperoleh apakah memang terjadi pelanggaran maupun sejauh mana pemerintah
menindaklanjuti proses hukumnya. Sehingga hukum dan proses tindaklanjutnya mampu
mengayomi kepentingan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di daerah
tersebut.

1.2 Tujuan dan Manfaat


Berdasarkan latar belakang penulisan makalah Tugas II Hukum dan Administrasi
Pembangunan tentang identifikasi ketentuan peraturan dan perundang-undangan terkait
studi kasus yang diangkat, bahwa penulisan memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Mengetahui ketentuan perundang-undangan pada studi kasus yang dipilih.
b. Mengetahui ketentuan rencana tata ruang provinsi maupun kabupaten sebagai
pedoman arahan pemanfaatan ruang di wilayah studi kasus.
c. Memperkuat pemahaman dengan menunjukkan jenis pelanggaran pada studi
kasus terhadap perundang-undangan dan rencana tata ruang yang berlaku.
d. Memberikan

kontribusi

penyelesaian

permasalahan

tata

ruang

melalui

rekomendasi yang diberikan.

1.3 Sistematika
Adapun sistematika penulisan makalah Tugas II Hukum dan Administrasi Pembangunan
tentang identifikasi ketentuan peraturan dan perundang-undangan terkait studi kasus yang
diangkat adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang, tujuan dan sistematika penulisan laporan.
BAB II PEMBAHASAN
Berisi penjabaran ketentuan perundang-undangan, permasalahan pelanggaran tata ruang
dan tindak lanjut serta penyelesaian permaslahan studi kasus.
BAB III PENUTUP
Memuat kesimpulan mengenai bahasan studi kasus beserta lesson learned bagi mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ketentuan Perundang-Undangan
Pembangunan Kempinski dan Ritz Carlton Hotel dinilai melakukan pelanggaran terhadap perundang-undangan dan arahan tata ruang yang
ada. Adapun ketentuan perundang-undangan yang dilanggar dalam pembangunan kedua proyek hotel ini diantaranya:
-

Peraturan Daerah Kabupaten Badung No 26 Tahun 2013 Tentang RTRW Kabupaten Badung Tahun 2013-2033
Peraturan Daerah Provinsi Bali No 16 Tahun 2009 Tentang RTRW Provinsi Bali 2009-2029
Peraturan Presiden No 22 Tahun 2012 Tentang Reklamasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Dibawah ini adalah rincian ketentuan peraturan dan perundangan yang dilanggar beserta bentuk pelanggaran tata ruang yang dilakukan dalam
tabel berikut:
2.1.1. Peraturan Daerah Kabupaten Badung No 26 Tahun 2013 Tentang RTRW Kab. Badung Tahun 2013 2033
Pelanggaran Tata Ruang

Pasal/Ayat yang Mengatur

Pelanggaran
Kawasan Pasal 28 Ayat 1 dan 2
Sempadan Pantai

Rencana pola ruang kawasan sempadan pantai sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 25 huruf c meliputi seluruh pantai yang
terdapat di kawasan pesisir Wilayah Kabupaten sepanjang kurang
lebh 82 Km. (Ayat 1)
Sebaran kawasan sempadan pantai diantaranya Pantai Sawangan
(ayat 2 huruf d)
Pasal 36 Ayat 4

Kondisi Faktual
Pembangunan Kempinski dan Ritz Carlton Hotel di
Sawangan, Badung telah menyalahi fungsi Pantai
Sawangan dan Kecamatan Kutai Selatan sebagai
kawasan sempadan pantai yang seharusnya menjadi
kawasan lindung.
Selain itu pembangunan kedua hotel berada pada
kawasan rawan abrasi yang seharusnya tidak boleh
dibangun karena selain rawan akan terjadinya bencana
juga rentan dengan ekositem di sekitarnya.

