Anda di halaman 1dari 23

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

BENTUK NEGARA,BENTUK DAN SISTEM PEMERINTAHAN


KELOMPOK 3
IRFANDI
HERIANSYAH
RIDUAN FIRMANSYAH
SIIN
FITRIA DEWI
ANISATUN MAHFUDOH

A.BENTUK NEGARA DAN BENTUK SISTEM PEMERINTAHAN


1. Bentuk negara
Istilah bentuk negara berasal dari bahasa Belanda, yaitu staatvormen. Menurut para ahli
ilmu negara istilah staatvormen diterjemahkan ke dalam bentuk negara yang meliputi negara
kesatuan, federasi, dan konfederasi. Jika dilihat dari bentuk negara yang berlaku umum di
dunia maka bentuk negara secara umum dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Negara kesatuan, merupakan bentuk negara yang sifatnya tunggal dan tidak tersusun
dari beberapa negara yang memiliki kedaulatan, tidak terbagi, dan kewenangannya
berada pada pemerintah pusat. Conroh negara yang berbentuk kesatuan adalah
Indonesia, Filipina, Thailand, Kamboja dan Jepang
2. Negara federasi atau serikat, adalah negara bersusunan jamak, terdiri atas beberapa
negara bagian yang masing-masing tidak berdaulat. Conroh negara yang berbentuk
federasi adalah Amerika Serikat, Malaysia, Australia, Kanada, Meksiko, Irlandia,
New Zealand, India.

Selain kedua bentuk negara diatas ada pula bentuk negara lain, yaitu konfederasi dan
serikat negara. Konfederasi adalah bergabungnya beberapa negara yang berdaulat penuh.
Sedangkan serikat negara merupakan suatu ikatan dari dua atau lebih negara berdaulat yang
lazimnya dibentuk secara sukarela dengan suatu persetujuan internasional berupa traktat atau
konvensi yang diadakan oleh semua negara anggota yang berdaulat.

Bentuk negara Indonesia yang sesuai dengan UUD NKRI Tahun 1945

Bentuk negara Indonesia adalah negara kesatuan, yang lebih sering disebut Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernyataan yang secara tegas menyatakan bahwa
Indonesia adalah negara kesatuan tertuang dalam UUD 1945 pasal 1 yang berbunyi Negara
Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik. Pasal-pasal dalam UUD 1945
telah memperkukuh prinsip NKRI, di antaranya pada pasal 1 ayat (1), pasal 18 ayat (1), pasal
18B ayat (2), pasal 25A, dan pasal 37 ayat (5). Selain itu, wujud negara kesatuan tersebut
semakin diperkuat setelah dilakukan perubahan atas UUD 1945. Perubahan tersebut dimulai
dari adanya kesepakatan MPR yang salah satunya adalah tidak mengubah Pembukaan UUD
1945 dan tetap mempertahankan NKRI sebagai bentuk final negara bagi bangsa Indonesia.
2. Bentuk Pemerintahan
Bentuk pemerintahan adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada rangkaian
institusi politik yang digunakan untuk mengorganisasikan suatu negara guna menegakan
kekuasaannya atas suatu komunitas politik. Adapun beberapa bentuk pemerintahan dibagi
menjadi dua yaitu:
1. ajaran klasik yang terdiri dari pendapat aristoteles, plato dan polybius
2. modern yang terdiri dari republik dan monarki
monarki dibedakan lagi menjadi tiga yaitu
1. monarki absolut
2. monarki konstitusonal
3. monarki parlementer
sedangkan republik dibagi lagi menjadi tiga yaitu:

1. republik absolut
2. republik konstitusonal
3. republik parlementer

Bentuk pemerintahan Indonesia yang sesuai dengan UUD NRI Tahun 1945

Bentuk pemerintahan Indonesia yang sesuai dengan UUD NRI Tahun 1945 adalah
Republik. Karena sesuai dengan pernyataan pasal 1 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi Negara
Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik sudah menunjukkan secara tegas.
Indonesia juga dipimpin oleh seorang presiden bukan seorang Raja.
1. Pengertian dan macam-macam sistem pemerintahan
Sistem pemerintahan merupakan gabungan dari dua istilah yaitu sistem dan
pemerintahan. Sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari beberapa bagian yang
mempunyai hubungan fungsional, baik antara bagian-bagian maupun hubungan fungsional
terhadap keseluruhannya sehingga hubungan itu menimbulkan suatu ketergantungan antara
bagian-bagian yang akibatnya jika salah satu bagian tidak bekerja dengan baik maka akan
mempengaruhi keseluruhan itu. Sedangkan pengertian pemerintahan bisa dalam arti luas dan
arti sempit. Dalam arti luas adalah perbuatan memerintah yang dilakukan oleh badan-badan
legislatif, eksekutif, dan yudikatif di suatu Negara dalam rangka mencapai tujuan
penyelenggaraan Negara,
Adapun sistem pemerintahan diartikan sebagai suatu tatanan utuh yang terdiri atas
berbagai komponen pemerintahan yang bekerja saling bergantung dan mempengaruhi dalam
mencapai tujuan dan fungsi pemerintahan. Sistem pemerintahan dibagi menjadi dua yaitu:
1. Sistem pemerintahan presidensial
Sistem presidensial (presidensiil), merupakan sistem pemerintahan negara republik di
mana kekuasan eksekutif dipilih melalui pemilu dan terpisah dengan kekuasan legislatif.
Menurut Rod Hague, pemerintahan presidensiil terdiri dari 3 unsur yaitu:

