Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyakit tuberkulosis di Indonesia masih menjadi salah satu masalah yang


harus di tanggulangi oleh pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan jumlah penderita
Tuberculosis di Indonesia, prevalensi penderita tuberkulosis paru sebesar 102 per
100.000 penduduk atau sekitar 236.029 kasus tuberkulosis paru dengan BTA positif,
dari jumlah tersebut terdapat 169.213 merupakan kasus tuberkulosis paru baru
(insidensi). Secara keseluruhan prevalensi semua tipe tuberkulosis sebesar 244 per
100.000 penduduk atau sekitar 565.614 kasus semua tipe tuberkulosis. Jumlah kematian
akibat penyakit tuberkulosis sebanyak 91.339 kasus (CFR sebesar 39 per 100.000
penduduk.) (Laporan Subdit TB Ditjen PP&PL Depkes RI, 2010)..
Sejak tahun 1995 program Pemberantasan Tuberkulosis Paru , telah
dilaksanakan dengan strategi DOTS (directly observed treatment, shortcourse
chemotherapy) yang direkomendasi oleh WHO. kemudian berkembang seiring dengan
pembentukan GERDUNASTBC, maka Pemberantasan penyakit Tuberkulosis Paru di
Indonesia berubah menjadi Program Penanggulangan Tuberkulosis (TBC).
Dalam strategi DOTS obat-obat yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis
antara lain yaitu Isoniasid ( H ) ,Rifampisin ( R ),Pirasinamid ( Z ),Streptomisin ( S ),
dan Etambulol ( E) . Namun tidak semua dari jenis obat itu aman untuk di berikan
kepada semua pasien. Streptomisin merupakan obat yang tidak direkomendasikan untuk
diberikan kepada wanita hamil, padahal penyakit tuberkulosis dapat menjangkit siapa
saja termasuk wanita hamil.
Streptomisin merupakan jenis antibiotik yang bersifat bakteriostatik dan
bakterisid terhadap Mycobacterium tuberculosa. Streptomisin adalah antibiotik
golongan aminoglikosida yang memiliki efek samping ototoksik layaknya jenis
aminoglikosida lain. Ototoksik yang ditimbulkan ini dapat mempengaruhi kondisi janin.
Hal ini yang menyebabkan steptomisin digolongkan sebagai obat yang bersfat
teratogenik.

1. Dalam penggolongan indec of drug safety in pregnancy, streptomisin di golongkan


dalam obat kategori D, yang mana dalam penelitian, menunjukan hasil positif
menganggu pertumbuhan fetus dalam rahim. .(UBM Medica Asia Pte Ltd. MIMS
Indonesia Petunujk Konsultasi edisi 12. Jakarta-2012 )
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembahasan ini adalah agar dokter umum mengetahui pengobatan
tuberkulosis yang tidak direkomendasikan untuk wanita hamil, mengingat negara
Indonesia memiliki jumlah penderita tuberkulosis yang besar dan kasus tuberkulosis
dengan kehamilan akan sering dijumpai dalam praktek dokter sehari-hari.

BAB II
FARMASI-FARMAKOLOGI
Aminoglikosid adalah suatu golongan antibiotic bakterisid yang asalnya didapat
dari berbagai species Streptomyces dan memiliki sifat-sifat kimiawi antimikroba,
farmakologis, dan toksik yang karakteristik. Golongan ini meliputi Streptomycin,
neomycin, kanamycin, amikacin, gentamycin, tobramycin, sisomycin, netilmycin, dsb .
antibiotik bakterisidal yang berikatan dengan subunit 30S/50S sehingga menghambat
sintesis protein. Namun antibiotik jenis ini hanya berpengaruh terhadap bakteri gram
negatif.
Aminoglikosid mempunyai cincin Hexose yaitu streptidine (pada streptomycin),atau 2deoxystreptamine (pada aminoglikosid lain), dimana berbagai gula amino dikaitkan oleh
ikatan glikosid. Agen-agen ini larut air, stabil dalam larutan dan lebih aktif pada pH
alkali dibandingkan pH asam.
Aminoglikosid paling sering digunakan melawan bakteri enteric gram-negatif,
khusunya ketika isolatnya resisten obat dan ketika dicurigai sepsis. hampir selalu
digunakan dalam kombinasi dengan antibiotic beta-laktam dalam upaya untuk
memperluas cakupan meliputi patogen-patogen gram positif yang potensial dan untuk
mendapatkan keuntungan sinergisme kedua klas obat ini. Pemilihan aminoglikosid dan
dosisnya sebaiknya tergantung pada infeksi yang sedang dihadapi dan kerentanan dari
isolate tersebut. ( Juwita Ninda : Skripsi, 2009 )
Streptomisin sulfat, diturunkan dari bakteri Sterptomyces griseus padatahun
1944, merupakan aminoglikosida pertama yang tersedia untuk
pemakaianklinik dan dipakai untuk mengobati tuberculosis. Streptomisin
merupakanantibiotik bakterisid. Streptomisin tidak dapat diberikan secara
oral, tetapi harus diberikan secara suntikan intramuskular karena sifat
ototksitasnya dan terjadinya resistensi bakteri, maka obat ini kini jarang
dipakai.
Sejarah Streptomisin pertama kali diisolasi pada 19 Oktober 194 3 oleh
AlbertSchatz , seorang mahasiswa pascasarjana, di laboratorium Selman
WaksmanAbraham di Rutgers University. Waksman dan laboratoriumnya