Kawasan rawan abrasi pantai sebagaimana dimaksud


sebabarannya berada pada kawasan pesisir pantai selatan
sepanjang kurang lebih 12,1 km diantaranya meliputi Pantai
Sawangan.
Pasal 56 Ayat 3
Penggunaan dan pemanfaatan tanah pada bidang-bidang tanah
yang berada di sempadan pantai harus memperhatikan:
Kepentingan umum
Keterbatasan
daya
dukung,
pembangunan
yang
berkelanjutan, keterkaitan ekosistem, keanekaragaman hayati
serta kelestarian fungsi lingkungan

Sehingga pembangunan Kempinski dan Ritz Carlton


Hotel jelas tidak memenuhi syarat penggunaan dan
pemanfaatan tanah pada sempadan pantai. Hal ini
dikarenakan keberadaan kedua hotel tersebut jelas tidak
mendukung fungsi lingkungan sekitar.
Kempinski dan Ritz Carlton Hotel juga memiliki
bangunan yang berada kurang dari 100 m garis pantai
sehingga pembangunan kedua hotel tersebut dinilai
telah menyalahi aturan sempadan pantai.

Pasal 74 Ayat 1
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan pantai
meliputi:
a) Daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100
meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah
b) Daratan sepanjang laut yang bentuk dan kondisi fisik
pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional
terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai.
c) Untuk pantai yang berbatasan langsung dengan jurnang jarak
sempadannya mengikuti ketentuan sempadan jurang
d) Ruang kawasan sempadan pantai merupakan ruang terbuka
untuk umum dan bangunan yang diperkenankan adalah
bangunan fasilitas wisata non permanen dan temporer,
bangunan umum terkait sosial kegaamaan, bangunan terkait
kegiatan perikanan tradisional dan dermaga, bangunan
pengawasan pantai, bangunan pengaman pantai dari abrasi,

Gambar x.x
Citra Satelit Kawasan Sempadan Pantai Sawangan
Sumber: Google Earth, 2016

Sedangkan
pengecualian
pemanfaatan
kawasan
sempadan pantai pada pembangunan Kempinski dan
Ritz Carlton Hotel di Sawangan jelas tidak dapat
dilakukan. Hal ini dikarenakan meskipun berfungsi
sebagai obyek wisata namun pembangunannya akan
memberikan dampak negatif bagi lingkungan di
sekitarnya serta menurunkan fungsi lindung lingkungan.

f)

bangunan evakuasi bencana, bangunan terkait pertahanan


keamanan
Pemanfaatan kawasan budidaya sepanjang tidak berdampak
negatif terhadap fungsi lindungnya meliputi:
Obyek wisata antara lain rekreasi pantai dan olahraga
pantai
Dermaga khusus perikanan di pantai kedonganan dan
pantai tanjung benoa
Dermaga khusus pariwisata di pantai tanjung benoa
Kegiatan budidaya rumput laut, kepiting bakau,
pembuatan garam tradisional, dan kegiatan perikanan
Kegiatan budidaya pertanian dan perikanan
Kegiatan ritual keagamaan

Gambar x.x
Visualisai Kawasan Sempadan Pantai
Sumber: RTRW Kabupaten Badung

Pelanggaran
Kawasan Pasal 31
Sempadan Jurang

Kawasan sempadan jurang sesagaimana dimaksud terletak pada


kawasan yang memenuhi kriteria sempadan jurang yang
sebarannya meliputi:
Lembah-lembah sungai di seluruh Wilayah Kabupaten
Kawasan hutan dan pegungunan di Wilayah Kecamatan
Petang
Lembah-lembah bukit di wilayah Kecamatan Petang dan
Kecamatan Kuta Selatan