Presiden yang dipilih rakyat memimpin pemerintahan dan mengangkat pejabatpejabat pemerintahan yang terkait.

Presiden dengan dewan perwakilan memiliki masa jabatan yang tetap, tidak bisa
saling menjatuhkan.

Tidak ada status yang tumpang tindih antara badan eksekutif dan badan legislatif.

Dalam sistem presidensial, presiden memiliki posisi yang relatif kuat dan tidak dapat
dijatuhkan karena rendah subjektif seperti rendahnya dukungan politik. Namun masih ada
mekanisme untuk mengontrol presiden. Jika presiden melakukan pelanggaran konstitusi,
pengkhianatan terhadap negara, dan terlibat masalah kriminal, posisi presiden bisa
dijatuhkan. Bila ia diberhentikan karena pelanggaran-pelanggaran tertentu, biasanya seorang
wakil presiden akan menggantikan posisinya. Model ini dianut oleh Amerika Serikat,
Filipina, Indonesia dan sebagian besar negara-negara Amerika Latin dan Amerika Tengah.
Ciri-ciri pemerintahan presidensial yaitu :

Dikepalai oleh seorang presiden sebagai kepala pemerintahansekaligus kepala negara.

Kekuasaan eksekutif presiden diangkat berdasarkan demokrasirakyat dan dipilih


langsung oleh mereka atau melalui badan perwakilan rakyat.

Presiden

memiliki hak

prerogratif(hak

istimewa)

untuk

mengangkat

dan

memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen dan non-departemen.

Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada kekuasaan eksekutif (bukan kepada


kekuasaan legislatif).

Kekuasaan eksekutif tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan legislatif.

Kekuasaan eksekutif tidak dapat dijatuhkan oleh legislative

Kelebihan Sistem Pemerintahan Presidensial:

Badan eksekutif lebih stabil kedudukannya karena tidak tergantung pada parlemen.

Masa jabatan badan eksekutif lebih jelas dengan jangka waktu tertentu. Misalnya,
masa jabatan Presiden Amerika Serikat adalah empat tahun, Presiden Filipina adalah
enam tahun dan Presiden Indonesia adalah lima tahun.

Penyusun program kerja kabinet mudah disesuaikan dengan jangka waktu masa
jabatannya.
4

Legislatif bukan tempat kaderisasi untuk jabatan-jabatan eksekutif karena dapat diisi
oleh orang luar termasuk anggota parlemen sendiri.

Kekurangan Sistem Pemerintahan Presidensial:

Kekuasaan eksekutif di luar pengawasan langsung legislatif sehingga dapat


menciptakan kekuasaan mutlak.

Sistem pertanggungjawaban kurang jelas.

Pembuatan keputusan atau kebijakan publik umumnya hasil tawar-menawar antara


eksekutif dan legislatif sehingga dapat terjadi keputusan tidak tegas

Pembuatan keputusan memakan waktu yang lama

1. Sistem pemerintahan parlementer


Sistem parlementer adalah sebuah sistem pemerintahan di mana parlemen memiliki
peranan penting dalam pemerintahan. Dalam hal ini parlemen memiliki wewenang dalam
mengangkat perdana menteri dan parlemen pun dapat menjatuhkan pemerintahan, yaitu
dengan cara mengeluarkan semacam mosi tidak percaya. Berbeda dengan sistem presidensiil,
di mana sistem parlemen dapat memiliki seorang presiden dan seorang perdana menteri, yang
berwenang terhadap jalannya pemerintahan. Dalam presidensiil, presiden berwenang
terhadap jalannya pemerintahan, namun dalam sistem parlementer presiden hanya menjadi
simbol kepala negara saja. Negara yang menganut sistem pemerintahan parlementer adalah
Inggris, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura dan sebagainya.
Ciri-ciri pemerintahan parlemen yaitu:

Dikepalai oleh seorang perdana menteri sebagai kepala pemerintahan

sedangkan kepala negara dikepalai oleh presiden/raja.

Kekuasaan eksekutif presiden ditunjuk oleh legislatif sedangkan raja diseleksi


berdasarkan undang-undang.