menemukanbeberapa antibiotik, termasuk actinomycin , clavacin ,


streptothricin ,streptomisin, grisein , neomisin , fradicin , candicidin dan
candidin. Dari jumlahtersebut, streptomisin dan neomisin menemukan
aplikasi luas dalam pengobatanberbagai penyakit menular. Streptomisin
adalah antibiotik yang pertama yangdapat digunakan untuk menyembuhkan
penyakit TBC , produksi awal dari obat itu didominasi oleh Merck & Co di
bawah George W.Me r c k . Uji coba secara acak pertama streptomisin
melawan tuberkulosis parudilakukan di 1946-1947 oleh Unit Penelitian
Tuberkulosis MRC di bawahpimpinan Sir GeoffreyMarshall (1887 - 1 9 82). Hal ini
diterima secara luas telahsidang pertama kuratif secara acak. Hasil
penelitian menunjukkan efikasi terhadap TB, meskipun dengan toksisitas
kecil dan diperoleh bakteri resistensiterhadap obat tersebut.
Streptomisin adalah obat antibiotik sejenis aminoglikosida dan adalah obat antibiotik
untuk tuberkulosis. Berasal dari actinobacterium Streptomyces griseus. ia terikat pada
16S rRNA ribosom bakteri, mengikuti pengikatan formil methionyl tRNA untuk subunit
30S dan mencegah adanya sistensis protein.
Manusia-manusia memiliki ribosomes berbeda secara struktur dari bakteri, sehingga
meberi kesempatanselektivitas pada antibiotik ini untuk bakteri.
Streptomisin tidak dapat diberikan secara oral, tetapi harus dikelola oleh suntikan
intramuskular reguler. Efek buruk obat ini adalah ototoxicity. Ia dapat mengakibatkan
tuli temperory. Reaksi lain juga bisa terjadi pada pasien dengan gangguan-gangguan
ginjal yang menggunakan pengobatan ini. Fungsi ginjal dan perhitungan-perhitungan
darah lengkap seharusnya dimonitor ketat oleh penyedia pelayanan kesehatan saat
mengambil pengobatan ini. Peralatan medis tepat harus ada untuk pasien mengambil
pengobatan ini.

Nama kimia sulfat streptomisin adalah D-Streptamine,(methylamino)--L


glucopyranosyl(12)-O 5 deoxy 3 C formil L lyxofuranosyl(14)-N, N1bis(aminoiminomethyl)-,sulfat (2:3) (garam).Rumus molekul untuk Streptomycin

Sulfate adalah (C21H39N7O12)2-3H2SO4 dan berat molekul adalah 1457.41. Ia


memiliki rumus bangun berikut:

( Argadia Yunigriadi, Universitas Muhammadiyah Jogja, 2009 )


FARMASI UMUM
Streptomisin untuk Injection, setara dengan streptomisin 1 gram / botol kecil disediakan
sebagai nonpyrogenic
pH untuk Streptomycin untuk Injection di antara 4.5 dan 7.0 dalam sebuah solusi berisi
200 miligram streptomisin per mL.
Dosis pada tuberkulosis
Dewasa: 15 miligram / kg harian; max: 1 g harian. Untuk terapi sebentar-sebentar: 2530 miligram / kg / hari 2-3 kali / wk; max: 1.5 g / dosis.
Child: 2040 miligram / kg (max: 1 g) harian atau 2530 miligram / kg (max: 1.5 g) 23
kali wkly.
Tua: 60 kg: Pengurangan dosis diperlukan.
Gagal ginjal: Modifikasi dalam dosis atau mengobati interval mungkin dibutuhkan.