Tebing-tebing di seluruh wilayah Kabupaten

Pasal 74 Ayat 4
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan sempadan jurang
sebagaimana dimaksud meliputi:
Daratan di tepian jurang yang memiliki kemiringan lereng
sekurang-kurangnya
45%,
kedalaman
sekurangkurangnya 5 m dan bidang datar bagiatas sekurangkurangnya 11 m.
Sempadan jurang bagian atas harus memiliki lebar
sekurang-kurangnya 2 kali kedalaman jurang dan tidak
kurang dari 11 m dari tepi jurang kearah bidang datar.
Sempadan jurang pada bidang datar di bawah tepian
jurang yang memilki kemiringan lereng sekurangkurangnya 45%, ketinggian sekurang-kurangnya 5 m dan
bidang datar bagian bawah tidak kurang dari 5,5 m.
Sempadan jurang bagian bawah sebagaimana dimaksud
huruf c harus memiliki lebar sekurang-kurangnya 1 kali
kedalaman jurang dan tidak kurang dari 5,5 meter
dihitung dari tepi jurang bagian bawah ke arah bidang
datar
Kepemilikan lahan yang berbatasan dengan jurang harus
menyediakan ruang terbuka publik sekurang-kurangnya 6
meter pada bidang datar sepanjang jurang untuk jalan
inspeksi / taman telajakan
Sempadan jurang dapat kurang dari ketentuan diatas
khusus bagi bangunan untuk kepentingan umum,
keagamaan, hankam dengan dinyatakan stabil setelah
melalui penelitian teknis dari instansi berwenang
Sempadan jurang dapat kurang dari ketentuan huruf b
diaatas untuk bagunan yang berada di wilayah Kecamatan
Kutai Selatai setelah dinyatakan stabil melalui penelitian

Pelanggaran
Penatagunaan
Udara

teknis instansi berwenang dengan ketentuan tidak kurang


dari 11 m
Pencegahan kegiatan budidaya sempadan jurang yang
dapat menganggu kelestarian fungsi perlindungan
setempat
Pemanfaatan sebagai obyek wisata tanpa bangunan
berupa wisata alam dan olahraga petualangan setelah
melalui kajian

Pasal 58 Ayat 2

Ruang

Ketinggian bangunan yang memanfaatkan ruang udara di atas


permukaan bumi dibatasi maksimum 15 m, kecuali bangunan
umum dan bangunan khusus yang memerlukan persyaratan
ketinggian lebih dari 15 m, seperti: menara pemancar, tiang listrik
tegangan tinggi, mercu suar, menara bangunan keagamaan,
bangunan keselamatan penerbangan, bangunan pertahanan
keamanan, dan bangunan khusus untuk kepentingan keselamatan
dan keamanan umum lainnya berdasarkan kajian dengan
memperhatikan keamanan, kenyamanan, dan keserasian terhadap
lingkungan sekitarnya, serta mendapat izin dari instansi yang
berwenang. (Huruf c)

Berdasarkan ketentuan terkait ketinggian bangunan


dalam penatagunaan ruang udara dapat diketahui
bahwa pembangunan Kempinski Hotel melanggar
ketinggian bangunan maksimum yang diharuskan.
Adapun saat ini mega proyek Kempinski Hotel masih
dalam proses pembangunan, namun berdasarkan isu
yang beredar di masyarakat bahwa hotel ini akan
dibangun hingga mencapai 10 lantai yang mana
menyalahi aturan ketinggian bangunan yang maksimum
setinggi 15 meter atau setara dengan ketinggian 3-4
lantai.

Gambar x.x
Pelanggaran Ruang Udara pada Kempinski Hotel
Sumber: Berita Bali, 2015

2.1.2 Peraturan Daerah Provinsi Bali No 16 Thn 2009 Tentang RTRW Provinsi Bali 2009-2029
Pelanggaran Tata Ruang
Pelanggaran
Suci Pantai

Pasal/Ayat yang Mengatur

Kawasan Pasal 44 Ayat 2


Kawasan suci pantai adalah tempat tempat tertentu di kawasan
pantai yang dimanfaatkan untuk upacara melasti di seluruh pantai
Provinsi Bali. Arahan pengelolaan kawasan suci pantai disetarakan
dengan kawasan sempadan pantai.