Perdana menteri memiliki hak prerogratif(hak istimewa) untuk mengangkat dan


memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen dan non-departemen.

Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada kekuasaan legislatif.


5

Kekuasaan eksekutif bertanggung jawab kepada kekuasaan legislatif.

Kekuasaan eksekutif dapat dijatuhkan oleh legislative

Kelebihan Sistem Pemerintahan Parlementer:

Pembuat kebijakan dapat ditangani secara cepat karena mudah terjadi penyesuaian
pendapat antara eksekutif dan legislatif. Hal ini karena kekuasaan eksekutif dan
legislatif berada pada satu partai atau koalisi partai.

Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik jelas.

Adanya pengawasan yang kuat dari parlemen terhadap kabinet sehingga kabinet
menjadi berhati-hati dalam menjalankan pemerintahan.

Kekurangan Sistem Pemerintahan Parlementer:

Kedudukan badan eksekutif/kabinet sangat tergantung pada mayoritas dukungan


parlemen sehingga sewaktu-waktu kabinet dapat dijatuhkan oleh parlemen.

Kelangsungan kedudukan badan eksekutif atau kabinet tidak bisa ditentukan berakhir
sesuai dengan masa jabatannya karena sewaktu-waktu kabinet dapat bubar.

Kabinet dapat mengendalikan parlemen. Hal itu terjadi apabila para anggota kabinet
adalah anggota parlemen dan berasal dari partai meyoritas. Karena pengaruh mereka
yang besar diparlemen dan partai, anggota kabinet dapat mengusai parlemen.

Parlemen menjadi tempat kaderisasi bagi jabatan-jabatan eksekutif. Pengalaman


mereka menjadi anggota parlemen dimanfaatkan dan manjadi bekal penting untuk
menjadi menteri atau jabatan eksekutif lainnya

2. Sistem pemerintahan Indonesia yang sesuai dengan UUD NRI Tahun 1945
Negara Indonesia, berdasarkan pada UUD yang dimilikinya menganut sistem
pemerintahan presidensial yakni sistem pemerintahan Negara republik di dalamnya,
kekuasaan eksekutif dipilih melalui pemilihan umum dan terpisah dari kekuasaan legislatif.
Selain itu menurut UUD 1945, sistem pemerintahan Indonesia tidak menganut sistem
pemisahan kekuasaan atau trias politika murni sebagaimana yang diajarkan oleh
Montesquieu. Namun, Indonesia menganut sistem pembagian kekuasaan
6

3. Hubungan antara sistem pemerintahan yang ada di Indonesia dan sistem pemerintahan
yang sesuai dengan UUD 1945
Sejak Agustus 1945 sampai akhir tahun 1949, Indonesia mulai memberlakukan UUD
1945. Menurut ketentuan UUD tersebut, sistem pemerintahan Indonesia adalah presidensial.
Namun, sejak November 1945, berdasarkan Maklumat Wakil Presiden No. X dan Maklumat
Pemerintah 14 November 1945, kekuasaan pemerintah dipegang oleh seorang perdana
menteri. Hal ini merupakan awal dari suatu sistem pemerintahan parlementer. Sistem
parlementer ini adalah sebah penyimpangan ketentuan UUD 1945 yang menyebutkan
pemerintah harus dijalankan menurut sistem cabinet presidensial dimana menteri sebagai
pembantu presiden. Jadi sejak November 1945 sampai Juli 1959, sistem pemerintahan yang
diselenggarakan di Indonesia berlainan dengan sistem pemerintahan yang ditentukan dalam
naskah UUD 1945.

B. FUNGSI DAN TUJUAN LEMBAGA NEGARA

Sebagai negara demokrasi, pemerintahan Indonesia menerapkan teori trias politika. Trias
politika adalah pembagian kekuasaan pemerintahan menjadi tiga bidang yang memiliki
kedudukan sejajar. Ketiga bidang tersebut yaitu :
1. Legislatif

bertugas

membuat

undang

undang. Bidang

legislatif

adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).


2. Eksekutif bertugas menerapkan atau melaksanakan undang-undang. Bidang eksekutif

adalah presiden dan wakil presiden beserta menteri-menteri yang membantunya.


3. Yudikatif bertugas mempertahankan pelaksanaan undang-undang. Adapun unsur

yudikatif terdiri atas Mahkamah Agung(MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK).