Bagaimana cara untuk menggunakan Streptomycin:


1. Gunakan Streptomycin seperti yang diarahkan oleh dokter anda. Periksa
labelnya di obat untuk tepat mengobati petunjuk-petunjuk.
2. Streptomisin biasanya dilakukan sebagai suatu suntikan pada kantor dokter
anda, rumah sakit, atau klinik. Jika anda menggunakan Streptomycin di rumah,
hati-hati mengikuti prosedur-prosedur suntikan sesuai yang telah diajarkan oleh
penyedia pelayanan kesehatan anda.
3. Pada orang dewasa, tempat diutamakan suntikan adalah porsi hak tinggi itu
pantat atau porsi tengah paha. Pada anak, tempat diutamakan suntikan adalah
porsi tengah paha

3 . FARMAKOLOGI UMUM
Penyakit yang diobati
T ularemia
Pasien yang menderita tularemia sangat diuntungkan dengan
pemberianstreptomysin karena dapat memperolehkesembuhan total, namun
tidak tertutupkemungkinan kronisitas dapat terjadi. Pada pemberian
streptomysin 1 sampai 2g (15-25 mg/kg) per hari (dalam dosis terbagi)
selama 7 sampai 10 hari.
Penyakit pes
Streptomysin merupakan salah satu senyawa yang paling efektif
dalampengobatan penyakit pes
Dosis yang diberi 1-4 g per hari yang dibagi dalam 2 atau 4 dosis selama 710 hari.
T uberkulosis
Streptomysin harus diberikan dalam bentuk kombinasi dengan sedikitnya 1
atau 2

obat lain yang sesuai dengan galur-galur penyebab tersebut. Dosis


untukpasien yang fungsi ginjalnya normal adalah 15 mg/kg per hari sebagai
injeksi IM tunggal selama 2 Sampai 3 bulan, dilanjutkan dengan 2 atau 3 kali
seminggu setelahnya. Kontraindikasi Pasien dengan fungsi ginjal normal
dapat menerima panduan ini untuk beberapa bulan. Dosis harus dikurangi
untuk pasien usia lanjut, anak-anak, orang dewasa yag badannya kecil dan
pasien dengan gangguan fungsi ginjal.efek samping Sakit kepala, malaise,
parestesi di muka terutama disekitar mulut, rasa kesemutan di tangan,
neurotoksin (dosis besar dan lama), ototoksik, neurotoksik,reaksi
anafilaktik, agranulositosis, anemia aplastik interaksi Interaksi dapat terjadi
dengan obat penghambat neuromuskular berupa potensial penghambatan.
Selain itu, interaksi juga terjadi dengan obat lain yang juga bersifat
ototoksik (misal asam etakrinat dan furosemid) dan yang bersifat
nefrotoksik Dengan Obat Lain :
Meningkatkan efek/toksisitas ;peningkatan/perpanjangan efek dengan
senyawa depolarisasi dannondepolarisasi neuromuscular blocking.
Penggunaan bersama denganamfoterisin dan diuretic loop dapat
meningkatkan nefrotoksisitas.Terhadap Kehamilan : Pada trimester ke 2 dan ke 3
, meningkatnya resiko kerusakan syaraf vestibular dan auditori. -Terhadap
Ibu Menyusui : Streptomisin terdistribusi ke dalam air susu ibu - ( Juwita
Ninda: Skripsi 2009 )
Antibiotik ini digunakan untuk membunuh kuman yang menyebabkan penyakit:

tuberkulosis, beserta obat TB lain

pneumonia

disentri

Kontraindikasi pada

1. Kehamilan Streptomycin atau Canamycin bisa menyebabkan kerusakan pada


telinga bagian tengah janin dan kemungkinan menyebabkan ketulian.
2. hipersensitivitas
Streptomisin juga boleh digunakan sebagai pestisid untuk melawan perkembangan
bakteria, fungus dan alga.
Pengobatan ini terkadang bisa menyebabkan kerusakan saraf serius, mungkin
menghasilkan tuli permanen masalah keseimbangan. Resikonya lebih tinggi jika anda
memiliki penyakit ginjal, dan anda menerima dosis tinggi pengobatan ini, jika anda
tetap menggunakannya ini akan meracuni berlama-lama. jika anda orang dewasa yang
lebih tua (misalnya, lebih tua dari 60 tahun), anda akan mengalami dehidrasi . maka dari
itu kurangi resiko dehidrasi, minum banyak cairan-cairan sambil menggunakan
pengobatan ini kecuali dokter anda mengarahkan anda sebaliknya. Sebelum mulai
streptomisin, katakan pada dokter anda jika anda sudah punya masalah ginjal atau
masalah pendengaran

