Anda di halaman 1dari 3

Tes Model Logistik

Teori Pengukuran dalam pendidikan sering menggunakan Teori Tes Klasik, tetapi
pada Teori Tes Klasik parameter butir dan parameter pesertanya saling tergantung ,
sehingga tidak dapat digeneralisasikan untuk kelompok peserta yang lain. Oleh karena itu
muncul Teori Respon Butir Item Response Theory yang tidak ada ketergantungan
parameter butir dan parameter peserta.
Item Response Butir menggunakan model logistik. Adapun jenis-jenisnya adalah
tergantung dengan parameter yang digunakan . Terdapat tiga model logistik yang sering
digunakan saat ini yaitu
1.

Model logistik satu parameter

2.

Model logistik dua parameter

3.

Model logistik tiga parameter

Pemilihan model yang digunakan tergantung pada asumsi yang cocok bagi
perangkat data yang akan dianalisis serta selera pada pemakainya.
1. Model logistik satu parameter (model rasch) atau item response
theory 1-parameter logistic (IRT 1PL) . Model logistik satu parameter adalah model
yang paling sering digunakan karena prosedurnya yang sangat sederhana. Penyebutan
satu parameter karena karakteristik butirya hanya ditunjukkan oleh statistik bi yang
merupakan parameter tingkat kesukaran butir. Kurva karakteristik butir soal untuk
model satu parameter diberikan oleh persamaan :

keterangan :
Pi = kemungkinan seorang subyek dengan kemampuan untuk menjawab butir i
dengan benar.
= parameter kemampuan peserta tes
bi = parameter tingkat kesukaran butir i
e = angka konstan sebesar 2,718
Menurut Hambleton dan Swaminatan (1991: 13) paramater bi adalah satu titik pada
skala kemampuan dimana kemungkinan untuk menjawab benar sebesar 0,5. Semakin
besar parameter bi semakin besar pula kemampuan yang dituntut dari seorang subyek

untuk memperoleh 50% peluang menjawab dengan benar. Ketika kemampuan sebuah
kelompok ternyata memiliki mean 0 dan standar deviasi I maka nilai bi akan berkisar dari
-2,0 sampai +2,0. nilai yang mendekati -2,0 menandakan bahwa butir soal mudah dan
nilai yang mendekati +2,0 berarti butir soal tersebut tergolong sulit untuk kelompok
tersebut
2. Model logistik dua parameter atau item response theory 2-parameter
logistic(IRT 2PL) yaitu untuk menganalisis data yang hanya menitikberatkan pada
parameter tingkat kesukaran dan daya pembeda soal. Kurva karakteristik butir soal
untuk model dua parameter diberikan oleh persamaan :

keterangan
Pi = kemungkinan seorang subyek dengan kemampuan untuk menjawab butir i
dengan benar.

= parameter kemampuan peserta tes

bi = parameter tingkat kesukaran butir i


e

= angka konstan sebesar 2,718

Di = faktor penskalaan yang diikutkan untuk menjadikan fungsi logistik serupa


mungkin dengan fungsi ogive normal (D = 1,702)
Model logistik dua parameter memiliki tambahan dibandingkan model dengan satu
parameter. Model dua parameter terdapat faktor Di yang merupakan faktor penskalaan
dengan nilai yang konstan sebesar 1,702. Ternyata dalam model dua parameter perbedaan
nilai bagi kedua fungsi ogive normal dan fungsi logistik besamya kurang dari 0,01 untuk
semua nilai .
Secara teoretis, parameter diskriminasi ditetapkan pada skala Tetapi dalam
prakteknya parameter negatif menghendaki butir tersebut tidak digunakan sedangkan
parameter yang lebih besar dari 2 jarang terjadi. Dengan demikian, yang dilihat hanya
parameter ai yang besarnya diantara 0 sampai 2.
3. Model logistik tiga parameter atau item response theory 3-parameter logistic
(IRT 3PL) yaitu untuk menganalisis data yang menitikberatkan pada parameter
tingkat kesukaran soal, daya pembeda soal, dan peluang menebak (guessing).Kurva
karakteristik butir soal untuk model tiga parameter diberikan oleh persamaan :

Pi() = peluang bahwa peserta tes dengan kemampuan menjawab butir soal ke-i
dengan benar
ai

= parameter daya pembeda soal butir ke-i,

bi

= parameter tingkat kesukaran, yaitu satu titik pada skala abilitydimana


kemungkinan untuk menjawab benar sebesar 0,5.

ci

= peluang tebakan benar butir ke-i.

= parameter kemampuan peserta tes,

= faktor penskalaan yang diikutkan untuk menjadikan fungsi logistik serupa


mungkin dengan fungsi ogive normal (D = 1,702).

Satu parameter yang ditambahkan dalam model logistik tiga parameter adalah ci
yaitu parameter kemungkinan untuk menjawab benar secara kebetulan yang biasanya
dikenal dengan pseudo - chance level. Dengan demikian dalam model logistik tiga
parameter juga terdapat satu asumsi dimana seorang subyek yang memiliki kemampuan
rendahpun bisa menjawab butir dengan benar. Hal ini biasanya berlaku untuk format tes
pilihan ganda. Harga c, biasanya diasumsikan akan lebih kecil daripada harga yang akan
diperoleh bila subyek menjawab dengan tebakan secara acak.
Model yang paling banyak digunakan adalah model yang pertama karena
bentuknya yang sederhana dan relatif lebih mudah perhitungannya.Kelebihan model ini
dari pada teori tes klasik adalah:
1. Parameter Butir (Tingkat kesukaran, daya beda dan tebakan) tidak tergantung
pada peserta
2. Sebaliknya Parameter peserta (kemampuan) tidak tergantung pada parameter
butir,dalam teori klasik, sebuah soal jika diberikan kepada siswa yang
berkemampuan tinggi tingkat kesukarannya akan menjadi kecil (terasa mudah)
sebaliknya jika diberikan kepada siswa yang berkemampuan rendah tingkat
kesukarannya akan menjadi tinggi (terasa sulit). Selain itu seorang siswa
mengerjakan butir yang mudah, kemampuan siswa akan menjadi tinggi
sebaliknya jika siswa mengerjakan butir yang sulit, kemampuan siswa akan
menjadi rendah.