Lembaga-lembaga negara Indonesia diposisikan sesuai dengan ketiga unsur di depan.
Selain lembaga tersebut masih ada lembaga yang lain. Lembaga tersebut antara lain Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR), Komisi Yudisial (KY), dan Mahkamah Konstitusi (MK).
Lembaga-lembaga negara seperti Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Konstitusi
merupakan lembaga baru. Selain itu amandemen UUD 1945 juga menghapuskan Dewan
Pertimbangan Agung (DPA). Sebagai penggantinya, Presiden membentuk suatu dewan
pertimbangan yang bertugas memberi nasihat dan pertimbangan pada Presiden.
Berikut adalah nama lembaga-lembaga negara hasil amandemen UUD'45, fungsi, tugas dan
wewenangnya.
1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Anggota MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan
umum untuk masa jabatan selama lima tahun dan berakhir bersamaan pada saat anggota MPR
yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam
9

sidang paripurna MPR. Sebelum UUD 1945 diamandemen, MPR berkedudukan sebagai
lembaga tertinggi negara. Namun, setelah UUD 1945 istilah lembaga tertinggi negara tidak
ada yang ada hanya lembaga negara. Dengan demikian, sesuai dengan UUD 1945 yang telah
diamandemen maka MPR termasuk lembaga negara.
Sesuai dengan Pasal 3 Ayat 1 UUD 1945 MPR amandemen mempunyai tugas dan wewenang
sebagai berikut :
1. mengubah dan menetapkan undang-undang dasar;
2. melantik presiden dan wakil presiden;
3. memberhentikan presiden dan wakil presiden dalam masa jabatannya menurut
undang-undang dasar.
4. MPR bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibu kota negara.
5. Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, anggota MPR mempunyai hak berikut
ini:
1. mengajukan usul perubahan pasal-pasal undang-undang dasar;
2. menentukan sikap dan pilihan dalam pengambilan keputusan;
3. memilih dan dipilih;
4. membela diri;
5. imunitas;
6. protokoler;
7. keuangan dan administratif.
8. Anggota MPR mempunyai kewajiban sebagai berikut:
a. mengamalkan Pancasila;
b. melaksanakan UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan;
c. menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kerukunan nasional;
d. mendahulukan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan
golongan;
e. melaksanakan peranan sebagi wakil rakyat dan wakil daerah.
10

2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)


DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara.
Anggota DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan
hasil pemilu. DPR berkedudukan di tingkat pusat, sedangkan yang berada di tingkat provinsi
disebut DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut DPRD kabupaten/kota.
Berdasarkan UU Pemilu N0. 10 Tahun 2008 ditetapkan sebagai berikut:
a. jumlah anggota DPR sebanyak 560 orang;
b. jumlah anggota DPRD provinsi sekurang-kurangnya 35 orang dan sebanyak- banyak 100
orang;
c. jumlah anggota DPRD kabupaten/kota sedikitnya 20 orang dan sebanyak- banyaknya 50
orang.
Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPR berdomisili
di ibu kota negara. Masa jabatan anggota DPR adalah lima tahun dan berakhir pada saat
anggota DPR yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah
Agung dalam sidang paripurna DPR.
Lembaga negara DPR mempunyai fungsi berikut ini :
1. Fungsi legislasi, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga pembuat undang-undang.
2. Fungsi anggaran, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga yang berhak untuk
menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
3. Fungsi pengawasan, artinya DPR sebagai lembaga yang melakukan pengawasan
terhadap pemerintahan yang menjalankan undang-undang.
DPR sebagai lembaga negara mempunyai hak-hak, antara lain sebagai berikut.
1. Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah
mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas bagi
kehidupan masyarakat.
2. Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan
tertentu pemerintah yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
3. Hak menyatakan pendapat adalah hak DR untuk menyatakan pendapat terhadap
kebijakan pemerintah mengenai kejadian yang luar biasa yang terdapat di dalam
negeri disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut
11

pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Untuk memudahkan tugas anggota DPR
maka dibentuk komisi-komisi yang bekerja sama dengan pemerintah sebagai mitra
kerja.
3. Dewan Perwakilan Daerah
Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan lembaga negara baru yang sebelumnya
tidak ada. DPD merupakan lembaga perwakilan daerah yang berkedudukan sebagai lembaga
negara. DPD terdiri atas wakil-wakil dari provinsi yang dipilih melalui pemilihan umum.
Jumlah anggota DPD dari setiap provinsi tidak sama, tetapi ditetapkan sebanyak-banyaknya
empat orang. Jumlah seluruh anggota DPD tidak lebih dari 1/3 jumlah anggota DPR.
Keanggotaan DPD diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPD berdomisili di
daerah pemilihannya, tetapi selama bersidang bertempat tinggal di ibu kota Republik
Indonesia. Masa jabatan anggota DPD adalah lima tahun. Sesuai dengan Pasal 22 D UUD
1945 maka kewenangan DPD, antara lain sebagai berikut:
a.Dapat mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR yang berkaitan dengan otonomi
daerah, hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan pemekaran, serta penggabungan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, perimbangan
keuangan pusat dan daerah.
b. Ikut merancang undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat
dengan daerah, pembentukan dan pemekaran, serta penggabungan daerah, pengelolaan
sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, perimbangan keuangan pusat dan
daerah.
c. Dapat memberi pertimbangan kepada DPR yang berkaitan dengan rancangan undangundang, RAPBN, pajak, pendidikan, dan agama.
d. Dapat melakukan pengawasan yang berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang
otonomi daerah, hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya,
perimbangan keuangan pusat dengan daerah, pajak, pendidikan, dan agama.
4. Presiden dan Wakil Presiden
Presiden adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan eksekutif yaitu presiden
mempunyai kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. Presiden mempunyai kedudukan
sebagai kepala pemerintahan dan sekaligus sebagai kepala negara. Sebelum adanya
amandemen UUD 1945, presiden dan wakil presiden dipilih oleh MPR, tetapi setelah
amandemen UUD1945 presiden dan wakil presiden dipilih secara langsung oleh rakyat
12