BAB III

FARMAKODINAMIK

3.1 Mekanisme kerja streptomycin


Streptomisin in vitro bersifat bakteriostatik dan bakterisid terhadap kuman
tuberculosis. Kadar serendah 0,4 ug/mL dapat menghambat pertumbuhan kuman.
Sebagian besar M. tuberculosis strain human dan bovin dihambat dengan kadar 10
ug/mL. mikobakterium atipik fotokromatogen, strotokromatogen, nokromatogen, dan
spesies yang tumbuh cepat tidak peka terhadap streptomisin. Adanya mikroorganisme
yang hidup dalam abses atau kelenjar limfe regional serta hilangnya pengaruh obat
setelah beberapa bulan pengobatan, mendukung konsep bahwa kerja streptomisin in
vivo ialah supresi, bukan eradikasikuman tuberculosis. Obat ini dapat mencapai kavitas,
tetapi relative sukar berdifusi ke cairan intrasel.
Antibiotik utama yang digunakan untuk infeksi serius yang disebabkan oleh
basil gramnegative aerob. Tetapi karena memiliki efek toksik yang serius maka
penggunaannya terbatas. Aminoglikosida berasal dari streptomises mendapatkan
tambahan misin.Mekanisme kerja : memasuki organisme bakteri melalui system
oksigen depensen, berikatan pada subunit bakteri 30S sehingga menyebabkan subunit
tersebut

dapat

membaca

kode

genetic.

Polisom menjadi

terganggu

aminoglikosida menggangu proses penggabungan serta pemecahan polisom.

BAB IV
FARMAKOKINETIK

karena

10

Pola ADME (Absorbsi,Distribusi,Metabolisme,Ekskresi)


1. Absorsi
Absorbsi: IM : diabsorbsi dengan baik.
2. Distribusi
Distribusi: terdistribusi ke dalam cairan ekstraselular termasuk
serum, absces, ascitic, perikardial, pleural, sinovial, limfatik, dan
cairan peritoneal; menembus plasenta; dalam jumlah yang kecil
masuk dalam air susu ibu
3. Metabolisme

Streptomycin termasuk golongan obat aminoglikosida. Mempunyai beberapa potensial


mekanisme antibiotik. Beberapa dari aminoglikosida adalah protein inhibitor.

Aminoglikosida menginterfensi proses pembacan rantai gen sehingga sel

tersebut mengalami terminasi


Juga ada bukti bahwa aminoglikosida menghambat ribosomal transloaction

perpindahan t-RNA dari A-site sampai P-site


Aminoglikosida juga dapat mengganggu membran sel bakteri.

Streptomycin berikatan dengan 30s Ribosomal subunit


Ada keanekaragaman yang signifikan pada hubungan antar dosis yang diberikan dan
yang terdapat pada plasma darah. Therapeutic Drug Monitoring (TDM) atau monitoring
dari obat sangat diperlukan untuk menentukan dosis yang tepat. Aminoglikosida sangat
sukar dideteksi dalam darah dan juga menunjukkan efek tumbuh kembali (regrowth)
dari bakteri. Hal ini terjadi karena ikatan yang kuat antara antibiotik. Ini dapat
memperpanjang dosis interval. Tergantung dari konsentrasinya aminoglikosida dapat
menjadi bakteriostatik atau bakteriosidal

4. Ekskresi
Ekskresi: urin ( 90% dalam bentuk obat yang tidak berubah);
feses,saliva, keringat dan air mata (< 1%)

Waktu Paruh

11

Waktu paruh : bayi baru lahir : 4-10 jam; dewasa 2-4.7 jam, waktu
bertambah panjang pada kerusakan ginjal.

Ikatan protein
Ikatan protein : 34%

Bioavailability
Bioavailabilitas : 84% - 88%
.

BAB V
TOKSIKOLOGI
Toksikologi Streptomycin pada masa kehamilan
Streptomycin adalah obat golongan D untuk ibu hamil. yaitu Obat yang jelas-jelas
dicurigai dapat menyebabkan gangguan pada janin.
Pada penelitian dianjurkan bahwa pemberian streptomycin dapat menyebabkan ketulian
pada janin jika diberikan lebih dari 20 gram pada 5 bulan terakhir kehamilan.