Pelanggaran
Kawasan Pasal 44 Ayat 13
Sempadan Pantai

Yang dimaksud kawasan sempadan pantai adalah kawasan


sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk
mempertahankan kelestarian fungsi pantai, keselamatan
bangunan, dan ketersediaan ruang untuk publik.
Pengecualian lebar sempadan pantai untuk pantai-pantai yang
ada di Daerah Bali setelah mendapat kajian teknis dari instansi
atau pakar terkait. Kajian teknis dimaksud meliputi daya dukung
fisik alam lingkungan pantai yang sekurang-kurangnya meliputi
tinjauan geologi, tata lingkungan, kemungkinan erosi dan abrasi,
pengaruh hidrologi lokal regional, dan rencana pemanfaatan
kawasan pantai.
Pasal 50 Ayat 4
Kawasan sempadan pantai sebagaimana dimaksud ditetapkan
dengan kriteria:
a) Daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100
meter dari titik pasang air laut tertinggi kearah darat

10

Kondisi Faktual
Sesuai dengan pasal berikut, maka dapat diketahui
bahwa lokasi Kempinski dan Ritz Carlton Hotel
menyalahi aturan kawasan suci pantai sebagai salah
satu lokasi upacara melasti. Pemanfaatan kawasan suci
pantai ini selain dapat mengurangi nilai-nilai budaya
khas Bali juga dapat menghambat proses tradisi yang
biasa dilakukan.
Sesuai dengan arahan kawasan sempadan pantai pada
RTRW Kabupaten Badung, pada arahan RTRW Provinsi
Bali pembangunan Kempinski dan Ritz Carlton Hotel
juga dinilai menyalahi aturan yang ada. Hal ini dikarena
pada RTRW Prov. Bali, kawasan sempadan pantai yang
diatur juga sebesar 100 meter, sedangkan pada kedua
hotel tersebut kawasan sempadan pantainya hanya
mencapai 50 meter.
Pada RTRW Prov. Bali diatur bahwa terdapat
pengecualian lebar sempadan pantai, namun perlu
disertai kajian dan penelitian lebih lanjut. Namun untuk
kasus
pembangunan
kedua
hotel
tersebut
pembangunan yang ada dinyatakan belum menyertakan
kajian dan penelitian dari pakar terkait. Selain itu
pembangunan kedua hotel juga dinilai tidak sesuai
dengan daya dukung lingkungan kawasan sekitarnya.
Pendirian bangunan pada kawasan sempadan pantai
juga hanya dapat dilakukan untuk bangunan penunjang

b) Daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik


pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional
terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai
c) Gubernur
menetapkan
pedoman
penyelanggaraan
penanggulangan abrasi, sedimentasi, produktivitas lahan
pada daerah pesisir pantai lintas kabupaten/kota

yang bersifat permanen yang mana telah dilanggar


dalam pembangunan kedua hotel ini.

Pasal 108 Ayat 3


Arahan peraturan zonasi sempadan pantai mencakup:
a) Pengaturan jarak sempadan pantai sesuai ketentuan
b) Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau
c) Pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk
mencegah abrasi
d) Pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang
kegiatan rekreasi pantai, pengamanan pesisir, kegiatan
nelayan dan kegiatan pelabuhan
e) Pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud huruf d
f) Pengamanan sempadan pantai sebagai ruang publik
g) Pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan
kualitas lingkungan
h) Pantai yang berbentuk jurang memanfaatkan aturan zonasi
sempadan jurang

Pelanggaran
Penatagunaan
(Reklamasi)

Pasal 93 Ayat 4

Tanah

Penguasaan tanah sebagaimana dimaksud, yang berasal dari


tanah timbul atau reklamasi di wilayah perairan pantai, pasang
surut, rawa, danau, dan bekas sungai dikuasai oleh Negara

11

Pada pasal ini dijelaskan bahwa tanah yang berasal dari


reklamasi di wilayah perairan pantai seharusnya menjadi
milik dan hak pemerintah. Pada proyek pembangunan
kedua hotel ini terdapat usaha reklamasi yang
dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi/swasta tanpa
disertai izin yang jelas. Hal ini jelas melanggar peraturan
yang ada.