melalui pemilihan umum. Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun
dan sesudahnya dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan. Presiden dan wakil
presiden sebelum menjalankan tugasnya bersumpah atau mengucapkan janji dan dilantik oleh
ketua MPR dalam sidang MPR. Setelah dilantik, presiden dan wakil presiden menjalankan
pemerintahan sesuai dengan program yang telah ditetapkan sendiri. Dalam menjalankan
pemerintahan, presiden dan wakil presiden tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945.
Presiden dan wakil presiden menjalankan pemerintahan sesuai dengan tujuan negara yang
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.
Sebagai seorang kepala negara, menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Presiden mempunyai wewenang sebagai berikut:
1. membuat

perjanjian

dengan

negara

lain

dengan

persetujuan

Dewan

Perwakilan Rakyat.
2. mengangkat duta dan konsul. Duta adalah perwakilan negara Indonesia di
negara sahabat. Duta bertugas di kedutaan besar yang ditempatkan di ibu kota
negara sahabat itu. Sedangkan konsul adalah lembaga yang mewakili negara
Indonesia di kota tertentu di bawah kedutaan besar kita.
3. menerima duta dari negara lain
4. memberi gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan lainnya kepada warga
negara Indonesia atau warga negara asing yang telah berjasa mengharumkan nama
baik Indonesia.
Sebagai

seorang kepala

untukmenyelenggarakan

pemerintahan,
pemerintahan

presiden
negara

mempunyai
Indonesia.

kekuasaan

Wewenang,

tertinggi
hak

dan

kewajiban Presiden sebagai kepala pemerintahan, diantaranya:


1. memegang kekuasaan pemerintah menurut Undang-Undang Dasar
2. berhak mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada DPR
3. menetapkan peraturan pemerintah
4. memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala Undang- Undang
dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa

13

5. memberi

grasi

dan

rehabilitasi

dengan

memperhatikan

pertimbangan

Mahkamah Agung. Grasi adalah pengampunan yang diberikan oleh kepala negara
kepada orang yang dijatuhi hukuman. Sedangkan rehabilitasi adalah pemulihan
nama baik atau kehormatan seseorang yang telah dituduh secara tidak sah atau
dilanggar kehormatannya.
6. memberi

amnesti

dan

abolisi

dengan

memperhatikan

pertimbangan

DPR.

Amnesti adalah pengampunan atau pengurangan hukuman yang diberikan oleh


negara kepada tahanan-tahanan, terutama tahanan politik. Sedangkan abolisi
adalah pembatalan tuntutan pidana.
Selain sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, seorang presiden juga merupakan
panglima tertinggi angkatan perang. Dalam kedudukannya seperti ini, presiden mempunyai
wewenang sebagai berikut:
1. menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan
persetujuan DPR
2. membuat perjanjian internasional lainnya dengan persetujuan DPR
3. menyatakan keadaan bahaya
5. Mahkamah Agung
Mahkamah Agung merupakan lembaga negara yang memegang kekuasaan
kehakiman.

Kekuasaan

kehakiman

merupakan

kekuasaan

yang

merdeka

untuk

menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Mahkamah Agung


adalah pengadilan tertinggi di negara kita. Perlu diketahui bahwa peradilan di Indonesia dapat
dibedakan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha
negara (PTUN).
Kewajiban dan wewenang Mahkamah Agung, antara lain sebagai berikut:
1. berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundangundangan di
bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya
yang diberikan oleh undang-undang;
2. mengajukan tiga orang anggota hakim konstitusi;
3. memberikan pertimbangan dalam hal presiden memberi grasi dan rehabilitasi.