12

Streptomycin berbahaya bagi janin dalam kandungan karena streptomycin dapat dengan
mudah melewati placental barrier. Streptomycin yang bersifat nefrotoksik dan ototoksik
akan mengganggu pertumbuhan ginjal dan saraf pendengaran (saraf 8) dari janin. Selain
itu didapatkan kelainan cochleopalpebral reflek.
Untuk ibu menyusui terapi menggunakan streptomycin dapat diteruskan karena
streptomycin hanya dieskkresikan sedikit sekali melalui ASI.

Penanggulangan
Untuk ibu hamil yang mengidap TBC, kita bisa mengganti pengobatannya dengan yang
lebih aman yaitu Isoniazid, Ethambutol, Rifampmycin. Jika terpaksa menggunakan
sterptomycin. Perlu dipertimbangkan apakah resikonya sepadan dengan hasilnya.

13

BAB VI
PENELITIAN YANG PERNAH DILAKUKAN ORANG LAIN
Scheinhorn, David J.;Angelillo, Vito A. Antituberculous Therapy in Pregnancy, salt
lake city, 1977.
Streptomisin merupakan obat yang dapat menembus sawar darah plasenta.
Konsentrasi streptomisin yang terdapat dalam fetus dapat mencapai kadar 50 persen dari
konsentrasi dalam plasma ibu. Hal-hal yang mempengaruhi besar kecilnya konsentrasi
streptomisin yang melweati sawar darah placenta adalah kurangnya detoksifikasi dan

14

ekskresi dari streptomisin dalam plasma ibu, meningkatnya permeabilitas plasenta oleh
karena kelainan struktural, dan penyakit lain yang menmengaruhi kondisi ibu dan janin.
Hasil studi yang dilakukan pada binatang untuk membuktikan terjadi gangguan
pendengaran dan vestibular pada keturunannya setelah pemberiab streptomisin selama
kehamilan masih kurang meyakinkan. Studi pada guinea pig yang mendapat
streptomisin dengan dosis yang dibandingkan dengan dosis manusia tidak menyebabkan
abnormalitas pada histologi dan fisiologi pendnegaran dan vestibular. Namun bila dosis
di tingkatkan dapat menyebabkan kerusakan vestibular. pada tikus kecil pemberian
streptomisin gagal menunjukkan kerusakan pendengaran dan vestibular pada
keturunannya, namun pada studi menggunakan tikus yang lebih besar kerusakan
pendengaran dan vestibular terjadi.
Hasil studi yang pada manusia yang dilakukan pada 8 studi tercantum pada tabel
di bawah ini.

Authors

Births to patients

Birth Defects

Births to
Patients

Control

Receiving

group

receiving SM with:
High

Treated

controls

0
0
0
0
0
0
1
2
3

7
0
7

streptomicin

Frequency

Vestibular

Clinical

Hearing

defect

disability

0
2
6
8

0
0
1
0
1

loss
Wilson et al
Lowe, CR
Jentgens,H
Varpela et al
Varpela et al
Ganguin et al
Khanna et al
Conway N
Total

5
12
220
51
40
44
1
7
390

173
432
605

6
1
5
4
16

390 kelahiran pada pasien yang mendapat streptomisin menghasilkan anak dengan
gejala klinik minor tetapi terdapat kerusakan pendengaran dan vestibular.
streptomisin dapat diperhitungkan menjadi faktor resiko yang dapat menyebabkan
kerusakan tersebut mesikpun pada beberapa penelitian ini kekurangan grup kontrol.
Penelitian ini menyarankan untuk tidak memberi terapi streptomisin pada tujuh minggu
pertama karena mengingat, organogenesis dari telinga dalam sekitar tujuh minggu

15

kehamilan pertama. Anak dengan riwayat ibu mendapat terapi streptomisin selama masa
kehamilan harus segera diperiksa pendengaran dan fungsi vestibularnya.