Pelanggaran
Penatagunaan
Udara

Pasal 95 Ayat 2

Ruang

Ketinggian bangunan yang memanfaatkan ruang udara di atas


permukaan bumi dibatasi maksimum 15 m, kecuali bangunan
umum dan bangunan khusus yang memerlukan persyaratan
ketinggian lebih dari 15 m, seperti: menara pemancar, tiang listrik
tegangan tinggi, mercu suar, menara bangunan keagamaan,
bangunan keselamatan penerbangan, bangunan pertahanan
keamanan, dan bangunan khusus untuk kepentingan keselamatan
dan keamanan umum lainnya berdasarkan kajian dengan
memperhatikan keamanan, kenyamanan, dan keserasian terhadap
lingkungan sekitarnya, serta mendapat izin dari instansi yang
berwenang. (Huruf b)

Sesuai dengan arahan yang terdapat di RTRW


Kabupaten Badung, pada arahan penatagunaan ruang
udara RTRW Provinsi Bali juga diatur bahwa ketinggian
bangunan dibatasi agar tidak lebih dari 15 meter, yang
mana dilanggar pada pembangunan kedua hotel yang
diisukan memiliki ketinggian 3-4 lantai / sekitar 16
meter.

2.1.3 Peraturan Presiden No 22 Tahun 2012 Tentang Reklamasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Pelanggaran Tata Ruang
Pelanggaran
Reklamasi

Pasal/Ayat yang Mengatur

Perizinan Pasal 15
Pemerintah, pemerintah daerah, dan setiap orang yang akan
melaksanakan reklamasi wajib memiliki izin lokasi dan izin
pelaksanaan reklamasi

Kesesuaian
dengan Pasal 11
Rencana Tata Ruang lain

Penyusunan rencana induk reklamasi sebagaimana dimaksud


harus memperhatikan:
a) Kajian lingkungan hidup strategis
b) Kesesuaian dengan RZWP-3-K Provinsi, Kabupaten/Kota, dana
tau RTRW Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota

12

Kondisi Faktual
Pembangunan Kempinski dan Ritz Carlton Hotel
menurut SKKPLH belum memenuhi izin dan persyaratan
reklamasi yang ada. Hal ini tentunya menjadi sebuah
penyimpangan tata ruang mengingat reklamasi pada
kedua hotel ini sudah dan siap dilakukan meskipun
belum dibekali izin.
Berdasarkan
tinjauan
terhadap
kebijakan
lain
sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa reklamasi
tidak dapat dilakukan pada wilayah studi mengingat
kondisi lingkungannya yang tidak mendukung dan perlu
dilindungi. Sehingga proses rencana reklamasi yang ada
sudah jelas bertentangan dan tidak mempertimbangkan
arahan RTRW wilayah bersangkutan.

c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)

Akses publik
Fasilitas umum
Kondisi ekosistem pesisir
Kepemilikan dan/atau penguasaan lahan
Pranata sosial
Aktivitas ekonomi
Kependudukan
Kearifan lokal
Daerah cagar budaya dan situs sejarah

13

Selain itu pembangunan kedua hotel tersebut juga


secara tidak langsung belum memperhatikan kondisi
ekosistem pesisir, pranata sosial, kependudukan, dan
kearifan lokal wilayah studi saat melakukan proses
reklamasi.