14

6. Mahkamah Konstitusi
Keberadaan

Mahkamah

Konstitusi

diatur

dalam

Undang-Undang

Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Mahkamah Konstitusi berwenang
mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yangputusannya bersifat final untuk:
Mahkamah

Konstitusi

wajib

memberikan

putusan

atas

pendapat

DPR

bahwa

Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga:


7. Komisi Yudisial
Komisi Yudisial adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang berikut ini:
1. mengusulkan pengangkatan hakim agung;
2. menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.
Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang
hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Anggota Komisi Yudisial
diangkat dan diberhentikan oleh presiden dengan persetujuan DPR. Anggota Komisi Yudisial
terdiri atas seorang ketua merangkap anggota, seorang wakil ketua merangkap anggota, dan
tujuh orang anggota. Masa jabatan anggota Komisi Yudisial lima tahun.
8. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Kedudukan BPK sejajar dengan lembaga negara lainnya. Untuk memeriksa pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan negara diadakan satu Badan Pemeriksan Keuangan yang bebas
dan mandiri. Jadi, tugas BPK adalah memeriksa pengelolaan keuangan negara.
Hasil pemeriksaan BPK diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai dengan
kewenangannya. Berdasarkan UUD 1945 Pasal 23 F maka anggota BPK dipilih oleh DPR
dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh presiden. BPK
berkedudukan di ibu kota negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi.

15

C.PEMAHAMAN TENTANG DEMOKRASI


A.

Konsep Demokrasi

Definisi demokrasi adalah sebuah bentuk kekuasaan (kratein) dari/oleh/untuk rakyat (demos).
Menurut konsep demokrasi, kekuasaan yang menyiaratkan arti politik dan pemerintahan,
sedangkan rakyat beserta warga masyarakat didefinisikan sebagai warga negara. Demos
menyiaratkan makna diskriminatif. Demos bukan rakyat keseluruhan, tetapi hanya populous
tertentu, yaitu mereka yang berdasarkan dari tradisi atau kesepakatan formalmengontrol akses
ke sumber-sumber kekuasaan dan bisa mengklaim kepemilikan atas hak-hak prerogratif
dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan urusan public atau
pemerintahan.
16

B.

Bentuk Demokrasi dalam Pengertian Sistem Pemerintahan Negara


1.

Bentuk Demokrasi
Setiap warga negara memiliki bentuk demokrasi dan pelaksanaan kedaulatan
rakyat yang berbeda. Yang ditentukan oleh sejarah negara yang bersangkutan,
kebudayaan, pandangan hidup, serta tujuan yang ingin dicapainya. Dan berikut
merupakan bentuk demokrasi dalam system pemerintahan negara;
a)

Pemerintahan

Monarki:

monarki

mutlak

(absolut),

monarki

kontitusional, dan monarki parlementer.


b)

Pemerintahan Republik: Berasal dari bahasa latin Res yang berarti


pemerintahan dan Publica yang berarti rakyat. Dengan demikian Republik
dapat disimpulkan sebagai pemerintahan yang dijalankan oleh dan untuk
kepentingan rakyat.

2.

Kekuasaan dan Pemerintahan


Di negara Indonesia kekuasaan pemerintahan dibagi menjadi 3 cabang yaitu:
kekuasaan legislative (kekuasaan untuk membuat undang-undang yang
dijalankan

oleh

parlemen);

kekuasaan

eksekutif

(kekuasaan

untuk

melaksanakan undang-undang yan dijalankan oleh pemerintah); dan


kekuasaan federative (kekuasaan untuk menyatakan perang dan damai,
membuat perserikatan, dan tidakan-tidakan lainnya yang berkaitan dengan
pihak luar negeri).
3.

Pemahaman Demokrasi di Indonesia


a)

Dalam system kepartaian dikenal adanya tiga system yaitu; system multi
partai (polyparty sytem), system dua partai (biparty system), dan system
satu partai (monoparty sytem).

17

b)

System pengisian jabatan pemegang kekuasaan negara.

c)

Hubungan antarpemegang kekuasaan negara, terutama antara eksekutif


dan legislative.

4.

Prinsip Dasar Pemerintahan Republik Indonesia

Pancasila sebagai landasan idiil bagi bangsa Indonesia memiliki arti bahwa
Pancasila merupakan pandangan hidup dan jiwa bangsa; kepribadian bangsa;
tujuan dan cita-cita; cita-cita hukum bangsa dan negara; serta cita-cita moral
bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara mempunyai kedudukan yang
pasti dalam penyelenggaraan pemerintahan negara Indonesia.

5.

Beberapa Rumusan Pancasila


a.

Rumusan Mr. Muhammad Yamin dalam pidato Sidang BPUPKI tanggal


29 Mei 1945

b.

Rumusan Pancasila dalam Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945

c.

Rumusan Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945

d.

Dan akhirnya tersusunlah rumusan Pancasila seperti yang terdapat di


dalam Pembukaan UUD 1945.

C.

Pemahaman tentang Demokrasi Indonesia


Demokrasi Indonesia adalah pemerintahan rakyat yang berdasarkan nilai-nilai
falsafah Pancasila atau pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat berdasarkan silasila Pancasila. Yang berarti bahwa:

18

1.

Demokrasi atau pemerintahan rakyat yang digunakan oleh pemerintahan


Indonesia adalah system pemerintahan rakyat yang dijiwai dan dituntun oleh
nilai-nilai pandangan hidup bangsa Indonesia (Pancasila).