16

BAB VII
DISKUSI
Masa kehamilan harus menjadi perhitungan sendiri dari dokter dalam
menentukan terapi. Hal ini perlu menjadi peringatan khusus untuk dokter dalam
memilih obat , apakah obat tersebut sudah cukup aman untuk wanita hamil dan
menyusui.
1.

oleh karena hal tersebut, setiap obat telah mendapat katogori keamanan
untuk di berikan pada wanita hamil. Kategori tersebut dibedakan menjadi 5
kategori, yaitu kategori A, B,C D, dan X. obat yang termasuk golongan obat yang
teratogenik adalah golongan obat kategori D dan X. streptomisin sendiri
termasuk golongan obat kategori D sehingga tidak aman untuk ibu hamil.(UBM
Medica Asia Pte Ltd. MIMS Indonesia Petunujk Konsultasi edisi 12. Jakarta-2012 )
Streptomisin merupakan obat golongan aminoglikosida yang digunakan untuk
terapi kombinasi tuberculosis. Streptomisin in vitro bersifat bakteriostatik dan bakterisid
terhadap kuman tuberculosis. Kadar serendah 0,4 ug/mL dapat menghambat
pertumbuhan kuman. Sebagian besar M. tuberculosis.
Streptomisin tidak dapat diberikan secara oral, tetapi harus diberikan
secara suntikan intramuskular, memiliki Waktu paruh yaitu bayi baru lahir : 4-10
jam; dewasa 2-4.7 jam, waktu bertambah panjang pada kerusakan ginjal. Streptomisin
dapat menembus sawar darah plasenta. Dalam penggunaannya, streptomisin digunakan
sebagai kombinasi obat antituberkulosis. Namun, yang harus di ingat adalah bahwa
streptomisin memiliki resiko ototoksik yang mempengaruhi kondisi kesehatan janin
pada wanita hamil. Hal ini perlu diingat, karena jumlah pasien tuberculosis di Indonesia
masih sangat tinggi dan dapat menjangkit siapa saja termasuk wanita hamil.
Reaksi lain juga bisa terjadi pada pasien dengan gangguan-gangguan ginjal yang
menggunakan pengobatan ini. Fungsi ginjal dan perhitungan-perhitungan darah lengkap
seharusnya dimonitor ketat oleh penyedia pelayanan kesehatan saat mengambil
pengobatan ini

17

Penelitian yang pernah dilakukan bersifat kuantitatif berdasarkan Clinical


trial. Namun dalam hal ini penelitian yang dilakukan dinilai kurang etis karena
dilakukan dengan mencobakan sediaan obat kepada manusia.
Hal lain yang menjadi kelemahan dari beberapa penelitian yang telah dilakukan
adalah kurangnya kelompok control pada penelitian. Karena tidak adanya kelompok
control, penelitiannya tidak dapat mengetahui secara pasti apakah efek atau kelainan
yang ditimbulkan benar berasal dari obat yang diberikan atau berasal dari factor lain
yang terdapat pada kelompok uji.

18

BAB VIII
RINGKASAN
Tuberkulosis adalah penyakit endemik di Indonesia. Insiden di Indonesia cukup
tinggi dan pasiennya beranekaragam. Mulai dari anak sampai dewasa. Yang
menjadi perhatian pada makalah ini adalah infeksi TBC pada ibu hamil.
Streptomycin adalah obat efektif untuk terapi TBC akan tetapi mempunyai
beberapa efek samping yang menjadikan terapi ini dikontraindikasikan. Beberapa
efek samping tersebut adalah dapat menyebabkan ketulian pada janin. Untuk
menanggulangi masalah ini sekarang sudah ditemukan banyak obat anti TBC.
Yang paling aman untuk ibu hamil adalah Isoniazid, Ethambutol, Rifampmycin.

19

BAB IX
SUMMARY & CONCLUSION
Tuberculosis is an endemic disease in Indonesia. Incident for TBC in Indonesia is
high and have extended variability of patient, from child to geriatric patient. The
main focus in this paper is TBC infection in pregnant mothers. Streptomycin is
very potent and effective anti-TBC drug. Unfortunately streptomycin has several
adverse effects on fetus. Nowadays there are potent anti-TBC drug that safe for
pregnant mother and her fetus it is, Isoniazid, Rifampmycin, and Ethambutol.

20

BAB X
DAFTAR PUSTAKA
1. Scheinhorn, David J.;Angelillo, Vito A. Antituberculous Therapy in Pregnancy, salt lake
city, 1977.
2. Queensland Tuberculosis Control Centre. GUIDELINES FOR TREATMENT OF
TUBERCULOSIS IN PREGNANCY. Queensland-2006
3. Departemen Kesehatan Republic Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis
cetakan ke-8. Jakarta-2002
4. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Farmakologi dan Terapi edisi
4. Jakarta-2002

5. Argadia Yunigriadi, Universitas Muhammadiyah Jogja, 2009


6. Juwita Ninda : Skripsi, 2009
7. UBM Medica Asia Pte Ltd. MIMS Indonesia Petunujk Konsultasi edisi 12. Jakarta-2012