2.2 Permasalahan Pelanggaran Tata Ruang


Seperti yang sudah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya, terdapat beberapa
pelanggaran tata ruang terkait pembangunan Hotel Kempinski dan Ritz Carlton International.
Dokumen tata ruang yang dilanggar dalam kasus ini adalah Peraturan Daerah Kabupaten
Badung No 26 Tahun 2013 Tentang RTRW Kab. Badung Tahun 2013 2033, Peraturan
Daerah Provinsi Bali No 16 Tahun 2009 Tentang RTRW Provinsi Bali 2009-2029, serta
Peraturan Presiden No 22 Tahun 2012 Tentang Reklamasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil. Secara umum, pelanggaran terkait pembangunan kedua hotel tersebut adalah :
1. Pembangunan hotel pada kawasan sempadan pantai. Pada Perda Kabupaten Badung
telah dijelaskan bahwa kawasan sempadan pantai di kawasan ini adalah 100 meter
dari garis pantai, tetapi pada praktiknya pembangunan hotel hanya menyisakan
sekitar 50 meter dari garis pantai.
2. Pembangunan hotel yang melanggar terkait penatagunaan ruang udara.
Pembangunan hotel terindikasi melanggar batas maksimal ketinggian sebuah
bangunan seperti yang telah dituliskan pada Perda Kabupaten Badung bahwa
maksimal ketinggian sebuah bangunan adalah 15 meter atau setara dengan 3-4
lantai, tetapi isu yang berkembang di masyarakat pembangunan hotel ini mencapai
10 lantai.
3. Pelanggaran kawasan suci pantai yang menindikasikan pembangunan hotel ini
terletak pada pantai yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk melakukan upacara
adat.
4. Pelanggaran perizinan reklamasi yang menurut SKKPLH Bali pembangunan hotel ini
masih belum mengantongi izin yang jelas terkait reklamasi pantai.

2.3 Tindak Lanjut dan Penyelesaian Permasalahan


Terkait tindak lanjut dari indikasi pelanggaran yang dilakukan oleh pihak
pengembangan dari kedua hotel tersbut, anggota komisi DPRD Bali sudah menegaskan
bahwa pemerintah setempat harus mengambil tindakan tegas jika terjadi pelanggaran
terhadap tata ruang (suksesinews.com, 2016). Namun Kasatpol PP Badung masih belum bisa
mengambil tindakan tegas jika pembangunan hotel tersebut sudah mengantongi izin.
Sehingga pihak yang berhak untuk meninjau lapangan adalah instansi yang bergerak di
bidang teknis (denpostnews.com, 2016). Kepala BPPT Bali mengatakan terkait pelanggaran
terhadap ketinggian bangunan, kedua hotel tersebut sudah mematuhi peraturan yang ada,
hotel tersebut terlihat lebih tinggi jika dilihat dari bawah karena dibangun pada tanah
terasering. Tetapi titik nol tanah tetap pada setiap tingkatannya (denpostnews, 2016).
Sedangkan tindak lanjut mengenai pelanggaran pembangunan hotel pada kawasan
sempadan pantai, pelanggaran kawasan suci dan perizinan reklamasi masih belum terdapat
tindak lanjutnya hingga sekarang.
Menurut Anggota Komisi I DPRD Bali, Nyoman Adnyana, Pemerintah Kabupaten
Badung harus segera menindaklanjuti pelanggaran yang telah dilakukan oleh pihak Hotel
Kempinski dan Hotel Ritz Carlton, dan harus dilakukan yang tegas, dan apabila perlu, maka
14