2.

Demokrasi Indonesia pada dasarnya adalah transformasi nilai-nilai falsafah


Pancasila menjadi suatu bentuk dan system pemerintahan khas Pancasila

3.

Demokrasi Indonesia yang dituntun oleh nilai-nilai Pancasila adalah


konsekuensi dari komitmen pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara
murni dan konsekuen di bidang pemerintahan atau politik.

4.

Pelaksaan Demokrasi Indonesia dengan baik mensyaratkan pemahaman dan


penghayatan nilai-nilai falsafah Pancasila.

5.

Pelaksaan Demokrasi Indonesia dengan benar adalah pengalaman Pancasila


melalui politik pemerintahan.

D. PERKEMBANGAN PENDIDIKAN PENDAHULUAN BELA NEGARA


A.

Situasi NKRI Terbagi dalam Periode-Periode


Periode yang dimaksud tersebut adalah yang berkaitan dengan kepentingan
sejarah perkembangan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. Periode-periode
tersebut adalah:
1.

Tahun 1945 sejak NKRI diproklamasikan sampai tahun 1965 disebut periode
lama atau Orde Lama.

2.

Tahun 1965 sampai tahun 1998 disebut periode baru atau OrdeBaru.
19

3.

Tahun 1998 sampai sekarang disebut periode Reformasi.

B. Pada Periode Lama Bentuk Ancaman yang Dihadapi adalah Ancaman Fisik
Ancaman yang datangnya dari dalam maupun dari luar, langsung maupun
tidak langsung, menumbuhkan pemikiran mengenai cara menghadapinya. Pada
tahun 1954, terbitlah produk UU tentang Pokok-pokok Perlawanan Rakyat
(PPRP) dengan Nomor 29 tahun 1954.
C.

Periode Orde Baru dan Periode Reformasi


Ancaman yang dihadapi dalam periode-periode ini berupa tantangan non fisik
dan gejolak sosial. Untuk mewujudkan bela negara dalam berbagai aspek
kehidupan bermasyrakat, berbangsa, dan bernegara yang tidak terlepas dari
pengaruh lingkungan strategi baik dari dalam maupun dari luar, langsung maupun
tidak langsung, bangsa Indonesia pertma-tama perlu membuat rumusan tujuan
bela negara. Tujuannya adalah menumbuhkan rasa cinta tanah air, bangsa, dan
negara. Untuk mencapai tujuan ini, bangsa Indonesia perlu mendapatkan
pengertian dan pemahaman tentang wilayah negara dalam persatuan dan kesatuan
Negara.

E.PERKEMBANGAN PENDIDIKAN BELA NEGARA


Bela Negara adalah tekad, sikap dan tindakan yang teratur, menyeluruh, terpadu dan berlanjut
yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia
serta keyakinan akan kebenaran Pancasila sebagai ideologi negara dan kerelaan berkorban
guna meniadakan setiap ancaman, baik dari luar maupun dari dalam negeri, yang
membahayakan kemerdekaan dan kedaulatan negara, kesatuan dan persatuan bangsa,
keutuhan wilayah dan yurisdiksi nasional serta nilai nilai Pancasila dan Undang Undang
Dasar 1945.

20

Berbagai akftifitas positif warga negara dalam menjalankan roda kehidupan masyarakat
merupakan implementasi riil bela negara.
Situasi NKRI terbagi dalam periodeperiode
Tahun 1945 sejak NKRI diproklamasikan sampai 1965 disebut periode lama atau Orde Lama.
Ancaman yang dihadapi datangnya dari dalam maupun dari luar, langsung maupun tidak
langsung, menumbuhkan pemikiran mengenai cara menghadapinya. Pada tahun 1954,
terbitlah produk UndangUndang tentang PokokPokok Perlawanan Rakyat (PPPR) dengan
Nomor 29 Tahun 1954. Sehingga terbentuklah organisasiorganisasi perlawanan rakyat pada
tingkat desa (OKD) dan sekolah-sekolah (OKS).
Tahun 1965 sampai 1998 disebut periode baru atau Orde Baru. Ancaman yang
dihadapi dalam periode ini adalah tantangan non fisik. Pada tahun 1973 keluarlah Ketetapan
MPR dengan Nomor IV/MPR/1973 tentang GBHN, dimana terdapat penjelasan tentang
Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Lalu pada tahun 1982 keluarlah UU No. 20
Tahun 1982 tentang KetentuanKetentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik
Indonesia, dengan adanya penyelenggaraan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara dari Taman
KanakKanak hingga Perguruan Tinggi.
Tahun 1998 sampai sekarang disebut periode Reformasi, untuk menghadapi
perkembangan jaman globalisasi maka diperlukan undangundang yang sesuai maka
keluarlah UndangUndang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
mengatur kurikulum Pendidikan kewarganegaraan, yang kemudian pasal ini menjelaskan
bahwa yang dimaksud dengan Pendidikan Kewarganegaraan adalah hubungan negara dengan
warga negara, antara warga negara serta Pendidikan Pendahuluan Bela Negara. Pendidikan
Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi harus terus ditingkatkan guna menjawab tantangan
masa depan, sehingga keluaran peserta didik memiliki semangat juang yang tinggi dan
kesadaran bela negara sesuai bidang profesi masing-masing demi tetap tegak dan utuhnya
NKRI.

Bangsa Indonesia menyadari jati dirinya sebagai suatu bangsa yang mendiami kepulauan
Nusantara dengan berbagai karakteristiknya, yakni suatu bangsa yang sarat dengan ke
bhinekaan

serta

berbagai

dimensi

kemajemukannya.

Negara kepulauan yang terbatang luas ini, secara empirik telah ditunjukan oleh pengalaman
sejarahnya, yang selalu dalam kerangka kesatuan wilayah. Mulai dari Zaman kedatuan
Sriwijaya hingga kerajaan Majapahit upaya menyatukan wilayah Nusantara telah dilakukan.
21

Namun zaman juga mencatat bahwa tantangan untuk menyatukan wilayah kerap kali
menguji keinginan penyatuan wilayah. Sebagai bukti bahwa Kerajaan di Nusantara pernah
gagal dalam mempertahankan eksistensinya, sehingga masyarakat bangsa menjadi pecah dan
porak poranda. Akibatnya penjajah dengan leluasa menginjakkan kakinya selama tiga
setengah

abad

lamanya.

Realitas ini ternyata membuahkan kesadaran baru, yang berkembang melalui kebangkitan
nasional (1908) dan diteruskan sumpah pemuda sebagai wujud keinginan generasi muda
menuangkan satu tekad (1928), dan puncaknya adalah Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945.
Mencermati realitas ini, maka diperlukan upaya-upaya tertentu, agar setiap warga bangsa
memiliki kesadaran yang tinggi terhadap tanah airnya. Kesadaran ini harus tumbuh dan
berkembang sebagai wujud tanggung jawab, dan bukan hanya sebagai kepentingan sesaat
belaka.
Sisi lain yang harus diagendakan menjadi perhatian adalah kemajuan dibidang ilmu
pengetahuan teknologi dan seni. Dalam praktik kehidupan kemajaun ilmu pengetahuan
teknologi dan seni disamping memiliki segudang keunggulan ternyata memiliki dampak
pengiring

negatif

kepada

eksistensi

bangsa.

Terkait dengan globlisasi yang ditandai dengan semakin kuatnya pengaruh institusi
kemasyarakatan internasional, negara-negara maju yang serta merta ikut mengatur percaturan
perpolitikan, perekonomian, social budaya hingga pertahanan dan keamanan global. Realita
ini akan mengkondisi tumbuhnya berbagi konflik kepentingan, baik antara negera maja dan
negara berkembang, antara negara berkembang dan berbagai institusi internasional, maupun
antar negara berkembang. Sisi lain isu global yang manifestasinya berbentuk demokratisasi,
hak asasi manusia, dan lingkungan hidup turut serta mempengaruhi keadaan nasional.
Globalisasi yang disertai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetuhuan teknologi dan
seni, utamanya di bidang informasi, komunikasi, dan transportasi, membuat dunia menjadi
transparan seolah menjadi hamparan luas yang tanpa batas. Kondisi ini menciptakan struktur
baru, yakni struktur global. Kondisi inilah yang memberikan pengaruh secara tajam dengan
menyentuh sector kehidupan, mulai dari pola pikir, pola tindak dan pola laku masyarakat
Indonesia. Pada gilirannya akan mempengaruhi kondisi mental spritual Bansa Indonesia
selain itu pula globalisasi ditandai oleh kuatnya pengaruh lembagalembaga kemasyarakatan
internasional, negaranegara maju yang ikut mengatur percaturan politik, ekonomi, sosial
budaya, serta pertahanan dan keamanan global. Disamping itu, isu global yang meliputi
demokratisasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup turut pula mempengaruhi keadaan
nasional.
22

Untuk mengatasi segala kemungkinan tersebut diperlukan pembekalan kepada segenap warga
bangsa suatu kemampuan bela negara sehingga berbagai kemungkinan yang sengaja
mengancam

kelangsungan

hidupa

bangsa

mampu

di

cegah

secara

dini.

Kemampuan kemampuan ini dituangkan dalam bentuk pendidikan pendahuluan bela negara
(PPBN) yang tujuannya untuk menigkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.
Bangsa Indonesia telah bersepakat bahwa pendidikan bela negara melalui warga negara yang
berstatus mahasiswa, dilakukan pendidikan kewarganegaraan/kewiraan.

23