pembangunan hotel tersebut bisa saja dibongkar oleh aparat. Dalam kata lain, salah satu
penyebab dari permasalahan ini adalah kurangnya pengawasan dari pihak pemerintah
mengenai pembangunan di Bali sehingga perlu adanya pengawasan lebih mengenai
pembangunan yang ada di Bali sehingga tidak melanggar peraturan yang ada.
Kurang tegasnya aparat pemerintah Kabupaten Badung dalam pengawasan
pembangunan di wilayah tersebut merupakan penyebab utama terjadinya permasalahan
pembangunan Hotel Kempinski dan Hotel Ritz Carlton, karena pihak hotel tersebut sudah
mengantongi surat izin membangun dari pihak pemerintah padahal pembangunannya telah
melanggar peraturan dan kebijakan yang ada, sehingga tindak lanjut yang seharusnya sudah
dilakukan oleh pemerintah menjadi sulit.
Namun, walaupun pihak hotel tersebut sudah memiliki izin membangun, apabila
terdapat pelanggaran terhadap peraturan atau kebijakan yang ada, maka kasus tersebut
tetap harus segera diselesaikan oleh pemerintah. Salah satu penyelesaiannya adalah dengan
pemberian pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang dibutuhkan
untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan karena pembangunan hotel tersebut. Selain
pengenaan pajak yang tinggi, kasus tersebut bisa juga diselesaikan dengan pemberian sanksi
terhadap pihak hotel, sebagai contoh, dengan tidak memberikan perizinan mengenai
reklamasi karena perizinan mengenai mendirikan bangunan hotel belum sesuai dengan
peraturan penataan ruang yang ada. Dan untuk pelanggaran kawasan suci, pemerintah
Kabupaten Badung seharusnya sudah dengan cepat menindaklanjuti permasalahan tersebut,
karena masyarakat Bali sendiri kental dengan menghargai adat istiadat dan budayanya.

15

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pembangunan hotel Kempinski dan Ritz Carlton di Sawangan, Kabupaten Badung,
Bali telah melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kebijakan tersebut
antara lain Peraturan Daerah Kabupaten Badung No. 26 Tahun 2013, Peraturan Daerah
Provinsi Bali No 16 Tahun 2009 Tentang RTRW Provinsi Bali 2009-2029 Peraturan Presiden
No 22 Tahun 2012 Tentang Reklamasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Adapun
pelanggaran tata ruang yang dilanggar antara lain pelanggaran kawasan sempadan pantai,
pelanggaran kawasan sempadan jurang, pelanggaran penatagunaan ruang udara (ketinggian
bangunan), pelanggaran kawasan suci pantai, pelanggaran penatagunaan tanah (reklamasi),
pelanggaran perizinan reklamasi, dan kesesuaian dengan rencana tata ruang yang berlaku.
Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari indikasi pelanggaran yang telah
dilakukan akibat pengembangan dari kedua hotel tersebut. Terlebih lagi kedua hotel telah
mengantongi izin pembangunan. Maka dari itu Pemerintah Kabupaten Badung perlu
menyelesaikan masalah dengan cara pemberian sanksi maupun disinsentif berupa
pengenaan pajak yang tinggi.

3.2 Lesson Learned


Pelaksanaan pembangunan, khususnya pembangunan fisik tidak selalu berjalan
sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pelanggaran pemanfaatan ruang
ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor teknis operasional, administratif/politis,
dan perkembangan pasar. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa untuk mewujudkan terciptanya
pembangunan yang tertib ruang, diperlukan tindakan pengendalian pemanfaatan ruang
dan pemberian sanksi yang sungguh-sungguh bagi pelanggarnya. Berkembang pesatnya
kegiatan usaha di bidang jasa dan pariwisata menjadi salah satu pendukung penting dalam
usaha pembangunan di daerah Kabupaten Badung, Bali, namun hal ini juga membawa
dampak buruk khususnya bagi lingkungan. Maka dari itu, seluruh elemen baik dari
pemerintah, investor (pemrakarsa) maupun dari masyarakat harus mengawasi dan
menertibkan pelanggaran-pelanggaran tata ruang secara maksimal. Agar tujuan-tujuan dari
pembangunan tetap tercapai tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

16

Daftar Pustaka
bbn/dws. (2015, August 5). Berita Bali. Retrieved April 20, 2016, from beritabali.com:
http://beritabali.com/
Anonim (2009), Peraturan Daerah Provinsi Bali No 16 Tahun 2009 Tentang RTRW Provinsi Bali
2009-2029. Bali
Anonim (2012), Peraturan Presiden No 22 Tahun 2012 Tentang Reklamasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil. Jakarta
Anonim (2013), Peraturan Daerah Kabupaten Badung No 26 Tahun 2013 Tentang RTRW
Kabupaten Badung Tahun 2013-2033, Bali.

17